Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN

Akhir-akhir ini pemeriksaan melalui penggalian kubur semakin sering dilakukan.


Pemeriksaan

korban

pembunuhan

masal

kadang-kadang

perlu

dilakukan

untuk

membuktikan adanya pelanggaran hak asasi manusia, korban Tsunami di Thailand yang
tidak lama sesudah dikubur, digali dan diperiksa kembali untuk memastikan identitas
korban. Bagaimana pun secara hukum diperlukan kepastian bahwa seseorang (korban) telah
mati. Bila berkaitan dengan klaim asuransi jiwa misalnya, tentu harus ada bukti dari dokter
bahwa pemegang polis telah meninggal, namun bila jumlah korban begitu besar seperti yang
terjadi di Nanggroe Aceh Darussalam akan sulit juga untuk membuktikan siapa-siapa yang
telah meninggal.1
Untuk korban yang dikubur secara diam-diam, bukanlah hal yang aneh kalau harus
diperiksa untuk proses penyidikan. Dapat juga terjadi korban yang telah diperiksa melalui
autopsy kemudian harus digali dan diperiksa kembali. Kasus Marsinah yang terkenal di
Indonesia, atau kasus Contemplation, tenaga kerja warga Filiphina yang meninggal di
Singapura, terpaksa diperiksa ulang melalui penggalian mayat. Pada kasus Marsinah
penggalian kubur dilakukan sampai 2 kali. Bagi dokter, pemeriksaan mayat melalui
penggalian mayat ini betul-betul merupakan tantangan yang berat, sehingga pada umumnya
mereka akan merujuk ke bagian kedokteran kehakiman di rumah sakit terdekat. Sebetulnya
setiap dokter dimanapun berada harus sanggup melakukan pemeriksaan ini, yang diperlukan
dokter di daerah dalam hal penggalian mayat ini sesungguhnya hanya ketabahan melakukan
pemeriksaan, karena umumnya mayat masih sangat bau. Pada penggalian mayat di daerah
perlu kesepakatan dokter dengan penyidik apakah pemeriksaan korban dapat dilakukan
dokter setempat atau dirujuk ke dokter spesialis forensik.1
Dalam beberapa tahun terakhir ini, kita seringkali membaca berita mengenai
peristiwa kejahatan, misalnya kasus penganiayaan, pembunuhan, dan kematian mendadak.
Di masyarakat, kerap terjadi peristiwa pelanggaran hukum yang menyangkut tubuh dan
nyawa manusia. Untuk pengusutan dan penyidikan serta penyelesaian masalah hukum ini di
tingkat lebih lanjut sampai akhirnya pemutusan perkara di pengadilan, diperlukan bantuan

berbagai ahli di bidang terkait untuk membuat jelas jalannya peristiwa serta keterkaitan
antara tindakan yang satu dengan yang lain dalam rangkaian peristiwa tersebut.
Pada tingkat penyelidikan sebetulnya penegak hukum belum tahu sama sekali apakah suatu
peristiwa (misalnya ditemukannya mayat di pantai atau di suatu gudang) merupakan
peristiwa pidana atau bukan. Oleh sebab itu, perlu dilakukan penyelidikan dan dalam rangka
itu penyelidik dapat meminta bantuan dokter, dalam kapasitasnya sebagai ahli.2

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Penggalian Kuburan (Exhumation)


2.1.1 Pengertian
Penggalian jenazah (exhumation) adalah pemeriksaan terhadap mayat yang
sudah dikuburkan. Ex dalam bahasa latin berarti keluar dan humus berarti tanah, jadi
exhumation berarti mengeluarkan mayat yang sudah dimakamkan untuk dilakukan
pemeriksaan yang sah secara hukum. Pada umumnya penggalian mayat dilakukan
karena setelah beberapa waktu mayat dikubur, timbul kecurigaan korban mati secara
tidak wajar., laporan tentang terjadinya pembunuhan terlambat disampaikan karena
penyidik, masalah buta hukum, masalah transportasi atau karena adanya dugaan yang
tidak tepat tentang pemeriksaan mayat yang telah dilakukan sebelumnya. 1
Pemeriksaan ini pasti mengundang pekerjaan lebih berat bukan saja untuk
dokter, tetapi juga penyidik terlebih lagi keluarga korban. Demi mencari kebenaran
dan fakta-fakta baru dari apa yang terjadi pada korban, exhumation harus dilakukan
untuk menelusuri kecurigaan yang timbul.1
2.1.2 Tujuan penggalian mayat
Ada beberapa kemungkinan kenapa

harus ditempuh. Biasanya berkaitan

dengan perkara tindak pidana, dimana diperlukan keterangan mengenai penjelasan


yang masih kabur bagi penyidik dan badan lain (misalnya asuransi), seperti:
1.

2.

3.

4.

Penguburan mayat secara ilegal untuk menyembunyikan kematian atau karena


alasan-alasan kriminal
Pada kasus dimana sebab kematian yang tertera dalam surat kematian tidak jelas
dan menimbulkan pertanyaan, seperti keracunan dan gantung diri.
Pada kasus dimanan identitas mayat yang dikubur tidak jelas kebenarannya atau
diragukan
Pada kasus kriminal

