Anda di halaman 1dari 107

Teori Peluang

Fisika Statistik Mirwan 2007

BAB I
TEORI PELUANG (PROBABILITAS).
A. PENDAHULUAN
Pada bab ini anda diajak untuk membahas tentang ruang sampel,
peluang, distribusi peluang diskrit, distribusi peluang kontinu, distribusi peluang
Gauss, dan distribusi Poison.
Secara tidak sadar, sebenarnya anda telah mengikuti (melakukan) hal-hal
dalam kehidupan sehari-hari berkaitan dengan topik ini, seperti misalnya pada
waktu anda bermain kartu remi, diwaktu kecil anda bermain umbul-umbulan
gambar, bermain kelereng, bermain dakon dan lain sebagainya, yang pada
hakekatnya anda telah belajar tentang teori peluang . Pada kesempatan kali ini
anda diajak untuk mempelajari hal-hal yang berkaitan dengan peluang ini
secara ilmiah.
Adapun tujuan instruksional khusus dalam pembahasan topik ini adalah
diharapkan anda mempunyai kemampuan untuk menjelaskan teori probabilitas
dan fungsi distribusi pada berbagai kasus alamiah suatu bahan atau zat.

B. PENYAJIAN
1.1. Ruang Sampel.
Bila anda perhatikan melalui pengalaman selama ini, baik pengalaman
langsung (tak disengaja) maupun pengalaman yang disengaja (kerja lab),
maka akan diperoleh pengertian bahwa segala sesuatu di dunia ini adalah
serba mungkin adanya, mungkin terjadi atau tidak mungkin terjadi. Semua
kemungkinan ini akan keluar dari sebuah percobaan yang dilakukan secara
acak, yang dibangun dalam sebuah himpunan.
Ambil contoh:
sebuah uang logam anda lemparkan dua kali. Kemungkinan apa yang
akan terjadi ?
Yang terjadi adalah kedua uang logam tersebut akan menampakkan
muka belakang yang bervariasi. Ambil muka = M dan belakang = B,
maka variasi penampakan permukaan uang itu = MM, MB, BM, BB, lain
tidak. Bila semua kemungkinan dari peristiwa dua pelemparan uang
logam itu diberi simbul S, maka S = { MM, MB, BM, BB }.
1

Teori Peluang

Fisika Statistik Mirwan 2007

Contoh lain anda melemparkan sebuah dadu sekali. Bagaimana S ?


Kemungkinan yang terjadi adalah: S = { 1, 2, 3, 4, 5, 6 }. S disebut ruang
sampel. Bila anda mempunyai sebuah kelereng, kemudian kelereng
tersebut anda jatuhkan tiga kali dari ketinggian satu meter ke lubang
yang besarnya sama dengan ukuran kelereng. Bagaimana S ? Begitu
pula bila ada tiga buah partikel gas berada dalam ruang yang tersekat
seperti terlihat pada gambar 1.1. Bila kran dibuka, bagaimana S ?

Hampa
Kran

Gambar: 1.1: Ruang tersekat bagian kiri


berisi 3 partikel gas, dan
bagian kanan kosong

Dari kedua persoalan tersebut akan ditemukan jawabannya, yaitu:


S= {MMM,MTT,TMT,TTM,TTT,MTM,MMT,TMM}, dengan M=masuk dan
T= tidak.
Pengertian lain adalah peristiwa. Apa itu peristiwa ? Yaitu sebuah
himpunan bagian dari ruang sampel. MM, MB, BM, BB adalah peristiwaperistiwa yang kemungkinan terjadi apabila sebuah uang logam dilempar dua
kali. Sedangkan M dan B merupakan peristiwa elementer. Atau peristiwa
elementer adalah peristiwa yang hanya memiliki satu titik sampel.

1.2. Peluang.
Peluang mepunyai nilai antara 0 dan 1. Nilai 0 berarti tidak terjadi (tidak
ada) , dan nilai 1 berarti terjadi (ada). Suatu peristiwa mempunyai peluang 25
%, berarti ada 25 % kesempatan akan terjadi dan 75 % kesempatan tak akan
terjadi (jumlah peluangnya adalah satu).
Bila A adalah suatu peristiwa, dan P adalah peluang, maka dapat
dituliskan sebagai:
P(A1)+P(A2)+P(A3)+...........P(Ak) = 1, dengan k = 1, 2, 3, 4, 5,....................n.
1
n

Atau P(Ak) =
Bila peristiwa A adalah terdiri dari h buah sub peristiwa, maka:
2

... (1.1)

Teori Peluang

Fisika Statistik Mirwan 2007

h
n

P(A) =

... (1.2)

Beberapa teorema yang perlu diketahui adalah:

B = peristiwa A atau B atau keduanya.

A B = peristiwa A tetapi bukan B.


A

= peristiwa bukan A.

A
0

B = peristiwa berdua A dan B.

P(A)

P(A) = 1 P(A)

P(A

B) = P(A)+P(B)-P(A

B)

P(A

B) = P(A)P(B/A) = P(B)P(A/B)

P(A/B) = peluang muncul peristiwa A dengan syarat B telah terjadi.


P(B/A) = peluang muncul peristiwa B dengan syarat A telah terjadi.
Perhatikan contoh soal berikut:
Ambil kartu remi, amati berapa jumlah kartu itu, kemudian cari peluang
berikut:
P(

/ 5) = ?

P( 5 /

)= ?

P(A/

) =?

Jawabnya adalah:

1
13

1
4

1
13

P(
/ 5) =
, P( 5 / ) =
, dan P( A /
)=
Berhubungan pula teori peluang ini dengan permutasi, yaitu banyaknya
susunan yang berbeda.
Contoh: ada benda A, B, C. Ketiga benda tersebut dapat disusun sebagai
berikut:
AB

AC

BC

BA

CA

CB

Nampak ada 6 cara penyusunan benda A, B, C. Atau dikatakan bahwa


permutasi dari benda A, B, C adalah sama dengan 6. Hal ini dapat dihitung
sebagai berikut:

Teori Peluang

Fisika Statistik Mirwan 2007

3!
3.2.1

6
(3 2)!
1
P2 =
Bila dirumuskan akan berbentuk :

n Pr

n!
(n r )!
... (1.3)

Pencacahan kombinasi mempunyai bentuk persamaan:

n!
r!(n r )!
n

Cr

Cr =

... (1.4)

3!
3.2.1

3
2!(3 2)! 2.1.1

Jadi :
Pencacahan kombinasi = tiga. Susunannya adalah sebagai berikut:
AB = BA, AC = CA dan BC = CB. r= susunan, dan n = jumlah benda.
Percobaan yang dilakukan berulang-ulang dengan kondisi yang sama,
tetapi memberikan hasil yang tidak sama, disebut percobaan acak. Bila setiap
titik sampel dalam ruang sampel diberi nilai, maka dikatakan ada fungsi dalam
ruang sampel tersebut. Fungsi demikian disebut fungsi acak atau disebut juga
variabel acak. Variabel acak diskrit mempunyai nilai yang terbatas, dan
variabel acak kontinu mempunyai nilai tak terbatas.

1.3. Distribusi Peluang Diskrit:


Ambil X= variabel acak diskrit, yang nilai-nilainya adalah: x 1, x2,
x3,..................., maka peluangnya adalah:
P(X=xk) = f(xk), k = 1, 2, 3, 4 ................
Atau P(X=x) = f(x) Ini dipenuhi bila f(x)

0 dan

f (x) 1

Sebagai contoh adalah sebuah uang logam dilempar dua kali, akan
menimbulkan ruang sampel S = {MM, MB, BM, BB}.
Ambil X= banyaknya muka yang muncul.
Sehingga: XMM = 1

x1 = xMM

XMB = 2

x2 = xMB

XBM = 1

x3 = xBM

XBB = 0

xBB : tak ternilai, karena bukan variabel yang


4

Teori Peluang

Fisika Statistik Mirwan 2007

dibutuhkan.
Jumlah kejadian (=n) = 4, sehingga peluangnya adalah:

P(x1) = f(0) =

P(x2) = f(1) =

h
n

2
4

1
4

, h = 1, sebab munculnya peluang lemparan awal M dan


lemparan kedua M hanya 1 kali.

h=2, sebab munculnya peluang lemparan awal M dan


lemparan kedua B ada 2 kali yaitu pada MM, MB,
untuk M dan pada BM, BB, untuk B.

P(x3) = f(2) =

1
4

h=1, sebab munculnya peluang lemparan awal B dan


lemparan kedua M hanya 1 kali.

Bila ditabelkan akan berbentuk sebagai berikut:


Tabel 1.1: Daftar munculnya muka belakang hasil lemparan
uang logam I
Titik sampel
MM
MB
BM
BB
X
1
2
1
0
x
0
1
2
f(x)

1
4

1
2

1
4

Bila sekarang diambil dengan Y= banyaknya belakang yang muncul,


maka dapat ditabelkan sebagai berikut:
Tabel 1.1: Daftar munculnya muka belakang hasil lemparan
uang logam II
Titik sampel
MM
MB
BM
BB
Y
0
1
2
1
y
2
1
0
f(y)

1
4

1.4. Distribusi Peluang Kontinu:

1
2

1
4

Teori Peluang

Fisika Statistik Mirwan 2007

Ambil X sebagai variabel acak kontinu. Peluang untuk X mempunyai nilai


tertentu, yaitu:
1
0

2
1

i
a

f
b

Bila diambil nilai itu adalah i

f, maka: X mempunyai nilai i

Jadi peluang dapat dituliskan sebagai:


f

P(i

nilai f(X)
dan

f ( X )dx
i

f) =

... (1.5)

f ( X )dx 1
... (1.6)

f(X) = fungsi probabilitas


= distribusi probabilitas
= fungsi rapat probabilitas
ini semua berlaku untuk variabel acak kontinu.
Distribusi peluang binomialnya berbentuk:

P( n; N , p ) P( n, N )

N!
p n (1 p ) N n
n!( N n)!
... (1.7)

N = jumlah percobaan
n = jumlah kejadian = 1, 2, 3 ............N
p = peluang sukses dalam percobaan
(1-p) = peluang gagal dalam percobaan

N!
n!( N n)!
= kombinasi
= banyaknya cara

yang berbeda dalam mendapatkan

sukses munculnya n kali dari N percobaan.

Teori Peluang

Fisika Statistik Mirwan 2007

P(n; N , p) 1
Total peluang

n 0

Nilai rata-rata dari n:


N

n n nP (n; N , p )
n 0

n n

N!

n n!( N n)! p
=

(1 p ) N n

n 0

... (1.8)

Untuk distribusi kontinu dapat dituliskan sebagai berikut:


X Xf ( X )dX

... (1.9a)

X 2 X 2 f ( X )dX

... (1.9b)

X 3 X 3 f ( X )dX

... (1.9c)

dan seterusnya.
Sebagai contoh misalkan Terdapat daftar nilai seperti pada tabel 1.3 sebagai
berikut:
Tabel 1.3: Daftar nilai 1
N0

1
2
3
4
5

10
20
40
20
10

Nilai (n)
Huruf
E
D
C
B
A

Kita cari nilai rata-ratanya sebagai berikut:


N

n n nP( n; N , p )
n0

Dari daftar: n = 0, 1, 2, 3, 4.
Peluangnya:
7

Angka
0
1
2
3
4

Teori Peluang

Fisika Statistik Mirwan 2007

10
1

100 10

1.

20 1

100 5

4.

2.

dan 5.

3.

40 2

100 5

10
1

100 10

1
1
2
1
1
1. 2. 3. 4.
10
5
5
5
10

n 0.

20 1

100 5

10
2
5

= C.

CATATAN:

nn n n n n n 2

n2
Variansi disimbulkan sebagai:

2
n

2
n

dan dirumuskan sebagai:

( n n ) 2
=

( n n ) 2
=
=
=
=

2
n

n 2 2n n n 2
n 2 2 n n n 2
n 2 2 n 2 n 2
n2 n 2

... (1.10)

Catatan:

n n NP
N = total kejadian, P = peluang, dan q = (1-p)
NPq = NP(1-p)
Contoh kasus:
Kita mempunyai 8 kemeja dengan warna putih, hitam, biru, kuning, merah,
coklat, hijau, dan jambon. Berapa nilai rata-rata kita memakai tiap baju itu
dalam seminggu?
8

Teori Peluang

Fisika Statistik Mirwan 2007

Jawab:

1 7
7
8 8

n n NP

=
Bila ternyata baju biru berjumlah 3 buah, berapa nilai rata-rata kita memakai
baju biru dalam seminggu ?
Jawab:

nbiru nbiru NP

3 21

8 8

Bila baju biru berjumlah 8 buah, maka:

nbiru nbiru NP

= 7.

1.5. Distribusi Peluang Gauss.


Fungsi distribusi Gauss:
f (X )

2
2
1
e X / 2
2

... (1.11)

= fungsi rapat probabilitas.

Xf ( X )dX X X

Dengan

f ( X )dX 1

1.6. Distribusi Poison:

P(n;m) =
m=

m n m
e
n!

n n NP

... (1.12)
= man value

P(n; m) 1
n0

2 m(1 p )
=m,

p << 1

Bentuk umum distribusi peluang menurut Poisson:

Teori Peluang

Fisika Statistik Mirwan 2007

1 X
X
Pn

e
n!

... (1.13)

X = panjang (jarak)

= jarak rata-rata antara dua titik.

n
Dalam hal ini

Contoh kasus:
X

Diketahui:
Tentukan:

1 X
X
Pn

e
n!

a <n> dan

2
X

Pn

b Sket p0 dan p1 dalam satu diagram


Jawab:
n

a Dari

1 X
X
Pn

e
n!

n!

Diketahui:

d
eX /
X
d

X
n


n!
1

n 1
X

Sehingga:

X
n


1 n!

n 1

X
n


1 n!

Diketahui:

10

terhadap

Teori Peluang

Fisika Statistik Mirwan 2007

X
n nPn

Mencari

X 0

e

X

n 1
X

X
n


n!
1

d
X

didefferensialkan ke
d
X

Dari:

X
n


1 n!

1 X
n n! e

, diperoleh
n
X
n


1 n!

X
n


n!
1

n 1

kalikan dengan
diperoleh:
11

Teori Peluang

Fisika Statistik Mirwan 2007

x
e

X

X
n

n!
1

X
n

n!
1
2

Sehingga sekarang:
2

X
X
2 n
Pn

X
n


1 n!

X
2

b Dari

X 2
e


2

Pn

X
X

X
n


1 n!

1 X

e
n!

12

2

1 n!

X
2
e

X X
2

X X

n!

X X

2n
n!

2
n


n!

X n
e
2

X X
1 n 2 2n n!

Teori Peluang

Fisika Statistik Mirwan 2007

1 X
X
P0

e
0!

n=0

X
1.
e

X
e

P0

1.1.e

X 1 X
P1

e
1!

n=1

X
P1

Buat tabel sebagai berikut:


Tabel 1.4: Distribusi peluang

..........

0,37

0,135

0,05

0,02

..........

0,37

0,27

0,15

0,07

..........

P0
P1

Buat grafiknya:
X

P0

1
0,75
0,50
0,25
13

Teori Peluang

Fisika Statistik Mirwan 2007

P1

0,25

0,50

0,75
X

P0
Gambar 1.2: Grafik hubungan

P1

vs

TUGAS :
Kerjakan soal-soal berikut:
1. Ambil kartu remi, amati berapa jumlah kartu itu, kemudian cari peluang
berikut:
P( / A)
=?
P(
/4)
=?
P(A/K)
=?

P(6/

=?

P(K/

=?

P(

5) = ?

P(

/J)

=?

P(K/J)

P(

=?

P(

4) = ?

P(5

5) = ?

) =?

P(

4)

=?

2. Terdapat daftar nilai seperti yang ditunjukkan pada tabel 1.5 sebagai
berikut:
Tabel 1.5: Daftar nilai 2
Nilai (n)
N0

1
30
2
20
3
5
Tentukan nilai rata-ratanya ?

Huruf
C
B
A

Angka
2
3
4

PUSTAKA:
1 Siti Nurul Khotimah, Fisika Statistik. Bandung : ITB, 1999. H: 2
8.
2

Triyanta. Fisika Statistik. Bandung: ITB. 1999. H: 8 12.

