Anda di halaman 1dari 9

PENGALAMAN DUKUNGAN PRECEPTOR

PADA PERAWAT BARU SELAMA PROSES MAGANG


DI RUMAH SAKIT SANTO BORROMEUS BANDUNG
Maria Yunita Indriarini *
BM. Siti Rahayu **
Bibiana Pindani ***
ABSTRAK
Banyaknya perawat baru yang keluar setelah proses magang selesai menjadi latar belakang
penelitian ini. Preceptor berperan dalam mensosialiasikan perawat baru pada peran barunya.
Praktek klinik dan memperoleh bimbingan klinik oleh preceptor merupakan pengalaman yang
dialami informan selama proses magang. Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi pengalaman
informan dalam praktek klinik dan memperoleh dukungan dari preceptor selama proses magang.
Metode yang digunakan adalah kualitatif yang bersifat deskriptif dengan pendekatan
fenomenologi. Tempat penelitian dilakukan di RS St. Borromeus Bandung. Hasil penelitian
terhadap pengalaman 7 orang informan menunjukkan 2 tema untuk pengalaman praktek klinik,
yaitu: (1) perasaan senang perawat baru dalam praktek klinik, (2) pengalaman rasa lelah perawat
baru dalam praktek klinik sedangkan untuk pengalaman dukungan preceptor ditemukan 4 tema,
yaitu: (1) mensosialisasikan rutinitas pada perawat baru, (2) memberikan pendampingan dalam
keterampilan klinik, (3) memberikan bimbingan dalam memperoleh keterampilan klinik, (4)
memberikan pendampingan dalam hubungan tim. Terungkapnya pengalaman tersebut memberi
pengalaman baru dalam praktek klinik dan memperoleh dukungan preceptor bagi informan,
sedangkan bagi preceptor terungkapnya pengalaman informan dapat memberikan evaluasi bagi
preceptor untuk lebih menyediakan waktu dalam orientasi rutinitas ruangan bagi informan selama
proses magang sehingga perawat baru dapat mengerti dengan jelas rutinitas ruangan kerjanya.
Kata kunci: dukungan, perawat baru, preceptor
A. LATAR BELAKANG
Rumah sakit adalah institusi pelayanan
kesehatan
yang
menyelenggarakan
pelayanan kesehatan perorangan secara
paripurna yang menyediakan pelayanan
rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat
(UU RI No. 44 Th 2009). Depkes RI (2006)
menyebutkan bahwa fungsi dari rumah sakit
adalah sebagai tempat penyelenggaraan
pelayanan
medis,
penunjang medis,
administrasi dan manajemen, serta dapat
digunakan sebagai tempat pendidikan atau
pelatihan dan pengembangan.

ditingkatkan. Pelayanan kesehatan yang


bermutu adalah pelayanan kesehatan yang
dapat memuaskan setiap pemakai jasa
pelayanan kesehatan sesuai dengan tingkat
kepuasan
rata-rata
penduduk
serta
penyelenggaraannya sesuai dengan standar
dan kode etik profesi yang telah ditetapkan
Azwar dalam (Saragih, 2011) . Puas atau
tidak puasnya pasien dan penilaian baik atau
buruknya terhadap kualitas pelayanan
keperawatan sangat bergantung pada
bagaimana
seorang
perawat
mengaplikasikan
kiat
caring
ketika
memberikan
pelayanan
keperawatan.
(Wicaksosno, 2012).

Salah satu indikator kunci keberhasilan


rumah sakit dalam memberikan pelayanan
kesehatan ditentukan oleh kinerja tenaga
keperawatan dalam memberikan asuhan dan
pelayanan keperawatan (Saragih, 2011).
Profesi perawat di Indonesia memiliki
proporsi relatif besar yaitu 40% dari jumlah
tenaga kesehatan di Indonesia sehingga baik
buruk kinerja perawat menjadi salah satu
indikator utama mutu asuhan keperawatan di
rumah sakit atau instansi kesehatan yang lain
(Hidayat, 2004).

