Anda di halaman 1dari 28

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI HEWAN

PENCERNAAN

Oleh :
Nama

: Muhammad Zulfikar Mahmudin

NIM

: 1147020042

Kelompok

:3

Asisten

: Mila Hapsah Syarifah

Tanggal Praktikum

: 22 Februari 2016

Tanggal Masuk Laporan

: 29 Februari 2016

JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SUNAN GUNUNG DJATI
BANDUNG
2016 H / 1437 M

I. PENDAHULUAN
1.1.
Tujuan
Pengamatan saliva dan kerja enzim pada proses pencernaan di dalam mulut.
Pengamatan kerja enzim amilase dalam beberapa lingkungan suhu yang berbeda.
1.2.
Dasar Teori
Sistem pencernaan merupakan salah satu komponen vital dalam menunjang
kehidupan sebab system pencernaan manusia terdiri dari semua organ yang berfungsi
untuk mengunyah, menelan, mencerna, dan mengabsorpsi makanan serta mengeliminasi
makan yang tidak dicerna tubuh (Watson, 2002).
Sistem pencernaan berfungsi untuk mengolah bahan makanan menjadi sari
makanan yang siap diserap oleh tubuh. Proses pencernaan terjadi pada karbohidrat,
protein, dan lemak, sedangkan vitamin, mineral, serta air langsung diserap dan digunakan
oleh tubuh (Wijaya, 2000).
Proses pencernaan makanan, makanan yang dicerna akan dipecah menjadi
molekul-molekul yang lebih sederhana sehingga mudah diserap melalui dinding usus dan
masuk kedalam aliran darah. Pencernaan merupakan proses yang berlangsung secara
terus menerus. Bermula dari pengambilan pakan dan berakhir dengan pembuangan sisa
pakan (Indira, 2011).
Selama dalam proses pencernaan, makanan dihancurkan menjadi zat-zat
sederhana yang dapat diserap dan digunakan sel jaringan tubuh. Berbagai perubahan sifat
makanan terjadi karena kerja berbagai enzim yang terkandung dalam berbagai cairan
pencernaan. Setiap jenis zat ini mempunyai tugas khusus untuk menyaring dan bekerja
atas satu jenis makanan dan tidak mempunyai pengaruh terhadap jenis cairannya (Evelyn,
2008).
Saluran pencernaan makanan menerima makanan dari luar dan mempersiapkan
bahan makanan untuk diserap oleh tubuh dengan jalan proses pencernaan (mengunyah,
menelan, dan penyerapan) dengan bantuan zat cair yang terdapat mulai ari mulut sampai
ke anus. Setiap sel dalam tubuh memerlukan suplai makanan yang terus menerus untuk
bertahan hidup. Makanan tersebut memberikan energi, menambah jaringan baru,
mengganti jaringan yang rusak, dan untuk pertumbuhan. Fungsi utama dari sistem
perncernaan

adalah

menyediakan

zat

nutrisi

yang

sudah

dicerna

secara

berkesinambungan untuk di distribusikan kedalam sel melalui sirkulasi dengan unsurunsur air, elektrolit, dan zat gizi. Sebelum zat ini diserap oleh tubuh, makanan harus
bergerak sepanjang saluran pencernaan (Syaifuddin, 2009).

