Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN PRAKTIKUM

MANAJEMEN LIMBAH INDUSTRI PERIKANAN


APLIKASI KITOSAN TERHADAP REDUKSI BEBAN
PENCEMARAN LIMBAH INDUSTRI PERIKANAN

Disusun oleh :
Nashirotus Saadah
13/346000/PN/13136
Golongan A

DEPARTEMEN PERIKANAN
FAKUTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA 2016

I.

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Industri perikanan di Indonesia telah mengalami perkembangan yang
sangat pesat dan tersebar di berbagai daerah di Indonesia seperti Jawa Timur,
Jawa Tengah, Jawa Barat, Jakarta serta beberapa daerah lainnya di luar Jawa.
Dalam proses produksi, industri perikanan menggunakan air dalam jumlah
besar, sehingga banyak limbah cair yang dihasilkan. Limbah perikanan
khususnya limbah cair umumnya langsung dibuang ke lingkungan tanpa ada
penanganan sehingga dapat menyebabkan pencemaran atau gangguan
lingkungan, seperti merangsang pertumbuhan tanaman air, memunculkan
toksisitas terhadap kehidupan air, menurunkan kadar oksigen terlarut pada
lingkungan

perairan,

bahaya

terhadap

kesehatan

masyarakat,

serta

menimbulkan bau yang mengganggu estetika lingkungan (Jennie dan Rahayu,


1993).
Limbah adalah buangan yang kehadirannya pada suatu saat dan
tempat tertentu tidak dikehendaki lingkungannya karena tidak mempunyai
nilai ekonomi. Limbah yang mengandung bahan polutan yang memiliki sifat
racun dan berbahaya dikenal dengan limbah B3, yang dinyatakan sebagai
bahan yang dalam jumlah relatif sedikit tetapi berpotensi untuk merusak
lingkungan hidup dan sumberdaya (Ginting, 2007).
Menurut Bishop (2000), reduksi limbah atau minimalisasi limbah
harus menjadi prioritas utama. Aktivitas yang dapat mereduksi limbah lebih
baik dilakukan bila dibandingkan aktivitas daur ulang limbah dalam
pengelolaan limbah karena dapat mungkin dilakukan dan dapat menghemat
biaya. Sedangkan pemanfaatan limbah melalui daur ulang dan perolehan
kembali menjadi metode alternative yang dapat dilakukan untuk mengelola
sisa limbah setelah metode reduksi pada sumber lain telah dilakukan. Oleh
sebab itu, salah satu cara untuk mereduksi limbah adalah dengan
mengaplikasikan kitosan. Dalam acara praktikum kali ini hal tersebut akan
diterapkan agar mahasiswa memiliki kemampuan untuk mereduksi beban
pencemaran limbah dengan kitosan.

B. Tujuan Penelitian
Mempelajari kemampuan kitosan dalam mereduksi beban pencemaran
limbah cair industri perikanan.
C. Manfaat Penelitian
1. Memberikan pengetahuan

serta

memperluas

wawasan

mengenai

pemanfaatan kitosan dalam bidang penanganan pencemaran limbah cair.


2. Mahasiswa mampu menerapkan kemampuannya dalam mereduksi beban
pencemaran limbah cair dengan kitosan.

II.

TINJAUAN PUSTAKA

A. Kitin-Kitosan
Kitin adalah polisakarida alami seperti selulosa, dekstran, alginat, dan
sebagainya yang dapat terdegradasi secara alami dan non-toksik. Kitin
merupakan polisakarida rantai linier dengan rumus 1,4-2-asetamido-2deoksi-D-glucopyranosa. Kitin ditemukan pada fungi dan arthropoda,
merupakan komponen utama penyusun eksoskeleton (Merck Index, 1976).
Struktur kitin dapat dilihat pada Gambar 1.

