Anda di halaman 1dari 14

STUDI KASUS

PRAKTIK FARMASI RUMAH SAKIT


RHINITIS ALERGI

Disusun oleh :
Riska Narulita P.

1620313362

Riski Kusumasuti L.

1620313363

Rizka Wida Yanti

1620313364

PROGRAM STUDI PROFESI APOTEKER


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS SETIA BUDI
2016

A. PENDAHULUAN
Rongga hidung dilapisi oleh mukosa yang secara histologik dan fungsional dibagi atas
mukosa pernapasan (mukosa respiratori) dan mukosa hidung (mukosa olfaktori). Mukosa
pernapasan terdapat pada sebagian besar pada rongga hidung dan permukaannya dilapisi oleh
epitel torak berlapis semu (pseudo stratified columnar ephitelium) yang mempunyai silia dan
diantaranya terdapat sel-sel goblet.
Alergi rinitis didefenisisikan sebagai inflamasi pada hidung yang ditandai oleh bersin,
rinorea, dan sumbatan pengeluaran cairan hidung terkait dengan gatal konjungtiva dan
sinusitis. Alergi rinitis memiliki dua tipe yakni alergi rinitis musiman terjadi sebagai respon
terhadap alergen spesifik seperti pemaparan polen (serbuk sari bunga) yang ada pada waktu
tertentu dalam setahun (misalnya saat musim semi) dan secara tipikal menyebabkan gejala
yang lebih akut. Alergi perenial terjadi sepanjang tahun sebagai respon terhadap alergen
seperti bulu/kutu hewan dan menyebabkan gejala yang tersembunyi dan kronik. Sejumlah
pasien mengalami kedua tipe, dengan gejala sepanjang tahun dan memburuk pada musim
tertentu (Sukandar, et.al., 2009: 476).
Klasifikasi rhinitis alergi menurut guideline ARIA (2001)
Intermitten

Berdasarkan lamanya terjadi gejala


Kurang dari 4 hari seminggu, atau kurang dari 4 minggu setiap

Persisten

saat kambuh
Lebih dari 4 hari seminggu, atau lebih dari 4 minggu setiap

Ringan

kambuh
Berdasarkan keparahan dan kualitas hidup
Tidak mengganggu tidur, aktivitas harian, olahraga, sekolah, atau
pekerjaan

Sedang-Berat

Tidak ada gejala yang mengganggu


Mengganggu tidur
Mengganggu aktivitas harian, kesenangan atau olahraga, sekolah
atau pekerjaan
Gejala yang mengganggu

B. Patofisiologi
Reaksi alergi pada hidung dimediasi oleh respon antigen-antibodi, selama alergen
berinteraksi dengan molekul IgE spesifik terikat pada sel mast dan basofil hidung. Seseorang

yang mengalami alergi, sel-sel ini meningkat baik dalam jumlah dan reaktivitas. Selama
inhalasi, alergen udara masuk hidung dan diproses oleh limfosit, yang menghasilkan antigenIgE spesifik. IgE terikat pada sel mast berinteraksi dengan udara alergen, memicu pelepasan
mediator inflamasi.

Gambar di atas menjelaskan tentang sensitisasi alergen sensitisasi dan respon alergi.
Gambar (A) Paparan antigen (pollen) yang merangsang produksi IgE dan sensitisasi sel mast
dengan antigen-antibodi IgE spesifik. Gambar (B) Paparan antigen yang sama akan
menghasilkan reaksi alergi ketika mediator pada sel mast dilepaskan (DiPiro, et.al., 2008:
1599).
Pasien dengan rhinitis alergi biasanya mengeluh rinorea, bersin, hidung tersumbat, dan
pruritus mata, telinga, hidung, atau langit-langit. Gejala alergi konjungtivitis berhubungan
lebih sering dengan rhinitis alergi musiman, karena mayoritas alergen perenial, seperti tungau
dan debu berada di dalam ruangan di mana kecepatan udara yang terlalu rendah. Gejala
sekunder untuk reaksi akhir, terutama hidung tersumbat, mulai 3 sampai 5 jam setelah
paparan antigen dan puncak pada 12 sampai 24 jam. Gejala berikutnya, baik alergi dan iritasi.
ketika mukosa hidung sudah meradang, paparan dosis kecil serbuk sari atau iritasi
memunculkan respon klinis yang lebih cepat.
Penyebab Rhinitis alergi dapat diketahui dari riwayat medis, pemeriksaan fisik, dan tes
diagnostik tertentu. Riwayat medis terdiri dari deskripsi gejala, faktor lingkungan dan hasil
terapi sebelumnya, menggunakan obat lain, cedera hidung sebelumnya, operasi pada hidung
sebelumnya, sejarah keluarga, dan adanya masalah lain. Identifikasi penyebab alergen
spesifik mungkin sulit. Sebagai contoh, reaksi yang disebabkan oleh menyabit
rumput mungkin tidak disebabkan oleh serbuk sari rumput, tetapi oleh gangguan berbagai

