Anda di halaman 1dari 20

Bab II

Pengertian Hutan Hujan Tropis

Hutan hujan tropika atau sering juga ditulis sebagai hutan hujan tropis adalah bioma
berupa hutan yang selalu basah atau lembap, Hal ini dikarenakan hutan hujan tropis selalu
cukup mendapat sinar matahari dan juga curah hujan yang tinggi. Yang dapat ditemui di
wilayah sekitar khatulistiwa;
Yakni kurang lebih pada lintang 010 ke utara dan ke selatan garis khatulistiwa (23,5 LU
hingga 23,5 LS) yang meliputi daerah antara Cancer Tropis dan Capricorn Tropis. Hutan ini
dapat ditemukan di Asia (Indonesia,malaysia), Afrika (Kongo), Meksiko, Amerika Tengah,
Amerika Selatan (Bolivia, Venezuela, Kolombia, Brazil, Suriname, Peru), Papua Nugini,
pulau-pulau di samudera Pasifik, kepulauan Karibia, pulau-pulau Samudera Hindia,
Madagaskar, dan Australia Bagian Utara.
Hutan hujan tropis merupakan rumah untuk setengah spesies flora dan fauna di
seluruh dunia. Hutan hujan tropis juga dijuluki sebagai "farmasi terbesar dunia" karena
hampir 1/4 obat modern berasal dari tumbuhan di hutan hujan ini.
Hutan alam tropis yang masih utuh mempunyai jumlah spesies tumbuhan yang sangat
banyak. Hutan di Kalimantan mempunyai lebih dari 40.000 spesies tumbuhan, dan
merupakan hutan yang paling kaya spesiesnya di dunia. Di antara 40.000 spesies tumbuhan
tersebut, terdapat lebih dari 4.000 spesies tumbuhan yang termasuk golongan pepohonan
besar dan penting.
Di dalam setiap hektar hutan tropis seperti tersebut mengandung sedikitnya 320
pohon yang berukuran garis tengah lebih dari 10 cm. Di samping itu, di hutan hujan tropis
Indonesia telah banyak dikenali ratusan spesies rotan, spesies pohon tengkawang, spesies
anggrek hutan, dan beberapa spesies umbi-umbian sebagai sumber makanan dan obat-obatan.

Hutan hujan tropis memiliki empat lapisan utama. Masing-masing lapisan


merupakan tempat hidup tanaman dan hewan yang berbeda yang telah beradaptasi untuk
hidup di wilayah tersebut. Lapisan ini telah diidentifikasi sebagai :
Tajuk Kanopi (emergent), di ketinggian lebih dari 30 m dari permukaan
tanah.
Kanopi Atas (upper canopy), memiliki ketinggian antara 2436 m.
Bawah Kanopi (understory), terletak antara kanopi atas dan lantai hutan.
Lantai Hutan (forest floor), tempatnya terhalang dari sinar matahari.

Bab III
Tipe Hutan Hujan Tropis Menurut Ketinggian Tempat
A. Zona Hutan Hujan Bawah
Penyebaran tipe ekosistem hutan hujan bawah meliputi pulaupulau Sumatra,
Kalimantan, Jawa, Nusa Tenggara, Irian, Sulawesi, dan beberapa pulau di Maluku misalnya
di pulau Taliabu, Mangole, Mandioli, Sanan, dan Obi. Di hutan hujan bawah banyak terdapat
spesies pohon anggota famili Dipterocarpaceae terutama anggota genus Shorea,
Dipterocarpus, Hopea, Vatiea, Dryobalanops, dan Cotylelobium. Dengan demikian, hutan
hujan bawah disebut juga hutan Dipterocarps. Selain spesies pohon anggota famili
Dipterocarpaceae tersebut juga terdapat spesies pohon lain dari anggota famili Lauraceae,
Myrtaceae, Myristicaceae, dan Ebenaceae, serta pohon-pohon anggota genus Agathis,
Koompasia, dan Dyera.
Pada ekosistem hutan hujan bawah di Jawa dan Nusa Tenggara terdapat spesies pohon
anggota genus Altingia, Bischofia, Castanopsis, Ficus, dan Gossampinus, serta spesiesspesies pohon dari famili Leguminosae. Adapun eksosistem hutan hujan bawah di Sulawesi,
Maluku, dan Irian, merupakan hutan campuran yang didominasi oleh spesies pohon
Palaquium spp., Pometia pinnata, Intsia spp., Diospyros spp., Koordersiodendron pinnatum,
dan Canarium spp. Spesies-spesies tumbuhan merambat yang banyak dijumpai di hutan
hujan bawah adalah anggota famili Apocynaceae, Araceae, dan berbagai spesies rotan
(Calamus spp.).
B. Zona Hutan Hujan Tengah
Penyebaran tipe ekosistem hutan hujan tengah meliputi Jawa Tengah, Jawa Timur,
Sulawesi, sebagian daerah Indonesia Timor, di Aceh dan Sumatra Utara. Secara umum,
ekosistem hutan hujan tengah didominasi oleh genus Quercus, Castanopsis, Nothofagus, dan
spesies pohon anggota famili Magnoliaceae.
Di beberapa daerah, tipe ekosistem hutan hujan tengah agak khas. Misalnya di Aceh
dan Sumatra Utara terdapat spesies pohon Pinus merkusii, di Jawa Tengah terdapat spesies
pohon Albizzia montana dan Anaphalis javanica, di beberapa daerah Jawa Timur terdapat
spesies pohon Cassuarina spp., di Sulawesi terdapat kelompok spesies pohon anggota genus
Agathis dan Podocarpus. Di sebagian daerah Indonesia Timur terdapat spesies pohon anggota
genus Trema, Vaccinium, dan pohon Podocarpus imbricatus, sedangkan spesies pohon
anggota famili Dipterocarpaceae hanya terdapat pada daerah-daerah yang memiliki
ketinggian tempat 1.200 m dpl.
C. Zona Hutan Hujan Atas
Penyebaran tipe ekosistem hutan hujan atas hanya di Irian Jaya dan di sebagian
daerah Indonesia Barat. Tipe ekosistem hutan hujan atas pada umumnya berupa kelompok
hutan yang terpisah-pisah oleh padang rumput dan belukar. Pada ekosistem hutan hujan atas
di Irian Jaya banyak mengandung spesies pohon Conifer (pohon berdaun jarum) genus
Dacrydium, Libecedrus, Phyllocladus, dan Podocarpus. Di samping itu, mengandung juga
spesies pohon Eugenia spp. dan Calophyllum, sedangkan di sebagian daerah Indonesia Barat
dijumpai juga kelompokkelompok tegakan Leptospermum, Tristania, dan Phyllocladus yang
tumbuh dalam ekosistem hutan hujan atas pada daerah yang memiliki ketinggian tempat lebih
dari 3.300 m dpl.

