Anda di halaman 1dari 26

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Kelenjar liur atau sering juga kita sebut sebagai kelenjar saliva merupakan
kelenjar eksokrin yaitu kelenjar yang memiliki saluran (duktus) untuk
mengalirkan produknya. Kelenjar liur menghasilkan air liur atau saliva yang
merupakan cairan yang membasahi mulut dan kerongkongan. Saliva
mengandung enzim yang berperan dalam proses pencernaan makanan dan
juga mengandung antibody yang berperan dalam pencegahan terhadap infeksi.
Terdapat 2 tipe kelenjar liur, yaitu kelenjar liur mayor dan kelenjar liur minor.
Kelenjar liur mayor terdiri atas :
1. Kelenjar parotis
Merupakan kelenjar liur yang terbesar, terletak dalam jaringan sub kutis di
daerah ramus mandibula dan antero inferior terhadap telinga tengah.
Normalnya kelenjar ini menghasilkan secret yang serous dan dialirkan ke
rongga mulut melalui duktus Stensen. Meskipun merupakan kelenjar yang
terbesar, kira-kira hanya 20% cairan saliva yang dihasilkan kelenjar ini.
2. Kelenjar submandibula
Terletak di dasar mulut, superior terhadap muskulus digastrik. Sekretnya
berupa campuran cairan yang serous dan mucous. Sekretnya dialirkan ke
dalam rongga mulut melalui duktus Warthon. Kira-kira 70% volume saliva
dihasilkan
oleh kelenjar
ini.
3. Kelenjar sublingual
Terletak di dasar mulut anterior dari kelenjar submandibula. Sekretnya
berupa cairan yang mucous. Tidak seperti kedua kelenjar mayor yang
lainnya, kelenjar ini memiliki 8-20 duktus ekskretorius dan kira-kira
menghasilkan 5% daritotal volume
saliva.
Terdapat 600 kelenjar liur minor yang tersebar di dalam traktus
aerodigestifus yang terletak di dalam lamina propria lapisan mukosa traktus
ini. Diameternya 1-2 mm dan tidak seperti kelenjar yang lain kelenjar liur
minor tidak dilapisi oleh jaringan ikat melainkan dikelilingi oleh jaringan ikat.
Sebuah kelenjar liur minor kadang-kadang memiliki duktus ekskretori yang
sama dengan kelenjar liur minor yang lain. Kelenjar ini menghasilkan secret
yang

mucous (kecuali

kelenjar

Von

Ebner).
1

Catatan: kelenjar Von Ebner adalah kelenjar yang terletakpada papilla


sirkumvalata lidah. Kelenjar ini menghasilkan secret serous yang mengawali
hidrolisis lipid yang juga merupakan komponen penting dalam pengecapan.
Kebanyakan tumor kelenjar liur berasal dari kelenjar parotis (70%).
Selanjutnya berasal dari kelenjar submandibula (8%) dan kelenjar liur minor
(22%). Meskipun demikian 75% tumor kelenjar parotis adalah jinak,
sedangkan 50% tumor kelenjar submandibula dan 80% tumor kelenjar minor
merupakan tumor ganas.
1.2 TUJUAN
1.2.1 TUJUAN UMUM
PL anestesi diharapkan mampu menerapkan asuhan keperawatan pada
pasien dengan diagnosa medis Tumor submandibula di Ruang Pulih Sadar
1.2.2

GBPT lantai 3 RSUD Dr. Soetomo Surabaya.


TUJUAN KHUSUS
1. Memahami pengertian Tumor submandibula
2. Mampu menentukan diagnosa keperawatan pada pasien dengan
diagnosa medis Tumor submandibula post diseksi submandibula di
Ruang Pulih Sadar GBPT lantai 3 RSUD Dr. Soetomo Surabaya.
3. Mampu merencanakan asuhan keperawatan pada pasien dengan
diagnosa medis Tumor submandibula post diseksi submandibula di
Ruang Pulih Sadar GBPT lantai 3 RSUD Dr. Soetomo Surabaya.
4. Mampu melaksanakan rencana asuhan keperawatan pada pasien dengan
diagnosa medis Tumor submandibula post diseksi submandibula di
Ruang Pulih Sadar GBPT lantai 3 RSUD Dr. Soetomo Surabaya.
5. Mampu melaksanakan evaluasi keperawatan pada pasien dengan
diagnosa medis Tumor submandibula post diseksi submandibula di
Ruang Pulih Sadar GBPT lantai 3 RSUD Dr. Soetomo Surabaya.

BAB II
TINJAUAN TEORI
2.1 PENGERTIAN
Neoplasia atau tumor adalah pembentukan jaringan baru yang abnormal
dan tidak dapat terkontrol oleh tubuh. Ada dua tipe neoplasia, yaitu neoplasia
jinak (benign) dan neoplasia ganas (malignant). Banyak faktor penyebab yang
dapat meransang terjadinya tumor. Faktor ini digolongkan kedalam dua kategori
yaitu faktor internal dan faktor eksternal (Syafriadi, 2008).
Tumor bisa mengenai seluruh organ tubuh termasuk pada tumor kelenjar
saliva. Pada tumor kelenjar saliva bisa bersifat tumor jinak dan tumor ganas.
Sebagian besar tumor kelenjar saliva adalah jinak. Tidaklah mengherankan jika
sebagian besar tumor yang terjadi di parotid adalah jinak. Adapun tumor jinak
yang sering ditemukan antara lain adalah adenoma pleomorfik yang merupakan
tumor kelenjar liur yang paling sering terjadi. Selain itu, tumor jinak lain yang
mungkin terjadi adalah: kistadenoma papiler limfomatosa atau dikenal juga
dengan nama tumor Warthin yang sering terjadi pada orang tua (Andirius, 2009).
Neoplasma atau neoplasia adalah pembentukan jaringan baru yang
abnormal dan tidak dapat dikontrol oleh tubuh. Para ahli onkologis masih sering
menggunakan istilah tumor untuk menyatakan suatu neoplasia atau neoplasma
(Syafriadi, 2008).

