Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pembukaan UUD 1945 alenia ke-4 yang intinya adalah Negara
melalui Pemerintah memiliki tanggung jawab sekaligus tugas
utama melindungi Tanah Air Indonesia yang meliputi bumi, air,
dan

kekayaan

kesejahteraan

alam
bangsa

yang

terkandung

Indonesia.

Hak

didalamnya
menguasai

untuk
Negara

merupakan konsep Negara suatu organisasi kekuasaan dari


seluruh rakyat, sehingga kekuasaan berada ditangan Negara.
Jadi Negara memiliki hak menguasai tanah melalui fungsi untuk
mengatur

dan

mengurus.

Pengertian

penguasaan

dan

menguasai dapat dipakai dalam arti fisik, juga dalam arti


yuridis. Juga beraspek perdata dan beraspek publik. Penguasaan
yuridis dilandasi hak, yang dilindungi oleh hukum dan umumnya
memberi kewenangan kepada pemegang hak untuk menguasai
secara fisik tanah yang dihaki. Tetapi ada juga penguasaan
yuridis yang biarpun memberi kewenangan untuk menguasai
tanah yang dihaki secara fisik, pada kenyataanya penguasaan
fisiknya dilakukan pihak lain.
Dalam hukum tanah kita kenal juga penguasaan yuridis yang
tidak memberi kewenangan untuk menguasai tanah yang
bersangkutan secara fisik. Kreditor pemegang hak jaminan atas
tanah mempunyai hak penguasaan yuridis atas tanah yang
dijadikan agunan, tetapi penguasaannya secara fisik tetap ada
pada yang mempunyai tanah.
Dengan

mulai

berlakunya

UUPA

(Undang-undang

Pokok

Agraria) terjadi perubahan fundamental pada Hukum Agraria di


1

Indonesia, terutama hukum dibidang pertanahan, yang sering


kita

sebut

sebagi

Hukum

Pertanahan

yang

dikalangan

pemerintahan dan umum juga dikenal sebagai hukum agraria.


UUPA bukan hanya memuat ketentuan-ketentuan mengenai
perombakan hukum agrarian, sesuai dengan namanya Peraturan
dasar pokok-pokok Agraria, UUPA memuat juga lain-lain pokok
persoalan agrarian serta penyelesaiannya.
Ruang lingkup bumi menurut UUPA adalah permukaan bumi
dan

tubuh

dibawahnya

serta

yang

berada

dibawah

air.

permukaan bumi sebagai bagian dari bumi juga disebut tanah.


Tanah yang dimaksudkan disini bukan mengatur tanah dalam
segala

aspeknya,

melainkan

hanya

mengatur

salah

satu

aspeknya, yaitu tanah dalam pengertian yuridis yang disebut


hak-hak penguasaan atas tanah.
Setelah keluarnya Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960
Tentang Undang-Undang Pokok Agraria, maka banyak perubahan
yang terjadi dalam ketentuan hak-hak atas tanah. Salah satunya
adalah diadakan konversi hak atas tanah oleh pemerintah. HakHak atas tanah yang dikonversikan itu bukan saja hak-hak atas
tanah yang bersumber pada hukum perdata barat saja tetapi
juga hak-hak atas tanah yang dikenal dalam hukum adat seperti
ganggam bauntuak, bengkok, gogolan dan sebagainya. Hak-hak
ini dikonversikan, karena tidak sesuai dengan jiwa Hukum
Agraria Nasional, yaitu karena sifatnya yang feodalis.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, penulis menarik beberapa
permasalahan, yaitu sebagai berikut:
1. Apa saja hak-hak agraria menurut UU No.5 tahun 1960?
2

2. Bagaimanakah

hak-hak

agraria

menurut

ilmu

pengetahuan?
C. Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan karya tulis ini yaitu:
1. Untuk memahami hak-hak agraria menurut UU No.5 tahun
1960.
2. Untuk

memahami

hak-hak

agraria

menurut

ilmu

pengetahuan.
D. Kegunaan penulisan
1. Penulis mendapatkan banyak pelajaran mengenai hak-hak
agraria yang ada di dalam UU No.5 tahun 1960.
2. Penulis mendapatkan banyak pelajaran mengenai hak-hak
agraria menurut ilmu pengetahuan.
E. Kerangka Pemikiran
Ruang lingkup bumi menurut UUPA adalah permukaan bumi,
dan tubuh bumi dibawahnya serta yang berada di bawah air.
Permukaan bumi sebagai bagiandari bumi juga disebut tanah.
Tanah yang dimaksudkan disini bukan mengatur tanah dalam
segala

aspeknya,

melainkan

hanya

mengatur

salah

satu

aspeknya, yaitu tanah dalam pengertian yuridis yang disebut


hak-hak penguasaan atas tanah.
F. Metode Penelitian
Metode

penelitian

yang

digunakan

sumber

dan

teknik

pengumpulan data yaitu data sekunder dilengkapi dengan


primer melalui studi lapangan dan teknik pengumpulan data
lapangan.