2.2. Tipe Hutan Tropis Menurut Iklim di Indonesia


A. Hutan Tropis Basah
Hutan tropis basah adalah hutan yang memperoleh curah hujan yang tinggi, sering
juga kita kenal dengan istilah hutan pamah. Hutan jenis ini dapat dijumpai di Sumatera,
Kalimantan, Sulawesi, Maluku Bagian Utara dan Papua. Jenis-jenis yang umum ditemukan di
hutan ini, yaitu: Meranti (Shorea dan Parashorea), keruing (Dipterocarpus), Kapur
(Dryobalanops), kayu besi (Eusideroxylon zwageri), kayu hitam (Diospyros sp).
B. Hutan Muson Basah
Hutan muson basah merupakan hutan yang umumnya dijumpai di Jawa Tengah dan
Jawa Timur, periode musim kemarau 4-6 bulan. Curah hujan yang dialami dalam satu tahun
1.250 mm-2.000 mm. Jenis-jenis pohon yang tumbuh di hutan ini antara lain jati, mahoni,
sonokeling, pilang dan kelampis.
C. Hutan Muson Kering
Hutan muson kering terdapat di ujung timur Jawa, Bali, Lombok dan Sumbawa. Tipe
hutan ini berada pada lokasi yang memiliki musim kemarau berkisar antara 6-8 bulan. Curah
hujan dalam setahun kurang dari 1.250 mm. Jenis pohon yang tumbuh pada hutan ini yaitu
Jati dan Eukaliptus.
D. Hutan Savana
Hutan savana merupakan hutan yang banyak ditumbuhi kelompok semak belukar
diselingi padang rumput dengan jenis tanaman berduri. Periode musim kemarau 4 6 bulan
dengan curah hujan kurang dari 1.000 mm per tahun. Jenis-jenis yang tumbuh di hutan ini
umumnya dari Famili Leguminosae dan Euphorbiaceae. Tipe Hutan ini umum dijumpai di
Flores, Sumba dan Timor.

2.3. Tipe Hutan Hujan Tropis Menurut Physiognomi


Pada sistem klasifikasi ini dasar yang dipakai adalah ciri-ciri luar vegetasi yang
mudah dikenali dan dibedakan, seperti semak, rumput, pohon dan lain-lain. Ciri lebih lanjut
seperti menggugurkan daun, selalu hijau, tinggi dan derajad penutupan tegakan dapat pula
diterapkan. Ciri-ciri yang umum digunakan yaitu :
Tinggi vegetasi, yang berkaitan dengan strata yang nampak oleh mata biasa
Struktur, berpedoman pada susunan stratum (A, B, C, D dan E), dan penutupan tajuk
(Coverage).
Life-form atau bentuk hidup atau bentuk pertumbuhan, merupakan individu-individu
penyusun komunitas tumbuh-tumbuhan.
Contoh
:
a. Ciri physiognomi hutan tropis dataran rendah :
Kanopi
: 25 45 m
Tinggi pohon (emergent)
: Khas, 60 80 m
Daun penumpu
: Sering dijumpai
Elemen daun dominan
: Mesophyl
Akar papan
: Sering dijumpai dan sangat besar
Kauliflori
: Sering dijumpai
Liana berkayu
: Sering dijumpai
Liana pada batang
: Sering dijumpai
Ephyphit
: Sering dijumpai
b. Ciri physiognomy hutan tropis dataran tinggi/ pegunungan :

Kanopi
: 15 33 m
Tinggi pohon (emergent)
: Sering tidak ada
Daun penumpu
: Jarang dijumpai
Elemen daun dominan
: Mesophyl
Akar papan
: Jarang dijumpai dan kecil
Kauliflori
: Jarang dijumpai
Liana berkayu
: Jarang dijumpai
Liana pada batang
: Sering dijumpai
Ephyphit
: Sangat sering dijumpai
c. Ciri physiognomi hutan tropis pegunungan tinggi :
Kanopi
: 2 - 18 m
Tinggi pohon (emergent)
: Pada umumnya tidak ada
Daun penumpu
: Sangat jarang dijumpai
Elemen daun dominan
: Microphyl
Akar papan
: Pada umumnya tidak ada
Kauliflori
: Tidak ada
Liana berkayu
: Tidak ada
Liana pada batang
: Jarang dijumpai
Ephyphit
: Sering dijumpai
Di Indonesia berdasarkan ciri physiognomi tedapat dua tipe hutan yaitu : Hutan Hujan
Tropis, hutan yang selalu hijau dan hutan musim atau hutan yang menggugurkan daun. Hutan
hujan tropis umumnya dijumpai di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku bagian Utara
dan Papua sedangkan hutan musim yang menggugurkan daun dijumpai di Jawa, Bali, Nusa
Tenggara dan Maluku bagian Selatan.