BAB II
TEORI KINETIK GAS IDEAL
A. PENDAHULUAN

14

Teori Peluang

Fisika Statistik Mirwan 2007

Pada bab ini akan dibahas tentang anggapan dasar gas ideal, fluks
molekul, tekanan gas, dan prinsip eki partisi energi. Anda telah mengetahui
dan telah mempelajari tentang gas ideal ini pada waktu mengikuti kuliah
termodinamika,

baik

persamaan

keadaannya

maupun

proses

yang

dijalaninya. Namun demikian dalam membahas perkuliahan termodinamika


tersebut belum dibahas secara detail perilaku molekulnya. Pada bahasan
topik ini akan dibahas perilaku molekul gas ideal mulai dari anggapananggapan dasar molekul sampai prinsip eki partisi energinya.
Adapun yang menjadi tujuan instruksional khusus dalam bahasan ini
adalah diharapkan anda mempunyai kemampuan untuk menjelaskan prinsipprinsip dasar perilaku molekul gas berdasarkan tekanan, volume, temperatur,
dan energinya.

B. PENYAJIAN
2.1. Anggapan Dasar.
Untuk mempelajari teori kinetik pada gas ideal, kita perlu memahami
anggapan-anggapan dasar sebagai berikut:
1. Anggapan pertama adalah bahwa setiap elemen volume berisi molekul gas.
Dalam keadaan standart, 6,02 x 10 23 molekul menempati volume sebesar
22,4 x 10-3 m3. Untuk itu 1 mm3 volume, berisi molekul gas sebanyak =..... ?
Oke, untuk menjawab hal ini mari kita telusur sebagai berikut:
Dari 1 m3 = 1m x 1m x 1m
= 103 mm x 103 mm x 103 mm = 109 mm3.
Jadi 22,4 x 10-3 m3 = 22,4 x 106 mm3.
6,02 x10 23
22,4 x10 6
Sehingga 1 mm3 berisi molekul sebanyak

= 0,26875 x 1017.

3x1016

molekul.

Jelaslah sekarang. Untuk itu mari kita pahami anggapan yang kedua.
2. Molekul-molekul terpisah oleh jarak yang lebih besar dibanding dengan
diameter molekul itu sendiri. Ambil misalnya satu molekul menempati satu
kubus kecil dengan tepat. Untuk ini telah diketahui bahwa dalam keadaan

15

Teori Peluang

Fisika Statistik Mirwan 2007

standart, 6,02 x1023 molekul menempati volme sebesar 22,4 x 10 -3 m3.


Sehingga volume kubus tersebut adalah =

22,4 x10 3 m 3
3,72 x10 26 m 3 / molekul
23
6,02 x10 molekul
.
Volume = r x r x r, dimana r = rusuk kubus.
3

Volume 3 3,72 x10 26 1,549 x10 9 m

r=

Rusuk kubus ini direpresentasikan sebagai jarak rata-rata antara molekul.


Diketahui pula bahwa diameter molekul adalah

2 x 10-10 m. Sehingga:

jarak.antar.molekul 1,549 x10 9

10
diameter.molekul
2 x10 10
Jadi jarak antar molekul = 10 x diameter molekul.
3. Anggapan ke tiga adalah bahwa gaya interaksi antar molekul diabaikan,
kecuali jika molekul tersebut saling bertumbukan. Dengan anggapan yang
ke tiga ini kita dapat menyatakan bahwa jika tidak ada gaya luar, maka
molekul akan bergerak lurus diantara dua tumbukan.
4. Anggapan yang keempat adalah bahwa tumbukan antar molekul dengan
molekul atau antar molekul dengan dinding bersifat lenting sempurna, dan
bagian dinding yang ditumbuk molekul dianggap rata sempurna. Komponen
kecepatan molekul arah tegak lurus permukaan dinding berubah dengan
perubahan total. Lihat gambar 2.1 berikut:

V cos
V

Gambar 2.1: Arah penjalaran gerak molekul

Dengan konvensi arah, kekiri + dan ke kanan - , maka gerak bolak-balik


molekul mengakibatkan perubahan momentum sebesar:
16

Teori Peluang

Fisika Statistik Mirwan 2007

m V cos
2V cos

- (- mV cos

) = 2 mV cos

= m (2 V cos

).

= perubahan kecepatan.

5. Anggapan kelima, jika tidak ada pengaruh gaya medan luar, molekulmolekul terdistribusi merata di seluruh wadah atau bejana. Dengan
anggapan ini, maka kerapatan molekul dapat didefinisikan sebagai
banyaknya molekul persatuan volume. Atau Kerapatan = N/V = konstan.
Sehingga dalam elemen volume dV terdapat dN molekul. Artinya:

dN N

dV V

, Atau: dN =

N
V

dV

... (2.1)

6. Anggapan keenam bahwa, laju gerak molekul meliputi kisaran dari nol
hingga laju cahaya. Dengan anggapan ini

tidak akan menimbulkan

kesalahan bila kita mengintegralkan fungsi distribusi peluang untuk laju

dari 0 sampai

7. Anggapan ke tujuh adalah bahwa, molekul-molekul bergerak menyebar


kesegala arah dengan peluang yang sama. Untuk menggambarkan
anggapan ini marilah kita ambil penyebaran molekul ini membentuk front
yang menembus permukaan bola seperti yang ditunjukkan gambar 2.2
berikut:

r sin

dA
rd

d
17

Teori Peluang

Fisika Statistik Mirwan 2007

00

Gambar 2.2: Permukaan bola sebagai penyebaran molekul

dA = (r d ) (r sin

dA = r sin

... (2.2)

Jumlah rata-rata titik tembus molekul per satuan luas permukaan bola =
jumlah molekul yang menembus permukaan persatuan luas permukaan

bola, Yaitu =

N
4 .r 2

Karena menyebar merata ke seluruh permukaan bola, maka:

dN
N

dA 4 .r 2
N
dA
4 .r 2

N
4 .r 2

N
4 .

dN =
=
r sin d d =
sin d d .
Nampak bahwa dN disini merupakan jumlah molekul yang mempunyai

kecepatan dalam arah antara

dan

Sehingga dapat dituliskan hubungan:

18

+d

dan antara

dan

+d .

Teori Peluang

Fisika Statistik Mirwan 2007

dN

N
4

sin

dN v
4

dN v

sin

... (2.3)

... (2.4)

Deff. Rapat molekul (density) = n

N jumlah.molekul

V
Volume

Atau n

dn
dn

dN
V
n
4

dnv
dan

2.2. Fluks Molekul

sin

1 N
4 V

dn
v
4

sin

d .

sin

... (2.5)

Fluks molekul pada suatu permukaan

jumlah total molekul yang tegak

lurus mengenai permukaan persatuan luas persatuan waktu.

atau

dN
dA.dt

N
A.t

fraksi molekulnya =

N
N

Perhatikan silinder miring yang berada dalam koordinat bola pada gambar 2.3
berikut:

19

Teori Peluang

Fisika Statistik Mirwan 2007

Z (normal)

X
dA

Y
Gambar 2.3: Silinder miring dalam koordinat bola

Sumbu silider mempunyai arah


Molekul

yang mengenai permukaan alas dalam selang waktu dt sama

dengan banyaknya molekul v

Ambil dnV

, dan panjang silinder = v dt.

dalam silinder.

banyak molekul persatuan volume yang mempunyai laju antara v

dan v + dv.

Dari n =

N
V

N v

, maka : nv

dN v

d nv

=
deff. dnv

, dan

V
1
dnv sin .d .d
4
n f(v) dv dan dNv

N f(v) dv

Sehingga:

1
n. f (v)dv sin .d .d
4

d nv
=
Dari gambar 2.3 nampak bahwa:

Volume silinder miring: dV = dA. v dt cos

20

... (2.6)

Teori Peluang

Fisika Statistik Mirwan 2007

V=

Banyaknya molekul v

dA (cos

) v dt.

N v
dalam silinder adalah:

= nv

. V.

dN v dnv .V
Sehingga

dN v
=

1
dnv sin .d .d . dA. cos .v.dt
4
1
v.dnv sin . cos .d .d .dA..dt
4

N v
Atau

Fluks molekul v

1
v.dnv sin . cos .d .d .dA..dt
4

... (2.7)

... (2.8)

dN
dA.dt

... (2.9)

Berdasarkan persamaan 2.9, maka dapat dituliskan:

d v
d v

dN v
dA.dt
dN v
dA.dt

1
v.dnv sin . cos .d .d .dA.dt
4
dA.dt
1
v.dnv . sin . cos .d .d
4
1
v.n. f (v).dv. sin . cos .d .d
4
21

Teori Peluang

Fisika Statistik Mirwan 2007

1
.n.v. f (v).dv. sin . cos .d .d
4

d v
=

Fluks molekul v

=d

Diperoleh dengan mengintegralkan

... (2.10)

dari 0 sampai 2

d 2

, sehingga:

1
v.n. f (v ).dv.sin . cos .d .
2

d v
=

... (2.11)

d v
Fluks molekul v =

Diperoleh dengan mengintegralkan


/2

Yaitu

1
sin . cos .d
2
d v

Untuk itu, maka:

dari 0 sampai

/2 (koordinat silinder)

, sehingga:

1
n.v. f (v).dv
4

1
n v. f (v ).dv
4

= (1/4) n

... (2.12)

= fluks total untuk seluruh laju dan untuk seluruh sudut.

2.3. Tekanan Gas (P

F

A

).

Kita ketahui bahwa untuk gas ideal, tumbukan yag terjadi adalah lenting
sempurna. Perhatikan gambar 2.4 berikut:
normal (Z)

22

Teori Peluang

Fisika Statistik Mirwan 2007

Y
X

bid. XY

bid. XY

Gambar 2.4: Bidang koordinat molekul gas

Dari gambar 2.4 nampak bahwa:

Pada arah Y: Perubahan momentum:

Pada arah Z: Perubahan momentum:

PY m.v. sin m.v. sin 0


PZ m.v. cos ( m.v. cos )

2m.v. cos
Dengan menggunakan hukum Newton:

dp
F
dt

,
F

A

= momentum.

P
, P = tekanan.
Dari persamaan 2.7:

dN v

Dengan dnv

1
v.dnv sin . cos .d .d .dA..dt
4

n f(v) dv, maka:


1 N
dN v 4 V v. f (v)dv sin . cos .d .d .dA..dt
=
... (2.13)
v
= banyaknya molekul (
) dalam waktu dt menumbuk
dinding seluas dA.

p 2m.v. cos
Perubahan momentum:

23

Teori Peluang

Fisika Statistik Mirwan 2007

v
Perubahan momentum yang dialami dinding oleh molekul (

) adalah:

dN v (2m.v. cos )
Berdasarkan hubungan : Impuls = perubahan momentum, maka:
Gaya = perubahan momentum / waktu, dan tekanan = gaya / luas, sehingga:
Tekanan = perubahan momentum persatuan luas persatuan waktu.
Tekanan yang dialami dinding adalah:

dP

dN 2.m.v. cos
v

dA.dt

vn. f (v).dv. sin cos .d .d .dA.dt 2.m.v. cos

dA.dt
N m 2
v f (v).dv. sin . cos 2 .d .d
V 4

2
=

N m 2
v f (v).dv. sin . cos 2 .d .d
V 4
/2

N m
2
v 2 f (v).dv. sin . cos 2 .d . d

V 4 0
0
0
=

N m
v2
V 4

2
=

2
=

=
P

/2

2
cos .d cos

N m
1
v 2 cos 3
V 4
3

/2
0

.2

N
N
1
1

m v 2 0 1 .
m v2
V
3

V
3
=

1
n.m v 2
3

=
Persamaan Keadaan Gas Ideal:

... (2.14)

Dari persamaan 2.14 diperoleh:


24

Teori Peluang

Fisika Statistik Mirwan 2007

1N
m v2
3V

nRT

PV
atau

1
N .m v 2
3

1
N .m v 2 NkT
3
3kT
m

v 2

v rms v 2

3kT
m

kT
dan

21
m v2
32

(rms = root mean square = akar rata-rata kuadrat)

Diperoleh:

1
3
m v 2 kT
2
2

1
m v2
2

... (2.15)

disebut rata-rata energi kinetik translasi sebuah


molekul.

2.4. Prinsip Ekipartisi Energi:


Merupakan suatu prinsip pemecahan masalah energi yang dimiliki oleh
molekul berdasarkan derajad kebebasan atom-atomnya untuk bertranslasi,
berotasi, dan bervibrasi.
Pada Translasi:

v v x i v y j v z k

dan

v2

v x2 v 2y v z2
=

v x2 v y2 v z2

atau

v2

3 v x2
=

25

1
v2
3

Teori Peluang

Fisika Statistik Mirwan 2007

3 v y2
=

3 v z2

=
Dari persamaan 2.15:

1
3
m v 2 kT
2
2

Berarti:

1
1
1
3
2
2
2
m 3v x m 3v y m 3v z kT
2
2
2
2
atau
1
1
m v x2 kT
2
2
1
1
m v y2 kT
2
2
1
1
m v z2 kT
2
2
Jadi dapat dituliskan:

1
1
1
1
m v 2y m v z2 kT
m v x2
2
2
2
2

...

(2.16)
Sehingga dapat dinyatakan bahwa dalam translasi terdapat 3 derajad
kebebasan yaitu arah X, arah Y dan arah Z. Untuk rotasi dan vibrasi
tergantung jenis molekulnya, apakah monoatomik, dwiatomik atau poliatomik.
Sebagai contoh ambil molekul yang dwiatomik.
Perhatikan gambar 4 berikut:

26

Teori Peluang

Fisika Statistik Mirwan 2007

Gambar 2.5: Molekul dwiatom

Rotasi bisa terjadi pada sumbu X, Y, Z, namun energi kinetik rotasinya hanya
pada rotasi sumbu X dan Y saja. Untuk rotasi terhadap sumbu Z diabaikan,
sebab momen innersianya nol.
Energi kinetik rotasi:

1
1
1
I X X2 I Y Y2 kT
2
2
2
Pada vibrasi ada dua energi, yaitu energi kinetik vibrasi dan energi potensial
vibrasi. Energi kinetik vibrasi dalam hal ini adalah:

1
1
mf Z2 kT
2
2

dengan

Energi potensial vibrasi:

fZ

= kecepatan vibrasi arah Z.

1 2 1
kZ kT
2
2

Jadi energi yang terjadi adalah: E = Etranslasi+ Erotasi + Epotensial vibrasi + Evibrasi

Atau

E =

3
2
1
1
7
kT kT kT kT kT
2
2
2
2
2

... (2.17)

Dapat dikatakan bahwa untuk molekul dwiatomik terdapat 7 derajad


kebebasan.

Energi Dalam (U):

U=

U=

f
NkT
2
f
nRT
2

dengan N = n NA

f
,

dengan

= derajad kebebasan.

Untuk molekul monoatomik, terdapat 3 derajad kebebasan, sehingga:

3
3
NkT nRT
2
2

... (2.18)
27

Teori Peluang

Fisika Statistik Mirwan 2007

Specific Internal Energy permol:

U
f N
f
f

kT RT N A kT
n
2 n
2
2
c

Kalor jenis

C
m

... (2.19)

dengan C = Kapasitas Kalor.

c*
Kalor jenis molar =

Pada volume tetap:

Kalor jenis:

U
CV

u
cV
T

C
n

f
f
Nk nR
2
2
... (2.20)

f N
f
f
k N Ak R
2 n
2
2
... (2.21)

c P cV R
Telah diketahui bahwa:

dan

f
f 2
RR
R
2
2

f 2

R
cP 2
f 2
2

1
cV
f
f
f
R
2

Rumus-rumus definisi:

dnv n. f (v).dv

dN v N . f (v).dv
dN E N . f ( E ).dE

dN p N . f ( p ).dp

28

... (2.22)

Teori Peluang

Fisika Statistik Mirwan 2007

v v. f (v ).dv
0

v 2 v 2 . f (v).dv
0

Laju yang paling mungkin:


N
N
Fraksi atom :

f (v)
0
v

v rms v 2

dv dv
x

dv z v 2 dv. sin .d .d

dp dp dp p dp.sin .d .d
2

TUGAS:
Kerjakan soal-soal berikut:
1 Hitunglah laju rata-rata <v> dan v rms untuk distribusi 6 buah molekul
dengan ketentuan:
a v = 5 ms-1 untuk sebuah molekul
v = 7 ms-1 untuk 3 buah molekul
v = 15 ms-1 untuk 2 buah molekul
b v = 5 ms-1 untuk 4 buah molekul
v = 20 ms-1 untuk 2 buah molekul
Dapatkah kita menyimpulkan bahwa vrms
Kapan dipenuhi vrms = <v> ?

<v> untuk suatu distribusi laju ?

