Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Hubungan antara psikis (jiwa) dan soma (badan) telah menjadi perhatian para ahli dan para
peneliti sejak dahulu. Keduanya (psikis dan soma) saling terkait secara erat dan tidak bisa
dipisahkan antara satu dengan lainnya. Kedua aspek saling mempengaruhi yang selanjutnya
tercermin dengan jelas dalam ilmu kedokteran psikosomatik.1
Secara umum gangguan ini digambarkan sebagai satu atau lebih factor psikologis atau
masalah perilaku yang secara jelas memperburuk perjalanan atau hasil kondisi medis secara
umum.2 Di masa prasejarah mesyarakat percaya bahwa penyakit disebabkan oleh kekuatan roh
jahat/setan. Oleh karena itu pengobatannya harus dilakukan dengan mantera-mantera. Di masa
peradaban kuno kemudian dipercaya bahwa pikiran memiliki kekuatan besar untuk
mempengaruhi badan, sehingga gangguan pada badan tidak bisa disembuhkan tanpa mengobati
kepalanya (pikiran).1
Dalam perkembangannya tidak hanya aspek fisis dan psikis saja yang menjadi titik
perhatian, tetapi juga aspek spiritual (agama) dan lingkungan merupakan factor yang harus
diperhatikan untuk mencapai keadaan kesehatan yang optimal. Hal ini sesuai dengan definisi
WHO tentang pengertian sehat yang meliputi kesehatan fisis, psikologis, social dan spiritual.
Jadi mempunyai 4 dimensi yaitu bio-psiko-sosio-spiritual.
Dalam pengertian kedokteran psikosomatik secara luas, aspek bio-psiko-sosio-spiritual
tersebut sangat perlu dipahami untuk melakukan pendekatan dan pengobatan terhadap pasien
secara holistic (menyeluruh) dan elektik (rinci) yaitu pendekatan psikosomatik. 1 Dalam
pandangan kedokteran psikosomatis, yaitu interdisiplin beberapa cabang kedokteran yang
mempelajari penyakit penyakit psikosomatis yang sekarnag lebih tertuju kepada penyakit
penyakit psiko- fisiologis, memandangnya sebagai suatu gangguan yang gejalanya lebih
disebabkan oleh proses mental dari penyebab fisiologis secara langsung.2

BAB II
ISI
B. DEFINISI
Psikosomatis berasal dari dua kata yaitu psiko yang artinya psikis, dan somatis yang
artinya tubuh. Dalam Diagnostic And Statistic Manual Of Mental Disorders edisi ke empat
(DSM IV) istilah psikosomatis telah digantikan dengan kategori diagnostik faktor psikologis
yang mempengaruhi kondisi medis. Menurut Wittkower psikosomatis secara luas didefinisikan
sebagai usaha untuk mempelajari interelasi aspek-aspek psikologis dan aspek-aspek fisis semua
faal jasmani dalam keadaan normal maupun abnormal. Ilmu ini mencoba mempelajari,
menemukan interelasi dan interaksi antara fenomena kehidupan psikis (jiwa) dan somatis (raga)
dalam keadaan sehat maupun sakit.1
Menurut JC. Heinroth yang dimaksud dengan gangguan psikosomatik adalah adanya
gangguan psikis dan somatic yang meninjol dan tumpang tindih. Berdasarkan pengertian dan
kenyataan diatas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengnan gangguan psikosomatik
adalah gangguan atau penyakit yang ditandai oleh keluhan-keluhan psikis dan somatic yang
dapat merupakan kelainan fungsional suatu organ dengan ataupun tanpa gejala objektif dan dapat
pula bersamaan dengan kelainan organic/structural yang berkaitan dengan stressor atau peristiwa
psikososial tertentu.1
Gangguan fungsional yang ditemukan bersamaan dengan gangguan structural organis
dapat berhubungan sebagai berikut :

Gangguan fungsional yang lama dapat menyebabkan atau mempengaruhi timbulnya


gangguan structural seperti asma bronchial, hipertensi, penyakit jantung koroner, arthritis

rheumatoid dan lain-lain.


Gangguan atau kelainan structural dapat menyebabkan gangguan psikis dan
menimbulkan gejala-gejala gangguan fungsional seperti pada pasien penyakit jantung,

penyakit kanker, gagal ginjal dan lain-lain.


Gangguan fungsional dan structural organic berada bersamaan oleh sebab yang berbeda.
Dalam kenyataannya, di klinik jarang sekali factor psikis/emosi seperti frustasi, konflik,

ketegangan dan sebagainya dikemukakan sebagai keluhan utama oleh pasien. Justru keluhankeluhan fisis yang beraneka ragam yang selalu ditonjolkan oleh pasien. Keluhan-keluhan yang
dirasakan pasien umumnya terletak dibidang penyakit dalam seperti keluhan system
2