BAB II
TINJAUAN TEORITIS
A. Pengertian Hak Atas Tanah
Hak atas tanah adalah hak yang memberi wewenang kepada
seseorang yang mempunyai hak untuk mempergunakan atau
mengambil manfaat atas tanah tersebut. Hak atas tanah berbeda
dengan hak penggunaan atas tanah. Ciri khas dari hak atas tanah
adalah seseorang yang mempunyai hak atas tanah berwenang
untuk mempergunakan atau mengambil manfaat atas tanah yang
menjadi haknya. Hakhak atas tanah yang dimaksud ditentukan
dalam pasal 16 jo pasal 53 UUPA.
Dalam pasal 16 UU Agraria disebutkan adanya dua hak yang
sebenarnya bukan merupakan hak atas tanah yaitu hak membuka
tanah dan hak memungut hasil hutan karena hakhak itu tidak
memberi wewenang untuk mempergunakan atau mengusahakan
tanah tertentu. Namun kedua hak tersebut tetap dicantumkan

dalam pasal 16 UUPA sebagai hak atas tanah hanya untuk


menyelaraskan sistematikanya dengan sistematika hukum adat.
Kedua hak tersebut merupakan pengejawantahan (manifestasi) dari
hak ulayat. Selain hakhak atas tanah yang disebut dalam pasal 16,
dijumpai juga lembagalembaga hak atas tanah yang keberadaanya
dalam Hukum Tanah Nasional diberi sifat sementara. Hakhak
yang dimaksud antara lain : Hak gadai, Hak usaha bagi hasil, Hak
menumpang, Hak sewa untuk usaha pertanian. Hakhak tersebut
bersifat sementara karena pada suatu saat nanti sifatnya akan
dihapuskan. Oleh karena dalam praktiknya hakhak tersebut
menimbulkan

pemerasan

oleh

golongan

ekonomi

kuat

pada

golongan ekonomi lemah (kecuali hak menumpang). Hal ini tentu


saja tidak sesuai dengan asasasas Hukum Tanah Nasional (pasal 11
ayat 1). Selain itu, hakhak tersebut juga bertentangan dengan jiwa
dari pasal 10 yang menyebutkan bahwa tanah pertanian pada
dasarnya harus dikerjakan dan diusahakan sendiri secara aktif oleh
orang yang mempunyai hak. Sehingga apabila tanah tersebut
digadaikan maka yang akan mengusahakan tanah tersebut adalah
pemegang hak gadai. Hak menumpang dimasukkan dalam hakhak
atas tanah dengan eksistensi yang bersifat sementara dan akan
dihapuskan

karena

UUPA

menganggap

hak

menumpang

mengandung unsur feodal yang bertentangan dengan asas dari


hukum

agraria

hubungan

Indonesia.

antara

pemilik

Dalam

hak

menumpang

tanah

dengan

orang

terdapat

lain

yang

menumpang di tanah si A, sehingga ada hubungan tuan dan


budaknya.
B. Asas-Asas Hukum Tanah Nasional
1. Asas nasionalisme

Yaitu suatu asas yang menyatakan bahwa hanya warga Negara


Indonesia saja yang mempunyai hak milik atas tanah atau yang
boleh mempunyai hubungan dengan bumi dan ruang angkasa
dengan tidak membedakan antara laki-laki dengan wanita serta
sesama warga Negara baik asli maupun keturunan.
2. Asas dikuasai oleh Negara
Yaitu bahwa bumi, air dan ruang angkasa termasuk kekayaan
alam yang terkandung didalamnya itu pada tingkat tertinggi
dikuasai oleh Negara sebagai organisasi kekuasaan seluruh rakyat
(pasal 2 ayat 1 UUPA)
3. Asas hukum adat yang disaneer
Yaitu bahwa hukum adat yang dipakai sebagai dasar hukum
agrarian adalah hukum adat yang sudah dibersihkan dari segi-segi
negatifnya
4. Asas fungsi social
Yaitu suatu asas yang menyatakan bahwa penggunaan tanah
tidak

boleh

bertentangan

dengan

hak-hak

orang

lain

dan

kepentingan umum, kesusilaan serta keagamaan(pasal 6 UUPA)


