Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Angina pectoris adalah suatu sindroma klinis yang ditandai dengan episode
atau paroksisma nyeri atau perasaan tertekan di dada depan, penyebab diperkirakan
berkurangnya aliran darah koroner, menyebabkan suplai oksigen ke jantung tidak
adekuat atau dengan kata lain, suplai kebutuhan jantung meningkat. Angina biasanya
diakibatkan oleh penyakit aterosklerotik dan hampir selalu berhubungan dengan
sumbatan arteri koroner utama (Barbara C Long, 2006).
Di Amerika Serikat di dapatkan bahwa kurang lebih 50% dari penderita
penyakit jantung koroner mempunyai manifestasi awal angina pectoris stabil (APS).
Jumlah pasti penderita angina pectoris sulit diketahui. Dilaporkan bahwa insiden
angina pectoris pertahun pada penderita diatas usia 30 tahun sebesar 213 penderita
per 100.000 penduduk. Asosiasi jantung Amerika memperkirakan ada 6.200.000
penderita APS ini di Amerika Serikat. Tapi data ini nampaknya sangat kecil di
bandingkan dari laporan dua studi besar dari Olmsted Country dan Framingham yang
mendapatkan bahwa kejadian infark miokard akut sebesar 3% sampai 3,5% dari
penderita angina pectoris pertahun atau kurang lebih 30 penderita angina pectoris
untuk setiap penderita infark miokard akut (Tucker, 2008).
Di Indonesia penyakit jantung adalah pembunuh nomor tiga. Jantung adalah
organ tubuh yang bekerja paling kuat. Setiap harinya organ tubuh ini memompa
16.000 liter darah keseluruh tubuh melalui pembuluh darah sekitar 90.000 km.
Walaupun relative kecil, namun organ ini bekerja dua kali lebih keras dari pada betis
pelari sprint atau otot petinju kelas berat. Tidak ada otot kecuali otot rahim wanita
yang bekerja siang dan malam selama 70 tahun atau lebih seperti jantung. Berikut ini
terdapat beberapa anjuran yang akan berguna bagi pemeliharaan kesehatan jantung.

Angina Pectoris

Page 1

Namun, yang perlu ditekankan bahwa dengan mengikuti anjuran-anjuran bukan berati
kita akan kebal terhadap penyakit jantung, sebab sampai sekarang belum ada
sesuatupun yang dapat memberi kekebalan seperti itu(Barbara C. Long, 2006).
Mengingat banyaknya jumlah penderita angina pectoris dan kerugian yang
ditimbulkan terutama secara ekonomi, diperlukan penatalaksanaan yang lebih
komperehensif. Tetapi angina pectoris stabil terutama ditujukan untuk menghindarkan
terjadinya infark miokard akut dan kematian sehingga meningkatkan harapan hidup
serta mengurangi gejala dengan harapan meningkatnya kualitas hidup. Pada penderita
yang berdasarkan riwayat penyakit dan pemeriksaan awal didapatkan kemungkinan
sedang atau tinggi untuk menderita suatu penyakit jantung koroner perlu dilakukan
tes secara noninvasive maupun invasive untuk memastikan diagnose serta
menentukan sertifikasi resiko. Penderita angina pectoris stabil dengan resiko tinggi
atau resiko sedang yang kurang berhasil dengan terpi standar, perlu dilakukan
tindakan revaskularisasi, terutama bila penderita memang menghendaki. Walaupun
telah banyak kemajuan dalam penatalaksanaannya. (Departemen ilmu penyakit dalam
fakultas kedokteran universitas Indonesia, 2006 ).

1.2 RUMUSAN MASALAH


1.2.1

Mengetahui definisi Angina pectoris ?

1.2.2

Mengetahui epidemiologi Angina pectoris?

1.2.3

Mengetahui etiologi Angina pectoris ?

1.2.4

Mengetahui tanda dan gejala Angina pectoris?

1.2.5

Mengetahui patofisiologi Angina pectoris?

1.2.6

Mengetahui diagnosis Angina pectoris?

Angina Pectoris

Page 2

1.2.7

Mengetahui penatalaksanaan terapi Angina pectoris?

1.3 TUJUAN PEMBELAJARAN


1.3.1

Agar mahasiswa mengetahui apa itu Angina pectoris.

1.3.2 Agar mahasiswa mengetahui bagaimana epidemiologi Angina pectoris.


1.3.3

Agar mahasiswa mengetahui bagaimana etiologi Angina pectoris.

