Anda di halaman 1dari 73

LAPORAN KERJA PRAKTEK

STUDI ASESMEN KONDISI MINYAK TRANSFORMATOR


MENGGUNAKAN ANALISA DISSOLVED GAS ANALYSIS

DI PT. INDONESIA POWER

Oleh:
Reza Abdilla
NIM : 1107121109

PROGRAM STUDI TEKNIK ELEKTRO S1


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS RIAU
2015

LAPORAN KERJA PRAKTEK


STUDI ASESMEN KONDISI MINYAK TRANSFORMATOR
MENGGUNAKAN ANALISA DISSOLVED GAS
ANALYSIS DI PT. INDONESIA POWER
(Periode 9 Februari 2015 s.d 9 Maret 2015)

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Pelaksanaan Kerja Praktek


Strata Satu Program Studi Teknik Elektro Jurusan Teknik Elektro
Universitas Riau

Oleh
Reza Abdilla
NIM : 1107121109

PROGRAM STUDI TEKNIK ELEKTRO S1


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS RIAU
2015
i

HALAMAN PENGESAHAN

LAPORAN KERJA PRAKTEK

STUDI ASESMEN KONDISI MINYAK TRANSFORMATOR


MENGGUNAKAN ANALISA DISSOLVED GAS ANALYSIS DI PT.
INDONESIA POWER
PLTU BANTEN I SURALAYA 8
SEKTOR PEMBANGKITAN JAWA BALI
(Periode 9 Februari 2015 s.d 9 Maret 2015)

Oleh

Reza Abdilla
NIM : 1107121109

Suralaya, 9 Maret 2015


Menyetujui

Mengesahkan

Manejer Administrasi

Pembimbing Kerja Praktek

Sobri

Lufti Nul Hakim

NIP. 6385108K3

NIP. 860921099I

ii

HALAMAN PENGESAHAN

Laporan Kerja Praktek dengan Judul Studi Asesmen Kondisi Minyak


Transformator Menggunakan Analisa Dissolved Gas Analysis di PT.
Indonesia Power

Yang dipersiapkan dan disusun oleh


Reza Abdilla
NIM : 1107121109
Program Studi Teknik Elektro S1, Fakultas Teknik Universitas Riau,
Telah berhasil dipertahankan di hadapan Tim Penguji dan diterima sebagai
bagian persyaratan yang diperlukan untuk Pelaksanaan Kerja Praktek
pada tanggal, 9 Februari 2015 s.d 9 Maret 2015.

Mengetahui
Ketua Program Studi Teknik Elektro

Mengesahkan
Dosen Pembimbing

Febrizal, ST. MT.


NIP.19780222 200212 1 003

Dian Yayan Sukma, ST. MT.


NIP. 19780308 200312 1 001

iii

PERNYATAAN

Saya, yang bertanda tangan di bawah ini :


Nama

: Reza Abdilla

NIM

: 1107121109

menyatakan dengan sebenar-benarnya bahwa laporan kerja praktek saya yang


berjudul

STUDI ASESMEN KONDISI MINYAK TRANSFORMATOR


MENGGUNAKANKAN ANALISA DISSOLVED GAS ANALYSIS
DI PT. INDONESIA POWER
adalah hasil karya sendiri dan bukan jiplakan hasil karya orang lain.

Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenar-benarnya. Jika di kemudian


hari terbukti bahwa laporan kerja praktek saya merupakan hasil jiplakan maka
saya bersedia menerima sanksi apapun yang diberikan.

Banten, 26 Februari 2015

Reza Abdilla

iv

PRA KATA

Segala Puji dan syukur kepada Allah SWT, Rabb semesta alam, Yang Maha
Pengasih lagi Maha Penyayang, dengan rahmat dan karunia-Nya, penulis
diberikan kesempatan yang begitu berharga untuk mengikuti program Kerja
Praktek di PT. Chevron Pacific Indonesia, serta dapat menyelesaikan Laporan
Kerja Praktek ini dengan baik. Shalawat serta salam tak lupa penulis hanturkan
kepada Nabi Muhammad SAW, suri tauladan bagi seluruh umat manusia.
Penulisan Laporan Kerja Praktek ini dilakukan dalam rangka memenuhi salah satu
syarat untuk kelulusan mata kuliah Kerja Praktek di Program Studi Teknik
Elektro S1 Fakultas Teknik Universitas Riau.
Kerja Praktek dengan Judul Studi Asesmen Kondisi Minyak Transformator
Menggunakan Analisa Dissolved Gas Analysis di PT. Indonesia Power
Penulis menyadari bahwa, tanpa bantuan dan bimbingan dari berbagai
pihak, dari masa perkuliahan sampai pada penyusunan Laporan Kerja Praktek,
sangatlah sulit bagi penulis untuk menyelesaikannya. Oleh karena itu, penulis
mengucapkan terima kasih kepada:
1. Orang tua yang dengan cinta, kasih sayang, serta doanya selama ini sehingga
penulis senantiasa bersemangat dalam menempuh pendidikan yang sedang
dijalani.
2. Bapak Dr. Indra Yasri, ST. MT., selaku dosen Koordinator Kerja Praktek.
3. Bapak Dian Yayan Sukma, ST. MT., selaku dosen pembimbing. Terimakasih
atas bimbingan dan motivasi kepada penulis.
4. Bapak Anhar, ST. MT., selaku Ketua Program Studi S1 Teknik Elektro.
5. Bapak Komang Parmita yang telah membantu dalam mengurus izin untuk bisa
melakukan kerja praktek sehingga kerja praktek ini terlaksana.
6. Bapak Lutfi Nul Hakim dan Kang Ilham Ilahiya, selaku pembimbing kerja
praktek penulis di PT. Indonesia Power Banten 1 Suralaya 8, terimakasih atas
ilmu, bimbingan, dan arahan yang telah diberikan selama pelaksanaan kerja
praktek ini.

7. Bapak Andi Afriansyah, selaku pembimbing yang telah memberi banyak ilmu
dan pengetahuan tentang Dissolved Gas Analysis.
8. Happy Zatul Munawarah, S.Si., Terima kasih atas semangat, motivasi dan
doanya yang selalu menemani penulis dalam menyelesaikan laporan ini.
9. Teman-teman di HIMATRO UR dan BEM FT UR. Terimakasih atas
semangat dan dukungannya.
10. Teman-teman Kerja Praktek di PT. Indonesia Power PLTU Unit 8 UBOH
BSR Suralaya M. Jubbari Fikri, Imaad Al-Muttawakil dan Litra Yudha
Pakpahan. Terima kasih banyak atas tawa, semangat dan dukungannya.
11. Teman-teman seangkatan, Anggoro, Fauzan, Yudha, Havel, Javad, Alvon,
Nofri, Syahru, Shely, Corry, Ariq, Azmi, Haza, Fadel, Rendra dan lainnya tak
tersebutkan namanya.
12. Pihak-pihak lain yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu atas
bantuannya dan dukungannya.
Penulis menyadari dalam penulisan laporan ini masih terdapat kekurangan. Oleh
karena itu, saran dan kritik untuk kemajuan sangat penulis harapkan. Atas
perhatiannya penulis ucapkan terimakasih.

Banten, 26 Februari 2015

Reza Abdilla

vi

DAFTAR ISI

Halaman
HALAMAN JUDUL .......................................................................................... i
HALAMAN PENGESAHAN PERUSAHAAN ................................................. ii
HALAMAN PENGESAHAN PROGRAM STUDI ............................................ iii
HALAMAN PERNYATAAN ........................................................................... iv
PRA KATA ....................................................................................................... v
DAFTAR ISI ..................................................................................................... vii
DAFTAR GAMBAR ........................................................................................ x
DAFTAR TABEL ............................................................................................. xii
DAFTAR LAMPIRAN ...................................................................................... xiii

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ............................................................................................. 1
1.2 Perumusan Masalah .................................................................................... 2
1.3 Batasan Masalah ........................................................................................... 2
1.4 Maksud dan Tujuan Kerja Praktek ............................................................... 2
1.5 Manfaat Kerja Praktek ................................................................................. 3
1.6 Waktu dan Tempat Pelaksanaan Kerja Praktek ............................................. 3
BAB II PT. INDONESIA POWER
2.1 Sejarah PT. Indonesia Power ........................................................................ 4
2.2 Profil Perusahaan.......................................................................................... 5
2.3 Struktur Organisasi Perusahaan .................................................................... 6
BAB III DASAR TEORI
3.1

Sistem Kelistrikan PLTU Banten 1 Suralaya 8 ........................................ 11


3.1.1 Pembangkit Listrik Tenaga Uap ........................................................ 11
3.1.1.1 Kondensor ........................................................................... 13
3.1.1.2 Boiler ................................................................................... 13

vii

3.1.1.3 Turbin .................................................................................. 16


3.1.1.4 Generator ............................................................................. 16
3.2

Transformator ........................................................................................... 18

3.3

Minyak Transformator ............................................................................... 20


3.3.1 Karakteristik Minyak Transformator ................................................. 22

3.4

Gas Terlarut pada Minyak Transformator .................................................. 24

BAB IV PENGUJIAN DGA PADA TRANSFORMATOR


4.1 Metode Pengujian DGA (Dissolved Gas Analysis) ...................................... 28
4.1.1 Definisi DGA ...................................................................................... 28
4.1.2 Tata Cara Pengambilan Sampel Minyak .............................................. 29
4.1.3 Proses Pengujian Sampel Minyak Menggunakan Alat Uji DGA .......... 32
4.2 Analisis Kondisi Transformator Berdasarkan Hasil Pengujian DGA ............ 38
4.2.1 Standar IEEE ....................................................................................... 38
4.2.2 Key Gas (Gas Kunci) .......................................................................... 42
4.2.3 Rogers Ratio Method (Metode Rasio Roger) ..................................... 43
4.2.4 Duvals Triangle (Segitiga Duval) ...................................................... 45
4.3 Jenis Kegagalan yang Dapat Dideteksi dengan Uji DGA .............................. 46
4.4 Studi Kasus Pengujian DGA......................................................................... 47
4.4.1 Hasil Pengujian DGA Unit Auxiliary Transformator A ........................ 47
4.4.1.1 Standar IEEE ........................................................................... 47
4.4.1.2 Key Gas ................................................................................... 48
4.4.1.3 Rogers Ratio Methode............................................................. 49
4.4.2 Hasil Pengujian DGA Unit Auxiliary Transformator B ........................ 51
4.4.2.1 Standar IEEE ........................................................................... 51
4.4.2.2 Key Gas ................................................................................... 52
4.4.2.3 Rogers Ratio Methode............................................................. 53
BAB V KESIMPULAN
5.1 Kesimpulan .................................................................................................................... 55

DAFTAR PUSTAKA
viii

LAMPIRAN

ix

DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 2.1 Struktur organisasi PT. Indonesia Power Banten 1 Suralaya 8 .... 7
Gambar 2.2 Struktur organisasi PT. Indonesia Power Banten 1 Suralaya
8 pada Departemen Administration ............................................. 7
Gambar 2.3 Struktur organisasi PT. Indonesia Power Banten 1 Suralaya
8 pada Departemen Maintenance ................................................ 8
Gambar 2.4 Struktur organisasi PT. Indonesia Power Banten 1 Suralaya
8 pada Departemen Operation .................................................... 8
Gambar 2.5 Struktur organisasi PT. Indonesia Power Banten 1 Suralaya
8 pada Departemen Engineering ................................................. 9
Gambar 3.1 Siklus pembangkit listrik tenaga uap ......................................... 11
Gambar 3.2 Kurva siklus rankine ................................................................... 12
Gambar 3.3 Boiler PLTU Banten 1 Suralaya 8 ............................................. 14
Gambar 3.4 turbin PLTU Banten 1 Suralaya 8 ............................................... 16
Gambar 3.5 Ilustrasi bearing turbing PLTU Banten 1 Suralaya 8 .................. 16
Gambar 3.6 Rangkaian dasar transformator .................................................. 19
Gambar 3.7 Contoh sebuah transformator ..................................................... 19
Gambar 3.8 Struktur kimia minyak transformator dan gas-gas yang terlarut
Pada minyak transformator ......................................................... 25
Gambar 3.9 Pembentukkan skema gas vs temperatur ..................................... 26
Gambar 4.1 Syringe yang digunakan dalam pengambilan sampel ................ 29
Gambar 4.2 Oil flushing ................................................................................. 30
Gambar 4.3 Botol sampel .............................................................................. 31
Gambar 4.4 Kelman DGA Test set-Transport X ............................................ 32
Gambar 4.5 Tampilan awal Kelman DGA Test set-Transport X .................... 33
Gambar 4.6 Memilih tipe alat yang akan diproses .......................................... 33
Gambar 4.7 Memilih lokasi ........................................................................... 34
Gambar 4.8 Memilih dari mana sampel minyak diambil ................................ 34
Gambar 4.9 Memilih sumber yang akan dianalisa .......................................... 34

