Anda di halaman 1dari 7

Makalah K3LL

Angkutan Umum Sebgai Salah Satu Penyebeb Terbesar


Kemacetan dan Kecelakaan Lalu Lintas di Jakarta

Disusun Oleh
NPM
Jurusan

: Chayatama Ramadhan Boiman


: 1406533333
: Teknik Sipil

Fakultas Teknik Universitas Indonesia

Pendahuluan
Kota jakarta merupakan sebuah kota metropolitan, yang pastinya memiliki daya tarik
yang tinggi bagi masyarakat yang ada di Indonesia. Ini dibuktikan dari sangat padatnya dan
cepatnya pertumbuhan penduduk di Jakarta. Bahkan, setiap tahunnya selalu ada arus urbanisasi
yang melanda Jakarta. Selain masalah kepadatatan dan semakin cepatnya pertumbuhan penduduk
di Jakarta. Jakarta juga memiliki masalah lain yang perlu diatasi juga, yaitu kemacetan dan
kecelakaan lalu lintas. Provinsi DKI Jakarta sebagai ibukata Negara Kesatuan Republik
Indonesia, yang juga sekaligus sebagai daerah otonom pada lingkup provinsi, memliki tugas,
hak, wewenang, dan tanggung jawab tertentu dalam penyelenggaraan pemerintahannya, salah
satunya adalah dalam bidang transportasi. Dalam Pasal 3 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009
tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, bahwa Lalu Lintas dan Angkutan Jalan diselenggarakan
dengan tujuan :

terwujudnya pelayanan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan yang aman, selamat, tertib,
lancar, dan terpadu dengan moda angkutan lain untuk mendorong perekonomian nasional,
memajukan kesejahteraan umum, memperkukuh persatuan dan kesatuan bangsa, serta
mampu menjunjung tinggi martabat bangsa
terwujudnya etika berlalu lintas dan budaya bangsa; dan
terwujudnya penegakkan hukum dan kepastian hukum bagi masyarakat

Dengan adanya Undang-Undang tersebut, pemerintah provinsi DKI Jakarta memiliki


tanggung jawab yang besar mengenai keadaan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan yang ada di kota
Jakarta ini. Padatnya transportasi di lalu lintas Jakarta, merupakan pemicu tingginya tingkat
kemacetan dan juga kecelakaan lalu lintas. Tingkat pertumbuhan jumlah masyarakat yang
memiliki kendaraan bermotor semakin meningkat, bahkan hampir tak terkendali. Saat ini, jumlah
kendaraan dan jumlah kecelakaan terbesar ditempati oleh kendaraan pribadi, namun kita juga
perlu memerhatikan penyebab kecelakaan dan kemacetan lainnya yang bisa jadi saling
berkisanambungan. Salah satu penyebab terbesar masalah kecelakaan dan kemacetan lalu lintas
yang lainnya adalah angkutan umum.
Rumusan Masalah :
1. Apa pengertian dari kecelakaan lalu lintas, kemacetan lalu lintas, Lalu Lintas dan
Angkutan Jalan, dan lalu lintas itu sendiri?
2. Mengapa angkutan umum menjadi salah satu penyebab kecelakaan dan kemacetan lalu
lintas?
3. Apa akibat dari kurangnya keamanan, kenyamanan dan keselamatan pada angkutan
umum?
4. Bagaimana solusi yang perlu dilakukan untuk mengatasai masalah-masalah tersebut?
Tujuan :
1. Untuk mengetahui pengertian dari kecelakaan lalu lintas, kemacetan lalu lintas, Lalu
Lintas dan Angkutan Jalan, dan lalu lintas itu sendiri
2. Untuk mengetahui faktor-faktor kemacetan dan kecelakaan lalu lintas yang disebabkan
angkot
3. Untuk mengetahui dampak dari kurangnya kenyamanan, keamanan dan keselamatan pada
angkutan umum
4. Untuk mengetahui solusi yang perlu dilakukan untuk mengatasai masalah-masalah
tersebut
Pembahasan

