Anda di halaman 1dari 28

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi
Jahe merupakan tanaman obat berupa tumbuhan rumpun berbatang semu.
Jahe berasal dari Asia Pasifik yang tersebar dari India sampai Cina. Oleh
karena itu kedua bangsa ini disebut-sebut sebagai bangsa yang pertama kali
memanfaatkan jahe terutama sebagai bahan minuman, bumbu masak dan obatobatan tradisional. Jahe termasuk dalam suku temu-temuan (Zingiberaceae),
se-famili dengan temu-temuan lainnya seperti temu lawak (Cucuma
xanthorrizha), temu hitam (Curcuma aeruginosa), kunyit (Curcuma
domestica), kencur (Kaempferia galanga), lengkuas (Languas galanga) dan
lain-lain.
Jahe (Zingiber officinale) merupakan akar-akaran segar atau kering dari
Zingiber officinale. Ahli botani Inggris William Roscoe (1753-1831)
mempopularkan nama Zingiber Officinale pada tahun 1807. Keluarga jahe
merupakan kelompok tanaman tropis, terutama yang berasal dari Indonesia
dan Malaysia. Terdiri atas lebih dari 1200 spesies tanaman dalam 53 genera.
Genus Zingiber terdiri dari 85 spesies tanaman obat aromatik yang berasal
dari Asia Timur dan Australia tropis. Nama genus tersebut diturunkan dari kata
Sanskrit yang menunjukkan bentuk tanduk, yang menerangkan tonjolan
keluar pada bagian rimpang. Tanaman jahe tumbuh tegak selama bertahuntahun dengan ketinggian 1-3 kaki. Cabangnya dikelilingi pelepah sebagai
tempat tinggal daun-daunan bertingkat dua. Kayunya menyerupai paku
kekuningan dengan bunga-bunga bertepi ungu yang menjadi penguat di
bagian bawahnya yang berwarna kuning kehijauan, namun, jahe jarang
berbunga dalam pembudidayaan (Foster 2000 dalam Aminah 2004).
Jahe merupakan tanaman jenis rimpang yang sejak dulu digunakan
manusia sebagai bahan rempah dan obat-obatan. Cabang dari rimpang jahe,
biasanya berbentuk jari manusia dan memiliki bau harum, karena memiliki
kandungan minyak atsiri. Kandungan ilmiah lain yang dimiliki jahe adalah
gingerol, minyak terbang, dan limonene. Tanaman ini juga mengandung zat
aktif shogaol dan gingerol yang berfungsi untuk membangkitkan energi.
Bahkan, para ahli menyebutnya sebagai jenis tanaman antioksidan terkuat

sedunia (Anonim). Rasa dominan pedas pada jahe disebabkan senyawa keton
bernama zingeron. Aroma jahe disebabkan oleh minyak atsiri sedangkan
kandungan oleoresinnya menyebabkan rasa pedas (Koswara 1995).
Indonesia merupakan salah satu negara penghasil jahe karena mempunyai
iklim yang sesuai untuk pertumbuhan jahe. Sehingga tanaman jahe mudah
tumbuh dan telah dibudidayakan di Indonesia. Nama daerah jahe antara lain
halia (Aceh), beeuing (Gayo), bahing (BatakKaro), sipodeh (Minangkabau),
jahi (Lampung), jahe (Sunda), jae (Jawa danBali), jhai (Madura), melito
(Gorontalo), geraka (Ternate), dsb.
2.2 Klasifikasi jahe
Klasifikasi tanaman jahe adalah sebagai berikut:
Dunia
: Spermatophyt
Kelas
: Angiospermae
Subkelas : Monocotyledoneae
Ordo
: Musales
Famili
: Zingiberaceae
Genus
: Zingiber
Species : Zingiber officinale
Berdasarkan pada bentuk, warna dan aroma rimpang serta komposisi
kimianya, di Indonesia dikenal 3 tipe jahe yaitu :
1)
Jahe putih besar (Z. officinalevar. officinarum) mempunyai rimpang
besar berbuku, berwarna putih kekuningan dengan diameter 8,478,50
cm, aroma kurang tajam, tinggi dan panjang rimpang 6,2011,30 dan
15,8332,75 cm, warna daun hijau muda, batang hijau muda dengan
2)

kadar minyak atsiri didalam rimpang 0,822,8%.


Jahe putih kecil (Z. officinalevar. amarum) mempunyai rimpang kecil
berlapis lapis, aroma tajam, berwarna putih kekuningan dengan
diameter 3,274,05 cm, tinggi dan panjang rimpang 6,3811,10 dan
6,1331,70 cm, warna daun hijau muda, batang hijau muda dengan

3)

kadar minyak atsiri 1,503,50%.


Jahe merah (Z. officanalevar. rubrum) mempunyai rimpang kecil
berlapis, aroma sangat tajam, berwarna jingga mudasampai merah
dengan diameter 4, 204,26 cm, tinggi dan panjang rimpang 5,2610,40
dan 12,33 12,60 cm, warna daun hijau muda, batang hijau kemerahan
dengan kadar minyak atsiri 2,583,90%.

Jahe merah

Jahe putih besar

Tanaman jahe

2.3 Kandungan Gizi Jahe


Komponen yang terkandung dalam jahe antara lain adalah air 80.9%,
protein 2.3%, lemak 0.9%, mineral 1-2%, serat 2-4%, dan karbohidrat 12.3%.
Kandungan kimia tersebut berbeda-beda tergantung dari faktor genetik dan
faktor lingkungan tumbuh yang meliputi iklim, ketinggian, cuaca, jenis tanah,
pemupukan, dan pengolahan pasca panen. Menurut Young, et al (2003) dalam
Amalia (2004), rimpang jahe mengandung dua bagian utama yaitu minyak
volatil yang membawa aroma dan gingerol sebagai pembawa rasa pedas. Jahe
mengandung 1-2% minyak volatil, 5-8% bahan damar, zat tepung, dan getah.
Friedli (2002) dalam Aminah (2004) menjelaskan kandungan jahe meliputi
minyak volatil, oleoresin (gingerol, shogaol, zingeron), fenol, enzim
proteolitik, vitamin B6, vitamin C, kalsium, magnesium, fosfor, natrium, dan
asam linolenik. Menurut Ketaren dan Djatmiko (1980) dalam Khairani (2002),
jahe kering mengandung oleoresin yang terdiri dari gingerol, zingiberol,
shogaol, dan zingeberen sekitar 0,5-5,3%. Sedangkan menurut Burkill (1953)
dalam Khairani (2002), kandungan oleoresin dalam jahe segar 0,4-3,1%,
tergantung umur panen dan tumbuhnya. Semakin tua umur umbi akar jahe
semakin besar kandungan oleoresinnya. Terdapat persenyawaan kimia
gingerol 1,1-2,2% yang memberikan rasa pedas dan zingiberol sekitar 0,04%
di dalam oleoresin (Whiteley et al. 1951 dalam kumalasari 2008)
2.4 Manfaat jahe dalam kesehatan
Menurut wijaya kusuma 2006, sejak dahulu jahe dipercaya secara turun
temurun mempunyai beberapa khasiat, seperti mengatasi mual, mabuk
diperjalanan, gangguan usus dan pencernaan keracunan makanan serta radang
sendi. Untuk mengatasi radang sendi jahe dipercaya bisa menggantikan aspirin
dan obat sejenis lainnya. Jahe juga dapat digunakan pada industri obat,
minyak wangi, industri jamu tradisional. Manfaat secara farkmakologi sebagai
3