o
o
o
o

2.4. Tipe Hutan Hujan Tropis Menurut Sosiologi Vegetasi


Tipe hutan berdasarkan sosiologi vegetasi merupakan pengklasifikasian hutan
berdasarkan jenis yang dominan pada hutan tersebut atau berdasarkan famili yang dominan di
daerah itu. Contoh :
Hutan Dipterocarpaceae di Asia Tenggara, merupakan hutan tropis yang umum dijumpai dan
Famili yang mendominasi adalah Famili Dipterocarpaceae.
Hutan Shorea albida di Serawak, merupakan hutan tropis yang didominasi jenis Shorea albida.
Hutan Ebony (Diospyros sp) di Sulawesi, merupakan hutan tropis yang didominasi oleh
Ebony atau kayu hitam.
Hutan Mahoni di Jawa, meupakan hutan musim yang didominasi oleh mahoni di pulau Jawa.
2.5. Tipe-tipe Hutan Hujan Tropis pada Kondisi Khusus (Azonal)
Hutan pada tipe azonal umumnya dipengaruhi oleh kondisi tanah dan air serta kondisi
tempat tumbuh yang miskin hara.
a.
Hutan Mangrove
Hutan yang berada di tepi pantai, didominir oleh pohon-pohon tropika atau belukar
dari genus Rhizophora, Languncularia, Avicennia dan lain-lain.
b.
Hutan Gambut (Peak Forest)
Hutan yang tumbuh pada tanah organosol dengan lapisan gambut yang memiliki
ketebalan 50 cm atau lebih, umumnya terdapat pada daerah yang memiliki tipe iklim A atau B
menurut klasifikasi tipe iklim Schmidt dan Ferguson.
c. Hutan Rawa (Swamp Forest)
Hutan yang tumbuh pada daerah-daerah yang selalu tergenang air tawar, tidak
dipengaruhi iklim. Pada umumnya terletak dibelakang hutan payau dengan jenis tanah

aluvial. Tegakan hutan selalu hijau dengan pohon-pohon yang tinggi bisa mencapai 40 m dan
terdiri atas banyak lapisan tajuk.

Bab IV
Ciri-ciri Hutan Hujan Tropis
Ciri-ciri hutan tropis, antara lain sebagai berikut:
pohon-pohonnya tinggi, rapat, dan berdaun lebat.
Dasar hutan ditumbuhi rumput dan lumut sebagai penutup lahan.
Sinar matahari tidak dapat menembus dasar hutan.
Udara di sekitarnya sangat lembap.
Terjadi di daerah curah hujan tinggi
Pada hutan hujan tropis dicirikan dengan adanya tingkat kelembaban yang selalu tinggi,
biasanya 80% atau lebih.
7. Struktur hutan hujan tropis terdiri dari tajuk yang berlapis-lapis.
8. Lapis tajuk yang atas terdiri dari pohon-pohon yang muncul di antara lapis tajuk di bawahnya
(kedua) dengan tinggi antara 45 60 m.
9. Pohon pada lapis teratas umumnya mempunyai tajuk yang kecil dan tidak teratur dengan
sedikit susunan cabang.
10. Lapis tajuk kedua merupakan kanopi utama yang umumnya terdiri dari jenis-jenis pohon
yang ramping dengan tinggi antara 30-40 m.
11. Lapisan tajuk di bawahnya terdiri dari jenis-jenis pohon yang sangat toleran, dengan batang
yang ramping, tinggi dan tajuk yang kecil, terdapat banyak epifit pada cabang yang tinggi.
12. Pada lantai hutan banyak terdapat jenis-jenis tumbuhan bawah seperti palem kecil, jenis-jenis
bambu, rotan, paku-pakuan dan jenis-jenis lainnya, atau mungkin hampir tanpa tumbuhan
bawah.
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Ciri-ciri hutan hujan tropis curah hujannya sangat tinggi bahkan lebih dari 2.000 mm/tahun.
Pohon-pohon utama di hutan ini memiliki ketinggian antara 20-40 m dengan cabang pohon
berdaun lebat dan lebar serta selalu hijau sepanjang tahun, mendapat sinar matahari yang
cukup walaupun sinar matahari tersebut tidak mampu menembus dasar hutan, dan
mempunyai iklim mikro di lingkungan sekitar permukaan tanah atau di bawah kanopi (daun
pada pohon-pohon besar yang membentuk tudung).

Bab V
Manfaat / Fungsi Hutan Hujan Tropis
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Pengatur tata air


Penyerap karbondioksida
Pencegah erosi dan banjir
Bioindikator terjadinya hujan asam dan pencemaran udara yang lain
Perlindungan flora dan fauna
Menstabilkan iklim dunia
Menjadi sumber makanan bagi kehidupan makhluk hidup
Dan masih banyak manfaat lainnya dari adanya hutan hujan tropis ini.

Bab VI
Flora dan Fauna Yang Hidup Di Hutan Hujan Tropis
Tumbuhan yang hidup di hutan hujan tropis mulai dari pohon besar yang tinggi
menjulang sampai tumbuhan epifit. Hutan di Kalimantan misalnya, mempunyai lebih dari

40.000 spesies tumbuhan, Dan hewan-hewan seperti mamalia, reptilia, burung, dan serangga
dengan beragam jenis yang tidak terhitung jumlahnya.
Beberapa tumbuhan yang hidup di daeran hutan ini antara lain :

Beberapa jenis Fauna yang berada di hutan hujan tropis di kalimantan :

Bab VII
Kerusakan Hutan Hujan Tropis dan Solusi Mengatasinya
Hutan hujan tropis memliki peran penting bagi banyaknya kehidupan yang berada
didalam nya, hutan hujan tropis memiliki banyak makanan dan minuman untuk kehidupan
beberapa satwa yang ada disana. Namun, seiring dengan pesatnya kemajuan tekhnologi
modern, banyak hutan-hutan hujan tropis mulai di gunduli untuk dijadikan Pabrik,
Perumahan, atau gedung-gedung.
Dengan makin luasnya wilayah hutan hujan tropis yang di gunduli, maka semakin
sedikit pula tempat habitat satwa yang ada disana, pohon-pohon ditebangi, satwa-satwa
disana pun semakin sulit mencari makanan di hutan. Akibatnya, banyak satwa-satwa yang
mati dan terancam punah, dan banyak pula tumbuhan-tumbuhan yang terancam punah karena
maraknya penebangan liar. Sampai saat ini, indonesia telah kehilangan 72% Hutan Asli, yang
berdampak pula pada menipisnya wilayah hutan hujan tropis di indonesia.
Hutan hujan tropis Indonesia adalah bagian dari 10% hutan tropis dunia yang masih
ada. Hutan tropis indonesia banyak sekali keanekaragaman hayatinya, yang terdiri atas 12%
spesies hewan mamalia, 16% spesies reptil dan amphibi, 1.519 spesies burung, dan 25%
spesies ikan dunia.
Solusi Untuk Kerusakan Hutan Tropis :
1. Penghijauan
Kegiatan Teknik pemuliaan pohon serta pengendalian hama dan penyakit bisa dilakukan
untuk memulihkan kembali hutan di Indonesia. Penanaman hutan secara intensif menjadi
pilihan terbaik karena bisa diprediksi, sehingga kebutuhan kayu bisa diperhitungkan tanpa
harus merusak habitat hutan alam yang masih baik.
2. Dinas Kehutanan
Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan
Pemerintahan Antara Pemerintah, Dinas Kehutanan memiliki kewengan untuk mengatur,
menjaga, melestarikan, dan mengelola hutan. Selain itu, Dinas Kehutanan juga brewenang
untuk memberikan izin usaha pemanfaatan kawasan hutan dan pemungutan hasil hutan serta
berwenang melakukan pengawasan dan pengendalian penatausahaan hasil hutan. Apabila
Dinas Kehutanan melaksanakan kewenangan tersebut secara benar, maka kerusakan hutan
tropis akan bisa ditekan.