untuk menentukan penyebab kematian yang diragukan,

misalnya pada kasus pembunuhan yang ditutup-tutupi seakan-akan bunuh diri.1


2.1.3 Penetapan waktu

Pada kasus dimana penguburan baru dilakukan, maka pemeriksaan harus segera
dilakukan, tetapi bila penguburan sudah satu bulan atau lebih maka penggalian mayat
dapat ditunda untuk mencari waktu yang tepat dan persiapan yang diperlukan, sebab
penundaan tidak akan membawa pengaruh buruk terhadap pemeriksaan, apalagi kalau
yang tertinggal diduga hanya tulang belulang saja.1
Mengenai pelaksanaan penggalian mayat sebaiknya dilakukan pada pagi hari untuk
mendapatkan cahaya yang cukup terang, udara masih segar, matahari belum terlalu terik
dan terlebih penting lagi menghindari kerumunan masyarakat yang sering mengganggu
pemeriksaan. Bila tidak memungkinkan dilakukan pada pagi hari, pemeriksaan dapat
dilakukan pada siang hari dalam cuaca yang baik. Penggalian mayat pada sore hari
sebaiknya dihindari, karena bila berlangsung lama bisa masuk ke malam hari.1
2.1.4 Persiapan penggalian jenazah
Dokter harus mendapat keterangan yang lengkap tentang peristiwa kematian atau
modus operandi kejahatan, supaya dokter dapat memusatkan perhatian dan pemeriksaan
kepada hal yang dicurigai. Begitu pula sebelum penggalian dilakukan, identitas mayat
harus telah diberikan kepada dokter, terutama mengenai jenis kelamin, umur, panjang
badan, warna atau panjang rambut, keadaan gigi geligi, tato kalau ada, cacat didapat atau
bawaan dan lain-lain.
Biasanya pemeriksaan dilakukan di tempat, mayat tidak dibawa ke rumah sakit,
hanya pada keadaan tertentu saja mayat harus dibawa ke rumah sakit untuk pemeriksaan.
Oleh karena itu, perlengkapan autopsy harus dibawa ke lokasi, termasuk ember, toples
bersih yang belum dipakai, alkohol 95 % sebanya 2 liter atau lebih, formalin 10 %
sebanyal 1 liter, kantong plastik untuk membawa sampel tanah, sabun, kapas dan kain
kasa. Sementara itu di lokasi sudah disediakan tenda lengkap dengan dinding penutup,
meja pemeriksaan, air, wadah dan perlengkapan pengangkatan mayat.1
2.1.5 Pelaksanaan penggalian jenazah
Pada saat pelaksanaan penggalian mayat haruslah hadir:
a. Penyidik/ polisi beserta pihak keamanan
b. Pemerintah setempat/ pemuka masyarakat
c. Dokter beserta pembantunya
d. Keluarga korban/ ahli waris korban
e. Petugas pemakaman/ penjaga kuburan
f. Penggali kuburan

Daerah di sekitar penggalian mayat haruslah dijaga oleh petugas kepolisian, oleh
karena kemungkinan dapat menimbulkan gangguan pada waktu penggalian dan
pemeriksaan berlangsung.
Pertama tentu diperlukan pengenalan dan pemastian dimana korban dikubur,
sehubungan dengan hal ini peranan petugas pemakaman atau penjaga kuburan dan
keluarga korban sangatlah penting agar tidak salah dalam melakukan pembongkaran
kuburan. Setelah identifikasi kuburan sudah jelas dan tepat, barulah kuburan digali oleh
petugas penggali kuburan, setelah peti tampak, lalu diukur jaraknya dari atas permukaan
tanah sampai ke peti. Panjang, lebar dan tinggi peti tersebut diukur dan diidentifikasi oleh
keluarga korban.1

Gambar 1. Mayat yang dilakukan Exhumation5


2.1.6 Pemeriksaan Jenazah
Sebaiknya pemeriksaan mayat dilakukan di tempat penggalian tersebut. Hal ini
mengingatkan masalah transportasi, waktu yang terbuang. Pemeriksaan mayat yang
dilakukan di tempat penggalian juga mempermudah petugas untuk tempat melaksanakan

penguburan kembali, dan hal ini sangat diharapkan oleh pihak keluarga atau ahli waris
korban.
Pemeriksaan di kamar mayat memang lebih baik, dalam arti pemeriksaan dapat
dilakukan dengan tenang tanpa harus ditonton oleh masyarakat banyak sebagaimana bila
dilakukan di tempat penggalian mayat. Dengan demikin pemeriksaan di kamar mayat
diharapkan dapat dilakukan dengan lebih teliti. Petugas pemeriksa mayat haruslah
memakai masker yang telah dicelup ke dalam larutan potassium permanganas dan
memakai sarung tangan yang tebal.
Peti dibuka, mayat dikeluarkan dari peti dan diletakkan di atas meja pemeriksaan
yang telah disediakan sebelumnya di pinggir kuburan. Bila kematian korban diduga
karena keracunan, maka tanah di sekeliling mayat diambil sebanyak 500 gram dari
kekempat sisi mayat dan tanah yang setentang dengan lambung mayat (di bawah
lambung). Tanah di sekitar kuburan diambil sebagai control dan dimasukkan ke dalam
kantong plastic yang bersih dan kering untuk pemeriksaan laboratorium. Bila mayat telah
mengalami pembusukkan dan mengeluarkan cairan, maka kain pembungkus mayat harus
diambil juga untuk pemeriksaan laboratorium, terutama kain yang setentang daerah
punggung mayat.
Pemeriksaan pertama ditujukan pada daerah leher, untuk menentukan apakah ada
tanda-tanda kekerasan seperti dicekik, penyeratan atau tergantung. Perhatikan dan cari
apakah ada fraktur tulang lidah. Periksa seluruh tubuh untuk mencari kemungkinan
adanya tanda-tanda kekerasan seperti hematom, luka atau patah tulang. Jangan lupa untuk
mengenal adanya bau yang tidak lazim seperti keracunan insektisida dan lain-lain.
Bila mayat sudah hancur semuanya, maka setiap organ yang masih tinggal harus
diambil untuk pemeriksaan laboratorium. Jika organ dalam tidak dijumpai lagi maka
diambil rambut, gigi, kuku, tulang dan kulit korban yang kemudian dikumpulkan untuk
pemeriksaan lebih lanjut.
Pada kasus keracunan Arsen dan logam berat lainnya, selain tanah harus juga
diambil rambut, kuku dan tulang-tulang panjang untuk pemeriksaan laboratorium.
Perlu diingatkan, dalam pemeriksaan tubuh mayat tidak boleh disirami desinfektan
meskipun resiko penularan dari bakteri-bakteri patogen besar sekali. Tindakan ini dapat
merusak bahan-bahan pemeriksaan, terutama pada kasus-kasus keracunan. Perlu
diketahui bahwa mayat yang baru dikubur lebih berbahaya dari mayat yang sudah
mengalami pembusukan lanjut dalam penularan penyakit.

