Anda di halaman 1dari 13

TB EKSTRA PARU

DEFINISI
Tuberkulosis ekstra paru adalah tuberkulosis yang menyerang organ tubuh lain selain paru, misalnya
pleura, kelenjar getah bening, selaput otak, selaput jantung (pericardium), tulang, persendian, kulit,
usus, ginjal, saluran kencing, alat kelamin dan lain-lain.
Pasien dengan TB paru dan TB ekstraparu diklasifikasikan sebagai TB paru.

Bila seorang pasien dengan TB ekstra paru pada beberapa organ, maka dicatat sebagai TB ekstra paru
pada organ yang penyakitnya paling berat.
Diagnosis sebaiknya didasarkan atas kultur spesimen positif, atau histologi/patologi anatomi, atau
bukti klinis kuat konsisten dengan TB ekstraparu aktif, yang selanjutnya dipertimbangkan oleh klinisi
untuk diberikan obat anti tuberkulosis siklus penuh.[1,2]

KLASIFIKASI
Misalnya: TB
kelenjar limfe,
pleuritis
eksudativa
unilateral, tulang
(kecuali tulang
belakang), sendi
dan kelenjar
adrenal.

TB diluar paru
berat.

TB di luar paru
ringan.

TB di luar paru dibagi berdasarkan pada tingkat keparahan penyakit, yaitu:[1]


Misalnya:
meningitis, millier,
perikarditis,
peritonitis,
pleuritis
eksudativa
bilateral, TB
tulang belakang,
TB usus, TB
saluran kencing
dan alat kelamin.

Catatan:[1]
Yang dimaksud dengan TB paru adalah TB pada
parenkim paru. Sebab itu TB pada pleura atau TB
pada kelenjar hilus tanpa ada kelainan radiologik
paru, dianggap sebagai penderita TB di luar paru.
Bila seorang penderita TB paru juga mempunyai TB
di luar paru, maka untuk kepentingan pencatatan
penderita tersebut harus dicatat sebagai penderita
TB paru.
Bila seorang penderita ekstra paru pada beberapa
organ, maka dicatat sebagai ekstra paru pada organ
yang penyakitnya paling berat

MANIFESTASI KLINIS

Gejala tuberkulosis ekstra paru tergantung dari organ yang


terlibat, misalnya pada limfadenitis tuberkulosa akan terjadi
pembesaran yang lambat dan tidak nyeri dari kelenjar getah
bening, pada meningitis tuberkulosa akan terlihat gejala
meningitis, sementara pada pleuritis tuberkulosa terdapat
gejala sesak napas & kadang nyeri dada pada sisi yang rongga
pleuranya terdapat cairan.[1]

DIAGNOSIS TB EKSTRA PARU

Gejala dan keluhan tergantung organ yang terkena, misalnya kaku kuduk
pada Meningitis TB, nyeri dada pada TB pleura (Pleuritis), pembesaran
kelenjar limfe superfisialis pada limfadenitis TB dan deformitas tulang
belakang (gibbus) pada spondilitis TB dan lain-lainnya. Diagnosis pasti
ditegakkan dengan pemeriksaan klinis, bakteriologis dan atau histopatologi
yang diambil dari jaringan tubuh yang terkena.[2]

PENGOBATAN TUBERKULOSIS EKSTRA PARU


TB MILIER

Rawat inap[1]
Paduan obat: 2 RHZE/ 4RH[1]
Pada keadaan khusus (sakit berat), tergantung keadaan klinik, radiologik dan evaluasi pengobatan, maka pengobatan lanjutan
dapat diperpanjang[1]
Pemberian kortikosteroid tidak rutin, hanya diberikan pada keadaan: [1]
Tanda/gejala meningitis
Sesak napas
Tanda/gejala toksik
Demam tinggi

Kortikosteroid: prednison 30-40 mg/hari, dosis diturunkan 5-10 mg setiap 5-7 hari, lama pemberian 4 6 minggu [1]

PLEURITIS
EKSUDATIVA TB
(EFUSI PLEURA TB)
TB EKSTRA PARU
(selain TB milier dan
pleuritis TB)

Paduan obat: 2RHZE/4RH[1]


