Anda di halaman 1dari 22

REHABILITASI MEDIK

Oleh
Sutan Malik Maulana Syah.
0818011097

PRECEPTOR
dr. Sanjoto S, Sp.KFR

SMF REHABILITASI MEDIK RSUD Dr. ABDUL MOELOEK


BANDAR LAMPUNG
OKTOBER 2012

REHABILITASI MEDIK

A. Definisi Rehabiltasi Medik

Menurut WHO, Rehabilitasi Medik adalah ilmu pengetahuan kedokteran yang


mempelajari masalah atau semua tindakan yang ditujukan untuk mengurangi atau
menghilangkan dampak keadaan sakit, nyeri, cacat dan atau halangan serta
meningkatkan kemampuan pasien mencapai integrasi sosial.

Menurut Depkes,

rehabilitasi adalah proses pemulihan untuk memperoleh fungsi

penyesuaian diri secara maksimal atau usaha mempersiapkan penderita cacat secara
fisik, mental, sosial dan kekaryaan untuk suatu kehidupan yang penuh sesuai dengan
kemampuan yang ada padanya. (Depkes RI, 1983). Sedangkan pelayanan Rehabilitasi
Medik adalah pelayanan kesehatan terhadap gangguan fisik dan fungsi yang diakibatkan
oleh keadaan/kondisi sakit, penyakit atau cedera melalui paduan intervensi medis,
keterapian fisik dan atau rehabilitative untuk mencapai kemampuan fungsi yang
optimal.

B. Ruang Lingkup Pelayanan Rehabilitasi Medik di Rumah Sakit

Pelayanan Rehabilitasi Medik di Rumah Sakit meliputi seluruh upaya kesehatan pada
umumnya, yaitu upaya promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif.
1. Upaya Promotif
Penyuluhan, informasi dan edukasi tentang hidup sehat dan aktivitas yang tepat untuk
mencegah kondisi sakit

2. Upaya preventif
Edukasi dan penanganan yang tepat pada kondisi sakit/ penyakit untuk mencegah dan
atau meminimalkan gangguan fungsi atau risiko kecacatan.

3. Upaya kuratif
Penanganan melalui paduan intervensi medik, keterapian fisik, dan upaya rehabilitatif
untuk mengatasi penyakit/kondisi sakit untuk mengembalikan dan mempertahankan
kemampuan fungsi.

4. Upaya rehabilitatif
Penanganan melalui paduan intervensi medik, keterapian fisik, keteknisan medik dan
upaya rehabilitatif lainnya melalui pendekatan psiko-sosio-edukasi-okupasi-vokasional
untuk mengatasi penyakit/kondisi sakit yang bertujuan mengembalikan dan
mempertahankan kemampuan fungsi, meningkatkan aktivitas dan peran serta/
partisipasi di masyarakat.

C. Filosofi Rehabilitasi Medik

Pelayanan Rehabilitasi Medik dilakukan dengan menjunjung filosofi-filosofi berikut:


1. Rehabilitasi merupakan jembatan yang menjangkau perbedaan antara kondisi
tidak berguna-berguna, kehilangan harapan- berpengharapan (Rehabilitation is
a bridge spanning the gap between uselessness-usefulness, hopelessness
hopefulness)

2. Rehabilitasi tidak hanya memperpanjang usia tapi juga menambah


makna/kualitas dalam hidup (rehabilitation is not only to add years to life but
also add life to years).

D. Bentuk Pelayanan

Beberapa bentuk Pelayanan Rehabilitasi Medik, antara lain:


1. Mengembalikan fungsi pasien pasca stroke
2. Mencegah kontraktur dan mengembalikan fungsi pasien pasca operasi dan patah
tulang.
3. Senam nafas sehat, senam hamil
4. Memberikan alat bantu jalan, ortesa, protesa, splint, korset, dll.
5. Melatih bicara dan gerak motorik anak dengan CP, autism, keterlambatan
perkembangan
6. Mengurangi nyeri, kaku diberbagai bagian tubuh.
7. Dan lain-lain.

E. Tujuan Rehabilitasi

Adapun tujuan rehabilitasi medik adalah


1. Mengatasi keadaan/kondisi sakit melalui paduan intervensi medic, keterapian
fisik, keteknisian medic dan tenaga lain yang terkait.
2. Mencegah komplikasi akibat tirah baring dan atau dampak penyakitnya yang
mungkin membawa kecacatan.
3. Memaksimalkan kemampuan fungsi, meningkatkan aktifitas dan partisipasi
pada difabel.
4. Mempertahankan kualitas hidup dan mengupayakan kehidupan yang
berkualitas.

