Anda di halaman 1dari 7

Pengertian Hipertropi Prostat

Hipertropi adalah pembesaran atau pertumbuhan berlebih (overgrowth) suatu organ atau bagian
badan karena pembesaran dari sel-sel yang membentuknya. Misalnya, hipertropi otot bisep dan
jantung karena peningkatan beban kerjanya. Hipertropi juga terjadi pada uterus dalam masa
kehamilan. Sementara penggunaan hipertropi prostat sebenarnya salah nama (misnomer), karena
pembesaran prostat disebabkan oleh hiperplasi atau pertambahan jumlah sel, bukan karena
peningkatan besar sel.
BPH (Benign Prostatic Hyperlasia) lebih dikenal sebagai Benign Prostatic Hypertophyadalah
pembesaran kelenjar prostat.
Anatomi Kelenjar Prostat
Kelenjar prostat adalah suatu organ yang berlokasi pada dasar atau leher dari kandung kemih.
Kelenjar yang mengelilingi bagian pertama dari urethra. Urethra adalah jalanan lintasan dimana
urin mengalir dari kandung kemih untuk keluar dari penis. Beratnya pada orang dewasa kira-kira
220 gram dengan ukuran rata-rata panjang 3,4 cm, lebar 4,4 cm dan tebal 2,6 cm (kira-kira
sebesar buah kenari).
Pada potongan melintang setinggi uretra pars posterior kelenjar prostat terdiri dari:
1. Kapsul anatomi
2. Jaringan stroma yang terdiri dari jaringan fibrosa dan jaringan muskular
3. Jaringan kelenjar yang terdiri atas 3 kelompok bagian:
a. Bagian luar disebut kelenjar prostat sebenarnya
b. Bagian tengah disebut kelenjar submukosal, lapisan ini disebut juga sebagaiadenomatous zone
c. Disekitar uretra disebut periurethral gland
Saluran keluar dari ketiga kelenjar tersebut bersama dengan saluran dari vesika seminalis bersatu
membentuk duktus ejakulatorius kommunis yang bermuara ke dalam uretra.
Satu fungsi dari kelenjar prostat adalah membantu mengontrol pembuangan air kecil dengan
menekan secara langsung pada bagian urethra yang dikelilinginya. Fungsi lain dari kelenjar
prostat adalah untuk menghasilkan beberapa unsur-unsur yang ditemukan pada semen (air mani)
yang normal, seperti mineral-mineral dan gula. Semen adalah cairan yang mengangkut sperma.
Selama penuan yang normal, bagaimanapun, kelenjar biasanya tumbuh lebih besar. Pembesaran
dengan penuaan ini disebut hipertropik prostat yang ramah [benign prostatic hypertrophy
(BPH)], Suatu kelenjar prostat yang membesar dapat menekan atau menimpa pada saluran keluar
kandung kemih atau urethra, menjurus pada sulitnya untuk membuang air kecil. Gejala-gejala
yang diakibatkannya termasuk aliran kencing yang melambat dan kencing lebih sering, terutama
pada waktu malam hari.
Gejala hipertropi Prostat

Seiring dengan bertambahnya usia, kelenjar prostat akan terus membesar. Pada sebagian pria,
pembesaran ini cukup signifikan sehingga menekan saluran kencing (urethra) yang
diselubunginya. Akibatnya, diameter saluran kencing akan mengecil, atau bahkan tersumbat
sama sekali. Hal inilah yang menjadi penyebab timbulnya gejala yang dirasakan penderita.
Gejala-gejala tersebut antara lain :

Sulit untuk mulai berkemih.


Aliran kemih lemah, dan kadang-kadang terhenti.
Kencing menetes sebelum dan setelah berkemih.
Sering merasa sangat ingin berkemih.
Sering bangun di malam hari untuk berkemih.
Rasa tidak puas setelah berkemih, terasa kandung kemih masih ada isinya tetapi sudah
tidak bisa dikeluarkan lagi.
Kadang-kadang pembesaran kelenjar prostat akan memicu timbulnya komplikasi berupa
infeksi saluran kemih, batu saluran kemih, kencing keluar darah, dan gangguan fungsi
ginjal.