kardiovaskuler, system pernapasan, saluran cerna, saluran urogenital dan sebagainya. Keluhankeluhan tersebut adalah manifestasi adanya ketidakseimbangan system saraf otonom vegetative,
seperti sakit kepala, pusing, serasa mabuk, cenderung untuk pingsan, banyak keringat, jantung
berdebar-debar, sesak napas, gangguan pada lambung dan usus, diare, anoreksia, kaki dan tangan
dingin, kesemutan, merasa panas atau dingin seluruh tubuh dan banyak lagi gejala lainnya.1,2
KLASIFIKASI
Kriteria diagnostik DSM-IV-TR untuk faktor psikologis yang memengaruhi keadaan medis ditunjukkan
di dalam Tabel 1. Yang tidak termasuk adalah:
1. Gangguan jiwa klasik yang memiliki gejala fisik sebagai bagian dari gangguan (contoh, gangguan
konversi, yaitu gejala fisik ditimbulkan oleh konflik psikologis);
2. Gangguan somatisasi, yaitu gejala fisik tidak didasari oleh patologi organik;
3. Hipokondriasis, yaitu pasien memiliki kepedulian yang berlebihan dengan kesehatan mereka;
4. Keluhan fisik yang sering dikaitkan dengan gangguan jiwa (contoh, gangguan distimik yang
biasanya memiliki penyerta somatik, seperti kelemahan otot, astenia, lelah, dan keletihan); serta
5. Keluhan fisik yang dikaitkan dengan gangguan terkait-zat (contoh, batuk dikaitkan dengan
ketergantungan nikotin).1

PATOMEKANISME
Patofisiologi timbulnya kelainan fisis yang berhubungan dengan gangguan psikis/emosi
belum seluruhnya dapat diterangkan namun sudah terdapat banyak bukti dari hasil penelitian
para ahli yang dapat dijadikan pegangan. Gangguan psikis / konflik emosi yang menimbulkan
gangguan psikosomatik ternyata diikuti oleh perubahan-perubahan fisiologis dan biokimia pada
tubuh seseorang. Perubahan fisiologis ini berkaitan erat dengan adanya gangguan pada system
saraf autonom vegetative, system endokrin dan system imun.1
Psikologi di pengaruhi oleh organ- organ tubuh melalui kombinasi dari saraf, hormone dan
imunologi. Gerakan volunteer di dasari oleh motor neuron melalui perintah otak secara sadar.
Misalnya menggerakan lutut saat duduk, ketika

terjadi stress hal ini akan terjadi secara

involunter dan tidak di sadari. Stres itu sendiri didasari oleh aktivasi dari saraf simpatis dan
hypotalamo-pituitary-adrenal axis. 3
Patofisiologi gangguan pada psikosomatik dapat diterangkan melalui beberapa teori sebagai
berikut :
a. Teori stress
3

Pada tahun 1920, Walter Cannon melakukan studi sistematik pertama mengenai
hubungan stress dengan penyakit. Ia menunjukkan bahwa perangsangan system saraf otonom
memudahkan organism untuk respons fight or flight yang ditandai dengan hipertensi,
takikardia dan meningkatnya curah jantung. Hal ini berguna pada hewan yang dapat melawan
atau lari, tetapi pada orang yang tidak dapat melakukannya karena beradab, stress berikutnya
menimbulkan penyakit (contoh : hipertensi yang dihasilkan).2
Pada tahun 1950-an, Harold Wolff (1899-1962) mengamati bahwa fisiologi saluran
gastrointestinal tampak berhubungan dengan keadaan emosional yang khusus. Hiperfungsi
terkait dengan permusuhan dan hipofungsi dengan kesedihan. Wolff menganggap reaksi
tersebut tidak spesifik, mengingat bahwa reaksi pasien ditentukan oleh situasi kehidupan
umum dan penilaian persepsi terhadap peristiwa yang menimbulkan stress.
Lebih dini lagi, William Beaumont (1782-1853), ahli bedah militer Amerika, memiliki
pasien bernama Alexix St. Martin yang menjadi terkenal karena luka akibat senjata yang
mengakibatkan fistula lambung yang permanen. Beaumont mencatat bahwa selama keadaaan
emosional yang sangat hebat, mukosa dapat menjadi hiperemik atau memucat, menunjukkan
bahwa aliran darah ke lambung dipengaruhi oleh emosi.
Hans Seyle (1907-1982) mengembangkan suatu model stress yang ia sebut sindrom
adaptasi umum. Model ini terdiri atas tiga fase: (1) reaksi alarm; (2) tahap resistensi, idealnya
adaptasi dicapai dan (3) tahap kelelahan, adaptasi atau resistensi yang didapat bisa hilang. Ia
menganggap stress sebagai respon tubuh yang tidak spesifik terhadap tuntutan apapun yang
disebabkan baik oleh keadaan menyenangkan atau tidak menyenangkan . seyle yakin bahwa
stress, menurut definisi, tidak harus selalu tidak menyenangkan. Ia menyebut stress yang tidak
menyenangkan sebagai penderitaan. Untuk menerima kedua jenis stress menyenangkan atau
tidak menyenangkan membutuhkan adaptasi.
b. Respon Neurotransmiter Terhadap stress
Stressor mengaktifkan system noradrenergic di otak (paling jelas di locuks ceruleus) dan
menyebabkan pelepasan katekolamin dari system saraf otonom. Stressor juga mengaktifkan
system serotonergik di otak, seperti yang dibuktikan dengan meningkatnya pergantian
serotonin. Bukti terkini mengesankan bahwa meskipun glukokortikoid cenderung
meningkatkan fungsi serotonin secara keseluruhan, mungkin terdapat perbedaan pengaturan
glukokortikoid dengan subtype reseptor serotonin, yang dapat memiliki kaitan fungsi
4

serotonergik pada depresi dan penyakit-penyakit terkait. Contohnya, glukokortikoid dapat