Sebelum mayat dikubur kembali, terlebih dahulu pastikan bahan-bahan yang


diperlukan sudah cukup untuk menghindari penggalian ulang, karena lebih baik
mengambil bahan yang lebih daripada kekurangan.
Dalam banyak kasus dokter masih berhasil menentukan identifikasi dan sebab
kematian, kadang-kadang masih dapat melihat sisa-sisa kekerasan pada tulang seperti
fraktur atau retak tulang dan beberapa jenis racun mungkin masih bisa didapat.1
2.1.7 Dasar Hukum Penggalian Jenazah
Identifikasi kuburan harus dilakukan dengan perencanaan dan dicatat segala
sesuatunya atas ijin petugas pemakaman dan pihak yang berwenang. Prosedur penggalian
mayat di atur dalam KUHAP dan memerlukan surat permintaan pemeriksaan dari penyidik.
Di samping itu, masih diperlukan persiapan lain yaitu koordinasi dengan pihak pemerintah
daerah (Dinas Pemakaman), untuk memperoleh bantuan penyediaan tenaga para penggali
kubur, juga perlu dipersiapkan kantong plastic besar untuk jenazah serta kantong plastic
untuk wadah /sampel pemeriksaan laboratorium1.
KUHAP Pasal 135
Dalam hal penyidik untuk kepentingan peradilan perlu melakukan penggalian mayat,
dilaksanakan menurut ketentuan sebagaimana dimaksud dalam pasal 133 ayat 2 dan pasal
134 ayat 1 undang-undang ini. Dalam penjelasan pasal 135 KUHAP ini lebih lanjut disebut
: yang dimaksud dengan penggalian mayat termasuk pengambilan mayat dari semua jenis
tempat dan penguburan.1
KUHAP Pasal 133 ayat 2
Permintaan keterangan ahli sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 dilakukan secara tertulis,
yang dalam surat itu disebutkan dengan tegas untuk pemeriksaan luka atau pemeriksaan
mayat dan atau pemeriksaan bedah mayat. 1
KUHAP Pasal 134 ayat 1
Dalam hal sangat diperlukan dimana untuk keperluan pembuktian bedah mayat tidak
mungkin lagi dihindari, penyidik wajib memberitahukan terlebih dahulu kepada keluarga
korban. Mengenai biaya untuk kepentingan penggalian mayat, bila merujuk ke dalam
ketentuan hukum KUHP dinyatakan ditangguang oleh Negara, walaupun dalam
pelaksanaannya ada ketegasan dan kejelasan.1

KUHAP Pasal 136


Semua biaya yang dikeluarkan untuk kepentingan pemeriksaan sebagaimana dimaksud
dalam bagian kedua BAB XIV ditanggunga oleh Negara.1
KUHAP Pasal 7 ayat 1
Mendatangkan orang ahli yang diperlukan dalam hubungannya dengan pemeriksaan
perkara.
KUHAP Pasal 180
(1) Dalam hal diperlukan untuk menjernihkan duduknya persoalan yang timbul di sidang
pengadilan, hakim ketua sidang dapat minta keterangan ahli dan dapat pula minta agar
diajukan bahan baru oleh yang berkepentingan.
(2) Dalam hal timbul keberatan yang beralasan dari terdakwa atau penasihat hukum
terhadap hasil keterangan ahli sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) hakim memerintahkan
agar hal itu dilakukan penelitian ulang.
(3) Hakim karena jabatannya dapat memerintahkan untuk dilakukan penelitian ulang
sebagaimana tersebut pada ayat (2). Bagi yang menghalang- halangi atau menolak bantuan
pihak pengadilan dapat dikenakan sanksi hukum seperti tercantum dalam pasal 222 KUHP.
KUHP pasal 222
Barang siapa dengan sengaja mencegah, menghalangi, atau menggagalkan pemeriksaan
mayat untuk pengadilan dihukum dengan penjara selama-lamanya 9 bulan atau denda
sebanyak- banyaknya tiga ratus ribu rupiah.1

2.2 Pemeriksaan di TKP


2.2.1 Pengertian
Tempat Kejadian Perkara (TKP) adalah tempat-tempat lain dimana barangbarang bukti atau korban yang berhubungan dengan tindak pidana tersebut dapat
diketemukan. Meskipun kelak terbukti bahwa di tempat tersebut tidak pernah terjadi
suatu tindak pidana, tempat tersebut tetap disebut sebagai TKP.2
2.2.2 Manfaat Pemeriksaan TKP
Pemeriksaan dokter di TKP atas diri korban, bertujuan untuk mendapatkan data
yang akurat dalam waktu singkat dan melakukan beberapa tes lapangan yang berguna
bagi pihak penyidik agar ia dapat melakukan strategi serta langkah yang tepat untuk

dapat membuat jelas dan terang suatu perkara pidana yang menyangkut tubuh
manusia. Bantuan dokter di TKP adalah melakukan pemeriksaan yaitu berupa
pemeriksaan korban, dan pengolahan TKP, yang meliputi pengamanan TKP,
pembuatan sketsa dan pemotretan, dan pengumpulan barang bukti. Adapun manfaat

a.

