Anda di halaman 1dari 42

HUBUNGAN KEKUATAN OTOT TUNGKAI DAN PANJANG TUNGKAI

TERHADAP KECEPATAN DRIBBLE BOLABASKET PADA


MAHASISWA PENJASKESREK ANGKATAN 2014
UNIVERSITAS SYIAH KUALA
TAHUN 2016

Proposal Skripsi
Diajukan untuk melengkapi tugas-tugas dan
memenuhi syarat-syarat guna memperoleh
gelar Sarjana Pendidikan

oleh
RIZAL DARMAWAN

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN JASMANI KESEHATAN DAN REKREASI


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SYIAH KUALA
DARUSSALAM, BANDA ACEH
2016

1. Judul: Hubungan Kekuatan Otot Tungkai Dan Panjang Tungkai Terhadap


Kecepatan Dribble Bolabasket Pada Mahasiswa Penjaskesrek Angkatan
2014 Universitas Syiah Kuala Tahun 2016
2.
3. Latar Belakang Masalah
4.

Olahraga merupakan kegiatan yang dibutuhkan oleh setiap orang

untuk mempertahankan kesehatan dan kebugaran fisik, Berolahraga dapat


membuat segar jasmani, segar pemikiran, dan berprestasi dalam pekerjaan,
salah satu usaha menciptakan manusia berprestasi yaitu dengan cara
pembinaan melalui olahraga, Ada ratusan jenis-jenis cabang olahraga dunia
namun hanya setengahnya yang di pertandingkan maupun di perlombaan,
Umumnya beberapa cabang olahraga sebagai berikut: Olahraga Atletik,
Olahraga Aquatik, dan Olahraga Ketangkasan salah satu olahraga
ketangkasan ialah permainan bola basket.
5. Permainan bolabasket merupakan cabang olahraga yang makin banyak
digemari oleh para masyarakat terutama oleh kalangan pelajar dan
mahasiswa. Melalui kegiatan olahraga bolabasket ini para remaja banyak
memperoleh manfaat khususnya dalam pertumbuhan fisik, mental, dan sosial.
Permainan bola basket saat ini mengalami perkembangan yang pesat terbukti
dengan munculnya klub- klub tangguh di tanah air dan atlet-atlet bolabasket
pelajar baik di tingkat sekolah maupun perguruan tinggi. Ditunjang lagi
dengan sering diadakannya turnamen-turnamen antar klub, event-event
mahasiswa dari tingkat daerah hingga nasional. Selain itu dengan
bervariasinya permainan bola basket dengan unsur hiburan seperti streetball,
three on three, crushbone, menjadikan olahraga bola basket menjadi olahraga

yang bergengsi dan trend mode di kalangan anak muda.


6. Permainan bolabasket di Indonesia sekarang ini mulai menunjukkan
perkembangan yang sangat pesat. Sekarang banyak sekali terlihat lapangan
bola basket di berbagai kota maupun di pelosok-pelosok tanah air. Itu tertanda
bahwa masyarakat di tanah air ini mulai menyukai permainan bolabasket.
Permainan bola basket diciptakan oleh Dr. James A Naismith, pada tahun
1891 di YMCA di Springfield, Permainan bola basket ini sudah mulai
dipertandingkan dalam Olympiade di Jerman pada tahun 1936. Bolabasket
masuk ke Indonesia sekitar tahun 1948 yang lalu dan berkembang setelah
proklamasi kemedekaan. Pada tanggal 23 Oktober 1951 didirikanlah
Persatuan Basketball Seluruh Indonesia (PERBASI). Dengan adanya
PERBASI ini perkembangan bolabasket di Indonesia jauh lebih maju karena
ada suatu organisasi yang bertujuan mengembangkan olahraga bola basket
mulai dari pusat (PB Perbasi), daerah tingkat I oleh pengurus daerah (Pengda
Perbasi), sampai ke pelosok tanah air di daerah tingkat II oleh pengurus
cabang (Pengcab Perbasi) (A. Sarumpaet, 1992:202).
7.
Perkembangan bolabasket di Aceh juga tidak mau kalah dengan
daerah-daerah lain yang sudah maju, Perkembangan bolabasket di Aceh dapat
berkembang dikarenakan adanya pembibitan-pembibitan atlet yang baik dari
klub di daerah maupun di sekolah, Dengan adanya pembibitan inilah lahir
atlet-atlet yang berpotensial untuk meningkatkan prestasi bolabasket di
daerahnya dan khususnya di Banda Aceh, Di Banda Aceh misalnya, sering
diadakan turnamen-turnamen bola basket antar klub, pelajar, maupun antar
mahasiswa, Hal ini bertujuan untuk mengembangkan bola basket sekaligus

sebagai ajang untuk mencari atlet-atlet yang berbakat. Di Banda Aceh setiap
tahunnya ada

pertandingan-pertandingan bola basket yang diadakan di

berbagai daerah oleh klub bolabasket, sekolahan, maupun perguruan tinggi,


Baik yang sifatnya resmi maupun tidak resmi atau hiburan. Bahkan ada suatu
pertandingan bolabasket untuk kalangan umum seperti three on three,
Pertandingan seperti ini biasanya dilaksanakan untuk entertaiment dan juga
bisa untuk pencarian bibit-bibit atlet yang berbakat, Karena dari situlah para
bibit-bibit atlet mulai tumbuh dan berkembang.
8. Penguasaan teknik permainan bolabasket sangat penting terutama
dalam pengusaan teknik dasar permainan bolabasket, Penguasaan teknik dasar
yang baik harus benar-benar dikuasai oleh seorang pemain bolabasket karena
pencapaian prestasi tidak hanya ditentukan oleh kondisi fisik saja akan tetapi
lebih ditentukan oleh kemampuan teknik bermain, Penguasaan teknik dasar
bolabasket dan sebuah kondisi fisik yang baik tidaklah mudah, Perlu latihan
keras yang dimulai dari sejak dini, Jika teknik dasar telah dimiliki dengan
baik maka akan dapat bermain bolabasket dengan baik pula, Hal ini sudah
wajar untuk dimiliki oleh setiap atlet dari berbagai macam cabang olahraga.
9. Pada permainan bolabasket, untuk mendapatkan gerakan efektif dan
efisien perlu didasarkan pada penguasaan teknik dasar yang baik. Teknik
dasar dalam permainan bolabasket dapat dibagi sebagai berikut:

1.
2.
3.
4.
5.
6.