Namun dengan gejala seperti di atas, tidak dapat dengan serta merta dikatakan seseorang adalah
penderita pembesaran kelenjar prostat. Banyak gangguan atau penyakit yang memberikan gejala
yang hampir sama. Oleh karena itu, sebelum diagnosis pembesaran kelenjar prostat jinak
ditegakkan, maka serangkaian pemeriksaan harus dilakukan, antara lain colok dubur, analisis
urin, uji PSA (prostatic specific antigen), biopsi, dll.
Gangguan yang sering memberikan gejala mirip pembesaran prostat antara lain batu kandung
kemih, infeksi saluran kencing, gagal jantung, diabetes, stroke, gangguan persarafan, peradangan
prostat, kanker prostat, jaringan parut pada saluran kencing, dll.
Teori Penyebab
Hingga sekarang masih belum diketahui secara pasti penyebab terjadinya hiperplasia prostat,
tetapi beberapa hipotesa menyebutkan bahwa hiperplasia prostat erat kaitanya dengan
peningkatan kadar dehidrotestosteron (DHT) dan proses aging (menjadi tua).
Pertumbuhan kelenjar prostat sangat tergantung pada hormon testosteron yang didalam sel-sel
kelamin prostat hormon ini akan dirubah menjadi dehidrotestosteron (DHT) dengan bantuan
enzim alfa reduktase. DHT inilah yang kemudian akan diikat oleh reseptor yang berada dalam
sitopalsma sel prostat sehingga membentuk DHT reseptor Kompleks, yang kemudian akan
masuk kedalam inti sel dan secara langsung memacu m-RNA untuk mensintesis protein sehingga
terjadi proliferasi sel.
Beberapa hipotesis yang diduga sebagai penyebab timbulnya hiperplasia prostat adalah:

Adanya perubahan keseimbangan antara hormon testosteron dan estrogen pada usia lanjut
Peranan dari growth factor sebagai pemacu pertumbuhan struma kelenjar prostat
Meningkatnya lama hidup sel-sel prostat karena berkurangnya sel yang mati

Teori sel sterm menerangkan bahwa terjadi proliferasi abnormal sel sterm sehingga
menyebabkan produksi sel struma dan sel epitel kelenjar prostat menjadi berlebihan.

Perubahan mikroskopik pada prostat sudah dapat diidentifikasi pada pria usia 30 40 tahun, dan
apabila terus berkembang akan terjadi perubahan patologi anatomi, yang pada pria usia 50 tahun
pada autopsi angka kejadiannya sekitar 50% dan pada usia 80 tahun menjadi 80% sekitar 50%
dari angka tersebut akan menyebabkan gejala dan tanda klinik.
Patogenesitas dan Patofisiologi Hipertropi Prostat
Patogenesitas
Kelenjar prostat besarnya sekitar buah walnut atau buah kenari yang terletak di bawah kandung
kencing yang mengelilingi uretra. Karena itu jika terjadi pembesaran prostat maka uretra, saluran
keluar kemih ini akan terganggu. dan akan menghambat aliran urine.
Keadaan ini akan menyebakan peningkatan tekanan intravesikal. Untuk dapat mengeluarkan
urine, buli-buli harus berkontraksi lebih kuat guna melawan tahanan tersebut. Kontraksi yang
terus-menerus ini akan menyebabkan perubahan anatomi dari buli-buli berupa hipertrofi otot
detrusor, trabekulasi, terbentuknya selula, sakula dan divertikel buli-buli.
Perubahan struktur buli-buli dirasakn oleh pasien sebagai keluhan pada saluran kemih sebelah
bawah atau lower urinary tract simptom (LUTS) yang dahulu dikenal dengan gejala-gejala
prostatimus.
Tekanan intravesikal yang tinggi akan diteruskan keseluruh bagian buli-buli, tak terkecuali pada
kedua muara ureter. Tekanan pada kedua muara ureter ini dapat menimbulkan aliran balik urine
dari buli-buli ke ureter atau terjadi refluks vesikoureter. Keadaan ini jika berlangsug terus akan
mengakibatkan hidroureter, hidronefrosis bahkan akhirnya dapat jatuh kedalam gagal ginjal.

