Anda di halaman 1dari 25

Daftar Isi

Lembar pengesahan . i
Daftar Isi..................................................................................................................................1
Bab I Pendahuluan...........................................2
Bab II Tinjauan pustaka
1.
2.
3.
4.

Anatomi ........... 3
Histologi........................................................................................................5
Fisiologi.........................................................................................................7
Ileus
- Definisi.....................................................................................................9
- Epidemiologi............................................................................................10
- Klasifikasi.................................................................................................10
- Etiologi......................................................................................................11
- Patofisiologi...............................................................................................14
- Manifestasi Klinis......................................................................................15
- Pemeriksaan Fisik......................................................................................17
- Pemeriksaan Penunjang.............................................................................18
- Diagnosis....................................................................................................19
- Diagnosis Banding......................................................................................21
- Komplikasi..................................................................................................21
- Tatalaksana..................................................................................................21
- Prognosis......................................................................................................24
Bab III Kesimpulan.............................................................................................................25
Bab IV Daftar Pustaka ... ....27

BAB I
PENDAHULUAN
Ileus adalah gangguan pasase isi usus yng merupakan tanda adanya obstruksi usus
akut yang segera memerlukan pertolongan atau tindakan. Gangguan pasase usus dapat
disebabkan oleh obstruksu lumen usus yang disebut ileus obstruktif atau oleh gangguan
peristaltic yang selanjutnya disebut sebagai ileus paralitik.

Obstruksi intestinal merupakan kegawatan dalam bedah abdomenalis yang sering


dijumpai dan merupakan 60% - 70% dari seluruh kasus gawat abdomen. Gawat perut dapat
disebabkan oleh kelainan

didalam abdomen berupa inflamasi, dan penyulitnya, ileus

obstruktif, iskemik, dan perdarahan. Sebagian kelainan dapat disebabkan oleh cedera
langsung atau tidak langsung yang mengakibatkan perforasi saluran cerna atau perdarahan.
Setiap tahunnya 1 dari 1000 penduduk dari segala usia didiagnosa ileus. Di Amerika
diperkirakan sekitar 300.000 400.000 menderita ileus setiap tahunnya. Di Indonesia tercatat
ada 7.059 kasus ileus paralitik dan obstruksi tanpa hernia yang dirawat inap dan 7.024 pasien
rawat jalan pada tahun 2004 menurut Bank Data Departement Kesehatan Indonesia.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Anatomi Usus
1. Usus halus
Usus halus merupakan tabung yang kompleks, berlipat-lipat yang membentang dari
pilorus sampai katup ileosekal. Pada orang hidup panjang usus halus sekitar 12 kaki (22 kaki
pada kadaver akibat relaksasi). Usus ini mengisi bagian tengah dan bawah abdomen. Ujung

proksimalnya bergaris tengah sekitar 3,8 cm, tetapi semakin kebawah lambat laun garis
tengahnya berkurang sampai menjadi sekitar 2,5 cm. Usus halus dibagi menjadi duodenum,
jejenum, dan ileum.

Duodeneum
Duodenum panjangnya sekitar 25 cm, mulai dari pilorus sampai kepada jejenum.

Pemisahan duodenum dan jejenum ditandai oleh ligamentum treitz, suatu pita muskulofibrosa
yang berorigo pada krus dekstra diafragma dekat hiatus esofagus dan berinsersio pada
perbatasan duodenum dan jejenum. Ligamentum ini berperan sebagai ligamentum
suspensorium (penggantung).

Jejunum dan Ileum


Kira-kira dua perlima dari sisa usus halus adalah jejenum, dan tiga perlima

terminalnya adalah ileum. Jejenum terletak di regio abdominalis media sebelah kiri,
sedangkan ileum cenderung terletak di regio abdominalis bawah kanan. Jejunum mulai pada
junctura duodenojejunalis dan ileum berakhir pada junctura ileocaecalis.
Lekukan-lekukan jejenum dan ileum melekat pada dinding posterior abdomen dengan
perantaraan lipatan peritoneum yang berbentuk kipas yang dikenal sebagai messenterium
usus halus. Pangkal lipatan yang pendek melanjutkan diri sebagai peritoneum parietal pada
dinding posterior abdomen sepanjang garis berjalan ke bawah dan ke kenan dari kiri vertebra
lumbalis kedua ke daerah articulatio sacroiliaca kanan. Akar mesenterium memungkinkan
keluar dan masuknya cabang-cabang arteri vena mesenterica superior antara kedua lapisan
peritoneum yang memgbentuk messenterium.
Pada usus halus, arteri mesenterika superior dicabangkan dari aorta tepat dibawah
arteri seliaka. Arteri ini mendarahi seluruh usus halus kecuali duodenum yang sebagian atas
duodenum adalah arteri pancreaticoduodenalis superior, suatu cabang arteri gastroduodenalis.
Sedangkan bagian bawah duodenum diperdarahi oleh arteri pancreaticoduodenalis inferior,
suatu cabang arteri mesenterica superior. Pembuluh-pembuluh darah yang memperdarahi
jejunum dan ileum ini beranastomosis satu sama lain untuk membentuk serangkaian arcade.
Bagian ileum yang terbawah juga diperdarahi oleh arteri ileocolica. Darah dikembalikan
lewat vena mesenterika superior yang menyatu dengan vena lienalis membentuk vena porta.
Pembuluh limfe duodenum mengikuti arteri dan mengalirkan cairan limfe ke atas
melalui nodi lymphatici pancreoticoduodenalis ke nodi lymphatici gastroduodenalis dan
kemudian ke nodi lymphatici coeliacus: dan ke bawah, melalui nodi lymphatici

pancreoticoduodenalis ke nodi lyphatici mesentericus superior sekitar pangkal arteri


mesenterica superior.
Pembuluh limfe jejenum dan ileum berjalan melalui banyak nodi lymphatici
mesentericus dan akhirnya mencapai nodi lymphatici mesentericus suprior, yang terletak
sekitar pangkal arteri mesentericus superior.
Saraf-saraf duodenum berasal dari saraf simpatis dan parasimpatis (vagus) dari
pleksus mesentericus superior dan pleksus coeliacus. Sedangkan saraf untuk jejenum dan
ileum berasal dari saraf simpatis dan parasimpatis (nervus vagus) dari pleksus mesentericus
superior. Rangsangan parasimpatis merangasang aktivitas sekresi dan pergerakan, sedangkan
rangsangan simpatis menghambat pergerakan usus. Serabut-serabut sensorik sistem simpatis
menghantarkan nyeri, sedangkan serabut-serabut parasimpatis mengatur refleks usus. Suplai
saraf intrinsik, yang menimbulkan fungsi motorik, berjalan melalui pleksus Auerbach yang
terletak dalam lapisan muskularis, dan pleksus Meissner di lapisan submukosa.

