Anda di halaman 1dari 20

A.

LATAR BELAKANG
Pelayanan publik yang dilakukan ASN, dalam hal ini di bidang
kesehatan sering mendapat sorotan publik, terutama tentang kualitas
pelayanan yang kurang memuaskan. Seiring dengan peningkatan ilmu
pengetahuan dan teknologi, kebutuhan dan tuntutan masyarakat terhadap
mutu pelayanan kesehatan semakin meningkat. Baik pelayanan yang
bersifat preventif, promotif, kuratif, maupun rehabilitatif. Hal ini menunjukkan
bahwa pandangan masyarakat terhadap kesehatan telah semakin meningkat
terutama pada kesehatan umum masyarakat yang mana hal tersebut
berdampak pada tercapainya derajat kesehatan yang optimal.
Dalam UU No. 5 tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara, pegawai
ASN berfungsi sebagai : 1) Pelaksana Kebijakan Publik, 2) Pelayan Publik,
3) Perekat dan Pemersatu Bangsa. Dokter umum yang mendapat amanah
sebagai ASN mempunyai tugas fungsional menjadi garda terdepan dalam
pelayanan. Dokter umum dituntut untuk memberikan pelayanan yang
berkualitas sesuai dengan kompetensi dan etika profesinya.
Profesi dokter umum yang bertugas di puskesmas merupakan profesi
yang sangat penting dimana tugas utamanya adalah memberikan pelayanan
kesehatan yang menyeluruh dalam rangka mewujudkan masyarakat yang
hidup sehat secara mandiri dan berkualitas di wilayah puskesmas tempat ia
bekerja. Disebut pelayanan kesehatan yang menyeluruh jika didalamnya
terdapat semua bentuk pelayanan kesehatan yaitu promotif, preventif, kuratif,
dan rehabilitatif. Namun para dokter seringkali melupakan peran sebagai
pemberi layanan promotif dan preventif karena terlalu disibukkan dengan
banyaknya pasien yang membutuhkan pelayanan kuratif. Padahal sebagai
1

layanan primer, kadang teknik-teknik promotif dan preventif lebih penting


pada beberapa kasus.
Salah satu kasus yang masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia
adalah permasalahan gizi bayi dan balita. World Health Organization (WHO),
menjelaskan bahwa permasalahan gizi suatu negara dapat ditunjukan
dengan besarnya angka kejadian gizi buruk di negara tersebut. Angka
kejadian gizi buruk dan gizi kurang di Indonesia menurut Riskesdas tahun
2013 adalah sebesar 19,6% yang menduduki peringkat ke 142 dari 170
negara dan terendah di ASEAN. Sedangkan di provinsi NTB, angka gizi
buruk dan kurang ini lebih tinggi lagi dibanding angka nasional yaitu 25,7%.
Keadaan kurang gizi pada bayi dan balita disebabkan karena pola
pemberian makanan pendamping ASI yang tidak tepat. Ketidaktahuan
tentang cara pemberian makanan bayi dan anak serta adanya kebiasaan
yang merugikan kesehatan, secara langsung dan tidak langsungmenjadi
penyebab utama terjadinya masalah kurang gizi pada anak, khususnya pada
anak usia dibawah 2 tahun.
Beberapa penelitian menyatakan bahwa keadaan kurang gizi pada
bayi, balita dan anak disebabkan karena kebiasaan pemberian MP-ASI
(Makanan Pendamping ASI) yang tidak tepat. Keadaan ini memerlukan
penanganan tidak hanya dengan penyediaan pangan tetapi dengan
pendekatan yang lebih komunikatif sesuai dengan tingkat pendidikan dan
pengetahuan ibu tentang MP-ASI.
Dari masalah tersebut, penulis akan menyusun rancangan kegiatan
untuk mengaktualisasikan nilai-nilai dasar akuntabilitas, nasionalisme, etika
2

publik, komitmen mutu dan anti korupsi (ANEKA) dalam meningkatkan


kualitas pelayanan gizi di Puskesmas Pejeruk. Kegiatan tersebut akan
diaktualisasikan selama dua minggu ke depan sebagai langkah awal bagi
penulis dalam berkontribusi

untuk meningkatkan kualitas pelayanan

kesehatan gizi pada penderita gizi buruk dan gizi kurang di NTB.

