Anda di halaman 1dari 68

LAPORAN TUTORIAL

SKENARIO A BLOK 25

DISUSUN OLEH : KELOMPOK B3


Tutor

dr. Nyimas, SpKFR

Anggota

: Azan Farid Wajdi

(04011181320094)

Charita Ulfah Widyawan

(04011381320050)

Devia Amalia

(04011181320068)

Hery Akbar

(04011181320086)

M. Arvin Arliando

(04011281320014)

Muhammad Fajar As-Shidiq

(04011181320080)

Muhammad Ihsan

(04011381320068)

Muhammad Rusdi

(04011381320064)

M. Wasistha Adriantama

(04011181320050)

Nurul Lintang Amelia

(04011381320072)

Sarayati Khairunisah

(04011181320024)

Theofilus Aswadi

(04011281320024)

Siti Evi Marissa

(04011181320114)

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
TAHUN 2016

KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmat dan karunia-Nya
laporan tutorial Skenario A Blok 25 ini dapat diselesaikan dengan baik.
Laporan ini bertujuan untuk memenuhi tugas tutorial yang merupakan bagian dari
sistem pembelajaran PBL di Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya.
Kami menyadari bahwa laporan ini masih memiliki banyak kekurangan atau
kelemahan. Oleh karena itu, sumbangan pemikiran dan masukan dari semua pihak sangat
kami harapkan agar di lain kesempatan laporan tutorial ini akan menjadi lebih baik.
Kami mengucapkan terima kasih kepada dr. Nyimas, SpKFR, selaku tutor kelompok
B3 yang telah membimbing kami semua dalam pelaksanaan tutorial kali ini. Selain itu, kami
juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu tersusunnya
laporan tutorial ini. Semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi proses pembelajaran
selanjutnya dan bagi semua pihak yang membutuhkan.

Palembang, 30 Maret 2016

Kelompok B3

ii

KEGIATAN DISKUSI
Tutor

: dr. Nyimas, SpKR

Moderator

: Muhammad Ihsan

Sekretaris

: Siti Evi Marissa


: Nurul Lintang Amelia

Presentan

: M Arvin Arliando

Pelaksanaan

: 28 dan 30 Maret 2016


10.00 12.00 WIB

Peraturan selama tutorial:


-

Diperbolehkan untuk minum

Meminta izin kepada moderator untuk meninggalkan ruangan di tengah tutorial

Alat komunikasi mode silent

Pada saat ingin berbicara terlebih dahulu mengacungkan tangan, lalu setelah diberi izin
moderator baru bicara

Saling menghargai dan tidak saling menggurui

iii

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.................................................................................................................ii
KEGIATAN DISKUSI..............................................................................................................iii
DAFTAR ISI.............................................................................................................................iv
SKENARIO A BLOK 25 TAHUN 2016....................................................................................5
I.

Klarifikasi Istilah.................................................................................................................6

II. Identifikasi Masalah............................................................................................................6


III. Analisis Masalah.................................................................................................................7
VI. Analisis Aspek Klinis........................................................................................................31
V. Sintesis Masalah................................................................................................................48
5.1 Fase Tumbuh Kembang Bayi....................................................................................48
5.2 Gangguan Tumbuh Kembang....................................................................................53
5.3 Cerebral Palsy............................................................................................................57
5.4 Nutrisi Pada Bayi.......................................................................................................63
VI. Kerangka Konsep..............................................................................................................71
VII. Kesimpulan.......................................................................................................................72
DAFTAR PUSTAKA...............................................................................................................73

iv

SKENARIO A BLOK 25 TAHUN 2016


Fariz, anak laki-laki, usia 10 bulan, dibawa ke RSMH karena belum tengkurap. Fariz baru
bisa memiring-miringkan badannya pada usia 6 bulan. Sampai saat ini belum bisa makan
bubur, sehingga masih diberi susu formula. Fariz juga belum bisa makan biskuit sendiri. Fariz
belum bisa mengoceh dan meraih benda.
Fariz adalah anak pertama dari ibu usia 36 tahun. Lahir spontan dengan bidan pada
kehamulan 37 minggu dengan berat badan waktu lahir 2400 g, score APGAR di menit
pertama: 6 dan menit kelima: 8. Ketuban pecah 20 jam sebelum lahir berwarna hijau dan
kental. Selama hamil ibu tidak ada keluhan dan periksa kehamilan ke bidan 3 kali. Kemudian
2 jam setelah kahir Fariz mengalami sesak napas dan dirawat di NICU selama 2 hari dan di
bangsal selama 3 minggu dengan diagnosa broncopneumonia dan meningitis.
Pemriksaan Fisik:

Berat badan 6,4 kg, panjang badan 70 cm, lingkar kepala 38 cm.
Tidak ada gambaran disformik. Anak sadar, kontak mata baik, mau melihat tapi tidak
mau tersenyum kepada pemeriksa. Menoleh ketika dipanggil namanya dengan keras.

Tidak terdapat gerakan yang tidak terkontrol


Pada posisi ditengkurapkan dapat mengangkat dan menahan kepala beberapa detik.
Reflex moro dan reflex menggenggam masih ditemukan. Kekuatan kedua lengan dan
tungkai 3, lengan dan tungkai kaku dan susah untuk ditekuk, reflex tendon meningkat,

reflex babinsky (+). Tidak ada kelainan anatomi pada kedua tungkai dan kaki.
Ketika anak diangkat dalam posisi horizontal keempat ekstremitas terlihat kaku, pada

posisi vertical kedua tungkai menyilang.


Pada pemeriksaan KPSP usia 9 bulan anak tidak bisa melakukan semua kegiatan.

I.

Klarifikasi Istilah
Tabel 1. Klarifikasi Istilah
No. Istilah
1.
Broncopneumionia
2.
Refleks Babinsky

Definisi
Peradangan paru yang berawal pada bronkiolus terminalis.
Refleks jari-jari kaki yang abnormal apabila setelah usia 12

3.

18 bulan.
Adalah suatu respon tiba-tiba pada bayi yang baru lahr yang

Refleks Moro

terjadi akibat suara atau gerakan yang mengejutkan


menetap hingga usia 4 bulan dan berangsur menghilang saat
4.

KPSP

usia 6 bulan.
Penilaian perkembangan

anak

dalam

sektor

perkembangan yaitu motorik kasar, motorik halus, bicara


5.
6.

Meningitis
APGAR

atau bahasa dan sosial kemandirian.


Peradangan pada meningen.
Metode sederhana yang digunakan untuk menilai keadaan
umum bayi sesaat setelah kelahiran.

II.

Identifikasi Masalah
1. Fariz, anak laki-laki, usia 10 bulan, dibawa ke RSMH karena belum tengkurap.
Fariz baru bisa memiring-miringkan badannya pada usia 6 bulan. Sampai saat
ini belum bisa makan bubur, sehingga masih diberi susu formula. Fariz juga
belum bisa makan biskuit sendiri. Fariz belum bisa mengoceh dan meraih
benda. (MAIN PROBLEM)
2. Fariz adalah anak pertama dari ibu usia 36 tahun. Lahir spontan dengan bidan pada
kehamilan 37 minggu dengan berat badan waktu lahir 2400 g, score APGAR di menit
pertama: 6 dan menit kelima: 8. Ketuban pecah 20 jam sebelum lahir berwarna hijau
dan kental. Selama hamil ibu tidak ada keluhan dan periksa kehamilan ke bidan 3 kali.
Kemudian 2 jam setelah kahir Fariz mengalami sesak napas dan dirawat di NICU
selama 2 hari dan dibangsal selama 3 minggu dengan diagnosa broncopneumonia dan
meningitis.
3. Pemriksaan Fisik:
Berat badan 6,4 kg, panjang badan 70 cm, lingkar kepala 38 cm
Tidak ada gambaran disformik. Anak sadar, kontak mata baik, mau melihat tapi
tidak mau tersenyum kepada pemeriksa. Menoleh ketika dipanggil namanya

dengan keras. Tidak terdapat gerakan yang tidak terkontrol


Pada posisi ditengkurapkan dapat mengangkat dan menahan kepala beberapa
detik. Reflex moro dan reflex menggenggam masih ditemukan. Kekuatan kedua
6

lengan dan tungkai 3, lengan dan tungkai kaku dan susah untuk ditekuk, reflex
tendon meningkat, reflex babinsky (+). Tidak ada kelainan anatomi pada kedua

tungkai dan kaki.


Ketika anak diangkat dalam posisi horizontal keempat ekstremitas terlihat kaku,

pada posisi vertical kedua tungkai menyilang.


Pada pemeriksaan KPSP usia 9 bulan anak tidak bisa melakukan semua
kegiatan.

III. Analisis Masalah


1. Fariz, anak laki-laki, usia 10 bulan, dibawa ke RSMH karena belum tengkurap.
Fariz baru bisa memiring-miringkan badannya pada usia 6 bulan. Sampai saat ini
belum bisa makan bubur, sehingga masih diberi susu formula. Fariz juga belum
bisa makan biscuit sendiri. Fariz belum bisa mengoceh dan meraih benda.
a. Bagaimana fase tumbuh kembang yang normal pada tahun pertama
kelahiran?
Berat badan
1. Penurunan berat

Tinggi
1. Rerata panjang saat

badan pada beberapa

lahir adalah 50cm, 75

hari pertama

cm pada anak usia 1

kehidupan: 5-10 %
berat lahir.
2. Kembali ke berat
lahir pada usia 7-10
hari.
Dua kali berat lahir
pada usia 4-5 bulan.
Tiga kali berat lahir
pada usia 1 tahun.
Empat kli berat lahir
pada usia 2 tahun.
3. Berat rerata
3,5 kg pada saat lahir
10 kg saat usia 10

tahun.
2. Pada usia 3 tahun,
rerata tinggi anak
adalah 3 kaki.
3. Pada usia 4 tahun,
rerata tinggi anak
adalah 100cm (dua
kali panjang lahir).