meningkatkan kerja serotonin yang diperantarai oleh 5-HT, sehingga turut menyebabkan
penguatan kerja tipe reseptor ini, yang telah dikaitkan di dalam patofisiologi gangguan depresi
berat. Stress juga meningkatkan neurotransmisi dopaminergik pada jaras mesoprefrontal.
Neurotransimter asam amino dan peptidergik juga terlibat di dalam respons stress.
Sejumlah studi menunjukkan bahwa corticotroping releasing factor (CRF) (sebagai
neurotransmitter, bukan sebagai pengatur hormonal fungsi aksis hipotalamus

hipofisis

adrenal, glutamate dan GABA semuanya mengatur system yang berespon terhadap stress
lainnya seperti sirkuit otak dopaminergik dan nonadrenergik.
c. Respon Endokrin Terhadap Stres
Sebagai respons terhadap stress, CRF disekresikan dari hipotalamus ke system hipofisial
hipofisis portal. CRF bekerja di hipofisis anterior untuk memicu pelepasan hormone
adrenokortikotropin (ACTH). Setelah dilepaskan, ACTH bekerja di korteks adrenal untuk
merangsang sintesis dan pelepasan glukokortikoid. Glukokortikoid sendiri memiliki jutaan
efek di dalam tubuh, tetapi kerjanya dapat dirangkum dalam istilah singkat sebagai
meningkatkan penggunaan energy, meningkatkan aktivitas kardiovaskular (di dalam respon
fight or flight) dan menghambat fungsi seperti pertumbuhan reproduksi dan imunitas.
Atas hipotalamus hipofisis adrenal merupakan pelaku pengendali umpan balik negative
yang ketat melalui produk akhirnya sendiri (yaitu, ACTH dan kortisol) di berbagai tingkat,
termasuk hipofisis anterior, hipotalamus dan region otak suprahipotalamik seperti
hipokampus. Di samping CRF, berbagai secretagogue (yaitu zat yang merangsang pelepasan
ACTH) dikeluarkan dan dapat memintas pelepasan CRF serta bekerja langsung untuk
memulai kaskade glukokortikoid. Contoh secretagogue termasuk katekolamin, vasopressin
dan oksitosin. Yang menarik, stressor berbeda ( contoh: stress dingin lawan hipotensi) memicu
pola pelepasan secretagogue yang berbeda, juga menunjukkan bahwa gagasan respons stress
yang sama terhadap stressor umum adalah terlalu disederhanakan.
d. Respons Imun Terhadap Stres
Bagian dari respons stress terdiri atas inhibisi fungsi imun oleh glukokortikoid. Inhibisi
dapat mencerminkan kerja kompensasi aksis hipotalamus hipofisis adrenal untuk mengurangi
efek fisiologis stress lainnya. Sebaliknya, stress juga dapat menyebabkan aktivasi imun
melalui berbagai jalur. CRF sendiri dapat merangsang pelepasan norepinefrin melalui reseptor
5

CRF yang terletak di locus ceruleus, yang mengakibatkan system saraf simpatis, baik sentral
maupun perifer., serta meningkatkan pelepasan epinefrindari medulla adrenal. Di samping itu,
terdapat hubungan langsung neuron norepinefrin yang bersinaps pada sel target imun. Dengan
demikian, di dalam menghadapi stressor, juga terdapat aktivasi imun humoral (sitokin) seperti
interleukin 1 dan 6. Sitokin ini dapat menyebabkan pelepasan CRF lebih lanjut, yang di dalam
teori berfungsi intuk meningkatkan efek glukokortikoid sehingga membatasi sendiri aktivasi
imun.
e. Perubahan Kehidupan
Peristiwa atau situasi kehidupan, menyenangkan atau tidak menyenangkan (penderitaan
menurut Seyle), sering terjadi tanpa disengaja, menimbulkan tantangan yang harus ditanggapi
dengan adekuat. Thomas Holmes dan Richard Rahe membangun skala penilaian penyesuaian
social setelah menanyakan ratusan orang dari berbagai latar belakang untuk mengurutkan
derajat relative penyesuaian yang diperoleh dengan perubahan peristiwa kehidupan. Helmes
dan Rahe mendaftarkan 43 peristiwa kehidupan yang menyebabkan berbagai gangguan dan
stress pada kehidupan rata-rata orang : contohnya kematian pasangan, 100 unit perubahan
kehidupan, perceraian 73 unit, perpisahan perkawinan 65 unit dan kematian anggota keluarga
dekat 63 unit. Akumulasi 200 atau lebih unit perubahan kehidupan dalam satu tahun
meningkatkan resiko timbulnya gangguan psikosomatik pada tahun itu. Yang menarik, orang
yang menghadapi stress umum dengan optimis, bukannya pesimis, lebih kecil
kemungkinannyauntuk mengalami gangguan psikosomatik; jika mengalami mereka lebih
mudah pulih.
f. Stres Spesifik Lawan Non Spesifik
Stres psikis spesifik dan non spesifik dapat didefenisikan sebagai kepribadian spesifik
atau konflik bawah sadar yang menyebabkan ketidakseimbangan homeostatis yang berperan
dalam perkembangan gangguan psikosomatis. Tipe kepribadian tertentu yang pertama kali
diidentifikasi berhubungan dengan kepribadian koroner (orang yang memiliki kemauan keras
dan agresif yang cenderung mengalami oklusi miokardium).1,2