Salah satu cara yang dapat digunakan


untuk meningkatkan dan mengendalikan
mutu pelayanan keperawatan adalah dengan
mengembangkan lahan praktek keperawatan
disertai
dengan
adanya
pembinaan
masyarakat professional keperawatan untuk
melaksanakan pengalaman belajar di
lapangan dengan benar bagi peserta didik
(Dermawan, 2012). Mutu pelayanan
keperawatan perlu ditingkatkan, untuk itu
dibutuhkan tenaga perawat yang kompeten

Mutu pelayanan keperawatan dalam


Rumah Sakit sebagai suatu organisasi perlu

dan professional, sehingga penting bagi


manajer keperawatan mengelola tenaga
keperawatan dengan baik sejak proses awal
(Kuntoro, 2010). Memilih calon yang
berkualitas dilakukan dengan kualifikasi dari
setiap posisi dalam unit kerja, kemudian
memberi kesempatan kepada staf baru
tersebut untuk berorientasi terhadap
lingkungan rumah sakit, melatihnya dan
memberikan pelajaran melalui pekerjaan
langsung kepada pasien.

baru mengganti pekerjaanya setelah 1 tahun


dan 37% merasa siap untuk mengganti
pekerjaan mereka. Hal itu berarti 50%
perawat baru meninggalkan pekerjaan
mereka pada tahun pertama jika tidak
mendapatkan
pendamping
atau
preceptorship yang baik. Hasil penelitian
yang dilakukan oleh Saragih (2011) tentang
hubungan
karakteristik perawat dan
dukungan preceptor dengan perawat baru di
PKSC, RSB, dan RSPI menunjukkan
pembimbingan klinik selama proses
preceptorship
50%
perawat
baru
mempersepsikan
pembimbingan klinik
kurang baik. Hal itu berarti sebagian perawat
baru mendapatkan pembimbingan klinik dari
pembimbing dengan baik sementara
sebagian lagi mempersepsikan kurang baik
dalam pembimbingan.

Memiliki
perawat
baru
yang
menampilkan kinerja professional sangat
diharapkan oleh setiap rumah sakit. Perawat
baru merupakan perawat yang memasuki
pengalaman baru yang sebelumnya tidak
dialami. Beberapa bulan pertama merupakan
masa yang penuh tantangan dan stress bagi
perawat baru (Saragih, 2011). Perawat baru
membutuhkan suatu proses adaptasi dan
program bimbingan dari rumah sakit.
Program ini akan membantu perawat baru
menguasai fungsi dan tanggung jawab
pekerjaannya sehingga merasa puas terhadap
profesinya, seperti yang dikutip Steward
(2000), yaitu kepuasan akan mencegah
perawat baru meninggalkan organisasi.

Berdasarkan hasil wawancara yang


dilakukan kepada 10 perawat baru di RS
Santo Borromeus Bandung 5 mengatakan
berencana keluar setelah proses magang
selesai karena alasan ingin dekat dengan
orang tua, ketidaknyamanan perawat saat
bekerja dan karena beban kerja yang berat, 3
perawat mengatakan masih bingung ingin
melanjutkan kontrak kerja sedangkan 2
perawat mengatakan ingin menetap menjadi
perawat di RS Santo Borromeus Bandung.
Hasil wawancara kepada 10 perawat baru
mengenai bimbingan praktek klinik oleh
pembimbing mengatakan bahwa 10 perawat
merasa pembimbing cukup membimbing
perawat baru selama praktek klinik. Mereka
merasa kesulitan jika pembimbing tidak ada
atau tidak memiliki shift kerja yang sama
dengan pembimbing.

Program
precetorship
digunakan
sebagai alat sosialisasi dan orientasi. Model
preceptorship sebagai salah satu metode
rekrutmen staf. Akses ke pengetahuan
organisasi dan praktik klinik dapat
diprediksi oleh perawat baru, sehingga
diskusi antara preceptor dan preceptee
diperlukan untuk memberikan
praktik
terkini dalam lingkungan klinik dengan
harapan
preceptee
akan
memiliki
kemampuan yang sama dengan preseptornya (Nursalam, 2008). Preceptor adalah
seorang
perawat
yang
mengajar,
memberikan bimbingan, dapat menginspirasi
rekannya, menjadi tokoh panutan (role
model), serta mendukung pertumbuhan dan
perkembangan individu (trainee) untuk
jangka waktu tertentu dengan tujuan khusus
mensosialisasikan trainee pada peran
barunya (Nursalam, 2008).