Lingkar Kepala
1. Rerata lingkar
kepala adalah 35 cm
saat lahir (13,5 inci).
2. Lingkar kepala
meningkat
1cm/bulan dalm satu
tahun pertama
(2cm/bulan selama 3
bulan pertama,
kemudian
.menurun); 10 cm
selama sisa hidup
yang ada.

tahun
20 kg saat usia 5
tahun
30 kg saat usia 10
tahun
7

4. Penambahan berat
badan setiap hari
20-30 gram pada 3-4
bulan pertama
15-20 gram pada sisa
tahun pertama
5. Rerata penambahan
berat badan tiap tahun
: 2,3 kg antara usia 2
tahun dan pubertas
Tabel 2. Fase Pertumbuhan Normal
Usia

Motorik kasar

Motorik

Personal-

Halus &

Sosial

Bahasa

Adaptif
2 Minggu

- Kepala

-Megenal

-Waspada

bergeser ke

wajah

terhadap bunyi

kanan dan ke
2 bulan

4 bulan

bel

kiri
-Mengangkat

-Mengikuti

-Tersenyum

-Cooing,

bahu saat

benda

sebagai

mencari

tengkurap

melewati

bentuk respon sumber suara

-Mengangkat

garis tengah

menggunakan

-Mencari

mata
-Tertawa dan

tangan
objek
-Tengkurap
-Raking
-Tidak dijumpai:
grasp
headlag jika
ditarik dari

-Melihat
tangan
-Mulai

menangis

bermain
dengan
mainan

posisi tidur
6 bulan

terlentang
-Duduk sendiri

-Bisa

Memindahka

memberi

n objek dari

makan diri

-Mengoceh

tangan ke

sendiri
-Memegang

tangan
9 bulan

12 bulan

botol
-Bisa

-Bilang dada,

melambai bye

mama, tapi

bye

-Mulai belajar

-Mulai pincer

berdiri
-Dapat duduk

grasp
Mempertemu

sendiri

kan dua

tidak spesifik
-Mengucapkan

balok

dua suku kata

-Berjalan
-Bangkit dan
berdiri

Memasukkan

- Minum dari

-Bilang mama

balok dalam

gelas
- Menirukan

dan papa

lain

1-2 kata yang

cangkir

spesifik
gerakan orang -Mengucapkan
lainnya

Tabel 3. Tahapan Perkembangan


b. Bagaimana tahap-tahap pemberian nutrisi pada bayi?
Umu
r
(bula
0 -6
ASI
69
9 12
Tabel 4. Pola
12 24
ASI dan
Umur (bulan)
69

AS Makana
n
I
Lumat

Frekuensi
3x makanan lumat + ASI

Makana Makana
n
n
Lembik Keluarg

Pemberian
MP-ASI
Jumlah setiap kali makan
Secara bertahap ditingkatkan sampai
2/3 mangkuk ukuran 250 ml tiap

9 12

3x makanan lembik + 2x

kali makan
mangkuk ukuran 250 ml

12 24

makanan selingan + ASI


3x makanan keluarga + 2x

Semangkuk penuh ukuran 250 ml

makanan selingan + ASI


Tabel 5. Frekuensi dan Jumlah pemberian MP-ASI
Pola Pemberian Makanan Pada Bayi
1) Makanan Bayi Umur 0 6 Bulan
Berikan hanya ASI saja sampai berumur enam bulan (ASI Eksklusif).
Pada periode ini ASI saja sudah dapat memenuhi kebutuhan gizi bayi.
9

Berikan ASI dari kedua payudara, berikan ASI dari satu payudara
sampai kosong kemudian pindah ke payudara lainnya (Depkes RI,
2005).
Waktu dan lama menyusui tidak perlu dibatasi dan frekuensinya tidak
perlu dijadwal (diberikan pagi, siang dan malam hari).
2) Makanan Bayi Umur 6 9 Bulan
Hal-hal yang harus diperhatikan:
a) Pemberian ASI diteruskan.
b) Bayi mulai diperkenalkan dengan MP-ASI berbentuk lumat halus
karena bayi sudah memiliki refleks mengunyah. Contoh MP-ASI
berbentuk halus antara lain bubur susu, biskuit yang ditambah air
atau susu, pisang dan pepaya

yangdilumatkan. Berikan untuk

pertama kali satu jenis MP-ASI dan berikan sedikit demi sedikit
mulai dengan jumlah 1 2 sendok makan, 1 2 kali sehari.
Berikan untuk beberapa hari secara tetap, kemudian baru diberikan
jenis MP-ASI yang lain.
c) Perlu diingat tiap kali berikan ASI lebih dulu baru MP-ASI, agar
ASI dimanfaatkan seoptimal mungkin.
d) Memperkenalkan makanan baru pada bayi, jangan dipaksa. Kalau
bayi sulit menerima, ulangi pemberiannya pada waktu bayi lapar,
sedikit demi sedikit dengan sabar, sampai bayi terbiasa dengan rasa
makanan tersebut.
3) Makanan Bayi Umur 9 12 Bulan
Hal-hal yang perlu diperhatikan:
a) Pemberian ASI diteruskan.
b) Bayi mulai diperkenalkan dengan makanan lembek yaitu berupa
nasi tim/ saring bubur saring dengan frekuensi dua kali sehari.
c) Untuk mempertinggi nilai gizi makanan, nasi tim bayi ditambah
sedikit demi sedikit dengan sumber zat lemak, yaitu santan atau
minyak kelapa/ margarin. Bahkan makanan ini dapat menambah
kalori bayi, disamping memberikan rasa enak juga mempertinggi
penyerapan vitamin A dan zat gizi lain yang larut dalam lemak.
Nasi tim bayi harus diatur secara berangsur. Lambat laun
mendekati bentuk dan kepadatan makanan keluarga.
d) Berikan makanan selingan 1 kali sehari. Dipilih makanan yang
bernilai gizi tinggi, seperti bubur kacang hijau, buah dan lain-lain.
Diusahakan agar makanan selingan dibuat sendiri agar kebersihan
terjamin.
10

Umur 0 6bulan
ASI Sekehendak
Umur 6 7bulan
Jam 06.00 : ASI (sekehendak)
09.00 : Buah / Sari buah
12.00 : ASI
15.00 : Buah / Sari buah
18.00 : ASI
21.00 :ASI dst
Umur 7 8bulan
Jam 06.00 : ASI (sekehendak)
09.00 : Buah / Sari buah
12.00 : Bubur Susu
15.00 : Buah / Sari buah
18.00 : ASI
21.00 :ASI dst
Umur 8 9 bulan
Jam 06.00 : ASI
09.00 : Buah / Sari buah
12.00 : Bubur Susu
15.00 : Biskuit
18.00 : Tim Saring
21.00 :ASI dst
Umur 9 10bulan
Jam 06.00 : ASI
08.00 : Bubur Susu
10.00 : Buah / Sari buah
13.00 : Tim Saring
15.00 : Biskuit
18.00 : Tim Saring
21.00 :ASI dst
Umur 11 12 bulan
Jam 06.00 : ASI
08.00 : Nasi Tim
10.00 : Buah / Sari buah
13.00 : NasiTim
15.00 : Biskuit
18.00 : NasiTim
21.00 :ASI dst
Tabel 6. Frekuensi dan Jumlah pemberian MP-ASI
c. Apa makna klinis dan penyebab belum tengkurap, baru bisa memiringmiringkan badannya pada usia 6 bulan, belum bisa makan bubur?
KPD infeksi cairan ketuban terhirup bayi bronkopneumonia
bakteri menyebar melalui hematogen ke selaput otak meningitis
infeksi meluas ke serebrum kerusakan sel otak (oligodendrosit, dll)
11

perlambatan proses mielinisasi dan kerusakan jaringan otak (di area


presentralis (korteks motorik)) perlambatan maturasi area motorik dan
gangguan implus di area motorik

perkembangan respon postural

melambat perlambatan motorik kasar perlambatan tengkurap dan


memiring-miringkan badan.
Belum bisa makan bubur dan mengoceh gangguan oromotorik.
KPD infeksi cairan ketuban terhirup bayi bronkopneumonia
bakteri menyebar melalui hematogen ke selaput otak meningitis
infeksi meluas ke serebrum kerusakan sel otak (oligodendrosit, dll)
perlambatan proses mielinisasi dan kerusakan jaringan otak (di area
presentralis (korteks motorik), dan traktus piramidalis) hilangnya inhibisi
sentral desendens (tractus piramidalis tractus kortikonuklearis (cabang
tractus piramidalis yang bercabang di otak tengah menuju nuclei nervi
kranialis motorik) nervus kranialis motorik (N. trigeminus devisi
mandibularis, N. glossopharyngeus, N. hypoglosus)) pada sel-sel fusimotor
(neuron motor ) yang mempersarafi spindel otot pengunyah, menelan dan
lidah hipersensitivitas spindel otot hiperaktif kontraksi otot
kekakuan otot-otot pengunyah, m. stylopharyngeus (membantu menelan) dan
otot-otot lidah disfungsi oromotor gangguan menelan dan gangguan
bicara belum bisa makan bubur dan belum bisa mengoceh.
d. Apa makna klinis dan penyebab belum bisa makan bubur?
Makna klinis dari Fariz yang belum bisa makan bubur yaitu karena masalah
motorik pada mulut disebabkan oleh adanya gangguan pada otak (CP).
Kerusakan otak di area
korteks motorik
(precentralis)
Terjadi kerusakan pada
area yang mengatur
motorik lidah, wajah

Bagan 1. Mekanisme kesulitan menelan

oromotor
e. Apa Disfungsi
makna klinis
dan penyebab belum bisa mengoceh dan meraih benda

pada kasus?
Belum bisa mengoceh dan meraih benda tidak normal
Kesulitan makan
(gangguan menelan)
Belum bisa makan bubur

12

Karena pada usia ini, anak sudah dapat mengatakan kata yang jelas, seperti
memanggil mama atau papa sertamengambil benda baru, melihat-lihat,
memberikan tangan ke tangan, memukul, meletakkan. Hal ini menunjukkan
bahwa mengalami gangguan tumbuh kembang yang disebabkan oleh
Cerebral Palsy.
f. Apa faktor-faktor yang mempengaruhi tumbuh kembang pada anak?
Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan dan Perkembangan
Factor Genetic
Merupakan modal dasar dalam mencapai hasil akhir proses
tumbuhkembang anak. Melalui instruksi genetic yang terkandung
didalam sel telur yang telah dibuahi, dapat ditentukan kualitas dan
kuantitas pertumbuhan. Potensi genetic yang bermutu hendaknya dapat
berinteraksi dengan lingkungan secara

positif sehingga dapat

diperoleh hasil akhir yang optimal. Penyakit keturunan yang


disebabkan oleh kelainan kromosom seperti Sindro Down, Sindrom
Turner, dan lain-lain.

Factor Lingkungan
- Lingkungan Prenatal
Yang termasuk factor lingkungan prenatal adalah gizi ibu saat
hamil,

adanya toksin atau zat kimia, radiasi, stress, anoksia

embrio, imunitas, infeksi dan lain-lain.


- Lingkungan Post Natal
a. Factor Biologis
Yang termasuk didalamnya adalah rass (suku bangsa), jenis
kelamin, umur, gizi, perawatan kesehatan, kepekaan terhadap
penyakit, penyakit kronis, fungsi metabolisme, hormone.

13

b. Factor Fisik
Yang termasuk didalamnya adalah cuaca (musim, keadaan
geografis), keadaan rumah, sanitasi, radiasi.
c. Factor Psikososial
Yang
termasuk
didalamnya
adalah

stimulasi,

ganjaran/hukuman yang wajar, motivasi belajar, keluarga


sebaya, sekolah, stress,

cinta

dan

kasih saying, kualitas

interaksi anak dan orang tua.


d. Factor Keluarga dan Adat Istiadat
Yang termasuk didalamnya adalah pekerjaan/pendapatan
keluarga, pendidikan ayah dan ibu, jumlah saudara, jenis
kelamin dalam keluarga, stabilitas rumah tangga, kepribadian
ayang dan ibu, adapt istiadat, norma, agama, dan lain-lain.
2. Fariz adalah anak pertama dari ibu usia 36 tahun. Lahir spontan dengan bidan
pada kehamilan 37 minggu dengan berat badan waktu lahir 2400 g, skor APGAR
di menit pertama: 6 dan menit kelima: 8. Ketuban pecah 20 jam sebelum lahir
bewarna hijau dan kental. Selama hamil ibu tidak ada keluhan dan periksa
kehamilan ke bidan 3 kali. Kemudian 2 jam setelah lahir, Fariz mengalami sesak
nafas dan dirawat di NICU selama 2 hari dan dibangsal selama 3 minggu dengan
didiagnosa bronkopneumonia dan meningitis.
a. Apa interpretasi dan mekanisme riwayat kehamilan?
Anak pertama pada ibu yang melahirkan cenderung memiliki resiko besar
untuk terjadinya cerebral palsy, hal ini diakibatkan karena pada anak
pertama lebih sering mengalami kesulitan pada waktu dilahirkan (faktor
masih kaku pada organ reproduksi ibu) sehingga bisa mengakibatkan
resiko kelahiran anak dengan asfiksia neonatal, yang merupakan faktor
resiko untuk terjadinya cerebral palsy.
Ibu usia 36 tahun merupakan faktor resiko Ketuban Pecah Dini (KPD)
pada kasus. Usia seseorang sedemikian besarnya akan mempengaruhi
sistem reproduksi, karena organ-organ reproduksinya sudah mulai
berkurang

kemampuannya

dan

keelastisannya

dalam

menerima

kehamilan. Usia untuk reproduksi optimal bagi seorang ibu adalah antara
umur 20-35 tahun.
Meriksa kehamilan ke bidan 3 kali. ANC (Antenatal Care) disarankan
minimal 4 kali selama kehamilan. Hal ini berguna untuk deteksi dini
kelainan yang terjadi agar tidak membahayakan ibu dan bayi. ANC dapat
14

menurunkan resiko terjadinya cerebral palsy pada kasus, karena dapat


mendeteksi adanya riwayat penyakit yang diderita oleh ibu seperti halnya
pada kasus sehingga bila riwayat infeksi ibu diketahui lebih cepat akan
menurunkan resiko terjadinya KPD yang berdampak pada cerebral palsy.
Kehamilan pada 37 minggu (aterm) tidak memiliki hubungan dengan
kasus. Kelahiran preterm merupakan salah satu faktor resiko terjadinya
infeksi maupun cerebral palsy.
Ketuban pecah 20 jam sebelum lahir berwarna hijau dan kental
merupakan faktor resiko pada kasus. Ketuban adalah membran yang
mengelilingi kavum amniotik terdiri dari amnion dan korion, yang
merupakan lapisan yang melekat yang mengandung berbagai tipe sel,
termasuk sel epitel, sel mesenkim, dan sel trofoblas, tertanam dalam
matriks

kolagen.