Sistem

pencernaan

berurutan

dengan

penerimaan

makanan

dan

mempersiapkannya untuk dip roses oleh tubuh. Makanan dalam arti Biologis adalah
tiap zat atau bahan yang dapat digunakan dalam metabolisme guna memperoleh tenaga
bagi sel. Untuk dapat digunakan dalam metabolisme, maka makanan itu harus masuk
kedalam sel (Irianto, 2005).
Sistem pencernaan pada manusia meliputi sistem saluran yang menerima
makanan, menyerap sari makanan, hingga mengeluarkan sisa-sisa dari proses pencernaan
tersebut. Sistem pencernaan meliputi mulut, pancreas, kantong empedu, lambung, usus,
dan rectum. Sistem pencernaan pada manusia ini sering terjadi gangguan dan penyakit,
sehingga jika tidak segera ditangani, maka dapat mengakibatkan kematian (Welly, 2011).
Ada pula sistem pencernaan pada hewan yang umumnya meliputi rongga mulut,
faring, esophagus, lambung, pankreas, hati, empedu, duodenum, kolon, rektum, dan anus
atau kloaka. Makanan masih melalui rongga mulut dan dicerna oleh pencernaan mekanik
dan kimiawi oleh gigi dan enzim-enzim yang berperan dari kelenjar saliva yang
menghancurkan makromolekul menjadi lebih halus (bolus). Bolus memasuki eshophagus
lalu menuju lambung. Lambung adalah lokasi yang paling efektif dalam pencernaan
kimiawi yang akan mengubah makanan atau bolus tadi menjadi lebih halus kecuali lemak
yang masih belum dapat teruraikan. Makanan akan berubah menjadi kim yang bersifat
asam, sebab makanan telah bercampur dengan HCl dan air atau cairan gastrin. Kelenjar
pencernaan menghasilkan secret baik hormone maupun enzim yang berfungsi dalam
proses pemecahan makanan tersebut (Lela, 2008).
II. METODE
2.1. Alat dan Bahan
Alat yang digunakan adalah water bath 1 set, gelas kimia 1 buah, tabung reaksi 15
buah, pipet 1 buah, batang pengaduk 1 buah, lumping alu 1 buah, gelas ukur 1 buah, plat
tetes 2 buah, Bunsen 1 buah, alumunium foil 1 buah, thermometer 1 buah.
Bahan yang digunakan adalah kue creaker asin 2 buah, saliva 2 ml, air es
secukupnya, larutan benedict secukupnya, larutan amilum 20ml, dan larutan lugol 5 tetes.
2.2. Cara Kerja

Pada cara ke-1 yaitu kerja enzim amilase pada proses pencernaan di dalam
mulut, pertama-tama diambil 2 buah kue creaker asin kemudian kue dikunyah selama 30
detik, 1 menit, 2 menit, 3 menit, 4 menit, 5 menit, dan 10 menit, dan diambil sebagian
kue creaker lagi untuk ditumbuk di dalam lumping. Kemudian disimpan hasil kunyahan
dan tumbukan pada masing-masing plat tetes dengan ditetesi larutan lugol masing-masing
5 tetes. Selanjutnya diamati perubahan yang terjadi dan dideskripsikannya.
Pada cara ke-2 yaitu kerja enzim amilase pada beberapa suhu lingkungan
pertama-tama dikumpulkan 2 ml saliva kedalam gelas kimia, lalu dihomogenasi,
selanjutnya disediakan water bath pada suhu 5, 15, 25, 35, 45, 55 dalam C o, kemudian
dimasukkan 20ml larutan alumunium pada 15 tabung reaksi dan dibiarkan selama 10
menit, lalu dimasukkan 0,5ml saliva kedalam masing-masing tabung dengan interval 2
menit, selanjutnya pada uji benedict dicatat tercapainya titik akromatis dan dibuat grafik
yang berhubungan antara temperature dengan kerja enzim amilase, dan ditentukan suhu
optimum untuk kerja enzim amilase.
III. HASIL dan PEMBAHASAN
3.1. Hasil Pengamatan
A. Kerja Enzim Amilase Pada proses Pencernaan di Dalam Mulut
1. Creaker ditumbuk
Menit ke-

Perubahan warna

intensitas

30 detik

++

1 menit

2 menit

+++

3 menit

++++

4 menit

++++

5. menit

+++++

10 menit

+++

Tabel 1. Creaker Ditumbuk

2. Creaker dikunyah
Menit ke-

Perubahan warna

intensitas

30 detik

1 menit

++

2 menit

3 menit

++

4 menit

+++

5. menit

+++

10 menit

++++

Tabel 2. Creaker Dikunyah

B. Kerja Enzim Amilase Pada Beberapa Suhu Lingkungan


1. (5oC)
No.

Menit
ke-

Larutan Lugol

Larutan Benedict
Perubahan
Intensitas
warna

Perubahan warna

Intensitas

Tidak
berwar
na

+++

++++

++++

+++

10

++

+++++

+++

1.
2

2.
4

Tidak
berwarna

3.