Berdasarkan latar belakang yang


diuraikan di atas, maka peneliti tertarik
untuk meneliti lebih lanjut mengenai
pengalaman dukungan preceptor pada
perawat baru selama proses magang di RS
Santo Borromeus Bandung.
B. TINJAUAN PUSTAKA.
1.

Definisi Preceptor
Mehen dan Clark mengungkapkan
preceptor adalah seorang perawat yang
mengajar, memberikan bimbingan, dapat
menginspirasi rekannya, menjadi tokoh
panutan (role model), serta mendukung
pertumbuhan dan perkembangan individu
(trainee) untuk jangka waktu tertentu
dengan tujuan khusus mensosialisasikan
trainee pada peran barunya (Nursalam,
2008).

Tim Kesehatan bertanggung jawab


untuk menolong perawat baru untuk
meningkatkan potensi mereka. Perilaku
senior yang mendominir yunior tidak bisa
ditoleransi. Hubungan saling mendukung
dan menghargai harus terjadi dalam profesi
keperawatan (Eley, 2010).
Penelitian
Konver,
dkk
(2007)
mengindikasikan bahwa 13% dari perawat

Shamian dan Inhaber menyatakan


bahwa model preceptorship digunakan
sebagai alat sosialisasi dan orientasi. Model
preceptorship sebagai salah satu metode
rekruitmen staf. Akses ke pengetahuan
organisasi dan praktik klinik dapat
diprediksi oleh perawat baru, sehingga
diskusi antara preceptor dan preceptee
diperlukan untuk memberikan
praktik
terkini dalam lingkungan klinik dengan
harapan
preceptee
akan
memiliki
kemampuan yang sama dengan preseptornya. Waktu yang dibutuhkan untuk
pelaksanaan prceptorship adalah sekurangkurangnya 1-2 bulan. Lama waktu
pelaksanaan biasanya ditentukan oleh
institusi pendidikan atau pegawai yang
mengetahui karakteristik mahasiswa atau
praktisi, persyaratan yang dibutuhkan dan
karakteristik tempat di mana pelaksanaan
preceptorship akan dilakukan (Nursalam,
2008).

Seorang preceptor
tanggung jawab sebagai:

a.
b.
c.
d.

B. METODE PENELITIAN
Metode penelitian yang digunakan
peneliti adalah metode penelitian kualitatif.
Metode penelitian kualitatif adalah metode
penelititan yang digunakan untuk meneliti
pada kondisi obyek yang alamiah, (sebagai
lawannya adalah eksperimen) dimana
peneliti adalah sebagai instrumen kunci,
teknik pengumpulan data dilakukan secara
triangulasi (gabungan), analisis data bersifat
induktif, dan hasil penelitian kualitatif lebih
menekankan makna dari pada generalisasi.
(Sugiyono, 2014).
Desain penelitian merupakan bentuk
rancangan
yang
digunakan
dalam
melakukan prosedur penelitian (Hidayat,
2009). Desain penelitian yang digunakan
dalam penelitian ini adalah kualitatif yang
bersifat deskriptif dengan pendekatan
fenomenologi. Pendekatan fenomenologi
yaitu pendekatan yang memahami makna
dari pengalaman kehidupan yang dialami
oleh partisipan dan menjelaskan perspektif
filosofi yang mendasari fenomena tersebut
(Dharma, 2011).
Penarikan sampel pada penelitian ini
ditentukan peneliti mulai memasuki

program

a.
b.
c.
d.
e.
f.

Orientasi
Pembelajaran Kelas
Sesi Transisi Profesional
Pertukaran Pembelajaran Klinik/Rotasi
Evaluasi
Orientasi
Preceptor
Secara
Individual/Pembimbingan klinik

3.

Peran Preceptor

Role Modelling
Skill Building
Critical Thinking (Pemikir yang
kritis)
Socialization (Sosialisasi)

Perawat Baru
Perawat adalah seseorang yang telah
lulus pendidikan perawat baik dalam
maupun di luar negeri sesuai dengan
peraturan
perundangan-undangan
(Permenkes, 2010).
Kramer mengungkapkan ketakutan dan
kesulitan khusus dalam beradaptasi dengan
lingkungan kerja adalah hal yang umum
dialami perawat lulusan baru dan menyebut
ketakutan ini sebagai reality shock karena
terjadi sebagai akibat konflik antara
ekspektasi lulusan baru terhadap peran
keperawatan
dan
kenyataan
peran
sesungguhnya (Marquis dan Huston, 2010).
Schmalenberg
dan
Kramer
menyebutkan bahwa fase transisi peran
mahasiswa menjadi staf perawatan terbagi
menjadi empat fase, yaitu fase bulan madu,
fase shock, dan fase pemulihan dan resolusi.