Membran

ini

mempertahankan

cairan

amnion,

mensekresikan substansi baik ke dalam cairan amnion maupun ke


uterus,dan melindungi janin dari infeksi yang melibatkan saluran
reproduksi. Jika ketuban pecah sebelum lahir akan memudahkan
terjadinya infeksi ascenden atau korioamnionitis. Ketuban berwarna hijau
dan

kental

artinya

terdapat

mekoneum

dan

terjadinya

infeksi.

Korioamnionitis merupakan etiologi pada kasus.


b. Apa interpretasi dan mekanisme riwayat kelahiran?
Interpretasi dari riwayat kelahiran yaitu merupakan etiologi dari kasus.
Lahir spontan dengan bidan pada kehamilan 37 minggu dengan berat
badan waktu lahir 2400 g lahir normal cukup bulan, bayi BBLR
score APGAR di menit pertama: 6 dan menit kelima 8

Nilai 0
Warna kulit

Nilai 1

Nilai 2

seluruhnya

warna kulit tubuh

warna kulit tubuh,

biru

normal merah

tangan, dan kaki

muda,

normal merah

tetapi tangan dan

muda, tidak

kaki kebiruan

ada sianosis

Akronim
Appearance

(akrosianosis)
Denyut jantung

tidak ada

<100 kali/menit

>100 kali/menit

Pulse
15

Respons refleks

tidak ada

meringis/menangis

meringis/bersin/

Grimace

respons

lemah ketika

batuk saat stimulasi

terhadap

distimulasi

saluran napas

sedikit gerakan

bergerak aktif

Activity

lemah atau tidak

menangis kuat,

Respiration

teratur

pernapasan baik

stimulasi
Tonus otot

lemah/tidak
ada

Pernapasan

tidak ada

dan teratur
Tabel 7. Skor APGAR
Tes ini umumnya dilakukan pada waktu satu dan lima menit setelah kelahiran
dan dapat diulangi jika skor masih rendah.

Jumlah sko

Interpretasi

Catatan

r
7-10

Bayi normal

4-6

Agak rendah

Memerlukan tindakan medis segera seperti


penyedotan lendir yang menyumbat jalan
napas, atau pemberian oksigen untuk
membantu bernapas.

0-3

Sangat rendah Memerlukan tindakan medis yang lebih


intensif
Tabel 8. Interpretasi skor APGAR

Ketuban pecah 20 jam sebelum lahir berwarna hijau dan kental


ketuban pecah dini dan telah terjadi infeksi.
Kemudian 2 jam setelah lahir Fariz mengalami sesak napas dan
dirawat di NICU selama 2 hari dan di bangsal selama 3 minggu dengan
diagnosa broncopneumonia dan meningitis disebabkan oleh infeksi
yang terjadi selama kehamilan dan menjadi etiologi (bayi anoksia/hipoksia).
Perinatal:Penyebab palsi serebral dalam periode ini antara lain: anoksia /
hipoksia yang dialami bayi selama proses kelahiran, trauma (disproporsi
sefalopelvik, sectio caesaria), prematuritas, dan hiperbilirubinemia.
16

Postnatal:Penyebab palsi serebral dalam periode ini antara lain: trauma


kepala, infeksi (meningitis / ensefalitis yang terjadi 6 bulan pertama
kehidupan), anoksia, dan luka parut pada otak setelah operasi.
c. Apa hubungan penyakit waktu lahir dengan keluhan sekarang?
Adanya riwayat obstetrik berupa pecah ketuban yang lama >18 jam
merupakan

penyebab

terjadinya

chorioamnionitis

pada

kasus

ini.

Chorioamnionitis merupakan salah satu faktor risiko terjadinya serebral


palsy. Korioamnionitis menyebabkan fetal inflammatory response, dan
inflamasi ini dapat menyebabkan cedera otak pada neonatus yang dapat
mengakibatkan terjadinya palsi serebral. invasi mikroba ke cairan amnion
dimana bakteri yang mencapai rongga amnion menyebabkan terjadinya
infeksi serta inflamasi di membran plasenta dan umbilical cord.
Penyebab tersering infeksi intrauterin adalah bakteri yang ascending
dari saluran kemih ataupun genital bagian bawah atau vaginitis. Organisme
penyebab terjadinya korioamnionitis adalah organisme normal di vagina,
termasuk Eschericia coli, selain itu Streptokokus grup B juga sering berperan
sebagai

penyebab

infeksi.

Chlamydia trachomatis sebagai salah

satu bakteri penyebab cervicitis juga berperan sebagai bakteri penyebab


infeksi intrauterin dan berhasil diisolasi dari cairan amnion. Peran virus
sebagai penyebab korioamnionitis sampai dengan saat ini belum jelas
diketahui.
Aspirasi cairan amnion yang terinfeksi oleh fetus dapat menyebabkan
pneumonia kongenital. Otitis, konjungtivitis, dan omphalitis juga dapat
terjadi akibat penyebaran mikroorganisme dari cairan amnion yang
terinfeksi. Penyebaran infeksi dari daerah yang tersebut di atas juga dapat
menyebabkan terjadinya fetal bakteremia dan sepsis serta komplikasi lain
seperti meningitis. Meningitis pada umumnya sebagai akibat dari penyebaran
penyakit di organ atau jaringan tubuh yang lain. Virus / bakteri menyebar
secara hematogen sampai ke selaput otak, misalnya pada penyakit Faringitis,
Tonsilitis, Pneumonia, Bronchopneumonia dan Endokarditis. Penyebaran
bakteri/virus dapat pula secara perkontinuitatum dari peradangan organ atau
jaringan yang ada di dekat selaput otak, misalnya Abses otak, Otitis Media,
Mastoiditis, Trombosis sinus kavernosus dan Sinusitis. Penyebaran kuman

17

bisa juga terjadi akibat trauma kepala dengan fraktur terbuka atau komplikasi
bedah otak.
Invasi kuman-kuman ke dalam ruang subaraknoid menyebabkan reaksi
radang pada pia dan araknoid, CSS (Cairan Serebrospinal) dan sistem
ventrikulus. Mula-mula pembuluh darah meningeal yang kecil dan sedang
mengalami hiperemi; dalam waktu yang sangat singkat terjadi penyebaran
sel-sel leukosit polimorfonuklear ke dalam ruang subarakhnoid, kemudian
terbentuk eksudat. Dalam beberapa hari terjadi pembentukan limfosit dan
histiosit dan dalam minggu kedua selsel plasma. Eksudat yang terbentuk
terdiri dari dua lapisan, bagian luar mengandung leukosit polimorfonuklear
dan fibrin sedangkan di lapisaan dalam terdapat makrofag. Proses radang
selain pada arteri juga terjadi pada vena-vena di korteks dan dapat
menyebabkan trombosis, infark otak, edema otak dan degenerasi
neuronneuron. Trombosis serta organisasi eksudat perineural yang fibrinopurulen menyebabkan kelainan kraniales. Pada Meningitis yang disebabkan
oleh virus, cairan serebrospinal tampak jernih dibandingkan Meningitis yang
disebabkan oleh bakteri.
Beberapa bukti memperlihatkan bahwa inflamasi terlibat dalam
patogenesis cedera otak iskemik. Reaksi inflamasi dicetuskan oleh iskemik
pada sistem susunan saraf pusat (SSP) yang terdiri dari peningkatan jumlah
leukosit, termasuk sel polimorfonuklear (PMN) yang diikuti oleh monosit,
aktivasi mikroglia, dan membutuhkan ekspresi molekul adhesi spesifik dan
faktor kemotaktik.
Penelitian terbaru memperlihatkan bahwa IL-1 dan TNF-, kedua
sitokin ini dapat merangsang reaksi inflamasi di SSP. IL-6 merupakan suatu
sitokin pleiotropic yang mempengaruhi reaksi proinflamasi dan anti
inflamasi, produksinya ditingkatkan oleh sitokin lain, termasuk IL-1 dan
TNF-.15 Yoon dkk mendapati hubungan yang kuat antara beberapa sitokin
(IL-6, IL-1, IL-8, TNF-) di cairan amnion dengan palsi serebral pada satu
studi kohort bayi sampai dengan berusia 3 tahun.
TNF- dan IL-6 dilepaskan dari sel T, makrofag, mikroglia, dan
astrosit, yang merupakan faktor penting untuk regulasi tidak hanya untuk
maturasi dan pertumbuhan sel tetapi juga dalam hal respons terhadap cedera
dan fungsi proteksi intraneural. Infeksi/inflamasi dapat menyebabkan
deregulasi pelepasan sitokin dari sel-sel CNS dan menginfiltrasi sel- sel
18

imun, menyebabkan kerusakan otak dan jaringan lainnya. Penelitian pada


hewan percobaan telah memperlihatkan bahwa lipopolisakarida merangsang
mikroglia untuk melepaskan sejumlah besar IL-1, TNF-, dan IL-6.
Tingginya kadar sitokin proinflamasi ini seperti yang didapati pada
korioamnionitis bertanggung jawab untuk terjadinya cedera otak.
Peningkatan kadar IL-6 dan IL-8 di SSP pada bayi baru lahir berkaitan
dengan derajat ensefalopati, dan IL-6 berkaitan dengan outcome. Meskipun
demikian, apakah sitokin inflamasi secara langsung mempengaruhi
patogenesis cedera otak neonatus atau hasil dari cedera otak sendiri, sampai
dengan saat ini belum dimengerti sepenuhnya.
Cedera pada otak inilah yang kemudian menimbulkan manifestasi
klinis berupa gangguan motorik dan gangguan fungsi saraf pusat lainnya.
d. Apa hubungan keadaan waktu lahir dengan keluhan sekarang?
Keadaan waktu lahir yang abnormal: Ketuban pecah 20 jam sebelum lahir
berwarna hijau dan kental 2 jam setelah kahir Fariz mengalami sesak napas.
Hubungan dengan keluhan sekarang:
Ketuban pecah dini -> cairan ketuban terinfeksi -> aspirasi ketuban terinfeksi
meconium -> sesak nafas (manifestasi bronkopnemoni)
3. Pemeriksaan fisik
Berat badan 6,4 kg, panjang badan 70 cm, lingkar kepala 38 cm.
Tidak ada gambaran dismorfik. Anak sadar, kondisi mata baik, mau melihat
tapi tidak mau tersenyum kepada pemeriksa. Menoleh ketika dipanggil

namanya dengan keras. Tidak terdapat gerakan yang tidak terkontrol.


