Anda di halaman 1dari 10

KASUS GIZI BURUK PADA BALITA

I. PROFIL KELUARGA
Penderita I:
Nama

: Ni Wayan Candra

Umur

: 4 tahun 5 bulan

Alamat

: Banjar Kanginan, Desa Besan, Kecamatan Dawan, Klungkung

Tgl. Kunjungan

: 04 November 2010

Penderita II:
Nama

: Ni Kadek Ratih

Umur

: 4 tahun 5 bulan

Alamat

: Banjar Kanginan, Desa Besan, Kecamatan Dawan, Klungkung

Tgl. Kunjungan

: 04 November 2010

Anggota keluarga yang tinggal serumah dengan penderita:


1. Nama
Umur
Pekerjaan
Pendidikan
Status

: Ni Ketut Kompiang
: 71 tahun
: Pembuat gula merah
: Tidak pernah sekolah
: Nenek penderita

2. Nama
Umur
Pekerjaan
Pendidikan
Status

: Luh Wayan Rupeg


: 38 tahun
: Pembuat gula merah
: Tidak tamat SD
: Bibi penderita

3. Nama
Umur
Pekerjaan
Pendidikan
Status
4. Nama
Umur
Pekerjaan
Pendidikan
Status

: I Nyoman Sugiana
: 32 tahun
: Buruh
: SD
: Ayah penderita
: Ni Wayan Novi
: 27 tahun
: Buruh
: SD
: Ibu penderita

II. KEGIATAN DALAM GEDUNG


Berdasarkan laporan bulanan Puskesmas Dawan I yang kami amati dan juga informasi
yang diperoleh dari Ibu Ni Made Ayu Widyarini, selaku petugas Puskesmas yang
menangani program Gizi di Puskesmas Dawan I, kami dapatkan bahwa sampai akhir
bulan September 2010, terdapat 10 orang anak di bawah lima tahun yang status gizinya
kurang. Dari 10 anak tersebut, ada sepasang kembar yang status gizinya menurun dari
kurang menjadi buruk. Setelah menanyakan secara lebih lanjut, kami diinformasikan
bahwa pasangan kembar tersebut sudah lama dirawat oleh neneknya. Kedua-dua orang
tuanya bekerja di Badung dan jarang sekali ada di rumah. Walaupun sudah banyak kali
diberikan penjelasan oleh petugas puskesmas, kondisi hidup keluarga tersebut tidak
pernah berubah.
Melihat

kondisi

dan

lingkungan

hidup

penderita

yang

sangat

tidak

menguntungkan buat semua pihak anggota keluarganya, kami memutuskan untuk


memilih keluarga ini sebagai kasus kami dalam Kedokteran Keluarga dengan alasan
kedua-dua penderita tersebut masih dalam rentang waktu pertumbuhan yang sangat
penting sehingga kami merasakan pentingnya ada perubahan sikap dan perilaku di
kalangan anggota keluarga tersebut dalam perawatan pasangan kembar bersangkutan.
III. KUNJUNGAN RUMAH (04 NOVEMBER 2010)
Riwayat Penyakit Sekarang
Saat kami melakukan kunjungan ke rumah, penderita tidak mengeluhkan apa-apa.
Mereka kelihatan lemah dan tidak bersemangat. Namun mereka menangis saat melihat
kedatangan kami karena ketakutan. Berat badan Ni Wayan Candra hanya 10,0 kg dan
tinggi badannya 87,0 cm. Ni Kadek Ratih mempunyai berat badan 10,1 kg dan tinggi
badannya adalah 86,3 cm. Kedua-dua penderita dikatakan tidak sakit sekarang. Menurut
nenek mereka, pasangan kembar ini punya nafsu makan yang biasa dan mereka makan
apa saja yang ada, seperti kacang, tahu, tempe dan nasi. Pasangan kembar ini juga
sering nonton TV sampai larut malam sekitar jam sebelas sampai jam dua belas malam,
sehingga mereka biasa ngantuk dan tidak bersemangat pada siang hari. Pasangan
kembar ini dikatakan tidak pernah makan snek atau minum kopi. Mereka jarang sekali
main dengan anak-anak tetangga berdekatan.