Gambar 4.10 Detail yang telah dipilih ............................................................. 35


Gambar 4.11 Proses venting system ................................................................. 35
Gambar 4.12 Penginjeksian sampel minyak ke botol sampel ........................... 35
Gambar 4.13 Memilih waktu purging .............................................................. 36
Gambar 4.14 Pendinginan sampel minyak ....................................................... 36
Gambar 4.15 Alat menganalisa sampel minyak .............................................. 37
Gambar 4.16 Contoh hasil dari analisa DGA .................................................. 37
Gambar 4.17 Akhir dari pengujian .................................................................. 38
Gambar 4.18 Analis diagram batang dengan menggunakan key gas................ 43
Gambar 4.19 Segitiga duval dan perumusannya .............................................. 45
Gambar 4.20 Grafik TDCG dalam persen pada unit auxiliary transformator
A ............................................................................................... 49
Gambar 4.21 Grafik trending ratio CO 2 /CO pada unit auxiliary transformator
A ............................................................................................... 50
Gambar 4.22 Grafik TDCG dalam persen pada unit auxiliary transformator
B ............................................................................................... 52
Gambar 4.21 Grafik trending ratio CO 2 /CO pada unit auxiliary transformator
B ............................................................................................... 54

xi

DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 3.1

Spesifikasi Boiler PLTU Banten 1 Suralaya 8 ............................... 15

Tabel 3.2

Spesifikasi Generator PLTU Banten 1 Suralaya 8 ........................ 17

Tabel 3.3

Spesifikasi Transformator PLTU Banten 1 Suralaya 8................... 20

Tabel 3.4

Spesifikasi Minyak Transformator Sinopec ................................... 22

Tabel 4.1

Batas konsentrasi gas terlarut dalam satuan part per million (ppm)
Berdasarkan IEEE std. C57-104.2008 ........................................... 39

Tabel 4.2

Tindakkan operasi yang harus dilakukan berdasarkan jumlah


TDCG ........................................................................................... 40

Tabel 4.3

Tabel kegagalan menurut key gas .................................................. 42

Tabel 4.4

Tabel analisis dengan menggunakan metode rasio roger................ 44

Tabel 4.5

Jenis kegagalan yang dideteksi dengan uji DGA .......................... 46

Tabel 4.6

TDCG pada unit auxiliary transformator A ................................... 47

Tabel 4.7

TDCG dalam persen pada unit auxiliary transformator A .............. 48

Tabel 4.8

Rogers ratio pada unit auxiliary transformator A ......................... 49

Tabel 4.9

TDCG pada unit auxiliary transformator B ................................... 51

Tabel 4.10 TDCG dalam persen pada unit auxiliary transformator B .............. 52
Tabel 4.11 Rogers ratio pada unit auxiliary transformator B ......................... 53

xii

DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
Lampiran 1

Single Line Diagram PT. Indonesia Power, PLTU Unit 8 UBOH,


Suralaya jaringan kelistrikan ................................................... 57

Lampiran 2

Single Line Diagram PT. Indonesia Power, PLTU Unit 8 UBOH,


Suralaya sistem pembangkitan listrik tenaga uap..................... 58

xiii

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Lembaga pendidikan Universitas Riau berkomitmen untuk memberikan
yang terbaik untuk mahasiswa-mahasiswi dalam memberikan ilmu dan
pengalaman. Terkhusus Program Studi Teknik Elektro Fakultas Teknik
Universitas Riau yang tidak hanya memberikan teori tetapi juga memberikan
pengalaman kerja kepada mahasiswa-mahasiswi dalam program Kerja Praktek.
Yang bertujuan untuk memberikan kesempatan kepada mahasiswa-mahasiswi
untuk

dapat

mengetahui

kondisi

lapangan

sesungguhnya

dan

dapat

mengaplikasikan ilmu yang didapat di kampus dengan di lapangan.


Listrik merupakan bentuk energi sekunder yang paling praktis
penggunaannya oleh manusia, dimana listrik dihasilkan dari proses konversi
energi sumber energi primer seperti, potensial air,energi angin, minyak bumi,
batubara. PLTU Banten 1 Suralaya 8 berada di bawah naungan PT. Indonesia
Power merupakan salah satu pembangkit yang menyalurkan kebutuhan listrik bagi
sistem Jawa-Bali dengan menyuplai sebesar 625 MW. Pembangkit ini
menggunakan uap sebagai pemutar turbin dan batu bara sebagai bahan bakarnya.
Dalam pembangkitannya, Generator menghasilkan tegangan sebesar 20 kV lalu di
naikkan tegangannya menggunakan Transformator menjadi 500 kV. Hal ini untuk
mengantisipasi tegangan yang tiba di pelanggan di bawah nominal yang
dibutuhkan.
Transformator

salah

satu

bagian

penting

pada

sebuah

sistem

pembangkitan, berfungsi mengkonversikan daya tanpa mengubah frekuensi


listrik, namun transformator seringkali menjadi peralatan listrik yang kurang
diperhatikan dan tidak lepas dari fenomena kegagalan (failure), baik kegagalan
termal maupun elektris. Jika kegagalan ini berlangsung terus-menerus maka akan
menyebabkan kerusakan pada tranformator. Transformator memerlukan berbagai
macam pengujian isolator, baik pengujian isolator padat maupun pengujian
isolator cair (minyak). Transformator menghasilkan gas-gas jika terjadi

keabnormalan yang terlarut didalam minyak transformator. Gas-gas itu membawa


informasi kegagalan apa saja yang terjadi didalam transformator. Untuk
mengetahui gas-gas yang terkandung dan analisis jumlah gas-gas tersebut
digunakanlah metode DGA (Dissolved Gas Analysis).

1.2 Perumusan Masalah


Dalam penulisan ini akan dibahas tentang analisa Dissolved Gas Analysis
pada kondisi transformator PLTU Banten 1 Suralaya 8 PT. Indonesia Power, meliputi
Main transformator, auxiliary transformator A dan unit auxiliary transformator B.

1.3

Batasan Masalah
Pada laporan ini, akan dibahas ruang lingkup kajian dengan batasan:

1. Cara sistem kerja PLTU Banten 1 Suralaya 8


2. Transformator tenaga PLTU Banten 1 Suralaya 8
3. Isolasi yang digunakan pada transformator yaitu minyak transformator.
4. Fungsi minyak pada transformator.
5. Gas-gas yang terlarut dalam minyak transformator.
6. Penilaian kondisi minyak transformator berdasarkan hasil dari analisa alat
DGA tidak membahas tentang metode ekstraksi gas.

1.4 Maksud dan Tujuan Kerja Praktek


Maksud dan tujuan yang hendak dicapai saat melaksanakan Kerja
Praktek diantaranya :
1. Memenuhi syarat akademik dan syarat kelulusan untuk mendapatkan gelar

sarjana teknik di Program Studi Teknik Elektro, Jurusan Teknik Elektro


Universitas Riau.
2. Mensinkronkan ilmu-ilmu teoritis yang didapat di kampus dengan ilmu praktek
di lapangan.
3. Membiasakan diri untuk bekerja secara profesional untuk dijadikan
pengalaman ketika akan memasuki dunia kerja.

4. Mengetahui dan mempraktekkan cara pengambilan sampel minyak trafo di


lapangan.
5. Mengetahui cara menganalisa kondisi transformator dengan menggunakan
analisa Dissolved Gas Analysis pada saat di lapangan.

1.5 Manfaat Kerja Praktek


Manfaat dari dilakukannya Kerja Praktek antara lain :
1. Bagi Kampus
a. Terjalin kerja sama yang erat antara Universitas Riau dengan instansi
tempat Kerja Praktek yaitu PT. Indonesia Power.
b. Sebagai bahan evaluasi dibidang akademik untuk meningkatkan dan
mengembangkan mutu pendidikan.
c. Sebagai barometer untuk mengukur sejauh mana daya serap mahasiswa
dalam menerima dan menerapkan teori yang diperoleh selama di kampus.
2. Bagi Mahasiswa
a. Menambah wawasan dan ilmu pengetahuan di luar lingkungan kampus yang
berhubungan dengan program studi yang dipilih.
b. Untuk menambah pengalaman sebelum terjun kemasyarakat atau dunia
kerja.
c. Untuk melatih mahasiswa untuk mengumpulkan dan menganalisa data yang
diperoleh serta memberikan alternatif pemecahan masalah yang dihadapi.
3. Bagi Perusahaan
a. Terjalin hubungan kerja sama dan sebagai sarana tukar informasi untuk
meningkatkan sarana dan prasarana yang telah ada.
b. Memungkinkan untuk mendapatkan masukan masukan sebagai bahan
pertimbangan untuk mengembangkan sistem yang telah ada.

1.6 Waktu dan Tempat Pelaksanaan Kerja Praktek


Kerja Praktek ini dilaksanakan terhitung sejak tanggal 9 Februari 2015
sampai dengan 9 Maret 2015 di Divisi Engineering PLTU Banten 1 Suralaya 8,
PT. Indonesia Power, Cilegon, Banten.

BAB II
PT. INDONESIA POWER

2.1 Sejarah PT. Indonesia Power


Pada akhir abad ke 19, sejumlah perusahaan Belanda yang bergerak di
bidang perkebunan, pabrik gula dan pabrik teh membangun pembangkit tenaga
listrik untuk kepentingan sendiri. Selanjutnya, sebuah perusahaan gas swasta
Belanda bernama NV NIGM (Naamloze Vennootschap Nederlandsche Indische
Gas Maatschappij) memperluas usahanya di bidang kelistrikan untuk kepentingan
umum dan memperoleh ijin konsensi berdasarkan Ordonansi 1890 No. 190
tanggal 18 September 1890.
Seiring dengan peningkatan manfaat listrik bagi masyarakat. Pemerintah
pada tahun 1927 membentuk Lands Waterkracht Bedrijven atau Perusahaan
Listrik Negara yang mengelola Pusat Listrik Tenaga Air (PLTA) Plengan,
Lamajan, Bengkok Dago, Ubruk dan Kracak di Jawa Barat. Pembangkitpembangkit inilah yang kemudian hari diserahkan dan dikelola oleh PLN PJB I, di
tahun 1995, disamping beberapa pembangkit lain yang berkapasitas lebih besar.
PLN pun terus berupaya membangun bidang ketenagalistrikan, sedangkan tugas
pembangkitan dan penyaluran tenaga listrik di Jawa dan Bali pada waktu itu
ditangani oleh PLN Pembangkitan dan Pelayanan Penyaluran Jawa Bagian Barat
(KJB) dan PLN Pembangkitan dan Penyaluran Jawa Bagian Timur (KJT).
Pada tahun 1994, status PLN yang semula berbentuk Persuhaan Umum
beralih menjadi Persero. Pada tahun 1995 status baru tersebut diikuti dengan
perubahan struktur PT PLN (Persero), yang kemudian ditindak-lanjuti dengan
fungsi PLN P2B dengan tambahan tugas Penyaluran, menjadi PLN P3B. Dengan
perubahan fungsi ini maka KJB dan KJT hanya berfokus pada fungsi
pembangkitan. Dua organisasi inilah yang menjadi cikal bakal anak Perusahaan
PLN, yakni Pembangkit Tenaga Listrik Jawa Bali I (PJB I) dan Pembangkit
Listrik Jawa Bali II (PJB II). PLN PJB I mempunyai organisasi sendiri dengan
tugas mengelola delapan unit pembangkit, masing-masing Suralaya, Saguling,

Mrica, Priok, Perak dan Grati, Bali, Semarang, Kamojang, dan satu Unit Bisnis
Jasa Pemeliharaan.
Didirikan pada 3 Oktober 1995 sebagai anak perusahaan PT Pembangkit
Jawa Bali I (PT PJB I) merupakan anak perusahaan PT PLN (Persero) yang
bergerak dalam usaha pembangkitan tenaga listrik. Nama itu kemudian berubah
menjadi PT Indonesia Power pada tanggal 3 oktober 2000. Perubahan nama
tersebut

mengukuhkan

penetapan

tujuan

Perusahaan

untuk

sepenuhnya

berorientasi pada bisnis dan mengantisipasi kecendrungan pasar yang senantiasa


berkembang. Dalam kurun waktu belasan tahun, Indonesia Power telah
berkembang dengan cepat melalui kinerja usaha yang meyakinkan.