A. Pengertian Kecelakaan Lalu Lintas, Kemacetan Lalu Lintas, Lalu Lintas dan Angkutan
Jalan, dan Lalu Lintas.
Menurut pasal 1 ayat 24 Undang_Undang No. 22 Tahun 2009, Kecelakaan Lalu
Lintas adalah suaut peristiwa di Jalan yang tidak diduga dan tidak disengaja melibatkan
kendaraan dengan atau tanpa pengguna jalan lain yang mengakibatkan korban manusia
dan/atau kerugian harta benda. Kecelakaan lalu lintas adalah kejadian pada lalu lintas jalan
yang sedikitnya melibatkan satu kendaraan yang menyebabkan cedera atau kerusakan atau
kerugian pada pemiliknya (korban) (WHO, 1984).
Sedangkan pengertian dari Kemacetan Lalu Lintas adalah kondisi dimana arus lalu
lintas yang lewat pada ruas jalan yang ditinjau melebihi kapasitas rencana jalan tersebut yang
mengakibatkan kecepatan bebas ruas jalan tersebut mendekati 0 km/jam sehingga
menyebabkan terjadinya antrian. (MKJI, 1997).
Pengertian Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) berdasarkan pasal 1 ayat 1
Undang-Undang No. 22 Tahun 2009 adalah satu kesatuan sitem yang terdiri atas lalu lintas,
angkutan jalan, kendaraan, pengemudi, pengguna jalan, serta pengelolaannya.
Berdasarkan pasal 1 ayat 2 No. 22 Tahun 2009, Lalu Lintas adalah gerak kendaraan
dan orang di ruang lalu lintas jalan. Sedangkan yang dimaksud dengan ruang lalu lintas jalan
adalah prasarana yang diperuntukkan bagi gerak pindah kendaraan, orang, dan/atau barang
yang berupa jalan dan fasilitas pendukung.

B. Faktor-faktor Kemacetan dan Kecelakaan Lalu Lintas yang Disebabkan Angkutan Umum
1. Tidak memiliki Surat Izin Mengemudi
Banyaknya sopir angkutan umum yang tidak memiliki surat Izin mengemudi (SIM)
merupakan suatu masalah yang harus diperhatikan. Bahkan seringkali, tidak hanya masalah
SIM yang tidak punya, surat-surat yang lain pun jarang dibawanya. Jika hal ini terus
dibiarkan, akan semakin parah pelayanan transportasi publik di Jakarta. Sopir-sopir angkot
atau bus penumpang di Jakarta juga akan semakin mengkhawatirkan dan akan semakin
meningkatnya sopir yang tidak memliki SIM, karena hal ini dapat menular terhadap sopirsopir yang lainnya untuk tidak memiliki SIM. Selain itu, kualitas dari sopir angkutan umum
di Jakarta juga akan semakin menurun. Jika, kualitas sopir angkutan umum di Jakarta
semakin menurun, maka hal ini akan mengakibatkan tingginya potensi kecelakaan lalu lintas
di Jakarta. Hal ini dikarenakan, sopir-sopir yang tidak memiliki SIM tidak mengetahui dan
tidak mematuhi rambu-rambu lalu lintas. Selain itu, sopir-sopir angkutan umum yang tidak
memiliki SIM juga akan tidak mematuhi bagaimana etika dalam belalu lintas di jalan raya.

2. Pengemudi yang Masih Dibawah Umur


Selain banyaknya sopir angkutan umum yang tidak memiliki SIM, ada juga sopir
angkutan umum yang masih dibawah umur. Adanya sopir angkutan umum yang masih
dibawah umur ini juga merupakan hal yang sangat mengkhatirkan bagi keadaan lalu litas di
kota Jakarta. Selain dibawah umur pastinya sopir ini juga tidak memiliki SIM, dikarenakan
dalam peraturannya SIM bias didapat jika telah mencapai umur yang telah ditentukan. Selain