anti muntah, pereda kejang, anti pengerasan pembulih darah, peluruh keringat,
anti inflamasi, anti mikroba dan parasit, anti piretik, anti rematik, serta
merangsang pengeluaran getah lambung dan getah empedu. Berdasarkan
sejumlah penelitian, jahe memiliki manfaat antara lain untuk merangsang
pelepasan hormon adrenalin dan memperlebar pembuluh darah sehingga darah
mengalir lebih cepat dan lancar. Hal tersebut mengakibatkan tekanan darah
menjadi turun. Jahe mengandung dua enzim pencernaan yang penting.
Pertama, protease yang berfungsi memecah protein. Kedua, lipase yang
berfungsi memecah lemak. Kedua enzim ini membantu tubuh mencerna dan
menyerap makanan. Jahe sekurangnya mengandung 19 komponen bioaktif
yang berguna bagi tubuh. Komponen yang paling utama adalah gingerol yang
bersifat antikoagulan, yaitu mencegah penggumpalan darah. Gingerol
diperkirakan juga membantu menurunkan kadar kolesterol. Jahe dapat
menghambat serotonin sebagai senyawa kimia pembawa pesan yang
menyebabkan perut berkontraksi dan menimbulkan rasa mual (Sahelian 2007
dalam Amalia 2004). Menurut Schuler (1990) dalam Aminah (2004), jahe
mempunyai beberapa manfaat yaitu sebagai antioksidan dan antikanker. Jahe
adalah salah satu bahan pangan yang mengandung senyawa fenol yang
berperan sebagai antioksidan.
Jahe juga termasuk jenis bahan pangan yang berpotensi dalam pencegah
kanker karena terbukti memiliki aktivitas antioksidan dan antikanker
(antikarsinogenik) yang tinggi. Menurut Megawati (2007), Dr.Francesca
Borelli dan kawan-kawan dari University of Naples Frederico mengulas
beberapa literatur medis untuk mempelajari jahe, mereka menemukan enam
penelitian yang menguji jahe pada wanita hamil. Dikemukakan, jahe berfungsi
lebih baik dibandingkan plasebo atau vitamin B6 dan dianggap aman untuk
wanita hamil. Jahe, dalam beberapa penelitian, dapat mengatasi mual, muntah,
bahkan hiperemesis gravidarum. Mengonsumsi jahe dapat merangsang
pengeluaran air liur dan memperlancar cairan pencernaan.
2.5 Efek merugikan Jahe
Menurut Leach & Kumar (2008) dalam Bachtiar, 2010 menyatakan dalam
evidence synthesis, ada dua penelitian yang melaporkan efek merugikan

ekstrak jahe seperti rasa panas pada lambung (6,9%), perubahan rasa (7,5%),
dyspepsia, nausea dan konjungtivitis masing-masing (1,5%).
2.6 Teknologi Pengolahan
Jahe Dalam proses pengolahan jahe, pengolahan bahan mentah
menjadi bahan setengah jadi termasuk kandungan senyawa yang berperan
dalam performansinya, harus tetap diperhatikan karena berkaitan dengan
hasil akhir olahan. Setelah panen, rimpang harus segera dicuci dan
dibersihkan dari tanah yang melekat. Pencucian disarankan menggunakan
air yang bertekanan, atau dapat juga dengan merendam jahe dalam air,
kemudian disikat secara hati-hati. Setelah pencucian jahe ditiriskan dan
diangin-anginkan dalam ruangan yang berventilasi udara yang baik,
sehingga air yang melekat akan teruapkan. Kemudian jahe dapat diolah
menjadi berbagai produk atau langsung dikemas dalam karung plastik
yang berongga dan siap untuk diekspor. Dari jahe dapat dibuat berbagai
produk yang sangat bermanfaat dalam menunjang industri obat tradisional,
farmasi, kosmetik dan makanan/minuman. Ragam bentuk hasil olahannya,
antara lain berupa simplisia, oleoresin, minyak atsiri dan serbuk. Berikut
ini beberapa pengolahan jahe terpadu.
1. Simplisia
Dalam Modifikasi Peraturan Perundangundangan Obat Tradisional,
simplisia adalah bahan alamiah yang dipergunakan sebagai obat yang
belum mengalami pengolahan apapun juga, kecuali dinyatakan lain,
berupa bahan yang telah dikeringkan (Ditjen. POM, 1982).
Pengeringan merupakan proses pengurangan kadar air sampai batas
yang terbaik sekitar 8 10 %; karena pada tingkat kadar air tersebut,
kemungkinan bahan cukup aman terhadap pencemaran, baik yang
disebabkan oleh jamur ataupun insektisida. Ada berbagai cara
pengeringan, yaitu dengan penjemuran langsung, dianginkan ataupun
dengan udara panas yang mengalir. Proses pembuatan simplisia pada
prinsipnya meliputi tahap-tahap pencucian, pengecilan ukuran dan
pengeringan. Pada tahap awal, rimpang dicuci (kadar air diperkirakan
sekitar 85 90%), diiris-iris dengan ketebalan 7 8 mm. Setelah
dijemur atau kering ketebalan akan menjadi 5 6 mm dengan

kehilangan berat sekitar 60 70% (kadar air sekitar 7 12%). Pada


waktu penjemuran, dijaga agar bahan jangan sampai menumpuk.
Sedangkan untuk alas penjemuran digunakan anyaman bambu, lantai
penjemur atau tikar. Tetapi penjemuran langsung dengan matahari
seringkali menyebabkan bahan mudah tercemar dan keadaan cuaca
yang tidak menentu akan menyebabkan pembusukan. Untuk
mendapatkan simplisia dengan tekstur yang menarik, sebelum diiris,
jahe dapat direbus atau digodok beberapa menit sampai terjadi proses
gelatinisasi. Kemudian baru diiris dan dijemur. Ada beberapa cara
pengeringan jahe dalam pembuatan simplisia di antaranya:
1. Menggunakan cahaya matahari langsung
Cara ini sederhana dan hanya memerlukan lantai jemur, yang
umum digunakan adalah lantai penjemuran dari semen dan rak
penjemuran dari kayu. Rimpang jahe yang akan dijemur di
sebar secara merata dan pada saat tertentu dibalik agar panas
merata dan rimpang tidak retak. Cara penjemuran semacam ini
selain murah juga praktis, namun juga ada kelemahan yaitu
suhu dan kelembaban tidak dapat terkontrol, memerlukan area
penjemuran yang luas, saat pengeringan tergantung cuaca,
mudah terkontaminasi dan waktu pengeringan yang lama.
2. Alat pengering energi surya (secara tidak langsung).
Alat ini menggunakan energi sinar matahari sebagai sumber
panas dengan tambahan energi lain seperti listrik atau bahan
bakar.

