Anda di halaman 1dari 8

KEPERAWATAN DEWASA

ANALISIS JURNAL PENYAKIT JANTUNG KORONER PADA


DEWASA TENGAH

Dosen Pengampu : Ns. Yuni Dwi Hastuti. S.Kep, M.Kep


Kelompok 3 :
Isnaini Nur Faizah

(22020114120020)

Citra Hayuning Kinasih

(22020114120025)

Ervin Widhiantyas

(22020114120035)

Deni Rifais

(22020114120052)

Ratih Nur Ainin

(22020114120061)

Dina Ayu Mentari

(22020114120066)

Uvi Zahra Rachmadian

(22020114130083)

JURUSAN ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
2015

Analisis jurnal
Penyakit Jantung Koroner (PJK) merupakan salah satu penyakit utama bagi negara
maju maupun negara berkembang. Banyak faktor yang mempengaruhi terjadinya PJK . PJK
sering menyerang pada orang dewasa. Dewasa madya dimulai pada usia 41 tahun sampai usia
60 tahun, angka kematian akibat PJK pada usia 45-54 sebanyak 8,7%, usia 55-64 sebanyak
5,1% (Depkes RI, 2010). Kejadian PJK meningkat lima kali lipat pada usia 40-60 tahun
(Prise & Wilson, 2005). Dari berbagai uraian yang telah dipaparkan maka kita dapat
mengetahui faktor risiko penyakit jantung koroner pada usia 41-60 tahun di RSUD Kota
Semarang. Tujuan penelitian pada jurnal tersebut adalah untuk mengetahui faktor risiko
berhubungan dengan kejadian penyakit jantung koroner pada usia 41- 60 tahun RSUD Kota
Semarang. (1)
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian observasional, dengan rancangan
penelitian yang digunakan adalah kasus kontrol (case control). Sampel kasus dalam penelitian
tersebut adalah penderita penyakit jantung koroner usia 41-60 tahun di RSUD Kota
Semarang, sedangkan kontrolnya adalah pasien di RSUD Kota Semarang yang tidak
menderita jantung koroner usia 41-60 tahun.
Dari hasil penelitian jurnal utama menunjukkan faktor yang mempengaruhi PJK
adalah dislipidemia, kebiasaan merokok, hipertensi, diabetes mellitus, obesitas, stress dan
aktivitas fisik.
1.

Dislipidemia berhubungan dengan penyakit jantung koroner pada usia dewasa madya
(41-60 tahun). Hasil penelitian ini diperkuat oleh penelitian Supriyono (2008) yang
menyatakan bahwa ada hubungan yang bermakna antara dislipidemia dengan
penyakit jantung koroner . Penelitian yang dilakukan oleh marufi dan rosita (2014)
menyatakan

bahwa dislipidemia merupakan suatu kondisi dimana terjadi

abnormalitas kadar lipid di dalam darah, diantaranya peningkatan kadar kolesterol,


LDL (Low Density Lipoprotein), dan kadar trigliserida, serta penurunan kadar HDL
(High Density Lipoprotein). Hubungan antara LDL dan PJK terdapat dalam proses
aterosklerosis. Proses aterosklerosis dimulai dengan kerusakan atau disfungsi endotel
pada dinding arteri. Kemungkinan penyebab dari kerusakan endotel ini dapat
deisebabkan oleh meningkatnya level low-density liporotein (LDL). Bila kadar LDL
tinggi, maka kolesterol yang diangkut oleh LDL dapat mengendap pada lapisan