Teknik melempar dan menangkap


Teknik menggiring bola
Teknik menembak
Teknik gerakan berporos
Teknik tembakan Lay up
Merayah (Imam Sodikun, 1992:48).
10.
Berdasarkan kutipan diatas dikemukakan bahwa banyak faktor yang

dibutuhkan untuk prestasi atlit bolabasket oleh karena itu faktor-faktor tersebut
tidak dapat diabaikan dalam mencapai prestasi dalam berolahraga khususnya
permainan bolabasket, Prestasi olahraga dapat diperoleh dengan berbagai
program latihan, dan disesuaikan dengan cabang olahraga yang ingin
dikembangkan, Salah satu yang mempengaruhi prestasi permainan bola basket
adalah teknik menggiring bola (Dribble).
11.
Dribble adalah suatu cara membawa bola. Agar tetap menguasai bola
sambil bergerak, bola harus dipantulkann pada lantai. Pada awalnya, bola harus
lepas dari tangan sebelum kaki diangkat dari lantai. Sementara men dribble tidak
boleh menyentuh bola secara bersamaan dengan dua tangan atau bola diam
dalam genggaman tangan anda. Kemampuan men dribble dengan tangan lemah
dan tangan kuat adalah kunci untuk meningkatkan permainan, Untuk melindungi
bola, jagalah agar tubuh agar berada di antara bola dan lawan. Dengan kata lain,
jika men dribble dengan sisi tangan yang lemah, maka lindungi dengan tubuh
(Hal Wissel 2000:95).
12.
Kecepatan dalam men dribble sangatlah penting, ketika posisi pemain
bebas dari penjagaan lawan, maka pemain tersebut bisa melakukan akselerasi
langsung ke zona lawan untuk membuat point, bahkan jika pemain tersebut
terampil dalam melakukan dribble pemain tersebut dapat melewati penjagaan
lawan tanpa melakukan passing, hal ini sependapat dengan Hal Wissel
(2000:96).. Kecepatan men dribble amat berguna ketika anda tidak dijaga ketat,
ketika anda harus cepat membawa bola dalam dalam lapangan yang kosong, dan
ketika anda harus cepat mencapai keranjang.
13. Dalam bermain permainan bolabasket dibutuhkan beberapa komponen
fisik, seperti yang disebutkan oleh Harsono (1988:204) menjelaskan, komponen

fisik beberapa anggota tubuh yang diperlukan oleh cabang olahraga basket
adalah: kekuatan otot bahu, kekuatan dan daya tahan otot lengan, kelentukan,
daya tahan, kelincahan dan kekuatan otot tungkai.
14. Guna mendapatkan hasil kecepatan dribble yang baik dan cepat
dibutuhkan kekuatan otot tungkai dan panjang tungkai yang bekerja secara
terkoordinasi, Dari pendapat tersebut yang akan diteliti dalam penelitian ini
adalah kekuatan otot tungkai dan panjang tungkai dengan kecepatan dribble
bola, Jika seseorang ingin memiliki kecepatan dribble yang bagus, maka harus
ditunjang kekuatan otot tungkai dan panjang tungkai yang baik, Karena kedua
faktor tersebut sangat penting, maka harus benar-benar dimiliki oleh seorang
pemain bolabasket.
15. Dari pernyataan di atas, maka

penulis tertarik untuk melakukan

penelitian dengan judul : Hubungan Kekuatan Otot Tungkai Dan Panjang


Tungkai Terhadap Kecepatan Dribble Pada Mahasiswa Angkatan 2014
Universitas Syiah Kuala Tahun 2016. Adapun yang menjadi alasan pemilihan
judul dalam penelitian ini adalah:
1. Dalam permainan bolabasket, kecepatan dribble merupakan
teknik yang harus dikuasai dengan baik karena teknik ini sangat
penting dalam permainan bolabasket.
2. Panjang tungkai dan kekuatan otot tungkai mempunyai peranan
penting dalam kemampuan melakukan dribble dalam permainan
bolabasket.

16. Rumusan Masalah


17.

Dalam suatu penelitian terdapat suatu permasalahan yang perlu untuk

diteliti, dianalisis dan diusahakan pemecahannya. Setelah memperhatikan uraian


di atas penulis merumuskan masalah penelitian ini penulis membatasi
permasalahan pada hasil kecepatan dribble dengan hubungannya kekuatan otot
tungkai dan panjang tungkai. Adapun permasalahan dalam penelitian ini adalah :
1) Apakah ada hubungan antara kekuatan otot tungkai terhadap kecepatan
dribble pada permainan bolabasket ?
2) Apakah ada hubungan antara panjang tungkai terhadap kecepatan dribble
pada permainan bolabasket ?
3) Apakah ada hubungan antara kekuatan otot tungkai dan panjang tungkai
terhadap kecepatan dribble pada permainan bolabasket?
18. Tujuan Penelitian
19.
Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui :
1. Hubungan kekuatan otot tungkai terhadap kecepatan dribble pada permainan
bolabasket.
2. Hubungan panjang tungkai terhadap kecepatan dribble

pada permainan

bolabasket.
3. Hubungan kekuatan otot tungkai dan panjang tungkai terhadap kecepatan
dribble pada permainan bolabasket.
20. Manfaat Penelitian
21. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan mafaaat peneleitian sebagai
berikut :
1) Hasil penelitian ini dapat digunakan untuk acuan penelitian-penelitian
selanjutnya, terutama tentang hubungan kekuatan otot tungkai, dan

panjang tungkai, terhadap kecepatan dribble dalam permainan


bolabasket.
2) Bagi mahasiswa Penjaskesrek dapat dijadikan bahan untuk menambah
wawasan dalam bidang bolabasket dan dapat dijadikan sebagai
referensi untuk penelitian-penelitian selanjutnya.
3) Bagi guru pendidikan jasmani dan pelatih penelitian ini dapat
dijadikan sebagai sumber referensi instrument dalam pemilihan bibit
atlit bolabasket sebagai acuan didalam upaya penunjang prestasi.
22.

23. Hipotesis Penelitian


24.

Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan

masalah penelitian.Dikatakan jawaban sementara karena jawaban yang


diberikan baru didasarkan pada teori dan penelitian yang relevan, belum
didasarkan pada fakta-fakta yang diperoleh melalui pengumpulan data.
Berdasarkan permasalahan dan manfaat penelitian diatas maka dapat
dirumuskan hipotesis penelitian sebagai berikut :
a. Ada hubungan antara kekuatan otot tungkai terhadap kecepatan dribble pada
mahasiswa angkatan 2014 Universitas Syiah Kuala Tahun 2016.
b. Ada hubungan antara panjang tungkai terhadap kecepatan dribble pada
mahasiswa angkatan 2014 Universitas Syiah Kuala Tahun 2016..
c. Ada hubungan antara kekuatan otot tungkai dan panjang tungkai terhadap
kecepatan dribble pada mahasiswa angkatan 2014 Universitas Syiah Kuala
Tahun 2016.

25. LANDASAN TEORI


26.

Sesuai dengan tujuan penelitian yang telah ditentukan, yaitu

untuk mengetahui hubungan Kekuatan Otot tungkai dan Panjang tungkai


terhadap Kecepatan Dribble Bolabasket Pada Mahasiswa Penjaskesrek Angkatan
2014, Universitas Syiah Kuala, Tahun 2016. maka

perlu adanya

tinjauan

landasan teori yang akan digunakan sebagai landasan berfikir dalam


penelitian ini. Oleh karena itu dalam uraian ini akan dijelaskan tentang :
1.
2.
3.
4.
5.

Permainan Bolabasket
Teknik Dasar Bolabasket
Hakikat Kekuatan Otot Tungkai
Hakikat Panjang Tungkai
Analisis Kekuatan Otot Tungkai, Panjang Tungkai, Dan Kecepatan
Dribble

27. 7.1 Permainan Bolabasket


28.