Cara

ini

memanfaatkan

sirkulasi

udara

untuk

memindahkan panas. Besarnya energi panas dengan yang


berpindah menentukan efektifitas dari alat ini. Sedangkan
besarnya energi panas yang diserap tergantung pada keadaan
dan struktur permukaan alat. Disamping cara pengeringan
kedua tersebut diatas ada juga cara pengeringan menggunakan
oven. Berikut salah satu contoh alat pengering energi surya.
No
1
2
3
4

Karakteristik
Kadar air, maksimum
Kadar minyak atsiri, maksimum
Kadar abu, maksimum
Berjamur/berserangga

Nilai
12 %
1,5%
8,0%
Tidak ada
6

Benda asing, maksimum


2,05%
Tabel 1. Standar mutu simplisia Jahe

2. Minyak Atsiri
Minyak atsiri adalah minyak yang mudah menguap yang terdiri atas
campuran zat yang mudah menguap dengan komposisi dan titik didih
yang berbeda. Sebagian besar minyak atsiri diperoleh dengan cara
penyulingan atau hidrodestilasi. Dewasa ini, minyak atsiri banyak
digunakan dalam berbagai industri, seperti industri parfum, kosmetik,
essence, farmasi dan flavoring agent. Biasanya, minyak atsiri yang
berasal dari rempah digunakan sebagai flavoring agent makanan.
Bahkan dewasa ini sedang dikembangkan penyembuhan penyakit
dengan aromatheraphy, yaitu dengan menggunakan minyak atsiri yang
berasal dari tanaman. Minyak atsiri yang disuling dari jahe berwarna
bening sampai kuning tua bila bahan yang digunakan cukup kering.
Lama penyulingan dapat berlangsung sekitar 10 15 jam, agar minyak
dapat tersuling semua. Kadar minyak dari jahe sekitar 1,5 3 %.
Standar mutu minyak jahe, masih mengacu pada ketentuan EOA
(Essential Oil Association)
No
1
2
3
4
5

SPESIFIKASI
Warna
Bobot jenis
Indeks bias
Putaran optik
Bilangan penyabunan, maksimum

PERSYARATAN
Kuning muda - kuning
25/25C 0,877 0,882
(nD 25) 1,486 1,492
(-28)-(-45)
20

3. Oleoresin
Oleoresin merupakan campuran resin dan minyak atsiri yang
diperoleh dari ekstraksi dengan menggunakan pelarut organic. Jahe
mengandung resin yang cukup tinggi sehingga bisa dibuat sebagai
oleoresin. Keuntungan dari oleoresin adalah lebih higienis, dan
mempunyai kekuatan lebih bila dibandingkan dengan bahan asalnya.
Penggunaan oleoresin dalam industri lebih disukai, karena aromanya
lebih tajam dan dapat menghemat biaya pengolahan.

4. Bubuk Jahe
Bubuk jahe merupakan komponen utama dalam resep bumbu kari.
Disamping itu digunakan juga dalam perusahaan bir, brandi, dan
anggur jahe. Dalam pembuatan bubuk jahe, bahan yang digunakan
adalah jahe kering sempurna (kadar air sekitar 8-10 %). Bahan tersebut
kemudian digiling halus dengan ukuran, sekitar 50-60 mesh dan
dikemas dalam wadah yang kering.
5. Jahe Segar
Jahe segar merupakan jahe yang baru dipanen dan belum mengalami
perubahan struktur maupun bentuknya. Setelah jahe dipanen dan
dicuci

dengan

air

penyemprot

yang

bertekanan,

kemudian

dihamparkan dan dikering anginkan pada hamparan dengan sirkulasi


udara. Bila ditinjau dari segi umur dapat dikelompokkan atas dua
macam jahe segar yaitu jahe segar tua dan jahe segar muda. Jahe segar
yang baru dipanen dengan garpu atau cangkul dan tidak merusak
rimpang kemudian diangkut dengan peti kayu atau keranjang bambu
ketempat pencucian sambil dijaga kelembabannya. Sampai ditempat
pencucian jahe disemprot dengan bertekanan tinggi dengan tujuan
membersihkan tanah yang menempel pada rimpang jahe tersebut,
kemudian dikeringkan. Setelah kering jahe siap dikirim ketempat

tujuan dengan kemasan kardus dan diberi serasah penahan gesekan.


Suhu kemasan perlu dijaga sekitar 27-C dengan kelembaban 10 - 25
%. Untuk ekspor kualitas yang dikehendaki adalah jahe rimpang
gemuk dengan berat minimum 200 gram. Agar jahe tidak rusak dalam
penyimpanan biasanya dilakukan pendinginan atau diberi bahan kimia
seperti natrium naftalen asetat agar tidak menjadi keriput. Guna
mencegah warna kecoklatan ditambahkan natrium bisulfit, sedangkan
untuk menghindari masuknya cendawan biasanya diberi larutan
natrium bensoat. Jahe segar digolongkan kedalam 3 (tiga) jenis mutu,
yaitu mutu I, II dan III, dengan syarat umum seperti uraian pada tabel
2.3. :
NO
1
2
3

KARATERISTIK
Kesegaran jahe
Rimpang bertunas
Kenampakan irisan

SYARAT
Segar
Tidak ada
Cerah

METODE PENGUJIAN
Visual
Visual
Visual

melintang
4
Bentuk rimpang
Utuh
Visual
5
Serangga hidup
Bebas
visual
Tabel 3. Penggolongan Jahe Segar berdasarkan mutu
Keterangan:
a. Kesegaran: Jahe dinyatakan segar apabila kulit jahe tampak
halus, mengkilat dan tidak keriput
b. Bentuk rimpang: Rimpang jahe segar dinyatakan utuh bila
cabang-cabang dari rimpang jahe tidak ada yang patah, dengan
maksimum 2 penampang patah pada pangkalnya
c. Rimpang bertunas: Jahe segar dinyatakan mempunyai rimpang
bertunas apabila salah satu atau beberapa ujung dari rimpang
telah bertunas
d. Kenampakan irisan: Jahe segar bila diiris melintang pada salah
satu rimpangnya maka penampangnya berwarna cerah khas
jahe segar
6. Anggur Jahe
Untuk pembuatan anggur jahe diperlukan bahan baku berupa jahe
gajah, karena jenis ini mempunyai rasa yang tidak pedas, kandungan
minyak atsiri yang rendah dan seratnya tidak terlalu kasar. Anggur
adalah sejenis minuman beralkohol yang dibuat secara fermentasi dari
9

sari buahbuahan. oleh sejenis ragi. Sari buah-buahan disini diganti sari
jahe dengan penambahan gula kemudian difermentasi sampai kadar
alkohol tertentu .
7. Jahe Kering.
Jahe kering adalah jahe yang diawetkan melalui proses pengeringan
baik pengeringan menggunakan tenaga surya maupun dengan
pengeringan buatan. Jahe kering dalam perdagangan dapat disajikan
dalam bentuk dikuliti, tanpa dikuliti dan setengah dikuliti.
a. Tidak dikuliti. Jahe kering tidak dikuliti mempunyai beberapa
tipe yang dikenal dengan istilah coated, unscraped dan
unpeeled yang biasanya akan diproses lebih lanjut untuk
pembuatan minyak jahe (ginger oil) dan oleoresin. Pengolahan
jahe kering yang tidak dikuliti caranya sederhana yaitu : setelah
rimpang dibersihkan dari segala kotoran dan tanah lalu dijemur
selama 7 - 8 hari. Sebelum dikeringkan sebaiknya jahe
direndam dalam air mendidih selama 10 - 15 menit untuk
mematikan enzimenzim yang ada dirimpang. Setelah direndam
dalam air panas dianjurkan juga direndam dalam air dingin
yang mengandung natrium bikarbonat dan kemudian dicuci
dengan air dingin baru dikeringkan.
b. Setengah dikuliti. Sedangkan jahe kering setengah dikuliti atau
dikuliti penuh mempunyai beberapa tipe seperti peeled,
uncoated dan scraped yang umumnya dipergunakan dalam
industri obat-obatan makanan dan minuman. Untuk membuat
jahe kering yang setengah dikuliti atau dikuliti penuh caranya
adalah dengan merendam rimpang jahe bersih dalam air selama
semalam untuk mempermudah pengulitan (pengupasan).
Selanjutnya kulit pada bagian permukaan yang datar dikelupas,
sedangkan pada bagian celah-celah tidak dibuang. Kemudian
dicuci lagi dengan air secara hati-hati. Di Indonesia
pengelupasan kulit dilakukan dengan pisau dari bambu yang
tajam ujungnya, atau digunakan sendok, setelah bersih barulah
rimpang dijemur setelah 5-8 hari, kalau diinginkan warna