1.3.4

Agar mahasiswa mengetahui apa saja tanda dan gejala Angina pectoris.

1.3.5

Agar mahasiswa mengetahui bagaimana patofisiologi Angina pectoris.

1.3.6

Agar mahasiswa mengetahui bagaimana diagnosis Angina pectoris.

1.3.7

Agar mahasiswa mengetahui bagaimana penatalaksanaan terapi Angina


pectoris.

BAB II
ISI
2.1. DEFENISI ANGINA PECTORIS

Angina Pectoris

Page 3

Angina pectoris ialah suatu sindrom klinis berupa serangan nyeri dada yang
khas, yaitu seperti rasa ditekan atau terasa berat di dada yang sering menjalar ke
lengan kiri. Nyeri dada tersebut biasanya timbul pada saat melakukan aktivitas dan
segera hilang bila aktivitas dihentikan. Merupakan kompleks gejala tanpa kelainan
morfologik permanen miokardium yang disebabkan oleh insufisiensi relatif yang
sementara di pembuluh darah koroner.
Angina pektoris adalah keadaan penderita Penyakit Jantung Koroner dengan
keluhan nyeri dada ( didaerah sternal dan precordial yang disebabkan karena
gangguan peredaran darah koroner sehingga pada suatu keadaan tertentu tidak
mencukupi keperluan metabolisme miokard karena meningkatnya kebutuhan oksigen
dan bila kebutuhan oksigen tersebut, menurun kembali maka keluhan nyeri dada
tersebut akan hilang. Angina Pektoris dapat merupakan manifestasi klinis yang awal
dari penyakit iskemia jantung yang sebagian besar disebabkan karena gangguan pada
sirkulasi koroner akibat athero sclerosis pada arteria koronaria sehingga suplai darah
yang membawa oksigen dan metabolit ke dalam miokard yang berubah ubah.
Angina Pektoris dapat diartikan sebagai manifestasi klinis dari tidak adanya
keseimbangan antara suplai dan keperluan aliran darah koroner ke dalam miokard,
keadaan ini dapat disebabkan karena :
1. Suplai yang berkurang berkurang karena hambatan aliran darah koroner
(sclerosis pada arteri koronaria, spasme ateri koronaria)
2. Kebutuhan aliran darah koroner meningkat karena beban kerja jantung lebih
berat (misalnya pada aortic stenosis). Dalam beberapa keadaan yang jarang
terjadi, Angina Pektoris dapat terjadi tanpa ada kelainan dari arteri koronaria
(angina pektoris dengan arteri koronaria yang normal).
Iskemia miokard akan terjadi bila kebutuhan oksigen melampaui suplai
oksigen. Bilai suplai pada miokard mencukupi kebutuhan untuk metabolisme. Maka
fungsi miokard akan normal.

Angina Pectoris

Page 4

Klasifikasi klinis angina pada dasarnya berguna untuk mengevaluasi


mekanisme terjadinya iskemik. Walaupun patogenesa angina mengalami perubahan
dari tahun ketahun, akan tetapi pada umumnya dapat dibedakan 3 tipe angina :
1. Classical effort angina (angina klasik) Pada nekropsi biasanya didapatkan
aterosklerosis koroner. Pada keadaan ini, obstruksi koroner tidak selalu
menyebabkan terjadinya iskemik seperti waktu istirahat. Akan tetapi bila
kebutuhan aliran darah melebihi jumlah yang dapat melewati obstruksi
tersebut, akan tetapi iskemik dan timbul gejala angina. Angina pektoris akan
timbul pada setiap aktifitas yang dapat meningkatkan denyut jantung,
tekanan darah dan atatus inotropik jantung sehingga kebutuhan O2 akan
bertambah seperti pada aktifitas fisik, udara dingin dan makan yang banyak.
2. Variant angina (angina Prinzmetal)
Bentuk ini jarang terjadi dan biasanya timbul pada saat istirahat, akibat
penurunan suplai O2 darah ke miokard secara tiba-tiba. Penelitian terbaru
menunjukkan terjadinya obsruksi yang dinamis akibat spasme koroner baik
pada arteri yang sakit maupun yang normal. Peningkatan obstruksi koroner
yang tidak menetap ini selama terjadinya angina waktu istirahat jelas disertai
penurunan aliran darah arteri koroner.
3. Unstable angina (angina tak stabil / ATS)
Istilah lain yang sering digunakan adalah Angina preinfark, Angina
dekubitus, Angina kresendo. Insufisiensi koroner akut atau Sindroma
koroner pertengahan. Bentuk ini merupakan kelompok suatu keadaan yang
dapat berubah seperti keluhan yang bertambah progresif, sebelumnya dengan
angina stabil atau angina pada pertama kali. Angina dapat terjadi pada saat
istirahat maupun bekerja. Pada patologi biasanya ditemukan daerah iskemik
miokard yang mempunyai ciri tersendiri.
4. Angina Mikrovaskular