DIAGNOSIS
6

Menegakkan diagnosis pasien dengan psikosomatik tidak berbeda dengan menegakkan


diagnosis penyakit lain pada umumnya yaitu dengan cara anamnesis, pemeriksaan fisis dan
laboratorium atau pemeriksaan penunjang lain yang diperlukan. Pada umumnya pasien dengan
gangguan psikosomatik datang ke dokter dengan keluhan somatiknya. Jarang sekali keluhan
psikis atau konfliknya dikeluhkan secara spontan. Keluhan psikis yang menjadi stressornya baru
akan muncul setelah dilakukan anamnesis yang baik dan mendalam. Keluhan somatisnya sangat
beraneka ragam dan sering berpindah-pindah dari satu system organ ke organ lain.4
Gangguan psikosomatik pada orang yang tidak stabil, dapat disebabkan bukan saja oleh
stress yang luar biasa, tetapi juga oleh kejadian-kejadian dan keadaan sehari-hari, umpamanya
rumah tangga yang sibuk, terlalu banyak orang di dalam satu rumah, suami atau isteri yang tidak
dapat menyesuaikan diri atau tidak mengindahkan keinginan satu sama lain.
Untuk itu, penting ditanyakan beberapa pertanyaan berikut dalam proses anamnesis :

Factor social dan ekonomi : kepuasan dalam bekerja; kesukaran ekonomi; pekerjaan yang
tidak tentu; hubungan dengan keluarga dan orang lain; minatnya; pekerjaan yang terburu-

buru; kurang terbiasa.


Factor perkawinan : perselisihan, perceraian, dan kekecewaan dalam hubungan seksual;

anak-anak yang nakal dan menyusahkan.


Factor kesehatan: penyakit-penyakit yang menahun; pernah masuk rumah sakit; pernah

dioperasi; adiksi terhadap obat-obatan, tembakau, dan lain-lain


Faktor psikologik: stress psikologik; keadaan jiwa waktu operasi; status dalam keluarga.
Untuk menentukan gangguan fungsional, maka anmnesa penting sekali. Bila kita sudah
menentukan bahwa penderita itu mempunyai gangguan fungsional, maka selanjutnya kita
harus menetapkan apakah sebabnya itu gangguan psikogenik atau non-psikogenik.
Apabila kita sudah menduga bahwa hal itu merupakan gangguan psikogenik, sebaiknya
harus dicari juga korelasi antara gejala-gejala dan stress psikologik.

Lewis memberikan beberapa kriteria untuk diagnosa gangguan psikomatik:


1. Gejala-gejala yang didapat mempunyai permulaan, akibat, manifestasi dan jalannya yang
sangat mencurigakan akan adanya gangguan psikosomatik.
2. Dengan pemeriksaan fisis dan laboratorium tidak didapati penyakit organik yang dapat
menyebabkan gejala-gejala (atau sebagian gejal-gejala).
3. Adanya suatu stress atau konflik yang menyukarkan penderita.

4. Reaksi penderita terhadap stress ini banyak hubungannya dengan gejala-gejala yang
dikeluhkannya, yaitubahwa gejala-gejala itu secara psikosomatik merupakan manifestasi
badaniah dari konflik atau penyelesaian masalah yang tidak memuaskan.1,2,4
Terjadinya stress itu harus mempunyai korelasi antara waktu dan timbulnya keluhan, bertambah
beratnya atau/dan menahunnya penyakit yang ada. Tidak semua kriteria harus ada, tetapi apabila
terdapat beberapa kriteria yang sesuai sudah merupakan indikasi kearah gangguan psikosomatik.4
Tabel 1. Kriteria Diagnostik DSM-IV-TR untuk Faktor Psikologis yang Memengaruhi
Keadaan Medis Umum 1
A. Terdapat keadaan medis umum (diberi kode pada Aksis III).
B. Faktorpsikologis memengaruhi keadaan medis secara berlawanan dalam satu atau
lebih cara
1. faktor memengaruhi perjalanan keadaan medis umum, seperti yang ditunjukkan oleh
hubungan waktu yang erat antara faktor psikologis dan timbulnya atau memburuknya,
atau tertundanya pemulihan, keadaan medis umum
2. faktor mengganggu terapi keadaan medis umum
3. faktor merupakan risiko kesehatan tambahan untuk individu
4. respons fisiologis terkait-stres mencetuskan atau rnemperburuk gejala keadaan
medis umum
Pilih nama berdasarkan sifat faktor psikologis (jika ada lebih dar satu faktor, tunjukkan yang
paling menonjol):
Gangguan mental yang memengaruhi ...[tunjukkan keadaan medis umum] (cth.,
gangguan Aksis I seperti gangguan depresif berat menunda pemulihan dari infark
miokardium
Gejala psikologis yang memengaruhi ...[tunjukkan keadaan medis umum]
(cth.,gejala depresif rnenunda pemulihan setelah pembedahan; asma yang diperburuk
ansietas)
Ciri kepribadian atau gaya koping yang memengaruhi ...[tunjukkan keadaan
medis umum] (cth., penyangkalan patologis kebutuhan operasi pada pasien kanker;
perilaku tertekan dan bermusuhan yang turut menyebabkan penyakit kardiovaskular)