Gambar 1. Usus Halus

2. Usus besar
Usus besar merupakan tabung muskular berongga dengan panjang sekitar 5 kaki
(sekitar 1,5 m) yang terbentang dari sekum sampai kanalis ani. Diameter usus besar sudah
pasti lebih besar daripada usus kecil. Rata-rata sekitar 2,5 inci (sekitar 6,5 cm), tetapi makin
dekat anus semakin kecil.3

Usus besar dibagi menjadi sekum, kolon dan rektum. Pada sekum terdapat katup
ileocaecaal dan apendiks yang melekat pada ujung sekum. Sekum menempati dekitar dua
atau tiga inci pertama dari usus besar. Katup ileocaecaal mengontrol aliran kimus dari ileum
ke sekum. Kolon dibagi lagi menjadi kolon ascendens, transversum, desendens dan sigmoid.
Kolon ascendens berjalan ke atas dari sekum ke permukaan inferior lobus kanan hati,
menduduki regio iliaca dan lumbalis kanan. Setelah mencapai hati, kolon ascendens
membelok ke kiri, membentuk fleksura koli dekstra (fleksura hepatik). Kolon transversum
menyilang abdomen pada regio umbilikalis dari fleksura koli Dekstra sampai fleksura koli
sinistra. Kolon transversum, waktu mencapai daerah limpa, membengkok ke bawah,
membentuk fleksura koli sinistra (fleksura lienalis) untuk kemudian menjadi kolon
descendens. Kolon sigmoid mulai pada pintu atas panggul. Kolon sigmoid merupakan
lanjutan kolon descendens. Ia tergantung ke bawah dalam rongga pelvis dalam bentuk
lengkungan. Kolon sigmoid bersatu dengan rektum di depan sakrum. Rektum menduduki
bagian posterior rongga pelvis. Rektum ke atas dilanjutkan oleh kolon sigmoid dan berjalan
turun di depan sekum, meninggalkan pelvis dengan menembus dasar pelvis. Disisni rektum
melanjutkan diri sebagai anus dalan perineum.
Pada usus besar, arteri mesenterika superior memperdarahi belahan bagian kanan
(sekum, kolon ascendens, dan dua pertiga proksimal kolon transversum) dengan cabangnya
yaitu ; arteri ileokolika, arteri kolika dekstra, arteri kolika media, serta arteri
pancreaticoduodenalis inferior dan arteri mesenterika inferior memperdarahi bagian kiri
(sepertiga distal kolon transversum, kolon descendens dan sigmoid, dan bagian proksimal
rektum) melalui arteri kolika sinistra, arteri sigmoidalis, dan arteri hemoroidalis superior.
Pembuluh limfe sekum berjalan melewati banyak nodi lymphatici mesentericus dan
akhirnya mencapai nodi lymphatici msentericus superior Pembuluh limfe untuk kolon
mengalirkan cairan limfe ke kelenjar limfe yang terletak di sepanjang perjalanan arteri vena
kolika. Untuk kolon ascendens dan dua pertiga dari kolon transversum cairan limfenya akan
masuk ke nodi limphatici mesentericus superior, sedangkan yang berasal dari sepertiga distal
kolon transversum dan kolon descendens akan masuk ke nodi limphatici mesentericus
inferior.
Persarafan usus besar dilakukan oleh sistem saraf ototonom dengan perkecualian
sfingter eksterna yang berada dibawah kontrol voluntar (Price & Wilson, 1994). Sekum,
appendiks dan kolon ascendens dipersarafi oleh serabut saraf simpatis dan parasimpatis
nervus vagus dari pleksus saraf mesentericus superior. Pada kolon transversum dipersarafi

oleh saraf simpatis nervus vagus dan saraf parasimpatis nervus pelvikus. Serabut simpatis
berjalan dari pleksus mesentericus superior dan inferior. Serabut-serabut nervus vagus hanya
mempersarafi dua pertiga proksimal kolon transversum; sepertiga distal dipersarafi oleh saraf
parasimpatis nervus pelvikus. Sedangkan pada kolon descendens dipersarafi serabut-serabut
simpatis dari pleksus saraf mesentericus inferior dan saraf parasimpatis nervus pelvikus.
Perangsangan

simpatis

menyebabkan

penghambatan

sekresi

dan

kontraksi,

serta

perangsangan sfingter rektum, sedangkan perangsangan parasimpatis mempunyai efek


berlawanan.

Gambar 2. Usus Besar

B. Histologi Usus
1. Usus halus
Dinding usus halus dibagi kedalam empat lapisan :
a. Tunika serosa atau lapisan peritoneum, tak lengkap diatas duodenum, hampir
lengkap didalam usus halus mesenterika, ke kecualian pada sebagian kecil, tempat
lembaran visera dan mesenterika peritoneum bersatu pada tepi usus.
b. Tunika muskularis. Dua selubung otot polos tak bergaris membentuk tunika
muskularis usus halus. Ia paling tebal didalam duodenum dan berkurang tebalnya
ke arah distal. Lapisan luarnya stratum longitudinal dan lapisan dalamnya stratum
sirkular. Yang terakhir membentuk masa dinding usus. Pleksus mienterikus saraf
(auerbach) dan saluran limfe terletak diantara kedua lapisan otot.

c. Tela submukosa terdiri dari jaringan ikat longgar yang terletak diantara tunika
muskularis dan lapisan tipis lamina muskularis mukosa, yang terletak dibawah
mukosa. Dalam ruangan ini berjalan jalinan pembuluh darah halus dan pembuluh
limfe. Disamping itu, disini ditemukan neuro pleksus meissner.
d. Tunika mukosa usus halus, kecuali pars superior duodenum, tersusun dalam lipatan
sirkular tumpang tindih yang berinterdigitasi secara transversa. Masing-masing
lipatan ini ditutup dengan tonjolan villi. Usus halus ditandai oleh adanya tiga
struktur yang sangat menambanh luas permukaan dan membantu fungsi absorbs
yang merupakan fungsi utamanya :
1) Lapisan mukosa dan submukosa membentuk lipatan-lipatan sirkular yang
dinamankan valvula koniventes (lipatan Kerkringi) yang menonjol kedalam
lumen sekitar 3 sampai 10 mm. Lipatan-lipatan ini nyata pada duodenum dan
jejunum dan menghilang dekat pertengahan ileum. Adanya lipatan-lipatan ini
menyerupai bulu pada radiogram.
2) Villi merupakan tonjolan-tonjolan seperti jari-jari dari mukosa yang jumlahnya
sekitar 4 atau 5 juta dan terdapat di sepanjang usus halus. Villi panjangnya 0,5
1 mm (dapat dilihat dengan mata telanjang) dan menyebabkan gambaran
mukosa menyerupai beludru.
3) Mikrovilli merupakan tonjolan yang menyerupai jari-jari dengan panjang
sekitar 1 pada permukaan luar setiap villus. Mikrovilli terlihat dengn
mikroskop electron dan tampak sebagai brush border pada mikroskop cahaya.
Bila lapisan permukaan usus halus ini rata, maka luas permukaannya hanyalah
sekitar 2000 cm2. Valvula koniventes, villi