B.

VISI DAN MISI


1. Visi Puskesmas Pejeruk
Menjadikan Puskesmas Pejeruk sebagai pengayom masyarakat di
wilayah kerja puskesmas demi tercapainya masyarakat yang memiliki
perilaku dan lingkungan yang sehat mandiri pada tahun 2020.
2. Misi Puskesmas Pejeruk
Misi pembangunan kesehatan yang diselenggarakan oleh Puskesmas
Pejeruk adalah :
a. Menjadikan puskesmas sebagai mitra dalam hal pembangunan
b.

diberbagai sektor khususnya yang terkait dalam bidang kesehatan


Menjadikan puskesmas sebagai panutan masyarakat dalam

c.

menjagakesehatan pribadi maupun lingkungan


Meningkatkan mutu pelayanan kesehatan dengan cara selalu
mengikuti perkembangan informasi yang ada demi terjaganya

d.
C.

kualitas pelayanan yang merata


Memberikan pelayanan kesehatan secara holistik

RUANG LINGKUP
Ruang lingkup atau batasan untuk kegiatan aktualisasi ini adalah :
1. Kegiatan yang akan dilaksanakan adalah kegiatan yang sesuai dengan
rancangan aktualisasi yang telah dibuat sesuai dengan Sasaran Kinerja
Pegawai (SKP) dan Tugas Pokok dan Fungsi (tupoksi dokter) yaitu
kegiatan yang berkaitan dengan peningkatan mutu pelayanan di
Puskesmas Pejeruk.
3

Tugas dan fungsi dokter Jaga Puskesmas Pejeruk (berdasarkan sasaran


kinerja pegawai) yaitu:
a.
Melakukan pelayanan medik umum konsul pertama
b.
Melakukan tindakan khusus dokter umum kompleks tingkat 1
c.
Melakukan tindakan darurat medik/P3K
d.
Melakukan pemulihan mental tingkat sederhana
e.
Melakukan pemulihan fisik tingkat sederhana
f.
Melakukan pemeliharaan kesehatan ibu
g.
Melakukan pemeliharaan kesehatan bayi dan balita
h.
Melakukan pemeliharaan kesehatan anak
i.
Melakukan penyuluhan medik
j.
Membuat catatan medik pasien rawat jalan
k.
Melayani atau menerima konsultasi dari dalam
l.
Melakukan kaderisasi masyarakat dalam bidang kesehatan
m. Membantu dalam kegiatan kesehatan (PMI, Olahraga,dll)
n.
Menjadi anggota organisasi profesi dokter tingkat kota anggota aktif
o.
Mengikuti seminar/lokakarya dalam bidang keperawatan/kesehatan
tingkat nasional sebagai peserta
2. Waktu pelaksanaan aktualisasi dibatasi selama 13 hari yaitu tanggal 5
November s.d 17 November 2015.
3. Tempat pelaksanaan aktualisasi adalah di Puskesmas Pejeruk.
D.

MILESTONE/TAHAPAN KEGIATAN
Berdasarkan masalah yang diangkat dan Sasaran Kinerja Pegawai
(SKP), tahapan kegiatan yang dapat dilakukn untuk mengaktualisasikan nilainilai dasar ANEKA di ruang lingkup pelayanan gizi Puskesmas Pejeruk
No.
1.
2.
3.
4.
5.

Hasil Kegiatan
Tersusunnya rencana kegiatan untuk
peningkatan pelayanan gizi bersama kepala
puskesmas dan petugas gizi
Menyediakan SOP/media informasi bagan
penilaian awal balita dengan gizi buruk dalam
bentuk yang aplikatif
Terkumpulnya data-data jumlah pasien gizi
buruk dan gizi kurang yang terdapat di
puskesmas
Penjaringan dan pemeriksaan pasien gizi
buruk dan kurang yang datang ke puskemas
Terlaksananya konsultasi mengenai kaitan
gizi buruk dan gizi kurang dan pemberian
MP-ASI pada orangtua atau keluarga pasien

Tanggal
5-6 November 2015
5-8 November 2015
5-6 November 2015
5-17 November 2015
5-17 November 2015

6.