2.

membagi

memiliki

4.

Preceptorship adalah suatu strategi


orientasi yang popular bagi perawat baik
lulusan baru dan yang berpengalaman.
Preceptor memberikan lingkungan yang
mendukung, kohesif, dan kolaboratif untuk
mengembangkan
kemitraan
dalam
pembelajaran.
Kemitraan
menurunkan
tingkat ansietas peserta didik dan
meningkatkan
produktivitas
melalui
integrasi informasi yang cepat sekaligus
menjamin
kualitas
perawatan
klien.
Preceptor
memudahkan
proses
pembelajaran di area klinis. Pendekatan
kolaboratif ini meningkatkan proses
sosialisasi yang professional, sehingga
menurunkan tingkat stress peserta didik. Jika
preceptor siap, beban peserta didik dalam
menyerap informasi akan berkurang.
Preceptorship
adalah
versi
sistem
persahabatan yang terstruktur. Peran sistem
ini diperluas dan dipersiapkan secara formal
(Gruendemann, 2005).
Pengertian Sikap
Halfer (2007)
preceptorship, yaitu:

harus

lapangan dan selama penelitian berlangsung


(emergent sampling design). Caranya yaitu,
peneliti memilih orang tertentu yang
dipertimpangkan memberikan data yang
diperlukan sesuai dengan izin yang
diberikan
oleh
tempat
penelitian
berlangsung. Berdasarkan data atau
informasi yang diperoleh dari sampel
sebelumnya itu selanjutnya peneliti dapat
menetapkan
sampel
lainnya
yang
dipertimbangkan memberikan data lebih
lengkap (snowball sampling technique).
Informan dalam penelitian ini adalah
perawat baru yang sedang menjalani proses
magang di ruang Maria 2 terpilih 5
informan dan 3 informan dari Yosef 3
Surya Kencana RS. Santo Borromeus. Key
informan pada penelitian ini adalah
pembimbing dari masing-masing ruangan.

Pengalaman perawat baru dalam


praktek klinik selama proses magang
merupakan pengalaman yang perawat
baru alami, rasakan dalam proses
adaptasi di ruangan. Berdasarkan hasil
penelitian yang dilakukan kepada tujuh
informan didapatkan dua tema yang
muncul secara dominan, yaitu perasaan
senang dan pengalaman rasa lelah
perawat baru dalam praktek klinik
selama proses magang.
a. Perasaan Senang Perawat Baru
Dalam Praktek Klinik Selama
Proses Magang
Perasaan
senang
berarti
perasaan puas dan lega, tanpa rasa
susah dan
kecewa
(KBBI).
Perasaan
senang
dirasakan
informan karena perawat senior
yang membantu informan dalam
praktek klinik, bertemu temanteman baru dan melihat pasien yang
dirawat sembuh. Namun ada dua
informan yang tidak merasakan
senang dalam proses klinik selama
proses magang.
Peneliti berpendapat bahwa
informan mengalami perasaan
tersebut karena informan merasa
nyaman atas lingkungan baru dan
kepuasan
tersendiri
dalam
memberikan asuhan keperawatan
kepada pasien.
b. Pengalaman Rasa Lelah
Perawat
Baru
Dalam
Praktek
Klinik
Selama
Proses Magang
Rasa lelah dan capek
semua informan alami karena
mengamban tanggung jawab
memegang pasien, acara pasien
yang banyak, rutinitas ruangan
yang tinggi dan jumlah pasien
yang meningkat. Setiap orang
yang sudah masuk dunia kerja
tentunya mengalami perasaan
lelah dan capek karena
kewajibannya melaksanakan
tugas dan tanggung jawabnya.
Peneliti
berpendapat
informan mengalami perasaan
lelah karena selain rutinitas
yang tinggi dalam ruangan juga
karena tanggung jawab yang
dibebankan kepada informan.
Berbeda
saat
sedang
mahasiswa,
perawat
baru
dituntut untuk bertanggung