3. Dinas Lingkungan Hidup


Pencanangan program pemerintah yang dikoordinasikan oleh kantor Menneg LH, antara
lain 7 kegiatan utama yakni bumi lestari, sumber daya alam lestari, program kali bersih,
program langit biru, adipura, laut dan pantai lestari serta manajemen lingkungan memerlukan
dukungan dan peran serta masyarakat luas dan instansi terkait dalam pelaksanaannya.
Pembentukan Pejabat Penyidik Pegawai Negeri Sipil/ PPNS Bidang Lingkungan, BAPEDAL
juga menunjukkan kesungguhan dan komitmen pemerintah yang kuat.

4. Peringatan Hari Lingkungan Hidup


Peringatan hari lingkungan hidup se-dunia dengan tema Green Cities pada 5 mei 2005
perlu diapresiasi dengan sikap aktif pro-aktif. Seyogyanya pemerintah pusat hingga
pemerintah daerah melakukan aksi nyata dan tidak hanya pada konsep dan acara seremonial
belaka. Apa yang dilakukan oleh pemerintah Kota Pekanbaru dalam memperingati hari
lingkungan hidup se-dunia dengan tema Gerakan Kota Bersih dan Hijau perlu dicontoh
oleh kabupaten/ kota lain.
Penghijauan kota dan lahan gundul serta penjagaan terhadap lingkungan laut menjadi
prioritas mekanisme pembangunan bersih. Hal ini diyakini bahwa hutan merupakan paruparu dunia yang dapat menyerap karbon dan menyediakan oksigen bagi kehidupan di muka
bumi. Fungsi hutan sebagai penyimpan air tanah juga akan terganggu akibat terjadinya
pengrusakan hutan yang terus-menerus. Hal ini akan berdampak pada semakin seringnya
terjadi kekeringan di musim kemarau dan banjir serta tanah longsor di musim penghujan.
Pada akhirnya, hal ini akan berdampak serius terhadap kondisi perekonomian masyarakat.
Sedangkan laut diyakini menyimpan banyak potensi flora dan fauna yang menarik untuk
dijadikan aset daerah dengan pendekatan ekowisata. Tentu pengelolaan yang rapi, sistemik
dan berwawasan lingkungan menjadi ruh utama pembangunan.
5. Universitas
Universitas diharapkan mampu mencetak mahasiswanya menjadi sumber daya manusia
yang pintar, bijaksana, serta peduli terhadap lingkungan melalui pemberian mata kuliah
Pendidikan Lingkungan Hidup. Pendidikan lingkungan merupakan unsur yang sangat penting
dalam mengelola lingkungan. Pendidikan lingkungan memiliki peran yang strategis dan
penting dalam mempersiapkan manusia untuk memecahkan masalah-masalah lingkungan.
Melalui pendidikan lingkungan orang dapat mengembangkan pemikiran dan teknologi yang
mampu mendukung langkah yang tepat untuk skala lokal maupun global. Selain dari itu,
pendidikan sendiri merupakan jalur positif untuk menuju perubahan pemahaman mengenai
lingkungan hidup. Semakin tinggi tingkat pendidikan dari suatu masyarakat maka semakin
tinggi pula persepsi dan kepedulian masyarakat tersebut sehingga menimbulkan sikap serta
perilaku yang lebih baik dalam menghadapi masalah lingkungan.
6. Tokoh Masyarakat dan Tokoh Agama
Pada masyarakat pedesaan, peran tokoh masyarakat dan tokoh agama dalam
mensukseskan program pengelolaan lingkungan sangatlah besar. Masyarakat pedesaan
umumnya pasif dan mencontoh perbuatan yang dilakukan oleh pemimpin mereka. Untuk itu
sudah sewajarnya apabila tokoh masyarakat dan tokoh agama membekali diri dengan
pengetahuan yang memadai mengenai pengelolaan lingkungan dan kesehatan.

Pada masyarakat perkotaan yang umumnya lebih individualistis, intelektual diharapkan