Perilaku kesehatan maladaptif yang memengaruhi ...[tunjukkan keadian medis


umum] (cth.,makan berlebihan; tidak ada olah raga; seks yang tidak aman)
Respons fisiologis Terkait-Stres yang memengaruhi ...[tunjukkan keadaan medis
umum] (cth., perburukan ulkus karena stres, hipertensi, aritmia, atautension headache)
Faktor psikologis lain atau tidak terinci yang memengaruhi ...[tunjukkan
keadaan medis umum] (cth., faktor interpersonal, budaya, atau religius)
Dari American Psychiatric Association. Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder.
4th ed. Text rev. Washington, DC: American Psychiatric Association; copyright 2000, dengan
izin.1
Tabel 2. Kriteria Diagnostik ICD-10 untuk Faktor Psikologis dan Perilaku Terkait dengan
Gangguan atau Penyakit Diklasifikasikan di Tempat Lain
Kategori ini harus digunakan untuk adanya factor psikologis atau perilaku yang diperkirakan
telah bermanifestasi, atau mempengaruhi, gangguan fisik yang diklasifikasikan pada bab-bab lain
dari ICD-10. Setiap gangguan mental yang dihasilkan biasanya ringan dan sering
berkepanjangan (seperti khawatir, konflik emosional, ketakutan) dan tidak dengan sendirinya
menggunakan salah satu kategori yang dijelaskan dalam bagian akhir buku ini. Sebuah kode
tambahan harus digunakan untuk mengidentifikasi gangguan fisik. (Dalam kasus yang jarang
terjadi di mana gangguan jiwa terbuka diperkirakan telah menyebabkan gangguan fisik, kode
tambahan kedua harus digunakan untuk mencatat gangguan kejiwaan).
(Dicetak ulang dengan izin dari Organisasi Kesehatan Dunia Klasifikasi Internasional Gangguan
Mental dan Perilaku : Kriteria Diagnostik, Organisasi Kesehatan Dunia, Jenewa, 1993).
Di Indonesia yang menggunakan pedoman diagnostik PPDGJ, gangguan psikosomatik
dapat diklasifikasi dalam 305. Gangguan fisik yang diduga asalnya psikologik (PPDGJ I) yang
kemudian dikonversi menjadi 306. Faktor psikologik yang mempengaruhi malfungsi fisiologis
(PPDGJ II), dan dikonversi kembali di PPDGJ III pada F45.3. yaitu Disfungsi otonomik
somatoform. Kriteria diagnostik dijabarkan sebagai berikut:
1. Adanya gejala-gejala bangkitan otonomik, seperti palpitasi, berkeringat, tremor, muka
9

panas/flushing, yang menetap dan mengganggu;


2. Gejala subjektif tambahan mengacu pada sistem atau organ tertentu (gejala tidak
khas);
3. Preokupasi dengan dan penderitaan (distress) mengenai kemungkinan adanya
gangguan yang serius (sering tidak begitu khas) dari sistem atau organ tertentu, yang
tidak terpengaruh oleh hasil pemeriksaanpemeriksaan berulang, maupun penjelasanpenjelasan dari para dokter;
4. Tidak terbukti adanya gangguan yang cukup berarti pada struktur/fungsi dari sistem atau
organ yang dimaksud.
Pada karakter kelima yaitu

F45.30 = jantung dan sistem kardiovaskular


F45.31 = saluran pencernaan bagian atas
F45.32 = saluran pencernaan bagian bawah
F45.33 = sistem pernapasan
F45.34 = sistem genito-urinaria
F45.38 = sistem atau organ lainnya

GANGGUAN PSIKOSOMATIK PADA PERNAPASAN


1. Sindrom Hiperventilasi
Sindrom hiperventilasi didefinisikan sebagai suatu keadaan ventilasi berlebihan yang
menyebabkan perubahan hemodinamik dan kimia sehingga menimbulkan berbagai gejala.
Mekanisme yang mendasari hingga terjadi sindrom hiperventilasi belim jelas diketahui. 7
Menurut Arautigam (1973) secara psikologis penyebab yang mencetuskan penyakit ini ialah
perubahan pernapasan, yang ia namakan sindrom pernapasan nervous yang biasanya
disebabkan oleh faktor emosional/stress psikis. Terdapat 2 jenis pernapasan yang dapat
ditemukan, yaitu:
a. Pernapasan yang tidak teratur yang dianggap sebagai pengutaraan rasa takut yang khas.
b. Pernapasan yang dangkal yang diselingi dengan penarikan napas dalam sebagai
pengutaraan situasi pribadi yang bersifat keletihan dan pasrah, yaitu pertanda tujuan tidak
dapat dicapai kendati sudah diusahakan.
Gejala klinis yang dapat ditemukan pada pasien adalah napas sesak, napas pendek, dada
tertekan, nyeri pada epigastrium, pusing, sakit kepala,mulut dan tenggorokan kering, disfagi, dan
10