dan mikrovilli bersama-sama

menambah luas permukaan absorbs sampai 2 juta cm2, yaitu meningkat seribu
kali lipat.
2. Usus besar
Usus besar memiliki empat lapisan morfologik seperti juga bagian usus lainnya. Akan
tetapi, ada beberapa gambaran yang khas pasa usus besar saja. Lapisan otot longitudinal usus
besar tidak sempurna, tetapi terkumpul dalam tiga pita yang dinamakan taenia coli. Taenia
bersatu pada sigmoid distal, dengan demikian rectum mempunyai satu lapisan otot
longitudinal yang lengkap. Panjang taenia lebih pendek daripada usus, hal ini menyebabkan
usus tertarik dan berkerut membentuk kantong-kantong kecil peritoneum yang berisi lemak

dan melekat disepanjang taenia. Lapisan mukosa usus besar jauh lebih tebal daripada lapisan
mukosa usus halus dan tidak mengandung villi atau rugae. Kriptus Lieberkun (kelenjar
intestinal) terletak lebih dalam dan mempunyai lebih banyak sel goblet daripada usus halus.

C.

Fisiologi Usus
1. Usus halus
Usus halus mempunyai dua fungsi utama yaitu pencernaan dan absorbsi bahan-

bahan nutrisi, air, elektrolit dan mineral. Proses pencernaan dimulai dalam mulut dan
lambung oleh kerja ptialin, asam klorida dan pepsin terhadap makanan yang masuk. Proses
dilanjutkan di dalam duodenum terutama oleh kerja enzim-enzim pankreas yang
menghidrolisis karbohidrat, lemak, dan protein menjadi zat-zat yang lebih sederhana.
Proses pencernaan disempurnakan oleh sejumlah enzim dalam getah usus (sukus enterikus).
Banyak diantara enzim-emzim ini terdapat pada brush border villi dan mencernakan zat-zat
makanan sambil diabsorbsi.
Isi usus digerakkan oleh peristalsis yang terdiri atas dua jenis gerakan, yaitu
segmental dan peristaltik yang diatur oleh sistem saraf autonom dan hormon (Sjamsuhidajat
Jong, 2005). Pergerakan segmental usus halus mencampur zat-zat yang dimakan dengan
sekret pankreas, hepatobiliar, dan sekresi usus, dan pergerakan peristaltik mendorong isi dari
salah satu ujung ke ujung lain dengan kecepatan yang sesuai untuk absorpsi optimal dan
suplai kontinyu isi lambung.

Gambar 3. Gerakan Peristaltik


Kontraksi usus halus disebabkan oleh aktifitas otot polos usus halus yang terdiri dari
2 lapis yaitu lapisan otot longitudinal dan lapisan otot sirkuler. Otot yang terutama berperan
pada kontraksi segmentasi untuk mencampur makanan adalah otot longitudinal. Bila bagian

mengalami distensi oleh makanan, dinding usus halus akan berkontraksi secara lokal. Tiap
kontraksi ini melibatkan segmen usus halus sekitar 1-4 cm. Pada saat satu segmen usus
halus yang berkontraksi mengalami relaksasi, segmen lainnya segera akan memulai
kontraksi, demikian seterusnya. Bila usus halus berelaksasi, makanan akan kembali ke
posisinya semula. Gerakan ini berulang terus sehingga makanan akan bercampur dengan
enzim pencernaan dan mengadakan hubungan dengan mukosa usus halus dan selanjutnya
terjadi absorbsi.
Kontraksi segmentasi berlangsung oleh karena adanya gelombang lambat yang
merupakan basic electric rhytm (BER) dari otot polos saluran cerna. Proses kontraksi
segmentasi berlangsung 8 sampai 12 kali/menit pada duodenum dan sekitar 7 kali/menit
pada ileum. Gerakan peristaltik pada usus halus mendorong makanan menuju ke arah kolon
dengan kecepatan 0,5 sampai 2 cm/detik, dimana pada bagian proksimal lebih cepat
daripada bagian distal. Gerakan peristaltik ini sangat lemah dan biasanya menghilang
setelah berlangsung sekitar 3 sampai 5 cm.
Absorpsi adalah pemindahan hasil-hasil akhir pencernaan karbohidrat, lemak dan
protein (gula sederhana, asam-asam lemak dan asa-asam amino) melalui dinding usus ke
sirkulasi darah dan limfe untuk digunakan oleh sesl-sel tubuh. Selain itu air, elektrolit dan
vitamin juga diabsorpsi. Absorbsi berbagai zat berlangsung dengan mekanisme transpor aktif
dan pasif.

2. Usus besar
Usus besar mempunyai berbagai fungsi yang semuanya berkaitan dengan proses akhir
isi usus. Fungsi usus besar yang paling penting adalah mengabsorpsi air dan elektrolit, yang
sudah hampir lengkap pada kolon bagian kanan. Kolon sigmoid berfungsi sebagai reservoir
yang menampung massa feses yang sudah dehidrasi sampai defekasi berlangsung.
Kolon mengabsorpsi air, natrium, khlorida, dan asam lemak rantai pendek serta
mengeluarkan kalium dan bikarbonat. Hal tersebut membantu menjaga keseimbangan air
adan elektrolit dan mencegah dehidrasi. Menerima 900-1500 ml/hari, semua, kecualim100200 ml diabsorpsi, paling banyak di proksimal. Kapasitas sekitar 5 l/hari.
Gerakan retrograd dari kolon memperlambat transit materi dari kolon kanan,
meningkatkan absorpsi. Kontraksi segmental merupakan pola yang paling umum,
mengisolasi segmen pendek dari kolon, kontraksai ini menurun oleh antikolinergik,
meningkat oleh makanan, kolinergik. Gerakan massa merupakan pola yang kurang umum,

pendorong antegrad melibatkan segmen panjang 0,5-1,0 cm/detik, 20-30 detik panjang,
tekanan 100-200 mmHg, tiga sampai empat kali sehari, terjadi dengan defekasi.
Gas kolon berasal dari udara yang ditelan, difusi dari darah, produksi intralumen.
Nitrogen, oksigen, karbon dioksida, hidrogen, metan. Bakteri membentuk hidrogen dan
metan dari protein dan karbohidrat yang tidak tercerna. Normalnya 600 ml/hari.
D.

