Anda di halaman 1dari 104

Oxfam di Indonesia

K
I
T
S
I
R
E
T
K
A
KAR
T
A
K
A
R
A
Y
S
A
M

A
N
A
C
N
E
B
N
A
TAH
SEBUAH CATATAN PANDUAN
Versi 2 November 2009

John Twigg

Plan Internasional Indonesia

Versi elektronik catatan panduan ini dapat diunduh dari salah satu laman web
Karakteristik Masyarakat Tahan Bencana
(tersedia dua laman web dengan dokumen yang sama). Kunjungi:
www.proventionconsortium.org/?pageid=90 (situs web ProVention Consortium)
atau
www.abuhrc.org/research/dsm/Pages/project_view.aspx?project=13
(situs web Aon Benfield UCL Hazard Research Centre)
Kedua laman web di atas juga memuat edisi pertama catatan panduan (dalam bahasa
Inggris, Spanyol, Prancis, dan Indonesia), studi kasus, presentasi, serta dokumen
lain yang berkaitan dengan kerentanan masyarakat.
Salinan catatan pedoman ini beserta dokumen lain juga dapat diperoleh dari penulis,
Dr John Twigg di University College London (j.twigg@ucl.ac.uk), yang sekaligus
bersedia menerima pertanyaan dan umpan balik.
Versi Bahasa Indonesia diterjemahkan oleh Tim Penerjemah Terra Firma
Indonesia. Disunting oleh Avianto Amri. Penyelaras akhir oleh Amin Magatani,
Yusra Tebe, Katharina M Anggraeni, dan Cici Riesmasari, didukung oleh Plan
International Indonesia dan Oxfam di Indonesia.
Department for International Development Disaster Risk Reduction Interagency
Coordination Group (DFID-DRR-ICG) mendorong penerjemahan dan penyebarluasan
Karakteristik Masyarakat Tahan Bencana ini dan berterimakasih kepada Plan
International Indonesia dan Oxfam di Indonesia atas inisiatif penerjemahan dokumen
ini ke dalam Bahasa Indonesia. DFID-DRR-ICG tidak terlibat dalam terjemahan ini
sehingga tidak bertanggung jawab atas isinya.
Pencetakan buku ini didukung oleh Australia-Indonesia Facility for Disaster Reduction
(AIFDR), AusAID. AIFDR tidak terlibat dalam terjemahan buku ini sehingga tidak
bertanggung jawab atas isinya.

2012

DAFTAR ISI

Prakata
Singkatan dan akronim
Ucapan terima kasih
Tindak lanjut untuk Karakteristik

5
7
7
8

Bagian 1: Pendahuluan
1.1 Isi catatan pedoman ini
1.2 Menggunakan Karakteristik: sebuah ikhtisar

8
8
9

Bagian 2: Konsep kunci


2.1 Pengurangan Risiko Bencana (PRB)
2.2 Ketahananan dan masyarakat tahan bencana
2.3 Masyarakat

10
10
10
11

Bagian 3: Tabel Karakteristik: sebuah paparan


3.1 Area Tematik
3.2 Komponen Ketahananan
3.3 Karakteristik Masyarakat Tahan Bencana
3.4 Karakteristik Lingkungan Kondusif
3.5 Tantangan

3.5.1 Keterbatasan pendekatan kerangka kerja

3.5.2 Keterbatasan HFA

3.5.3 Aspek sikap ketahananan

12
12
12
14
15
16
16
16
17

Bagian 4: Sikap menggunakan Karakteristik


4.1 Ikhtisar dan konteks

4.1.1 Ikhtisar

4.1.2 Konteks

(a) Adaptasi Perubahan Iklim (API)

(b) Pasca bencana

(c) Konflik
4.2 Memperkenalkan Karakteristik: membangun kapasitas pengguna

4.2.1 Audiens dan kelompok pengguna sasaran

4.2.2 Cara memperkenalkan Karakteristik kepada pengguna

(a) Prinsip dasar

(b) Pendekatan induksi dan pelatihan

(c) Penerimaan dan aplikasinya oleh organisasi
(d) Penerjemahan

(e) Sikap positif
4.3 Memilih, memodifikasi, dan menyesuaikan Karakteristik

4.3.1 Alasan Karakteristik harus dimodifikasi

4.3.2 Kemungkinan pendekatan

4.3.3 Karakteristik kunci

4.3.4 Menetapkan prioritas

4.3.5 Tonggak riwayat
4.4 Mengaplikasikan ke dalam aktivitas PRB

4.4.1 Perencanaan strategis dan kemitraan

(a) Perencanaan strategis

(b) Menetapkan ruang lingkup

(c) Kebutuhan dan peluang kemitraan

17
17
17
18
18
19
19
19
19
20
20
21
21
22
22
22
21
23
23
24
25
26
26
26
26
27

DAFTAR ISI


4.4.2 Manajemen siklus proyek

(a) Kajian dasar

(b) Kerentanan dan analisis kapasitas

(c) Desain proyek: memilih indikator

(d) Telaah dan evaluasi

4.4.3 Penelitian

4.4.4 Advokasi

28
28
29
30
31
33
33

Bagian 5: Bacaan lanjutan

34

Bagian 6: Tabel Karakteristik


1. Area Tematik Tata Kelola
2. Tematik Penilaian Risiko
3. Tematik Manajemen dan Pengetahuan
4. Tematik Manajemen Risiko dan Pengurangan Kerentanan
5. Tematik Kesiapsiagaan Bencana dan Tanggap Darurat

36
36
41
43
47
54

Kotak-kotak
1. Prakarsa indikator PRB yang lain
2. Mengintegrasikan PRB & API
3. Menciptakan proses ketahananan yang sukses
4. Bekerjasama dengan pemuda
5. Mengadaptasi Karakteristik ke dalam konteks lokal
6. Membuat Area Tematik baru
7. 20 teratas Karakteristik Tearfund
8. Indikator kunci PKBA untuk ketahananan masyarakat
9. Pemetaan kerentanan dan kapasitas menggunakan kerangka kerja Karakteristik
10. Mengubah Karakteristik menjadi indikator
11. Karakteristik/indikator: Kuantitatif atau kualitatif?
12. Meriset pembangunan ketahananan
13. Menghubungkan ketahananan masyarakat dengan Lingkungan Kondusif

60
60
61
63
64
64
65
68
71
72
73
74
75
75

Studi kasus
1. Membantu praktisi PRB untuk mendefinisikan ketahananan dalam konteks
pedesaan di Bangladesh
2. Memperkenalkan Karakteristik kepada staf lapangan mitra NGO di Nepal
3. Menggunakan Karakteristik untuk menilai kapasitas keterampilan dan kesenjangan
4. Menyesuaikan Karakteristik untuk pengurangan risiko berpusat-anak
5. Perencanaan strategis menggunakan Karakteristik
6. Menggunakan Karakteristik untuk telaah dan evaluasi
7. Menggunakan Karakteristik untuk pengumpulan data dan riset

77
77

Gambar
1. HFA
2. Tata letak dan format tabel Karakteristik

79
86
88
93
96
98

PRAKATA
Selamat membaca Karakteristik Masyarakat
Tahan Bencana! Kami berharap Anda
bersemangat untuk berkenalan dengan buku
ini, dan belajar untuk menyelami keluasan
serta kedalaman dari buku Karakteristik.
Sebagai kelompok lembaga pemrakarsa,
kami telah menikmati, sekaligus terlimpahi
dengan, kekayaan wawasan yang ditawarkan
Karakteristik. Setiap lembaga membuktikan
bahwa Karakteristik berhasil memberikan
sebentuk motivasi baru bagi para staf dan mitra,
yang pada gilirannya memberikan manfaat
kepada masyarakat yang dilayani.
Pengembangan Karakteristik Masyarakat Tahan
Bencana diprakarsai oleh sebuah kelompok
yang terdiri atas enam lembaga - ActionAid,
Christian Aid, Plan UK, Practical Action dan
Tearfund, bersama dengan British Red Cross/
International Federation of Red Cross and Red
Crescent Societies. Dalam beberapa tahun
terakhir, Kelompok Antar Lembaga (Interagency
Group) ini telah menerima pendanaan dari
UK DFID untuk prakarsa pengurangan risiko
bencana (PRB), serta untuk mendukung
promosi HFA, khususnya pada tingkat lokal.
Namun demikian, saat mendiskusikan cara
memantau keberhasilan implementasi HFA,
terungkap bahwa tidak terdapat kerangka kerja
untuk memahami dampaknya pada tingkat akar
rumput.
Kelompok Antar Lembaga yang didanai DFID
berdiskusi bersama John Twigg mengenai
peluang untuk mendefinisikan gambaran
masyarakat tahan bencana sesungguhnya;
dan cara mengembangkan indikator dari
sini. Selanjutnya, John Twigg dan sebuah
tim pendukung dilibatkan sebagai konsultan
untuk mengidentifikasi karakteristik dasar
ketahananan masyarakat yang dapat melengkapi
pengembangan indikator tingkat nasional dan
internasional yang dimotori lembaga PBB.
Tahap pertama prakarsa ini membuahkan
seperangkat karakteristik multi-bahaya/multikonteks, dengan judul; Karakteristik Masyarakat
Tahan Bencana: Sebuah Catatan Pedoman,
pada Agustus 2007 yang dipublikasikan
secara luas di kalangan lembaga PRB.
Tahap selanjutnya adalah mengadakan uji
1

Umpan balik dari Jos Luis Penya, Christian Aid.

lapangan atas buku Karakteristik. Berbagai


lembaga diajak untuk menerapkan Karakteristik
dalam pekerjaan mereka sebagai percontohan
dan memberikan umpan balik atas hasilhasilnya. Mereka didorong untuk menggunakan
buku dengan cara apapun yang dianggap sesuai
misalnya dalam menetapkan desain proyek
mendatang, mengembangkan desain berjenjang
atau mengukur pekerjaan yang sudah dimulai
serta mengadaptasikannya dengan kebutuhan
mereka sendiri dan dalam konteks operasi.
Selama dua tahun terakhir sambutan atas
Karakteristik sangat menggembirakan. Semua
anggota Kelompok Antar Lembaga telah
menggunakan Karakteristik secara luas,
sedangkan banyak organisasi lain di seluruh
dunia akan segera mengenal potensi Karakteristik
dan merasa antusias dengan kemungkinan
yang ditawarkan oleh buku tersebut. Mereka
sangat berminat untuk mengaplikasikannya ke
dalam kerja PRB serta membagikan pendekatan
tersebut sebagaimana ungkapan berikut:
Akhirnya, sebuah observasi: Staf lapangan
biasanya terlihat kewalahan dengan dokumen
pada kali pertama (demikian pula saya). Namun
setelah menyelami dan memahami manfaatmanfaat potensialnya, konsekuensi yang
umum terjadi adalah luapan motivasi untuk
melakukan tindakan lebih lanjut. Ini tampak
jelas selama riset lapangan terakhir di Malawi
... Saya mendengar staf lapangan, mitra lokal
biasanya organisasi kecil dengan sedikit
staf berspesialiasi petugas penyuluh dan
tokoh masyarakat menyampaikan komentar
seperti sekarang kami memiliki sudut
pandang baru mengenai bencana, mata kami
telah terbuka, sekarang kami tahu apa yang
harus dilakukan, serta ungkapan-ungkapan
sejenis. Saya bahkan menyaksikan seorang
pejabat pemerintah kabupaten secara
spontan mengritik aktivitasnya sendiri dan
mengusulkan perubahan ... 1
Edisi
kedua
Karakteristik
ini
disusun
berdasarkan umpan balik dari uji lapangan.
Kerangka kerja dasar tidak diubah namun
diberikan panduan yang lebih praktis mengenai
metode pengaplikasian dan pengadaptasian
buku tersebut, dengan contoh dan studi kasus.

Kami sangat gembira bahwa Karakteristik


diterima sebagai salah satu buku untuk API,
yang berarti bahwa bencana akibat variabilitas
iklim semakin dirasakan oleh masyarakat di
seluruh dunia, dengan dampak yang paling
merata pada negara-negara berkembang.
Akhirnya, sebagai kelompok lembaga, kami
tidak dapat menutupi keinginan kami agar
PRB berbasis masyarakat menjadi sesuatu
yang fundamental dalam pengurangan risiko
dan dampak bencana. Kami juga harus
mengungkapkan keprihatinan bahwa selama
ini tidak ada target atau komitmen yang
mengikat dari pemerintah untuk pemerintah
dalam proses Hyogo. Untuk itu kami ingin
menawarkan kontribusi ini kepada masyarakat
PRB sebagai sebuah langkah untuk mengukur
keberhasilan Aksi Hyogo, dan mendesak
Anda untuk bergabung dengan prakarsa lain
dalam wilayah Anda yang akan berkontribusi
untuk menjadikan HFA lebih bermanfaat.
Akhirnya,
Karakteristik
adalah
sebuah
upaya untuk membantu masyarakat dalam

memastikan bahwa ketika terjadi dampak


bahaya, mereka siap dengan keterampilan,
buku, dan kepercayaan diri untuk mengurangi
dampak, mengelola respon, dan memastikan
pemulihan yang cepat. Ini hanya dapat
dicapai jika pemerintah, LSM, akademisi, dan
masyarakat bekerjasama dalam kemitraan.

Oenone Chadburn
Kepala Unit Manajemen Bencana
Tearfund
Atas nama Kelompok Antar Lembaga (ActionAid,
British Red Cross, Christian Aid, Practical Action,
Plan UK danTearfund)
Desember 2009

SINGKATAN DAN AKRONIM


ADPC
Asian Disaster Preparedness Center (Pusat Kesiapsiagaan Bencana Asia)
CBDM
Community-based disaster management (manajemen bencana berbasis masyarakat)
CBDRM
Community-based disaster risk management (manajemen risiko bencana berbasis
masyarakat)
CBO
Community-based organization (organisasi berbasis masyarakat)
CCA
Climate change adaptation (adaptasi perubahan iklim/API)
CSO
Civil society organization (organisasi masyarakat sipil)
DFID
Department for International Development (Departemen Pembangunan Internasional)
DP
Disaster preparedness (kesiapsiagaan bencana)
DRM
Disaster risk management (manajemen risiko bencana)
DRR
Disaster risk reduction (pengurangan risiko bencana/PRB)
EW
Early warning (peringatan dini)
EWS
Early warning system (sistem peringatan dini)
HFA
Hyogo Framework for Action (Kerangka Kerja Aksi Hyogo)
IFRC
International Federation of Red Cross and Red Crescent Societies

(Perhimpunan International Federasi Palang Merah dan Bulan Sabit Merah)
M&E
Monitoring and evaluation (pemantauan dan evaluasi)
NGO
Non-governmental organization (organisasi non pemerintah)
PTSD
Post-traumatic stress disorder (gangguan stres pasca trauma)
UN (PBB) United Nations (Perserikatan Bangsa-Bangsa)
UN ISDR
UN International Strategy for Disaster Reduction (Strategi Internasional untuk

Pengurangan Bencana PBB)
UN OCHA UN Office for Coordination of Humanitarian Affairs (Kantor PBB untuk Urusan
Koordinasi Kemanusiaan)
VCA
Vulnerability and capacity assessment/analysis (Kajian Kerentanan dan Kapasitas )
UCAPAN TERIMA KASIH
Umpan balik dari uji lapangan edisi pertama Karakteristik boleh dikatakan luar biasa. Anggota
Kelompok Antar Lembaga (ActionAid, British Red Cross, Christian Aid, Plan UK, Practical Action
dan Tearfund) yang memrakarsai pekerjaan ini telah memberikan kontribusi besar melalui komentar
dan studi kasus mereka: halaman-halaman berikut ini mengungkap betapa saya berutang kepada
mereka dan mitra mereka. Ini ditambah lagi dengan umpan balik yang ekstensif dari berbagai
organisasi lain, internasional, nasional, terlebih lokal. Sebagian besar bersifat spontan, tidak sebagai
jawaban atas pertanyaan langsung dari saya, seringkali berasal dari orang yang tidak saya kenal dan
terkadang dari organisasi yang belum pernah saya dengar sebelumnya. Ini semakin membuktikan
kebutuhan yang besar akan buku sejenis, yang terungkap sejak dimulainya proyek Karakteristik.
Terima kasih saya tujukan untuk setiap pihak yang terlibat, kepada DFID atas dukungannya bagi
Kelompok Antar Lembaga, dan khususnya untuk Oenone Chadburn di Tearfund dan Nick Hall di
Plan UK untuk manajemen simpatik mereka bagi proyek ini.

John Twigg
University College London
j.twigg@ucl.ac.uk
November 2009
7

TINDAK LANJUT UNTUK KARAKTERISTIK

Karakteristik Masyarakat Tahan Bencana hanya salah satu bentuk kontribusi bagi pembangunan
ketahanan masyarakat yang jauh lebih besar dan jangka panjang di seluruh dunia. Kami berharap
bahwa Karakteristik akan terus berkontribusi bagi proses tersebut dan Anda yang menggunakannya
akan membantu kami untuk memastikan agar Karakteristik selalu relevan.
Saat membaca dokumen ini, Anda akan menyadari betapa banyak organisasi yang telah
menggunakan sumber daya Karakteristik dan betapa beragamnya cara mereka mengaplikasikan.
Pada waktunya, kami berharap Karakteristik akan digunakan oleh lebih banyak organisasi yang
aktif dalam pengurangan risiko bencana, adaptasi perubahan iklim, serta aspek-aspek lain dari
pembangunan berkelanjutan.
Kami ingin agar proyek Karakteristik menjadi sebuah kendaraan untuk belajar dan berbagi informasi
mengenai ketahananan masyarakat memahaminya, menganalisisnya, mengimplementasikan
proyek pada tingkat akar rumput, dan melobi perubahan pada tingkat yang lebih tinggi. Kami akan
terus mengumpulkan dan membagikan pelajaran mengenai pengalaman mengaplikasikan sumber
daya Karakteristik, kontribusinya bagi pembangunan ketahananan dan cara mengadaptasinya agar
menjadi lebih bermanfaat.
Keterlibatan pengguna menjadi amat penting disini. Mohon kirimkan kepada kami umpan balik
mengenai pengalaman Anda dengan Karakteristik, sekaligus ide-ide untuk modifikasi atau aplikasi
baru; dan minta pula saran-saran jika dibutuhkan.
Informasi baru akan ditayangkan pada laman web Karakteristik Masyarakat Lenting Bencana:
www.proventionconsortium.org/?pageid=90 (situs web ProVention Consortium); dan www.abuhrc.
org/research/dsm/Pages/project_view.aspx?project=13 (situs web Aon Benfield UCL Hazard
Research Centre).
Umpan balik, ide, dan pertanyaan dapat dikirimkan kepada John Twigg di University College London
(j.twigg@ucl.ac.uk).

BAGIAN 1: PENDAHULUAN
1.1 ISI CATATAN PANDUAN INI
Karakteristik Masyarakat Tahan Bencana merupakan sebuah catatan panduan untuk pemerintah
dan masyarakat sipil yang menangani prakarsa pengurangan risiko bencana (PRB) serta adaptasi
perubahan iklim (API) pada tingkat masyarakat melalui kemitraan dengan masyarakat rentan.
Karakteristik memperlihatkan ciri sebuah masyarakat tahan bencana, dengan menyebutkan
berbagai elemen ketahananan. Karakteristik juga menyajikan sejumlah ide mengenai cara
meningkatkan ketahananan.
Karakteristik terdiri atas serangkaian tabel (lihat Bagian 6) yang memuat karakteristik sebuah
masyarakat tahan bencana, yang dilengkapi dengan pedoman mengenai cara menggunakannya
(Bagian 4).
Tabel dipaparkan lebih rinci di bawah ini (Bagian 3). Tabel dibagi ke dalam lima judul tematik,
yang masing-masing mewakili area utama intervensi PRB, berdasarkan kerangka kerja yang
dikembangkan oleh UNISDR: HFA. Skema ini digunakan karena telah diterima secara umum oleh
PBB dan lembaga internasional lain, sejumlah besar pemerintah nasional dan banyak NGO. HFA
memuat tiga sasaran strategis dan menguraikan lima prioritas aksi yang mencakup area utama
PRB. Tabel juga mengusulkan area penting untuk intervensi dalam tiap tema: lihat Gambar 1 (HFA)

Gambar 1: Kerangka Kerja Hyogo untuk Aksi


Hasil yang diharapkan, sasaran-sasaran strategis dan prioritas-prioritas aksi 2005-2015
Hasil yang Diharapkan

Berkurangnya secara berarti kerugian-kerugian yang ditimbulkan oleh bencana, baik dalam hal jumlah korban jiwa
dan kerusakan aset-aset sosial, ekonomi dan lingkungan yang dimiliki masyarakat dan negara-negara

Sasaran-sasaran Strategis
Pemaduan pengurangan risiko bencana ke dalam kebijakankebijakan dan perencanaan pembangunan berkelanjutan

Pengembangan
dan
penguatan
lembaga-lembaga,
mekanisme dan kapasitas untuk membangun ketahanan
terhadap bahaya

Pemaduan secara sistematis pendekatan-pendekatan


pengurangan risiko ke dalam pelaksanaan programprogram kesiapsiagaan darurat, tanggap darurat dan
pemulihan

Prioritas-prioritas Aksi

Kegiatan-kegiatan Utama

1. Memastikan agar pengurangan


risiko bencana (PRB) menjadi
sebuah prioritas nasional dan
lokal dan didukung dengan
landasan kelembagaan yang
kuat
-- Mekanisme kelembagaan
PRB (platform nasional);
penunjukkan tanggung jawab
-- PRB menjadi bagian dari
kebijakan dan perencanaan
pembangunan, baik per sektor
dan multi-sektor
-- Peraturan perundang-undangan
yang mendukung PRB
-- Desentralisasi tanggung jawab
dan sumber-sumber daya
-- Pengkajian sumber-sumber dan
kapasitas manusia
-- Mendorong komitmen politik
-- Partisipasi masyarakat

2. Mengidentifikasikan, mengkaji
dan memantau risiko-risiko
bencana dan meningkatkan
sistem peringatan dini
- Pengkajian-pengkajian dan
peta-peta risiko, multi risiko:
penjabaran dan penyebarluasan
- Indikator-indikator PRB dan
kerentanan
- Peringatan dini: berbasis
masyarakat; sistem informasi;
kebijakan publik
- Data dan informasi statistik
tentang kerugian
- Pengembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi;
berbagi data; observasi bumi
berbasis ruang angkasa;
pemodelan dan peramalan iklim;
sistem peringatan
- Risiko-risiko regional dan risiko
yang tengah muncul

3. Menggunakan pengetahuan,
inovasi dan pendidikan
untuk membangun budaya
keselamatan dan ketahanan di
semua tingkat
- Pertukaran informasi dan
kerjasama
- Jaringan lintas disiplin dan
wilayah; dialog
- Penggunaan peristilahan PRB
yang standar
- PRB dimasukkan ke dalam
kurikulum sekolah; pendidikan
formal dan informal
- Pelatihan dan pembelajaran di
tingkat masyarakat, pemerintah
lokal, sektor-sektor sasaran,
akses yang setara
- Kapasitas penelitian: multi risiko;
sosial-ekonomi; penerapan
- Kesadaran masyarakat dan
media

4. Mengurangi faktor-faktor akar


dari risiko
- Manajemen ekosistem dan
lingkungan hidup yang
berkelanjutan
- Strategi-strategi PRB terpadu
dengan adaptasi perubahan iklim
- Keamanan pangan untuk
ketahanan
- PRB terpadu ke dalam sektor
kesehatan dan rumah sakit yang
aman
- Perlindungan fasilitas-fasilitas
umum yang penting
- Program pemulihan dan jaring
pengaman sosial
- Pengurangan kerentanan
dengan pilihan diversifikasi mata
pencaharian
- Mekanisme berbagi risiko
keuangan
- Kemitraan publik-swasta
- Rencana tata guna lahan dan
standar bangunan
- Rencana pembangunan
pedesaan dan PRB

5. Memperkuat kesiapsiagaan
terhadap bencana agar
tercipta tanggap bencana yang
efektif di semua tingkat
- Kapasitas penanggulangan
bencana: kapasitas kebijakan,
teknis dan kelembagaan
- Dialog, koordinasi dan
pertukaran informasi antara
para pengelola penanggulangan
bencana dan sektor
pembangunan
- Pendekatan regional terhadap
tanggap bencana, dengan fokus
pada pengurangan risiko
- Peninjauan dan gladi rencanarencana kesiapsiagaan serta
kontinjensi
- Dana-dana darurat
- Kerelawanan dan partisipasi

Isu-isu Lintas Bidang


Pendekatan multi-bahaya

Perspektif gender dan keanekaragaman


budaya

Partisipasi masyarakat dan


para relawan

Peningkatan kapasitas dan


alih teknologi

PRB = Pengurangan Risiko Bencana www.unisdr.org

Proyek Karakteristik hanya satu dari sejumlah prakarsa mutakhir dan berkelanjutan dalam bidang
ini. Mengingat pentingnya PRB semakin luas diakui, banyak organisasi yang telah mengembangkan
indikator pencapaian. Kotak 1 (prakarsa indikator PRB lain) mengidentifikasi sejumlah upaya
internasional penting, menitikberatkan perhatian secara khusus pada indikator tingkat nasional.
Anda mungkin akan terbantu dengan mempelajari prakarsa-prakarsa tersebut beserta hasilnya.
Ini adalah edisi kedua Karakteristik. Edisi kedua ini disusun berdasarkan studi pustaka (desk
research), diskusi dengan pakar, dan umpan balik dari periode panjang uji lapangan edisi percontohan
oleh sejumlah lembaga. Namun demikian kami masih terus mempelajari mengenai nilai serta cara
pengaplikasiannya dan membuka diri untuk umpan balik lebih lanjut dari para pengguna.2
1.2 MENGGUNAKAN KARAKTERISTIK: SEBUAH IKHTISAR
Dokumen ini memuat panduan ekstensif mengenai cara mengaplikasikan Karakteristik dalam
pekerjaan Anda (lihat Bagian 4), namun demikian tetap penting untuk melakukan observasi
pendahuluan di sini.
Pertama, dan paling penting, catatan panduan Karakteristik merupakan sebuah referensi,
bukan manual. Catatan panduan Karakteristik didesain untuk mendukung proses mobilisasi
masyarakat dan kemitraan untuk PRB.
Pengguna dapat memilih informasi dan ide yang relevan untuk membantu kerja lapangan mereka,
sesuai dengan kebutuhan dan prioritas masing-masing. Pilihan ini harus bersumber dari pemikiran
yang cermat oleh masyarakat dan organisasi yang bekerjasama dengan mereka, dan dari diskusi
antar mereka.
2

Kontak penulisnya, John Twigg, University College London (j.twigg@ucl.ac.uk).

Harus ditekankan pula bahwa masyarakat tahan bencana yang disampaikan di sini merupakan
sebuah kondisi ideal, mengingat dalam realitas tidak ada masyarakat yang bebas dari risiko.
Tabel menyajikan karakteristik kondisi ideal tersebut, bukan indikator proyek dalam pengertian
yang konvensional. Namun demikian, dengan mengombinasikan beragam elemen ketahanan yang
diidentifikasi di sini, proyek PRB akan sangat membantu meningkatkan kapasitas masyarakat untuk
bertahan dalam situasi bahaya.
Poin penting lain yang harus diingat adalah bahwa karakteristik yang dimuat di sini merupakan
karakteristik yang bersifat umum dalam segala konteks, sementara setiap proyek, lokasi,
dan masyarakat bersifat unik. Mereka yang menggunakan catatan panduan ini mungkin akan
menitikberatkan perhatian pada elemen-elemen ketahananan yang paling sesuai dengan kondisi
kerja atau bentuk pekerjaan yang mereka lakukan.

BAGIAN 2: KONSEP KUNCI


Ada tiga konsep yang bersifat sentral dalam catatan panduan ini: PRB, ketahananan, dan
masyarakat. Penting untuk memikirkan mengenai makna ketiganya sebelum menggunakan tabel.
2.1 PRB
PRB merupakan sebuah konsep yang relatif baru. Ada tiga definisi yang berbeda mengenai istilah
tersebut dalam literatur teknis meski secara umum dimaknai sebagai pengembangan secara luas
dan aplikasi kebijakan, strategi, serta praktik untuk meminimalisasi kerentanan dan risiko bencana
di tengah masyarakat.3
PRB adalah sebuah pendekatan sistematis untuk mengidentifikasi, menilai, dan mengurangi risiko
bencana. PRB bertujuan untuk mengurangi kerentanan sosial ekonomi terhadap bencana sekaligus
menyiasati bahaya lingkungan serta bahaya lain yang memicunya. PRB merupakan tanggung jawab
lembaga pembangunan dan lembaga bantuan sejenis serta harus menjadi bagian integral dari cara
organisasi tersebut melaksanakan pekerjaan mereka, bukan sekedar tambahan (add-on) atau aksi
sekali selesai (one-off action). PRB memiliki rentang yang sangat luas dan terdapat potensi serta
kebutuhan akan prakarsa PRB hampir pada setiap sektor pekerjaan pembangunan dan kemanusiaan.
Tidak ada kelompok atau organisasi yang dapat menangani semua aspek PRB sendiri. PRB
melihat bencana sebagai problem kompleks yang membutuhkan respon kolektif dari berbagai
kelompok disiplin ilmu dan kelompok institusional dengan kata lain, kemitraan. Ini adalah faktor
yang penting, karena setiap organisasi harus memutuskan di mana akan memfokuskan upaya
mereka sendiri dan cara bekerjasama dengan mitra untuk memastikan bahwa aspek ketahananan
yang lain bisa ditangani (lihat Bagian 4.4.1 untuk ide mengenai cara menggunakan Karakteristik
dalam mengidentifikasi kebutuhan dan peluang kemitraan).
2.2 KETAHANANAN DAN MASYARAKAT TAHAN BENCANA
Banyak upaya yang telah dilakukan untuk mendefinisikan ketahananan, baik dalam konteks PRB
maupun API. Keragaman definisi dan konsep akademis mungkin akan membingungkan. Untuk
tujuan operasional akan lebih bermanfaat jika digunakan definisi yang luas dan karakteristik yang
telah lazim dipahami. Dengan pendekatan ini, sistem atau ketahananan masyarakat dapat dipahami
sebagai kapasitas untuk:
Istilah pengurangan bencana sering digunakan untuk memaknai hal yang sama. Pengelolaan risiko bencana kadang-kadang digunakan dengan
cara demikian, walaupun biasanya secara khusus diterapkan pada dimensi operasional PRB. Beberapa lembaga mulai menggunakan pengurangan
risiko sebagai istilah yang memayungi untuk membantu mengintegrasikan bencana dan pekerjaan pembangunan.
Ingat bahwa tabel Karakteristik dimaksudkan sebagai sumber daya untuk serangkaian organisasi yang bekerja pada tingkat lokal dan masyarakat,
baik secara kolektif maupun sendiris-sendiri. Elemen ketahananan tertentu mungkin lebih relevan untuk sebagian organisasi dan konteks dibanding
yang lain.
3

mengantisipasi, meminimalisasi, dan menyerap potensi stres atau kekuatan destruktif melalui
adaptasi atau resistensi
mengelola, atau menjaga fungsi dan struktur dasar tertentu, selama peristiwa bencana
memulihkan atau melambungkan balik setelah sebuah peristiwa bencana.
Ketahananan secara umum dilihat sebagai konsep yang lebih luas dibanding kapasitas karena
lebih luas dari strategi dan langkah perilaku khusus untuk pengurangan dan manajemen risiko
yang umum dipahami sebagai kapasitas. Namun demikian, sulit untuk memisahkan kedua konsep
secara tegas. Dalam penggunaan sehari-hari kapasitas dan kapasitas penanggulangan seringkali
bermakna sama sebagai ketahananan.
Fokus pada ketahananan berarti memberikan penekanan lebih berat pada hal-hal yang dapat
dilakukan masyarakat untuk diri sendiri serta cara memperkuat kapasitas mereka, daripada
berkonsentrasi pada kerentanan mereka terhadap bencana atau kejutan dan tekanan
lingkungan, atau kebutuhan dalam kedaruratan.
Istilah ketahananan dan kerentanan dapat dilihat sebagai sisi berlawanan dari mata uang yang
sama, namun keduanya bersifat relatif. Harus digali terhadap hal apa saja masyarakat menjadi
rentan atau tahan, dan sejauh mana.
Sebagaimana kerentanan, ketahananan juga bersifat kompleks dan memiliki banyak sisi. Beragam
segi atau lapisan ketahananan harus berhadapan dengan beraneka bentuk dan bobot risiko, kejutan,
stres, atau perubahan lingkungan.
Tidak ada masyarakat yang dapat benar-benar bebas dari bahaya alamiah maupun bahaya akibat
perilaku manusia. Mungkin lebih tepat untuk mengasumsikan ketahananan bencana atau masyarakat
tahan bencana sebagai masyarakat teraman yang paling mungkin kita desain dan bangun dalam
konteks bahaya alamiah,4 dengan meminimalisasi kerentanannya melalui maksimalisasi aplikasi
langkah-langkah PRB. PRB karenanya merupakan kumpulan aksi, atau proses, yang dijalankan
untuk mencapai ketahananan.
2.3 MASYARAKAT
Dalam manajemen kedaruratan konvensional, masyarakat dilihat dari kacamata spasial: Kelompok
orang yang tinggal di sebuah wilayah yang sama atau dekat dengan risiko yang sama. Ini
mengabaikan dimensi signifikan lain dari masyarakat yang terkait dengan kepentingan, nilai,
aktivitas, dan struktur yang sama.
Masyarakat bersifat kompleks dan seringkali tidak menyatu. Akan terdapat keragaman dalam
hal kesejahteraan, status sosial, dan aktivitas pekerjaan antar orang yang tinggal dalam wilayah
yang sama serta mungkin terjadi pengelompokan yang lebih tajam di tengah masyarakat. Individu
mungkin menjadi anggota dari beberapa masyarakat sekaligus, akibat beragam faktor seperti
lokasi, pekerjaan, status ekonomi, gender, agama, atau kepentingan rekreasional. Masyarakat
bersifat dinamis: orang bisa terhimpun karena tujuan yang sama dan berpisah kembali setelah
tujuan tersebut tercapai.
Faktor-faktor tersebut menyebabkan kesulitan untuk mengidentifikasi secara tegas masyarakat yang
menginduki seseorang. Dari perspektif bahaya, dimensi spasial amat penting untuk mengidentifikasi
masyarakat yang berisiko. Namun demikian, ini harus dihubungkan dengan pemahaman mengenai
4
Geis DE 2000, Berdasarkan Desain: Resistensi Bencana dan Masyarakat Kualitas-Hidup. Natural Hazards Review 1(3): 151-160 (quote at p.152).
Masyarakat tidak hidup dalam isolasi. Tingkat ketahananan masyarakat juga dipengaruhi oleh kapasitas di luar, khususnya layanan manajemen
kedaruratan di samping layanan sosial dan administratif lain, infrastruktur publik dan jaringan pertalian sosial ekonomi serta politik dengan dunia yang
lebih luas. Hampir semua masyarakat bergantung kepada pembawa tugas dan penyedia layanan eksternal dengan tingkat ketergantungan yang
besar maupun sedikit, bahkan meskipun sebagian masih sangat terpinggirkan. Bagian Lingkungan Kondusif dalam tabel berupaya untuk menangkap
sebagian pengaruh tersebut (liha Bagian 3.4).

11

diferensiasi sosial ekonomi, pertalian, dan dinamika dalam wilayah berisiko, tidak hanya
mengidentifikasi kelompok rentan namun juga memahami ragam faktor yang berkontribusi terhadap
kerentanan. Bisnis, layanan, dan infrastruktur masyarakat juga harus dipertimbangkan.
BAGIAN 3: TABEL KARAKTERISTIK: SEBUAH PAPARAN
Pada bagian inti Karakteristik terdapat seperangkat tabel yang bertujuan untuk memberikan
gambaran komprehensif mengenai masyarakat tahan bencana (lihat Bagian 6). Tabel memang
cukup kompleks, namun telah disusun berdasarkan berbagai tingkatan dan isu agar lebih mudah
dipahami dan digunakan.
Bagian ini memaparkan bagaimana tabel disusun dan memberikan sejumlah saran mengenai
alternatif penggunaan buku.5 Bagian 4 mendiskusikan beragam aplikasi Karakteristik secara lebih
lengkap, dengan contoh-contoh dari uji lapangan.
3.1 AREA TEMATIK
Tabel dibagi menjadi lima area penting yang berkaitan dengan ketahananan dan PRB: kesemuanya
disebut Area Tematik. Area tematik diambil dari HFA (lihat Bagian 1.1 di atas) dan dimaksudkan agar
dapat menjangkau semua aspek ketahananan. Kelima Area Tematik adalah sebagai berikut.
Area Tematik
1
Tata Kelola
2
Penilaian risiko
3
Pengetahuan dan Edukasi
4
Manajemen Risiko dan Pengurangan Kerentanan
5
Kesiapsiagaan dan Respon Bencana
Area Tematik memiliki rentang yang sangat luas sebagaimana dapat dilihat dari tabel (khususnya
Area Tematik4: Manajemen Risiko dan Pengurangan Kerentanan). Masing-masing karenanya
dibagi menjadi tiga subseksi yang akan dibahas di bawah ini:
Komponen Ketahananan
Karakteristik Masyarakat Tahan Bencana
Karakteristik Lingkungan Kondusif
3.2 KOMPONEN KETAHANANAN
Tiap Area Tematik disubdivisikan menjadi seperangkat Komponen Ketahananan tersendiri. Ini
masih merupakan subtema yang cukup luas meskipun sudah merupakan proses awal memecah
ketahananan bencana menjadi seperangkat kegiatan yang lebih akurat dan dapat dipahami.
Karena ruang lingkup masing-masing Area Tematik bervariasi, jumlah dan rentang Komponen
Ketahananan berbeda-beda antara satu Area Tematik dengan lainnya. Tabel di bawah ini
mengurutkan Komponen Ketahananan untuk tiap Area Tematik
Tabel Karakteristik tidak diubah dari sejak edisi pertama, dengan dua pengecualian kecil. Satu berkaitan dengan adaptasi perubahan iklim (API;
lihat Bagian 4.1.2). Yang lainnya adalah penulisan ulang Komponen Ketahanan 2 dalam Area Tematis 2. ALasan untuk tidak membuat perubahan lagi
adalah keberhasilan besar yang telah dicapai Karakteristik. Sumber daya telah digunakan secara antusias dan diterapkan secara luas oleh banyak
lembaga di seluruh dunia dalam bentuk yang ada sekarang. Mengurangi semua pekerjaan orientasi, pelatihan dan penerapan dengan membuat
perubahan radikal pada strukturnya merupakan tindakan yang sedikit masuk akal. Akan tetapi para pengguna mendorong untuk memodifikasi,
memilih dan membuat perubahan apa pun yang diperlukan untuk membuat Karakteristik cocok dengan kebutuhan individu mereka sendiri (untuk
panduan lihat Bagian 4.3).
5

Area Tematik
Tata Kelola

Penilaian risiko

Pengetahuan dan Edukasi

Manajemen Risiko dan Pengurangan


Kerentanan

Kesiapsiagaan dan Respon Bencana

Komponen Ketahananan
Kebijakan, perencanaan, prioritas dan komitmen
politik
Sistem hukum dan regulasi
Integrasi dengan kebijakan dan perencanaan
pembangunan
Integrasi dengan tanggap darurat dan pemulihan
Mekanisme, kapasitas, dan struktur institusional;
Kemitraan
Akuntabilitas dan partisipasi masyarakat
Data bahaya/risiko dan penilaian
Kapasitas kerentanan dan data dampak serta
penilaian
Kapasitas pengetahuan dan teknis serta inovasi
Kesadaran publik, pengetahuan, dan
keterampilan
Manajemen informasi dan penyebaran informasi
Pendidikan dan pelatihan
Budaya, sikap, motivasi
Pembelajaran dan riset
Manajemen sumber daya lingkungan dan alam
Kesehatan dan kesejahteraan
Penghidupan berkelanjutan
Perlindungan sosial
Instrumen keuangan
Perlindungan fisik; langkah struktural dan teknis
Rezim perencanaan
Kapasitas dan koordinasi organisasional
Sistem peringatan dini
Kesiapsiagaan bencana dan rencana kontijensi
Sumber daya dan infrastruktur kedaruratan
Tanggap darurat dan pemulihan
Partisipasi, kerelawanan, akuntabilitas

Bagian 4 mengusulkan cara menggunakan Komponen dalam berbagai jenis aplikasi, bertalian
dengan bagian lain dari kerangka kerja Karakteristk.
Area Tematik 1 (Governance) merupakan tema lintas sektoral yang mendasari Area Tematik
lainnya. Perencanaan, regulasi, integrasi, sistem institusional, kemitraan, dan akuntabilitas bersifat
relevan dengan setiap orang, karena merupakan isu-isu yang mungkin memengaruhi setiap prakarsa
dalam PRB, pembangunan, atau bantuan. Pengguna karenanya disarankan untuk merujuk kepada
aspek tata kelola ini apapun Area Tematik atau Komponen Ketahananan yang menjadi fokus mereka.
Anda mungkin ingin menambahkan atau menekankan isu lain yang sangat penting bagi pekerjaan
atau yang dirasa belum dijangkau secara memadai oleh kerangka kerja Karakteristik. Anda dapat
melakukan hal tersebut dengan menambahkan Komponen Ketahananan baru atau mengubah
yang telah ada. Sebagai alternatif, Anda dapat memperkenalkannya sebagai isu lintas sektoral jika
dapat diaplikasikan kepada lebih dari satu Area Tematik. Bagian 4.3 memberikan saran lebih lanjut
mengenai hal ini.