Olahraga bolabasket merupakan salah satu olahraga prestasi yang

digemari masyarakat saat ini terutama kalangan pelajar dan mahasiswa, sehingga
banyak kejuaraan bolabasket yang di selenggarakan dan diikuti oleh masyarakat
luas. Bolabasket adalah olahraga beregu yang mengendalikan kecepatan dan
ketahanan tubuh yang kuat, karena dalam permainan bolabasket persinggungan
badan pasti akan terjadi. Bolabasket dimainkan oleh dua regu yang masingmasing regu berusaha memasukkan bola ke dalam keranjang lawan dan berusaha
mencegah lawan untuk memasukkan bola atau mencetak angka dengan cara bola
dioper, digelinding, dipantulkan atau di dribble ke segala arah, sesuai dengan
peraturan yang telah ditentukan (PB PERBASI, 2004:11).

29.

Olahraga bolabasket merupakan suatu permainan beregu yang

menuntut kerjasama dari tiap anggota dalam satu tim. Kerjasama tersebut
dilakukan melalui penggunaan teknik-teknik dasar bolabasket. Olahraga
bolabasket sebagai permainan ditunjukkan dengan penggunaan alat berupa bola
basket yang dimainkan dengan cara dipantul-pantulkan dan dilempar.
30.

Menurut Muhajir (2006: 11) Permainan bolabasket merupakan

permainan beregu yang terdiri dari lima pemain, permainan menggunakan bola
besar dan dimainkan dengan dua tangan. Prinsip permainan bolabasket adalah
bola tidak boleh dibawa lari dan harus dipantulkan dengan berlari atau berjalan
dan dioperkan dengan teman seregunya.
31.

Dengan demikian ketrampilan gerak dasar

menggiring bola

(dribbling) dalam permainan bolabasket sangat penting untuk dikuasai secara


baik, tetapi tidak boleh mengesampingkan ketrampilan gerak dasar yang lain,

32. 7.1.1 Sejarah Bolabasket


33.

Permainan bolabasket diciptakan pada bulan Desember 1891 oleh Dr.

James Naismith, seseorang anggota Sekolah Pelatihan YMCA di Springfield


Massachusetts yang dikenal dengan Sringfield College. Permainan bolabasket di
Indonesia berasal dari pedagang dari Cina dan mulai berkembang atau mendapat
tempat di masyarakat, Mulai dari Jogja, Solo, dan sekitarnya. Pada PON 1 tahun
1948 di Solo permainan bolabasket dipertandingkan, Untuk mengkoordinir
perkembangan bolabasket di Indonesia, dibentuklah organisasi yang disebut

10

PERBASI (Persatuan Basketball Seluruh Indonesia) pada tanggal 23 Oktober


1951 dengan Tonny Wen sebagai ketua dan Win Latumeten sebagai
sekretarisnya, Pada tahun 1955 kepanjangan PERBASI diubah menjadi Persatuan
Bolabasket Seluruh Indonesia dengan singkatan tetap PERBASI. Sampai
sekarang PERBASI yang bertanggung jawab atas perkembangan bolabasket di
Indonesia.

34. 7.1.2 Lapangan Bolabasket


35.

Menurut PB PERBASI dalam peraturan resmi bolabasket (2004:5),

lapangan permainan harus memiliki permukaan yang rata, keras, dan bebas dari
halangan. Ukurannya adalah panjang 28 meter dan lebar 15 meter yang diukur
dari sisi dalam garis batas (gambar 1). Federasi Nasional menyetujui ukuran
lapangan yang akan dipakai untuk kompetisi dengan ukuran minimum adalah
panjang 26 meter dan lebar 14 meter.
36.
37.
38.
39.
40.
41.
42.
43.
44.
45.
46.
47.

11

59.
60.
61.

48.
49.
50.
51.
52.
53.
54.
55.
56.
57.
58.
Gambar 1
Lapangan Bola Basket
(Imam Sodikun, 1992:82)

12

62. 7.1.3 Papan Pantul


63. Kedua papan pantul terbuat dari kayu keras atau bahan tembus
pandang (transparan) dengan tebal 3 cm sesuai dengan kekerasan kayu, dengan
lebar 1,80 meter dan tinggi 1,05 meter di belakang ring dibuat petak persegi
panjang dengan ukuran 59 cm dan tinggi 45 cm dengan lebar garis tepi 5 cm
(Imam Sodikun, 1992:83). Lihat gambar 2
64.
65.
66.
67.
68.
69.
70.
71.
72. Gambar 2
73. Papan Pantul
74. (Sumber Imam Sodikun, 1992:83)
75.
76. 7.1.4 Keranjang
77.

Keranjang terdiri dari keranjang atau simpai dan jala, Simpai terbuat

dari besi yang keras, berdiameter 45 cm dan berwarna jingga, Garis tengah besi
20 mm dengan sedikit tambahan lengkungan besi kecil di bawah simpai tempat
memasang jala, Jarak tepi bawah sampai dengan lantai 3,05 meter, Jarak terdekat

13

dengan bagian dalam tepi simpai 15 cm dari permukaan papan pantul. (Imam
Sodikun, 1992:83).
78.

Jala terbuat dari tambang putih teranyam dan tergantung sedemikian

rupa sehingga menahan bola masuk ke keranjang, kemudian terus masuk ke


bawah. Panjang jala 40 cm (lihat gambar 3).
79.
80.
81.
82.
83.
84.
85.
86.
87.
88.
89.

92.

90.
Gambar 3
91.
Keranjang
(Sumber Imam Sodikun, 1992:84)
93.

94. 7.1.5 Bola


95.

Bola yang digunakan adalah bola yang betul-betul bundar terbuat

dari kulit, karet atau sintesis. Kelilingnya antara 75-78 cm dengan berat antara
600- 650 gram. Bola dipompa secukupnya sehingga kalau dijatuhkan dari

14

ketinggian 1,80 meter, pantulannya antara 1,20-1,40 meter. (Imam Sodikun,


1992:84).
96. 7.2 Teknik Dasar Bolabasket
97.

Teknik-teknik dasar dalam permainan bolabasket menurut Imam

Sodikun (1992:48) adalah sebagai berikut : 1) teknik passing (melempar dan


menangkap), 2) teknik dribble (menggiring bola), 3) teknik shooting
(menembak), 4) teknik pivot (gerakan berporos), 5) teknik lay up shoot, 6)
teknik rebound (merayah). Dari kelima teknik dasar tersebut jika telah dimiliki
dengan baik oleh seorang pemain, maka ia dapat bermain dengan baik pula.

98.

7.2.1 Teknik Dribble


99.