F. Tim Rehabilitasi Medik

Tim rehabilitasi medik dilakukan oleh tim yang terdiri dari berbagai disiplin ilmu :
1. Dokter rehabilitasi medik sebagai ketua tim yang menyusun program rehabilitasi.
2. Perawat rehabilitasi, melakukan positioning yang benar, untuk mencegah komplikasi
sarta memperpendek masa pemulihan. Latihan buang air besar/kecil, aktivitas seharihari, transfer, mobilisasi bersama fisioterapis dan terapi okupasi dilakukan di bangsal
3. Fisioterapist, memeriksa dan mengevaluasi gangguan motorik dan sensorik yang
mempengaruhi fungsi dan menyesuaikan program fisioterapi secara individu sesuai
keadaan pasien.
4. Okupational Terapist, memeriksa, mengevaluasi dan menyusun program yang
berhubungan dengan Aktivitas Kehidupan Sehari-hari (AKS) misalnya cara makan,
menulis, berpakaian, membersihkan diri sendiri, dll.

5. Pekerja sosial medik, mengadakan penilaian terhadap kebutuhan penderita dan


keluarganya selama dirawat, di rumah dan di masyarakat serta sumber daya yang
dipunyainya.
6. Speech therapist (terapi wicara) yaitu mengevaluasi masalah-masalah komunikasi.
7. Psikologi, mengevaluasi keadaan psikologi penderita secara tuntas, termasuk
keluarganya.
8. Ortotik prostetik, mengevaluasi dan mengadakan alat-alat bantu yang telah
disesuaikan guna memperbaiki aktivitas.
9. Penderita dan keluarga, melengkapi tim rehabilitasi. Diskusi yang memadai mengenai
penyakit dan deficit neurologic adalah penting untuk mengetahui gangguan
fungsional yang sebenarnya.
10. Rohaniwan

G. Gangguan Fungsi
Menurut WHO Tingkatan gangguan fungsi dapat dikategorikan sebagai berikut:
- Impairment, bila ada gangguan fisik atau organ tubuh seperti luka otak, orgam mata
atau organ telinga rusak, atau anggota tubuh tertentu lumpuh, yang menyebabkan
bagian tersebut terganggu.
- Disability, akibat adanya impairment mengakibatkan gangguan fungsi sehingga
berkurangnya kemampuan fisik
- Handicap, akibat impairment dan disability maka, hubungan sosial ataupun
kegiatan sosial masyarakat mengalami hambatan.

Bertitik tolak dari kerangka pemikiran upaya rehabilitasi fisik tersebut maka,
penanganan bersifat komprehensif, sehingga layanan rehabilitasi dapat diartikan
sebagai upaya terkoordinasi yang bersifat medik, sosial, edukasi dan kekaryaan
untuk melatih sesseorang kearah tercapainya kemampuan fungsional semaksimal
mungkin, dan menjadikan individu sebagai anggota masyarakat yang berswasembada
dan berguna. Upaya rehabilitasi fisik merupakan upaya medik untuk mencegah
terjadinya impairment, disability, dan handicap dengan memanfaatkan kemampuan
yang ada.

H. Pelayanan dalam Rehabilitasi Medik

Pelayanan Fisioterapi
Adalah bentuk pelayanan kesehatan yang ditujukan kepada individu dan atau
kelompok untuk mengembangkan, memelihara dan memulihkan gerak dan fungsi
tubuh seoanjang daur kehidupan dengan menggunakan penanganan secara

manual, peningkatan gerak, peralatan, pelatihan fungsi dan komunikasi.


Pelayanan Terapi Wicara
Adalah bentuk pelayanan kesehatan yang ditujukan kepada individu dan atau
kelompok untuk memulihkan dan mengupayakan kompensasi / adaptasi fungsi
komunikasi, bicara dan menelan dengan latihan remediasi, stimulasi dan fasilitasi

Pelayanan Terapi Okupasi


Adalah bentuk pelayanan yang ditujukan kepada individu dan atau kelompok
untuk mengembangkan, memelihara, memulihkan fungsi atau mengupayakan
kompensasi/adaptasi untuk aktifitas seharti-hari, produktifitas dan waktu luang

melalui pelatihan remediasi, stimulasi dan fasilitasi.


Pelayanan Ortotis Prostetis

Adalah salah satu bentuk pelayanan keteknisian medic yang ditujukan kepada
individu untuk merancang, membuat dan mengepas alat bantu guna pemeliharaan
dan pemulihan fungsi , atau pengganti anggota gerak.