13

3.3 KARAKTERISTIK SEBUAH MASYARAKAT TAHAN BENCANA


Untuk tiap Komponen Ketahananan, tabel menyajikan seperangkat Karakteristik Masyarakat Tahan
Bencana. Ini bersifat lebih rinci dan spesifik, serta memungkinkan pengguna untuk lebih dekat
dengan realitas di tempat. Jumlah Karakteristik bervariasi sesuai dengan sifat Komponen, namun
secara keseluruhan terdapat lebih banyak Karakteristik (total sejumlah 167 untuk lima Area Tematik,
dibandingkan dengan 38 Komponen Ketahananan).
Berikuti ini contoh dari salah satu Komponen Ketahananan dengan Karakteristik Masyarakat Tahan
Bencana yang terkait:
Area Tematik 2: Penilaian Risiko
Karakteristik Masyarakat Tahan Bencana
Komponen Ketahananan 1: Data dan
Pengkajian
bahaya/risiko
masyarakat
yang
pengkajian bahaya/ risiko
memberikan gambaran komprehensif mengenai
semua bahaya dan risiko utama yang menghadang
masyarakat (serta potensi risiko)
Penilaian bahaya/risiko adalah proses partisipatif
yang melibatkan representasi dari semua bagian
masyarakat dan sumber keterampilan.
Temuan penilaian dibagikan, didiskusikan, dipahami,
dan disepakati oleh semua pemangku kepentingan,
serta digunakan dalam perencanaan bencana
masyarakat.

Temuan disediakan untuk semua pihak yang
berkepentingan (di dalam maupun di luar masyarakat,
secara lokal serta pada tingkat yang lebih tinggi) dan
digunakan dalam perencanaan bencana.
Pemantauan bahaya dan risiko yang berkelanjutan
serta pemutakhiran penilaian.
Keterampilan dan kapasitas untuk melaksanakan
penilaian bahaya dan risiko dijaga melalui dukungan
dan pelatihan.

Bagian tabel inilah yang paling sering digunakan pada tingkat lapangan. Sebagian besar diskusi
mengenai aplikasi pada Bagian 4 berkaitan dengan bagian kerangka kerja ini.
Mungkin tidak selalu jelas kepada siapa Karakteristik Masyarakat Tahan Bencana akan diaplikasikan
dan karenanya, siapa yang harus mengambil tindakan. Sebagai contoh, Karakteristik seperti visi
bersama masyarakat siaga dan tahan bencana memicu pertanyaan: siapa seharusnya menggunakan
visi bersama ini? Semua Karakteristik dimaksudkan agar dapat diaplikasikan kepada masyarakat
beserta anggotanya, namun sebagian juga berlaku untuk kelompok dan organisasi yang bekerja
dalam masyarakat, seperti NGO lokal dan lembaga pemerintah lokal atau petugas penyuluhan.
Seringkali, lembaga-lembaga eksternal tersebut berikut kapasitas yang dimiliki ditempatkan dalam
bagian Lingkungan Kondusif dari kerangka kerja (Bagian 3.4). Mengingat batas-batas antara
masyarakat dan Lingkungan Kondusif tidak selalu dapat ditetapkan secara tegas dan lembagalembaga eksternal memiliki peran penting dalam kesejahteraan serta pembangunan masyarakat,
maka persoalan ini akan membutuhkan diskusi dan keputusan lapangan.
Poin lain yang perlu dicatat disini adalah bahwa sebagian Karakteristik merupakan gabungan
sebagai contoh: Temuan penilaian [bahaya/risiko] dibagikan, didiskusikan, dipahami, dan disepakati
oleh semua pemangku kepentingan, serta digunakan dalam perencanaan bencana masyarakat
(Area Tematik 2, Karakteristik 1). Ini terdiri atas dua elemen utama: (1) pembagian, diskusi,

pemahaman, dan kesepakatan mengenai temuan penilaian antara semua pemangku kepentingan;
(2) temuan penilaian digunakan dalam perencanaan bencana. Elemen utama yang pertama juga
dapat dipecah menjadi empat elemen lain: berbagi, diskusi, pemahaman, dan kesepakatan. Salah
satu alasan untuk menggabungkan Karakteristik dalam hal ini adalah untuk membuat catatan
panduan menjadi lebih mudah digunakan: tabel akan menjadi sangat panjang jika tidak demikian.
Ini hanya dapat dilakukan jika berbagai Karakteristik terkait dengan erat satu sama lain. Dalam
praktik suatu organisasi mungkin berkeinginan untuk memecah sejumlah Karakteristik.
3.4 KARAKTERISTIK LINGKUNGAN KONDUSIF
Dalam catatan panduan ini, yang menjadi fokus adalah masyarakat dan organisasi lokal (meskipun
ketahananan individu dan rumah tangga juga disertakan dalam tabel hingga batas tertentu). Namun
demikian, kerangka kerja mengakui pentingnya faktor institusional, kebijakan, dan sosial
ekonomi yang lebih luas dalam mendukung ketahananan tingkat masyarakat.
Tabel mengidentifikasi elemen utama Lingkungan Kondusif ini berkaitan dengan tiap Komponen
Ketahananan. Elemen tersebut lebih rinci dibanding Komponen namun tidak lebih rinci dari
Karakteristik Masyarakat Tahan Bencana. Sebagian besar diambil dari kerangka kerja indikator
PRB tingkat nasional yang dikembangkan oleh UNISDR dan UNOCHA (lihat Kotak 1: Prakarsa
indikator PRB lain).
Tabel di bawah ini mengilustrasikan bagaimana Lingkungan Kondusif terkait dengan Komponen
Ketahananan. Ingat bahwa tabel memuat karakteristik tingkat lokal dan nasional. Pada bagian lain
dalam tabel, sesekali disertakan dimensi internasional Lingkungan Kondusif.
Area Tematik 1: Tata Kelola
Komponen Ketahananan 1:
Kebijakan PRB, perencanaan,
prioritas dan komitmen politik

Karakteristik Masyarakat Tahan Bencana


Konsensus politik mengenai pentingnya PRB.
PRB sebagai sebuah prioritas kebijakan pada semua
tingkatan pemerintahan.
Kebijakan PRB nasional, strategi dan rencana implementasi,
dengan visi, prioritas, target, dan tolok ukur yang jelas.
Kebijakan PRB pemerintah lokal, strategi dan rencana
implementasi yang ada.
Kebijakan resmi (nasional dan lokal) serta strategi
dukungan kepada CBDRM.
Kesepahaman resmi tingkat lokal mengenai, dan dukungan
untuk, visi masyarakat.

Orang yang menangani ketahananan masyarakat harus sadar akan Lingkungan Kondusif dan
efeknya terhadap pekerjaan mereka, namun tidak harus melakukan analisis secara rinci.
Masing-masing proyek mungkin akan melaksanakan pengkajian yang cepat dan subyektif mengenai
Lingkungan Kondusif. Namun demikian, organisasi yang menangani sejumlah proyek masyarakat
dalam sebuah negara tertentu misalnya NGO nasional dan internasional mungkin berkeinginan
untuk melaksanakan pengkajian yang menyeluruh untuk menginformasikan pekerjaannya atau
untuk mendukung advokasi.
Banyak segi Lingkungan Kondusif yang ideal dalam banyak kasus akan terlewatkan. Dalam
sejumlah situasi, komponen kunci dukungan mungkin sangat kurang sehingga mengakibatkan
apa yang disebut sebagai lingkungan tidak kondusif bagi prakarsa tingkat lokal (sebagai contoh,
lihat komentar mengenai konflik dalam Bagian 4.1.2). Pengguna catatan panduan Karakteristik
karenanya harus menyandarkan rencananya pada penilaian realistis mengenai jenis dan jumlah
dukungan eksternal yang dapat mereka peroleh.
15

Lingkungan Kondusif tidak terpisah dari pekerjaan tingkat masyarakat dan tidak dapat dilihat dalam
isolasi. Ini khususnya relevan dengan pembangunan kemitraan (Bagian 4.4.1) dan advokasi (Bagian
4.4.4). Jika aksi masyarakat dan Lingkungan Kondusif dipertimbangkan secara bersama-sama, ini
akan memberikan wawasan yang berguna bagi interaksi antar berbagai aktor dan tingkat intervensi,
pengaruh proyek pada pengambil keputusan dan potensi keberlanjutan serta kemajuan.
Dalam praktik, tidak terdapat batasan yang jelas antara masyarakat dengan Lingkungan Kondusif,
mengingat mungkin terdapat jaringan hubungan dan koneksi antara masyarakat dengan aktor
eksternal. Lembaga operasional yang bekerja di tengah masyarakat mungkin justru merupakan
bagian dari Lingkungan Kondusif sendiri jika berasal dari luar masyarakat atau bagian dari
organisasi, jaringan, maupun gerakan yang lebih besar. Budaya organisasional mereka sendiri,
cara bekerja, dan sifat kemitraan mereka dengan organisasi lokal dan ekstra lokal merupakan
faktor yang berpengaruh dalam pembangunan ketahananan. Disarankan agar dicari cara untuk
melibatkan lembaga lokal dan lembaga pada tingkat yang lebih tinggi dalam aplikasi Karakteristik,
guna memecah batasan dan menstimulasi pembentukan arus utama.
3.5 TANTANGAN
3.5.1 Keterbatasan pendekatan kerangka kerja
Dokumen Karakteristik bertujuan untuk memberikan kerangka kerja yang komprehensif untuk
ketahananan dan PRB. Agar berdaya guna, kerangka kerja disusun (sesuai HFA) menjadi Area
Tematik, Komponen Ketahananan, dan Karakteristik Masyarakat Tahan Bencana; disamping itu,
kerangka kerja juga mencakup Lingkungan Kondusif.
Tanpa struktur demikian tidak mungkin untuk melacak cara seseorang melalui beraneka ragam
karakteristik ketahananan. Namun, sebagaimana dalam kerangka kerja lain, struktur tersebut
megakibatkan keterpisahan artifisial antar berbagai aspek subyek yang berbeda-beda. Sesungguhnya
ada lebih banyak koneksi dan tumpang tindih dan banyak Karakteristik Masyarakat Tahan Bencana
individual yang muncul dalam lebih dari satu Area Tematik atau Komponen Ketahananan.6 Terdapat
risiko sebagaimana dalam kerangka kerja lain bahwa orang akan secara berlebihan memisahkan
berbagai elemen yang berbeda dan mengabaikan pertalian antara elemen-elemen tersebut.
Koneksi antar tema dan komponen yang berbeda ini harus selalu diingat.
Aktivitas untuk mempromosikan ketahananan juga tidak bisa berlangsung sendiri. Sebagai contoh,
perencanaan seringkali berada dalam Area Tematik Tata Kelola dari Karakteristik, namun dalam
praktik dijalankan secara bersama-sama dengan aktivitas lain, seperti penilaian risiko. Demikian
pula, Karakteristik memiliki Komponen Ketahananan yang terpisah untuk penilaian bahaya/risiko
dan penilaian kerentanan/kapasitas (dalam Area Tematik 2), namun seringkali secara operasional
dikombinasikan. Bagian 4.2 membahas cara memodifikasi elemen kerangka kerja untuk
merefleksikan praktik secara lebih baik.
3.5.2 Keterbatasan HFA
HFA telah diterima secara umum oleh lembaga internasional, pemerintah, dan banyak NGO
Kerangka Kerja tersebut merupakan satu-satunya kerangka kerja PRB yang disepakati secara
internasional sehingga wajar jika Karakteristik disandingkan dengan lima Prioritas Aksi di dalamnya
untuk melakukan perbandingan yang relevan serta menyajikan analisis bagi pengambil kebijakan
dan praktisi lain.
Jika memungkinkan, Karakteristik individual telah ditempatkan dalam satu ruang di dalam kerangka. Ini tidak ideal mengingat sifat holistik dari
ketahanan dan tidak semua pengguna senang dengannya namun mengulang Karaktersitik individual terhadap kerangka akan membuat dokumen
terlalu panjang dan membingungkan.
6

Namun demikian, tidak selalu terdapat pasangan yang sesuai, terutama dalam kasus Prioritas 4
(Mengurangi Faktor Risiko Utama), yang dalam Karakteristik menjadi Area Tematik 4 (Manajemen
Risiko dan Pengurangan Kerentanan). Area Tematik ini mencakup rentang isu penting yang sangat
luas, yang tidak selalu bisa dengan mudah dikelompokan dalam sebuah tema tertentu. Ketujuh
Komponen Ketahananan dalam Area Tematik ini adalah:
1. Manajemen sumber daya lingkungan dan alam
2. Kesehatan dan kesejahteraan
3. Penghidupan berkelanjutan
4. Perlindungan sosial
5. Instrumen keuangan
6. Perlindungan fisik; langkah struktural dan teknis
7. Rezim perencanaan
Sebagian aspek terkait secara erat dengan peristiwa bencana: sebagai contoh, dibutuhkan langkah
struktural dan teknis untuk memberikan perlindungan fisik dari bahaya. Aspek lain terkait dengan
sebab kerentanan yang berakar dalam serta berjangka lebih panjang, yang mungkin menyumbang
lebih banyak faktor fundamental serta faktor ekonomi dan sosial skala besar dalam gambaran.
Mengelompokkan kesemua isu ini dalam judul umum yang sama mungkin akan membingungkan
dengan risiko sebagian pertanyaan penting terabaikan. Selain itu juga akan mengakibatkan
ketidakseimbangan pada Area Tematik, akibat satu hal menjadi sangat luas dan hal lain berfokus
cukup sempit.
Kesemuanya merupakan poin yang valid. Untuk itu kami menyarankan kepada pengguna untuk
memberikan perhatian khusus kepada Area Tematik 4, untuk memastikan bahwa Komponen
Ketahananan yang berbeda-beda dapat dipahami secara tepat dan diinvestigasi secara
menyeluruh. Jika mungkin, profesional bencana dan pembangunan harus dilibatkan, demikian
pula para pakar dalam aspek lain yang tercakup dalam judul ini (misalnya pakar keuangan untuk
bekerja dengan instrumen keuangan, insinyur dan arsitek untuk lingkungan yang dibangun).
3.5.3 Aspek sikap ketahananan
Sebagian orang percaya bahwa Karakteristik harus memuat lebih banyak mengenai aspek sikap
dan perilaku dari ketahananan. Faktor-faktor seperti keyakinan, intensi, kepercayaan diri, dan
kepercayaan seringkali dikaji sebagai pengaruh bagi tiap perilaku terkait bencana, namun akan lebih
sulit untuk dinilai pada tingkat masyarakat atau institusional. Aspek sikap dan perilaku cenderung
lebih implisit dalam Karakteristik, namun bukan tidak ada. Sebagai contoh, dalam Area Tematik 1
(Tata Kelola) terdapat Karakteristik yang berhubungan dengan visi, konsensus, pemikiran jangka
panjang, kerelawanan, komitmen, dan antusiasme. Pengguna harus sadar akan isu ini ketika
mengkaji ketahananan dan menyusun rencana.
BAGIAN 4: CARA MENGGUNAKAN KARAKTERISTIK
4.1 IKHTISAR DAN KONTEKS
4.1.1 Ikhtisar
Karakteristik dapat digunakan pada berbagai tahapan manajemen siklus proyek (misalnya untuk
kajian dasar, desain proyek, dan evaluasi), bertalian dengan perangkat lain yang digunakan dalam
proyek dan riset PRB (misalnya analisis kerentanan dan kapasitas), untuk pembangunan kapasitas
dan advokasi, serta untuk perencanaan strategis.
17

Bagian ini membahas sejumlah cara untuk mengaplikasikan Karakteristik, berdasarkan pengalaman
yang dihimpun selama uji lapangan. Meski bukan merupakan kritik yang komprehensif atau manual
pengguna, namun Karakteristik menyajikan contoh studi kasus, menjawab sejumlah pertanyaan
yang telah diajukan dan tantangan yang teridentifikasi, serta memberikan saran praktis mengenai
cara untuk menangani hal-hal tersebut.
Sebaiknya Anda menyediakan waktu untuk mempelajari struktur dasar serta isi beragam
tabel (dalam Bagian 6) agar Anda menjadi familiar sebelum membaca bagian ini.
4.1.2 Konteks
Karakteristik dapat diaplikasikan dalam setiap konteks lokal ketika PRB telah direncanakan atau
sedang berjalan. Sebagaimana telah dinyatakan, setiap proyek, lokasi, dan masyarakat bersifat
unik. Perencanaan dan intervensi harus mencerminkan hal ini. Sebagian besar dari yang terdapat
dalam bagian 4 adalah mengenai beraneka cara menggunakan Karakteristik untuk menjawab
konteks lokal ini. Bagaimanapun, konteks aplikasi spesifik berikut membutuhkan komentar.
(a.) API
PRB menjadi bagian penting dari adaptasi perubahan iklim karena berkaitan dengan variabilitas
iklim saat ini dan menjadi pertahanan garis terdepan menghadapi perubahan iklim. Akibatnya,
agar PRB berhasil, harus dipertimbangkan untuk melakukan pergeseran risiko yang berkaitan
dengan perubahan iklim dan dipastikan bahwa langkah-langkah yang diambil tidak mengakibatkan
meningkatnya kerentanan terhadap perubahan iklim dalam jangka menengah hingga panjang.7
PRB dan API tidak sama: PRB menangani rentang bahaya yang jauh lebih luas dibanding yang
hanya terkait dengan iklim, sementara ruang lingkup API mencakup isu-isu di luar PRB, seperti
musnahnya keanekaragaman hayati serta perubahan terhadap ekosistem. Meskipun demikian,
terjadi tumpang tindih yang cukup mencolok antara keduanya: Keduanya berfokus pada manajemen
risiko dan pengurangan kerentanan, dalam konteks pembangunan berkelanjutan. Agenda mereka
juga berkembang secara terpisah dan integrasi antara keduanya masih sangat terbatas. Sebagian
besar organisasi pengembangan masyarakat dan kemanusiaan masih berupaya untuk melakukan
integrasi yang efektif, baik secara konseptual maupun operasional.8 Kotak 2 (Mengintegrasikan PRB
dan API) mengilustrasikan bagaimana sejumlah anggota Kelompok Antar Lembaga memandang
isu tersebut saat ini: ingat bahwa ini masih berupa pekerjaan besar yang sedang berlangsung.
Bagi masyarakat, PRB dan API mungkin cenderung bermakna sama: keduanya merupakan
strategi untuk mengelola atau mengadaptasi ke dalam bahaya dan perubahan lingkungan yang
mengakibatkan risiko bagi orang, harta benda, dan penghidupan. Dalam kerja lapangan tidak
terlalu penting untuk melakukan pemisahan antara kejutan dengan tekanan yang diakibatkan
bahaya, perubahan iklim, atau bentuk degradasi lingkungan yang lain: Yang penting adalah
memahami sifat ancaman dan penyebabnya, serta merencanakan tanggapan yang tepat.
Karakteristik tidak didesain secara khusus dengan mempertimbangkan perubahan iklim dan
tidak memuat panduan rinci mengenai API. Jika sesekali dokumen secara spesifik menyebutkan
perubahan iklim atau API tujuannya adalah agar pengguna menyadari kebutuhan pertalian dan
integrasi antara kebijakan serta strategi PRB dan API.
Mitchell T, van Aalst M, 2008, Pemusatan Pengurangan Risiko Bencana dan Adaptasi Perubahan Iklim: Kaji Ulang DFID (laporan yang tidak
dipublikasikan) p.1. http://humanitarian-space.dk/fileadmin/templates/billeder/dokumenter/Event_Climate/Convergence_of_DRR_and_CCA.pdf
8
Untuk penjelasan yang lebih lengkap mengenai makalah ini, lihat karya Venton P, La Trobe S, 2008, Linking climate change adaptation and disaster
risk reduction (Teddington: Tearfund) www.tearfund.org/webdocs/Website/Campaigning/CCA_and_DRR_web.pdf
7

Betapapun, diasumsikan bahwa prakarsa PRB harus mengelola ancaman dan kejutan yang
ditimbulkan oleh perubahan iklim serta karenanya disiratkan dalam dokumen bahwa banyak diantara
Komponen Ketahananan dan Karakteristik Masyarakat Tahan Bencana dapat diaplikasikan untuk
API. Sebagaimana yang diungkap oleh Maarten van Aalst dari Red Cross/Red Crescent Climate
Centre, pada sebuah lokakarya mengenai Karakteristik, Adaptasi bukan merupakan pekerjaan yang
terpisah, namun bermakna mengintegrasikan perubahan iklim dalam semua elemen kerangka kerja
[Karakteristik] yang relevan. Untuk itu, penting bagi pengguna untuk selalu mempertimbangkan isu
API ketika menggunakan Karakteristik, dan tidak berasumsi bahwa perubahan iklim hanya relevan
jika disebutkan dalam dokumen.9
(b.) Setelah bencana
Kondisi ideal ketahananan yang dinyatakan dalam Karakteristik telah dipisahkan dari kondisi
masyarakat yang baru mengalami bencana. Mungkin terdapat kebutuhan akan referensi serupa
atau terkait yang mengidentifikasi karakteristik tertentu yang secara khusus terkait dengan
pemulihan masyarakat setelah bencana (misalnya akses terhadap pasokan air yang bersih dan
dapat diandalkan) sebagai langkah pertama menuju ketahananan yang lebih kuat. Ini mungkin
dapat diciptakan dengan memilih seperangkat kecil karakteristik atau karakteristik minimal. (lihat
bagian 4.3.3),
Sebagai contoh, prakarsa Palang Merah Myanmar, IFRC, dan Palang Merah Denmark untuk
mengembangkan sebuah kerangka kerja pemantauan dan evaluasi untuk bantuan dan pemulihan
setelah Cyclone Nargis mencakup pengembangan profil ketahananan masyarakat: seperangkat
indikator gabungan untuk beragam sektor (misalnya air dan sanitasi, tempat tinggal) yang
mengilustrasikan tingkat ketahananan sebuah masyarakat atau rumah tangga pada waktu yang
berbeda-beda. Setiap profil merepresentasikan paket ketahananan minimum untuk sektor dan titik
waktu tertentu setelah bencana. Pendekatan ini juga memiliki kesamaan dengan beragam prakarsa
tonggak riwayat yang diuraikan dalam bagian 4.3.5.
(c.) Konflik
Karakteristik disusun dengan mempertimbangkan apa yang disebut sebagai bencana alam
dan dengan ekspektasi akan sebuah pendekatan manajemen bencana berbasis masyarakat,
berdasarkan asumsi derajat konsensus di tengah masyarakat. Dalam situasi yang sangat tidak stabil
atau konflik, ini mungkin akan sulit untuk dicapai. Lebih jauh lagi, konflik seringkali menggerogoti
ketahananan masyarakat, misalnya, dengan merusak kohesi sosial, memusnahkan aset produktif
dan infrastruktur lokal, menghambat akses kepada sumber daya alam seperti sumber air dan lahan
penggembalaan, serta memaksa keluarga-keluarga untuk meninggalkan rumah mereka. Perubahan
cara menggunakan Karakteristik dalam konteks sejenis pasti akan dibutuhkan hal yang sulit
untuk dikatakan, mengingat hingga saat ini tidak terdapat pengalaman lapangan pengaplikasian
Karakteristik dalam konteks sejenis. (Lihat juga bagian 3.4 mengenai Lingkungan Kondusif)
4.2 MEMPERKENALKAN KARAKTERISTIK; MEMBANGUN KAPASITAS PENGGUNA
4.2.1 Audiens dan kelompok pengguna sasaran
Karakteristik pada pokoknya didesain untuk pemerintah dan organisasi masyarakat sipil yang
menangani prakarsa PRB dan API pada tingkat masyarakat, melalui kemitraan dengan masyarakat.
Dalam edisi pertama Karakteristik, API disebutkan berada di bawah pengelolaan sumber daya lingkungan dan alam dalam Komponen 1 Area
Tematik 4 (Manajemen Risiko dan Pengurangan Ketahanan). Walaupun API tidak dengan jelas dilarang dalam makalah ini, dikemukakan bahwa
pengguna mungkin akan terkecoh berpikir bahwa ini adalah bidang prioritas utama untuk integrasi API-DRR dan bahwa mungkin mereka luput
melihat yang lain. Rujukan telah dibuat dalam edisi terakhir ini.
9

19

Pengguna utama buku ini selama fase uji lapangan adalah NGO internasional dan nasional serta
mitra lokal mereka di seluruh dunia disamping juga digunakan oleh para ilmuwan dan ahli teknik
yang mengembangkan model dan panduan ketahananan sendiri, oleh para periset untuk mendesain
kerangka kerja analitis, dan untuk mengajar mahasiswa mengenai pengurangan risiko bencana.
Sambutan dari pemerintah cenderung lambat, namun sejumlah kantor manajemen bencana
pemerintah nasional telah memperlihatkan minat dan Karakteristik telah disebarkan baik oleh NGO
maupun periset untuk memfasilitasi diskusi dengan pejabat pemerintah lokal mengenai kapasitas
dan intervensi.
4.2.2 Cara memperkenalkan Karakteristik kepada pengguna
(a) Prinsip dasar
Bagaimana memulai penggunaan Karakteristik Masyarakat Tahan Bencana dalam pekerjaan Anda?
Jawabannya terpulang kepada Anda, pengguna, untuk memutuskan (panduan yang diberikan di
sini ditujukan untuk membantu Anda membuat keputusan).
Karakteristik bukan sebuah model untuk setiap situasi. Karakteristik merupakan sebuah
referensi, bukan daftar periksa (checklist) untuk ditandai. Karakteristik harus menstimulasi
dan memfasilitasi diskusi. Karakteristik harus diadaptasi ke dalam konteks tempat digunakan
serta kebutuhan dan kapasitas orang yang menggunakan.
Dalam setiap konteks, sangat penting menginvestigasi manfaat dan relevansi Karakteristik bagi
organisasi yang menggunakan, mitranya, serta masyarakat rentan. Ini berarti mempelajari seberapa
sesuai Karakteristik dengan pendekatan, sistem, dan struktur manajemen sebuah organisasi.
Terdapat kesepakatan umum selama uji lapangan mengenai kebutuhan fasilitasi dalam
memperkenalkan Karakteristik kepada calon pengguna. Meskipun prinsip-prinsip dasar dapat
dipaparkan dengan mudah, dokumennya sendiri cukup panjang dan kompleks, bahasanya mungkin
berbentuk abstrak dan konseptual, dan tabelnya terinci. Panduan akan membantu, khususnya
dari praktisi PRB berpengalaman yang telah menggunakan sebagian waktu untuk mempelajari
Karakteristik dan menggunakannya di lapangan; namun tidak kalah penting untuk memberikan waktu
dan kesempatan kepada pengguna untuk mempersiapkan diri dengan membaca, memikirkan, dan
mendiskusikannya.
Memperkenalkan Karakteristik dapat dilakukan melalui pelatihan formal, namun dalam praktik lebih
lazim mengadakan lokakarya perencanaan dan aktivitas kelompok di mana serangkaian metode
partisipatif dapat digunakan untuk mendiskusikan, memvalidasi, dan memodifikasi hal-hal yang
terkandung dalam buku ini. Seringkali ini hanya sebuah latihan sekali-habis, namun lebih baik dilihat
sebagai bagian dari proses jangka panjang untuk memperoleh dan menggunakan buku ini serta
perangkat lain untuk perencanaan, implementasi, dan penilaian PRB.
Ingat bahwa pembangunan ketahananan harus dilihat sebagai proses belajar dan praktik yang
terus menerus. Karakteristik tidak memberikan saran mengenai cara menjalankan proses sejenis;
Karakteristik hanyalah satu dari banyak buku yang mungkin bermanfaat untuk melakukan hal
demikian: lihat Kotak 1 (Prakarsa indikator PRB lain) dan Kotak 3 (Menciptakan proses ketahananan
yang sukses).
Sangat penting agar orang dengan kerentanan diberikan kesempatan untuk menggali dan
memvalidasi Karakteristik. Ini harus berupa proses partisipatif. Hingga saat ini, Karakteristik
lebih banyak diaplikasikan dari atas ke bawah. Karakteristik seharusnya juga diadopsi dari
akar rumput ke atas tidak hanya masyarakat tetapi juga organisasi lokal. Ini menciptakan
kepemilikan sumber daya yang meningkatkan kesempatan untuk diaplikasikan secara sukses.

(Untuk sebuah saran mengenai cara melibatkan masyarakat lihat Kotak 4: Melibatkan pemuda).
Pendekatan demikian juga membutuhkan fasilitator yang berpengalaman dalam pendekatan
berbasis masyarakat.
(b) Pendekatan untuk pengenalan dan pelatihan
Sulit untuk menghadirkan semua Karakteristik dalam induksi atau pelatihan tunggal, kecuali
dapat dialokasikan waktu yang banyak untuk ini (idealnya sebagai proses yang lebih panjang,
termasuk penyegar atau sesi yang lebih berbobot ketika pengguna menjadi makin terlatih untuk
mengaplikasikan sumber daya). Manfaat latihan singkat sekali-habis mungkin terbatas, kecuali
peserta telah sangat memahami PRB dan memiliki waktu untuk membuat diri mereka familiar dengan
Karakteristik. Menyediakan waktu untuk berbicara dengan staf garis depan mengenai Karakteristik
berguna untuk membangun pemahaman dan komitmen yang lebih baik.
Terdapat beberapa cara untuk memperkenalkan Karakteristik.
Dapat dimulai dengan melihat keseluruhan kerangka kerja berikut elemennya yang umum: Area
Tematik, Komponen Ketahananan, dan Lingkungan Kondusif. Ini akan menstimulasi diskusi semikonseptual mengenai sifat, rentang, dan tujuan PRB.
Latihan kelompok bisa difokuskan pada Komponen Ketahananan tertentu berikut Karakteristiknya,
sehingga peserta dapat mengenal sumber daya dan memperdebatkan aplikasinya dalam situasi
nyata seperti dalam menciptakan dasar, menetapkan prioritas, atau mengevaluasi perkembangan.
Alternatif lain adalah memulai dengan yang telah diketahui orang yaitu, situasi nyata dan proyek,
melihat ke belakang untuk mengetahui cara menyesuaikan aksi dan pencapaian yang ada ke
dalam kerangka kerja Karakteristik. Ini mungkin menggiring kepada diskusi mengenai kekuatan
dan kelemahan, serta kesenjangan dalam cakupan. Studi Kasus 1 (Membantu praktisi PRB untuk
mendefinisikan ketahananan dalam konteks pedesaan Bangladesh) merupakan deskripsi rinci
mengenai pendekatan tersebut, oleh Tearfund. Studi Kasus 2 (Memperkenalkan Karakteristik
kepada staf lapangan mitra NGO di Nepal) merupakan ilustrasi lanjutan, dari Aksi Praktis PRB
dan pekerjaan penghidupan.
Cara memperkenalkan Karakteristik harus disesuaikan dengan pengetahuan dan kapasitas
pengguna saat ini: tidak terdapat pendekatan baku untuk semua situasi. Ada kasus di mana
organisasi tidak memiliki tingkat pemahaman yang memadai mengenai isu PRB serta terminologi
untuk menggunakan Karakteristik secara mudah, atau di mana peserta dan fasilitator memiliki
pemahaman yang berbeda mengenai hal tersebut, yang harus diselesaikan terlebih dahulu.
(c) Penerimaan dan aplikasinya oleh organisasi
Selama fase uji lapangan, sebagian besar aplikasi Karakteristik adalah untuk proyek khusus, dengan
manfaat tidak langsung dalam bentuk akuisisi keterampilan dan pengetahuan yang berkaitan
dengan Karakteristik dan PRB secara keseluruhan. Terdapat relatif sedikit bukti mengenai cara
pengambilan Karakteristik pada tingkat organisasional, namun dapat diperoleh beberapa contoh
dari uji lapangan mengenai cara menggunakan Karakteristik untuk membangun kapasitas proyek
atau tim organisasi.
Studi Kasus 3 (Menggunakan Karakteristik untuk menilai kapasitas keterampilan dan kesenjangan)
merupakan sebuah contoh. Contoh lain berasal dari Oxfam GB, yang sebagai bagian dari pertemuan
global pada bulan Desember 2007 bagi para stafnya yang menangani PRB, berupaya untuk
membuat peserta menjadi familiar dengan Karakteristik. Setelah diskusi umum mengenai dokumen
dan cakupan PRB yang luas, peserta dipecah menjadi beberapa kelompok, masing-masing untuk
21

satu Area Tematik. Tiap kelompok memilih satu Komponen Ketahananan dari Area Tematik masingmasing, mempelajari Karakteristik Masyarakat Tahan Bencana dalam Komponen tersebut, memilih
satu diantara Karakteristik ini dan mendiskusikan cara mengubah karakteristik menjadi sebuah
indikator serta cara mengukurnya. Latihan ini membantu peserta untuk mengenal buku Karakteristik
dan memperdebatkan cara mengadaptasikannya dalam siklus program operasional mereka,
sekaligus memberikan umpan balik mengenai kemungkinan diaplikasikannya secara umum.
(d) Penerjemahan
Edisi pertama Karakteristik telah diterjemahkan ke dalam bahasa Prancis, Spanyol, dan Indonesia.
Kami berharap bahwa edisi ini juga akan tersedia dalam banyak bahasa. Di lapangan, berbagai
lembaga telah menerjemahkan bagian-bagian dari dokumen, atau istilah dan konsep kunci, ke
dalam bahasa-bahasa lokal. Ini mungkin akan sulit, khususnya jika tidak terdapat padanan kata
dalam bahasa lokal untuk istilah dalam bahasa Inggris: sebagai contoh, sebuah organisasi yang
bekerja di Nepal merasa kesulitan untuk menerjemahkan resilience (ketahananan) dalam bahasa
Nepal. Kesulitan mungkin akan lebih besar jika terdapat pemahaman atau interpretasi yang berbeda
mengenai istilah atau konsep tertentu.
Tidak ada solusi yang sederhana untuk problem ini. Yang penting adalah menjalankan proses
dengan benar dalam hal ini, menggunakan waktu untuk mendiskusikan istilah-istilah dan konsep
terkait serta menyepakati pengertian dan terjemahannya. Fasilitasi yang baik akan membantu di
sini.
(e) Sikap positif
Akhirnya, kami harus mengingatkan sebuah hasil yang tidak diduga namun sangat penting dari uji
lapangan: nilai psikologis Karakteristik dalam menciptakan sikap positif di tengah pengguna.
Ini adalah hasil dari Karakteristik yang lebih kepada berfokus-solusi ketimbang berlatar-masalah.
Umpan balik dari sebuah lokakarya Tearfund untuk memperkenalkan Karakteristik kepada praktisi
PRB di Bangladesh10 bersifat khas:
Peserta melihat nilai positif dari Karakteristik. Sebelumnya, mereka mengetahui apa yang
ingin dicegah dalam desa rawan bencana, namun ini diputar sehingga mereka dapat melihat
apa yang ingin mereka capai
Dimensi psikologis dan motivasional dari pendekatan pembangunan ketahananan ini membutuhkan
kajian lebih lanjut.
4.3 MEMILIH, MEMODIFIKASI, DAN MENYESUAIKAN
4.3.1 Alasan Karakteristik harus dimodifikasi
Pengguna harus mengenal buku Karakteristik sepenuhnya, memperdebatkan kegunaannya,
dan, jika perlu, mengadaptasinya sesuai kebutuhan mereka. Ini mungkin terdiri atas memilih
Komponen Ketahananan tertentu dari Masyarakat Tahan Bencana, mengadaptasi dan menulis
ulang, menambah komponen baru, atau bahkan menyusun ulang kerangka kerja secara berbeda.
Penyesuaian demikian harus didorong karena akan membuat Karakteristik menjadi lebih relevan
dengan kebutuhan khusus dan kapasitas masyarakat, bahaya serta ancaman (lain) yang dihadapi
masyarakat tersebut, jenis pekerjaan PRB yang dikuasai oleh organisasi pengimplementasi dan
kapasitas mereka untuk melaksanakan, dan lingkungan operasional serta kebijakan yang lebih
luas. Penting untuk mengadopsi Karakteristik tanpa menanyakan keakuratan serta relevansinya
dengan situasi yang ada. Dalam situasi yang cepat berubah, pertanyaan ini harus diulangi untuk
memastikan bahwa Karakteristik orisinil atau yang telah ditulis ulang tetap relevan.
10

Dijabarkan dalam Studi Kasus 1: Membantu praktisi PRB menentukan Ketahanan masyarakat Pedesaan Bangladesh.