Dribble merupakan bagian yang tak terpisahkan dari bolabasket dan

penting bagi permainan individual dan tim. Seperti operan, dribble adalah
suatu cara membawa bola, Agar tetap menguasai bola sambil bergerak, anda
harus memantulkannya pada lantai, Pada awalnya, bola harus lepas dari tangan
sebelum kaki anda diangkat dari lantai. Sementara men dribble anda tidak
boleh menyentuh bola secara bersamaan dengan dua tangan atau bola diam
dalam genggaman tangan anda. Kemampuan men dribble dengan tangan lemah
dan tangan kuat adalah kunci untuk meningkatkan permainan anda. Untuk
melindungi bola, jagalah agar tubuh anda agar berada di antara bola dan lawan.
Dengan kata lain, jika anda men dribble dengan sisi tangan yang lemah, maka
lindungi dengan tubuh anda (Hal Wissel 2000:95).
100.
Menurut Imam Sodikun (1992:58), cara melakukan dribble
adalah

15

101.
sebagai berikut :
a. Peganglah dengan kedua tangan secara relax, tangan kanan secara
relax,tangan kanan di atas bola, kiri di bawah menjadi tempat terletaknya
bola.
Berdiri seenaknya dengan kaki kiri agak sedikit ke depan dan kaki kanan.
Condongkan badan ke depan mulai dari pinggang.
Pantulkan bola dengan tangan kanan (pada permulaaan bola dilihat).
Gerakan lengan hampir seluruhnya.
Pantulkan bola dilakukan dengan jari-jari tangan dibantu dengan
102. pergelangan tangan (bukan memukul dengan telapak tangan).
g. Menjinakkan bola dengan sedikit mengikuti bergeraknya bola ke atas
b.
c.
d.
e.
f.

sebentar dengan jari-jari dan pergelangan tangan, kemudian baru dipantulkan


kembali. Setelah diratakan, watak, rahasia dan irama pantulan (

get

the

feeling )
h. dengan sikap bediri di tempat maka mulailah sambil bergerak maju atau
mundur.
i. Mulailah dengan tidak melihat bola, dan percepatkanlah gerakannya.
j. Menggiring bola dilakukan dengan agak rendah, maju mundur, kiri kanan,
k.

berkelok-kelok dengan rintangan dan dengan lawan.


Kombinasikan antara mengoper, menggiring, dan menembak sehingga dapat
dilakukan dengan cepat.
103. Ada beberapa manfaat khusus dribble menurut Hal Wissel
(2000:95)
104.

antara lain :
a. Memindahkan bola keluar dari daerah padat penjagaan ketika
operan tidak memungkinkan (contoh ketika setelah rebound
atau dijaga dua orang).
b. Memindahkan bola ketika penerima tidak bebas penjagaan.
c. Memindahkan bola pada saat fast break karena rekan tim
tidak bebas penjagaan untuk mencetak angka.
d. Menembus penjagaan ke arah ring.
e. Menarik perhatian penjaga untuk membebaskan rekan tim.
f. Menyiapkan permainan menyerang.

16

g. Memperbaiki posisi atau sudut (angle) sebelum mengoper ke


rekan, dan.
h. Membuat peluang untuk menembak dan melakukan lay up.
105.

Berikut

adalah

macam-macam

ketrampilan

melakukan

dribble

untuk

melatih

kemampuan dan kecepatan dalam melakukan dribble antara lain :


106.

1. Kontrol Dan Kecepatan Dribbling


107.

Kecepatan dribbling amat berguna ketika anda tidak dijaga

ketat, ketika anda harus cepat membawa bola dalam dalam lapangan yang
kosong, dan ketika anda harus cepat mencapai keranjang (Hal Wissel,
2000:96).
108.
Untuk kecepatan dribbling lakukan dribble setinggi pinggang angkat
kepala anda dan lihat sisi keranjang sehingga anda dapat melihat keseluruhan
lapangan-rekan setim dan para lawan.
109.
110.
111.
112.
113.
114.
115.
116.
117.
118.
119.
120.
121.

Gambar
6

122.

Gerakan
Kecepatan Dribble

123.

(Hal

17

Wissel 2000:97)
124.
125.
2. Peningkatan Kontrol Setelah Speed Dribble
126.

Kecepatan dalam dribbling penting, begitu pula berhenti tiba-

tiba dengan seimbang. Setelah driblling pada kecepatan penuh, pemain yang
tidak berpengalaman sering kehilangan keseimbangan dan kontrol pada saat
mencoba berhenti cepat. The one two stop dapat mencegah ayunan kaki dan
berpindah ketika anda berhenti setelah dribbling dan hal ini amat penting
dalam melakukan terobosan. Lihat gambar 7
127.
128.
129.
130.
131.
132.
133.

135.

134. Gambar 7
Gerakan One Two Stop Pada Akhir Speed Dribble
136. (Hal Wissel 2000:99)
137.

3. Footfire Drible
138.

The Footfire Dribble adalah metode berhenti sementara sambil

18

menjaga dribble tidak mati ketika anda mendekati pemain lawan dalam
lapangan terbuka. Terutama pada akhir serangan balik yang memungkinkan
anda mendapat keseimbangan dan membaca posisi pemain lawan sementara
anda punya tiga ancaman melalui tembakan, operan atau bergerak ketika
dribbling. Untuk mengeksekusi footfire anda harus dengan cepat mengubah
kecepatan dribble menjadi control dribble, untuk kemudian berhenti dengan
tetap dribbling. Dribble di tempat, menghadap ring basket dengan kaki
telentang selebar bahu, Gerak cepat footfire ini membantu anda meningkatkan
keseimbangan pada saat yang bersamaan memaku lawan di tempat. Efektifitas
footfire dribble anda didapat dari keseimbangan dan kontrol yang prima,
prediksi lawan anda, dan pembuatan gerak tipuan. Sebelum gerakan
selanjutnya untuk menembak, mengoper atau membawa bola. Lihat gambar 8
139.
140.
141.
142.
143.
144.
145.
146.

19

147. Gambar 8
148.
Gerakan Foot Fire Dribble
149.
(Hal Wissel 2000:100)
150.

4. Change Of Pace Dribble


151.

The change of pace dribble (dribble dengan perubahan

kecepatan langkah) berguna untuk menipu dan menghindari lawan anda,


Untuk melakukan perpindahan langkah, ubah metode dribble dari cepat ke
terkontrol dan kembali lagi ke cepat, Kemampuan anda dalam dribble ini
tergantung pada gerak mengecoh dan kecepatan, Ubahlah dribble anda dari
lambat ke cepat. Dalam mengubah langkah anda mendapat keuntungan
karena anda sendiri yang memutuskan untuk mengubah kecepatan, Dengan
gerak tipuan yang baik dan dengan kekuatan yang penuh pada dribble untuk
meningkatkan kecepatan anda, seharusnya paling sedikit berada satu langkah
di depan lawan anda setelah mengontrol langkah dan kecepatan dribble. Lihat
gambar 9.
152.
153.
154.
155.
156.
157.

20

158.
159. Gambar 9
160. Gerakan Change Of Pace Dribble
161. (Hal Wissel 2000:102)
162.
5. Retreat Dribble
163.Retreat dribble (dribble mundur) ini dilakukan untuk mengatasi
masalah ketika ditekan lawan. Dengan mundur dulu ke belakang sambil tetap
dribbling, anda dapat memperpendek jarak untuk melakukan perubahan di
depan dan kecepatan dribbling untuk menghindari jebakan. Untuk melakukan
dribble mundur gunakan langkah mundur yang pendek dan cepat diikuti
dribbling ke belakang. Ketika anda mundur lindungi bola dan jaga
keseimbangan, dengan begitu anda bisa mengontrol perubahan arah dribble,
dan dapat melewati lawan dengan dribbling cepat. Lihat gambar 10.
164.
165.
166.
167.
168.
169.
170.
171.
172.
173.
174.
175.
176.
Gambar 10
177.
Gerakan Retreat Dribble
178.
(Hal Wissel 2000:103)
179.
6. Crossover Dribble
180.