Gambar 1. Struktur Kitin (Murray et al., 2003)


Kitin yang terdapat pada kulit atau cangkang ini masih terikat dengan
protein, CaCO, pigmen, dan lemak. Berbagai teknik dilakukan untuk
memisahkannya, tetapi pada umumnya melalui tiga tahapan yaitu
demineralisasi dengan HCl encer, deproteinisasi dengan NaOH encer (setelah
tahap ini diperoleh kitin) dan selanjutnya deasetilasi kitin menggunakan
NaOH pekat (Brine, 1984).
Kitosan merupakan turunan kitin yang tidak beracun dan mudah
terbiodegradasi. Kitosan tidak larut dalam air, dalam larutan basa kuat, dalam
H2SO4, dan dalam beberapa pelarut organik seperti alkohol dan aseton.
Kitosan sedikit larut dalam asam klorida dan asam nitrat serta larut baik
dalam asam lemah seperti asam formiat dan asam asetat (Sugita et al., 2009).
Adapun struktur kitosan dapat dilihat pada Gambar 2.

Gambar 2. Struktur Kitosan (Murray et al., 2003)

Kitosan bersifat polikatonik yang dapat mengikat lemak dan logam


berat pencemar. Kitosan yang mempunyai gugus amina yaitu adanya unsur N
bersifat sangat reaktif dan bersifat basa. (Inoue. 1994 ). Karena kitin dan
kitosan merupakan bahan alam maka keduanya lebih bersifat biokompatibel
dan biodegradabel disbanding dengan polimer sintetik. Kitin dan kitosan serta
senyawa turunannya telah banyak diaplikasikan dalam berbagai industri
(Toharisman, 2007 ).
B. Mekanisme Perubahan Kitin Menjadi Kitosan
Selain kitin, di dalam eksoskeleton crustacea juga terdapat protein,
material anorganik terutama kalsium karbonat, pigmen dan sebagian kecil
lemak. Secara umum pemurnian kitin secara kimiawi terdiri dari empat tahap
yaitu (Fitriasti, 2010) :
1. Deproteinase
Tahap awal dimulai dengan pemisahan protein dengan larutan basa,
yang disebut dengan tahap deproteinasi. Deproteinasi bertujuan untuk
memisahkan protein pada bahan dasar cangkang. Efektifitas prosesnya
tergantung pada konsentrasi NaOH yang digunakan. Reaksi deproteinase
dapat dilihat pada Gambar 3.

Gambar 3. Reaksi Deproteinase (Baxter et al., 2005)


2. Demineralisasi

Tahap kedua yaitu demineralisasi. Tahap demineralisasi bertujuan


untuk memisahkan mineral organik yang terikat pada bahan dasar, yaitu

CaCO3 sebagai mineral utama dan Ca(PO4)2 dalam jumlah minor. Dalam
proses demineralisasi menggunakan larutan asam klorida encer. Proses
penghilangan mineral dapat dilihat pada Gambar 4.
Gambar 4. Reaksi Deproteinase (Baxter et al., 2005)
3. Depigmentasi
Penghilangan zat-zat warna dilakukan pada waktu pencucian residu
setelah proses deproteinasi dan proses demineralisasi. Pada proses ini
hasil dari proses demineralisasi direaksikan lebih lanjut dengan
menggunakan agensia pemutih berupa natrium hipoklorit (NaOCl) atau
peroksida. Proses dekolorisasi bertujuan untuk menghasilkan warna putih
pada kitin.
4. Deasetilasi
Tranformasi kitin menjadi kitosan disebut tahap deasetilasi, yaitu
dengan memberikan perlakuan dengan basa berkonsentrasi tinggi. Reaksi
deasetilasi bertujuan untuk memutuskan gugus asetil yang terikat pada
nitrogen dalam struktur senyawa kitin untuk memperbesar persentase
gugus amina pada kitosan. Proses deasetilasi dengan menggunakan alkali
pada suhu tinggi akan menyebabkan terlepasnya gugus asetil (CH3CHO-)
dari molekul khitin. Gugus amida pada khitin akan berikatan dengan
gugus hidrogen yang bermuatan positif sehingga membentuk gugus
amina bebas NH2. Transformasi kitin dan kitosan dapat dilihat pada

Gambar 5 dan 6.
Gambar 5. Transformasi kitin menjadi kitosan (Baxter et al., 2005)

Gambar 6. Transformasi kitin menjadi kitosan (Baxter et al., 2005)


C. Mekanisme Kitosan Sebagai Pereduksi Limbah Organik
Menurut Harini (2003), molekul chitosan bersifat lebih kompak
dibandingkan dengan polisakarida lainnya apabila berada dalam larutan asam

encer dengan kekuatan ionik rendah. Hal ini mungkin disebabkan oleh
densitas muatan yang tinggi. Di dalam larutan berionik tinggi ikatan hidrogen
dan gaya elektrostatik pada molekul chitosan terganggu, konformasinya

menjadi

bentuk

acak

(random

coil).

