Anda di halaman 1dari 4

Judul buku

Penulis
Halaman
Penerbit

: The Classic Book On Military Strategy


: B.H. Liddell Hart
: 426
: First Meridian Printing

Buku The Classic Book On Military Strategy yang ditulis oleh B.H. Liddell Hart ini
merupakan buku klasik yang membahas tentang strategi militer yang menjadi acuan
pertarungan militer hingga saat ini. Selama hidupnya Liddell Hart dikenal sebagai salah satu
pemikir militer terkenal di dunia, Liddell Hart juga sering dianggap sebagai Clausewitz di
abad ke-20. Untuk itu buku-buku yang dibuat oleh Lidell Hart sangat cocok untuk
dibandingkan dengan buku Sun Tzu yakni The Art of War dan buku Clausewitz yakni On
War.
Liddell Hart menekankan mengenai perpindahan, fleksibilitas dan kejutan, dimana dia
melihat bahwa dalam banyak kampanye militer pelepasan psikologi musuh dan
keseimbangan fisik mendahului kemenangan. Hasil pelepasan ini berasalah dari sebuah
pendekatan tidak langsung.
Setiap rencana kampanye memiliki banyak cabang

LH juga menjabarkan prinsip-prinsip strategi perang dan menerjemahkankehidupan dalam


sebuah pekerjaan atau kantor sebagai suatu konflik domestik. Strategi adalah buku yang
banyak didiskusikan, yang merujuk pada banyak situasi perang-perang lama dan menjelaskan
bagaimana strategi-strategiyang digunakan atau disalahgunakan dalam setiap konflik atau
perang lainnya.

This is the classic book on war as we know it. During his long life, Basil H. Liddell Hart was
considered one of the world's foremost military thinkers--a man generally regarded as the
"Clausewitz of the 20th century" Strategy is a seminal work of military history and theory, a
perfect companion to Sun-tzus The Art of War and Carl von Clauswitzs On War.
Liddell Hart stressed movement, flexibility, and surprise. He saw that in most military
campaigns dislocation of the enemy's psychological and physical balance is prelude to
victory. This dislocation results from a strategic indirect approach. Reflect for a moment on
the results of direct confrontation (trench war in WW I) versus indirect dislocation (Blitzkreig

in WW II). Liddell Hart is also tonic for business and political planning: just change the
vocabulary and his concepts fit.
Every plan of campaign ought to have several branches and to have been so well thought
out that one or other of the said branches cannot fail of success. I came across Strategy from
the bibliography of Robert Greenes 33 Strategies, as Greene quotes Liddell Hart multiple
times in his book. Strategy is a book that discusses, in detail, many ancient war situations and
describes how strategy was used or misused by either side of each conflict. Im no history
buff but the lessons from each study made the read worth it. There are also sections of pure
discussion, where Liddell Hart breaks down different principles of strategy as they pertain to
war (this book is all about war) but, like The Art of War, the war aphorisms can be easily
translated to contemporary life in an office or domestic conflicts.

INTEL inside Indonesias Intelligence Service yang ditulis oleh KEN CONBOY ini
menguak tentang tabir dan sejarah panjang dunia intelijen Indonesia. Penulis yang
merupakan Country Manager dari Risk Management Advisory, sebuah perusahaan konsultan
keamanan di Jakarta ini, pertama kalinya membuka kisah lengkap tentang BIN, serta operasioperasi intelijen yang dilakukan selama ini dan badan-badan pendahulunya. Ken Conboy
yang sebelumnya menulis buku KOPASSUS: inside Indonesias Special Forces, menuliskan
buku ini berdasarkan sumber-sumber tertulis dan wawancara lisan dari narasumbernarasumber baik yang namanya disebutkan di catatan kaki maupun dengan narasumbernarasumber yang namanya tidak disebutkan dikarenakan suatu alasan. Khususnya beberapa
wawancara dengan pejabat intelijen yang masih aktif, maka narasumber tersebut tetap harus
tidak bernama.
Ken Conboy dalam buku ini mengupas tentang seluk-beluk dan perjalanan panjang
badan intelijen Indonesia, telah ada jauh sebelum perang melawan teroris. Di buku inilah,
untuk pertama kalinya kisah lengkap tentang BIN dan badan-badan pendahulunya
dikronikkan secara mendalam dan obyektif. Kisah ini sungguh penting untuk dikemukakan
dengan berbagai alasan, sedikitnya dengan tiga alasan. Pertama, ini menjadikan sejarah
kontemporer Indonesia lebih berpendar dengan nuansa yang pragmatis. Rezim Orde Baru
pimpinan Presiden Suharto telah bersusah payah mencitrakan dirinya secara diplomatic
sebagai negara netral dalam Perang Dingin. Namun nyatanya, dinas intelijennya luar biasa
agresif dalam menangani diplomat komunis di bumi Indonesia. dengan memahami hal ini,
peran Indonesia di masa sekarang ini bias ditempatkan dalam perspektif yang lebih tepat.
Kedua, walaupun sebelumya sudah ada banyak buku tentang CIA dan KGB yang
diterbitkan, jarang ada dinas intelijen negara berkembang yang didokumentasikan berikut
detail operasinya yang penuh warna. Dengan detail-detail operasi yang diceritakan disini,
maka akan memungkinkan bagi para pembaca untuk memahami lebih baik tentang operasi
intelijen pasca Perang Dunia II.
Alasan ketiga, BIN telah berada di garis depan dalam perang melawan terorisme di
Indonesia, bahkan sebelum tragedy 11 September 2001. Walaupun beberapa hal dari kegiatan

