Anda di halaman 1dari 19

A.

Pengertian
TB Paru adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman TB
(Mycobacterium tuberculosis). Sebagian besar kuman menyerang Paru, tetapi
dapat juga mengenai organ tubuh lain (Dep Kes, 2007). Kuman TB berbentuk
batang mempunyai sifat khusus yaitu tahan terhadap asam pewarnaan yang
disebut pula Basil Tahan Asam (BTA).

B. Etiologi
Penyakit TB Paru disebabkan oleh kuman TB (Mycobacterium tuberculosis).
Kuman ini berbentuk batang, mempunyai sifat khusus yaitu tahan terhadap
asam pada pewarnaan, Oleh karena itu disebut pula sebagai Basil Tahan Asam
(BTA), kuman TB cepat mati dengan sinar matahari langsung, tetapi dapat
bertahan hidup beberapa jam ditempat yang gelap dan lembab. Dalam jaringan
tubuh kuman ini dapat Dormant, tertidur lama selama beberapa tahun.
Sumber penularan adalah penderita TB BTA positif. Pada waktu batuk atau
bersin, penderita menyebarkan kuman ke udara dalam bentuk Droplet
(percikan Dahak). Droplet yang mengandung kuman dapat bertahan di udara
pada suhu kamar selama beberapa jam. Orang dapat terinfeksi kalau droplet
tersebut terhirup kedalam saluran pernapasan. Selama kuman TB masuk
kedalam tubuh manusia melalui pernapasan, kuman TB tersebut dapat
menyebar dari paru kebagian tubuh lainnya, melalui sistem peredaran darah,
sistem saluran limfe, saluran napas, atau penyebaran langsung kebagianbagian tubuh lainnya. Daya penularan dari seorang penderita ditentukan oleh
banyaknya kuman yang dikeluarkan dari parunya. Makin tinggi derajat positif
hasil pemeriksaan dahak, makin menular penderita tersebut. Bila hasil
pemeriksaan dahak negatif (tidak terlihat kuman), maka penderita tersebut
dianggap tidak menular.
Faktor-faktor yang menyebabkan seseorang terinfeksi oleh Mycobacterium
tuberculosis :
1. Herediter: resistensi seseorang terhadap infeksi kemungkinan diturunkan
secara genetik.

2. Jenis kelamin: pada akhir masa kanak-kanak dan remaja, angka kematian
dan kesakitan lebih banyak terjadi pada anak perempuan.
3. Usia : pada masa bayi kemungkinan terinfeksi sangat tinggi.
4. Pada masa puber dan remaja dimana masa pertumbuhan yang cepat,
kemungkinan infeksi cukup tingggi karena diit yang tidak adekuat.
5. Keadaan stress: situasi yang penuh stress (injury atau penyakit, kurang
nutrisi, stress emosional, kelelahan yang kronik)
6. Meningkatnya sekresi steroid adrenal yang menekan reaksi inflamasi
dan memudahkan untuk penyebarluasan infeksi.
7. Anak yang mendapat terapi kortikosteroid kemungkinan terinfeksi lebih
mudah.
8. Nutrisi ; status nutrisi kurang
9. Infeksi berulang : HIV, Measles, pertusis.
10. Tidak mematuhi aturan pengobatan.

C. Patofisiologi
Tempat masuk kuman M.tuberculosis adalah saluran pernafasan, saluran
pencernaan, dan luka terbuka pada kulit. Kebanyakan infeksi tuberkulosis
terjadi melalui udara (airborne), yaitu melalui inhalasi droplet yang
mengandung kuman-kuman basil tuberkel yang berasal dari orang yang
terinfeksi. Saluran pencernaan merupakan tempat masuk utama jenis bovin,
yang penyebarannya melalui susu yang terkontaminasi.
Tuberkulosis adalh penyakit yang dikendalikan oleh respon imunitas perantara
sel. Sel efektornya adalah makrofag, sedangkan limfosit (biasanya sel T)
adalah sel imunoresponsifnya. Tipe imunitas seperti ini biasanya lokal,
melibatkan makrofag yang diaktifkan di tempat infeksi oleh limfosit dan
limfokinnya. Respon ini disebut sebagai reaksi hipersensitivitas (lambat)
Nekrosis bagian sentral lesi memberikan gambaran yang relatif padat dan
seperti keju, lesi nekrosis ini disebut nekrosis kaseosa. Daerah yang
mengalami nekrosis kaseosa dan jaringan granulasi di sekitarnya yang terdiri
dari sel epiteloid dan fibroblast, menimbulkan respon berbeda. Jaringan