Ileus
1. Definisi
Ileus adalah gangguan pasase isi usus yang merupakan tanda adanya obstruksi
usus akut yang segera memerlukan pertolongan atau tindakakan. Gangguan pasase
usus dapat disebabkan oleh obstruksi lumen usus yang disebut ileus mekanik atau
oleh gangguan peristaltik yang selanjutnya disebut sebagai ileus paralitik.
Ileus mekanik adalah suatu penyumbatan mekanis pada usus dimana merupakan
penyumbatan yang sama sekali menutup atau mengganggu jalannya isi usus, yaitu
oleh karena kelainan dalam lumen usus, dinding usus atau luar usus terhalang dan
tertimbun dibagian proksimal dari sumbatan, sehingga pada daerah proksimal
tersebut akan terjadi distensi atau dilatasi usus. Dapat terjadi pada usus halus
maupun usus besar.
Ileus paralitik disebut juga adinamik ileus, adalah keadaan dimana usus gagal
atau tidak mampu melakukan kontraksi peristaltic untuk menyalurkan isinya.
2. Epidemiologi
Obstruksi usus halus menempati sekitar 20% dari seluruh pembedahan darurat,
dan mortalitas dan morbiditas sangat bergantung pada pengenalan awal dan
diagnosis yang tepat. Hernia strangulate adalah salah satu keadaan darurat yang
sering dijumpai oleh dokter bedah dan merupakan penyebab obstruksi usus
terbanyak. Mc iver mencatat 44% dari osbtruksi mekanik usus disebabkan oleh
hernia eksterna yang mengalami strangulasi.
Walaupun di negara berkembang seperti Indonesia , adhesi bukanlah sebagai
penyebab utama terjadinya obstruksi usus. Penyebab tersering obstruksi usus di
Indonesia adalah hernia, baik sebagai penyebab obstruksi sederhana (51%) maupun
obstruksi usus strangulasi (63%).

10

Adhesi pasca operasi timbul setelah terjadi cedera pada permukaan jaringan,
sebagai akibat insisi, kauterisasi, jahitan atau mekanisme trauma lainnya. Dari
laporan terakhir pasien yang telah menjalani sedikitnya operasi intra abdomen, akan
berkembang adhesi satu hingga lebih dari sepuluh kali. Obsruksi usus merupakan
salah satu konsekuensi klinik yang penting. Di Negara maju adhesi intra abdomen
merupakan penyebab terbanyak terjadinya obstruksi usus. Pada pasien digestif yang
memerlukan tindakan reoperasi, 30-41% disebabkan obstruksi usus akibat adhesi.
Untuk obstrusi usus akibat adhesi halus, proporsi ini meningkat hingga 65-75%.
3. Klasifikasi
a. Ileus mekanik
1) Berdasarkan lokasi obstruksi
Letak tinggi : bila mengenai usus halus (gaster-ileum terminal)
Letak rendah : bila mengenai usus bersar (ileum terminal-anus)
2) Berdasarkan sifat sumbatan
Partial obstruction : terjadi sumbatan sebagian lumen.
Simple obstruction : terjadi sumbatan total yang tidak disertai terjepitnya
pembuluh darah. Biasanya terjadi pada obstruksi usus yang disebabkan oleh
tumor atau askaris.
Strangulated obstruction : terjadi jepitan pembuluh darah sehingga terjadi
iskemia yang akan berakhir dengan nekrosis atau gangren yang ditandai
dengan gejala umum berat yang disebabkan oleh toksin dari jaringan
gangren. Biasanya terjadi pada obstruksi usus yang disebabkan oleh hernia,
invaginasi, adhesi, dan volvulus.
3) Berdasarkan kecepatan timbul (speed of onset) :
Akut : dalam hitungan jam
Kronik : dalam hitungan minggu
Kronik dengan serangan akut
b. Ileus neurogenik
1) Adinamik/ileus paralitik : ileus timbul karena adanya lesi saraf (terjepit,
peritonitis umum) sehingga terjadi paralisis yang berakibat ileus paralitik.

11

2) Dinamik/ileus spastika : ileus terjadi karena rangsangan saraf, keracunan,


histeri, neurasteni, sehingga timbul kenaikan rangsang terlalu kuat saraf
parasimpatik di tunika muskularis yang berkontraksi bersamaan dinama
normalnya bergantian yang berakibat spasme dan makanan tidak bisa menuju
distal.

4. Etiologi
Tabel 1. Klasifikasi ileus berdasarkan etiologi
Ekstramural
Adhesi
Hernia inkarserata
Neoplasma
Abses, hematoma
Volvulus

Intramural
Intususepsi
Penyakit Crohn
Kongenital (volvulus)
Striktur
Ileus paralitik

Intraluminar
Batu empedu
Benda asing
Impaksi fekal

Ileus obstruktif dapat disebabkan oleh :


a. Adhesi (perlekatan usus halus) merupakan penyebab tersering ileus obstuktif,
sekitar 50-70% dari semua kasus. Adhesi bisa disebabkan oleh riwayat operasi
intraabdominal sebelumnya atau proses inflamasi intraabdominal. Obstruksi
yang disebabkan oleh adhesi berkembang sekitar 5% dari pasien yang
mengalami operasi abdomen dalam hidupnya. Perlengketan kongenital juga
dapat menimbulkan ileus obstruktif didalam masa anak-anak.
b. Hernia inkarserata eksternal (inguinal, femoral, umbilikal, insisional, atau
parastomal) merupakanyang terbanyak kedua sebagai penyebab ileus
obstruktif, dan merupakan penyebab tersering pada pasien yang tidak
mempunyai riwayat operasi abdomen. Hernia interna (paraduodenal, kecacatan
mesentericus, dan hernia foramen Winslow) juga bisa menyebabkan hernia.
c. Neoplasma. Tumor primer usus halus dapat menyebabkan obstruksi intralumen,
sedangkan tumor metastase atau tumor intraabdominal dapat menyebabkan
obstruksi melalui kompresi eksternal.
d. Askariasis. Cacing askariasis hidup diusus halus bagian jejunum, biasanya
jumlahnya puluhan hingga ratusan ekor. Obstruksi bisa terjadi diberbagai
bagian diusus halus, tetapi biasanya ileum terminal yang merupakan tempat
lumen paling sempit. Obstruksi umumnya disebabkan oleh suatu gumpalan
padat terdiri atas sisa makanan dan puluhan ekor cacing yang mati atau hampir