C. HASIL
PENELITIAN
DAN
PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil penelitian dengan 7
informan diidentifikasi tema-tema yang
mengacu pada tujuan khusus.
a. Tujuan khusus yang pertama mengenai
pengalaman perawat baru dalam praktek
klinik selama proses magang di Rumah
Sakit St. Borromeus, ditemukan 2 tema
yaitu:
Tema 1: Perasaan senang perawat baru
dalam praktek klinik selama proses
magang
Tema 2: Pengalaman rasa lelah perawat
baru dalam praktek klinik selama proses
magang.
b. Tujuan khusus yang kedua mengenai
dukungan preceptor pada perawat baru
selama proses magang di Rumah Sakit
Santo Borromeus, ditemukan 4 tema,
yaitu:
Tema 1: Mensosialisasikan rutinitas
pada perawat baru selama proses
magang
Tema 2: Memberikan pendampingan
dalam keterampilan klinik pada perawat
baru selama proses magang
Tema 3: Memberikan bimbingan dalam
memperoleh keterampilan klinik pada
perawat baru selama proses magang
Tema 4: Memberikan pendampingan
dalam hubungan tim pada perawat baru
selama proses magang
Pembahasan
1. Pengalaman perawat baru dalam
praktek klinik selama proses magang
di Rumah Sakit Santo Borromeus

jawab atas tugasnya memegang


pasien secara mandiri.

a.
1.

Dukungan bimbingan preceptor


pada perawat baru selama proses
magang di Rumah Sakit Santo
Borromeus
Program
preceptorship
menurut Halfer (2007) terbagi
menjadi
6,
yaitu
orientasi,
pembelajaran di kelas, sesi transisi
professional,
pertukaran
pembelajaran klinik/rotasi, evaluasi
dan orientasi preceptor secara
individual/pembimbingan
klinik.
Penelitian ini ingin melihat
gambaran pengalaman dukungan
preceptor pada perawat baru dalam
pembimbingan klinik. Bentuk
dukungan
preceptor
dalam
bimbingan
klinik,
yiatu
mendampingi perawat baru dalam
pembelajaran keterampilan klinik
dan pengembangan hubungan tim,
membimbing perawat baru untuk
memperoleh keterampilan klinik.
Preceptor juga memainkan peran
penting dalam mensosialisasikan
perawat
baru
dengan
memperkenalkan perawat baru
kepada anggota tim dan rutinitas
unit.
Dukungan preceptor kepada
perawat baru selama proses magang
sangat diperluakan. Dukungan
tersebut membantu perawat baru
agar mampu beradaptasi, melewati
masa transisi menjadi perawat yang
berkompeten, memahami perannya
dan membantu perawat baru dalam
mengembangkan
keterampilan
klinis sehingga dapat memberikan
pelayanan yang berkualitas.
Berdasarkan hasil penelitian
yang dilakukan pada 7 informan
diidentifikasi 4 tema, yaitu
mensosialisasikan rutinitas pada
perawat baru selama proses
magang,
memberikan
pendampingan dalam keterampilan
klinik pada perawat baru selama
proses
magang,
memberikan
bimbingan dalam memperoleh
keterampilan klinik pada perawat
baru selama proses magang dan
memberikan pendampingan dalam
hubungan tim pada perawat baru

selama proses magang. Selanjutnya


dalam bab ini akan membahas
tema-tema tersebut satu persatu,
yaitu:
Mensosialisasikan rutinitas pada
perawat baru selama proses
magang
Mensosialisasikan rutinitas unit
merupakan peran preceptor agar
informan memahami situasi dan
kondisi ruangan atau tempat
dimana informan bekerja. Informan
menceritakan mengalami dukungan
dalam sosialisasi rutinitas oleh
preceptor secara jelas, namun
terdapat dua informan yang
menceritakan bahwa preceptor
kurang mensosialisasikan rutinitas
secara jelas karena preceptor dan
rutinitas ruangan yang sibuk.
Yonge dan Myrick (2004)
dalam bukunya yang berjudul
Nursing
Preceptorship
menyebutkan bahwa pengalaman
sosialisasi preceptorship perawat
baru atau mahasiswa perawat
diamksudkan
untuk
memperkenalkan situasi praktek
secara nyata. Mengajak preceptee
untuk mengambil tanggung jawab
menjadi perawat professional.
Peneliti berpendapat bahwa
dukungan preceptor dalam bentuk
mensosialisasikan rutinitas ruangan
sebaikanya diterangkan secara jelas
kepada informan agar informan
memahami
ruitinitas
ruangan
tempat
informan
bekerja.
Menerangkan rutinitas secara jelas
juga membuat informan siap
mengahadapi situasi praktek secara
nyata sehingga informan dapat
mengembangkan keterampilannya
dan bekerja secara nyaman.
b. Memberikan pendampingan
dalam keterampilan klinik
pada perawat baru selama
proses magang
Bentuk dukungan preceptor
pada perawat magang lainnya yaitu
pendampingan dalam keterampilan
klinik. Informan menceritakan
pengalaman didampingi dalam
keterampilan klinik. Pengalaman
didampingi diungkapkan informan
berupa pendampingan saat pertama
kali melakukan tindakan klinik, saat
merasa tidak siap melakukan