granulasi menjadi lebih fibrosa membentuk jaringan parut yang akhirnya akan
membentuk suatu kapsul yang mengelilingi tuberkel. Lesi primer paru-paru
dinamakan fokus Gohn dan gabungan terserangnya kelenjar getah bening
regional dan lesi primer dinamakan kompleks Gohn respon lain yang dapat
terjadi pada daerah nekrosis adalah pencairan, dimana bahan cair lepas
kedalam bronkus dan menimbulkan kavitas. Materi tuberkular yang
dilepaskan dari dinding kavitas akan masuk ke dalam percabangan
trakeobronkhial. Proses ini dapat akan terulang kembali ke bagian lain dari
paru-paru, atau basil dapat terbawa sampai ke laring, telinga tengah atau usus.
Kavitas yang kecil dapat menutup sekalipun tanpa pengobatan dan
meninggalkan jaringan parut bila peradangan mereda lumen bronkus dapat
menyempit dan tertutup oleh jaringan parut yang terdapat dekat perbatasan
rongga bronkus. Bahan perkejuan dapat mengental sehingga tidak dapat
mengalir melalui saluran penghubung sehingga kavitas penuh dengan bahan
perkejuan dan lesi mirip dengan lesi berkapsul yang tidak terlepas keadaan ini
dapat menimbulkan gejala dalam waktu lama atau membentuk lagi hubungan
dengan bronkus dan menjadi tempat peradangan aktif. Penyakit dapat
menyebar melalui getah bening atau pembuluh darah. Organisme yang lolos
dari kelenjar getah bening akan mencapai aliran darah dalam jumlah kecil
dapat menimbulkan lesi pada berbagai organ lain. Jenis penyebaran ini dikenal
sebagai penyebaran limfohematogen, yang biasanya sembuh sendiri.
Penyebaran hematogen merupakan suatu fenomena akut yang biasanya
menyebabkan tuberkulosis milier. Ini terjadi apabila fokus nekrotik merusak
pembuluh darah sehingga banyak organisme masuk kedalam sistem vaskular
dan tersebar ke organ-organ tubuh.

D. Manifestasi Klinis
Gejala utama pasien TB paru adalah batuk berdahak selama 2-3 minggu atau
lebih. Batuk dapat diikuti dengan gejala tambahan yaitu dahak bercampur
darah, batuk darah, sesak nafas, badan lemas, nafsu makan menurun, berat

badan menurun, malaise, berkeringat malam hari tanpa kegiatan fisik, demam
meriang lebih dari satu bulan (Depkes, 2007).
Keluhan yang dirasakan pasien tuberkulosis dapat bermacam-macam atau
malah banyak pasien ditemikan Tb paru tanpa keluhan sama sekali dalam
pemeriksaan kesehatan. Gejala tambahan yang sering dijumpai adalah :
1. Demam
Biasanya subfebril menyerupai demam influenza. Tetapi kadang-kadang
dapat mencapai 40-41C. Serangan demam pertama dapat sembuh
sebentar, tetapi kemudian dapat timbul kembali. Begitulah seterusnya
sehingga pasien merasa tidak pernah terbebas dari demam influenza ini.
2. Batuk/Batuk Darah
Terjadi karena iritasi pada bronkus. Batuk ini diperlukan untuk membuang
produk-produk radang keluar. Keterlibatan bronkus pada tiap penyakit
tidaklah sama, maka mungkin saja batuk baru ada setelah penyakit
berkembang dalam jaringan paru yakni setelah berminggu-minggu atau
berbulan-bulan peradangan bermula. Keadaan yang adalah berupa batuk
darah karena terdapat pembuluh darah yang pecah. Kebanyakan batuk
darah pada tuberkulosis terjadi pada kavitas, tetapi dapat juga terjadi pada
ulkus dinding bronkus.
3. Sesak Napas
Pada penyakit yang ringan (baru tumbuh) belum dirasakan sesak napas.
Sesak napas akan ditemukan pada penyakit yang sudah lanjut, yang
infiltrasinya sudah meliputi setengah bagian paru-paru.
4. Nyeri Dada
Gejala ini agak jarang ditemukan. Nyeri dada timbul bila infiltrasi radang
sudah sampai ke pleura sehingga menimbulkan pleuritis. Terjadi gesekan
kedua pleura sewaktu pasien menarik/melepaskan napasnya.