12

mati akibat permberian obat cacing. Segmen usus yang penuh dengan cacing
beresiko tinggi untuk mengalami volvulus, strangulasi, dan perforasi.
e. Penekanan ekternal oleh tumor, abses, hematoma, intususepsi,

dan

penumpukan cairan.
f. Penyakit Crohn dapat menyebabkan obstruksi sekunder sampai inflamasi akut
selama masa infeksi atau karana striktur yang kronik.
g. Volvulus sering disebabkan oleh adhesi atau kelainan kongenital, seperti
malrotasi usus. Volvulus lebih sering sebagai penyebab osbtruksi usus besar.
h. Batu empedu yang masuk ke ileus. Inflamasi yang berat dari kantong empedu
menyebabkan fistul dari saluran empedu ke duodenum atau usus halus yang
menyebabkan batu empedu masuk ke traktus gastrointestinal. Batu empedu
yang besar dapat terjepit diusus halus, umumnya pada bagian ileum terminal
atau katup ileocaecal yang menyebabkan obstruksi.
i. Striktur yang sekunder yang berhubungan dengan iskemia, inflamasi, terapi
radiasi, atau trauma operasi.

Gambar 4. Etiologi obstuksi usus


Ileus paralitik dapat disebabkan oleh :
a. Trauma abdomen
b. Pembedahan abdomen (laparotomy) dan saluran cerna
c. Serum elektrolit abnormal (hipokalemia, hiponatremia, hipomagnesemia,
hipermagnesemia)
d. Infeksi, inflamsi

Intrathorak (pneumonia)

Intrapelvic (penyakit radang panggul)

13

Rongga perut (peritonitis,appedicitis, diverticulitis, nefrolitiasis, kolesistitis,


pankreatitis, perforasi ulkus duodenus)
e. Iskemia usus (mesenterika emboli, trombosis iskemia)
f. Atoni usus dan perenggangan gas sering timbul menyertai berbagai kondisi
traumatik (fraktur costae, fraktur tulang belakang, trauma medulla spinalis)
g. Obat-obatan (narkotika, fenotiazin, diltiazem atau verapamil, clozapine, obat
antikolinergik)
h. Infark miokard

5. Patofisiologi
Peristiwa patofisiologi yang terjadi setelah obstruksi usus adalah sama, tanpa
memandang apakah obstruksi tersebut diakibatkan oleh penyebab mekanik atau
fungsional. Perbedaan utama adalah obstruksi paralitik di mana peristaltik dihambat
dari permulaan, sedangkan pada obstruksi mekanik peristaltik mula-mula diperkuat,
kemudian intermitten, dan akhirnya hilang.
Penyumbatan intestinal mekanik yang terjadi karena adanya daya mekanik yang
bekerja atau mempengaruhi dinding usus sehingga menyebabkan penyempitan atau
penyumbatan lumen usus. Hal tersebut menyebabkan pasase lumen usus terganggu.
Sehingga terjadi pengumpulan isi lumen usus berupa gas dan cairan pada bagian
proksimal tempat pemyumbatan yang menyebabkan pelebaran dinding usus (distensi).
Sumbatan usus dan distensi usus menyebabkan terjadinya peningkatan tekanan
intraluminal sehingga terjadi hipersekresi kelenjar pencernaan. Dengan demikian
akumulasi cairan dan gas semakin bertambah sehingga menyebabkan distensi usus
sebelah proksimal sumbatan. Selain hipersekresi meningkat, kemampuan absorbsi usus
pun menurun, sehingga terjadi kehilangan volume sistemik yang besar dan progresif.
Hal ini dapat menyebabkan terjadinya syok hipovolemik.
Awalnya, peristaltik pada bagian proksimal usus meningkat sebagai kompensasi
adanya sumbatan atau hambatan. Bila obstruksi terus berlanjut dan terjadi peningkatan
tekanan intraluminal, maka bagian proksimal dari usus tidak berkontraksi dengan baik
dan bising usus menjadi tidak teratur dan hilang. Peningkatan tekanan intraluminal dan

14

adanya distensi menyebabkan gangguan vaskuler terutama statis vena. Dinding usus
menjadi udem dan terjadi translokasi bakteri ke pembuluh darah. Produksi toksin yang
disebabkan oleh adanya translokasi bakteri menyebabkan timbulnya gejala sistemik.
Efek lokal perengangan usus adalah iskemik akibat nekrosis disertai absorbsi toksintoksin bakteri ke dalam rongga peritoneum dan sirkulasi sistemik. Hal ini biasanya
terjadi pada obstruksi usus dengan strangulasi. Bahaya umum dari keadaan ini adalah
sepsis.
Pada obstruksi mekanik sederhana, hambatan pasase muncul tanpa disertai
gangguan vaskuler dan neurologik. Makanan dan cairan yang tertelan, sekresi usus dan
udara akan berkumpul dalam jumlah yang banyak jika obstruksinya komplit. Bagian
proksimal dari usus mengalami distensi dan bagian distalnya kolaps. Fungsi sekresi dan
absorbsi membran mukosa usus menurun dan dinding usus menjadi endema dan
kongesti. Distensi intestinal yang berat dengan sendirinya secara terus menerus dan
progresif akan mengacaukan peristaltik dan fungsi sekresi mukosa serta meningkatkan
risiko terjadinya dehidrasi, iskemik, nekrosis, perforasi, peritonitis dan kematian.
6. Manifestasi klinik
Gejala utama dari ileus obstruksi antara lain nyeri kolik abdomen, mual, muntah,
perut distensi dan tidak bisa buang air besar (obstipasi). Mual muntah umumnya terjadi
pada obstruksi letak tinggi, bila lokasi obstruksi di bagian distal maka gejala dominan
adalah nyeri abdomen. Distensi abdomen terjadi bila obstruksi terus berlanjut dan
bagian proksimal usus menjadi sangat dilatasi. Pada ileus paralitik gejala yang mungkin
tampak seperti perut kembung tidak disertai kolik abdomen, anorexia, mual, obstipasi.
Pada auskultasi suara usus (peristaltik) melemah atau suara usus menghilang.
Obstuksi pada usus halus menimbulkan gejala seperti nyeri perut sekitar
umbilikus atau baian epigastrium. Pasien dengan obstruksi partial bisa mengalami diare.
Kadang-kadang dilatasi dari usus dapat diraba. Obstruksi pada kolon biasanya
mempunyai gejala klinis yang lebih ringan dibanding obstruksi pada usus halus.
Umumnya gejala berupa konstipasi yang berakhir pada obstipasi dan distensi abdomen,
muntah jarang terjadi.
Pada obstruksi bagian proksimal usus halus biasanya muncul gejala muntah yang
terdiri dari cairan jernih hijau atau kuning dan terlihat dini dalam perjalanan. Usus
didekompresi dengan regurgitasi, sehingga tak terlihat distensi. Jika obstruksi di distal