itu, hal ini juga dapat meningkatnya tingkat kecelakaan di lalu lintas yang semakin tinngi,
Hal ini dikarenakan, sopir yang masih dibawah umur cenderung ingin kebut-kebutan dan
ugal-ugalan, sebab tingkat emosinya belum stabil. Jika tingkat kecelakaan semakin tinggi,
maka tingkat kemacetan pun akan semakin tnggi, karena di setiap ada kecelakaan pasti disitu
juga akan terjadi suatu kemacetan.
3. Ijin Trayek yang Masih Bermasalah
Harus diakui dan dilakukan sebuah evaluasi atau restrukturisasi trayek dengan. Pada
tataran operasional, banyak trayek angkutan umum tumpang tindih. Trayek yang tumpang
tindih tersebut tidak hanya berdampak bagi pengguna, tetapi juga bagi pengusaha dan
pengemudi. Terjadi persaingan tidak sehat karena tidak aksesnya dan tidak terintegrasinya
trayek yang sudah ada. Kondisi ini mengakibatkan pengguna angkutan umum harus
melakukan banyak perpindahan moda lain seperti taksi atau ojek dan akhirnya
mengakibatkan biaya tinggi bagi pengguna angkutan umum. Bahkan, trayek yang tumpang
tindih ini bisa memicu masalah keselamatan
4. Menurunkan dan Menaikkan Penumpang sembarangan
Menurunkan dan menaikkan penumpang secara sembarangan seringkali dilakukan
oleh sopir angkutan umum, padahl hal itu dilarang. Selain mebahayakan penumpang, juga
dapat membahayakan pengemudi yang lainya. Sebagai contohnya, ketika suatu angkutan
umum menurunkan penumpang tidak pada tempatnya, seringkali kendaraan yang lain
terutama motor ingin segera menyalipnya ketika angkutan umum tersebut melambat dan
berhenti. Namun, ketika penumpang yang turun tersebut lengah, dan ia tidak memerhatikan
bahwa ada kendaraan lain yang akan menyalip melewati depan pintu angkutan umum
tersebut, lalu ia lansung turun begitu saja, maka terjadilah suatu kecelakaan yang menimpa
penumpang tersebut.
5. Parkir untuk Menunggu Penumpang di Sembarang Tempat atau di Tempat yang
tidak Seharusnya
Banyaknya angkutan umum yang ngetem di tempat yang tidak seharusnya
membuat kemacetan yang semakin parah, terutama ketika arus lalu lintas padat. Hal ini
bukan hanya merugikan kendaraan yang lain, namun juga dapat merugikan penumpang itu
sendiri, terutama dalam masalah waktu.
6. Melanggar Rambu-Rambu Lalu Lintas

7. Seringnya Pengemudi Angkutan Umum Ugal-Ugalan


C. Dampak dari Kurangnya Kenyamanan, Keamanan dan Keselamatan pada Angkutan
Umum
D. Solusi yang Perlu Dilakukan untuk Mengatasai Masalah-Masalah Kecelakaan dan
Kemacetan Lalu Lintas

1. Penegakkan Hukum.
Minimnya penegakkan hukum saat ini membuat tidak disiplinnya pengemudi atau
sopir angkutan umum. Para pengemudi terlihat jadi biasa dan bebas melakukan
pelanggaran hukum atau aturan lalu lintas. Kebebasan itu sangat terlihat seperti hal
bus angkutan umum saat menaikkan dan menurunkan penumpang di sembarang
tempat tanpa menghitung kemanan penumpangnya. Begitu pula sulitnya mencari
penumpang dan mengejar target setoran harian, membuat para pengemudi angkutan
umum berhenti dan menjadikan setiap jalan sebagai terminal liar. Akibatnya adalah
penumpukan kendaraan lain di belakang yang menimbulkan kemacetan serius karena
berkurangnya kapasitas jalan dikarenakan adanya terminal liar.
2. Mengadakan Standar Pelayanan Minimum (SPM) bagi angkutan umum di Jakarta.
Sesuai dengan norma hukum yakni dalam pasal 141 dan pasal 198 UU no: 22 Tahun
2009 Tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan diatur bahwa setiap layanan angkutan
umum harus mempunyai SPM. Keberadaan SPM ini akan melindungi hak konsumen
atau pengguna angkutan umum untuk mendapatkan jaminan pelayanan yang baik,
nyaman serta aman. Tanpa SPM maka konsumen sebagai pengguna angkutan umum
akan banyak terlanggar hak-haknya seperti sekarang ini. Saat ini seringkali terjadi
kecelakaan lalu lintas dimana awak angkutan umum yang ugal-ualan membahayakan
penumpangnya, kondisi bus yang sudah sangat rusak tak terawat dan maraknya
krimininalitas serta pelecehan di angkutan umum. Dalam aturan hukum yang ada di
UU nomor: 22 tahun 2009 diatur bahwa perusahaan angkutan umum wajib memenuhi
standar pelayanan minimal, memenuhi bagi penggunanya berupa: keamanan,
keselamatan, kenyamanan, keterjangkauan, kesetaraan, keteraturan dan
mengakomodir kebutuhan penyandang cacat. Melihat aturan ini sebenarnya Dinas
Perhubungan Pemprov Jakarta tinggal mengadopsi dan mengimplementasikan saja
aturan SPM tersebut di Jakarta.
3. Melakukan Evaluasi Trayek Angkutan Umum
Evaluasi terhadap trayek sangat perlu dilakukan dan haruslah memenuhi
orientasi: menegakkan aturan, izin trayek adalah milik pemerintah bukan milik
pengusaha (operator). Evaluasi trayek dilakukan untuk mengetahu kebutuhan armada
dalam trayek, membatasi pemberian izin trayek baru secara selektif, melakukan
pengalihan kendaraan dari rute kurus ke rute gemuk dan memulai system
pemberian ijin trayek berdasarkan Quality Licencing atau Lelang. Evaluasi trayek
ini juga harus dilakukan dengan mengintegraikan strategi yang membuka luas
peluang untuk melakukan perjalanan kombinasi antara kendaraan pribadi dan
angkutan umum. Strategi itu ditujukan dengan memfasilitasi peluang perjalanan
kombinasi ini adalah dengan membangunkan fasilitas park and ride (fasilitas Parkir
dan Menumpang). Fasilitas Park n Ride ini dapat dibangun di pinggir kota Jakarta