Patofisiologi
Biasanya ditemukan gejala dan tanda obstruksi dan iritasi. Gejala dan tanda obstruksi jalan
kemih berarti penderita harus menunggu pada permulaan miksi (hesitency), miksi terputus
(intermittency), menetes pada akhir miksi (terminal dribbling), pancaran miksi menjadi lemah,
dan rasa belum puas sehabis miksi. Gejala iritasi disebabkan hipersensitivitas otot detrusor
berarti bertambahnya frekwensi miksi (frequency), nokturia, miksi sulit ditahan (urgency), dan
nyeri pada waktu miksi (disuria).
Retensi kronik akan menyebabkan refluks vesiko-ureter, hidroureter, hidronefrosis, dan gagal
ginjal. Proses kerusakan ginjal dipercepat bila terjadi infeksi. Pada waktu miksi penderita harus
selalu mengedan sehingga lama kelamaan akan menyebabkan hernia atau hemoroid. Karena
selalu terdapat sisa urine dapat terbentuk batu endapan di dalam kandung kemih, yang akan
menambah keluhan iritasi dan menimbulkan hematuria.
Gambaran Klinik

Gejala HPJ bisa berupa


Simptom Obstruktif

Pancaran lemah (weak stram)


Mengedam (abdominal straining)
Kencing harus menunggu baru keluar (hesintency)
Kencing terputus (intermittence)
Pengosongan tidak sempurna (incomplate emptying )
Kencing menetes pada akhir miksi (terminal dribbling)

Simptom Iritatif

Nokturia lebih dari satu kali


Frekuensi miksi bertambah
Urgensi
Disuria
Rasa tidak puas sehabis miksi

Gejala-gejala tersebut di atas ini yang secara umum disebut sebagai adanya prostatismus.
Faktor-faktor yang mewarnai bentuk manifestasi HPJ pada seseorang tergantung pada :

Pembesaran prostat dengan segala aspeknya.


Sumbatan perkemihan.
Prostatismus.

Tidak semua pembesaran prostat menimbulkan keluhan atau simpton, namun sebaliknya prostat
yang tidak begitu besar dapat menimbulkan keluhan yang berat. Karena itu dapat dikatakan
bahwa tidak ada hubungan linear antara pembesaran prostat dengan beratnya keluhan.
Untuk menentukan derajat beratnya HPJ dapat dilakukan berdasarkan :

Simptomatologi
Qmax
Sisa kencing
Grading rectal
Radiologik
Ultrasonografi

Sistem skor : misalnya Boyarsky score (1977), Madsen-Iversen (1983) score, Fowler score
(1988), Danish group score (1991) dan American Chronological Association (1991).
Pemerikasaan khusus HPJ, khususnya berkaitan untuk maksud grading dapat dilakukan :

Secara klinis
Pemeriksaan sisa kencing
Pemeriksaan rektal

Berdasarkan simptom :
Madsen skor
Ultrasonografi
TAUS (Transurethal Ultrasonografi)
TRUS (Transrectal Ultrasonografi)

Faktor Risiko Hipertropi Prostat


Perhatian dan perkembangan gangguan dan beban kesehatan HPJ (hipertropi prostat jinak) akan
semakin meningkat dengan perkembangan pembangunan di Indonesia, terutama dikaitkan
dengan perpanjangan usia. Makin tua populasi makin tinggi kemungkinan untuk meningkatnya
kejadian HPJ.
Prevalensi HPJ belum dapat dipastikan di Indonesia, diperkirakan 20-30% pria berusia di atas 50
tahun mengalami gangguan miksi.
Faktor-faktor yang dapat digolongkan sebagai faktor risiko HPJ adalah :

Umur : dimulai setelah 50 tahun dan setelah umur 80 tahun sudah sekitar 80% besarnya
risiko HPJ.
Poligami : lebih banyak ditemukan pada lelaki beristri lebih dari satu. Penelitian
eksperimental yang membuktikan pembesaran prostat hanya ditemukan pada manusia
dan anjing.
Makanan berhormon testoteron ; sepeerti daging kuda atau daging yang mengandung
hormon pertumbuhan.