subendotelial, oleh sebab itu LDL bersifat aterogenik, yaitu bahan yang dapat
menyebabkan terjadinya aterosklerosis. (1,2)
2. Merokok berhubungan dengan PJK. Teori Berkel dkk (1999) yang menyatakan bahwa
merokok merupakan faktor risiko yang sangat kuat untuk terjadinya penyakit jantung
dan juga memiliki hubungan kuat untuk terjadinya PJK. Ratnawulan dkk menyatakan
bahwa terdapat hubungan bermakna antara perilaku merokok berdasarkan lama
merokok, tipe perokok dan jenis rokok dengan kejadian penyakit jantung koroner. (3)
3. Hipertensi berhubungan dengan PJK . Penelitian dilakukan Supriyono (2008) dan
Susanti (2010) .Hasil penelitian pada jurnal tersebut sesuai dengan teori Soeharto
(2001) yang mengatakan bahwa hipertensi memberi gejala lebih lanjut untuk suatu
organ seperti stroke dan penyakit jantung koroner. Hasil penelitian diperkuat oleh
penelitian sebelumnya Yusnidar (2007) yang menyatakan bahwa ada hubungan yang
bermakna antara hipertensi dengan penyakit jantung koroner .
4. Diabetes melitus berhubungan dengan PJK. Dari hasil penelitian menunjukkan adanya
hubungan antara diabetes mellitus dengan penyakit jantung koroner pada usia dewasa
madya (41-60 tahun). Hal tersebut menunjukkan bahwa responden dengan diabetes
mellitus berisiko 6,479 kali menderita penyakit jantung koroner dibandingkan
responden yang tidak menderita diabetes mellitus. Hasil penelitian sesuai dengan
teori Liu dkk (2005) yang mengatakan bahwa pasien dengan diabetes mellitus
berisiko lebih besar untuk terjadinya cardiovaskular diseases dari pada individu yang
tidak diabetes. Hasil penelitian diperkuat oleh penelitian sebelumnya, Yusnidar
(2007), Supriyono (2008), dan Susanti (2010) yang menyatakan bahwa ada hubungan
yang bermakna antara diabetes mellitus dengan penyakit jantung koroner dengan
masing. (4)
5. Obesitas berhubungan dengan PJK. Dari hasil penelitian menunjukkan adanya
hubungan antara obesitas dengan penyakit jantung koroner pada usia dewasa madya
(41-60 tahun). Hasil penelitian membuktikan teori Gotera dkk (2006) yang
mengatakan bahwa obesitas merupakan kunci penting dari terjadinya peningkatan
kejadian PJK. Terdapat keterkaitan antara obesitas dengan risiko peningkatan PJK dan
merupakan beban penting pada kesehatan jantung dan pembuluh darah. Hasil
penelitian diperkuat oleh penelitian sebelumnya, Susanti (2010) yang menyatakan

bahwa ada hubungan yang bermakna antara obesitas dengan penyakit jantung
koroner(5)
6. Aktivitas fisik. Pada aktivitas fisik ada 2 pendapat yang berbeda. Dari hasil penelitian
menunjukkan tidak adanya hubungan antara tingkat aktivitas fisik dengan penyakit
jantung koroner pada usia dewasa madya (41-60 tahun). Hasil penelitian
bertentangan dengan teori Soeharto (2004) yang mengatakan bahwa apabila orang
yang kurang beraktivitas akan kehilangan dua kali lipat lebih besar dibandingkan
mereka yang beraktivitas. Hal tersebut terjadi karena perbedaan asumsi mengenai
aktivitas fisik yang dilakukan, variabel aktivitas fisik disini dimaksudkan kepada
aktivitas harian responden secara menyeluruh tidak dispesifikkan pada kegiatan
olahraga saja. Hasil penelitian diperkuat oleh penelitian sebelumnya , yaitu Supriyono
(2008) yang menyatakan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara aktivitas
berat dengan kejadian. Namun pada jurnal lain menyebutkan bahwa adanya kaitan
antara aktivitas fisik dengan penyakit jantung koroner.(6,7)
7. Stress. Dari hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan antara stres dengan
penyakit jantung koroner pada usia dewasa madya (41-60 tahun). Hal tersebut
menunjukkan bahwa responden yang tergolong stres berisiko berisiko 5,8 kali
menderita penyakit jantung koroner dibandingkan responden yang tidak tergolong
stres yang berisiko. Hasil penelitian tersebut membuktikan teori Barbara (1996) yang
mengatakan bahwa stres merangsang sistem kardiovaskular dengan dilepasnya
catecholamine yang meningkatkan kecepatan denyut jantung, dan teori Gray dkk
(2002) yang mengatakan terdapat hubungan yang saling berkaitan antara stres dan
abnormalitas metabolisme lipid. (8)
Faktor yang tidak mempengaruhi terjadinya PJK adalah status sosial ekonomi, jenis
pekerjaan, dan jenis kelamin
1. Status sosial ekonomi. Dari hasil penelitian menunjukkan tidak adanya hubungan
antara status sosial ekonomi dengan penyakit jantung koroner pada usia dewasa
madya (41-60 tahun). Hal tersebut tidak sejalan dengan teori dari Eaker (1988) yang
mengatakan bahwa faktor sosial ekonomi berhubungan dengan peningkatan
prevalensi tekanan darah tinggi dan obesitas. Secara teori hal tersebut sesuai dengan
konsep ekonomi, pengeluaran akan selalu mengikuti pendapatan. Gaya hidup akan
menyesuaikan

pendapatan

yang

didapatkan.

