Anda di halaman 1dari 49

KEBIJAKAN KEMENKES REPUBLIK INDONESIA

TENTANG :
PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN INFEKSI
DI RUMAH SAKIT MELALUI CSSD*)

Disampaikan Pada Pelatihan CSSD (Central Sterilized Supply Dept )


Jakarta, 20 24 April 2015

Paradigma Baru Pelayanan


Kesehatan

Patient Loyalty ( kesetiaan pasien )


Patient Satisfaction ( kepuasan
pasien )
Patient Safety( keselamatan pasien)

Service
excellent/
Performance

kecepatan tindakan
Ketepatan diagnosis

Keterpaduan
Keakuratan
Kenyamanan

SDM
Yang kompeten dan efektif

Corporate &
Clinical
governance

PATIENT SAFETY (Keselamatan Pasien)


Suatu sistem dimana RS membuat
asuhan pasien lebih aman, mencegah
terjadinya cedera yang disebabkan oleh
kesalahan akibat melaksanakan suatu
tindakan atau tidak mengambil tindakan
yang seharusnya diambil.
(Rebecca Carol, Risk Man.HCO,2004)

Service Provider

TUJUAN PATIENT SAFETY

Tercipta budaya keselamatan pasien di RS

PATIENT
SAFETY

Meningkatnya akuntabilitas RS
terhadap pasien dan masyarakat
Menurunnya KTD di RS

Terlaksananya program pencegahan


sehingga tidak terjadi pengulangan KTD

LATAR BELAKANG PENCEGAHAN &


PENGENDALIAN INFEKSI
Tingginya angka infeksi nosokomial

ILO (Infeksi Luka Operasi) : 18,9%,


ISK (Infeksi Saluran Kemih) : 15,1%,
IADP (Infeksi Aliran Darah Primer) : 26,4 %,
Pneumonia : 24,5 %,
Infeksi Saluran Napas lain : 32,1%.

(Survey Perdalin Jaya dan RSPI Sulianti Saroso di 11 RS di DKI tahun


2003)

Peningkatan kasus infeksi (new emerging,

emerging dan re-emerging diseases), Wabah


atau KLB.
5

DASAR HUKUM
SK Menkes No 270/MENKES/2007 tentang

Pedoman Manajerial PPI di RS dan


Fasilitas Kesehatan lainnya
SK Menkes No 382/Menkes/2007 tentang

Pedoman PPI di RS dan Fasilitas


Kesehatan lainnya
SK Menkes No. 129/Menkes/SK/II/2008 ttg

Standar Pelayanan Minimal Rumah Sakit


SK Menkes 1165.A./Menkes/SK/X/2004 ttg

Komisi Akreditasi Rumah Sakit


6

PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN


INFEKSI

Yaitu kegiatan yang meliputi perencanaan,


pelaksanaan, pembinaan, pendidikan dan
pelatihan serta monitoring evaluasi untuk
meminimalkan risiko terjadinya infeksi di
rumah sakit.
(Healthcare Associated Infection/ HAIs).

TUJUAN PENCEGAHAN DAN


PENGENDALIAN INFEKSI
Meningkatkan mutu layanan rumah sakit
Meningkatkan kepercayaan masyarakat

terhadap layanan rumah sakit

Terciptanya budaya SADAR AKAN

AKIBAT DARI INFEKSI.

CSSD sebagai salah satu unit dengan


kegiatan yang saling terkait dan saling
medukung dalam memutus mata rantai
infeksi pada program PATIENT SAFETY
8

KEBIJAKAN KEMENTERIAN KESEHATAN


DLM PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN
INFEKSI (PPI)
1. Setiap RS dan fasilitas kesehatan
lainnya harus melaksanakan PPI sesuai
SK Menkes No. 270/MENKES/2007
2. Pelaksanaan PPI sesuai dengan
Pedoman Manajerial PPI di RS dan
pedoman PPI lainnya dari DepKes.
3. Direktur RS membentuk Komite PPI dan
Tim PPI yang langsung berada dibawah
koordinasi direktur.

KEBIJAKAN .............
Komite dan Tim PPI mempunyai tugas,

fungsi dan wewenang yang jelas.


Untuk lancarnya kegiatan PPI, maka setiap

RS wajib memiliki IPCN.