gulma atau tanaman lain di halaman. dengan abadi rhinitis alergi, penyebab kurang jelas,
membuat diagnosis lebih sulit.
Tidak hanya rhinitis alergi yang memberatkan, juga sering menyebabkan komplikasi
lebih lanjut, terutama jika pasien tidak menerima perawatan yang memadai. Gejala rhinitis
tidak diobati dapat menyebabkan tidur terganggu, malaise kronis, kelelahan, dan kerja yang
buruk. sinusitis kronis merupakan komplikasi relatif umum rhinitis alergi. Penurunan
produksi air oleh kelenjar serosa, meninggalkan sel-sel rambut yang terperangkap dalam
lapisan lendir tebal. Hal ini sangat mengurangi klirens bakteri yang terperangkap dan menjadi
tempat berkembang biak yang ideal untuk bakteri.
C. Terapi Farmakologi
a. Antihistamin-H1 oral
Antihistamin-H1 oral bekerja dengan memblok reseptor H1 sehingga mempunyai
aktivitas anti alergi. Obat ini tidak menyebabkan takifilaksis. Antihistamin-H1 oral
dibagi menjadi generasi pertama dan kedua. Generasi pertama antara lain
klorfeniramin

dan

difenhidramin,

sedangkan

generasi

kedua

yaitu

setirizin/levosetirizin dan loratadin/desloratadin.


Generasi terbaru antihistamin-H1 oral dianggap lebih baik karena mempunyai
rasio efektifitas/keamanan dan farmakokinetik yang baik, dapat diminum sekali
sehari, serta bekerja cepat (kurang dari 1 jam) dalam mengurangi gejala hidung dan
mata, namun obat generasi terbaru ini kurang efektif dalam mengatasi kongesti
hidung.
Efek samping antihistamin-H1 generasi pertama yaitu sedasi dan efek
antikolinergik. Sedangkan antihistamin-H1 generasi kedua sebagian besar tidak
menimbulkan sedasi, serta tidak mempunyai efek antikolinergik atau kardiotoksisitas.
Antihistamin-H1 lokal (misalnya azelastin dan levokobastin) juga bekerja dengan
memblok reseptor H1. Azelastin mempunyai beberapa aktivitas anti alergik.
Antihistamin-H1 lokal bekerja sangat cepat (kurang dari 30 menit) dalam mengatasi
gejala hidung atau mata. Efek samping obat ini relatif ringan. Azelastin memberikan
rasa pahit pada sebagian pasien.