Orang tidak mesti menggunakan setiap satuan Karakteristik Masyarakat Tahan Bencana dalam
pekerjaan mereka. Bahkan jika mereka melakukan demikian, Karakteristik meskipun diupayakan
agar sekomprehensif mungkin - tidak dapat menjangkau setiap dimensi ketahananan, setiap sektor,
atau setiap kelompok rentan dalam masyarakat.11 Mungkin setiap pengguna memiliki pandangan
sendiri mengenai seberapa baik Karakteristik mencerminkan kerja mereka sendiri.
4.3.2 Kemungkinan pendekatan
Proses memodifikasi atau memilih Karakteristik relevan harus mempertimbangkan faktor-faktor di
atas untuk mencapai keputusan yang jelas mengenai prioritas, mengingat bahwa ini mungkin akan
melibatkan sejumlah kompromi (lebih jauh mengenai prioritas lihat bagian 4.3.4). Proses ini harus
bersifat terbuka.
Karakteristik akan sangat berguna (dan paling banyak digunakan) jika dipilih oleh, atau paling
tidak dengan, mereka yang akan menggunakannya. Ini berarti proses partisipatif diskusi dan
validasi pada tingkat lokal.
Beberapa organisasi telah menyesuaikan Karakteristik dengan berbagai cara. Kotak 5 (Mengadaptasi
Karakteristik ke dalam konteks lokal) merupakan sebuah contoh dari Filipina, di mana NGO lokal
menerjemahkan Karakteristik Masyarakat Tahan Bencana dan Lingkungan Kondusif umum dari
catatan pedoman ke dalam versi yang sesuai dengan konteks lokal pekerjaannya secara lebih
spesifik.
Plan International telah menggali berbagai cara untuk membuat Karakteristik mencerminkan
perhatiannya utamanya pada hak anak dan perlindungan anak secara lebih utuh. Salah satu
pendekatan yang dilakukan adalah dengan mengembangkan seperangkat indikator inti berdasarkan
kerangka kerja Karakteristik namun spesifik dengan fokus Plan pada proses PRB berpusat anak
(lihat Studi Kasus 4: Menyesuaikan Karakteristik untuk reduksi risiko berpusat anak). Pendekatan lain
adalah dengan menyusun Area Tematik tambahan (masih dalam bentuk draf) untuk masyarakat Tahan
bencana berpusat anak dan gender, dengan Komponen Ketahananan, Karakteristik Masyarakat
Tahan Bencana, dan Lingkungan Kondusif sendiri (lihat Kotak 6: Penyusunan Area Tematik baru).
Dokumen Karakteristik telah didesain dengan mempertimbangkan PRB secara khusus, namun
PRB merupakan bagian integral dari pembangunan berkelanjutan. Sebagian besar komponen
dan karakteristik ketahananan yang disebutkan dalam buku ini dapat diaplikasikan dalam
konteks pembangunan yang lain.
Karenanya akan bermanfaat untuk berbagi dan mendiskusikan Karakteristik dalam sebuah organisasi
melalui upaya untuk menghubungkannya dengan kerangka kerja konseptual dan indikator lain yang
digunakan organisasi serta isu-isu lain yang menjadi perhatiannya. Koneksi demikian mungkin
mengambil bentuk fertilisasi silang atau meminjam ide ketimbang integrasi sistem konseptual dan
evaluatif yang lebih formal, namun pengguna berhak untuk menginterpretasi ulang dan mengemas
ulang Karakteristik dengan cara apapun yang sesuai dengan kebutuhan mereka, termasuk,
mengubahnya dalam bahasa yang lebih sederhana.
4.3.3 Karakteristik Kunci
Sebagian organisasi telah menjalankan proses penyesuaian selangkah lebih maju dengan menyusun
daftar generik Karakteristik kunci kunci berkaitan dengan prioritas PRB, area PRB khusus yang
menjadi fokus proyek tertentu atau jenis pekerjaan yang dilakukan lembaga.
Sebagai contoh, beberapa pengguna telah mengemukakan bahwa manajemen sumber daya yang berkelanjutan dan modal sosial tidak sesuai
dimasukkan ke dalam kerangka.
11

23

Tearfund merupakan salah satu organisasi yang telah mengembangkan seperangkat karakteristik
kunci dan telah merasakan manfaatnya bagi pekerjaan PRB dan keamanan pangan global mereka
(lihat kotak 7: 20 teratas Karakteristik Tearfund).
Organisasi lain berbicara mengenai identifikasi indikator dan Karakteristik inti atau minimal,
mengingat besarnya tantangan dalam meningkatkan semua aspek ketahananan, khususnya jika
melibatkan pengubahan pola pembangunan yang mendasar. (Untuk pemikiran lain sejenis mengenai
hal ini, lihat kotak 8: indikator kunci ketahananan masyarakat PKBA). Ini tentu merupakan proses
yang terencana dan inklusif, berkaitan dengan konteks tertentu dari prakarsa PRB, dan mungkin
akan sulit untuk mencapai konsensus mengenai hal ini. Ingat pula bahwa PRB sendiri merupakan
proses perbaikan yang konstan: orang tidak boleh merasa puas dengan standar minimal.
Sebagian lembaga mungkin ingin melakukan hal sejenis, yang bisa menjadi latihan bermanfaat jika
mampu menstimulasi diskusi dan memberikan informasi kepada pengambil keputusan mengenai
sifat ketahananan, area prioritas aksi pembagunan ketahananan atau PRB secara umum (sebuah
pertanyaan yang secara konstan diperdebatkan oleh para praktisi), serta prioritas PRB organisasi
sendiri. Sekali lagi, sangat penting agar proses berjalan dengan benar. Jika pemilihan Karakteristik
kunci dianggap perlu (dan tidak boleh serta merta dianggap demikian), maka harus dilaksanakan
secara partisipatif dan terencana, tidak dipaksakan dari atas. Latihan tidak boleh bersifat sekalihabis; harus dilakukan telaah berkala. Ketahananan bencana tidak bersifat statis: Konteks dan
kebutuhan serta kapasitas orang bisa berubah. Jika daftar Karakteristik terpilih masih sama,
maka manajer proyek mungkin akan melewatkan aspek-aspek lain ketahananan yang mungkin
signifikan.
4.3.4 Menetapkan prioritas
Bagi sebagian besar lembaga, PRB dan keragaman potensi prakarsa PRB menghadirkan problem
dalam penetapan pilihan mengenai waktu dan cara intervensi. Karakteristik tidak membedakan
antara berbagai jenis PRB yang berbeda-beda berkenaan dengan signifikansinya. Namun demikian,
lembaga operasional harus menetapkan prioritas karena tidak dapat menangani semua aspek
ketahananan sekaligus.
Peran Karakteristik di sini adalah untuk membantu pengguna memvisualisasikan kemungkinan
rentang opsi yang paling luas yang akan mereka gunakan untuk menentukan pilihan sendiri.
Terpulang kepada kelompok atau organisasi itu sendiri untuk menetapkan prioritas intervensi dan
ini akan bergantung kepada sejumlah faktor seperti kebutuhan, konteks dan kapasitas operasional.
Ketika memutuskan mengenai intervensi, akan membantu pula jika dipelajari koneksi antara berbagai
Area Tematik yang berbeda-beda. Sebuah aktivitas dalam suatu Area Tematik mungkin akan memiliki
lebih banyak dampak jika diperkuat dengan mengonfrontasikan Komponen Ketahananan dengan
Komponen Ketahananan yang lain. Sebagai contoh, aktivitas kesiapsiagaan bencana (Area Tematik
5) akan lebih efektif jika perencanaan disusun berdasarkan pengkajian risiko dan kerentanan (Area
Tematik 2) dan terdapat tingkat partisipasi dan akuntabilitas masyarakat yang tinggi (Area Tematik
1).12 Demikian pula, penilaian bahaya-kerentanan-risiko (Area Tematik 2) seringkali dilihat sebagai
prioritas pada awal sebuah proyek untuk mengidentifikasi ancaman-ancaman utama yang dihadapai
sebuah masyarakat serta memandu perencanaan aktivitas PRB. Namun kekuatan, kelemahan, dan
kesenjangan ketahananan yang lebih luas juga harus diidentifikasi sebelum pilihan operasional
dapat dibuat.
Telah dikemukakan bahwa pengkajian risiko tingkat masyarakat adalah titik mulai kunci untuk PRB yang efektif di tingkat akar rumput karena ia
menciptakan kemitraan dan keterlibatan, dan memudahkan dialog dengan pemerintah.
12

4.3.5 Tonggak Riwayat


Karakteristik dapat memanfaatkan proses pembobotan sederhana untuk menghitung
berbagai posisi awal negara/masyarakat dan mengetahui jarak yang telah ditempuh
hingga batas tertentu.13
Perangkat Karakteristik Masyarakat Tahan Bencana merepresentasikan sebuah tujuan: Tingkat
ketahananan tertinggi yang realistis untuk diraih. Dibutuhkan tonggak tambahan untuk mengukur
perkembangan dan kemajuan dalam mencapai tujuan.
Betapapun, terdapat tantangan dalam menggunakan tabel Karakteristik ini untuk menilai tingkat
kemajuan dari sebuah kondisi ketahananan yang ada menuju kondisi ideal keselamatan.
Sebagian Karakteristik dapat digunakan sebagai output konvensional atau indikator proses (lihat
bagian 4.4.2) namun tidak dapat diaplikasikan sebagai ukuran standar bagi kebutuhan khusus
sebuah proyek. Mitra proyek harus menyepakati cara mengukur kemajuan mereka sendiri dalam tiap
kasus. Dalam melaksanakan hal demikian mereka akan berfokus pada Karakteristik Masyarakat
Tahan Bencana yang telah dipilih, menjalankan proses untuk berpindah dari kondisi sekarang
menuju kondisi akhir pada tiap kasus, dan menyepakati indikator untuk berbagai tahapan kemajuan
yang berbeda-beda sepanjang perjalanan.
Model tonggak mungkin akan membantu untuk memahami kemajuan ketahananan dalam distrik
atau masyarakat tertentu. Ini mungkin akan sangat berguna sebagai latihan multi pemangku
kepentingan yang mempertimbangkan pekerjaan seluruh kelompok dan organisasi yang terlibat
dalam PRB di lokasi tersebut.
Hingga saat ini tidak ada kesepakatan bersama mengenai tahapan kemajuan yang berbeda-beda
dalam PRB: penggunaan tongak dan tolok ukur masih bersifat eksperimental. Dalam Karakteristik,
disarankan menggunakan skala lima tingkat, dengan tiap tingkat sebagai tahapan tersendiri
dalam pengembangan PRB. Skala ini adalah sebuah skala sederhana yang pasti mudah
digunakan.14 Skala ini dirancang untuk memberikan gambaran yang luas mengenai kondisi
ketahananan. Skala ini dapat digunakan untuk menelaah kemajuan mencapai ketahananan pada
kelima Area Tematik, atau dalam Area Tematik tersendiri. Mungkin dapat pula dipilih Komponen
Ketahananan, namun tidak perlu kesemuanya.
Tingkat 1. Sedikit kesadaran mengenai isu atau motivasi untuk menanganinya. Aksi terbatas
kepada tanggap krisis.
Tingkat 2. Kesadaran mengenai isu dan kesediaan untuk menanganinya. Kapasitas untuk
bertindak (pengetahuan dan keterampilan, manusia, material, dan sumber daya lain) masih
terbatas. Intervensi cenderung sekali-habis, sedikit, dan jangka pendek.
Tingkat 3. Pengembangan dan implementasi solusi. Kapasitas untuk bertindak menjadi lebih
baik dan substansial. Intervensi lebih banyak dan jangka panjang.
Tingkat 4. Koherensi dan integrasi. Intervensi bersifat ekstensif, mencakup semua aspek utama
problem serta terhubung dengan strategi koheren jangka panjang.
Tingkat 5. Sebuah budaya keselamatan hadir pada semua pemangku kepentingan, di mana
PRB melekat pada semua kebijakan, perencanaan, praktik, sikap, dan perilaku yang relevan.
Diasumsikan bahwa kelompok dan organisasi yang menggunakan peranti ini untuk melakukan
pengkajian mandiri telah melampaui Tingkat 1.
Dr Maureen Fordham, dalam laporan untuk Plan UK.
Tingkat pencapaian yang sama digunakan di tempat lain dalam penilaian PRB: misalnya indikator PRB ISDR PBB (UN ISDR 2008) dan metode
penilaian arus utama PRB Tearfund dalam organisasi pengembangan (LaTrobe and Davis 2005). Lihat Bagian 5 (Bacaan lebih lanjut).
13
14

25

Tingkat 5 kurang lebih merupakan masyarakat Tahan bencana yang ideal. Ide budaya keselamatan
yang disebutkan di sini, yang telah digunakan dalam sistem PBB dan lainnya, lebih dari sekadar
melaksanakan aktivitas PRB lokal karena menyiratkan perubahan perilaku yang luas dan berakar
dalam.15
Penilaian kemajuan menggunakan model ini mencakup mempelajari rentang PRB atau isu
ketahananan yang ditangani, jumlah, tipe dan rentang Karakteristik yang telah dicapai, dan yang
terpenting tingkat koherensi dan koordinasi usaha. Aplikasi metode ini atau metode lain sejenis
akan membantu menjaga keseluruhan gambaran tetap terpantau dan akan mendorong koherensi
aktivitas serta pertalian yang lebih kuat antar berbagai kelompok dan organisasi yang terlibat.
Penilaian bisa bersifat cepat atau lebih intensif namun proses analisis yang kompleks harus dihindari.
Sebagian pengguna awal Karakteristik merasa prihatin karena mereka mungkin harus bekerja dengan
167 Karakteristik Masyarakat Tahan Bencana untuk membangun gambaran yang utuh mengenai
kemajuan tongak menuju ketahananan. Ini jelas tidak realistis untuk proyek lapangan (meskipun
memiliki sejumlah manfaat dalam riset). Pendekatan yang lebih praktis mungkin adalah dengan
membuat penilaian umum berdasarkan pertimbangan kualitatif pada tingkat yang lebih tinggi (Area
Tematik, Komponen Ketahananan), mungkin bersandar kepada beberapa Karakteristik Masyarakat
Tahan Bencana. Penilaian ini harus bersifat partisipatif. Tujuannya harus untuk mencapai konsensus.
Tonggak dapat digunakan sebagai dasar pada awal proyek untuk menilai tingkat pencapaian
pada titik waktu tersebut (lihat bagian 4.4.2). Pengulangan penilaian akan mengindikasikan tingkat
kemajuan dalam PRB. Namun demikian, harus ditekankan bahwa sebagian besar perubahan ini
hanya akan terjadi dalam jangka panjang, khususnya jika masyarakat dan lembaga pendukung
mengalami keterbatasan kapasitas dan sumber daya, dan ketika prioritas dalam situasi bersaing.
Sebagian pengguna juga telah diperingatkan mengenai asumsi model linier sederhana kemajuan
mencapai ketahananan: Dalam masyarakat dengan perubahan lingkungan, sosial ekonomi,
atau politik yang cepat, segi-segi ketahananan yang sebelumnya dicapai mungkin hilang. Ini
menunjukan kebutuhan akan telaah berkala atas keseluruhan kondisi ketahananan dalam sebuah
masyarakat.
4.4 MENGAPLIKASIKAN KARAKTERISTIK KE DALAM AKTIVITAS PRB
4.4.1 Perencanaan strategis dan kemitraan
(a) Perencanaan strategis
Meskipun lebih sering digunakan dalam pekerjaan proyek, Karakteristik juga dapat membantu
perencanaan pada tingkat yang lebih tinggi. Terdapat beberapa pengelaman terkait saat ini, namun
penggunaan sumber daya oleh Christian Aid untuk mengembangkan strategi regional PRB dan API
di Amerika Tengah menjadi pendekatan model yng menarik (lihat Studi Kasus 5):
(b) Penetapan ruang lingkup
Karakteristik, khususnya Komponen Ketahananan, dapat digunakan dalam pemetaan dasar atau
penetapan ruang lingkup untuk mengidentifikasi:
Area utama ketahananan atau PRB yang menjadi perhatian lembaga, dan/atau lembaga lain,
yang tengah bekerja dalam masyarakat atau distrik tertentu
Di mana penekanan yang ada dalam intervensi mereka
Setiap kesenjangan yang menonjol dalam cakupan atau rantai yang hilang antara komponenkomponen PRB
15

Perubahan perilaku sulit untuk diukur, namun ada metode untuk melakukan pengukuran itu, seperti pemetaan hasil lihat www.outcomemapping.ca

Temuan dari telaah sejenis akan bermanfaat untuk diskusi mengenai fokus pekerjaan mendatang.
Penetapan ruang lingkup atau pemetaan akan sangat membantu dalam situasi yang melibatkan
beragam pemangku kepentingan. Temuan dapat mengindikasikan cakupan kolektif lembaga dan
menyoroti potensi kolaborasi yang baru atau yang lebih kuat pada isu-isu khusus.
Tidak mungkin sebuah organisasi tunggal dapat menangani sendiri semua area yang relevan. Hal
demikian tidak dianjurkan, mengingat dibutuhkan keterampilan teknis dalam banyak kasus. Ketika
keterampilan sebuah organisasi sendiri terletak pada satu bidang tertentu (misalnya kesiapsiagaan
bencana, dukungan penghidupan, pendidikan), maka organisasi tersebut seringkali ingin membangun
kekuatannya sendiri. Namun pemetaan atau penetapan ruang lingkup akan membantu organisasi
tersebut untuk mempertimbangkan apakah perlu terlibat dalam aspek PRB dan aspek ketahananan
lain yang relevan untuk membantu pekerjaan mereka sekarang atau meningkatkan dampaknya
(dan melalui kemitraan dengan lembaga lain untuk mencapai hal ini).
Sebagai contoh:
Sebuah organisasi dengan keterampilan dalam penilaian bahaya dan risiko atau analisis
kerentanan (yang termasuk dalam Area Tematik 2: Penilaian Risiko) mungkin ingin memastikan
agar hasil pekerjaannya dapat dibagikan dan diaplikasikan secara efektif. Ini mungkin mendorong
mereka berpikir untuk turut terlibat dalam pekerjaan informasi publik (sebagai aspek dari Area
Tematik 3: Pengetahuan dan Edukasi) serta sistem peringatan dini (Area Tematik 5: Kesiapsiagaan
dan Tanggap Darurat).
Sebuah organisasi yang berfokus pada teknologi PRB seperti bangunan yang aman serta langkahlangkah pengendalian banjir dan tanah longsor (bagian dari Area Tematik 4: Manajemen Risiko
dan Reduksi Kerentanan) mungkin perlu dilibatkan dalam diskusi mengenai aturan bangunan,
regulasi pemanfaatan lahan, serta ketetapan legislatif lain (Area Tematik 1: Tata Kelola) yang
mungkin memengaruhi prakarsanya, juga dalam memberikan pelatihan teknis kepada anggota
masyarakat (Area Tematik 3: Pengetahuan dan Edukasi).
(c) Kebutuhan dan peluang kemitraan
Karakteristik catatan panduan mendukung isu investigasi kemitraan PRB dengan sejumlah cara.
Secara konseptual, terdapat dua segi kerangka kerja yang paling relevan.
1. Elemen kemitraan berada dalam Area Tematik 1 (Tata Kelola): terdiri atas isu-isu seperti integrasi
aktivitas, visi bersama, konsensus, negosiasi, partisipasi, aksi kolektif, representasi, inklusi,
akuntabilitas, kerelawanan, dan kepercayaan. Tata Kelola juga merupakan tema yang terkait
dengan Area Tematik serta Komponen Ketahananan yang lain.
2. Melalui bagian Lingkungan Kondusif dari kerangka kerja, Karakteristik mengakui pentingnya
faktor institusional, kebijakan, dan sosial ekonomi yang lebih luas dalam mendukung ketahananan
tingkat masyarakat.
Dalam aplikasi, terdapat beberapa cara menggunakan Karakteristik untuk mengidentifikasi, menilai,
dan menstimulasi peluang kemitraan. Salah satunya adalah pemetaan atau penetapan ruang
lingkup awal sebagaimana disebutkan di atas.
Sejumlah telaah dan evaluasi proyek telah menggunakan Karakteristik sebagai kerangka kerja atau
lensa untuk menilai dimensi tata kelola dan kemitraan dari PRB. Biasanya, telaah dan evaluasi
tersebut membandingkan situasi yang ada dengan kondisi ideal yang dinyatakan dalam Karakteristik
dan mengidentifikasi area-area untuk pekerjaan mendatang, seperti kebutuhan integrasi yang
lebih erat antara aktivitas proyek dengan struktur pemerintah lokal. Telaah dan kajian dasar lain
mempertimbangkan elemen-elemen Lingkungan Kondusif yang dianggap relevan dengan tujuan
dan aktivitas proyek.
27

Sebagian telaah yang dipandu dengan tabel Karakteristik berhasil mengidentifikasi kemitraan yang
berkembang dalam pencapaian proyek. Sebagai contoh, telaah atas sebuah program pendidikan
ActionAid di Bangladesh menyebutkan proses konsultasi interaktif yang lebih luas dengan beragam
pemangku kepentingan dan masyarakat dalam tiga distrik rawan bencana, dengan hasil bahwa
orang, tokoh masyarakat, guru sekolah serta para manajer bencana tingkat lokal serta para manajer
pendidikan memperoleh lebih banyak informasi mengenai risiko bencana dan peran mereka dalam
mengelolanya. Pemerintah lokal juga dilibatkan dalam mengembangkan dan mengimplementasikan
rencana aksi proyek. Tidak berarti bahwa panduan Karakteristik sendiri yang menstimulasi lembagalembaga tersebut untuk terlibat lebih jauh dalam kemitraan PRB, namun aplikasi Karakteristik
membantu memperjelas aspek PRB ini.
Para periset dalam waktu singkat juga turut mengaplikasikan Karakteristik dalam pertanyaanpertanyaan mengenai kemitraan. Di Honduras, sebuah kajian mengenai akuntabilitas dan nondiskriminasi dalam manajemen risiko banjir menggunakan Area Tematik Tata Kelola dan Lingkungan
Kondusif (bersama dengan materi lain) untuk membuat kerangka pertanyaan riset.16 Karakteristik
digunakan oleh Christian Aid untuk memandu pertanyaan yang digunakan pada wawancara
setengah-terstruktur dan diskusi kelompok dalam kajian tingkat-masyarakat di La Reforma, Honduras,
yang menggali faktor-faktor yang memengaruhi kemampuan masyarakat untuk meningkatkan
pengaruhnya pada pemerintah lokal. Kajian tersebut mengidentifikasi pentingnya aliansi strategis
antara masyarakat dengan aktor lain (khususnya masyarakat lain yang terdampak banjir) sebagai
motor PRB, yang mendorong perubahan dalam hubungan mereka dengan otoritas kota.
Umpan balik memberikan kesan bahwa lembaga pengguna tidak menggunakan sebagian besar
potensi Karakteristik untuk menilai dan mengembangkan kemitraan PRB beragam pemangku
kepentingan. Tidak jelas mengapa demikian, namun, apapun alasannya, problem ini harus ditangani
jika kita ingin melihat PRB berbasis masyarakat yang berkelanjutan diaplikasikan pada skala besar.
4.4.2 Manajemen Siklus Proyek
(a) Kajian Dasar
Dengan merujuk kepada Karakteristik, proyek dapat memastikan bahwa pijakan mereka cukup
koheren dan berentang luas untuk menjangkau semua isu relevan. Dengan melihat Komponen
Ketahananan dan Karakteristik Masyarakat Tahan Bencana individual, mereka dapat mengidentifikasi
segi dan indikator khusus untuk memandu pengumpulan data. Data dari survei dasar aktivitas PRB
juga dapat disandingkan dengan kerangka kerja Karakteristik serta berbagai elemennya yang
berbeda untuk mengidentifikasi tingkat ketahananan yang ada dalam masyarakat.
Sejumlah lembaga mungkin merasa terbantu dengan memberikan pembobotan atau peringkat
untuk pemetaan, dalam bentuk skor numerik. Ini terkait dengan pertanyaan mengenai tonggak
riwayat perkembangan ketahananan (lihat bagian 4.3.5) namun setiap sistem penetapan skor
dapat dipikirkan. Sebagai contoh, salah satu usulan dari uji lapangan adalah bawah pijakan dapat
memberi nilai untuk Karakteristik individual menurut skala sederhana: (1) tercapai, (2) tercapai
sebagian, (3) tidak tercapai. Skala tersebut dapat digunakan untuk menghasilkan skor kasar
yang akan membantu dalam memutuskan prioritas sebuah proyek (misalnya untuk memberikan
fokus intervensi pada aspek ketahananan tertentu, atau untuk bekerja dalam sebuah masyarakat
ketimbang masyarakat yang lain). Survei selanjutnya dengan sistem penetapan skor yang sama
dapat menilai perkembangan sejak garis dasar. Sistem apapun yang digunakan, skor numerik
harus diperdebatkan dan disepakati, seringkali berdasarkan data kualitatif dan pertimbangan nilai.
Temuan dapat disajikan secara visual, misalnya dalam bentuk diagram laba-laba.
Newborne P 2008, Akuntabilitas dan Non Diskriminasi dalam Manajemen Risiko Banjir: Menginvestigasi potensi pendekatan berbasis hak. Studi
kasus Honduras (London: Overseas Development Institute/Christian Aid).
16

(b) Analisis Kerentanan dan Kapasitas


Kerentanan merupakan istilah yang luas dan konsepnya dipahami serta dijelaskan dengan beragam
cara oleh para akademisi dan praktisi. Praktisi PRB harus benar-benar terang mengenai cara
mereka memahami kerentanan dan cara mengaplikasikannya dalam pekerjaan mereka.
Analisis kerentanan dan kapasitas (VCA) harus memiliki rentang yang luas agar semua dimensi
dapat diidentifikasi. Dalam praktik seringkali demikian banyak informasi yang terhimpun, mengenai
demikian banyak isu yang berbeda dan dalam bentuk yang beragam (termasuk perbedaan
kualitas), sehingga sulit untuk membuat analisis yang koheren. Beberapa pengguna menyatakan
Karakteristik membantu mereka mempertajam analisis kerentanan, baik dengan mengidentifikasi
area pertanyaan sebelum VCA dijalankan maupun dengan menyediakan kerangka kerja yang dapat
digunakan untuk mengorganisasi serta menginterpretasi data.
Karakteristik juga dapat diaplikasikan sebagai kerangka kerja organisasi dan interpretasi dalam
penilaian risiko atau kerantanan yang dijalankan sebelumnya. Kotak 9 (Pemetaan kerentanan dan
kapasitas menggunakan kerangka kerja Karakteristik) merupakan sebuah contoh.
Metode dan kerangka kerja VCA partisipatif didesain untuk mendukung proses yang digunakan
masyarakat untuk mengidentifikasi dan menilai situasi mereka. Biasanya hanya ada area kajian
yang umum pada awalnya. Indikator tidak ditetapkan terlebih dahulu karena bisa mengakibatkan
temuan yang tidak lengkap atau menyimpang. Ini dianggap sebagai praktik yang baik, namun
para pekerja lapangan tetap perlu memiliki gambaran mengenai rentang dan jenis kerentanan/
ketahananan yang mungkin diungkap melalui VCA untuk mempersempit atau memperluas ruang
lingkup penelitian, jika perlu. Karakteristik dapat membantu mereka di sini. Sebagai contoh, sebuah
proyek yang didanai ActionAid DIPECHO untuk memperkuat ketahananan masyarakat terhadap
banjir, gempa bumi, dan tanah longsor di Afghanistan Utara menggunakan Karakteristik sebagai
bagian dari orientasi dan pelatihan Analisis Kerentanan Partisipatif, guna mengidentifikasi jenis
kerentanan yang pernah ada dalam masyarakat tempat proyek diimplementasikan.
Kelompok rentan yang disebutkan dalam Karakteristik bukan merupakan kelompok sosial yang
tunggal, mengingat banyak kelompok yang memiliki kerentanan kelompok miskin, perempuan,
anak-anak, manula, etnis dan religius, serta penyandang disabilitas, misalnya dan umumnya
mengalami kerentanan terhadap kejutan eksternal dengan cara dan dengan tingkatan yang
berbeda-beda. Diasumsikan bahwa pekerjaan proyek yang baik akan mengelompokkan
berbagai kelompok yang berbeda-beda berikut kerentanannya. Betapapun, organisasi yang
menangani kelompok tertentu dalam masyarakat mungkin akan merasa perlu untuk menyusun
ulang Karakteristik Masyarakat Tahan bencana individual guna merefleksikan situasi dan kebutuhan
kelompok tersebut.
Panduan VCA formal juga harus menyoroti poin ini. Karakteristik (Area Tematik 2, Komponen
Ketahananan 2) tidak merinci mengenai cara melaksanakan VCA, namun memberikan catatan
bahwa VCA harus memberikan gambaran yang komprehensif mengenai kerentanan dan kapasitas
serta bahwa VCA harus menjadi proses partisipatif yang melibatkan perwakilan dari semua kelompok
rentan (Karakteristik 2.1, 2.2).
Isu-isu gender masih sering diremehkan dan diabaikan dalam proyek VCA dan PRB. Sejumlah
kerangka kerja untuk penilaian menambahkan gender sebagai isu lintas sektoral khusus yang
membutuhkan perhatian terpisah. Ini terjadi dalam kajian Pandangan dari Garis Depan 2008-9
yang diadakan oleh Global Network of Civil Society Organizations for Disaster Reduction (Jaringan
Global Organisasi Masyarakat Sipil untuk Pengurangan Bencana).17
Mendung namun hujan rintik ... Pandangan dari Garis Depan: Perspektif lokal atas pelaksanaan Hyogo Framework for Action (Teddington: Jaringan
Global untuk Organisasi Masyarakat Sipil untuk Pengurangan Bencana, 2009) www.globalnetwork-dr.org
17

29

Tidak terdapat elemen gender yang spesifik dalam Karakteristik, namun tersirat dalam keseluruhan
kerangka kerja: sebagai contoh, dalam Karakteristik yang terkait dengan partisipasi, akuntabilitas,
kearifan lokal, budaya dan sikap, kesejahteraan, serta perlindungan sosial. Ini adalah ilustrasi lain
dari kebutuhan organisasi yang menggunakan Karakteristik untuk mencegah pendekatan daftar
periksa dan justru menggunakan sumber daya sebagai titik awal dalam mengidentifikasi dan
mendiskusikan isu-isu yang relevan.
Komentar lain yang disampaikan selama uji lapangan adalah bahwa Karakteristik membuat
pemisahan artifisial yang sesungguhnya antara data dan pengkajian bahaya/risiko di satu sisi, serta
data dan pengkajian kerentanan/kapasitas dan dampak di sisi lain: lihat Area Tematik 2 (Penilaian
Risiko), Komponen Ketahananan 1 dan 2 (Data dan Penilaian Bahaya/Risiko, Data dan Penilaian
Kerentanan/Kapasitas dan Dampak). Dalam praktik, seringkali terjadi tumpang tindih antara
beragam jenis penilaian ini dan terdapat banyak cara untuk menjalankannya yang mungkin lebih atau
kurang terbuka terhadap beragam dimensi risiko dan kerentanan. Pemisahan dalam Karakteristik
tidak dimaksudkan untuk menjadikannya sebagai pekerjaan yang berbeda dan terpisah namun
untuk memastikan bahwa semua aspek yang relevan dari bahaya, risiko, dan kerentanan manusia
dipertimbangkan bersama-sama dalam perencanaan PRB dan ketahananan.
(c) Desain proyek: memilih indikator
Meskipun secara konseptual atau sesekali secara intuitif kami memahami kerentanan
dan ketahananan, namun seringkali menemui kesulitan untuk merinci, dan dalam hal ini,
kesulitan terletak pada pengukuran.18
Karakteristik yang dimuat dalam tabel bukan merupakan indikator proyek konvensional.
Karakteristik tersebut memaparkan kondisi ideal ketahananan dalam pengertian yang relatif
umum, di mana proyek individual akan membutuhkan indikator mereka sendiri yang spesifik dan
lebih rinci mengenai pencapaian berkelanjutan pada tahapan yang tepat, poin keputusan, dan
penyesuaian dalam siklus proyek.19 Karakteristik harus dilihat sebagai papan penunjuk jalan
untuk pengembangan indikator, yang mendeskripsikan sifat-sifat atau elemen-elemen yang
berkontribusi bagi ketahananan masyarakat. Karakteristik selanjutnya harus diterjemahkan ke
dalam indikator yang terukur. Hal ini penting untuk dipahami.
Hubungan antara Karakteristik dengan indikator konvensional tidak bersifat baku:
Sebagian Karakteristik setara dengan indikator dampak atau hasil yang digunakan dalam evaluasi
proyek karena mencerminkan kondisi akhir sebagai hasil dari intervensi PRB.
Karakteristik lain lebih dekat kepada indikator output karena mengindikasikan aktivitas atau langkah
PRB yang lengkap yang telah disusun guna mencapai dampak/hasil berupa ketahananan.
Beberapa lainnya setara dengan indikator proses yang mengukur implementasi aktivitas proyek
sebagai perolehan proyek.
Organisasi dan proyek bisa memilih untuk menyusun ulang sejumlah Karakteristik dengan cara ini
untuk desain proyek dan kerangka kerja logis, serta M&E yang lebih umum.
Kotak 10 (Mengubah Karakteristik menjadi indikator) disusun berdasarkan panduan Oxfam GB
untuk membantu staf proyek dalam mengembangkan indikator terukur.
Sebagian besar lembaga telah menggunakan Karakteristik untuk menginformasikan desain proyek
serta pemilihan indikator untuk kerangka kerja logis dan berbasis hasil. Secara tipikal, Karakteristik
individual dipilih dan dimodifikasi menjadi indikator. Seringkali indikator lebih umum yang
dikembangkan oleh sebuah proyek disaring dengan menghubungkan dengan Karakteristik tertentu.
Cutter S et al. 2008, Kelentingan Masyarakat dan Regional: Perspektif dari Manajemen Bahaya, Bencana dan Keadaan Darurat ctives (Inisiatif
Kelentingan Masyarakat dan Regional) p.7
19
Pedoman UN ISDR dan UN OCHA mengenai Indikator PRB menjelaskan indikator-indikator dan pemilihan indikator secara rinci (UN ISDR 2008;
UN ISDR/ UN OCHA 2008. Pedoman ADPC mengenai manajemen risiko bencana berbasis masyarakat berisi informasi yang bermanfaat mengenai
indikator PRB pada tingkat masyarakat (ADPC 2006). Lihat bagian 5 (Bacaan lebih lanjut)
18

Ini akan menjadi proses pengambilan keputusan yang cermat, di mana, pada awalnya, Karakteristik
ditelaah untuk mengidentifikasi dan memilih potensi indikator yang relevan serta kemudian diubah
dan diamandemen jika perlu agar menjadi indikator yang akurat sebagaimana dibutuhkan proyek.
Ini seringkali membutuhkan diskusi ekstensif oleh para pemangku kepentingan proyek. Selama uji
lapangan, referensi kepada Karakteristik membantu mengidentifikasi kesenjangan dan kelemahan
dalam desain proyek, sekaligus mendorong proyek agar berfokus kepada sasaran yang realistis
dan dapat dicapai.
Dalam praktik, proses mungkin melibatkan sejumlah kuantifikasi sehingga dapat ditetapkan sasaran
proyek yang terukur (misalnya jumlah bentuk pelatihan tertentu yang akan diadakan selama periode
proyek dan jumlah peserta, tanggal VCA atau penilaian risiko dilaksanakan atau dimutakhirkan,
jumlah struktur penadahan hujan yang akan dibangun). (Lihat juga kotak 11: Karakteristik/indikator:
Kuantitatif atau kualitatif? )
Pemilihan dan revisi indikator dapat dilakukan pada waktu yang lain selama siklus proyek, jika
indikator yang ada tidak memadai untuk menangkap apa yang dikerjakan proyek, atau tidak dapat
membaca isu-isu yang muncul selama implementasi dan harus ditangani dalam proyek.
Proses tidak akan berlangsung datar karena proyek menginginkan hasil pada berbagai tingkatan
yang berbeda misalnya pada tingkat rumah tangga, kelompok/masyarakat, dan tingkat pemerintah
lokal. Buku Karakteristik ditujukan untuk analisis tingkat masyarakat. Sejumlah elemen mungkin
relevan dengan tingkatan lain namun pemilihan dan adaptasi Karakteristik akan lebih rumit.
(d) Telaah dan evaluasi
Salah satu manfaat utama Karakteristik adalah untuk melakukan telaah dan evaluasi proyek.
Umpan balik yang diperoleh sangat positif. Karakteristik umumnya digunakan untuk membingkai
proses telaah proyek, dengan satu atau dua cara (yang pertama lebih umum).
1. Penelaah/evaluator memilih Karakteristik Masyarakat Tahan Bencana yang relevan sebagai
indikator aktivitas atau pencapaian area PRB tertentu yang ditangani proyek. Ini akan memberikan
kriteria yang lebih lengkap atau lebih jelas yang dapat digunakan untuk mengevaluasi
perkembangan, bahkan meskipun Karakteristik sendiri sudah bersifat deskriptif.

Sebagai contoh, dalam evaluasi proyek jangka menengah Tearfund di India, salah satu indikator
kesuksesan proyek yang ada adalah: 80% masyarakat sasaran dengan komite dan tim relawan
yang berfungsi. Tiga Karakteristik relevan digunakan dalam evaluasi untuk membantu menilai
hal ini:
kepemimpinan masyarakat yang berkomitmen, efektif, dan akuntabel dalam perencanaan
dan implementasi PRB (Area Tematik 1, Karakteristik 1.5);
kapasitas masyarakat untuk memberikan bantuan tanggap darurat yang efektif dan tepat
waktu: misalnya pencarian dan penyelamatan, pertolongan pertama/bantuan medis,
pengkajian kebutuhan dan kerugian, distribusi bantuan, penampungan darurat, dukungan
psikologis, pembersihan jalan (Area Tematik 5, Karakteristik 5.1);
tingkat kerelawanan masyarakat yang tinggi dalam semua aspek kesiapsiagaan, tanggap, dan
pemulihan, yang mewakili semua bagian dari masyarakat (Area Tematik 5, Karakteristik 6.4).

Meskipun jelas lebih baik menggunakan Karakteristik untuk memilih indikator pada tahap desain
proyek, untuk memastikan konsistensi selama siklus proyek, tidak berarti bahwa Karakteristik
tidak dapat diperkenalkan pada tahap yang lebih jauh faktanya, sebagian besar aplikasi
evaluasi/penelaahan hingga saat ini bersifat retrospektif. Tidak perlu menunggu jadwal evaluasi
formal untuk melihat proyek dengan sudut pandang baru melalui lensa Karakteristik: ini dapat
dilakukan setiap saat selama proyek sebagai bagian dari pemantauan yang berkelanjutan.
31

Namun demikian, pemantauan dan evaluasi bisa menjadi sulit jika indikator dan hirarki
indikator diubah seiring perkembangan proyek. Lebih jauh lagi, donor mengharapkan laporan
menggunakan indikator asli. Mengubah indikator atau menambah indikator baru mungkin akan
membingungkan pekerja proyek, mitra, dan masyarakat sehingga setiap perubahan harus
dipikirkan dengan cermat. Selama percontohan Karakteristik, beberapa lembaga menemukan
kesulitan mengenai cara mengaplikasikannya ke dalam proyek yang sedang berlangsung
dengan kerangka kerja indikator yang telah mapan (dalam bentuk kerangka kerja logis atau
berbasis hasil). Solusi untuk permasalahan ini tampaknya adalah menggunakan Karakteristik
bukan untuk menggantikan indikator yang ada tetapi untuk menyaring dengan membuat
lebih jelas, lebih eksplisit, atau lebih rinci. Tidak banyak pengalaman mengenai hal ini, hingga
saat ini, namun contoh dari Christian Aid dalam Studi Kasus 6 (Menggunakan Karakteristik untuk
telaah dan evaluasi) memperlihatkan bagaimana karakteristik bekerja.
2. Pendekatan kedua melihat proyek dari arah lain. Pendekatan ini memetakan semua aktivitas
dan pencapaian proyek berdasarkan kerangka kerja Karakteristik, tidak hanya sebagai ukuran
keberhasilan namun juga pemahaman mengenai kesenjangan dan keterbatasan dalam cakupan
PRB. Ini dapat dilakukan sebagai pekerjaan sekali habis atau sebagai tambahan atas evaluasi
atau telaah yang tengah berjalan

Pendekatan sejenis akan sangat membantu untuk memberikan ikhtisar yang sistematis mengenai
hal yang sedang dilakukan dan hal yang dibutuhkan serta pekerjaan yang dapat dilaksanakan
dengan cepat. Pendekatan tersebut juga dapat menstimulasi diskusi mengenai prioritas dan tingkat
perkembangan. Sebagai contoh, ketika Oxfam mengaplikasikan lensa Karakteristik untuk temuan
sebuah telaah atas Program Lembah Sungai yang dilaksanakan di Gaibandha, Bangladesh,
hal tersebut dilakukan guna membuka ruang untuk diskusi dengan tim negara dan regional
organisasi mengenai kekuatan, kelemahan, ancaman, dan peluang yang terkait dengan program.

Meskipun demikian, mereka yang menggunakan Karakteristik dengan cara ini harus menyadari
bahwa mungkin akan mengecewakan mereka yang terkait karena tidak mungkin sebuah proyek
atau program bisa menangani semua komponen kunci ketahananan. Beberapa staf lokal dan
mitra mungkin merasa ini sifatnya mengancam jika tampak mengekspos jurang yang luas dalam
pencakupan PRB, atau dalam basis bukti, dan sebagai akibatnya dapat menimbulkan sikap
yang defensif. Aplikasi dengan cara ini harus ditangani secara sensitif mungkin lebih baik
menjalankan pekerjaan sebagai telaah tim, di mana isu dapat diperdebatkan dan diselesaikan,
ketimbang menyerahkan sepenuhnya kepada pertimbangan penelaah eksternal. Seringkali akan
lebih tepat mengaplikasikan metode untuk menelaah aktivitas semua lembaga yang bekerja
pada masyarakat atau distrik tertentu, dibanding hanya satu lembaga tunggal.