10

rimpang yang putih maka perendamannya dapat dilakukan


dalam air kapur kembang (CAO) sebanyak 20 gram / liter air.
Hari berikutnya rimpang dicuci lagi dengan air dan direndam
selama 6 jam barulah dilakukan penjemuran selama 5-8 hari
sampai dengan kadar air 10 - 12 %.
8. Jahe Awet atau Jahe Olahan.
Ditinjau dari bentuk olahannya jahe awet biasanya berwujud asinan
jahe, jahe dalam sirup dan kristal jahe yang digunakan biasanya jahe
badak (jahe besar) yang dipanen ketika umur 3 - 4 bulan.
9. Asinan jahe
Dalam dunia perdagangan dikenal dua jenis asinan jahe, yaitu jahe
asin China dan jahe asin Australia. Cara pengolahannya sederhana
yang biasa dilakukan pengusaha di Indonesia adalah sebagai berikut :
Jahe segar dikuliti kemudian dipotong-potong menjadi

ukuran 80 - 120 gram.


Jahe kemudian dicampur asam cuka dan garam dapur dengan
perbandingan 78 % jahe segar, 2 % asam cuka dan 2 %

garam dapur.
Setelah dicampur dibiarkan selama 15 hari.

KARAKTERISTIK
Bau dan rasa
Kadar air, % (bobot/bobot),

SYARAT MUTU
Khas
12,0

CARA PENGUJIAN
Organoleptik
SP-SMP-7-1975 (ISO R 939-

maks
Kadar Minyak ar,

1,5

1969 (E))
SP-SMP-37-1975

(ml/100g),min
Kadar abu, % (bobot/bobot),

8,0

SP-SMP-35-1975 (ISO R

maks
Berjamur dan berserangga
Benda asing,%

Tak ada
2,0

929-1969 (E))
Organoleptik
SP-SMP-32-1975 (ISO R

(bobot/bobot), maks
937-1969 (E))
Tabel 4. Syarat Mutu Jahe Kering (Sesuai SNI 01-3393-1994)
10. Jahe dalam sirup
Jahe dan sirup bahan bakunya dapat berupa jahe asin yang
dipindahkan dari larutan garam asam kemudian dicuci bersih atau
dapat juga langsung dibuat dari jahe segar yang dinilai lebih ekonomis,
adapun cara pembuatannya adalah:

11

Jahe segar dipotong-potong menurut ukuran yang ditetapkan,


dikukus kemudian direbus dalam air mendidih 15 menit agar
tingkat kepedasan jahe berkurang dan teksturnya menjadi
lunak.
Jahe dicampur dengan gula dengan perbandingan 78 kg jahe
dalam 60 kg gula. Selanjutnya ditambahkan air bersih
secukupnya sehingga jahe terendam.
Adonan tersebut dididihkan selama 45 menit, kemudian jahe
dibiarkan terendam dalam larutan gula selama 2 (dua) hari agar
larutan gula meresap kedalamnya.
Untuk kedua kalinya adonan dididihkan kembali selama 45
menit, setelah dingin dikemas untuk dipasarkan.
11. Jahe kristal
Adalah hasil perlakuan lanjutan dari jahe dalam sirup. Jahe sirup untuk
ketiga kalinya direbus sehingga menguaplah air dalam sirup kemudian
jahe ditiriskan dan dicampur dengan kristal gula kemudian dikemas.
12. Pembuatan Gel Jahe
Penelitian ini dilakukan

melalui beberapa tahapan kerja sebagai

berikut:
a) Pengumpulan bahan dan determinasi tanaman yang dilakukan
di Herbarium Bogoriense,
Biologi,

Lembaga

b) Pembuatan

Botani

Pusat Penelitian

Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Bogor.

simplisia

c) Pemeriksaan

Bidang

rimpang

karakteristik

jahe merah.
simplisia meliputi pemeriksaan

makroskopik dan mikroskopik,

penetapan

metode Azeotropi, kadar sari larut air

kadar

dan

air dengan

etanol

dengan

metode Gravimetri, kadar abu total dan tidak larut asam dengan
metode Gravimetri.
d) Ekstraksi

rimpang

menggunakan
kemudian

jahe

merah

dengan cara

perkolasi

pelarut etanol 96%. Perkolat yang diperoleh

dipekatkan

dengan

alat rotary evaporator pada

12

suhu 40o C sampai

diperoleh

ekstrak

kental kemudian

dikeringkan menggunakan freeze dryer (-40o C)


e) Orientasi basis gel dengan variasi persentasi HPMC sebesar
2,5, 2,75, 3, dan 3,5%berdasarkan formula menurut Suardi,
dkk. (2008) sebagai berikut:
R/ HPMC

3,5

Propilen glikol 15
Metil paraben

0,18

Air suling ad

100

Cara pembuatan: air suling sebanyak 20 kali


dipanaskan hingga mendidih,
di

kemudian

berat
diangkat

dalamnya selama

15

HPMC
dan

HPMC

dikembangkan

menit,

setelah

kembang ditambahkan metil paraben yang telah

dilarutkan di dalam air suling panas. Ditambahkan propilen


glikol

sedikit demi

sedikit

sambil

digerus

sampai

homogen, lalu ditambahkan sisa air suling yang dibutuhkan.


f) Formulasi basis gel HPMC sebesar 3%.
g) Formulasi sediaan gel.
Rancangan formula sediaan gel yang
rimpang jahe,

yang

akan

digunakan

mengandung

ekstrak

dalam penelitian ini dapat

dilihat pada Tabel 1.


Bahan

Ekstrak

Sediaan gel

G1

G2

G3

G4

G5

(g)

13

Basis gel

10

10

10

10

ad (g)

100

Tabel 1. Formula sediaan gel


Keterangan:
G1: basis gel tanpa ekstrak rimpang jahe merah (blanko)
G2: sediaan gel dengan ekstrak rimpang jahe merah 2%
G3: sediaan gel dengan ekstrak rimpang jahe merah 4%
G4: sediaan gel dengan ekstrak rimpang jahe merah 6%
G5: sediaan gel dengan ekstrak rimpang jahe merah 8%
Cara pembuatan: ditimbang ekstrak rimpang jahe merah 2g, dimasukkan
ke dalam lumpang, diteteskan dengan beberapa tetes pelarut etanol 96%
kemudian digerus. Ditambahkan basis gel sedikit demi sedikit sambil
digerus sampai homogen dan terakhir cukupkan hingga mencapai 100
g sediaan gel. Perlakuan yang

sama

dilakukan

untuk

membuat

sediaan gel dengan ekstrak rimpang jahe merah 4, 6, dan 8%.