Sifat

fleksibel

molekul

ini

menjadikannya dapat membentuk baik konformasi kompak maupun


memanjang (polisakarida lain umumnya berbentuk memanjang). Adanya
gugus fungsi hidroksil primer dan sekunder mengakibatkan chitosan
mempunyai kereaktifan kimia yang tinggi.
Gambar 7. Reaksi kitosan dengan asam asetat glasial (Harini, 2003)

Gambar 8. Pengikatan Protein dengan Larutan Kitosan (Harini, 2003).


Menurut Rahmi (2007), mekanisme penjernihan limbah cair
pengolahan ikan melewati tiga tahap, yaitu :
a. Koagulasi atau destabilisasi partikel Tahap ini tejadi ketika kitosan
sebagai koagulan menurunkan gaya tolak menolak dan meningkakan gaya
tarik menarik antar partikel sehingga terjadi ikatan antar oartikel
membentuk senyawa kompleks.
b. Flokulasi Pada tahap flokulasi akan terbentuk flok-flok partikel dengan
masa dan ukuran yang lebih besar.
c. Agregasi atau sedimentasi Agregasi merupakan tahap akhir dari proses
yaitu terjadinya pengendapan semua partikel secara berkelompok di dasar
perairan.
D. Mekanisme Kitosan Sebagai Pereduksi Limbah Anorganik
Kitosan mampu menangani limbah cair anorganik seperti Pb, Hg,
Cr, Cd, Cu dan Zn yang tdak dapat terdekomposisi oleh alam. Limbah cair
anorganik banyak dihasilkan oleh industri non pangan seperti industri tekstil.
Gugus amina (NH2) pada kitosan menjadi penentu kemampuan kitosan dalam
menangani limbah anorganik (Marganof, 2003). Menurut Sormin et al.(2001),
kitosan dapat melarutkan limbah cair berupa HgSO 4 dan dengan derajat
deasetilisasi tinggi memberikan sisa Hg rendah dalam limbah.
Penanganan limbah cair, kitosan sebagai chelating agent yang dapat
menyerap logam beracun seperti mercuri, timah, tembaga, pluranium dan
uranium dalam perairan dan untuk mengikat zat warna tekstil dalam air
limbah. Kitosan juga mengandung gugus polar dan nonpolar sehingga

reaktivitasnya tinggi, yang menyebabkan dapat mengikat air dan minyak.


Melihat kitosan mernpunyai gugus amin NH yang reaktif dan gugus hidroksil
yang banyak serta kemampuannya membentuk gel maka kitosan dapat
berperan sebagai komponen reaktif; pengkelat, pengikat, pengabsorbsi,
penstabil, pembentuk film, penjernih, flokulan, koagulan (Shahidi et
al.,1999).

E. Pemanfaatan Dan Perkembangan Kitosan


Kegunaan turunan kitosan dalam bentuk N-alkil kitosan antara lain,
perbaikan jaringan biologis (acaffolds), sensor, bahan bakar sel (membran),
model studi interaksi membran biologis, pelapisan untuk anti bakteri,
penyusun DNA, produk kosmetik, bahan pembawa obat, dan pelapisan
membran. Palmitil kitosan kira-kira 10 % telah digunakan untuk kapsul
sebagai pelepas obat secara terkontrol (Aranaz et al.,2010).
Kitin dan kitosan dapat digunakan di berbagai macam aplikasi industri
diantaranya:
Bidang Aplikasi Industri
Kesehatan/farmasi

Kosmetik

Teknologi

Industri makanan
Petanian
Sumber: Aranaz et al.,2010

Kegunaan
Pembersih luka, pembawa obat
(kapsul), pengantar gen, perbaikan
jaringan, digunakan pada tulang dan
gigi, dan radioterafi.
Menjaga kelembapan kulit,
melindungi kulit ari, pengobatan
jerawat, reduksi elektrik statis rambut,
dan pewarnaan kulit.
Biokatalis, pengolahan air, pencetakan
molekul, reduski logam, stabilasi nano
partikel, photografi, tekstil,
nanomaterial, biosensor, dan katalis
heterogen.
Dietari fiber, pengawet makanan (anti
oksidan, anti mikroba), dan
pengemulsi.
Elisitor gen, antibakteri, pelapis biji,
dan menjaga bunga yang telah
dipotong tetap segar.