dari dilakukan pemeriksaan TKP adalah sebagai berikut:


I. Menentukan saat kematian
Lebam mayat (Livor mortis)
Nama lain ligor mortis adalah lebam mayat, post mortem lividity, post
mortem hypostatic, post mortem sugillation, atau vibices. Setelah kematian
klinis maka eritrosit akan menempati tempat terbawah karena gaya tarik bumi
(gravitasi), mengisi vena dan venula, membentuk bercak berwarna merah ungu
(livide) pada bagian terbawah tubuh, kecuali pada bagian tubuh yang terkena
alas

keras.

Darah

tetap

cair

karena

adanya

pembuluh

darah.

Livor mortis biasanya muncul antara 30 menit sampai 2 jam setelah


kematian. Lebam mayat muncul bertahap, biasanya mencapai perubahan warna
yang maksimal dalam 8-12 jam. Sebelum menetap, lebam mayat akan
berpindah bila tubuh mayat dipindahkan. Lebam mayat menetap tidak lama
setelah perpindahan atau turunnya darah, atau ketika darah keluar dari
pembuluh darah ke sekeliling jaringan lunak yang dikarenakan hemolisis dan
pecahnya pembuluh darah. Fiksasi dapat terjadi setelah 8-12 jam jika
dekomposisi terjadi cepat, atau pada 24-36 jam jika diperlambat dengan suhu
dingin. Untuk mengetahui bahwa lebam mayat belum menetap dapat
didemostrasikan dengan melakukan penekanan ke daerah yang mengalami
perubahan warna dan tidak ada kepucatan pada titik dimana dilakukan
penekanan.
Menetapnya lebam mayat disebabkan oleh tertimbunnya sel-sel darah
dalam jumlah cukup banyak sehingga sulit berpindah lagi. Selain itu kekakuan
otot-otot dinding pembuluh darah ikut mempersulit perpindahan tersebut.
Lebam mayat yang belum menetap atau masih hilang pada penekanan
menunjukkan saat kematian kurang dari 8-12 jam saat pemeriksaan.3

Gambar 2. Lebam Mayat3


b.

Kaku mayat (Rigor mortis)


Rigor mortis atau kekakuan dari tubuh mayat setelah kematian
dikarenakan menghilangnya adenosine trifosfat (ATP) dari otot. ATP adalah
sumber utama dari energi untuk kontraksi otot. Otot memerlukan pemasukan
yang berkelanjutan dari ATP untuk berkontraksi karena jumlah yang ada hanya
cukup untuk menyokong kontraksi otot selama beberapa detik. Pada ketiadaan
dari ATP, filament aktin dan myosin menjadi kompleks yang menetap dan
terbentuk rigor mortis. Kompleks ini menetap sampai terjadi dekomposisi.
Rigor mortis biasanya muncul 2-4 jam setelah kematian, dan muncul
keseluruhan dalam 6-12 jam. Ini dapat berubah-rubah. Ketika rigor mortis
terjadi, menyerang semua otot-otot pada saat yang bersamaan dan kecepatan
yang sama. Namun tampak lebih jelas pada otot-otot yang lebih kecil, hal ini
disebabkan otot kecil memiliki lebih sedikit cadangan glikogen. Jadi rigor
mortis dikatakan muncul pertama kali pada otot-otot yang lebih kecil seperti
rahang, dan berurutan menyebar ke kelompok otot besar. Penampakan awal
dari rigor mortis adalah pada rahang, ektremitas atas dan ekstremitas bawah.
Kira-kira 0-4 jam pasca mati klinis, mayat masih dalam keadaan lemas, ini

yang disebut relaksasi primer. Kemudian terbentuk rigor mortis. Setelah 36 jam
pasca mati klinis, tubuh mayat akan lemas kembali sesuai urutan terbentuknya
c.

kekakuan, ini disebut relaksasi sekunder.3


Penurunan suhu tubuh (algor mortis)
Algor mortis adalah penurunan suhu tubuh mayat akibat terhentinya
produksi panas dan terjadinya pengeluaran panas secara terus-menerus.
Pengeluaran panas tersebut disebabkan perbedaan suhu antara mayatdengan
lingkungannya. Suhu tubuh pada orang meninggal secara bertahap akan sama
dengan lingkungan atau media sekitarnya karena metabolisme yang
menghasilkan panas terhenti setelah orang meninggal. Pada jam pertama
setelah kematian, penurunan suhu berjalan lambat karena masih ada produksi
panas dari proses gilkogenolisis dan sesudah itu penurunan akan cepat terjadi
dan menjadi lambat kembali. Gambaran kurva penurunan suhu ini seperti huruf

d.

S terbalik (sigmoid).3
Pembusukan (dekomposisi)
Dekomposisi terbentuk oleh dua proses yaitu autolisis dan putrefaction.
Autolisis menghancurkan sel-sel dan organ-organ melalui proses kimia aseptik
yang disebabkan oleh enzim intraselular. Proses kimia ini, dipercepat oleh
panas, diperlambat oleh dingin, dan dihentikan oleh pembekuan atau
penginaktifasi enzim oleh pemanasan. Organ-organ yang kaya dengan enzim
akan mengalami autolisis lebih cepat daripada organ-organ dengan jumlah
enzim yang lebih sedikit. Jadi, pankreas mengalami autolisis lebih dahulu
daripada jantung.3
Onset dari putrefaction tergantung pada dua faktor utama: lingkungan dan tubuh.