rasa penuh pada lambung.penyebab paling sering untuk hiperventilasi ialah emosi rasa takut dan
kegelisahan.
Terapi untuk pasien dengan sindrom hiperventilasi:
a. Pasien disuruh bernapas (inspirasi dan ekspirasi) ke dalam sungkup kantong plastic bila
didapatkan tanda alkalosis agar PCO2 dalam darah naik.
b. Suntikkan 10 cc larutan kalsium glukonas 10% intravena mempunyai efek placebo.
Pasien merasa hangat dan enak, tetapi kadar ion kalsium tidak akan naik.
c. Belajar bernapas torako-abdominal dengan menggerakkan diafragma.
d. Psikoterapi: membantu menyelesaikan problem-problem emosional pada pasien,
termasuk melakukan terapi pelaku (Cogntive Behavioral Teraphy).
e. Karena hiperventilasi sering merupakan bagian dari serangan panic (panic disorder),
maka pemberian obat yang tepat adalah golongan benzodizepin atau golongan SSRI
(Selective Serotonin Reuptake Inhibitor).7
2. Asma Bronkial
Faktor genetik, alergik, infeksi, stres akut dan kronis semuanya berperan dalam
menimbulkan penyakit. Stimuli emosi bersama dengan alergi penderita menimbulkan
konstriksi bronkioli bila sistem saraf vegetatif juga tidak stabil dan mudah terangsang.
Walaupun pasien asma karateristiknya memiliki kebutuhan akan ketergantungan yang
berlebihan, tidak ada tipe kepribadian yang spesifik yang telah diindentifikasi. Pasien
asmatik harus diterapi dengan melibatkan berbagai disiplin ilmu antara lain menghilangkan
stres, penyesuaian diri, menghilangkan alergi serta mengatur kerja sistem saraf vegetatif
dengan obat- obatan. Beberapa keadaan yang merupakan stressor psikososial, sebagai
berikut:
Pengalaman luar biasa: permulaan masuk sekolah, ujian, pertama masuk kerja,

menderita penyakit, berpisah dengan orang tua, dll.


Kejadian-kejadian traumatic: perkelahian/pertentangan dengan orang tua, permusuhan,

kejengkelan dalam kerja.


Pengalaman yang menyedihkan: kematian orang tua, atau anak, kehilangan harta benda,
dan musibah lainnya.
Terhadap gejala asma secara fisik diberikan pengobatan standar yang sudah baku sesuai

dengan tingkat beratnya penyakit (bronkodilator, kortikosteroid). Sedangkan untuk gangguan


psikosomatik seperti adanya anxietas atau depresi secara bersamaan dilakukan psikoterapi dan
psikoedukasi serta psiokfarmaka yang sesuai. Pada gangguan anxietas yang menyertai atau
mencetuskan asma dapat diberikan golongan benzodiazepine seperti alprazolam, klobazam. Bila
11

dijumpai adanya presi, maka dapat diberikan antidepresan yang aman misalnya golongan SRI
seperti sertraline, fluoksetin.
Cara pengobatan psikosomatik yang khusus pada asma memang belum ada standar, namun
pada umumnya pengobatan meliputi psikoterapi superfisial, edukasi, instruksi.

Psikoterapi individual dan psikoterapi kelompok. Mereka diberikan edukasi mengenai


perjalanan penyakit asma, mekanisme timbul, faktor resiko, pengobatan dan
pencegahan. Psikoterapi ini diberikan untuk meningkatkan daya adaptasi dan
kemampuan untuk menyelesaikan atau menghilangkan stressor psikososial yang

dialami pasien.
Instruksi tentang penatalaksanaan mandiri dengan monitoring PEFR (Peak Expiratory

Flow Rate) di rumah.


Autogrnic training yaitu latihan untuk dapat bersantai dengan memahami bahwa faktor

psikis dapat menimbulkan reaksi bronkospasme.


Cara sugestif yaitu mengalihkan atau mencurahkan perhatian diri sendiri kepada hal-

hal yang bermanfaat.


Psikoterapi analisis yang sederhana.8,9

PENATALAKSANAAN
Di Amerika Serikat 1/3 penderita yang datang berobat pada dokter umum tidak mempunyai
gangguan organik, 1/3 yang lain mempunyai gangguan organik tetapi keluhannya berlebihan.
Dengan kesabaran dan simpati banyak penderita dengan gangguan psikosomatik dapat ditolong.
Kita dapat menerangkan kepada penderita tidak dapat sesuatu dalam tubuhnya yang rusak atau
yang kurang, tidak terdapat infeksi dan kanker, hanya anggota tubuhnya bekerja tidak teratur.
Untuk menerangkan bagaimana emosi dapat mengganggu tubuh dapat diambil contoh sehari-hari
seperti orang yang malu mukanya akan menjadi merah, orang yang takut menjadi bergemetar
dan pucat. Dapat dipakai perumpamaan menurut pendidikan dan pengetahuan penderita.8
Setelah dibuat diagnosis gangguan psikosomatis, terdapat 3 fase terapi yaitu:
Fase 1: ialah fase pemeriksaan dan pemberian ketenangan, penderita dan dokter bersama-sama
berusaha dan saling membantu melalui anamnesis yang baik, pemeriksaan fisik yang teliti dan
tes laboratorium bila perlu. Diusahakan membuktikan bahwa tidak terdapat penyakit organik dan

12

dijelaskan kepada penderita tentang mekanisme fisiologik serta keterangan tentang gejala-gejala.
Berikan kesempatan kepada penderita untuk bertanya.
Fase 2: merupakan fase pendidikan, fase ini dokter lebih banyak bicara. Untuk memberi
keterangan tentang keluhan, meyakinkan serta menenangkan pasien, dapat dikatakan antara lain :

Bahwa gejala-gejalanya benar ada, dapat dimengerti kalau ia mengeluh dan menderita

Bahwa gejala-gejalanya sering terdapat juga pada orang lain yang sudah kita obati

Bahwa tidak ada kanker atau penyakit berbahaya lain

Bahwa gejala-gejala itu timbul karena ketegangan sehari-hari dan gangguan emosional

Bahwa gejala itu tidak akan segera hilang, diperlukan beberapa waktu, tetapi akan hilang
atau berkurang bila diobati dengan baik

Bahwa kita semua mengalami ketegangan, kekecewaan, godaan dan kecemasan

Bahwa kelelahan fisik atau jiwa dapat mengurangi daya tahan tubuh sehingga timbul
gejala

Bahwa kita apabila terlalu terburu-buru akan timbul ketegangan jiwa

Bahwa tubuh kita bereaksi terhadap ketegangan yang terlalu berat. Sering gejala
merupakan pekerjaan alat tubuh yang bekerja berlebihan

Bahwa ini akan lebih baik bila pasien mengerti akan penyebab gejala.