RS diwajibkan memiliki IPCN yang bekerja


purna waktu, ratio 1 (satu) IPCN : < 150 TT
IPCN dapat dibantu beberapa IPCLN
(Infection Prevention and Control Link
Nurse) dari tiap Unit.

10

STANDAR PELAYANAN MINIMAL


SK Menkes No. 129/Menkes/SK/II/2008
tentang SPM RS :
1.Tersedianya anggota Tim PPI yang terlatih
(standar 75%)

2.Tersedianya Alat Pelindung Diri (standar 60%)


3.Terlaksananya kegiatan pencatatan &
pelaporan infeksi nosokomial di RS
(standar 75%)

11

AKREDITASI KARS (versi 2012)


TENTANG PPI MENGACU JCI
Standar KARS Bab II Tentang PPI :

Standar PPI. 1 :
Satu atau lebih individu mengawasi keseluruhan kegiatan PPI.
Kompetensi petugas diperoleh melalui pendidikan, pelatihan,
pengalaman dan sertifikasi.

Standar PPI.2 :
Ada penetapan mekanisme koordinasi utk seluruh kegiatan PPI,
melibatkan dokter, perawat dan tenaga lainnya sesuai
kompleksitas RS.

Standar PPI 3 :
Program PPI berdasarkan IPTEK terkini, pedoman
praktek, standar sanitasi dan UU yang berlaku.
12

AKREDITASI KARS (versi 2012)

Standar PPI. 4 :
Pimpinan RS menyediakan sumber daya yang cukup untuk
mendukung Program PPI (man, money, material, methode).

Standar PPI.5, 5.1 :


RS menyusun dan menerapkan program yang komprehensif untuk
mengurangi risiko infeksi terkait yankes pada pasien dan tenaga
kesehatan ; penyebaran infeksi dari pasien petugas/ dari petugas ke
pasien)

Standar PPI 6 :
RS menggunakan pendekatan berdasar risiko dalam menentukan
fokus program PPI adalah pencegahan, pengendalian dan
pengurangan infeksi (ISK, VAP dekubitus, dll)
13

AKREDITASI KARS (versi 2012)

Standar PPI. 7.4 :


RS mengurangi risiko infeksi melalui pengendalian makanan,
mekanik dan permesinan.

Standar PPI.7.5 :
RS mengendalikan risiko infeksi selama pembangunan/ renovasi.

Standar PPI 8 :
RS menyediakan penghalang (barrier precaution) dan isolasi untuk
melindungi pasien.

Standar PPI 9 :
Sarung tangan, masker, proteksi mata dan peralatan proteksi
lainnya, sabun dan desinfektan tersedia

Dst........
14

Central Sterilized Supply Department (CSSD)

Suatu unit yang bertanggung jawab atas


penyelenggaraan proses pencucian atau
dekontaminasi, pengepakan, sterilisasi,
penyimpanan dan distribusi alat-alat
perlengkapan bedah dari unit yang
menyelenggarakan pembedahan atau
unit lain yang memerlukan peralatan
steril.

FUNGSI CSSD

Merencanakan, mengkoordinir, melaksanakan


dan mengawasi serta mengevaluasi kegiatan
sterilisasi.

Menyediakan dan mendistribusikan peralatan


steril keseluruh unit RS yang membutuhkan.

Melakukan inventarisasi peralatan bedah dan


peralatan lainnya milik CSSD yang digunakan
oleh unit lain untuk disterilkan/ digunakan
kembali

PERAN CSSD
Pendukung

utama pelayanan paripurna,


bermutu, biaya terjangkau di RS
Pemutus mata rantai infeksi di rumah
sakit/ pelayanan kesehatan lain.
Strategic Business Unit berfungsi sebagai
Revenue Center

17

PENGEMBANGAN CSSD

Perlu standarisasi dalam setiap tahapan


prosedur agar berkualitas
Dapat memiliki satelit sesuai perkembangan RS
Bagan organisasi yang jelas, menggambarkan
alur tanggung jawab & komunikasi dg unit yg
memerlukan pelayanan sterilisasi.
Tenaga CSSD harus terlatih & memahami
dekontaminasi, pembersihan, disinfeksi,
sterilisasi dan menguasai kompleksnya cara
kerja alat dan mesin
Perlu professionalisme: membutuhkan tenaga
dgn sertifikasi dan registrasi Modul pelatihan
18