III.

HIPOTESIS

Hipotesis yang dapat diambil dari praktikum ini adalah konsentrasi kitosan
yang terbaik dalam mereduksi limbah cair industri perikanan adalah 2%, semakin
tinggi konsentrasi kitosan maka semakin baik dalam mereduksi limbah cair.

IV.

METODOLOGI PENELITIAN

A. Alat
Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah blender, ph
meter, hot plate stirrer, erlenmeyer 250 mL, gelas beker, pipet ukur atau
buret, pipet tetes, botol oksigen, kertas saring, corong, timbangan analitik,
stopwatch atau jam, oven dan toples kaca volume 2 L.
B. Bahan
Bahan yang digunakan dalam praktikum ini terdiri dari sampel
limbah cair organik, kitosan, larutan asam asetat glasial, reagen untuk
analisis DO, BOD, TSS, TDS, kekeruhan dan pH.
C. Tata Laksana Praktikum
Tahap 1: Pembuatan larutan kitosan
250 mL akuades + 2 mL asam asetat glasial
Distirer sampai homogen

+ serbuk kitosan komersial (0,5% = 1,25 g; 1% =


2,5 g; 1,5% = 3,75 g; 2% = 5 g). Distirer sampai
homogen

Tahap 2: Aplikasi kitosan pada limbah cair organik perikanan


Limbah 500 ml
TSS, pH, kekeruhan
Tambah larutan kitosan 250 ml (0,5% : 1% : 1,5% :
2%)

250 ml limbah
250 ml air

Ukur pH

Masukkan dalam 500 ml limbahcair


9 menit (cepat)
Diaduk 10 menit didalam Erlenmeyer 1000 ml
Endapkan 60 menit
Ukur pH, TTS, dan kekeruhan limbah

1 menit (lambat)

V.

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil
Tabel Hasil Praktikum Aplikasi Kitosan Terhadap Reduksi Beban
Pencemaran Limbah Organik dan Anorganik
PARAMETER KELOMPO
KELOMPO KELOMPOK KELOMPOK
KI
K II
III
IV
(KITOSAN
(KITOSAN
(KITOSAN
(KITOSAN
0,5%)
1%)
1,5%)
2%)
1
2
1
2
1
2
1
2
PH Larutan
Kitosan
PH Limbah

3,8

3,9

4,1

TSS (mg/liter)

0,73

0,71

0,69

0,68

0,7

0,69

0,79

Kekeruhan

++++

+++

++++

+++

++

++++

++++

Keterangan:
Keterangan:
+ : Bening
1 = Sebelum Penambahan Kitosan
++ : Agak Bening
2 = Setelah Penambahan Kitosan
+++ : Keruh
++++ : Sangat Keruh
+++++ : Sangat Keruh Sekali
B. Pembahasan
1. Limbah Organik
a. Cara Kerja dan Fungsi Perlakuan
Praktikum manajemen limbah industri perikanan acara aplikasi
kitosan terhadap reduksi beban pencemaran limbah cair organik dan
anorganik menggunakan limbah organik berasal dari Mina Tayu yang
sudah mengalami perlakuan bioremediasi. Cara kerja yang pertama
yaitu pembuatan larutan kitosan dengan menghomogenkan 250 ml
aquades dan 2ml asam asetat dengan cara distirer didalam erlenmeyer.
Setelah larutan tersebut homogen, ditambahkan serbuk kitosan
komersial sesuai dengan perlakuan yaitu 0,5; 1,0; 1,5 dan 2% dengan
cara distrirer sampai homogen dan diukur pH tersebut. Penambahan
kitosan ke dalam limbah cair dimaksudkan untuk menjernihkan air
limbah dan mengurangi muatan negatif pada partikel-partikel protein
hingga mencapai suatu titik dimana partikel tersebut tidak saling tolak
menolak. Menurut Hammer (1986), faktor penentu keberhasilan proses