Dalam M&E, sebagaimana dalam aplikasi lain, Karakteristik dapat dan harus disesuaikan agar
cocok dengan beragam kebutuhan dan konteks. Setiap proyek berbeda. Harus ada proses seleksi
guna memungkinkan fokus pada Komponen Ketahananan serta Karakteristik Masyarakat Tahan
Bencana yang paling sesuai dengan proyek beserta kondisi operasinya. Mungkin perlu juga dipilih
Karakteristik relevan kunci untuk mengukur perkembangan, atau untuk menggunakan Komponen
Ketahananan sebagai kerangka kerja yang lebih luas untuk mengimbangi hasil-hasil proyek.
Mungkin tidak perlu atau praktis untuk setiap anggota tim evaluasi untuk mengenal semua rincian,
namun ketua tim dan mereka yang memilih indikator kunci mungkin perlu mempelajari Karakteristik
secara menyeluruh sebagai bagian dari proses seleksi tersebut.
4.4.3 Penelitian
Riset secara potensial adalah aplikasi penting dari kerangka kerja Karakteristik. Kajian riset tidak
mungkin disandarkan kepada Karakteristik semata; Karakteristik akan menjadi salah satu dari

dari beberapa sumber daya, kerangka kerja, dan konsep yang digunakan oleh periset untuk
mendesain proyek mereka dan mengarahkan pertanyaan mereka.
Telah disusun beberapa proposal riset dan diadakan beberapa proyek riset menggunakan
Karakteristik untuk memahami serangkaian isu, meliputi: akuntabilitas dalam manajemen risiko banjir,
menilai ketahananan dalam masyarakat pegunungan (berfokus kepada kearifan lokal mengenai
risiko dan praktik lingkungan berkelestarian, adopsi praktik PRB dan keragaman penghidupan serta
akses kepada sumber daya alam), penanganan lokal risiko bencana, dan strategi penanggulangan
psikologis individu serta kelompok. (Lihat juga kotak 12: Meriset pembangunan ketahananan)
Christian Aid telah mengaplikasikan Karakteristik secara ekstensif sebagai peranti pembingkaian
konseptual untuk analisis dan pengembangan studi kasus masyarakat rentan: Studi Kasus 7
(Menggunakan Karakteristik untuk pengumpulan data dan riset) menguraikan proses yang diadopsi.
Temuan riset umumnya terkait dengan proyek namun seringkali muncul isu-isu yang jauh lebih
signifikan (misalnya, riset di Malawi menunjukkan hubungan antara NGO, struktur kekuasaan, dan
VCA, menyatakan bahwa pengaruh struktur kekuasaan lokal pada proses VCA dapat merusak hasil
yang telah mereka peroleh, dengan implikasi serius untuk mengarahkan perencanaan proyek dan
akuntabilitas manajemen proyek).20
4.4.4 Advokasi
Karakteristik mendukung advokasi dengan menyediakan basis bukti (membantu mengidentifikasi
kerentanan dan kapasitas, mengindikasikan area prioritas untuk intervensi dan mendemonstrasikan
dampak langkah-langkah PRB) dan menstimulasi diskusi serta kemitraan.
Sebagian NGO membuktikan Karakteristik Lingkungan Kondusif sebagai piranti yang membantu
dalam kerja advokasi mereka, khususnya dalam mengembangkan agenda pengarusutamaan
PRB pada tingkat level guna melengkapi kerja akar rumput mereka (lihat kotak 13: Mempertalikan
ketahananan masyarakat dengan Lingkungan Kondusif). Karena Karakteristik Lingkungan Kondusif
cenderung bersifat umum maka harus dipertajam guna menciptakan sasaran advokasi yang lebih
fokus (misalnya memperoleh undang-undang PRB khusus yang disahkan oleh parlemen). Namun
demikian, bagian kerangka kerja ini telah membantu organisasi masyarakat sipil untuk mengajukan
pertanyaan spesifik mengenai pemerintah lokal terkait ketahananan dan PRB, dan karenanya
memungkinkan mereka untuk terlibat dalam diskusi kebijakan dengan pejabat pemerintah.
Lingkungan Kondusif juga mencakup beragam tingkatan, lokal, nasional, dan internasional.
Prakarsa advokasi harus mengidentifikasi tujuan mereka pada tiap tingkatan dan memikirkan cara
menghubungkannya.
BAGIAN 5: BACAAN LANJUTAN
Daftar ini berisi sumber-sumber penting terpilih yang tersedia luas (sebagian besar online).
Kerangka Kerja Aksi Hyogo dan Indikator PRB PBB
Global Network of Civil Society Organizations for Disaster Reduction 2009, Clouds but little rain
.. Views from the Frontline: A local perspective of progress towards implementation of the Hyogo
Framework for Action (Teddington: Global Network of Civil Society Organizations for Disaster
Reduction) www.globalnetwork-dr.org
situs web UN ISDR Hyogo Framework for Action, http://www.unisdr.org/eng/hfa/hfa.htm
UN ISDR 2008, Indicators of Progress: Guidance on Measuring the Reduction of Disaster Risks
and the Implementation of the Hyogo Framework for Action (Geneva: UN International Strategy
for Disaster Reduction) www.unisdr.org
Penya JL, Nyrongo J 2008, Siapa Yang Mengendalikan Pembangunan? LSM, Akuntabilitas dan Kekuasaan di Pedesaan Malawi (London: Christian
Aid, makalah yang tidak dipublikasikan).
20

33

UN ISDR/UN OCHA 2008, Disaster Preparedness for Effective Response: Guidance and Indicator
Package for Implementing Priority Five of the Hyogo Framework (Geneva: UN International Strategy
for Disaster Reduction/UN Office for Coordination of Humanitarian Affairs) www.preventionweb.
net
Karakteristik dan aplikasinya:
Liebmann M, Pavanello S 2007, A critical review of the Knowledge and Education Indicators of
Community-Level Disaster Risk Reduction (London: Aon Benfield UCL Hazard Research Centre,
laporan yang tidak dipublikasikan) www.proventionconsortium.org/?pageid=90 dan www.abuhrc.
org/research/dsm/Pages/project_view.aspx?project=13
Twigg J 2009, Identifying Partnership Needs and Opportunities (London: Aon Benfield UCL Hazard
Research Centre, Disaster Studies Working Paper 18) www.abuhrc.org
Lihat pula studi kasus dan dokumen lain pada laman web Karakteristik: www.proventionconsortium.
org/?pageid=90 atau www.abuhrc.org/research/dsm/Pages/project_view.aspx?project=13
Panduan Indikator PRB dan Ketahananan lain
ADPC 2006, Critical Guidelines: Community-based Disaster Risk Management (Bangkok: Asian
Disaster Preparedness Center) www.adpc.net
Benson C, Twigg J 2007 (with T Rossetto), Tools for Mainstreaming Disaster Risk Reduction:
Guidance Notes for Development Organizations (Geneva: ProVention Consortium) www.
proventionconsortium.org/mainstreaming_tools
Benson C, Twigg J 2004, Measuring Mitigation: Methodologies for assessing natural hazard
risks and the net benefits of mitigation: a scoping study (Geneva: ProVention Consortium) www.
proventionconsortium.org/mainstreaming_tools
Centre for Community Enterprise 2000, The Community Resilience Manual: a resource for rural
recovery and renewal (Port Alberni, BC: Centre for Community Enterprise) www.cedworks.com)
IOTWS 2007, How Resilient is Your Coastal Community? A guide for evaluating coastal community
resilience to tsunamis and other hazards (Bangkok: US Indian Ocean Tsunami Warning System
Program) www.iotws.org
LaTrobe S, Davis I 2005, Mainstreaming disaster risk reduction: a tool for development organizations
(Teddington: Tearfund) http://tilz.tearfund.org
McEntire DA 2000, Sustainability or invulnerable development? Proposals for the current shift in
paradigms. Australian Journal of Emergency Management 15(1): 58-61.
ProVention Consortium 2006, Risk Reduction Indicators. TRIAMS Working Paper (Geneva:
ProVention Consortium) www.proventionconsortium.org/themes/default/pdfs/TRIAMS_full_paper.
pdf
Tearfund undated, CEDRA: Climate Change and Environmental Degradation Risk and Adaptation
Assessment. An environmental field tool for agencies working in developing countries (Teddington:
Tearfund) http://tilz.tearfund.org
Williamson L, Connor H 2008, Vulnerability Adaptation Energy Resilience (VAR): Indicators
and methodology to identify adaptation projects that reinforce energy systems resilience (Paris:
Helio International) www.helio-international.org
PRB dan adaptasi perubahan iklim
Disasters, Vol. 30, No. 1, March 2006 (special issue on Natural Disasters and Climate Change).
Ensor J, Berger R, 2009, Understanding Climate Change Adaptation: Lessons from communitybased approaches (Rugby: Practical Action Publishing).
Pasteur K, 2010 (in press), From Vulnerability to Resilience (V2R): Guidelines for Analysis and Action
to Build Community Resilience (Rugby: Practical Action Publishing) http://www.practicalaction.org/
Venton P, La Trobe S, 2008, Linking climate change adaptation and disaster risk reduction
(Teddington: Tearfund) www.tearfund.org/webdocs/Website/Campaigning/CCA_and_DRR_web.
pdf

PRB berbasis lokal dan masyarakat


ADPC 2006, Critical Guidelines: Community-based Disaster Risk Management (Bangkok: Asian
Disaster Preparedness Center) www.adpc.net
Twigg J 2004, Disaster risk reduction: Mitigation and preparedness in development and emergency
programming (London: Overseas Development Institute, Humanitarian Practice Network, Good
Practice Review No. 9) www.odihpn.org
UN ISDR/UNDP 2007, Building Disaster Resilient Communities: Good Practices and Lessons
Learned (Geneva: UNISDR/UNDP) www.unisdr.org
Ketahananan dan masyarakat Tahan bencana
Buckle P, Marsh G, Smale S 2000, New approaches to assessing vulnerability and resilience.
Australian Journal of Emergency Management 15(2) 8-14.
Cutter S et al. 2008, A place-based model for understanding community resilience to natural
disasters. Global Environmental Change 18: 598-606.
Cutter S et al. 2008, Community and Regional Resilience: Perspectives from Hazards, Disasters
and Emergency Management (Community and Regional Resilience Initiative) www.resilientus.org
Geis DE 2000, By Design: the Disaster Resistant and Quality-of-Life Community. Natural Hazards
Review 1(3): 151-160.
Godschalk DR 2003, Urban Hazard Mitigation: Creating Resilient Cities. Natural Hazards Review
4(3) 136-143.
IFRC 2004, World Disasters Report 2004: Focus on community resilience (Geneva: IFRC), pp.
11-35.
Learning for Sustainability website, www.learningforsustainability.net (Community Resilience and
Adaptation page)
McEntire DA 2005, Why vulnerability matters. Exploring the merit of an inclusive disaster reduction
concept. Disaster Prevention and Management 14(2) 206-222.
Manyena SB 2006, The concept of resilience revisited. Disasters 30(4): 433-450.
Sapirstein G 2006, Social Resilience: The Forgotten Dimension of Disaster Risk Reduction.
Jamba 1(1) 54-63.
Masyarakat dan PRB
Buckle P 1998/9, Re-defining community and vulnerability in the context of emergency
management. Australian Journal of Emergency Management 13(4) 21-26.
Enders J 2001, Measuring community awareness and preparedness for emergencies. Australian
Journal of Emergency Management 16(3): 52-58.
IFRC 2004, World Disasters Report 2004: Focus on community resilience (Geneva: IFRC), pp.
27-31.
Marsh G, Buckle P 2001, Community: the concept of community in the risk and emergency
management context. Australian Journal of Emergency Management 16(1): 5-7.

35

BAGIAN 6: TABEL KARAKTERISTIK


AREA TEMATIK 1: TATA KELOLA PEMERINTAHAN
Komponen Ketahanan:
1. Kebijakan, perencanaan, prioritas, dan komitmen politik PRB
2. Sistem hukum dan regulasi
3. Integrasi dengan kebijakan dan perencanaan pembangunan
4. Integrasi dengan respon dan pemulihan kedaruratan
5. Mekanisme, kapasitas dan struktur kelembagaan; alokasi tanggung jawab
6. Kemitraan
7. Akuntabilitas dan partisipasi masyarakat
KOMPONEN
KETAHANAN
1. Kebijakan,
perencanaan,
prioritas, dan
komitmen politik PRB

2. Sistem hukum dan


regulasi

KARAKTERISTIK MASYARAKAT
TAHAN BENCANA
1.1. Visi bersama mengenai sebuah
masyarakat yang siaga dan tahan
bencana.
1.2. Konsensus mengenai risiko yang
dihadapi, pendekatan manajemen
risiko, tindakan spesifik untuk
dilakukan, dan target untuk
dicapai.1
1.3. Visi dan rencana PRB berbasis
pemahaman sebab-sebab utama
kerentanan serta faktor lain di luar
kontrol masyarakat.
1.4. Masyarakat menggunakan
perspektif jangka panjang,
berfokus kepada hasil dan
dampak PRB.
1.5. Kepemimpinan masyarakat
yang berkomitmen, efektif, dan
akuntabel dalam perencanaan
dan implementasi PRB
1.6. Rencana PRB (dan kesiapsigaan
bencana) masyarakat,
dikembangkan melalui proses
partisipatif, dioperasikan, dan
dimutakhirkan secara periodik.
2.1. Masyarakat memahamai legislasi,
regulasi, dan prosedur terkait
berikut peran penting masingmasing.
2.2. Masyarakat sadar akan hakhak mereka dan kewajiban
hukum pemerintah serta
pemangku kepentingan lain untuk
memberikan perlindungan.

Termasuk kesepakatan mengenai tingkat risiko yang dapat ditolerir

KARAKTERISTIK
LINGKUNGAN KONDUSIF
Konsensus politik
mengenai peran penting
PRB.
PRB menjadi prioritas
kebijakan pada semua
tingkatan pemerintahan.
Kebijakan, strategi, dan
implementasi rencana,
dengan visi, prioritas,
target dan tolok ukur yang
jelas.
Ada kebijakan, strategi,
dan rencana implementasi
PRB pemerintah lokal.
Kebijakan dan strategi
resmi (nasional dan
lokal) untuk mendukung
community-based
disaster risk management
(CBDRM).
Pemahaman mengenai
dan dukungan resmi pada
tingkat lokal terhadap visi
masyarakat.
Legislasi, regulasi, aturan,
dan lain-lain yang relevan
dan kondusif, yang
mengatur dan menopang
PRB, baik pada tingkat
nasional maupun lokal.
Yurisdiksi dan tanggung
jawab PRB pada semua
tingkatan yang ditetapkan
dalam legislasi, regulasi,
aturan, dan lain-lain.

Sistem hukum dan regulasi


yang ditopang dengan
jaminan atas hak-hak terkait:
keselamatan, bantuan
setara, didengar, dan
dimintai pendapat.
Regulasi pemanfaatan lahan,
aturan pembangunan, serta
aturan hukum dan regulasi
lain yang berkaitan dengan
PRB dan diterapkan pada
tingkat lokal.
3. Integrasi dengan
kebijakan dan
perencanaan
pembangunan

3.1. PRB Masyarakat oleh semua


pemangku kepentingan lokal
dipandang sebagai bagian
integral dari rencana dan
aksi untuk mencapai tujuan
masyarakat yang lebih luas
(pengentasan kemiskinan,
kualitas hidup)

Poverty Reduction Strategies, laporan-laporan nasional Millenium Development,


National Adaptation Plans of Action, bantuan kerangka UNDP, dll

Pemerintah (pada semua


tingkatan) menerapkan
pendekatan PRB yang
holistik dan terpadu, dalam
konteks pembangunan
yang lebih luas, dan tertaut
dengan perencanaan
pembangunan lintas sektor.
PRB diintegrasikan ke dalam
atau ditautkan rencana
pembangunan nasional lain
dan program-program yang
didukung donor.2
Integrasi rutin PRB dalam
rencana pembangunan
dan kebijakan sektoral
(pengentasan kemiskinan,
jaminan sosial,
pembangunan berkelanjutan,
adaptasi perubahan iklim,
desertifikasi, manajemen
sumber daya alam,
kesehatan, pendidikan, dan
seterusnya).
Perencanaan
pembangunan formal
dan proses implementasi
yang dibutuhkan untuk
mengintegrasikan elemen
PRB (analisis risiko dan
kerentanan bahaya, rencana
mitigasi).
Platform institusional
multi sektoral untuk
mempromosikan PRB.
Kebijakan, regulasi dan
sistem pengambilan
keputusan perencanaan

37

lokal yang mengakomodasi


risiko bencana.
4. Integrasi dengan respon
4.1. Masyarakat dan aktor
Kerangka kerja kebijakan
dan pemulihan kedaruratan
tingkat lokal lain
nasional mewajibkan agar
dalam pembangunan
PRB diintegrasikan dalam
berkelanjutan serta
desain dan implementasi
pelibatan PRB dalam
respon dan pemulihan
perencanaan bersama
kedaruratan.
dengan masyarakat
Tautan kebijakan,
serta tim dan struktur
perencanaan dan
kedaruratan tingkat lokal.
operasional antara
manajemen kedaruratan,
PRB dan struktur
pembangunan.
Reduksi risiko diintegrasikan
ke dalam rencana dan aksi
rekonstruksi pasca-bencana
resmi (serta didukung dan
diimplementasikan secara
internasional)
5. Mekanisme, kapasitas dan 5.1. Organisasi masyarakat
Lingkungan politik,
struktur kelembagaan;
representatif yang
administratif, dan finansial
alokasi tanggung jawab
didedikasikan untuk PRB/
yang suportif bagi CBDRM
DRM.
maupun pembangunan
5.2. Kepentingan LSM, CBO
berbasis masyarakat.
dan masyarakat akan isu Mandat dan tanggung
lain yang memampukan
jawab kelembagaan PRB
mereka mendukung PRB
ditetapkan secara jelas. Ada
3
dan tanggap darurat
mekanisme lintas institusi
5.3. Tanggung jawab, sumber
atau koordinasi, dengan
daya, dan lain-lain,
tanggung jawab yang
ditetapkan dalam rencana
ditetapkan secara jelas.
bencana masyarakat.
Titik fokus pada tingkat
5.4. Pemahaman bersama
nasional dengan otoritas
semua pemangku
dan sumber daya untuk
kepentingan menyangkut
mengoordinasikan semua
tanggung jawab, otoritas,
badan terkait yang terlibat
dan pengambilan
dalam manajemen bencana
keputusan PRB.
dan PRB.
5.5. Dana yang dikelola
Sumber daya manusia,
masyarakat dan sumber
teknis, material dan finansial
daya material lain untuk
PRB yang memadai
PRB dan pemulihan
untuk memenuhi peran
bencana.
dan tanggung jawab
5.6. Akses kepada pemerintah kelembagaan yang telah
serta pembiayaan dan
ditetapkan (termasuk alokasi
sumber daya lain untuk
PRB dan pemulihan.
Yaitu organisasi emergen, berektensi atau berekspansi. Organisasi berekspansi diharapkan menjalankan fungsi tambahan saat krisis, yang dilakukan dengan meningkatkan
kapasitas atau mengubah struktur organisasi (misalnya Palang Merah lokal mengundang para relawan terlatih untuk membantu staf profesional inti yang berjumlah sedikit).
Organisasi berekstensi tidak diharapkan merespon bencana tetapi selama bencana ia mampu menjalankan tugas-tugas non reguler (misalnya perusahaan konstruksi
membersihkan puing untuk membantu operasi penyelamatan). Organisasi emergen tidak ada sebelum peristiwa bencana namun dibentuk sebagai respon terhadap
bencana (misalnya kelompok SAR spontan). Lihat Webb GR 1999, Individual and Organisational Response to Natural Disasters and other Crisis Events: the continuing
value of the DRC typology (University of Delaware, Disaster Research Center, Preliminary Paper #277), http://dspace.udel.edu:8080/dspace/handle/19716/662
3

6. Kemitraan

anggaran khusus untuk PRB


pada tingkat nasional dan
lokal).
Devolusi tanggung jawab
(dan sumber daya)
untuk perencanaan dan
implementasi PRB pada
tingkat lokal dan masyarakat,
sejauh memungkinkan,
ditopang dengan
penyediaan keterampilan
spesialis serta sumber
daya untuk mendukung
pengambilan keputusan
lokal, perencanaan dan
manajemen bencana.
Layanan penyuluhan
masyarakat yang komit dan
efektif (PRB dan layanan
terkait, misalnya layanan
kesehatan).
6.1. Pemangku kepentingan
PRB diidentifikasi sebagai
lokal berkomitmen
tanggung jawab semua
terhadap kemitraan
sektor masyarakat (publik,
masyarakat asli (dengan
privat , sipil), dengan
prinsip kolaborasi mekanisme lintas sektor dan
terbuka dan bersama,
koordinasi yang tepat.
tingkat kepercayaan yang Partisipasi dan kemitraan
tinggi)
lintas sektoral jangka
6.2. Kemitraan PRB yang
panjang masyarakat sipil,
jelas, disepakati, dan
LSM, sektor swasta dan
stabil antara kelompok
masyarakat untuk PRB dan
pemangku kepentingan
tanggap darurat.
lokal dan organisasi
Pertautan dengan institusi
(masyarakat dan CBO
regional dan global serta
dengan otoritas lokal,
prakarsa PRB mereka.
LSM, bisnis, dan lainlain).
6.3. Proses-proses didorong
oleh masyarakat
(didukung oleh lembaga
eksternal).
6.4. Kapasitas dan
antusiasme lokal untuk
mempromosikan PRB
dan mendorong aktivitas
(melalui kemitraan aktor
eksternal masyarakat).
6.5. Masyarakat dan
kelompok/ organisasi
lokal memiliki kapasitas
untuk merekrut, melatih
39

7. Akuntabilitas dan
partisipasi masyarakat

6.5. Masyarakat dan


kelompok/ organisasi
lokal memiliki kapasitas
untuk merekrut, melatih,
mendukung dan
memotivasi relawan
masyarakat untuk PRB
dan bekerjasama untuk
itu.
7.1. Struktur PRB yang telah
didelegasikan akan
mendorong partisipasi
masyarakat.
7.2. Akses terhadap informasi
menyangkut rencana
pemerintah lokal, struktur
dan lain-lain.
7.3. Kepercayaan dalam
masyarakat dan antara
masyarakat dengan
lembaga eksternal.
7.4. Kapasitas untuk
menggugat dan melobi
lembaga eksternal
menyangkut rencana,
prioritas, aksi PRB yang
mungkin berdampak
terhadap risiko.
7.5. Sistem Monitoring
dan Evaluasi (M&E)
partisipatif untuk menilai
ketahanan dan kemajuan
dalam PRB.
7.6. Inklusi/representasi
kelompok rentan dalam
pengambilan keputusan
masyarakat dan
manajemen PRB.
7.7. Tingkat kerelawanan yang
tinggi dalam aktivitas PRB

Hak asasi orang secara


formal diakui oleh pemerintah
nasional dan lokal (serta
organisasi masyarakat
sipil): atas keselamatan,
reduksi kerentanan setara
dan bantuan kemanusiaan,
untuk didengarkan dan
diminta pendapat (termasuk
tanggung jawab untuk
menjamin hak-hak ini jika
perlu).
Kendali mutu atau
mekanisme audit efektif
untuk struktur resmi, sistem
dan lain-lain, yang ada dan
diterapkan.
Sistem demokratis tata
kelola pemerintahan
yang mengharuskan
pengambil keputusan untuk
bertanggung jawab.
Pemerintah berkonsultasi
dengan masyarakat sipil,
LSM, sektor swasta, dan
masyarakat.
Partisipasi populer dalam
pengembangan dan
implementasi kebijakan.
Tuntutan masyarakat akan
aksi untuk mengurangi risiko
bencana.
Eksistensi kelompok
pengawas atau watchdog
untuk menuntut perubahan.

AREA TEMATIK 2: ASESMEN RISIKO


Komponen ketahanan:
1. Data dan asesmen bahaya/risiko
2. Data dan asesmen kerentanan/kapasitas dan dampak
3. Kapasitas serta inovasi ilmiah dan teknis
KOMPONEN KETAHANAN
1. Data dan pengkajian
bahaya/risiko

KARAKTERISTIK
MASYARAKAT TAHAN
BENCANA
1.1. Diadakan pengkajian
bahaya/risiko masyarakat yang mem-berikan
gambaran komprehensif
mengenai semua
bahaya dan risiko yang
membayangi masyarakat
(juga risiko potensial).
1.2. Pengkajian bahaya/
risiko merupakan sebuah
proses partisipatif yang
melibatkan semua bagian
masyarakat dan sumber
keahlian.
1.3. Temuan pengkajian
dibuka, didiskusikan,
dipahami dan disepakati
oleh semua pemangku
kepentingan dan
diteruskan ke dalam
perencanaan bencana
masyarakat.
1.4. Temuan dibuka untuk
semua pihak yang
berkepentingan (di dalam
dan di luar masyarakat,
pada tingkat lokal maupun
yang lebih tinggi) dan
diteruskan ke dalam
perencanaan bencana
mereka.
1.5. Pemantauan
berkelanjutan atas
bahaya dan risiko serta
pemutakhiran hasil
pengkajian.
1.6. Keterampilan dan
kapasitas untuk
menjalankan pengkajian
bahaya dan risiko yang
dipelihara dengan
dukungan dan pelatihan.

KARAKTERISTIK
LINGKUNGAN KONDUSIF
Pengkajian bahaya/risiko
dimandatkan dalam kebijakan
publik, legislasi, dan lain-lain,
dengan standar penyusunan,
publikasi, revisi.
Pengkajian bahaya dan risiko
bencana sistematis serta
berulang yang dijalankan
dalam program pembangunan
tingkat tinggi. Area-area risiko
tinggi diidentifikasi.
Disediakan data dengan
kualitas baik mengenai bahaya
dan risiko (basis data ilmiah,
laporan, resmi dan lain-lain)
untuk menunjang pengkajian
tingkat lokal.
pengetahuan yang ada
dihimpun, disintesiskan dan
dibuka secara sistematis
(melalui sistem informasi
manajemen bencana).
Partisipasi semua lembaga/
pemangku kepentingan terkait
dalam pengkajian.
Pemerintah (lokal dan/
atau nasional) dan LSM
berkomitmen untuk
memberikan dukungan teknis
dan dukungan lain bagi
pengkajian bahaya/ risiko.

41

2. Data dan pengkajian


kerentanan/kapasitas
dan dampak

3. Kapasitas dan inovasi


ilmiah dan teknis

2.1. Diadakan pengkajian


kerentanan dan kapasitas
masyarakat (Vulnerability
and Capacity Assessment/
VCA) yang memberikan
gambaran komprehensif
mengenai kerentanan dan
kapasitas.
2.2. VCA merupakan
proses partisipatif yang
melibatkan semua
kelompok rentan.
2.3. Temuan pengkajian
dibuka, didiskusikan, dan
disepakati oleh semua
pemangku kepentingan
serta diteruskan ke dalam
perencanaan bencana
masyarakat.
2.4.
VCA digunakan untuk
membuat garis pedoman
pada awal proyek PRB
masyarakat.
2.5. Temuan disediakan
untuk semua pihak yang
berkepentingan (di dalam
dan luar masyarakat)
serta diteruskan ke dalam
perencanaan bencana dan
pembangunan mereka.
2.6. Pemantauan berkelanjutan
atas bahaya dan risiko
serta pemutakhiran
pengkajian.
2.7. Keterampilan dan
kapasitas untuk
menjalankan VCA
dipelihara dengan
dukungan dan pelatihan.
3.1. Anggota dan organisasi
masyarakat diberi
pelatihan mengenai
bahaya, risiko, dan teknik
VCA serta didukung untuk
mengadakan pengkajian.
3.2. Menggunakan
pengetahuan tradisional
dan persepsi lokal
mengenai risiko juga
pengetahuan ilmiah, data
dan metode pengkajian
lain.

VCA dimandatkan dalam


kebijakan publik, legislasi,
dan lain-lain dengan standar
penyusunan, publikasi, revisi.
Indikator kerentanan dan
kapasitas dikembangkan serta
secara sistematis dipetakan
dan dicatat (mencakup semua
faktor sosial, ekonomi, fisik dan
lingkungan, politik, budaya).
Data dampak bencana dan
informasi kehilangan statistik
tersedia dan digunakan dalam
VCA.
Penggunaan VCA secara
sistematis dalam program
pembangunan tingkat lebih
tinggi. Kelompok rentan dan
sebab-sebab kerentanan
diidentifikasi.
Pengetahuan yang ada
dihimpun, disintesiskan dan
dibuka secara sistematis
(melalui sistem informasi
manajemen bencana).
Partisipasi semua lembaga/
pemangku kepentingan terkait
dalam pengkajian.
Pemerintah (lokal dan/
atau nasional) dan LSM
berkomitmen untuk
memberikan dukungan teknis
dan dukungan lain bagi
pengkajian bahaya/risiko.

Kapasitas kelembagaan dan


teknis untuk menghimpun dan
menganalisa data.

Pengembangan sains dan
teknologi yang berkelanjutan;
penyebaran
data,observasi
bumi berbasis ruang angkasa,
pemodelan dan peramalan
iklim; peringatan dini.
Lembaga eksternal
menghargai dan menggunakan
pengetahuan tradisional

AREA TEMATIK 3: PENGETAHUAN DAN PENDIDIKAN


Komponen ketahanan:
1. Kesadaran publik, pengetahuan dan keterampilan
2. Manajemen dan penyebaran informasi
3. Pendidikan dan pelatihan
4. Budaya, sikap, motivasi
5. Pembelajaran dan riset
KOMPONEN KETAHANAN
1. Kesadaran publik,
pengetahuan dan
keterampilan

KARAKTERISTIK
MASYARAKAT TAHAN
BENCANA
1.1 Visi bersama mengenai
sebuah masyarakat yang
siaga dan tahan bencana.
1.2 Keseluruhan masyarakat
telah terjangkau/terlibat
dalam kampanye
kesadaran berkelanjutan
yang mengarah pada
kebutuhan dan kapasitas
masyarakat (misalnya
tingkat literasi).
1.3 Pengetahuan masyarakat
mengenai bahaya,
kerentanan, risiko dan
aksi pengurangan risiko
memadai untuk tindakan
efektif oleh masyarakat
(sendiri maupun
berkolaborasi dengan
pemangku kepentingan
lain).
1.4 Kepemilikan (oleh individu
dan lintas masyarakat)
pengetahuan serta
keterampilan teknis dan
organisasional yang tepat
untuk PRB dan tindakan
tanggap pada tingkat lokal
(termasuk pengetahuan
1.5. Debat terbuka di
tengah masyarakat
yang menghasilkan
kesepakatan mengenai
problem, solusi, prioritas
dan lain-lain.

KARAKTERISTIK
LINGKUNGAN KONDUSIF
Kesadaran umum publik
mengenai, dan pemahaman
mengenai risiko bencana
serta cara mengelola.
Program peningkatan
kesadaran yang tepat
dan bervisibilitas tinggi
yang didesain dan
diimplementasikan pada
tingkat nasional, regional dan
lokal oleh lembaga-lembaga
resmi.
Keterlibatan media dalam
mengkomunikasikan
risiko dan meningkatkan
kesadaran mengenai
bencana serta langkahlangkah penanggulangan
bencana.
Program komunikasi
publik yang melibatkan
dialog dengan pemangku
kepentingan mengenai risiko
bencana dan isu-isu terkait
(bukan penyebarluasan
informasi searah).
Lembaga eksternal
memahami kerentanan
masyarakat, kapasitas,
risiko, persepsi risiko dan
rasionalitas keputusan
manajemen risiko; serta
mengenali viabilitas
pengetahuan dan strategi
penanggulangan lokal
Tingkat penyediaan
pendidikan, akses, literasi
dan lain-lain, memfasilitasi
penyebarluasan informasi
efektif dan peningkatan
kesadaran.
43

2. Manajemen dan
penyebaran informasi

3. Pendidikan dan Pelatihan

2.1. Informasi mengenai


risiko, kerentanan, praktik
manajemen bencana
dan lain-lain disebarkan
kepada mereka yang
berisiko.
2.2. Rencana bencana
masyarakat dibuka untuk
publik dan dipahami
secara luas.
2.3. Semua bagian
masyarakat mengetahui
fasilitas/ layanan/
keterampilan yang
tersedia sebelum,
selama dan setelah
kedaruratan, serta cara
mengaksesnya.
2.4. Konten dan metode
komunikasi informasi
dikembangkan bersama
masyarakat (komunikasi
bukan diseminasi
informasi).
2.5. Penggunaan jalur
komunikasi adat,
tradisional dan informal
secara maksimal.
2.6. Dampak materi informasi
dan strategi komunikasi
dievaluasi.

Pemerintah (nasional
dan lokal) berkomitmen
terhadap penyebaran
informasi (transparansi) dan
dialog dengan masyarakat
berkaitan dengan informasi
mengenai risiko dan Disaster
Risk Management / DRM
(Pengelolaan risiko bencana)
Legislasi menetapkan
hak masyarakat untuk
mengetahui dan memperoleh
informasi mengenai risiko
yang membayangi.
Pemahaman bersama
lembaga eksternal mengenai
prinsip, konsep, terminologi,
pendekatan alternatif dalam
PRB.
Sistem pengumpulan dan
penyebaran informasi
publik dan privat mengenai
bahaya, risiko, sumber
daya manajemen bencana
(termasuk pusat sumber
daya, basis data, situs
web, direktori dan inventori,
panduan praktik yang baik)
ada dan dapat diakses.
Jaringan profesional aktif
untuk manajemen risiko
bencana (penyebaran
informasi ilmiah, teknis
dan terapan, pengetahuan
tradisional/lokal).
3.1. Sekolah lokal
Penyertaan reduksi
memberikan pendidikan
bencana dalam pendidikan
PRB untuk anak-anak
dasar, menengah dan
melalui kurikulum dan
atas (pengembangan
jika perlu, aktivitas
kurikulum, penyediaan materi
ekstrakurikuler.4
edukasional, pelatihan guru)
3.2. PRB/DRM dan pelatihan
nasional.
lain membahas prioritas
Pelatihan vokasional
yang teridentifikasi
khusus dan fasilitas untuk
oleh masyarakat dan
PRB/DRM tersedia, pada
berdasarkan pengkajian
berbagai tingkatan dan untuk
masyarakat atas risiko,
berbagai kelompok, tertaut
kerentanan dan problem
melalui strategi pelatihan
terkait
menyeluruh. Sertifikasi
3.3. Anggota masyarakat dan
pelatihan.
organisasi dilatih dengan Program pendidikan dan
keterampilan terkait untuk
pelatihan yang tepat bagi

Asumsi tingkat kehadiran sekolah tinggi, jika tidak, aktivitas penyuluhan.

4. Budaya, sikap, motivasi.

PRB dan kesiapsiagaan


bencana (misalnya
pengkajian kerentanan
risiko-bahaya,
perencanaan DRM
masyarakat, SAR, PPGD
/Pertolongan Pertama
pada Kegawatdaruratan,
manajemen
penampungan darurat,
pengkajian kebutuhan,
distribusi bantuan,
pemadaman kebakaran).
3.4. Rumah tangga dan
para pembangun dilatih
mengenai konstruksi
aman dan teknik
retrofitting, serta langkahlangkah praktis lain untuk
melindungi rumah dan
barang.
3.5. Anggota masyarakat
(desa) terampil atau
terlatih dengan praktik
agrikultur, penggunaan
lahan, pengelolaan
air dan pengelolaan
lingkungan yang tepat.
3.6. Pengalaman masyarakat
dalam menanggulangi
peristiwa/krisis
sebelumnya, atau
pengetahuan cara
melakukan hal tersebut,
digunakan dalam
pendidikan dan pelatihan.
4.1. Nilai, aspirasi dan tujuan
bersama masyarakat
(juga sikap positif
terhadap masa depan,
komitmen terhadap
masyarakat secara
keseluruhan, kesepakatan
mengenai tujuan
masyarakat).
4.2. Sikap dan nilai budaya
(misalnya ekspektasi
akan bantuan/swadaya,
pandangan religius,
ideologis) membantu
masyarakat untuk
beradaptasi dengan dan

perencana dan praktisi


lapangan mengenai
PRB/DRM dan sektor
pembangunan didesain serta
diimplementasikan pada
tingkat nasional, regional,
serta lokal.
Sumber daya pelatihan
(teknis, finansial, material,
SDM) disediakan oleh
pemerintah, layanan
kedaruratan, LSM, dan lainlain, guna menunjang PRB
tingkat lokal.

Lingkungan politik, sosial


dan budaya yang mendorong
kebebasan berpikir
dan berekspresi, serta
menstimulasi pertanyaan dan
debat.
Penerimaan resmi dan
publik terhadap prinsip
pencegahan: kebutuhan
untuk bertindak berdasarkan
informasi yang tidak lengkap
atau pemahaman untuk
mengurangi potensi risiko
bencana.

45

5. Pembelajaran dan riset

memulihkan diri dari


kejutan dan tekanan.
4.3. Sikap yang matang dan
realistis terhadap risiko
dan manajemen risiko.
4.4. Kepercayaan yang baik
mengenai keselamatan
dan kapasitas keandalan
diri.
4.5. Kepemilikan (akses
terhadap) informasi,
sumber daya dan
dukungan yang
diinginkan/ dibutuhkan
untuk memastikan
keselamatan.
4.6. Perasaan tanggung
jawab personal untuk
mempersiapkan diri
menghadapi bencana
dan mengurangi risiko
bencana.
4.7. Perilaku yang lebih
aman sebagai hasil dari
peningkatan kesadaran.
5.1. Dokumentasi,
Kapasitas riset nasional
penggunaan dan adaptasi dan subnasional mengenai
pengetahuan teknis dan
bahaya, risiko dan studi
strategi penanggulangan
bencana (dalam institusi
tradisional.
spesialis atau dalam institusi
5.2. Sistem M&E partisipatif
lain) dengan pendanaan
untuk menilai ketahanan
memadai untuk riset
dan kemajuan dalam
berkelanjutan.
PRB.
Dorongan bagi riset lintas
disiplin dan berorientasi
kebijakan.
Kerjasama nasional, regional
dan internasional dalam
pengembangan riset, sains
dan teknologi.
Agenda komprehensif bagi
riset ilmiah, teknis, kebijakan,
perencanaan dan partisipasi
dalam PRB.

AREA TEMATIK 4: MANAJEMEN RISIKO DAN PENGURANGAN KERENTANAN


Komponen ketahanan:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Manajemen lingkungan dan sumber daya alam


Kesehatan dan kesejahteraan
Penghidupan berkelanjutan
Jaminan sosial
Instrumen finansial
Jaminan fisik; langkah-langkah struktur dan teknis
Rezim perencanaan

KOMPONEN KETAHANAN

KARAKTERISTIK
MASYARAKAT TAHAN
BENCANA
1. Manajemen lingkungan dan 1.1. Pemahaman masyarakat
sumber daya alam
mengenai karakteristik
serta fungsi lingkungan
alam dan ekosistem
(misalnya drainase,
daerah aliran air,
kemiringan dan
karakteristik tanah) juga
potensi risiko yang terkait
dengan fitur alam ini dan
intervensi manusia yang
memengaruhi.
1.2. Adopsi praktik
manajemen lingkungan
berkelanjutan yang
mengurangi risiko
bahaya.5
1.3. Pelestarian
keanekaragaman hayati
(misalnya melalui bank
bibit yang dikelola
masyarakat, dengan
sistem distribusi yang
adil).
1.4. Pelestarian dan
penerapan pengetahuan
tradisional serta teknologi
tepat guna yang terkait
dengan manajemen
lingkungan.
1.5. Akses terhadap sumber
daya properti bersama
yang dikelola masyarakat
dan bisa menunjang
strategi penanggulangan
serta penghidupan dalam
masa normal juga krisis.