c.

tindakan klinik dan pendampingan


pada setiap tindakan klinik.
Ohrling dan Hallberg (2007)
dalam penelitiannya mengenai
pengalaman
perawat
menjadi
pembimbing menemukan bahwa
arti
dari
preceptorship
dimaksudkan untuk mengurangi
ketidaktahuan pembelajaran siswa
dan memberi penguatan kepada
siswa ketika pembelajaran dalam
praktek klinik. Hal tersebut
menjelaskan
program
preceptorship. Pembelajaran klinik
adalah alat instruktur yang tak
terhingga nilainya yang digunakan
untuk
mengembangkan
kemampuan perawatan dari siswa
perawat (Shepard, 2009).
Peneliti
berpendapat
pendampingan preceptor pada
informan dalam keterampilan klinik
atau saat melakukan tindakan klinik
membantu
informan
dalam
melakukan tindakan agar sesuai
standar operasional. Pendampingan
preceptor dalam ketermpilan klinik
juga membuat informan merasa
aman
dan
nyaman
karena
didampingi
khususnya
pada
tindakan-tindakan yang memang
perlu pendampingan, tindakan
untuk pertama kali atau tindakan
yang informan merasa belum yakin
untuk melakukannya.
Memberikan bimbingan dalam
memperoleh keterampilan klinik
pada perawat baru selama proses
magang
Pengalaman bimbingan dalam
memperoleh keterampilan klinik
yang informan alami berupa
bimbingan
preceptor
dalam
mengaplikasikan teori yang sudah
di dapat saat di bangku pendidikan
ke dalam praktek secara langsung
dalam dunia kerja. Seluruh
informan
menceritakan
pengalamannya secara berbedabeda, seperti mendapat bimbingan
agar
tindakan
sesuai
SOP,
didukung
untuk
melakukan
tindakan secara mandiri, dan
bimbingan dari awal tindakan.
Bimbingan
dalam
pembelajaran
pengalaman,
pengajaran,
dan
memberikan
umpan
balik
membantu
mengembangkan
pertimbangan

klinik atau kemampuan preceptee


untuk mengkaji kondisi pasien dan
sampai pada membuat keputuan
yang layak dan tepat tentang
berbagai tindakan yang diperlukan
(Yonge & Myrick, 2005). Shepard
(2009)
dalam
penenlitiannya
mengenai pengujian dari efektivitas
preceptorship dalam kompetensi
klinik
menyebutkan
bahwa
kemampuan pemecahan masalah
dan
berpikir
kritis
adalah
komponen
penting
dalam
pembelajaran yang dibutuhkan
siswa perawat dan kemampuan
mereka untuk mengaplikasikan
teori dalam praktek.
Dukungan dalam memperoleh
keterampilan klinik sebaiknya
preceptor lakukan dengan cara
bedside teaching atau pembelajara
langsung kepada pasien. Preceptor
dapat memberikan contoh terlebih
dahulu kepada perawat baru
sebelum
mereka
melakukan
tindakan tersebut, khususnya untuk
tindakan yang perawat baru belum
pernah
lakukan.
Peneliti
berpendapat bimbingan preceptor
pada
perawat
baru
dalam
memperoleh keterampilan klinik
juga termasuk dalam memberikan
kesempatan
dan
kepercayaan
kepada perawat baru untuk
melakukan tindakan klinik secara
mandiri jika memang perawat baru
sudah mampu melakukankannya.
d. Memberikan pendampingan
dalam hubungan tim pada
perawat baru selama proses
magang
Informan
menceritakan
memperoleh pendampingan dalam
pengembangan hubungan tim.
Pengembangan hubungan tim yang
informan alami yaitu dalam bentuk
bimbingan oleh perawat senior
selain
pembimbing
dalam
melakukan
tindakan
klinis.
Informan menceritakan bahwa
bimbingan dan bantuan saat
mengalami kesulitan dari perawat
senior sangat membantu. Informan
justru merasa bahwa perawat senior
sangat membantu informan dalam
melakukan tindakan klinis terutama
saat preceptor tidak bisa membantu
karena
kesibukannya
sebagai
preceptor.