2.2 Profil Perusahaan


Indonesia Power mengoperasikan delapan Unit Bisnis Pembangkitan
(UBP) yang tersebar di lokasi-lokasi strategis Jawa-Bali, dan Unit Bisnis Jasa
Pemeliharaan (UBOH), dengan total kapasitas terpasang sebesar 8.996 MW dari
133 unit pembangkit listriknya. Selanjutnya Perseroan mengambangkan sayap
dengan pendirian empat anak perusahaan, yaitu PT Cogindo Daya Bersama
(CBD) pada tahun 1997 untuk mendukung usaha pembangkitan, outsourcing dan
kajian energi, serta PT Artha Daya Coalindo (ADC) pada 1998 yang bergerak di
bidang manajemen dan perdagangan batubara serta bahan bakar lainnya. Sebagai
perusahaan terbesar di bidang pembangkitan tenaga listrik di Indonesia, Indonesia
Power siap memasuki era pertumbuhan baru seiring prospek bisnis yang
menjanjikan dengan penuh tantangan dimasa depan.
VISI :
Menjadi Perusahaan Publik dengan kinerja kelas dunia dan bersahabat dengan
lingkungan.
MISI :
Melakukan

usaha

dalam

bidang

pembangkitan

tenaga

listrik,

serta

mengembangkan usaha-usaha lainnya yang berkaitan, berdasarkan kaidah industri

dan niaga yang sehat, guna menjamin keberadaan dan pengembangan perusahaan
dalam jangka panjang.
TUJUAN :
Menciptakan mekanisme peningkatan efisiensi yang terus-menerus dalam
penggunaan sumber daya perusahaan.
Meningkatkan pertumbuhan perusahaan secara berkesinambungan dengan
bertumpu pada usaha penyediaan tenaga listrik dan sarana penunjang yang
berorientasi pada permintaan pasar yang berwawasan lingkungan.
Menciptakan kemampuan dan peluang untuk memperoleh pendanaan dari
berbagai sumber yang saling menguntungkan.
Mengoperasikan pembangkit tenaga listrik secara kompetitif serta mencapai
standar kelas dunia dalam hal keamanan, keandalan, efisiensi maupun kelestarian
lingkungan.
Mengembangkan budaya perusahaan yang sehat diatas saling menghargai antar
karyawan dan mitra kerja, sertamendorong terus kekokohan integritas pribadi dan
profesionalisme.

2.3 Struktur Organisasi Perusahaan


Dalam menjalankan sebuah perusahaan tentu dibutuhkan system
manajerial yang baik. Sistem tersebut terintegrasi dalam sebuah struktur yang
telah dibuat sedemikian rupa sehingga dapat memudahkan dalam hal operasional
dan control seluruh bagian dari perusahaan tersebut secara menyeluruh. Struktur
perusahaan yang baik akan berpengaruh baik pula pada perusahaan tersebut dalam
mencapai tujuannya.
PT Indonesia Power pada hakikatnya merupakan anak perusahaan dari PT
PLN Persero. PT. Indonesia Power merupakan perusahaan yang bergerak di
bidang pembangkitan tenaga listrik. Ada 2 macam bisnis utama yang dilakukan
PT. Indonesia Power, yaitu bisnis pembangkitan tenaga listrik serta bisnis operasi
dan pemeliharaan. PT. Indonesia Power memiliki beberapa unit pembangkit listik

yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Adapun struktur organisasi j dapat


dilihat pada bagan berikut.

Gambar 2.1 Struktur Organisasi PT. Indonesia Power Banten 1 Suralaya 8

Dibawah General Manager terdapat 4 jabatan dan terbagi dalam beberapa


bagian seperti gambar di bawah ini.

Gambar 2.2 Struktur Organisasi PT. Indonesia Power Banten 1 Suralaya 8 pada
Departemen Administration

Gambar 2.3 Struktur Organisasi PT. Indonesia Power Banten 1 Suralaya 8 pada
Departemen Maintenance

Gambar 2.4 Struktur Organisasi PT. Indonesia Power Banten 1 Suralaya 8 pada
Departemen Operation

Gambar 2.5 Struktur Organisasi PT. Indonesia Power Banten 1 Suralaya 8 pada
Departemen Engineering

Pada Departemen Engineering ini penulis menimba ilmu tentang PLTU,


Kelistrikan PLTU, Pemeliharaan, terkhususnya mempelajari mendalam tentang
metode Dissolved Gas Analysis pada divisi Condition Based Maintenance.
Condition Based Maintenance (CBM) ini bergerak dalam bidang pemeliharaan
yang melakukan pengecekan secara rutin terhadap kondisi dan performance
peralatan penting sehingga dapat mengambil tindakkan sebelum terjadi masalah

10

atau kerusakan

yang fatal. Dalam pengecekkan kondisi dan performance

peralatan, CBM terbagi dalam 4 metode yaitu :


1. IRT
2. Tribologi
3. MCSA
4. DGA
Metode DGA inilah yang penulis bahas dan paparkan dalam laporan kerja praktek
ini. DGA adalah metode untuk menganalisis gas yang terlarut dalam minyak
transformator, dengan menganalis gas tersebut kita dapat mendapatkan informasiinformasi tentang kesehatan dan kualitas kerja transformator.

BAB III
DASAR TEORI

3.1 Sistem Kelistrikan PLTU Banten 1 Suralaya 8


3.1.1 Pembangkit Listrik Tenaga Uap
Dalam PLTU, energi primer yang dikonversikan menjadi energi listrik
adalah bahan bakar. Bahan bakar yan di gunakan dapat berupa minyak (cair), gas
atau pun batubara (padat). Dalam hal ini, PLTU Banten 1 Suralaya 8
menggunakan bahan bakar batubara dengan spesifikasi low rank. Konversi energi
tingkat pertama yang berlangsung dalam PLTU adlah konversi energi primer
menjadi energi panas (kalor). Hal ini dilakukan dalam ruang bakar dari ketel
uap/boiler PLTU. Energi panas ini kemudian dipindahkan ke dalam air yang ada
dalam pipa ketel untuk menghasilkan uap yang dikumpulkan dalam drum dari
ketel. Uap dari ketel dialirkan ke turbin uap. Dalam turbin uap, energi (enthalpy)
uap dikonversikan menjadi energi mekanis penggerak generator, dan akhirnya
energi mekanik dari turbin uap ini dikonversikan menjadi energi listrik oleh
generator.

Gambar 3.1 Siklus pembangkit listrik tenaga uap

12

Sebuah sistem PLTU itu bekerja berdasarkan siklus rankine. Siklus


rankine adalah dasar teori dari sebuah PLTU, berikut penjelasan dari siklus
rankine:

Gambar 3.2 Kurva siklus rankine

1. Proses 1-2 : peristiwa ini terjadi di kondensor. Uap dari LP Turbine


dikondensasikan didalam kondensor menggunakan media pendingin air
laut.
2. Proses 2-3 : Peristiwa ini terjadi pada pompa CEP. Tekanan air
dinaikkan dan temperaturenya juga dinaikkan ketika melewati LP
Heater 8A & 7A, 8B & 7B, 6,dan LP Heater 5
3. Proses 3-4 : Peristiwa ini terjadi pada pompa BFPT. Tekanan air
menjadi sangat tinggi dan temperaturenya pun semakin meningkat
setelah melewati HP Heater 3, HP Heater 2, dan HP Heater 1.
4. Proses 4-5 : Peristiwa ini terjadi boiler (ruang pembakaran). Air
dipanaskan sampai berubah fase menjadi uap jenuh (saturated).
5. Proses 5-6 : Peristiwa ini terjadi di Superheater. Uap jenuh akan
dipanaskan didalam elemen superheater sampai uap tersebut menjadi
uap yang benar-benar kering dan sesuai dengan spesifikasi turbine.

13

6. Proses 6-7 : uap tersebut digunakan sebagai energy kerja untuk


memutar HP turbine sehingga akan mengalami penurunan tekanan dan
temperature.
7. Proses 7-8 : lalu uap tersebut akan dikembalikan lagi ke ruang
pembakaran (boiler) untuk dipanaskan kembali di elemen Reheater.
8. Proses 8-1 : kemudian uap tersebut digunakan untuk memutar IP
Turbine dan 2 buah LP Turbine sehingga akan mengalami penurunan
tekanan dan temperature. Pada LP Turbine tingkat sudu paling akhir,
tekanan dan temperature uap sudah sangat rendah sehingga sudah ada
butir-butir dari air kondensat yang sudah terbentuk
9. Proses 1-2 : uap masuk ke dalam kondensor, dan di kondensasikan
hingga menjadi air kondensat lalu di sirkulasikan kembali ke sistem.
Begitulah seterusnya sirkulasi air kondensat tersebut adalah air yang
sama hasil proses kondensasi.
3.1.1.1 Kondensor
Fungsi utama kondensor adalah untuk mengondensasikan uap beka dari
turbin menjadi air kondensar untuk dapat disirkulasikan kembali, hal ini
dilaksanakan melalui proses pendinginan uap oleh air pendingin yang mengalir
dibagian dalam pipa-pipa kondensor. Intinys merupakan sekumpulan pipa-pipa
pendinginn dimana uap bekas berada dibagian luar pipa (disebut sisi uap) sedang
air pendingin mengalir dibagian dalam pipa (disebut sis air). Akibat pendinginan
ini, uap bekas disisi uap akan terkondensasi dan ditampung dalam penampung
dibagian dibawah kondensor yang disebut hotwell.
3.1.1.2 Boiler
Boiler merupakan salah satu equipment utama pasa sistem PLTU. Boiler
adalah peralatan penukar panas yang memiliki fungsi utama yaitu mengubah air
menjadi uap pada tekanan dan temperature tertentu untuk memutar steam turbine.
Di dalam boiler terjadi proses perubahan air menjadi uap. Proses ini terjadi
dengan cara memanaskan air yang berada didalam pipa-pipa oleh panas hasil
pembakaran bahan bakar di dalam ruang bakar dengan mengalirkan bahan bakar
dan udara dari luar. Proses pembakaran di dasarkan pada segitiga api, yaitu:

14

1. Bahan bakar
2. Udara
3. Panas

Gambar 3.3 Boiler PLTU Banten 1 Suralaya 8

Jika ketiga elemen segitiga api tersebut disatukan, maka akan terjadi
proses pembakaran (api). Ketiga elemen tersebut terdiri dari batubara (bahan
bakar), Primary air & Secondary air (udara), dan elemen panas sudah ada pada
udara primer & sekunder yang mendapatkan panas dari equipment Air Preheater.
Uap yang dihasilkan boiler adalah superheat steam dengan tekanan dan

15

temperature yang tinggi yang sesuai dengan spesifikasi turbin. Boiler yang
digunakan di PLTU banten 1 Suralaya 8 adalah bertype SG-2129/17,5-M922.