4.

5.

6.
12

Tidak
berwarna

7.
14

Tidak
berwarna

++

16

Tidak
berwarna

18

Tidak
berwarna

+++

20

Tidak
berwarna

++

22

Tidak
berwarna

24

Tidak
berwarna

26

Tidak
berwarna

++

8.

9.

10

11

12

13

14
Tidak
berwarna

28

++

++

15.
30

Tabel 3. Kerja Enzim Amilase Pada Suhu 5oC

Hubungan Antara Suhu (5C) dengan Kerja enzim amilase


6
5
4
Suhu (C) 3
2
1
0
0

10

15

20

25

30

35

Waktu (menit)
Benedict

Lugol

Grafik 1. Hubungan Antara Suhu 5oC Dengan Kerja Enzim Amilase

2. (15oC)
No
.

Meni
t ke-

1.

Uji Benedict
Perubahan
Intensitas
Warna
++++

Meni
t ke2

Uji Lugol
Perubahan Warna

Intensitas
+++++++
+

2.

+++++++

3.

+++++++

4.

++

+++++++

5.

10

+++

10

++++++

6.

12

++

12

++++++

7.

14

++++

14

++++

8.

16

16

++++

9.

18

++

18

+++++

10.

20

++++

20

+++

11.

22

22

+++

12.

24

++

24

23.

26

+++

26

14.

28

28

++

15.

30

++

30

++

Tabel 4. Kerja Enzim Amilase Pada suhu 15oC

15C
10
8

intensitas

benedict

lugol

2
0
2

8 10 12 14 16 18 20 22 24 26 28 30
waktu

Grafik 2. Hubungan Antara Suhu 15oC Dengan Kerja Enzim Amilase

3.(25oC)
No.

Menit
ke-

Uji Lugol
Perubahan
Intensitas
warna

Uji Benedict
Perubahan
Intensitas
warna

++++

+++++

++++++

++++++

+++++++

+++++++

+++++

+++++

10

++++

+++++

12

+++

++++

14

++

+++

16

++

+++

18

+++

20

++

+++

22

++

24

++

26

+++

28

30

++

Tabel 5. Kerja Enzim Amilase Pada Suhu 25oC

Hubungan Antara Temperatur Dengan Kerja Enzim Amilase


8
7
6
5

Uji lugol

Intensitas 4
3

Uji benedict

2
1
0

2 4 6 8 10 12 14 16 18 20 22 24 26 28 30
Waktu / Menit

Grafik 3. Hubungan Antara Suhu 25oC Dengan Kerja Enzim Amilase

4. (35oC)

No.

Menit
ke

Benedict
Gambar
Intensitas

Lugol
Gambar
Intensitas

1.

++

2.

++++++

3.

+++++

4.

++++

5.

10

+++++

6.

12

++

7.

14

8.

16

+++++

9.

18

++++++

10.

20

+++++

11.

22

12.

24

++++

13.

26

+++

14.

28

+++

15.

30

+++

Tabel 6. Kerja Enzim Amilase Pada Suhu 35oC

Hubungan Antara Temperatur Dengan Kerja Enzim Amilase


7
6
5

Intensitas

benedict

lugol

2
1
0

2 4 6 8 10 12 14 16 18 20 22 24 26 28 30
Waktu/menit

Grafik 4. Hubungan Antara Suhu 35oC Dengan Kerja Enzim Amilase

5.(45oC)
N
o

Menit
Ke-

Larutan Bennedict
Perubahan
Intensitas
Warna

Larutan Lugol
Perubahan
Intensitas
Warna

++

+
Tidak
Berwarna

+++

+
Tidak
Berwarna

++++

+
Tidak
Berwarna

Tidak
Berwarna

++

10

++

Tidak
Berwarna

Tidak
Berwarna

Tidak
Berwarna

12

14

16

+
Tidak
Berwarna

18

+
Tidak
Berwarna

10

20

+
Tidak
Berwarna

11

22

Tidak
Berwarna

12

24

++

Tidak
Berwarna

Tidak
Berwarna

13

26

++

14

28

Tidak
Berwarna

Tidak
Berwarna

15

30

Tabel 7. Kerja Enzim Pada Suhu 45oC

Hubungan Interval dan Waktu


5
4
3
2
1
0
0

10

15
uji lugol

20

25

30

35

uji benedict

Grafik 5. Hubungan Antara Suhu 45oC Dengan Kerja Enzim Amilase

6. (51oC)
Uji Lugol

Uji Benedict
Perubahan
Intensitas
warna

No.