b. Kortikosteroid

Kortikosteroid intranasal (misalnya beklometason, budesonid, flunisolid,


flutikason, mometason, dan triamsinolon) dapat mengurangi hiperreaktivitas dan
inflamasi nasal. Obat ini merupakan terapi medikamentosa yang paling efektif bagi
rinitis alergik dan efektif terhadap kongesti hidung. Efeknya akan terlihat setelah 6-12
jam, dan efek maksimal terlihat setelah beberapa hari.
Kortikosteroid topikal hidung pada anak masih banyak dipertentangkan karena
efek sistemik pemakaian lama dan efek lokal obat ini. Namun belum ada laporan
tentang efek samping setelah pemberian kortikosteroid topikal hidung jangka panjang.
Dosis steroid topikal hidung dapat diberikan dengan dosis setengah dewasa dan
dianjurkan sekali sehari pada waktu pagi hari. Obat ini diberikan pada kasus rinitis
alergik dengan keluhan hidung tersumbat yang menonjol. Steroid topikal tidak boleh
digunakan pada pasien dengan ulkus septum hidung atau baru saja melakukan operasi
hidung atau trauma.
Kortikosteroid oral/IM (misalnya deksametason, hidrokortison, metilprednisolon,
prednisolon, prednison, triamsinolon, dan betametason) poten untuk mengurangi
inflamasi dan hiperreaktivitas nasal. Pemberian jangka pendek mungkin diperlukan.
Jika memungkinkan, kortikosteroid intranasal digunakan untuk menggantikan
pemakaian kortikosteroid oral/IM. Efek samping lokal obat ini cukup ringan, dan efek
samping sistemik mempunyai batas yang luas. Pemberian kortikosteroid sistemik tidak
dianjurkan untuk rinitis alergik pada anak. Pada anak kecil perlu dipertimbangkan
pemakaian kombinasi obat intranasal dan inhalasi.
c. Kromon lokal (local chromones)
Kromon lokal (local chromones), seperti kromoglikat dan nedokromil,
mekanisme kerjanya belum banyak diketahui. Kromon intraokular sangat efektif,
sedangkan kromon intranasal kurang efektif dan masa kerjanya singkat. Efek samping
lokal obat ini ringan dan tingkat keamanannya baik.
Obat semprot hidung natrium kromoglikat sebagai stabilisator sel mast dapat
diberikan pada anak yang kooperatif. Obat ini biasanya diberikan 4 kali sehari dan
sampai saat ini tidak dijumpai efek samping.
d. Dekongestan
Dekongestan oral seperti efedrin, fenilefrin, dan pseudoefedrin, merupakan obat
simpatomimetik yang dapat mengurangi gejala kongesti hidung. Penggunaan obat ini

pada pasien dengan penyakit jantung harus berhati-hati. Efek samping obat ini antara
lain hipertensi, berdebar-debar, gelisah, agitasi, tremor, insomnia, sakit kepala,
kekeringan membran mukosa, retensi urin, dan eksaserbasi glaukoma atau
tirotoksikosis. Dekongestan oral dapat diberikan dengan perhatian terhadap efek
sentral. Pada kombinasi dengan antihistamin-H1 oral efektifitasnya dapat meningkat,
namun efek samping juga bertambah.
Dekongestan intranasal (misalnya epinefrin, naftazolin, oksimetazolin, dan
xilometazolin) juga merupakan obat simpatomimetik yang dapat mengurangi gejala
kongesti hidung. Obat ini bekerja lebih cepat dan efektif daripada dekongestan oral.
Penggunaannya harus dibatasi kurang dari 10 hari untuk mencegah terjadinya rinitis
medikamentosa. Efek sampingnya sama seperti sediaan oral tetapi lebih ringan.
Pemberian vasokonstriktor topikal tidak dianjurkan untuk rinitis alergik pada
anak di bawah usia l tahun karena batas antara dosis terapi dengan dosis toksis yang
sempit. Pada dosis toksik akan terjadi gangguan kardiovaskular dan sistem saraf pusat.
e. Antikolinergik intranasal
Antikolinergik intranasal (misalnya ipratropium) dapat menghilangkan gejala
beringus (rhinorrhea) baik pada pasien alergik maupun non alergik. Efek samping
lokalnya ringan dan tidak terdapat efek antikolinergik sistemik. Ipratropium bromida
diberikan untuk rinitis alergik pada anak dengan keluhan hidung beringus yang
menonjol.
f. Anti-leukotrien
Anti-leukotrien, seperti montelukast, pranlukast dan zafirlukast, akan memblok
reseptor CystLT, dan merupakan obat yang menjanjikan baik dipakai sendiri ataupun
dalam kombinasi dengan antihistamin-H1 oral, namun masih diperlukan banyak data
mengenai obat-obat ini. Efek sampingnya dapat ditoleransi tubuh dengan baik.

D. Terapi Non-farmakologi
a. Imunoterapi
Imunoterapi disebut pula desensitisasi merupakan proses yang lambat dan bertahap
dengan menginjeksikan alergen yang diketahui memicu reaksi alergi pada pasien
dengan dosis yang semakin meningkat. Tujuannya adalah agar pasien mencapai