Status

sosial

ekonomi

akan

mempengaruhi konsumsi kolesterol yang kemudian berpengaruh pada tekanan darah


dan kejadian aterosklerosis. Namun pada kenyataannya terdapat pergeseran tren dan
gaya hidup yang menyebabkan kalangan sosial ekonomi rendah juga banyak yang
mengkonsumsi makanan siap saji, makanan berlemak dan makanan tinggi kolesterol.
Hal tersebut membuktikan bahwa status sosial ekonomi bukan lagi menjadi faktor
risiko penyakit jantung koroner. Hasil penelitian diperkuat oleh penelitian sebelumnya
, yaitu Supriyono (2008) yang menyatakan bahwa keadaan sosial ekonomi secara
keseluruhan tidak memiliki hubungan yang bermakna dengan kejadian PJK.
2. Jenis pekerjaan. Dari hasil penelitian menunjukkan tidak adanya hubungan antara
jenis pekerjaan dengan penyakit jantung koroner pada usia dewasa madya (41-60
tahun). Jenis pekerjaan berkaitan dengan tingkat aktivitas responden, sejalan dengan
tingkat aktivitas responden yang tidak memiliki hubungan dengan penyakit jantung
koroner.
3. Jenis kelamin. Dari hasil penelitian menunjukkan tidak adanya hubungan antara jenis
kelamin dengan penyakit jantung koroner pada usia dewasa madya (41-60 tahun). Hal
tersebut sejalan dengan teori dari Lewis dkk (2007) yang mengatakan bahwa
morbiditas akibat PJK pada laki-laki lebih besar daripada wanita sebelum wanita
mengalami menopause, karena wanita mempunyai hormon estrogen yang besifat
protektif, namun setelah wanita mengalami menopause insidensi PJK meningkat dan
memiliki risiko yang sama dengan laki-laki. Penelitian ini membuktikan bahwa jenis
kelamin bukan lagi menjadi faktor risiko penyakit jantung koroner pada usia dewasa
madya (41-60 tahun). (1,9)

Selain faktor-faktor yang mempengaruhi dan tidak mempengaruhi PJK, adapun ciri-ciri
Penyakit Jantung Kororer adalah sebagai berikut :

Perasaan nyeri yang terdapat pada dada seakan-akan ada sesuatu yang mengganjal di
dalam dada dan meremas-remas atau disebut dengan angina

Perasaan terbakar pada bagian dada

Sesak nafas

Sesak di bagian dada

Perasaan mual

Sering pusing

Mati rasa pada bagian dada

Detak jantung tidak teratur dan sering kali cepat

Pada kasus PJK, pasien yang memiliki kriteria risiko tinggi adalah :

Angina (nyeri dada) pada saat beristirahat

Perubahan segmen ST yang dinamis

Peningkatan nilai tropopin I, tropopin T, atau CK MB

Periode observasi hemodinamis pasien tidak stabil

Adanya takikardia ventrikel dan fibrilasi ventrikel

Angina tidak stabil pasca infark dini

Diabetes melitus
Saat seseorang mengalami angina salah satu cara untuk mengatasi nyeri pada dada

adalah dengan mengkonsumsi obat. Secara umum pengobatan angina pektoris bertujuan
untuk menghilangkan sakit pada dada. Golongan obat yang paling sering digunakan pada
serangan angina pektoris ini adalah golongan nitrat organik, seperti short acting nitrat dalam
bentuk sublingual untuk mendapatkan efek segera, kemudian diiringi pemberian long acting
nitrat secara oral untuk terapi.
Untuk mencegah terjadinya Penyakit Jantung Koroner ada beberapa hal yang dapat
dilakukan seperti memeriksakan tekanan darah secara teratur, tidak merokok, mengendalikan
kadar glukosa darah apabila memiliki diabetes, usahakan berat badan normal, diet rendah
kolestrol dan lemak jenuh, olahraga teratur, kurangi stres, dan pemeriksaan rutin.

Selain obat farmasi ada cara pengobatan untuk PJK dengan melakukan tindakan medis
antara lain :
1. Intervensi Koroner Perkutan (IKP) atau Percoutaneous Coronary Interventions (PCI)
adalah terminologi yang digunakan untuk menerangkan bagaimana prosedur secara
mekanik berfungsi untuk meningkatkan aliran perfusi (miokard) tanpa melakukan
tindakan pembedahan. Prosedur yang umum digunakan adalah balonisasi. Balonisasi