Ada dua jenis neoplasia, yaitu neoplasia jinak (benign neoplasm) dan
neoplasia ganas (malignant neoplasm). Neoplasia jinak adalah pertumbuhan
jaringan baru yang lambat, ekspansif, terlokalisir, berkapsul, dan tidak
bermetastasis (anak sebar). Neoplasia ganas adalah tumor yang tumbuhnya cepat,
infiltrasi ke jaringan sekitarnya, dan dapat menyebar ke organ-organ lain
(bermetastasis). Neoplasia ganas sering disebut kanker (Syafriadi, 2008).
Diseksi leher adalah tindakan untuk membuang kelenjar limfe leher dan
jaringan sekitarnya dalam rangka penatalaksanaan kanker. Jaringan-jaringan yang
dibuang dipertimbangkan situasional sesuai kondisi klinis pasien, dengan berbagai
pertimbangan sehingga diseksi leher ini ada berbagai macam variasi berdasarkan
strukur-strukur yang dibuang.
Tujuan diseksi leher adalah untuk menghilangkan sel kanker yang berada
pada kelenjar limfe serta untuk melakukan diagnostik pemeriksaan kelenjar limfe
yang diambil. Dari penelitian dinyatakan apabila masih didapatkan pembesaran
kelenjar limfe leher pada karsinoma yang berasal dari traktus respiratorius
ataupun traktus digestivus bagian atas maka akan mempengaruhi survival sampai
50 %. Hal ini merupakan tantangan bagi klinisi dengan segala pertimbangan untuk
melakukan diseksi leher dengan segala konsekuensi dan kontroversi yang
mengiringinya.
Perkembangan teknik pembedahan, teknik diagnostik dan berbagai terapi
yang mengiringi penatalaksanaan karsinoma kepala leher, maka apakah diseksi
leher bisa disarankan untuk memperbaiki prognosis, morbiditas dan survival dari
pasien.
Problem bagi kita sebagai residen adalah kita perlu memahami anatomi,
patologi dan karakteristik onkologi dari tumor untuk melakukan diagnosis
diferensial dan untuk melakukan tindakan dalam hal kapan dan jenis diseksi leher
apa yang tepat untuk pasien. Sampai saat ini belum ada keseragaman metode dari
berbagai negara tentang bagaimana rencana preoperatif yang ditetap sebagai
patokan untuk diseksi leher.
2.2 PENYEBAB
Penyebab pasti tumor kelenjar liur belum diketahui secara pasti, dicurigai
adanya keterlibatan factor lingkungan dan factor genetic. Paparan radiasi
4

dikaitkan

dengan

tumor

jinak

warthin

dan

tumor

ganas

karsinoma

mukoepidermoid. Epstein-Barr virus mungkin merupakan salah satu faktor


pemicu timbulnya tumor limfoepitelial kelenar liur. kelainan genetik, misalnya
monosomi dan polisomi sedang diteliti sebagai faktor timbulnya tumor kelenjar
liur. Ada 2 teori tentang penyebab tumor, yaitu :
1. Teori multiseluler: teori ini menyatakan bahwa tumor kelenjar liur berasal dari
diferensiasi sel-sel matur dari unit-unit kelenjar liur. Seperti tumor asinus
berasal dari sel-sel asinar, onkotik tumor berasal dari sel-sel duktus striated,
mixed tumor berasal darisel-sel duktus interkalated dan mioepitelial,
squamous dan mukoepidermoid karsinoma berasal dari sel-sel duktus
ekskretori.
2. Teori biseluler: teori ini menerangkan bahwa sel basal dari glandula
ekskretorius dan duktus interkalated bertindak sebagai stem sel. Stem sel dari
duktus interkalated dapat menimbulkan terjadinya karsinoma acinous,
karsinoma adenoid kistik, mixed tumor, onkotik tumor dan Warthin's tumor.
sedangkan stem sel dari duktus ekskretorius menimbulkan terbentuknya
skuamous dan mukoepidermoid karsinoma.
2.3 TANDA DAN GEJALA
Gejala klinik yang ditimbulkan adalah timbulnya massa pada daerah wajah
(parotis),

pada

angulus

mandibula

(parotis

dan

submandibula),

leher

(submandibula) atau pembengkakan pada dasar mulut (sublingual). pembesaran


ukuran massa yang cepat mengarah pada kelainan seperti infeksi, degenerasi
kistik, henoragik atau malignansi. Tumor jinak kelenjar liur biasanya bersifat
mobile dan untuk massa atau tumor jinak yang berasal dari parotis tidak ada
gangguan fungsi nervus fasialis. Lesi malignansi biasanya menimbulkan gejala
seperti gangguan nervus fasialis, pertumbuhan yang cepat, parastesia, lesi yang
terfiksir dan pembesaran elenjar getah bening cervikal.
a. Tumor-Tumor Kelenjar Liur
1. Tumor jinak
a) Pleomorfik adenoma (mixed tumor jinak): merupakan tumor
tersering pada kelenjar liur dan paling sering terjadi pada kelenjar
parotis. Dinamakan pleomorfik karena terbentuk dari sel-sel epitel
dan jaringan ikat. Pertumbuhan tumor ini lambat, berbentuk bulat,
5