Tabel 3.1 Spesifikasi Boiler PLTU Banten 1 Suralaya 8

16

3.1.1.3

Turbin
Turbine adalah mesin penggerak utama, dimana energy fluida kerja

dipergunakan langsung untuk memutar turbine. Bagian tubine yang berputar


dinamai rotor (sudu gerak), dan yang diam dinamai stator (sudu tetap). Turbine
terdiri dari sudu-sudu, sudu turbine terdiri dari sudu gerak dan sudu diam.

Gambar 3.4 Turbin PLTU Banten 1 Suralaya 8

Gambar 3.5 Ilustrasi bearing turbin PLTU Banten 1 Suralaya 8

3.1.1.4

Generator
Generator berfungsi untuk mengubah energy mekanik menjadi energy

gerak. Generator merupakan jantung dari suatu pembangkit tenaga listrik.


Generator yang digunakan di PLTU Banten 1 Suralaya adalah generator sinkron.

17

Pada generator sinkron terdapat 2 medan magnet, yaitu kumparan yang


mengalirkan penguatan DC, dan sebuah jangkar tempat dibangkitkannya ggl arus
bolak-balik (AC). Berikut spesifikasi generator yang digunakan pada pada PLTU
Banten 1 Suralaya 8.

Tabel 3.2 Spesifikasi generator PLTU Banten 1 Suralaya 8

18

3.2 Transformator
Transformator merupakan peralatan mesin listrik statis yang bekerja
berdasarkan prinsip induksi elektromagnetik mentransformasikan tegangan dan
arus bolak-balik diantara dua belitan, atau lebih pada frekuensi yang sama besar
dan biasanya pada nilai arus dan tegangan berbeda. Penggunaan yang sangat
sederhana dan andal itu merupakan salah satu sebab penting bahwa arus bolak
balik sangat banyak dipergunakan untuk pembangkitan dan penyaluran tenaga
listrik. Beberapa alasan digunakannya transformator pada sistem pembangkitan
diantaranya adalah :
1. Bervariasinya nominal tegangan yang digunakan oleh pelanggan
2. Tegangan yang dihasilkan generator belum sesuai dengan tegangan di
jaringan
3. Sumber (pembangkit) berada jauh dari pemakai sehingga perlu
tegangan yang tinggi untuk mengantisipasi terjadinya loss tegangan
pada jaringan transmisi.
Bagian-bagian utama transformator sebagai berikut :
1. Inti besi
2. Kumparan transformator
3. Minyak transformator
4. Bushing
5. Tangki konservator

Secara sederhana transformator dapat dibagi menjadi tiga bagian, yaiut


lilitan primer, lilitan sekunder dan inti besi. Lilitan primer merupakan bagian
transformator yang terhubung dengan rangkaian sumber energi (catu daya).
Lilitan sekunder merupakan bagian transformator yang terhubung dengan
rangkaian beban. Inti besi merupakan bagian transformator yang bertujuan untuk
mengarahkan keseluruhan fluks magnet yang dihasilkan oleh lilitan primer agar
masuk ke lilitan sekunder. Berikut rangkaian dasar dari transformator ditunjukkan
pada gambar berikut :

19

Gambar 3.6 Rangkaian dasar transformator

Dimana :
V1

Tegangan primer

V2

Tegangan sekunder

I1

Arus primer

I2

Arus sekunder

N1

Jumlah lilitan primer

N2

Jumlah lilitan sekunder

Berikut adalah gambar dari sebuah transformator.

Gambar 3.7 Contoh sebuah transformator


Keterangan:

20

1.

Mounting flange

9.

Terminal penghubung

2.

Tangki transformator

10. Carriage

3.

Core

11. Baut pada core

4.

Konservator

12. Header

5.

Sirip radiator

13. Termometer

6.

Belitan

14. Relai Buchholz

7.

LV bushing

15. Breather

8.

HV bushing

Tabel 3.3 Spesifikasi Transformator PLTU Banten 1 Suralaya 8

3.3 Minyak Transformator


Di dalam sebuah transformator terdapat dua komponen yang secara aktif
membangkitkan energi panas, yaitu besi (inti) dan tembaga (kumparan). Bila
energi panas tidak di salurkan melalui sistem pendinginan akan mengakibatkan
besi maupun tembaga akan mencapai suhu yang tinggi, yang akan merusak nilai

21

isolasinya. Sebagai maksud untuk pendinginan, kumparan dan inti dimasukkan


kedalam suatu jenis minyak, yang dinamakan minyak transformator. Sebagian
besar kumparan-kumparan dan inti transformator direndam dalam minyak
transformator, terutama transformator-transformator yang berkapasitas besar,
karena minyak transformator mempunyai sifat sebagai isolasi dan media
pemindah. Minyak tranformator mempunyai beberapa tugas utama, yaitu:
1. Media isolator
2. Media Pendingin
3. Media/alat untuk memadamkan busur api
4. Perlindungan terhadap korosi dan oksidasi
Perlu dikemukan bahwa minyak transformator harus memiliki mutu yang
tinggi dan senantiasa berada dalam keadaan bersih. Disebabkan energi panas yang
dibangkitkan dari inti maupun kumparan, maka suhu minyak akan naik. Hal ini
akan mengakibatkan terjadinya perubahan-perubahan pada minyak transformator.
Minyak transformator dapat dibedakan atas dua jenis, yaitu minyak
mineral dan minyak sintetik.

Pemilihan minyak didasarkan pada keadaan

lingkungan dimana transformator digunakan, misal askarel adalah jenis minyak


sintetik yang tidak dapat terbakar, sehingga pemakaian askarel memungkinkan
transformator distribusi dapat digunakan pada lokasi dimana bahaya api sangat
besar ( misal pada industri kimia ), tetapi dari segi kesehatan minyak ini dinilai
sangat menbahayakan. Oleh karena itu di beberapa negara ada larangan
menggunakan askarel.
Minyak transformator jenis mineral biasanya merupakan sebuah campuran
kompleks dari molekul-molekul hidrokarbon, baik dalam bentuk linear
(paraffinic) atau siklis (cycloaliphatic atau aromatic), mengandung kelompok
molekul CH 3 , CH 2 dan CH yang terikat. Formula umum dari minyak
transformator adalah C n H 2n+2 dengan n bernilai antara 20 s.d 40.
Minyak yang digunakan di PLTU Banten 1 Suralaya 8 adalah minyak
transformator jenis mineral dengan produk dari Merk dagang Sinopec.

22

Tabel 3.4 Spesifikasi Minyak Transformator Sinopec


Items

Transformer oil

limit

10

25

40

45

Kinematic viscosity (40C),


mm2/s

8.931

9.395

9.912

9.252

Flash point (Closed), C

162

153

158

154

Pour point, C

-12

-27

-45

-51

Freezing point, C

-55

Breakdown voltage, Kv

50

47

50

53

3.3.1 Karakterikstik Minyak Transformator


Minyak transformator harus memiliki beberapa karakteristik tertentu agar
dapat menjalankan fungsinya dengan baik. Karakteristik ini harus terus dipantau
dan diperhatikan secara terus-menerus. Karakteristik tersebut antara lain :
1. Kejernihan Penampilan (Appearance)
Warna minyak yang baik adalah warna yang jernih dan bersih, seperti
air murni. Selama transformator dioperasikan, minyak isolator akan
melarutkan suspensi / endapan (sludge). Semakin banyak endapan
yang terlarut, maka warna minyak akan semakin gelap.
2. Viskositas Kinematik (Kinematik Viscosity)
Viskositas kinematik merupakan tahanan dari cairan untuk mengalir
kontinu dan merata tanpa adanya gesekan dan gaya-gaya lain. Sebagai
media pendingin, nilai viskositas memegang peranan penting dalam
pendinginan, sebagai faktor penting dalam aliran konveksi untuk
memindahkan panas. Makin rendah viskositas, semakin bagus pula
konduktivitas termalnya sehingga bagus kualitas dari minyak trafo
tersebut.
3. Massa Jenis (Density)
Massa jenis merupakan perbadingan massa suatu volume cairan pada
temperatur 15.56C dengan massa air pada volume dan temperatur
yang sama. Massa jenis minyak trafo harus lebih rendah daripada air.

23

4. Titik Nyala (Flash Point)


Titik nyala menunjukkan bahawa minyak trafo dapat dipanaskan
sampai temperatur tertentu sebelum uap yang timbul menjadi api yang
berbahaya. Makin tinggi titik nyala semakin baik.
5. Titik Tuang (Pour Point)
Titik tuang merupakan temperatur terendah saat minyak masih akan
terus mengalir saat didinginkan pada temperatur dibawah temperatur
normal. Minyak isolator diharapkan memiliki titik tuang yang serendah
mungkin.
6. Angka Kenetralan (Netralization Number)
Angka kenetralan merupakan angka yang menunjukkan penyusun
asam minyak isolator dan dapat mendeteksi kontaminasi minyak,
kecenderungan perubahan kimia atau cacat/indikasi perubahan kimia
tambahan. Selain itu merupakan petunjuk umum untuk menentukan
apakah minyak yang sedang dipakai harus diganti atau diolah kembali
dengan melakukan penyaringan.
7. Stabilitas/Kemantapan Oksidasi (Oxydation Stability)
Proses oksidasi menyebabkan bertambahnya kecenderungan minyak
untuk membentuk asam dan kotoran zat padat yang nntinya akan
membentuk endapan (sludge) yang menyebabkan menurunnya
tegangan tembus. Asam menyembabkan korosi pada logam dalam
peralatan transformator sedangkan kotoran zat padat menyebabkan
transfer panas menjadi terganggu. Minyak isolator diharapkan
memiliki stabilitas oksidasi yang tinggi dan kemampuan pelarutan
yang rendah sehingga meminimalisir persentase terjadinya oksidasi.
8. Kandungan Air (Water Content)
Adanya air dalam minyak isolator akan menurunkan tegangan tembus
dan tahanan jenis minyak isolator, serta memacu munculnya hot spot
sehingga nantinya akan mempercepat kerusakan isolator kertas (kertas
dan kayu). Pemanasan yang berlebihan pada transformator akan
menyebabkan isolasi kertas pada belitan akan membusuk dan

24

menurunkan umur isolator. Membusuknya isolasi kertas juga akan


menambah jumlah kandungan air. Pemecahan molekul serat kertas
akan melepaskan sejumlah atom hidrogen dan oksidasi bebas yang
nantinya akan membentuk air. Naiknya temperatur lebih lanjut akan
menyebabkan air bergerak dari isolasi kertas menuju minyak dan
menurunkan tengan tembus minyak. Minyak isolator diharapkan
memiliki kandungan iar serendah mungkin.
9. Tegangan Tembus (Breakdown Voltage)
Tegangan tembus menunjukkan kemampuan untuk menahan electric
stress tanpa kerusakan. Kandungan air bebas dan partikel-partikel
konduktif dapat menaikkan tingkat electric stress dan menurunkan
bilai tegangan tembus. Tegangan tembus dapat diukur dengan cara
memasukkan 2 buah elektroda bola (setengah bola) ke dalam minyak
yang akan diukur. Kalau didapat tegangan tembus yang rendah, maka
dapat dikatakan minyak isolasi telah terkontaminasi. Minyak isolator
diharapkan memiliki tegangan tembus yang tinggi.
10. Faktor Kebocoran Dielektrik (Dielectric Dissipation Factor)
DDF menunjukkan ukuran dari dielectric losses minyak. Tingginya
DDF menunjukkn adanya kontaminasi atau hasil kerusakan misalnya
air, hasil oksidasi, logam alkali, koloid bermuatan, dan sebagainya.
DDF berhubungan langsung dengan tahanan jenis, sehingga tingginya
nilai DDF secara langsung menunjukkan rendahnya tahanan jenis
minyak.
11. Tahanan Jenis (Resistivity)
Tahanan jenis yang rendah menunjukkan adanya pengotor yang
bersifat konduktif. Suatu cairan dapat digolongkan sebagai isolator cair
bila tahanan jenisnya lebih besar dari 10 9 W-m.