Pada posisi ditengkurapkan dapat mengangkat dan menahan kepala beberapa
detik. Refleks moro dan refleks menggenggam masih ditemukan. Kekuatan
kedua lengan dan tungkai 3, lengan dan tungkai kaku dan susah untuk
ditekuk, refleks tendon meningkat, refleks babinsky +. Tidak ada kelainan

anatomi pada kedua tungkai dan kaki.


Ketika anak diangkat diangkat dalam posisi horizontal ke 4 ekstremitas

terlihat kaku, pada posisi vertical kedua tungkai menyilang.


Pada pemeriksaan KPSP usia 9 bulan anak tidak bisa melakukan semua

kegiatan.
a. Apa interpretasi da mekanisme abnormal dari hasil pemeriksaan fisik poin 1
dan 2?
Pemeriksaan

Normal

Interpretasi
19

BB = 6,4 kg (kurva >-

0 - -1

3)

IBW = 8,5 kg

Severely underweight
(cerebral palsy
Gangguan otot-otot
oromotor gangguan
asupan gizi kurang

TB = 70 cm (kurva 0 -

2 - -1

gizi)
Normal

-1)
Lingkar kepala = 38 cm

Mikrosefali

< -2sd

cerebral

palsy

Gangguan
oromotor

otot-otot

gangguan

asupan gizi kurang gizi


terganggunya proses
perkembangan

otak

gangguan

mikrosefali
Normal
(tidak

dismorfik
Anak sadar
Mau melihat tapi tidak

sindrom yang menyertai)


Normal
abnormal

Ada

Tidak

ada

ada

mau tersenyum pada


pemeriksa
Menoleh
dipanggil

ketika
namanya

dengan keras
Tidak terdapat gerakan

gangguan

pendengaran
-

Normal

yang tidak terkontrol


Tabel 9. Interpretasi Pemeriksaan Fisik Poin 1 dan 2
b. Apa interpretasi da mekanisme abnormal dari hasil pemeriksaan fisik poin 3?
Deskripsi
Posisi tengkurap

Kasus
Normal
Dapat mengangkat dan Sudah
menahan

Refleks moro

beberapa detik
+

kepala menstabilkan

Interpretasi
dapat Keterlambatan
perkembangan

kepala, berjalan
motorik
Hingga usia 4-5 Menandakan adanya
bulan

defek neurologis
20

Refleks

Hingga

usia

5-6 Menandakan adanya

menggenggam

bulan

defek

Kekuatan lengan dan 3

(cerebral palsy)
Cukup kuat untuk

tungkai
Lengan dan tungkai +

mengatasi gravitasi
Menandakan adanya

kaku

dan

susah

ditekuk
Refleks tendon

defek

neurologis

neurologis

(cerebral palsy)
Adanya lesi pada

Meningkat

Waktu diangkat ke Kedua tungkai saling

UMN
Defek

posisi vertical
menyilang
Kelainan
anatomi -

(CP)
Normal

neurologis

pada kedua tungkai


dan kaki

Tabel 9.Tabel 10. Interpretasi Pemeriksaan Fisik Poin 3


c. Apa interpretasi da mekanisme abnormal dari hasil pemeriksaan fisik poin 4
dan 5?
Pemeriksaan: Ketika anak diangkat dalam posisi horizontal keempat
ekstremitas terlihat kaku. pada posisi vertical kedua tungkai menyilang.
Interpretasi:
- Bayi mengalami cerebral palsy tipe spastik Quadriplegia dimana otot
mengalami kekakuan pada keempat ekstremitas terkena dengan
derajad yang sama.

Gambar 1. Abnormal

Gambar 2. Normal

Pemeriksaan: Pada pemeriksaan KPSP usia 9 bulan anak tidak bisa


melakukan semua kegiatan.
Interpretasi: Tahapan perkembangan terjadi penyimpangan (P) (jumlah
jawaban ya 6 atau kurang.
21

Mekanisme Abnormal
Pada Cerebral Palsy terjadi kerusakan pada pusat motorik dan
menyebabkan terganggunya fungsi gerak yang normal. Pada kerusakan
korteks serebri terjadi kontraksi otot yang terus menerus dimana
disebabkan oleh karena tidak terdapatnya inhibisi langsung pada
lengkung refleks. Sedangkan kerusakan pada level midbrain dan batang
otak

akan

mengakibatkan

gangguan

fungsi

refleks

untuk

mempertahankan postur. Mid brain ekstra piramidal dan pusat lokomotor


merupakan pusat control motor primitif. Pusat ini membuat seseorang
menggunakan pola primitif reflek untuk melakukan ambulasi dimana
pada saat tidak terdapatnya seleksi kontrol motorik. Bila terdapat cedera
berat pada sistem ekstra piramidal dapat menyebabkan gangguan pada
semua gerak atau hypotoni, termasuk kemampuan bicara. Namun bila
hanya cedera ringan maka gerakan gross motor dapat dilakukan tetapi
tidak terkoodinasi dengan baik dan gerakan motorik halus sering kali
tidak dapat dilakukan.
d. Bagaimana perkembangan reflex primitive pada anak?
Tabel 11.

a. Refleks MORO
Refleks MORO timbul akibat dari rangsangan yang mendadak. Caranya:
Bayi dibaringkan terlentang, kemudian diposisikan setengah duduk dan
disanggah oleh kedua telapak tangan pemeriksa, secara tiba-tiba tapi hatihati kepala bayi dijatuhkan 30 45o (merubah posisi badan anak secara
mendadak). Refleks MORO juga dapat ditimbulkan dengan menimbulkan
suara keras secara mendadak ataupun dengan menepuk tempat tidur bayi
secara mendadak. Refleks MORO dikatakan positif bila terjadi abduksiesktensi keempat ekstremitas dan pengembangan jari-jari, kecuali pada
22

falangs distal jari telunjuk dan ibu jari yang dalam keadaan fleksi.
Gerakan itu segera diikuti oleh adduksi-fleksi ke-empat ekstremitas.
Refleks MORO asimetri menunjukkan adanya gangguan sistem
neuromuskular, antara lain pleksus brakhialis. Apabila asimetri terjadi
pada tangan dan kaki kita harus mencurigai adanya HEMIPARESIS.
Selain itu juga perlu dipertimbangkan bahwa nyeri yang hebat
akibatfraktur klavikula atau humerus juga dapat memberikan hasil refleks
MORO asimetri. Sedangkan refleks MORO menurun dapat ditemukan
pada bayi dengan fungsi SSP yang tertekan misalnya pada bayi yang
mengalami hipoksia, perdarahan intrakranial dan laserasi jaringan otak
akibat

trauma

persalinan,

juga

pada

bayi

hipotoni,

hipertoni

danprematur.Refleks MORO menghilang setelah bayi berusia lebih dari 6


bulan.
b. Refleks PALMAR GRASP
Caranya: Bayi atau anak ditidurkan dalam posisi supinasi, kepala
menghadap ke depan dan tangan dalam keadaan setengah fleksi. Dengan
memakai jari telunjuk pemeriksa menyentuh sisi luar tangan menuju
bagian tengah telapak tangan secara cepat dan hati-hati, sambil menekan
permukaan telapak tangan. Refleks PALMAR GRASP dikatakan positif
apabila didapatkan fleksi seluruh jari (memegang tangan pemeriksa).
Refleks PALMAR GRASP asimetris menunjukkan adanya kelemahan
otot-otot fleksor jari tangan yang dapat disebabkan akibat adanya palsi
pleksus brakhialis inferior atau disebut Klumpkes Paralyse.Refleks
PALMAR GRASP ini dijumpai sejak lahir dan menghilang setelah usia 6
bulan. Refleks PALMAR GRASP yang menetap setelah usia 6 bulan khas
dijumpai pada penderita cerebral palsy.
c. Refleks PLANTAR GRASP
Caranya: Bayi atau anak ditidurkan dalam posisi supinasi kemudian ibu
jari tangan pemeriksa menekan pangkal ibu jari bayi atau anak di daerah
plantar. Refleks PLANTAR GRASP dikatakan positif apabila didapatkan
fleksi plantar seluruh jari kaki. Refleks PLANTAR GRASP negatif
dijumpai pada bayi atau anak dengan kelainan pada medula spinalis
bagian bawah. Refleks PLANTAR GRASP ini dijumpai sejak lahir, mulai
23

menghilang usia 9 bulan dan pada usia 10 bulan sudah menghilang sama
sekali.
d. Refleks SNOUT
Caranya: Dilakukan perkusi pada daerah bibir atas. Refleks SNOUT
dikatakan positif apabila didapatkan respon berupa bibir atas dan bawah
menyengir atau kontraksi otot-otot di sekitar bibir dan di bawah hidung.
Refleks SNOUT ini dijumpai sejak lahir dan menghilang setelah usia 3
bulan. Refleks SNOUT yang menetap pada anak besar menunjukkan
adanya regresi SSP.
e. Refleks TONIC NECK
Caranya: Bayi atau anak ditidurkan dalam posisi supinasi, kemudian
kepalanya diarahkan menoleh ke salah satu sisi. Refleks TONIC NECK
dikatakan positif apabila lengan dan tungkaiyang dihadapi/sesisi menjadi
hipertoni

dan

ekstensi,

sedangkan

lengan

dan

tungkai

sisi

lainnya/dibelakangi menjadi hipertoni dan fleksi. Refleks TONIC NECK


ini dijumpai sejak lahir dan menghilang setelah usia 5 - 6 bulan. Refleks
TONIC NECK yang masih mantap pada bayi berusia 4 bulan harus
dicurigai abnormal. Dan apabila masih bisa dibangkitkan setelah berusia
6 bulan atau lebih harus sudah dianggap patologik. Gangguan yang
terjadi biasanya pada ganglion basalis.
f. Refleks Berjalan (STEPPING)
Caranya: Bayi dipegang pada daerah thoraks dengan kedua tangan
pemeriksa. Kemudian pemeriksa mendaratkan bayi dalam posisi berdiri
di atas tempat periksa. Pada bayi berusia kurang dari 3 bulan, salah satu
kaki yang menyentuh alas tampat periksa akan berjingkat sedangkan pada
yang berusia lebih dari 3 bulan akan menapakkan kakinya. Kemudian
diikuti oleh kaki lainnya dan kaki yang sudah menyentuh alas periksa
akan berekstensi seolah-olah melangkah untuk melakukan gerakan
berjalan secara otomatis. Refleks berjalan tidak dijumpai atau negatif
pada penderita cerebral palsy, mental retardasi, hipotoni, hipertoni dan
keadaan dimana fungsi SSP tertekan.
g. Reaksi Penempatan Taktil (PLACING RESPONSE)