Menit
ke-

1.

2.

3.

Perubaha
n Warna

Intensitas

4.

++

5.

10

++

6.

12

+++

7.

14

+++

8.

16

+++

9.

18

+++

10.

20

+++

11.

22

++++

12.

24

+++

13.

26

+++

14.

28

+++

15.

30

+++

Tabel 8. Kerja Enzim Amilase Pada Suhu 51oC

Grafik hubungan antara temperatur dengan kerja enzim amilase


4
3.5
3
2.5
Intensitas 2
1.5
1
0.5
0

benedict
lugol

2 4 6 8 10 12 14 16 18 20 22 24 26 28 30
Waktu

Grafik 6. Hubungan Antara Ssuhu 51oC Dengan Kerja Enzim Amilase

C. Hubungan Suhu dengan Titik Akromatis

Hubungan Suhu dengan Titik Akromatis


40
Waktu

Benedict

20
0
0

Lugol
10

20

30

40

50

60

Suhu

Grafik 7. Hubungan Suhu Dengan Titik Akromatis Enzim Amilase

3.2. Pembahasan
Pada praktikum kali ini dilakukan dua jenis perlakuan pada zat uji berupa kue
cracker asin, yaitu dengan ditumbuk dan dikunyah dengan interval waktu tertentu (30
detik, 1 menit, 2 menit, 3 menit, 4 menit, 5 menit dan 10 menit). Cracker yang telah
ditumbuk dan dikunyah tersebut lalu ditetesi iod dan disimpan ditempat yang gelap
selama 30 menit. Dilihat dari hasil tabel pengamatan yang didapat, perbedaan yang
sangat jelas sekali untuk pengujian Iodium pada Creaker yang dikunyah dan yang
ditumbuk. Creaker yang dikunyah mengalami beberapa perubahan warna, hal tersebut
terjadi disebabkan karena kerja enzim amilase di dalam mulut. Sedangkan Creaker yang
ditumbuk tidak mengalami perubahan warna disebabkan karena tidak adanya kerja enzim
amilase. Perubahan warna Creaker yang dikunyah terjadi pada menit ke 3, 4, 5, dan menit
ke 10, karena pada menit-menit tersebut larutan Iod dan enzim amilase bereaksi, sehingga
terjadi perubahan warna pada Creaker yang di kunyah dan merubah kandungan
polisakarida menjadi amilum. Sedangkan pada Creaker yang di tumbuk tidak mengalami
perubahan warna karena kandungan pada Creaker tetap yaitu masih berbentuk Poli
sakarida, walapun telah bercampur dengan larutan Iod yaitu biru kehitaman, hal tersebut
disebabkan karena tidak adanya kerja enzim amilase yang merubahnya. Menurut Anna
(2006) menjelaskan bahwa Kegunaan uji Iod adalah untuk mengatahui kandungan
amilum (polisakarida) pada makanan atau karbohidrat kandungannya dan menurut
Sumardjo (2006) Reaksi iodin berfungsi untukmengidentifikasi adanya polisakarida.
Begitu pula dengan kegunaan uji Benedict mengetahui kandungan glukosa
(monosakarida) pada karbohidrat yang akan di uji. Selain itu uji benedict juga di gunakan
untuk pemeriksaan glukosa dalam urine. Menurut Indira (2011) menjelaskan bahwa uji