dan konsistensinya lunak. Secara histologi dikarakteristik dengan


struktur yang beraneka ragam. biasanya terlihat seperti gambaran
lembaran, untaian atau seperti pulau-pulau dari spindel atau
stellata. Penatalaksanaanya yaitu eksisi bedah dari kelenjar yang
terkena
b) Warthin's tumor (contoh kistadenoma limfomatosum papiler,
adenoma kistik papiler) tumor ini tampak rata, lunak pada daerah
parotis, memiliki kapsul apabila terletak pada kelenjar parotis dan
terdiri atas kista multipel. Histologi Warthin's tumor yaitu
memiliki stroma limfoid dan sel epitelial asini. Perubahan menjadi
ganas tidak pernah dilaporkan. Lebih sering ditemukan pada
kelenjar mayor.
c) Papiloma intraduktal berbentuk kecil, lunak dan biasanya
ditemukan pada lapisan submukosa. Gambaran mikroskopiknya
tampak dilatasi kistik duktus parsial dengan epitel kuboid. Sangat
jarang terjadi pada kelenjar minor.
d) Oxyphil adenoma (oncosistoma) sangat jarang ditemukan, lebih
sering terjadi pada wanita dibandingkan pria dengan ratio 2:1.
Diameternya kecil (< 5 cm), pertumbuhannya lambat dan
berbentuk sferis. dapat terjadi rekurens jika eksisi tumor tidak
komplit.
2. Tumor Jinak Nonepitelial
a) Hemangioma
Kebanyakan terajadi pada anak-anak biasnya pada kelenjar
parotis. Biasanya asimptomatik, unilateral dan massa yang
kompresibel. berwarna merah gelap, berlobus-lobus dan tidak
berkapsul. Penanganan dengan pemberian steroid 2-4
mg/kgBB/hari. 40-60% hemengioma tidak berespon terhdap
steroid.
b) limfangioma (higroma kistik)
Merupakan tumor bagian kepala dan leher yang paling sering pada
anak-anak, eksisi merupakan penanganan piliha bila tumor
6

terletak pada struktur yang vital. Limfangioma jarang


menimbulkan gejala-gejala obstruksi jalan napas dan eksisi
biasanya untuk alasan kosmetik.
c) Lipoma
Jarang terjadi pada kelenjar liur mayor. tumor terdiri dari sel-sel
adiposa dengan inti yang uniform. Rasio laki-laki dan perempuan
adalah 10:1. Pertumbuhan tumor lambat dengan diameter rata-rata
3 cm. Penanganan adalah eksisi.
3. Tumor Ganas Kelenjar Liur
a. Mukoepidermoid karitu, ex adenoma pleomorfik,
karsinosarkoma dan mixed tumor metastasis.kasrinoma ex
pleomorfik adenoma merupakan tipe yang paling banyak.
Karsinoma ex pleomorfik adenoma merupakan kanker yang
berkembang dari mixed tumor jinak (pleomorfik
adenoma).Kebanyakan terjdi pada kelenjar liur mayor.
d) Kanker kelenjar liur lainnya yang jarang
squamous sel karsinoma: terutama pada laki-laki yang tua. Dapat
berkembang setelah terapi radiasi untuk kanker yang lain pada
area yang sama.
1) epitelial-mioepitelial karsinoma
2) anaplastik small sel karsinoma
3) karsinoma yang tidak berdiferensiasi
4) limfoma non hodgin
Klasifikasi regio dari kelenjar limfe leher menurut Sloan-Kettering Memorial
terbagi menjadi 6 level sesuai Table 1.

Level II

Level V

Level I

Level IV

Level 3
Gambar 1. Kelompok kelenjar limfe leher dan kemungkinan letak lesi
primernya