2 Diketahui bahwa laju rata-rata molekul gas dalam sebuah bejana dituliskan
sebagai:

1
v vf (v)dv v.dN v
N0
0
Buktikan bahwa banyaknya molekul yang menumbuk satuan bidang bejana
persatuan waktu adalah:

N v
4.V

29

Teori Peluang

Fisika Statistik Mirwan 2007

PUSTAKA:
1. Siti Nurul Khotimah, Fisika Statistik. Bandung : ITB, 1999. H: 9 17.
2. Fw Sears and Salinger, Thermodynamics, Kinetic Theory and Statistical
Thermodynamics. Addison Wesley, 1986. H: 250 271.
3. Zemansky M.W, dan R.H Dittman. 1986.Kalor dan Termodinamika. Alih
Bahasa: The Houw Liong.Penerbit ITB Bandung. H: 137 143.

BAB III
DISTRIBUSI KECEPATAN DAN LAJU MENURUT MAXWELL
A. PENDAHULUAN
Pada bab ini akan dibahas tentang fungsi distribusi laju menurut Maxwell,
dan lepasnya molekul dari lubang bejana. Berdasarkan hasil pemahaman yang
telah anda lakukan pada bagian 1 tentang teori peluang dan bagian 2 tentang
teori kinetik gas ideal, sekarang anda diajak untuk mengaplikasikannya dalam
memahami distribusi kecepatan dan laju molekul (partikel) menurut Maxwell.
Adapun tujuan instruksional khusus dalam mempelajari topik ini adalah
diharapkan anda mempunyai kemampuan untuk merumuskan fungsi distribusi
laju partikel yang bergerak di dalam wadah (bejana) menurut Maxwell.

B. PENYAJIAN
3.1. Fungsi Distribusi Laju Menurut Maxwell.
Telah kita ketahui dari bahasan yang lalu bahwa gerak molekul adalah
acak, sehingga dalam gerakannya molekul mempunyai peluang untuk kekiri
dan kekanan sama. Bila arah tersebut kita beri X, Y, Z, maka akan kita
dapatkan peluang-peluang untuk arah tersebut. Ambil misalkan untuk arah X.
Dalam hal ini peluang molekul mempunyai kecepatan dengan komponen X
antara vx dan vx + dvx adalah

f(vx) dvx, dengan f(vx) adalah fungsi distribusi

komponen kecepatan arah X. Jelaslah sekarang bahwa f(v x) dvx mempunyai


pengertian sebagai peluang dengan

f (v

).dv x 1

... (3.1)

Jika demikian mempunyai pengertian apa yang berikut ini:

30

Teori Peluang

Fisika Statistik Mirwan 2007

dN v x N . f (v x ).dv x

OK, yaitu:
= banyaknya molekul yang bergerak dengan kecepatan antara v x dan
vx + dvx . Begitu pula yang berikut:

dN v y N . f (v y ).dv y
= banyaknya molekul yang bergerak dengan kecepatan antara v y dan
vy + dvy .

dN v z N . f (vz ).dvz
= banyaknya molekul yang bergerak dengan kecepatan antara v z dan
vz + dvz .

dN v x v N . f (v x ).dv x f (v y ).dv y
y

dN v x v

Sekarang anda dapat menuliskan bentuk persamaan untuk

dN vx v v N . f (v x ).dv x f (v y ).dv y f (v z ).dv z

yvz

, yaitu:

y z

dN vx v v N . f (v ). f (v ). f (v ).dv .dv .dv


x
y
z
x
y
z
y z
... (3.2)
= banyaknya molekul yang mempunyai kecepatan pada komponenkomponen: X, yaitu antara vx dan vx + dvx
Y, yaitu antara vy dan vy + dvy
Z, yaitu antara vz dan vz + dvz
Coba sekarang anda perhatikan gambar 3.1 berikut:

vz

dv z
dNv x v y v z
vz
vy
vy
vx
dvy
31

Teori Peluang

Fisika Statistik Mirwan 2007

vx

dvx
Gambar 3.1: Koordinat kecepatan

Kerapatan molekul dalam elemen volume dvx dvy dvz dapat dituliskan sebagai

vx v y vz

Bagaimana bentuk persamaan rapat molekul (

) selanjutnya ? OK, yaitu

dN vx v y vz
dv x dv y dv z

akan berbentuk:

N . f (v x ). f (v y ). f (v z ).dv x .dv y .dv z


dv x .dv y .dv z

N . f (v x ). f (v y ). f (v z )
... (3.3)

(v x , v y , v z )
Gunakan fungsi:

, sehingga diperoleh:

dv x
dv y
dv z
v x
v z
v y

N . f ' (v x ). f (v y ). f (v z ).dv x N . f (v x ). f ' (v y ). f (v z ).dv y


=

N . f (v x ). f (v y ). f ' (v z ).dv z
'
'
d N . f (v x ). f (v y ). f (v z ).dv x N . f (v x ). f (v y ). f (v z ).dv y

N . f (v x ). f (v y ). f (v z )
N . f (v x ). f (v y ). f (v z )

N . f (v x ). f (v y ). f ' (v z ).dv z
N . f (v x ). f (v y ). f (v z )

f ' (v y )
f ' (v x )
f ' (v z )
dv x
dv y
dv z
f (v x )
f (v y )
f (v z )
=

32

Teori Peluang

Fisika Statistik Mirwan 2007

Diketahui bahwa, molekul bergerak ke segala arah dengan peluang yang

sama, sehingga

adalah konstan di kulit bola. Yang berarti d

= 0.

f ' (v y )
f ' (v x )
f ' (v z )
dv x
dv y
dv z
f (v x )
f (v y )
f (v z )

Atau:

=0

v , v , v

v x .dv x v y .dv y v z .dv z 0


Begitu pula:

untuk

konstan.

Dengan menggunakan metode undetermined multiplier Lagrange, yaitu

dengan menambah parameter

bebas, dan tidak sama dengan nol, akan

diperoleh hubungan sebagai berikut:

f ' (v y )

f ' (v x )

f ' (v z )

.v x .dv x
.v y .dv y
.v z .dv z 0

f (v z )

f (v x )

f (v y )

Dalam hal ini:

f ' (v x )

.v x dv x 0
f (v x )

f ' (v y )

.v y dv y 0

f (v y )

'

f (v z )
.v z dv z 0
f (v z )

f ' (v x )

.v x dv x 0
f (v x )

Dari
Selanjutnya dapat kita tuliskan :

f ' (v x )
.vx 0
f (v x )
Atau

f ' (v x )
.vx
f (v x )
df (v x )
d (v x )
.v x
f (v x )
33

Teori Peluang

Fisika Statistik Mirwan 2007

df (v x )
.vx .dvx
f (v x )
df (v x )
f (vx ) .vx .dvx
1
ln . f (v x ) .v x2 ln .c
2

f (v x ) C.e

1
2
.v x
2

... (3.4)
C dapat kita cari dengan normalisasi sebagai berikut:

f (v ).dv
x

C.e

1
2
.v x
2

.dv x 1

C.

1
/2

C
atau

Sehingga sekarang:
1
2
.v x
2


f (v x )
.e
2

... (3.5)

Persamaan 3.5 disebut fungsi distribusi komponen kecepatan arah X.


Dengan cara yang sama akan kita peroleh pula:

f (v y )

1
2
.v y
2


.e
2

... (3.6)

Persamaan 3.6 disebut fungsi distribusi komponen kecepatan arah Y.


1
2
.v z
2


f (v z )
.e
2

... (3.7)

Persamaan 3.7 disebut fungsi distribusi komponen kecepatan arah Z.


Dari fungsi distribusi ketiga komponen ini selanjutnya akan diperoleh:

34

Teori Peluang

Fisika Statistik Mirwan 2007


f (v) 4

2kT

3/ 2
2

e (1 / 2 ) v v 2
... (3.8)
3/ 2

f (v) 4

m
(1 / 2 ) v 2
kT

v2

... (3.9)

(Disebut fungsi distribusi laju menurut Maxwell).


8kT
v
m
Diperoleh pula:
Buktikan ketiga persamaan: 3.8, 3.9, dan 3.10 diatas!

... (3.10)

3.2. Lepasnya Molekul dari Lubang Bejana.


V
N

f (v)

F(v)

Gambar 3.2: Bejana berlubang berisi gas.

Definisi:
Banyaknya molekul yang keluar dari bejana karena menumbuk lubang seluas
A yang lajunya v dan v + dv dalam waktu dt adalah= fluks x luas x waktu.

dN v

1N
v. f (v).dv.dA.dt
4V

1N
v. f (v ).dv. A.dt
4V

dN v' dN v

dN v' N ' F (v).dv


... (3.11)
N = banyaknya molekul dalam bejana
N= banyaknya molekul diluar bejana.
F(v) = fungsi distribusi laju molekul di luar bejana
Molekul-molekul yang ada diluar bejana berasal dari molekul-molekul yang
lepas. Jadi dapat ditulis:

35

Teori Peluang

Fisika Statistik Mirwan 2007

N ' F (v).dv

N ' F (v).dv
0

N
v. f (v ).dv. A.dt
4V
N
4V

v. f (v).dv. A.dt

1
N
N '( )
. v . A.dt
2
4V

F (v).dv
Sehingga :

4V 2 v . A.dt

v. f (v).dv. A.dt
2 v . A.dt

F (v).dv

v. f (v ).dv.
2v

Dengan persamaan 3.9 dan 3.10, selanjutnya dapat dituliskan:


3/ 2

2kT

v.4

m 2
v
kT

1 / 2

1/ 2

8kT
2

F (v).dv

1/ 2

m m
4v

2kT 2kT
3

8kT
2

4 .mv 3 m.

e
4 .kT 4kT

Sehingga di peroleh:

m
F (v )

kT

v 3
e
4

1/ 2

m 2
.v
2 kT

m 2
.v
2 kT

m 2
v
kT

1 / 2

dv

1/ 2

4 .mv 3
m.m

4 .kT 2 .kT.8kT

m 2 v 3

e
4.k 2T 2

v 2 .dv

m
2 kT

2
.v

dv

dv

m
dv

kT

v 3
e
4

m 2
.v
2 kT

dv

m 2
.v
2 kT

... (3.12)

v rms v 2
dan

36

Teori Peluang

Fisika Statistik Mirwan 2007

v 2 v 2 .F v .dv
0

Gunakan:

m
v .

kT

v 3
e
4

Dari tabel matematik :

1 m2
v
4 k 2T 2

2
v

dv

1 m

4 kT

2kT

v e

m 2
v
2 kT

dv

1
a3

1 m 2 8.k 3T 3

4 k 2T 2 m 3

2.kT
m

v2

x 5 e ax dx

m
2 kT

... (3.13)

Didapat:

2.kT
m

vrms

... (3.14)
TUGAS:
Sekarang anda kerjakan tugas dalam bentuk soal-soal berikut:
1. Dari fungsi distribusi berikut:
f (v x )

1
2
.v x
2


.e
2

1
2
.v y
2


f (v y )
.e
2

1
2
.v z
2


.e
2

f (v z )

Tunjukkan bahwa:

3/ 2

f (v) 4

2kT

f (v) 4

e (1 / 2 ) v v 2
3/ 2

(1 / 2 )

m 2
v
2
kT

(Disebut fungsi distribusi laju menurut Maxwell).


37

Teori Peluang

Fisika Statistik Mirwan 2007

2. Dari fungsi distribusi laju menurut Maxwell ini, buktikan pula :


v
a)

8kT
m

v 2

3.kT
m

vrms

3RT
NM

b)

1
2m

v
kT
c)

d)

v mp
e)

= Laju yang paling mungkin dengan menggunakan :


f (v)
0
v

v mp
dan

2kT
m

PUSTAKA:
1. Siti Nurul Khotimah, Fisika Statistik. Bandung : ITB, 1999. H:18 - 26 .
2. Fw Sears and Salinger, Thermodynamics, Kinetic Theory and Statistical
Thermodynamics. Addison Wesley, 1986. H: 354 361.
3. Zemansky M.W, dan R.H Dittman. 1986.Kalor dan Termodinamika. Alih
Bahasa: The Houw Liong.Penerbit ITB Bandung. H: 329 335.

BAB IV
GEJALA TRANSPOR.
PENDAHULUAN
Pada bab ini anda diajak untuk memahami tentang gaya antar molekul,
koreksi Clausius terhadap volume, koreksi Van der Waals terhadap tekanan,
jalan bebas rata-rata, koefisien viskositas, konduktivitas termal, dan difusi.
Anda telah memiliki bekal pengetahuan dan pemahaman tentang gas ideal
dan teori kinetik gas. Dasar pemahaman ini sekarang dapat anda aplikasikan
untuk memahami topik ini. Jangan lupa bahwa pemahaman tentang
persamaan keadaan gas ideal pada waktu mengikuti kuliah termodinamika
juga digunakan dalam mempelajari topik ini
Adapun tujuan instruksional khusus dalam mempelajari topik ini adalah
diharapkan anda mempunyai kemampuan untuk menjelaskan prinsip-prinsip
38

Teori Peluang

Fisika Statistik Mirwan 2007

dasar dalam menentukan viskositas, konduktivitas termal, dan difusi dari


suatu zat yang bergerak dalam wadah (bejana).

B. PENYAJIAN
4.1. Gaya Antar Molekul.
Dari anggapan dasar teori kinetik gas, bahwa tidak ada gaya antar molekul.
Sebenarnya adalah ada gaya antar molekul ini. Gaya antar molekul ini berasal
dari gaya elektromagnetik. Gaya interaksi sepasang molekul secara umum
digambarkan seperti gambar 4.1 berikut:
F
Daerah gaya tolak

_
Daerah gaya tarik

Gambar 4.1: Grafik interaksi antar molekul

Pada jarak pisah yang jauh, gaya yang terjadi adalah tarik menarik (yang
dikenal dengan gaya Van der Waalls) yang menurun secara cepat dengan
bertambahnya jarak pisah. Ketika dua buah molekul mendekat sedemikian
rapat, gaya interaksi menjadi gaya tolak menolak yang bertambah dengan
cepat bila jarak pisah semakin kecil. Kedua kejadian tersebut digambarkan
oleh kurva penuh pada gambar. Kurva putus-putus menunjukkan ketika kedua
molekul tidak kontak (tak bersentuhan), sedangkan kurva penuh menunjukkan
ketika kedua molekul bersentuhan (kontak).

Persamaan Keadaan:
Telah kita kenal persamaan keadaan untuk gas ideal: PV=nRT. Dengan
anggapan ukuran molekul dan gaya antar molekul diabaikan. Dalam
kenyataannya molekul gas punya ukuran dan terdapat gaya interaksi,
sehingga perlu koreksi terhadap persamaan keadaan tersebut.

4.2. Koreksi Clausius terhadap Volume.


39

Teori Peluang

Fisika Statistik Mirwan 2007

Menurut Clausius: volume yang digunakan seharusnya bukan volume


bejana, melainkan volume ruang gerak bebas sebuah molekul yang lebih kecil
dari volume bejana, karena molekul mempunyai ukuran. Bila b menyatakan
volume tumbukan per mol, maka untuk sistem gas yang terdiri dari n mol,
besarnya volume tumbukan adalah (n.b), sehingga persamaan keadaan
menjadi berbentuk:

P V nb nRT

... (4.1)

b RT
n

P V * b RT
(persamaan keadaan Clausius)
Gambaran volume tumbukan ditunjukkan pada gambar 4.2 berikut:

... (4.2)

Gambar 4.2: Dua molekul dengan ukuran sama


saling mendekat.

d
Unkuran

D
Gambar 4.3: dua molekul dengan ukuran
sama saling menyinggung

Dua molekul dengan ukuran sama saling menyinggung (kontak) atau saling
tumbuk. Dikatakan bahwa kedua molekul tersebut membentuk satu bola
dengan jari-jari 2r=d.
2r=d

Gambar 4.4: Penampang tumbukan

Sehingga penampang tumbukannya adalah:

40

.d 2

Teori Peluang

Fisika Statistik Mirwan 2007

Volume tumbukan sebagai volume dari setengah volume bola yang berjari-jari
d. Hal ini terjadi karena tumbukan selalu terjadi dari depan saja. Bagian
belakang bola molekul tidak pernah akan bertumbukan. Jadi volume
1 4
3
.d
2 3

VT

tumbukan dalam hal ini adalah:

VT

Untuk sistem gas dengan N molekul:

n
Diketahui bahwa:

Sehingga :

N
NA
atau

1 4
N .d 3
2 3

N n.N A

1
4
VT n.N A . .d 3
2
3

... (4.3)

VT 1
4
.N A . .d 3
n 2
3

Volume tumbukan persatuan mol molekul adalah


2
.N A . .d 3
3
b
... (4.4)
*
Jadi V -b bukan merupakan volume kosong, namun merupakan volume ruang
gerak bebas per mol.