5. Malaise
Penyakit tuberkulosis bersifat radang yang menahun. Gejala malaise sering
ditemukan berupa anoreksia (tidak ada nafsu makan), badan makin kurus
(berat badan turun), sakit kepala, meriang, nyeri otot, dan keringat pada
malam hari tanpa aktivitas. Gejala malaise ini makin lama makin berat dan
terjadi hilang timbul secara tidak teratur.

E. Komplikasi
Komplikasi pada penderita tuberkulosis stadium lanjut (Depkes RI, 2007) :
1. Hemoptosis berat (perdarahan dari saluran nafas bawah) yang dapat
mengakibatkan kematian karena syok hipovolemik atau tersumbatnya
jalan nafas.
2. Kolaps dari lobus akibat retraksi bronkial.
3. Bronkiektasis ( pelebaran bronkus setempat) dan fibrosis (pembentukan
jaringan ikat pada proses pemulihan atau reaktif) pada paru.
4. Pneumotorak (adanya udara di dalam rongga pleura) spontan : kolaps
spontan karena kerusakan jaringan paru.
5. Penyebaran infeksi ke organ lain seperti otak, tulang, ginjal dan
sebagainya.
6. Insufisiensi Kardio Pulmoner (Cardio Pulmonary Insufficiency)

F. Pemeriksaan Diagnostik
Diagnosis TB menurut Depkes (2007):
1. Diagnosis TB paru
a. Semua suspek TB diperiksa 3 spesimen dahak dalam waktu 2 hari,
yaitu sewaktu - pagi - sewaktu (SPS).
b. Diagnosis

TB

Paru

pada

orang dewasa

ditegakkan

dengan

ditemukannya kuman TB (BTA). Pada program TB nasional,


penemuan BTA melalui pemeriksaan dahak mikroskopis merupakan
diagnosis utama. Pemeriksaan lain seperti foto toraks, biakan dan uji

kepekaan dapat digunakan sebagai penunjang diagnosis sepanjang


sesuai dengan indikasinya.
c. Tidak dibenarkan mendiagnosis TB hanya berdasarkan pemeriksaan
foto toraks saja. Foto toraks tidak selalu memberikan gambaran yang
khas pada TB paru, sehingga sering terjadi overdiagnosis.
d. Gambaran kelainan radiologik Paru tidak selalu menunjukkan aktifitas
penyakit.
e. Untuk lebih jelasnya lihat alur prosedur diagnostik untuk suspek TB
paru.

G. Konsep Asuhan Keperawatan


1. Pengkajian Primer
a. Airway
Jalan nafas adalah yang pertama kali harus dinilai untuk mengkaji
kelancaran nafas. Keberhasilan jalan nafas merupakan salah satu faktor
yang mempengaruhi proses ventilasi (pertukaran gas antara atmosfer
dengan paru-paru. Jalan nafas seringkali mengalami obstruksi akibat
benda asing, serpihan tulang akibat fraktur pada wajah, akumulasi
sekret dan jatuhnya lidah ke belakang. Selama memeriksa jalan nafas
harus melakukan kontrol servikal, barangkali terjadi trauma pada leher.
Oleh karena itu langkah awal untuk membebaskan jalan nafas adalah
dengan melakukan manuver head tilt dan chin lift Data yang
berhubungan dengan status jalan nafas adalah :
1) sianosis (mencerminkan hipoksemia)
2) retraksi interkota (menandakan peningkatan upaya nafas)
3) pernafasan cuping hidung
4) bunyi nafas abnormal (menandakan ada sumbatan jalan nafas)
5) tidak adanya hembusan udara (menandakan obstuksi total jalan
nafas atau henti nafas)