7.
8.
9.
10.

E.

yang datang ke puskesmas


Terlaksananya pemantauan konsumsi
makanan dan pengontrolan status gizi pasien
gizi buruk dan gizi kurang melalui kunjungan
rumah
Melakukan pemeriksaan tumbuh kembang
pada balita dengan gizi buruk dan gizi kurang
Terdapat peningkatan pengetahuan orangtua
dan keluarga mengenai MP-ASI melaui
penyuluhan
Pemberian PMT pemulihan pada pasien
dengan gizi buruk dan gizi kurang
Pembagian resep MP-ASI kepada kader dan
orangtua pasien dengan gizi buruk dan
kurang

7, 10,12 november
2015
5-17 November 2015
13 November 2015
5-17 November 2015
13 November 2015

NILAI-NILAI DASAR KEGIATAN


1. Tersusunnya rencana kegiatan untuk peningkatan pelayanan gizi
bersama kepala puskesmas dan petugas gizi.
Berbagai macam program perbaikan gizi sudah lama dilaksanakan
pemerintah pusat maupun pemerintah daerah kota Mataram, akan tetapi
sampai saat ini masalah balita dengan gizi buruk dan gizi kurang masih
banyak ditemukan di Kota Mataram khususnya di wilayah kerja
Puskesmas Pejeruk. Ada sebagian wilayah yang berhasil menanggulangi
masalah gizi, tetapi masih ada sebagian besar yang belum berhasil.
Adanya fakta masih banyak ditemukan kasus gizi buruk dan gizi kurang
menunjukkan bahwa program untuk menanggulangi masalah belum
berhasil dengan optimal.
Dalam rangka menanggulangi masalah ini, Puskesmas Pejeruk perlu
melakukan perubahan atau inovasi dalam program gizi. Rencana ini
disusun bersama-sama dengan Kepala Puskesmas dan petugas gizi.
a. Akuntabilitas
5

Dalam kegiatan ini dapat terlihat beberapa aspek dalam


akuntabilitas. Aspek pertama adalah sebuah hubungan antara
individu pemberi kewenangan, dalam hal ini Kepala Puskesmas
bertanggung jawab memberi arahan serta bimbingan kepada penulis
selaku dokter dan petugas gizi . Aspek kedua, dengan merencakan
langkah-langkah dalam mengatasi masalah gizi ini, dokter dan
petugas gizi melaksanakan tanggung jawabnya dalam pemulihan
balita dengan gizi buruk dan gizi kurang.
Pembagian kewenangan dan semangat kerjasama yang tinggi
antara Kepala puskesmas, dokter, serta petugas gizi menunjukkan
akuntabilitas dalam tingkatan kelompok.
b.

Nasionalisme
Implementasi nilai-nilai nasionalisme, khususnya Pancasila sila
ke IV dapat terlihat dari proses perencanaan dan pengambilan
keputusan yang dilakukan secara musyawarah bersama Kepala
Puskesmas dan petugas gizi. Kegiatan musyawarah ini dilandaskan
atas demokrasi dan kebebasan untuk berpendapat. Penghayatan
terhadap nilai permusyawarahan memunculkan mentalitas yang
mengutamakan kepentingan umum, yaitu dalam hal ini kepentingan
untuk

mengatasi

masalah

gizi,

khususnya

meningkatkan

pengetahuan ibu tentang MP-ASI.


c. Etika Publik
Dalam tahapan kegiatan ini, penulis akan menjaga nilai nilai
kesopanan dalam melakukan konsultasi atau berkoordinasi dengan
Kepala Puskesmas maupun petugas gizi..
6