peningkatan toleransi terhadap alergen, sampai dia tidak lagi menunjukkan reaksi
alergi jika terpapar oleh senyawa tersebut. Terapi dilakukan sampai pasien dapat
mentoleransi alergen pada dosis yang umumnya dijumpai pada paparan alergen.
Namun, terapi ini terbilang mahal dan butuh waktu lama, serta membutuhkan
komitmen yang besar dari pasien.
b. Menghindari faktor pemicu terjadinya alergi seperti debu, pollen, dan bulu/kutu
hewan.
E. PENYELESAIAN KASUS
KASUS 4 Allergic and Pseudoallergic Drug
Nn.A adalah wanita 19 tahun, mengeluh pada dokternya gejala ganguan pernapasan atas.
Gejala telah terjadi dari sejak dia masih kecil, memburuk pada musim gugur dan berkurang di
musim semi. Namun, gejala tersebut terus berlangsung selama 7 bulan terakhir. Selain itu,
telah timbul gatal, mata berair yang tidak terjadi pada gejala rhinitis yang dialami di masa
lampau. Dia tidak mengalami demam dan sakit tenggorokan, tetapi dia mengalami batuk
nonproduktif sesekali yang memburuk pada malam hari.
Riwayat Penyakit Sebelumnya
Allergic rhinitis 14tahun
Tonsillectomy and adenoidectomy pada usia 8 tahun
Anterior cruciate ligament reconstruction pada usia 16 tahun
Sinusitis 5 bulan yang lalu
Riwayat Penyakit Keluarga
Ayah berusia 43 tahun, dengan sejarah hiperlipidemia. Ibu berusia 39 tahun, dengan riwayat
penyakit depresi. Kakak berusia 17tahun, asma persisten sedang, dan adik usia 14 tahun,
dengan alergi rhinitis.
Riwayat Sosial
Tinggal di rumah dengan 3 kamar tidur yang terbuat dari beton bersama dua teman sekamar.
Dia telah tinggal di sana selama sekitar 9 bulan. Salah satu teman sekamar merokok, tetapi
tidak di dalam rumah. Salah satu teman sekamarnya memiliki kucing yang tinggal di dalam
ruangan. Agustus lalu (sekitar 8 bulan yang lalu) Nn.A mulai mengikuti kuliah keperawatan

disebuah Universitas. Nn.A bermain sepak bola dan basket di Universitas dan bertanding
secara local dan regional di triathlon.

Riwayat Pengobatan
Tavist 1 tablet po BID
Oxymetazoline semprot hidung PRN di malam hari (sekali atau dua kali seminggu)
Ekstrak Butterbur 1 kapsul p.o. BID
Alergi
Kodein (gatal)
Review Sistem
Mengaku sakit kepala sesekali tetapi tidak sesak napas, mengi, nyeri dada, atau perut tidak
nyaman
Pemeriksaan fisik
Penampakan secara umum
Pasien adalah seorang wanita muda yang tampak lelah dengan daerah gelap di bawah mata.
Suaranya terdengar bindeng dan terus menggosok hidung dan matanya.
Tanda Vital
BP 102/62, P 64, RR 14, T 36.9C; Wt 114 lb, Ht 5'4''
Head, eyes, ears, nose, throat
NC / AT; PERRLA; EOMI. Chemosis dan injeksi konjungtiva. Edema periorbital dan
perubahan warna.TM utuh.Membran mucosa hidung dan turbinates bengkak dan pucat tanpa
epistaksis. Tidak ada nyeri tekan di atas sinus frontal dan maksila. Tidak ada lesiorofaringeal,
dan tenggorokan tidak mengalami eritematosa.

FORM DATA BASE PASIEN


UNTUK ANALISIS PENGGUNAAN OBAT
IDENTITAS PASIEN
Nama

: Nn. A

Umur

: 19 Tahun

Pekerjaan

: Mahasiswa

Sosial

: Aktif bermain sepak bola dan basket kampus

Riwayat penyakit terdahulu


-

Allergic rhinitis pada usia14tahun

Tonsillectomy and adenoidectomy pada usia 8 tahun

Anterior cruciate ligament reconstruction pada usia 16 tahun

Sinusitis 5 bulan yang lalu

Riwayat Sosial
Kegiatan
Merokok

Keterangan
Tidak

Berolahraga

Ya

Berinteraksi dengan hewan peliharaan


(kucing)

Ya

Riwayat Alergi : Alergi terhadap kodein (gatal)


Keluhan / Tanda Umum
Tanggal
Saat ini

Subyektif
Gatal
Mata berair
batuk nonproduktif
Sakit kepala
Mengi

Obyektif
Blood Pressure: 102/62 (normal
120/80)
P 64 (
Respiratory Rate: 14
Suhu tubuh: 36.9C

nyeri dada
Perut tidak nyaman
tampak lelah dengan daerah
gelap di bawah mata
Suaranya terdengar bindeng
Terus menggosok hidung dan
matanya.