Riwayat Penyakit Dahulu


Pada bulan Januari 2009, kedua-dua penderita didapatkan berstatus gizi kurang sewaktu
dilakukan kunjungan rumah oleh Kader. Semenjak itu, pemantauan terhadap kedua
penderita terus berlangsung. Kedua penderita dikatakan tidak pernah sakit berat atau
sakit kronis. Penderita dikatakan hanya pernah batuk, pilek dan panas badan. Namun
gejala-gejala seperti ini tidak berat dan dapat disembuhkan dengan obat. Keluarga
penderita pasti akan membawa penderita berobat ke puskesmas sekiranya ada yang
sakit.
Riwayat Tumbuh Kembang
Riwayat tumbuh kembang penderita telah lama dilupakan oleh anggota keluarga karena
terlalu sibuk dengan pekerjaan tiap hari selama 4 tahun ini. Penderita dikatakan bisa
berjalan waktu umur satu setengah tahun. Beberapa bulan setelah itu mereka baru bisa
berbicara.
Riwayat Imunisasi
Riwayat imunisasi lengkap selama 4 tahun ini karena mereka dibawa orang tua ke
puskesmas sesuai jadwal.
Riwayat Pengobatan
Penderita dikatakan tidak banyak minum obat dan suplemen karena jarang sakit. Namun
dikatakan pasangan kembar ini jarang mengikuti program menimbang badan dan
program lain di puskesmas pembantu di Desa Besan karena nenek mereka sibuk dengan
pekerjaan di rumah dan terlalu tua untuk membawa kembar tersebut ke puskesmas. Bibi
mereka dikatakan tuli dan bisu dan takut berinteraksi dengan orang lain.
Riwayat Sosial dan Keluarga
Pasangan kembar ini adalah anggota keluarga yang mengalami status gizi buruk sahaja.
Menurut pengakuan orang tua pasangan kembar tersebut, pasangan kembar ini
dilahirkan secara normal di Badung. Berat badan Ni Wayan Candra adalah 1800gr
sementara berat badan Ni Kadek Ratih adalah 1700gr. Pasangan saudara ini sempat
dirawat inap selama 2 hari di rumah sakit. Setelah itu, pasangan kembar ini dirawat oleh

ibunya selama 2 bulan dan diberikan ASI. Namun setelah 2 bulan, mereka dirawat oleh
nenek mereka yang sudah lanjut usia dan diberikan susu formula.
Pemeriksaan Fisik
Penderita I: Ni Wayan Candra
a.

b.

Status Present
Nadi

: 88 kali/menit

Respirasi

: 23 kali/menit

Temp. Axila

: 37.2 0C

TB

: 87,0 cm

BB

: 10,0 kg

Status General:
Kepala

: Normocephali, rambut tipis kekuningan

Mata

: Anemia -/-, ikterus -/-, refleks pupil -/- isokor

THT

: Dalam batas normal

Thorax

: Cor

: S1S2 Tunggal, Regular, Murmur

Pulmo : Ves +/+, Rh -/-, Wh -/Abdomen

: Distensi -, nyeri tekan (-), turgor N

Ekstremitas

: Oedem -/- , hangat + / +


+/+

Penderita II: Ni Kadek Ratih


a.

b.