menjadi sikap yang baik dalam menjaga dan mengelola lingkungan, karena dengan
pengetahuan yang dimilikinya seharusnya dia mampu menyelaraskan dan memadukan
perintah agama dengan perannya sebagai bagian dari penebar kasih bagi semesta alam.
7. Media Massa
Peran media massa juga penting untuk pendidikan bahkan merupakan partner yang cukup
relevan untuk menunjang pendidikan lingkungan tersebut. Media massa harus diisi pula
dengan pendidikan lingkungan, terutama untuk anak-anak dan generasi muda sehingga
mereka menyadari arti penting lingkungan demi kesejahteraan manusia dan makhluk hidup
lain.
8. LSM
Dalam rangka melestarikan hutan, LSM perlu meningkatkan kampanye-kampanye konservasi
kepada masyarakat melalui penyuluhan dan praktik nyata yang juga melibatkan masyarakat.
Dengan penyuluhan, masyarakat menjadi tahu pentingnya pelestarian alam, dan dengan
praktik nyata konservasi, masyarakat diharapkan tidak hanya mengerti namun juga akan
mempraktikannya di dalam kehidupan mereka.
Selain itu, kelembagaan lingkungan hidup serta masyarakat luas perlu melakukan kontrol
terhadap kebijakan pemerintah yang tidak berpihak kepada kepentingan rakyat. Pada sektor
korporasi yang mengelola langsung sumber daya alam lokal, seperti CALTEX, RAPP, serta
perusahaan-perusahaan besar lainnya harus memperhatikan kesepakatan ISO-14000 yang
mengamanahkan untuk meningkatkan pola produksi berwawasan lingkungan, membangun
pabrik atau perusahaan hijau (green company) dengan sasaran keselamatan kerja, kesehatan
dan lingkungan yang maksimal dan pola produksi dengan limbah nol (zero waste).
9. Penegakan Hukum
Penegakan hukum terhadap kejahatan di bidang kehutanan tidak lepas dari konsep
penegakan hukum terhadap lingkungan. Hal ini dimaksudkan untukmenakut-nakuti orang
banyak dan sipenjahat sendiri dengan memberikan sanksi berat, sehingga dengan penerapan
sanksi yang berat itu baik pelaku maupun orang lain akan jera untuk melakukan perbuatan
yang dimaksud.
Lebih lanjut dinyatakan bahwa ketentuan tentang sanksi pidana dalam undang-undang
lingkungan hidup tentang tugas pemerintah menggariskan kebijakan dan melakukan tindakan
yang mendorong ditingkatkannya upaya pelestarian lingkungan hidup yang serasi dan
seimbang. Artinya, ada keseimbangan antara pemanfaatan maupun perlindungan terhadap
hutan yang harus terintegrasi dalam satu konsep pembangunan. Dengan demikian, perusak
hutan perlu diberi penyuluhan, bimbingan serta insentif dan disinsentif, sehingga benar-benar
menyadari kewajibannya, dan bagi yang melanggar ketentuan dikenakan sanksi sebagai
tindak lanjut.

Home Ekosistem Ekosistem Hutan Hujan Tropis : Ciri-ciri dan Fungsinya

Ekosistem Hutan Hujan Tropis : Ciri-ciri


dan Fungsinya
Administrator
Add Comment
Ekosistem
Tuesday, June 16, 2015
Ekosistem hutan hujan tropis adalah ekosistem hutan yang mempunyai keragaman organisme
sangat tinggi, dengan ciri khas berupa iklim yang lembab serta curah hujan yang tinggi.
Ekosistem ini hanya terbentuk di daerah beriklim tropis dengan curah hujan sekitar 1.750
2.000 mm per tahun dan suhu bulanan sekitar 18 C sepanjang tahun.
Ekosistem hutan hujan tropis umumnya ada di dataran rendah sampai ketinggian sekitar
1.200 m dpl. Tanah-tanah yang subur, kering (tidak tergenang dalam waktu lama), dan tidak
memiliki musim kemarau (jumlah bulan kering < 2) adalah beberapa karakteristik ekosistem
hutan hujan tropis yang paling umum ditemukan. Berikut ini akan kita bahas seputar
bagaimana lebih lanjut mengenai ekosistem hutan hujan tropis ini beserta pengertian, ciriciri, fungsi, dan kehidupan organisme yang ada di dalamnya secara lebih detail. Silakan
disimak.

Ciri-ciri Ekosistem Hutan Hujan Tropis

Ciri-ciri ekosistem hutan hujan tropis antara lain:

Lokasinya berada di daerah tropis.

Curah hujan berkisar antara 1.750 2.000 mm per tahun, sehingga dilengkapi pula
dengan ekosistem air tawar.

Memiliki kanopi atau lapisan-lapisan cabang pohon yang terbentuk oleh rapatnya
vegetasi pepohonan.

Memiliki tingkat keragaman biota yang sangat tinggi (biodiversity).

Hubungan simbiotik antar spesies seringkali bekerja bersama.

Dominasi vegetasi meliputi tumbuhan berkayu (perpohonan), tumbuhan berbatang


kurus (tidak banyak cabang).

Fungsi Ekosistem Hutan Hujan Tropis


Ekosistem hutan hujan tropis memiliki peranan yang sangat besar bagi keseimbangan
ekosistem global. Beberapa fungsi ekosistem ini antara lain:

Sebagai rumah bagi banyak tumbuhan dan hewan.

Menstabilkan iklim dunia melalui penyerapan CO2 dari atmosfer.

Menjaga keseimbangan ekosistem di sekitarnya dari bencana banjir, kekeringan, dan


erosi.

Sumber dari obat-obatan dan makanan.

Menyokong kehidupan manusia suku pedalaman.

Kehidupan Organisme Hutan Hujan Tropis dan Interaksinya


Seperti telah dijelaskan di atas bahwa ekosistem hutan hujan tropis memang memiliki tingkat
keragaman organisme yang sangat tinggi. Namun, dominasi vegetasi dari ekosistem ini
rupanya terletak pada populasi pohon tinggi (ketinggian >15 meter) yang sangat besar.
Besarnya populasi pepohonan tinggi dalam ekosistem ini membuat ekosistem hutan hujan
tropis terbagi menjadi beberapa lapis berdasarkan kanopi tanaman yang ada di dalamnya.