5
0,77
+++

ini adalah pengadukan secara cepat dan kontinu supaya dosis koagulan
yang diberikan akan efektif dalam berikatan. Penambahan asam asetat
glasial tersebut berfungsi melarutkan kitosan dalam limbah cair karena
kitosan tidak larut dalam air sehingga membutuhkan asam untuk
melarutkanya. Kemudian siapkan limbah sebanyak 500 mL dengan
komposisi limbah sebanyak 250 mL dan air 250 mL. Hitung TSS, pH
dan kekeruhan lalu tambahkan larutan kitosan 250 mLdan diukur pHnya. Masukkan ke dalam 500 mL limbah cair, semua campuran larutan
tersebut diaduk dengan konstan selama 10 menit, namun 9 menit cepat,
1 menit lambat supaya mempercepat proses koagulasi dan flokulasi
supaya partikel-partikel koloid dapat menggumpal, gaya tolak menolak
elektrostatis antara partikelnya harus dikurangi dan trasportasi partikel
harus menghasilkan kontak diantara partikel yang mengalami
destabilisasi. Setelah partikel koloid mengalami destabilisasi maka
partikel-partikel terbawa kedalam satu kotak antara satu dengan yang
lainnya sehingga dapat mengalami penggumpalan dan membentuk
partikel yang lebih besar yang disebut dengan flok. Proses kontak ini
disebut dengan flokulasi dan biasanya dilakukan dengan pengadukan
lambat (slow mix) secara hati-hati. Flokulasi merupakan faktor paling
penting

yang

mempengaruhi

efisiensi

penghilangan

partikel.

Kemudian, campuran limbah dengan kitosan dan asam asetat


diendapkan selama 60 menit untuk mengendapkan flok-flok partikel
yang terbentuk saat flokulasi. Air limbah yang telah diendapkan
kemudian dianalisis kadar DO, BOD, TSS, TDS, pH dan kekeruhan.
Data kemudian dicatat dalam suatu tabel dan semua data dibandingan
antara data seluruh kelompok (Yuliusman, 2007)

b. Karakteristik dan bahaya limbah organik.


Limbah organik merupakan limbah yang mudah terurai yang
mengandung unsur karbon (C), kandungan unsur C ini yang dapat
mempercepat proses penguraian oleh mikroorganisme (Luthfianto,
2012). Limbah cair indutri perikanan mengandung bahan organik yang
dapat mengkontamninasi organisme dan lingkungan dalam bentuk
larutan, koloid mapun partikel lainnya. Kandungan bahan-bahan
organik dalam limbah cair dapat memberikan efek negatif terhadap
lingkungan melalui berbagai cara. Bahan organik yang terlarut selain
menghabiskan oksigen dalam air juga dapat menimbulkan rasa dan bau
yang tidak sedap pada penyediaan air bersih (Darsono, 1994).
c. Mekanisme

kitosan

dalam

pelarut

asam

asetat

dapat

mereduksi limbah organik.


Kitosan tidak dapat larut dalam air alkali ataupun asam kuat,
namun kitosan dapat larut dalam pelarut organik seperti asam asetat.
Larutan asam asetat akan memberikan proton (H +) dalam air limbah.
Proton akan saling berikatan secara koordinasi dengan amina
membentuk molekul amina (NH3) yang bersifat ionik sehingga kitosan
bersifat reaktif terhadap senyawa bemuatan negatif. Keruhnya air
limbah disebabkan oleh partikel protein yang tersuspensi dan tidak
dapat mengendap sebab partikel tersebut terlalu kecil ukurannya untuk
mengendap dalam suatu periode tertentu, gugus amino kitosan (NH 3+)
akan berikatan dengan sisi negatif protein (-COO-). Terikatnya
senyawa protein oleh kitosan akan membentuk kompleks senyawa
gabungan kitosan dan protein selanjutnya kan saling berkelompok
membentuk flok dan akhirnya akan mengendap. Mengendapnya
partikel protein akan menyebabkan air limbah menjadi lebih jernih
(Rahmi, 2007).