Status Present
Nadi

: 73 kali/menit

Respirasi

: 19 kali/menit

Temp. Axila

: 36,9 0C

TB

: 86,3 cm

BB

: 10,1 kg

Status General:
Kepala

: Normocephali, rambut tipis kekuningan

Mata

: Anemia -/-, ikterus -/-, refleks pupil -/- isokor

THT

: Dalam batas normal

Thorax

: Cor

: S1S2 Tunggal, Regular, Murmur

Pulmo : Ves +/+, Rh -/-, Wh -/-

Abdomen

: Distensi -, nyeri tekan (-), turgor N

Ekstremitas

: Oedem -/- , hangat + / +


+/+

Pemeriksaan Penunjang
Menurut status gizi klasifikasi WHO berdasarkan tinggi badan dan berat badan, keduadua penderita dikatakan hanya berstatus gizi kurang. Namun di lapangan dipakai status
gizi berdasarkan umur dan berat badan maka kedua-dua penderita tersebut dikatakan
berstatus gizi buruk. Terwujudnya perbedaan ini adalah usaha pihak puskesmas untuk
menangani kasus-kasus seperti ini secara dini sebelum mereka benar-benar menjadi
status gizi buruk.
Diagnosis
Penderita I: Ni Wayan Candra
Gizi buruk berdasarkan umur dan berat badan.
Gizi kurang berdasarkan status gizi klasifikasi WHO berdasarkan tinggi badan dan berat
badan.
Penderita II: Ni Kadek Ratih
Gizi buruk berdasarkan umur dan berat badan.
Gizi kurang berdasarkan status gizi klasifikasi WHO berdasarkan tinggi badan dan berat
badan.
Status Sosial Ekonomi
Pasangan kembar tersebut tinggal bersama dengan nenek dan juga bibi mereka. Kedua
orang tua penderita bekerja sebagai buruh bangunan di Badung dan jarang sekali ada di
rumah merawat anak-anak mereka. Mereka hanya bisa pulang kampung pada akhir
pekan setiap minggu. Nenek penderita sudah tua namun masih bekerja sebagai
penghasil gula merah di rumah. Ini adalah disebabkan rejeki yang dicari pasangan
suami isteri ini hanya cukup buat menampung biaya hidup mereka di Badung. Biaya
hidup pasangan kembar ini adalah uang rejeki dari nenek mereka. Bibi mereka hanya
bisa bantu di rumah dan tidak ada penghasilan tambahan. Nenek juga sempat mengaku

sibuk dengan upacara yang ada di rumah sehingga susah menjaga pasangan kembar
tersebut.
Kondisi Rumah Penderita
Rumah pasien hanya ada 2 bangunan. Satunya adalah untuk tidur dan satu lagi adalah
dapur dan kamar kecil. Rumah penderita dihuni oleh 4 orang termasuk pasangan
kembar tersebut. Hanya pada akhir pekan akan orang tua penderita pulang dan
menjadikan satu rumah dihuni 6 orang. Rumah penderita adalah permanen berupa
bangunan yang tidak diplester semen dengan lantai yang ditutupi semen. Bangunan
rumah yang dibuat tempat tidur terdiri dari 3 kamar yang kecil dan tidak terawat. Kamar
tidur nenek gelap dan tidak ada ventilasi udara. Terletaknya TV di kamar tidur nenek
yang pasangan kembar ini sering nonton sampai larut malam. Dapur juga gelap dan
berasap karena nenek memasak dengan kayu api. Semasa melihat ke kamar kecil,
ternyata ada jentik di dalam bak mandi. Di rumah penderita sudah terdapat septik tank,
dan sumber air yang digunakan adalah air yang mengalir dari atas Bukit Abah. Halaman
rumah cukup besar dan ada tanaman tapioca di sekitarnya. Tidak terlihat adanya
genangan air baik pada halaman maupun saluran air. Namun halaman rumah tidak
dirawat dengan baik dan ada banyak rumput yang tumbuh di sekitar rumah.

Halaman Rumah
Kamar Tidur Penderita
Kamar Tidur Nenek

Kamar Tidur Bibi


Denah Rumah Penderita:

Dapur

Kamar Kecil

Faktor Resiko Gizi Buruk


1. Faktor Host

Kurangnya makan makanan yang bergizi seperti susu, daging dan sayur-sayuran.

Kurangnya pengetahuan mengenai pentingnya gizi terhadap pertumbuhan anak


balita.

Usia tua yang menyebabkan penurunan fungsi dalam aktivitas setiap hari
sehingga sulit sekali dalam merawat pasangan kembar.

Kurangnya perawatan dari orang tua yang sibuk dengan pencarian rejeki.

Kurangnya pengetahuan tentang cara hidup sehat seperti tidur awal dan tidak
bergadang.

2. Faktor Agent

Tidak ada faktor agent

3. Faktor Lingkungan

Lingkungan hidup keluarga tersebut rentan terhadap berbagai penyakit infeksi

terutama yang disebabkan oleh masalah hyginis.


Letaknya TV di kamar tidur nenek menyebabkan pasangan kembar ini ketagihan
menonton TV sampai larut malam dan membuat mereka tidak bersemangat dan
cepat lelah pada hari yang berikut.