Evakuasi cairan, dikeluarkan seoptimal mungkin, sesuai keadaan pasien dan berikan
kortikosteroid[1]
Dosis steroid: prednison 3 x 10 mg selama 3 minggu[1]
Hati-hati pemberian kortikosteroid pada TB dengan lesi luas dan DM [1]
Evakuasi cairan dapat diulang bila diperlukan[1]
Paduan obat 2 RHZE/ 1 0 RH[1]
Prinsip pengobatan sama dengan TB paru menurut ATS, misalnya pengobatan untuk TB tulang, TB sendi dan TB
kelenjar[1]
Pada TB diluar paru lebih sering dilakukan tindakan bedah. Tindakan bedah dilakukan untuk:[1]
Mendapatkan bahan/spesimen untuk pemeriksaan (diagnosis)
Pengobatan: perikarditis konstriktiva; kompresi medula spinalis pada penyakit Pott's
Pemberian kortikosteroid pada perikarditis TB untuk mencegah konstriksi jantung, dan pada meningitis TB untuk
menurunkan gejala sisa neurologik. Dosis yang dianjurkan ialah 0,5 mg/kg/hari selama 3-6 minggu[1]

LIMFADENITIS TB

DEFINSI

Limfadenitis adalah
manifestasi tuberkulosis ekstra
paru yang paling sering.
limfadenitis mikobakterium
telah menjangkiti manusia
sejak lama. Istilah klasik
scrofula berasal dari bahasa
Latin yaitu glandular swelling.
[3]

PATOGENESIS
Limfadenitis TB adalah manifestasi lokal dari penyakit sistemik. Hal ini dapat
terjadi selama infeksi TB primer atau sebagai akibat dari reaktivasi fokus
aktif/dorman atau perluasan langsung dari fokus yang berdekatan. Infeksi
primer terjadi pada paparan awal terhadap basil tuberkulosis. Droplet nuklei
yang dihirup, cukup kecil untuk melewati pertahanan muco-siliar bronkus dan
menetap di alveoli terminal paru-paru. Basil berkembang biak di paru-paru
yang disebut fokus Ghon. Limfatik mengalirkan basil ke hilus kelenjar getah
bening. Fokus Ghon dan limfadenopati hilus terkait membentuk kompleks
primer. Infeksi dapat menyebar dari fokus primer ke nodus limfe regional. Dari
nodus regional, organisme dapat tetap menyebar melalui sistem limfatik ke
nodus lain atau mungkin lolos melewati nodus untuk mencapai aliran darah, di
mana ia dapat menyebar ke hampir semua organ tubuh.

MANIFESTASI KLINIS
Jones dan Campbell mengklasifikasikan limfadenitis TB
perifer dalam lima stadium:[3]
Stadium 1, pembesaran, tegas, mobile, node terpisah
menunjukkan hiperplasia reaktif non-spesifik;
Stadium 2, node kenyal besar fixed dengan jaringan sekitarnya
dikarenakan periadenitis;
kelenjar getah bening yang mengalami inflamasi, bengkak, dan
lymph node servikal dengan pembentukan abses[3]

Pada M. tuberculosis limfadenitis gejala sistemik umum


merupakan keluhan yang umum. Pasien datang dengan
demam ringan, penurunan berat badan dan kelelahan dan
terkadang disertai keringat malam. Batuk bukan merupakan
gejala yang menonjol pada lymphadenitis tuberculosis.
Multiplicity, matting dan caseation adalah tiga temuan
penting dari limfadenitis.

Stadium 3, pelunakan pusat akibat pembentukan abses;

Stadium 4, pembentukan abses Collar-Stud; dan

Stadium 5, pembentukan saluran sinus.

DIAGNOSIS
Anamnesis, pemeriksaan fisik, tes
tuberkulin, pewarnaan untuk acid-fast
bacilli, pemeriksaan radiologis, dan fineneedle aspiration cytology (FNAC) akan
membantu diagnosis awal limfadenitis
mikobakterium
dan
melakukan
pengobatan awal sebelum diagnosis
akhir dapat dibuat dengan biopsi dan
kultur.

Smear
Kultur
Tuberculin Test
Molecular Testing
Histopatologi
Radiologi dan
Pencitraan

PENATALAKSANAAN

Second-line
drugs

isoniazid (INH)
rifampisin
ethambutol
pyrazinamide
streptomycin.

First-line
drugs

capreomycin
kanamycin,
ethionamide
thiacetazone
paraaminosalicylic acid
cycloserine

PEMBEDAHAN

OAT

DAFTAR PUSTAKA
1. Perhimpunan

Dokter

Paru

Indonesia.

Tuberkulosis

Pedoman

Diagnosis

&

Penatalaksanaan di Indonesia. Jakarta: PDPI; 2002.


2. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit
dan Penyehatan Lingkungan. Pedoman Nasional Pengendalian Tuberkulosis. Jakarta:
KEMENKES RI; 2011.
3. Mohapatra PR, Janmeja AK. Tuberculous Lymphadenitis. JAPI. 2009; 57 (-):585-590.