Hal tersebut menunjukkan


bahwa dukungan preceptor melalui
pendampingan perawat senior
dalam hubungan tim sangat
membantu
preceptor
dalam
mengembangkan
keterampilan
klinis. Yonge dan Myrick (2004)
menejelaskan bahwa preceptor
adalah pengaruh utama dalam
pengalaman praktek preceptee,
anggota staf dalam praktek juga
mempengaruhi dalam suasanan
pembelajaran, dan kemudian dapat
mempertinggi atau memngganggu
pengalaman. Selama pengalaman
preceptorship, staf berperan dalam
sumber pembelajaran dan peran
pendukung.
Jika
preceptor
mempunyai hubungan kerja yang
baik dengan staf secara dinamis
dapat secara positif mempengaruhi
pengalamn
preceptee. Myrick
(Yonge dan Myrick, 2005)
mengungkapkan bahwa anggota
staff termasuk siapa saja dari unit
manajer perawat sampai staf
perawat, dari dokter sampai
fisioterapi, dari petugas keamanan
sampai pegawai ruangan.
Peneliti berpendapat anggota
staf, khususnya perawat senior yang
menjalin hubungan tim dengan
informan
sudah
semestinya
membantu informan dan bekerja
sama dengan preceptor dalam
mengembangkan keterampilan atau
saat informan mengalami kesulitan.
Hal tersebut membantu preceptor
dalam bimbingan klinik pada
informan.

2.

dalam praktek klinik selama proses


magang
Dukungan bimbingan preceptor pada
perawat baru selama proses magang di
Ruang Maria 2 dan Yosesf 3 Surya
kencana Rumah Sakit Santo Borromeus
perawat baru alami selama menjalani
proses magang dan terangkum dalam
tema yang muncul dari pernyataan
ketujuh informan. Tema yang muncul
dari pernyataan ketujuh informan, yaitu
mensosialisasikan
rutinitas
pada
perawat baru selama proses magang,
memberikan pendampingan dalam
keterampilan klinik pada perawat baru
selama proses magang, memberikan
bimbingan
dalam
memperoleh
keterampilan klinik pada perawat baru
selama proses magang, memberikan
pendampingan dalam hubungan tim
pada perawat baru selama proses
magang

Saran
Berikut saran-saran yang dapat peneliti
berikan untuk preceptor, Rumah Sakit Santo
Borromeus, STIKes Santo Borromeus dan
peneliti selanjutnya:

2. SIMPULAN DAN SARAN


Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan analisa
data yang telah dilakukan oleh peneliti,
maka dapat disimpulkan beberapa hal
sebagai berikut:
1. Pengalaman perawat baru dalam
praktek klinik selama proses magang di
Ruang Maria 2 dan Yosesf 3 Surya
kencana Rumah Sakit Santo Borromeus
terangkum dalam pernyataan ketujuh
informan dan ditemukan dua tema dari
pernyataan tersebut, yaitu perasaan
senang perawat baru dalam praktek
klinik selama proses magang dan
pengalaman rasa lelah perawat baru

1.

Bagi preceptor/pembimbing klinik


Peneliti menyarankan agar preceptor
menyediakan waktu lebih banyak untuk
melakukan
sosialisasi
rutinitas
mengenai situasi dan kondisi serta
mensosialisasikan dengan baik kepada
perawat baru selama proses magang.

2.

Bagi Rumah Sakit Santo Borromeus


a. Peneliti menyarankan agar pihak
Rumah
Sakit
menganjurkan
preceptor untuk menggunakan
pembelajaran interaktif di lapangan
serta melakukan evaluasi pada
perawat baru minimal 2 bulan
sekali.
b. Memperhatikan jumlah pembagian
perawat baru pada setiap ruangan
agar pereceptor di setiap ruangan
dapat fokus melakukan bimbingan
pada masing-masing perawat baru.