2. Menyediakan SOP penilaian awal dan alur pelayanan balita dengan


gizi buruk dan kurang dalam bentuk yang aplikatif
Untuk

melaksanakan

setiap

kegiatan

di

puskesmas,

tenaga

kesehatan membutuhkan alur atau petunjuk pelaksanaan kegiatan yang


terstandarisasi yang dituangkan dalam suatu bentuk bentuk dokumen
puskesmas. Pedoman tatalaksana penanggulangan ini bertujuan agar
puskesmas dapat memberikan pelayanan yang optimal terhadap balita
gizi buruk dan gizi kurang.
Puskesmas Pejeruk memiliki SOP untuk pelayanan gizi, namun SOP
yang dimiliki bahasanya terkesan kaku dan tidak aplikatif untuk dilakukan
oleh petugas gizi. Sedangkan untuk alur pelayanan, puskesmas belum
memiliki alur pelayanan untuk masalah gizi.
a. Akuntabilitas
SOP dan alur pelayanan gizi yang dibuat merupakan bentuk
tanggung jawab penulis sebagai dokter yang salah satu tugasnya
untuk meningkatkan pelayanan gizi. Dengan adanya SOP ini,
memudahkan

dokter

dan

petugas

gizi

untuk

melaksanakan

pelayanan gizi sesuai dengan standar pelayanan.


b. Komitmen Mutu
Bagan sop yang aplikatif memudahkan dokter dan petugas gizi
untuk memberikan pelayanan yang efektif, efisien dan menyeluruh
kepada pasien. Hal ini akan dapat meningkatkan kepuasan pasien
dan keluarga
3. Mengumpulkan data-data pasien gizi buruk dan gizi kurang yang
terdapat di puskesmas
7

Sebelum melakukan langkah-langkah intervensi dalam pelayanan


gizi diperlukan data-data jumlah pasien yang mengalami gizi buruk dan
gizi kurang. Hal ini dimaksudkan untuk memperoleh gambaran mengenai
kondisi yang terjadi di wilayah Puskesmas.
a. Akuntabilitas
Tersedianya data-data pasien yang lengkap memudahkan dokter
dan petugas gizi merancang rencana kegiatan untuk intervensi
masalah ini.
b. Etika publik
Data-data pasien gizi buruk dan gizi kurang tetap terjaga
kerahasiaannya
c. Komitmen Mutu
Pencatatan data-data pasien dilakukan secara lengkap dan
sistematis
d. Anti Korupsi
Data-data yang ada tidak dimanipulasi agar rencan kegiatan atau
bantuan yang diberikan tepat sasaran dan bantuan yang diberikan
tidak dinikmati oleh orang yang tidak berhak.
4. Melakukan anamnesis dan pemeriksaan pasien gizi buruk dan
kurang yang datang ke puskemas
Salah satu tugas dokter di puskesmas adalah untuk memelihara
kesehatan balita. Salah satu masalah yang dihadapi adalah cukup
tingginya pasien gizi buruk dan gizi kurang di wilayah kerja puskesmas.
Sebagai dokter puskesmas penting untuk melakukan anamnesis dan

pemeriksaan fisik pada pasien dengan gizi buruk dan gizi kurang secara
menyeluruh dan sitematis.

a. Akuntabilitas
Dokter dan petugas gizi memiliki tanggung jawab untuk
melakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik untuk menjaring balita
yang mengalami gizi kurang dan gizi berat. Anamnesis yang
dilakukan haruslah menyeluruh untuk mendapatkan informasi
sebanyak-banyaknya. Namun, pada pelaksanaan di puskesmas,
dokter dan petugas gizi kadang mengalami kesulitan untuk
melakukan anamnesis. Hal ini dikarenakan pasien kadang ditemani
oleh keluarga yang tidak mengetahui kondisi pasien.
b. Nasionalisme
Dalam melakukan anamnesis dan pemeriksaan penulis sebagai
dokter tidak melakukan perbedaan terhadap pasien BPJS ataupun
pasien Non BPJS dan tidak juga membedakan pasien berdasarkan
suku, agama, ras dan bangsa sehingga yang nantinya akan
menimbulkan

perpecahan

antar

bangsa.