Bekantan sebagai Ciri Khas Ekosistem Hutan Kalimantan


Selain pepohonan yang tinggi, ekosistem hutan hujan tropis juga terdiri dari beberapa
vegetasi lain meliputi terna seperti paku-pakuan dan paku lumut, tumbuhan pemanjat seperti
yang biasa digunakan Tarzan untuk bergelantungan, epifita yang tumbuh menempel seperti
anggrek, saprofita, dan beberapa tumbuhan parasit seperti benalu.
Terkait dengan kingdom animalia, ekosistem hutan hujan tropis juga terdiri atas beragam
jenis hewan. Ya, hutan hujan tropis memang dijadikan rumah bagi banyak hewan seperti
mamalia, reptile, amphibi, burung, serangga, dan ikan. Di bagian langit-langit ekosistem ini,
beragam primata seperti gorilla, monyet, bekantan, simpanse, siamang, dan primata lainnya
hidup di atas dahan-dahan pepohonan tinggi. Sedangkan, beberapa hewan termasuk gajah,
tapir, dan macan kumbang juga hidup di bagian dasar hutan sebagai pelengkap keragaman
ekosistem dan rantai makanan dalam ekosistem hutan hujan tropis ini.
Nah, itulah beberapa hal terkait dengan ekosistem hutan hujan tropis. Tertarikkah kamu
untuk berkunjung ke ekosistem ini? Hati-hati ya!
Ekosistem hutan hujan tropis merupakan harta yang paling berharga milik bumi kita ini.
Ekosistem hutan hujan tropis mengandung banyak kekayaan yang sangat melimpah sehingga

manusia hanya mengetahui bagian kecil dari keseluruhan spesies makhluk hidup yang ada di
dalam ekosistem ini.
Ekosistem hutan hujan tropis terletak dan terbentang di sekitar ekuator bumi yang
merupakan ekosistem dengan biodiversitas terbanyak. Sekitar 80 % biodiversitas makhluk
hidup ada dalam ekosistem ini. Tingginya curah hujan mampu menjadi tempat yang sangat
nyaman untuk begitu banyak spesies tumbuhan dan hewan. Kehidupan yang ada pada
ekosistem hutan hujan tropis ini terdapat pada segala lapisan. Mulai dari lapisan bawah tanah
hingga puncak paling atas ekosistem hutan hujan tropis ini (pepohonan tertinggi lebih dari
160 kaki).

Ekosistem Hutan Hujan Tropis di Kalimantan


Terdapat sangat banyak manfaat hutan hujan tropis yang telah dirasakan oleh manusia dan
organisme serta bumi ini. Contohnya ekosistem hutan hujan tropis yang ada di Kalimantan
telah diakui sebagai paru-paru dunia yang harus dijaga. Manfaat ekosistem hutan hujan tropis
lainnya sebagai sumber bahan baku obat-obatan yang paling melimpah .
Akan tetapi, masa sekarang dan beberapa ratus tahun sebelumnya dari sekarang, ekosistem
hutan hujan tropis di dunia terancam bahkan kalau saya melihatnya sudah sangat terancam.
Di kalimantan saja, illegal logging atau penebangan pohon secara ilegal terjadi dimana-mana
(bahkan ada yang dilindungi pemerintah). Hal ini sangat miris dan menjengkelkan. Peneliti
memperkirakan bahwa setiap hari terdapat 137 spesies (tumbuhan dan hewan) yang mati
bahkan punah karena pemotongan pepohonan di ekosistem hutan hujan tropis ini.

Ekosistem .:: HUTAN HUJAN TROPIS ::.

Secara geografis daerah tropis mencakup wilayah yang terletak di antara titik balik rasi
bintang Cancer dan rasi bintang Capricornus, yaitu antara 2327 Lintang Utara dan 2327
Lintang Selatan. Meliputi wilayah Asia Selatan dan Asia Tenggara, Australia bagian Utara,
sebagian besar wilayah Afrika, Kepulauan Pasifik, Amerika Tengah dan sebagian besar
wilayah Amerika Selatan. Menurut Koeppen (1930) daerah tropis adalah wilayah yang
terletak di antara garis isoterm 180 C bulan terdingin. Daerah tropis secara keseluruhan
mencakup 30 % dari luas permukaan bumi. Hutan Tropis merupakan hutan yang berada di
daerah tropis.
Hutan hujan tropis merupakan salah satu tipe vegetasi hutan tertua yang telah menutupi
banyak lahan. Ekosistem hutan hujan tropis terbentuk oleh vegetasi klimaks pada daerah

dengan curah hujan 2.000 -11.000 mm per tahun, rata-rata temperatur 25C dengan
perbedaan temperatur yang kecil sepanjang tahun, dan rata-rata kelembapan udara 80 %.
Tipe ekosistem hutan hujan tropis terdapat di wilayah yang memiliki tipe iklim A dan B
(menurut klasifikasi iklim Schmidt dan Ferguson), atau dapat dikatakan bahwa tipe ekosistem
tersebut berada pada daerah yang selalu basah, pada daerah yang memiliki jenis tanah Podsol,
Latosol, Aluvial, dan Regosol dengan drainase yang baik, dan terletak jauh dari pantai.
Tegakan hutan hujan tropis didominasi oleh pepohonan yang selalu hijau. Keanekaragaman
spesies tumbuhan dan binatang yang ada di hutan hujan tropis sangat tinggi. Jumlah spesies
pohon yang ditemukan dalam hutan hujan tropis lebih banyak dibandingkan dengan yang
ditemukan pada ekosistem yang lainnya. Misalnya, hutan hujan tropis di Amazonia
mengandung spesies pohon dan semak sebanyak 240 spesies.
Hutan alam tropis yang masih utuh mempunyai jumlah spesies tumbuhan yang sangat
banyak. Hutan di Kalimantan mempunyai lebih dari 40.000 spesies tumbuhan, dan
merupakan hutan yang paling kaya spesiesnya di dunia. Di antara 40.000 spesies tumbuhan
tersebut, terdapat lebih dari 4.000 spesies tumbuhan yang termasuk golongan pepohonan
besar dan penting. Di dalam setiap hektar hutan tropis seperti tersebut mengandung
sedikitnya 320 pohon yang berukuran garis tengah lebih dari 10 cm. Di samping itu, di hutan
hujan tropis Indonesia telah banyak dikenali ratusan spesies rotan, spesies pohon
tengkawang, spesies anggrek hutan, dan beberapa spesies umbi-umbian sebagai sumber
makanan dan obat-obatan.
Tajuk pohon hutan hujan tropis sangat rapat, ditambah lagi adanya tumbuh-tumbuhan yang
memanjat, menggantung, dan menempel pada dahan-dahan pohon, misalnya rotan, anggrek,
dan paku-pakuan. Hal ini menyebabkan sinar matahari tidak dapat menembus tajuk hutan
hingga ke lantai hutan, sehingga tidak memungkinkan bagi semak untuk berkembang di
bawah naungan tajuk pohon kecuali spesies tumbuhan yang telah beradaptasi dengan baik
untuk tumbuh di bawah naungan.
Itu semua merupakan ciri umum bagi ekosistem hutan hujan tropis. Selain ciri umum yang
telah dikemukakan di atas, masih ada ciri yang dimiliki ekosistem hutan hujan tropis, yaitu
kecepatan daur ulang sangat tinggi, sehingga semua komponen vegetasi hutan tidak mungkin
kekurangan unsur hara. Jadi, faktor pembatas di hutan hujan tropis adalah cahaya, dan itu pun
hanya berlaku bagi tumbuh-tumbuhan yang terletak di lapisan bawah. Dengan demikian,
herba dan semak yang ada dalam hutan adalah spesies-spesies yang telah beradaptasi secara
baik untuk tumbuh di bawah naungan pohon.
A. Tipe Hutan Hujan Tropis Menurut Ketinggian Tempat
Menurut ketinggian tempat dari permukaan laut, hutan hujan tropis dibedakan menjadi tiga
zona atau wilayah sebagai berikut.
1. Zona 1 dinamakan hutan hujan bawah karena terletak pada daerah dengan ketinggian
tempat 0 -1.000 m dari permukaan laut.
2. Zona 2 dinamakan hutan hujan tengah karena terletak pada daerah dengan ketinggian
tempat 1.000 - 3.300 m dari permukaan laut.
3. Zona 3 dinamakan hutan hujan atas karena terletak pada daerah dengan ketinggian tempat
3.300 - 4.100 m dari permukaan laut.
1. Zona Hutan Hujan Bawah