Tabel 1. Klasifikasi regio kelenjar limfe menurut Sloan-Kettering Memorial


Level

Lymph Node Group

Submental and submandibula nodes

II

Upper jugular nodes

III

Middle jugular nodes

IV

Lower jugular nodes

Posterior triangle nodes

VI

Anterior compartment lymph nodes

2.4 WOC (WEB OF CAUTION)


Tumor submandibula
Diseksi submandibula
Diskontinuitas
jaringan tubuh

Produksi sekret pada jalan


nafas berlebih

Perubahan
anatomi tubuh

Menimbulkan
rangsangan nyeri

Kemampuan batuk aktif


menurun

Gangguan citra tubuh

Otak menerima sinyal


rangsangan nyeri dari
saraf tepi

Penumpukan sekret di jalan


nafas

Menimbulkan
persepsi nyeri

Resiko ketidakefektifan
bersihan jalan nafas

Gangguan rasa
nyaman

2.5 PEMERIKSAAN PENUNJANG


a) X foto polos
X foto mandibula AP/Eisler, dikerjakan bila tumor mendekati tulang
Sialografi, dibuat bila diagnosis banding kista parotis/submandibula
X foto thorax, untuk mencari metastase jauh
b) Imaging
CT Scan/MRI pada tumor yang mobilitasnya terbatas, untuk mengetahui
luas ekstensi tumor lokoregional. CT Scan perlu dibuat pada tumor parotis
lobus profundus untuk mengetahui perluasan ke orofaring.
Sidikan Tc seluruh tubuh, pada tumor ganas untuk deteksi metastase jauh
c) Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium rutin, seperti dahar , urine, SGPT/SGOT, alkali
fosfatase, BUN/kreatinin, globulin, albumin, serum elektrolit, faal
hemostasis, untuk menilai keadaan umum dan kesiapan operasi.
d) Pemerikasaan Patologi
i. FNA
Belum merupakan pemeriksaan yang baku
ii. Biopasi insisional
Dikerjakan ada tumor ganas yang inoperabel
iii. Biopasi eksisional
1. Pada tumor parotis yang poerabel dilakukan parotidektomi superfisial
2. Pada tumor submandibula yang operabel dilakukan eksisi submandibula
3. Pada tumor sublingual dan kelenjar air liur minor yang operabel
dilakukan eksisi luas (minimal 1 cm dari batas tumor)
e) Pemeriksaan potong beku
Dikerjakan terhadap spesimen operasi pada biopsi eksisional (ad.3)
f) Pemeriksaan spesimen operasi
Yang harus diperiksa lihat Laporan Patologi Standar
10

Pemeriksaan yang bisa dilakukan untuk memastikan penyebab benjolan leher ini
adalah FNAB, CT-scan, endoscopy. Biopsi eksisional sebaiknya dilakukan hanya
bila benjolan ini masih menetap dalam 4-6 minggu setelah pemberian antibiotika
apabila dalam pemeriksaan kita belum dapat memastikan diagnosis.
Dalam membedakan adenopati ini jinak atau ganas sebenarnya sulit dipastikan
dengan Pemeriksaan sitopatologi (FNAB). Frozen Section bisa dilakuakan setelah
dilakukan diseksi leher untuk memastikan apakah benjolan tersebut adalah masih
mengandung sel ganas.
2.6 PENATALAKSAAN
Terapi pilihan utama untuk tumor kelenjar air liur adalah pembedahan.
Radioterapi sebagai terapi adjuvan paska bedah hanya dilakukan atas indikasi,
atau diberikan pada tumor kelenjar air liur yang inoperabel. Kemotarapi hanya
diberikan sebagai adjuvan, meskipun masih dalam penelitian dan hasilnya belum
memuaskan.
A. Tumor Primer
a. Tumor Operabel
i. Terapi utama (pembedahan)
1. Tumor parotis
a. Parotidektomi superfisial, dilakukan pada : tumor jinak parotis lobus
superfisialis
b. Parotidektomi total, dilakukan pada :
i. Tumor ganas parotis yang belum ada ekstensi ekstraparenkim dan n VII
ii. Tumor jinak parotis yang mengenai lobus profundus
c. Parotidektomi total diperluas, dilakukan pada : Tumor ganas parotis yang sudah
ada ekstensi ekstraparenkim dan mengenai n VII
d. Deseksi leher radikal (RND), dikerjakan pada : ada metastase k.g.b leher yang
masih operabel.
2. Tumor gl. Submandibula
Eksisi gl.submandibula --> Periksa potong beku
Bila hasil potong beku jinak --> operasi selesai
Bila hasil potong beku ganas -->deseksi submandibula --> potong beku
11

o Bila metastase k.g.b (-) --> op selesai


o Bila metastase k.g.b (+) --> RND
3. Tumor glandula sublingual atau kelenjar air liur minor
Eksisi luas (1 cm dari tepi tumor).
Untuk tumor yang letaknya dekat sekali dengan palatum, misalnya palatumdurum,
ginggiva, eksisi luas disertai tulang di bawahnya.)
ii. Terapi tambahan
Radioterapi paskabedah diberikan pada tumor ganas kelenjar liur dengan kriteria :
a. High grade malignancy
b. Masih ada residu makroskopis dan mikroskopis
c. Tumor menempel pada saraf (n fasialis, n lingualis, hipoglosus, dan accecorius)
d. Setiap T3, T4
e. Karsinoam residif
f. Karsinoma parotis lobus profundus
Radioterapi sebaiknya dimulai 4-6 minggu setelah pembedahan untuk memberian
penyembuhan luka operasi yang adekuat, terutama bila dikerjakan tandur saraf.
Radioterapi lokal dilakukan pada lapanganoperasi meliputi bekas insisi
sebanyak 50 Gy dalam 5 minggu.
Radioterapi regional/leher ipsilateral diberikan pada T3,T4, atau high grade
malignancy.
b. Tumor inoperabel
i. Terapi utama
Radioterapi : 65-70 Gy dalam 7-8 minggu
ii. Terapi tambahan
Kemoterapi :
1. Untuk jenis adenokarsinoma (adenoid cystic carcinoma, adenocarcinoma,
malignant mixed tumor, acinic cell carcinoma)
a. Adriamisin 50 mg/ m2 iv pada hari 1
b. 5 fluorourasil 500 mg/m2 iv pada hari 1 diulang tiap 3 minggu
c. Sisplatin 100 mg/m2 iv pada hari 2
2. Untuk jenis carcinoma sel skuamous ( squamous cell carcinoma,
mucoepidemoid carcinoma)
12

a. Methotrexate 50 mg/m2 iv pada hari 1 dan 7 diulang tiap 3 minggu


b. Sisplatin 100 mg/m2 iv pada hari 2
c. Metastase kelenjar getah bening (N)
i. Terapi utama
1. Operabel : deseksi leher radikal (RND)
2. Inoperabel : radioterapi 40 Gy/+ kemoterapi preoperatif, kemudian dievaluasi
a. Menjadi operabel --> RND
b. Tetap inoperabel --> radioterapi dilanjutkan sampai 70 Gy
ii. Terapi tambahan
Radioterapi leher ipsilateral 40 Gy
d. Metastasis jauh (M)
Terapi paliatif : kemoterapi
i. Untuk jenis adenkarsinoma (adenoid cystic carcinoma, adenocarcinoma,
malignant mixed tumor, acinic cell carcinoma)
1. Adriamisin 50 mg/m2 iv pada hari 1
2. 5 fluorourasil 500 mg/m2 iv pada hari 1 diulang tiap 3 minggu
3. Sisplatin 100 mg/m2 iv pada hari ke 2
ii. Untuk jenis karsinoma sel skuamosa (squamous cell carcinoma, mucoeidemoid
carcinoma)
1. Methotrexate 50 mg/m2 iv pada hari 1 dan 7 diulang tiap 3 minggu
2. Sisplatin 100 mg/m2 iv pada hari ke 2.