Pada iklim panas, yang lebih penting dari dua faktor tersebut adalah lingkungan. Banyak
penulis akan memberikan rangkaian dari kejadian-kejadian dari proses dekomposisi dari
tubuh mayat. Yang pertama adalah perubahan warna menjadi hijau pada kuadran bawah
abdomen, sisi kanan lebih daripada sisi kiri, biasanya pada 24-36 jam pertama. Ini diikuti
oleh perubahan warna menjadi hijau pada kepala, leher, dan pundak; pembengkakan dari
wajah disebabkan oleh perubahan gas pada bakteri; dan menjadi seperti pualam. Seperti
pualam ini dihasilkan oleh hemolisis dari darah dalam pembuluh darah dengan reaksi dari
hemoglobin dan sulfida hydrogen dan membentuk warna hijau kehitaman sepanjang
pembuluh darah. Lama kelamaan tubuh mayat akan menggembung secara keseluruhan

(60-72 jam) diikuti oleh formasi vesikel, kulit menjadi licin, dan rambut menjadi licin.
Pada saat itu, tubuh mayat yang pucat kehijauan menjadi warna hijau kehitaman.3
Perkiraan saat kematian selain perubahan pada mayat tersebut di atas, beberapa
perubahan

lain

dapat

digunakan

untuk

memperkirakan

saat

mati.

a. Perubahan pada mata


Bila mata terbuka pada atmosfer yang kering, sklera di kiri-kanan kornea akan
berwarna kecoklatan dalam beberapa jam berbentuk segitiga dengan dasar di tepi
kornea (traches noires sclerotiques). Kekeruhan kornea terjadi lapis demi lapis.
Kekeruhan yang terjadi pada lapis terluar dapat dihilangkan dengan meneteskan air,
tetapi kekeruhan yang telah mencapai lapisan lebih dalam tidak dapat dihilangkan
dengan tetesan air. Kekeruhan yang menetap ini terjadi sejak kira-kira 6 jam pasca
mati. Baik dalam keadaan mata tertutup maupun terbuka, kornea menjadi keruh kirakira 10 12 jam pasca mati dan dalam beberapa jam saja fundus tidak tampak jelas.
Setelah kematian tekanan bola mata menurun, memungkinkan distorsi pupil
pada penekanan bola mata. Tidak ada hubungan antara diameter pupil dengan lamanya
mati. Perubahan pada retina dapat menunjukkan saat kematian hingga 15 jam pasca
mati. Hingga 30 menit pasca mati tampak kekeruhan makula dan mulai memucatnya
diskus optikus. Kemudian hingga 1 jam pasca mati, makula lebih pucat dan tepinya
tidak tajam lagi. Selama 2 jam pertama pasca mati, retina pucat dan daerah sekitar
diskus menjadi kuning. Warna kuning juga tampak disekitar makula yang menjadi
lebih gelap. Pada saat itu pola vaskular koroid yang tampak sebagai bercak-bercak
dengan latar belakang merah dengan pola segmentasi yang jelas, tetapi pada kira-kira
3 jam pasca mati menjadi kabur dan setelah 5 jam menjadi homogen dan lebih pucat.
Pada kira-kira 6 jam pasca mati, batas diskus kabur dan hanya pembuluh-pembuluh
besar yang mengalami segmentasi yang dapat dilihat dengan latar belakang kuning
kelabu. Dalam waktu 7 10 jam pasca mati akan mencapai tepi retina dan batas diskus
akan sangat kabur. Pada 12 jam pasca mati diskus hanya dapat dikenali dengan adanya
konvergensi beberapa segmen pembuluh darah yang tersisa. Pada 15 jam pasca mati
tidak ditemukan lagi gambaran pembuluh darah retina dan diskus, hanya makula saja
yang tampak berwarna coklat gelap.
b. Perubahan dalam lambung

Kecepatan pengosongan lambung sangat bervariasi, sehingga tidak dapat


digunakan untuk memberikan petunjuk pasti waktu antara makan terakhir dan saat
mati. Namun keadaan lambung dan isinya mungkin membantu dalam membuat
keputusan. Ditemukannya makanan tertentu dalam isi lambung dapat digunakan untuk
menyimpulkan bahwa korban sebelum meninggal telah makan makanan tersebut.
c. Perubahan rambut
Dengan mengingat bahwa kecepatan tumbuh rambut rata-rata 0,4 mm/hari,
panjang rambut kumis dan jenggot dapat dipergunakan untuk memperkirakan saat
kematian. Cara ini hanya dapat digunakan bagi pria yang mempunyai kebiasaan
mencukur kumis atau jenggotnya dan diketahui saat terakhir ia mencukur.
d. Pertumbuhan kuku
Sejalan dengan hal rambut tersebut di atas, pertumbuhan kuku yang diperkirakan
sekitar 0,1 mm per hari dapat digunakan untuk memperkirakan saat kematian bila
e.

dapat diketahui saat terakhir yang bersangkutan memotong kuku.


Perubahan dalam cairan serebrospinal
Kadar nitrogen asam amino kurang dari 14 mg% menunjukkan kematian belum
lewat 10 jam, kadar nitrogen non-protein kurang dari 80 mg% menunjukkan kematian
belum 24 jam, kadar kreatin kurang dari 5 mg% dan 10 mg% masing-masing

f.

g.

menunjukkan kematian belum mencapai 10 jam dan 30 jam.