I. Prinsip Rehabilitasi

Menurut Harsono (1996), ada beberapa prinsip rehabilitasi, yaitu :


1. Rehabilitasi dimulai sedini mungkin, bahkan segera sejak dokter melihat penderita
untuk pertama kalinya.
2. Tidak ada seorang pun yang boleh berbaring lebih lama dari yang diperlukan, karena
dapat mengakibatkan komplikasi.
3. Rehabilitasi merupakan terapi multidisipliner terhadap seorang penderita
4. Faktor yang terpenting adalah kontinuitas perawatan
5. Perhatian untuk rehabilitasi diutamakan kepada sisa kemampuan yang masih dapat
diperbaiki dengan latihan
6. Fungsi lain rehabilitasi adalah pencegahan serangan berulang
7. Penderita merupakan subjek rehabilitasi, bukan sekedar objek.

Prinsip - prinsip dasar kegiatan rehabilitasi anak


Ada beberapa prinsip dasar kegiatan rehabilitasi anak berkebutuhan khusus,
diantaranya:
1. Ditinjau dari tujuan rehabilitasi
Tujuan rehabilitasi bagi anak berkebutuhan khusus adalah agar mereka mampu

mengikuti pendidikan dengan baik, atau agar mereka mampu melaksanakan fungsi
sosial secara wajarn dalam kehidu-pan masyarakat. Untuk mewujudkan tujuan
rehabilitasitersebut, prinsip dasar kegiatan rehabilitasi adalah:
a. Prinsip menyeluruh
Kegiatan rehabilitasi dilakukan secara menyeluruh atau lengkap, baik pada
aspek fisik, psikhis, sosial maupun ketrampilan (total care concept
rehabilitation). Seorang anak yang mengalami amputasi, sedini mungkin
ditangani bidang rehabilitasi medic tidak

terbatasl

kepada

mempercepat

penyembuhan luka-penguatan ptot, tetapi juga pembuatan kaki palsu,


mempersiapkan mental agar yang bersangkutan menerima alat tersebut, melatih
ketrampilan sesuai dengan kemampuan yang ada, dsb.

b. Prinsip pelayanan segera atau pelayanan dini


Pelayanan rehabilitasi dilakukan mulai sejak usia dini atau segera setelah
diketahui kebutuhan rehabilitasi yang diperlukan masing-masing anak.

c. Prinsip prioritas
Kondisi kesehatan atau kecacatan yang menimbulkan rasa sakit dapat
mengganggu setiap aktivitas anak, maka kegiatan rehabilitasi medik bagi anak
yang memerlukan, perlu didahulukan/mendahului kegiatan rehabilitasi yang lain.
pada kasus-kasus tertentu yang memerlukan pelayanan segera, perlu
memperoleh prioritas dalam rehabilitasi.

d. Kegiatan berpusat pada anak


Kegiatan rehabilitasi yang dilakukan,
kesempatan kepada anak/peserta didik

lebih
untuk

banyak

memberikan

mencoba

sendiri,

memecahkan masalahnya sendiri serta melakukan latihan sendiri, sudah tentu


setelah mereka memperoleh penjelasan secukupnya dari provider.

e. Prinsip konsisten
Setiap kegiatan rehabilitasi didasarkan pada program yang telah disiapkan
sebelumnya, dan dievaluasisetiap kemajuan yang dicapai anak/peserta didik
secara konsisten.

f. Prinsip efektivitas dan penghargaan


Memberikan pujian dan penghargaan atas keberhasilan dan kemajuan
kemampuan anak/peserta didik.

g. Prinsip pentahapan.
Artinya bahwa kegiatan rehabilitasi dimulai dari kegiatan yang minimal (kecil,
sederhana, mudah) sampai pada yang maksimal (luas, besar, sukar), baik yang
berhubungan dengan bentuk, sifat maupun hasil yang diharapkan.

h. Prinsip kesinambungan, berulang dan terus menerus.

Artinya kegiatan terapi agar mencapai hasil maksimal perlu dilakukan


berkesinambungan, berulang-ulang, terus menerus. Jadi tidak berhenti sebelum
terlihat hasilnya yang lebih baik, menjadi bertambah meningkat kemampuannya,
menjadi berkurang kesulitan dan hambatannya, dsb.

i. Prinsip terintegrasi
Pelaksanaan kegiatan rehabilitasi tidak selalu terpisah dengan kegiatan proses
belajar mengajar dalam suatu bidang studi tertentu, misalnya ketrampilan,
olahraga, PMP, agama, kesenian, dsb.