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN
13

3.1 PENGKAJIAN
3.1.1 BIODATA
Berisi biodata pasien.
3.1.2 KELUHAN UTAMA
Pada pasien post diseksi submandibula sering muncul keluhan nyeri post
operasi dan gangguan jalan nafas bahkan hingga muncul keluhan sesak
nafas.
3.1.3 RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG
Perlu dikaji sejak kapan keluhan muncul,ada rasa nyeri atau tidak.Ada
gangguan bernafas atau tidak.
3.1.4 RIWAYAT PENYAKIT DAHULU
Dikaji ada riwayat penyakit-penyakit lain sebelumnya,seperti DM,
hipertensi maupun asma.
3.1.5 RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA
Dikaji adanya keturunan penyakit tumor pada keluarga untuk mendeteksi
adanya faktor genetik.
3.1.6 PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan umum
Adakah anemia,ikterus, periksa tanda-tanda vital.
Pemeriksaan persistem
B1 BREATH
Keadaan umum tampak lemah, tampak peningkatan frekuensi nafas
sampai terjadi gagal nafas.Dapat terjadi sumbatan jalan nafas akibat
penumpukan sekret karena operasi di daerah dekat saluran nafas.
B2 BLOOD
Kemungkinan terjadi gangguan hemodinamik jika terjadi banyak
perdarahan.
B3 BRAIN
Kesadaran komposmentis sampai koma bisa terjadi akibat pemberian obatobatan anestesi dan tindakan operasi.
B4 BLEDDER
Produksi urine bisa normal, tetapi jika pasien sudah dehidrasi berat bisa
terjadi anuria.
B5 BOWEL
Inspeksi : tampak normal
Auskultasi : terdengar suara bising usus normal
Palpasi : turgor kulit menurun jika terjadi kekurangan cairan akibat puasa
lama dan perdarahan.
Perkusi : tidak ada distensi abdomen
B6 BONE

14

Pada kasus post operasi diseksi submandibula tidak ditemukan kelainan


tulang, terjadi kelemahan gerak ekstremitas jika terganggu keseimbangan
elektrolit tubuh.
3.1.7 RIWAYAT PRE OPERASI
Pada kasus tumor submandibula dengan rencana operasi diseksi
submandibula perlu diketahui adanya penyulit hemodinamik dan gangguan
hormonal atau tidak.
3.1.8 RIWAYAT DURANTE OPERASI
Perlu dikaji obat-obatan anestesi yang digunakan selama operasi,jumlah
perdarahan dan balance cairan.
3.2 DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Resiko bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan diseksi
submandibula, menurunya kemampuan batuk, penumpukan produksi
sekret pada jalan napas.
2. Gangguan rasa nyaman : Nyeri berhubungan dengan nyeri diskontinuitas
jaringan tubuh.
3. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan perubahan anatomi tubuh.
3.3 RENCANA KEPERAWATAN
Diagnosa Keperawatan

: Resiko bersihan jalan napas tidak efektif


berhubungan
dengan
diseksi
submandibula,
menurunya kemampuan batuk, penumpukan produksi
sekret pada jalan napas.

Tujuan

: Pasien dapat mempertahankan jalan napas tetap


terbuka setelah 30 menit.

Kriteria hasil

: Bunyi napas vesikuler, sesak (-), sianosis (-),


frekwensi napas 16 20 x / menit, pasien dapat
mengeluarkan secret secara optimal, kemampuan batuk
+, ronchi (-).

1.

RENCANA TINDAKAN
Awasi frekwensi atau kedalaman 1.

RASIONAL
Perubahan
pada
pernapasan,

pernapasan, auskultasi bunyi napas.

adanya ronchi, mengi diduga adanya

Selidika kegelisahan, dispnea dan

retensi sekret.

sianosis.
2.

Posisi pasien ditinggikan 30 45 0

2.

Memudahkan
keluar

sehingga

drainase
pernapasan

sekret
dan
15

ekspansi paru baik.


3.
3.

Hisap selang laringektomi. Catat


jumlah, warna, konsistensi secret.

4.

mencegah

sekresi

menyumbat

saluran pernapasan.
4.

Dorong batuk efektif dan napas

Memobilisasi
membersihkan

dalam.

membantu

secret
jalan

untuk

napas

mencegah

dan

komplikasi

pernapasan.
5.

Observasi jaringan sekitar luka


post

operasi.

Awasi

5.

Perdarahan yang terus-menerus /


tak terkontrol dapat menyebabkan

adanya

terganggunya

perdarahan dan rawat luka post

system

pernapasan

pasien, perawatan luka secara intensif

operasi (terutama stoma) dengan

dengan prinsip steril akan mencegah

prinsip steril.

terjadinya infeksi dan perlengketan


stoma yang dapat menggangu jalan
napas pasien.
6.

Peningkatan

vital

sign

meningkatkan terjadinya komplikasi.