Pemecahan Masalah
1. Personal dan Paripurna

Melakukan wawancara kepada keluarga pasien untuk mengetahui faktorfaktor risiko yang menyebabkan pasangan kembar ini bergizi buruk.
2. Bersinambung

Memberi penanganan awal pada penderita dan keluarga penderita


sedini mungkin, untuk mencegah pertumbuhan terhambat yang lebih lanjut yang
bisa disebabkan oleh gizi buruk, baik dari segi fisik dan mental.

3. Koordinatif

Melaporkan kejadian ini kepada pihak Puskesmas.

Memberikan

pengertian

kepada

keluarga

agar

mengawasi pasien untuk manjalankan cara hidup yang sehat seperti tidur awal dan
makan makanan yang seimbang.
4. Menimbang Keluarga, Masyarakat, dan Lingkungannya

Menjelaskan kondisi dan prognosis yang mungkin


akan terjadi pada pasien kepada keluarga pasien.

Memberikan nasihat kepada keluarga agar tidak


mengabaikan tumbuh kembang penderita serta lebih memperihatikan cara hidup
penderita serta menjaga diri masing-masing seperti kebersihan diri dan
keselamatan diri di rumah supaya tidak terjadi hal yang tidak diinginkan.

5. Mengutamakan Pencegahan
Pencegahan Primer
- Memberikan KIE mengenai gizi kurang dan gizi buruk kepada keluarga
penderita, termasuk gejala-gejala serta komplikasi yang akan timbul. Pada
balita dengan gizi buruk akan tampak mukanya seperti orang lanjut usia, pantat
akan menjadi sagging, perut akan menjadi besar, rambut berwarna merah
kekuningan, tangan dan kaki sangat kurus dan balita tersebut akan gampang
jatuh sakit secara kronis karena kurang nutrisi.

- Menyarankan anggota keluarga untuk mengkonsumsi makanan yang bergizi


berupa 4 sehat 5 sempurna setiap hari. Sekiranya tidak mampu, kami
menyarankan agar penderita diberikan susu setiap 2 hari.
- Memberikan penjelasan mengenai cara penanganan gizi kurang atau gizi buruk
dengan perubahan sikap dan perilaku anggota keluarga. Bukan sahaja makanan
yang harus diperhatikan, tetapi lingkungan di sekitar juga harus diperhatikan
seperti menguras bak mandi serta menjaga ventilasi serta intensitas cahaya
matahari di dalam kamar tidur.
- Usahakan mengikuti program kesehatan yang ada setiap bulan di puskesmas
atau di puskesmas pembantu desa. Sekiranya anggota keluarga tidak mampu
atau tidak kuat untuk mengantarkan pasangan kembar, usahakan dilakukan
kunjungan rumah setiap 2 bulan.

Pencegahan sekunder
- Deteksi Dini sekiranya penderita atau anggota keluarga yang lain terjangkit
penyakit yang disebabkan oleh karena kurangnya gizi dalam jangka waktu
yang panjang atau karena kebersihan lingkungan kurang memuaskan.
- Mendapatkan pengobatan sedini mungkin sekiranya jatuh sakit. Pengobatan
yang awal dan tepat dapat mengurangkan morbiditas dan meningkatkan
produktivitas semua anggota keluarga.

Pencegahan tersier
- Apabila penderita mengalami sakit lain, sebaiknya secepatnya dilakukan
pemeriksaan dan pengobatan.
- Rehabilitasi fisik masih belum perlu dilakukan karena secara fungsional
penderita masih bagus dan tidak ada kecacatan, sehingga anjuran rehabilitasi
fisik tidak dikerjakan.
- Rehabilitasi sosial diberikan kepada penderita, anggota keluarga dan tetangga
yang tinggal di sekitar penderita. Bagi penderita ditumbuhkan kembali
kepercayaan dirinya agar bisa bergaul dengan anak-anak tetangga. Bagi
keluarga dan penduduk di sekitar diberikan informasi yang benar mengenai
gizi kurang dan gizi buruk sehingga mereka bisa menghulurkan bantuan

kepada keluarga penderita dan tidak mengucilkan penderita dari kehidupan


sosial.
Lampiran