2. Ditinjau dari jenis dan macam kelainan


a. Orientasi pada pengembalian fungsi
Kegiatan rehabilitasi dilakukan dengan berorientasi pada pengembalian fungsi.
Setiap anak berkelainan memiliki dampak primer tertentu sesuai dengan jenis
kecacatannya. Dampak primer tersebut sedapat mungkin dikembalikan
fungsinya, dan jika tidak mungkin dialihkan pada fungsi organ tubuh yang
lain/ketrampilan tertentu yang dapat menggantikan fungsi organ yang
berkelainan. Misalnya: tunanetra, dampak primer tidak dapat melihat,
kegiatan rehabilitasi di bidang pendidikan dengan tulisan braille, peragaan
dengan bendy yang dapat diraba, dsb. Anak tunadaksa jenis folio, dampak
primer ambulasi terbatas, kegiatan rehabilitasi melatih penggunaan kursi roda,
kruk, brace, dsb.

b. Pinsip individualisasi

Kegiatan rehabilitasi berorientasi pada ketidakmampuan dan kemampuan setiap


anak/peserta didik. Pelaksanaan kegiatan rehabilitasi diperlukan pendekatan
individual.

c. Orientasi pada jenis kecacatan dan kasus


Ada kegiatan rehabilitasi yang dapat dilakukan secara kelompok berdasarkan
atas jenis kecacatan, macam kasus, tingkat kelas, kelompok usia, dsb. MisaInya:
semua anak tunanetra memerlukan latihan orientasi dan mobilitas, semua anak
tunarungu memerlukan latihan komunikasi, semua anak tuna grahita dan
tunadaksa memerlukan latihan ADL, dsb

3. Ditinjau dari kemampuan pelaksana ( provider )


a. Prinsip kerja tim
Pekerjaan rehabilitasi dilakukan oleh suatu tim yang masing-masing bekerja
sesuai dengan profesi dan kemampuannya. Kerjasama yang baik entar anggota
tim rehabilitasi akan sangat menentukan keberhasilan program rehabilitasi.

b. Prinsip kerja atas dasar profesi.


Tidak semua anggota tim rehabilitasi memiliki profesi yang sama, itulah
sebabnya bekerja atas dasar profesi akan lebih mampu mengurangi resiko
kesalahan, di samping itu juga akan memperbesar efektivitas kerja. Sebelum
kegiatan rehabilitasi dimulai, terlebih dahulu difahami batas-batas kewenangan
masing-masing dan disusun pembagian togas secara tertulis atas dasar

kesepakatan pihak-pihak yang tergabung dalam tim rehabiliasi yang ada di


sekolah masing-masing.

Tindakan konsultatif dan penyelenggaraan pertemuan tim rehabilitasi secara


periodik perlu ditempuh di setup sekolah, demi kelancaran kegiatan rehabilitasi
dan menghindari kesalahan dalam memberikan pelayanan rehabilitasi yang
dapat menimbulkan parahnya permasalahan atau kecacatan yang disandang
oleh anak/peserta didik yang memperoleh pelayanan.

Seluruh program rehabilitasi berada di bawah tanggung jawab ketua tim yang
dibantu oleh tiga ahli di bidang medik, social psikologis dan ketrampilan.
Dalam pelaksanaannya dapat dilakukan oleh beberapa pelaksana rehabilitasi
sesuai dengan kemamputan dan kewenangannya.
Tindakan rujukan ke ahlinya perlu dilakukan oleh para guru dan petugas
rehabilitasi lainnya, agar anak segera terpecahkan permasalahannya. Dalam hal
ini perlu disertai administrasi seperlunya (buku rujukan).

4. Ditinjau dari tempat, waktu dan sarana rehabilitasi


a. Prinsip integritas
Kegiatan rehabilitasi pada dasarnya dapat dilakukan secara ber-saina-sama,
kecuali rehabilitasi ketrampilan sebaiknya dilakukan setelah anak/peserta didik
selesai mengikuti rehabilitasi medik dan sosial. Misalnya anak tunanetra untuk
mengikuti latihan ketrampilan massage, sebaiknya setelah menguasai orientasi
mobilitas, tidak sakit, dan setelah memiliki motivasi untuk bekerja bidang
keahlian massage.

Pinsip ini juga menggariskan bahwa pelaksanaan rehabilitasi juga dapat


dilakukan bersama-sama saat penyafnpaian materi bidang studi tertentu di
sekolah.
b. Prinsip keluwesan tempat dan waktu
Tempat pelaksanaan rehabilitasi dapat dilakukan dimana saja dan kapan raja,
terkecuali pada kasus-kasus tertentu. Misalnya operasi ortopedi harus dilakukan
di rumah sakit.
c. Prinsip kesederhanaan
Sarana rehabilitasi diutamakan yang sederhana, mudah didapat, murah harganya
dan disesuaikan dengan kemampuan lembaga/sekolah, kecuali pada kasusskasus tertentu, seperti alat bantu untuk mendengar, alat bantu untuk melihat,
prothese, dsb.
d. Prinsip keterlibatan orangtua dan masyarakat Artinya kegiatan rehabilitasi perlu
menyertaka orangtua atau pembina asrama atau masyarakat, baik dalam
melakukan pelatihan, pengawasan dan pembinaan anak, mengingat jumlah
waktu anak kesehariannya lebih banyak di rumah atau diasrama.