5. Asas kebangsaan atau (demokrasi)
Yaitu suatu asas yang menyatakan bahwa stiap WNI

baik asli

maupun keturunan berhak memilik hak atas tanah


6. Asas non diskriminasi (tanpa pembedaan)
Yaitu asas yang melandasi hukum Agraria (UUPA).UUPA tidak
membedakan antar sesame WNI baik asli maupun keturunanasing
jadi asas ini tidak membedakan-bedakan keturunan-keturunan anak
artinya bahwa setiap WNI berhak memilik hak atas tanah.
7. Asas gotong royong

Bahwa

segala

usaha

bersama

dalam

lapangan

agrarian

didasarkan atas kepentingan bersama dalam rangka kepentingan


nasional, dalam bentuk koperasi atau dalam bentuk-bentuk gotong
royong lainnya, Negara dapat bersama-sama dengan pihak lain
menyelenggarakan usaha bersama dalam lapangan agraria (pasal
12 UUPA)
8. Asas unifikasi
Hukum agraria disatukan dalam satu UU yang diberlakukan bagi
seluruh WNI, ini berarti hanya satu hukum agraria yang berlaku bagi
seluruh WNI yaitu UUPA.
9. Asas pemisahan horizontal (horizontale scheidings beginsel)
Yaitu suatu asas yang memisahkan antara pemilikan hak atas
tanah dengan benda-benda atau bangunan-bangunan yang ada
diatasnya. Asas ini merupakan kebalikan dari asas vertical (verticale
scheidings beginsel ) atau asas perlekatan yaitu suatu asas yang
menyatakan segala apa yang melekat pada suatu benda atau yang
merupakan satu tubuh dengan kebendaan itu dianggap menjadi
satu dengan benda iu artnya dala sas ini tidak ada pemisahan
antara pemilikan hak atas tanah dengan benda-benda atau
bangunan-bangunan yang ada diatasnya.

BAB III
PEMBAHASAN
A. Hak Agraria Menurut UU No.5 Tahun 1960
Hak agraria yang di atur di dalam UU No.5 Tahun 1960 terdapat
dalam Bab II pasal 16 ayat (1) dan (2), yaitu sebagai berikut:
(1) Hak-hak atas tanah sebagai yang dimaksud dalam pasal 4 ayat
1 ialah:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Hak milik
Hak guna usaha
hak guna-bangunan
hak pakai

hak sewa
hak membuka tanah
hak memungut-hasil hutan
hak-hak lain yang tidak termasuk dalam hak-hak tersebut
diatas yang akan ditetapkan dengan Undang-undang serta
hak-hak yang sifatnya sementara sebagai yang disebutkan
dalam pasal 53.

(2) Hak-hak atas air dan ruang angkasa sebagai yang dimaksud
dalam pasal 4 ayat (3) ialah:
1. hak guna air
2. hak pemeliharaan dan penangkapan ikan
3. hak guna ruang angkasa
1. Hak Milik
Dalam

UUPA,

pengertian

akan

Hak

Milik

seperti

yang

dirumuskan di dalam pasal 20 UUPA yang disebutkan dalam ayat 1,


Hak Milik adalah hak turun temurun, terkuat dan terpenuhi, yang

dapat dipunyai orang atas tanah; ayat 2, Hak Milik dapat beralih
dan dialihkan kepada pihak lain. Turun temurun artinya Hak Milik
tidak hanya berlangsung selama hidupnya orang yang mempunyai,
tetapi dapat dilanjutkan oleh ahli warisnya apabila pemiliknya
meninggal dunia. Terkuat menunjukkan Hak Milik tidak terbatas.
Jadi berlainan dengan Hak Guna Usaha atau hak guna bangunan
yang jangka waktunya terbatas. Terpenuhi artinya Hak Milik itu
memberikan wewenang kepada empunya, yang paling luas jika
dibandingkan dengan hak yang lain.1
Pengertian

Hak

Milik

telah

dirumuskan

dalam

pasal

570

KUHPerdata, yang artinya adalah hak untuk menikmati suatu


kebendaan dengan leluasa, dan untuk berbuat bebas terhadap
kebendaan

itu,

dengan

kedaulatan

sepenunya,

asal

tidak

bertentangan dengan undang-undang atau peraturan umum yang


ditetapkannya, dan tidak mengganggu hak-hak orang lain.
Subyek Hak Milik. Yang dapat mempunyai tanah Hak Milik
menurut UUPA dan peraturan pelaksanaanya, adalah:
1) Perseorangan, yaitu WNI, baik pria maupun wanita, tidak
berwarganegaraan rangkap (lihat Pasal 9, 20 (1) UUPA)
2) Badan-badan hukum tertentu. Yaitu Badan-badan hukum yang
dapat mempunyai Hak Milik atas tanah, yaitu bank-bank yang
didirikan oleh negara, koperasi pertanian, badan keagamaan
dan badan sosial (lihat Pasal 21 (2) UUPA, PP No.38/1963
tentang

Penunjukan

Badan-badan

Hukum

yang

Dapat

Mempunyai Hak Atas Tanah, Permen Agraria/Kepala BPN No.