15

di dalam usu halus atau kolon, maka muntah timbul lambat dan setelah munculdistensi.
Muntahnya kental dan berbau busuk (fekulen) sebagai hasil pertumbuhan bakteri
berlebihan sekunder terhadap stagnasi.
Nyeri perut bervariasi dan bersifat interminttent atau kolik dengan pola naik turun.
Jika obstruksi terletak di bagian tengah atau letak tinggi dari usus halus

(jejenum dan ileum bagian proksimal) maka nyeri bersifat konstan/menetap.


Gambar 5. Manifestasi klinis obstruksi usus halus

Tabel 2. Perbandingan Klinis bermacam-macam ileus.


Macam ileus Nyeri usus
Obstruksi

++

simple

(Kolik)

Distensi
+

Muntah
borborigmi
+++

Bising usus

Ketegangan
abdomen

Meningkat

16

tinggi
Obstruksi

+++

simple

(Kolik)

Lambat,

rendah
Obstruksi

++++

fekal
+++

strangulasi

(terus-

Paralitik

+++

++

Meningkat

Tak tentu

menerus

Biasanya

terlokasir)
+

meningkat
Menurun

++++

7. Pemeriksaan fisik
Pada tahap awal, tanda vital normal. Seiring dengan kehilangan cairan dan
elektrolit, maka akan terjadi dehidrasi dengan manifestasi klinis takikardi dan hipotensi
postural. Suhu tubuh biasanya normal tetapi kadang-kadang dapat meningkat.
Pada pemeriksaan abdomen didapatkan:
Inspeksi
- Abdomen tampak distensi
- Dapat ditemukan Darm Contour (gambaran usus) dan Darm Steifung (gambaran
gerakan usus)
- Benjolan pada regio inguinal, femoral dan skrotum menunjukkan suatu hernia
inkarserata
- Pada Intussusepsi dapat terlihat massa abdomen berbentuk sosis
- Bila ada bekas luka operasi sebelumnya dapat dicurigai adanya adhesi
Auskultasi
Hiperperistaltik, berlanjut dengan Borborygmus (bunyi usus mengaum) menjadi
bunyi metalik (klinken) / metallic sound. Pada fase lanjut bising usus dan
peristaltik melemah dampai hilang.
Perkusi
Hipertimpani. Pada obstruksi usus dengan strangulasi dapat ditemukan ascites.
Palpasi
Kadang teraba massa seperti pada tumor, invaginasi, hernia. Dan pada obstruksi
usus dengan strangulasi dapat ditemukan ascites.
Pada obstruksi usus dengan strangulasi didapatkan adanya rasa nyeri abdomen
yang hebat dan bersifat menetap makin lama makin hebat, demam, takikardi, hipotensi
dan gejala dehidrasi yang berat. Pada pemeriksaan abdomen didapatkan abdomen
tampak distensi, didapatkan ascites dan peristaltik meningkat (bunyi Borborigmi). Pada
tahap lanjut di mana obstruksi terus berlanjut, peristaltik akan melemah dan hilang.
17

Adanya feces bercampur darah pada pemeriksaan rectal toucher dapat dicurigai adanya
keganasan dan intusepsi.

8. Pemeriksaan penunjang
Laboratotium
Tes laboratorium

mempunyai keterbatan nilai dalam menegakkan diagnosis,

tetapi sangat membantu memberikan penilaian berat ringannya dan membantu


dalam resusitasi. Pada tahap awal, ditemukan hasil laboratorium yang normal.
Selanjutnya ditemukan adanya hemokonsentrasi, leukositosis, dan nilai elektrolit
yang abnormal. Peningkatan serum amilase sering didapatkan. Leukositosis
menunjukkan adanya iskemik atau strangulasi, tetapi hanya terjadi pad 38% 50%

obstruksi

strangulasi

dibandingkan

27%

- 44%

pada

obstruksi

nonstrangulata. Hemaktoktrit yang meningkat dapat timbul pada dehidrasi. Selain


itu dapat ditemukan adanya gangguan elektrolit. Analisa gas darah mungkin
terganggu, dengan alkalosis bila muntah berat, dan metabolik asidosis bila tandatanda shock, dehidrasi dan ketosis.
Radiologik
Pada foto posisi tegak akan tampak bayangan air fluid level yang banyak di
beberapa tempat (multiple air fluid level) yang tampak terdistribusi dalam
susunan tangga (step ladder appearance), sedangkan usus sebelah distal dari
obstruksi akan tampak kosong. Jumlah loop dari usus halus yang berdilatasi
secara umum menunjukkan tingkat obstruksi. Bila jumlah loop sedikit berarti
obstruksi usus halus letaknya tinggi, sedangkan bila jumlah loop lebih banyak
maka obstruksi usus halus letaknya rendah. Semakin distal letak obstruksi, jumlah
air fluid level akan semakin banyak, dengan tinggi yang berbeda-beda sehingga
berbentuk step ladder appearance.
Bayangan udara didalam kolon biasanya terletak lebih ke perifer dan biasanya
berbentuk huruf U terbalik. Obstruksi kolon ditandai dengan dilatasi proksimal
kolon sampai ke tempat obstruksi, dengan dekompresi dari kolon bagian distal.
Kolon bagian proksimal sampai letak obstruksi akan lebih banyak berisi cairan
daripada feses. Usus halus bagian proksimal mungin berdilatasi, mungkin juga
tidak. Dugaan tumor kolon dapat dibuat foto barium enema. Foto polos abdomen
mempunyai tingkat sensitivitas 66% pada obtruksi usus halus, sedangkan
sensitivitas 84% pada obstruksi kolon. Foto thoraks PA diperlukan untuk

18

mengetahui adanya udara bebas yang terletak dibawah diafragma kanan yang
menunjukkan adanya perforasi.
CT scan kadang-kadang digunakan untuk menegakkan diagnosa pada obstruksi
usus halusuntuk mengidentifikasi pasien dengan obstruksi yang komplit dan pada
obstruksi usus besar yang dicurigai adanya anses maupun keganasan.