Angina Pectoris

Page 5

Disebabkan karena adanya gangguan pada fungsi saluran darah yang


terdapat pada jantung, kaki dan tangan

2.2 EPIDEMIOLOGI ANGINA PECTORIS


Di Indonesia, penyebab kematian mulai bergeser dari penyakit infeksi ke
penyakit kardiovaskular. Secara keseluruhan, jumlah kematian akibat PJK di seluruh
dunia adalah sekitar 15 juta per tahun atau 30% dari seluruh kematian dengan
berbagai sebab.Manifestasi klinik PJK yang klasik adalah angina pectoris.

2.3 ETIOLOGI ANGINA PECTORIS


Penyebab dari angina pectoris antara lain : ateroskelerosis, spasme pembuluh
koroner, latihan fisik, pajanan terhadap dingin, makan makanan berat dan stress.
Karena hal ini kelanjutan dari stenosis aorta berat, insufiensi atau hipertropi
kardiomiopati tanpa disertai obstruksi, peningkatan kebutuhan tubuh metabolic,
takikardi paroksimal (Barbara C Long, 2006).
Penyebab lainnya adalah spasme arteri koroner. Penyempitan dari lumen
pembuluh darah terjadi bila serat otot halus dalam dinding pembuluh darah koroner
dapat mengiringi terjadinya iskemik actual/ perluasan dari infark miokard. Sedangkan
penyebab lain dari asteroskterosis yang dapat mempengaruhi diameter lumen
pembuluh darah koroner dapat berhubungan dengan obnormalitas sirkulasi (Udjianti,
2010 ).
2.4 TANDA DAN GEJALA ANGINA PECTORIS
Semua jenis jenis gejala angina berhubungan dengan kegiatan fisik atau
karena keadaan sedang stress. Angina Pektoris dapat dikenali dengan tanda tanda :
1. Nyeri dada yang khas, yaitu perasaan dada tertekan, merasa terbakar atau
susah bernafas.

Angina Pectoris

Page 6

2. Lokasi nyeri yaitu retrostermal yang menjalar ke leher, rahang atau mastoid
dan turun ke lengan kiri.
3. Faktor pemicu seperti sedang emosi, bekerja, sesudah makan atau dalam
udara dingin.
4. Rasa ketarik dalam kerongkongan.
Nyeri angina biasanya digambarkan sebagai rasa nyeri berat yang
mencengkeram. Angina umumnya terjadi saat melakukan aktivitas fisik berat tetapi
dapat dipicu juga oleh kondisi emosi, mencerna makanan berat, atau keluar rumah
dalam angin dingin. Angina terkadang juga menyebabkan sesak napas. Orang-orang
yang mengalami obesitas (kegemukan) serta penderita diabetes juga pada risiko yang
lebih besar mengalami angina.

2.5 PATOFISIOLOGI ANGINA PECTORIS


Penimbunan lemak (lipid) dan jaringan abrous pada dinding arteri koroner

Penyempitan pembuluh darah koroner

Obstruksi / hambatan aliran darah miokard

Iskemia (berkurangnya kadar O2)

Mengubah metabolism aerobic menjadi an-aerobik

Tertimbun asam laktat

pH sel menurun

Muncul efek hipoxia

Mengganggu fungsi ventrikel sinistra

Angina Pectoris

Page 7

Menurunnya fungsi ventrikel sinistra dapat mengurangi curah jantung. Dengan


berkurangnya jumlah curah jantung sekuncup (jumlahdarah yang dikeluarkan
setiap kali jantung berdenyut)

Berkurangnya daya kontraksi dan gangguan gerak jalan / heremodinamik

Tekanan jatung kiri, tekanan akhir diastolic ventrikel kiri dan tekanan dalam paruparu kiri meningkat