d. Pembahasan Setiap Parameter


Parameter yang dianalisa pada praktikum ini yaitu TSS,
kekeruhan, pH limbah dan pH larutan. Hal ini dilakukan untuk
mengetahui sejauh mana kemampuan kitosan dalam mereduksi limbah
cair organik. TSS sesudah diberi perlakuan penambahan kitosan 0,5 %
mengalami penurunan dari 0,73 menjadi 0,71 mg/L. Menurut Harahap
(2011), penurunan kadar TSS pada air limbah terjadi karena
pemberian kitosan ke dalam air sampel ammpu menyerap
(mengabsorbsi) bahan-bahan organik pada air limbah. Kitosan mampu
membentuk suatu ikatan aniaon-anion pada air limbah sehingga akan
membentuk suatu endapan yang dapat meningkatkan kecerahan dan
akan mempengaruhi kandungan TSS, mengurangi BOD5, COD serta
menetralkan pH.
Intensitas kekeruhan pada limbah cair dengan perlakuan
kitosan 0,5 % yaitu keruh (+++) dengan sebelum dilakukan
penambahan sangat keruh sekali (++++). Penurunan tingkat
kekeruhan limbah cair organik seiring dengan menurunnya nilai TSS
pada limbah cair organik tersebut. Bila dibandingkan dengan
standar/baku mutu kekeruhan limbah cari organik, hasil pengamatan
yang diperoleh dengan perlakuan penambahan asam asetat glasial 1%,
2%, dan 3% belum efektif meningkatkan kecerahan limbah cair
organik karena seharusnya warna limba cair organik adalah menjadi
bening (Suptijah et al., 1992).
Limbah sebelum diberi perlakuan memiliki pH 7 dan sesudah
diberi perlakuan kitosan 0,5 % mengalami penurunan pH menjadi 3.
Menurut aturan PERMEN LH No. 06 tahun 2007, baku mutu pH
limbah adalah 6-9. Berdasarkan baku mutu, limbah sebelum dan
sesudah diberi perlakuan kitosan 0,5 % tidak melewati ambang batas
baku mutu limbah yang telah ditetapkan. Dengan kata lain, dapat
dikatakan bahwa limbah dengan perlakuan maupun tanpa perlakuan
tidak melebihi ambang batas baku mutu TSS maupun pH.

e. Perlakuan terbaik
Perlakuan terbaik adalah pemberian kitosan 2% yang
memberikan hasil jernih pada limbah yang direduksi dibandingkan
perlakuan lain. Pemberian kitosan 2% memberikan penurunan TSS
menjadi 0,77 ppm, menglami penurunan yang sebelumnya TSS 0,79
ppm. Menurut Harahap (2011), jumlah kitosan yang ditambahkan pada
air sampel mempengaruhi peluang kontak antar kitosan dengan bahanbahan organik atau anorganik pada limbah.
2. Limbah Anorganik
a. Mekanisme kitosan dapat mereduksi limbah anorganik.
Kitosan mampu menangani limbah cair anorganik seperti Pb,
Hg, Cr, Cd, Cu dan Zn yang tdak dapat terdekomposisi oleh alam.
Limbah cair anorganik banyak dihasilkan oleh industri non pangan
seperti industri tekstil. Gugus amina (NH2) pada kitosan menjadi
penentu kemampuan kitosan dalam menangani limbah anorganik.
Kitosan dapat melarutkan limbah cair berupa HgSO4 dan dengan
derajat deasetilisasi tinggi memberikan sisa Hg rendah dalam limbah
(Sormin et al.,2001)

VI.

KESIMPULAN DAN SARAN

1. Kesimpulan
Perlakuan terbaik yaitu dengan penambahan kitosan 2% dalam
mereduksi beban pencemaran limbah cair industri perikanan dengan TSS
0,79 mg/L dan limbah menjadi bening dibandingkan dengan perlakuan 1,0
dan 1,5 % yang menghasilkan limbah agak bening dan masih keruh pada
perlakuan 0,5%.
2. Saran
Pelaksanaan praktikum perlu penambahan alat yang digunakan
dalam praktikum misalnya pipet ukur dan kempot. Urutan langkah kerja
juga sangat rancu karena satu waktu dengan acara satu. Tujuannya untuk
mengefisiensikan waktu.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim.1976. The Merck Index. Merck and CO.Inc. New Jersey.
Aranaz, I.,dkk. 2010. Functional Characterization of Chitin and Chitosan, Current
Chemical Biology. Vol. 3 No. 2, p: 203-30
Baxter, S., Zivanovic, S. dan Weiss, J. 2005. Molecular Weight and Degree of
Acetylation

of

High

Intensity

Ultrasonicated

Chitosan.