BAB 3
PEMBAHASAN
3.1 Penggunaan Jahe sebagai obat Herbal
1. Kegunaan : sebagai obat osteoarthritis dengan gejala nyeri dan
kekakuan sendi

14

Osteoartritis merupakan penyakit muskuloskeletal yang sering terjadi pada


usia lanjut di abad 21 (Isbagio, 2006). Penyakit yang dtanadai dengan nyeri,
kekakuan sendi dan gangguan fungsi akibat dari kerusakan tulang rawan pada
daerah sendi disebut osteoarthritis. ( smeltzer oconnel & bare 2003 centers fo
disease control and prevention, 2009). Karena nyeri merupakan masalah
utama pada pasien denagn osteoartritis, maka penatalaksanaan penyakit ini
berfokus pada upaya mengurangi rasa nyeri. Terapai nonfarmakologi menjadi
upaya pertama dalam manajemen osteoartritis, dan jika diperlukan terapi obat
bisa dierikan (wright, 2008). Pada terapi obat, obat-obat seperti asitaminofen
dan NSAIDs sering digunakan untuk menghilangkan nteri ringan hingga
sedang. Asetaminofen dianggap sebagai terapi lini pertama dan obat pilihan
paling aman untuk penggunaan jangka panjang. Bila tidak berhasil atau ada
kontraindikasi maka terapi diganti dengan obat-obat NSAIDs seperti ibu
profen ( Seed, Dunican, Lynch, 2009).
Namun obat ini sering menyebabkan efek samping yang merugikan jika
digunakan dalam jangka panjang ( Ingels,2004). Karena efek yang merugikan
tersebut, digunakan pemanfaatan ekstrak jahe (Zingiber officinale) sebagai
terapi herbal. Selain meredakan mual dan muntah, ekstrak jahe juga
digunakan dalam pengobatan tradisional untuk mengurang inflamasi
( Ehrlich,2008). Ekstrak jahe yang memilikim kandungan gingerol dan
shogaol, membantu mekanisme regulator dengan menekan produksi
prostaglandin dan leukotrin. Kandunag jahe tersebut membantu dalam
menghambat terjadinya peningkatan sitokin IL-1 beta dan TNF-alfa, dua zat
ini bertanggung jawab terhadap terjadinya proses degradasi persendian.
Dengan demikian ekstrak jahe dapat membantu proses adaptasi penderita
osteoartritis melalui mekanisme koping regulator akibat perubahan pada
lingkungan internal manusia. Keberhasilan mekanisme regulator didalam
mengatasi perubahan lingkungan internal berdampak pada berkurangnya rasa
nyeri, kekakuan sendi dan gangguan fungsi.
Terdapat berbagai macam cara pengolahan jahe sebagai obat osteoarthritis,
diantaranya :
A. Kapsul Obat Herbal
Alat dan bahan :
15

1.
2.
3.
4.
5.
6.

Setengah kilogram jahe


Air 400 ml
Blender
Kain saring ( kain sifon )
Wajan
Kapsul kemasan 250 mg

Cara pembuatan :
1. Setengah kilogram jahe dicuci bersih tanpa dikupas kulitnya, lalu
2.
3.
4.
5.

diiris tipis-tipis
Setelah itu, tambahkan air 400 ml dan diblender
Setelah diblender, lalu disaring pakai kain saring ( kain sifon)
Ampas yang ada di kain sifon juga diperas sampai kering
Air yang disaring dibiarkan mengendap selama 20 menit untuk
memisahkan pati nyadengan ekstrak jahe, kemudian patinya

dibuang.
6. Air ekstrak jahe yang sudah terpisah dari patinya diletakkan di
wajan lalu direbus
7. Air diaduk terus searah searah jarum jam hingga kering dan terjadi
pengkristalan. Lama mengaduk kurang lebih 45 menit.
8. Setelah kering lalu diangkat dan disaring denagn saringan untuk
memisahkan kristal yang halus dan yang kasar. Kristal yang masih
kasar diblender lalu di saring sampai habis
9. Setelah ekstrak jahe jadi, kemudian dimasukkan kapsul kemasan
250 mg.
B. Simplisia atau Ekstrak Jahe
Selain diekstrak menjadi kapsul, bisa juga diekstrak dikemas ke dalam
plastik

kecil

atau

wadah

yang

tertutup

rapat.

Untuk

menyajikan minuman dari ekstrak jahe merah ini sangat mudah. Anda
tinggal masukan ekstrak jahe merah ke dalam gelas. Soal takaran,
sesuaikan dengan selera anda. Lalu beri air es atau air hangat, sesuai
dengan selera anda. Jika menurut Anda minuman ekstrak jahe merah
buatan Anda kurang manis, Anda bisa tambahkan gula secukupnya.
Untuk menambah rasa dan aroma, Anda tambahkan saja perasan
lemon atau jeruk nipis.
1.

Siapkan bahan-bahan yang diperlukan seperti jahe merah dan air


16

2.

Bersihkan jahe merah dengan cara dicuci dengan air yang mengalir

3.

Haluskan jahe merah dengan alat motor listrik agar cepat

4.

Masukan air pada gilingan jahe merah. Perbandingan air dan jahe
merah sebesar 1:4 (satu liter air untuk empat kilogram jahe merah).

5.

Saring jahe merah yang sudah halus dengan menggunakan


saringan. Buat ampasnya dan manfaatkan hasil saringannya.

6.

Diamkan hasil saringan jahe merah Selama 5 hingga 6 jam atau


batas waktu sampai pati jahe merah mengendap.

7.

Pisahkan air saringan jahe merah dengan patinya

8.

Masak air saringan jahe merah dan masukan gula dengan


perbandingan 1 kg gula untuk 1 liter air saringan jahe merah. Jika
Anda penyuka manis, Anda boleh tambahkan lagi gula sesuai
dengan yang Anda inginkan.

9.

Ketika air saringan jahe merah sudah mendidih, silahkan Anda


aduk terus. Pastikan api kompor kecil agar tidak cepat kering

10.

Lakukan terus pengadukan hingga air saringan jahe merah


mengental. Jika air saringan jahe merah dibiarkan saja tanpa
diaduk, jahe akan mengental dan hangus (berwarna cokelat gelap).

11.

Ketika campuran mulai terlihat berbentuk bulat-bulat, silahkan


Anda mengaduk hingga bulatan-bulatan tersebut pecah dan
menjadi serbuk.

12.

Anda dikatakan berhasil jika campuran jahe merah berwarna


cokelat muda dan beraroma jahe.

13.

Ekstrak jahe merah pun telah jadi dan siap digunakan

C. Terapi Kompres Jahe Dan Massage Pada Osteoartritis


Prosedur pembuatan kompres jahe
Bahan : Jahe 100 gram, air hangat bersuhu 40-50C.
Alat : Parut, kain bersih, baskom, mangkuk kecil
1. Jahe diparut dalam wadah
2. Celupkan kain bersih pada air hangat bersuhu 40-50C yang
diletakkan di baskom
3. Letakkan jahe diatas kain yang telah dicelup air hangat

17

4. Kompreskan pada daerah yang nyeri selama 20 menit


5. Gunakan jahe yang sudah diparut untuk dikompreskan pada sendi
yang nyeri dan lakukan teknik massage menggunakan teknik
massage gosokan (eflaurage) dan pijatan (petrisage) pada sendi
yang nyeri.
6. Posisikan pasien dalam posisi rileks.
7. Proses pemberian terapi kompres jahe dan massage berlangsung
selama 10-20 menit.
8. Apabila dalam pelaksanaan kompres jahe berjatuhan, berikan
penambahan jahe yang sudah diparut.
9. Setelah terapi selesai tunggu sampai 15 menit, kemudian tanyakan
reaksi dari terapi yang telah diberikan.
10. Terapi dilakukan selama 3 hari, lakukan evaluasi secara total.
2. Kegunaan : Efek Estrak Etanol 70 % Rimpang Jahe Merah Terhadap
Peningkatan Kepadatan Tulang Tikus Putih Betina RA (Rheumatoid
Arthritis) Yang Diinduksi Oleh Comlete Freunds Adjuvant
Artritis reumatoid merupakan penyakit inflamasi sistemik kronik yang bisa
menyerang seluruh persendian dengan gejala nyeri bengkak pada jari-jari,
lutut dan pergelangan (mulyaningsih & darmawan, 2006). Artritis reumatoid
bersifat lebih progresif dan cepat dalam menyebabkan deformitas sendi
darioada osteoartritis. Penyakit artritis reumatoid terjadi karena faktor
inflamasi kronik yang terbentuk, menyebabkan aktivasi osteoklas meningkat.
Osteoklas adalah sel yang bekerja di permukaan tulang sendi yang
menyebabkan tulang mengalamipenyerapan tulang. Pada kasus artritis
reumatoid, osteoklas yang meningkat tidak diimbangi dengan pengaktifan
osteoblas