6. Observasi vital sign.
Diagnosa Keperawatan
: Gangguan rasa nyaman : Nyeri berhubungan dengan
diskontinuitas jaringan tubuh.
Tujuan

: Nyeri berkurang dalam waktu 1 jam.

Kriteria hasil

: Pasien mengatakan nyeri berkurang


Ekspresi wajah rileks
TD dalam batas normal 100-120/60-80 mmHg
Nadi 60-100 x/menit

1.

RENCANA TINDAKAN
Observasi tanda-tanda vital pasien.

1.

RASIONAL
Peningkatan tekanan darah dan
frekuensi nadi menandakan adanya
nyeri.

2.

Kaji

skala

penyebab.

nyeri,lokasi

dan 2.

Untuk mengetahui terapi apa yang


tepat

untuk

diberikan

kepada

pasien.
16

3.

Ajarkan

teknik

mengurangi 3.

nyeri,antara lain teknik relaksasi

Pasien dapat mengurangi nyeri


secara mandiri.

dan distraksi.
4.

Kolaborasi penberian analgetik.

4.

Pemberian analgetik yang tepat


dapat mengurangi nyeri secara
cepat.

Diagnosa Keperawatan

: Gangguan citra tubuh berhubungan dengan


perubahan anatomi tubuh.

Tujuan

: Mengidentifikasi perasaan dan metode koping


untuk persepsi negatif pada diri sendiri.

Kriteria hasil

: Menunjukan adaptasi awal terhadap perubahan


tubuh dengan partisipasi aktifitas perwatan diri dan
interaktif positif dengan orang lain.

RENCANA TINDAKAN
RASIONAL
1. Diskusikan arti kehilangan atau 1. Alat dalam mengidentifikasi atau
perubahan dengan pasien.

mengartikan
memfokuskan

masalah
perhatian

untuk
dan

intervensi secara konstruktif.


2.

Catat bahasa tubuh non verbal,


perilaku negatif atau bicara sendiri.
Kaji pengrusakan diri atau perilaku
bunuh diri.

3.

Catat

reaksi

2. Dapat menunjukkan depresi atau


keputusasaan,

kebutuhan

untuk

pengkajian lanjut atau intervensi


lebih intensif.

emosi,

contoh

kehilangan, depresi, marah.

3. Pasien dapat mengalami depresi


cepat setelah pembedahan atau reaksi
syok dan menyangkal. Penerimaan
perubahan tidak dapat dipaksakan

4.

Susun

batasan

pada

perilaku

dan proses kehilangan membutuhkan

17

maladaptif, bantu pasien untuk


mengidentifikasi perilaku positip
yang akan membaik.

waktu untuk membaik.


4.Penolakan

dapat

penurunan

harga

mengakibatkan
diri

dan

mempengaruhi penerimaan gambaran


diri yang baru.
5.

Kolaboratif dengan merujuk pasien


atau orang terdekat ke sumber
pendukung,

contoh

psikologis,

ahli

pekerja

terapi 5.Pendekatan menyeluruh diperlukan


sosial,

konseling keluarga.

untuk membantu pasien menghadapi


rehabilitasi dan kesehatan. Tujuannya
adalah memampukan mereka untuk
melawan

kecendrungan

untuk

menolak dari atau isolasi pasien dari


kontak social.

DAFTAR PUSTAKA
1. Myers EN, Gastman`BR, Neck Dissection: An Operation in Evolution,
Arch Otolaryngol Head Neck Surg. 2003;129:14-25.
2. Schwetschenau E, The Adult Neck Mass. Am Fam Physician 2002;66:8318
3. Muller CD, Neck Dissection: Classification, Indications and Techniques,
Grand Rounds Presentation, UTMB, Dept. of Otolaryngology
4. Werning

J,

Modified

Radical

Neck

Dissection,

cited

from

http://www.emedicine.com/ent/topic748.htm
5. Dickenson E, The voice center ; neck dissection : the operation cited from
web.comhem.se/jupiter/neckad.htm
6. Sanderson RJ, Montague ML, Surgical management of head and neck
malignancy, Surg J R Coll Surg Edinb Irel, 2 February 2004, 7-14
7. Shaha AR, Neck dissection: an operation in evolution, World Journal of
Surgical Oncology 2005, 3:22

18

8. Tesseroli M, Calabrese L, Discontinuous vs. In-continuity Neck Dissection


in Carcinoma of the Oral Cavity. Experience of two Oncologic Hospitals,
Acta Otorhinolaryngology Italia 26, 350-355, 2006

ASKEP KASUS
PENGKAJIAN
Tanggal MRS

: 25-03-2014

Tanggal Pengkajian: 04-04-2014

Jam Masuk : 16:00 WIB


No.RM

: 123166XX

Jam Pengkajian : 13.10 WIB


Diagnosa Masuk : Tumor submandibula
Diagnosa Kerja: Tumor submandibula post diseksi submandibula
BIODATA
1. Nama Pasien : Tn. A
2. Umur

: 52 tahun

3. Suku/Bangsa : Indonesia
4. Agama

: Islam

5. Pendidikan

: SLTP

6. Pekerjaan

: Swasta

7. Alamat

: Wotan Ngimbang, Lamongan

19

8. Sumber Biaya : Umum


KELUHAN UTAMA
Pasien mengatakan nyeri pada daerah yang dioperasi, skala nyeri 4.
RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG
Pasien mengatakan benjolan di dekat rahang bawah kanan muncul sejak 12 tahun
yang lalu, makin lama makin membesar tetapi tidak terasa nyeri walaupun
ditekan. Tidak ada kesulitan bernafas. Pasien ke Rumah Sakittanggal 25-03-2014
karena merasa tidak nyaman dengan bertambah besar benjolan di dekat rahang
bawah kanan.Berat badan tetap selama beberapa bulan ini.
RIWAYAT PENYAKIT DAHULU
Pasien tidak pernah mempunyai sakit hipertensi dan DM. Pasien hanya sakit biasa
seperti batuk dan pilek.
RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA
Di keluarga tidak ada riwayat penyakit seperti yang dialami pasien.
Genogram