Fase 3 : ialah fase keinsafan intelektual dan emosional. Pada fase ini pasien yang lebih banyak
bicara. Terjadi pengakuan, katarsis dan wawancara psikiatrik. Hal ini harus berjalan sangat
pribadi, rahasia, tanpa sering terganggu dan dalam suasana penuh kepercayaaan dan pengertian.
Dokter menjelaskan saja agar pembicaraan berjalan dengan baik, tidak terlalu menyimpang dari
pokok pembicaraan.
Terdapat 3 golongan senyawa psikofarmaka
1. Obat tidur (hipnotik)
Diberikan dalam jangka waktu pendek 2-4 minggu. Obat yang dianjurkan adalah senyawa
benzodiazepine berkhasiat pendek seperti nitrazepam, flurazepam, dan triazolam. Pada insomnia
dengan kegelisahan dapat diberikan senyawa fenotiazin seperti tioridazin, prometazin.
2. Obat penenang minor dan mayor

Obat penenang minor


13

Diazepam merupakan obat yang efektif yang dapat digunakan pada anxietas,agitasi, spasme otot,
delirium, epilepsi. Benzodiazepine hanya diberikan pada anxietas hebat maksimal 2 bulan
sebelum dicoba dihentikan secara perlahan (tapering off) untuk menghindari toleransi dan adiksi.

Obat penenang mayor

Yang paling sering digunakan adalah senyawa fenotiazin dan butirofenon seperti clorpromazin,
tioridazin dan haloperidol. Diberikan hanya pada kasus gejala agitasi, kegelisahan yang
berlebihan, agresi dan kegaduhan.1,2,11
3. Antidepresan
Yang biasa digunakan adalah senyawa trisiklik dan tetrasiklik seperti amitriptilin, imipramin,
mianserin dan maprotilin yang dimulai dengan dosis kecil yang kemudian ditingkatkan. Saat ini,
golongan trisiklik sudah jarang digunakan karena efek samping yang banyak akibat kerja anti
kolinergiknya. Antidepresan baru dengan efek samping yang minimal adalah golongan:

SSRI (Selective Serotonin Reuptake Inhibitor): sertalin, paroksetin, fluoksetin,

fluvoksamin
SSRE (Selective Serotonin Reuptake Enhancer): Tianeptin
SNRI (Serotonin Nor Epinephrin Reuptake Inhibitor): Venlafaksin
RIMA (Reversible Inhibitory Monoamine Oxidose type A): Moklobemid
NaSSA (Nor-adrenalin ang Serotonin Anti Depressant): Mitrazapin
Atipik: Trazodon, Nefazodon

Hipnotik sebaiknya diberikan dalam jangka waktu pendek, 2-4 minggu cukup, walaupun
sering timbul insomnia pantulan (rebound), bila pengobatan dihentikan. Oleh karena itu obat
diberikan hanya beberapa malam saja tiap minggu. Yang dianjurkan senyawa-senyawa
benzodiazepin berkhasiat pendek, yaitu:

Nitrozepam (Dumolid, Mogadon)

Triazolam (Halcion)

Aspek Psikiatrik
14

Terapi gangguan psikosomatik dari pandangan psikiatrik merupakan suatu tugas yang
sulit. Psikiater harus memusatkan terapi pada pemahaman motivasi dan mekanisme fungsi yang
terganggu serta membantu pasien menyadari sifat penyakit mereka serta kaitan pola adaptif yang
merugikan tersebut. Tilikan ini harus menghasilkan pola perilaku yang berubah dan lebih sehat.2
Pasien dengan gangguan psikosomatik biasanya lebih enggan menghadapi masalah
emosional daripada pasien dengan masalah psikiatrik lain. Pasien psikosomatik mencoba
menghindari tanggung jawab untuk penyakitnya dengan mengisolasi organ yang sakit serta
datang ke dokter untuk didiagnosis dan disembuhkan. Mereka mungkin memuaskan kebutuhan
infantil untuk dirawat secara pasif, sambil menyangkal kalau mereka dewasa, dengan semua stres
dan konflik yang ada.2
3.5.2. Aspek Medis
Terapi

internis

gangguan

psikosomatik

harus

mengikuti

peraturan

pengelolaan medis yang telah ditegakkan. Umumnya, internis harus menghabiskan sebanyak
mungkin waktu dengan pasien dan mendengarkan banyak keluhan dengan simpatik; mereka
harus bersikap menenangkan dan suportif. Sebelum melakukan prosedur yang memanipulasi
fisikterutama jika menyakitkan, seperti kolonoskopiinternis harus menjelaskan pada pasien
apa yang akan dihadapi. Penjelasan akan menghilangkan ansietas pasien, membuat pasien lebih
kooperatif, dan akhirnya memudah kan pemeriksaan.2