3.4 Gas Terlarut Pada Minyak Transformator


Minyak transformator merupakan sebuah campuran kompleks dari
molekul-molekul hidrokarbon, dalam bentuk linear atau siklis, yang mengandung

25

kelompok molekul CH 3 , CH 2 dan CH yang terikat. Pemecahan beberapa ikatan


antara unsur C-H dan C-C sebagai hasil dari kegagalan termal ataupun elektris
akan menghasilkan fragmen-fragmen ion seperti H*, CH 3 *, CH 2 *, CH* atau C*,
yang nantinya akan berekombinasi dan menghasilkan molekul-molekul gas seperti
hidrogen (H-H), metana (CH 3 -H), etana (CH 3 -CH 3 ), etilen (CH 2 = CH 2 ) dan
asetilen (CHCH). Gas-gas ini disebut dengan istilah fault gas.
Semakin banyak jumlah ikatan karbon (ikatan tunggal, ganda, rangkap
tiga) maka semakin banyak pula energi yang dibutuhkan untuk menghasilkannya.
Hidrogen (H 2 ), metana (CH 4 ) dan etana (C 2 H 6 ) terbentuk oleh fenomena
kegagalan dengan tingkat energi yang rendah, seperti partial discharge atau
corona. Etilen (C 2 H 4 ) terbentuk oleh pemanasan minyak pada temperatur
menengah, dan asetilen (C 2 H 2 ) terbentuk pada temperatur yang sangat tinggi.

Gambar 3.8 Struktur kimia minyak transformator dan gas-gas yang terlarut pada
minyak transformator

Pada gambar 3.8 menerangkan bahwa jenis fault gas dan jumlah relatifnya
yang terbentuk saat temperaturnya semakin naik. Nilai temperatur tersebut
bukanlah nilai yang baku, melainkan hanya pendekatan. Gas hidrogen dan metana
mulai terbentuk pada temperatur sekitar 150C. Gas etana mulai terbentuk pada
temperatur sekitar 250C, dan gas etilen mulai terbentuk pada temperatur sekitar

26

350C. Gambar 3.8 juga menjelaskan bahwa setelah melewati titik maksimumnya
maka pembentukan gas metana, etana dan etilen akan terus menurun seiring
dengan bertambahnya temperatur.
Gas asetilen merupakan indikator adanya daerah dengan temperatur paling
tidak 700C, pada beberapa kasus kegagalan termal (hot spot) dengan temperatur
500C ternyata juga dapat memacu pembentukan gas asetilen walaupun dalam
nilai ppm yang kecil. Sejumlah besar asetilen hanya dapat dihasilkan jika
temperaturnya diatas 700C yang biasanya disebabkan oleh adanya busur api
(internal arcing).

Gambar 3.9 Pembentukkan skema gas vs temperatur

27

Pada transformator terdapat isolasi kertas, material isolasi kertas biasanya


merupakan substansi polimer yang struktur kimianya adalah [C 12 H 14 O 4 (OH) 6 ]n
dengan n bernilai antara 300 sampai dengan 750. Umumnya berbentuk siklis,
yang mengandung senyawa CH 2 , CH dan CO. Ikatan molekul C-O merupakan
ikatan yang lemah, sehingga akan menghasilkan komponen pembentuk fault gas
pada temperatur hanya 100C, dan karbonisasi sempurna dari isolasi kertas pada
temperatur 300C. CO 2 terbentuk pada temperatur rendah, sedangkan CO mulai
terbentuk pada temperatur 200C.
Gas-gas seperti CO, H 2 , CH 4 , C 2 H 6 , C 2 H 4 dan C 2 H 2 tergolong dalam
combustible gas atau gas yang mudah terbakar. Gas-gas inilah nantinya akan diuji
dengan analisa kondisi minyak trafo dengan metode dissolved gas analysis
(DGA).

BAB IV
PENGUJIAN DGA PADA MINYAK TRANSFORMATOR

4.1

Metode Pengujian DGA (Dissolved Gas Analysis)

4.1.1 Definisi DGA


Masalah paling kritis yang dapat ditemui seputar kondisi minyak trafo
adalah apa yang yang harus dilakukan bila trafo menghasilkan gas?. DGA pada
dunia industrial dikenal juga sebagai tes darah atau blood test pada transformator.
Darah manusia adalah senyawa yang mudah untuk melarutkan zat-zat lain yang
berada disekitarnya. Melalui zat-zat terlarut pada darah, maka akan diperoleh
informasi-informasi terkait tentang kesehatan manusia. Begitu pula dengan
transformator, pengujian zat-zat terlarut (biasanya gas) pada minyak trafo (minyak
trafo dianalogikan sebagai darah manusia) akan memberikan informasi-informasi
terkait akan kesehatan dan kualitas kerja transformator secara keseluruhan. DGA
adalah media deteksi terbaik untuk melihat ketidaknormalan ini.
Uji DGA ini dilakukan dengan cara mengambil sampel minyak
transformator dari transformator yang akan di uji. Pada laporan ini penulis
mengambil sampel pada main transformator, unit auxiliary transformator A dan
unit auxiliary transformator B. Kemudian gas-gas terlarut tersebut di eskstrak. Gas
telah diekstrak lalu dipisahkan, diidentifikasi komponen-komponen individualnya,
dan dihitung kuantitasnya (dalam satuan Part Per Million ppm).
Keuntungan dari pengujian ini adalah dapat mendeteksi kegagalan yang
terjadi didalam transformator sebelum kegagalan itu semakin buruk. Namun
terdapat kelemahan dari pengujian ini, yaitu tingkat kemurnian sampel minyak yang
harus sangat tinggi, tidak boleh adanya gas dari luar transformator yang boleh
tercampur dalam tempat pengambilan sampel, sehingga tidak merubah hasil dari
pengujian. Pengujian DGA adalah salah satu langkah perawatan preventif yang
wajib dilakukan, dengan jarak minimal pengujian minimal 1 kali dalam 1 tahun.

29

4.1.2 Tata Cara Pengambilan Sampel Minyak


Pengambilan minyak ini sangat berpengaruh terhadap hasil dari pengujian
DGA. Karena bila terjadi kesalahan baik yang tidak disadari mau disadari akan
merubah hasil pembacaan gas-gas yang terkandung didalam minyak. Oleh sebab
itu pengambilan harus dilakukan dengan baik, teliti dan berhati-hati sehingga tidak
merubah hasil dari pengujian.
Alat yang diperlukan dalam pengambilan sampel minyak antara lain:
1. Syringe
Berbentuk suntikan berwadah bahan kaca untuk mengambil sampel minyak
dari trafo.

Gambar 4.1 Syringe yang digunakan dalam pengambilan sampel

Tujuan penggunaan syringe agar minyak yang diambil tidak tercampur


dengan udara luar dan menghindari gas-gas ringan yang mudah lepas seperti H 2 .
Dengan begitu kandungan gas yang pada sampel minyak dapat mewakili
kandungan gas minyak yang sebenarnya didalam trafo.
2. Oil flushing unit
Unit yang terdiri dari selang silikon, flange, seal dan stop-kran

yang

berfungsi sebagai sarana untuk mengambil sampel minyak dari trafo dan juga

30

untuk membuang minyak trafo yang kotor. Biasanya alat ini tersambung
langsung dengan syringe.

Gambar 4.2 Oil flushing

3. Ember
Tempat untuk membuang sampel minyak yang kotor dan juga tempat
pembuangan pada saat proses flushing.
4. Sarung Tangan
Alat keselamatan pada saat pengambilan sampel, sehingga minyak trafo
tidak langsung kontak dengan kulit.
5. Botol Sampel
Botol kimia yang digunakan sebagai tempat sampel minyak yang selanjutnya
dimasukkan kedalam alat uji DGA, yang pada saat itu penulis menggunakan alat
bernama Kelman DGA test set-Transport X. Sebelum dipergunakan untuk
pengujian, perlu dipastikan bahwa botol sampel bersih sehingga tidak
mempengaruhi hasil pengujian.

31

Gambar 4.3 Botol sampel

Proses pengambilan sampel minyak dari transformator dilakukan setelah


semua peralatan telah dipersiapkan. Berikut adalah instruksi kerja dalam
pengambilan sampel minyak transformator untuk pengujian DGA:
Persiapan :
1. Siapkan ember untuk menampung minyak trafo
2. Pasang oil flushing unit pada drain valve tangki trafo, biasa terletak di sudut
bawah trafo
3. Atur stop-kran pada posisi menutup
4. Persiapkan syringe untuk pengambilan sampel minyak, jumlah syringe yang
digunakan sebanyak 3 buah, karena akan mengambil sampel pada main
transformator, unit auxiliary transformator A dan unit auxiliary
transformator B
5. Gunakan sarung tangan sebelum pengambilan sampel
Pelaksanaan :
1. Pasang selang silikon yg terdapat pada syringe ke drain valve
2.

Buka drain valve tangki trafo

3. Lakukan proses pembuangan minyak trafo selama 1 menit. Untuk


membuang minyak trafo yang terdapat pada pipa drain valve. Buang minyak
trafo pembuangan ke dalam ember

32

4. Lalu lakukan proses pembersihan / flushing sebanyak 2 kali. Ini dilakukan


untuk memastikan tidak terdapatnya gelembung udara pada syringe
5. Ambil sampel minyak sebanyak 50 ml
6. Tutup drain valve pada trafo
7. Beri label nama trafo yang di ambil pada syringe
8. Lepas oil flushing dari drain valve
9. Tutup kembali drain valvepastikan telah tertutup dengan benar
10. Lakukan ini juga pada setiap trafo yang akan di ambil sampel minyaknya
Penyelesaian :
1. Lepas oil flushing dari syringe
2. Bersihkan syringe, keringkan dan simpan pada tempatnya
Untuk mendapatkan hasil diagnosa yang akurat, jika sudah pengambilan
sampel minyak maka harus segera dilakukan pengujian DGA.
4.1.3 Proses Pengujian Sampel Minyak Menggunakan Alat Uji DGA
Untuk mendapakan hasil dari sampel minyak tersebut, minyak tersebut
harus diproses lagi dengan sebuat alat uji DGA,disini alat uji yang digunakan adalah
Kelman DGA test set-Transport X.

Gambar 4.4 Kelman DGA test set-Transport X

33

Dalam proses pengujiannya, Kelman DGA test set-Transport X


menggunakan sistem komputerisasi. Hanya beberapa proses secara manual, seperti
menginjeksikan sampel minyak kedalam botol sampel. Berikut tata cara
penggunakan Kelman DGA test set-Transport X dalam pengujian DGA:
Persiapan :
1.

Siapkan sampel minyak yang ingin diuji

2.

Siapkan Kelman DGA test set-Transport X

Pelaksanaan :
1.

Nyalakan Kelman DGA test set-Transport X

2.

Pilih start new measurement

Gambar 4.5 Tampilan awal Kelman DGA test set-Transport X

3.