penyelusupan itu telah bocor ke berbagai media masa, namun buku ini mengungkap detailnya
dengan lebih mendalam disbanding yang ada sebelumnya.
Dalam sejarahnya BIN mengalami pasang surut seiring dengan perubahan rezim.
Runtuhnya rezim Orde Lama dan perubahan rezim ke Orde Baru menamatkan riwayat Badan
Pusat Intelijen (BPI) yang dibentuk pada 10 November 1959. Rezim baru menata badan
intelijen dan melakukan sejumah pembersihan.
Pada 22 Agustus 1966, SOEHARTO membentuk badan intelijen strategis yang
dinamakan Komando Intelijen Negara (KIN). KIN bukanlah satu-satunya unit intelijen yang
mendapatkan momentum pada masa-masa awal SOEHARTO berkuasa. Meski sudah ada
KIN, SOEHARTO masih mempertahankan unit Operasi Khusus (Opsus) yang diketuai ALI
MOERTOPO, meski saat itu juga ia diangkat mengepalai unit intelijen luar negeri KIN.
Ada hal yang menarik dari kiprah Opsus. Ternyata intelijen Indonesia sudah
memanfaatkan perusahaan penerbangan Garuda Indonesia untuk operasi intelijen sejak tahun
1960-an. Agen-agen lapangan Opsus ini menyamar sebagai eksekutif penerangan Garuda
yang bertugas di Bangkok dan Hongkong. Tujuan operasi ini adalah untuk menyerang
Malaysia dari arah tidak terduga, walaupun kemudian setelah mencoba selama lebih dari
setahun operasi ini tidak menunjukkan hasil.
Operasi intelijen dalam buku ini disusun KEN COBOY berdasarkan wawancara
langsung dengan para pejabat intelijen, serta dilengkapi berkas-berkas arsip yang diperoleh
langsung dari sumbernya. Dalam buku ini juga disertai foto-foto, termasuk rencana
pengeboman yang ditulis salah seorang teroris yang tertangkap. Dengan mambaca buku ini
akan membuka wawasan pembaca tentang dunia intelijen Indonesia.
Buku ini juga mengungkap tuntas berbagai kasus dan latarbelakangnya dari pelatihan
agen intel pertama hingga Komando Jihad, juga penyusupan Al Qaeda di Indonesia, serta
siapa yang memulai kasus Poso? Inilah pentingnya kehadiran buku ini untuk menguak tabir
dunia intelijen Indonesia. Karena selama ini hanya buku tentang CIA, M16, Mossad, atau
KGB yang sudah beredar di Indonesia.
Berikut adalah daftar isi dari buku ini, dimana judul-judul singkat dari seluruh bab
tersebut menggambarkan kisah-kisah, situasi ataupun keadaan yang berhubungan dari
beberapa operasi-operasi intelijen (yang melibatkan) Indonesia yang pernah ada.
1. Puncak Gunung Es
2. Durna
3. Satsus Intel
4. Indocina
5. Atraksi Sampingan
6. Gatot
7. Kerajaan Pertapa
8. Terorisme Internasional
9. Komando Jihad
10. Pengebirian
11. Sasaran Sulit
12. Semakin Jatuh
13. Pintu Putar
14. Konro

15. Faruq