Untuk sistem gas, jarak rata-rata antara dua partikel

V
d
N

1/ 3

4.3. Koreksi Van der Waals terhadap tekanan.


Van der Waals memasukkan koreksi kedua terhadap persamaan keadaan
dengan memperhitungkan gaya tarik menarik antar molekul, yang kemudian
gaya ini terkenal dengan gaya Van der Waals. Molekul pada saat berada di
tengah, banyak mendapat tarikan oleh molekul-molekul tetangganya.
Sedangkan pada proses bergerak menuju dinding, dia direm oleh gaya tarik
dari molekul-molekul di kanan, kiri, belakang, atas, bawah, sehingga setelah
sampai di dinding molekul-molekul itu ditarik kembali oleh molekul lain yang
ada di belakangnya. Dengan demikian, sebuah molekul yang bergerak
mendekati dinding bejana diperlambat, dan gaya rata-rata yang dikenakan
41

Teori Peluang

Fisika Statistik Mirwan 2007

pada dinding juga mengecil. Tekanan mengecil bila dibandingkan dengan


yang akan terjadi bila tidak ada gaya tarik menarik. Penurunan tekanan yang
terjadi sebanding dengan banyaknya molekul persatuan volume pada lapisan
belakang, dan sebanding dengan banyaknya molekul persatuan volume pada
lapisan di bawahnya yang melakukan tarikan.

Jadi penurunan (-) tekanan sebanding dengan n 2, yaitu:


Dengan

.n 2

= faktor yang bergantung pada kekuatan gaya tarik.


2
2
2
N
N
2
.n N A .n *A
V
V
V

.N a
2
A

faktor koreksi. Sehingga

.n 2

a
V *2
a
V *2

Jadi tekanan yang diberikan oleh Clausius haruslah dikoreksi dengan

P V b RT
*

Dari persamaan 4.2:


a *

P *2 V b RT
V

, maka:

a
RT
*
*2
V
V b

... (4.5)

Untuk sistem gas, jarak rata-rata antara dua partikel adalah:

V
d

1/ 3

4.4. Jalan Bebas Rata-rata


Jarak rata-rata diantara tumbukan-tumbukan yang berurutan dinamakan
jalan bebas rata-rata diberi simbul

. Perhatikan skema gambar 4.5 berikut:

Gambar 4.5: Jalan bebas rata-rta

42

Teori Peluang

Fisika Statistik Mirwan 2007

Tinjau molekul-molekul gas sebagai bola yang berdiamter d. Penampang

tumbukan

.d 2

. Molekul yang bertumbukan ini menghasilkan sebuah

molekul kas dengan jari-jari d. Molekul-molekul yang lain, yang belum


bertumbukan sebagai sebuah titik massa. Molekul kas bergerak dengan laju v
melalui partikel-partikel titik, sehingga dalam waktu dt menempuh lintasan

sepanjang

v.t

dan menyapu sebuah silinder dengan volume sebesar

.v.t

. Banyaknya molekul dalam silinder tersebut adalah:


N

.v.t
.v.t
=(
) (kerapatan molekul) =(
)
Karena setelah tumbukan, arah kecepatan v berubah-ubah, maka silinder
yang dibentuk oleh molekul kas merupakan silinder patah-patah yang
arahnya berubah tiap tumbukan seperti yang diperlihatkan pada gambar 4.6
berikut:

Gambar 4.6: Silinder-silinder bentukan


Molekul khas.

Jadi setiap bentukan silinder merupakan hasil tumbukan molekul yang


berupa molekul kas. Banyaknya molekul dalam silinder bentukan itu juga
merupakan banyaknya tumbukan yang terjadi antar molekul yang diberi

simbul Z. Nilai Z dan

untuk tiap patahan silinder berbeda-beda sehingga

perlu nilai rata-ratanya. Dalam hal ini:

43

Teori Peluang

Fisika Statistik Mirwan 2007

Z .v.t

Z .v.t

z v .t

dan

N
V

... (4.6)

jalan. yang .ditempuh.rata rata.dalam.waktu.t

banyak .tumbukan. yang .terjadi.antar.molekul


Jalan bebas rata-rata

v .t

v .t

N
V

1
1

N .n

... (4.7)

Bila sekarang banyaknya molekul dalam silinder patahan itu dianggap


sebagai berkas, maka dalam selang jalan bebas rata-rata infinitesimal,

peluang terjadinya tumbukan =

dx

. Banyaknya molekul yang mengalami

tumbukan dalam selang jalan bebas rata-rata d

ini adalah

dx

. Dalam

setiap kali tumbukan, molekul di dalam berkas ternyata membelokkan molekul


itu sendiri dari lintasannya atau molekul terhambur keluar dari berkas (disebut
molecular beamb) dan menurunkan jumlah molekul di dalam beambnya.
Jadi banyak molekul dalam beamb adalah:

dN N

dx

x dx
dN
No N 0

dan

dN
dx

ln

sehingga

N N 0 .e

N
1
.x
No

atau

... (4.8)

4.5. Koefisien Viskositas.


44

Teori Peluang

Fisika Statistik Mirwan 2007

A
F

L
A
Gambar 4.7: Bagan teknik menentukan koefisien viskositas.

Dua plat yang masing-masing luas permukaannya A terpasang sejajar


yang diantara kedua plat tersebut terdapat gas. Plat atas ditarik kekanan
dengan laju konstan terhadap plat bawah yang diam. Molekul-molekul gas

mempunyai komponen kecepatan

yang membesar secara uniform pada

jarak Y dari plat bawah.

L
y
Gambar 4.8: Bagan daerah pisah molekul gas.

Koefisien viskositas didefinisikan sebagai:

F
du

A
dY
F
A

... (4.9)

= Gaya tarik plat persatuan luas.

45

Teori Peluang

du
dY

Fisika Statistik Mirwan 2007

= gradien kecepatan molekul-molekul gas dalam arah gerak plat atas

kekanan.

= koefisien viskositas, dengan satuan Ns m-2.


1 Ns m-2 = 10 poise.

Garis putus-putus merepresentasikan permukaan khayal dalam gas.

Karena gerak acaknya, maka ada fluks molekul :

1N
v
4V

yang

menyeberang permukaan khayal baik dari atas dan dari bawah. Jalan bebas
rata-rata terakhir sebelum molekul menyeberang permukaan khayal SS,

bermula pada jarak

Y . cos

(lihat gambar 4.9 berikut):

y = posisi tumbukan terakhir molekul


sebelum menyeberang

S
Gambar 4.9: Posisi tumbukan molekul.

Karena aliran molekul di atas SS lebih besar dari pada di bawah SS,
maka molekul-molekul yang menyeberang dari atas memliki momentum
(kearah kanan) yang lebih besar dari pada yang dari bawah. Keadaan ini
menghasilkan laju neto transpor momentum menyeberang permukaan
persatuan luas, yaitu gaya persatuan luas. Posisi tumbukan terakhir sebelum

molekul menyeberang SS dari atas

adalah

, yang dalam bentuk

persamaannya adalah :

. cos .dN
dN
v

... (4.10)

Dari persamaan 3.13:

46

Teori Peluang

Fisika Statistik Mirwan 2007

dN v

1 N
v. f (v).dv. sin . cos .d .d .dA.dt
4 V

Sehingga:
1 N

. cos . 4 V v. f (v).dv. sin . cos .d .d .dA.dt


1 N

4 V v. f (v).dv. sin . cos .d .d .dA.dt


1 N

. cos . 4 V v. f (v).dv. sin . cos .d .d


1 N

4 V v. f (v).dv.sin . cos .d .d

/2
2
N
v. f (v).dv. sin . cos 2 .d . d

0
0
0
Y 4V
/2
2
N
v. f (v).dv. sin . cos .d . d

0
0
4V 0
/2

sin . cos 2 .d .

/2

/2

cos 2 .d (cos )

/2

sin . cos .d .

cos .d (cos ).

/2
1
cos3 0
3
/2
1
cos 2 0
2

Jadi

... (4.11)

u0
Bila
Dan

= kecepatan gas kekanan pada bidang SS.


2

= kecepatan gas kekanan pada jarak


diatas bidang SS,
2 du
u u 0 .
3 dY
, dan momentum sebuah molekulnya adalah:

2 du

m.u m. u0 .
3 dY

47

maka:

Teori Peluang

Fisika Statistik Mirwan 2007

Total momentum (

) dalam arah ke kanan yang di bawa menyeberang ke

bawah lewat permukaan SS persatuan luas

persatuan waktu oleh molekul-

molekul dari atas adalah:

G (m.u )

Dimana

= total fluks.

Telah diperoleh bahwa:

1N
v
4V

sehingga:

1N
G
v mu
4V

1N
2 du

v .m u 0

4V
3 dY

1N

du

v .m u0


3 dY

G 4 V

... (4.12)

Dengan cara yang sama, diperoleh total momentum dalam arah aliran
(kekanan) yang dibawa menyeberang permukaan SS persatuan luas
persatuan waktu oleh molekul-molekul dari bawah ke atas adalah:

1N
2 du

G
v .m u0

4V
3 dY

... (4.13)

Netto laju transpor momentum persatuan luas persatuan waktu:

G G G

v .m u0
v .m u0

3 dY 4 V
3 dY

G 4V
1N

du

1N

du


1N
2 du
2 du
v .m. u0
u0

4V
3 dY
3 dY

1N
v .m.
4V

2 du
2 du
u0
u0

3 dY
3 dY

48

Teori Peluang

Fisika Statistik Mirwan 2007

1N
4 du
v .m.

4V
3 dY

N
du
G
v m
3V
dY

... (4.14)

Telah diketahui sebelumnya (dari persamaan 4.10):

F
du

A
dY
Ingat bahwa impuls = perubahan momentum

F .t (mv)
F

(mv)
t

F ( mv)

A
At

... (4.15)

Gaya persatuan luas = perubahan momentum persatuan luas persatuan


waktu. Sehingga:

F
du

G
A
dY

du N
du

v m
dY 3V
dY

N
v m
3V

1
V
N

V
.N

1
.n

1
m
N
V
vm
v
3V
.N
3

Diketahui bahwa

Sehingga:

... (4.16)

1 mv
3

... (4.17)

Telah diketahui pula bahwa:


49

Teori Peluang

Fisika Statistik Mirwan 2007

8kT
.m

Sehingga sekarang persamaan 4.17 menjadi berbentuk:

1 mv
3

m
3

8kT
.m

1 8kTm2

3 .m 2

1 8kTm
3 . 2

1
3

8kTm

... (4.18)

4.6. Konduktivitas Termal.


T2
T
L

GAS
S

T0

S
H

T1
Gambar 4.10: Daerah pisah gas karena temperatur.

Dua plat diam terpisah sejauh L oleh gas. Plat atas bertemperatur lebih
tinggi dari pada plat bawah, sehingga ada gradien temperatur dalam gas

sebesar

dT
dY

= perubahan temperatur terhadap jarak dalam arah tegak lurus

permukaan dalam gas. Dalam hal ini didefinisikan konduktivitas termal (


50

):

Teori Peluang

Fisika Statistik Mirwan 2007

dengan

dT
dY

... (4.19)

= konduktivitas termal.

H = aliran kalor persatuan luas persatuan waktu yang


menyeberang bidang permukaan SS.
Tanda negatip menunjukkan bahwa aliran kalor mempunyai arah yang

berlawanan dengan arah kenaikan temperatur. Artinya jika

dT
dY

positip, maka

H negatip, sesuai dengan gambar 4.10, maka H mengalir ke bawah.

Sebalikna jika

dT
dY

negatip, maka H positip (H mengalir ke atas). Dari gambar

4.10: Temperatur pada bidang SS adalah T0.


Analog dengan aliran gas pada viskositas, maka temperatur pada jarak
2

di atas bidang SS adalah:

2 dT
T T0
3 dY

Begitu pula temperatur pada jarak

... (4.20)
2

di bawah bidang SS, adalah:

2 dT
T T0
3 dY

... (4.21)

Dari teori kinetik gas:

Di atas bidang SS:

f
kT
2

f
f
2 dT
kT k T0
2
2
3 dY

51

Teori Peluang

Fisika Statistik Mirwan 2007

f
f
kT
2
2
Di bawah bidang SS:

2 dT

k T0
3 dY

Aliran energi persatuan luas persatuan waktu dari molekul-molekul yang


menyeberang bidang SS ke bawah:

H E
2 dT
1N
f
v
k T0

3 dY
4V
2

... (4.22)
Sebaliknya Aliran energi persatuan luas persatuan waktu dari molekul-molekul
yang menyeberang bidang SS ke atas adalah:

2 dT
1N
f
v
k T0

3 dY
4V
2

... (4.23)

Netto aliran energi persatuan luas persatuan waktu adalah:

H H H
2 dT 1 N
2 dT
1N
f
f
v k T0
v k T0

3 dY 4 V
3 dY
4V
2
2

f
2 dT
2 dT
1N
v k T0
T0

2
3 dY
3 dY
4V

f 4 dT
1N
v k

2 3 dY
4V

1N
f
dT
v k
3V
2
dY

dT
dY

Dari persamaan 4.19:


, sehingga:
dT
1N
f
dT

v k
dY
3V
2
dY

1N
f
v k
3V
2

1N
v fk
6V
52

... (4.24)

Teori Peluang

Fisika Statistik Mirwan 2007

Diketahui bahwa

1
.n

1N
1
v fk
6V
.n

1N
1
v fk
N
6V

Sehingga:

1 v
fk
6

...(4.25)

Selanjutnya:

1 v
fk
6

1mv
3

3 fk fk

6 m 2m

... (4.26)

4.7. Difusi.
Tinjau sistem gas berikut:

GAS A
S

S
GAS B

Gambar 4.11: Gas A dan gas B dipisah oleh


Sekat SS. T A = TB, PA = PB,
n A = nB, Dinding adiabat

Bila sekat diambil, akibatya, sesaat tidak terjadi aliran gas dari A

B.

Setelah waktu cukup lama, kedua gas terdistribusi merata di seluruh volume
bejana. Gejala demikian ini disebut difusi, prosesnya irreversibel.
Sekarang kita tinjau gas dalam bejana itu merupakan gas campuran yang
terdiri dari molekul berlabel dan molekul tak berlabel, dengan kerapatan n
53

Teori Peluang

Fisika Statistik Mirwan 2007

merata di seluruh bejana. Kerapatan molekul berlabel adalah n * yang hanya


merupakan fungsi Y saja. Fluks molekul berlabel kearah bawah lebih besar
dari pada fluks ke arah atas dalam menyeberangi permukaan khayal SS.
Perhatikan gambar 4.12 berikut:

n*
n *0

S
n*

Gambar 4.12: Daerah pisah molekul gas

Netto fluks molekul berlabel yang menyeberangi permukaan SS persatuan


luas persatuan waktu adalah:

dn *
dY

... (4.27)

dimana D= koefisien difusi. Tanda negatip berarti arah


berlawanan arah
*
dn
dY
dengan
. Analog dengan viskositas, maka diatas permukaan SS:

2 dn *
n n
3 dY
*

*
0

2 dn*
n n
3 dY
*

*
0

Di bawah permukaan SS:


Fluks molekul berlabel yang menyeberang permukaan SS ke bawah persatuan
luas persatuan waktu adalah:

.n *

1N
v .n *
4V

1
n v n*
4

* 2 dn *
1
n v n0

4
3 dY

54

... (4.28)

Teori Peluang

Fisika Statistik Mirwan 2007

Sebaliknya, Fluks molekul berlabel yang menyeberang permukaan SS ke atas


persatuan luas persatuan waktu adalah:

* 2 dn *
1
n v n0

4
3 dY

... (4.29)

* 2 dn *
1
2 dn * 1
n v n0*

n0

4
3
dY
4
3 dY

4 dn *
1
1
dn *
nv

4
3
dY
3 dY

D
Dari persamaan 4.27:

D
Diperoleh:

dn *
dY

dn *
1
dn *
nv
dY
3
dY

1
1 v 1v
D nv n

3
3 n
3

... (4.30)

TUGAS:
Kerjakan soal-soal berikut:
1 Tuliskan persamaan untuk menurunkan koefisien viskositas, koefisien
konduktivitas termal, dan koefisien diffusi. Jelaskan makna dari setiap
notasi yang ada beserta satuannya dalam sistem satuan internasional.
2 Sebuah atom gas ideal bermassa 2,59 x 10 -26 kg dan berjari-jari 0,125 nm.
Pada T

700 K molekul gas ini beratom tunggal, sedangkan pada T < 700

K molekul gas ini beratom dua. Ruang sebesar 100 liter diisi 6,25 gram gas
ini pada T = 900 K.
a Hitung jarak rata-rata antara dua buah atom molekul gas tersebut .
b Hitung jalan bebas rata-rata molekul gas ini.
55

Teori Peluang

Fisika Statistik Mirwan 2007

Hitung tekanan gas itu.

d Kemudian temperatur gas diturunkan sampai 600 K. Hitunglah tekanan


gas itu pada temperatur yang baru.
e Tentukan kapasitas termal pada volume tetap untuk gas tersebut pada
600 K.
f

Tentukan kapasitas termal pada volume tetap untuk gas tersebut pada
900 K

PUSTAKA:
3 Siti Nurul Khotimah, Fisika Statistik. Bandung : ITB, 1999. H: 27
41.
2. Fw Sears and Salinger, Thermodynamics, Kinetic Theory and
Statistical Thermodynamics. Addison Wesley, 1986. H: 275 296.