KARAKTERISTIK
LINGKUNGAN KONDUSIF
Kebijakan, struktur legislatif
dan kelembagaan yang
menunjang manajemen
ekosistem serta lingkungan
berkelanjutan, serta
memaksimalkan praktik
manajemen sumber daya
lingkungan yang membantu
PRB.
Tindakan resmi yang
efektif untuk mencegah
penggunaan lahan yang
tidak berkelanjutan dan
pendekatan manajemen
sumber daya yang
meningkatkan risiko
bencana.
Hubungan kebijakan
dan operasional antara
manajemen lingkungan
dengan kebijakan dan
perencanaan pengurangan
risiko.
Kebijakan dan strategi
PRB yang terpadu dengan
kebijakan dan strategi
adaptasi lain.
Terdapat pakar dan tenaga
penyuluh pemerintah
untuk bekerjasama
dengan masyarakat dalam
manajemen dan pembaruan
lingkungan jangka panjang.

5
Misalnya konservasi tanah dan air, kehutanan berkelanjutan, manajemen lahan basah untuk mengurangi risiko banjir, konservasi bakau sebagai
penyangga dari gelombang badai, pemeliharaan pasokan air dan sistem drainase.

47

2. Kesehatan dan
kesejahteraan (termasuk
modal manusia)

2.1. Kemampuan fisik untuk


tenaga kerja dan kualitas
kesehatan dipelihara
dalam masa normal
melalui makanan dan
nutrisi yang memadai,
higienitas, serta
perawatan kesehatan.
2.2. Keamanan dan
kebebasan personal
tingkat tinggi dari
ancaman fisik dan
psikologis.
2.3. Keamanan status nutrisi
dan pasokan makanan
(misalnya melalui
cadangan biji-bijian serta
makanan pokok lain yang
dikelola oleh masyarakat,
dengan sistem distribusi
yang adil selama krisis
pangan).
2.4. Akses terhadap
kuantitas dan kualitas
air yang memadai untuk
kebutuhan domestik
selama krisis.
2.5. Kesadaran akan
sarana untuk menjaga
kesehatan (misalnya
higienitas, sanitasi,
nutrisi, pengelolaan air)
serta langkah-langkah
perlindungan jiwa dan
kepemilikan keterampilan
yang tepat.
2.6. Struktur dan budaya
masyarakat menunjang
kepercayaan diri
serta bisa membantu
manajemen konsekuensi
psikologis bencana
(trauma, post-traumatic
stress disorder/PTSD).
2.7. Fasilitas perawatan
kesehatan masyarakat
dan pekerja kesehatan,
dilengkapi dan dilatih
untuk merespon
konsekuensi kesehatan
fisik dan mental dari
bencana dan peristiwa

Struktur kesehatan publik


diintegrasikan ke dalam
perencanaan bencana dan
disiapkan untuk kedaruratan.
Struktur masyarakat
diintegrasikan ke dalam
sistem kesehatan publik.
Program pendidikan
kesehatan mencakup
pengetahuan dan
keterampilan yang terkait
dengan krisis (misalnya
sanitasi, higienitas,
pengelolaan air).
Kebijakan, komitmen
legislatif dan institusional
untuk memastikan keamanan
pangan melalui intervensi
pasar dan non-pasar, dengan
struktur dan sistem yang
tepat.
Pelibatan pemerintah, sektor
swasta, dan organisasi
masyarakat sipil dalam
perencanaan mitigasi dan
manajemen pangan serta
krisis kesehatan.
Sistem perencanaan
kedaruratan menyediakan
penyangga stok pangan,
obat-obatan dan lain-lain.

bahaya yang lebih ringan,


juga ditunjang dengan
akses layanan kesehatan
darurat, obat-obatan dan
lain-lain.
3. Penghidupan berkelanjutan 3.1. Tingkat aktivitas ekonomi
dan lapangan kerja lokal
yang tinggi (termasuk
dalam kelompok rentan);
stabilitas aktivitas
ekonomi dan tingkat
lapangan kerja.
3.2. Distribusi kesejahteraan
dan aset penghidupan
yang adil dalam
masyarakat.
3.3. Diversifikasi penghidupan
(tingkat rumah tangga dan
masyarakat), termasuk
aktivitas ladang dan nonladang di area pedesaan.
3.4. Lebih sedikit orang yang
terlibat dalam aktivitas
penghidupan tidak aman
(misalnya tambang
skala-kecil) atau aktivitas
rentan-bahaya (misalnya
pertanian tadah hujan di
lokasi rawan kekeringan).
3.5. Adopsi praktik pertanian
tahan bahaya (misalnya
metode konservasi tanah
dan air, pola tanam
yang diarahkan untuk
curah hujan rendah atau
berubah-ubah, tanaman
tahan-bahaya) untuk
keamanan pangan.
3.6. Usaha kecil memiliki
rencana perlindungan
bisnis dan kontinuitas/
pemulihan.
3.7. Tautan perdagangan
dan transportasi lokal
dengan pasar produk,
tenaga kerja, dan layanan
dilindungi dari bahaya dan
guncangan eksternal lain.
4. Jaminan sosial (termasuk
modal sosial)

Pembangunan ekonomi yang


berkesetaraan: ekonomi
yang kuat di mana manfaat
dirasakan keseluruhan
masyarakat.
Diversifikasi ekonomi
nasional dan subnasional
untuk mengurangi risiko.
Strategi pengurangan
kemiskinan menarget
kelompok rentan.
PRB dipandang sebagai
bagian integral dari
pembangunan ekonomi,
terefleksi dalam kebijakan
dan implementasi.
Upah yang memadai dan
adil, dijamin oleh hukum.
Sistem legislatif menjamin
status lahan, kesepakatan
sewa yang adil dan akses
terhadap sumber daya
properti bersama.
Disediakan pembiayaan
dan insentif lain untuk
mengurangi ketergantungan
terhadap aktivitas
penghidupan rentan-bahaya.
Kamar dagang serta asosiasi
bisnis sejenis mendukung
upaya ketahanan usaha
kecil.

4.1. Sistem bantuan bersama, Skema jaminan sosial formal


jaringan sosial dan
dan jaring pengaman sosial
mekanisme bantuan yang
yang dapat diakses oleh
49

5. Instrumen finansial
(termasuk modal finansial)

menunjang pengurangan
pengurangan risiko secara
langsung melalui aktivitas
PRB yang disasar, secara
tidak langsung melalui
aktivitas pembangunan
sosial ekonomi lain yang
mengurangi kerentanan,
atau dengan kemampuan
mengekstensi aktivitas
mereka untuk mengelola
kedaruratan ketika timbul.6
4.2. Sistem bantuan bersama
yang bekerjasama
dengan masyarakat dan
struktur formal lain untuk
manajemen bencana.
4.3. Akses masyarakat
terhadap layanan sosial
dasar (termasuk registrasi
jaminan sosial dan jaring
pengaman).
4.4. Informasi sosial yang
mapan dan jalur
komunikasi; masyarakat
rentan tidak diisolasi.
4.5. Pengetahuan kolektif dan
pengalaman manajemen
peristiwa sebelumnya
(bahaya, krisis).
5.1. Basis aset rumah
tangga dan masyarakat
(pendapatan, tabungan,
properti yang dapat
dikonversi) yang cukup
besar dan beragam
untuk menunjang strategi
penanggulangan krisis.
5.2. Ongkos dan risiko
bencana ditanggung
bersama melalui
kepemilikan kolektif aset
kelompok/ masyarakat.
5.3. Keberadaan tabungan
masyarakat/ kelompok
dan skema kredit, dan/
atau akses layanan
pembiayaan mikro.

kelompok rentan pada masa


normal dan sebagai respon
terhadap krisis.
Kebijakan yang koheren,
pendekatan kelembagaan
dan operasional terhadap
jaminan sosial dan jejaring
pengaman, memastikan
tautan dengan struktur dan
pendekatan manajemen
risiko bencana lain.
Lembaga eksternal siap
menginvestasikan waktu
dan sumber daya untuk
membangun kemitraan
komprehensif dengan
kelompok serta organisasi
lokal untuk jaminan sosial/
keamanan dan PRB

Pemerintah dan sektor


swasta mendukung langkahlangkah mitigasi finansial7
yang menyasar masyarakat
rentan dan berisiko.
Insentif ekonomi untuk
aksi PRB (potongan premi
asuransi untuk rumah
tangga, pembebasan pajak
untuk bisnis, dan lain-lain).
Pembiayaan mikro, bantuan
kas, kredit (pinjaman lunak),
jaminan utang, dan lain-lain
yang tersedia pasca bencana
untuk memulai kembali
penghidupan.

Ini terdiri dari sistem informal (individu, rumah tangga, keluarga, klan, kasta, dan lain-lain) serta lebih banyak kelompok terstruktur (CBO: misalnya
komite kesiapsiagaan kedaruratan, kelompok penunjang/ sistem sahabat untuk membantu utamanya masyarakat rentan, komisi pengelola air,
lembaga pemakaman, asosiasi perempuan, kelompok iman).
7
Misalnya asuransi/reasuransi, instrumen distribusi risiko untuk infrastruktur publik dan aset privat seperti dana malapetaka dan jaminan atas
bencana, kredit dan pembiayaan mikro, dana masyarakat bergulir, dana sosial.
6

5.4. Akses masyarakat


terhadap asuransi
terjangkau (jiwa, rumah,
dan properti lain) melalui
pasar asuransi atau
institusi pembiayaan
mikro.
5.5. Dana bencana
masyarakat untuk
mengimplementasi-kan
aktivitas PRB, respon,
dan pemulihan.
5.6. Akses terhadap transfer
dan kiriman uang dari
rumah tangga dan
anggota masyarakat yang
bekerja di kawasan atau
negara lain.
6. Jaminan fisik: langkahlangkah struktural dan
teknis (termasuk modal
fisik)

6.1. Perencanaan dan


keputusan masyarakat
menyangkut lingkungan
yang dibangun
memperhatikan risiko
bahaya alam (termasuk
potensi peningkatan
risiko melalui interferensi
dengan sistem ekologis,
hidrologis dan geologis)
serta kerentanan berbagai
kelompok.
6.2. Keamanan kepemilikan
lahan/ hak sewa. Tingkat
tunawisma dan tunalahan
yang rendah/minimal.
6.3. Lokasi aman: anggota
masyarakat dan fasilitas
(rumah, tempat kerja,
fasilitas publik dan sosial)
tidak terpapar bahaya
pada area berisiko tinggi
dalam lokalitas dan/atau
direlokasi jauh dari tempat
tidak aman.
6.4. Langkah-langkah mitigasi
struktural (tanggul, jalur
diversi banjir, tangki
penampungan air, dan
lain-lain) untuk melindungi
dari ancaman bahaya
besar, dibangun dengan
tenaga, keterampilan,

Kesesuaian dengan standar


internasional bangunan,
desain, perencanaan,
dan lain-lain. Aturan
pembangunan dan regulasi
perencanaan penggunaan
lahan memperhatikan
bahaya dan risiko bencana.
Kesesuaian semua
bangunan dan infrastruktur
publik dengan aturan dan
standar.
Ketentuan bagi semua
pemilik sistem infrastruktur
publik dan swasta untuk
menjalankan pengkajian
bahaya dan kerentanan.
Perlindungan fasilitas
dan infrastruktur pu blik
kritis melalui retrofitting
dan pembangunan ulang,
utamanya di area risiko
tinggi.
Keamanan akses terhadap
kesehatan publik dan fasilitas
kedaruratan lain (lokal dan
lebih jauh) diintegrasikan
ke dalam perencanaan
pencegahan bencana.
Sistem hukum dan regulasi
melindungi kepemilikan
lahan dan hak sewa, serta
hak akses publik.
51

material lokal, serta


Pemeliharaan struktur
teknologi tepat guna
kendali bahaya reguler.
sejauh memungkinkan.
Pendekatan perangkat
6.5. Pengetahuan dan
keras terhadap mitigasi
pemberlakuan aturan/
bencana ditunjang dengan
regulasi bangunan bagi
perangkat lunak dimensi
seluruh masyarakat.
pendidikan, pelatihan
6.6. Adopsi konstruksi tahan
keterampilan, dan lain-lain.
bahaya serta praktik
Sistem hukum, regulasi
pemeliharaan rumah
dan kebijakan ekonomi
dan fasilitas masyarakat
mengenali dan merespon
dengan tenaga,
risiko yang timbul dari pola
keterampilan, material
kepadatan dan pergerakan
lokal serta teknologi tepat populasi.
guna sejauh mungkin.
6.7. Kapasitas dan
keterampilan masyarakat
untuk membangun,
retrofit, dan memelihara
struktur (teknis dan
organisasional)
6.8. Adopsi langkah-langkah
fisik untuk melindungi
properti domestik
(misalnya permukaan
internal yang ditinggikan
sebagai langkah mitigasi
banjir, kompor portabel)
serta aset produktif
(misalnya kandang
hewan ternak).
6.9. Adopsi langkah protektif
jangka pendek dari
peristiwa yang akan
datang (misalnya
perlindungan kedaruratan
pintu dan jendela dari
angin topan).
6.10. Infrastruktur dan fasilitas
publik untuk mendukung
kebutuhan manajemen
kedaruratan (misalnya
penampungan, evakuasi
aman dan rute pasokan
kedaruratan).
6.11. Fasilitas tahan dan
mudah diakses (misalnya
pusat kesehatan,
rumah sakit, polisi dan
pemadam kebakaran
dalam hal ketahanan
struktural, sistem

7. Rezim perencanaan


cadangan, dan lain-lain.
6.12.Infrastruktur transportasi/
layanan dan koneksi
yang kuat (jalan,
jembatan, pasokan air,
sanitasi, jaringan listrik,
komunikasi dan lain-lain).
6.13. Transportasi milik lokal
atau yang tersedia
sudah memadai untuk
kebutuhan darurat
(misalnya evakuasi,
pasokan), paling tidak
dalam peristiwa bencana
musiman; kapasitas
reparasi transportasi
dalam masyarakat.
7.1. Pengambilan keputusan
oleh masyarakat
mengenai penggunaan
dan manajemen lahan
memperhatikan risiko
bahaya dan kerentanan
(termasuk zonasi
mikro yang diterapkan
dalam izin/ larangan
penggunaan lahan.
7.2. Rencana bencana
lokal (masyarakat)
diintegrasikan ke
dalam perencanaan
pembangunan dan
penggunaan lahan dari
pemerintah.

Kesesuaian dengan standar


perencanaan internasional.
Regulasi perencanaan
penggunaan lahan
memperhatikan risiko bahaya
dan bencana.
Rezim inspeksi dan
penegakan yang efektif.
Aplikasi penggunaan
lahan, rencana dan skema
pembangunan urban dan
regional berbasis pengkajian
bahaya dan risiko serta
mengintegrasikan PRB yang
tepat.

53

AREA TEMATIK 5: KESIAPSIAGAAN DAN RESPON BENCANA


Komponen ketahanan:
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Kapasitas organisasi dan koordinasi


Sistem peringatan dini
Kesiapsiagaan dan rencana kontingensi
Sumber daya dan infrastruktur kedaruratan
Respon dan pemulihan kedaruratan
Partisipasi, kerelawanan, akuntabilitas

KOMPONEN
KARAKTERISTIK MASYARAKAT
KETAHANAN
TAHAN BENCANA
1. Kapasitas organisasi 1.1. Kapasitas respon/ disaster
dan koordinasi
preparedness (DP)/
kesiapsiagaan bencana lokal
lokal dan masyarakat (sendiri
atau dengan kemitraan bersama
lembaga eksternal).
1.2. Struktur organisasi lokal
untuk respon DP/kedaruratan
(misalnya kesiapsiagaan
bencana komisi evakuasi).8
1.3. Organisasi DP/respon
dikelola oleh masyarakat dan
representatif.
1.4. Peran dan tanggung jawab
organisasi DP/respon serta
anggota masing-masing
ditetapkan secara jelas,
disepakati dan dipahami.
1.5. Fasilitas kedaruratan
(perlengkapan komunikasi,
penampungan, pusat kendali dan
lain-lain) tersedia dan dikelola
oleh masyarakat atau organisasi
masyarakat atas nama seluruh
anggota masyarakat.
1.6. Jumlah personil organisasi dan
anggota masyarakat terlatih
memadai untuk menjalankan
tugas terkait (misalnya
komunikasi, SAR, PPGD,
distribusi bantuan).
1.7. Pelatihan reguler (kursus
penyegaran dan keterampilan
baru) disediakan oleh/untuk
organisasi lokal; latihan praktik
reguler, latihan skenario, dan
lain-lain.
1.8. Mekanisme koordinasi dan
pengambilan keputusan
ditetapkan dan disepakati

KARAKTERISTIK
LINGKUNGAN KONDUSIF
Kebijakan dan kerangka
kerja kelembagaan nasional
dan lokal mengakui
sertamenghargai DP lokal
dan masyarakat sebagai
bagian integral dari
sistemkesiapsiagaan dan
respon nasional.
Struktur, peran dan mandat
pemerintah serta aktor
pemerintah dalam DP dan
respon ditetapkan dan
disepakati, pada semua
level, dan berdasarkan
koordinasi bukan pendekatan
perintah dan kendali.
Perencanaan kedaruratan
dan tanggung jawab
respon serta kapasitas
didelegasikan kepada level
lokal sedapat mungkin.
Dialog, koordinasi dan
pertukaran informasi
berkelanjutan (vertikal dan
horisontal) antara manajer
bencana dan sektor
pembangunan pada semua
tingkat.
Kapasitas manajemen
bencana nasional dan
lokal (teknis, institusional,
finansial) memadai untuk
mendukung aktivitas DP/
respon tingkat masyarakat.
Anggaran yang memadai
untuk aktivitas DP disertakan
dan diinstitusionalisasikan
sebagai bagian dari
perencanaan DP pada
pada semua tingkatan.

Ini mungkin kelompok yang dibentuk khusus untuk tujuan ini, atau kelompok yang telah ada yang dibentuk untuk kepentingan lain namun mampu
menjalankan peran kesiapsiagaan bencana (disaster Preparedness-DP/respon)
8

2. Sistem peringatan dini

antara organisasi
masyarakat dan pakar teknis
eksternal, otoritas lokal, LSM,
dan lain-lain.
1.9. Mekanisme koordinasi dan
pengambilan keputusan
ditetapkan dan disepakati
dengan masyarakat/lokalitas
sekitar serta organisasi
masing-masing
2.1. EWS/Early Warning System
= Sistem Peringatan Dini
berbasis masyarakat dan
berpusat manusia pada
tingkat lokal.
2.2. EWS mampu mencapai
keseluruhan masyarakat
(via radio, TV, telepon
dan teknologi komunikasi
lain, serta via mekanisme
peringatan dini (early warning
= EW) masyarakat seperti
jaringan relawan).
2.3. Pesan EW disampaikan
dengan tepat sehingga
dipahami oleh seluruh lapisan
masyarakat.
2.4. EWS memberikan rincian
lokal peristiwa dan
memperhatikan kondisi lokal.
2.5. EWS didasarkan kepada
pengetahuan masyarakat
mengenai bahaya dan risiko
terkait, sinyal peringatan
berikut artinya, serta tindakan
yang harus dilakukan ketika
peringatan dikeluarkan.
2.6. Organisasi DP/respon
masyarakat mampu bertindak
berdasarkan pesan EW dan
memobilisasi masyarakat
untuk aksi.
2.7. Kepercayaan masyarakat
kepada EWS dan organisasi
yang menyediakan EW.
2.8. Ada sumber daya teknis
(perlengkapan pemantauan
dan komunikasi) dengan
sistem dan personil terlatih
untuk pemeliharaan dan
operasi.

Dana untuk memperkuat


kapasitas dan aktivitas
pemangku kepentingan
masyarakat sipil aktif dalam
DP.

Ada EWS nasional dan


regional yang efisien,
melibatkan semua
tingkatan semua
tingkatan pemerintahan
dan masyarakat sipil,
berdasarkan informasi ilmiah
yang andal, pengetahuan
risiko, mengkomunikasikan
dan menyebarluaskan
peringatan serta kapasitas
respon masyarakat.
Komunikasi serta koordinasi
vertikal dan horizontal
antara semua pemangku
kepentingan EW dengan
peran dan tanggung jawab
yang ditetapkan secara jelas
dan disepakati.
Pemerintah lokal disertakan
dalam semua perencanaan
dan pelatihan juga diakui
sebagai pemangku
kepentingan utama dalam
EWS.
Masyarakat dan pemangku
kepentingan masyarakat
sipil lain menjadi partisipan
aktif dalam semua aspek
pembangunan, operasi,
pelatihan dan pengujian
EWS.
Media massa menjadi bagian
dari EWS, tidak bertindak
sendiri.
EWS tertaut dengan DP dan
lembaga respon.
EWS ditopang dengan
kampanye kesadaran publik
yang lebih luas

55

3. Kesiapsiagaan dan
rencana kontingensi

3.1. Ada sebuah DP masyarakat


atau rencana kontingensi
untuk semua risiko besar.10
3.2. Rencana DP/kontingensi
dikembangkan melalui
metode partisipatif, dan
dipahami serta didukung oleh
semua anggota masyarakat.
3.3. Rencana dikoordinasikan
dengan rencana kedaruratan
resmi serta kompatibel
dengan rencana lembagalembaga lain.
3.4. Peran dan tanggung jawab
aktor lokal dan eksternal
ditetapkan, dipahami, dan
disepakati serta tepat.
3.5. Proses perencanaan
membangun konsensus
dan memperkuat hubungan
serta mekanisme koordinasi
antar berbagai pemangku
kepentingan.
3.6. Tautan (formal/informal)
dengan ahli teknis, otoritas
lokal, LSM dan lain-lain untuk
membantu perencanaan dan
pelatihan masyarakat.
3.7. Rencana diuji secara reguler
melalui misalnya latihan
masyarakat atau latihan
simulasi.
3.8. Rencana ditelaah dan
dimutakhirkan secara reguler
oleh seluruh pemangku
kepentingan terkait.
3.9. Rumah tangga dan keluarga
mengembangkan
rencana DP sendiri dalam
konteks rencana masyarakat.
3.10. Bisnis lokal mengembangkan
rencana kontinuitas dan
pemulihan sendiri dalam
konteks rencana masyarakat.
3.11.Rencana kontingensi
didukung dengan.

Ada rencana kesiapsiagaan


bencana nasional yang
secara politik didukung/
disetujui dan secara
jelas diartikulasikan serta
disebarluaskan pada semua
tingkatan; bagian dari
rencana manajemenbencana
terpadu dengan segala
kebijakan, prosedur, peran,
tanggung jawab dan
pendanaan yang mapan.
Peran dan tanggung jawab
setiap aktor, negara maupun
non-negara ditetapkan
secara jelas untuk setiap
skenario bencana dan telah
disebarluaskan.
Organisasi masyarakat
sipil berpartisipasi dalam
pengembangan dan
penyebarluasan rencana
kesiapsiagaan nasional dan
lokal; peran dan tanggung
jawab aktor masyarakat sipil
ditetapkan secara jelas.
Perencanaan masyarakat
dipandang sebagai elemen
utama dalam keseluruhan
rencana dan diintegrasikan.
Tersedia sumber daya
untuk mendukung tindakan
yang dibutuhkan menurut
identifikasi rencana tingkat
masyarakat.
Semua rencana kontingensi
didasarkan kepada
pengkajian yang mendalam
mengenai bahaya dan risiko
serta identifikasi area risiko
tinggi di dalam negeri. Ada
rencana kontingensi yang
telah dikembangkan dan
diuji untuk semua skenario
bencana besar dalam semua
area risiko tinggi.

Lihat pula Tabel 2: Kajian Risiko


Istilah DP atau rencana kontingensi digunakan secara luas di sini untuk mengakomodasi semua bentuk rencana persiapan dan merespon
bencana serta kedaruratan. Diasumsikan bahwa rencana, seperti semua rencana DP/kontingensi yang baik, memiliki tujuan yang dinyatakan
secara jelas, menyebutkan urutan sistematis aktivitas secara logis dan jelas, menetapkan tugas dan tanggung jawab yang rinci, praktis dan
didasarkan kepada parameter realistis (fokus tepat, tingkat kerincian, format untuk kebutuhan dan kapasitas lokal), digerakkan oleh proses (tidak
melebihkan peran penting rencana tertulis) dan berorientasi aksi. Untuk pedoman lebih rinci mengenai kesiapsiagaan dan rencana kontingensi,
lihat UN OCHA 2007, Disaster Preparedness for Effective Response: Implementing Priority Five of the Hyogo Framework for Action (Geneva: Office
for the Coordination of Humanitarian Affairs); Choularton R 2007, Contingency planning and humanitarian action: a review of practice (London:
Humanitarian Practice Network, Network Paper 59).

10

4. Sumber daya
dan infrastruktur
kedaruratan

11

pemahaman mengenai
Pelatihan, simulasi dan
ketentuan dan fasilitas
latihan evaluasi dilaksanakan
perencanaan lokal yang lebih dengan partisipasi semua
luas.
lembaga pemerintah dan
non-pemerintah.
Isu-isu lintas sektoral
seperti gender, partisipasi
masyarakat dan lingkungan
disertakan dalam semua
rencana kontingensi.
Layanan kedaruratan
dan fasilitas kritis lokal
mengembangkan rencana
kontingensi sendiri,
dikoordinasikan dengan
rencana masyarakat.
4.1. Organisasi masyarakat
Layanan kedaruratan lokal
mampu mengelola krisis dan
(fasilitas, struktur, staf dan
bencana, sendiri dan/atau
lain-lain) mampu mengelola
dalam kemitraan dengan
krisis dan bencana, sendiri
organisasi lain.
dan/ atau dalam kemitraan
4.2. Rute evakuasi aman
bersama organisasi lain.
diidentifikasi dan dipelihara,
Layanan kedaruratan tingkat
diketahui oleh anggota
tinggi dengan struktur,
masyarakat.
kapasitas, fasilitas dan
4.3. Penampungan darurat
prosedur yang memampukan
(dibangun atau dimodifikasi);
mereka untuk mendukung
dapat diakses masyarakat
aksi tingkat lokal secara
(jarak, rute evakuasi aman,
efektif.
tanpa larangan masuk) dan
Dana dan stok kontingensi
dengan fasilitas memadai
darurat yang bisa disediakan
untuk semua populasi
dengan cepat kepada yang
terdampak.
membutuhkan dengan
4.4. Penampungan darurat untuk
prosedur pengeluaran yang
ternak.
mapan.
4.5. Rute akses dan infrastruktur Kesepakatan yang telah
komunikasi yang aman untuk
disusun sebelumnya dan
layanan kedaruratan dan
ditandatangani dengan
pekerja bantuan.
lembaga donor untuk akses
4.6. Sistem komunikasi dua arah
pembiayaan atau pinjaman
yang didesain untuk berfungsi pada tingkat internasional
saat krisis.
atau regional sebagai bagian
4.7. Pasokan darurat (stok
dari rencana kedaruratan
penyangga), dikelola oleh
dan pemulihan.
masyarakat sendiri atau
dalam kemitraan dengan
organisasi lokal lain
(termasuk bank biji-bijian/
benih).
4.8. Dana kontingensi darurat
yang dikelola masyarakat.11

Ini bisa menjadi bagian atau terpisah dari tabungan lain dan kredit atau prakarsa pembiayaan mikro.

57

5. Respon dan pemulihan


kedaruratan

12

Termasuk rencana transmigrasi

5.1. Kapasitas masyarakat untuk


memberikan layanan respon
kedaruratan yang efektif
dan tepat waktu: misalnya
SAR, PPGD/ bantuan medis,
pengkajian kebutuhan dan
kerugian, distribusi bantuan,
penampungan darurat,
dukungan psikososial,
pembersihan jalan.
5.2. Masyarakat dan lembaga
lokal lain menjalankan
peran utama dalam
mengoordinasikan respon
dan pemulihan.
5.3. Aksi respon dan pemulihan
menjangkau semua anggota
masyarakat terdampak
dan diprioritaskan sesuai
kebutuhan.
5.4. Dukungan psikososial
masyarakat dan mekanisme
konseling.
5.5. Pengetahuan masyarakat
mengenai cara memperoleh
bantuan dan dukungan lain
untuk pemulihan.
5.6. Kepercayaan masyarakat
mengenai efektivitas,
kesetaraan, dan imparsialitas
lembaga serta aksi bantuan
dan pemulihan.
5.7. Perencanaan12 pemulihan

yang digerakan masyarakat/
secara lokal serta
implementasi rencana yang
menautkan aspek sosial,
fisik, ekonomi dan lingkungan
serta didasarkan kepada
utilisasi kapasitas dan
sumber daya lokal secara
maksimal.
5.8. Peran, tanggung jawab
dan koordinasi aktivitas
pemulihan yang telah
disepakati (melibatkan
pemangku kepentingan lokal
dan eksternal).
5.9. Integrasi PRB ke dalam
rencana pemulihan
masyarakat dan lokal.

Perlindungan sipil dan


organisasi ketahanan,
LSM dan jaringan relawan
mampu merespon peristiwa
secara efektif dan tepat
waktu, sesuai dengan
rencana koordinasi yang
telah disepakati bersama
organisasi lokal dan
masyarakat.
Kapasitas untuk memulihkan
sistem kritis dan infrastruktur
(misalnya transportasi,
listrik dan komunikasi,
fasilitas kesehatan publik)
serta prosedur aksi yang
disepakati.
Program dukungan untuk
pemulihan berfokus
penghidupan (misalnya tunai
untuk kerja, penggantian aset
produktif, pinjaman darurat
atau modal awal).
Sumber daya (manusia,
institusional, material,
finansial) tersedia untuk
rekonstruksi dan pemulihan
jangka panjang.
Bantuan pemerintah dan
sumber daya pemulihan
diinventaris; informasi
mengenai sumber daya
dan cara memperolehnya
disediakan bagi masyarakat
berisiko dan terdampak
bencana.
Lembaga resmi bersedia
dan mampu menjamin
keselamatan publik setelah
bencana dan melindungi
kelompok paling rentan.
Ada atau dapat
dikembangkan rencana
kontinuitas dan pemulihan
resmi, didukung dengan
sistem dan kapasitas yang
tepat.
Kerangka kerja kebijakan
nasional mengharuskan
integrasi PRB ke dalam
desain dan implementasi
respon dan pemulihan.

PRB diarusutamakan ke
dalam perencanaan dan
praktik pemulihan organisasi
terkait.
6. Partisipasi,
kerelawanan,
akuntabilitas

13

6.1. Kepemimpinan lokal


pengembangan dan
pelaksanaan rencana
kontingensi, respon,
pemulihan.
6.2. Partisipasi seluruh
masyarakat dalam
pengembangan dan
pelaksanaan kontingensi,
respon, rencana pemulihan;
kepemilikan masyarakat
akan struktur rencana dan
implementasi.
6.3. Kepercayaan masyarakat
yang baik terhadap EW dan
sistem kedaruratan serta
kemampuan sendiri untuk
melakukan tindakan efektif
dalam sebuah bencana.
6.4. Tingkat kerelawanan
masyarakat yang tinggi dalam
semua aspek kesiapsiagaan,
respon, dan pemulihan;
representasi semua bagian
dari masyarakat.
6.5. Kelompok relawan
terorganisir diintegrasikan
dalam struktur perencanaan
masyarakat, lokal dan supralokal.
6.6. Struktur formal DP/respon
masyarakat mampu
mengadaptasi kedatangan
kelompok relawan spontan
(dari dalam maupun
luar masyarakat) dan
mengintegrasikannya dalam
respon dan pemulihan.
6.7. Swa-bantu dan kelompok
pendukung untuk kelompok
paling rentan (misalnya
manula, penyandang cacat).
6.8. Mekanisme bagi kelompok
terdampak-bencana untuk
mengekspresikan pandangan
mereka, untuk belajar dan
berbagi pelajaran dari
peristiwa.

Misalnya HAP Principles of Accountability, Sphere, Red Cross Code of Conduct.

Pengakuan oleh responden


darurat eksternal dan lokal
akan hak untuk memperoleh
bantuan layak setelah
bencana, untuk berpartisipasi
dalam perencanaan
pemulihan bencana dan
memperoleh perlindungan
dari kekerasan (ditetapkan
dalam legislasi).
Prinsip-prinsip hak dan
akuntabilitas dalam respon
dan pemulihan darurat13 yang
diterima secara internasional,
disepakati dan diadopsi oleh
otoritas nasional, pemerintah
lokal, organisasi masyarakat
sipil, serta pemangku
kepentingan lain.
Instrumen hukum
memandatkan tindakan
tertentu oleh organisasi
publik dalam respon
kedaruratan dan pemulihan
bencana.
Mekanisme partisipasi
untuk memastikan semua
pemangku kepentingan
yang terlibat dalam
pengembangan semua
komponen perencanaan dan
operasi manajemen bencana
pada semua tingkatan.
Pemerintah lokal dan
lembaga lain telah
merencanakan koordinasi
kelompok relawan emergen.
Pengkajian mandiri atas
kapasitas dan mekanisme
DP diadakan dan
ditindaklanjuti.
Mekanisme efektif dan
transparan untuk memantau
dan mengevaluasi DP dan
respon.

59

KOTAK
Kotak 1: Prakarsa indikator PRB lain
Dalam beberapa tahun belakangan, sejumlah organisasi telah mengembangkan kerangka kerja
dan indikator ketahanan atau PRB untuk menunjang program dalam berbagai konteks. Mengingat
sebagian besar dari prakarsa ini berjalan pada saat bersamaan, ada kesempatan untuk berbagi
informasi dan memperdebatkan gagasan, serta memastikan bahwa berbagai keluaran tersebut
saling melengkapi satu sama lain jika memungkinkan.
Dua lembaga PBB telah mengembangkan perangkat indikator PRB tingkat nasional, berdasarkan
Hyogo Framework for Action (Karakteristik berupaya untuk melengkapi ini pada tingkat lokal):
UN International Strategy for Disaster Reduction (UN ISDR) telah membuat pedoman indikator
untuk prioritas 1-4 dari Hyogo Framework (UN ISDR 2008).
UN Office for Co-ordination of Humanitarian Affairs (UN OCHA) telah mengembangkan indikatorindikator untuk prioritas 5 dari Hyogo Framework (UN ISDR/UN OCHA 2008).
Prakarsa terakhir atau baru lain untuk kerangka kerja dan indikator PRB serta ketahanan mencakup:
Manual US Indian Ocean Tsunami Warning System Program untuk evaluasi ketahanan masyarakat
pesisir terhadap bahaya, ditujukan untuk mendukung dan melengkapi perencanaan pembangunan
masyarakat dan manajemen pesisir (IOTWS 2007).
Manual Helio International untuk menilai ketahanan sistem energi pada tingkat nasional (Williamson
and Connor 2008).
Lihat Bagian 5 (Bacaan lanjutan) untuk rincian serta pedoman PRB dan indikator ketahanan lain.

Kotak 2: Mengintegrasikan PRB dan Adaptasi Perubahan Iklim (API)


Sejumlah lembaga pengembangan dan bencana sedang menggali cara mengonseptualisasikan,
menjelaskan dan memvisualisasikan agar PRB dan API bisa bersinggungan dan bertautan satu
sama lain. Banyak cara untuk melakukan hal ini. Namun demikian tidak ada satu model penjelasan
tunggal. Di sini diberikan tiga contoh, dalam bentuk tabel dan diagram yang diambil dari lapangan
oleh anggota Kelompok Antar Lembaga yang mengawasi proyek Karakteristik. Ketiga contoh
merepresentasikan pekerjaan dalam berbagai tahapan perkembangan.

De

ngan
ingku

Pen
gur
an

ga

Ri
s

Pengembalaan yang terkelola

an
nc

Struktur pembendung air


(bendungan, kolam)

Pengelolaan hutan
yang berkelanjutan

Be

Ad

si

ra d

L
as i

iko

ap
ta

Contoh 1. Tearfund menggunakan diagram Venn untuk menunjukkan irisan antara PRB, API,
dan bentuk lain adaptasi terhadap degradasi lingkungan. Diagram di bawah ini memuat contohcontoh jenis respon yang mungkin dibutuhkan dalam tiap area. Ini merupakan ilustrasi bagi praktisi
akar rumput bahwa pilihan-pilihan aktivitas pengembangan tertentu dapat menunjang kelestarian
lingkungan, mengurangi kerentanan bencana, dan membantu adaptasi perubahan iklim.

Pengelolaan limbah air yang


berkelanjutan

Lubang resapan (dengan


rumput)

Pondasi sumur yang ditinggikan

Pupuk dan pestisida organik


Pengelolaan ukuran ternak

Drainase air banjir


Pengurangan penggunaan bahan
kimia

Mata pencaharian alternatif


Penadah air hujan

Pengelolaan
sumber air
Kompor hemat bahan
bakar

Perbaikan metode bertani

Tanaman tahan
kekeringan

Reboisasi
Setoran biji
tanaman

Penanaman mangrove
Setoran biji gandum

Batu bata tanah liat

Sumber energi baru- tenaga surya, angin, air

Efisiensi bahan bakar

Ada
ptasi perubahan iklim

Sumber: Tearfund
61

Contoh 2. Model Vulnerability to Resilience (V2R) dari Practical Action mengidentifikasi tautan
antara penghidupan, tata kelola pemerintahan, ketidakpastian masa depan/ tren jangka panjang
(termasuk perubahan iklim) serta bahaya dan tekanan. Dari sini dapat dikembangkan sebuah
pendekatan terpadu terhadap ketahanan.