Weight: 114 lb
Height: 5'4''

Riwayat Penyakit Dan Pengobatan


NAMA PENYAKIT
Rhinitis Alergi

TANGGAL/TAHUN
Selama 7 bulan

NAMA OBAT
Tavist 1 tablet po BID
Oxymetazoline
semprot
hidung PRN di malam hari
(sekali atau dua kali
seminggu)

Tonsillectomy and
adenoidectomy

Pada usia 8 tahun

Ekstrak Butterbur 1 kapsul


p.o. BID
-

Anterior cruciate
ligament reconstruction

Pada usia 16 tahun

Pada 5 bulan yang lalu

Sinusitis 5 bulan yang


lalu

OBAT YANG DIGUNAKAN SAAT INI


No

Nama obat

Indikasi
Antihistamin,
anti alergi,

1
Tavist 1 tab
(Clemastin)

dematosis,
dermatisis,
eksim akut

Oxymetazoline
semprot

dan kronis
Kongesti nasal

Dosis

Rute
pemberian

ES/Efek
Interaksi

Obat
sesak dada;

1mg 2x
sehari. Anak
dibawah 1

Menghambat
Oral

thn tidak

MAO, sedatif,
hipnotik, alkohol

dianjurkan.
0,5 mg/mL

Nasal spray

merugikan

Outcome
terapi

mengi;
hidung

Anti alergi,

tersumbat;

antihistamin

depresi
pernafasan.
Sakit

Mengurangi

kepala,

gang.

bersin-

Obstruksi

bersin,

saluran nafas

insomnia.
Gangguan
saluran
pernapasan,

Ekstrak
3

butterbur 1
kapsul

Mengatasi

terutama

25 mg ektrak

untuk batuk,

2x sehari

Oral

batuk rejan
bronkial

ASSESMENT
Subyektif

Medik
Rhinitis alergi

Obyektif

Terapi

DRP

Timbul gatal

Clemastine

ADR: Efek sedasi

pada hidung dan

(Tavist)

yang tinggi

mata, mata

1 tablet po.BID

(antagonis H1

berair, tampak

nonselektif)

lelah dengan
daerah gelap di
bawah mata,

Ekstrak

IDS: obat ini

suaranya

Butterbur

memiliki efek

terdengar

1 kapsul po.BID

yang sebanding

bindeng

dengan
antihistamin, tidak
untuk digunakan
bersama dengan

Batuk

Batuk

obat antihistamin
Indikasi yang

Nonproduktif
Membran

nonproduktif
-

Oksimetazoline

tidak diobati
IDS:

Spray PRN

Menyebabkan

mukosa hidung
bengkak
Nyeri dada

rhinitis
-

musiman dan
parenial

dan asma

Problem

rinitis alergi

medikamentosa
Indikasi yang
tidak diobati

CARE PLAN

Terapi Non Farmakologi


Jauhkan diri dari jangkau binatang yang dapat mengakibatkan terjadinya rhinitis alergi
seperti kucing.

Terapi Farmakologi

Obat

Dosis

Indikasi

Loratadine

1 kapsul
1x/hari

Pseudoefedr
in

60 mg,
3-4 kali
sehari

Gejala yang
berhubungan
dengan rhinitis
alergi, pilek,
bersin, gatal
pada hidung,
gatal &
terbakar pada
mata, urtikaria
kronik,
penyakit
dermatologik
alergi lain
Meringankan
gejala bersinbersin &
hidung
tersumbat
karena pilek

Dextrometh
orphan

30 mg
setiap 8
jam

Meredakan
batuk yang
tidak berdahak

Kontraindika
si
Hipersensitif
atau punya
riwayat
idiosinkrasi
terhadap
komponen
obat ini

Interaksi
Obat
Mengurangi
reaksi positif
terhadap
indikator
reaktivitas
dermal pada
uji kulit

Efek
Samping
Sedasi, lesu,
sakit kepala,
mulut kering.

Outcome
terapi
Mengurangi
gejala
rhinitis
seperti
bersinbersin, gatal
hidung
berair dan
gejala pada
mata (gatal
dan merah)

Gangguan KV
berat,
takikardi,
hipertensi, DM
berat,
tirotoksikosis,
pembesaran
prostat,
glaukoma
sudut sempit
Hipersensitif
terhadap
Dextromethorp
han HBr. Pada
wanita hamil.