Crossover dribble (perubahan arah dribble

21

dari depan) ini penting dalam menyusuri lapangan dengan gerak cepat, untuk
mulai menjangkau keranjang dan untuk menciptakan peluang bagi tembakan.
Keefektifan dalam

dribble ini didasarkan pada seberapa tajam

perubahan dribble anda dari satu arah ke arah yang lain. Untuk melakukan
dribble menyilang, silangkan bola di depan anda pada sudut belakang, putar
dribble dari satu tangan ke tangan yang lain.
Untuk melakukan dribble cepat bola dipantulkan sebatas lutut atau lebih
rendah dengan control dribble yang telah ditentukan. Lihat gambar 11.
181.
182.
183.
184.
185.
186.
187.
188.
189.
190.
191.
192.
193.
194.
195.
196.
197.
198.
199.
200.
201.
202.
203.
204.
Gambar 11
205.
Gerakan Crossover Dribble
206.
(Hal Wissel 2000:04)
207.

22

7. Inside Out Dribble


208.

Inside out dribble (menipu dengan merubah arah) ini

merupakan dribble tipuan untuk dapat membuka jalan menuju keranjang atau
untuk menembak. Anda melakukan penipuan dengan mengubah arah kepala
ke isi lain. Dalam melakukan inside out dribble

dapat dilakukan dengan

menyilangkan bola di depan badan. Daripada melepaskan bola dan mengubah


tangan yang men dribble, putar tangan anda dan dribble bola keluar ke arah
yang akan anda tuju. Dribble harus dilakukan dekat dengan badan dan sebatas
lutut. Lindungi bola dengan badan sedangkan tangan yang lainnya diangkat.
Lihat gambar 12.
209.
210.
211.
212.
213.
214.
215.
216.
217.
218.
219.
220.
221.
222.
223.
224.
225.
226.
227.
228.
229.
230.
231.
232.
233. Gambar 12
234. Gerakan Inside Out Dribble
235. (Hal Wissel 2000:105)

23

236.
237.
8. Reverse Dribble
238.

Pada

reverse

dribble

(spin

dribble)

anda

harus

mempertahankan posisi badan antara bola dan lawan untuk melindungi bola
ketika merubah arah. Gerakan ini paling tepat jika dilakukan sebagai gerakan
untuk menyerang dan mematahkan permainan lawan yang kuat. Cara
melakukannya yaitu lakukan dribble mundur dan kemudian putar ke belakang
dengan kaki yang lain sambil memutar balik anda ke belakang ke arah tangan
yang dribbling. Bawa kaki ke belakang kemudian ke depan ketika anda
melakukan dribble ke dua ke depan dan dekat pada badan dengan
menggunakan tangan yang sama. Lihat gambar 13.
239.
240.
241.
242.
243.
244.
245.
246.
247.
248.
249.
250.
251.
252.
253.
254.
255.
256.
257.
258.
259.
Gambar 13
260.
Gerakan Reverse Dribble
261.
(Hal Wissel 2000:107)

24

262.
263.
264.

7.3 Hakikat Kekuatan Otot Tungkai

265.

Pemain bolabasket membutuhkan tenaga yang besar pada

tungkai yaitu untuk dribbling bola yang timbul dari kekuatan otot tungkai,
sehingga semakin besar tenaga ayunan tungkai maka semakin jauh dan semakin
cepat langkahnya.
266.

Kekuatan adalah ketegangan yang terjadi atau kemampuan otot

untuk suatu ketahanan akibat suatu beban.Beban tersebut dapat dari bobot badan
sendiri atau dari luar (external resistance). Kekuatan adalah tenaga kontraksi otot
yang dicapai dalam sekali usaha maksimal.Usaha maksimal ini dilakukan oleh
otot atau sekelompok otot untuk mengatasi suatu tahanan (Ismaryanti,
2006:111).
267.

Kekuatan adalah kemampuan otot untuk melakukan kontraksi guna

membangkitkan ketegangan terhadap suatu tahanan. Kekuatan otot adalah


komponen yang sangat penting untuk meningkatkan kondisi fisik secara
keseluruhan. Kekuatan otot (musculus strenght) adalah kemampuan satu otot atau
kelompok otot untuk mengerahkan daya (force) maksimal terhadap sebuah
tahanan (resistensi). Secara teknis, kekuatan adalah usaha maksimal dalam satu
kali angkat atau kerja yang sering dinyatakan dalam istilah 1 RM atau suatu
repetisi maksimal (Sukadiyanto, 2005:84).
268.

Kekuatan menurut Suharno H.P (1987: 81) adalah Kemampuan otot

untuk mengatasi tekanan atau beban dalam menjalankan aktifitas untuk

25

mencapai

prestasi maksimal. Hal ini berarti kemampuan untuk mengatasi

tahanan atau beban dalam menjalankan

aktifitas,

sangat

ditentukan

oleh

seberapa besar kekuatan otot. Semakin besar kekuatan otot akan semakin besar
dan ringan kerja otot dalam mengatasi tahanan dan beban, semakin kurang
kekuatan otot akan semakin kecil kemampuan otot dalam mengatasi tahanan dan
beban.
269.

Dalam setiap olahraga, kekuatan merupakan unsur yang sangat

penting untuk dapat mempertinggi prestasi. Tanpa ada kekuatan yang maksimal
tidak mungkin akan dapat mencapai prestasi yang baik. Seperti yang
dikemukakan oleh Suharno H.P sebagai berikut : Strength dapat digunakan
untuk mengatasi beban berat, gerakan meledak dalam suatu irama serta kekuatan
yang tinggi dalam waktu yang lama. Berdasarkan kegunannya, strength dapat
dibedakan menjadi tiga macam, yaitu:

Maksimum strength adalah kekuatan otot dalam kontraksi maksimal pula.


Explosif power adalah kemampuan otot atau segerombol otot untuk
mengatasi tahanan atau beban dengan kecepatan tinggi dalam suatu
gerakan.

270.

Power endurance adalah kemampuan tahan lamanya kekukatan otot

untuk melawan tahanan atau beban yang tinggi intensitasnya. (Suharno HP, 1987:
81)
271.

Kekuatan (strength) merupakan salah satu komponen dasar biomotor

yang diperlukan dalam setiap cabang olahraga. Untuk dapat mencapai

26

penampilan prestasi yang optimal, maka kekuatan harus ditingkatkan sebagai


landasan

yang

mendasari

dalam

pembentukan

komponen

biomotor

lainya.Sasaran pada latihan kekuatan adalah untuk meningkatkan daya tahan otot
dalam mengatasi beban selama aktivitas olahraga berlangsung. Oleh karena itu,
latihan kekuatan merupakan salah satu unsur biomotor dasar yang penting dalam
proses mencetak olahragawan.
272.

Pengertian kekuatan secara umum adalah kemampuan otot atau

sekelompok otot untuk mengatasi beban atau tahanan.Pengertian secara fisiologi,


kekuatan adalah kemampuan neuromuskuler untuk mengatasi tahanan beban luar
dan beban dalam. Tingkat kekuatan olahragawan diantaranya dipengaruhi oleh
keadaan : panjang pendeknya otot, besar kecilnya otot, jauh dekatnya titik beban
dengan titik tumpu, tingkat kelelahan, jenis otot merah atau putih, potensi otot,
pemanfaatan potensi otot, teknik dan kemampuan kontraksi otot (Sukadiyanto,
2005: 80).
273.

Kekuatan merupakan basis dari semua komponen kondisi fisik.

Disamping membutuhkan kekuatan otot tungkai untuk mencapai keterampilan


dribble

juga diperlukan unsur fisik seperti tinggi badan, panjang tungkai.