Pilih tipe,lokasi dan sumber yang akan diuji, lalu alat akan melakukan venting
system

Gambar 4.6 Memilih tipe alat yang akan diproses

34

Gambar 4.7 Memilih lokasi

Gambar 4.8 Memilih dari mana sampel minyak diambil

Gambar 4.9 Memilih sumber yang akan dianalisa

35

Gambar 4.10 Detail yang telah dipilih

Gambar 4.11 Proses venting sistem

4.

Masukkan sampel minyak pada botol sampel yang sudah terhubung dengan
Kelman DGA test set-Transport X

Gambar 4.12 Penginjeksian sampel minyak ke botol sampel

36

5.

Pilih seberapa lama alat akan melakukan purging

Gambar 4.13 Memilih waktu purging

6.

Bila minyak sampel terlalu panas, maka alat akan mendinginkan hingga
mencapai 0C

Gambar 4.14 Pendinginan sampel minyak

7.

Alat akan menganalisa minyak sampel selama beberapa menit

37

Gambar 4.15 Alat menganalisa sampel minyak

8.

Alat akan memperlihatkan hasil dari analisa

Gambar 4.16 Contoh hasil dari analisa DGA

9.

Pilih print results jika ingin mendapatkan hardcopy dari hasil pengujian, pilih
Advanced jika ingin meliat informasi lebih lanjut tentang hasil pengujian dan
pilih finish jika ingin menyudahi tes.

38

Gambar 4.17 Akhir dari pengujian

10. Matikan Kelman DGA test set-Transport X lalu bersihkan peralatan seperti
syringe dan botol sampel
11. Letakkan Kelman DGA test set-Transport X dan peralatan lainnya pada
tempatnya

4.2

Analisis Kondisi Transformator Berdasarkan Hasil Pengujian DGA


Setelah diketehui jumlah dan karakteristik gas-gas terlarut yang diperoleh

dari sampel minyak, selanjutnya perlu dilakukan interpretasi terhadap data-data


dengan menganalisisnya. Terdapat beberapa metode analisis terhadap data tersebut
seperti yang tercantum pada IEEE std. C57 104.1991 dan IEC 60599, yaitu:
1.

Standar IEEE

2. Key Gas
3. Rogers Ratio
4. Duvals Triangle
4.2.1 Standar IEEE
IEEE telah menerapkan stadarisasi untuk melakukan analisis berdasarkan
jumlah gas terlarut pada sampel minyak, yaitu pada IEEE std. C57-104.2008.
Standar IEEE merupakan standar utama yang digunakan dalam analisis DGA.
Namun fungsinya hanyalah sebagai acuan karena hanya menggolongkan tingkat
kosentrasi gas dan jumlah TDCG dalam berbagai tingkatan kewaspadaan. Seperti

39

telah dijelaskan sebelumnya pada bab III bahwa gas-gas seperti CO, H 2 , CH 4 ,

C 2 H 6 , C 2 H 4 dan C 2 H 2 disebut sebagai combustible gas atau gas yang mudah


terbakar. Pada DGA ini terdapat istilah Total Dissolved Combustible Gas (TDCG).
TDCG adalah total dari gas mudah terbakar yang terdapat pada minyak
transformator.
Standar ini hanya memberikan tindakan yang harus dilakukan terhadap
transformator dari acuan TDCG. Standar ini tidak memberikan proses analisis yang
lebih pasti akan indikasi kegagalan yang sebenarnya terjadi. Ketika konsentrasi gas
terlarut sudah melewati kondisi 1 (TDCG > 720 ppm), maka perlu dilakukan proses
analisis lebih lanjut terhadap transformator untuk mengetahui indikasi kegagalan
yang terjadi pada transformator.
Pada tabel dibawah menunjukkan kemungkinan jumlah gas terlarut yang
mudah terbakar atau TDCG pada minyak sampel yang kita ambil dari
transformator. IEEE membuat pedoman untuk mengklarifikasi kondisi operasional
transformator yang terbagi dalam empat kondisi, yaitu:

Tabel 4.1 Batas kosentrasi gas terlarut dalam satuan part per million (ppm)
berdasarkan IEEE std. C57-104.2008

40

Pada kondisi 1, transformator beroperasi normal. Namun, tetap perlu dilakukan


pemantauan kondisi gas-gas tersebut.
Pada kondisi 2, tingkat TDCG mulai tinggi,. Ada kemungkinan timbul gejala-gejala
kegagalan yang harus mulai diwaspadai. Perlu dilakukan pengambilan sampel
minyak yang lebih rutin dan sering.
Pada kondisi 3, TDCG pada tingkat ini menunjukkan adanya dekomposisi dari
isolasi kertas dan / minyak tranformator. Sebuah atau berbagai kegagalan mungkin
sudah terjadi. Pada kondisi ini transformator sudah harus diwaspadai dan perawatan
lebih lanjut.
Pada kondisi 4, TDCG pada tingkat ini menunjukkan adanya dekomposisi /
kerusakan pada isolator kertas dan / atau minyak trafo sudah meluas.
Standar IEEE ini juga menetapkan tindakan operasional yang disarankan
berdasarkan jumlah TDCGnya dalam satuan ppm dan rata-rata pertambahan TDCG
dalam satuan per hari yang mengacu pada tabel 4.3. Kondisi transformator
disesuaikan dengan nilai-nilai yang terkandung pada tabel 4.2, lalu lakukan
tindakan berdasarkan tabel 4.3.

Tabel 4.2 Tindakan operasi yang harus dilakukan berdasarkan jumlah TDCG
TDCG
Level or
Conditions

Highest
Individual

TDCG
Generatio
n Rate

Sampling Intervals and


Operating Actions for Gas
Generation Rates

(ppm/Day

Sampling

Operating

Interval

Procedures

720 ppm

< 10

Annually

Continue normal

of TDCG or

10 30

Quarterly

operation

Gas (See
Tabel 4.2)

Condition

highest

condition
based on
individual

Exercise caution.
> 30

Monthly

Analyse individual
gases to find cause.

41

gas (Tabel

Determine load

4.2)

dependence.

721-1920

< 10

Quarterly

ppm of

10 30

Monthly

TDCG or
Condition
2

Exercise caution.
Analyse individual

highest

gases to find cause.

condition
>

based on

30

individual

Monthly

Determine load
dependence.

gas (Tabel
4.2)

Condition
3

1921-4630

< 10

Monthly

Exercise extreme

ppm of

10 30

Weekly

caution.

TDCG or

Analyse individual

highest

gases to find cause.

condition

Plan outage.

based on

> 30

Weekly

Call manufacturer and

individual

other consultants for

gas (Tabel

advise.

4.2)
< 10

Weekly

Exercise extreme

> 4630 ppm

caution.

of TDCG or

Analyse individual

highest

gases to find cause.


Plan outage.

Condition

condition

based on

Call manufacturer and

individual

other consultants for

gas (Tabel

advise.

4.2)

10 30

> 30

Daily

Daily

Consider removal
from service.

42

Call and other


consultants for advise.

Sebagai contoh, jika jumlah TDCG bernilai antara 721 ppm sampai dengan
1920 ppm, maka transformator berada pada kondisi 2. Tetapi, jika jumlah metana
berada pada posisi 401-1000 ppm sedangkan jumlah TDCG berada pada posisi 721
ppm sampai dengan 1920 ppm, maka transformator berada pada kondisi 2 tetapi
harus diinvestigasi secara cepat dan memperhatikan trending gas tersebut pada
pengambilan sampel minyak berikutnya.
4.2.2 Key Gas (Gas Kunci)
Key gas ini didefinisikan oleh IEEE std. C57 104.1991 sebagai gas-gas
yang terbentuk pada transformator pendingin minyak yang secara kualitatif dapat
digunakan untuk menentukan jenis kegagalan yang terjadi, berdasarkan jenis gas
yang khas atau lebih dominan terbentuk pada berbagai temperatur. Gas kunci yang
dijadikan indikator antara lain Hidrogen (H 2 ), Karbon Monoksida (CO), Metana
(CH 4 ), Etana (C 2 H 6 ), Ethilena (C 2 H 4 ), dan Acetilena (C 2 H 2 ). Komposisi minyak
tersebut dapat memrepresentasikan kondisi minyak tersebut. Berikut tabel jenis
kegagalan menurut analisis key gas :

Tabel 4.3 Tabel kegagalan menurut key gas


Jumlah
Gangguan

Gas Kunci

Kriteria

Prosentase
Gas

Hidrogen (H2) dan Asetilen


Busur
(Arcing)

Api Asetilen
(C 2 H 2 )

(C 2 H 2 ) dalam jumlah besar dan


sedikit

Metana

Etilen(C 2 H 4 )

(CH 4 )

dan

Hidrogen
(H 2 ) : 60%
Asetilen
(C 2 H 2 ):
30%

43

Hidrogen dalam jumlah besar,


Metana jumlah sedang, dan Hidrogen
Etilen, (H 2 ) : 85%

sedikit
Korona (PD)

Hidrogen (H 2 )

Karbonmonoksida

dapat (CH 4 ) :

karbondioksida,
dibandingkan

dan Metana

bila

berkaitan 13%

dengan selulosa
Etilen dalam jumlah besar dan
Pemanasan
lebih Minyak

Etana dalam jumlah lebih kecil,


Etilen (C 2 H 4 )

jumlah sedang metana dan


Hidrogen,sedikit
Karbonmonoksida

Pemanasan
lebih selulosa

Karbon

CO dan CO 2 dalam jumlah

Monoksida

besar

(CO)

Gas hidrokarbon mungkin ada

Etilen
(C 2 H 4 ) :
63%
Etana
(C 2 H 6 ) :
20%
Karbonmo
noksida
(CO) :
92%

44

Tabel tersebut direpresentasikan dalam diagram batang :

Gambar 4.18 Analisis diagram batang dengan menggunakan Key Gas


4.2.3 Rogers Ratio Method (Metode Rasio Roger)
Diagnosa gangguan transformator menurut metode Rasio Roger merupakan
analisis kandungan gas terlarut yang diperoleh dengan membandingkan kuantitas
suatu gas kunci terhadap gas kunci lainnya. Magnitude rasio 5 jenis fault gas
digunakan untuk menciptakan 3 digit kode. Kode-kode tersebut akan menunjukkan
indikasi dari penyebab munculnya fault gas. Menggunakan rasio gas C 2 H 2 /C 2 H 4 ,
CH 4 /H 2 dan C 2 H 4 /C 2 H 6 . Berguna untuk fault analyzing bukan untuk fault
detection. Metode ini akurat bila gas yang digunakan dalam rasio terdeteksi cukup
besar.

Tabel 4.4 Tabel analisis dengan menggunakan metode Rasio Roger

45

selain rasio diatas, juga digunakan rasio lain yaitu rasio CO 2 /CO. Rasio ini
digunakan untuk mendeteksi keterlibatan isolasi kertas pada fenomena kegagalan.
Normalnya rasio CO 2 /CO bernilai 5-10. Jika rasio < 3 maka ada indikasi yang kuat
akan adanya kegagalan elektrik sehingga menimbulkan karbonasi pada kertas
(hotspot atau arcing dengan temperatur >200C). Apabila rasio 3-5 disertai dengan
pertambahan H 2 , CH 4 dan C 2 H 6 maka terjadi masalah didalam transformator dan
kertas mengalami penurunan kondisi yang cepat. Jika rasio > 10, maka
mengindikasikan adanya kegagalan thermal pada isolasi kertas pada belitan.