sehingga

proses

destruksi

tulang

lebih

cepat

daripada

konstruksinya.
Pengobatan untuk penderita artritis reumatoid saat ini sudah banyak
dikembangkan baik sintetis maupun herbal. Penggunaan obat herbal
dikategorikan tinggi apalagi masyarakat semakin tahu bahwa obat sintetis
menimbulkan efek samping lain yang tidak diinginkan. Obat obat sintetis
untuk artitis reumatoid yang saat ini digunakan seerti obat golongan DMARD
18

(disease modyfing anti reumatic drugs) yaitu metotreksat, leflunomida, dan


yang lainnya memiliki efek samping antara lain mual,ulkus saluran cerna
gangguan fungsi ginjal , dan menurunkan daya tahan tubuh (wilpana, PF &
Gan, 2007). Obat obat tersebut memiliki sifat antiradang yang sangat kuat
dan penggunaan umumnya dikombinasi dengan obat golongan antiinflamsi
non steroid untuk memperkuat efeknya namun efeksamping yang ditimbulkan
juga semakin berbahaya. Untuk itu penggunaan obat herbal untuk
mengurangi atau mencegah penyakit artitis reumatoid kini banyak
dikonsumsi masyarakat terutama orangtua karena efek samping yang lebih
minimal.
Penggunaan obat herbal yang memiliki efek antiinflamasi diharapkan
dapat mencegah dan mengobati terjadinya penyakit artritis reumatoid.
Deformitas sendi akibat artritis reumatoid tentu berakibat pada berkurangnya
komponen penyusun tulang atau kepadatan tulang. Untuk mencegah atau
mengatasi kerusakan tulang tersebut, emilihan obat herbal antiinflamasi yang
tepat perlu Dilakukan. Salah satu contoh tanaman yang sudah teruji secara
empiris maupun ilmiah memiliki efek antiinflamasi adalah jahe merah.
Estrak etanol jahe merah terbukti memiliki efek pada pengobatan
inflamasi baik akut maupun kronik. Kitagatha-cho,2007, menyebubkan dosis
10 mg/kg yang diberikan pada tikus, terbukti memiliki efek antiartritis yang
diukur berdasarkan volume udem dan pengurangan destruksi tulang secara
mikroskopi. Penelitian lain menyebutkan pemberian estrak etanol 70% jahe
merah dapat mengatasi gejala inflamasi akut pada tikus yang diinduksi
karagenan (retno, 2011)
Pada penelitian ini akan diteliti efek ekstrak etanol 70% rimpang jahe
merah sebagai antiinflamai yang berpengaruh terhadap peningkatan keadatan
tulang tikus putih betina RA (Rheumatoid Artritis) yang diinduksi complete
freunds adjuvant (CFA). Pengamatan dilakukan berdasarkan penghambatan
terhadap volume udem untuk aji artritis dan pengukuran kadar kalsium tulang
kaki tikus untuk uji peningkatan kepadatan tulang. Penelitian ini diharapkan
daat menunjukkan adanya korelasi antara penggunaan antiinflamasi dengan
peningkatan kepadatan tulang sehingga daat dimanfaatkan untuk pencegahan
dan pengobatan penyakit artritis reumatoid.

19

Dosis estrak etanol jahe merah yang digunakan adalah dosis bertingkat,
yaitu 14 mg/200 g bb; 28mg/200g bb, dan 56 mg/200 g bb.
Pembuatan ekstrak etanol 70% rimpang jahe merah
Bahan :
1. Serbuk kering jahe merah 240 g
2. 1 L etanol 70%
Alat :
1. Botol
2. Rotary evaporator
3. Shaker
4. Kertas saring
Cara pembuatan
1. Serbuk kering jahe merah yang diperoleh sebanyak 240 g dimasukkan
2.
3.
4.
5.

kedalam botol
Lalu ditambahkan 1 L etanol 70%
Dikocok selama 6 jam menggunakan shaker
Didiamkan sampai 24 jam
Ampasnya disaring dengan kertas saring (proses diulangi beberapa kali

sampai filtrat tidak berwarna)


6. Filtrat yang diperoleh dicampur dan dipekatkan menggunakan rotary
evaporator bertekanan rendah bersuhu 50 derajat C dengan keceatan
putar 30 rpm
7. Filtrat pekat diuapkan diatas pemanas air pada suhu 50 derajat C
hingga menjadi estrak kental.
3. Kegunaan : Minuman Jahe Untuk Mengurangi Emesis Gravidarum
Pada Ibu Hamil Trimester 1
Wanita hamil terutama pada trimester 1 mengalami mual dan muntahmuntah dengan tingkat yang berbeda-beda. Biasanya cukup ringan dan terjadi
terutama dipagi hari. Tetapi kadang-kadang juga cukup parah dan dapat
berlangsung sepanjang hari. Mual dan muntah terjadi mulai 2 minggu
sesudah haid tidak datang dan berlangsung kira-kira selama 6 sampai 8
minggu. Penyebabnya tidak diketahui, tetapi diduga disebabkan oleh
peningkatan kadar hormone kelamin (estrogen dan progesteron) yang
diproduksi selama hamil. Sesudah 1- 2 minggu, gejala-gejala itu biasanya
menghilang karena tubuh sudah menyesuaikan diri (Derek & John, 2002).

20

Hasil penelitian Booth (2004), ada sekitar 2% wanita hamil pada trimester
I mengalami masalah mual dan muntah yang berat sehingga diperlukan
perawatan medis. Tanda bahaya yang paling utama pada masalah mual
muntah adalah dehidrasi karena berisiko terhadap kesehatan ibu dan janin.
Oleh karena itu, diperlukan asupan cairan yang adekuat sebagai pengganti
cairan yang hilang.
Sebagian Ibu hamil merasakan bahwa mual dan muntah merupakan suatu
hal yang tidak nyaman dan mengganggu aktivitas sehari-hari bahkan banyak
dari wanita hamil yang harus mengkonsumsi obat-obatan atau tindakan
altematif lain untuk mengatasi mual dan muntah. Obat-obatan yang sering
diberikan pada wanita hamil yang mengalami mual muntah adalah obat yang
mengandung efek anti mual seperti vitamin B6. Namun bahan-bahan ini
dilaporkan memiliki efek samping seperti sakit kepala, diare dan mengantuk
(Laura, 2009).
Disamping itu, ramuan tradisional pun bisa digunakan dengan meminum
secangkir wedang jahe hangat. Di India, jahe dibuat sebagai minuman untuk
mengatasi rasa mual pada wanita hamil. Jahe dapat dikonsumsi dalam
berbagai bentuk seperti minuman, permen, atau manisan.
Tetapi wanita hamil tidak boleh mengkonsumsi jahe secara berlebihan
karena jahe dapat merangsang uterus. Oleh karena itu, ibu hamil yang pemah
mengalami keguguran tidak dianjurkan untuk mengkonsumsi jahe karena
dapat meningkatkan resiko keguguran (Dechacare, 2009).
Sebuah studi yang dilakukan oleh Meltzer, (2000) dipublikasikan dalam
American Journal of Obstetric and Gynecology (2001) menemukan bahwa
jahe sangat membantu dalam mengurangi morning sickness. Penelitian
dilakukan dengan memberikan kapsul yang berisi jahe pada satu kelompok
yang berjumlah 32 orang dan memberikan kapsul placebo pada satu
kelompok lainnya yang berjumlah 35 orang. Setelah dilakukan tindakan
pengobatan selama empat hari, proporsi wanita hamil yang mengalami mual
dan muntah pada kelompok jahe (12 dari 32 orang, sekitar 37,5% ) lebih
rendah dibandingkan kelompok placebo (23 dari 35orang, sekitar 65,7%).
Penelitian tentang bagaimana mengurangi mual dan muntah yang terjadi
selama kehamilan dengan berbagai teknik sudah banyak dilakukan
diIndonesia. Namun, menggumakan jahe sebagai altematif dalam mengurangi