biasanya diikuti dengan implantasi stent pada pembuluh darah koroner untuk
mencegah penyumbatan kembali. (10,11)
2. Coronary Artery Bypass Grafting (CABG) adalah salah satu penanganan PJK dengan
cara pembedahan untuk membuat saluran baru melalui bagian Artery Coronaria yang
mengalami penyempitan atau penyumbatan. (10,12)
Kekurangan jurnal utama
Pada penelitian aktivitas fisik sample yang digunakan masih kurang seharusnya
penulis menggunakan lebih banyak sample agar hasil penelitian lebih akurat karena menurut
kami aktivitas fisik mempengaruhi risiko terjadinya PJK yang diperkuat oleh jurnal milik Ayu
Candra Rahmawati dkk yang berjudul Aktivitas Fisik dan Rasio Kolesterol (Hdl) pada
Penderita Penyakit Jantung Koroner di Poliklinik Jantung RSUD Dr. Moewardi Surakarta
dan jurnal milik Annisa Yuliana Salim yang berjudul Hubungan Olahraga dengan Kejadian
Penyakit Jantung Koroner di RSUD Dr. Moewardi.
Kesimpulan
Penyakit jantung koroner adalah suatu penyakit jantung koroner yang diakibatkan
oleh penyempitan atau penyumbatan pembuluh darah koroner. Penyempitan atau
penyumbutan ini dapat menghentikan aliran darah ke otot jantung yang sering ditandai
dengan rasa nyeri (Yenrina, Krisnatuti, 1999). Faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya
PJK adalah dislipidemia, kebiasaan merokok, hipertensi, diabetes mellitus, obesitas, stress
dan aktivitas fisik. Sedangkan faktor yang tidak mempengaruhi terjadinya PJK adalah status
sosial ekonomi, jenis pekerjaan, dan jenis kelamin. Pencegahan PJK dapat dilakukan dengan
cara memeriksakan tekanan darah secara teratur, tidak merokok, mengendalikan kadar
glukosa darah apabila memiliki diabetes, usahakan berat badan normal, diet rendah kolestrol
dan lemak jenuh, olahraga teratur, kurangi stres, dan pemeriksaan rutin. Pengobatan untuk
menangani PJK dapat dilakukan dengan cara PCI dan CABG.

DAFTAR PUSTAKA

1.

Amelia

F,

Mahalul

A.

Faktor

Risiko

Yang

Berhubungan

Dengan

Penyakit

Jantung
Koroner
Pada
Usia
Dewasa
Madya
(41-60
Tahun)
(Studi Kasus di RS Umum Daerah Kota Semarang). Jur IKM. 2015; 4(2) : 117-123

2. Marufi,

Rosita,
L.
Hubungan
Dislipidemia
Kejadian Penyakit Jantung Koroner. JKKM. Januari-April 2014; 6(1) : 47-53

Dan

3. Ratnawulan A, Janry P, Stella P. Hubungan Antara Perilaku Merokok Dengan


Kejadian Penyakit Jantung Koroner. Jur eCl. Januari-April 2015; 3(1) : 98-102

4. Fadma Y, Fadil O, Detty I. Hubungan Berbagai Faktor Risiko Terhadap Kejadian


Penyakit
Jantung
Koroner
(1)
Tipe 2. Jur KA. 2014; 3 : 37-40

Pada

5. A.

Guntur
H.
Komplikasi
Penanggulangannya. Jur IPD. 1991; 39-41

Penderita

Obesitas

Diabetes

Melitus

dan

Usaha

6. Ayu CR, Siti Z, Setyaningrum R. Aktivitas Fisik dan Rasio Kolesterol (HDL) pada
Penderita
Penyakit
Jantung
Koroner
di
(1)
Jantung RSUD Dr. Moewardi Surakarta. Jur Kes. Juni 2009; 2 : 11-18

Poliklinik

7. Annisa YS, Anjar N. Hubungan Olahraga Dengan Kejadian Penyakit Jantung


Koroner Di Rsud Dr. Moewardi. Jur GASTER. 1 Februari 2013; 10(1) : 48-56

8. Djanggan S. Penelitian Psikoneuroimunologi: Apakah Stress Mempengaruhi Imunitas


Dan Menyebabkan Penyakit Arteri Koroner?.

9. Cholik HR, Laily I. Perempuan Lebih Rentan Terserang Penyakit Kardiovaskular. Jur
Florence. 1 Januari 2014; 7(1) : 1-10

10. I Made PSA, Yoga Y, Bambang BS. Intervensi penyakit jantung koroner
dengan Sindroma Gagal Jantung. Jur Kar. Januari-Pril 2009; 30(1) : 32-37

11. Haris H. Intervensi koroner perkutan pada penyakit jantung koroner dan
permasalahannya [internet]. 2007. Diakses pada 9 September 2015. Dari :
repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/715/1/08E00139.pdf

12. Lita F. Coronary artery bypass grafting (CABG) dengan menggunakan vena
saphenous, arteri mammaria interna dan arteri radialis [internet]. 2005. Diakses pada 9
September
2015.
Dari
:
repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/3508/1/06001193.pdf