Lingkungan pemerintahan

Kecenderungan jangka panjang, termasuk perubahan iklim


Memperdalam pemahaman akan kecenderungan (masa
depan)dan dampak lokal
Memastikan akses terhadap informasi yang sesuai dan tepat
waktu
Membangun kepercayaan diri dan fleksibilitas dalam
mempelajari dan bereksperimen untuk mengadaptasi dengan
ketidakpastian

Kerangka kerja Kerentanan


menuju ke Ketangguhan

Mata Pencaharian
Keanekaragaman

Memperkuat pengorganisasian dan suara


masyarakat
Mendukung akses terhadap dan
pengelolaan yang berkelanjutan aset-aset
produksi
Mendukung akses terhadap ketrampilan
dan teknologi
Memperbaiki akses terhadap pasar dan
lapangan pekerjaan
Menjamin kondisi hidup yang aman

Ancaman dan bahaya

Ketangguhan

Membangun kapasitas untuk menganalisa


ancaman dan bahaya (termasuk dampak
perubahan iklim)
Memperbaiki pencegahan dan
perlindungan ancaman bencana
Meningkatkan peringatan dini dan
kesadaran
Membuat rencana kontijensi dan darurat

Kemampuan untuk
beradaptasi dengan
perubahan
Kemampuan untuk mengelola
ancaman bencana
Kemampuan untuk
mendapatkan makanan yang
cukup
Kemampuan untuk keluar
dari kemiskinan

Kesiapsiagaan bencana

Lingkungan pemerintahan

Kecenderungan jangka panjang, termasuk perubahan iklim


Pembuatan keputusan yang didesentralisasi dan partisipatoris
Memperkuat hubungan antara pemerintah lokal, kabupaten dan
nasional
Mendukung pendekatan terintegrasi untuk mata pencaharian,
bencana dan perubahan iklim

Sumber: Pasteur K, 2010 (in press), From Vulnerability to Resilience (V2R): A Framework for
Analysis and Action to Build Community Resilience (Rugby: Practical Action Publishing): http://www.
practicalaction.org/

Contoh 3. Christian Aid, Institute of Development Studies dan Plan International sedang bekerja
mencari cara untuk membuat PRB lebih responsif terhadap perubahan iklim ekstrim. Mereka
menghipotesakan sebuah transisi dari pendekatan PRB peka-iklim konvensional menuju
pendekatan cerdas-iklim dengan penekanan berbeda, yang dinyatakan dalam tabel di bawah ini.
PRB Peka Iklim
PRB Cerdas Iklim
Secara proaktif mengelola risiko, dengan fokus Secara proaktif mengelola risiko, untuk fokus
dominan pada risiko intensif.
kepada risiko intensif dan ekstensif.
Mempertimbangkan pemicu utama kerentanan, Mempertimbangkan pemicu utama kerentanan,
terutama sebab akar sosial, politik, lingkungan terutama sosial, politik, ekonomi, lingkungan,
dan ekonomi.
serta sebab-sebab akar yang terkait dengan
perubahan iklim.
Sistem didesain untuk meningkatkan
keandalan peramalan kemungkinan dampak
Sistem mengadopsi perspektif yang lebih
sebagian besar bahaya (bahaya terkait iklim
fleksibel, berjangka lebih lama, mengenali
sebagai subset).
perubahan dalam risiko dan ketidakpastian
yang berkaitan dengan perubahan iklim
Mengambil tindakan berdasarkan pengalaman ekstrim.
frekuensi dan besarnya peristiwa sebelumnya
(dari sumber ilmiah maupun tradisional).
Mengambil tindakan berdasarkan informasi
perubahan iklim ekstrim yang lebih baik dan
Mempertimbangkan kerentanan lalu dan kini.
berdasarkan pengalaman tren bahaya historis
(baik dari sumber ilmiah maupun tradisional).
Sebagian besar bertanggung jawab terhadap
standar kemanusiaan.
Mempertimbangkan kerentanan lalu, kini dan
kemudian, mengenali perubahan samar terkait
Membangun kapasitas kelompok target untuk
iklim dapat secara signifikan meningkatkan
mengelola risiko berdasarkan pengalaman dan kerentanan masyarakat ke depan.
peramalan rentang pendek yang lebih baik.
Sebagian besar bertanggung jawab terhadap
Tidak mempertimbangkan kemungkinan
standar pembangunan dan lingkungan.
kontribusi intervensi terhadap perubahan iklim
(misalnya sumber material dalam pemulihan/
Membangun kapasitas kelompok target
rekonstruksi)
untuk mengelola risiko yang berubah-ubah
dan ketidakpastikan yang berkaitan dengan
ramalan terkait iklim rentang panjang.
Menilai dan cenderung kepada intervensi
yang tidak berkontribusi terhadap problem
perubahan iklim.
Sumber: Strengthening Climate Resilience Project http://community.eldis.org/scr
Kotak 3: Menciptakan proses ketahanan yang berhasil
Prakarsa terbaru Kanada untuk mendukung ketahanan sosial ekonomi masyarakat mengidentifikasi
enam perilaku yang mengkarakterisasi masyarakat yang berhasil atau tangguh. Pada dasarnya
kesemuanya berkaitan dengan proses membangun ketahanan, yang melibatkan negosiasi,
kemitraan dan pengambilan keputusan:
63


Mereka menerapkan pendekatan multifungsi untuk menciptakan sistem pembangunan
berkelanjutan (ekonomi, ekologi, politik dan sosial) dalam masyarakat;
Melalui perencanaan strategis atau upaya lain, mereka memaksimalkan penggunaan waktu dan
sumber daya yang terbatas dalam area-area yang akan menghasilkan manfaat keseluruhan
terbesar;
Mereka mengembangkan rencana-rencana yang menggabungkan tujuan sosial dan ekonomi
serta membangun kapasitas lokal;
Mereka mampu memobilisasi sektor-sektor utama masyarakat di samping prioritas-prioritas;
Mereka memfokuskan energi untuk memobilisasi aset internal (baik finansial maupun sumber
daya manusia) seraya juga memanfaatkan sumber daya luar untuk mencapai tujuan;
Mereka telah membentuk masa kritis organisasi koperasi untuk mengimplementasikan dan
mengevaluasi prakarsa berbasis lokal.
Sumber: The Community Resilience Manual: a resource for rural recovery and renewal (Port Alberni,
BC: Centre for Community Enterprise, 2009, www.cedworks.com).
Kotak 4: Bekerja dengan kawula muda
Sebuah konsultan yang bekerja mencari cara untuk mengaplikasikan Karakteristik ke dalam
pekerjaan PRB Plan International bersama anak-anak dan remaja mengusulkan proses berikut
untuk dapat mendefinisikan masyarakat tahan lebih baik dari perspektif masyarakat:
Bekerja dalam kelompok anak/remaja dan kelompok dewasa yang terpisah kaji manfaat
pemisahan berdasarkan gender.
Mulai dengan sebuah diskusi terbuka (curah pendapat) mengenai sebuah Area Tematik tunggal,
yang dipilih untuk relevansi lokal. Curah pendapat ini dapat dilakukan dengan cara berbeda
termasuk gambar, permainan peran, visualisasi.
Kemudian selidiki lebih lanjut menggunakan Komponen Ketahanan lagi, berdasarkan relevansi
lokal.
Dukung anak-anak/remaja lokal untuk memikirkan indikator yang tepat ini membutuhkan
dukungan dari fasilitator namun tidak hanya mungkin tetapi juga memberdayakan.
Pikirkan sebuah proses yang tepat secara lokal untuk berbagi hasil (Staf PRB Plan di Bangladesh
mengajak anak-anak untuk membuat gambar masyarakat tahan bencana dan kemudian
memperlihatkan gambar kepada orang dewasa untuk melihat persetujuan mereka). Ini bisa lebih
terpadu sejak awal sebuah proses pengembangan bersama.
Komunikasikan temuan misalnya sebuah lukisan dinding (bisa di atas bahan/kanvas sehingga
portabel) yang menggambarkan masyarakat tahan bencana mereka; teater, konser, dan lain-lain
sesuai dengan budaya dan lokasi.
Kotak 5: Mengadaptasi Karakteristik ke dalam konteks lokal
Marinduque Council for Environmental Concerns (MACEC), yang berbasis di pulau Marinduque,
lepas pantai daratan Luzon di Philipina, menggunakan Karakteristik dalam perencanaan pekerjaan
pengembangan masyarakat mereka. Secara khusus, mereka bermaksud mengembangkan
intervensi yang memperkuat ketahanan masyarakat dengan mengintegrasikan PRB dan API. Untuk
membantu mengidentifikasi dan menganalisis peluang mengintegrasikan pekerjaan, MACEC
mengadaptasi Karakteristik tingkat masyarakat tunggal dari sebuah Masyarakat Tahan Bencana
di samping Karakteristik Lingkungan Kondusif agar lebih sesuai dengan konteks tempat bekerja.
Berikut ini adalah salah satu ilustrasi dari sini, berkaitan dengan Komponen Ketahanan dalam Area
Tematik 1 (Tata Kelola Pemerintahan). Teks yang biasa bersumber dari nota pedoman Karakteristik
asli. Teks bercetak miring adalah terjemahan MACEC dalam pekerjaan mereka, dengan fokus
kepada Lingkungan Kondusif.

Area Tematik 1: Tata Kelola Pemerintahan


Komponen Ketahanan 3: Integrasi dengan kebijakan dan perencanaan pembangunan
Karakteristik Masyarakat Tahan Bencana 3.1:
PRB masyarakat dipandang oleh semua pemangku kepentingan lokal sebagai bagian integral
dari rencana dan aksi untuk mencapai tujuan masyarakat yang lebih luas (misalnya pengentasan
kemiskinan, kualitas hidup).
MACEC menghubungkan signifikansi PRB dan API dengan Millennium Development Goals,
Philipine Medium Term Development Plan, 10 Point Agenda Pemerintah, Provincial Vision, dan
Development Framework Plan.
Karakteristik Lingkungan Kondusif
Pemerintah (semua tingkatan) menerapkan pendekatan yang holistik dan terpadu terhadap PRB,
dalam konteks pengembangan yang lebih luas dan tertaut dengan rencana pembangunan lintas
sektor.
PRB diintegrasikan ke dalam atau ditautkan dengan rencana pembangunan nasional lain serta
program negara yang didukung donor.
Integrasi rutin PRB ke dalam perencanaan pembangunan dan kebijakan sektoral (pengentasan
kemiskinan, jaminan sosial, pembangunan berkelanjutan, adaptasi perubahan iklim, desertifikasi,
manajemen sumber daya alam, kesehatan, pendidikan, dan lain-lain).
Perencanaan pembangunan formal dan proses implementasi harus mengintegrasikan elemenelemen PRB (misalnya analisis bahaya, kerentanan dan risiko, rencana mitigasi).
Platform institusional multisektoral untuk menunjang PRB.
Kebijakan perencanaan lokal, regulasi dan sistem pengambilan keputusan mempertimbangkan
risiko bencana.
Belajar dari pengalaman yang dibagi oleh National Economic and Development Authority
mengenai pengintegrasian elemen PRB ke dalam pembangunan formal dan proses perencanaan,
MACEC berupaya menggunakan pendekatan yang sama pada tingkat lokal dan berfokus untuk
mengintegrasikan PRB dan API dalam perencanaan dan proses anggaran tingkat desa.
Secara khusus, MACEC memfokuskan upaya mereka untuk mengintegrasikan PRB dan adaptasi
ke dalam Rencana Pembangunan Barangay (desa) dan Rencana Investasi Tahunan 119 Barangay
di Marinduque. Dalam konteks ini mereka menyusun Karakteristik Lingkungan Kondusif sendiri:
Usulan Karakteristik Lingkungan Kondusif
Koherensi dalam kebijakan nasional dan lokal yang signifikan bagi PRB dan API
Platform institusional multisektoral yang memfasilitasi partisipasi dalam proses pengambilan
keputusan dalam PRB dan API pada semua tingkatan pemerintahan.
Kotak 6: Pembentukan Area Tematik baru
Sebagai bagian dari upaya untuk mengadaptasi Karakteristik dalam pendekatan berorientasi-anak
mereka, Plan UK mengkaji gagasan untuk membentuk Area Tematik baru khusus untuk isu terkait.
Ini masih dalam diskusi, namun draf awal dicantumkan berikut ini untuk menunjukan bagaimana
Plan telah memulai tugas ini. Telah dilakukan modifikasi substansial agar Karakteristik menjadi
lebih relevan dengan upaya Plan, sementara proses berpikir dan diskusi mengenai modifikasi bisa
bisa mendorong kepemilikan yang lebih kuat atas sumber daya dalam organisasi berikut mitramitranya.

65

(draf) Area Tematik 0: Karakteristik Umum Budaya serta Praktik Berorientasi-Anak dan Gender
untuk Organisasi serta Masyarakat
Komponen Ketahanan
1. Orientasi-Anak dan Hak
Anak

2. Hak Gender

Karakteristik Masyarakat Tahan


Bencana Berorientasi Anak dan
Gender
1.1. Ada komisi anak/remaja
dengan suara yang diakui
dalam masyarakat.
1.2. Rekomendasi komisi anak/
remaja diteruskan ke
tingkatan pemerintahan lain.
1.3. Kebijakan perlindungan
anak diintegrasikan ke
dalam dokumentasi
kebijakan Rencana.
1.4. Kebijakan perlindungan
anak diintegrasikan ke
dalam rencana masyarakat
lokal.
1.5. Rencana kesiapsiagaan
darurat harus menyertakan
elemen perlindungan anak.
1.6. Harus ada pengkajian risiko
berkelanjutan atas situasi
darurat dan semua aktivitas
yang melibatkan anak terkait
risiko perlindungan anak.
1.7. Staf dan Associate
Plan harus memperoleh
pelatihan yang dibutuhkan
sesuai peran untuk
memastikan prosedur
yang terkait dengan
standar perlindungan anak
diimplementasikan dan
dijalankan secara efektif.
1.8. Anak harus dilibatkan
dengan baik dalam
membahas isu-isu
perlindungan yang
mempengaruhi mereka, dan
dalam mengembangkan
langkah-langkah
perlindungan anak.
2.1. Kebutuhan praktis dan
kepentingan strategis
perempuan dan laki-laki
diakui dalam kebijakan,
perencanaan, dan program.
2.2. Perbedaan peran dan relasi
gender diakui.

Lingkungan Kondusif
Legislasi hak anak yang
relevan diadopsi serta
dipraktikan oleh pemerintah
pada semua tingkatan.
Pengambil keputusan lokal
terbuka dengan partisipasi
anak.
Keberadaan legislasi
perlindungan anak,
kebijakan, dan proses lokal
implementasi.

Legislasi hak gender relevan


diadopsi dan dijalankan

3. Definisi masyarakat

4. Partisipasi/Inklusi Sosial

5. Sebab Akar Kerentanan


Bencana dan
Pembangunan

2.3. Data berbasis gender


dihimpun dan digunakan
secara rutin.
2.4. Keanggotaan tim/ komisi
dengan perimbangan
gender menjadi norma.
2.5. Perimbangan gender
diakomodasi dalam kegiatan
berbasis-masyarakat.
2.6. Pemahaman mengenai
penyebaran kekerasan
berbasis gender dan
langkah-langkah untuk
mengatasinya sudah umum
bagi staf.
3.1. Kelompok/komisi
Pemerintah (pada berbagai
masyarakat seinklusif
tingkatan) mendukung
mungkin secara sosial.
proses demokratis yang
3.2. Dinamika kekuasaan
delegatif dan partisipatif.
lokal dipahami dan
dipertimbangkan dalam
membentuk komisi lokal
dan badan pengambil
keputusan.
3.3. Staf Plan (pada semua
tingkatan) dilatih dan sadar
dengan sensitivitas konflik
dinamika kekuasaan dalam
masyarakat.
4.1. Pengakuan di tengah staf
Plan bahwa ada tingkatan
partisipasi dan tingkatan
partisipasi yang lebih tinggi,
melibatkan pemberdayaan
anak dan masyarakat.
4.2. Dilakukan upaya untuk
menjangkau semua bagian
masyarakat termasuk yang
disebut sulit dijangkau.
5.1. Pengakuan bahwa banyak
masalah pembangunan
yang belum terselesaikan
terjadi pada skala yang lebih
tinggi dari masyarakat, dan
bahwa bentuk advokasi atau
aksi yang lebih tepat harus
diterapkan.

67

Kotak 7: 20 teratas Karakteristik Tearfund


Untuk penggunaan secara umum dalam organisasi dan mitra-mitra mereka, Tearfund telah
mengurangi perangkat Karakteristik Masyarakat Tahan Bencana ke dalam jumlah yang lebih kecil
dan mudah dikelola yang dianggap paling relevan dengan kegiatan mereka dalam organisasi.
Pertama, mereka memilih Karakteristik utama berkaitan dengan kegiatan PRB organisasi secara
keseluruhan (Tearfund menyebut daftar ini 20 teratas Karakteristik). Seleksi awal dilakukan oleh
dua spesialis PRB: mereka memilih Karakteristik yang dianggap dapat dicapai dan terukur, serta
yang dapat diterapkan untuk sebagian besar jenis bencana. Untuk memastikan perimbangan, daftar
tersebut harus memuat paling sedikit dua Karakteristik dari masing-masing lima Area Tematik.
Seleksi yang sama dilakukan untuk menemukan Karakteristik yang terukur dan relevan dengan
bencana yang menyerang perlahan, terutama yang berkaitan dengan ketidakamanan pangan
jangka panjang dan kronis.
Kedua set Karakteristik diperlihatkan dalam tabel-tabel di bawah ini.
Kedua hasil seleksi melibatkan sejumlah penulisan ulang Karakteristik yang dianggap sesuai.
Dalam beberapa kasus dua atau lebih Karakteristik dikombinasikan menjadi satu Karakteristik.
Kedua daftar merujuk kepada Karakteristik asli (menurut jumlah) agar pengguna dapat memeriksa
kembali daftar lengkap.
Ketimbang menggunakan 20 teratas secara kaku, Tearfund mendorong Perwakilan Negara mereka
untuk melakukan seleksi sendiri sesuai dengan negara dan profil bencana. Poin yang penting adalah
tidak memaksakan kesesuaian dengan Karakteristik dari atas, namun kebutuhan untuk memiliki
seperangkat karakteristik yang menjelaskan ketahanan dalam konteks khusus terkait.
Tearfund menemukan bahwa latihan benar membantu untuk menjadikan sumber daya Karakteristik
lebih ramah-pengguna dan karenanya mendemistifikasi PRB. Staf program yang sibuk lebih
siap untuk menggunakan daftar yang lebih pendek. Namun sulit untuk memilih hanya sebagian
Karakteristik Masyarakat Tahan Bencana, khususnya ketika mencoba mengaplikasikan untuk
sejumlah jenis bahaya sekaligus; sebagai akibatnya terdapat risiko bahwa dokumen akan menjadi
terlalu melebar.
Karakteristik Masyarakat Tahan Bencana Singkat Tearfund (20 teratas)
Area Tematik 1: Tata Kelola Pemerintahan
Kepemimpinan masyarakat yang berkomitmen, efektif, dan akuntabel
dalam perencanaan dan implementasi PRB
Kapasitas untuk menuntut dan melobi lembaga eksternal terkait
rencana, prioritas, dan aksi PRB yang akan berdampak pada risiko
lokal
Bukti bahwa risiko bencana dipertimbangkan dalam perencanaan
aktivitas pembangunan
Area Tematik 2: Pengkajian Risiko
Pengkajian partisipatif mengenai bahaya/risiko, kerentanan, dan
kapasitas diadakan dan dimutakhirkan, untuk memberikan gambaran
komprehensif semua bahaya/risiko, kerentanan, dan kapasitas utama
dalam masyarakat.

Referensi (daftar
lengkap Karakteristik)
1.5
7.4
3.1 & 4.1

1.1 & 2.1

Masyarakat menggunakan pengetahuan tradisional dan persepsi lokal 3.2


terhadap risiko, disamping metode pengkajian ilmiah berbasis data lain.
Area Tematik 3: Pengetahuan dan Pendidikan
Penguasaan pengetahuan serta keterampilan teknis dan
organisasional yang tepat untuk pengurangan risiko dan respon
bencana pada tingkat lokal (misalnya pengetahuan teknis tradisional,
mekanisme penanggulangan, strategi penghidupan).
Semua bagian masyarakat tahu mengenai rencana kontingensi,
fasilitas, layanan, dan keterampilan yang tersedia sebelum, selama,
dan pasca kedaruratan, serta cara mengaksesnya
Pengetahuan PRB diberikan secara formal melalui sekolah lokal dan
secara informal melalui tradisi lisan dari satu generasi ke generasi
berikutnya.

1.4

2.3
3.1

Area Tematik 4: Manajemen Risiko dan Reduksi Kerentanan


Pasokan makanan dan air aman pada masa krisis (misalnya melalui
stok biji-bijian serta makanan pokok lain yang dikelola masyarakat;
pasokan air yang dilindungi atau disimpan).
Diversifikasi penghidupan pada tingkat rumah tangga dan masyarakat,
termasuk ladang dan non-ladang di pedesaan, dengan hanya sedikit
orang yang terlibat dalam praktik penghidupan tidak aman atau
aktivitas rentan bahaya
Adopsi praktik pertanian tahan bahaya dan manajemen lingkungan
berkelanjutan (misalnya konservasi tanah dan air, pola panen
fleksibel, tanaman toleran bahaya, manajemen hutan).
Keberadaan dan akses tabungan masyarakat serta skema kredit, dan/
atau dana bencana masyarakat untuk mengimplementasikan aktivitas
persiapan, responsif, atau pemulihan.
Ada langkah-langkah mitigasi struktural (misalnya tangki
penampungan air, tanggul, jalur pengalihan banjir).
Rumah-rumah, tempat kerja, dan fasilitas publik yang berlokasi di area
aman atau metode konstruksi tahan bahaya digunakan.
Ada langkah-langkah untuk melindungi aset-aset utama (misalnya
ternak) serta berbagai properti domestik (misalnya penggunaan lantai
dalam yang lebih tinggi atau kontainer plastik).

2.3 & 2.4


3.3 & 3.4

1.2 & 3.5


5.3 & 5.5
6.4
6.3, 6.5, & 6.6
6.8

Area Tematik 5: Kesiapsiagaan dan Respon Bencana


Tersedia fasilitas dan perlengkapan kedaruratan yang mudah diakses
(untuk penampungan, komunikasi, penyelamatan, dan lain-lain) yang
dimiliki dan dikelola oleh masyarakat.
Terdapat sistem peringatan dini berbasis masyarakat dan berorientasi
masyarakat pada tingkat lokal yang memproduksi pesan yang dipercaya
dan dipahami oleh seluruh masyarakat.
Ada rencana kontingensi tingkat masyarakat dan keluarga,
dikembangkan dan dimiliki oleh masyarakat, tertaut dengan rencana
tingkat tinggi dan diterapkan secara reguler.
Masyarakat memiliki kapasitas untuk menyediakan layanan respon
kedaruratan efektif dan tepat waktu, termasuk pelatihan dan pelibatan
relawan dengan keterampilan terkait (misalnya SAR, PPGD,
pengelolaan penampungan darurat, pemadaman kebakaran).

1.6
2.1 & 2.3
3.2, 3.3 & 3.7
5.1 & 6.4

69

Masyarakat memiliki rencana yang tepat dan sistem dukungan


bersama untuk merawat kelompok paling rentan biasanya manula,
penyandang disabilitas, pengidap AIDS, ibu, dan anak usia dini.

6.7

Karakteristik Masyarakat Tahan Bencana Tearfund dari perspektif keamanan pangan


Area Tematik 1: Tata Kelola Pemerintahan
Kepemimpinan perencanaan dan implementasi PRB yang
berkomitmen, efektif, dan akuntabel
Masyarakat sadar akan hak-hak mereka serta kewajiban hukum
pemerintah dan pemangku kepentingan lain untuk memberikan
perlindungan
Pelibatan/ representasi kelompok rentan dalam pengambilan
keputusan masyarakat dan manajemen PRB

Referensi (daftar
lengkap Karakteristik)
1.5
2.2
7.6

Area Tematik 2: Pengkajian Risiko


Diadakan pengkajian bahaya, kerentanan, dan kapasitas hazards, 1.1 & 2.1
vulnerability and Capacity assessment (HVC ) tingkat masyarakat untuk
memberikan gambaran komprehensif mengenai semua HVC.
Pengkajian HVC (di atas), diadakan sebagai sebuah proses partisipatif, 1.2 & 2.2
melibatkan perwakilan dari semua sektor masyarakat, termasuk semua
kelompok rentan.
Pemanfaatan pengetahuan tradisional dan persepsi lokal terhadap 3.2
risiko di samping pengetahuan ilmiah, data dan metode pengkajian lain.
Area Tematik 3: Pengetahuan dan Pendidikan
Sekolah-sekolah lokal memberikan pendidikan mengenai PRB kepada 3.1
anak-anak melalui kurikulum dan jika perlu, aktivitas ekstrakurikuler
Anggota masyarakat dibekali keterampilan atau dilatih dengan praktik 3.5
pertanian, penggunaan lahan, manajemen air, dan manajemen
lingkungan yang tepat.
Area Tematik 4: Manajemen Risiko dan Reduksi Kerentanan
Adopsi praktik manajemen lingkungan berkelanjutan yang mereduksi
risiko bahaya
Pasokan makanan dan status nutrisi aman (misalnya melalui cadangan
stok biji-bijian dan makanan pokok lain yang dikelola oleh masyarakat,
dengan sistem distribusi yang adil selama krisis pangan)
Akses terhadap kuantitas dan kualitas air yang memadai untuk
kebutuhan domestik selama 12 bulan dalam setahun.
Diversifikasi penghidupan (tingkat rumah tangga dan masyarakat)
termasuk aktivitas ladang dan non-ladang di area pedesaan.
Adopsi praktik agrikultur tahan bahaya (misalnya metode konservasi
tanah dan air, pola panen untuk curah hujan rendah atau berubah-ubah,
tanaman toleran bahaya) untuk keamanan pangan.
Sistem bantuan bersama, jaringan sosial dan mekanisme dukungan yang
menunjang pengurangan risiko secara langsung melalui aktivitas PRB
yang disasar, secara tidak langsung melalui aktivitas pengembangan
sosial ekonomi lain yang mereduksi kerentanan, atau

1.2
2.3
2.4
3.3
3.5
4.1

dengan kemampuan memperluas aktivitas untuk mengelola


kedaruratan saat timbul.
Keberadaan tabungan masyarakat/kelompok dan skema kredit, dan/
atau akses fasilitas kredit mikro
Terdapat langkah-langkah mitigasi struktural misalnya untuk
penampungan air, field bunding, atau dam irigasi dan terusan
sedapat mungkin dibangun menggunakan tenaga, keterampilan,
material, dan teknologi lokal yang tepat.
Area Tematik 5: Kesiapsiagaan dan Respon Bencana
Terdapat struktur organisasi lokal untuk kesiapsiagaan bencana atau
respon kedaruratan (misalnya komisi kesiapsiagaan bencana)
Terdapat sistem peringatan dini berbasis masyarakat dan berorientasi
masyarakat, yang menghasilkan peringatan bahaya tepat waktu,
andal, dan mudah dipahami untuk menjangkau seluruh anggota
masyarakat.
Terdapat rencana kontingensi masyarakat dan rumah tangga untuk
kekeringan, termasuk pemeliharaan aset utama (misalnya makanan
ternak, air dan kesehatan ternak).
Terdapat pasokan darurat (stok penyangga), dikelola oleh masyarakat,
baik sendiri maupun dengan kemitraan bersama organisasi lokal lain
(termasuk bank biji-bijian/benih)

5.3
6.4

1.2
2.1, 2.2, 2.3, 2.7

3.1 & 3.9


4.7

Catatan: Karakteristik telah dipilih menurut keterukuran dan relevansi dengan bencana yang
menyerang perlahan, memilih paling sedikit dua per Area Tematik dan meminimalisasi tumpang
tindih antar kesemuanya. Karakteristik yang dipilih mungkin bukan yang paling penting.
Kotak 8: Indikator utama ketahanan masyarakat ADPC
Dalam panduannya mengenai manajemen risiko bencana berbasis masyarakat, Asian Disaster
Preparedness Center (ADPC) telah menyusun daftar indikator tingkat minimum ketahanan di
bawah ini:
Organisasi masyarakat.
Rencana PRB dan kesiapsiagaan bencana.
Sistem peringatan dini masyarakat.
Tenaga terlatih: pengkajian risiko, SAR, PPGD, distribusi bantuan, tukang untuk konstruksi rumah
yang lebih aman, pemadaman kebakaran.
Konektivitas fisik: jalan, listrik, telepon, klinik.
Konektivitas relasional dengan otoritas lokal, LSM, dan lain-lain.
Pengetahuan mengenai risiko dan aksi pengurangan risiko.
Dana pengurangan bencana masyarakat untuk mengimplementasikan aktivitas pengurangan
risiko.
Rumah-rumah yang lebih aman untuk bertahan dari bahaya lokal.
Sumber penghidupan yang lebih aman.
Sumber: ADPC 2006, Critical Guidelines: Community-based Disaster Risk Management (Bangkok:
Asian Disaster Preparedness Center; www.adpc.net)

71

Kotak 9: Memetakan kerentanan dan kapasitas menggunakan kerangka kerja Karakteristik


Sebagai bagian dari program PRB mereka, Church World Service Pakistan/Afghanistan
mengadakan pengkajian cepat bahaya, kerentanan, dan kapasitas pada distrik pegunungan
di Pakistan. Tujuan utama kegiatan tersebut adalah: (a) mengidentifikasi masyarakat yang
terpapar berbagai bahaya; (b) dengan bantuan masyarakat mengidentifikasi bahaya yang akan
mempengaruhi mereka, mengkategorisasi kerentanan mereka dan memetakan kapasitas mereka;
(c) melibatkan masyarakat untuk mengembangkan sebuah rencana PRB (rangkaian aktivitas
pembangunan dan manajemen bencana yang holistik); (d) menyebarluaskan hasil-hasil pengkajian
kepada para pemangku kepentingan yang terkait. Tim pengkajian menggunakan kombinasi metode
kualitatif dan kuantitatif termasuk data sekunder (misalnya peta bahaya), diskusi kelompok terarah
yang melibatkan berbagai perangkat penilaian pedesaan partisipatif (misalnya timeline, kalender
musiman, bagan prioritas bahaya, dan peta desa), transect walks, serta diskusi lain dengan
pemangku kepentingan lokal.
Kegiatan menghasilkan banyak informasi mengenai bahaya, kerentanan dan kapasitas yang
kemudian digunakan dalam menyusun rencana PRB. Untuk membantu menyusun temuan pengkajian
mengenai kerentanan dan kapasitas, ini selanjutnya ditelaah dengan menggunakan kerangka kerja
Karakteristik dan dikelompokkan (dipetakan) dalam lima Area Tematik, sebagaimana ditunjukkan
dalam dua tabel di bawah ini.
Kerentanan
Area Tematik 1:
Tata Kelola Pemerintahan

Etnik, kasta, dan sosial ekonomi dalam masyarakat.


Ketiadaan struktur politik yang efektif
Struktur manajemen bencana pemerintah lemah (nasional &
lokal)

Area Tematik 2:
Pengkajian Risiko

Ketiadaan data.
Ketiadaan sistem peringatan dini.

Area Tematik 3:
Pengetahuan dan
Pendidikan

Fatalisme
Ketiadaan pemahaman mengenai akar bencana
Perbedaan perspektif perempuan laki-laki mengenai bahaya
dan bencana
Tingkat pendidikan perempuan rendah
Ketiadaan fasilitas pendidikan untuk anak perempuan
Tingkat pengetahuan bahaya perempuan rendah

Area Tematik 4:
Manajemen Risiko dan
Reduksi Kerentanan

Kepadatan penduduk tinggi


Proporsi populasi dalam lokasi perbukitan yang terpapar dengan
risiko multi bahaya sangat tinggi.
Tingkat kemiskinan tinggi.
Kesempatan penghidupan terbatas (bergantung pada agrikultur).
Jarak yang jauh; infrastruktur transportasi tidak memadai.
Kesulitan mengakses pasar (barang & tenaga kerja).
Tata kelola kepemilikan lahan (tingkat sewa-menyewa tinggi)
Ketiadaan fasilitas kesehatan lokal.
Ketiadaan pasokan listrik.
Ketiadaan fasilitas publik untuk pertemuan masyarakat dan lainlain.

Area Tematik 5:
Kesiapsiagaan dan
Respon Bencana

Ketiadaan Community-based disaster management (CBDM)


formal.

Kapasitas
Area Tematik 1:
Tata Kelola Pemerintahan

Swadaya dan solidaritas masyarakat dalam krisis


Representasi politik kelompok miskin/marginal
Kebiasaan tuan tanah memberikan bantuan dalam krisis
Keterlibatan eksternal dalam proyek pembangunan

Area Tematik 2:
Pengkajian Risiko

Identifikasi lokasi rawan-longsor oleh masyarakat

Area Tematik 3:
Pengetahuan dan
Pendidikan

Memori masyarakat akan peristiwa lalu


Tingkat kesadaran masyarakat yang tinggi akan bahaya dan
risiko
Tingkat akses ponsel dan radio yang tinggi
Tuntutan masyarakat akan sekolah bagi anak perempuan

Area Tematik 4:
Manajemen Risiko dan
Reduksi Kerentanan

Keterlibatan eksternal dalam proyek pembangunan (penghidupan


berkelanjutan).
Kiriman dari pekerja migran
Surplus produk ternak
Produksi madu

Area Tematik 5:
Kesiapsiagaan dan
Respon Bencana

Swadaya masyarakat dalam DP dan respon.

Catatan: catatan lebih lengkap mengenai proyek ini dapat diperoleh sebagai studi kasus pada
laman werb Karakteristik pada: www.proventionconsortium.org/?pageid=90 atau www.abuhrc.org/
research/dsm/Pages/project_view.aspx?project=13
Kotak 10: Mengubah Karakteristik menjadi indikator
Dalam Measuring the Impact of Disaster Risk Reduction (bagian dari seri dokumen internal Learning
Companion) yang baru diterbitkan, Oxfam GB memberikan panduan praktis berbagai aspek
pemantauan dan evaluasi PRB, termasuk cara menggunakan Karakteristik untuk mengembangkan
indikator hasil.
Dokumen di atas mengilustrasikan bagaimana Karakteristik Ketahanan tunggal dapat disaring
menjadi indikator hasil umum untuk implementasi PRB, dengan 10 contoh, diambil dari lima Area
Tematik. Di sini dibuat kembali intisari, yang mengangkat ketiga karakteristik/indikator dari Area
Tematik 5 (Kesiapsiagaan dan Respon Bencana).
Karakteristik, Area Tematik 5: Kesiapsiagaan dan Respon Bencana
(Prioritas Hyogo 5: Memperkuat kesiapsiagaan bencana pada semua tingkatan)
Komponen ketahanan 1: Kapasitas Organisasi dan Koordinasi
Karakteristik 1.6 jumlah personil organisasi dan anggota masyarakat terlatih yang memadai untuk
73

menjalankan tugas-tugas khusus terkait (misalnya komunikasi, SAR, PPGD, distribusi bantuan)
Potensi indikator umum: % anggota komisi yang memperlihatkan keterampilan menjalankan
tugas respon terkait menurut standar minimum secara koordinasi.
Contoh indikator dari program Oxfam: % (misalnya komisi) yang memiliki sistem untuk
mengelola perlengkapan dan opsi respon mereka untuk mengganti bahan habis pakai,
melakukan pemeliharaan esensial dan mendukung aktivitas organisasi mendasar
Komponen Ketahanan 2: Sistem Peringatan Dini
Karakteristik 2.2 Sistem peringatan dini yang mampu menjangkau keseluruhan masyarakat (melalui
radio, TV, telepon, dan teknologi komunikasi lain, serta via mekanisme peringatan dini masyarakat
seperti jaringan relawan)
Potensi indikator umum: % anggota masyarakat yang menerima pesan peringatan dini dari
paling sedikit satu sumber
Contoh indikator dari program Oxfam: tingkat fungsi komunikasi/sistem peringatan dini untuk
transmisi peringatan yang memungkinkan informasi menjangkau orang secara baik tepat pada
waktunya
Komponen Ketahanan 4: Sumber daya dan infrastruktur kedaruratan
Karakteristik 4.2: rute evakuasi aman diidentifikasi, dipelihara, dan diketahui oleh anggota masyarakat
Potensi indikator umum: % rute evakuasi aman yang memperoleh pemeliharaan reguler dan %
anggota masyarakat yang mampu mengidentifikasi rute evakuasi aman
Contoh indikator dari program Oxfam: % populasi masyarakat yang mampu menjangkau
penampungan secara aman dan cepat
Sumber: Measuring the Impact of Disaster Risk Reduction: A Learning Companion (Oxfam GB,
2009).
Kotak 11: Karakteristik/indikator: kuantitatif atau kualitatif?
Tabel Karakteristik bersifat kualitatif. Masyarakat beserta mitra mereka karenanya harus memberikan
penilaian sendiri mengenai kemungkinan telah tercapainya aspek-aspek ketahanan tertentu.
Sebagian penilaian akan lebih lugas dari penilaian lain. Sebagai contoh, mudah untuk menyatakan
bahwa sebuah rencana kontingensi atau kesiapsiagaan bencana dari masyarakat telah ada (bahkan
jika soal kualitas menjadi persoalan lain). Namun lebih sulit untuk menilai distribusi kesejahteraan
dan aset penghidupan yang adil dalam sebuah masyarakat, atau kecukupan akses sumber daya
properti bersama yang bisa menunjang strategi penanggulangan semasa krisis.
Pedoman Karakteristik tidak dapat memuat cara mencapai penilaian ini untuk proyek maupun
masyarakat. Penilaian merupakan wilayah kesepakatan kolektif antar para pemangku kepentingan.
Konklusi akan berbeda dalam tiap kasus, sesuai dengan konteks dan ekspektasi, juga akan terdapat
sejumlah penilaian subyektif. Namun dalam tiap kasus, proses untuk mencapai keputusan harus
transparan dan partisipatif.
Sebagian pedoman dan ahli menyarankan pentingnya indikator kuantitatif aspek-aspek PRB
tertentu (misalnya jumlah relawan yang dilatih PPGD, persentase rumah tangga dalam masyarakat
dengan asuransi properti). Tidak mungkin menetapkan ukuran-ukuran kuantitatif standar yang
dapat diterapkan dalam setiap konteks, namun indikator kuantitatif dapat digunakan pada tingkat
proyek individual, jika perlu. Dalam kasus demikian, indikator kuantitatif dapat menjadi bagian dari

data sebagai dasar penilaian pencapaian ketahanan yang lebih luas. Tim proyek masing-masing
yang akan memutuskan bentuk indikator kuantitatif yang paling sesuai dan tingkat pencapaian yang
akan ditetapkan.
Kotak 12: Meneliti pengembangan ketahanan
LSM lokal, BEDROC (Building and Enabling Disaster Resilience of Coastal Communities) telah
melaksanakan sebuah studi ekstensif untuk Oxfam Amerika mengenai dampak upaya rehabilitasi
pasca-tsunami di Tamil Nadu, India, terhadap ketahanan lokal dan masyarakat. Dengan program
lembaga bantuan yang membayangi tujuan mereka, keberlanjutan beragam upaya mereka untuk
membangun kapasitas lokal harus dinilai. Riset juga berupaya menyusun pelajaran lebih umum
mengenai penyebab keberhasilan program pemulihan. Dua distrik dipilih untuk studi dan bukti
dikumpulkan dari masyarakat serta pihak penting dari luar yang memegang peran signifikan dalam
respon tsunami.
Tim riset BEDROC menggunakan Karakteristik sebagai kerangka kerja pengkajian, menggarap
kelima Area Tematik. Komponen Ketahanan yang relevan dipilih untuk diteliti, juga Karakteristik
Masyarakat Tahan Bencana utama dan Karakteristik Lingkungan Kondusif utama yang terkait
dengan Komponen tersebut.
Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kerangka kerja ini. Sejumlah perangkat riset
digunakan untuk menghimpun pendapat serta informasi dan berbagai bukti dikumpulkan. Temuan
ditulis dalam bagian yang memuat masing-masing Komponen Ketahanan terpilih, sehingga tim
dapat membangun gambaran yang rinci dan komprehensif. Periset juga memberikan penilaian
mengenai tingkat kemajuan pencapaian ketahanan untuk tiap Komponen menggunakan skema
tolok ukur kerangka kerja.
Laporan, yang memuat metode dan temuan secara rinci, dipublikasikan pada tahun 2008 serta
tersedia baik dalam bentuk cetak maupun online (Building Local Capacities for Disaster Response
and Risk Reduction: An Oxfam BEDROC Study: www.bedroc.in).
Kotak 13: Menautkan ketahanan masyarakat dengan Lingkungan Kondusif
Bagian dari proyek PRB Coastal CORE Sorogon pada masyarakat pesisir miskin dan rentan
wilayah Sitio Gumang di Philipina (didukung oleh Christian Aid), yang berfokus kepada kesehatan,
penghidupan, dan jaminan sosial, bertujuan untuk meningkatkan Lingkungan Kondusif disamping
meningkatkan ketahanan masyarakat. Sumber daya Karakteristik digunakan untuk mengidentifikasi
hasil yang diharapkan dalam kedua aspek, dimodifikasi untuk menjawab konteks lokal (lihat tabel
di bawah ini). Peran lembaga mitra pemerintah lokal dalam mencapai tujuan ini juga dimuat dalam
rencana.
Karakteristik Sitio Gumang
Tahan Bencana
1. Kesadaran keluarga
yang tinggi mengenai
pemeliharaan hidup
sehat melalui nutrisi
pokok dan sederhana
serta sanitasi yang baik

Karakteristik Lingkungan Kondusif


Lingkungan yang bersih dan sehat.
Dukungan teknis dan infrastruktur dari Unit Pemerintah Lokal
(misalnya penyediaan biosand water filter bagi setengah dari
rumah tangga sasaran).
Kebijakan tingkat masyarakat yang telah ditetapkan dan disepakati
mengenai sanitasi dan pemeliharaan kebersihan di Sitio.
Dukungan strategi Dinas Kesehatan Kota Gubat dengan secara
khusus mengarahkan layanan bidan dan Pekerja Kesehatan
Barangay untuk tujuan masyarakat mencapai kesehatan terutama
75

bagi anak kurang gizi.