Sehingga

hal

ini

menguatkan dalam visi dan misi organisasi


c. Etika Publik
Sebelum melakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik pasien,
dokter atau petugas gizi meminta izin terlebih dahulu. Dalam
anamnesis dokter dan petugas gizi akan menggunakan bahasa yang
sopan dan mudah dimengerti. Pada saat pemeriksaan fisik, dokter

dan petugas gizi menjelaskan apa yang akan dilakukan dan


menjelaskanapa keperluan pemeriksaan yang dilakukan.
d. Komitmen Mutu
Anamnesis dan pemeriksaan fisik dilakukan sesuai dengan
standar keilmuan dan profesionalisme.
e. Anti Korupsi
Hasil pemeriksaan pasien dituliskan secara benar dan harus
sesuai

dengan

apa

yang

ditemukan

pada

saat

anamnesis

pemeriksaan tidak ada sesuatu yang ditambahkan ataupun dikurangi


dalam menuliskan hasil anamnesis dan pemeriksaan tersebut.
5. Melaksanakan konsultasi mengenai pemberian MP-ASI yang tepat
pada orang tua dan keluarga pasien gizi buruk dan gizi kurang yang
datang ke puskesmas
Salah satu faktor yang menyebabkan masalah gizi buruk pada balita
adalah pengetahuan ibu yang rendah mengenai MP-ASI. Selama ini,
kunjungan pasien ke pelayanan gizi hanya menjelaskan mengenai cara
pemberian PMT. Petugas jarang menjelaskan mengenai macam-macam
MP-ASI dan pemberiannya yang tepat sesuai usia
a. Akuntabilitas
Dokter

bertanggung

jawab

dalam

memberikan

informasi

mengenai MP-ASI yang sejelas mungkin sesuai dengan tingkat


pemahaman orang tua atau keluarga pasien
b.

Nasionalisme

10

Konsultasi yang diberikan tidak membeda-bedakan pasien bpjs


atau non-bpjs. Walaupun berbeda-beda suku, agama, dan ras
pasien diperlakukan sama.
c.

Etika publik
Konsultasi MP-ASI dilakukan dengan bahasa yang sopan dan
ramah. Kadang orang tua atau keluarga pasien yang datang
berkonsultasi dimarahi karena pemberian MP-ASI yang tidak tepat.
Hal ini menyebabkan orang tua maupun keluaga pasien tersebut
menjadi tertutup dan tidak mengatakan kondisi yang sebenarnya.

d.

Komitmen Mutu
Materi yang diberikan jelas dan tidak menyesatkan, mudah
dimengerti oleh orang tua maupun keluarga pasien. Dokter dan
petugas gizi memberikan konsultasi disesuaikan dengan tingkat
pemahaman orang tua keluarga pasien

6. Terlaksananya pemantauan konsumsi MP-ASI dan pengontrolan


status gizi pasien gizi buruk dan gizi kurang melalui kunjungan
rumah
Peningkatan status gizi balita dengan gizi buruk memerlukan
pemantauan yang berkelanjutan. Permasalahan yang sering dihadapi
adalah balita dengan gizi kurang tidak melakukan kontrol rutin tiap bulan,
sehingga kunjungan rumah perlu untuk dilakukan.
a. Aktualisasi
Kunjungan rumah dilakukan untuk memantau status gizi pasien
setelah dilakukan konsultasi MP-ASI

11

b. Komitmen Mutu
Pemantauan konsumsi MP ASI dan status gizi pasien dengan
melakukan kunjungan rumah menunjukkan komitmen penulis
sebagai dokter untuk meningkatkan sattus gizi balita.
Masalah yang sering dihadapi penulis dan petugas gizi adalah
walaupun sudah dilakukan konsultasi di puskesmas, orang tua dan
keluarga seringkali tidak menerapkannya di rumah sehingga status
gizi pasien tidak mengalami perbaikan. Kunjungan rumah juga
dimaksudkan untuk memantau pasien gizi buruk yang tidak datang
ke puskesmas.
7. Melakukan pemeriksaan tumbuh kembang pada balita dengan gizi
buruk dan gizi kurang
Balita adalah generasi penerus bangsa. Untuk mencetak generasi
yang berkualitas dibutuhkan tahap tumbuh kembang yang sempurna.
Jika fase tumbuh kembang balita terganggu, misalnya mengalami gizi
buruk dan gizi kurang, bisa dipastikan tumbuh kembang otak juga
terganggu.
a.