Dalam cairan vitreus terjadi peningkatan kadar kalium yang cukup akurat untuk
memperkirakan saat kematian antara 24 100 jam pasca mati.
Kadar semua komponen darah berubah setelah kematian, sehingga analisis darah pasca
mati tidak memberikan gambaran konsentrasi zat-zat tersebut semasa hidupnya.
Perubahan tersebut diakibatkan oleh aktivitas enzim dan bakteri, serta gangguan
permeabilitas dari sel yang telah mati. Selain itu gangguan fungsi tubuh selama proses
kematian dapat menimbulkan perubahan dalam darah bahkan sebelum kematian itu
terjadi. Hingga saat ini belum ditemukan perubahan dalam darah yang dapat

h.

digunakan untuk memperkirakan saat mati dengan lebih tepat.


Reaksi supravital yaitu reaksi jaringan tubuh sesaat pasca mati klinis yang masih sama
seperti reaksi jaringan tubuh pada seseorang yang hidup. Beberapa uji dapat dilakukan
terhadap mayat yang masih segar, misalnya rangsang listrik masih dapat menimbulkan
kontraksi otot mayat hingga 90 120 menit pasca mati dan mengakibatkan sekresi
kelenjar keringat sampai 60 90 menit pasca mati, sedangkan trauma masih dapat
menimbulkan perdarahan bawah kulit sampai 1 jam pasca mati.3

2. Menentukan pada saat itu sebab akibat tentang luka


Pada

kematian

akibat

kekerasan,

pemeriksaan

terhadap

luka

harus

dapat

mengungkapkan berbagai hal tersebut di bawah ini.


a. Penyebab luka.
Dengan memperhatikan morfologi luka, kekerasan penyebab luka dapat ditentukan.
Pada kasus tertentu, gambaran luka seringkali dapat memberi petunjuk mengenai bentuk
benda yang mengenai tubuh, misalnya luka yang disebabkan oleh benda tumpul berbentuk
bulat panjang akan meninggalkan negative imprint oleh timbulnya marginal haemorrhage.
Luka lecet jenis tekan memberikan gambaran bentuk benda penyebab luka.
b. Arah kekerasan.
Pada luka lecet jenis geser dan luka robek, arah kekerasan dapat ditentukan. Hal ini
sangat membantu pihak yang berwajib dalam melakukan rekonstruksi terjadinya perkara.
c. Cara terjadinya luka.
Yang dimaksudkan dengan cara terjadinya luka adalah apakah luka yang ditemukan
terjadi sebagai akibat kecelakaan, pembunuhan atau bunuh diri. Luka-luka akibat
kecelakaan biasanya terdapat pada bagian tubuh yang terbuka. Bagian tubuh yang
biasanya terlindung jarang mendapat luka pada suatu kecelakaan. Daerah terlindung ini
misalnya adalah daerah sisi depan leher, daerah lipat siku, dan sebagainya.
Luka akibat pembunuhan dapat ditemukan tersebar pada seluruh bagian tubuh. Pada
korban pembunuhan yang sempat mengadakan perlawanan, dapat ditemukan luka tangkis
yang biasanya terdapat pada daerah ekstensor lengan bawah atau telapak tangan.
d. Hubungan antara luka yang ditemukan dengan sebab mati.
Harus dapat dibuktikan bahwa terjadinya kematian semata-mata disebabkan oleh
kekerasan yang menyebabkan luka. Untuk itu pertama-tama harus dapat dibuktikan bahwa
luka yang ditemukan adalah benar-benar luka yang terjadi semasa korban masih hidup
(luka intravital). Untuk ini, tanda intravitalitas luka berupa reaksi jaringan terhadap luka
perlu mendapat perhatian. Tanda intravitalitas luka dapat bervariasi dari ditemukannya
resapan darah, terdapatnya proses penyembuhan luka, sebukan sel radang, pemeriksaan
histo-enzimatik, sampai pemeriksaan kadar histamin bebas dan serotonin jaringan3
3. Mengumpulkan barang bukti

Untuk keperluan ini penyidik harus memperlakukan mayat dengan penuh penghormatan,
menaruh label yang memuat identitas mayat, di lak dengan diberi cap jabatan , diletakkan pada ibu jari
atau bagian lain badan mayat. Mayat selanjutnya dikirim ke Rumah Sakit (Kamar Jenazah) bersama
surat permintaan Visum et Repertum yang dibawa oleh petugas Penyidik yang melakukan pemeriksaan
TKP. Petugas penyidik selanjutnya memberi informasi yang diperlukan Dokter dan mengikuti
pemeriksaan badan mayat untuk memperoleh barang-barang bukti lain yang ada pada korban serta
keterangan segera tentang sebab dan cara kematiannya. 3

4. Menentukan cara kematian


Jenazah yang akan dimintakan visum et repertumnya harus diberi label yang memuat
identitas mayat, dilak dengan diberi cap jabatan, diikatkan pada ibu jari kaki atau bagian tubuh
lainnya. Pada surat permintaan visum et repertum harus jelas tertulis jenis pemeriksaan yang
diminta, apakah pemeriksaan luar (pemeriksaan jenazah) atau pemeriksaan dalam/autopsi
(pemeriksaan bedah jenazah).
Pemeriksaan forensik terhadap jenazah meliputi :
1. Pemeriksaan luar jenazah yang berupa tindakan yang tidak merusak keutuhan jaringan
jenazah secara teliti dan sistematik.
2. Pemeriksaan bedah jenazah, pemeriksaan secara menyeluruh dengan membuka rongga
tengkorak, leher, dada, perut, dan panggul. Kadangkala dilakukan pemeriksaan penunjang
yang diperlukan seperti pemeriksaan histopatologi, toksikologi, serologi, dan sebagainya.
Dari pemeriksaan dapat disimpulkan sebab, jenis luka atau kelainan, jenis kekerasan
penyebabnya, sebab dan mekanisme kematian, serta saat kematian seperti tersebut di atas.4