Dukungan dari Unit Pemerintah Lokal Gubat untuk mendorong
pembentukan dan pemeliharaan sebuah kebun sayur komunal di
Sitio.
2. Akses yang lebih baik
pada air yang memadai
dan berkualitas untuk
kebutuhan domestik,
terutama semasa krisis.
3. Anggota masyarakat
swadaya dengan
penghidupan
berkelanjutan

Pelatihan pengembangan kapasitas yang terarah dan efisien


untuk identifikasi dan pengembangan penghidupan berkelanjutan,
penguatan keterampilan, dan manajemen keuangan.
Dukungan organisasional COTIPABA (organisasi koperasi
mitra proyek) kepada anggota-anggotanya dalam aktivitas
penghidupan dan pembiayaan.
Dukungan pemasaran untuk aktivitas penghidupan anggota
koperasi.

4. Penduduk peka gender Pelatihan pengembangan kapabiltias perubahan perilaku untuk


dan berkomitmen
kepekaan dan kesadaran gender.
terhadap implementasi Rencana bencana yang didukung visi/ rencana masyarakat
PRB sebagai bagian
sebagaimana dipandu oleh anggota Dewan Barangay.
dari visi masyarakat
Kebijakan lokal mendukung dan mendorong prakarsa gender dan
dan rencana PRB
pembangunan.
mereka

Studi Kasus 1:
Membantu Praktisi PRB untuk mendefinisikan ketahanan dalam konteks pedesaan Bangladesh
Organisasi: Tearfund, dengan mitra lokal HEED Bangladesh
Penulis: Oenone Chadburn oenone.chadburn@tearfund.org
Tujuan:
Sebagai bagian dari uji lapangan, Tearfund mempresentasikan Karakteristik kepada mitra PRB
utama untuk memperoleh umpan balik mengenai sumber daya tersebut dalam hal (a) manfaat
dan kemudahan dipahami dalam format yang ada; dan (b) validitas dalam situasi negara tertentu.
Studi ini mendokumentasikan pengujian dan aplikasi Karakteristik dalam masyarakat pedesaan di
Bangladesh.
Setelah ringkasan lisan mengenai jadwal pada hari bersangkutan, metodologi yang digunakan
adalah sebagai berikut:
a. Pengantar mengenai Karakteristik, perkembangan, dan maksud terkait.
b. Menggambarkan peta besar tipikal desa pesisir di Bangladesh, dengan ciri geografis dan struktural
yang relevan. Ditambahkan kartu (semua dalam satu warna) untuk menekankan ciri yang sangat
rentan dengan bahaya yang ada. Selanjutnya ditambahkan paket kartu kedua (dengan warna
berbeda) dengan saran aktivitas untuk mereduksi kerentanan tersebut.
c. Salinan Karakteristik didistribusikan dan diberikan waktu untuk membaca serta berdiskusi dalam
bahasa lokal.
d. Mencocokan Karakteristik tertentu dengan aktivitas pengurangan risiko yang sebelumnya
disarankan. Terkadang beberapa Karakteristik sekaligus cocok dengan satu aktivitas.
Hasil Positif
Praktisi melihat nilai positif dari Karakteristik. Sebelumnya, mereka tahu apa yang ingin dicegah
dalam sebuah desa rawan-bencana; kini mereka dapat melihat apa yang ingin mereka capai.
Mereka dapat melihat nilai potensial dari pendekatan ini dalam masyarakat, yang seringkali lebih
berfokus pada problem dampak bencana ketimbang pengembangan ketahanan bencana.
Mereka menemukan kesenjangan dalam desain proyek. Dari tabel komprehensif faktor ketahanan,
mereka menemukan aspek-aspek yang dapat dicakup dalam pekerjaan mereka. Temuan ini tidak
dipandang memberatkan, namun sebagai masukan yang bermanfaat. Mereka bersikap realistis
mengenai apa yang dapat dan tidak dapat mereka capai dalam membantu masyarakat mencapai
ketahanan.
Mereka menghargai tautan berbasis-masyarakat yang diberikan Karakteristik untuk Hyogo
Framework for Action. HEED telah memegang erat Hyogo, namun Karakteristik menyuguhkan
aplikasi lateral kelima aksi, kerangka kerja yang kuat untuk referensi ke depan.
Mereka mengakui bahwa Karakteristik merupakan hal baru, namun sangat ingin melihat
pengembangan yang berkelanjutan menjadi berbagai perangkat. Mereka mengaku mampu
mengadaptasi Karakteristik menjadi sumber daya berbasis-masyarakat; dengan bantuan, mereka
daapt mengembangkan indikator-indikator ketahanan.
Mereka merasa bahwa Karakteristik bersifat komprehensif dan berguna bagi Bangladesh. Mereka
melihat potensi untuk mereduksi jumlah Karakteristik agar merepresentasikan desa target ratarata dan agar ini digambar secara profesional oleh seorang seniman. Dalam pelatihan masyarakat,
gambar ini dapat dibandingkan dengan realitas yang ada dalam masyarakat target.
77

Tantangan
Keseluruhan kegiatan membutuhkan waktu lebih lama dari waktu yang dialokasikan. Sebagian
karena kendala bahasa, namun mungkin lebih akibat diskusi mendalam dan sehat di antara para
praktisi menyangkut sifat rinci dan tujuan PRB.
Tidak ada pemisahan dalam presentasi Karakteristik antara yang pasif dengan yang aktif. Ada
potensi sebuah Karakteristik tercapai oleh masyarakat, namun hilang seiring berjalannya waktu,
sehingga sejumlah Karakteristik harus menjadi aktif dan secara konstan diperbaharui.
Kegiatan ini memiliki bias yang kuat terhadap Area Tematik 3, 4, dan 5 serta lebih lemah dalam
mengembangkan pemahaman mengenai Area Tematik 1 dan 2. Aktivitas perangkat lunak lebih
sulit ditangkap dalam format yang sebagian besar bersifat piktorial. Lingkungan Kondusif juga
kurang terepresentasikan; harus ditekankan tersendiri, sebagai hal yang memengaruhi desain
proyek.
Butuh banyak aplikasi lateral untuk mengidentifikasi lokasi modal sosial dalam kerangka kerja.
Struktur masyarakat yang religius memiliki peran penting dalam memberikan dukungan psikososial setelah sebuah bencana, namun ini sulit ditemukan dalam Karakteristik. Aktivitas manajemen
sumber daya berkelanjutan juga pada awalnya diperdebatkan untuk menemukan kecocokan yang
jelas dengan salah satu Karakteristik.
Kegiatan mengasumsikan bahwa interaksi antara praktisi dan masyarakat sudah sangat partisipatif
dan bahwa semua keputusan atau aktivitas telah dijalankan secara kolaboratif. Namun demikian,
ini sedikit menggeser tujuan mengidentifikasi partisipasi sebagai karakteristik utama masyarakat
tahan-bencana.
Rekomendasi
Karakteristik harus digunakan dalam pelatihan tim PRB, untuk membantu memahami gambaran
masyarakat tahan-bencana dalam praktik. Dengan cara ini, fokus bergeser dari dampak negatif
bahaya ke capaian positif ketahanan.
Harus dibuat gambar atau peta masyarakat rawan-bencana untuk menunjukkan di mana
Karakteristik dapat ditemukan atau dikembangkan, dalam Area Tematik 3, 4, dan 5. Perangkat
lain dibutuhkan untuk mendemonstrasikan Area Tematik 1 dan 2, serta Lingkungan Kondusif.
Untuk masyarakat tertentu, daftar Karakteristik harus dikurangi hingga minimal, diungkapkan
dalam gambar dan digunakan dalam pelatihan serta peningkatan kesadaran dalam masyarakat
terkait.
Karakteristik harus digunakan sebagai perangkat untuk membantu desain proyek, baik pada
awal atau pada titik evaluasi dalam implementasi. Karakteristik dapat membantu mengidentifikasi
kesenjangan dalam implementasi 5 area tematik Hyogo Framework.
Karakteristik dapat digunakan untuk membantu mengidentifikasi aktivitas tertentu yang dapat
membangun ketahanan lokal.
Berikut ini adalah pilihan aktivitas khusus yang diidentifikasi oleh para praktisi dan kecocokannya
dengan Karakteristik.
1. Meninggikan rumah hingga batas di atas ketinggian banjir tahunan dan membuat penampungan
banjir: Area Tematik 5 (Kesiapsiagaan dan Respon Bencana) Karakteristik 4.3 (Penampungan
darurat yang mudah diakses masyarakat dengan fasilitas memadai bagi semua populasi
terdampak).

2. Memulai sebuah sistem sekolah yang baru dimana libur sekolah dijadwalkan bersamaan dengan
banjir tahunan (agar anggota keluarga dapat bersama-sama pada musim banjir dan sekolah
tidak terganggu jika bangunan sekolah berfungsi ganda sebagai penampungan banjir): Area
Tematik 1 (Tata Kelola Pemerintahan) Karakteristik 3.1 (PRB Masyarakat dipandang oleh
pemangku kepentingan lokal sebagai bagian integral dari rencana dan aksi untuk mencapai
tujuan masyarakat yang lebih luas).
3. Memastikan akses air minum yang lebih aman dan kesadaran mengenai arti penting terkait
selama masa banjir: Area Tematik 3 (Pengetahuan dan Pendidikan) Karakteristik 3.5 (Anggota
masyarakat dibekali keterampilan atau pelatihan pertanian yang tepat, penggunaan lahan,
manajemen air dan praktik manajemen lingkungan); dan Area Tematik 4 (Manajemen Risiko dan
Reduksi Kerentanan) Karakteristik 2.5 (Kesadaran mengenai cara hidup sehat dan langkahlangkah perlindungan jiwa serta penguasaan keterampilan yang tepat).
4. Mengembangkan praktik panen alternatif (seperti musim panen berbeda atau varian tahan-banjir):
Area Tematik 4 (Manajemen Risiko dan Reduksi Kerentanan) Karakteristik 3.5 (Adopsi praktik
agrikultur tahan-bahaya); dan Area Tematik 3 (Pengetahuan dan Pendidikan) Karakteristik 3.5
(Anggota masyarakat dibekali keterampilan atau dilatih dengan praktik pertanian, penggunaan
lahan, manajemen air, dan manajemen lingkungan yang tepat).
Catatan: versi lebih lengkap dari studi kasus ini dapat dilihat di www.proventionconsortium.
org/?pageid=90 dan www.abuhrc.org/research/dsm/Pages/project_view.aspx?project=13

Studi Kasus 2:
Memperkenalkan Karakteristik kepada staf lapangan mitra LSM di Nepal
Organisasi: Practical Action
Penulis: Pieter van den Ende pieter.vandenende@practicalaction.org.uk
Tujuan
Proyek Mainstreaming Livelihood-Centred Approaches to Disaster Management dari Practical
Action bertujuan untuk mendemonstrasikan bahwa aktivitas-aktivitas yang memperkuat dan
mendiversifikasi penghidupan serta kesiapsiagaan akan meningkatkan ketahanan masyarakat
sasaran terhadap dampak dari guncangan dan tekanan yang terjadi di tingkat lokal.
Karakteristik diperkenalkan kepada kelompok staf lapangan mitra lokal di Nepal untuk:
Menjelaskan pengembangan catatan pedoman
Mengklarifikasi konsep ketahanan
Menghubungkan aktivitas proyek dengan elemen tertentu dari Karakteristik
Memberikan pedoman untuk mengukur kemajuan pencapaian ketahanan
Memberikan hasil atau target positif
Metodologi
Kegiatan diadakan dengan kerja kelompok dan diskusi selama enam jam di kantor Practical
Action Chitwan, dengan fasilitator tunggal menggunakan flipchart dan PowerPoint. Setelah diskusi
pengantar, penetapan jadwal lokakarya, latar belakang pengembangan Karakteristik disampaikan
secara ringkas.
79

Kedua organisasi mitra bekerja dalam area geografis yang berbeda. SAHAMATI bekerja di daerah
aliran sungai bersama masyarakat baik hulu maupun hilir di Distrik Nawalparasi, sementara MADE
bekerja di dataran rendah (Terai) dengan masyarakat tebing sungai di Distrik Chitwan.
Mengingat kedua mitra telah mengadakan pengkajian bahaya pada masyarakat target mereka
masing-masing, tiap kelompok mitra diminta untuk mencatat bahaya yang mengancam masyarakat
tersebut serta mengidentifikasi elemen berisiko dari bahaya-bahaya terkait (elemen kerentanan).
Elemen bahaya dan rentan berikut berhasil diidentifikasi:
SAHAMATI
Banjir
Lahan pertanian
Lahan penggembalaan
Rumah dekat sungai
Jalan, parit, dan lain-lain bangunan fisik

Tanah longsor
Lahan hutan
Lahan penggembalaan
Lahan pertanian
Ternak
Rumah-rumah
Kanal irigasi
Air minum
Jalan, dan lain-lain.
Kekeringan
Produksi musiman
Air minum yang berkurang
Irigasi
Kebakaran
Margasatwa
Tanaman
Kematian ternak
Jiwa manusia

MADE
Banjir dan erosi
Sumber pendapatan
Ladang dan lahan yang tersedia
Ternak
Infrastruktur jalan, kanal irigasi, listrik, dan
lain-lain.
Air minum
Kesehatan dan sanitasi penyakit

Kekeringan
Tanaman yang tersedia sumber pendapatan
Sumber air
Kesehatan dan sanitasi - penyakit
Margasatwa
Tanaman dan ternak
Sumber daya manusia
Infrastruktur, penampungan, dan lain-lain.

Tabel di atas menunjukkan bahwa lahan dan penghidupan menjadi hal yang paling terdampak.
Setelah pengkajian partisipatif kerentanan dan kapasitas, masyarakat terdampak telah memprakarsai
aktivitas-aktivitas yang didesain untuk mengurangi dampak bahaya ini terhadap jiwa, aset, dan
penghidupan mereka.
Pertanyaan ini mengemuka: Apakah aktivitas ini memberikan kontribusi bagi ketahanan masyarakat?
Sumber daya Karakteristik kemudian diperkenalkan dengan presentasi PowerPoint singkat dan
konsep ketahanan didiskusikan. Halaman-halaman terkait dari versi cetak catatan panduan dirujuk.
Bagian-bagian tabel berikut hubungannya dengan kerentanan serta elemen yang digarap dalam
proyek dijelaskan.

Peserta secara cepat mengidentifikasi bahwa sebagian besar aktivitas berbasis-masyarakat termasuk
dalam Area Tematik 4 (Manajemen Risiko dan Mengurangi Kerentanan). Tiap kelompok kemudian
diminta untuk menautkan aktivitas mereka dengan Komponen Ketahanan dan mengidentifikasi
Karakteristik yang dikontribusi (lihat tabel pada akhir studi kasus ini).
Hasil-Hasil
Aktivitas berbasis-masyarakat yang didesain untuk mereduksi kerentanan populasi terpapar, dimulai
sebelum pengenalan Karakteristik. Cara mengukur kontribusinya untuk meningkatkan ketahanan
belum ditentukan. Karakteristik telah memberikan panduan yang tepat mengenai kontribusi dari
aktivitas ini terhadap pencapaian ketahanan.
Semua peserta dapat dengan mudah mengidentifikasi komponen ketahanan yang dikontribusi
aktivitas mereka. Di samping itu, mereka mengenali signifikansi Karakteristik dalam identifikasi
indikator yang tepat. Ini mendorong diskusi hebat mengenai manfaat mengurangi kerentanan
versus peningkatan ketahanan.
Peserta sepakat bahwa Karakteristik mengklarifikasi apa tujuan utama dari proyek. Banyak pihak
merasa bahwa peningkatan ketahanan merupakan hasil yang positif jika dibandingkan dengan
konotasi mengurangi kerentanan yang lebih negatif. Ketahanan dipandang sebagai target yang
dapat dicapai, sementara eliminasi kerentanan dipandang kurang memungkinkan.
Sejumlah aktivitas berkontribusi untuk lebih dari satu Komponen Ketahanan, sedang aktivitas lain
hanya memberikan kontribusi kecil untuk satu Komponen tunggal.
Dipandang bahwa akibat kompleksitas tabel dan jumlah karakteristik yang besar yang diaplikasikan
secara parsial dalam aktivitas masyarakat, akan bermanfaat mengidentifikasi pilihan karakteristik
utama ketahanan yang menjadi sasaran proyek.
Para mitra setelah kembali kepada masyarakat mereka telah mendiskusikan interpretasi mereka
terhadap Karakteristik dan memfasilitasi daftar berbasis-masyarakat mengenai Karakteristik
Masyarakat Tahan-Bencana yang diinginkan dan sesuai dengan masyarakat mereka serta dapat
diungkapkan dalam bahasa lokal. Ini akan menjadi target.
Diakui bahwa komponen Area Tematik yang berbeda juga relevan dengan proyek, namun waktu
tidak memungkinkan ini diinvestigasi.
Kesimpulan
Praktisi PRB berpengalaman mampu menghubungkan aktivitas berbasis-masyarakat dengan
Karakteristik lebih mudah dibandingkan dengan pendatang baru dalam bidang ini.
Sejumlah aktivitas berkontribusi bagi sejumlah Karakteristik. Mengambil salah satu inti dari
Karakteristik paling relevan yang menjelaskan pendekatan organisasi akan sangat berguna.
Terjemahan sejumlah terminologi sangat sulit dan memakan waktu.
Ketahanan dipandang sebagai target positif yang, meski dinamis, dapat dicapai.

81

Komponen
Ketahanan

Karakteristik Masyarakat
Tahan Bencana

Aktivitas Masyarakat
SAHAMATI

1. Manajemen
lingkungan dan
sumber daya
alam

1.1. Pemahaman
masyarakat
mengenai
karakteristik dan
fungsi lingkungan
alam lokal serta
ekosistem
1.2. Adopsi praktik
manajemen
lingkungan
berkelanjutan yang
mengurangi risiko
bahaya
1.3. Pelestarian
keanekaragaman
hayati

Manajemen daerah
aliran sungai

1.4. Pelestarian
dan penerapan
pengetahuan
tradisional serta
teknologi tepat
guna yang relevan
dengan manajemen
lingkungan.

Pengendalian
banjir dan longsor
tradisional

2. Kesehatan dan
Kesejahteraan

Aktivitas Masyarakat
MADE

Area konservasi/
penanaman pohon
tebing sungai

Keanekaragaman
hayati
Sumber
daya akuatik/
penampungan
Teknologi tepat
guna
Kontrol hama
organik

1.5. Akses sumber


Konstruksi saluran
daya properti
irigasi
bersama yang
dikelola masyarakat
dan dapat
menunjang strategi
penanggulangan dan
penghidupan dalam
masa normal dan
krisis

Penampungan air

2.1. Kemampuan fisik


Kebun sayur/dapur
bagi tenaga kerja dan
kualitas kesehatan
yang dipelihara dalam
masa normal melalui
makanan dan nutrisi
memadai, higienitas,
serta perawatan
kesehatan.

Produksi tanaman
dan ternak untuk
keamanan pangan

3. Penghidupan
berkelanjutan

2.2. Akses terhadap


Sistem irigasi yang
kuantitas dan kualitas lebih baik
air yang memadai
untuk kebutuhan
domestik saat krisis.
2.3. Kesadaran mengenai Toilet dibangun/
sarana menjaga
diperbaiki
kesehatan dan
langkah-langkah
perlindungan jiwa
serta penguasaan
keterampilan yang
tepat
3.1. Tingkat aktivitas
Kelompok
ekonomi lokal dan
menabung,
lapangan kerja yang
pembibitan,
tinggi
pembesaran babi
dan kambing
3.2. Diversifikasi
Lumbung bibit, beepenghidupan
keeping,
Peternakan babi,
kambing, lebah, dan
lain-lain.
3.3. Lebih sedikit orang
yang terlibat dalam
aktivitas penghidupan
tidak aman atau
aktivitas rentanbahaya

4. Jaminan sosial

pertanian komersial
Inisiasi lapangan
kerja lokal
Diversifikasi onfarm
Tanaman musiman
dan non-musiman
Jumlah pertanian
rawan kekeringan
berkurang

3.4. Adopsi praktik


agrikultur tahanbahaya untuk
keamanan pangan

Perkebunan bambu
Manajemen irigasi

4.1. Sistem bantuan


bersama,
jaringan sosial,
dan mekanisme
dukungan yang
menunjang reduksi
risiko

Formasi kelompok
Komisi manajemen
bencana desa

4.2. Sistem bantuan


bersama yang
bekerjasama dengan

Rencana CBDM
disiapkan

Konservasi tanah
dan air
Sumur tabung
dangkal
Tumbuhan polong
Jaringan
dan tautan
dengan Village
Development
Committee
(VDC), District
Development
Committee
(DDC), lembaga
pemerintah.
Komisi manajemen
bencana lokal

83

5. Instrumen
finansial

6.

masyarakat serta
struktur formal lain
dan didedikasikan
untuk manajemen
bencana.
4.3. Akses masyarakat
kepada layanan
sosial pokok
4.4. Jalur komunikasi dan
informasi sosial yang
mapan; kelompok
rentan tidak terisolasi
4.5. Pengetahuan kolektif
dan pengalaman
manajemen peristiwa
sebelumnya
5.1. Basis aset
rumah tangga
dan masyarakat
cukup besar dan
beragam untuk
menunjang strategi
penanggulangan
krisis

Jaringan dengan
VDC dan DDC
Papan peringatan

Akses sistem
peringatan dini
(DIPECHO)
Papan peringatan
Profil bahaya historis Pengetahuan
Studi dasar
kolektif
tabungan

5.2. Ongkos dan risiko


bencana dibagi
melalui kepemilikan
kolektif kelompok/
aset masyarakat

Sumber daya dari


VDC digunakan
untuk proteksi

5.3. Keberadaan
tabungan
masyarakat/
kelompok dan
skema kredit, dan/
atau akses layanan
pembiayaan mikro
5.4. Dana bencana
masyarakat
untuk mengimplementasikan
aktivitas PRB,
respon, dan
pemulihan
6.1. Keamanan hak
kepemilikan/
penyewaan lahan.
Tingkat tunawisma

tabungan

6.2. lokasi yang aman:


anggota masyarakat
dan fasilitas yang

lokasi aman

tabungan/
kredit/sarana
memperoleh
pendapatan

kelompok
menabung
perempuan,
pengguna hasil
hutan

VDC, DDC, dan


kelompok hutan
berkontribusi

Kepemilikan lahan

Kepemilikan lahan
tunawisma

7. Rezim
perencanaan

tidak terpapar bahaya


dalam area berisiko
tinggi dalam lokalitas
dan/ atau direlokasi
dari tempat tidak
aman
6.3. Ada langkah-langkah
mitigasi struktural
untuk melindungi dari
ancaman bahaya
besar, sedapat
mungkin dibangun
menggunakan
tenaga, keterampilan,
material dan
teknologi tepat guna
lokal
6.4. Infrastruktur dan
fasilitas publik
untuk menunjang
kebutuhan
manajemen
kedaruratan
6.5. Infrastruktur dan
koneksi layanan
transportasi yang
tahan bencana
7.1. Pengambilan
keputusan
masyarakat
mengenai
penggunaan dan
manajemen lahan
mempertimbangkan
risiko bahaya serta
kerentanan
7.2. Rencana bencana
lokal (masyarakat)
diteruskan ke
dalam perencanaan
pembangunan dan
penggunaan lahan
pemerintah

Perluasan tangki air


Saluran irigasi

Pengalihan banjir,
penampungan air,
teknologi lokal

Sistem Peringatan
Dini (DIPECHO)

Infrastruktur

Manajemen lahan
publik

Rencana CBDM
Rencana VDC

Perencanaan
dengan VDC dan
CBDM

85

Studi Kasus 3:
Menggunakan Karakteristik untuk menilai kapasitas, keterampilan, dan kesenjangan
Organisasi: Tearfund, dengan mitra lokal di Malawi
Penulis: Oenone Chadburn oenone.chadburn@tearfund.org
Tujuan
Menguji kebergunaan Karakteristik sebagai perangkat untuk menguji kapasitas dan keterampilan
praktisi penanggulangan bencana (PB), serta mengidentifikasi keterampilan tambahan yang
dibutuhkan untuk mencapai tujuan program. Kegiatan dilaksanakan di Zomba, Malawi selatan
dengan 20 staf lapangan dan manajemen dari konsorsium mitra PB lama Tearfund.
Metode
Kegiatan dilaksanakan pada suatu sore (selama empat jam) di sebuah pusat pertemuan.
Dipresentasikan oleh satu orang, menggunakan PowerPoint, flip chart, kartu berwarna, serta
aktivitas dan diskusi interaktif. Tidak mungkin menelaah kapasitas terhadap semua Karakteristik
dalam sebuah sesi tunggal sehingga Area Tematik 4 (Manajemen Risiko dan Reduksi Kerentanan)
dipilih sebagai basis diskusi.
Proses
Presentasi mengenai Karakteristik (maksud dan proses desain. Harus dipandang sebagai:
Visi masyarakat tahan-bencana dalam sebuah dunia yang sempurna, dari mana hasil-hasil
yang diharapkan untuk sebuah masyarakat bisa diidentifikasi.
Sebagai sumber daya, bukan sebuah perangkat: Karakteristik membutuhkan modifikasi dan
adaptasi untuk berbagai budaya, bahaya, dan tahapan siklus proyek.
Sebuah menu rangkaian intervensi PRB, yang bisa digunakan langsung sebagai sumber daya
dalam pekerjaan PRB dan praktisi pembangunan sehari-hari.
Telaah lebih dekat atas Area Tematik 4 untuk memastikan pemahaman mendasar mengenai
konsep Karakteristik. Kelompok juga diperkenalkan dengan Analisis Kebutuhan Pelatihan, serta
sub-pengelompokan digunakan dalam model ini Pengetahuan, Keterampilan, dan Sikap.
Praktisi kemudian diminta untuk mengadakan curah pendapat mengenai pengetahuan,
keterampilan, dan sikap yang mereka butuhkan untuk mendesain dan mengimplementasikan
aktivitas proyek untuk mencapai Karakteristik dalam Area Tematik 4, Komponen 2 (Kesehatan
dan Kesejahteraan). Praktisi disarankan untuk tetap menjaga mandat organisasi mereka.
Sebagai contoh, jika sebuah LSM tidak menyediakan layanan kesehatan, mereka didorong untuk
memikirkan cara agar layanan tersebut dapat diberikan melalui kemitraan atau disertakan dalam
sebuah rencana advokasi.
Setelah dibagi menjadi dua kelompok, satu kelompok kemudian mempelajari Komponen Ketahanan
3, 6, dan 7 (Penghidupan Berkelanjutan, Perlindungan Fisik, dan Rezim Perencanaan), sementara
kelompok lain mempelajari Komponen 1, 4, dan 5 (Manajemen Lingkungan dan Sumber Daya
Alam, Jaminan Sosial, serta Instrumen Finansial). Disediakan tiga paket kartu berwarna berbeda
untuk merepresentasikan Pengetahuan, Keterampilan, dan Sikap. Masing-masing kelompok
kemudian melakukan latihan yang sama dengan latihan untuk Komponen 2 di atas, memastikan
bahwa tiap kartu juga merujuk kepada satu Karakteristik individual Masyarakat Tahan-Bencana.
Setelah beberapa waktu, kedua kelompok berkumpul lagi dan masing-masing sub-kelompok
mempresentasikan temuan serta mengelompokkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang
sama.
Sebuah tali kemudian ditempatkan di lantai dan tiga judul ditambahkan pada bagian atas, tengah,
dan bawah tali, lengkap, Kapasitas Medium, dan Lingkup Terbatas. Kelompok besar kemudian
diminta untuk memutuskan di mana akan meletakkan kartu mereka (lihat foto di bawah ini).
Akhirnya, anggota merefleksikan jenis pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang menurut
kelompok sudah dan belum dimliki, serta cara memperoleh, memperbaiki, dan menularkannya.

Hasil-hasil
Kegiatan tali mendemonstrasikan letak kekuatan dan kelemahan dalam kapasitas untuk mencapai
Karakteristik. Kartu yang telah dikelompokkan sebagian besar ditempatkan antara judul Lengkap
dan Kapasitas Medium dengan hanya sedikit kartu berjajar ke bawah ke arah Lingkup Terbatas.
Ini menunjukkan area-area yang membutuhkan pengembangan kapasitas lebih lanjut, untuk
pertukaran keterampilan antar mitra atau, sebagai alternatif, menyediakan layanan dari organisasi
lain.
Mitra mengetahui kebutuhan dan peluang untuk saling mendukung satu sama lain, dalam hal
pertukaran keterampilan/kapasitas, dan kebutuhan untuk bekerja dalam kemitraan dengan
gubernur dan masyarakat lokal. Mereka tidak, secara sendiri, menguasai semua keterampilan
yang dibutuhkan.
Semua Karakteristik menemukan sejumlah resonansi dengan konteks Malawi. Sebagian lebih
sulit untuk diaplikasikan ketimbang yang lain, tetapi para praktisi mampu melihat kesenjangan
dalam desain atau pendekatan proyek mereka sendiri yang perlu diatasi.
Semua mitra dapat melihat dengan jelas bahwa keahlian teknis mendalam dibutuhkan
dalam mengimplementasikan aktivitas PRB tertentu. Sebagai contoh, sebagian besar telah
mempekerjakan spesialis pertanian namun belum benar-benar memahami nilainya. Demikian
pula, mereka menyadari berapa besar pengetahuan lingkungan dibutuhkan untuk membantu
masyarakat secara efektif.
Para praktisi menikmati perdebatan mengenai kapasitas yang dibutuhkan untuk Karakteristik.
Ini memungkinkan mereka untuk mempertimbangkan tiap karakteristik secara cermat, seringkali
mengidentifikasi perbandingan antara karakteristik PRB dengan penghidupan berkelanjutan,
jaminan sosial, dan praktik pertanian yang baik (antara lain).
Pelajaran yang diperoleh
Konklusi dalam hal kapasitas mitra sangat spesifik-Malawi; akan teridentifikasi hasil berbeda jika
ini dilakukan di negara lain.
Kegiatan jenis ini membutuhkan banyak motivasi dari staf. Dalam hal ini, dengan profesional
pengembangan dan spesialis teknis, pengalaman bisa digunakan untuk merefleksikan secara
mendalam mengenai keberadaan/ketiadaan keterampilan utama.
Pemisahan dalam kartu berwarna berbeda untuk Pengetahuan, Keterampilan, dan Sikap tidak
terlalu dibutuhkan mengingat sifat umum dari kegiatan, namun dapat terbukti bermanfaat jika
dilakukan pendekatan yang lebih fokus.
Kegiatan akan lebih berguna jika dilakukan bersama kelompok lembaga yang sedang berada
pada tahap dini, mempertimbangkan kemitraan, sehingga mereka dapat melihat kebutuhan dan
manfaat kemitraan strategis.
Sejumlah lembaga mungkin tidak ingin secara terbuka mengekspresikan area-area kapasitas
terbatas, meski ada keamanan jumlah untuk kegiatan ini, mengingat bagian akhir dilakukan
sebagai konsorsium kolektif dan tidak ada satu lembaga tertentu yang merasa diekspos.
87

Dibutuhkan waktu sehari penuh untuk kegiatan jika rencana aksi kolektif ingin dikaji dengan baik.
Keterbatasan waktu untuk kelompok berarti bahwa mereka didorong untuk tidak berpikir terlalu
dalam mengenai setiap isu!
Untuk memperoleh efek penuh dan nilai jangka panjang, harus disertakan proses perencanaan
aksi yang kuat dalam prosedur. Sebagai alternatif, mempersempit kegiatan agar fokus kepada
serangkaian Karakteristik yang telah diseleksi sebelumnya akan membantu.
Selama berlangsungnya kegiatan, volume pengetahuan yang dibutuhkan mengenai Lingkungan
Kondusif menjadi sangat jelas (contoh, pengetahuan mengenai hak penerima manfaat, di samping
komitmen ketentuan dan kebijakan pemerintah atau otoritas lokal terhadap masyarakat).

Studi Kasus 4:
Menyesuaikan Karakteristik untuk mengurangi risiko berpusat pada anak
Organisasi: Plan International
Penulis:

Nick Hall nick.hall@plan-international.org


Kelly Hawrylyshyn kelly.hawrylyshyn@plan-international.org

Pengantar
Plan International telah menggunakan Karakteristik untuk merencanakan, memantau, dan menelaah
kegiatan PRB berpusat-anak (Child Centred Disaster Risk Reduction/CC-DRR)- mereka. Plan
memulai prakarsa CC-DRR - dengan tantangan seberapa baik bisa mendesain kegiatan mengingat
yang seringkali terjadi pada sebagian besar lembaga, tidak ada kerangka kerja yang disepakati secara
luas untuk mendefinisikan ketahanan sebagai pedoman. Karenanya, proyek CC-DRR menghadapi
tantangan untuk mengembangkan sebuah paket pendekatan berpusat anak berdasarkan lima
area aksi dalam Hyogo Framework. Plan kemudian bergabung dengan konsorsium LSM yang
memotori penetapan Karakteristik, dan karenanya berkomitmen untuk menguji dan menggunakan
untuk menilai pekerjaan mereka. Studi kasus ini mendeskripsikan bagaimana hal ini mendorong
pengembangan model ketahanan berpusat-anak. Model tersebut menyuguhkan indikator hasil
PRB berpusat-anak yang dapat dimanfaatkan untuk pengembangan, pemantauan dan evaluasi,
serta advokasi program dan proyek.
Tujuan
Maksud dari pelibatan Plan dengan Karakteristik adalah mengembangkan sebuah sumber daya
praktis yang dapat digunakan oleh program negara untuk mendesain, mengimplementasikan, dan
menelaah kemajuan pekerjaan mereka. Dari konsultasi regional dengan staf PRB, menjadi jelas
bahwa sebelum Karakteristik dapat digunakan oleh organisasi, harus terlebih dahulu lebih selaras
dengan pendekatan program pengembangan masyarakat berpusat-anak yang telah ada.
Metodologi
Plan memulai pengujian Karakteristik selama pertemuan yang didesain untuk memperkenalkan
konsep PRB kepada kolega yang bekerja dalam negara-negara yang rentan terhadap dampak
bahaya bencana alam.
Setelah memperkenalkan PRB dan konsep ketahanan masyarakat, peserta memetakan program
Plan yang telah ada dengan kelima Area Tematik dari Karakteristik. Ini dilakukan dengan cara
berikut:
1. Dalam kelompok-kelompok, peserta lokakarya diminta untuk: buat daftar aktivitas-aktivitas yang
tengah diimplementasikan Plan dan menunjang pembangunan ketahanan masyarakat. Tiap
aktivitas ditulis di atas sebuah post-it note.

2. Fasilitator lokakarya kemudian memasang judul kelima Area Tematik (Tata Kelola Pemerintahan,
Pengkajian Risiko, Pengetahuan dan Pendidikan, Manajemen Risiko dan Mengurangi Kerentanan,
Kesiapsiagaan dan Respon Bencana) mengelilingi ruangan, dan anggota kelompok diminta untuk
mendiskusikan serta mengklasifikasikan respon individu mereka terhadap tiap Area Tematik.
Semua kelompok kemudian memasang post-it note mereka.
3. Seorang sukarelawan dari tiap kelompok kemudian ditugaskan untuk membaca respon terpasang
yang telah dikelompokkan berdasarkan tiap Area Tematik, dengan fasilitator memberikan masukan
dan menanyakan kemungkinan dibutuhkan reklasifikasi.
4. Setelah proses ini selesai, fasilitator mengelaah hasil dan menanyakan: (a) Apakah ada Area
Tematik yang kurang diperhatikan oleh Plan (dimana post-it notes paling sedikit)? Mengapa? (b)
intervensi tambahan apa yang dapat dilakukan dalam Area Tematik ini?
5. Tiap kelompok kemudian mempresentasikan hasil kerja kelompok kepada kelompok lebih besar
sehingga respon awal yang diberikan pada awal kegiatan dilengkapi dengan ide-ide baru melalui
kesepakatan konsensus.
Setelah menemukan tempat pekerjaan berpusat-anak Plan dalam kerangka kerja Karakteristik,
staf merasa lebih mudah memahami konsep ketahanan, berdasarkan kesadaran bahwa Plan telah
melakukan banyak pekerjaan yang pada pokoknya membangun ketahanan masyarakat terhadap
bencana.
Informasi yang terhimpun dari kegiatan yang diadakan dalam empat lokakarya regional ini
dikonsolidasikan oleh staf Program PRB Plan UK dengan dukungan dari konsultan eksternal, dan
diringkas dalam tabel berikut:
Area Tematik

Elemen Utama Pendekatan Berpusat-Anak terhadap


PRB
Tata Kelola Pemerintahan
Partisipasi
Pengembangan organisasi
Pengembangan sumber daya
Kemitraan
Advokasi
14
Pengkajian Risiko dan Perencanaan Pengkajian kerentanan dan kapasitas sekolah dan
masyarakat
Kesiapsiagaan dan rencana kontingensi sekolah dan
masyarakat
Pengetahuan dan Pendidikan
Peningkatan kesadaran
Pengembangan kapasitas
Riset dan pembelajaran
Manajemen risiko dan Mengurangi Pencegahan dan Mitigasi Bencana
kerentanan
Kesiapsiagaan dan respon bencana Aktivitas kesiapsiagaan
Respon bencana
PRB dalam pemulihan bencana
Langkah kedua dalam upaya Plan mengadopsi Karakteristik adalah menyelaraskan dengan prinsipprinsip Konvensi PBB mengenai Hak-Hak Anak. Tujuannya adalah memastikan bahwa kerja Plan
untuk hak-hak anak untuk hidup, perlindungan, pengembangan, dan partisipasi akan lebih jelas
tercermin dan selaras dengan kelima Area Tematik.
14

Dalam Karakteristik, perencanaan tercakup dalam Area Tematik 1 (Tata Kelola Pemerintahan). Namun demikian, Plan merasa bahwa, dalam
praktik, perencanaan cenderung diimplementasikan berbarengan dengan pengkajian risiko dan karenanya ditempatkan dalam Area Tematik 2
(Pengkajian Risiko).

