Anda di halaman 1dari 13

UTS SEMINAR KEUANGAN PUBLIK

PERAN PEMERINTAH DALAM MENINGKATKAN


INVESTASI DI INDONESIA

DIMAS BAGUS WILLIYANTO


154060006695
KELAS 7-E BPKP

PROGRAM DIPLOMA-IV
SPESIALISASI AKUNTANSI PEMERINTAHAN
POLITEKNIK KEUANGAN NEGARA-STAN
2015

RINGKASAN BERITA
Indonesia Harus Berani Berkompetisi
Kompas, Jumat 27 Oktober 2015
Jakarta- Pada acara yang digelar Kompas dan BNI yang mengangkat tema
Memantapkan Perekonomian Indonesia 2016, presiden Jokowi menyebutkan bahwa isu
yang selalu dibicarakan dalam berbagai acara Internasional adalah integrasi kawasan dan
integrasi ekonomi. Untuk mencapai kesuksesan dalam hal tersebut diperlukan kompetisi,
efisiensi, dan kemudahan dalam membuat peraturan. Integrasi kawasan dan integrasi
ekonomi adalah salah satu bentuk perdagangan bebas. Nantinya Indonesia akan ikut
bergabung dalam sejumlah skema kerjasama perdagangan bebas ini, hal tersebut penting agar
Indonesia tidak kehilangan peluang dalam perekonomian global.
Untuk bisa bersaing dalam skema kerjasama perdagangan bebas, masih banyak
pekerjaan rumah yang harus diselesaikan oleh Pemerintah Indonesia. Karena jika
dibandingkan dengan negara lainnya di kawasan Asia Tenggara, Indonesia masih banyak
tertinggal, terutama dalam hal kemudahan berbisnis untuk menarik investor agar mau
berinvestasi di Indonesia. Hal tersebut disebabkan karena rumitnya mengurus perizinan untuk
investasi, lambatnya kinerja logistik, dan pembayaran pajak di Indonesia yang masih tinggi
jika di bandingkan dengan negara lain di kawasan Asia Tenggara

ABSTRAK
Satu indikator cepatnya pertumbuhan ekonomi adalah tingginya pendapatan nasional.
Pendapatan nasional yang tinggi salah satu pemicunya adalah banyaknya investasi. Investasi
yang tinggi hanya bisa terjadi jika ada kemudahan dalam berbisnis, tersedianya infrastruktur
memadai, dan juga bila didukung dengan rendahnya tarif perpajakan. Jika dibandingkan
dengan negara lain di kawasan Asia Tenggara, Indonesia termasuk negara yang kurang
diminati investor. Hal tersebut bisa dilihat dari peringkat Indonesia yang cukup rendah dalam
hal kemudahan berbisnis. Untuk meningkatkan jumlah investor di Indonesia, pemerintah bisa
membuat kebijakan untuk memberi kemudahan dalam berbisnis, meningkatkan infrastruktur
memadai, dan memberi keringanan dalam hal perpajakan. Tindakan yang dilakukan
pemerintah untuk mempengaruhi hal tersebut, disebut dengan kebijakan Fiskal.

PENDAHULUAN
Menurut Koran Kompas tanggal 27 November 2015, dari 189 negara yang disurvei
oleh Bank Dunia, Indonesia menempati peringkat 109 dalam hal kemudahan berbisnis. Posisi
Indonesia ini jauh di bawah Vietnam yang kini menempati peringkat 90, apalagi
dibandingkan dengan Singapura, Malaysia, dan Thailand yang berturut-turut menempati
posisi 1, 18, dan 49 dunia. Hal tersebut merupakan pekerjaan rumah pemerintah yang harus
segera diselesaikan. Untuk mengatasi permasalahan tersebut pemerintah bisa membuat
peraturan dan regulasi yang memudahkan investor untuk menanamkan modalnya di
Indonesia. Pemerintah berperan dalam membuat peraturan dan regulasi untuk meningkatkan
belanja dan tingkat investasi di Indonesia melalui kebijakan fiskal.
Kebijakan fiskal adalah kebijakan yang dilakukan pemerintah untuk mengarahkan
perekonomian kearah yang lebih baik dengan mengubah-ubah pendapatan dan pengeluaran
pemerintah (Rahardja dan Manurung, 2001). Menurut Sadono Sukirno (2006) Kebijakan
fiskal adalah langkah-langkah pemerintah untuk membuat perubahan-perubahan dalam
2

sistem pajak atau dalam perbelanjaannya dengan maksud untuk mengatasi masalah-masalah
ekonomi yang dihadapi.
Salah satu indikator cepatnya pertumbuhan ekonomi adalah tingginya pendapatan
nasional. Pendapatan nasional yang tinggi salah satu pemicunya adalah banyaknya investasi,
baik oleh investor asing maupun dari dalam negeri. Perluasan lapangan kerja hanya akan
tercapai jika banyak yang berinvestasi untuk membuka lapangan kerja, dan hal itu akan
dengan mudah tercapai apabila dalam suatu negara ada kemudahan untuk berinvestasi.
Kemudahan berinvestasi dipicu oleh kemudahan dalam berbisnis, tersedianya infrastruktur
memadai, dan juga bila didukung dengan rendahnya tarif perpajakan.
Di Indonesia tampaknya kemudahan dalam berbisnis merupakan salah satu hal yang
masih sulit diperoleh. Proses perizinan yang berbelit-belit adalah salah satu penyebab
investor enggan untuk berinvestasi di Indonesia dan lebih memilih berinvestasi di negara
lainnya. Padahal idealnya proses perizinan harus cepat, efisien, dan memberikan kemudahan
bagi aktivitas bisnis.
Selain kemudahan dalam berbisnis, juga diperlukan infrastruktur yang memadai.
Infrastruktur yang memadai akan mengundang banyak investor baik dari dalam dan luar
negeri. Pembangunan infrastruktur selama ini hanya terpusat di Pulau Jawa saja, kurang
memadainya Infrastruktur di luar Jawa menyebabkan investor enggan untuk melakukan
investasi karena proses untuk pengiriman logistik mahal dan membutuhkan waktu yang lama.
Contohnya untuk berinvestasi di daerah pelosok seperti di pelosok Papua ataupun Sulawesi,
investor memerlukan waktu berjam-jam menempuh perjalanan daratnya saja, akan banyak
sekali biaya dan waktu investor yang terbuang karena infrastruktur yang kurang memadai.
Selain dua hal di atas, yang harus segera diperbaiki pemerintah agar Indonesia
menarik untuk investor adalah sistem perpajakan. Menurut Larkin (IBFD, 2005) sebagaimana
dikutip Suska (2011), penyelarasan pajak atau tax harmonization merupakan penghapusan

perbedaan atau inkonsistensi antara sistem pajak dari yurisdiksi yang berbeda, sehingga
membuat perbedaan atau inkonsistensi menjadi sesuai satu sama lain. Adanya perbedaan tarif
pajak akan membuat investor mudah untuk berpindah dari satu negara ke negara lain, karena
pajak merupakan salah satu cost of doing investment.
Menurut Budi Sulistyo (2015) Hal-hal utama yang menjadi fokus harmonisasi aturan
adalah mengenai tarif, preferensi pajak, pencegahan penghindaran dan pengelakan pajak serta
basis pengenaan pajak. Harmonisasi tarif pajak diperlukan mengingat tarif pajak antar negara
ASEAN masih berbeda. Ketidakharmonisan tarif pajak akan memungkinkan pelarian modal
(capital flight) ke negara yang rendah pajak guna menghindari pajak yang tinggi.
Berdasarkan hal tersebut, tulisan ini bertujuan untuk menjawab pertanyaan: apakah yang
menyebabkan investasi di Indonesia rendah? Bagaimana tarif perpajakan di Indonesia jika
dibandingkan dengan di negara lain? Apakah tindakan yang harus dilakukan pemerintah
untuk meningkatkan daya tarik bagi investor di Indonesia ?
Mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan rendahnya investasi di Indonesia, menurut
penulis adalah hal yang penting, karena dengan mengetahui penyebab rendahnya investasi di
Indonesia akan memudahkan penulis untuk menemukan hal-hal apa yang sebaiknya
dilakukan untuk mendorong tingkat investasi di Indonesia.

METODE PENULISAN
Tulisan ini dilakukan melalui studi kepustakaan atau studi literatur dengan cara
mempelajari, meneliti, mengkaji serta menelaah literatur berupa buku-buku (text book),
peraturan perundang-undangan, surat kabar, artikel, jurnal, situs web dan penelitianpenelitian sebelumnya yang memiliki hubungan dengan masalah yang diteliti. Studi
kepustakaan ini bertujuan untuk memperoleh sebanyak mungkin teori yang diharapkan akan
dapat menunjang data yang dikumpulkan dan pengolahannya lebih lanjut dalam tulisan ini.

Berdasarkan pertimbangan penulis, maka metode yang digunakan dalam membuat


tulisan ini adalah metode analisis kuantitatif. Penulis menggunakan metode analisis
kuantitatif karena data yang diperoleh nantinya berupa angka. Sedangkan untuk sumber data
penulis menggunakan analisis data sekunder. Dalam tulisan ini yang menjadi sumber data
sekunder adalah literatur, artikel, jurnal serta situs di internet. Hasil dari analisis tersebut
kemudian dibuat kesimpulan yang akan menjawab pertanyaan penulis yang telah ditetapkan
sebelumnya.

HASIL DAN DISKUSI


Pendapatan nasional memiliki hubungan yang searah dengan tingkat kemakmuran dan
kesejahteraan suatu negara. Artinya, semakin tinggi pendapatan nasional suatu negara, maka
semakin tinggi pula tingkat kemakmuran dan kesejahteraan negara tersebut.
(Mankiw, 2006) Pendapatan nasional atau produk domestic bruto (PDP) mengalami
kenaikan atau penurunan menurut Teori Keynes tergantung kepada total permintaan agregat.
Model permintaan agregat dibentuk dari variabel-variabel C, I, G, X M dengan bentuk
perekonomian terbuka sebagai berikut:
Y = AD = C + I + G + (X M)
Keterangan:

C = konsumsi

I = investasi

G = belanja pemerintah

X = ekspor

M = impor

Salah satu cara menghitung pendapatan nasional adalah dengan menjumlahkan


belanja pemerintah (G) dengan investasi (I), konsumsi (C), dan ekspor yang dikurangi impor
(X-M). Semakin besar angka di C, I, G, dan X maka semakin baik karena pendapatan

nasional semakin tinggi. Salah satu tindakan yang dilakukan pemerintah untuk meningkatkan
C, I, G , dan X adalah dengan kebijakan fiskal.
Kebijakan fiskal pemerintah di dalam mengelola perekonomian, secara umum, dibagi
dua, yaitu instrumen APBN dan penerbitan regulasi dan/atau pemberian insentif. Instrumen
APBN dilakukan melalui pengalokasian belanja dan pembiayaan yang cenderung bersifat
ekspansif untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan berkelanjutan. Sementara
itu upaya stabilisasi dilakukan melalui penerbitan kebijakan yang bersifat regulatif dan
insentif. Sehingga untuk menjaga stabilisasi perekonomian dan upaya untuk terus mendorong
pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan berkelanjutan diperlukan adanya bauran instrumen
kebijakan, baik yang bersifat regulatif dan/atau pemberian insentif maupun alokasi langsung
belanja/pembiayaan anggaran. (Yudi Pramadi, 2015)
Pada saat terjadi krisis ekonomi, C (konsumsi) akan turun karena masyarakat
cenderung berpikiran untuk menyimpan uang yang dimilikinya. Karena itu, G (Belanja
Pemerintah) harus diperbesar sebagai kompensasi mendorong pertumbuhan ekonomi. Saat
konsumsi turun pemerintah sebaiknya meningkatkan belanjanya. Belanja pemerintah bisa
dilakukan dengan melakukan pembangunan infrastruktur. Dengan pembangunan infrastruktur
akan banyak tenaga kerja yang terserap. Banyaknya tenaga kerja yang terserap akan
meningkatkan konsumsi. Selain itu investor akan tertarik melakukan investasi disuatu negara
jika suatu negara memiliki infrastruktur yang memadai. Dengan G (Belanja Pemerintah) yang
tinggi akan banyak pembangunan infrastruktur. Dengan meningkatnya G (Belanja
Pemerintah), I (Investasi) juga akan ikut meningkat.
Jika I (Investasi) tinggi maka lapangan kerja akan banyak terbuka sehingga bisa
menyerap banyak tenaga kerja. Dengan banyaknya tenaga kerja yang terserap maka secara
tidak langsung akan meningkatkan konsumsi masyarakat. Sehingga cara untuk meningkatkan

pendapatan nasional adalah dengan meningkatkan C (konsumsi) yang juga di pengaruhi oleh
G (Belanja Pemerintah) dan I (Investasi).
Selain tersedianya infrastruktur yang memadai, tingkat investasi yang tinggi itu hanya
akan terjadi jika terdapat kemudahan dalam berbisnis, dan juga didukung oleh rendahnya tarif
perpajakan. Menurut koran kompas dari 189 negara yang disurvai oleh Bank Dunia,
Indonesia menempati peringkat 109 dalam hal kemudahan berbisnis. Posisi Indonesia ini jauh
di bawah Vietnam yang kini menempati peringkat 90, apalagi dibandingkan dengan
Singapura, Malaysia, dan Thailand yang menempati urutan 1,18, dan 49 dunia.
Pada tabel di bawah ini disajikan peringkat kemudahan berbisnis di Asia Tenggara.
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

Negara
Singapura
Malaysia
Thailand
Brunei
Vietnam
Filipina
Indonesia
Kamboja
Myanmar
Timor Leste

Kemudahan
Berbisnis
1
18
49
84
90
103
109
127
167
173

Memulai
Bisnis
2
3
11
9
14
22
24
25
20
12

Perizinan
1
5
9
6
4
15
17
25
13
23

Ketersediaan
Listrik
2
5
4
10
18
6
7
22
23
15

Pembayaran
Pajak
2
5
10
3
25
20
24
14
12
8

Sumber: Kompas 27 November 2015

Dari yang telah disebutkan di atas, dapat di tarik beberapa kesimpulan bahwa
beberapa penyebab yang membuat investor kesulitan untuk melakukan investasi di Indonesia
antara lain:
1.

Infrastruktur yang kurang memadai


Pembangunan Infrastruktur di Indonesia yang hanya terpusat di daerah Jawa dan Bali
menyebabkan daerah-daerah pelosok, khususnya di pelosok Indonesia Timur sulit
untuk diakses. Sulitnya akses ke daerah-daerah pelosok tersebut menyebabkan
investor enggan untuk melakukan investasi di luar Pulau Jawa. Hal tersebut
penyebabkan pertumbuhan ekonomi yang tidak merata.
7

2.

Perizinan yang rumit


Menurut Andika dan Ida (2013), dewasa ini perkembangan penanaman modal asing
sering sekali mendapatkan hambatan-hambatan yang mengakibatkan iklim usaha
investasi yang kurang kondusif di Indonesia. Salah satunya faktor yang
mengakibatkan iklim usaha investasi yang kurang kondusif adalah pada sistem
prosedur perizinan. Perizinan inilah yang merupakan salah satu permasalahan pokok
yang di hadapi dalam penanaman modal asing dalam memulai usahanya di Indonesia.
Pengurusan perizinan dalam penanaman modal seharusnya cepat dan mudah. Ternyata
prakteknya tidak demikian, masih terdapat kendala-kendala yang mengakibatkan tidak
keefektifan dan keefisienan baik dari segi waktu dan maupun biaya dalam dalam
proses perizinan untuk penanaman modal di Indonesia.
Proses perizinan yang mahal, rumit, lama dan berbelit-belit menyebabkan investor
enggan untuk melakukan investasi di Indonesia. Selain itu para investor juga harus
berhadapan dengan kajian sosial, lalu lintas, ekonomi dan persoalan lainnya. Dengan
banyaknya yang harus dihadapi para investor itu investor sering enggan melakukan
investasi di Indonesia.

3.

Tarif perpajakan yang tinggi


Menurut Budi Sulistyo (2015), tarif pajak di Indonesia termasuk tinggi jika
dibandingkan dengan di negara lain. Tingginya tarif pajak di Indonesia menyebabkan
banyak investor yang mengalihkan investasinya ke negara lain yang tarif pajaknya
lebih rendah. Sebagai contoh, tarif PPh badan di Indonesia sebesar 25%, masih lebih
tinggi dibanding Singapura (17%) dan Thailand (23%). Tarif pajak tertinggi di Asia
Tenggara adalah di Filipina yaitu sebesar 30%. Tarif-tarif tersebut sudah mengalami
penurunan dibanding tahun-tahun sebelumnya kecuali Filipina, Thailand dan Laos.

Tarif PPh badan di Indonesia sendiri telah diturunkan secara bertahap dari 30% untuk
tahun pajak 2008 menjadi 28% untuk tahun pajak 2009. Pada tahun 2010, tarif PPh
badan diturunkan menjadi 25%. Selain PPh badan, pajak untuk konsumsi juga
memiliki tarif yang berbeda-beda. Indonesia, Kamboja, dan Laos memungut PPN
10%. Tarif PPN yang paling tinggi di Asia Tenggara adalah di Filipina yaitu sebesar
12%, sementara tarif PPN terendah adalah di Singapura dan Thailand yang hanya
sebesar 7%. Malaysia, menerapkan pajak penjualan dan jasa dengan tarif 5%, 20%,
atau 25%.
Untuk mengatasi berbagai permasalahan di atas, selama tahun 2015 ini pemerintah
membuat beberapa kebijakan untuk mendorong tingkat investasi di Indonesia, yaitu:
1.

Pembangunan infrastruktur di luar Pulau Jawa untuk pemerataan pembangunan


Untuk pemerataan pembangunan dan mengundang investor agar tertarik untuk
berinvestasi di luar Pulau Jawa, khususnya di daerah Indonesia Timur, pemerintah
mengubah pola pembangunan Indonesia. Pembangunan akan direncanakan dimulai
dari Indonesia Timur. Salah satu upaya pemerintah yang sudah mulai berjalan yaitu
program tol laut untuk pengiriman barang ke Indonesia Timur dan pembangunan
Jalan Trans Papua, untuk menghubungkan daerah-daerah pelosok di Papua.

2.

Paket kebijakan ekonomi untuk mempermudah perizinan bagi investor


Sejauh ini pemerintah telah pemerintah telah mengumumkan lima paket kebijakan
ekonomi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Salah satunya adalah paket
kebijakan yang isinya mempermudah proses perizinan untuk investor. Paket kebijakan
tersebut adalah Paket Kebijakan Ekonomi jilid kedua. Fokus dari paket kebijakan
ekonomi jilid kedua adalah meningkatnya pertumbuhan investasi di Indonesia.

Strategi yang disiapkan untuk mencapai tujuan tersebut salah satunya adalah dengan
proses perizinan yang lebih sederhana.
Salah satu upaya yang di lakukan pemerintah untuk memperbaiki kinerja pelayanan
publik dalam hal perizinan adalah melalui sistem pelaksanaan pusat Pelayanan
Terpadu Satu Pintu (One Stop Service Center) di Badan Koordinasi Penanaman
Modal (BKPM). Dengan sistem PTSP (Pelayanan Terpadu Satu Pintu) ini beberapa
perizinan dipangkas waktu pengurusannya sehingga lebih efisien dan efektif(sumber:
BKPM). Hal tersebut membuat proses perizinan investasi menjadi lebih cepat, mudah,
transparan dan terintegrasi. Hal ini diharapkan dapat membuat iklim investasi di
Indonesia menjadi semakin kondusif.
3.

Membuat keringanan dalam kebijakan perpajakan untuk investor


Menurut Yudi Pramadi (2015) Beberapa kebijakan dalam hal perpajakan telah
diterbitkan pemerintah untuk mendorong pertumbuhan investasi di Indonesia.
Kebijakan tersebut antara lain:
a. Dalam rangka mendorong reinvestasi atas keuntungan yang diperoleh perusahaan
serta mendorong peningkatan ekspor, Pemerintah akan mengeluarkan revisi
Peraturan Pemerintah Nomor 52 Tahun 2011 atau yang dikenal dengan Tax
Allowance dengan prosedur serta kriteria yang lebih mudah yaitu :
i.

Fasilitas tax allowance akan diberikan untuk perusahaan yang menciptakan


lapangan kerja, menggunakan kandungan lokal, berorientasi ekspor, dan
investasi yang tinggi;

ii. Tambahan insentif untuk perusahaan-perusahaan yang melakukan reinvestasi


laba yang didapat dari dividen;
iii. Tambahan insentif untuk perusahaan yang melakukan research and
development.
10

b. Pembebasan PPN untuk mendorong sektor logistik salah satunya untuk galangan
kapal, peralatan berkaitan dengan industri kereta api, angkutan udara dan
sejenisnya;
c. Dalam rangka meningkatkan daya saing produk dalam negeri, Pemerintah akan
mengeluarkan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) yang mengatur fleksibilitas
Bea Masuk Anti Dumping Sementara (BMADS) dan Bea Masuk Tindakan
Pengamanan Sementara (BMTPS), sebagai respon jika terdapat lonjakan impor
barang tertentu, serta penyederhanaan prosedur dan mekanisme pengembalian;
d. Sektor Pariwisata didorong untuk lebih mendukung perbaikan defisit transaksi
berjalan melalui tambahan negara yang bebas visa bagi 45 negara;

KESIMPULAN
Dari hasil pembahasan tentang Peran Pemerintah dalam Meningkatkan Investasi di
Indonesia, maka diambil kesimpulan :
1. Tingkat Investasi di Indonesia rendah karena kurangnya kemudahan dalam berbisnis.
Kurangnya kemudahan dalam berbisnis disebabkan oleh infrastruktur yang kurang
memadai, perizinan yang rumit, dan tarif perpajakan yang tinggi
2. Tarif pajak di Indonesia termasuk tinggi jika dibandingkan dengan di negara lain.
Tingginya tarif pajak di Indonesia menyebabkan banyak investor yang mengalihkan
investasinya ke negara lain yang tarif pajaknya lebih rendah.
3. Untuk meningkatkan daya tarik Indonesia bagi investor pemerintah harus melakukan
pemerataan pembangunan dengan cara membangun infrastruktur yang memadai di
luar Pulau Jawa, mempermudah perizinan bagi investor, dan membuat keringanan
dalam kebijakan perpajakan untuk investor

11

DAFTAR PUSTAKA

Andika Wahyu dan Ida Djadja. 2013. Kendala Perizinan Penanaman Modal Asing Di
Indonesia. Denpasar : Fakultas Hukum Universitas Udayana
Budi Sulistyo. 2015. Pajak Bersiap Hadapi Kawasan Bebas ASEAN. Jakarta: Jakarta:
Sekretariat Jenderal Kementerian Keuangan RI.
Kompas. 27 November 2015. Indonesia Harus Berani Berkompetisi. Halaman 1
Mankiw, Gregory. 2006. Pengantar Ekonomi Makro, Edisi Ketiga. Jakarta: Salemba Empat.
Prathama Rahardja dan Mandala Manurung. 2001. Teori Ekonomi Makro. Jakarta: Fakultas
Ekonomi Universitas Indonesia.
Sukirno, Sadono. 2006. Ekonomi Pembangunan Proses masalah dan Dasar Kebijakan,
cetakan ketiga. Jakarta : Penerbit Kencana.
Suska dan Juventus (2011). Tax Harmonization ASEAN melalui Asean Tax Forum : Belajar
dari Tax Harmonization Uni Eropa.
http://www.kemenkeu.go.id/sites/default/files/Tax%20Harmonization%20ASEAN%20Melal
ui%20ASEAN%20Tax%20Forum_Belajar%20dari%20Uni%20Eropa_Suska%20dan%20Yu
ventus.pdf
Yudi Pramadi. 2015. Kebijakan Fiskal untuk Mendukung Pertumbuhan Ekonomi yang Tinggi
dan Berkelanjutan dengan Tetap Menjaga Stabilitas Perekonomian. Jakarta: Sekretariat
Jenderal Kementerian Keuangan RI.
http://www.kemenkeu.go.id/sites/default/files/Pajak%20Bersiap%20Hadapi%20Kawasan%2
0Bebas%20ASEAN.pdf

12