BAB V
KEADAAN MAKRO DAN MIKRO
A. PENDAHULUAN
Pada bab ini akan dibahas tentang keadaan makro, keadaan mikro, dan peluang
termodinamik. Untuk mempelajari topok ini, anda diharapkan memiliki bekal
pengetahuan dan pemahaman tentang hukum-hukum termodinamika yang telah anda
pelajari pada waktu mengikuti kuliah termodinamika. Pada bahasan topik ini dikaji
pengembangan termodinamika secara makro dan mikro, dengan menggunakan teori
peluang yang telah anda pelajari pada bagian-bagian sebelumnya.
Adapun tujuan dalam pembahasan topik ini adalah diharapkan anda mempunyai
kemampuan untuk membedakan antara keadaan makro dan keadaan mikro sistem
partikel.

B. PENYAJIAN
5.1. KEADAAN MAKRO.
Untuk mempermudah bahasan tentang keadaan makro, kita bahas terlebih dahulu
gagasan yang mendasari dalam mekanika statistik ini, yaitu bahwa: mekanika statistik
dibagi menjadi dua bagian pokok, yaitu mekanika statistik klasik dan mekanika
statistik kuantum. Mekanika statistik klasik dipelopori oleh Maxwell dan Boltzmann
yang kemudian dikenal dengan statistik Maxwell-Boltzmann. Sedangkan mekanika
statistik kuantum, dibagi lagi menjadi statistik Bose-Einstein dan statistik FermiDirac.
Mekanika statistik tidak membahas rincian gerak molekul, misal
tumbukan dengan molekul lain atau dengan dinding,akan tetapi mekanika
statistik memanfaatkan kenyataan bahwa jumlah molekul sangat banyak
56

Teori Peluang

Fisika Statistik Mirwan 2007

sehingga perata-rataan dapat dilakukan tanpa informasi dari masing-masing


molekul dengan meninjau energi molekul.
Tinjau sebuah tabung berisi gas seperti gambar 5.1 berikut:
Gas
Gambar 5.1:Tabung berisi gas.

Untuk kasus ini ada tiga cara pandang, yaitu:


1. Dipandang secara termodinamik.
Dinding bejana adalah adiabatik dengan dQ = 0.
Volume tidak berubah, sehingga dW = 0 dan dU = 0.
Jadi sistem adalah statis.
2. Dipandang secara kinetik.
Gas di dalam bejana terdiri dari banyak partikel dengan E = (1/2)mv 2.
3. Dipandang secara kuantum.
Prinsip mekanika kuantum mengarah kepada hasil bahwa sebuah partikel
(yang bebas dari medan gaya konservatf) tidak berharga sembarang nilai
atau tidak dapat berubah secara kontinu. Partikel-partikel hanya dapat
berada pada sejumlah keadaan yang menspesifikasi energi. Dikatakan
energi partikel terkuantisasi.
Kita tinggalkan pandangan secara termodinamik dan secara kinetik.
Selanjutnya semuanya dipandang secara kuantum. Diketahui bahwa dalam
satu tingkat energi ada beberapa keadaan energi. Setiap keadaan energi
ditentukan oleh semua bilangan kuantumnya.
Tinjau kasus atom (elektron terikat pada intinya). Keadaan energi
ditentukan oleh empat buah bilangan kuantum. Bilangan kuantum yang
dimaksud adalah:
n = bilangan kuantum utama.
l

= bilangan kuantum orbit.

ml
= bilangan kuantum magnetik orbital.

ms
= bilangan kuantum magnetik spin.

57

Teori Peluang

Fisika Statistik Mirwan 2007

Contoh:
pada tingkat energi atom ke 1 diilustrasikan sebagai berikut:

l 0, ml 0, m s
n =1,

1
2

l 0, ml 0, ms
n =1,

1
2

Jadi ada dua keadaan . Dikatakan bahwa tingkat energi ini terdegenerasi
dengan degenerasi = 2. Degenerasi (simbul= g j ) menyatakan banyaknya
keadaan yang berbeda, yang masing-masing mempunyai energi (E j ) yang
sama.

E
Adapun spektrum energinya dirumuskan sebagai

13,6
ev
n2

n=5

E=

n=4

E=

13,6
25

13,6

16

n=3

E=

13,6
9

13,6

ev

ev

ev

n=2

E=

ev

n=1

E= -13,6 ev

Tinjau partikel bebas yang bergerak dalam volume tertutup berbentuk kubus
dengan sisi L. Energi kinetik partikel pada tingkat ke j adalah:

1 m.v j
1
1
m

E j m.v 2j m.v j .v j .
2 m
2
2
m

Ej

p 2j
2m

...

(5.1)
58

Teori Peluang

Fisika Statistik Mirwan 2007

Jika partikel bergerak bebas bolak-balik antara dua bidang datar berjarak
L, maka bentuk mekanika kuantum yang paling sederhana adalah
menyatakan: dalam suatu daur lengkap (dari dinding kedinding lain dan
kembali ke dinding semula dengan menempuh jarak 2L), maka momentum
dikalikan dengan total lintasan harus merupakan bilangan bulat x tetapan
Planck.

pj

p j .2 L n j .h
Jadi:

Berdasarkan persamaan:

n j .h

2 L

Ej
2m

atau
p 2j
Ej
2m

2
x

, dapatlah dituliskan kembali menjadi:

n 2j .h 2

8.m.L2

n n n n
2
j

2L

L2 3 V 2 V 2 / 3

dengan

n j .h

2
y

Ej
diperoleh

n 2j .h 2
8.m.V 2 / 3

2
z

dimana

h 2 2 / 3
V
8m

E j n 2j
Atau

... (5.2)

Ambil misalnya tingkat yang paling rendah, yaitu j = 1 untuk n x =ny = nz = 1,

n 2j 3

n 2j n x2 n y2 n z2
dengan

. Untuk

E1

, maka diperoleh:

3h 2 / 3
V
8m

... (5.3)

Jadi hanya ada satu keadaan energi untuk tingkat energi terendah ini. Untuk
mencari degenerasi pada tingkat yang lebih tinggi dapat dilakukan cara seperti
pada contoh berikut:

6h 2 2 / 3
E

n 6 2 8m V
Ambil j = 2,
,
. Berapa besarnya g ?
Jawab:
2
j

Buat tabel seperti berikut:


Tabel 5.1: Degenerasi berdasarkan tingkat energi partikel.
59

Teori Peluang

Fisika Statistik Mirwan 2007

nx

ny

nz

n 2j

2
1
1

1
2
1

1
1
2

6
6
6

Jadi ada 3 keadaan. Atau g = 3


Skema tingkat-tingkat energi (E j), degenerasi (gj ), dan banyaknya partikel
yang mengisi tiap tingkat N j. Misalnya untuk atom yang memiliki 14 elektron
pada kulit-kulitnya. Hal ini dapat diilustrasikan seperti yang ditunjukkan bagan
berikut:

g =
n4

(1)

(2)

(3)

(4)

(5)
E4, g4=5,N4=2
E3, g3=4,N3=3

n3
n2

E2, g2=3,N2=4

n1

E1, g1=1(non degenerasi),N1=5

Rumus untuk keadaan ini adalah:

N Nj
j

U EjN j

... (5.4)

... (5.5)
U = energi internal sistem.
Keadaan makro pada kasus ini didefinisikan sebagai keadaan suatu
sistem yang secara spesifik mengindikasikan banyaknya partikel dalam tiap
tingkat energi, baik partikel-partikel itu terbedakan atau tidak.
5.2. KEADAAN MIKRO.
Untuk partikel-partikel tak terbedakan: keadaan mikro merupakan
keadaan yang mengindikasikan banyaknya partikel dalam tiap keadaan
energi. Sedangkan Untuk partikel-partikel yang terbedakan: keadaan mikro
merupakan keadaan yang mengindikasikan banyaknya partikel
macamnya dalam tiap keadaan energi.
60

dan

Teori Peluang

Fisika Statistik Mirwan 2007

Partikel tak terbedakan: diindikasikan sebgai partikel yang tidak


mempunyai kecenderungan untuk menempati tempat tertentu. Contohnya
adalah partikel-partikel gas. Sedangkan partikel terbedakan: diindikasikan
sebagai partikel-partikel yang dapat dibedakan lantaran tempat atau
kedudukan tertentu. Contohnya adalah partikel-partikel dalam sistem kristal.
Untuk memperjelas pengertian keadaan makro dan keadaan mikro,
perhatikan sekali lagi skema di atas. Dengan catatan bahwa keadaan makro
sebuah sistem ditentukan oleh banyaknya partikel yang mengisi tiap-tiap
tingkat energi.
Dari skema tersebut nampak bahwa n = 4. Dikatakan bahwa keadaan
makro dengan N 14 terdistribusi pada 4 tingkat energi E 1, E2, E3, E4. Keadaan
makro pada keadaan sistem dapat berubah bila pada sistem N berubah. Dan
juga dapat berubah walaupun N total tetap, karena partikel berpindah dari
tingkat energi ke tingkat energi yang lain. Untuk perubahan yang pertama (N
berubah), ini bisa terjadi bila jumlah partikel pada tiap tingkat energi tidak
sama seperti keadaan semula. Karena masuknya sebuah partikel atau lebih,
yang kemudian dikatakan keadaan makro berubah dengan N total berubah.
Untuk perubahan yang kedua (partikel berpindah), ini bisa terjadi bila
distribusi partikel hanya berpindah saja dari tigkat energi yang satu ke tingkat
energi yang lain tanpa ada partikel yang keluar atau masuk sistem. Dikatakan
keadaan makro berubah walaupun N total tetap.

5.3. Peluang Termodinamik (

WK

).

Peluang termodinamik adalah merupakan banyaknya keadaan mikro


yang berbeda, yang mempunyai keadaan makro yang sama, dengan syarat N
dan U tetap (N = banyaknya molekul, dan U adalah energi dalam sistem).
Interaksi

antara partikel

dalam sistem

terisolasi

akan

menghasilkan

perubahan jumlah partikel yang mengisi keadaan-keadaan energi, dan jika


partikel-partikel tersebut adalah terbedakan, maka akan menghasilkan
perubahan keadaan energi masing-masing partikel. Interaksi ini dapat berupa
tumbukan antar partikel atau dengan dinding bejana, atau bisa juga terjadi
pada pertukaran energi antara molekul-molekul yang berosilasi dalam kristal.

61

Teori Peluang

Fisika Statistik Mirwan 2007

Setiap pertukaran akan menghasilkan perubahan keadaan mikro sistem.


Sistem terisolasi, berarti N, U dan V adalah konstan.
Postulat:
Semua keadaan mikro sebuah sistem terisolasi mempunyai peluang yang

sama. Total keadaan mikro

= jumlah semua peluang termodinamik untuk

seluruh keadaan makro. Dirumuskan sebagai:


Wk
k

... (5.6)

TUGAS:
Kerjakan soal-soal berikut:
1 Apa yang dimaksud dengan: tingkat energi, keadaan energi, dan
degenerasi ? Beri contoh untuk partikel bebas dalam kotak.
2 Suatu partikel berada dalam tingkat energi ke j = 3.
n 2j 9
a. Bila diketahui
, tentukan berapa banyak degenerasi yang terjadi.
2
n j 66
b. Bila
, tentukan degenerasi yang terjadi.
c. Bila massa partikel untuk a dan b adalah 3,1 x 10 -19 kg, dan menempati
ruangan sebesar 10 x 10-6 m-3, tentukan energi partikel tersebut.
PUSTAKA:
4 Siti Nurul Khotimah, Fisika Statistik. Bandung : ITB, 1999. H: 43
45.
5 Triyanta. Fisika Statistik. Bandung: ITB. 1999. H: 17 19.
6

Fw Sears and Salinger, Thermodynamics, Kinetic Theory and Statistical


Thermodynamics. Addison Wesley, 1986. H: 307 312.
BAB VI
STATISTIK MAXWELL-BOLTZMANN

A. PENDAHULUAN
62

Teori Peluang

Fisika Statistik Mirwan 2007

Pada topik ini akan dibahas tentang anggapan dasar statistik MaxwellBoltzmann, distribusi partikel dalam keadaan energi, konfigurasi dengan
peluang terbesar, dan ruang fasa. Bekal untuk memahami dan mempelajari
topik ini adalah semua pengetahuan dan pemahaman yang telah anda peroleh
dari memahami dan mempelajari bagian-bagian sebelum ini.
Adapun tujuan instruksional khusus dalam mempelajari topik ini adalah
diharapkan anda mempunyai kemampuan untuk menjelaskan prinsip-prinsip
dasar statistik Maxwell-Boltzmann dalam menentukan konfiguasi sistem
partikel.

B. PENYAJIAN
6.1. Anggapan Dasar Dalam statistik Maxwell-Boltzmann:

Partikel-partikel dalam sebuah sistem dianggap terbedakan.

Tidak ada batasan dalam banyaknya partikel yang dapat mengisi keadaan
energi yang sama.

Setiap keadaan energi dapat diisi beberapa partikel.

Diantara partikel terjadi gaya antar aksi hanya ketika bertumbukan


(berinteraksi lemah atau kuasi bebas).

6.2. Distribusi Partikel dalam Keadaan Energi.


Tinjau sistem 4 partikel terbedakan mempunyai dua tingkat energi yang
non degenerasi (masing-masing tingkat hanya mempunyai satu keadaan).
Keadaan makro yang mungkin adalah:
Keadaan makro ke
N2
N1

I
0
4

II
1
3

63

III
2
2

IV
3
1

V
4
0

Teori Peluang

Fisika Statistik Mirwan 2007

Bila sekarang ke 4 partikel tersebut diberi nama a, b, c, d. Tentukan berapa


banyak keadaan mikro pada tiap keadaan makro tersebut ?
Jawabnya adalah:
Untuk N1 = 4 dan N2 = 0
N2
N1
A b c d
Untuk N1 =3, dan N2 = 1
N2
d
c
N1
a b c
a b d
Untuk: N1 =2, dan N2 = 2

b
a c d

a
b c d

N2
Cd
bd
bc
ad
ac
ab
N1
Ab
ac
ad
bc
bd
cd
Untuk N1 =1, dan N2 =3
N2
bcd
acd
abd
abc
N1
a
b
c
d
Untuk N1 = 0, dan N2 = 4
N2
abcd
N1
Dari ke 5 kejadian tersebut, nampak banyaknya keadaan mikro untuk
keadaan makro adalah sebagai berikut:
Keadaan makro ke
Jumlah keadaan
mikro

I
1

II
4

III
6

IV
4

V
1

Bagaimana angka-angka dalam keadaan mikro tersebut diperoleh ?


Jika partikel-partikel terdistribusi sedemikian sehingga ada N j partikel tiap
tingkat energi, maka bobot konfigurasi diperoleh dari banyaknya cara untuk
menghasilkan konfigurasi N partikel dalam sistem tersebut.

Angka-angka

tersebut merupakan banyaknya cara memilih N partikel pada tingkat energi.


N = total partikel dan Nj = jumlah partikel pada tingkat energi j.
Banyaknya cara memilih N1 partikel pada tingkat pertama dari total N partikel
adalah:

64

Teori Peluang

Fisika Statistik Mirwan 2007

N!
N1! N N1 .!
Banyaknya cara =
... (6.1)
Begitu pula Banyaknya cara memilih N 2 partikel pada tingkat ke 2 dari total N
partikel adalah dipilih dari partikel sisa (N-N 1), sehingga

N N1 .!

N 2 ! N N1 N 2 .!
Banyaknya cara =
... (6.2)
Total banyak cara pemilihan partikel untuk tingkat pertama dan kedua adalah:

N!
N N1 .!
N1! N N1 .! N 2 ! N N1 N 2 .!
=

N!
N1! N 2 ! N N1 N 2 .!

N!
N1! N 2 !