89

Hasil yang ingin dicapai program PRB Plan dalam konteks perubahan kehidupan anak-anak dan
masyarakat diidentifikasi untuk masing-masing elemen utama pendekatan PRB berpusat-anak di
atas. Peristilahan Karakteristik kemudian dimodifikasi agar sesuai dengan pendekatan berpusatanak dari Plan.
Sebagai contoh, ketika berbicara mengenai Karakteristik sebuah Lingkungan Kondusif, pekerjaan
bertujuan mencapai hasil sasaran yang berfokus kepada peran pemikul tugas pada tingkat pemerintah
lokal, pemerintah nasional, dan masyarakat sipil, dengan seperangkat pertanyaan untuk mendesak
staf dan mitra untuk menilai kembali peran mereka dalam merealisasikan hasil-hasil sasaran ini dan
memastikan kesetiaan kepada prinsip-prinsip utama hak anak dan pembangunan berkelanjutan
(termasuk sebesar-besarnya kepentingan anak, non-diskriminasi, dampak lingkungan, dan
keberlanjutan).
Tabel di bawah ini mengilustrasikan hasil proses terkait, untuk satu Area Tematik: Pengetahuan dan
Pendidikan (tabel lengkap mencakup semua Area Tematik Karakteristik dan Elemen Utama Plan
sendiri).
Tabel: Hasil-Hasil Pengetahuan dan Pendidikan Berpusat-Anak
Ketahanan-bencana
Hasil pada tingkat pemilik hak
Anak dan masyarakat
Peningkatan kesadaran
1. Anak dan remaja (Children and
young people/CYP), termasuk
anak perempuan dan lakilaki rentan, sadar dan paham
mengenai risiko bencana dan cara
mengelolanya melalui pelatihan
dan pendidikan berbasis sekolah
dan masyarakat.
2. Kampanye peningkatan kesadaran
telah diadakan untuk seluruh
masyarakat dengan partisipasi
CYP menggunakan berbagai
bentuk komunikasi yang sesuai
untuk segala usia, kemampuan
dan gender berbeda, serta layak
secara kultural.
3. Keseluruhan masyarakat sadar
dan paham mengenai risiko
bencana serta cara mengelolanya.
4. Anggota masyarakat
memperlihatkan sikap dan perilaku
positif terhadap pengurangan
risiko dan partisipasi CYP dalam
PRB serta manajemen bencana.
Pengembangan kapasitas
5. CYP dan anggota masyarakat
telah dilatih dan memiliki
keterampilan yang memungkinkan

Lingkungan Kondusif
Hasil pada tingkat pemikul tugas
Pemerintah lokal
Pemerintah Lokal
1. Pemerintah lokal memberikan kesempatan bagi CYP
untuk berpartisipasi dalam aktivitas peningkatankesadaran mengenai PRB.
2. PRB menjadi bagian dari kurikulum sekolah juga
disertakan dalam aktivitas pendidikan nonformal
Pemerintah Nasional
3. Pemerintah nasional memberikan kesempatan bagi
CYP untuk berpartisipasi dalam aktivitas peningkatan
kapasitas mengenai PRB.
4. PRB menjadi bagian dari kurikulum sekolah nasional
Masyarakat sipil
5. Organisasi perantara mendukung aktivitas
peningkatan kesadaran dan pendidikan mengenai
PRB oleh anak-anak dan masyarakat
6. Organisasi media berpartisipasi dalam
mengomunikasikan risiko, langkah-langkah untuk
mengatasi risiko, dan peran CYP dalam PRB.
7. Institusi akademik mendukung riset lokal mengenai
peran CYP dalam PRB dan proses serta praktik PRB
berpusat-anak juga menggunakan temuan untuk
meningkatkan kesadaran dan pengetahuan mengenai
peran CYP dalam PRB pada tingkat nasional maupun
internasional melalui makalah dan presentasi.

mereka mengimplementasikan
aksi-aksi yang telah ditetapkan
dalam rencana PRB.
Riset dan pembelajaran
6. CYP memiliki keterampilan
untuk meriset/meneliti,
mendokumentasikan, dan
mengomunikasikan aktivitas
PRB di mana mereka terlibat dan
menggunakan pelajaran yang
diperoleh untuk memodifikasi
praktik ke depan
Peran Plan: sejauh mana kontribusi Plan terhadap perubahan ini?
Keberpusatan Anak: Sejauh mana perubahan terkait memengaruhi anak (positif atau negatif)?
Sebesar-besarnya kepentingan anak: apakah ada dampak negatif kepada anak?
Non-diskriminasi dan inklusi: Siapa yang memperoleh keuntungan dari perubahan? Siapa yang
tidak? Kenapa? (dengan penekanan khusus pada gender, usia, keragaman budaya, dan kerentanan).
Dampak lingkungan: apakah perubahan berdampak positif atau negatif terhadap lingkungan?
Keberlanjutan: sejauh mana perubahan dapat dipertahankan, seberapa tahan perubahan?
Hasil-Hasil
Karakteristik berpusat-anak kini digunakan oleh staf Plan dan organisasi mitra untuk mendesain
program PRB berpusat-anak yang baru, untuk advokasi serta pemantauan dan evaluasi, juga untuk
mengembangkan proposal yang diajukan kepada donor untuk pendanaan.
Di Bangladesh, Karakteristik digunakan untuk mendesain studi awal untuk proyek yang didanai
DIPECHO Uni Eropa. Mereka membentuk struktur untuk diskusi kelompok terarah bersama anakanak dan anggota masyarakat. Pada akhir proyek, tabel hasil juga digunakan sebagai kerangka
serangkaian studi kasus mengenai pelajaran, tantangan, dan peluang dari proyek.
Di El Salvador, Plan memanfaatkan Karakteristik berpusat-anak untuk menjalankan studi diagnostik
ketahanan dalam lima komunitas (empat di antaranya telah berpartisipasi dalam aktivitas proyek
PRB berpusat-anak mereka dan satu komunitas eksternal berperan sebagai kelompok kontrol).
Hasil-hasilnya digunakan untuk merencanakan strategi program guna memperkuat kapasitas komisi
manajemen bencana pemerintah lokal pada empat kota. Karakteristik membantu mengidentifikasi
prioritas dan memberikan kerangka bagi rencana aksi, memperjelas peran dan tanggung jawab
berbagai aktor. Indikator M&E untuk menilai pekerjaan ini diambil secara langsung dari Karakteristik
berpusat-anak.
Hasil-Hasil
Karakteristik memberikan fondasi dan sumber daya untuk mengembangkan kerangka kerja
konseptual bagi PRB berpusat-anak. Plan mampu menggunakan ini dengan sejumlah cara untuk
mendukung:
Riset primer, dengan membuat pertanyaan-pertanyaan berdasarkan Karakteristik untuk diskusi
kelompok terarah yang diadakan sebagai bagian dari dasar proyek di Bangladesh, Kamboja, dan
Ekuador.
Perencanaan melalui pengembangan sumber daya untuk membantu staf mengidentifikasi potensi
area intervensi.
91

Analisa program dengan menyediakan kerangka kerja bagi analisa situasional (diagnosa) untuk
pekerjaan manajemen bencana tingkat kota di El Salvador.
Advokasi global dengan membuat pertanyaan-pertanyaan untuk survey yang diadakan di 13
negara dengan lebih dari 800 anak. Hasil survey menjadi bukti dan data untuk laporan suplemen
berpusat-anak bagi Views from the frontline survey yang diadakan oleh Global Network of Civil
Society Organizations for Disaster Reduction dan dipresentasikan pada UN ISDRs 2009 Global
Platform. (Childrens Views from the Frontline Survey dapat diperoleh di http://www.plan-uk.org/
pdfs/Children_on_the_Frontline_GP_report.pdf)
Pelajaran yang diperoleh
Karakteristik adalah sebuah sumber daya yang sangat komprehensif, mencakup semua aspek
manajemen risiko bencana yang menjelaskan ketahanan masyarakat. Namun demikian, dengan
keluasan dan kedalaman pendekatan holistik ini terhadap manajemen risiko bencana, penting untuk
memilih Karakteristik yang paling relevan untuk intervensi tertentu, serta untuk menjelaskan ini
dalam bahasa sederhana ramah-pengguna dan non-teknis. Agar benar-benar berguna pada tingkat
lokal, Karakteristik harus mudah dipahami, terutama oleh masyarakat dan anak-anak rentan.
Dalam memperkenalkan Karakteristik, Plan menemukan bahwa yang terbaik adalah terlebih dahulu
memberikan kesempatan kepada orang untuk mengeksplorasi pemahaman mereka mengenai
ketahanan dengan memfasilitasi diskusi terbuka mengenai pekerjaan berkelanjutan yang dapat
meningkatkan ketahanan lokal terhadap bencana. Langkah pertama ini sangat penting. Karena
dibangun dari pengetahuan yang telah ada, maka lebih mudah untuk menghadapi resistensi
terhadap ide bahwa Karakteristik sekedar sebuah perangkat baru.
Di samping itu, ditemukan bahwa saling-keterkaitan antar Karakteristik mengakibatkan tingkat
kompleksitas yang lebih tinggi. Sebagai contoh, elemen Area Tematik Tata Kelola Pemerintahan
serta Pengetahuan dan Pendidikan dapat dipandang bersifat lintas sektoral pada keseluruhan Area
Tematik. Untuk menjawab tantangan ini, Plan mengelompokan Karakteristik menurut jenis aktivitas
proyek seperti peningkatan kesadaran, pengembangan kapasitas, riset dan pembelajaran. Ini
membantu staf Plan untuk mengidentifikasi tautan antara pekerjaan yang termasuk di antara, di
samping dalam, Area Tematik, sehingga menyederhanakan proses perencanaan.
Plan memotori dukungan ahli teknis dalam hal hak anak untuk membantu dalam adaptasi Karakteristik
agar sesuai dengan kerangka kerja hak anak. Keahlian ini memastikan bahwa Karakteristik individual
lebih jelas bertaut dengan kebutuhan, kapasitas, dan hak anak.
Selama masa validasi, Plan menyimpulkan bahwa Karakteristik harus selalu diadaptasi dan
disederhanakan agar sesuai dengan konteks dan kapasitas lokal.

Studi Kasus 5:
Perencanaan strategis menggunakan Karakteristik
Organisasi: Christian Aid
Penulis: Jose Luis Penya jlpenya@christian-aid.org
Tujuan
Studi kasus ini menunjukkan cara menggunakan Karakteristik untuk memandu pengembangan
strategi regional yang mencakup PRB dan API di Amerika Tengah.
Tahun 2008, sepuluh tahun setelah Hurricane Mitch, Christian Aid dan mitra mereka melakukan
pemutakhiran pendekatan PRB regional, berdasarkan pelajaran dari strategi sebelumnya (20032008) dan dengan mempertimbangkan implikasi perubahan iklim terhadap kehidupan serta
penghidupan kelompok miskin dan marginal di Amerika Tengah.
Metodologi dan tantangan
Christian Aid adalah sebuah organisasi berbasis kemitraan dan, karena alasan ini, perencanaan
strategis didekati melalui proses bersama dengan para mitra mereka di El Salvador, Guatemala,
Honduras, dan Nikaragua, empat negara yang sementara menjadi bagian dari program Amerika
Tengah.
Bulan Agustus tahun 2008, staf Christian Aid menyusun tujuan strategis dalam pertemuan staf regional
yang diadakan di Tegucigalpa. Setelah itu, Christian Aid menyelenggarakan sebuah lokakarya
untuk mendiskusikannya dengan organisasi mitra serta untuk bersama-sama mengembangkan lini
strategis aksi atau, dengan kata lain, area program. Lokakarya diadakan di Copan (Honduras), 2426 September 2008, dengan perwakilan dari sekitar 20 organisasi.
Selama paruh pertama lokakarya, peserta menelaah hasil-hasil dari strategi sebelumnya dan
mempertimbangkan opsi lain untuk memutakhirkannya, termasuk riset-aksi, pendekatan berbasishak terhadap PRB, dan pemanfaatan Karakteristik untuk desain proyek. Pada paruh kedua mereka
bertemu dalam kelompok berbasis-negara, dengan petugas program nasional Christian Aid bertindak
sebagai fasilitator. Kelompok homogen lebih dipilih ketimbang kombinasi acak peserta karena:
1. Organisasi-organisasi dari negara yang sama memiliki riwayat kerjasama yang panjang dan telah
mengembangkan dinamika kelompok internal. Fasilitasi oleh petugas nasional bertujuan untuk
menggandakan efek ini.
2. Bahaya dan kerentanan satu negara tunggal lebih mudah dipahami dan dibahas ketimbang yang
berasal dari kelompok negara-campuran.
Kelompok diminta untuk memilih tiga Komponen Ketahanan sebagai prioritas lini aksi. Mereka
bekerja dalam dua sesi 90 menit terpisah, sesi pertama untuk advokasi dan sesi kedua untuk
pekerjaan masyarakat, menggunakan tabel untuk Area Tematik 1 (Tata Kelola Pemerintahan) dan
4 (Manajemen Risiko dan Reduksi Kerentanan), masing-masing, sebgai titik mula untuk diskusi
kelompok. Setelah satu jam, kelompok melaporkan Komponen yang dipilih dan alasan terkait.
Komponen yang dipilih tiap kelompok-negara kemudian dibandingkan dalam sebuah sesi terbuka
dan prioritas regional dipilih dengan aturan konsensus sederhana:
1. Komponen yang dipilih oleh lebih dari setengah jumlah kelompok (tiga kelompok) diambil sebagai
prioritas utama.
2. Komponen yang dipilih oleh dua kelompok disertakan sebagai prioritas kedua.
3. Komponen yang dipilih oleh hanya satu kelompok ditolak sebagai prioritas regional, meskipun
peserta bisa menyimpan hasil ini untuk digunakan lebih lanjut pada tingkat negara.

93

Hasil-Hasil
Hasil-hasil dari lokakarya disimpan oleh Christian Aid dan diteruskan kepada staf untuk digunakan
dalam menulis konsep strategi. Bulan November 2008, dokumen akhir disampaikan kepada staf
regional untuk disetujui dan disebarluaskan kepada para mitra. Keseluruhan proses berlangsung
selama empat bulan, waktu yang wajar untuk sebuah strategi lima tahun.
Metodologi menghasilkan konsensus cepat dan kuat mengenai prioritas pada tingkat regional
(prioritas sebagaimana dalam kotak di bawah ini). Herannya ternyata hasil tidak mengundang
kontroversi, mengingat kompleksitas yang ada, dan dianggap sangat selaras dengan tren jangka
panjang oleh staf Christian Aid dan organisasi mitra.
Penggunaan Karakteristik sebagai pedoman diskusi kelompok terarah memiliki dua konsekuensi
tambahan:
1. Karakteristik menjadi kerangka kerja yang diterima untuk pengembangan area program lebih
lanjut (misalnya pada tingkat program).
2. Karakteristik tertransformasikan menjadi sejenis dokumen rujukan untuk resolusi konflik, diskusi
rinci, dan klarifikasi bagi organisasi yang menangani PRB dan API.
Lini Utama strategi Amerika Tengah mitra Christian Aid untuk mengurangi risiko bencana dan
adaptasi perubahan iklim
LINI AKSI 1: ADVOKASI
Prioritas utama: Kebijakan, perencanaan, prioritas, dan komitmen politik terhadap PRB dan API.
Prioritas kedua:
Sistem hukum dan regulasi
Kemitraan
Akuntabilitas dan partisipasi masyarakat
LINI AKSI 2: PEKERJAAN MASYARAKAT
Prioritas utama:
Modal alamiah: manajemen lingkungan dan sumber daya alam, termasuk adaptasi perubahan
iklim.
Penghidupan berkelanjutan
Prioritas kedua:
Kesehatan dan kesejahteraan
Perlindungan fisik, langkah-langkah teknis dan struktural
Sistem perencanaan
Rekomendasi
1. Integrasi antar berbagai komunitas praktis: penggunaan Karakteristik dapat membantu menavigasi
kompleksitas kerjasama dengan kelompok organisasi mitra dalam area pengurangan risiko dan
adaptasi, sebuah area abu-abu di mana berbagai komunitas praktis bersinggungan, masingmasing membawa muatan konseptual sendiri.

Pengembangan lini strategi untuk PRB dan API melibatkan sumber kompleksitas yang diatasi
dengan menggunakan Karakteristik. Yang pertama biasanya titik kontroversial mengenai apakah

pekerjaan pekerjaan perubahan iklim harus diintegrasikan dengan area manajemen risiko lain
atau diperlakukan sebagai sebuah tema yang berbeda. Di samping itu, peserta harus menavigasi
melalui area perdebatan lain seperti integrasi advokasi dan penyediaan layanan serta tautan
antara pemulihan dan pembangunan. Akhirnya, hasil harus memperhatikan komitmen jangkapanjang organisasi individual pada sektor-sektor khusus seperti air, sumber daya alam, gender,
atau agrikultur.

Penggunaan Karakteristik sangat penting untuk menavigasi kendala-kendala ini, memberikan


kerangka yang kuat namun fleksibel untuk menjembatani kesenjangan dan membangun
pemahaman bersama antara beragam komunitas praktis, , sebagai contoh, organisasi berbasiskebutuhan dengan kelompok berbasis-hak, spesialis dalam pemulihan dan pembangunan atau
gender dan aktivis lingkungan.

Di antara ciri dokumen yang sangat berguna untuk tugas ini adalah:
Tingginya jumlah elemen individual yang tersedia, membuat berbagai komunitas praktis
merasa bahwa kepentingan khusus mereka terwakili dengan baik dan dipertimbangkan.
Artikulasi antara Area Tematik umum dan Komponen Ketahanan mengerucutkan paket indikator
yang lebih spesifik sehingga peserta dapat mencari area yang relevan dan menggabungkan
secara cepat dengan sektor-sektor dan aktivitas-aktivitas pekerjaan yang familiar bagi mereka.
Presentasi indikator masyarakat dan lingkungan kondusif secara paralel memungkinkan
diskusi bersama mengenai advokasi lokal dan komponen penyediaan layanan.

2. Keragaman dan keahlian tim: efek utama dari dokumen adalah kapasitasnya untuk mengarahkan
diskusi dan mempercepat konsensus. Agar efek ini maksimal, peserta harus familiar dengan
dokumen sebelum lokakarya. Penerapan kelompok diskusi homogen satu negara juga dapat
memfasilitasi efek tersebut.

Dua ciri lain yang berkontribusi untuk keberhasilan:


Semua peserta berasal dari mitra berkomitmen, dengan pengalaman dalam PRB, penghidupan,
serta area terkait dan dengan minat eksplisit untuk mengeksplorasi area baru pekerjaan
perubahan iklim.
Sebagian besar peserta telah mengenal dokumen sebelumnya dan, dalam beberapa kasus,
telah menggunakannya untuk memantau tujuan desain proyek.

95

Studi Kasus 6:
Menggunakan Karakteristik untuk telaah dan evaluasi
Organisasi: Christian Aid
Penulis: Cristina Ruiz cruiz@christian-aid.org
Maksud
Sebagai bagian dari telaah jangka-menengah program PRB global utama yang didanai DFID,
Christian Aid menggunakan Karakteristik untuk mengembangkan lebih lanjut indikator-indikator
keluaran dalam kerangka kerja logis program. Indikator-indikator digunakan untuk menyusun
kerangka acuan kerja (terms of reference) dalam telaah jangka-menengah di Honduras, Malawi,
dan Bangladesh.
Metodologi dan Tantangan
Sebuah tim proyek internasional (sembilan orang) mengkaji cara untuk mengurangi jumlah indikator
dari kerangka kerja logis asli dan membuatnya lebih terukur, dengan perimbangan indikator kualitatif
dan kuantitatif yang baik.
Untuk membangun proses ini, tim merujuk bagian-bagian dari dokumen Karakteristik yang relevan
dan dapat membantu pengembangan indikator. Karenanya, indikator keluaran individual ditautkan
dengan Area Tematik spesifik dan Komponen Ketahanan yang dapat membantu dalam menilai
tingkat pencapaian indikator spesifik terkait. Dalam sejumlah kasus peristilahan indikator direvisi
menggunakan Karakteristik sebagai panduan.
Penting untuk digarisbawahi bahwa setengah dari pekerjaan ini telah selesai dalam implementasi
program; karenanya tidak mungkin menggantikan indikator atau menambah indikator baru dalam
kerangka kerja logis (yang telah disepakati donor). Namun, indikator dapat dimodifikasi dengan
memecah, menamai ulang, atau mengklarifikasi. Ini menjadi tantangan bagi tim sekaligus juga
kesempatan untuk menambah keakuratan indikator lama untuk benar-benar mengukur ketahanan.
Sebagai contoh, dalam kasus indikator strategi bermanfaat/ positif yang ada dan mampu mengurangi
kerentanan risiko masyarakat, tim memutuskan untuk merujuk tujuh Komponen Ketahanan dalam
Area Tematik 4 (Manajemen Risiko dan Pengurangan Kerentanan) berikut Karakteristik individual
terkait, untuk melihat cara memutuskan apakah sebuah strategi spesifik benar-benar bermanfaat
atau positif.
Hasil-Hasil
Tabel di bawah ini menunjukkan bagaimana sejumlah indikator asli dinamai-ulang dalam kerangka
kerja logis. Teks bergaris-miring mengacu ke bagian-bagian dari tabel Karakteristik yang akan
membantu Christian Aid dan mitranya dalam mengukur indikator-indikator baru.
Indikator-indikator keluaran dalam kerangka Indikator keluaran revisi, menggunakan
kerja logis asli (Januari 2006)
Karakteristik (Juni 2008)
Inkorporasi pendekatan dan indikator PRB 1.
dalam strategi pendukung tematik lembaga
Christian Aid (CA) serta strategi regional
Afrika, Amerika Latin/ Karibia, dan Asia/
Timur Tengah yang menyangga kerangka
kerja lembaga tahun 2005 2010

Inkorporasi pendekatan dan indikator


PRB serta akomodasinya dalam strategi
pendukung CA yang menyangga kerangka
kerja lembaga CA 2005 2010; pada tingkat
lembaga dan dalam strategi regional di
Afrika, LAC, dan Asia/ Timur Tengah.

Kinerja positif menurut indikator-indikator


yang ditetapkan dalam strategi lembaga
CA tujuan 1: penghidupan aman dan
tujuan 3 tata kelola pemerintahan
Pelajaran penting direplikasi
Peningkatan akomodasi dan kesadaran
PRB serta pendekatan SLA dalam
pembangunan dan program kedaruratan
dalam CA dan mitra-mitranya.
Materi pembelajaran mengenai PRB
diproduksi oleh CA/sumber-sumber lain.
Komisi/ relawan/penyuluh pemerintah
mereplikasi pengetahuan melalui aksi
praktis
Pembelajaran PRB tercermin dalam
proposal yang diterima
Paling sedikit dibuat lima tautan dengan
lembaga akademik/institusi lain untuk
memproduksi dan menyebarluaskan
dokumen pembelajaran, publikasi yang
ditelaah sejawat, dan presentasi pada
seminar nasional atau internasional yang
relevan
Publikasi laporan pembelajaran akhir
Jumlah pengkajian risiko yang dijalankan
Jumlah strategi penghidupan
berkelanjutan yang ada
Perubahan tingkat kebijakan
Jumlah dan regularitas forum meja bundar
/pertemuan
Skala dan lingkup keanggotaan aktif mitra
dalam jaringan advokasi
Jumlah aktivitas bersama antar mitra
Media yang digunakan untuk
menyebarluaskan informasi (program
radio, seminar)
Paling sedikit satu prakarsa bersama
dengan lembaga UK lain dan/atau jaringan
ekumenikal diinisiasikan
Umpan balik positif dari masyarakat
mengenai prakarsa pengurangan risiko

2.

Materi pembelajaran yang layak (informasi,


komunikasi, dan edukasi) mengenai PRB
diproduksi oleh CA/sumber-sumber lain
disebarluaskan (menggunakan berbagai
bentuk media) dan digunakan. Akan dipandu
oleh Area Tematik 3, Komponen 1 sampai 5.
3. Pelajaran positif direplikasi pada tingkat
masyarakat (komisi, relawan, penyuluh
pemerintah)
4. Pembelajaran PRB tercermin dalam
proposal yang diterima dari mitra dan
melalui aksi praktis dalam proyek yang
diimplementasikan
5. Skala dan lingkup CA serta keanggotaan aktif
mitra dalam jaringan advokasi menghasilkan
perubahan tingkat kebijakan
6. Jumlah aktivitas bersama antar mitra
mendorong pembelajaran dan inovasi dalam
organisasi
7. Dibuat tautan produktif antara institusi
akademik, ilmiah, dan institusi lain guna
memproduksi dan menyebarluaskan
dokumen pembelajaran, publikasi yang
ditelaah sejawat, dan presentasi pada
seminar nasional atau internasional yang
relevan.
8. Jumlah dan kualitas pengkajian masyarakat
efisien, efektif, dan tepat waktu yang
diadakan. Akan dipandu dengan Area
Tematik 2, komponen 1 hingga 3.
9. Jumlah strategi bermanfaat/positif yang
ada dan dapat mereduksi kerentanan
risiko masyarakat, dalam hal perubahan
manajemen sumber daya alam;
penghidupan; perlindungan fisik dan sosial;
atau yang lain. Akan dipandu oleh Area
Tematik 4, Komponen 1 hingga 7.
10. Jumlah aksi yang memperbaiki organisasi
masyarakat untuk kesiapsiagaan bencana.
Akan dipandu oleh Area Tematik 5,
Komponen 1 hingga 6.
11. Komunitas dan mitra memahami rincian
legislasi dan rencana operasional relevan
mengenai PRB. Akan dipandu oleh Area
Tematik 1, Komponen 1 dan 2.
12. Aksi advokasi efektif yang diinisiasi oleh
masyarakat menghasilkan peningkatan
akses terhadap sumber daya publik dan/
atau pengaruh positif terhadap kebijakan.
Akan dipandu oleh Karakteristik Lingkungan
Kondusif semua Area Tematik.
97

Versi baru dari indikator telah disetujui oleh donor dan digunakan untuk membantu telaah jangkamenengah. Jenis logframe dokumen proyek tidak dapat memuat jumlah dan tingkat rincian dalam
Karakteristik: karenanya, logframe yang diajukan kepada donor tidak memuat rujukan kepada
Karakteristik untuk tiap indikator tetapi hanya rujukan umum mengenai bagaimana dokumen akan
memandu indikator.
Rekomendasi
Semua peserta sepakat bahwa Karakteristik telah terklarifikasi dan membantu dalam menetapkan
indikator. Tim dibentuk oleh praktisi PRB berpengalaman dari Filipina, Bangladesh, Honduras,
El Salvador, Malawi, dan Inggris. Terbangun sebuah konsensus mengenai manfaat Karakteristik
terlepas dari perbedaan konteks dan risiko yang dihadapi anggota tim, namun untuk mencapai
tingkat diskusi seperti ini dibutuhkan keahlian dan pengetahuan praktis pekerjaan PRB.
Idealnya, penetapan indikator harus diselesaikan sejak awal proyek, menggunakan Karakteristik
untuk menetapkan dan membentuk proyek sejak mula. Kemudian telaah dan evaluasi akan diadakan
menurut indikator-indikator yang disepakati dengan donor.

Studi Kasus 7:
Menggunakan Karakteristik untuk pengumpulan data dan riset
Organisasi: Christian Aid
Penulis: Cristina Ruiz cruiz@christian-aid.org
Maksud
Sebagai bagian dari telaah jangka-menengah atas proyek PRB yang didanai DFID global, Christian
Aid menggunakan Karakteristik untuk mengembangkan studi kasus mengenai pengalaman
masyarakat dan mitra yang akan digunakan dalam telaah sebagai basis untuk diskusi dan analisa
mendalam. Serangkaian studi kasus dikembangkan dalam tiga negara proyek, masing-masing
memilih fokus analitis berbeda dan mengombinasikan komponen dokumen Karakteristik tertentu:
Maksud dari studi kasus ada tiga:
1. Memberikan pelajaran awal dan mengidentifikasi tantangan utama area fokus spesifik untuk
memandu diskusi tim dalam sebuah lokakarya penelaahan partisipatif.
2. Uji-lapangan Karakteristik sebagai kerangka kerja konseptual untuk analisa mendalam dan
studi kasus (menggunakan Karakteristik pilihan tertentu yang relevan dengan pengembangan
masyarakat tahan-bencana).
3. Menghasilkan ide dasar dan awal untuk evaluasi spesifik-negara.
Metodologi dan tantangan
Studi kasus bertujuan untuk merefleksikan area fokus proyek dan komponen ketahanan tertentu,
berdasarkan logframe proyek asli serta dokumen Karakteristik.
Tim proyek memilih sejumlah Area Tematik utama, Komponen Ketahanan, serta Karakteristik
Masyarakat Tahan Bencana yang sangat relevan dengan tujuan proyek dan diharapkan menghasilkan
temuan berguna dalam persiapan evaluasi tingkat negara. Untuk itu, kriteria pemilihan komponen
ketahanan dan karakteristik untuk studi kasus adalah:
tujuan proyek (sebagaimana ditetapkan dalam logframe);
daftar komponen untuk uji-lapangan; dan
kompetensi mitra dan Christian Aid dalam negara-negara tertentu.

Sebagai contoh, di Bangladesh, studi kasus difokuskan pada tingkat masyarakat dan menganalisis
tautan antara tingkat pengetahuan risiko lokal dengan praktik lingkungan. Dua Area Tematik dengan
komponen relevan dan Karakteristik dipilih dan dikombinasikan dengan cara berikut:
Area Tematik & Komponen
Ketahanan

Karakteristik Masyarakat Tahan


Bencana

Area Tematik 2: Pengkajian


Risiko

1.2. Pengkajian bahaya/risiko


merupakan proses partisipatif
yang melibatkan perwakilan
semua bagian masyarakat serta
sumber keahlian.

Komponen 1. Data dan


pengkajian bahaya/risiko

Karakteristik Lingkungan
Kondusif

1.3. Temuan pengkajian dibagikan,


didiskusikan, dipahami dan
disepakati oleh semua pemangku
kepentingan serta diteruskan ke
dalam perencanaan bencana
masyarakat.
1.4. Temuan dibuka untuk semua
pihak berkepentingan dan
diteruskan ke dalam perencanaan
bencana mereka.

Area Tematik 4: Manajemen


Risiko dan Pengurangan
kerentanan

1.5. Pemantauan berkelanjutan


atas bahaya dan risiko serta
pemutakhiran pengkajian.
1.1. Pemahaman masyarakat
mengenai karakteristik dan fungsi
lingkungan alam lokal serta risiko
potensial.

Komponen 1. Manajemen
lingkungan dan sumber daya 1.4. Pelestarian dan penerapan
alam
pengetahuan tradisional serta
teknologi tepat guna yang relevan
dengan manajemen lingkungan.
Karakteristik terpilih kemudian didiskusikan dan ditelaah bersama staf mitra Christian Aid lokal
sebelum mengunjungi masyarakat; dan tema serta pertanyaan penting untuk wawancara, kelompok
terarah, dan peserta wawancara individual disepakati. Keseluruhan pertanyaan berikut menjadi
memandu berjalannya proses:
1. Sudahkan pengkajian bahaya dan risiko, termasuk pengkajian risiko perubahan iklim, diadakan
dalam proyek yang dikontribusi masyarakat dan mengubah persepsi orang terhadap risiko serta
kesiapsiagaan?
2. Sudahkan proses pengkajian partisipatif meningkatkan pengetahuan orang mengenai peran
serta tanggung jawab selama respon dan mampukah mereka mengantisipasi faktor-faktor risiko
yang penting?
3. Sudahkah pelibatan berbagai aktor lokal, termasuk pemerintah, mempengaruhi proses pemetaan
bahaya dan risiko, serta sudahkah proses berdampak terhadap hubungan antara masyarakat
dan perwakilan masyarakat, juga akses kepada layanan publik?
99

Dalam masyarakat, diadakan wawancara dengan anggota Komisi Manajemen Bencana Desa
(wawancara terpisah dan bersama dengan anggota komisi perempuan dan laki-laki), dengan
anggota Komisi Relawan, etnis minoritas, perwakilan Ward, dan anggota Union Parishad di desa
terkait, juga staf pemerintah lokal (insinyur, staf kedokteran hewan, kepada Upazilla). Di samping
itu, diadakan wawancara individual jika perlu dengan para dokter, guru, serta wirausahawan di
dalam maupun luar masyarakat.
Di Honduras, studi kasus yang dikembangkan mengkombinasikan kesadaran risiko dengan
kapasitas advokasi. Studi kasus berfokus pada tingkat masyarakat dan menganalisis pertanyaanpertanyaan utama berikut ini:
Apakah masyarakat yang memiliki visi bersama mengenai masyarakat siaga dan tahan
bencana, terlatih dengan baik, dan sadar risiko bencana dalam posisi lebih baik untuk
meningkatkan pengaruh mereka terhadap pemerintah pada tingkat lokal?
Faktor dan aspek lain apa dari Lingkungan Kondusif yang dibutuhkan masyarakat agar
mampu bekerja secara efektif dengan pemerintah dan pemangku kepentingan lain?
Karakteristik yang dipilih adalah:
Area Tematik & Komponen
Karakteristik Masyarakat Tahan
Ketahanan
Bencana
Area Tematik 3:
Pengetahuan dan
Pendidikan
Komponen 1. Kesadaran
publik, pengetahuan dan
keterampilan

Area Tematik 3:
Pengetahuan dan
Pendidikan
Komponen 3. Pendidikan
dan Pelatihan

1.2. Seluruh masyarakat telah


terjangkau/ambil bagian
dalam kampanye kesadaran
berkelanjutan, sesuai kebutuhan
dan kapasitas masyarakat
(misalnya tingkat literasi)
1.3. Pengetahuan publik mengenai
bahaya, kerentanan, risiko dan
aksi pengurangan risiko memadai
untuk aksi efektif oleh masyarakat
(sendiri dan dengan kolaborasi
bersama pemangku kepentingan
lain).
1.4. Penguasaan (oleh individu dan
dalam masyarakat) pengetahuan
dan keterampilan teknis dan
organisasional untuk aksi
PRB dan respon pada tingkat
lokal (termasuk pengetahuan
teknis tradisional, strategi
penanggulangan, strategi
penghidupan).
3.1. Sekolah-sekolah lokal
memberikan pendidikan PRB
untuk anak-anak melalui
kurikulum dan jika perlu aktivitas
ekstrakurikuler.
3.2. Pelatihan PRB/DRM dan pelatihan
lain membahas prioritas yang
diidentifikasi oleh masyarakat

Karakteristik Lingkungan
Kondusif

Area Tematik 1: Tata Kelola


Pemerintahan
Komponen 1. Kebijakan,
perencanaan, prioritas, dan
komitmen politik PRB

dan berdasarkan asesmen risiko,


kerentanan, serta problem terkait
oleh masyarakat.

3.3. Anggota masyarakat dan


organisasi dilatih dengan
keterampilan PRB dan DP yang
relevan.
1.2. Konsensus mengenai risiko yang Konsensus politik
dihadapi, pendekatan manajemen mengenai pentingnya
risiko, aksi spesifik yang harus
PRB
dijalankan, dan target yang harus PRB menjadi prioritas
dipenuhi.
kebijakan pada semua
tingkatan pemerintahan
1.5. Kepemimpinan masyarakat
Kebijakan, strategi, dan
yang berkomitmen, efektif, dan
rencana implementasi
akuntabel untuk perencanaan
PRB nasional dengan
dan implementasi PRB
visi, prioritas, target,
dan tolok ukur yang
1.6. Rencana PRB (dan Disaster Plan/ jelas.
DP) masyarakat dikembangkan
Pemahaman resmi
melalui proses partisipatif,
tingkat lokal mengenai,
diterapkan dalam operasi, dan
dan dukungan bagi, visi
dimutakhirkan secara periodik.
masyarakat.

Di Malawi, studi kasus mengkaji produksi pengetahuan dan jalur komunikasi pada tingkat
masyarakat dengan membahas pertanyaan-pertanyaan utama berikut:
Apakah dengan jalur informasi sosial dan komunikasi yang berjalan masih ada kelompok rentan
terisolasi? Apakah analisis kerentanan dan kapasitas (VCA) membantu mengatasi isolasi ini?
Apakah VCA bisa menangkap pengetahuan dan pengalaman kolektif pengelolaan krisis
sebelumnya? Sejauh mana? Aktivitas, faktor, aksi, dan hal lain apa yang mendorong atau
menghambat?
Untuk ini telah dipilih dan dikombinasikan Karakteristik berikut ini:
Area Tematik dan
Karakteristik Masyarakat Tahan
Komponen Ketahanan
Bencana
Area Tematik 2: Pengkajian 2.2. VCA merupakan sebuah
Risiko
proses partisipatif yang
melibatkan perwakilan dari
Komponen 2. Kerentanan/
semua kelompok rentan
kapasitas serta data dan
asesmen dampak

Karakteristik Lingkungan
Kondusif
VCA dimandatkan dalam
kebijakan, legislasi dan
aturan publik lain dengan
standar penyusunan,
publikasi, revisi.
Data dampak bencana
dan informasi statistik
kehilangan tersedia dan
digunakan dalam VCA.
Pengetahuan yang ada
dihimpun, disintesiskan,
dan dibagi secara
sistematis (melalui sistem
informasi manajemen
bencana)
101

Partisipasi semua lembaga/


pemangku kepentingan
terkait dalam asesmen
Area Tematik 4: Manajemen 4.4. Jalur informasi sosial dan
Skema jaminan sosial
Risiko dan Pengurangan
komunikasi yang mapan;
formal dan jaring pengaman
Kerentanan
kelompok rentan tidak
sosial yang dapat diakses
terisolasi.
kelompok rentan pada
4.5. Pengetahuan dan pengalaman
masa normal dan dalam
kolektif mengenai
respon terhadap krisis.
penangangan peristiwa
Lembaga eksternal siap
sebelumnya (bahaya, krisis).
untuk menginvestasikan
waktu dan sumber daya
dalam membangun
kemitraan komprehensif
dengan kelompok dan
organisasi lokal untk
jaminan/perlindungan sosial
dan PRB.
Panduan wawancara untuk tiap studi kasus dikembangkan dalam dialog dengan staf dan mitra
Christian Aid, dengan merujuk kepada karakteristik spesifik yang dipilih untuk tiap kasus. Diadakan
wawancara terbuka semi-terstruktur dan diskusi kelompok dengan anggota masyarakat, staf mitra
proyek, perwakilan pemerintah lokal, dan pemangku kepentingan lokal terkait.
Hasil dan rekomendasi
Selama berlangsungnya riset, fokus pertanyaan riset yang jelas berdasarkan Karakteristik
memperlihatkan bahwa asumsi-asumsi yang menjadi dasar sejumlah hipotesis terbukti tidak kuat.
Sebagai contoh, di Bangladesh, studi menemukan bahwa proses asesmen tidak sepenuhnya
partisipatif dan temuan terkait tidak dibagi secara luas baik di dalam masyarakat maupun keluar.
Lebih jauh, pemerintah lokal, meski memahami mengenai VCA partisipatif, tidak berpartisipasi
dalam kegiatan, jauh dari salah satu anggota masyarakat yang menjadi perwakilan Ward dalam
Union Parishad.
Studi kemudian berupaya untuk memahami sebab yang menghambat kedua komunitas untuk
memperoleh manfaat lebih banyak dari proses asesmen risiko dan lebih luas dari aktivitas proyek.
Untuk itu, riset tidak hanya menyoroti tiga faktor utama keberhasilan intervensi PRB yang diterima
begitu saja oleh para mitra tanpa terefleksikan (partisipasi, pemberdayaan, dan keberlanjutan),
namun juga membolehkan pertanyaan riset baru untuk diskusi dan analisa lebih lanjut.
Karakteristik terbukti sebagai perangkat sangat berguna dalam memberikan kerangka pertanyaan
studi spesifik untuk riset lapangan. Karakteristik bermanfaat dalam mengerucutkan kepentingan riset
yang luas menjadi pertanyaan-pertanyaan spesifik serta untuk memandu pertanyaan wawancara.
Dengan penggunaan Karakteristik melalui cara ini staf Christian Aid akan lebih mudah mengadakan
diskusi terbuka dengan mitra lokal seputar pengukuran perkembangan ketahanan masyarakat
ketimbang mengevaluasi pencapaian mitra.
Agar Karakteristik menjadi perangkat berguna untuk kegiatan ini, harus diadakan proses seleksi
menyeluruh atas Komponen Ketahanan dan Karakteristik Masyarakat Tahan Bencana terkait dalam
dialog terbuka dengan setiap pihak yang terlibat. Meski relatif padat-waktu, proses juga dibantu
untuk memfokuskan dan memberikan kerangka analisis dalam benak setiap orang sehingga
upaya yang diberikan tidak sia-sia.

Terlepas dari persiapan yang rinci, dalam situasi tertentu Karakteristik terpilih perlu diadaptasi saat
tim telah berada di tengah masyarakat. Ini perlu dilakukan agar lebih mampu mencerminkan realitas
lokal dan sangat mungkin.
Beberapa rekomendasi spesifik di antaranya:
Seleksi masyarakat dan peserta wawancara: seleksi masyarakat dan mitra wawancara harus
dilakukan secara bersama-sama dengan semua pihak yang terlibat dalam proses serta terutama
melalui konsultasi dengan staf yang mengadakan wawancara.
Seleksi Karakteristik: kerangka kerja Area Tematik dan Karakteristik yang dipilih untuk pengumpulan
data dan riset harus mempertimbangkan konteks proyek/ masyarakat/ prakarsa terkait: logframe
proyek, rencana aksi masyarakat, prioritas strategis, dan lain-lain harus dipertimbangkan selama
proses seleksi.
Pengembangan panduan wawancara: Identifikasi pertanyaan dan panduan wawancara dapat
dengan mudah disusun menurut tiap Karakteristik yang paling relevan dalam Komponen terpilih.
Panduan harus diadopsi dengan persetujuan tiap kelompok dan informan kunci.

103

Proyek dan publikasi buku versi Bahasa Inggris didukung oleh organisasi-organisasi berikut ini:
Plan International, British Red Cross, DFID (Department for International Development),
Practical Action, Christian Aid, Tearfund, dan Action Aid.
Penerjemahan dan publikasi buku versi Bahasa Indonesia didukung oleh: