Anda di halaman 1dari 2

Menjadi Manusia

Oleh: Zahara
Hidup adalah perjuangan. Tanpa perjuangan, semuanya nihil. Walau takdir pada hakikatnya
berada di tangan Tuhan, tapi hal tersebut bukanlah alasan untuk berpangku tangan, bermanjamanja dan bermalas-malasan.
Tanpa usaha, hidup akan sia-sia. Tanpa cita-cita, orientasi manusia terasa hampa. Dunia
seringkali tak sejalan dengan rencana. Sehingga akan menimbulkan kekecewaan semata. Tapi
tidak! Jika kita mau bersandar kepada Yang Abadi. Ia selalu mengharap untuk selalu diingat oleh
hambanya.
Dan kita, hanyalah manusia biasa. Lemah tak berguna. Tanpa daya, tanpa memiliki apa-apa. Tapi
kenapa, selalu angkuh dan congkak terhadap sesama bahkan terhadap diri sendiri, terhadap
sesama makhluk Tuhan yang dicipta dari cairan hina?
Kita telah alfa. Alfa terhadap hakikat penciptaan kita sendiri. Sehinggga di zaman ini, kita telah
menciptakan mesin-mesin yang terkadang dapat menipu kita, sehingga kita percaya bahwa
mesin itu cerdas. Padahal kecerdasan mesin itu semu karna ia dibuat oleh manusia. Yang cerdas
adalah manusia. Dunia dipenuhi filosofi tak terbatas. Begitu juga kita, makhluk kecil nan lemah
yang hina untuk mendongakkan kepala ke atas. Hal itu membuat kita tambah menyadari bahwa
kehinaan telah melekat dalam diri sejak terlahir di dunia ini, bahkan sejak bumi belum
diciptakan.Mungkin dengan sedikit menyumbangkan kata dari berjuta filosofi itu membuat
sedikit hidup ini lebih bermakna; bagi diri sendiri, terlebih bagi orang banyak disekitar kita. Dan
sadari, bahwa hidup kita tidaklah akan lama. Karena dunia ini hanya persinggahan yang fana.
Tempat menetap hanya dalam kurun waktu yang tidak lama.
Tak ada kebahagiaan kekal di dalamnya. Segera kenali dan selami diri kita sebagai seorang
manusia.Sebagaimana Descartes yang percaya bahwa, ketika pikiran berjalan, maka terdapat
interaksi konstan yang berlangsung antara ruh dan materi. Karena itu pikiran dapat selalu
dipengaruhi oleh perasaan dan nafsu. Tapi di satu sisi ia juga dapat menjauhkan diri dari impulsimpuls tercela. Tujuannya, agar akal dapat memegang kendali. Dengan demikian manusia
memiliki kemampuan untuk bangkit mengatasi kebutuhan-kebutuhan lahirnya dan bertindak
secara rasional. Dalam hal ini pikiran lebih unggul dari badan. Kedua kaki dan tangan akan dapat
menjadi tua dan lemah, punggung dapat menjadi bungkuk dan gigi bisa saja tanggal, tapi tidak
dengan akal. Akal tidak dapat menjadi bungkuk dan lemah.
Plato berkata bahwa akal terletak di kepala, kehendak serta kemauan terletak di dada, dan nafsu
terletak di perut. Masing-masing dari anggota ini, memiliki cita-citanya sendiri. Mereka juga
memiliki peran masing-masing. Akal mencita-citakan kebijaksanaan, kehendak mencita-citakan

keberanian, dan nafsu harus dikekang sehingga kesopanan dapat ditegakkan. Semuanya, terdapat
pada diri seorang manusia. Jika nafsu tak lagi dapat dikekang dan dihendel, ia tak ubahnya
seperti hewan ataupun binatang. Tetapi, jika nafsu telah tunduk dan takluk, maka manusia
laksana malaikat yang senantiasa taat kepada Penciptanya.
Dan relitaberkata yang semestinya. Kekerasan, perampasan hak, intimidasi, genosida dan lain
sebagainya, telah menunjukkan kepada kita tentang perangai manusia yang sebenarnya. Bahwa
manusia ternyata juga bisa lebih liar dan buas daripada binatang. Inilah manusia, makhluk egois
yang katanya berpredikat sebagai khalifah-Nya. Penuh hipokritas dan dusta. Khianat sudah tak
terhitung lagi banyaknya. Tapi mengapadan mengapa, Tuhan menyebut manusia sebagai
makhluk paling sempurna(?)
..