=
=
Jika hanya ada tiga tingkat, dimana N 3 = N N1 N2 , maka total banyak
cara pemilihan konfigurasi dengan N1, N2, N3, adalah:

N!
N1! N 2 ! N 3!
Secara

Banyak cara =
umum untuk n

tingkat

energi,

banyaknya

cara

... (6.3)
pemilihan

konfigurasinya adalah:

N!
N1! N 2 ! N 3!.............N n !
Banyak cara =

... (6.4)

gj
Sekarang tinjau satu tingkat energi ke j dengan

= 2 dan Nj = 3 (partikel

terbedakan). Berapa banyak cara pengisian konfigurasi ?


Jawabnya:
Nj

gj
Banyak cara =
Abc
Ab

= 23 = 8. Ilustrasinya adalah sebagai berikut:

c
65

Teori Peluang

Fisika Statistik Mirwan 2007

Ac

Bc

bc

ac

ab

abc
Total cara penyusunan N partikel ke dalam n tingkat energi dengan distribusi:
N1 partikel di tingkat 1 dengan g1
N2 partikel di tingkat 2 dengan g2
N3 partikel di tingkat 3 dengan g3
...................................................
Nn partikel di tingkat n dengan gn
Adalah:

N!
g1N1 g 2N 2 g 3N 3 .........g Nj n
N 1! N 2 ! N 3 !......N n !

Total cara penyusunan N partikel kedalam n tingkat energi = peluang


termodinamik. Yaitu:
Nj

W N !
j

gj

N j!
... (6.5)
n

N Nj
j 1

dengan
W juga menyatakan banyaknya keadaan mikro dalam sebuah keadaan
makro.
6.3. Konfigurasi Dengan Peluang Terbesar.
66

Teori Peluang

Fisika Statistik Mirwan 2007

Keadaan makro yang mempunyai peluang terbesar adalah keadaan


makro yang mempunyai keadaan mikro terbanyak (W terbesar). Bila W
maksimum, maka ln W juga maksimum. Dari persamaan 6.5:
Nj

W N !
j

gj

N j!

Dengan menggunakan pendekatan Stirling diperoleh bahwa:


Ln(X!) = X ln X X
Atau ln N! = N ln N N

g Nj1

N 1!

Bila ada persamaan berbentuk

ln N 1 ln .g1 N 1 ln .N 1 N 1

, maka:

Bila persamaannya berbentuk::

g1N1 g 2N 2

N1! N 2 !
, maka uraiannya menjadi:

ln N 1 ln g1 N 1 ln N 1 N 1 N 2 ln g 2 N 2 ln N 2 N 2
dan seterusnya.
Padahal:
N
g1N g 2N ........g j
1

N 1! N 2 !........N j !

Nj

gj

N j!

Nj

W N !
j

gj

N j!

Untuk
ln W N ln N N j ln g j N j ln N j
j

... (6.6)
Bila ln W maksimum, maka

d lnW = 0. Ini berlaku untuk N tetap, sehingga

perbedaan keadaan makro hanya di tentukan oleh perbedaan N j saja. Dalam


hal ini ln W sebagai fungsi Nj saja. Bila digunakan fungsi lnW(N,Nj), maka:
67

Teori Peluang

Fisika Statistik Mirwan 2007

ln W
ln W
dN
dN j
N
N j

d (ln W )

Untuk N tetap, maka dN = 0, sehingga :

d (ln W )

ln W
dN j
N j

d (ln W ) ln g j dN j ln N j dN j 0
j

Bila dikumpulkan:
*lnW maksimum, maka d lnW = 0
*Sistem terisolasi, maka: N, U, V adalah tetap.

dN dN j 0
dU E j dN j 0
Dengan menggunakn pengali Lagrange
sebagai:
d ln W .dN .dU 0

ln W
dN j dN j E j dN j 0
N j

ln W

.E j dN j 0
N j

(ln g
ln g

ln g

ln N j ) .E j .dN j 0

ln N j .E j 0

ln N j .E j 0

ln g j ln N j ( .E j )
ln

gj
Nj

( .E j )

68

dan

, maka dapat dituliskan

Teori Peluang

Fisika Statistik Mirwan 2007

gj

Nj

( . E j )

N j g j .e

( . E j )

(distribusi Maxwell-Boltzmann)

... (6.7)

.E j

N j g je e

N
Deff.

e g j e

.E j

.E j

Z = fungsi partisi (dikenalkan oleh Boltzmann yang menyebutnya


sebagai Zustandsumme, artinya jumlahan terhadap keadaan.
Lambangnya Z diambil huruf depannya)
Jadi:

e .Z N

N
Z

Distribusi Maxwell-Boltzmann menjadi berbentuk:

N j g je
Nj

Pengali

. E j

e g j e

.N j

N
.E
g je j
Z

... (6.8)

Tinjau dua buah sistem terisolasi berikut:

N(1) w(1)
V(1)
(1)
U
S(1)

N(2)

W(2)
V(2)

(2)

Gambar 6.1: Dua sistem terisolasi

Sistem gabungannya adalah:


S = S(1) + S(2)
69

S(2)

Teori Peluang

Fisika Statistik Mirwan 2007

W = W(1) + W(2)
ln W = ln W(1) + ln W(2)
Deff. S = k ln W

... (6.9)

W N !
j

Nj

gj

N j!

Dengan mengingat :
ln W N ln N N j ln g j N j ln N j
j

dan

Nj

N
.E
g je j
Z

U EjN j
Diperoleh:

S k N ln N N j ln g j N j ln N j
j
j

N
.E
k N ln N N j ln g j N j ln
g je j
Z

.E
k N ln N N j ln g j N j ln N j ln g j N j ln e j
Z

.E
k N ln N N j ln N j ln e j
Z

k N ln N N j ln N N j ln Z N j . .E j
k N ln N N ln N N ln Z N j . .E j
k N ln Z N j E j

S k N ln Z U

... (6.10)

k
V

Dengan hukum termodinamika:


T dS = dU + P dV

70

Teori Peluang

Fisika Statistik Mirwan 2007

dU P
dV
T
T

dS
S

1
T
,

k
Sehingga


atau

1
T

1
kT

... (6.11)

Distribusi Maxwell-Boltzmann menjadi berbentuk:


Ej
kT

N
N j g je
Z

...

(6.12)

Z g je

dan

EJ
kT

... (6.13)

Entropinya menjadi:

S k N ln Z
kT

... (6.14)

Fungsi Helmholtz:
F = U TS

F U Tk N ln Z

kT

U TkN ln Z U
F NTk ln Z kT ln Z N
Dari termodinamika:
dF = -P dV S dT
F

S
V

dan

71

P
T

... (6.15)

Teori Peluang

Fisika Statistik Mirwan 2007

6.4. RUANG FASA.


Keadaan sistem pada setiap saat didefinisikan dengan spesifikasi posisi
dan momentum. Ruang posisi mempunyai komponen ( X, Y, Z).Ruang
momentum mempunyai komponen (px, py, pz). Keadaan sebuah partikel
ditentukan oleh 6 koordinat, yaitu : X, Y, Z, p x, py, pz, yang diberi nama ruang
fasa.
Tinjau sebuah partikel terletak pada posisi dengan komponen antara :
X dan X + dX
Y dan Y + dY
Z dan Z + dZ
Maka elemen volumenya adalah dV = dX dY dZ. Namun bila sebuah partikel
yang posisi dan momentumnya terletak antara :
X dan X + dX
Y dan Y + dY
Z dan Z + dZ
pX dan px + dpx
py dan py + dpy
pz dan pz + dpz
maka elemen volume tersebut adalah dalam ruang fasa, yaitu:

d dX .dY .dZ .dp x dp y dp z


(d)1 dX 1.dY1.dZ1.dp x1dp y1dp z1
Partikel ke 1:

(d ) 2 dX 2 .dY2 .dZ 2 .dp x 2 dp y 2 dp z 2


Partikel ke 2:
.......................................................................................

(d) n dX n .dYn .dZ n .dpxn dp yn dp zn


Partikel ke n:
Untuk sistem N partikel:
N

d6 N d j
j 1

... (6.16)
N

U E1 E 2 E 3 ........E N E j
j 1

Energi kinetik partikel ke j adalah:


72

Teori Peluang

Fisika Statistik Mirwan 2007

Ej

p xj2 p yj2 p zj2


2.m

... (6.17)

Keadaan partikel (X, Y, Z, px, py, pz) dinyatakan sebagai fungsi energi dengan
mengambil bahwa volume-volume (banyak volume yang sama ukurannya)
dalam ruang fasa berisi jumlah keadaan yang sama. Misal ada B keadaan

persatuan volume ruang fasa sedemikian sehingga elemen volume d dalam


ruang fasa berisi B d

keadaan. Atau dapat dituliskan bahwa degenerasi ke j

yaitu:

g j B.() j
Kita cari d

sebagai berikut:

d dx.dy.dz.dp x dp y dp z
dx.dy.dz dp x dp y dp z V p 2 dp. sin .d .d

V p 2 dp sin .d d

2 .V .2 p 2 dp
0

... (6.18)

d 2 .V .2 p dp
2

... (6.19)
Diketahui bahwa:

p2
2m

E p

p m

dp

m
dE
p

d 2 .V .2 p dp
2

2 .V .2.2.m.E

Sehingga:

73

m
dE
p

Teori Peluang

Fisika Statistik Mirwan 2007

2 2
m
dE 2 .V .2m 4m E dE
2mE
2mE

2 .V .2.2.m.E

3 / 2 1/ 2
2 .V 23 m3 E .dE 2 .V 2m E dE

2 .V 2m

3/ 2

1/ 2

dE

d 2 .V 2m

Atau

... (6.20)
3/ 2

1/ 2

E dE

g j B.() j

Jadi sekarang:

g j B.2 .V 2m

3/ 2

1/ 2
j

dE j

Fungsi partisinya adalah:

Z g je

Sehingga

Z g je

Nj gj
dan
Secara kontinu:

.E j

, dimana

Ej

kT

... (6.21)

N
e
Z

Ej

kT

... (6.22)

Z 2 .VB 2m
Z Be

1
kT

kT

3/ 2

Ej

1/ 2
j

E e

kT

dE j

d
... (6.23)

Rumus-rumus statistik Maxwell-Boltzmann:


E
N kT
dN Be
d
Z
d dX .dY .dZ .dp x dp y dp z

d 2 .V 2m

3/ 2

E 1 / 2 dE

74

Teori Peluang

Fisika Statistik Mirwan 2007

Z Be

kT

Ej
kT

N
N j g je
Z

dN v N . f (v).dv

dN E N . f ( E ).dE

g j B.() j
... (6.24)

TUGAS:
Kerjakan soal-soal berikut:
1) Distribusi Maxwell Boltzmann dapat dituliskan sebagai:
j
N
kT
N j g je
Z

, Tuliskan arti masing-masing lambang tersebut.

2) Dalam ruang fasa dengan koordinat X, Y, Z, VX, VY, VZ, dijumpai integral :
f ( X , Y , Z ,V X ,VY ,VZ )dX .dY .dZ .dV X .dVY .dVZ

. Dalam ruang yang bebas


dari medan luar terdapat gas yang partikelnya tidak berinteraksi, volume
dX .dY .dZ
gas adalah V; dimana V =
a

Tulislah energi partikel dinyatakan dalam

V X , VY , VZ

b Tulislah fungsi distribusi partikel ini, yaitu


nurut Maxwell-Boltzmann.
c Cari Fungsi partisinya.
d Cari persamaan keadaannya.
e Cari entropinya.

.
f ( X , Y , Z , V X ,VY , VZ )

me-

3) Ruang silinder (luasnya A dan tingginya L) berisi gas monoatomik yang


memenuhi statistik Maxwell-Boltzmann. Gas dalam kesetimbangan termal
pada temperatur T. Tiap partikel gas tersebut bermassa m yang berada
dalam medan gravitasi dengan percepatan gravitasi g yang dianggap tetap.
a. Tulislah energi yang dimiliki setiap partikel gas itu.
b. Tentukan energi rata-rata yang dimiliki setiap partikel gas tersebut
(nyatakan dalam L dan T).
c. Tentukan fungsi partisi sistem ini.
d. Tentukan kapasitas termal sistem pada volume tetap.
e. Turunkan ungkapan tekanan terhadap ketinggian.
75

Teori Peluang

Fisika Statistik Mirwan 2007

PUSTAKA:
1. Siti Nurul Khotimah, Fisika Statistik. Bandung : ITB, 1999. H: 46 53.
2. Fw Sears and Salinger, Thermodynamics, Kinetic Theory and Statistical
Thermodynamics. Addison Wesley, 1986. H: 320 327 dan 334 - 336.
3. Zemansky M.W, dan R.H Dittman. 1986.Kalor dan Termodinamika. Alih
Bahasa: The Houw Liong.Penerbit ITB Bandung. H: 342 347.

BAB VII
STATISTIK SEMI KLASIK
A. PENDAHULUAN
Pada bagian topik ini akan dibahas tentang paradoks Gibbs, peluang termodinamik
pada statistik semi klasik, entropi sebagai fungsi Z dan U, dan fungsi Helmholtz
statistik semi klasik. Untuk mempelajari dan memahami topik ini, anda telah memiliki
bekal pengetahuan dan pemahaman tentang potensial termodinamik yang telah anda
pelajari pada waktu mengikuti kuliah termodinamika terutama energi dalam, entropi,
dan fungsi Helmholtz. Disamping itu anda juga telah memiliki bekal pengetahuan
tentang statistik Maxwell-Boltzmann. Sehingga diharapkan tak ada hambatan atau
kesukaran dalam mempelajari statistik semi klasik pada topik ini.
Adapun yang menjadi tujuan instruksional khusus dalam mempelajari topik ini
adalah diharapkan anda mempunyai kemampuan untuk menjelaskan prinsip-prinsip
dasar statistik semi klasik dalam menentukan konfigurasi sistem partikel.

B. PENYAJIAN
7.1. Paradoks Gibbs.
Tinjau dua sistem gas yang mempunyai ukuran sama, yaitu E, V, N, T, S,
dan P. Kedua sistem gas tersebut dicampur, lihat sket berikut:

E, V, N, T, S, P

E, V, N, T, S, P

76

Teori Peluang

Fisika Statistik Mirwan 2007

2E, 2V, 2N, T, S, P

Entropi masimg-masing sistem gas adalah:

F
S

Nk. ln B.V 2 .mkT


V

3/ 2

32 Nk
(buktikan ).

Entropi setelah dicampur:

ST 2 Nk. ln B.2V 2 ..2mkT


Kenaikan entropinya:

3/ 2

32 .2 Nk

ST 2S 2 Nk ln B.2V 2 ..2mkT

3/ 2

2 Nk ln B.2V 2 .2mkT

2 Nk ln 2 ln 2 3 / 2

2 Nk ln BV (2mkT)

3/ 2

3/ 2

ln BV 2 .mkT

3/ 2

2 Nk ln( 2 x 2 3 / 2 )
2 Nk ln 4 x 2 3
2 Nk 32
2 Nk ln 4 2

ST 2 S 2 Nk ln 4 2

... (7.1)

Kenaikan entropinya:

S 2Nk ln 4 2

... (7.2)

Diperkirakan: karena di kedua sistem gas mempunyai ukuran yang sama,


maka bila kedua sistem gas tersebut dicampur tidak akan mempengaruhi

entropi. Atau

ST 2S 0

Namun hasil perhitungan di atas adalah tidak nol , yaitu :


77

Teori Peluang

Fisika Statistik Mirwan 2007

ST 2 S 2 Nk ln 4 2
Hal yang kontradiktif inilah dikenal sebagai paradoks Gibbs.

7.2. Peluang Termodinamik Pada Statistik Semi Klasik.


Statistik semi klasik diperoleh dengan mendrop N! Pada ungkapan peluang
termodinamik untuk statistik klasik. Bandingkan:

W N !
j

Wsk
j

Nj

gj

N j!
(klasik)

... (7.3)

(semi klasik)

... (7.4)

Nj

gj

N j!

Ungkapan untuk entropinya adalah:

S sk k ln Wsk

Nj

g
j
k ln
j N j!

ln g j N j ln N j N j

k N j ln g j N j ln N j N j
j

gj
S sk k N j ln
Nj
Nj
j

... (7.5)

Bagaimana Nj dan Z untuk statistik semi klasik?


Analog dengan statistik klasik (MB), dimana N, V, U adalah tetap, sehingga: Q
= 0, dan W (kerja) = 0

d ln Wsk 0

dN dN j 0

dU E j dN j 0
Dengan menggunakan pengali Lagrnge

78

dan

Teori Peluang

Fisika Statistik Mirwan 2007

d ln W .dN .dU 0
d ln W
dN dN j dN j E j dN j 0
j

ln W
dN j dN j E j dN j 0
N j

ln Wsk
dN j dN j E j dN j 0
N j

Dari:

W
j

Nj

gj

N j!