2.2.3 Prosedur permintaan pemeriksaan TKP


Pada proses peradilan pidana, tugas yang paling utama dari penegak hukum adalah
menemukan kebenaran materiil, yaitu kebenaran yang sesungguhnya. Tugas yang demikian
berat ini tidaklah mudah untuk dilaksanakan, sebab penyidik dan penuntut umum ataupun
hakim tidak melihat dan menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana proses
terjadinya serta siapa yang menjadi pelakunya. Lebih tidak mudah lagi jika korban tindak

pidana meninggal dunia atau saksi yang seharusnya dapat membantu tidak ada sama sekali.
Kalaupun korban masih hidup dan ada saksi, namun keterangan mereka sering tidak
sebagaimana yang diharapkan. Korban sering mendramatisasi keterangannya agar
pelakunya dihukum berat dan saksi juga sering berkata bohong demi tujuan tertentu.
Kadang keterangan mereka saling bertentangan satu sama lain.2
Sungguh pun demikian, masih beruntung bagi penegak hukum sebab hampir setiap
tindak pidana meninggalkan barang bukti (trace evidence), yang apabila dianalisa secara
ilmiah tidak mustahil dapat membuat terang perkara pidana tersebut. Hanya sayangnya,
sebagai penegak hukum mereka tidak dibekali segala macam ilmu pengetahuan dan
keterampilan yang dapat digunakan untuk menganalisa secara ilmiah semua jenis barang
bukti yang berhasil ditemukan. Oleh sebab itulah diperlukan bantuan para ahli. Dalam hal
barang bukti itu berupa mayat, orang hidup , bagian tubuh manusia atau sesuatu yang
berasal dari tubuh manusia maka ahli yang tepat adalah dokter. Alasannya karena
disamping dapat melakukan berbagai macam pemeriksaan forensik, dokter juga menguasai
ilmu anatomi, fisiologi, biologi, biokimiawi, patologi, psikiatri.
Bantuan dokter dalam melayani pemeriksaan korban diantaranya untuk pembuatan
visum et repertum (hasil pemeriksaan di TKP disebut dengan visum et repertum TKP),
sebagai saksi ahli di sidang pengadilan, penentuan identitas jenazah yang sudah tidak utuh
lagi (misalnya hanya tinggal tulang belulang), penentuan telah berapa lama luka terjadi atau
telah berapa lama korban meninggal, penentuan sebab dan cara kematian korban tindak
kekerasan dan kematian yang tidak wajar, tentang perkosaan, pemeriksaan korban
keracunan dan lain-lain. Bantuan yang diminta dapat berupa pemeriksaan di TKP atau di
Rumah Sakit. Dokter tersebut dalam pemeriksaan harus berdasarkan pengetahuan yang
sebaik-baiknya.
Pada dasarnya pelayanan visum et repertum, dapat dibagi atas dua bagian besar yaitu
visum untuk orang hidup dan visum untuk orang yang telah meninggal. Yang terakhir ini
disebut visum mayat atau visum jenazah (Harus dibuat berdasarkan hasil autopsi lengkap).
yaitu visum yang dibuat oleh dokter atas permintaan yang berwenang pada orang yang
meninggal karena kekerasan, luka-luka, keracunan/diduga keracunan, kematian yang
sebabnya mencurigakan dan lain-lain.

Jadi, bilamana pihak penyidik mendapat laporan bahwa suatu tindak pidana yang
menyangkut nyawa manusia (mati), telah terjadi, maka pihak penyidik dapat minta bantuan
dari dokter untuk melakukan pemeriksaan di tempat kejadian perkara tersebut ( dasar
hukum : Pasal 120 KUHAP ; Pasal 133 KUHAP). Bila dokter menolak untuk datang ke
tempat kejadian perkara, maka Pasal 224 KUHP, dapat dikenakan padanya. Sebelum dokter
datang ke Tempat kejadian perkara, harus diingat beberapa hal, diantaranya siapa yang
meminta datang ke TKP (otoritas), bagaimana permintaan tersebut sampai ke tangan
dokter, dimana TKP, serta saat permintaan tersebut diajukan. Meminta informasi secara
global tentang kasusnya,dengan demikian dokter dapat membuat persiapan seperlunya. Dan
perlu diingat bahwa dokter dijemput dan diantar kembali oleh penyidik.2
2.2.4Peranan Dokter Dalam Pemeriksaan Di TKP
Kehadiran dokter di TKP sangat diperlukan oleh penyidik. Peranan dokter di TKP
adalah membantu penyidik dalam mengungkapkan kasus dari kedokteran forensik. Pada
dasarnya semua dokter dapat bertindak sebagai pemeriksa di TKP, namun dengan
perkembangan spesialisasi dalam ilmu kedokteran, adalah lebih baik bila dokter ahli
forensik atau dokter kepolisian yang hadir.
Pemeriksaan kedokteran forensik di TKP harus mengikuti kententuan yang berlaku
umum pada penyidikan di TKP, yaitu menjaga agar tidak mengubah keadaan TKP. Semua
benda bukti di TKP yang ditemukan agar dikirim ke laboratorium setelah sebelumnya
diamankan sesuai prosedur. Selanjutnya dokter dapat memberikan pendapatnya dan
mendiskusikan dengan penyidik dengan memperkirakan terjadinya peristiwa dan
merencanakan langkah penyidikan lebih lanjut.
Bila perlu dokter dapat melakukan anamnesa dengan saksi-saksi untuk
mendapatkan gambaran riwayat medis korban. Adapun tindakan yang dapat dikerjakan
dokter adalah:
a.