Aktualisasi
Pemeriksaan tumbuh kembang balita merupakan salah satu
kewajiban dokter untuk memelihara kesehatan balita.

b.

Nasionalisme
Sebagai seorang dokter yang memahami tugasnya, pemantauan
tumbuh kembang balita merupakan tugas yang penting.Balita yang
12

memiliki tumbuh kembang yang baikakan berkembang menjadi


generasi yang tangguh dan bisa berkiprah di pentas pergaulan
dunia.
c.

Etika Publik
Sebelum melakukan pemeriksaan tumbuh kembang, dokter atau
petugas meminta izin terlebih dahulu kepada orang tua dan keluarga.
Pemeriksaan dilakukan dengan sabar dan penuh kasih sayang.

d.

Komitmen Mutu
Dokter serta petugas melakukan pemeriksaan tumbuh kembang
dengan baik dan benar sesuai dengan standar keilmuan. Komitmen
ini dilakukan untuk meningkatkan pelayanan untuk balita

8. Terdapat

peningkatan

pengetahuan

orangtua

dan

keluarga

mengenai MP-ASI melalui penyuluhan


Beberpa

penelitian

membuktikan

tingkat

pengetahuan

ibu

berpengaruh terhadap keadaan kurang gizi pada balita. Wiryo (2002),


menyatakan bahwa keadaan gizi kurang pada bayi 7-12 bulan
disebabkan oleh pemberian MP-ASI yang tidak tepat. Ibu-ibu kurang
menyadari bahwa setelah bayi berumur 6 bulan memerlukan makanan
pendamping ASI dalam jumlah yang semakin bertambah sesuai
pertambahan

umur

bayi

dan

kemampuan

cerna.

Permasalahan

pemberian makanan bayi diantaranya adalah pemberian MP-ASI terlalu


dini, pemberian terlambat, frekuensi dan porsi yang tidak sesuai dengan
umur.
Penulis sebagai dokter yang memiliki tanggung jawab dalam
memberikan informasi mengenai pemberian MP-ASI yang tepat merasa
13

perlunya dilakukan penyuluhan ini untuk meningkatkan pengetahuan ibu


mengenai MP-ASI
a.

Akuntabilitas
Dalam tahapan kegiatan ini akuntabilitas dapat dilihat dalam
aspek orientasi hasil dimana penulis akan menyampaikan materi dan
memberikan

kesempatan

peserta

untuk

menggali

sebanyak-

banyakanya informasi MP-ASI dengan penuh rasa tanggung jawab


dan profesionalisme.
b. Nasionalisme
Penulis akan menyampaikan materi secara adil dan tidak
diskriminatif kepada semua orang tua dan keluarga.
c. Etika Publik
Materi penyuluhan akan disampaikan dengan sopan dan tidak
menyinggung. Penulis juga akan memberikan materi secara benar
dan tidak menyesatkan
d. Komitmen Mutu
Penyuluhan

akan

dilakukan

dengan

teknik

interaktif

dan

menggunakan media-media yang menarik serta menggunakan


bahasa yang sederhana agar orang tua dan keluarga balita dengan
tingkat pendidikan yang rendah dapat mengerti materi yang
disampaikan.
e. Anti Korupsi
Kegiatan akan dilakukan tepat waktu sesuai jadwal.
9. Pemberian PMT pemulihan pada pasien dengan gizi buruk dan gizi
kurang.
14

Pemberian Makanan Tambahan adalah program intervensi bagi


balita yang menderita urang gizi dimana tujuannya adalah untuk
meningkatkan status gizi anak agar tercapainya status gizi dan kondisi
gizi yang baik sesuai dengan umur anak tersebut. Sedangan pengertian
makanan untuk pemulihan gizi adalah makanan padat energi yang
diperkaya dengan vitamin dan mineral, diberikan kepada balita gizi buruk
selama masa pemulihan.
a.

Akuntabilitas
Petugas gizi bertanggung jawab dalam memberikan PMTpemulihan pada balita dengan kekurangan gizi. Masalah yang
kadang terjadi adalah masih terdapat balita yang tdak mendapatkan
PMT-pemulihan karena tidak terdapat di data balita dengan
kekurangan gizi.

b.