(semi klasik)
ln Wsk N j ln g j N j ln N j N j
j

ln Wsk
ln g j ln N j 1
N j
j
j

sehingga :

ln g ln N
j

1 dN j dN j E j dN j 0
j
j

79

Teori Peluang

Fisika Statistik Mirwan 2007

ln g

ln N j 1 .E j dN j 0

ln g j ln N j 1 .E j 0
ln g j ln N j 1 .E j
gj
Nj

1 . E j

N j g je

1 .E j

N j g j e.e e

.E j

e.e g j e

.E j

e1 Z

N e1 Z
e1
Nj

N
Z

N
1
.E
g j e j , dan.

Z
kT
Ej

N
N j g je
Z

Z g je

kT

... (7.6)

Ej

kT

... (7.7)

7.3. Entropi Sebagai Fungsi Z dan U:


Z g je
j

Ej

kT

danU N j E j
j

Diketahui:

Entropinya:

g
S sk k N j ln j N j

Nj
j

80

Teori Peluang

Fisika Statistik Mirwan 2007

Selanjutnya kita urai menjadi:

Z Ej
k N j ln
e kT
N
j

S sk

N j

N j

j
Z
S sk k N j ln ln e kT

N
j

Ej

Z
k N j ln N j
N j
N
kT
j

Ej
Z
k N j ln k N j
k N j
N
kT
j
j
j
kN ln

Z kU

kN
N kT

S sk Nk ln

Z U
Nk
N T

... (7.8)

S k

Pada statistik klasik:

U
N ln Z

kT

... (7.9)

7.4. Fungsi Helmholtz Statistik Semi klasik.


S sk Nk ln
Dari persamaan 7.8 :

Z U
Nk
N T

dan diketahui bahwa fungsi Helmholtz adalah: F = U T S


Maka dengan memasukkan

harga S sk akan diperoleh bentuk persamaan

sebagai berikut:

Z U

F U T Nk ln Nk
N T

U TNk ln
TNk ln

Z
U NkT
N

Z
NkT
N

Z
Tk ln

NkT

81

Teori Peluang

Fisika Statistik Mirwan 2007

Tk ln Z N Tk ln N N NkT
Tk ln Z N Tk (ln N N N )
Tk ln Z N Tk ( N ln N N )
Tk ln Z N Tk ln N !
Tk (ln Z N ln N !)

F Tk ln

ZN
N!

... (7.10)

Untuk sistem yang partikel-partikelnya tidak saling berinteraksi dan bebas

dari medan luar, yaitu:

F Tk ln

ZN
N!

Z B.V 2 .mkT

3/ 2

, maka dengan:

P
T

dan
, diperoleh:
3/ 2
kTN ln N NkT
F TkN ln Z kTN ln N NkT TkN ln BV 2 .mkT

TkN ln V ln B 2 .mkT

3/ 2

kTN ln N NkT

kTN ln V kTN ln B 2 .mkT

3/ 2

kTN ln N NkT

F kTN ln V kTN ln B 2 .mkT

3/ 2

kTN ln N NkT

... (7.11)

NkT
V

NkT
V

sehingga : PV NkT
... (7.12)

TUGAS:
Kerjakan soal-soal berikut:
1 Lengkapi kolom ke dua pada tabel berikut dengan cara mengisikan
parameter-parameter yang diperlukan.
Statistik klasik
Statistik semi klasik
Nj

W N !
j

gj

W = ........................

N j!

82

Teori Peluang

Fisika Statistik Mirwan 2007

Ej

Z g j exp .
j
kT

Z = ..........................

E
N
g j exp . j
Z
kT

Nj

Nj
= ...................................

S k

U
N ln Z
kT

S = ...........................

F NkT ln Z

F = ..........................

2) Gas ideal berada dalam sistem seperti ditunjukkan pada gambar, dan
mengikuti statistik semiklasik.
Gas A
VA, NA,T,UA

gas B
VB,NB,T,UB

Bila kedua sistem gas tersebut dicampur, bagaimana ungkapan kenaikan


entropinya.

PUSTAKA:
Siti Nurul Khotimah, Fisika Statistik. Bandung : ITB, 1999. H: 54 57.

BAB VIII
STATISTIK BOSE-EINSTEIN
A. PENDAHULUAN
Pada bahasan topik ini akan dipelajari beberapa teori tentang anggapan dasar
statistik Bose-Einstein, distribusi partikel ke dalam keadaan-keadaan energi,
konfigurasi dengan peluang terbesar, dan radiasi benda hitam. Untuk dapat lebih
mudahnya mempelajari topik ini, anda diharapkan telah mempunyai bekal pengetahuan
dan pemahaman teori tentang statistik klasik, statistik semi klasik , dan statistik
Maxwell-Boltzmann yang telah dibahas pada bagian 5, 6, dan 7. Disamping itu masih
juga diperlukan bekal pemahaman tentang teori peluang. Diingatkan pula bahwa dasar
matematika terutama defferensial dan integral juga diperlukan dalam membahas dan
mempelajari topik ini.
83

Teori Peluang

Fisika Statistik Mirwan 2007

Adapun yang menjadi tujuan instruksional khusus dalam mempelajari topik ini
adalah diharapkan anda mempunyai kemampuan untuk menjelaskan prinsip-prinsip
dasar statistik Bose-Einstein dalam menentukan konfigurasi sistem partikel.

B. PENYAJIAN
8.1. Anggapan Dasar Statistik Bose-Einstein.

Partikel-partikel adalah identik tak terbedakan


4

Partikel-partikel dengan spin bulat (boson), seperti foton, fonon, dan

Tidak memenuhi larangan Pauli

Dalam satu keadaan energi, boleh di isi lebih dari satu partikel.

He

8.2. Distribusi Partikel ke dalam Keadaan-keadaan Energi .


Distribusi energi dengan peluang terbesar dari sebuah sistem boson yang
identik tidak saling berinteraksi, bisa diperoleh dengan cara sebagai berikut
berikut:

gj
Tinjau tingkat energi ke j dengan

Nj
= 3 dan

N10

xxx

N9

xx

N8

xx

N7

xx

N6

N5

= 3 berikut:

x
x

x
xx

N4

xxx

N3

xx
84

Teori Peluang

Fisika Statistik Mirwan 2007

N2

xx

N1

xxx

(Catatan: larangan Pauli adalah dalam satu keadaan energi hanya boleh
ditempati oleh satu partikel atau kosong).
Nampak bahwa banyaknya kombinasi keadaan adalah = 10.
Secara matematis banyaknya kombinasi tersebut adalah:

g j 1.!

N j ! g j 1.!

3 3 1.!
3! 3 1.!

5! 120

10
3!2! 12

Jadi nampak bahwa total cara penyusunan N partikel ke dalam n tingkat energi
dengan distribusi sebagai berikut:
N1 partikel di tingkat 1 dengan degenerasi g1
N2 partikel di tingkat 2 dengan degenerasi g2
.......................................................................

Nj

gj
partikel di tingkat j dengan degenerasi

Adalah:

W
j

( N j g j 1)!
N j !( g j 1)!
... (8.1)

W = peluang termodinamik
= banyaknya keadaan mikro dalam sebuah keadaan makro yang
diberikan.

8.3.Konfigurasi dengan Peluang Terbesar.


Keadaan makro yang mempunyai peluang terbesar adalah keadaan
makro yang mempunyai keadaan mikro terbanyak. Jadi akan dicari keadaan
yang nilai peluang termodinamiknya terbesar. Ini terjadi bila sistem terisolasi
sehingga U, V, N adalah tetap. Batas-batasnya adalah:

85

Teori Peluang

Fisika Statistik Mirwan 2007

N tetap atau

tetap
sehingga dN =0 dan

dN

E dN
j

N j tetap

U tetap atau
sehingga dU=0 dan
Dari persamaan 8.1 bahwa:

( N j g j 1)!
N j !( g j 1)!

Dengan menggunakan pendekatan Stirling: lnX! = X lnX X, maka uraian


pada persamaan 8.1 akan menjadi berbentuk:

ln W ln( N j g j 1)! ln N j !( g j 1)!

ln( N j g j 1)! ln N j ! ln( g j 1)!


( N j g j 1) ln( N j g j 1) ( N j g j 1)

N j ln N j N j ( g j 1) ln( g j 1) ( g j 1)

Untuk lnW maksimum, maka d lnW =0. Pada kasus ini tetap dan keadaan
makro hanya di tentukan oleh Nj sehingga:
d ln W

ln W
dN j

N j

1. ln N

g j 1 1 1 1. ln N j 1 1dN j

N j g j 1
dN j
ln N j g j 1 ln N j dN j ln

Nj

Diketahui bahwa pada kasus ini d (lnW) = 0, sehingga:

N j g j 1
dN j 0

Nj

ln

Dengan menggunakan pengali Lagrange

86

dan

diperoleh:

Teori Peluang

Fisika Statistik Mirwan 2007

d ln W .dN dU 0
ln W
dN j dN j E j dN j 0
N j

ln W

.
E
N
j dN j 0

.E j dN j 0

N j g j 1

ln

Nj

N j g j 1

ln

.E j 0

Nj

N j g j 1

ln

.E j

Nj

Nj gj 1
Nj

N je

.E j

Nj e

.E j

Nj

.E j

Nj gj 1

1 gj 1

gj 1

.E j

Untuk Nj >> 1, dan gj >> 1, maka:

Nj

gj

.E j

... (8.2)

Persamaan 8.2 disebut distribusi partikel ke berbagai tingkat energi untuk


konfigurasi dengan peluang terbesar, yang dikenal sebagai distribusi BoseEinstein.
Bila gj >> Nj >> 1, maka:

Nj

gj

.E j

Nj
menuju ke

j
.E j

dan gj >> Nj >> 1, disebut limit klasik.


1

kT
Pada kasus ini
, sehingga distribusi Bose-Einstein menjadi:

Nj

gj

.E j

1
87

Teori Peluang

Fisika Statistik Mirwan 2007

Nj

e e

j
.E j

gj

Ej

e e

kT

gj
E

1 kTj
e 1
A

gj
E

1 kTj
e 1
A

(Bose-Einstein)

... (8.3)

Bandingkan dengan yang klasik berikut:

gj

Nj

Ej

1 kT
e
A

1
A

e
dimana
4

(Klasik)

dengan A adalah sebuah parameter.

He

Tinjau kasus
4

He

Molekul-molekul gas
4

gas

mempunyai spin bulat, sehingga molekul-molekul

He
merupakan boson dan memenuhi statistik Bose-Einstein. Distribusi

mlekul gas ke dalam tingkat-tingkat energi mengikuti persamaan berikut:

Nj

gj
E

1 kTj
e 1
A

Yang dapat dituliskan sebagai:

N(E)

g(E)
E

1 kT
e 1
A

Dengan mengikuti ketidak pastian Heisenberg dalam ruang fasa, setiap


keadaan energi memerlukan volume sebesar h 3. Logikanya adalah sebagai
berikut: kita tahu dari fisika modern bahwa ketidak pastian Heisenberg adalah:

X .Px h
88

Teori Peluang

Fisika Statistik Mirwan 2007

X .Px h
Kita pilih

Sehingga:

X .PX .Y .PY Z .PZ h 3

Banyaknya keadaan energi dalam daerah energi E dan E + dE adalah:

g ( E )dE

d
h3

dim ana
d 2V 2m

3/ 2

E 1 / 2 dE

sehingga :
2V 2m E 1 / 2 dE
h3
3/ 2

g ( E )dE

... (8.4)

Banyaknya molekul yang mempunyai energi pada daerah energi E dan E +


dE adalah:
N ( E ) dE

g ( E ) dE
E
1 kT
e 1
A

2 .V 2m E 1 / 2 dE
1 E

h 3 e kT 1
A

3/ 2

N ( E ) dE

...
(8.5)
Angka 1 dapat diabaikan untuk harga A yang sangat kecil (gas), sehingga
distribusi akan mendekati ke distribusi Maxwell-Boltzmann. Harga A dapat
dicari sebagai berikut:

N ( E )dE

2 .V 2m

3/ 2

E1/ 2

1 kT
h
e
A

dE

2 .V 2m

1
h3
A

3/ 2

1/ 2

E e

gunakan : x n e ax dx
0

sehingga diperoleh:

89

kT

dE

n 1
a n1

Teori Peluang

Fisika Statistik Mirwan 2007

N ( E )dE

2 .V 2m
1
h3
A

3/ 2

A .V 2mkT
h3
Nh3
A
3/ 2
V 2mkT

3/ 2

1
kT 3 / 2
2

Nh 3
A
3/ 2
V 2mkT

... (8.6)

8.4. Radiasi Benda Hitam.


Radiasi elektromagnetik yang berada dalam rongga hampa
bertemperatur konstan dapat dipandang sebagai sebuah sistem foton dengan
energi foton yang bervariasi. Foton mempunyai spin bulat sehingga
berkelakuan sebagai boson dan dianggap gas foton mempunyai distribusi
energi yang diberikan oleh statistik Bose-Einstein.
Dua hal penting yang perlu diketahui:
Pertama:
Foton diserap dan dipancarkan kembali oleh dinding rongga, sehingga foton
dalam rongga tidaklah konstan.

Atau

dan

Dalam hal ini

dN

. Atau

0
tidak diterapkan pada distribusi.

A e 1

Kedua:
Energi sebuah foton adalah

.Sehingga lebih mudah distribusi energi foton

dinyatakan dalam variabel frekuensi atau panjang gelombang foton. Dalam

90

Teori Peluang

Fisika Statistik Mirwan 2007

hal ini banyaknya modus gelombang dalam daerah panjang gelombang

dan

+d

persatuan volume adalah:

4
d
4

Dalam gas foton ada dua arah polarisasi gelombang elektromagnetik


yang endependen. Pada arah polarisasi tegak lurus terhadap arah penjalaran
gelombang, setiap foton dapat mempunyai satu dari dua arah yang ada,
sehingga banyaknya modus gelombang menjadi dua kalinya.
Diketahui bahwa:

g ( E )dE

d
h3

dX .dY .dZ .dp dp dp

V p 2 sin .d .d .dp

Vp 2 dp sin .d d

0
0

h3
h3

Vp 2 dp cos 0 2 Vp 2 dp.2. 2 4 .Vp 2 dp

h3
h3
h3

h
h
4V 2

g ( ) d
h3

d .

4Vd.
4

g ( )d 4 .d .

V
4

... (8.7)

Disebut fraksi gelombang persatuan volume.


Banyaknya fraksi gelombang gas foton = 2 kalinya, yaitu :

g ( ) d 8 .d.

V
4

... (8.8)

Tanda minus di atas diabaikan, karena tidak mungkin jumlah keadaan itu
minus.

91

Teori Peluang

Fisika Statistik Mirwan 2007

Banyaknya foton dalam daerah panjang gelombang

dan

persatuan volume pada temperatur T adalah:

N ( ) d g ( ) d / V

hc
V
e kT 1

... (8.9)

ini adalah analog dengan:

N ( E )dE

Dimana A = 1, dan

g ( E )dE
E

1 kT
e 1
A

, sehingga banyaknya foton (gelombang)

persatuan volume:

8 .d.
4
N ( )d
hc
V
e kT 1
N ( ) d

8 .V .d
hckT

4
e 1

... (8.10)
Kerapatan energi spektral dari gas foton didefinisikan sebagai energi radiasi
persatuan volume.

N ( ) d
E rad . ( ) d
.E foton
V

Erad. ( )d

8 .d

4 e

hc
kT

hc

8 .hc.d
hckT

5
e 1

(Persamaan ini disebut persamaan radiasi Planck).


Untuk radiasi Planck pada

besar:

92

... (8.11)

Teori Peluang

Fisika Statistik Mirwan 2007

hc
kT

hc
kT

Sehingga persamaan radiasi Planck menjadi berbentuK:

Erad. ( )d

8 .hc.d
8 .hc.d

hc
hc

5
5 1
1
kT
kT

Erad. ( )d

8 .hc.d
hc
5
kT

... (8.12)

Persamaan radiasi menurut Ray Leigh-Jeans:

Erad. ( )d

Pada

kecil:

hc
kT

hc
kT

8 .kT.d
4

...(8.13)

, sehingga

1 e

E rad. ( )d

hc
kT

8 .hc.d

e
5

hc
. kT

8 .hc hc
E rad. ( )d 5 e .kT .d

... (8.14)

(Persamaan radasi menurut Wien)


Jika sebuah lubang kecil dibuat pada dinding ruang dengan temperatur
konstan, maka sebagian energi akan terpancar keluar. Dari teori kinetik telah
diketahui bahwa fluks partikel yang mengenai satuan luas adalah:

1N
v
4V

93

Teori Peluang

Fisika Statistik Mirwan 2007

Untuk foton, sebagai gelombang, maka fluks disini berupa pancaran

foton, sehingga banyaknya foton persatuan volume =

N ( )d
V

, dan

untuk

foton adalah = C (kecepatan cahaya).