Obat
penyekat ,
alkohol,
depresan
SSP, alkaloid
Rauwolfia,
metildopa,
MAOI

Lelah,
mengantuk,
pusing, sakit
kepala.
Kadangkadang:
gangguan GI,
gelisah.

Melegakan
hidung yang
tersumbat

Dengan
MAO
inhibitor
pernah
dilaporkan
dapat
menyebabkan
nausea,koma,
hipotensi dan
hiperpireksia

Pusing,
mengantuk,
mual,
konstipasi.Pa
da dosis
tinggi dapat
terjadi
depresi
pernapasan

Mengurangi
batuk
nonprodukti
f

Budesonid

1 kapsul
3x/hari

Merangsang
terjadinya
remisi pada
pasien
penyakit
Crohn ringan
s/d sedang
yang
melibatkan
ileum & atau
kolon
desenden

Infeksi lokal
intestinal, bayi,
anak kecil,
gangguan
fungsi hati
berat

Vaksin virus
hidup,
glikosida
jantung,
diuretik
hemat K,
ketokonazol,
troleandromis
in,
eritromisin,
siklosporin,
simetidin,
kolestiramin

Eksantema
alergi, striae
merah,
petekie,
ekimosis,
akne steroid,
penyembuha
n luka
lambat,
melambatnya
respon imun

Mencegah
serangan
asma

Monitoring
Pada penyakit rhinitis alergi yang perlu dilakukan adalah menjaga pola hidup. Pasien
harus dapat menjaga lingkungan tempat tinggal dan pekerjaannya dari hal-hal yang dapat
memicu rhinitis alerginya seperti pollen, debu, bulu/kutu hewan peliharaan.
Obat-obat yang digunakan untuk mencegah gejala yang muncul dapat dihentikan bila
kondisi pasien sudah membaik.
Obat dekongestan oral yang dapat menyebabkan hipertensi, perlu dipantau tekanan darah
pasien.

F. KESIMPULAN
Penggunaan obat Tavis (clemastin) menimbulkan efek sedasi sehingga diganti dengan
antihistamin, obat dengan golongan yang sama tapi efek sedatif dan antikolinergiknya relatif
kecil seperti loratadin 1 tablet 10 mg 1 x sehari. Ekstrak buterbur tidak diberikan karena
mempunyai indikasi yang sama dengan tavis. Penggunaan oksimetazolin (dekongestan
topikal) dapat menyebabkan rhinitis medikamentosa bila digunakan lebih dari 3-5 hari,
sehingga diganti dengan pseudoefedrin 60 mg, 3-4 kali sehari. Dekstrometorfan sebagai
antitusif digunakan 30 mg setiap 8 jam, bila gejala batuk sudah reda, maka penggunaan
dihentikan. Serta diberikan Budesonid 1 kapsul 3x/hari untuk mengobati nyeri dada sehingga
dapat mencegah serangan asma yang tidak diinginkan.

DAFTAR PUSTAKA
Alldredge, B.K., Corelli, R.L., dan Ernst, M.E., 2009. Koda-Kimble and Youngs Applied
Therapeutics: The Clinical Use of Drugs. Lippincott Williams & Wilkins.
Carpenito, Lynda Juall.2009. Diagnosis Keperawatan Aplikasi Pada Praktik Klinis Edisi 9.
Jakarta : EGC.
Dezugman, MD., et.al., Allergic Rhinitis Guidline for Clinical Care. 2013. Michigan:
University of Michigan.
Dipiro, Joseph T., Pharmacotherapy: A Pathophysiologic Approach. 7th Edition. 2008. New
York: Mc. Graw Hill Medical.
Doengoes, Mariliynn E. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan, Jakarta : EGC.
Heryati, Euis. 2009. Makalah cerdas mengenali penyakit dan obat. Universitas pendidikan
indonesia. Bandung.
Medscape WebMD. Applcation and Database Version. 2015. Tanggal akses 27 Februari 2016
Price, Sylvia. 2005. Patofisiologis : Konsep Klinis Proses-proses Penyakit. Jakarta : EGC.
Supriyatna, et.al., Fitoterapi Sistem Organ. 2014. Yogyakarta: Deepublish.