24

Caranya: Seperti pada refleks berjalan, kemudian bagian dorsal kaki bayi
disentuhkan pada tepi meja periksa. Respon dikatakan positif bila bayi
meletakkan kakinya pada meja periksa.
Respon yang negatif dijumpai pada bayi dengan paralise ekstremitas
bawah.
h. Refleks Terjun (PARACHUTE)
Caranya: Bayi dipegang pada daerah thorak dengan kedua tangan
pemeriksa dan kemudian diposisikan seolah-olah akan terjun menuju
meja periksa dengan posisi kepala lebih rendah dari kaki. Refleks terjun
dikatakan positif apabila kedua lengan bayi diluruskan dan jari-jari kedua
tangannya dikembangkan seolah-olah hendak mendarat di atas meja
periksa dengan kedua tangannya. Refleks terjun tidak dipengaruhi oleh
kemampuan visual, karena pada bayi buta dengan fungsi motorik normal
akan memberikan hasil yang positif. Refleks terjun mulai tampak pada
usia 8 9 bulan dan menetap. Refleks terjun negatif dijumpai pada bayi
tetraplegi atau SSP yang tertekan.
e. Bagaimana cara melakukan pemeriksaan fisik (neurologis) pada kasus?
Pemeriksaan Refleks
1. Tahap Gerak Refleks Telapak Tangan (palmar grasp reflex) Tahapan
gerak refleks telapak tangan merupakan salah satu dari seluruh refleks
bayi yang paling dikenal dan merupakan salah satu yang paling awal
muncul pada usia balita. Gerak refleks ini merupakan respons yang
ditampilkan terhadap rangsangan yang halus pada telapak tangannya.
Apabila telapak tangan dirangsang dengan apa saja, maka keempat jari
tangan secara spontan akan menutup, meskipun ibu jari tidak
memberikan respons terhadap rangsangan ini. Namun gerak refleks
tangan ini menjadi ciri khas dari perkembangan motorik yang
diperlihatkan anak balita. Jadi pada tahapan ini anak balita sudah
memiliki kemampuan menggunakan telapak tangannya sebagai alat
komunikasi dengan ibunya, seperti yang tampak pada gambar di bawah
ini.
2. Tahap Gerak Refleks Menghisap (sucking reflex) Tahapan gerak refleks
menghisap dilakukan oleh bibir yang mendapat rangsangan, misalnya
sentuhan susu ibu. Rangsangan ini sebenarnya menimbulkan dua respons
25

yang berkaitan dengan menghisap. (1) terbentuk tekanan negatif di dalam


oral sehingga timbul aksi menghisap, dan (2) lidah akan menimbulkan
tekanan positif, lidah akan menekan ke arah atas dan sedikit ke arah
depan dengan setiap aksi menghisap. Setelah diberi rangsangan yang
sesuai akan terjadi serangkaian gerakan menghisap, masingmasing
gerakan ini terdiri dari penerapan tekanan positif dan negatif secara
serentak. Jadi, padatahapan ini anak sudah memiliki kemampuan
menghisap seperti yang tampak pada gambar di bawah ini.
3. Tahap Gerak Refleks Pencarian (search reflex) Tahapan gerak refleks
pada pencarian ini membantu bayi mendapatkan sumber makanan dan
kemudian refleks menghisap membuat bayi dapat mencerna makanan.
Refleks ini pada umumnya dapat ditimbulkan dengan sentuhan lembut
pada daerah sekitar mulut. Jadi, pada tahapan ini anak sudah memiliki
kemampuan melakukan pencarian sesuatu dengan geraknya seperti yang
tampak pada gambar di bawah ini.
4. Tahap Gerak Refleks Moro (moro reflex) Tahapan gerak refleks moro
paling bermanfaat untuk mendiagnosis kematangan neurologis bayi.
Gerak refleks ini sering kali muncul pada saat lahir dan berakhir pada
saat bayi berumur 4 s/d 6 bulan. Salah satu rangsangan untuk
membangkitkan refleks moro adalah dengan jalan menelentangkan bayi
di atas kasur. Rangangan ini akan membuat lengan, jari-jari, dan kaki
meregang. Jadi pada tahapan ini anak sudah memiliki kemampuan
melakukan gerak refleks moro seperti yang tampak pada gambar di
bawah ini.
5. Tahap Gerak Refleks tidak Simetrik Leher (asymmetrical tonic neck
reflex) Tahapan gerak refleks tidak simetrik leher pada umumnya dapat
dilihat pada bayi yang lahir prematur. Refleks ini dapat muncul jika bayi
dalam keadaan telungkup. Jika kepala bayi diputar ke salah satu sisi atau
yang lainnya, maka anggota tubuh yang searah dengan perputaran
tersebut akan membuka, sedangkan anggota tubuh pada arah berlawanan
akan menutup. Gerak refleks ini biasanya paling bertahan hingga bayi
berusia 2 s/d 3 bulan, selanjutnya akan menghilang. Jadi, pada tahapan ini
anak sudah memilki kemampuan gerak refkleks tidak dimentrik seperti
yang tampak pada gambar di bawah ini.
26

6. Tahapan Gerak Refleks Simetrik Leher (symmetrical tonic neck reflex)


Tahapan gerak refleks simetrik pada leher memberikan respons yang
sama dengan anggota tubuhnya. Respons simetris ini dapat timbul dengan
jalan menempatkan bayi dalam posisi duduk yang ditumpu (dipegang
orang dewasa). Jika bayi dimiringkan cukup jauh ke belakang, maka
leher akan memanjang, yang sesuai dengan refleks membuka tangan dan
menutup kaki. Namun, apabila dimiringkan ke depan maka terjadi refleks
yang sebaliknya. Apabila refleks ini bertahan lama akan menimbulkan
hambatan pada kemampuan bayi dalam mengangkat kepala dengan sadar
saat berada dalam posisi telungkup. Jadi, pada tahapan ini anak sudah
memiliki kemampuan refleks simetrik pada bagian leher seperti yang
tampak pada gambar di bawah ini.
7. Tahap Gerak Refleks Telapak Kaki (plantar grasp reflex) Tahapan gerak
refleks ini normalnya dapat dilihat pada anak mulai dari sejak lahir
hingga sepanjang tahun pertama usia bayi tersebut. Refleks ini dapat
ditimbulkan dengan jalan menerapkan sedikit tekanan, biasanya dengan
ujung jari, pada tumit kaki, yang membuat seluruh jari kaki menutup.
Gerakan menutup ini sebagai upayanya untuk menangkap rangsangan.
Refleks ini harus lebih dahulu dilampaui sebelum anak dapat berdiri
dengan tegak, berdiri sendiri, dan berjalan. Jadi, pada tahapan ini anak
sudah dapat melakukan gerak refleks tepalak kaki seperti yang tampak
pada gambar di bawah ini.
8. Tahap Gerak Refleks kedua Telapak Tangan (palmar mandibular reflex)
Tahapan gerak refleks ini dapat muncul dengan jalan menerapkan
tekanan secara serentak terhadap telapak dari masing-masing tangan,
sehingga akan menimbulkan semua atau salah satu dari respons berikut:
mulut terbuka, mata tertutup, dan leher menekuk. Gerak refleks ini juga
timbul jika tangan bayi itu dirangsang. Refleks ini biasanya hilang setelah
bayi berumur 3 bulan. Jadi, pada tahapan ini anak sudah dapat melakukan
gerak refleks dengan dua tangan seperti yang tampak pada gambar di
bawah ini.
9. Tahap Gerak Refleks Berjalan Kaki (stepping reflex) Tahapan gerak
refleks ini merupakan gerakan yang sangat penting yang dilakukan secara
sadar, yaitu berjalan kaki. Gerak ini dapat ditimbulkan dengan
27

mengangkat bayi pada posisi tegak dengan kaki menyentuh lantai.


Tekanan pada telapak kaki akan membuat kaki mengangkat dan
selanjutnya diturunkan. Aksi kaki ini sering muncul secara bergantian,
dan oleh karena mirip dengan gerakan berjalan yang masih pemula.
Refleks ini sering disebut juga dengan refleks berjalan, namun tidak
disertai oleh stabilitas atau gerakan lengan yang terjadi jika berjalan
secara sadar. Jadi, pada tahapan ini anak sudah dapat melakukan gerak
refleks berjalan kaki seperti yang tampak pada gambar di bawah ini.
10. Tahap Gerak Refleks Berenang (swimming reflex) Tahapan Gerak refleks
ini sangat luar biasa, karena gerakannya seperti orang berenang gaya
dada. Gerakan ini umumnya dilakukan dengan tidak sadar. Untuk
menimbulkan respons ini, bayi harus dipegang dalam posisi telungkup
(horizontal) seperti di atas sebuah permukaan meja atau lantai, di atas air,
atau di dalam air. Respons terhadap rangsangan ini adalah gerakan tangan
dan kaki seperti berenang yang terkoordinasi dengan sangat baik.
Gerakan-gerakan ini dapat diamati mulai dari minggu ke 2 setelah lahir
dan akan tetap bertahan hingga bayi berumur 5 bulan. Pengenalan
gerakan ini memberikan kontribusi yang sangat besar terhadap
populernya program berenang pada bayi. Jadi, pada tahapan ini anak
sudah dapat melakukan gerak berenang seperti yang tampak pada gambar
di bawah ini.

VI. Analisis Aspek Klinis


a. Bagaimana cara penegakan diagnosis?
1. Anamnesis
Tanda awal CP biasanya tampak pada usia<3 tahun. Gejala utama yang
tampak biasanya keterlambatan perkembangan motorik: tengkurap,
duduk, merangkak, tersenyum, atau berjalan. Sebagian mengalami
abnormalitas tonus otot: penurunan tonus otot menyebabkan pasien
tampak lemah dan lemas, kadang floppy; peningkatan tonus otot
menyebabkan pasien tampak kaku. Pada sebagian kasus, pasien bayi
pada periode awal tampak hipotonia dan selanjutnya berkembang
menjadi hipertonia setelah 2-3 bulan pertama. Anak-anak CP mungkin
menunjukkan postur abnormal pada satu sisi tubuh.Riwayat kehamilan,
28

kelahiran, dan pertumbuhan pasien (bila ada) sangat penting dalam


menegakkan diagnosis. Status tahapan perkembangan pasien dapat dinilai
menggunakan kuesioner KPSP.
2. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik yang penting dalam menegakkan diagnosis adalah
menilai status pertumbuhan dan perkembangan pasien terutama
kemampuan motorik. Penilaian refleks pasien juga penting dilakukan.
3. Pemeriksaan Radiologi
Pemeriksaan khusus radiologi otak dapat dilakukan untuk mencari
kemungkinan penyebab CP. Neuroimaging yang dilakukan berupa CT
scan kepala, MRI kepala, dan USG kepala. USG kepala dapat digunakan
apabila tulang kepala belum mengeras dan UUB belum tertutup.
4. Pemeriksaan Lain
Pemeriksaan selain di atas dapat dilakukan jika diduga ada kondisi lain
yang berhubungan dengan CP seperti kejang, gangguan mental, visus,
dan gangguan pendengaran. Dalam kondisi-kondisi tersebut, pemeriksaan
yang

dilakukan secara berturut-turut adalah EEG, pemeriksaan

intelegensia, pemeriksaan oftalmologi, dan pemeriksaan otologi.


