Anda di halaman 1dari 4

Geothermometer

Geothermometer adalah

metode

yang

umum

digunakan

untuk

memprediksi temperatur bawah permukaan yang biasa digunakan dalam


eksplorasi panasbumi (Ellis dan Mahon, 1977). Media yang digunakan dalam
geothermometer ini dapat berupa ion-ion atau senyawa yang larut dalam air, gasgas, maupun isotop-isotop. Perhitungan geotermometer ini baik digunakan untuk
manifestasi yang memiliki kadar klorida tinggi, sedangkan untuk tipe air sulfat
dan bikarbonat kurang baik digunakan karena fluida pada manifestasi tidak
berhubungan langsung dengan fluida reservoir (Sagala, 2009)
Geothermeter dibangun untuk mengukur suhu pada kedalaman di bawah
permukaan tanah. Suhu maksimum di bawah permukaan yang dialami oleh air
panas bumi dapat direkam oleh rasio kestabilan isotop ionik larutan dan air itu
sendiri. Informasi tersebut sangat penting dalam eksplorasi sumber daya panas
bumi. Hal ini juga menunjukkan sirkulasi pada kedalaman air tanah, yang
didasarkan pada pemahaman tentang tektonik lingkungan dan gradien panas bumi.
Geothermometer isotop dan geokimia dikembangkan selama dua dekade terakhir
yang berpusat pada asumsi bahwa dua spesies atau senyawa berdampingan dan
memiliki kesetimbangan dalam reservoir panas bumi, bahwa suhu adalah kontrol
utama pada rasio mereka, dan yang disetimbangkan kembali tidak terjadi selama
proses.
Sebagai contoh sederhana, kelarutan garam akan semakin besar bila
temperatur juga semakin tinggi. Maka dengan mengetahui komposisi garam
tersebut, akan dapat diketahui temperatur kesetimbangan saat garam tersebut
terlarut. Tentu saja, proses yang terjadi di dalam bumi jauh lebih kompleks
ketimbang apa yang terjadi dalam beaker glass di laboratorium, sehingga nantinya
dalam interpretasi data geothermometry perlu adanya asumsi-asumsi dan
sinkronisasi antar berbagai hasil perhitungan geothermometer.

Geotermometer silika merupakan salah satu geotermometer tertua yang


diaplikasikan dalam bidang panasbumi. Diagram berikut menggambarkan
kelarutan berbagai jenis silika terhadap temperatur (Fournier, 1973):

Gambar 1. Kelarutan berbagai silika terhadap temperatur

Berikut berbagai persamaan geotermometer silika untuk rentang temperatur 20


250 `C

Gambar 2. Beberapa rumus geotermometer silika (Fournier, 1973):

Kelarutan berbagai jenis mineral silika merupakan fungsi terhadap


temperatur. Tekanan dan garam terlarut tidak memiliki efek yang signifikan
terhadap kelarutan silika terutama quartz dan amorf di bawah temperatur 300 `C.
Kondisi ini memungkinkan penggunaan konsentrasi silika dalam fluida
panasbumi untuk digunakan sebagai geotermometer. Namun untuk menggunakan
silika sebagai geotermometer harus diasumsikan dahulu jenis mineral silika yang
mengontrol kelarutan silika, tidak ada mixing dengan air tanah, serta koreksi

terhadap efek pendidihan (boiling) akibat penurunan tekanan atau adiabatic


cooling.
Bentuk umum ketergantungan konstanta kesetimbangan reaksi dengan
temperatur adalah (persamaan 1):

Persamaan 1
Dimana K adalah konstanta kesetimbangan reaksi kimia dan T adalah temperatur
kesetimbangan (Kelvin). Ketika kita bicara konstanta kesetimbangan dan
temperatur, maka ada dua persamaan yang terlibat, yaitu persamaan vant Hoff
(persamaan 2) dan persamaan kapasitas kalor (persamaan 3).

Persamaan 2
Dimana Cp adalah kapasitas kalor pada tekanan tetap, dan H adalah entalpi.

Persamaan 3
Bila kita mengintegrasikan persamaan (2), maka diperoleh:

Persamaan 4
Dimana c1 adalah konstanta hasil integrasi.
Kemudian disubstitusi ke dalam persamaan (1) menjadi:

Persamaan 5
Yang apabila diintegrasikan akan menjadi:

Nicholson, K., 1993. Geothermal Fluids : Chemistry and Exploration Techniques.


Springer-Verlag, Berlin.
Ellis, A.J. and Mahon, W.A.J., 1977. Chemistry and Geothermal System.
Academic Press, New York.