15

Sikap pasien terhadap minum obat juga dapat memengaruhi hasil terapi psikosomatik.
Contohnya, pasien dengan diabetes yang tidak menerima penyakitnya dan memiliki -impuls
merusak diri yang tidak mereka sadari dapat dengan sengaja tidak mengendalikan diet mereka,
akibatnya akan mengalami koma hiperglikemik. Pasien lain menggunakan penyakit mereka
sebagai hukuman untuk rasa bersalah atau sebagai cara untuk menghindari tanggung jawab.
Terapi pada kasus seperti ini hams berusaha membantu pasien meminimalkan rasa takut mereka
dan berfokus pada perawatan diri sendiri serta pembentukan kembali citra tubuh yang sehat.2
Psikoterapi Kelompok dan Terapi Keluarga
Pendekatan kelompok memberikan kontak interpersonal dengan orang lain yang menderita
penyakit yang sama dan memberikan dukungan untuk pasien yang takut akan ancaman isolasi
dan pengabaian. Terapi keluarga memberikan harapan perubahan hubungan antaranggota
keluarga yang sering mengalami stres dan bersikap bermusuhan pada anggota keluarga yang
sakit.1,10,11

Teknik Relaksasi
Edmund Jacobson pada tahun 1983 mengembangkan suatu metode yang dinamakan relaksasi
otot progresif untuk mengajarkan relaksasi tanpa menggunakan instrumentasi seperti yang digunakan di dalam biofeedback. Pasien diajari untuk merelaksasikan kelompok otot seperti yang
terlibat di dalam "tension headache". Ketika mereka menghadapi dan menyadari situasi yang
menyebabkan tegangan pada otot mereka, pasien dilatih untuk relaksasi. Metode ini adalah suatu
tipe desensitisasi sistematiksuatu tipe terapi perilaku.

Hipnosis
Hipnosis efektif untuk menghentikan merokok dan menguatkan perubahan diet. Hipnosis
digunakan dalam kombinasi dengan perumpamaan yang tidak disukai (contoh rokok terasa
menjijikkan). Beberapa pasien menunjukkan angka relaps yang cukup tinggi dan dapat
memerlukan pengulangan program terapi hipnotik (biasanya tiga hingga empat sesi).

16

17

KESIMPULAN

Gangguan psikosomatik merupakan gangguan yang melibatkan antara pikiran dan tubuh.

Hal ini berarti bahwa adanya faktor psikologis yang mempengaruhi kondisi medis.
Komponen emosional memainkan peranan penting pada gangguan psikosomatik.
Manifestasi penyakit fisik juga sering diturunkan dan kepribadian seseorang.
Gangguan psikosomatik dapat rnelibatkan berbagai sistem organ di dalam tubuh sehingga

memerlukan penanganan secara terintegrasi dari ahli medis dan ahli psikiatri.
Pengobatan gangguan psikosomatik dari sudut pandang psikiatrik adalah tugas yang sulit.
Tujuan terapi haruslah mengerti motivasi dan mekanisme gangguan fungsi dan untuk

membantu pasien mengerti sifat penyakitnya.


Tilikan tersebut harus menghasilkan pola perilaku yang berubah dan lebih sehat.

DAFTAR PUSTAKA
18

1. Sadock BJ, Sadock VA. Kaplan & Sadock's Synopsis of Psychiatry: Behavioral
Sciences/Clinical Psychiatry. 10th ed. New York: Lippincott Williams & Wilkins; 2007.
2. Kusumadewi I. Buku ajar psikiatri FKUI. Faktor Psikologi yang Mempengaruhi Kondisi
Medis (d/h Gangguan Psikosomatis), Bab 23. Edisi kedua. Jakarta: Badan Penerbit
FKUI;2013.
3. A Conceptual Approach of Psychosomatic Disorder. Anil Kumar Singh, Int, Res, J.
Pharm, 2013, 4. Diunduh tanggal 8 Maret 2014.
4. Mangindaan L, Kusumawardhani A, dkk. Buku ajar psikiatri FKUI. Edisi kedua. Jakarta:
Badan Penerbit FKUI;2013.
5. Mansyur A, dkk. Gangguan Psikosomatis. Dalam : Kapita Selekta Kedokteran. Media
Aesculapius FK UI 1999
6. Maramis WF. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Surabaya: Airlangga University Press;2004.
7. Budihalim S, Sukatman D. Psikosamatis. Dalam : Ilmu Penyakit Dalam jilid II, FK UI
Jakarta 1999.
8. Arozal W., Gan S. Psikotropik. Dalam: Departemen Farmakologi dan Terapeutik FKUI.
Farmakologi dan Terapi. Edisi ke-5. Jakarta: Balai Penerbit FKUI, 2008.
9. Bronchial Asthma : Psychosomatic Aspect: Journal of the Japan Medical Association Vol.
46, No. 5, pages 375 -377, 2003. Diunduh tanggal 8 Maret 2016.
10. Putranto, Rudi. Mudjaddid, E. shatri, Hamzah. Sindrom Hiperventilasi. Dalam Buku Ajar
Ilmu Penyakit Dalam jilid II FK UI. Jakarta: Pusat Penerbitan FKUI. 2006. p920-1
11. Mudjaddid, E. Aspek Psikosomatik pada Asma Brokhial. Dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit
Dalam jilid II FK UI. Jakarta: Pusat Penerbitan FKUI. 2006. p922-3

19