Kriteria diagnosis POSTER menurut Levine (1960)
P - Posturing/abnormal movements
O - Oropharyngeal problems (e.g., tongue thrusts, swallowing abnormalities)
S - Strabismus
T - Tone (hyper- or hypotonia)
E - Evolutional maldevelopment (primitive reflexes persist or protective
equilibrium reflexes fail to develop
R - Reflexes (increased deep tendon reflexes/persistent Babinski's reflex)
Empat dari enam gejala dibutuhkan untuk menegakkan diagnosis.
b. Apa diagnosis banding pada kasus?
Diagnosis banding
Defisiensi arginase

Ciri-ciri
Tes Diagnostik
Tidak ada onset neonatal; Pengukuran
asam
diplegia

spastik

demensia

progresif; menunjukkan
konsentrasi

peningkatan
arginin

dramatis;

Asiduria glutaric tipe Distonia

peningkatan kadar amonia


progresif; Pemeriksaan serumatau

gangguan untuk

koreoatetosis;

amino

melihat

adanya

urin
asam

pergerakan progresif selama 1 glutamat


Juvenile

atau 2 tahun pertama


neuronal Onset setelah usia 5 tahun; Karakteristik pada fibroblas kulit
29

ceroidlipofuscinosis

kemunduran

progresif atau limfosit darah

(Vogt-Spielmeyer

kemampuan kognitif; gejala

disease)

ekstrapiramidal

progresif

(kekakuan, kejang, gangguan


Juvenile

variant

metachromatic

penglihatan)
of Penurunan
performa

di Enzim aril sulfatase lisosomal

sekolah; paraparesis progresif

leukodystrophy
lambat
Sindroma
Lesch- Gangguan metabolisme purin Pemeriksaan enzim hipoxantinNyhan

X-linked;

koreoatetosis; guanin fosfoforibosiltransferase

mutilasi diri; asam urat atau


kristal

oranye

pada

urin;

retardasi mental
Ataksia; neuropati; retinitis Mutasi titik DNA mitokondrial

Gangguan

mitokondrial
pigmentosa
Penyakit
Niemann- Gangguan
Pick tipe C

metabolisme Gangguan esterifikasi kolesterol

kolesterol interseluler resesif pada fibroblas kuli; gen pada


autosomal;70% onset awal kromosom 18
remaja; hilangnya

gerakan

mata vertikal; koreoatetosis;


Penyakit

tremor
Pelizaeus- Klasifikasi

Merzbacher

leukodistrofi; Defisiensi protein proteolipid

campuran gejala piramidal


dan

ekstrapiramidal;

linked;

progresif

nistagmus

lambat;
pendular;

koreoatetosis;
Sindroma Rett

X-

mikrosefali;

kuadriparesis spastik
Terutama pada perempuan; Diagnosis klinis
gejala autistik; koreoatetosis;
spastisitas

progresif;

hilangnya fungsi tangan yang


mengakibatkan tangan yang
menggegam
gerakan

terus

seperti

atau
mencuci
30

tangan; progresi lambat


Tabel 12. Diagnosis Banding CP
c. Apa diagnosis kerja dan definisinya pada kasus?
Bram, laki-laki, usia 8 bulan mengalami global developmental delayed akibat
cerebral palsy.
Global developmental delay (GDD) atau keterlambatan perkembangan
global (KPG), merupakan suatu keadaan ditemukannya keterlambatan yang
bermakna lebih atau sama dengan 2 domain perkembangan tersebut.
Keterlambatan bermakna artinya pencapaian kemampuuan pasien kurang
dari 2 standar deviasi (SD) dibandingkan dengan rata-rata populasi pada
umur yang sesuai.
Cerebral palsy adalah suatu kelainan gerakan dan postur yang tidak
progresif, oleh karena suatu kerusakan/gangguan pada sel sel motorik pada
susunan saraf pusat yang sedang tumbuh/belum selesai pertumbuhannya.
d. Apa saja jenis-jenis Cerebral Palsy?
CP dapat diklasifikasikan berdasarkan gejala dan tanda klinis neurologis.
Spastik diplegia,untuk pertama kali di dekripsikan oleh dr.little,merupakan
salah satu bentuk penyakit yang dikenal selanjutnya sebagai CP.Hingga saat
ini, CP diklasifikasikan berdasarkan kerusakan gerakan yang teradi dan
dibagi dalam 4 kategori, yaitu:
1. CP Spastik
Merupakan bentukan CP terbanyak(70-80%),otot mengalami kekakuan
dan secara permanen akan menjadi kontraktur.jika kedua tungkai
mengalami spastisitas,pada saat seseorang berjalan,kedua tungkai tampak
bergerak kaku dan lurus. Gambaran klinis ini membentuk karakteristik
berupa ritme berjalan yang dikenal dengan gait gunting (scissors
gait).Anak dengan spastik hemiplegia dapat disertai tremor hemiparesis,
dimana seseorang tidak dapat mengendalikan gerekan pada tungkai pada
satu sisi tubuh.jika tremor memberat,akan terjadi gangguan gerakan
berat.
Monoplegia
Bila hanya mengenai 1 ekstremitas saja biasanya lengan
Diplegia
Keempat ekstremitas terkena tetapi kedua kaki lebih berat dari pada
kedua lengan
Triplegia
31

Bila mengenai 3 ekstremitas yang paling banyak adalah mengenai


kedua lengan dan 1 kaki
Quadreplegia
Keempat ekremitas terkena dengan derajad yang sama
Hemiplegia
Mengenai salah satu sisi dari tubuh dan lengan terkena lebih berat
2. CP Atetoid/Diskinetik
Bentuk CP ini mempunyai karakteristik gerakan menulis yang tidak
terkontrol

dan

perlahan.

Gerakan

abnormal

ini

mengenai

tangan,kaki,lengan atau tungkai dan pada sebagian besar kasus,otot muka


dan

lidah,menyebabkan

anak

tampak

menyeringai

dan

mengeluarkan air liur. Gerakan sering meningkat selama

selalu
periode

peningkatan stress dan hilang pada saat tidur. Penderita juga mengalami
masalah koordinasi gerakan otot bicara (disartria). CP atetoid terjadi pada
10-20% penderita CP.
3. CP Ataksid
Jarang dijumpai,mengenai

keseimbangan

dan

persepsi

dalam.

Penderitayang terkena sering menunjukan kordinasi yang buruk; berjalan


tidak stabil dengan gaya berjalan kaki terbuka lebar,meletakkan kedua
kaki dengan posisi yang saling berjauhan; kesulitan dalam melakukan
gerekan cepat dan tepat,misalnya menulis atau mengacingkan baju.
Mereka juga sering mengalami tremor, dimulai dengan gerakan volunter
misalnya mengambil buku, menyebabkan gerakan seperti mengigil pada
bagian tubuh yang baru digunakan dan tampak memburuk sama dengan
saat penderita akan menuju objek yang dikehendaki. Bentuk ataksid ini
mengenai 5-10% penderita CP.
4. CP Campuran
Sering ditemukan pada seorang penderita mempunyai lebih dari satu
bentuk CP yang dijabarkan diatas.bentuk campuran yang sering dijumpai
adalah aplastik dan gerakan atetoid tetapi kombinasi lain juga mungkin
dijumpai.
CP juga diklasifikasikan berdasarkan estimasi derajat beratnya penyakit dan
kemampuan penderita untuk melakukan aktivitas normal.
e. Apa epidemiologi pada kasus?
32

Epidemiologi Cerebral Palsy


- Merupakan kelainan motorik yang banyak ditemukan pada anak
- Angka kejadian 1-5 per 1000 anak
- Laki-laki lebih sering dari pada wanita (1,4 : 1,0)
- Sering terdapat pada anak pertama
- Angka kejadian lebih tinggi pada bayi BBLR, anak kembar, ibu diatas usia
40 tahun, dan ibu multipara
- Rata-rata 70 % ada pada tipe spastik. 15% tipi atetotic, 5% ataksia, dan
sisanya campuran.
- 50% kasus termasuk ringan dan 10% termasuk kasus berat. Yang
dimaksud ringan adalah penderita dapat mengurus dirinya sendiri dan
yang tergolong berat adalah penderita yang membutuhkan pelayanan
khusus.
- 25% memiliki intelegensia rata-rata (normal) sementara 30% kasus
menunjukan IQ dibawah 70. 35% disertai kejang dan 50% menunjukan
gangguan bicara.
f. Apa etiologi pada kasus?
Palsi serebral adalah penyakit dengan berbagai macam penyebab. Hal-hal
yang diperkirakan sebagai penyebab palsi serebral adalah sebagai berikut :
a. Prenatal:
Penyebab utama palsi serebral pada periode ini adalah 8 malformasi otak
kongenital. Sedangkan penyebab lainnya adalah: infeksi intrauterin
(infeksi Toxoplasma, Rubella, Cytomegalovirus, Herpes virus dan sifilis),
trauma, asfiksia intrauterin (abrupsio plasenta, plasenta previa, anoksia
maternal, kelainan umbilikus, perdarahan plasenta, ibu hipertensi, dan
lain- lain), toksemia gravidarum, maternal seizure disorder, dan sangat
jarang yaitu faktor genetik, kelainan kromosom.
b. Perinatal:
Penyebab palsi serebral dalam periode ini antara lain: anoksia / hipoksia
yang dialami bayi selama proses kelahiran, trauma (disproporsi
sefalopelvik, sectio caesaria), prematuritas, dan hiperbilirubinemia.
c. Postnatal:
Penyebab palsi serebral dalam periode ini antara lain: trauma kepala,
infeksi (meningitis / ensefalitis yang terjadi 6 bulan pertama kehidupan),
anoksia, dan luka parut pada otak setelah operasi.
g. Apa fakor resiko pada kasus?
1. Faktor Antenatal/Prenatal
Prematuritas dan BBLR
IUGR
33

Kehamilan ganda (gemelli)


Penyakit autoimun
Mikrosefalus
Kelainan kongenital mayor atau metabolik
Letak sungsang
Hipertiroidisme maternal
2. Faktor Intrapartum
Korioamnionitis ekstensif
Proses persalinan sulit
Hipoksia intrapartum
3. Faktor Postnatal
Trauma
Kejang neonatorum
Infeksi SSP
Hipotensi memanjang

Tabel 13. Faktor Resiko Berkaitan dengan Palsi Serebral


h. Apa manifestasi klinis pada kasus?
Manifestasi klinis cerebral plasy tergantung dari bagian dan luas jaringan
otak yang mengalami kerusakan:
1. Spastisitas
Terdapat peninggian tonus otot dan reflek yang disertai dengan klonus
dan reflek Babinski kerusakan yaitu:
Monoplegia/monoparesis: Kelumpuhan keempat anggota gerak, tapi
salah satu anggota gerak lebih hebat dari yang lainnya.
Hemiplegia/hemiparisis: Kelumpahan lengan dan tungkai dipihak
yang sama.
Diplegia/diparesis: Kelumpuhan keempat anggota gerak, tapi tungkai
lebih hebat dari pada lengan.
Tetraplegia/tetraparesis: Kelumpuhan keempat anggota gerak, tapi
lengan lebih atau sama hebatnya dibandingkan dengan tungkai yang
lain.
2. Tonus Otot yang berubah
Bayi pada usia pertama tampak flasid dan berbaring seperti kodok
terlentang, sehingga tampak seperti kelainan pada lower motor neuron
menjelang umur 1 tahun berubah menjadi tonus otot dari rendah hingga
tinggi. Golongan ini meliputi 10-20% dari kasus cerebral palsy.
34

3. Ataksia
Ialah gangguan koordinasi kerusakan terletak di serebulum, terdapat kirakira 5% dari kasus cerebral palsy.
4. Gangguan Pendengaran
Terdapat pada 5-10% anak dengan cerebral palsy gangguan berupa
kelainan neurogen terutama persepsi nada tinggi, sehingga sulit
menangkap kata-kata.
5. Gangguan Bicara
Disebabkan oleh gangguan pendengaran atau retardasi mental. Gerakan
yang terjadi dengan sendirinya dibibir dan dilidah menyebabkan sukar
mengontrol otot-otot sehingga sulit membentuk kata-kata dan sering
tampak anak berliur.
6. Gangguan Mata
Biasanya berupa strabismus convergen dan kelainan refraksi, asfiksia
berat, dapat terjadi katarak, hamper 25% penderita celebral palsy
menderita kelainan mata.
Gejala biasanya timbul sebelum anak berumur 2 tahun dan pada kasus yang
berat, bisa muncul pada saat anak berumur 3 bulan. Gejalanya bervariasi,
mulai dari kejanggalan yang tidak tampak nyata sampai kekakuan yang
berat, yang menyebabkan bentuk lengan dan tungkai sehingga anak harus
memakai kursi roda.
Gejala lain yang juga bisa ditemukan pada CP :
Kecerdasan dibawah normal.
Keterbelakangan mental.
Kejang/epilepsy ( trauma pada tipe spastic ).
Gangguan menghisap atau makan.
Pernafasan yang tidak teratur.
Gangguan perkembangan kemampuan motorik (misalnya menggapai

sesuatu, duduk, berguling, merangkak, berjalan).