N
V

untuk foton adalah

fluks N rad ( )d

N ( ) d
V
N ( ) d C
.
V
4

Intensitas pancaran foton dalam daerah panjang gelombang antara

... (8.15)

... (8.16)

dan

adalah:

Erad ( )d fluks.x.E foton


E rad ( )d N rad ( ) d
c

hc c N ( )d hc

4 V

8d
hc
4 e kT

hc
2 .hc 2 d


hc

1
5 e kT 1

2 .hc 2 d
E rad ( )d
hckT

5
e 1

... (8.17)

Energi total yang teradiasi persatuan luas lubang persatuan waktu adalah:

E rad E rad ( )d
0

2 .hc 2

hc

kT

e 1

94

Teori Peluang

Fisika Statistik Mirwan 2007

E rad 2 .hc 2

5 d

hc

e kT 1

... (8.18)

Untuk penyelesaian kasus ini gunakan:


hc
hc
X
dan
.kT
XkT
Dalam hal ini:

sehingga :

d
hc
2
dX
X kT

d
dan

Erad 2 .hc 2
Jadi:

Erad 2 .hc 2

2 .hc 2

hc
dX
X 2 kT

hc
kT

hc
dX
X 2 kT
5
hc
X

e 1
XkT

hc 1
kT hc

kT

2 .hc 2 hc kT

5
kT hc

E rad

dX
15
e 1
X

2 .h 2 c 3 kT

5
kT hc

1
dX
X2
5

X 5 dX
X 2 e X 1

X 3 dX
e X 1

2 .k 4T 4 4
2 5 .k 4T 4

.T 4
3 2
3 2
hc
15
15h c
E rad .T 4
... (8.19)

95

Teori Peluang

Fisika Statistik Mirwan 2007

2 5 k 4
15h 3 c 2

...

(8.20)
Tanda negatip berarti melepas energi atau meradiasi, dan bila + berarti
mengabsorbsi energi.

E rad .T 4
Jadi:

Disebut hukum radiasi Stefan.

TUGAS:
Kerjakan soal-soal berikut:
1 Apa yang menjadi dasar distribusi partikel menurut statistik Bose-Einstein ?
2 Jelaskan beda antara statistik klasik, statistik semi klasik, dan statistik
bose-Einstein.
3 Statistik Bose-Einstein dituliskan sebagai:
gj
Nj
Ej
1
B exp .
kT
a) untuk foton dalam kotak, berapakah nilai B ? mengapa demikian ?

b) Untuk gas 4He pada temperatur


300 K, tentukan nilai B dinyatakan
dalam m, N, V, T dan konstanta lain yang bersesuaian.
Catatan: pada T
sekali.

300 K, nilai B untuk gas tersebut akan didapat besar

PUSTAKA:
1. Siti Nurul Khotimah, Fisika Statistik. Bandung : ITB, 1999. H: 58 66.
2. Triyanta. Fisika Statistik. Bandung: ITB. 1999. H: 63 64.
3. Fw Sears and Salinger, Thermodynamics, Kinetic Theory and Statistical
Thermodynamics. Addison Wesley, 1986. H: 317 320 dan 331 333.

BAB IX
STATISTIK FERMI-DIRAC
96

Teori Peluang

Fisika Statistik Mirwan 2007

A. PENDAHULUAN
Pada bahasan bagian topik ini akan dipelajari teori-teori tentang anggapan dasar
statistik Fermi-Dirac, distribusi partikel ke dalam keadaan-keadaan energi, konfigurasi
dengan peluang terbesar, gas Fermi-Dirac, dan gas elektron. Sebagai bekal awal yang
harus anda miliki dalam mempelajari topik ini adalah pengetahuan dan pemahaman
tentang teori-teori statistik klasik, statistik semi klasik, statistik Maxwell-Boltzmann,
dan statistik Bose-Einstein, yang telah anda pelajari dan anda pahami pada bagian
sebelumnya.
Adapun tujuan instruksional khusus yang ingin dicapai setelah mempelajari bagian
topik ini adalah diharapkan anda mempunyai kemampuan untuk menjelaskan prinsipprinsip dasar statistik Fermi-Dirac dalam menentukan konfigurasi sistem partikel.

B. PENYAJIAN
9.1. Anggapan Dasar Statistik Fermi-Dirac.

Partikel-partikel identik tak terbedakan.

Diperuntukkan partikel-partikel dengan spin tak bulat, seperti: netron,


proton, elektron, 3He yang dikenal sebagai fermion.

Memenuhi larangan Pauli. (larangan Pauli = Dalam satu keadaan energi,


hanya boleh diisi oleh satu partikel atau kosong).

Gas 3He pada 200 K

mengikuti ststistik M-B

Gas 3He pada 2 K

mengikuti ststistik F-D

Gas 4He pada 300 K

mengikuti ststistik M-B

Gas 4He pada 2K

mengikuti ststistik B-E

Gas elektron

mengikuti statistik F-D

Gas foton

mengikuti statistik B-E

9.2. Distribusi Partikel ke dalam Keadaan-keadaan Energi.

97

Teori Peluang

Fisika Statistik Mirwan 2007

Tinjau sistem terisolasi dengan N Fermion yang tidak saling berinteraksi


pada tingkat energi ke j dengan g j = 5 diisi oleh Nj =3 partikel. Jumlah cara
penyusunan dituliskan sebagai berikut:
g j!
N j !( g j N j )!

5!
5.4.3.2.1 120

10
3!(5 3)!
3.2.1(2.1) 12

Adapun gambaran penyusunannya diperlihatkan pada skema berikut:


N10

N9

N8

X
X
X

N7

N6

N5
N4

X
X

N3

N2
N1

X
X

X
X
X

X
X

Ada 10 keadaan mikro pada tingkat energi ke j.


Peluang termodinamiknya:
W
j

g j!
N j ! ( g j N j )!

... (9.1)
Peluang termodinamik = banyaknya keadaan mikro dalam sebuah Keadaan
makro.

9.3. Konfigurasi dengan Peluang Terbesar.


Keadaan makro terbesar (keadaan yang mempunyai peluang terbesar)
adalah keadaan makro yang mempunyai keadaan mikro terbanyak. Jadi akan
dicari nilai peluang termodinamik (W) yang terbesar.
98

Teori Peluang

Fisika Statistik Mirwan 2007

Bila W maksimum, maka ln W juga maksimum. Batasan yang diberikan


adalah untuk sistem terisolasi dengan N dan U tetap. Sehingga perbedaan
keadaan-keadaan makro hanya ditentukan oleh perbedaan N j saja atau:
d ln W

ln W
dN j
N j

,
dari persamaan 9.1:

W
j

g j!
N j !( g j N j )!
, maka:

ln W ln g j ! ln N j ! ln( g j N j )!

g j ln g j g j N j ln N j N j ( g j N j ) ln( g j N j ) ( g j N j )

g j ln g j N j ln N j ( g j N j ) ln( g j N j )

g j ln g j N j ln N j g j ln( g j N j ) N j ln( g j N j )

Selanjutnya kita cari d lnW sebagai berikut:


d ln W

ln W
dN j
N j
,

d ln W

1
1
1
0 N j
ln N j 0 g j
Nj
ln( g j N j ) dN j
Nj
(g j N j )
(g j N j )

gj
Nj
1 ln N j

ln( g j N j ) dN j
(g j N j ) (g j N j )

gj Nj
1 ln N j
ln( g j N j ) dN j
(g j N j )

ln( g

1 ln N j 1 ln( g j N j ) dN j
j

N j ) ln N j dN j

(g j N j )
ln
dN j
Nj

Gunakan pengali Lagrange

dan

sebagai berikut:
99

Teori Peluang

Fisika Statistik Mirwan 2007

d ln W .dN .dU 0
ln W
N dN j dN j E j dN j 0
j

ln W

.
E
N
j dN j 0

j
ln W
.E j 0
N j
ln
ln

g
g

Nj

Nj

Nj

Nj

Nj
Nj

gj
Nj
gj
Nj

1 e

.E j 0
.E j

.E j

.E j

.E j

1
... (9.2)

Nj

gj

.E j

... (9.3)

Persamaan tersebut dikenal sebagai distribusi partikel Fermi-Dirac.


Bila gj >> Nj >>1 , maka:

Nj

gj
e

( . E j )

dalam hal ini

1
EF
kT

Nj
menuju ke


dan

gj
e

( . E j )

1
kT

EF = energi Fermi, sehingga:

Nj

gj
e

( . E j )

gj
e e

.E j

100

gj

EF
kT

Ej
kT

Teori Peluang

Fisika Statistik Mirwan 2007

gj

Nj

E j EF

kT

... (9.4)

Jika banyaknya keadaan energi antara E dan E + dE adalah g(E) dE, maka
banyaknya partikel dalam daerah energi ini adalah:

g ( E )dE

N ( E )dE

( E EF )
kT

dengan

( E EF )
kT

f (E)
1

Jadi diperoleh:

f (E)
e

( E EF )
kT

= Fungsi Fermi.

...

= Fungsi Bose-Einstein

...

(9.5)
1

f (E)
e

( E )
kT

(9.6)

f (E)
e

( E )
kT

= Fungsi Maxwell-Boltzmann

kT

... (9.7)

.kT E F

dan
Kembali untuk fungsi Fermi, yaitu peluang suatu keadaan dengan energi E
akan diisi oleh sebuah fermion, dan keadaan dengan enegi E F mempunyai
peluang setengah.
Tinjau kasus sistem fermion pada T= 0 K dan energi Fermi E F(0), maka
nilai fungsi fermi untuk E < EF(0) adalah:

f (E)

1
1
e 1

... (9.8)

Untuk E > EF(0), maka:

f (E)

1
0
e 1

... (9.9)
101

Teori Peluang

Fisika Statistik Mirwan 2007

Bila digambarkan adalah sebagai berikut:

f(E)
T=0K
1

T>0

E F(0)

EF

Gambar 9.1: Grafik fungsi Fermi

Nampak bahwa pada T tidak sama dengan nol dan E = E F, maka f(E) = .

9.4. Gas Fermi-Dirac (Fermion).


Tinjau gas fermion pada T = 0K. Bagaimana EF(0)= ?
N Nj
j

Diketahui bahwa:

N N ( E )dE
0

E F ( 0)

f ( E ) g ( E )dE

EF ( 0 )

f ( E ) g ( E )dE

f(E)
T=0K
1

E F(0)

Gambar 9.2: Grafik fungsi Fermi pada T = 0 K

Untuk T = 0K, maka f(E) = 1


sehingga:

102

Teori Peluang

Fisika Statistik Mirwan 2007

E F ( 0)

g ( E )dE
0

g ( E )dE 2
Dalam hal ini:

... (9.10)

d
h3

... (9.11)

Angka 2 muncul karena fermion mempunyai spin setengah bulat yang


menyebabkan ada lebih dari satu keadaan peringkat energi. Biasanya ditinjau
dari kasus dimana bilangan kuantum magnetik spin fermion mempunyai dua
kemungkinan nilai, yaitu +1/2 dan .1/2, Sehingga ada dua keadaan peringkat
energi.
Diketahui bahwa:

g ( E )dE 2

g(E) 2

d
h3

dX .dY .dZ .dp dp dp

g ( E )dE 2

V . p 2 dp

sin .d .d

h3

V . p 2 dp( cos )0 (2 )
h3

Vp 2 .2(2 )
dp
h3

4 .Vp 2
g ( E )dE 2
dp
h3
Diketahui bahwa:

103

... (9.12)

Teori Peluang

Fisika Statistik Mirwan 2007

p2
2m
2
p 2mE

dE p

dp m
m
dp dE
p
4 .V .2mE.
g ( E ) dE 2

m
dE
p

h3

Sehingga:

4m 4 E 2
4 .V .2mE.
dE
4 .V .
.dE
2mE
2mE
2
2
h3
h3
4 .V . 2m 3 E .
23 m 3
2
dE 4 .V
h3
h6
2m
4 .V 2
h

3/ 2

2m
g ( E ) 4 .V 2
h

3/ 2

E .dE

E 1 / 2 dE

E 1/ 2
... (9.13)

Dari persamaan 9.10:

EF (0)

EF ( 0 )

g ( E )dE 0

2m
4 .V 2
h

3/ 2

2m
N 4 .V 2
h

EF ( 0 )

3/ 2

2m
4 .V 2
h

3/ 2

E 1 / 2 dE

E 1 / 2 dE

2
E F (0) 3 / 2
3
... (9.14)

Diperoleh juga:

E F (0)

3/ 2

3N

8 .V

h2

2
m

3/ 2

2
3N h

E F (0)

8 .V 2m
3

dan

104

Teori Peluang

Fisika Statistik Mirwan 2007

3N
E F ( 0)

8 .V

2/3

h2

2
m

... (9.15)
Perlu dibedakan antara energi termal = kT dan energi Fermi kT F=EF(0) seperti
terlihat pada tabel 9.1 berikut:
Tabel 9.1: energi Fermi dan temperatur Fermi:
Gas
EF(0) (ev)
Helium (atom-atom 32He)
0,94x10-3
Gas elektron dalam Lithium
4,7
Gas elektron dalam potasium
2,1

Untuk partikel yang energinya :


klasik, yaitu:
1
f (E ) ( E E )

E EF
1
kT

TF(K)
10
54.000
24.000

, maka fungsi Fermi menuju ke

kT

... (9.16)
Atau distribusi partikel-partikel gas pada temperatur ruang akan menuju ke
klasik (M-B).

9.5. Gas Elektron.


Karena tingginya nilai temperatur Fermi untuk gas elektron dalam logam,
maka kenaikan temperatur dari 0 ke suatu nilai dekat temperatur ruang
diperkirakan hanya mempengaruhi elektron-elektron yang energinya dekat
dengan energi Fermi. Adapun grafik hubungan f(E) dan E adalah sebagai
berikut:
F(E)
F(E)= 0,73
F(E)= 0,5
F(E)= 0,27
EF
0

(EF-kT)

(EF+kT)

Gambar 9.3: Grafik fungsi Fermi untuk elektron

f (E)
Untuk E = (EF-kT)
105

1
0,73
e 1
1

Teori Peluang

Fisika Statistik Mirwan 2007

f (E)
Untuk E=EF

1
0,5
e 1
0

1
0,27
e 1

f (E)

Utuk E(EF+kT)
Distribusi elektron ke keadaan-keadaan energinya ditentukan oleh
persamaan:

N ( E ) dE f ( E ) g ( E )dE
dengan

3/ 2

2m
g ( E ) 2V 2
h

E1/ 2

Nilai rata-rata energi pada T = 0 ditentukan oleh persamaan:

E E

E.N ( E )dE

EF ( 0)

N ( E ) dE

E.g ( E )dE

EF ( 0)

g ( E )dE

EF ( 0)

0
EF ( 0 )
0

3
E F (0)
5

E 3 / 2 dE
E 1 / 2 dE

3
E F (0)
5

... (9.17)

Harga energi Ferminya diperoleh:

2 T


E F E F (0) 1
12 TF

... (9.18)

Energi rata-rata elektron pada temperatur T adalah:

1
N

E.N ( E )dE

3 T

E E F (0)
5 TF

1
N

E. f ( E ). g ( E )dE

...

(9.19)

TUGAS:
Kerjakan soal-soal berikut:
1 Distribusi Fermi-Dirac dapat dituliskan sebagai berikut:
Nj

gj
E j EF
exp .
kT

106

Teori Peluang

a
b

Fisika Statistik Mirwan 2007

Pada temperatur absolut nol Kelvin, turunkan ungkapan nilai energi


Fermi dinyatakan dalam besaran N, V dan konstanta lain yang
bersesuaian.
Pada temperatur absolut nol Kelvin, hitunglah energi rata-rata partikel
bila energi Fermi 3He ini adalah 0,94 x 10-3 eV.

2) Elektron dalam logam perak mengikuti statistik Fermi-Dirac.


Diketahui bah- wa satu mol atom perak bermassa 107,9 gram.
a Hitung EF(0) untuk elektron dalam perak.
b) Tentukan laju maksimum elektron dalam logam perak pada
temperatur absolut nol Kelvin.
PUSTAKA:
7 Siti Nurul Khotimah, Fisika Statistik. Bandung : ITB, 1999. H: 67
72.
8 Triyanta. Fisika Statistik. Bandung: ITB. 1999. H: 61 63.
9 Fw Sears and Salinger, Thermodynamics, Kinetic Theory and
Statistical Thermodynamics. Addison Wesley, 1986. H: 317
320 dan 331 333.

107