21

mual dan muntah selama kehamilan trimester pertama belum banyak


dilakukan terutama di Pekanbaru.
Kandungan jahe per 100 gram : protein 8,6%, karbohidrat 66,5%, lemak
6,4%, serat 5,9%, abu 5,7%, kalsium 0,1%, fosfor 0,15%, Zat besi 0,011%,
sodium 0,3%, potasium 1,4%, vitamin A 175 IU, vitamin B1 0,05 mg,
vitamin B2 0,13 mg, vitamin C 12 mg, niasin 1,9%
Dibawah ini cara mengonsumsi Jahe yang aman untuk ibu hamil Trimester
I, yaitu :
1. Teh Jahe
Bahan : jahe 250 mg, teh, air hangat, gula
Alat : pisau, gelas, sendok
Cara Pembuatan :
1.
Tuangkan air hangat pada gelas
2.
Masukkan kantung teh hingga warna air berubah menjadi
3.
4.

kecoklatan
Kupas jahe 250 mg dan cuci hingga bersih
Geprek jahe menggunakan pisau dan masukkan pada teh yang

5.

sudah disiapkan
Jika senang rasa manis bisa bubuhkan gula 1-2 sendok makan atau
disesuaikan.

2. Wedang Jahe
Bahan : Jahe 500 mg, air 200 ml, gula
Alat : parutan, pisau, panci, gelas, sendok
Cara Pembuatan :
1.
Kupas jahe 500 mg dan cucilah hingga bersih
2.
Parutlah jahe yang sudah dikupas hingga halus
3.
Rebus air 200 ml hingga mendidih
4.
Masukkan parutan jahe tadi kedalam air yang sudah mendidih
5.
Tunggu selama 15 menit hingga warnanya berubah menjadi
6.

kuning kecoklatan, sambil diaduk sesekali


Kemudian tuang air rebusan jahe tadi pada gelas, bila senang

manis bisa bubuhkan gula secukupnya


3. Wangi Jahe
Jahe memiliki harum yang sangat khas, terutama jahe kuning.
Pada umumnya wangi jahe bisa mengendalikan rasa mual pada ibu hamil
Trimester pertama. Tetapi tentu ada caranya untuk menikmati harum jahe.
Siapkan jahe 100 mg kemudian kupas sedikit dengan menggunakan kuku
tangan, jangan menggunakan pisau karena apabila mungupasnya terlalu
dalam khasiat wangi jahe akan berkurang.

22

PERHATIAN :
1. Pada wanita hamil tidak dianjurkan untuk mengonsumsi jahe terlalu
banyak karena dapat meningkatkan rangsangan pada uterus (rahim).
2. Wanita yang pernah mengalami keguguran juga tidak dianjurkan untuk
mengonsumsi segala macam jenis jahe.
4. Kegunaan Terapi jahe merah untuk menurunkan nyeri haid
Haid atau menstruasi atau datang bulan merupakan salah satu ciri
kedewasaan perempuan. Biasanya diawali pada usia remaja 9-12 tahun, dan
ada sebagian kecil yang mengalami lebih lambat dari itu 13-15 tahun. Sejak
saat itu perempuan akan terus mengalami haid sepanjang hidupnya, setiap
bulan hingga mencapai usia 45-55 tahun atau biasa disebut menopouse. Masa
rata-rata perempuan haid antara 3-8 hari dengan siklus rata-rata haid selama
28 hari, masa rata-rata dan siklus rata-rata antara satu perempuan dengan
perempuan yang lain berbeda-beda dan sangat bervariasi (Anurogo &
wulandari, 2011).
Permasalahan nyeri haid adalah permasalahan yang paling sering
dikeluhkan perempuan. Nyeri haid dapat menyerang perempuan yang
mengalami haid pada usia berapapun, tidak ada batasan usia dan sering
disertai dengan kondisi-kondisi yang memperberat seperti ; pusing,
berkeringat dingin, bahkan hingga pingsan. Jika seperti ini, tentunya nyeri
haid tidak boleh dibiarkan begitu saja. Nyeri haid harus diatasi dengan benar.
Nyeri menstruasi umum dirasakan oleh perempuan pada hari-hari pertama
menstruasi. Gejala-gejala nyeri menstruasi umumnya berupa sakit yang
datang secara tidak teratur dan tajam, serta kram dibagian bawah perut
biasanya menyebar ke bagian belakang, menjalar ke kaki, pangkal paha, dan
vulva (bagian luar alat kelamin perempuan). Sebagian doktor beranggapan
bahwa nyeri menstruasi terjadi karena prostaglandin, yaitu zat yang
menyebabkan otot rahim berkontraksi. Pada sebagian perempuan, nyeri
menstruasi yang dirasakan dapat berupa nyeri yang samar, tetapi bagi
sebagian yang lain dapat terasa kuat bahkan bisa membuat aktivitas
terganggu.
Nyeri haid jika tidak segera diatasi akan mempengaruhi fungsi mental dan
fisik individu sehingga mendesak untuk segera mengambil tindakan/terapi

23

secara farmakologis atau non farmakologis. Terapi secara farmakologis salah


satunya dengan pemberian obat-obat analgesik. Obat golongan NSAID
(Nonsteroidal Antiinflammatory Drugs) dapat meredakan nyeri ini dengan
cara memblok prostaglandin yang menyebabkan nyeri. Pengobatan dengan
menggunakan NSAID memiliki efek samping yang berbahaya terhadap
sistem tubuh lainnya (nyeri lambung dan resiko kerusakan ginjal).
Terapi non farmakologis yang dapat dilakukan untuk mengobati nyeri haid
yaitu dengan pengobatan herbal, penggunaan suplemen, perawatan medis,
relaksasi, hopnoterapi dan akupuntur. Terapi ramuan herbal dapat dilakukan
dengan cara menggunakan obat tradisional yang berasal dari bahan-bahan
tanaman. Beberapa bahan tanaman dipercaya dapat mengurangi rasa nyeri
yaitu, kayu manis, kedelai, cengkeh, kunyit, jahe (ginger), oso dresie, herbal
cina (Anurogo & Wulandari, 2011).
Jahe (ginger) sama efektifnya dengan asam mefenamat (mefenamic acid)
dan ibuprofen untuk mengurangi nyeri pada wanita dengan nyeri haid atau
dismenore primer. Selain bahannya mudah didapat, ramuan minuman jahe
mudah dibuat. Jahe mengandung zat yang berhasiat menghilangkan rasa sakit
dan mual saat menstruasi (Laila, 2011).
Jahe merah adalah varian jahe yang sangat cocok untuk herbal dengan
kandungan minyak atsiri dan oleoresinnya yang lebih tinggi dibandingkan
varian jahe lainya, karena itu biasanya jahe merah bisa digunakan untuk
pengobatan tradisional dan yang paling banyak diberikan adalah dalam
bentuk minuman jahe. Jahe merah atau yang bernama latin (Zingiber
officinale Roscoe) memiliki rimpang berwarna merah dan lebih kecil, jahe
merah memiliki kandungan minyak atsiri yang cukup tinggi. (Ramadhan,
2013; h. 10, 12).
Kandungan kimia gingerol dalam jahe merah mampu memblokir
prostaglandin sehingga dapat menurunkan nyeri pada saat menstruasi (Ozgoli,
Goli, & Moattar 2009). Penelitian yang dilakukan oleh di Balai Besar
Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian (2012) menunjukan
bahwa jahe biasanya aman sebagai obat herbal. Beberapa komponen kimia
yang terdapat dalam jahe merah, seperti gingerol, shogaol dan zingerone
memberi efek farmakologi dan fisiologi seperti antioksidan, anti-imflammasi,