benedict adalah uji kimia untuk mengetahui kandungan gula (karbohidrat) pereduksi.
Gula pereduksi meliputi semua jenis monosakarida dan beberapa disakarida seperti
laktosa dan maltosa. ada uji benedict pereaksi ini akan bereaksi dengan gugus aldehid,
kecuali dalam gugus aromatik dan alpha hidroksi keton oleh karena itu, meskipun
fruktosa bukanlah gula pereduksi, namun karena memiliki gugus alpha hidroksi keton
maka fruktosa akan berubah menjadi glukosa dan maltosa dalam suasana basa
memberikan hasil positif (+) dengan pereaksi benedict. Untuk mengetahui adanya
monosakarida dan disakarida pereduksi dalam makanan sampel makanan dilarutkan
dalam air,dan ditambahkan sedikit pereaksi benedict. Dipanaskan dalam waterbath
selama 4-10 menit, selam proses ini larutan akan berubah menjadi biru (tanpa adanya
glukosa), hijau, kuning, orange, merah dan merah bata / coklat (kandungan glukosa tinggi
) dan menurut Sumardjo (2006) Reaksi Benedict digunakan untuk mengamati adanya
gulapereduksi, yaitu gula yang mempunyai kemampuan untukmereduksi ion-ion menjadi
garam. Pereaksi ini berupa larutanyang mengandung kuprisulfat, natrium karbonat dan
natriumsitrat. Glukosa dapat mereduksi ion Cu 2+dari kuprisulfatmenjadi ion Cu+yang
kemudian mengendap sebagai Cu2O.
Secara umum, dalam mulut makanan dihancurkan secara mekanis oleh gigi
dengan jalan dikunyah. Makanan yang dimakan dalam besar diubah menjadi ukuran lebih
kecil. Selama penghancuran secara mekanis berlangsung, kelenjar yang ada disekitar
mulut mengeluarkan cairan yang disebut saliva atau ludah. Menurut Anna (2006)
Menjelaskan bahwa ada tiga kelenjar yang mengeluarkan saliva yaitu kelenjar parotid,
kelenjar submandibular dan kelenjar sublingual. Didalam saliva terdapat enzim saliva
yaitu suatu enzim amilase yang berfungsi untuk memecah molekul amilum menjadi
maltosa dengan proses hidrolisis. Proses ini berjalan lebih baik apabila makan dikunyah
lebih halus. Enzim ptialin bekerja secara optimal pada pH 6,6.selain itu, saliva juga
berfungsi untuk membasahi makanan sehingga dapat mempermudah proses menelan
makanan.
Ada pula kerja enzim yang dipengaruhi oleh beberapa faktor terutama subtrat,
suhu, kofaktor dan inhibitor. Setiap enzim memerlukan suhu dan pH optimum yang
berbeda-beda karena enzim adalah protein, yang dapat mengalami perubahan bentuk jika
suhu dan keasaman berubah. Inhibitor adalah molekul yang menurunkan aktifitas,

sedangkan aktifator adalah yang meningkatkan aktifitas kerja enzim. Menurut Anna
(2006) ada beberapa factor yang mempengaruhi kerja enzim yaitu : 1. Konsentrasi enzim:
Seperti pada katalis lain, kecepatan suatu reaksi yang menggunakan enzim tergatung,
pada konsentrasi enzim tersebut. pada suatu konsentarsi subtract tertentu, kecepatan
reaksi bertambah dengan bertambahnya konsentrasi enzim. 2. Konsentrasi substrat:
Peningkatan konsentransi substrat dapat meningkatkan kecepatan reaksi bila jumlah
enzim tetap. Namun pada saat sisi aktif semua enzim berikatan dengan substrat,
penambahan substrat tidak dapat meningkatkan kecepatan reaksienzimselanjutnya. 3.
Suhu: Pada suhu rendah reaksi kimia berlangsung lambat, sedangkan pada suhu yang
lebih tinggi reaksi berlangsung lebih cepat. kenaikan suhu dapat menyebabkan
denaturasi. apabbila proses denaturasi, maka bagian aktif enzim menjadi berkurang dan
kecepatan reaksinya pun menurun.
Berdasarkan hasil pengamatan titik akromatis paling tinggi terjadi pada suhu
50oC. Menurut Lela (2008) Mengatakan bahwa titik akromatis adalah titik dimana enzim
tidak bereaksi lagi atau tidak terjadi lagi perubahan warna. Semakin tinggi suhu maka
enzim tidak akan bekerja secara optimal. Sampai pada suatu titik,kecepatan suatu reaksi
enzimatik meningkat sejalan dengan meningkatnya suhu. Sebagian disebabkan karena
substrat akan bertubrukan dengan tempat aktif lebih sering ketika molekul itu beregrak
lebih cepat. Namun demikian diluar suhu itu, kecepatan rekasi enzimatik akan menurun
drastis, sehingga molekul protein itu akan mengalami denaturasi. Menurut Watson (2002)
Menjelaskan bahwa setiap enzim memiliki suhu optimal dimana laju reaksinya berjalan
paling cepat. Suhu ini memungkinkan terjadinya tubrukan molekuler paling banyak tanpa
mendenaturasi enzim itu.Sebagian besar enzim manusia memiliki suhu optimal sekitar
350C sampai 400C (mendekati tubuh manusia), Jadi dapat disimpulkan bahwa enzim
amilase akan optimum pada suhu 350C sampai 400C, karena suhu tersebut mendekati
suhu tubuh manusia yaitu 370C. yang mana enzim amylase dihasilkan dari campuran
sekresi dari kelenjar ludah besar dan kecil yang ada pada mukosa oral yang ada pada
manusia dan hewan mamalia.
IV. KESIMPULAN