Peningkatan ringan tekanan darah dan denyut jantung

Nyeri

2.6 DIAGNOSIS ANGINA PECTORIS


Elektrokardiogram
Gambaran elektrokardiogram (EKG) yang dibuat pada waktu istirahat dan
bukan pada waktu serangan angina seringkali masih normal. Gambaran EKG kadangkadang menunjukkan bahwa pasien pernah mendapat infark miokard pada masa
lampau. Kadang-kadang EKG menunjukkan pembesaran ventrikel kiri pada pasien
hipertensi dan angina. Kadang-kadang EKG menunjukkan perubahan segmen ST dan
gelombang T yang tidak khas. Pada waktu serangan angina, EKG akan menunjukkan
adanya depresi segmen ST dan gelombang T menjadi negatif.
Foto Rontgen Dada

Angina Pectoris

Page 8

Foto rontgen dada seringkali menunjukkan bentuk jantung yang normal, tetapi
pada pasien hipertensi dapat terlihat jantung yang membesar dan kadang-kadang
tampak adanya kalsifikasi arkus aorta.
Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium tidak begitu penting dalam diagnosis angina pectoris.
Walaupun demikian untuk menyingkirkan diagnosis infark miokard jantung akut
maka sering dilakukan pemeriksaan enzim CPK, SGOT, atau LDH. Enzim tersebut
akan meninggi pada infark jantung akut sedangkan pada angina kadarnya masih
normal. Pemeriksaan lipid darah seperti kadar kolesterol, HDL, LDL, dan trigliserida
perlu dilakukan untuk menemukan faktor resiko seperti hiperlipidemia dan
pemeriksaan gula darah perlu dilakukan untuk menemukan diabetes mellitus yang
juga merupakan faktor risiko bagi pasien angina pectoris.
Uji Latihan Jasmani
Karena pada angina pectoris gambaran EKG seringkali masih normal, maka
seringkali perlu dibuat suatu ujian jasmani. Pada uji jasmani tersebut dibuat EKG
pada waktu istirahat lalu pasien disuruh melakukan latihan dengan alat treadmill atau
sepeda ergometer sampai pasien mencapai kecepatan jantung maksimal atau
submaksimal dan selama latihan EKG di monitor demikian pula setelah selesai EKG
terus di monitor. Tes dianggap positif bila didapatkan depresi segmen ST sebesar 1
mm atau lebih pada waktu latihan atau sesudahnya. Lebih-lebih bila disamping
depresi segmen ST juga timbul rasa sakit dada seperti pada waktu serangan, maka
kemungkinan besar pasien memang menderita angina pectoris.
Di tempat yang tidak memiliki treadmill, test latihan jasmani dapat dilakukan
dengan cara Master, yaitu latihan dengan naik turun tangga dan dilakukan
pemeriksaan EKG sebelum dan sesudah melakukan latihan tersebut.

Angina Pectoris

Page 9

Thallium Exercise Myocardial Imaging


Pemeriksaan ini dilakukan bersama-sama ujian latihan jasmani dan dapat
menambah sensifitas dan spesifitas uji latihan.thallium 201 disuntikkan secara
intravena pada puncak latihan, kemudian dilakukan pemeriksaan scanning jantung
segera setelah latihan dihentikan dan diulang kembali setelah pasien sehat dan
kembali normal. Bila ada iskemia maka akan tampak cold spot pada daerah yang
yang menderita iskemia pada waktu latihan dan menjadi normal setelah pasien
istirahat. Pemeriksaan ini juga menunjukkan bagian otot jantung yang menderita
iskemia.

2.7 PENATALAKSANAAN TERAPI ANGINA PECTORIS


1. Terapi non-farmakologis
Terapi non farmakologis dapat dilakukan dengan mengontrol emosi,
mengurangikerja yang berat dimana membutuhkan banyak oksigen dalam
aktivitasnya, mengurangikonsumsi makanan berlemak, dan istirahat yang cukup.
Disarankan untuk mengubahgaya hidup antara lain menghentikan konsumsi rokok, menjaga
berat badan ideal,mengatur pola makan, melakukan olah raga ringan secara teratur; jika
memilikiriwayat diabetes tetap melakukan pengobatan diabetes secara teratur;
danmelakukan kontrol terhadap kadar serum lipid.
Untuk pasien dengan gejala angina yang tidak dapat lagi diatasi denganterapi
obat, pasien dengan stenosis arteri koroner kiri lebih besar dari 50% denganatau tanpa