b. Breathing
Kebersihan jalan nafas tidak menjamin bahwa pasien dapat bernafas
secara adekwat. Inspirasi dan eksprasi penting untuk terjadinya
pertukaran gas, terutama masuknya oksigen yang diperlukan untuk
metabolisme tubuh. Inspirasi dan ekspirasi merupakan tahap ventilasi
pada proses respirasi. Fungsi ventilasi mencerminkan fungsi paru,
dinding dada dan diafragma. Pengkajian pernafasan dilakukan dengan
mengidentifikasi :
1) Pergerakan dada
2) Adanya bunyi nafas
3) Adanya hembusan/aliran udara
c. Circulation
Sirkulasi yang adekwat menjamin distribusi oksigen ke jaringan dan
pembuangan karbondioksida sebagai sisa metabolisme. Sirkulasi
tergantung dari fungsi sistem kardiovaskuler. Status hemodinamik
dapat dilihat dari :
1) Tingkat kesadaran
2) Nadi
3) Warna kulit
4) Pemeriksaan nadi dilakukan pada arteri besar seperti pada arteri
karotis dan arteri femoral
d. Disability
Menilai kesadaran dengan cepat,apakah sadar, hanya respon terhadap
nyeri atau atau sama sekali tidak sadar.

2. Pengkajian Sekunder
a. Keluhan utama
Keluhan yang sering menyebabkan klien dengan TB paru meminta
pertolongan dari tim kesehatan dapat dibagi menjadi dua golongan,
yaitu:
1) Keluhan respiratoris, meliputi:
a) Batuk, nonproduktif/ produktif atau sputum bercampur darah
b) Batuk darah, seberapa banyak darah yang keluar atau hanya
berupa blood streak, berupa garis, atau bercak-bercak darah
c) Sesak napas
d) Nyeri dada
Tabrani Rab (1998) mengklasifikasikan batuk darah berdasarkan
jumlah darah yang dikeluarkan:
a) Batuk darah masif, darah yang dikeluarkan lebih dari 600 cc/24
jam.
b) Batuk darah sedang, darah yang dikeluarkan 250-600 cc/24
jam.
c) Batuk darah ringan. Darah yang dikeluarkan kurang dari 250
cc/24 jam.
2) Keluhan sistematis, meliputi:
a) Demam, timbul pada sore atau malam hari mirip demam
influenza, hilang timbul, dan semakin lama semakin panjang
serangannya, sedangkan masa bebas serangan semakin pendek
b) Keluhan sistemis lain: keringat malam, anoreksia, penurunan
berat badan, dan malaise.
b. Riwayat penyakit saat ini
Pengkajian ringkas dengan PQRST dapat lebih memudahkan perawat
dalam melengkapi pengkajian.
Provoking Incident: apakah ada peristiwa yang menjadi faktor
penyebab sesak napas, apakah sesak napas berkurang apabila
beristirahat?