Keterangan :
laki-laki

pasien

perempuan
serumah
PERILAKU YANG MEMPENGARUHI KESEHATAN
Pasien perokok, setiap hari merokok sebanyak 12 batang rokok. Pasien tidak
pernah meminum minuman yang beralkohol. Pasien suka makan makanan yang
mengandung penyedap makanan dan makanan instan.
PEMERIKSAAN FISIK
1. Tanda tanda vital

20

S:36 C

N:132 x/menit

T:134/72 mmHg

RR:20x/menit

Kesadaran : GCS 356


2. Sistem Pernapasan (B1)
Airway

: bebas, tidak terdengar suara nafas tambahan

Breathing

: nafas spontan, RR : 20 kali/menit, pergerakan dada simetris,

suara nafas vesikuler, tidak terdengar ronchi, tidak terdengar wheezing, perkusi
paru sonor. Menggunakan masker sederhana 6 LPM, SpO2 : 99%.
3. Sistem Kardiovaskuler (B2)
Perfusi: Hangat Kering Merah, CRT < 2 detik, Nadi : 132 kali/menit,
TD : 134/72 mmHg, Suhu : 36 C
4. Sistem Persyarafan (B3)
a. GCS : 356
b. reflex fisiologi : reflex patella (+),triceps (+),biceps(+)
c. reflek patologis : babinsky(-), Oppenheim(-), Schaefer (-)
meningeal sign : kaku kuduk (-), brudzinsky (-), kernig (-)
d. keluhan pusing : tidak
e. Pemeriksaan saraf kranial
N1 (Olfaktorius) tidak terdapat masalah pada fungsi penciuman.
N2 (Optikus) normal

ket: PBI 2 mm / 2 mm

N3 (Okulomotorius) normal ket: Reflek Cahaya +/+


N4 (Troklearis) Fungsi persarafan otot gerak bola mata tidak ada masalah
N5 (Trigeminus)
Fungsi motorik : mempersarafi otot yang mengatupkan mulut tidak terdapat
masalah
Fungsi sensorik : sensibilitas wajah, kornea dan rongga mulut tidak terdapat
masalah
N6 (Abdusen) Tidak terdapat masalah pada saraf penggerak bola mata
N7 (Fasialis)
21

Fungsi motorik : otot wajah, persarafan glandula lakrimalis dan otot sensor
timfani tidak terdapat masalah.
Fungsi sensorik : mempersarafi 2/3 bagian lidah depantidak terdapat
masalah
N8 (Vestibulo dan koklearis)
Saraf pendengaran tidak terdapat masalah. Untuk saraf keseimbangan dan
kemampuan berjalan tidak terganggu.
N9 (Glasopharingeus) Fungsi dalam mensekresi kelenjar ludah dan parotis
berkurang
N10 fungsi motorik dalam mempersarafi otot-otot faring dan otot penggerak
pita suara berfungsi dengan baik.
N11 Fungsi saraf motorik yang mengurusi otot-otot laring,
sternokleidomastoideus (menggerakkan kepala menoleh kanan kiri tidak
terdapat masalah.
N12 fungsi saraf motorik pada otot-otot untuk menggerakkan lidah dan
bagian belakang otot biventer untuk membuka mulut tidak terdapat masalah.
f. Pupil

isokor

diameter : 3 mm/3 mm

g. Tanda PTIK tidak ada muntah proyektil, tidak nyeri kepala hebat
h. Curiga fraktur cervical : jejas atas klavikula(-), multiple trauma (-)
j. Istirahat/tidur : 8 jam/hari

gangguan tidur : tidak ada

5. Sistem Perkemihan (B4)


a. Kebersihan genetalia:

bersih

b. Sekret:

tidak

c. Ulkus:

tidak

d. Kebersihan meatus uretra:

bersih

e. keluhan kencing: tidak ada


f. Kemampuan berkemih:
alat bantu : terpasang kateter no 16 fr balon 20 cc hari ke 2.

22

g. Produksi urine 250ml


warna kuning jernih
bau khas
h. Kandung kemih: tidak membesar, tidak ada nyeri tekan
i. Intake cairan : Infus RL III sisa OK 150 cc
6. Sistem Pencernaan (B5)
Tidak ada masalah, BAB terakhir tanggal 03-04-2014 malam.
7. Sistem Muskuloskeletal (B6)
a. Pergerakan sendi : bebas
b. Kekuatan otot :
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.

3
3

3
3

Kelainan ekstremitas : tidak ada


Kelainan tulang belakang : tidak ada
Fraktur : tidak ada riwayat fraktur
Keluhan nyeri : tidak ada
Sirkulasi perifer normal
Kulit : tidak ikteri,tidak sianosis,tidak kemerahan, tidak hiperpigmentasi.
Turgor baik
Pitting edema :
-

8. Sistem Endokrin
a. pembesaran tyroid : tidak
b. pembesaran kelenjar getah bening: tidak
c. hipoglikemia : tidak
d. hiperglikemia : tidak

nilai: 85 mg/dL.