1 Efendi Perangin. Hukum Agraria di Indonesia, (Jakarta : Rajawali,1991),


hlm. 236-237

9/1999 tentang Tata Cara Pemberian dan Pembatalan Hak


Atas Tanah Negara dan Hak Pengelolaan).
Hapusnya Hak Milik. Pasal 27 UUPA menetapkan faktor-faktor
penyebab hapusnya Hak Milik atas tanah dan tanahnya jatuh
kepada negara, yaitu;
1)
2)
3)
4)
5)

Karena Pencabutan Hak berdasarkan Pasal 18 UUPA.


Dilepaskan secara suka rela oleh pemiliknya.
Dicabut untuk kepentinga umum.
Tanahnya ditelantarkan.
Karena subyek haknya tidak memenuhi syarat sebagai sunyek

hak milik atas tanah.


6) Karena
peralihan
hak

yang

mengakibatkantanahnya

berpindah kepada pihak lain yang tidak memenuhi syarat


sebagai subyek Hak Milik atas tanah.
7) Tanahnya musnah, misalnya terjadi bencana alam.
2. Hak Guna Usaha
Menurut pasal 28 ayat (1) UUPA, yang dimaksud dengan Hak
Guna Usaha adalah hak untuk mengusahakan tanah yang dikuasai
oleh Negara, dalam jangka waktu sebagaimana tersebut dalam
pasal 29, guna perusahaan pertanian, perikanan, atau perternakan.
PP No.40 tahun 1996 menambahkan guna perusahaan perkebunan.2
Berlainan dengan Hak Milik, tujuan penggunaan tanah yang
dipunyai dengan Hak Guna Usaha itu terbatas, yaitu pada usaha
pertanian,

perikanan,

dan

peternakan.

Dalam

pengertian

pertanian termasuk juga perkebunan. Oleh karena itu maka Hak


Guna Usaha tidak dapat dibebankan pada tanah Hak Milik. Hak
Guna Usaha hanya dapat diberikan oleh Negara (pemerintah).

2 Urip Santoso. Hukum Agraria dan Hak-Hak Atas Tanah, (Jakarta:


Kencana, 2008), hlm. 99

10

Luas HGU. Luas tanah HGU adalah untuk perserorangan minimal


5 Ha dan maksimal 25 Ha. Sedangkan untuk badan hukum luas
minimal 5 Ha dan luas maksimal 25 Ha atau lebih (menurut UUPA).
Ketentuan luas maksimal tidak ditentukan dengan jelas tetapi PP
No. 40/1996 menyebutkan luas maksimal ditetapkan oleh menteri
dengan memperhatikan pertimbangan pejabat yang berwenang.
Dengan membandingkan kewenangan Surat Keputusan Pemberian
Hak seperti kewenangan Ka BPN Kota/kab maksimal 25 Ha, Kanwil
BPN maksimal 200 Ha, di atas 200 Ha kewenangan Menteri
Agraria/Ka BPN.
Jangka waktu HGU.HGU mempunyai jangka waktu untuk pertama
kalinya paling lama 35 tahun dan dapat diperpanjang untuk jangka
waktu paling lama 25 tahun (Pasal 29 UUPA). Sedang menurut Pasal
8 PP No. 40/1996 mengatur jangka waktu HGU untuk pertama
kalinya 35 tahun, diperpanjang paling lama 25 tahun dan dapat
diperbaharui paling lama 35 tahun. Permohonan perpanjangan dan
pembaharuan

diajukan

palaing

lambat

tahun

sebelum

berakhirnya jangka waktu HGU.