3.

Bagi penelitian selanjutnya


Peneliti menyarankan untuk meneliti
lebih lanjut mengenai pengalaman
preceptor dalam membimbing perawat
baru selama proses magang.

3.

DAFTAR PUSTAKA

Marquis, B.L & Houston, C.J. 2010.


Leadership roles and management
function in nursing: theory and
application 5th edition. California:
Lippincott Williams & Wilkins

Bumgarner, dkk. 2000. Rule overload and


job satisfaction. Journal for Nurses
in Staff Development. Volume 16Issue 6 pp 249-256. Articles
Casey, K.MS., Fink, R, Krugman, M. &
Propst, J. 2004. The graduate nurse
experience. Journal of nursing
administration. Volume 34- Issue 6
pp 303-311. Articles
Depkes

Myrick, F. & Yonge, O. 2005. Nursing


prceptorship connecting practice
and
education.
Philadelphia:
Lippincott Williams & Wilkins
Nursalam dan Efendi, F. 2008. Pendidikan
dalam
keperawatan.
Jakarta:
Salemba Medika

RI. 2006. Profil Kesehatan


Indonesia Tahun 2005. Jakarta.
Diambil dari www.depkes.go.id
pada 16 Februari 2014

Ohrling, K & Hallberg, I.R. 2007. The


meaning of preceptorship: nurses
lived experience of being a
preceptor. Journal of Advanced
Nursing. Volume 33, Issue 4, pages
530-540

Dermawan, Deden. 2012. Mentorship dan


perceptorship dalam keperawatan.
AKPER POLTEKKES Bhakti
Mulia Sukoharjo. Diambil dari
ejournal.stikespku.ac.id/index.php/
profesi/article/download/9/7 pada
16 Februari 2014

Permenkes. 2010. Tentang ijin dan


penyelenggaraan praktik perawat.
Permenkes
RI
no.
HK.02.02/Menkes/148/1/2010.
Diambil
dari
bppsdmk.depkes.go.id/tkki/data/.../p
ermenkes_47_tahun_2012.pdf pada
15 Februari 2014

Dharma, Kusuma K. 2011. Metodologi


Penelitian Keperawatan: Panduan
Melaksanakan dan menerapkan
Hasil Peneitian. Jakarta: Trans Info
Media
Eley,

S.M. 2010. The power of


preceptorship.
Diambil
dari
http://rnjournal.com/journal-ofnursing/the-power-of-preceptorship
pada 15 Februari 2014

Republik Indonesia. 2009. UU RI No 44


Tahun 2009 Tentang Rumah Sakit.
Diambil
dari
www.depkes.go.id/.../UU_No._44_
Th_2009_ttg_Rumah_Sakit pada
16 Februari 2014

Gruendemann, Barbara J. 2005. Buku ajar


keperawatan perioperatif. Vol. I.
Jakarta: EGC

Saragih,

Halfer, D. 2007. A magnetic strategy for new


graduate
nurses.
Nursing
economics journal. Vol. 25 (1).
Article
Hidayat, A. Aziz A. 2004. Pengantar
Konsep
Dasar
Keperawatan.
Jakarta: Salemba Medika
_____.

Nurmaida. 2011. Penelitian:


Hubungan program prceptorship
dan kaarakteristik perawat dengan
proses adaptasi perawat baru di
PKSC, RSB, dan RSPI. Fakultas
Ilmu Keperawatan: Universitas
Indonesia

Shepard, Laslee H. 2009. Examining the


Effectiveness of a Preceptorship on
Clinical Competence for Senior
Nursing
Students
in
a
Baccalaureate
Program.Walden
University

2009.
Metode
Penelitian
Keperawatan dan Tekhnik Analisis
Data. Jakarta: Salemba Medika

Sugiyono. 2014. Memahami penelitian


kualitatif. Bandung: ALFABETA

Kuntoro, A. 2010. Buku ajar manajemen


keperawatan. Yogyakarta: Penerbit
Nuha Medika

Wicaksono, Denys Y. 2012. Penelitian: Kiat


keperawatan
(caring)
dalam
meningkatkan
mutu
asuhan

keperawatan. STIKES RS Babtis


Kediri