Nasionalisme
Semua balita yang mengalami kekurangan gizi akan diberikan
PMT-pemulihan secara merata.

c.

Komitmen Mutu
PMT yang diberikan sudah terstandarisasi dan dihitung menurut
kebutuhan gizinya. PMT yang diberikan juga akan dicek tanggal
kadaluarsanya dan layak konsumsi atau tidak.

d.

Anti Korupsi

15

Pemberian PMT pemulihan akan diberikan kepada balita yang


benar-benar mengalami kekurangan gizi. Data penerima PMT tidak
akan direkayasa dan akan ditulis sebenar-benarnya.
10. Pembagian resep MP-ASI kepada orangtua dan keluarga pasien gizi
buruk dan kurang
Kurangnya pengetahuan ibu mengenai MP-ASI dapat menyebabkan
ibu memberikan MP-ASI yang kurang bervariasi. Pemberian MP-ASI
yang kurang bervariasi dapat menyebabkan kekurangan vitamin dan
mineral tertentu pada balita. Selain masalah MP-Asi yang kurang
bervariasi, ibu juga sering memberikan MP-ASI yang tidak tepat sesuai
usia.
Penulis memandang perlunya pemberian resep MP-ASI kepada ibu
dan keluarga balita yang tepat sesuai dengan usia. Pemberian resep ini
dapat dilakukan secara rutin dan bervariasi setiap minggunya pada saat
kunjungan imunisasi.
a.

Akuntabilitas
Dokter bertanggung jawab memberikan informasi yang tepat
sesuai

keilmuan

untuk

mengatasi

permasalahan

kurangnya

pengetahuan ibu dan keluarga mengenai MP-ASI


b. Nasionalisme
Resep MP-ASI akan dibagikan secara merata kepada semua ibu
dan keluarga balita yang datang berkunjung ke Puskesmas pada
saat imunisasi.
c.

Komitmen Mutu

16

Penulis dan Petugas gizi akan berkomitmen untuk menyusun


resep MP-ASI yang sesuai dengan usia. Resep MP-ASI akan
menggunakan bahan-bahan yang mudah ditemukan di masyarakat
dan akan diganti menunya setiap minggu.
F. HAMBATAN DAN PEMECAHANNYA
No.
Kegiatan
1.
Penyusunan rencana
kegiatan
untuk
meningkatkan
pelayanan
gizi
bersama
Kepala
Puskesmas
dan
petugas gizi

Hambatan
Dalam proses
penyusunan rencana
kegiatan terkadang
Kepala Puskesmas
dan petugas gizi
memiliki rencana
yang berbeda

Solusi
Melaksanakan
musyawarah
dengan
mempertimbangkan
pendapat
dari
masing-masing
anggota

2.

Menyediakan
media
informasi
bagan
penilaian awal balita
dengan gizi buruk dan
gizi
kurang
dalam
bentuk yang aplikatif

Terdapat
beberapa
macam SOP dalam
pelayanan gizi dalam
pelayanan gizi buruk
dan gizi kurang

Berdiskusi bersama
petugas gizi untuk
memilih SOP yang
paling aplikatif dan
disesuaikan
dengan kondisi
puskesmas

3.

Mengumpulkan datadata jumlah pasien


dengan gizi buruk dan
gizi
kurang
yang
datang ke puskesmas

Data-data tidak
terkumpul dengan
rapi sehingga
terdapat kesulitan
untuk mengumpulkan
data-data tersebut

Mengumpulkan
data-data pasien
dalam satu arsip
secara sistematis
sehingga
memudahkan untuk
memonitoring dan
mengevaluasi data

4.

Penyaringan,
anmnesis,
dan
pemeriksaan
pasien
gizi buruk dan gizi
kurang
yang
berkunjung
ke
Puskesmas

-Anamnesis kurang
lengkap
karena
kadang anak diantar
oleh keluarga tidak
mengetahui kondisi
pasien.
-Pemeriksaan
terkadang sulit
dilakukan karena
pasien rewel saat
akan diperiksa

-Meminta agar lain


kali pasien ditemani
oleh orang tua atau
keluarga yang
mengetahui kondisi
pasien
- Menenangkan
pasien terlebih
dahulu sebelum
diperiksa,misalnya
dengan
menyediakan
mainan atau
17

meminta keluarga
untuk ikut
membantu
menenangkan
pasien
5.