Quality of Pain: seperti apa rasa sesak napas yang dirasakan atau
digambarkan klien, apakah rasa sesaknya seperti tercekik atau susah
dalam melakukan inspirasi atau kesulitan dalam mencari posisi yang
enak dalam melakukan pernapasan?
Region: di mana rasa berat dalam melakukan pernapasan?
Severity of Pain: seberapa jauh rasa sesak yang dirasakan klien?
Time: berapa lama rasa nyeri berlangsung, kapan, bertambah buruk
pada malam hari atau siang hari, apakah gejala timbul mendadak,
perlahan-lahan atau seketika itu juga, apakah timbul gejala secara
terus-menerus atau hilang timbul (intermitten), apa yang sedang
dilakukan klien saat gejala timbul, lama timbulnya (durasi), kapan
gejala tersebut pertama kali timbul (onset).
c. Riwayat penyakit dahulu
Pengkajian yang mendukung adalah dengan mengkaji apakah
sebelumnya klien pernah menderita TB paru, keluhan batuk lama pada
masa kecil, tuberkulosis dari organ lain, pembesaran getah bening, dan
penyakit lain yang memperberat TB paru seperti diabetes mellitus.
Tanyakan mengenai obat-obat yang biasa diminum oleh klien pada
masa lalu yang relevan, obat-obat ini meliputi obat OAT dan antitusif.
Catat adanya efek samping yang terjai di masa lalu. Kaji lebih dalam
tentang seberapa jauh penurunan berat badan (BB) dalam enam bulan
terakhir. Penurunan BB pada klien dengan TB paru berhubungan erat
dengan proses penyembuhan penyakit serta adanya anoreksia dan mual
yang sering disebabkan karena meminum OAT
d. Riwayat penyakit keluarga
Secara patologi TB paru tidak diturunkan, tetapi perawat perlu
menanyakan apakah penyakit ini pernah dialami oleh anggota keluarga
lainnya sebagai faktor predisposisi di dalam rumah.

e. Pengkajian psiko-sosio-spiritual
Pengkajian psikologis

klien meliputi beberapa dimensi

yang

memungkinkan perawat untuk memperoleh persepsi yang jelas


mengenai status emosi, kognitif, dan perilaku klien. Perawat
mengumpulkan data hasil pemeriksaan awal klien tentang kapasitas
fisik dan intelektual saat ini. Data ini penting untuk menentukan
tingkat perlunya pengkajian psiko-sosio-spiritual yang seksama. Pada
kondisi, klien dengan TB paru sering mengalami kecemasan bertingkat
sesuiai dengan keluhan yang dialaminya.
f. Pemeriksaan Fisik ( Ros : Review Of System )
Pemeriksaan fisik pada klien dengan TB paru meliputi pemerikasaan
fisik umum per system dari observasi keadaan umum, pemeriksaan
tanda-tanda vital, B1 (breathing), B2 (Blood), B3 (Brain), B4
(Bladder), B5 (Bowel), dan B6 (Bone) serta pemeriksaan yang focus
pada B2 dengan pemeriksaan menyeluruh system pernapasan
g. Keadaan Umum dan Tanda-tanda Vital
Keadaan umum pada klien dengan TB paru dapat dilakukan secara
selintas pandang dengan menilai keadaaan fisik tiap bagian tubuh.
Selain itu, perlu di nilai secara umum tentang kesadaran klien yang
terdiri atas compos mentis, apatis, somnolen, sopor, soporokoma, atau
koma.
Hasil pemeriksaan tanda-tanda vital pada klien dengan TB paru
biasanya didapatkan peningkatan suhu tubuh secara signifikan,
frekuensi napas meningkat apabila disertai sesak napas, denyut nadi
biasanya meningkat seirama dengan peningkatan suhu tubuh dan
frekuensi pernapasan, dan tekanan darah biasanya sesuai dengan
adanya penyulit seperti hipertensi.

h. B1 (Breathing)
Pemeriksaan fisik pada klien dengan TB paru merupakan pemeriksaan
fokus yang terdiri atas inspeksi, palpasi, perkusi, dan auskultasi.
Inspeksi
Bentuk dada dan pergerakan pernapasan. Sekilas pandang klien
dengan TB paru biasanya tampak kurus sehingga terlihat adanya
penurunan

proporsi

diameter

bentuk

dada

antero-posterior

dibandingkan proporsi diameter lateral. Apabila ada penyulit dari TB


paru seperti adanya efusi pleura yang masif, maka terlihat adanya
ketidaksimetrian rongga dada, pelebar intercostals space (ICS) pada
sisi yang sakit. TB paru yang disertai atelektasis paru membuat bentuk
dada menjadi tidak simetris, yang membuat penderitanya mengalami
penyempitan intercostals space (ICS) pada sisi yang sakit. Pada klien
dengan TB paru minimal dan tanpa komplikasi, biasanya gerakan
pernapasan tidak mengalami perubahan. Meskipun demikian, jika
terdapat komplikasi yang melibatkan kerusakan luas pada parenkim
paru biasanya klien akan terlihat mengalami sesak napas, peningkatan
frekuensi napas, dan menggunakan otot bantu napas.
Batuk dan sputum. Saat melakukan pengkajian batuk pada klien
dengan TB paru, biasanya didapatkan batuk produktif yang disertai
adanya peningkatan produksi secret dan sekresi sputum yang purulen.
Periksa jumlah produksi sputum, terutama apabila TB paru disertai
adanya

brokhiektasis

yang

membuat

klien

akan

mengalami

peningkatan produksi sputum yang sangat banyak. Perawat perlu


mengukur jumlah produksi sputum per hari sebagai penunjang evaluasi
terhadap intervensi keperawatan yang telah diberikan.
Palpasi
Gerakan dinding thoraks anterior/ekskrusi pernapasan. TB paru tanpa
komplikasi pada saat dilakukan palpasi, gerakan dada saat bernapas
biasanya normal seimbang antara bagian kanan dan kiri. Adanya

penurunan gerakan dinding pernapasan biasanya ditemukan pada klien


TB paru dengan kerusakan parenkim paru yang luas.
Getaran suara (fremitus vokal). Getaran yang terasa ketika perawat
meletakkan tangannya di dada klien saat klien berbicara adalah bunyi
yang dibangkitkan oleh penjalaran dalam laring arah distal sepanjang
pohon bronchial untuk membuat dinding dada dalam gerakan resonan,
teerutama pada bunyi konsonan. Kapasitas untuk merasakan bunyi
pada dinding dada disebut taktil fremitus.
Perkusi
Pada klien dengan TB paru minimal tanpa komplikasi, biasanya akan
didapatkan resonan atau sonor pada seluruh lapang paru. Pada klien
dengan TB paru yang disertai komplikasi seperti efusi pleura akan
didapatkan bunyi redup sampai pekak pada sisi yang sesuai banyaknya
akumulasi cairan di rongga pleura. Apabila disertai pneumothoraks,
maka didapatkan bunyi hiperresonan terutama jika pneumothoraks
ventil yang mendorong posisi paru ke sisi yang sehat.
Auskultasi
Pada klien dengan TB paru didapatkan bunyi napas tambahan (ronkhi)
pada sisi yang sakit. Penting bagi perawat pemeriksa untuk
mendokumentasikan hasil auskultasi di daerah mana didapatkan
adanya ronkhi. Bunyi yang terdengar melalui stetoskop ketika klien
berbica disebut sebagai resonan vokal. Klien dengan TB paru yang
disertai komplikasi seperti efusi pleura dan pneumopthoraks akan
didapatkan penurunan resonan vocal pada sisi yang sakit.
i. B2 (Blood)
Pada klien dengan TB paru pengkajian yang didapat meliputi:
1) Inspeksi

: Inspeksi tentang adanya parut dan keluhan

kelemahan fisik.
2) Palpasi

: Denyut nadi perifer melemah.

3) Perkusi

: Batas jantung mengalami pergeseran pada TB

paru dengan efusi pleura masif mendorong ke sisi sehat

4) Auskultasi

: Tekanan darah biasanya normal. Bunyi jantung

tambahan biasanya tidak didapatkan.


j. B3 (Brain)
Kesadaran biasanya compos mentis, ditemukan adanya sianosis perifer
apabila gangguan perfusi jaringan berat. Pada pengkajian objektif,
klien tampak dengan meringis, menangis, merintih, meregang, dan
menggeliat. Saat dilakukan pengkajian pada mata, biasanya didapatkan
adanya kengjungtiva anemis pada TB paru dengan gangguan fungsi
hati.
k. B4 (Bladder)
Pengukuran volume output urine berhubungan dengan intake cairan.
Oleh karena itu, perawat perlu memonitor adanya oliguria karena hal
tersebut merupakan tanda awal dari syok. Klien diinformasikan agar
terbiasa dengan urine yang berwarna jingga pekat dan berbau yang
menandakan fungsi ginjal masih normal sebagai ekskresi karena
meminum OAT terutama fifampisin.
l. B5 (Bowel)
Klien biasanya mengalami mual, penurunan nafsu makan, dan
penurunan berat badan.
m. B6 (Bone)
Aktivitas sehari-hari berkurang banyak pada klien dengan TB paru.
Gejala yang muncul antara lain kelemahan, kelelahan, insomnia, pola
hidup menetap, jadwal olahraga menjadi tak teratur.