Food

Hydrocolloids.19, 821-830.
Bishop, R.J dan Smallman, R.E. 2000. Metalurgi Fisik Modern dan Rekayasa
Material. Erlangga. Jakarta.
Brine, C. J. 1984. Chitin : Accomplishment and Perspectives in Chitin, Chitosann
and Related.
Darsono, V. 1994. Pengantar Ilmu Lingkungan. Universitas Atamajaya,
Yogyakarta.
Fitriasti, D. 2010. Studi Kinetika Penyerapan Ion Khromium dan ion Tembaga
Menggunakan Kitosan Produk dari Cangkang Kepiting. Jurusan Teknik
Kimia Fakultas Teknik Universitas Diponegoro. Semarang.
Ginting, I. P. 2007. Sistem Pengelolaan Lingkungan Dan Limbah Industri,
Cetakan pertama. Yrama Widya. Bandung.
Hammer, M.J. 1986. Water and Waste Technoloy. John Wiley & Sons, New York.
Harahap, S. 2011. Penggunaan kitosan dari kulit udang dalam menurunkan kadar
total suspended solid (TSS) pada limbah cair industri plywood. Jurnal
Akuatika 2 : 116-125.
Harini, N .2003. Proses Pembuatan Chitin-Chitosan (Kajian Berdasarkan BagianBagian Tubuh Kulit Udang (Penaeus vannamei) dan Perlakuan fisik.
Laporan Grand Research Program Studi Teknologi Hasil Pertanian
Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Malang, Malang.
Inoue, K., dkk. 1994. Adsorbtion of Metal Ion on Chitosan and Chemically
Modified

Chitosan

and

Their

Aplication

to

Hidrometalurgy.

Bioteknology and Bioactive Polymer Gebelin, C. Carraher. Plennum


Publishing. New York.

Jenie, B. S. L dan Rahayu, W. P. 1993. Penanganan Limbah Industri Pangan.


Kanisius. Yogyakarta.
Luthfianto, D., Mahajoeno, E., dan Sunarto. 2012. Pengaruh macam limbah
organik dan pengenceran terhadap produksi biogas dari bahan biomassa
limbah peternakan ayam. Bioteknologi 9 (1): 18-25.
Marganof. 2003. Potensi Limbah Udang sebagai Penyerap Logam Berat (Timbal,
Kadmium dan Tembaga) di Perairan. Makalah Pribadi Pengantar ke
Falsafah Sains (PP702) Program Pasca Sarjana Institut Teknologi
Bandung. Bandung.
Murray, R.K., dkk. 2003. Biokimia Harper, Edisi 25. Kedokteran. EGC. Jakarta.
Rahmi. 2007. Penggunaan kitosan sebagai agen penjernih limbah cair industri
penyemakan kulit dan fillet ikan. Universitas Gadjah Mada. Skripsi.
Shahidi, F., Janak, K.V.A., Yon, J.J. 1999. Food Aplicntions of chitin - chitosan.
Dept of Biochemistry Univ of Newfoundland. Canada.
Sormin, R.B.D., dkk. 2001. Rendemen, sifat fisikokimia dan aplikasi dari limbah
beberapa jenis udang. Jurnal Perikanan UGM 1 : 09-16.
Sugita, P. 2009. Kitosan : Sumber Biomaterial Masa Depan. IPB Press. Bogor
Suptijah, P., dkk. 1992. Pengaruh Berbagai Metode Isolasi Khitin Kulit Udang
terhadap Kadar dan Mutunya.Laporan Akhir Penelitian. Fakultas
Perikanan. IPB. Bogor.
Toharisman, A. 2007. Peluang Pemanfaatan Enzim Kitinase Di Industri Gula.
Pusat Pengembangan Penelitian Geologi Kelautan (P3GL).
Yuliusman. 2007. Pemanfaatan Kitosan dari Limbah Cangkang Rajungan sebagai
Adsorben pada Adsorpsi Logam Nikel dari Limbah Katalis Proses
Pengolahan Minyak Bumi.DIKTI-Hibah Bersaing. Abstr.

LAMPIRAN

Hasil analisis limbah dengan kitosan semua perlakuan.