Melaksanakan
konsultasi
mengenai
pemberian
MP-ASI
yang tepat pada orang
tua
dan
keluarga
pasien gizi buruk dan
gizi
kurang
yang
datang ke puskesmas

Keluarga atau pasien


seringkali
tidak
mengerti penjelasan
yang
disampaikan
sehingga
memberikan MP-ASI
yang yang tidak tepat
sesuai umur

Menjelaskan
kepada orang tua
dan
keluarga
pasien
sejelas
mungkin
dan
memberikan
pertanyaanpertanyaan untuk
memastikan bahwa
mereka
mengerti
apa yang telah
disampaikan

6.

Melaksanakan
Orang
tua
dan
pemantauan konsumsi keluarga pasien tidak
pemantauan konsumsi berada di rumah
MP-ASI
dan
pengontrolan
status
gizi pasien melalui
kunjungan rumah

Memberitahukan
jadwal kunjungan
sebelumnya
dan
meminta no telepon
yang
bisa
dihubungi
untuk
menggingatkan
janji

7.

Melakukan
pemeriksaan tumbuh
kembang pada balita
dengan gizi buruk dan
gizi kurang

Pada
saat
pemeriksaan kadang
pasien rewel atau
menangis sehingga
sulit diajak bekerja
sama

Menenangkan
pasien
dengan
meminta bantuan
orang
tua
atau
keluarga pasien

8.

Meningkatkan
pengetahuan keluarga
dan
orang
tua
mengenai
MP-ASI
melalui penyuluhan

Sulitnya
mengumpulkan
orang tua dan
keluarga karena
masing-masing
memiliki
kesibukannya sendiri

Memberikan
penyuluhan pada
saat orang tua atau
keluarga
datang
unutk imunisaasi

9.

Pemberian
PMT Pemberian sering
(pemberian makanan) tidak merata kepada
pemulihan
balita yang
kekurangan gizi

Mengawasi secara
ketat
pembagian
PMT

10.

Pembagian buku resep Memerlukan

alokasi Mengajukan
18

mengenai
MP-ASI dana
untuk
kepada kader dan pencetakan buku
orang tua dari balita
dengan gizi buruk dan
gizi kurang

G.

kepada bendahara
puskesmas untuk
menganggarkan
dana
membuat
buku

KONTRIBUSI TERHADAP ORGANISASI


1. Meningkatkan

pelayanan

gizi

di

puskesmas

untuk

mewujudkan

pelayanan yang profesional, bermutu dan akuntabel.


2. Meningkatkan pengetahuan orang tua dan keluarga pasien dengan gizi
buruk dan gizi kurang mengenai MP-ASI sehingga program perbaikan
gizi dapat berlangsung lebih baik.
3. Menurunkan kejadian gizi buruk dan gizi kurang dalam rangka
menciptakan generasi yang sehat dan berkualitas.
4. Meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan
di puskesmas, terutama pelayanan di bidang gizi.
H.

KESIMPULAN DAN KOMITMEN


1. KESIMPULAN
Peningkatan mutu pelayanan gizi di Puskesmas dapat diakukan
apabila ada komitmen seluruh pegawai Puskesmas. Komitmen untuk
bersama-sama menciptakan budaya kerja yang akuntabel, menjunjung
rasa nasionalisme, memiliki komitmen mutu dan antikorupsi. Budaya
yang seperti ini membantu mewujudkan visi dan misi Puskesmas.
2. KOMITMEN
Penulis akan selalu berinovasi dalam meningkatkan pelayanan
kesehatan di Puskesmas tempat penulis bekerja. Penulis juga akan
selalu berusaha memberikan keteladanan serta motivasi kepada semua
19

rekan kerja baik tenaga medis maupun non medis. Hal ini dilakukan
untuk menciptakan budaya kerja yang akuntabel,menjunjung rasa
nasionalis, beretika, memiliki komitmen mutu dan akuntabel

20