3. Hak Guna Bangunan
Hak Guna Bangunan adalah salah satu hak atas tanah lainnya
yang di atur dalam UUPA memurut ketentuan pasal 35 UUPA yang
berbunyi:
a. Hak Guna Bangunan adalah hak untuk mendirikan dan
mempunyai bangunan-bangunan atas tanah yang bukan
miliknya sendiri dengan jangka waktu paling lama 30 tahun.
b. Atas permintaan pemegang hak dan dengan mengingat
keperluan

serta

keadaan

11

bangunan-bangunannya

jangka

waktu tersebut dalam ayat 1 dapat diperpanjang dengan


waktu paling la,ma 20 tahun
c. Hak Guna Bangunan dapat beralih dan dialihkan kepada pihak
lain
Berdasarkan
dinamakan

uraian

dengan

di

hak

atas

maka

guna

dapat

bangunan

diketahui

adalah

hak

yang
untuk

mendirikan dan mempunyai bangunan diatas tanah yang bukan


miliknya sendiri dengan jangka waktu selama 30 tahun jadi dalam
pemilikan bangunan beda dari pemilikan hak atas tanah dimana
bangunan tersebut didirikan3. Yang dapat mempunyai hak guna
bangunan adalah Warga Negara Indonesia dan badan hukum yang
didirikan menurut hukun indonesia dan berkeduduklan di Indonesia.
4. Hak Pakai
Hak Pakai diatur dalam pasal 41, 42 dan 43 UUPA. Hak pakai
adalah hak untuk menggunakan dan/atau menurut hasil dari tanah
yang dikuasai langsung oleh Negara atau tanah milik oaring lain
yang memberikan hak dan membebani kewajiban yang ditentukan
dalam surat ketetapan pemberiannya atau dalam perjanjian dengan
pemilik tanah4.
Hak Pakai dapat diberikan selama jangka waktu yang tertentu
atau selama tanahnya dipergunakan untuk keperluan yang tertentu
(diberikan

dengan

cuma-cuma,

dengan

pembayaran

atau

pemberian jasa berupa apa pun). Peralihan Hak Pakai kepada pihak
lain

hanya

dapat

dilakukan

dengan

seizin

pejabat

yang

memberikannya untuk tanah yang dikuasai langsung untuk Negara


3 Kartini Mulyadi. Gunawan Widjaja, Hak-Hak Atas Tanah, hlm. 147
4 Bahcan Mustafa, Hukum Agraria dalam Perspektif, hlm. 42

12

atau

apabila

hal

ini

dimungkinkan

dalam

perjanjian

yang

bersangkutan untuk tanah milik.


Yang dapat mempunyai hak pakai berdasarkan pasal 42 UUPA
ialah:
1) Warga Negara Indonesia
2) Orang asing yang berkedsudukan di Indonesia
3) Badan hukum yang didirikan menurut hukum Indonesia dan
berkedudukan di Indonesia.
4) Badan hukum asing yang mempunyai perwakilan di
Indonesia.
5. Hak Sewa
Hak Sewa Untuk Bangunan diatur dalam pasal 44 dan 45 UUPA.
Seorang atau suatu badan hukum mempunyai hak sewa atas tanah,
apabila ia berhak mempergunakan tanah milik orang lain untuk
keperluan

bangunan,

dengan

membayar

kepada

pemiliknya

sejumlah uang sebagai sewa. Hak sewa untuk bangunan adalah hak
yang dimiliki seseorang atau badan hukum untuk mendirikan dan
mempunyai bangunan di atas tanah hak milik orang lain dengan
membayar sejumlah uang sewa tertentu dan dalam jangka waktu
tertentu yang disepakati oleh pemilik tanah dengan pemegang hak
sewa untuk bangunan5. Pembayaran sewa ini dapat dilakukan
dengan cara satu kali atau pada tiap waktu tertentu, dan sebelum
atau seesudah tanahnya dipergunakan.
Hak Sewa Untuk Bangunan terjadi dengan perjanjian persewaan
tanah yang tertulis antara pemilik dengan pemegang Hak Sewa
Untuk Bangunan, yang tidak boleh disertai syarat-syarat yang
mengandung unsur-unsur pemeresan. UUPA tidak mengatur bentuk
perjanjian tertulis dalam Hak Sewa Untuk Bangunan.
5 Urip Santoso. Opp Cit. Hlm. 130

13

Yang mempunyai hak sewa antara lain:


1) Warga Negara Indonesia
2) Orang asing yang berkedsudukan di Indonesia.
3) Badan hukum yang didirikan menurut hukum Indonesia dan
berkedudukan di Indonesia.
4) Badan hukum asing yang

mempunyai

perwakilan

di

Indonesia.
Objek yang disewakan pemilik tanah kepada pemeganag hak
sewa untuk bangunan adalah tanah bukan bangunan. Jangka waktu
hak sewa ini, uupa tidak mengatur secara tegas berapa lama jangka
waktunya, lamanya hak sewa untuk bangunan ini diserahkan
kepada kesepakatan anatar pemilik tanah dengan pemegang hak
sewa untuk bangunan.
6. Hak Membuka Tanah Dan Memungut Hasil Hutan
Menurut Boedi Harsono, hak membuka tanah dan hak memungut
hasil hutan sebenarnya bukan hak atas tanah dalam arti yang
sesungguhnya. Dikatakan demikian karena kedua hak tersebut
tidak

memberi

wewenang

untuk

menggunakan

tanah.1

Hak

membuka tanah dan hak memungut hasil hutan merupakan bentuk


pengejawantahan hak ulayat. Tujuan dari dimasukkannya kedua hak
ini ke dalam UUPA adalah semata-mata untuk menselaraskan UUPA
dengan hukum adat6.
Pasal 46 ayat (2) UUPA menentukan bahwa penggunaan hak
memungut
memberikan

hasil
hak

hutan
milik

secara
kepada

sah

tidak

pengguna

dengan

sendirinya

tersebut.