Keterampilan dribbling bolabasket diperlukan latihan yang terus menerus selain


itu juga dibutuhkan unsur fisik. berupa kekuatan otot tungkai, karena dalam
dribble otot tungkai berperan utama yaitu sebagai tumpuan dan stabilisator.
274.

Dengan mahasiswa yang memiliki kekuatan otot tungkai yang baik

diharapkan keterampilan dribble lebih memadai.

27

275.
276.

7.4 Hakikat Panjang Tungkai

277.

Seorang olahragawan yang memiliki proporsi badan tinggi

dengan tungkai yang panjang, meskipun hal itu tidak selalu demikian. Ukuran
tungkai yang panjang tidak selalu memberikan keuntungan dalam jangkauan
langkah, hal ini dikarenakan kelincahan masih dibutuhkan komponen pendukung
lain yang diperlukan untuk membantu dalam mencapai jangkauan langkah yang
panjang.
278.
279.

Anggota gerak bagian bawah terdiri dari: tulang panggul, femur,

patela, tibia, tulang-tulang kaki.


280.
1)
2)
3)
4)

Struktur otot yang berada di tungkai adalah


Otot-otot pangkal paha
Otot-otot tungkai atas
Otot-otot tungkai bawah
Otot-otot kaki

281.

Gerakan utama pada sendi lutut adalah fleksi dan ekstensi tungkai

bawah. Tetapi pada tungkai bawah dalam keadaan fleksi dapat pula dilakukan
rotasi, sedang pada saat ekstensi rotasi tidak dapat dilakukan di sendi lutut (Prijo
Sudibjo, 2011: 54).

28

282.

Berdasarkan

pada pengertian

tersebut panjang tungkai

yang

dimaksudkan dalam penelitian ini adalah keberadaan panjang tungkai yang


diukur menggunakan anthropometer.
283.

Tungkai adalah bagian anggota tubuh manusia yang terletak pada

bagian bawah, karena itu sering sekali disebut anggota gerak bawah. Tungkai
mempunyai tugas penting dalam melakukan gerak atau aktivitas tubuh, Namun
untuk melakukan gerak secara sistematis perlu adanya sistem penggerak yang
meliputi tulang, otot dan sendi.
284.

Dari berbagai pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa panjang

tungkai adalah ukuran panjang tungkai seseorang mulai dari tulang mata kaki
sampai dengan tulang duduk, dan tungkai merupakan anggota gerak bagian
bawah.
285.
286.
287.
288.
289.
290.
291.
Gambar 14
292.
Panjang tungkai
293.
(Syaifuddin,1992 :44)
294.

29

295.

Pengambilan panjang tungkai menjadi salah satu variabel dalam

penelitian, karena peneliti beranggapan bahwa panjang tungkai


hubungan

dengan

kemampuan

dribbling

bolabasket,

Pada

memiliki
mahasiswa

penjaskesrek angkatan 2014 universitas syiah kuala rata-rata memiliki kaki yang
tidak begitu panjang, sehingga mempengaruhi dalam

melakukan dribbing

bolabasket.
296.

7.5 Analisis Kekuatan Otot Tungkai, Panjang Tungkai, Dan

Kecepatan Dribble
297.

Telah dikemukakan di atas, bahwa banyak faktor yang dapat

memberikan pengaruh untuk kecepatan dribble. Dalam teknik bolabasket, salah


satu faktor yang sangat mendukung dalam melakukan kecepatan dribble salah
satunya adalah kekuatan otot tungkai dan panjang tungkai.
298.

Selain itu juga didukung oleh teknik-teknik yang lain terutama dari

segi anatomi tubuh. Menurut para pelatih dan pakar bolabasket jika ingin
mengajarkan teknik kecepatan dribble, maka harus ditinjau kekuatan otot tungkai
dan panjang tungkai. Karena kekuatan otot tungkai dan panjang tungkai
berpengaruh pada prestasi terutama dalam kecepatan dribble. Selain itu juga
perlu diajarkan teknik-teknik yang lain.

299.
7.5.1 Hubungan Kekuatan Otot Tungkai dan Hasil Melakukan
Kecepatan Dribble
300. kecepatan dribble dalam penelitian ini adalah menghitung kecepatan
dribbling seseorang melakukan dribble zig zag dengan jarak yang telah

30

ditentukan. Dari keterangan di atas dapat suatu pengertian bahwa melakukan


kecepatan dribble yaitu dengan dribbling bola melewati lawan yang berusaha
menghadang, sehingga dibutuhkan kekuatan otot tungkai, karena dalam
bolabasket gerakannya dinamis sehingga banyak sekali dribbling bolabasket
dengan melewati lawan dengan cepat.
301. Kekuatan otot tungkai membantu dalam memperkuat daya tolak pada
waktu melakukan dribble sehingga makin mudah dan cepat melakukan dribble
zig zag. Semakin terampil pemain dribbling bolabasket maka semakin sulit
lawan untuk menghalangi seorang pemain dalam melakukan dribbling.

302.
Dribble

7.5.2 Hubungan Panjang Tungkai dan Hasil Melakukan Kecepatan

303.

Panjang

tungkai

merupakan

hal

yang

sangat

berpengaruh dalam dribble bolabasket. Karena panjang tungkai sangat


mendukung terhadap teknik seperti dribble. Agar pemain dapat melakukan
gerakan dribbling dengan terampil dan cepat maka harus ditinjau dari panjang
tungkai pula. Panjang tungkai merupakan salah satu modal utama untuk bisa
melakukan dribbling dengan cepat dan terampil. Jika seseorang tidak memiliki
panjang tungkai yang memumpuni maka secara otomatis akan berpengaruh
pada kecepatan dribble.
304. 7.5.3 Hubungan Antara Kekuatan Otot Tungkai, Panjang Tungkai dan
Hasil Melakukan Kecepatan Dribble
305.

Harsono (1988:204) menjelaskan, komponen fisik beberapa

anggota tubuh yang diperlukan oleh cabang olahraga basket adalah: kekuatan

31

otot bahu, kekuatan dan daya tahan otot lengan, kelentukan, daya tahan,
kelincahan dan kekuatan otot tungkai. Telah dikemukakan bahwa banyak
faktor yang dapat memberikan pengaruh untuk hasil kecepatan dribble,
Kekuatan otot tungkai dan hasil Panjang tungkai merupakan faktor yang
memberikan pengaruh terhadap hasil kecepatan dribble dalam permainan
bolabasket.

32

9. Metode penelitian
9.1 Rancangan Penelitian
306.
Penelitian ini merupakan penelitian dengan korelasi dengan
dua variable bebas yaitu kekuatan otot tungkai, dan panjang tungkai dan satu
variabel terikat yaitu kecepatan dribble. Metode yang digunakan adalah
survey dengan teknik pengumpulan data menggunakan tes dan pengukuran.
Penelitian yang dilakukan merupakan jenis penelitian korelasi. Menurut
Suharsimi Arikunto (1993: 215) penelitian korelasi bertujuan untuk
menemukan ada tidaknya hubungan itu. Adapun desain dalam penelitan ini
sebagai berikut:
307.
308.

X1

309.

X2

310.
311.

Keterangan:

312.

X1= Kekuatan otot tungkai

313.

X2= Panjang tungkai

314.

Y = Kecepatan dribble bolabasket

315.