Gangguan berbicara (disatria).
Gangguan penglihatan.
Gangguan pendengaran.
Kontraktur persendian.
Gerakan menjadi terbatas.

35

i. Bagaimana patofisiologi pada kasus?


Perkembangan otak manusia dan waktu puncak terjadinya meliputi berikut:
Primer neurulation - Minggu 3-4 kehamilan
Perkembangan Prosencephalic - Bulan 2-3 kehamilan
Neuronal proliferasi - Bulan 3-4 kehamilan
Neuronal migrasi - Bulan 3-5 kehamilan
Organisasi - Bulan 5 dari kehamilan sampai bertahun-tahun

pascakelahiran
Mielinasi - Lahir sampai bertahun-tahun pascakelahiran
Penelitian kohort telah menunjukkan peningkatan risiko pada anak yang

lahir sedikit prematur (37-38 minggu) atau postterm (42 minggu)


dibandingkan dengan anak yang lahir pada 40 minggu.
Cedera Otak atau Perkembangan Otak yang Abnormal
Mengingat kompleksitas perkembangan otak prenatal dan bayi, cedera
atau perkembangan abnormal dapat terjadi setiap saat, sehingga presentasi
klinis cerebral palsy bervariasi (apakah karena kelainan genetik, etiologi
toxin atau infeksi, atau insufisiensi vaskular). Misalnya, cedera otak sebelum
20 minggu kehamilan dapat mengakibatkan defisit migrasi neuronal; cedera
antara minggu 26 dan 34 dapat mengakibatkan leukomalacia periventricular
(foci nekrosis coagulative pada white matter berdekatan dengan ventrikel
lateral); cedera antara minggu ke-34 dan ke-40 dapat mengakibatkan cedera
otak fokal atau multifokal.2
Cedera otak akibat insufisiensi vaskular tergantung pada berbagai faktor pada
saat cedera, termasuk distribusi pembuluh darah ke otak, efisiensi aliran
darah otak dan regulasi aliran darah, dan respon biokimia jaringan otak untuk
oksigenasi menurun.
Prematuritas dan Pembuluh Darah Serebral
Stres fisik pada bayi prematur dan ketidakmatangan pembuluh darah
otak dan otak mungkin menjelaskan mengapa prematuritas merupakan faktor
risiko yang signifikan untuk cerebral palsy. Sebelum matur, distribusi
sirkulasi janin dengan hasil otak pada kecenderungan hipoperfusi ke white
matter periventricular. Hipoperfusi dapat mengakibatkan perdarahan matriks
germinal atau leukomalacia periventricular. Antara minggu 26 dan 34 usia
kehamilan, daerah white matter periventricular dekat ventrikel lateral yang
paling rentan terhadap cedera. Karena daerah-daerah membawa serat
bertanggung jawab atas kontrol motor dan tonus otot kaki, cedera dapat

36

terjadi dalam diplegia spastik (yaitu, kelenturan dominan dan kelemahan


kaki, dengan atau tanpa keterlibatan lengan tingkat yang lebih rendah).
Periventricular Leukomalacia
Ketika lesi lebih besar menjangkau daerah saraf descenden dari korteks
motor untuk melibatkan centrum semiovale dan korona radiata, baik
ekstremitas bawah dan atas mungkin terlibat. Leukomalacia periventricular
umumnya simetris dan dianggap karena cedera iskemik white matter pada
bayi prematur. Cedera asimetris untuk white matter periventricular dapat
menghasilkan satu sisi tubuh yang lebih terpengaruh dari yang lain. Hasilnya
meniru hemiplegia spastik tetapi lebih baik dicirikan sebagai kejang diplegia
asimetris. Matriks germinal kapiler di daerah periventricular sangat rentan
terhadap cedera hipoksia-iskemik karena lokasi mereka di sebuah zona
perbatasan vaskular antara zona akhir arteri striate dan thalamic. Selain itu,
karena mereka adalah otak kapiler, mereka memiliki kebutuhan tinggi untuk
metabolisme oksidatif.
Perdarahan Periventricular -Perdarahan Intraventricular
Banyak pihak berwenang telah menentukan tingkatan beratnya
perdarahan periventricular -perdarahan intraventricular menggunakan sistem
klasifikasi awalnya dijelaskan oleh Papile dkk pada 1978 sebagai berikut:
1. Grade I - Perdarahan subependymal dan/atau matriks germinal.
2. Grade II - perdarahan Subependymal dengan ekstensi ke dalam
ventrikel lateral tanpa pembesaran ventrikel.
3. Grade III - perdarahan Subependymal dengan ekstensi ke dalam
ventrikel lateral dengan pembesaran ventrikel.
4. Grade IV - Sebuah perdarahan matriks germinal yang membedah dan
meluas ke parenkim otak yang berdekatan, terlepas dari ada atau tidak
adanya perdarahan intraventricular, juga disebut sebagai perdarahan
intraparenchymal saat ditemui di tempat lain di parenkim tersebut.
Perdarahan meluas ke white matter periventricular berkaitan dengan
perdarahan germinal ipsilateral perdarahan/intraventricular matriks
yang disebut infark vena periventricular hemoragik.
Cedera Serebral Vaskuler dan Hipoperfusi
Saat matur, ketika sirkulasi ke otak paling menyerupai sirkulasi
serebral dewasa, cedera pembuluh darah pada saat ini cenderung terjadi
paling sering pada distribusi arteri serebral tengah, mengakibatkan cerebral
palsy spastik hemiplegia. Namun, otak matur juga rentan terhadap
hipoperfusi, yang sebagian besar menargetkan daerah aliran dari korteks
37

(misalnya, akhir zona arteri serebral utama), mengakibatkan cerebral palsy


spastik quadriplegik. Ganglia basal juga dapat dipengaruhi, sehingga cerebral
palsy ekstrapiramidal atau dyskinetic.
j. Apa SKDI pada kasus?
2 : Mendiagnosis dan Merujuk
Lulusan dokter mampu membuat diagnosis klinik terhadap penyakit tersebut,
dan menentukan rujukan yang paling tepat bagi penanganan pasien
selanjutnya. Lulusan dokter juga mampu menindaklanjuti sesudah kembali
dari rujukan.
k. Bagaimana tatalaksana pada kasus?
Terapi, apakah untuk pergerakan, bicara atau kemampuan mengerjakan
tugas sederhana, merupakan tujuan dari terapi CP. Terapi CP ditujukan pada
perubahan kebutuhan penderita sesuai dengan perkembangan usia. Terapi
fisik selalu dimulai pada usia tahun pertama kehidupan, segera setelah
diagnostik ditegakkan. Program terapi fisik menggunakan gerakan spesifik
mempunyai 2 tujuan utama yaitu mencegah kelemahan atau kemunduran
fungsi otot yang apabila berlanjut akan menyebabkan pengerutan otot (disuse
atrophy) dan yang kedua adalah menghindari kontraktur, dimana otot akan
menjadi kaku yang pada akhirnya akan menimbulkan posisi tubuh abnormal.
Kontraktur adalah satu komplikasi yang sering terjadi. Pada keadaan
normal, dengan panjang tulang yang masih tumbuh akan menarik otot tubuh
dan tendon pada saat berjalan dan berlari dan aktivitas sehari-hari. Hal ini
memastikan bahwa otot akan berkembang dalam kecepatan yang sama.
Tetapi pada anak dengan CP, spastisitas akan mencegah peregangan otot dan
hal tersebut akam menyebabkan otot tidak dapat berkembang cukup pesat
untuk

mengimbangi

kecepatan

tumbuh

tulang.

Kontraktur

dapat

mengganggu keseimbangan dan memicu hilangnya kemampuan yang


sebelumnya. Dengan melakukan terapi fisik saja atau dengan kombinasi
penopang khusus (alat orthotik), kita dapat mencegah komplikasi dengan
cara melakukan peregangan pada otot yang spastik.
Sebagai contoh, jika anak mengalami spastik pada otot hamstring,
terapis dan keluarga seharusnya mendorong anak untuk duduk dengan kaki
diluruskan untuk meregangkan ototnya. Tujuan ketiga dari program terapi
38

fisik adalah meningkatkan perkembangan motorik anak. Cara kerja untuk


mendukung tujuan tersebut dengan tehnik Bobath. Dasar dari program
tersebut adalah refleks primitif akan tertahan pada anak CP yang
menyebabkan hambatan anak untuk belajar mengontrol gerakan volunter.
Terapis akan berusaha untuk menetralkan refleks tersebut dengan
memposisikan anak pada posisi yang berlawanan. Jadi, sebagai contoh, jika
anak dengan CP normalnya selalu melakukan fleksi pada lengannya, terapis
seharusnya melakukan gerakan ekstensi berulang kali pada lengan tersebut
(Bobath, 1967).
Pendekatan kedua untuk terapi fisik adalah membuat pola, berdasarkan
prinsip bahwa kemampuan otorik seharusnya diajarkan dalam ururtan yang
sama supaya berkembang secara normal. Pada pendekatan kontrovesial
tersebut, terapis akan membimbing anak sesuai dengan gerakan sepanjang
alur perkembangan motorik normal. Sebagai contoh, anak belajar gerakan
dasar seperti menarik badannya pada posisi duduk dan merangkak sebelum
anak mampu berjalan, yang berhubungan dengan tanpa melihat usianya.
Terapi fisik hanya merupakan satu elemen dari program perkembangan
bayi selain juga meliputi usaha untuk menyediakan satu lingkungan yang
bervariasi dan dapat Tergantung pada kemampuan fisik dan intelektual, orang
dewasa mungkin membutuhkan pengasuh yang peduli, akomodasi hidup,
transportasi atau pekerjaan.
Dengan tanpa memandang usia dan bentuk terapi yang digunakan,
terapi tidak berhenti saat penderit keluar dari ruangan terapi. Pada
kenyataannya, sebagian besar pekerjaan sering dilakukan di rumah. Terapis
berfungsi sebagai pelatih, menyiapkan orang tua dan penderita dengan
strategi dan melatihnya dimana dapat membantu meningkatkan penampilan
di rumah, sekolah dan dimasyarakat.
Alat Mekanik Mulai dengan bentuk yang sederhana misalnya sepatu
velcro atau bentuk yang canggih seperti alat komunikasi komputer, mesin
khusus dan alat yang diletakkan dirumah, sekolah dan tempat kerja dapat
membantu anak atau dewasa dengan CP untuk menutupi keterbatasannya.
Komputer merupakan contoh yang canggih sebagai alat baru yang
dapat membuat perubahan yang bermakna dalam kehidupan penderita CP.
39

Sebagai contoh, anak yang tidak dapat berbicara atau menulis tetapi dapat
membuat

gerakan

dengan

kepala

mungkin

dapat

belajar

untuk

mengendalikan komputer dengan menggunakan pointer lampu khusus yang


diletakkan di ikat kepala. Dengan dilengkapi dengan komputer dan sintesiser
suara, anak akan berkomunikasi dengan orang lain. Pada kasus lain,
tehnologi telah mendukung penemuan versi baru dari alat lama, misalnya
kursi roda tradisional dan bentuk yang lebih baru yang dapat berjalan dengan
menggunakan listrik.
Terapi Medikamentosa
Untuk penderita CP yang disertai kejang, dokter dapat memberi obat
anti kejang yang terbukti efektif untuk mencegah terjadinya kejang ulangan.
obat yang diberikan secara individual dipilih berdasarkan tipe kejang, karena
tidak ada satu obat yang dapat mengontrol semua tipe kejang. Bagaimanapun
juga, orang yang berbeda walaupun dengan tipe kejang yang sama dapat
membaik dengan obat yang berbeda, dan banyak orang mungkin
membutuhkan terapi kombinasi dari dua atau lebih macam obat untuk
mencapai efektivitas pengontrolan kejang (ODonnell M, 1997).
Tiga macam obat yang sering digunakan untuk mengatasi spastisitas pada
penderita CP adalah:
1.