3. Diagnosa dan Intervensi Keperawatan


a. Bersihan jalan nafas tak efektif, berhubungan dengan sekret kental /
sekret darah, kelemahan, upaya batuk buruk, edema tracheal / faringeal
dapat ditandai dengan:
1) Frekuensi pernafasan, irama, kedalaman tak normal.
2) Bunyi nafas tak normal, ( ronchi, mengi ) stridor.
3) Dispnoe.
Tujuan :
Menunjukan perilaku untuk memperbaiki/ mempertahankan bersihan
jalan nafas.
Intervensi dan Rasional
1) Berikan pasien posisi semi atau fowler tinggi, bantu pasien untuk
latihan nafas dalam.
Rasional : Posisi membantu memaksimalkan ekspansi paru dan
menurunkan upaya pernafasan, ventilasi meksimal membuka area
atelektasis dan meningkatkan gerakan sekret kedalam jalan nafas
besar untuk dikeluarkan.
2) Bersihkan sekret dari mulut dan trakea ; pengisapan sesuai dengan
keperluan
Rasional : Pengeluaran sulit bila sekret sangat tebal (misalnya ;
efek infeksi dan atau tidak

adekuat hydrasi) sputum berdarah

kental atau darah cerah diakibatkan oleh kerusakan (kapitasi) paru


atau luka bronkial, dan dapat memerlukan evaluasi / intervensi
lanjut.
3) Catat kemampuan untuk mengeluarkan mukosa / batuk efektif,
catat karakter, jumlah sputum dan adanya hemoptisis.
Rasional : Mencegah obstruksi / aspirasi, penghisapan dapat
diperlukan bila pasien tidak mampu mengeluarkan sekret.
4) Kaji fungsi pernafasan, contoh bunyi nafas, kecepatan, irama dan
kedalaman serta penggunaan otot aksesori.

Rasional : Penurunan bunyi nafas dapat menunjukan atelektasis,


ronchi, mengi, menunjukan akumulasi sekret/ketidakmampuan
untuk membersihkan jalan nafas yang dapat menimbulkan
pengguanaan otot aksesori pernafasan dan peningkatan kerja
pernafasan.
b. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan penurunan permukaan
efektif, atelektasis, kerusakan membran alveolar kapiler, sekret kental,
tebal, dan edema bronchial.
Tujuan :
Menunjukan perbaikan ventilasi dan oksigenisasi jaringan adekuat
dengan BGA dalam rentang normal.
Intervensi dan Rasional
1) Tingkatkan tirah baring / batasi aktivitas dan bantu aktivitas
perawatan diri sesuai dengan keperluan.
Rasional : Menurunkan konsumsi O2 / kebutuhan selama periode
penurunan pernafasan dapat menurunkan beratnya gejala.
2) Tunjukan / dorong bernafas bibir selama ekhalasi, khususnya untuk
pasien dengan fibrosis atau kerusakan parenkhim.
Rasional : Membuat tahanan melawan udara luar, untuk mencegah
kolaps

penyempitan

jalan

nafas,

sehingga

membantu

menyebarkan udara melalui paru dan menghilangkan / menurunkan


nafas pendek.
3) Kaji diespnoe, tachipnoe, tak normal / menurunnya bunyi nafas,
peningkatan upaya

pernapasan, terbatasnya ekspansi dinding

dada & kelemahan.


Rasional : TB paru menyebabkan efek luas pada paru dari bagian
kecil bronchopneomonia sampai inflamasi difus luas, necrosis,
effusi pleural dan fibrosis luas, efek pernafasan dapat dari ringan
sampai diespnoe berat sampai diestres pernafasan.