24

analgesik, antikarsinogenik, non-toksik dan nonmutagenik meskipun pada


konsentrasi tinggi.
Penelitian lainnya menyatakan, dalam sistem pengobatan jahe juga
digunakan

untuk

mengatasi

nyeri

akibat

menstruasi

dengan

cara

menghentikan kerja prostaglandin, penyebab rasa sakit dan peradangan si


pembuluh darah dan meredakan kram.
Prosedur Pembuatan Minuman Jahe Merah
Bahan :
1. Jahe merah segar 40gram
2. Temulawak 20gram
3. Cabe jawa 20gram
4. Gula 10gram
5. Air untuk minum 4 gelas
Cara Membuat :
1. Semua bahan dicuci bersih.
2. Rajang atau diiris tipis.
3. Lalu direbus, tunggu hingga air rebusan tersisa 2 gelas.
4. Kemudian saring.
5. Cara Konsumsi: minum 2 kali pada pagi dan sore hari. Sekali
minum 1 gelas.
BAB 4
KESIMPULAN dan SARAN
4.1 Kesimpulan
Tanaman jahe (Zingiber officinale Rosc.) merupakan salah satu
tanaman yang dapat diterapkan untuk kesehatan. Tanaman ini sudah
dikenal dimana- mana tentu sangatlah mudah untuk mendapatkannya. Jahe
sendiri terdiri dari tiga jenis yakni jahe gajah, jahe sunti dan jahe merah.
Jahe mempunyai berbagai kandungan yang sangat baik untuk kesehatan
diantaranya minyak atsiri, zingiberena (zingerona), zingiberol, kamfena,
lemonin, bisabolena, kurkumen, gingerol, filandrena, dan resin pahit.
Kandungan senyawa kimia lain dalam jahe, yakni senyawa flavonoid,
fenolik utama, asam organik, alkaloid, dan terpenoid.
Kandungan yang terdapat di jahe tersebut dapat diaplikasikan
untuk mengatasi berbagai penyakit baik yang sederhana maupun
kompleks.
4.2 Saran

25

Penggunaan jahe sebagai obat herbal hendaknya dipahami dengan


baik bahwa tanaman ini bukanlah obat utama melainkan obat pelengkap
terutama untuk penyakit- penyakit yang kompleks.
Dalam cara pengolahan hendaknya diperhatikan tentang kebersihan
pengolahan dan cara penyimpanan yang baik agar dapat bermanfaat secara
optimal.

DAFTAR PUSTAKA
Bactiar, arif. 2010. Pengaruh estrak jahe terhadap tanda dan gejala osteoartritis
pada pasien rawat jalan dipuskesmas pandanwangi kota malang. Jakarta :
universitas indonesia Thesis diakses di https://www.google.com/url?
q=http://lib.ui.ac.id/file%3Ffile%3Ddigital/137246-T%2520Arief
%2520Bachtiar.pdf&sa=U&ved=0ahUKEwjNy5nX_bvJAhUBjo4KHUv9
CjIQFggFMAA&client=internal-udscse&usg=AFQjCNG8yjYfF1fctdYuNyHP0qyeSM812Q
Bactiar, arif. 2010. Pengaruh estrak jahe terhadap tanda dan gejala osteoartritis
pada pasien rawat jalan dipuskesmas pandanwangi kota malang. Jakarta :
universitas indonesia Thesis
Brashers, Valentina. 2008. Aplikasi Klinis Patofisiologi : Pemeriksaan dan
Manajemen Ed.2. Jakarta : EGC
Carter, M. A. 2006. Osteoartritis. In S. A. Price, & L. A. Wilson, Patofisiologi :
Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Jakarta: EGC.
Fitriyah,N.2012. Efek estrak etanol 70 % rimpang jahe merah terhadap
peningkatan kepadatan tulang tikus putih betina ra (rheumatoid arthritis)

26

yang diinduksi oleh comlete freunds adjuvant. Jakarta : Universitas


Indonesia. Skripsi
Harwati T. 2009. Khasiat jahe bagi kesehatan tubuh manusia. INNOFARM :
Jurnal Inovasi Pertanian Vol.8, No. 1, September 2009 (54-61) diakses di:
http://download.portalgaruda.org/article.php?article=114887&val=5262
Kadin Indonesia. Pengolahan Jahe. Diakses pada rabu 02 desember 2015 pukul
12.00 WIB https://www.google.co.id/url?
sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=3&cad=rja&uact=8&ved=0ah
UKEwjE87qdpsLJAhVFGo4KHTNFCPYQFggqMAI&url=http%3A%2F
%2Fwww.kadin-indonesia.or.id%2Fid%2Fdoc
%2FUKM_Teknologi_Jahe.pdf&usg=AFQjCNEPKsc_QNIPPSkaAGmmRZk2C_36A&sig2=1WD4uNKPzMFP_CPNr4EesQ

Kusuma, D. 2008. Pemanfaatan Jahe (Zingiber Officinale) SebagaiTablet Isap


Untuk Ibu Hamil Dengan Gejala Mual Dan Muntah. Bogor: ITB. Skripsi
diakses

di

http://repository.ipb.ac.id/bitstream/handle/123456789/1646/A08dkr.pdf;js
essionid=4D228AA972C53DDDEC74822E1371A935?sequence=4
Lestari, Indah. 2014. Terapi Kompres Jahe dan Massage pada Osteoartritis di
Panti Werda St. Theresia Dharma Bhakti Kasih Surakarta. Skripsi.
Surakarta: Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Surakarta Kusuma Husada.
Prospek dan arah pengembangan agrisbisnis tanaman obat

diakses di

http://www.litbang.pertanian.go.id/special/komoditas/files/0105TANOBAT.pdf pada tanggal 01-12-2015 pukul 22.16


Rusnoto, dkk. 2014. Pemberian Kompres Hangat Memakai Jahe untuk
Meringankan Skala Nyeri pada Pasien Asam Urat di desa Kedungwungu
Kecamatan Tegowanu Kabupaten Grobogan. STIKES Muhammadiyah
Kudus.

27

Saswita, Yulia Irvani Dewi, Bayhaldd. Efektifitas Minuman Jahe Dalam


Mengurangi Emesis Gravidarum Pada Ibu Hamil Trimester I. Jumal Ners
Indonesia, V o l . 1, No. 2, Maret 2011.
Wijayakusuma, Hembing. 2006. Atasi rematik dan asam urat . jakarta : Puspa
Swara

28