Menentukan apakah korban masih hidup atau telah tewas, bila masih hidup upaya
terutama ditujukan untuk menolong jiwanya. Hal yng berkaitan dengan kejahatan dapat
ditunda untuk sementara.

b.

Bila korban telah tewas tentukan perkiraan saat kematian, dari penurunan suhu, lebam
mayat, kaku mayat, dan perubahan post mortal lainnya; perkiraan saat kematian berkaitan
dengan alibi daripada tersangka.

c.

Menentukan identitas atau jati diri korban baik secara visual, pakaian, perhiasan,
dokumen, dokumen medis dan dari gigi, pemeriksaan serologi, sidik jari. Jati diri korban
dibutuhkan untuk memulai penyidikan, oleh karena biasanya ada korelasi antara korban
dengan pelaku. Pelaku umumnya telah mengetahui siapa korbannya.

d.

Menentukan jenis luka dan jenis kekerasan, jenis luka dan jenis kekerasan dapat
memberikan informasi perihal alat atau senjata yang dipakai serta perkiraaan proses
terjadinya kejahatan tersebut dimana berguna dalam interogasi dan rekonstruksi. Dengan
diketahui jenis senjata, pihak penyidik dapat melakukan pencarian secara lebih terarah.

e.

Membuat sketsa keadaan di TKP secara sederhana dan dapat memberikan gambaran
posisi korban dikaitkan dengan situasi yang terdapat di TKP.

f.

Mencari, mengumpulkan, dan menyelamatkan barang-barang bukti (trace evidence) yang


ada kaitannnya dengan korban, bagi kepentingan pemeriksaan selanjutnya. Hal ini juga
penting, sebab semakin banyak barang bukti ditemukan, termasuk barang bukti medik,
akan semakin mempermudah penegak hukum membuat terang perkara pidana. Barang
kemampuan untuk itu.2

2.2.5 Data yang Dikumpulkan di TKP


Dokter bila menerima permintaan harus mencatat :
1. Tanggal dan jam dokter menerima permintaan bantuan
2. Cara permintaan bantuan tersebut ( telpon atau lisan)
3. Nama penyidik yang minta bantuan
4. Jam saat dokter tiba di TKP
5. Alamat TKP dan macam tempatnya (misal : sawah, gudang, rumah dsb.)
6. Hasil pemeriksaan
Hal-hal yang perlu diperhatikan setibanya di TKP :
1. Tanggal dan waktu kedatangan;
2. Nama orang di tkp pada saat kedatangan;

3. Kondisi cuaca;
4. Kondisi pencahayaan pada malam hari
5. Apa yang terjadi - insiden;
6. Apa yang telah terjadi aktivitas sejak insiden;
7. Petugas yang bertanggung jawab atas kasus;
8. Adegan penjagaan keamanan tkp;
9. Bantuan yang diberikan di lokasi dan sumber daya lain yang sudah diminta.2

2.2.6 Dasar Hukum Pemeriksaan TKP


Pasal 120 KUHAP, yang bunyinya sebagai berikut:
1) Dalam hal penyidik menganggap perlu, ia dapat minta pendapat seorang ahli atau orang
yang memiliki kesaksian khusus
2) Ahli tersebut mengangkat sumpah atau mengucapkan janji dimuka penyidik bahwa ia
akan member keterangan menurut pengetahuannya yang sebaik-baiknya kecuali bila
disebabkan harkat dan martabat, pekerjaan atau jabatannya yang mewajibkan ia
menyimpan rahasia dapat menolak untuk memberikan keterangan yang diminta.
Pasal 179 ayat (1) KUHAP yang bunyinya:
Setiap orang yang diminta pendapatnya sebagai ahli kedokteran kehakiman atau dokter
yang ahli lainnya wajib memberikan keterangannya.

Pasal 180 ayat 1 KUHAP:


Dalam hal diperlukan untuk menjernihkan duduknya persoalan yang timbul di sidang
pengadilan, hakim ketua sidang dapat minta keterangan ahli dan dapat pula minta agar
diajukan bahan baru oleh yang berkepentingan.2

DAFTAR PUSTAKA

1. Amir, A. 2007. Rangkaian Ilmu Kedokteran Forensik Edisi Kedua. Bagian


Kedokteran Forensik dan Medikolegal, Fakultas Kedokteran Universitas
Sumatera Utara.
2. Payasan, Guntur. 2010. Bantuan Dokter di TKP (Online). (Available at
http://gunturpayasan.blogspot.com/2010/07/bantuan-dokter-di-tkp.html
24 Desember 2010).

diakses

3. Rosfanty,

Viba

T.

2010.

Tanatologi

(Online).

2010)http://dokterrosfanty.blogspot.com/2010/12/tanatologi.html

(Available

at

diakses

24

(Available

at

Desember 2010).
4. Welywahyura.

2010.

Visum

et

Repertum

(Online).

http://welywahyura.wordpress.com/visum-et-repertum.html diakses 24 Desember


2010).
5. Anomymous. 2010. Foto Penggalian Mayat Paling Mengerikan
(Available

at

(Online).

http://kisah-aneh.blogspot.com/2010/10/foto-penggalian-mayat-

paling-mengerikan.html diakses 24 Desember 2010).

Anda mungkin juga menyukai