PENGEMBANGAN.......
CSSD membutuhkan :
Lokasi strategis
Ruangan tersendiri
Pendingin / AC
Penerangan yang cukup
Sarana yang memadai
Team Work dgn Tim Pencegahan dan
Pengendalian Infeksi
Kompetensi petugas.
19

PROGRAM CSSD
Advokasi pada pembuat kebijakan, tentang
pentingnya prinsip PPI, yaitu kewaspadaan
universal dan kewaspadaan penularan /
transmisi
Terlibat aktif dalam pembentukan Tim
Pencegahan dan Pengendalian Infeksi di
RS
Mengembangkan pedoman tentang
Pelayanan CSSD
Melaksanakan pelatihan CSSD pelatihan
dpt dilakukan oleh Depkes, Dinkes, in house
20
training RS

Patient Safety
.Aman bukanlah pilihan. Itu
adalah hak setiap pasien yang
mempercayakan perawatan
mereka untuk sistim perawatan
kesehatan kita
Sir Liam Donaldson,
Chair, WHO World Alliance for Patient Safety
Forward Programme, 2006-2007

KESIMPULAN
CSSD,

sebagai pusat sterilisasi merupakan pemutus


mata rantai infeksi.
Keberhasilan patient safety salah satunya
dipengaruhi oleh peran CSSD dan kegiatan PPI lain
terutama kewaspadaan universal.
PPI dan Patient Safety merupakan salah satu
indikator Akreditasi RS yang harus dipenuhi RS
untuk meningkatkan mutu layanan.
Komitmen direktur/ pimpinan RS merupakan faktor
berdaya ungkit tinggi dalam keberhasilan PPI di RS
(penyediaan SDM, Sarana Prasarana, Dana dan
Fasilitas lain).
22

PROFIL PERSATUAN INSTALASI PUSAT


STERILISASI INDONESIA (PIPSI)

Pada dasarnya CSSD sudah dikenal di


tiap-tiap rumah sakit Indonesia,
tetapi yang jadi perhatian kita adalah
belum adanya keseragaman
bagaimana manajemen pelayanan
CSSD yang baik itu dilaksanakan
sesuai standar-standar yang baku
ditiap-tiap rumah sakit, sehingga :

1. Pada tahun 1983 Ka.Instalasi


Sterilisasi Sentral RSAB
memprakarsai mengundang para
ka.Instalasi/manager/Penanggung
jawab CSSD seluruh rumah sakit
jakarta berkumpul di RSAB Harapan
Kita, dan memutuskan membentuk
Himpunan Pusat Sterilisasi jakarta,
dan telah disyahkan pada saat itu
oleh Direktur RSAB Harapan Kita,
yaitu : dr.Herman Soesilo,MPH.

2. Pada tahun 1986 diadakan


pertemuan kembali antara
Ka.Instalasi / Manager / penanggung
Jawab CSSD yang dihadiri oleh
beberapa rumah sakit yang ada di
Indonesia termasuk RSUD dan RS
Swasta dan memutuskan kembali
dengan nama Perkumpulan CSSD
3. Pada tahun 1990 para Ka.Instalasi /
Manager / penanggung Jawab CSSD
mengadakan pertemuan kembali dan
memutuskan membentuk Asosiasi

4. Dari anekaragam kelompok pengelola


CSSD yang ada, maka ada ada beberapa
nama persatuan CSSD, antara lain :
a. Himpunan Pusat Sterilisasi jakarta
b. Ikatan Pekerja CSSD Jawa barat
c. Ikatan pekerja CSSD Indonesia RS
Swasta
d. Persatuan pekerja CSSD Jakarta
e. Ikatan Pekerja CSSD RS ABRI
f. Perkumpulan Pekerja CSSD BUMN dan
RSUD

5. Pada tanggal 24 Agustus 2006 jam 23.45


dihotel Vidi I dan Hotrel Ichiro kencana
Yogyakarta, yang dihadiri para peserta dari
seluruh propinsi di Indonesia dan berbagai
rumah sakit pemerintah, BUMN dan rumah
sakit swasta serta RS ABRI yang mewakili
para pekerja CSSD dari seluruh rumah
sakit, dipandang perlu untuk memfasilitasi
keinginan-keinginan para pekerja / para
pengelola untuk membuat satu
perkumpulan atau himpunan atau
persatuan pekerja CSSD Indonesia.