Dari praktikum yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa perbedaan yang
sangat jelas sekali untuk pengujian Iodium pada Creaker yang dikunyah dan yang
ditumbuk. Creaker yang dikunyah mengalami beberapa perubahan warna, hal tersebut
terjadi disebabkan karena kerja enzim amilase di dalam mulut. Sedangkan Creaker yang
ditumbuk tidak mengalami perubahan warna disebabkan karena tidak adanya kerja enzim
amilase. Dan didalam saliva terdapat enzim saliva yaitu suatu enzim amilase yang
berfungsi untuk memecah molekul amilum menjadi maltosa dengan proses hidrolisis dan
kerja enzim yang dipengaruhi oleh beberapa faktor terutama subtrat, suhu, kofaktor dan
inhibitor. titik akromatis paling tinggi terjadi pada suhu 50oC.

DAFTAR PUSTAKA
Anna, Poedjiadi. 2006. Dasar-Dasar Biokimia. Jakarta: UI.
Evelyn. 2008. Anatomi dan Fisiologis Untuk Paramedis. Jakarta: Media Pustaka.
Indira, Fitriliyani. 2011. Aktifitas Enzim Saluran Pencernaan Ikan Nila (Oreohromis Niloticus)
Dengan Pakan Mengandung Tepung Daun Lamtoro (Leucaena Leucophala)
Terhidrolisis Dan Tanpa Hidrolisis Dengan Ekstrak Enzim Cairan Rumen Domba.
Jurnal: Bioscientiae. Vol 8. No. 2. Hal: 16-31.
Irianto, K. 2005, Struktur dan Fungsi Tubuh Manusia. Jakarta: Yrama Widya.
Lela, J.S. 2008. Fisiologi Sistem Pencernaan Pada Vertebrata (Ikan, Katak, Tokek, Ayam, Mencit,
dan Saliva Manusia). Jurnal:Pencernaan. Vol 1. No. 2. Hal: 1-5.
Sumardjo, Damin. 2006. Pengantar Kimia: Buku Panduan Kuliah Mahasiswa Kedokteran dan
Program Strata 1 Fakultas Bioeksakta. Jakarta: Penerbit Bukuy Kedokteran EGC.
Syaifuddin. 2009. Anatomi Tubuh Manusia Edisi 2. Jakarta: Salemba Medika Press.
Watson, R. 2002. Anatomi dan Fisiologi Untuk Prawat. Jakarta: EGC.
Welly, D. 2011. Tanaman Obat yang Terdapat di Kota Bengkulu yang Berpotensi Sebagai Obat
Penyakit dan Gangguan Pada Sistem Pencernaan Manusia. Jurnal: Konservasi. Vol.
8. No. 1. Hal: 1-5.
Wijaya. 2000. Aktif Biologi. Bandung: Ganeca.

Anda mungkin juga menyukai