6 Boedi Harsono, Hukum Agraria Indonesia: Sejarah Pembentukan


Undang-Undang Pokok Agraria, Isi dan Pelaksanaannya, Jakarta:
Djambatan, 2005, Hlm. 288

14

Adapun

ketentuan lebih lanjut mengenai hak memungut hasil hutan


terdapat di Undang-Undang Pokok Kehutanan.
7. Hak Lain-Lain
Selain ketujuh hak yang telah disebutkan di atas, masih terdapat
hak-hak atas tanah yang bersifat sementara. Hak-hak yang bersifat
sementara tersebut antara lain: hak gadai, hak usaha bagi hasil,
hak menumpang dan hak sewa tanah pertanian (Pasal 53 UUPA).
Hak-hak tersebut bersifat sementara karena suatu saat lembaga
hukum tersebut tidak akan ada lagi. Hal ini disebabkan karena hakhak tersebut dianggap tidak sesuai dengan asas-asas hukum tanah
nasional. Hak gadai, hak usaha bagi hasil dan hak sewa tanah
dipandang

membuka

peluang

untuk

terjadinya

pemerasan,

sedangkan hak menumpang juga dianggap bertentangan dengan


nilai-nilai hukum agraria Indonesia karena mengandung sisa unsur
feodal. Harus diakui hingga saat ini hak-hak tersebut belum
sepenuhnya hapus, namun hak-hak tersebut harus tetap diatur
untuk mebatasi sifatnya yang bertentangan dengan UUPA7.
8. Hak Guna Air Pemeliharaan Dan Penangkapan Ikan
Dalam pasal 47 ayat (1) Hak guna air adalah hak memperoleh air
untuk keperluan tertentu dan atau mengalirkan air itu diatas tanah
orang lain. Hak guna air serta pemeliharaan dan penangkapan ikan
dengan peraturan pemerintah.
9. Hak Guna Ruang Angkasa
Terdapat dalam pasal 48 UUPA . Hak guna ruang angkasa
member wewenang untuk mempergunakan tenaga dan unsur-unsur
dalam ruang angkasa member wewenang untuk mempergunakan
tenaga dan unsur-unsur dalam ruang angkasa guna usaha usaha
7 Ibid. hlm 291

15

memelihara dan memperkembangkan

kesuburan bumi, air serta

kekayaan alam yang terkandung didalamnya dan hal-hal lainnya


yang bersangkutan dengan itu.
10.

Hak Untuk Keagamaan Dan Social

Terdapat
keagamaan

dalam

pasal

49,

dimana

hak

milik

tanah-tanah

dan social sepanjang digunakan untuk usaha dalam

bidang keagamaan dan social, diakui dan dilindungi. BAdan badan


ini juga dijamin akan memperoleh tanah yang cukup untuk
bangunan dan usahanya dalam bidang keagamaan dan social8.

B. Hak Agraria Menurut Ilmu Pengetahuan


Feodalisme masih mengakar kuat sampai sekarang di Indonesia
yang oleh karena Indonesia masih dikuasai oleh berbagai rezim.
Sehingga rakyat hanya menunngu perintah dari penguasa tertinggi.
Sutan Syahrir dalam diskusinya dengan Josh Mc. [Tunner, pengamat
Amerika (1948) mengatakan bahwa feodalisme itu merupakan
warisan budaya masyarakat Indonesia yang masih rentan dengan
pemerintahan diktatorial. Kemerdekaan Indonesia dari Belanda
merupakan

tujuan

jangka

pendek.