9.2 Variabel Penelitian


316.
Variabel penelitian merupakan sesuatu yang menjadi objek
sasaran atau titik pandang dari kegiatan penelitian (Suharsimi Arikunto,
2005 : 17).
317.
318.

Dalam penelitian ini terdiri atas dua variabel bebas dan satu

variabel terikat. Setyo Nugroho (1997: 94) menyatakan variabel bebas

33

merupakan variabel eksperimental atau variabel perlakuan yang menjadi


sebab terjadinya perubahan pada variabel terikat. Sedangkan variabel terikat
adalah apa yang diukur dan dipergunakan untuk menilai seberapa besar
pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat, dan ini disebut akibat.
1. Variabel Bebas
319.
Variabel bebas dalam penelitian ini adalah:
a. Variabel bebas 1 atau X1 adalah panjang tungkai, yaitu anggota
gerak bagian bawah yang diukur mulai dari tulang Spina Illiata
Anterior Superior (SIAS) sampai dasar kaki atau permukaan
lantai. Alat ukur berupa pita ukur dengan satuan cm
320.
b. Kekuatan otot tungkai adalah kemampuan sekelompok otot
tungkai

dalam melakukan

usaha

gerak maupun mengatasi

beban. Kekuatan otot tungkai, secara operasional kekuatan otot


tungkai adalah angkatan terbesar yang ditunjukkan jarum pada
leg

dynamometer,

ketika

leg

dynamometer

ditarik

oleh

mahasiswa. Pengukuran yang dilakukan pada kekuatan otot


tungkai

menggunakan

leg

dynamometer,

dengan

satuan

kilogram (Ismaryati, 115).


321.
322.
323.
2. Variabel Terikat
324. Variabel terikat pada penelitian ini adalah kecepatan dribble
menggunakan tes menggiring cepat (dribble zig-zag), Testee menggiring
bola berkelok-kelok melewati kursi yang telah disediakan. Jarak antara
garis start dengan kursi pertama adalah 2 meter, sedang jarak antar kursi

34

1,5 meter. (Imam Sodikun, 1992:128)


325.
9.3 Populasi dan Sample penelitian
326.

9.3.1 Populasi
327.

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek /

subjek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan


oleh peneliti untuk di pelajari kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono,
2011:90) Dalam penelitian ini populasi penelitiannya adalah Mahasiswa
Penjaskesrek angkatan 2014 Universitas Syiah Kuala, yang berjumlah kurang
lebih 80 orang.
328.
9.3.2 Sample
329.
Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti (Suharsimi
Arikunto, 2002:109). Mengenai besar kecilnya sampel dari jumlah populasi
oleh Suharsimi Arikunto (2002:112), bahwa "Apabila subyeknya kurang dari
100, lebih baik diambil semua sehingga penilitiannya merupakan penelitian
populasi. Selanjutnya jika jumlah subyeknya besar dapat diambil antara 1015 % atau lebih tergantung setidak-tidaknya dari :
330.
a) kemampuan peneliti dilihat dari waktu, tenaga, dan dana.
331.
b) sempit luasnya wilayah pengamatan dari setiap subyek.
332.
c) besar kecilnya resiko yang ditanggung oleh peneliti.
333. Sesuai dengan pendapat tersebut maka dalam penelitian ini
sampel yang digunakan adalah Mahasiswa Penjaskesrek angkatan 2014
Universitas Syiah Kuala sebanyak 20 orang.
334.
Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini
adalah purposive sampling. Menurut Sugiyono (2011: 96) purposive
sampling

adalah teknik pentuan sampel dengan pertimbangan tertentu.

beberapa ketentuan yaitu testee berjenis kelamin laki-laki, umur 18-21 tahun.
335.

35

9.4 Tehnik Pengumpulan Data


336.
Pengumpulan data adalah prosedur yang sistematis dan standar
untuk memperoleh data yang diperlukan dalam suatu penelitian, Proses
pengumpulan data ini merupakan rangkaian kegiatan penelitian yang
mempunyai peranan yang sangat penting untuk memperoleh data yang
valid. Dalam penelitian ini pengambilan data penelitian menggunakan tes
9.4.1
a.
b.
c.
d.

yaitu :
Pengukuran Kekuatan Otot Tungkai
337.
Tes Kekuatan Tungkai menurut (Ismaryati, 2008: 115).
Bentuk tes : menggunakan alat leg dynamometer
Tujuan : untuk mengetahui kekuatan otot tungkai
Alat leg dynamometer
Alat tulis.
338.
Peralatan :
1. Leg dynamometer
2. Formulir tes
3. Alat tulis
339.
Pelaksanaan :
340. Tes kekuatan tungkai menggunakan alat leg dynamometer,
dengan cara testee menarik hendel kemudian meluruskan lutut sampai

9.4.2

berdiri tegak. Dilakukan sebanyak 3 kali.


Pengukuran Panjang Tungkai
341. Pengukuran dilakukan terhadap perubahan bebas panjang
tungkai menurut Ismaryati (2006: 100) yaitu dilakukan dengan pita
pengukur atau meteran, satuan pengukuran adalah sentimeter (cm).
342.

Tujuan pengukuran untuk mengukur panjang tungkai mulai

dari pinggang/Spina Illiata Anterior Superior (SIAS) sampai permukaan


1.
2.
3.
4.

lantai. Peralatan:
Pita ukur
Permukaan lantai lurus datar dan rata
Formulir tes
Alat tulis
343.
344.
Pelaksanaan:

36

1. Testi berdiri tegak tanpa alas kaki


2. Kedua tumit sejajar lengan yang menggantung bebas
3. Mengukur dari pinggang sampai permukaan lantai menggunakan pita

9.4.3

ukur.
345.
346.
347.
348.
Pengukuran kecepatan dribble
349.
Tes kecepatan dribble yaitu melakukan dribble zig-zag yang
diukur dengan stopwatch. Peralatan:
1. Bolabasket
2. Stopwatch
3. Kursi/Kerucut
4. Formulir tes

350.
351.
352.

Pelaksanaan:
Testee menggiring bola berkelok-kelok melewati kursi atau

kerucut sesuai dengan arah anak panah. Sesudah melewati kursi terakhir
(keenam) untuk memutarinya dan kembali ke garis finish dengan arah
yang berlawanan. Jarak antara garis start dengan kursi pertama adalah 2
meter,
353.
354.
355.

sedang jarak antar kursi 1,5 meter. Lihat gambar 15

356.
357.
358.
359.
360.
Gambar 15
361.
Tes kecepatan dribble
362.
(Sumber Imam Sodikun, 1992:128)
363.
9.5 Tehnik Analisis Data

37

364.

Untuk mengetahui besarnya sumbangan dari masing-masing

variable bebas (kekuatan otot tungkai dan panjang tungkai) terhadap


variabel terikat (kecepatan dribble). Maka data yang telah diperoleh
melalui

tehnik

pengumpulan

data

harus

dianalisis

dengan

menggunakan pendekatan statistika, adapun langkah-langkah yang


9.5.1

akan dilakukan adalah sebagai berikut:


Perhitungan Nilai rata-rata (Mean)
365. Nilai rata-rata merupakan tiap bilangan yang dapat dipakai
sebagai wakil dari rentetan nilai rata-rata, wujudnya hanya satu bilangan
saja, namun dengan satu bilangan itu akan dapat tercermin gambaran
secara umum mengenai kumpulan atau deretan bahan keterangan yang
berupa angka, jumlah dari keseluruhan angka yang ada, dibagi dengan
banyaknya angka bilangan tersebut. Untuk menentukan nilai mean,
penulis menggunakan rumus yang dikemukakan oleh Sudjana (2005:67)
adapun rumus tersebut sebagai berikut:

366.
367.
368.