Penyebaran tipe ekosistem hutan hujan bawah meliputi pulaupulau Sumatra, Kalimantan,
Jawa, Nusa Tenggara, Irian, Sulawesi, dan beberapa pulau di Maluku misalnya di pulau
Taliabu, Mangole, Mandioli, Sanan, dan Obi. Di hutan hujan bawah banyak terdapat spesies
pohon anggota famili Dipterocarpaceae terutama anggota genus Shorea, Dipterocarpus,
Hopea, Vatiea, Dryobalanops, dan Cotylelobium. Dengan demikian, hutan hujan bawah
disebut juga hutan Dipterocarps. Selain spesies pohon anggota famili Dipterocarpaceae
tersebut juga terdapat spesies pohon lain dari anggota famili Lauraceae, Myrtaceae,
Myristicaceae, dan Ebenaceae, serta pohon-pohon anggota genus Agathis, Koompasia, dan
Dyera.
Pada ekosistem hutan hujan bawah di Jawa dan Nusa Tenggara terdapat spesies pohon
anggota genus Altingia, Bischofia, Castanopsis, Ficus, dan Gossampinus, serta spesiesspesies pohon dari famili Leguminosae. Adapun eksosistem hutan hujan bawah di Sulawesi,
Maluku, dan Irian, merupakan hutan campuran yang didominasi oleh spesies pohon
Palaquium spp., Pometia pinnata, Intsia spp., Diospyros spp., Koordersiodendron pinnatum,
dan Canarium spp. Spesies-spesies tumbuhan merambat yang banyak dijumpai di hutan
hujan bawah adalah anggota famili Apocynaceae, Araceae, dan berbagai spesies rotan
(Calamus spp.).
2. Zona Hutan Hujan Tengah
Penyebaran tipe ekosistem hutan hujan tengah meliputi Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi,
sebagian daerah Indonesia Timor, di Aceh dan Sumatra Utara. Secara umum, ekosistem hutan
hujan tengah didominasi oleh genus Quercus, Castanopsis, Nothofagus, dan spesies pohon
anggota famili Magnoliaceae.
Di beberapa daerah, tipe ekosistem hutan hujan tengah agak khas. Misalnya di Aceh dan
Sumatra Utara terdapat spesies pohon Pinus merkusii, di Jawa Tengah terdapat spesies pohon
Albizzia montana dan Anaphalis javanica, di beberapa daerah Jawa Timur terdapat spesies
pohon Cassuarina spp., di Sulawesi terdapat kelompok spesies pohon anggota genus Agathis
dan Podocarpus. Di sebagian daerah Indonesia Timur terdapat spesies pohon anggota genus
Trema, Vaccinium, dan pohon Podocarpus imbricatus, sedangkan spesies pohon anggota
famili Dipterocarpaceae hanya terdapat pada daerah-daerah yang memiliki ketinggian tempat
1.200 m dpl.
3. Zona Hutan Hujan Atas
Penyebaran tipe ekosistem hutan hujan atas hanya di Irian Jaya dan di sebagian daerah
Indonesia Barat. Tipe ekosistem hutan hujan atas pada umumnya berupa kelompok hutan
yang terpisah-pisah oleh padang rumput dan belukar. Pada ekosistem hutan hujan atas di Irian
Jaya banyak mengandung spesies pohon Conifer (pohon berdaun jarum) genus Dacrydium,
Libecedrus, Phyllocladus, dan Podocarpus. Di samping itu, mengandung juga spesies pohon
Eugenia spp. dan Calophyllum, sedangkan di sebagian daerah Indonesia Barat dijumpai juga
kelompokkelompok tegakan Leptospermum, Tristania, dan Phyllocladus yang tumbuh dalam
ekosistem hutan hujan atas pada daerah yang memiliki ketinggian tempat lebih dari 3.300 m
dpl.