4) Evaluasi perubahan pada tingkat kesadaran, catat sianosis dan /


atau perubahan pada warna kulit, termasuk membran mukosa dan
kuku.
Rasional : Akumulasi sekret/ pengaruh jalan nafas dapat
mengganggu oksigenisasi organ vital dan jaringan.
c. Resiko tinggi infeksi (penyebaran/ aktivitas ulang) berhubungan
dengan pertahanan primer tak adekuat, penurunan kerja silia/ statis
sekret,

penurunan

pertahanan/

penekanan

proses

imflamasi,

malnutrisi, kurang pengetahuan untuk menghindari pemajanan


pathogen
Tujuan :
Mengidentifikasi intervensi untuk mencegah/ menurunkan resiko
penyebaran infeksi.
Intervensi dan Rasional :
1) Anjurkan pasien untuk batuk / bersin dan mengeluarkan pada
tissue & menghindari meludah di tempat umum serta tehnik
mencuci tangan yang tepat.
Rasional : Perilaku yng diperlukan untuk mencegah penyebaran
infeksi dapat membantu menurunkan rasa terisolir pasien &
membuang stigma sosial sehubungan dengan penyakit menular.
2) Kaji patologi / penyakit ( aktif / tak aktif diseminasi infeksi melalui
bronchus untuk membatasi jaringan atau melalui aliran darah /
sistem limfatik ) dan potensial penyebaran melalui droplet udara
selama batuk, bersin, meludah,bicara, dll.
Rasional : Membantu pasien menyadari / menerima perlunya
mematuhi program pengobatan untuk mencegah pengaktifan
berulang / komplikasi. pemahaman begaiman penyakit disebarkan
& kesadaran kemungkinan tranmisi membantu pasien / orang
terdekat mengambil langkah untuk mencegah infeksi ke orang lain.

3) Identifikasi orang lain yang beresiko, contoh anggota rumah,


anggota, sahabat karib / teman.
Rasional : Orang orang yang terpajan ini perlu program therapy
obat untuk mencegah penyebaran infeksi.
d. Resiko regimen terapi berhubungan dengan banyaknya kombinasi obat
yang harus diminum
Tujuan : memperbaiki gejala, mengurangi resiko infeksi.
Intervensi dan Rasional :
1) Kolaborasi dengan dokter tentang pemberian kombinasi obat.
Rasional : Pengobatan terhadap penyakit TBC memerlukan
kombinasi berbagai obat (obat antituberkulosis/ OAT) yang
diberikan selama 6 bulan atau lebih untuk dinyatakan sembuh.
2) Kaji dari efek penggunaan regimen terapi.
Rasional

Efek

dari

penggunaan

regimen

terapi

dapat

menyebabkan berbagai komplikasi.


3) Berikan

penyuluhan

dan

pendidikan

kesehatan

tentang

ketidakteraturan berobat akan menyebabkan resistensi.


Rasional : Kombinasi obat yang telah diberikan telah disesuaikan
dengan

fase

TB

paru.

menyebabkan resiko resistensi.

Sehingga

ketidakteraturan

akan

Daftar Pustaka
Corwin, E. J. 2008. Buku Saku Patofisiologi. Jakarta: EGC.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2006. Pedoman
Penanggulangan Tuberkulosis. Depkes RI : Jakarta.

Nasional

Herdman, T. H., & Kamitsuru, S. 2015. Diagnosa Keperawatan, Definisi dan


Klasifikasi 2015-2017. Jakarta: EGC.
Nurarif, A. H., & Kusuma, H. 2013. Aplikasi NANDA & NIC NOC. Yogyakarta:
Mediaction.
Sudoyo, Aruw. 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam jilid 2 Edisi IV. Jakarta:
Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI.

LAPORAN PENDAHULUAN TB PARU


DI RUANG IGD RUMAH SAKIT ROEMANI MUHAMMADIYAH
KOTA SEMARANG

Oleh :
Dimas Kurniawan
NIM : G3A 015 024

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS


FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN DAN KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SEMARANG
2016

Anda mungkin juga menyukai