Tidak banyak faktor yang telah teridentifikasi dan ditetapkan sebagai faktor risiko HPJ.
Penanggulangan Hipertropi Prostat
Tujuan pengobatan pada pasien hiperplasia prostat adalah menghilangkan obstruksi pada leher
buli-buli. WHO menganjurkan klasifikasi untuk menentukan berat gangguan miksi yang disebut
WHO PSS (WHO Prostate Symptom Score). Terapi non bedah dianjurkan bila WHO PSS
dibawah 15 dan terapi bedah bila WHO PSS 25 ke atas atau bila timbul obstruksi.
Penderita derajat 1 biasanya belum memerlukan tindakan bedah, diberikan pengobatan
konservatif. Misalnya dengan penghambat adenoreseptor alfa (1) seperti alfazosin, prazosin,
doksazosin, dan terazosin. Bahkan telah ditemukan penghambat adenoreseptor alfa yang lebih
selektif terhadap otot polos prostat yaitu 1a (tamsulosin). Golongan obat ini mengurangi
resistensi buli-buli. Sedangkan obat yang menurunkan kadar dehidrotestosteron seperti
finasteride, merupakan penghambat 5 reduktase yang mencegah terjadinya perubahan
testosteron menjadi DHT, sehingga penurunan kadar DHT menyebabkan mengecilnya ukuran
prostat.
Derajat II merupakan indikasi untuk melakukan pembedahan, biasanya dianjurkan dengan
eseksi endoskopik melalui uretra (TUR P = Trans Urethral Resection of Prostate). Kadangkadang derajat ini dapat dicoba dengan pengobatan konservatif.

Derajat III apabila diperkirakan pembesaran prostat sudah cukup besar, sebaiknya dilakukan
pembedahan terbuka.
Pada penderita derajat IV, tindakan pertama yang harus dilakukan ialah pembebasan penderita
dari resistensi urine total dengan memasang kateter atau sistostomi. Kemudian terapi defenitif
dengan TUR P atau pembedahan terbuka.
Pengobatan lain yang invasif minimal terutama ditujukan untuk pasien yang mempunyai resiko
tinggi terhadap pembedahan, antara lain dengan cara:
TUMT ( Trans Urethral Microwave Thermotherapy)
TULIP ( Trans Urethral Ultrasound guided Laser Induced Prostatectomy)
TUBD ( Trans Urethral Balloon Dilatation)
TUNA ( Trans Urethral Needle Ablation)
Pemasangan stent urethtral atau prostacath
Meskipun sudah banyak modalitas yang telah ditemukan untuk mengobati pembesaran prostat,
sampai saat ini terapi yang memberikan hasil yang memuaskan adalah TUR P.
Pencegahan Hipetropi Prostat
Kini, sudah beredar suplemen makanan yang dapat membantu mengatasi pembesaran kelenjar
prostat. Salah satunya adalah suplemen yang kandungan utamanya saw palmetto. Berdasarkan
hasil penelitian, saw palmetto menghasilkan sejenis minyak, yang bersama-sama dengan hormon
androgen dapat menghambat kerja enzim 5-alpha reduktase, yang berperan dalam proses
pengubahan hormon testosteron menjadi dehidrotestosteron (penyebab BPH)5. Hasilnya,
kelenjar prostat tidak bertambah besar.
Zat-zat gizi yang juga amat penting untuk menjaga kesehatan prostat di antaranya adalah :
1)
Vitamin A, E, dan C, antioksidan yang berperan penting dalam mencegah pertumbuhan sel
kanker, karena menurut penelitian, 5-10% kasus BPH dapat berkembang menjadi kanker prostat.
2)
Vitamin B1, B2, dan B6, yang dibutuhkan dalam proses metabolisme karbohidrat, lemak,
dan protein, sehingga kerja ginjal dan organ tubuh lain tidak terlalu berat. Copper (gluconate)
dan Parsley Leaf, yang dapat membantu melancarkan pengeluaran air seni dan mendukung
fungsi ginjal.
3)
L-Glysine, senyawa asam amino yang membantu sistem penghantaran rangsangan ke
susunan syaraf pusat.
4)

Zinc, mineral ini bermanfaat untuk meningkatkan produksi dan kualitas sperma.

Berikut ini beberapa tips untuk mengurangi


Mengurangi makanan kaya lemak hewan

risiko

masalah

prostat,

antara

lain:

Meningkatkan makanan kaya lycopene (dalam tomat), selenium (dalam makanan laut), vitamin
E, isoflavonoid (dalam produk kedelai)
Makan sedikitnya 5 porsi buah dan sayuran sehari
Berolahraga secara rutin Pertahankan berat badan ideal