B. Tipe Hutan Tropis Menurut Iklim di Indonesia

1. Hutan Tropis Basah


Hutan tropis basah adalah hutan yang memperoleh curah hujan yang tinggi, sering juga kita
kenal dengan istilah hutan pamah. Hutan jenis ini dapat dijumpai di Sumatera, Kalimantan,
Sulawesi, Maluku Bagian Utara dan Papua. Jenis-jenis yang umum ditemukan di hutan ini,
yaitu: Meranti (Shorea dan Parashorea), keruing (Dipterocarpus), Kapur (Dryobalanops),
kayu besi (Eusideroxylon zwageri), kayu hitam (Diospyros sp).
2. Hutan Muson Basah
Hutan muson basah merupakan hutan yang umumnya dijumpai di Jawa Tengah dan Jawa
Timur, periode musim kemarau 4-6 bulan. Curah hujan yang dialami dalam satu tahun 1.250
mm-2.000 mm. Jenis-jenis pohon yang tumbuh di hutan ini antara lain jati, mahoni,
sonokeling, pilang dan kelampis.
3. Hutan Muson Kering
Hutan muson kering terdapat di ujung timur Jawa, Bali, Lombok dan Sumbawa. Tipe hutan
ini berada pada lokasi yang memiliki musim kemarau berkisar antara 6-8 bulan. Curah hujan
dalam setahun kurang dari 1.250 mm. Jenis pohon yang tumbuh pada hutan ini yaitu Jati dan
Eukaliptus.
4. Hutan Savana
Hutan savana merupakan hutan yang banyak ditumbuhi kelompok semak belukar diselingi
padang rumput dengan jenis tanaman berduri. Periode musim kemarau 4 6 bulan dengan
curah hujan kurang dari 1.000 mm per tahun. Jenis-jenis yang tumbuh di hutan ini umumnya
dari Famili Leguminosae dan Euphorbiaceae. Tipe Hutan ini umum dijumpai di Flores,
Sumba dan Timor.
C. Tipe Hutan Hujan Tropis Menurut Physiognomi
Pada sistem klasifikasi ini dasar yang dipakai adalah ciri-ciri luar vegetasi yang mudah
dikenali dan dibedakan, seperti semak, rumput, pohon dan lain-lain. Ciri lebih lanjut seperti
menggugurkan daun, selalu hijau, tinggi dan derajad penutupan tegakan dapat pula
diterapkan. Ciri-ciri yang umum digunakan yaitu :
- Tinggi vegetasi, yang berkaitan dengan strata yang nampak oleh mata biasa
- Struktur, berpedoman pada susunan stratum (A, B, C, D dan E), dan penutupan tajuk
(Coverage).
- Life-form atau bentuk hidup atau bentuk pertumbuhan, merupakan individu-individu
penyusun komunitas tumbuh-tumbuhan.
Contoh :
a. Ciri physiognomi hutan tropis dataran rendah :
Kanopi
: 25 45 m
Tinggi pohon (emergent)
: Khas, 60 80 m
Daun penumpu
: Sering dijumpai
Elemen daun dominan
: Mesophyl
Akar papan
: Sering dijumpai dan sangat besar
Kauliflori
: Sering dijumpai
Liana berkayu
: Sering dijumpai

Liana pada batang


: Sering dijumpai
Ephyphit
: Sering dijumpai
b. Ciri physiognomy hutan tropis dataran tinggi/ pegunungan :
Kanopi
: 15 33 m
Tinggi pohon (emergent)
: Sering tidak ada
Daun penumpu
: Jarang dijumpai
Elemen daun dominan
: Mesophyl
Akar papan
: Jarang dijumpai dan kecil
Kauliflori
: Jarang dijumpai
Liana berkayu
: Jarang dijumpai
Liana pada batang
: Sering dijumpai
Ephyphit
: Sangat sering dijumpai
c. Ciri physiognomi hutan tropis pegunungan tinggi :
Kanopi
: 2 - 18 m
Tinggi pohon (emergent)
: Pada umumnya tidak ada
Daun penumpu
: Sangat jarang dijumpai
Elemen daun dominan
: Microphyl
Akar papan
: Pada umumnya tidak ada
Kauliflori
: Tidak ada
Liana berkayu
: Tidak ada
Liana pada batang
: Jarang dijumpai
Ephyphit
: Sering dijumpai
Di Indonesia berdasarkan ciri physiognomi tedapat dua tipe hutan yaitu : Hutan Hujan Tropis,
hutan yang selalu hijau dan hutan musim atau hutan yang menggugurkan daun. Hutan hujan
tropis umumnya dijumpai di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku bagian Utara dan
Papua sedangkan hutan musim yang menggugurkan daun dijumpai di Jawa, Bali, Nusa
Tenggara dan Maluku bagian Selatan.
D. Tipe Hutan Hujan Tropis Menurut Sosiologi Vegetasi
Tipe hutan berdasarkan sosiologi vegetasi merupakan pengklasifikasian hutan berdasarkan
jenis yang dominan pada hutan tersebut atau berdasarkan famili yang dominan di daerah itu.
Contoh :
- Hutan Dipterocarpaceae di Asia Tenggara, merupakan hutan tropis yang umum dijumpai
dan Famili yang mendominasi adalah Famili Dipterocarpaceae.
- Hutan Shorea albida di Serawak, merupakan hutan tropis yang didominasi jenis Shorea
albida.
- Hutan Ebony (Diospyros sp) di Sulawesi, merupakan hutan tropis yang didominasi oleh
Ebony atau kayu hitam.
- Hutan Mahoni di Jawa, meupakan hutan musim yang didominasi oleh mahoni di pulau
Jawa.

E. Tipe-tipe Hutan Hujan Tropis pada Kondisi Khusus (Azonal)


Hutan pada tipe azonal umumnya dipengaruhi oleh kondisi tanah dan air serta kondisi tempat
tumbuh yang miskin hara.

1. Hutan Mangrove
Hutan yang berada di tepi pantai, didominir oleh pohon-pohon tropika atau belukar dari
genus Rhizophora, Languncularia, Avicennia dan lain-lain.
2. Hutan Gambut (Peak Forest)
Hutan yang tumbuh pada tanah organosol dengan lapisan gambut yang memiliki ketebalan 50
cm atau lebih, umumnya terdapat pada daerah yang memiliki tipe iklim A atau B menurut
klasifikasi tipe iklim Schmidt dan Ferguson.
3. Hutan Rawa (Swamp Forest)
Hutan yang tumbuh pada daerah-daerah yang selalu tergenang air tawar, tidak dipengaruhi
iklim. Pada umumnya terletak dibelakang hutan payau dengan jenis tanah aluvial. Tegakan
hutan selalu hijau dengan pohon-pohon yang tinggi bisa mencapai 40 m dan terdiri atas
banyak lapisan tajuk.