Herring bone
Multipel air fluid
appearance Gambar 6. Foto polos abdomen
level

9. Diagnosis
Diagnosis ileus obstruktif tidak sulit, salah satu yang hampir selalu harus
ditegakkan atas dasar klinik dengan anamnesis dan pemeriksaan fisik, kepercayaan atas
pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaaan radiologi harus dilihat sebagai konfirmasi
dan bukan menunda mulainya terapi yang segera. Diagnosa ileus obstruktif diperoleh
dari:
a. Anamnesia
Pada anamnesia ileus obstruktif diperoleh usus halus biasanya sering dapat
ditemukan penyebabnya, misalnya berupa adhesi dalam perut karena pernah
dioperasi sebelumnya atau terdapat hernia. Pada ileus obstruktif usu halus kolik
dirasakan di sekitar umbilikus, sedangkan pada ileus obstruktif usus besar kolik
dirasakan di sekitar suprapublik. Muntah pada ileus obstruktif usus halus berwarna
kehijauan dan pada ileus obstruktif usus besar onset muntah lama.
b. Pemekrisaan Fisik
1) Inspeksi
Dapat ditemukan tanda-tanda generalisasi dehidrasi, yang mencakup
kehilangan turgor kulit maupun mulut dan lidah kering. Pada abdomen

19

harus dilihat adanya distensi, parut abdomen, hernia dan massa abdomen.
Terkadang dapat dilihat gerakan peristaltik usus yang bisa berkorelasi
dengan mulainya nyeri kolik yang disertai mual dan muntah. Penderita
tampak gelisah dan menggeliat sewaktu serangan kolik.
2) Auskultasi
Pada ileus obstruktif pada auskultasi terdengar kehadiran episodik
gemerincing logam bernada tinggi dan gelora (rush) diantara masa tenang.
Tetapi setelah beberapa hari dalam perjalanan penyakit dan usus di atas
telah berdilatasi, maka aktivitas peristaltik (sehingga juga bising usus) bisa
tidak ada atau menurun parah. Tidak adanya nyeri usus bisa juga ditemukan
dalam ileus paralitikus atau ileus obstruktif strangulata.
3) Perkusi
Pada ileus obstruktif didapatkan timpani di seluruh lapang abdomen.
4) Palpasi
Pada palpasi bertujuan mencari adanya tanda iritasi peritoneum apapun atau
nyeri tekan, yang mencakup defance musculair involunter atau rebound
dan pembengkakan atau massa yang abnormal.
5) Rectal Toucher
- Isi rektum menyemprot : Hirschprung disease
- Adanya darah dapat menyokong adanya strangulasi, neoplasma
- Feses yang mengeras : skibala
- Feses negatif : obstruktif usus letak tinggi
- Ampula rekti kolaps : curiga obstruktif
- Nyeri tekan : lokal atau general peritonitis
c. Laboratorium
Leukositosis, biasanya terjadi bila terdapat strangulasi, tetapi hitung darah
putih yang normal dan tidak menyamping strangulasi. Peningkatan amilase serum
kadang-kadang ditemukan pada asemua bentuk ileus obstruktif, khususnya jenis
strangulasi.
d. Radiologi
Pemeriksaan sinar-X bisa sangat bermanfaat dalam mengkonformasi diagnosis
ileus obstruktif serta foto abdomen tegak dan berbaring harus yang pertama dibuat.
Adanya gelung usus terdistensi dengan batas udara-cairan dalam pola tangga pada
film tegak sangat menggambarkan ileus obsruktif sebagai diagnosis. Dalam ileus
obstruktif usus besar dengan katup ileocaecalis kompeten, maka distensi gas dalam
kolon

merupakan

satu-satunya

gambaran

penting.

Penggunaan

kontras

dikontraindikasikan adanya perforasi-peritonitis. Barium enema diindikasikan


untuk invaginasi, dan endoskopi disarankan pada kecurigaan volvulus.

20

10. Diagnosis Banding

Appensicitis akut

Kolesistitis, koleliathiasis, dan kolik bilier

Konstipasi

Dysmenorhoe, endometriosis dan torsio ovarium

Gastroenteritis akut dan inflammatory bowel disease

Pancreatitis akut

(Nobie, 2009)
11. Komplikasi
Strangulasi menjadi penyebab dari kebanyakan kasus kematian akibat obstruktif
usus. Isis lumen usus merupakan campuran bakteri yang mematikan, hasil-hasil
produksi bakteri, jaringan nekrotik dan darah. Usus yang mengalamai strangulasi
mungkin mengalami perforasi dan mengluarkan materi tersebut ke dalam rongga
poritoneum. Tetapi meskipun usus tidak mengalami perforasi bakteri dapat melintasi
usus yang permeabel tersebut dan masuk ke dalam sirkulasi tubuh melalui cairan getah
bening dan mengakibatkan syok septik.
12. Penatalaksanaan
a. Ileus Obstruktif

Pre-operatif
Dasar pengobatan obstruktif usus meliputi :
a. Penggantian kehilangan cairan dan elektrolit ke dalam usus lumen sampai
pencapaian tingkat normal hidrasi dan konsentrasielektrolit bisa dipantau
dengan mengamati pengeluaran urin (melalui kateter), tanda vital, tekanan
vena dan pemeriksaan laboratorium berurutan.
b. Pemasangan foley kateter (pasang DC) monitor urin output
c. Dekompresi traktur gastrointestinal dengan sonde yang ditempatkan
intralumen

dengan

tujuan

untuk

dekompersi

lambung

sehingga

memperkecil kesempatan aspirasi isi usus, dan membatasi masuknya udara


yang ditelan kedalam saluran pencernaan, sehingga mengurangi distensi
usus yang bisa menyebabkan peningkatan tekanan intalumen.