Sedangkan

tujuan

jangka

panjangnya adalah membebaskan Indonesia dari pemerintahan


yang sewenangwenang dan mencapai kesejahteraan masyarakat.
8 http://ianbachruddin.blogspot.co.id/2011/11/hak-atas-tanah-yang-diaturoleh-uupa-no.html diposkan oleh hard ian jam 18.57 kamis, 10 november
2011

16

Pada saat itu, Indonesia baru saja selesai dengan pemberontakan G


30 S/PKI. Walaupun PKI sudah bisa dieliminir pada tahun 1948 tapi
ancaman bahaya totaliter tidak bisa dihilangkan dari Indonesia.
Pasal

16

UUPA

tidak

menyebutkan

hak

pengelolaan

yang

sebetulnya hak atas tanah karena pemegang hak pengelolaan itu


mempunyai hak untuk mempergunakan tanah yang menjadi
haknya.
Penguasaan ha katas tanah dapat dibagi menjadi dua aspek,
yaitu aspek yuridis dan aspek fisik. Penguasaan tanah secara
yuridis dilandasi oleh suatu hak yang dilindungi oleh hukum dan
umumnya memberikan kewenangan kepada pemegang hak untuk
menguasai

tanah

tersebut

secara

fisik.

Meskipun

demikian,

penguasaan fisik tidak selalu melekat pada pihak yang menguasai


secara yuridis9.
1. Hak Bangsa Indonesia
Mengenai hak Bangsa Indonesia diatur dalam Pasal 1 ayat (1)
sampai ayat (3) UUPA. Hak Bangsa Indonesia merupakan hak
penguasaan atas

tanah yang tertinggi dalam Hukum Tanah

Nasional. Hak ini juga menjadi sumber bagi hak-hak penguasaan


atas tanah yang lain.3 Hak Bangsa Indonesia mengandung 2 unsur,
yaitu unsur kepunyaan dan unsur tugas kewenangan. Unsur
kepunyaan berarti subyek atas hak Bangsa Indonesia ada pada
seluruh rakyat Indonesia dan meliputi seluruh wilayah Indonesia.
Unsur

tugas

mengatur

kewenangan

penguasaan

berarti

dan

tugas

memimpin

kewenangan

untuk

pengurusan

tanah

dilaksanakan oleh negara.


9 http://www.jurnalhukum.com/macam-macam-hak-penguasaan-atastanah/ diposkan oleh Wibowo Tunardy pada 09/03/2013

17

Hak Bangsa Indonesia merupakan sebuah hubungan hukum


yang bersifat abadi.Ini berarti selama rakyat Indonesia yang bersatu
sebagai Bangsa Indonesia masih ada dan selama bumi, air dan
ruang angkasa Indonesia masih ada pula, dalam keadaan yang
bagaimanapun, tidak ada sesuatu kekuasaan yang akan dapat
memutuskan atau meniadakan hubungan tersebut (Penjelasan
Umum II UUPA).
2. Hak Menguasai Dari Negara
Hak menguasai dari negara diatur dalam Pasal 2 UUPA. Hak ini
bersumber dari hak Bangsa Indonesia yang telah diuraikan di atas.
Kewenangan

yang

terdapat

di

hak

menguasai

dari

negara

merupakan kewenangan yang bersifat publik, sehingga hak ini tidak


sama dengan konsep domein yang diberlakukan oleh pemerintah
kolonial Belanda.
Menurut ketentuan Pasal 2 ayat (2) UUPA, hak menguasai dari
negara

memberi

menyelenggarakan

wewenang
peruntukan,

untuk:
penggunaan,

mengatur
persediaan

dan
dan

pemeliharaan bumi, air dan ruang angkasa dan menentukan dan


mengatur hubungan-hubungan hukum antara orang-orang dengan
bumi, air dan ruang angkasa menentukan dan mengatur hubunganhubungan hukum antara orang-orang dan perbuatan-perbuatan
hukum yang mengenai bumi, air dan ruang angkasa
Subyek dari hak menguasai dari negara adalah Negara Republik
Indonesia sebagai organisasi kekuasaan seluruh rakyat Indonesia
dan meliputi semua tanah yang berada di wilayah Republik
Indonesia, baik tanah yang belum maupun yang sudah dihaki
dengan hak perorangan. Tanah yang belum dihaki dengan hak
perorangan disebut tanah yang dikuasai langsung oleh negara
18

(dalam praktik administrasi disebut tanah negara), sedangkan


tanah yang sudah sudah dihaki dengan hak perorangan disebut
tanah hak dengan nama sebutan haknya, misalnya tanah hak milik.
Lebih lanjut tanah negara dapat dibagi menjadi:
a) Tanah wakaf, yaitu tanah hak milik yang sudah diwakafkan;
b) Tanah hak pengelolaan, merupakan tanah yang dikuasai
dengan hak pengelolaan yang merupakan pelimpahan
pelaksanaan sebagian kewenangan hak menguasai dari
negara kepada pemegang haknya;
c) Tanah hak ulayat, adalah tanah yang dikuasai oleh
masyarakat hukum adat teritorial dengan hak ulayat;
d) Tanah kaum, merupakan tanah bersama masyarakatmasyarakat hukum adat genealogis;
e) Tanah kawasan hutan, adalah tanah yang dikuasai oleh
Departemen