46

Nilai rasio ini tidaklah selalu akurat karena CO 2 dan CO dipengaruhi oleh
berbagai faktor luar seperti oksidasi minyak akibat pemanasan, penuaan isolasi
kertas, gas CO 2 yang masuk akibat tangki transformator yang bocor atau kurang
rapat. Walaupun kurang akurat, namun rasio CO 2 /CO sangat membantu identifikasi
awal akan adanya kasus degradasi kualitas isolasi kertas.
4.2.4 Duvals Triangle (Segitiga Duval)
Metode segitiga diciptakan oleh Michel Duval pada 1974. Kondisi khusus
yang diperhatikan adalah konsentrasi metana (CH 4 ), etilen (C 2 H 4 ) dan asetilen
(C 2 H 2 ). Konsentrasi total ketiga gas ini adalah 100%, namun perubahan komposisi
dari ketiga jenis gas ini menunjukkan kondisi fenomena kegagalan yang mungkin
terjadi pada unit yang mungkin terjadi pada unit yang diujikan.

Gambar 4.19 Segitiga Duval dan perumusannya


4.3

Jenis Kegagalan Yang Dapat Dideteksi Dengan Uji DGA


Dari berbagai kasus kegagalan yang terjadi pada transformator dan

terdeteksi melalui uji DGA, maka kegagalan pada transformator dapat digolongkan
menjadi beberapa kelas :

Tabel 4.5 Jenis kegagalan yang dideteksi dengan uji DGA


Kode

Kegagalan

Keterangan

47

PD

Partial Discharge

Pelepasan muatan (discharge) dari plasma dingin


(korona) pada gelembung gas (menyebabkan
pengendapan X-wax pada isolasi kertas) ataupun
tipe

percikan

menyebabkan

proses

perforasi/kebolongan pada kertas yang bisa saja


sulit untuk dideteksi)
D1 Discharge of Low PD tipe percikan/spark (menyebabkan perforasi
Energy

karbon pada isolasi kertas dalam skala yang lebih


besar). Arcing pada energi rendah memacu
perforasi karbon pada permukaan isolasi kertas
sehingga muncul banyak partikel karbon pada
minyak (terutama akibat pengoperasian tapchanger)

D2 Discharge
High Energy

of Discharge yang mengakibatkan kerusakan dan


karbonisasi yang meluas pada kertas minyak).
Pada

kasus

yang

lebih

ekstrim

terjadi

penggabungan metal (metal fusion), pemutusan


(tripping) peralatan dan pengaktifan alarm gas
T1 Thermal Fault

Isolasi kertas berubah warna menjadi coklat pada

T<300o C

temperatur >200 oC (T1) dan pada temperatur >

T2 Thermal Fault

300oC terjadi karbonisasi kertas munculnya

300<T<700o C

formasi partikel karbon pada minyak (T2)

T3 Thermal Fault

Munculnya formasi partikel karbon pada minyak

T>700o C

secara meluas, pewarnaan pada metal (200oC)


ataupun penggabungan metal (>1000oC)

4.4

Studi Kasus Pengujian DGA


Objek yang diuji penulis pada saat melaksanakan kerja praktek di PLTU

Banten 1 Suralaya 8 adalah main transformator, unit auxiliary transformator A dan


unit auxiliary transformator B pada tanggal 4 maret 2015. Tetapi pada saat itu
karena waktu kerja praktek yang telah usai penulis tidak mendapatkan hasil dari

48

pengujian minyak transformator tersebut. Untuk melengkapi laporan ini penulis


akan memberikan hasil uji DGA minyak transformator pada unit auxiliary
transformator A dan unit auxiliary transformator B di PLTU Banten 1 Suralaya 8
pada tanggal 29 maret 2012 sampai dengan 28 maret 2014. Dengan metode analisis
Standar IEEE, key gas, dan rogers ratio methode
4.4.1 Hasil Pengujian DGA Unit Auxiliary Transformator A
4.4.1.1 Standar IEEE

Tabel 4.6 TDCG pada unit auxiliary transformator A


Date

Beban (A)

O2

N2

H2O

CO2

CO

H2

30 ppm 2500 ppm 350 ppm 100 ppm


29-Mar-12

396.42

23-Apr-12

489

10-Aug-12

520

1-Dec-12

17-Jan-13
17-Jan-13
1-Mar-13
6-Apr-13
28-Jun-13
22-Aug-13
24-Sep-13
25-Nov-13
12-Dec-13
28-Mar-14

0
0
348
354
0
0
0
0
13.21
11.65

CH4

C2H6

C2H4

C2H2

TDCG

REMARKS

IEEE STD.
C57.1042008
521.01 KONDISI 1

Methane Ethane Ethylene Acetylene


720 ppm
120 ppm 65 ppm 50 ppm 1 ppm

20

2904

454

41

10

10

0.01

1976

521

41

571

KONDISI 1

4268

887

51

947

KONDISI 2

16

3495

595

23

23

19

12

672

KONDISI 1

20
25
25
16
47
19
23
21
22
28

2117
1824
1724
2405
2564
2507
2469
2315
2624
3755

56
38
70
151
226
242
260
281
310
538

2
2
8
16
21
21
22
20
25
28

19
16
12
17
17
18
17
18
21
25

19
14
13
15
22
20
14
15
19
22

6
3
6
8
2
3
5
4
8
5

0
0
0
0
0
0
0
0
0
1

102
73
109
207
288
304
318
338
383
619

KONDISI 1
KONDISI 1
KONDISI 1
KONDISI 1
KONDISI 1
KONDISI 1
KONDISI 1
KONDISI 1
KONDISI 1
KONDISI 1

20289 88145

Pada tabel

diatas menjelaskan bagaimana menentukan kondisi

transformator terhadap gas TDCG yang terdeteksi melalui uji DGA. Dapat dilihat
bahwa dari tanggal 29 maret 2012 sampai dengan 28 maret 2014 kondisi
transformator pada kondisi 1, hanya pada tanggal 10 agustus 2012 transformator
berada pada kondisi 2. Itu disebabkan TDCG berjumlah 947 ppm melebihi batas
maksimum kondisi 1 sebesar 720 ppm. Yang menarik disini, pada beberapa tanggal
2 gas yaitu CO dan CO 2 melebihi batas konsentrasi gas pada tabel 4.1 tetapi tetap
berada pada kondisi 1. Bahkan pada tanggal 10 agustus 2012, 2 gas tersebut berada
pada kondisi 3. Itu disebabkan penentuan kondisi transformator acuan utamanya

49

terhadap konsentrasi TDCG, sedangkan jumlah konsentrasi individual gas


merupakan acuan berikutnya, melihat trending nya kedepan.
4.4.1.2 Key Gas

Tabel 4.7 TDCG dalam persen pada unit auxiliary transformator A


Date

Beban (A)

29-Mar-12
23-Apr-12
10-Aug-12
1-Dec-12
17-Jan-13
17-Jan-13
1-Mar-13
6-Apr-13
28-Jun-13
22-Aug-13
24-Sep-13
25-Nov-13
12-Dec-13
28-Mar-14

396.42
489
520
0
0
0
348
354
0
0
0
0
13.21
11.65

CO
87.14
91.24
93.66
88.54
54.90
52.05
64.22
72.95
78.47
79.61
82.02
83.14
80.94
86.91

H2
7.87
7.18
5.39
3.42
1.96
2.74
7.34
7.73
7.29
6.91
6.94
5.92
6.53
4.52

DEKOMPOSISI GAS
CH4
C2H6
1.92
1.92
1.23
0.35
0.95
0.00
3.42
2.83
18.63
18.63
21.92
19.18
11.01
11.93
8.21
7.25
5.90
7.64
5.92
6.58
5.36
4.42
5.33
4.44
5.48
4.96
4.04
3.55

C2H4
1.15
0.00
0.00
1.79
5.88
4.11
5.50
3.86
0.69
0.99
1.58
1.18
2.09
0.81

C2H2
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
0.16

Tabel 4.7 ini merupakan persen dari tabel 4.6, dari data tersebut didapat gas
yang dominan sehingga bisa menentukan yang terjadi pada transformator. Pada
tabel 4.7 dari tanggal 29 maret 2012 sampai dengan 28 maret 2014 CO selalu
dominan dari gas-gas yang lain. Menurut tabel 4.3, ini mengindikasikan bahwa
terjadi pemanasan lebih selulosa.

50

Dekomposisi Combustible Gas In Oil


(%)
100.00
90.00

86.91

80.00
70.00
60.00
50.00
40.00
30.00
20.00
10.00
0.00

CO

4.52

4.04

3.55

H2

CH4

C2H6

0.81

0.16

C2H4

C2H2

Gambar 4.20 Grafik TDCG dalam persen pada unit auxiliary transformator A
4.4.1.3 Rogers Ratio Methode

Tabel 4.8 Rogers ratio pada unit auxiliary transformator A

Date

Beban (A)

R1
CH4/H2

29-Mar-12
23-Apr-12
10-Aug-12
1-Dec-12
17-Jan-13
17-Jan-13
1-Mar-13
6-Apr-13
28-Jun-13
22-Aug-13
24-Sep-13
25-Nov-13
12-Dec-13
28-Mar-14

396.42
489
520
0
0
0
348
354
0
0
0
0
13.21
11.65

0.24
0.17
0.18
1.00
9.50
8.00
1.50
1.06
0.81
0.86
0.77
0.90
0.84
0.89

R2

R3

R4

R5

C2H2/C2H4 C2H2/CH4 C2H6/C2H2 C2H4/C2H6

0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
0.20

0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
0.04

1000.00
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
#DIV/0!
22.00

0.60
0.00
0.00
0.63
0.32
0.21
0.46
0.53
0.09
0.15
0.36
0.27
0.42
0.23

CO2/CO

6.40
3.79
4.81
5.87
37.80
48.00
24.63
15.93
11.35
10.36
9.50
8.24
8.46
6.98

51

Pada tabel 4.8 memperlihatkan rasio dari 5 jenis fault gas, yang perlu
diperhatikan pada tersebut adalah R1, R2 dan R5. Dapat dilihat pada tabel 4.4
terdapat rentang kode rasio, contohnya code range of ratios <0,1 menjelaskan jika
perbandingan C 2 H 2 /C 2 H 4 kecil dari 0,1 maka dikodekan sebagai 0,begitu pula
dengan perbandingan C 2 H 4 /C 2 H 6 jika kecil dari 0,1 maka dikodekan sebagai 0 dan
jika perbandingan CH 4 /H 2 kecil dari 0,1 maka dikodekan sebagai 1 begitu juga
dengan code range of ratios 0,1-1, 1-3, dan >3. Dari tabel 4.8 pada tanggal 28 maret
2014 kode rogers ratio nya adalah 0 0 0 yaitu normal aging. Tetapi yang perlu
diperhatikan adalah tanggal 1 desember 2012 sampai dengan 6 april 2013, kode
dari CH 4 /H 2 adalah 2. Jadi rogers ratio pada tanggal tersebut adalah 0 2 0, ini
menandakan terjadinya thermal fault dengan temparatur berkisar 150C-300C
pada unit auxiliary transformator (UAT) A.

Ratio CO2/CO
60.00
50.00
40.00
30.00
CO2/CO
20.00
10.00
0.00
396.42 489

520

348

354

13.21 11.65

29- 23- 10- 1-Dec- 17- 17- 1-Mar- 6-Apr- 28- 22- 24- 25- 12- 28Mar-12 Apr-12 Aug- 12 Jan-13 Jan-13 13
13 Jun-13 Aug- Sep- Nov- Dec- Mar-14
12
13
13
13
13

Beban (A)
Tanggal

Gambar 4.21 Grafik trending ratio CO 2 /CO pada unit auxiliary transformator A

Pada gambar 4.21 menggambarkan grafik trending rasio CO 2 /CO


mengambil data dari tabel 4.8, yang perlu diperhatikan rasio >10, itu

52

mengindikasikan adanya kegagalan thermal pada isolasi kertas pada belitan. Lalu
trending turun setelah diambilnya tindakkan dilapangan untuk memperbaiki
ketidaknormalan yang terjadi. Dapat dilihat dari tanggal pengambilan sampel
minyak yang berdekatan.