21

d. Pemberian obat-obat antibiotik spektrum luas dapat diberikan sebagai


profilaksis. Antiemetik dapat diberikan untuk mengurangi gejala mual
muntah.
Operatif
Operasi dilakukan rehidrasi dan dekompresi nasogastrik untuk mencegah
sepsis sekunder. Operasi diawali dengan laparatomi kemudia disusul dengan
teknik bedah yang disesuaikan dengan hasil eksplorasi selama laparatomi. Jika
obstruktifnya berhubungan dengan suatu simple obstruktif atau adhesi, maka
tindakan lisis yang dianjurkan. Jika terjadi obstruktif stangulasi maka reseksi
intestinal sangat diperlukan.
Pada umunya dikenal 4 macam (cara) tindakan bedah yang dikerjakan
pada obstruksi ileus.
a. Koreksi sederhana (simple correction). Hal ini merupakan tindakan bedah
sederhana untuk membebaskan usus dari jepitan, misalnya pada hernia
inkarserata non-strangulasi, jepitan oleh streng/adhesi atau pada volvulus
ringan.
b. Tindakan operatif by-pass. Membuat saluran baru yang melewati bagian
usus yang tersumbat, misalnya pada tumor intraluminal, Chron disease,
dan sebagainya.
c. Membuat fistula entero-cutaneus pada bagian proximal dari tempat
obstruksi, misalnya pada Ca stadium lanjut.
d. Melakukan reseksi usus yang tersumbat dan membuat anastomosis ujungujung usus untuk mempertahankan kontinuitas lumen usus, misalnya pada
carcinomacolon, invaginasi, strangulata, dan sebagainya. Pada beberapa
obstruksi ileus, kadang-kadang dilakukan tindakan operatif bertahap, baik
oleh karena penyakitnya sendiri maupun karena keadaan penderitanya,
misalnya pada Ca sigmoid obstruktif,mula-mula dilakukan kolostomi saja,
kemudian hari dilakukan reseksi usus dan anastomosis.
Post-operatif
Pengobatan pasca bedah sangat penting terutama dalam hal cairan dan
elektrolit. Kita harus mencegah terjadinya gagal ginjal dan harus memberikan
kalori yang cukup. Perlu diingat bahwa pasca bedah usus pasien masih dalam
keadaan paralitik.
b. Ileus paralitik
Pengelolaan ileus paralitik bersifat konservatif dan suportif.
Konservatif :
- Penderita dirawat di rumah sakit.

22

- Penderita dipuasakan
- Kontrol status airway, breathing and circulation.
- Dekompresi dengan nasogastrictube.
- Intravenousfluidsandelectrolyte
- Dipasang kateter urin untuk menghitung balance cairan.
Farmakologis
- Antibiotik broadspectrum untuk bakteri anaerob dan aerob.
- Analgesik apabila nyeri.
- Prokinetik: Metaklopromide, cisapride
- Parasimpatis stimulasi: bethanecol, neostigmin
- Simpatis blokade: alpha 2 adrenergik antagoni
Operatif
- Ileus paralitik tidak dilakukan intervensi bedah kecuali disertai dengan
peritonitis.
- Operasi dilakukan setelah rehidrasi dan dekompresi nasogastric untuk
mencegah sepsis sekunder atau rupture usus.
- Operasi diawali dengan laparotomi kemudian disusul dengan teknik bedah
yang disesuaikan dengan hasil explorasi melalui laparotomi.
Pintas usus : ileostomi, kolostomi.
Reseksi usus dengan anastomosis
Diversi stoma dengan atau tanpa reseksi
13. Prognosis
Ileus Obstruktif :

Mortalitas obstruksi tanpa strangulata adalah 5% sampai 8% asalkan operasi


dapat segera dilakukan.

Keterlambatan dalam melakukan pembedahan atau jika terjadi strangulasi atau


komplikasi lainnya akan meningkatkan mortalitas sampai sekitar 35% atau 40%.

Prognosisnya baik bila diagnosis dan tindakan dilakukan dengan cepat

Ileus Paralitik :

Bila ileus hasil dari operasi perut, kondisi ini biasanya bersifat sementara dan
berlangsung sekitar 24-72 jam

Prognosis memburuk pada kasus-kasus tetentu dimana kematian jaringan usus


terjadi.

Bila penyebab primer dari ileus cepat tertangani maka prognosis menjadi lebih
baik.

(Nobie, 2009)

23

BAB III
KESIMPULAN
Ileus adalah gangguan pasase isi usus yng merupakan tanda adanya obstruksi usus
akut yang segera memerlukan pertolongan atau tindakan. Ileus Mekanik adalah obstruksi
lumen usus dimana merupakan penyumbatan yang sama sekali menutup atau mengganggu
jalan isi usus yang disebabkan oleh sumbatan mekanik. Ileus paralitik adalah keadaan dimana
usus gagal atau tidak mampu melakukan kontraksi peristaltik untuk menyalurkan isinya
(kegagalan neurogenik).
Gejala utama dari ileus obstruksi antara lain nyeri kolik abdomen, mual, muntah,
perut distensi dan tidak bisa buang air besar serta flatus. Pada ileus paralitik gejala yang
mungkin tampak seperti perut kembung tidak disertai kolik abdomen, anorexia, mual,
obstipasi. Dari pemerikasaan fisik didapatkan adanya demam, takikardi, hipotensi dan gejala
dehidrasi yang berat. Pada pemeriksaan abdomen yang terlihat adalah abdomen yang distensi,
terdapat Darm Contour dan Darm Steifung, pada auskultasi terdapat hiperperistaltik berlanjut
dengan Borborygmi (bunyi usus mengaum) menjadi bunyi metalik (klinken) atau metallic
sound. Pada fase lanjut, bising usus dan peristaltik melemah sampai hilang. Pada foto posisi
tegak akan didapatkan bayangan air fluid level yang banyak di beberapa tempat yang tampak
terdistribusi dalam susunan tangga (step ladder appearance), juga terlihat gambaran distensi.

24

Dasar pengobatan ileus adalah koreksi keseimbangan cairan dan elektrolit,


menghilangkan peregangan dan muntah dengan dekompresi traktus keseimbangan cairan dan
elektrolit,

menghilangkan

peregangan

dan

muntah

dengan

dekompresi

traktus

gastrointestinal, mengatasi peritonitis dan syok bila ada serta menghilangkan obstruksi untuk
memperbaiki kelangsungan dan fungsi kembali normal dengan cara operasi. Prognosis baik
bila diagnosis dan tindakan dilakukan dengan segera.

DAFTAR PUSTAKA
1.

Geneser, F. 1994. Histologi Usus Besar. Dalam : Andrianto, P., Oswari, J. Editors.
Buku Ajar Bedah Bagian 1. Jakarta. EGC.

2.

Guyton A.C., Hall J.E. 2005a. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran . Edisi ke- 9. Jakarta :
EGC

3.

Evers BM. Small intestine. In: Townsend CM, Beauchamp RD, Evers BM, Mttox K
L. Editors. Sabiston textbook of surgery. The biological basis of modern surgical

4.

practice. 17th ed. Philadelphia: Elsevier Saunders; 2004.


Sjamsuhidayat R, De Jong Wim. Hambatan Pasase Usus. Buku Ajar Ilmu Bedah.
Edisi 2. Jakarta: EGC; 2005.

5.

Nobie, BA. 2009. Small Bowel Obstruction, in EMedicine.http://emedicine.com.

25