9.5.2

X
n

Keterangan:
X
= Nilai rata-rata yang dihitung

369.

370.

= Jumlah skor X

= Jumlah sample penelitian

371.
Perhitungan Standar Deviasi (SD)
372. Standar deviasi merupakan cara untuk mengetahui sebaran
data rata-rata yang telah diteliti, makin kecil ssebarannya berarti nilai data
semakin sama. Standar deviasi dapat dihitung dengan menggunakan

38

rumus yang dikemukakan oleh Sudjana (2005:94) adalah sebagai berikut:


n x 2 ( X ) 2
SD=
n ( n1 )

373.
374.
375.

9.5.3

Keterangan:
SD = Standar Deviasi

376.

x 2 = Jumlah skor X yang dikuadratkan

377.

= Jumlah skor X

378.

= Jumlah sampel penelitian

379.
Perhitungan Nilai T-Score
380. Berdasarkan hasil analisis rata-rata dan standar deviasi,
selanjutnya dapat ditentukan nilai T-score untuk masing-masing variabel
dengan menggunakan rumus

yang dikemukakan oleh Sugiyono

(2010:183) Sebagai berikut:

381.
382.
383.
384.

9.5.4

Tscore

= 50 + 10

( XSDX )

Keterangan:
X = Data mentah
X = Nilai rata-rata yang dihitung

385.
SD = Standar deviasi
386.
Perhitungan Koefisien Korelasi
387. Koefisien korelasi merupakan tehnik yang digunakan untuk
mencari hubungan antara dua variabel. Untuk mencari koefisien korelasi
penulis menggunakan rumus yang dikemukakan Sugiyono (2009:206)
adalah sebagai berikut:

388.
389.
390.
391.
392.
393.

n ( XY ) ( X ) ( Y )

xy = { n X ( X ) 2 }{n Y
2

( Y ) 2 }

Keterangan:
rxy = Koefisien korelasi antara X dan Y
XY = Jumlah skor X dan Y
n = Jumlah sampel penelitian

39

9.5.5

Perhitungan Koefisien Korelasi Ganda


394. Korelasi ganda merupakan angka yang menunjukkan arah dan
kuatnya hubungan antara dua variabel secara bersama-sama dengan
variabel yang lain. Besarnya kontribusi dua variabel X dengan variabel Y,
dapat dihitung dengan menggunakan rumus yang dikemukakan oleh
Sugiyono (2002:218) adalah sebagai berikut:

395.
396.
397.

398.
dengan Y

399.
dengan Y

400.

9.5.6

Ry x1 x 2

Keterangan:
Ry x1 x 2

r 2 y x 1 +r 2 y x 22 r ( ry x1 . ry x 2 ) (r x 1 X 2)
1r 2 x 1 X 2

= Korelasi antara variabel X 1 dengan X2 secara

bersamaan dengan variabel Y


ry x1
= Korelasi product moment antara variabel X1
ry x2
r x1 X 2

= Korelasi product moment antara variabel X2


= Korelasi product moment antara variabel X1

dengan X2
401.
402.
403.
Pengujian Secara Parsial (Uji t)
404.
Uji t digunakan untuk menguji hipotesis secara parsial guna
menunjukkan pengaruh tiap variabel independen secara individu terhadap
variabel dependen. Uji t adalah pengujian koefisien regresi masingmasing

variabel

independen

terhadap

variabel

dependen

untuk

mengetahui seberapa besar pengaruh variabel independen terhadap


variabel dependen. Langkah-langkah pengujian dengan menggunakan Uji
t adalah sebagai berikut:
1) Menentukan tingkat signifikansi sebesar = 5%
405.
Tingkat signifikansi 0.05% atau 5% artinya kemungkinan

40

besar hasil penarikan kesimpulan memiliki profitabilitas 95% atau


toleransi kesalahan 5%.
2) Menghitung Uji t
t hitung =r n2
406.

1r 2

407.
408.
409.
410.

Keterangan:
r = Koefisien korelasi
n = Jumlah sampel

411.
3) Kriteria Pengambilan Keputusan
a. H0 ditolak jika t statistik < 0,05 atau t hitung > t tabel
b. H0 diterima jika t statistik > 0,05 atau t hitung < t tabel
412.
nilai t tabel didapat dari : df = n-k-1
413.
keterangan :
414.
n : jumlah observasi
415.
k : variabel independen
9.6 Waktu Penelitian dan Tempat Penelitian
416.

Waktu merupakan seluruh rangkaian saat ketika proses,

perbuatan, atau keadaan berada atau berlangsung dan tempat merupakan


lokasi dimana suatu aktifitas dilakukan, Waktu dan tempat penelitian ini
dilaksanakan pada bulan april tahun 2016, yang bertempat di lapangan
basket gelanggang unsyiah.

10. Daftar Pustaka


417.
Ambler, Vic. 1982. Petunjuk Untuk Para Pemain dan
Pelatih Bola basket. Bandung : CV. Pionner.
418.
Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur
Penelitian Suatu Pendekatan Praktek.Jakarta : PT Rineka Cipta.
419.
A.Sarumpaet, dkk. 1992. Permainan Besar.
Jakarta: Dirjen Dikti Proyek Pembinaan Tenaga Kependidikan.
420.
Collins, D.Ray. 1978.
A Comprehensive Guide
to Sport Skills Tests and Measurement. U.S.A. Charles C. Thomas Publesher.

41

421. Depdiknas. 2005. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai


Pustaka.

422.

423.
Hadi, Rubianto. 2006.
Belajar
Motorik.
Semarang: Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Semarang.
424. Hadi, Sutrisno. 2000. Statistik Jilid 2. Yogyakarta: Andi Offset.
425. Irsyada, Machfud. 2000. Bola Basket. Jakarta: Depdikbud Dirjen
Pendidikan Dasar dan Menengah.
426.
PB. PERBASI. 2004.
Peraturan
Resmi Permainan Bolabasket
. Jakarta :
PB PERBASI.
427.
PB. PERBASI. 2006. Bolabasket Untuk Semua
Buku Pegangan Bagi Pecinta Bolabasket. Jakarta : PB PERBASI.
428. Sudjana. 2005. Metoda Statistika. Bandung : TARSITO.
429. Sukintaka. 1979. Permainan dan Metodik. Bandung : TARATE.
430.
Sumiyarso, Dedy. 2002. Ketrampilan
Bolabasket.
Yogyakarta: Fakultas Ilmu Keolahragaan
Universitas Negeri Yogyakarta.

431.
432.

433.
Sodikun, Imam. 1992.
Olahraga
Pilihan
Bola Basket
. Jakarta : Depdikbud Dirjen Dikti Proyek Pembinaan
Tenaga Kependidikan.
434.
435.
436.
Wissel, Hal. 2000. Bola Basket Dilengkapi Dengan
Program Pemahiran Teknik Dan taktik. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.
437.

438.
439.
440.

441.
442.
443.
444.
445.