4.4.2 Hasil Peungujian DGA Unit Auxiliary Transformator B


4.4.2.1 Standar IEEE

Tabel 4.9 TDCG pada unit auxiliary transformator B


Date

Beban (A)

O2

N2

H2O

CO2

CO

H2

CH4

C2H6

C2H4

C2H2

TDCG

REMARKS

29-Mar-12

566.57

22

2753

466

46

15

540

IEEE STD.
C57.1042008
KONDISI 1

23-Apr-12

434

21490

86653

2007

586

44

639

KONDISI 1

10-Aug-12

360

2867

718

34

758

KONDISI 2

1-Dec-12

17

2937

570

23

11

28

13

645

KONDISI 1

17-Jan-13
17-Jan-13
18-Jan-13
1-Mar-13
6-Apr-13
28-Jun-13
22-Aug-13
24-Sep-13
25-Nov-13
12-Dec-13
28-Mar-14

0
0
0
519
343
0
0
0
0
10.37
9.47

26
27
23
22
24
23
17
18
15
17
20

2222
2101
2289
2159
2458
2553
2577
2540
2372
2549
3223

408
380
357
368
408
464
476
479
500
510
623

16
14
12
16
24
26
24
24
22
25
26

15
16
11
15
18
15
17
16
16
13
17

15
15
13
14
22
18
9
7
12
18
20

3
3
4
5
3
3
3
4
5
1
4

0
0
0
0
0
0
0.4
0
0
0
0

457
428
397
418
475
526
529.4
530
555
567
690

KONDISI 1
KONDISI 1
KONDISI 1
KONDISI 1
KONDISI 1
KONDISI 1
KONDISI 1
KONDISI 1
KONDISI 1
KONDISI 1
KONDISI 1

30 ppm 2500 ppm 350 ppm 100 ppm

Methane Ethane Ethylene 50 Acetylene


720 ppm
ppm
1 ppm
120 ppm 65 ppm

Pada tabel 4.9 penentuan kondisi trafo terhadap TDCG yang terdeteksi pada
uji DGA pada unit auxiliary transformator B. Sama seperti pada unit auxiliary
transformator A sebagian besar dari tanggal 29 maret 2012 sampai dengan 28 maret
2014 berada pada kondisi 1 hanya pada tanggal 10 agustus 2012 berada pada
kondisi 2. TDCG pada tanggal 10 agustus 2012 tersebut melebihi batas kondisi 1
yaitu 758 ppm. Dan juga seringnya invidual gas yang melebihi batas kondisi 1 pada
tabel 4.1. Tetapi karena sering turun naiknya gas CO 2 dan CO ini CBM tidak bisa
menetapkan transformator pada kondisi 2 dan juga TDCG pada kenaikan
konsentrasi gas CO 2 dan CO jauh dari batas TDCG kondisi 1, yaitu 720 ppm. Bisa
dilihat pada tanggal 28 juni 2013 sampai dengan 24 september 2013.

53

4.4.2.2 Key Gas

Tabel 4.10 TDCG dalam persen pada unit auxiliary transformator B


Date

DEKOMPOSISI GAS
CH4
C2H6
1.67
2.78
1.10
0.31
0.79
0.00
1.71
4.34
3.28
3.28
3.74
3.50
2.77
3.27
3.59
3.35
3.79
4.63
2.85
3.42
3.22
1.70
3.01
1.32
2.88
2.16
2.29
3.17
2.46
2.90

Beban (A)

29-Mar-12
23-Apr-12
10-Aug-12
1-Dec-12
17-Jan-13
17-Jan-13
18-Jan-13
1-Mar-13
6-Apr-13
28-Jun-13
22-Aug-13
24-Sep-13
25-Nov-13
12-Dec-13
28-Mar-14

566.57
434
360
0
0
0
0
519
343
0
0
0
0
10.37
9.47

CO
86.30
91.71
94.72
88.37
89.28
88.79
89.92
88.04
85.89
88.21
90.15
90.21
90.09
89.95
90.29

H2
8.52
6.89
4.49
3.57
3.50
3.27
3.02
3.83
5.05
4.94
4.55
4.52
3.96
4.41
3.77

C2H4
0.74
0.00
0.00
2.02
0.66
0.70
1.01
1.20
0.63
0.57
0.57
0.75
0.90
0.18
0.58

C2H2
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
0.08
0.00
0.00
0.00
0.00

Pada tabel 4.10 menampilan persen dari nilai nilai pada tabel 4.9. sama
dengan unit auxiliary transformator (UAT) A, pada UAT B gas dominan adalah
CO, dengan rata-rata 89,43% dari tanggal 29 maret 2012 sampai dengan 28 maret
2014. Ini mengindikasi pada UAT B bahwa terjadi pemanasan lebih selulosa.

Dekomposisi Combustible Gas In Oil


(%)
100.00
90.00

90.29

80.00
70.00
60.00
50.00
40.00
30.00
20.00
10.00
0.00

CO

3.77

2.46

2.90

H2

CH4

C2H6

0.58

0.00

C2H4

C2H2

Gambar 4.22 Grafik TDCG dalam persen pada unit auxiliary transformator B

54

4.4.2.3 Ratios Roger Methode

Tabel 4.11 Rogers ratio pada unit auxiliary transformator B

Date

Beban (A)

R1
CH4/H2

29-Mar-12
23-Apr-12
10-Aug-12
1-Dec-12
17-Jan-13
17-Jan-13
18-Jan-13
1-Mar-13
6-Apr-13
28-Jun-13
22-Aug-13
24-Sep-13
25-Nov-13
12-Dec-13
28-Mar-14

566.57
434
360
0
0
0
0
519
343
0
0
0
0
10.37
9.47

0.20
0.16
0.18
0.48
0.94
1.14
0.92
0.94
0.75
0.58
0.71
0.67
0.73
0.52
0.65

R2

R3

R4

R5

C2H2/C2H4 C2H2/CH4 C2H6/C2H2 C2H4/C2H6

0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
0.13
0.00
0.00
0.00
0.00

0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
0.02
0.00
0.00
0.00
0.00

0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
22.50
0.00
0.00
0.00
0.00

0.27
0.00
0.00
0.46
0.20
0.20
0.31
0.36
0.14
0.17
0.33
0.57
0.42
0.06
0.20

CO2/CO

5.91
3.42
3.99
5.15
5.45
5.53
6.41
5.87
6.02
5.50
5.41
5.30
4.74
5.00
5.17

Tabel 4.11 menampilan perbandingan antara 5 fault gas pada rogers ratio
method, rogers ratio dari tanggal 29 maret 2012 sampai dengan 28 maret 2014
adalah 0 0 0, hanya pada tanggal 17 januari 2013 rogers ratio adalah 0 2 0 yang
menandakan terjadinya thermal fault dengan temparatur berkisar 150C-300C
pada UAT B. Jika dibandingkan dengan UAT A, UAT B kondisinya lebih stabil
dalam rogers ratio method.
Yang perlu diperhatikan pada gambar 4.23, grafik trending rasio CO 2 /CO
UAT B adalah pada tanggal 23 april 2012, 10 agustus 2012, dan 25 november 2013.
Rasio CO 2 /CO berada antara 3-5 ini menandakan kertas mengalami penurunan
kondisi. Jika dibandingkan dengan UAT A, permasalahan rasio CO 2 /CO pada UAT
B belum separah yang terjadi pada UAT A.

55

Ratio CO2/CO
7.00
6.00
5.00
4.00
3.00
CO2/CO
2.00
1.00

9.47

10.37

343

519

360

434

566.57

0.00

29- 23- 10- 1- 17- 17- 18- 16- 28- 22- 24- 25- 12- 28Mar- Apr- Aug- Dec- Jan- Jan- Jan- Mar- Apr- Jun- Aug- Sep- Nov- Dec- Mar12 12 12 12 13 13 13 13 13 13 13 13 13 13 14

Beban (A)
Tanggal

Gambar 4.23 Grafik trending ratio CO 2 /CO pada unit auxiliary transformator B

BAB V
KESIMPULAN

5.1

Kesimpulan
Dari beberapa referensi yang diperoleh dan survei lapangan selama

pelaksanaan kerja praktek studi asesmen kondisi minyak transformator


menggunakan analisa Dissolved Gas Analysis di PT. Indonesia Power, dapat
diambil beberapa kesimpulan yaitu:
1. General manager memimpin 4 manager yaitu administration manager,
maintenance manager, operation manager dan enggineering manager.
2. Condition based maintenance merupakan divisi yang dipimpin oleh
departemen engineering. Yang bergerak dibidang pemeliharaan yang
melakukan pengecekan secara rutin terhadap kondisi dan performance
peralatan penting. Sedangkan departemen maintenance bergerak
dibidang perawatan dan perbaikan.
3. PLTU Banten 1 Suralaya 8 beroperasi sangat baik untuk menyediakan
kebutuhan listrik untuk masyarakat. Namun karena peralatan PLTU
yang kurang baik sehingga sering mengalami masalah.
4.

Dissolved

Gas

Analysis

merupakan

analisa

untuk

melihat

ketidaknormalan yang dapat mendeteksi kegagalan berupa:


a. Partial discharge
b. Discharge of low energy
c. Discharge of high energy
d. Thermal fault T<300C
e. Thermal fault 300C<T<700C
f. Thermal fault >700C
5. Hasil pengujian kondisi minyak pada transformator pada unit auxiliary
transformator A dan unit auxiliary transformator B di PLTU Banten 1
Suralaya 8 pada tanggal 28 maret 2014 mengindikasikan terjadinya
Overheated Cellulose.

56

DAFTAR PUSTAKA

Chumaidy, Adib. Analisis Kegagalan Minyak Isolasi Pada Transformator Daya


Berbasis Kandungan Gas Terlarut. Program Studi Teknik Elektro FTIISTN.
Hardityo, Rahmat. (2008). Deteksi Analisis Indikasi Kegagalan Transformator
Dengan Metode Analisis Gas Terlarut. Skripsi Departemen Teknik Elektro
Fakultas teknik Universitas Indonesia.
Hermawan, Syakur, A., & Iryanto, I. (2011). Analisis Gas Terlarut Pada Minyak
Isolasi Transformator Tenaga Akibat Pembebanan Dan Penuaan. Teknik.
Vol. 32, No. 3.
Shahsiah, Ahmad. (2009). Condition Monotoring Of Power Transformers Using
Dissoslove Gas Analysis (DGA). Exponent Failure Analysis Associates.

57

Lampiran 1 Single Line Diagram PT. Indonesia Power, PLTU Unit 8 UBOH,
Suralaya jaringan kelistrikan
Under
Ground
CABLE

500KV GIS

AIS
GIS

GT
730MVA
20/500KV

ES
DS
ES
CB
ES

20KV IPB

EXCT
6.9MVA
20/0.88KV

GIS
AIS

GS

UAT-A
35MVA
20/6KV

UAT-B
35MVA
20/6KV

Generator
625MW, 20KV
3000RPM

S/SAT
45MVA
150/6KV

6KV NPB

Normal
Incoming
CB A

Stand-by
Incoming
CB A

Normal
Incoming
CB B

Stand-by
Incoming
CB B
6KV UNIT BOARD B

6KV UNIT BOARD A


6kV Station
Service A
Feeder CB

6kV Station
Service A
Feeder CB

M
M
6KV/400V PC A
Transformer

6KV Motor
>200kW

6kV Station
Service A
Incoming CB

6KV/400V PC B
Transformer

6KV Motor
>200kW

6KV STATION BOARD A

6kV Station
Service A
Incoming CB

6KV STATION BOARD B

6kV Station
Service
Tie-bus CB

6KV/400V PC
Transformer

6KV Motor
>200kW
>250kW

6KV/400V PC
Transformer

6KV Motor
>>200kW
250kW

58

Lampiran 2 Single Line Diagram PT. Indonesia Power, PLTU Unit 8 UBOH,
Suralaya sistem pembangkitan listrik tenaga uap