yang akses dengan angkutan umum massal seperti Transjakarta atau kereta api
komuter Jabodetabek.. Fasilitas untuk melanjutkan perjalanan ke tengah kota.
4. Melakukan perbaikan kelembagaan bisnis atau operator angkutan (regular) yang ada
sekarang.
Kondisi bentuk kelembagaan operator angkutan umum regular saat ini masih banyak
yang tidak sesusia badan usaha bisnisnya dan melanggar aturan manajemen angkutan
umum. Kelembagaan angkutan umum sesuai amanat Undang Undang Nomor 22
tahun 2009 harus dikelola oleh sebuah badan hukumnya. Badan hukum kelembagaan
bisnisnya sebuah PT atau Koperasi namun pengelolaannya mayoritas masih secara
pribadi Individu. Akibatnya adalah kesulitan dalam mengontrol, membina dan
mengembangkan pelayanan angkutan umum karena operator banyak sekali yang
individu-individu bukan sebuah manajemen badan hukum yang jelas. Kondisi ini
selanjutnya membuat pemerintah daerah Jakarta sangat kesulitan misalnya membuat
apalagi menerapkan Standar Pelayanan Minimum (SPM) bagi penggunanya. Secara
nyata para operator yang individu-individu ini sulit diatur dan dikontrol dan
menimbulkan persaingan yang tidak sehat antar operator angkutan umum. Sehingga
jelas sangat diperlukan evaluasi total kelembagaan pengelolaan angkutan umum,
yakni harus berupa badan hukum dan pengelolaannya bukan individu-individu.
5. Pembatasan usia kendaraan bermotor yang beroperasi di Jakarta. Pembatasan Usia
Kendaraan Bermotor Umum perlu dilakukan agar ada jaminan secara sistematis
bahwa angkutan umum akan berkembang pelayannnya dan tehknologi armadanya.
Pengalaman di kota-kota di dunia saat ini terus menetapkan dan mengkontrol ketat
layanan angkutan umumnya melalui kebijakan pembatasan usia armadanya.
Pembatasan itu juga membuat pemilik kendaraan bermotor yang tua diharuskan
membayar pajak yang lebih tinggi berlipat ganda dibandingkan kendaraan bermotor
usia lebih muda. Begitu pula perkembangan tehknologi angkutan umum ini akan
memberikan angkutan umum yang terus berkembang fasilitas kenyamanan, kemanan
dan keterjangkauannya. Kondisi berkembangnya angkutan umum secara teratur lewat
pembatasan usia armadanya akan memberikan dorongan pengguna kendaraan pribadi
berpindah ke angkutan umum. Pembatasan usia kendaraan ini sebenarnya sudah ada
yang diterapkan saat ini yakni bagi angkutan umum taksi di Jakarta. Taksi yang
beroperasi di Jakarta saat ini umurnya tidak lebih dari 7 tahun dan kualitas
tehknologinya terus berkembang. Pembatasan usia dan berkembangnya tehknologi
taksi di Jakarta menghasilkan pelayanan yang baik.

Penutup

Daftar Pustaka

http://eprints.undip.ac.id/33827/6/1623_chapter_II.pdf
http://www.ilmusipil.com/penyebab-kemacetan-jalan-raya
http://archive.org/stream/Undang
undangNomor22Tahun2009laluLintasDanAngkutanJalan/UU_Nomor_22_Tahun_20
09-LLAJ_djvu.txt