Angina Pectoris

Page 10

gejala, pasien dengan penyakit di tiga pembuluh darah dengandisfungsi ventrikel kiri
jantung, pasien dengan angina tidak stabil, dan pasiendengan post-infark miokard
dengan lanjutan angina atau iskemik lebih parah,dapat dilakukan revaskularisasi,
yang dilakukan dengan prosedur yang disebut coronary artery bypass grafting (CABG)
dan percutaneous transluminal coronary angioplasty (PTCA).
2. Terapi farmakologis meliputi:
Nitrat Organik
Obat

golongan

nitrat

merupakan

lini

(pilihan)pertama

dalam

pengobatanangina pectoris. Mekanisme kerja obat golongan nitrat dimulai


ketikametabolisme obat pertama kali melepaskan ion nitrit (NO2). Di dalam sel, NO2 diubah
menjadi nitrat oksida (NO) yang kemudian mengaktivasi guanilat siklase,terjadi
peningkatan konsentrasi guanosin monofosfat siklik (cGMP) intraseluler pada sel
otot polos vaskular sehingga terjadi relaksasi otot polos, termasuk arteridan vena.
Nitrat organik menurunkan kerja jantung melalui efek dilatasi pembuluhdarah
sistemik. Venodilatasi menyebabkan penurunan aliran darah balik ke jantung,
sehingga tekanan akhir diastolik ventrikel (beban hulu) dan volumeventrikel
menurun. Beban hulu yang menurun juga memperbaiki perfusi subendokard.
Vasodilatasi menyebabkan penurunan resistensi perifer sehinggategangan dinding
ventrikel sewaktu sistole (beban hilir )berkurang. Akibatnya,kerja jantung dan konsumsi
oksigen menjadi berkurang.

B bloker
Memiliki mekanisme kerja mengurangi kebutuhan oksigen jantung dengancara

mengurangi denyut jantung dan kontraktilitas miokard.

Calcium antagonist
Obat

antagonis

kalsium

menyebabkan

melebarnya

pembuluh

darah

denganmenghambat masuknya ion kalsium melewati slow channel yang terdapat padamembran
sel (sarkolema) pada otot polos jantung, dan pembuluh darah koroner dan perifer sehingga
terjadinya relaksasi..Obat antagonis kalsium menjadi obat terpilih terutama bila :

Angina Pectoris

Page 11

1. Beta bloker merupakan kontra indikasi, misalnya pada gagal jantung,


sick sinus syndrome, blok AV derajat 2 atau lebih (untuk keadaan-keadaan
inisebaiknya

dipilih

nifedipin),

penyakit

paru

obstruktif,

penyakit

vaskular perifer atau diabetes melitus yang berat..


2. Penderita tidak dapat mentoleransi efek samping beta bloker.Pada penangan
angina tidak stabil, obat antagonis kalsium biasanya digunakanuntuk
kombinasi dengan golongan nitrat bila hasil pengobatan dengan nitratkurang
memuaskan.

Antipletelet dan antikoagulan

Segi lain dari pengobatan angina adalah pemberian antipletelet dan antikoagulan.
Cairns dkk 1985 melakukan penelitian terhadap penderita angina tak stabil selama
lebih dari 2 tahun, ternyata aspirin dapat menurunkan mortalitas dan insidens infark
miokard yang tidak fatal pada penderita angina tidak stabil. Pemberian heparin i.v
juga efeknya sama dan sering diberikan daripada aspirin untuk jangka pendek dengan
tujuan menstabilkan keadaan penderita sebelum arteriografi. Terdapat obat-obatan
pada angina pektoris tak stabil secara praktis dapat disimpulkan sebagai berikut:
Heparin i.v dan aspirin dapat dianjurkan sebagai pengobatan rutin selama fase
akut maupun sesudahnya
Pada penderita yang keadaannya cenderung tidak stabil dan belum mendapat
pengobatan, beta-bloker merupakan pilihan utama bila tidak ada kontra
indikasi. Tidak ada pemberian kombinasi beta-bloker dengan ca-antagonis
diberikan sekaligus pada permulaan pengobatan.
Pada penderita yang tetap tidak stabil dengan pemberian beta-bloker dapat
ditambah dengan nifedipin.
Pengobatan tunggal dengan nifedipin tidak dianjurkan

Menurut Sudoyo, Aru W (2009), penatalaksanaan yang sering di lakukan adalah :

Angina Pectoris

Page 12

Istirahat
Terapi oksigen
Tindakan revaskularisasi pembulh coroner
Startifikasi resiko
Medikamentosa 1218 harrison
Obat anti iskemia
Nitrat (nitrigliserin atau isosorbid dinitrat)
Penyekat beta
Antagonis kalsium
Obat antiagregasi trombosit
Aspirin
Triklopidin
Klopidogrel

BAB III
PENUTUP
3.1.KESIMPULAN
Angina pectoris adalah suatu syndrome yang ditandai dengan rasa tidak enak
yang berulang di dada dan daerah lain sekitarnya yang berkaitan yang disebabkan
oleh ischemia miokard tetapi tidak sampai terjadi nekrosis. Rasa tidak enak tersebut
sering kali digambarkan sebagai rasa tertekan, rasa terjerat, rasa kemeng, rasa penuh,
rasa terbakar, rasa bengkak dan rasa seperti sakit gigi. Rasa tidak enak tersebut
biasanya berkisar 1 15 menit di daerah retrosternal, tetapi dapat juga menjalar ke
rahang, leher, bahu, punggung dan lengan kiri. Walaupun jarang, kadang-kadang juga
menjalar ke lengan kanan. Kadang-kadang keluhannya dapat berupa cepat capai,
sesak nafas pada saat aktivitas, yang disebabkan oleh gangguan fungsi akibat
ischemia miokard.

Angina Pectoris

Page 13

Tipe Angina Pectoris antara lain : Angina Stabil, Angina Non stabil (angina
prainfark, angina kresendo), dan Varian angina.
Mekanisme timbulnya angina pectoris didasarkan pada ketidak adekuatan
suplai oksigen ke sel-sel miokardium yang di akibatkan karena kekakuan arteri dan
penyempitan lumen arteri koroner. Tidak diketahui secara pasti penyebab
ateriosklerosis, namun jelas bahwa tidak ada faktor tunggal yang bertanggung jawab
atas ateriosklerosis. Ateriosklerosis merupakan penyakit arteri koroner yang paling
sering ditemukan. Apabila kebutuhan meningkat pada jantung yang sehat maka arteri
koroner berdilatasi sebagai respon peningkatan kebutuhan akan oksigen, maka
iskemik atau kekurangan suplai darah miokardium dan hanya endotel yang cedera
mengakbatkan hilangnya produksi No atau Nitrat Oksid yang berfungsi untuk
menghambat berbagai zat yang relative.
Iskemia otot jantung akan menyebabakan myeri dengan derajat yang
berfariasi, mulai dari rasa tertekan pada dada atas sampai nyeri hebat yang
disertai dengan rasa takut atau akna menjelang ajal. Nyeri sangat terasa pada dada
daerah belakang sternum atau sternum atas atau sternum ketiga tengahan meskipun
rasa nyeri biasanya terlokalisasi, namun nyeri tersebut dapat menyebar keleher, dagu,
bahu, dan aspek dalam ekstremitas atas.

3.2.SARAN
1. Mahasiswa diharapkan lebih memahami konsep dari penyakit angina pektoris
sebagai dasar dalam memberikan asuhan keperawatan yang berkualitas.
2. Mahasiswa harus mampu memberikan pengarahan dan motivasi pada keluarga
dengan klien yang menderita angina pektoris.

Angina Pectoris

Page 14

DESKRIPSI KASUS
Pak AG, sopir taksi berusia 57 tahun asal India, mendatangi apotek anda
dengan resep baru yaitu : gliceril trinitrat (GTN) spray 400 micrograms- satu atau dua
kali semprot bila perlu. Anda meletakkan spray nya dan berbicara dengannya dan ia
memberitahu Anda bahwa dokternya berpikir ia memiliki angina dan telah
memintanya untuk menggunakan spray tersebut sesaat setelah ia mendapat nyeri dada
ringan atau sesak. Anda memberitahu Pak AG bagaimana penggunaan spray yang
benar.
Pak AG kembali beberapa hari kemudian, mengeluh sakit kepala setelah
penggunaan spray tersebut. Dia enggan untuk menggunakan spray itu lagi. Dia
meminta saran Anda untuk mengatasi sakit kepalanya.Ia juga merokok sekitar lima
batang rokok seminggu dan bertanya apakah ia sekarang harus berhenti.

Penyelesaian dengan metode soap


Subjek :
Nama

Angina Pectoris

: Pak AG

Page 15

Umur
Jenis Kelamin
Gejala
Riwayat pengobatan

: 57 tahun
: Laki-Laki
: Nyeri dada ringan atau sesak dan Sakit kepala
: Gliceril trinitrat (GTN) spray 400 micrograms- satu atau
dua kali semprot bila perlu

Obyektif : Assesment :
Dari penjelasan kasus diatas dapat disimpulkan bahwa pasien mengalami
angina pectoris yaitu berdasarkan gejala yang dialami pasien dan pengobatan yang
diberikan oleh dokter kepada pasien yaitu gliseril trinitrat yang merupakan salah satu
golongan obat angina pectoris yakni golongan nitrat.
Untuk tipe angina pectorisnya sendiri kalau menurut saya pasien mengalami
angina pectoris stabil dan ini belum bisa dipastikan karena data objektifnya tidak
mendukung.
Plan :
A. Tujuan terapi :
Untuk mengatasi atau mencegah serangan akut angina pektoris, pencegahan
jangka panjang serangan angina.
B. Sasaran terapi
Relaksasi otot polos jantung, dilatasi pembuluh vena besar, dan
melebarkan pembuluh darah coroner dan menghilangkan gejala yang dialami
pasien.
C. Terapi Farmakologi
Diberikan terapi GTN spray dengan dosis 400 mcg sebanyak 1 semprot
dibawah lidah ketika merasa nyeri dan jika nyeri tidak berkurang bias
diitambah 1 semprot setelah 5 menit semprotan pertama. Pada saat
menggunakan sebaiknya pasien dalam kondisi tidak beraktifitas dan
boleh beraktiifitas kembali jika nyerinya sudah hilang.
Pasien direkomendasikan obat analgetik untuk mengatasi efek samping
dari GTN spray yaitu parasetamol dengan dosis 500 mg dengan
frekuensi maksimal sebanyak 3 kali sehari yang digunakan pada saat
pasien merasa sakit kepala hebat. Namun jika pasien merasa sudah tidak
sakit kepala lagi, maka obat tidak perlu diminum lagi. Sebaiknya

Angina Pectoris

Page 16

parasetamol ini diminum sesudah makan karena dapat mengiritasi


lambung.
D. Terapi non farmakologi
1. Pasien harus lebih bisa meningkatkan waktu istirahat yang cukup.
2. Pasien di anjurkan untuk melakukan pola hidup sehat dengan olahraga
ringan.
3. Pasien di anjurkan untuk melakukan diet Natrium dengan tujuan untuk
menstabilkan tekanan darah setelah menggunakan terapi GTN spray
4. Pada saat pasien merasa nyeri dan akan menggunakan obat, sebaiknya
pasien harus dalam kondisi tidak beraktifitas sampai nyeri yang dirasakan
hilang.
5. Pasien sebaiknya harus menghentikan kebiasaan merokok karena merokok
dapat mengakibatkan takikardia dan naiknya tekanan darah sehingga
memaksa jantung bekerja keras dan akhirnya angina bertambah parah.
6. Pasien harus mengurangi stress untuk menurunkan kadar adrenalin yang
dapat menimbulkan vasokontriksi pembuluh darah.
7. Hindari makanan yang berlemak, karena dapat membentuk plak didalam
pembuluh darah.
2.7. Pemilihan obat rasional dan evaluasi obat terpilih

2.7.1. Tepat Indikasi


Nama Obat

Indikasi

Mekanisme

Ket.

Gliceril
trinitrat

Profilaksis dan
pengobatan angina;
gagal jantung kiri.

Metabolisme obat pertama


kali melepaskan ion nitrit
(NO2-). Di dalam sel,
NO2-diubah menjadi nitrat
oksida (NO) yang
kemudian mengaktivasi
guanilat siklase, terjadi
peningkatan konsentrasi
guanosin monofosfat
siklik (cGMP) intraseluler
pada sel otot polos
vaskular sehingga terjadi
relaksasi otot polos,
termasuk arteri dan vena.

Tepat

Angina Pectoris

Page 17

Indikasi

Parasetamol

Untuk mengurangi
rasa nyeri ringan
sampai sedang,
seperti sakit kepala
serta menurunkan
demam

Menghambat
prostaglandin (mediator
nyeri) di otak tetapi sedikit
aktifitasnya sebagai
penghambat prostaglandin
perifer.

Tepat
Indikasi

2.7.2. Tepat Obat


Nama obat

Alasan sebagai drug of choise

Keterangan

Gliceril trinitrat Karena obat ini merupakan lini (pilihan) Tepat obat
pertama dalam pengobatan angina pectoris
dan pasien baru pertama kkali mengalami
angina pectoris tersebut.

Parasetamol

Khasiatnya lebih tepat untuk pasien dan


pasienpun tidak mengalami gangguan hati
dan kontraindikasi.

Tepat obat

2.7.3. Tepat Pasien


Nama obat

Kontraindikasi

Keterangan

Gliceril
trinitrat

Hipersensitivitas terhadap nitrat; hipotensi


atau hipovolemia; kardiopati obstruktif
hipertrofik, stenosis aorta, tamponade
jantung, perikarditis konstruktif, stenosis
mitral; anemia berat, trauma kepala,
perdarahan otak glaukoma sudut sempit

Tepat pasien

Parasetamol

Gagal ginjal dan hati

Tepat pasien

Angina Pectoris

Page 18

2.7.4. Tepat Dosis


Nama obat

Dosis standar

Dosis yang
diberikan

Ket.

Gliceril
trinitrat

Sublingual atau semprot


0.3 -1 mg bila perlu
diulang.

400 mcg sebanyak 1


semprot dibawah
lidah ketika merasa
nyeri dan jika nyeri
tidak berkurang bisa
diitambah 1 semprot
setelah 5 menit
semprotan pertama.

Tepat

Parasetamol

Nyeri dan demam oral 2-3


dd 0,5-1 g, maksimum 4
g/hari, pada penggunaan
kronis maksimum 2,5
g/hari. Anak-anak : 4-6 dd
10mg/kg.

dosis

3 dd 1 tablet @500
mg
Tepat
dosis

2.7.5. Waspada Efek samping Obat


Nama obat

Efek samping

Saran

Gliceril
trinitrat

Sakit kepala berdenyut, muka


merah, pusing, hipotensi
postural, takikardi (dapat
terjadi bradikardi
paradoksikal).

Disarankan unuk
menggunakan obat untuk
mengatasi efek samping
yang akan timbul akibat
pengggunaan obat ini,
tetapi jika efek sampingnya
telah hilang hentkan
penggunaan obatnya.

Parasetamol

Reaksi kulit, hematologis dan


reaksi alergi lainnya.

Angina Pectoris

Page 19

Hubungi segera dokter jika


terjadi reaksi alergi

2.8. Komunikasi, informasi dan edukasi


1. Memberikan informasi tentang obat baik mengenai nama obat, dosis, aturan pakai
dan cara penggunaan obat.
2. Memberikan informasi, instruksi, dan peringatan kepada pasien dan keluarganya
tentang efek terapi dan efek samping yang mungkin timbul selama pengobatan.
3. Memberikan edukasi kepada pasien untuk meminum obat sesuai jadwal yang
diberitahukan oleh dokter atau petugas kesehatan lain
4. Memberikan edukasi kepada pasien untuk menjadikan pola hidup sehat dalam
dirinya seperti tidak merokok maupun minuman beralkohol.
5. Memberikan edukasi kepada pasien untuk mengkonsumsi makanan yang sehat , tidak
berlemak/ tidak mengandung kolestrol yg tinggi serta diet natrium.
6. Memberikan edukasi kepada pasien untuk istirahat yang cukup serta olahraga ringan
yang teratur serta mengurangi aktifitas yang berat hinga memicu stress.
2.9. Monitoring
1. EKG : keadaan Istirahat EKG normal pada 25 % pasien angina pectoris
2. Fhoto Thorax : biasanya normal, namun infiltrate mungkin ada menunjukan
dekompesasi jantung atau paru-paru
3. Tekanan Darah
4. Angiografi koroner : cara yang paling akurat, untuk untuk menentukan beratnya
penyakit koroner, dilakukan pada penderita angina stabil yang kronik
5. Test Lab : SGOT, SGPT, LDH, CKMB : tidak ada penyimpangan (normal)
6. Kadar lipid, trigliserid dan kolesterol : mungkin meningkat
7. Treadmill

DAFTAR PUSTAKA
Barbara C Long, 2006. Perawatan Medikal Bedah,Edisi II, Yayasan ikatan
alumni pendidikan keperawatan padjajaran, Bandung.
Drs. Syaufuddin, A.Mk . 2006 . Anatomi Fisiologi untuk Mahasiswa
Keperawatan . edisi 3 . Jakarta : EGC.

Angina Pectoris

Page 20

Kumar,dkk. 2007. Buku Ajar Patologi Robbins. Jakarta: EGC Sjaifoelah


Noor, 2001. Buku Ajar Penyakit Dalam. Jakarta : Balai Pustaka.
Smaltzer, Susanna . 2001 . Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah . E&. 8
.Jakarta : EGC.
Sudoyo, Aru W. 2009. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta : Interna
Publishing.
Udjianti, Juni Wajan . 2010 . Keperawatan Kardiovaskular . Jakarta : Salemba
Medika.
(Brunner and Suddarth, KMB, Edisi 8, Volum 2, hal 779)
(Marilynn E. Doenges, Edisi 3, EGC, hal 73 74)

Angina Pectoris

Page 21