6. Untuk memfasilitasi keinginankeinginan


paraKa.Instalasi/Manager/pengelola/
pelaksana kegiatan CSSD, maka
terbentuklah nama, Yaitu :
a. IPCSSD (Ikatan pekerja Central
Sterile
Supply Department Indonesia)
b. HPCSSDI (Himpunan pekerja
Central
Sterile Supply Department
Indonesia).

d. P3SSDI (Perkumpulan Pekerja Pusat Sterilisasi


Supply Department Indonesia)
e. HIPPSI (Himpunan Pekerja Pusat Sterilisasi
Indonesia)
f. HIPIPSI (Himpunan Pekerja Instalasi Pusat
Sterilisasi Indonesia/CSSD).

Sehingga pada saat itu diputuskan bahwa


nama yang akan diperguanakan adalah HIPIPSI
( Himpunan Pekerja instalasi Pusat Sterilisasi
indonesia)
Tetapi dengan perjalanan waktu dan sesuai
dengan Petunjuk dari Kementerian kesehatan
Republik Indonesia melalui Direktur Bina
pelayanan medik Spesialistik yang semuala
HIPIPSI dirubah menjadi PIPSI yaitu kepanjangan
dari Persatuan Instalasi Pusat sterilisasi
Indonesia dan berlaku hingga saat ini sesuai
dengan akta notaris 104 A Tanggal 19 Juni 2010.

HASIL RAPAT KERJA NASIONAL


ANGGOTA PIPSI 2010
PELAKSANAAN RAKER :
HARI / TANGGAL : RABU, 28 JULI 2010
TEMPAT
: HOTEL PURI DENPASAR,
JL.Denpasar Selatan No.1.Jakarta
selatan JL.Denpasar Selatan
No.1.Jakarta
selatan.
Jam
: 15.00 WIB s/d 21.00.WIB
Peserta
: Perwakilan pengelola CSSD RS yang
ada di pusat , propinsi maupun Daerah

MEMUTUSKAN :
1. Membentuk Tim Revisi Anggaran
Dasar
dan Anggaran Rumah Tangga
Persatuan
Instalasi Pusat Sterilisasi Indonesia
(PIPSI). (terlampir)
2. Bersama-sama Anggota PIPSI yang
hadir
pada Rapat Kerja Nasional tersebut
melakukan
Revisi Anggaran Dasar dan Anggaran
Rumah

3. Membentuk kepengurusan
Persatuan Instalasi Pusat Sterilisasi
Indonesia (PIPSI) yang baru
ditingkat Pusat (struktur organisasi
terlampir)
4. Mengesahkan hasil Revisi Anggaran
Dasar dan Anggaran Rumah Tangga
dan Struktur Organisasi PIPSI yang
baru ditingkat pusat.
5. Mensosialisasikan hasil Rapat Kerja
Nasional PIPSI, dengan cara
mengirimkan hasil pembahasan
tersebut ke Anggota PIPSI seluruh
Indonesia.

TIM PERUMUS REVISI ANGGARAN DASAR DAN ANGGARAN


RUMAH TANGGA PERSATUAN INSTALASI PUSAT STERILISASI
INDONESIA (PIPSI) 2010

KETUA
Sekretaris

: Drs.HE.Taufik Hidayat,SH
: Udarto,SE,ST,MM,MBA.,
Budhi Vipyana,SKM,
Dra.Dwi Permatasari
Bendahara
:
Dra.Indarwati,Apt.,
Chartini,AM.Keb.
Bidang Organisaasi :
Dr.Linda indrayani,Mars.,
dan Humas
Ns.Muji Utami,SKP.,
Dwi Estri Utami,SKP.
Bidang Ilmiah
:
Sriyati,AMK,CVRN.,
Betty Farida,SKM.,
DR.V.Linda W.SPB,0T,M.Kes.
Bidang Hukum
:
Zulkifli Nasution, SH.,
Dadan Darmawan,SH
Erlina MD,SE.,SH.,M.HUM
Bidang Pelatihan : Dr.Rizky Rosidah,M.KES.,
dan Pendidikan
Yayat Supriyatna, skp,M.KES.
Tri Heni S,AMK.