Kehutanan

berdasarkan

Undang-Undang

Pokok Kehutanan . Hak penguasaan tersebut merupakan


pelimpahan sebagian kewenangan hak menguasai dari
negara;
f) Tanah-tanah sisanya, adalah tanah yang dikuasai oleh
negara yang tidak termasuk ke dalam kelompok tanah
yang sudah disebutkan sebelumnya. Tanah ini benar-benar
langsung dikuasai oleh negara, sehingga dapat disebut
sebagai tanah negara dalam arti sempit.
3. Hak Ulayat Masyarakat Hukum Adat
Hak ulayat diatur dalam Pasal 3 UUPA. Menurut Boedi Harsono,
hak ulayat merupakan serangkaian wewenang dan kewajiban suatu
masyarakat hukum adat yang berhubungan dengan tanah yang
terletak dalam lingkungan wilayahnya. Subyek dari hak ulayat
adalah masyarakat hukum adat, baik yang bersifat teritorial

19

(warganya tinggal di wilayah yang sama) maupun yang bersifat


genealogik (warganya terikat dengan hubungan darah).
4. Hak-Hak Perorangan
Hak-hak perorangan terbagi menjadi:
a) hak-hak atas tanah, meliputi:
1) Hak atas tanah primer, yaitu hak atas tanah yang
diberikan oleh negara.10 Beberapa bentuk dari hak atas
tanah primer adalah hak milik, hak guna usaha, hak
guna bangunan, yang diberikan oleh negara dan hak
pakai yang diberikan oleh negara.
2) Hak atas tanah sekunder, adalah hak atas tanah yang
bersumber dari pihak lain. Beberapa bentuknya adalah
hak guna bangunan dan hak pakai yang diberikan oleh
pemilik tanah, hak gadai, hak usaha bagi hasil, hak
menumpang, hak sewa dan lain-lain.
b) Hak jaminan atas tanah yaitu hak tanggungan.

20

BAB IV
SIMPULAN
A. Hak Agraria Menurut UU No.5 Tahun 1960
Hak agraria yang di atur di dalam UU No.5 Tahun 1960 terdapat
dalam Bab II pasal 16 ayat (1) dan (2), yaitu sebagai berikut:
(1) Hak-hak atas tanah sebagai yang dimaksud dalam pasal 4 ayat
1 ialah:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Hak milik
Hak guna usaha
hak guna-bangunan
hak pakai

hak sewa
hak membuka tanah
hak memungut-hasil hutan
hak-hak lain yang tidak termasuk dalam hak-hak tersebut
diatas yang akan ditetapkan dengan Undang-undang serta
hak-hak yang sifatnya sementara sebagai yang disebutkan
dalam pasal 53.

(2) Hak-hak atas air dan ruang angkasa sebagai yang dimaksud
dalam pasal 4 ayat (3) ialah:

21

1. hak guna air


2. hak pemeliharaan dan penangkapan ikan
3. hak guna ruang angkasa
B. Hak Agraria Menurut Ilmu Pengetahuan
1. Hak Bangsa Indonesia
2. Hak Menguasai Dari Negara
3. Hak Ulayat Masyarakat Hukum Adat
4. Hak-Hak Perorangan
DAFTAR PUSTAKA
Boedi Harsono, Hukum Agraria Indonesia: Sejarah Pembentukan
Undang-Undang Pokok Agraria, Isi dan
Pelaksanaannya, Jakarta: Djambatan, 2005.
Efendi Perangin. Hukum Agraria di Indonesia, Jakarta :
Rajawali,1991.
Kartini Mulyadi. Gunawan Widjaja, Hak-Hak Atas Tanah Seri Hukum
Harta
Kekayaan, Kencana, Jakarta, 2007
Mustafa, Bachsan, Hukum Agraria dalam Perspektif, Cetakan ke II, Remadja Karya
CV.Bandung 1985.
Urip Santoso. Hukum Agraria dan Hak-Hak Atas Tanah, Jakarta:
Kencana, 2008.
Sumber Elektronik:
http://www.jurnalhukum.com/macam-macam-hakpenguasaan-atas-tanah/ diposkan oleh : Wibowo Tunardy
pada 09/03/2013
http://ianbachruddin.blogspot.co.id/2011/11/hak-atas-tanahyang-diatur-oleh-uupa-no.html. diposkan oleh : hard ian jam
18.57 kamis, 10 november 2011

22