RIWAYAT PRE OPERASI


Pasien makan minum terakhir jam 00:00 WIB.
Cairan RL : 1000 cc
TD : 120/70 mmHg, N: 88 kali/menit, RR: 20 kali/menit, SpO2 : 99%
Premedikasi :
Midazolam 2,5 mg i.m.
Morphine 5 mg i.m.
23

SA 0,25 mg i.m.
Teknik induksi:
Induksi intra vena
Teknik intubas:
Sleep apnea dengan ETT biasa no 7.5 cuff 8 ml, oral.
Posisi
:
Supinasi
RIWAYAT DURANTE OPERASI
Obat-obatan :
Midazolam 3 mg i.v. jam 11:00 WIB
Morfin 3 mg i.v. jam 11:05 WIB
Propofol 100 mg i.v. jam 11:15 WIB
Roculax 50 mg i.v. jam 11:20 WIB
Ranitidine 50 mg i.v. jam 12:30 WIB
Ketorolac 30 mg i.v. jam 12:40 WIB
Perdarahan
:
minimal
Urine
:
250 cc
TD : 100-130/60-85 mmHg, Nadi : 68-90 kali/menit, RR : 16-20 kali/menit,
SpO2 : 95-100%.
PEMERIKSAAN PENUNJANG
Hasil Pemeriksaan Patologi Anatomi tanggal 12-03-2014 :
Makroskopik :
Dilakukan 2 kali puncture pada nodul lobulated submandibula dextra 4 cm,
batas jelas, mobile, padat kenyal.
Mikroskopik :
Hapusan hiperseluler menunjukkan kelompok-kelompok dan sebaran sel-sel
epithel inti bulat oval, relative monoton, kromatin halus inti tadpole dengan latar
belakang matriks kondromixoid, tidak tampak tanda keganasan.
Kesimpulan :
Nodul submandibula dextra
FNAB : PLEOMORFIK ADENOMA.
Hasil foto thorax PA tanggal 12-03-2014
Kesan : peningkatan bronchovaskular pattern
Hasil ECG tanggal 17-03-2014
HR
: 81 bpm
Axis : -66 deg
R-R : 739 ms
RV5 : 1,46 mV
P-R : 152 ms
SV1 : 0,34 mV
QRS : 107 ms
R+S : 1,80 mV
QT
: 348 ms
Kesimpulan : normal sinus rythm
QTc : 404
Hasil laboratorium tanggal 03-04-2014
Hb

: 11,3 gr

(11-18 gr)

Hct

:82,1 fl

(80-90,44 fl)

Leukosit

: 6.400/ul

(4.500-10.500/ul)

Plt

: 160.000/ul

(150.000-450.000/ul)

PPT

: 10,9 detik

(11-14 detik)

Control PPT

: 11,3 detik

(0,00-0,00 detik)
24

APTT

: 31 detik

(25-40 detik)

Control APTT

: 25,8 detik

(0,00-0,00 detik)

BUN

: 8 mg/dL

(7-18 mg/dL)

Serum Kreatinin : 0,9 mg/dL

(0,6-1,3 mg/dL)

GDA

: 85 gr/dL

(100-150gr/dL)

Na

: 138 mmol/l

(136-145 mmol/l)

Kalium

: 3,6 mmol/l

(3,5-5,1 mmol/l)

Chlorida

: 106 mmol/l

(98-107 mmol/l)

SGOT

: 30 U/L

(15-37 U/L)

SGPT

: 23 U/L

(12-78 U/L)

TERAPI
D5PZ 1500 cc/24 jam + D5 500 cc / 24 jam bila makan minum baik infus lifeline
Puasa sampai dengan sadar baik, tidak mual dan tidak muntah.
Injeksi Ranitidine 2x50 mg i.v. ( 1 hari)
Injeksi metocloperamide 3x10 mg i.v. (1 hari)
Injeksi ketorolac 3x30 mg i.v. (2 hari)
Drip tramadol 3x100 mg dalam PZ 100 cc (2 hari)
Oksigen masker 6 LPM
ANALISA DATA
TANGGAL
11-02-2014

DATA

ETIOLOGI

DS : DO : Airway

: bebas,

Tumor
submandibula

tidak terdengar suara


nafas tambahan
Breathing

: nafas

MASALAH

Resiko
ketidakefektifan

Diseksi
submandibula

bersihan

jalan

nafas

spontan, RR : 20
kali/menit, pergerakan
dada simetris, suara
nafas vesikuler, tidak
terdengar ronchi, tidak
terdengar wheezing,

Produksi sekret di
jalan nafas
berlebih
Kemampuan batuk
aktif menurun
Penumpukan
sekret di jalan
nafas

Vasokonstriks
i pembuluh
darah perifer
25 sehingga
aliran darah
vena ke
atrium kanan
meningkat

perkusi paru sonor.


Menggunakan masker
sederhana 6 LPM,
SpO2 : 99%.
Resiko
ketidakefektifan
bersihan jalan
nafas

05-03-2014

DS : Pasien mengatakan
bekas luka operasi terasa
nyeri dengan skala nyeri

Diseksi tumor
submandibula
Sesak

Nyeri

4.
DO :
N: 70 x/menit
TD : 124/72 mmHg

Diskontinuitas
Gangguan
pola
jaringan
nafastubuh
Nyeri

DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Resiko ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan
penumpukan sekret di jalan nafas.
2. Gangguan rasa nyaman : Nyeri berhubungan dengan diskontinuitas jaringan
tubuh akibat diseksi submandibula.
Hypothalamus ke
termoregulator

26