Diazepam
Obat ini bekerja sebagai relaksan umum otak dan tubuh. Pada anak usia
<6 bulan tidak direkomendasikan, sedangkan pada anak usia >6 bulan
diberikan dengan dosis 0,12 0,8 mg/KgBB/hari per oral dibagi dalam 6

8 jam, dan tidak melebihi 10 mg/dosis.


2. Baclofen
Obat ini bekerja dengan menutup penerimaan signal dari medula spinalis
yang akan menyebabkan kontraksi otot. Dosis obat yang dianjurkan pada
penderita CP adalah sebagai berikut:
2 7 tahun:
Dosis 10 40 mg/hari per oral, dibagi dalam 3 4 dosis. Dosis dimulai
2,5 5 mg per oral 3 kali per hari, kemudian dosis dinaikkan 5 15
mg/hari, maksimal 40 mg/hari
8 11 tahun:

40

Dosis 10 60 mg/hari per oral, dibagi dalam 3 -4 dosis. Dosis dimulai


2,5 5 mg per oral 3 kali per hari, kemudian dosis dinaikkan 5 15
mg/hari, maksimal 60 mg/hari
> 12 tahun:
Dosis 20 80 mg/hari per oral, dibagi dalam 3 -4 dosis. Dosis dimulai 5
mg per oral 3 kali per hari, kemudian dosis dinaikkan 15 mg/hari,
maksimal 80 mg/hari
3. Dantrolene
Obat ini bekerja dengan mengintervensi proses kontraksi otot sehingga
kontraksi otot tidak bekerja. Dosis yang dianjurkan dimulai dari 25
mg/hari, maksimal 40 mg/hari
Obat-obatan tersebut diatas akan menurunkan spastisitas untuk periode
singkat, tetapi untuk penggunaan jangka waktu panjang belum
sepenuhnya dapat dijelaskan. Obatobatan tersebut dapat menimbulkan
efek samping, misalnya mengantuk, dan efek jangka panjang.
Terapi Bedah
Pembedahan sering direkomendasikan jika terjadi kontraktur berat dan
menyebabkan masalah pergerakan berat. Dokter bedah akan mengukur
panjang otot dan tendon, menentukan dengan tepat otot mana yang
bermasalah. Menentukan otot yang bermasalah merupakan hal yang sulit,
berjalan dengan caraberjalan yang benar, membutuhkan lebih dari 30 otot
utama yang bekerja secara tepat pada waktu yang tepat dan dengan kekuatan
yang tepat. Masalah pada satu otot dapat menyebabkan cara berjalan
abnormal. Lebih jauh lagi, penyesuaian tubuh terhadap otot yang bermasalah
dapat tidak tepat.
Alat baru yang dapat memungkinkan dokter untuk melakukan analisis
gait. Analisis gait menggunakan kamera yang merekam saat penderita
berjalan, komputer akan menganalisis tiap bagian gait penderita. Dengan
menggunakan data tersebut, dokter akan lebih baik dalam melakukan upaya
intervensi dan mengkoreksi masalah yang sesungguhnya. Mereka juga
menggunakan analisis gait untuk memeriksa hasil operasi (Gage et al, 1991).
Oleh karena pemanjangan otot akan menyebabkan otot tersebut lebih
lemah, pembedahan untuk koreksi kontraktur selalu diamati selama beberapa
bulan setelah operasi. Karena hal tersebut, dokter berusaha untuk
41

menentukan semua otot yang terkena pada satu waktu jika memungkinkan
atau jika lebih dari satu produser pembedahan tidak dapat dihindarkan,
mereka dapat mencopba untuk menjadwalkan operasi yang terkait secara
bersama-sama.
Teknik kedua pembedahan, yang dikenal dengan selektif dorsal root
rhizotomy, ditujukan untuk menurunkan spastisitas pada otot tungkai dengan
menurunkan jumlah stimulasi yang mencapai otot tungkai melalui saraf.
Dalam prosedur tersebut, dokter berupaya melokalisir dan memilih untuk
memotong saraf yang terlalu dominan yang mengontrol otot tungkai.
walaupun disini terdapat kontroversi dalam pelaksanaannya (Hays RM,
1997; McLaughin JF, 1998).
Teknik pembedahan eksperimental meliputi stimulasi kronik cerebellar
dan stereotaxic thalamotomy. Pada stimulasi kronik cerebelar, elektroda
ditanam pada permukaan cerebelum yang merupakan bagian otak yang
bertanggung jawab dalam koordinasi gerakan, dan digunakan untuk
menstimulasi saraf-saraf cerebellar, dengan harapan bahwa teknik tersebut
dapat menurunkan spastisitas dan memperbaiki fungsi motorik, hasil dari
prosedur invasif tersebut masih belum jelas. Beberapa penelitan melaporkan
perbaikan spastisitas dan fungsi, sedang lainnya melaporkan hasil sebaliknya
(Pape et al, 1993).
Stereotaxic thalamotomy meliputi memotong bagian thalamus, yang
merupakan bagian yang melayani penyaluran pesan dari otot dan organ
sensoris. Hal ini efektif hanya untuk menurunkan tremor hemiparesis.
l. Apa prognosis pada kasus?
Prognosis tergantung dari gejala motoriknya. Makin berat gejala motoriknya,
makin buruk prognosisnya.
m. Apa komplikasi pada kasus?
1.
Retardasi mental
2.
Masalah pendengaran
3.
Epilepsi
4.
Malnutrisi
5.
Gagal tumbuh
6.
Isolasi sosial
7.
Osteoporosis
42

8.

Dysphagia

43

V.

Sintesis Masalah

V.1 Fase Tumbuh Kembang Bayi


Tabel 14. Fase pertumbuhan normal (Nelson Ilmu Kesehatan Anak, 2000)
Berat badan
Tinggi
Lingkar kepala
1. Penurunan berat badan pada beberapa 1. Rerata panjang saat 1. Rerata
lingkar
hari pertama kehidupan: 5-10 % berat

lahir adalah 50cm,

kepala adalah 35

lahir
2. Kembali ke berat lahir pada usia 7-10

75 cm pada anak

cm saat lahir (13,5

hari
Dua kali berat lahir pada usia 4-5 bulan
Tiga kali berat lahir pada usia 1 tahun
Empat kli berat lahir pada usia 2 tahun
3. Berat rerata
3,5 kg pada saat lahir
10 kg saat usia 10 tahun
20 kg saat usia 5 tahun
30 kg saat usia 10 tahun
4. Penambahan berat badan setiap hari
20-30 gram pada 3-4 bulan pertama
15-20 gram pada sisa tahun pertama
5. Rerata penambahan berat badan tiap

usia 1 tahun
inci)
2. Pada usia 3 tahun, 2. Lingkar
rerata tinggi anak

meningkat

adalah 3 kaki
3. Pada usia 4 tahun,

1cm/bulan

rerata tinggi anak


adalah 100cm (dua
kali panjang lahir)

kepala
dalm

satu tahun pertama


(2cm/bulan selama
3 bulan pertama,
kemudian
menurun); 10 cm
selama sisa hidup
yang ada

tahun : 2,3 kg antara usia 2 tahun dan


pubertas

44

Tabel 15. Tahapan perkembangan (Nelson Ilmu Kesehatan Anak, 2000)


Usia

Motorik kasar

Motorik halus & Personal-sosial

2 Minggu

- Kepala bergeser

Bahasa

adaptif

2 bulan

-Waspada

ke kanan dan ke

terhadap

kiri
-Mengangkat bahu -Mengikuti benda -Tersenyum

bel
-Cooing, mencari

saat tengkurap

4 bulan

-Megenal wajah

melewati

-Mengangkat
tangan
-Tengkurap
-Tidak dijumpai:

garis sebagai

bunyi

bentuk sumber

tengah

respon

-Mencari objek
-Raking grasp

mata
-Melihat tangan
-Tertawa
-Mulai
bermain
menangis
dengan mainan

-Memindahkan

-Bisa

suara

menggunakan
dan

headlag jika ditarik


dari posisi tidur
6 bulan

9 bulan

terlentang
-Duduk sendiri

memberi -Mengoceh

-Mulai

objek dari tangan makan diri sendiri


-Memegang botol
ke tangan
belajar -Mulai
pincer -Bisa
melambai -Bilang

berdiri
-Dapat

grasp
duduk -Mempertemukan

sendiri

dua balok

bye bye

dada,

mama, tapi tidak


spesifik
-Mengucapkan
dua suku kata

12 bulan

-Berjalan
-Bangkit
berdiri

-Memasukkan
dan

balok
cangkir

- Minum dari gelas -Bilang


mama
Menirukan
dalam
dan papa spesifik
gerakan orang lain - Mengucapkan
1-2

kata

yang

lainnya
V.1.1 Perkembangan Kognitif Fase Sensorimotor (Piaget)
Selama fase sensorimotor bayi, terdapat tiga peristiwa yang terjadi selama fase ini
yang melibatkan antara lain; (1) perpisahan yaitu bayi belajar memisahkan dirinya sendiri
dari benda lain di dalam lingkungan, (2) penerimaan konsep keberadaan objek atau
penyadaran bahwa benda yang tidak lagi ada dalam area penglihatan sesungguhnya masih
ada. Misalnya ketika bayi mampu mendapatkan benda yang diperhatikannya telah
45

disembunyikan di bawah bantal atau di belakang kursi. (3) kemampuan untuk


menggunakan simbol dan representasi mental. Dalam hal ini fase sensorimotor terdiri atas
4 tahap yaitu:
Tahap pertama, dari lahir sampai 1 bulan diidentifikasi dengan penggunaan refleks
bayi. Pada saat lahir, individualitas dan temperamen bayi diekspresikan dengan
refleks fisiologis menghisap, rooting, menggenggam dan menangis.
Tahap Kedua, reaksi sirkulasi primer. Menandai permulaan penggantian perilaku
refleksif dengan tindakan volunteer.Selama periode 1 4 bulan, aktifitas seperti
menghisap dan menggenggam menjadi tindakan yang sadar yang menimbulkan
respon tertentu.Permulaan akomodasi tampak jelas. Bayi menerima dan
mengadaptasi reaksi mereka terhadap lingkungan dan mengenai stimulus yang
menghasilkan respon. Sebelumnya bayi akan menangis sampai puting dimasukkan
ke dalam mulut, sekarang mereka menghubungkan puting dengan suara orang tua.
Tahap Ketiga, reaksi sirkular sekunder adalah lanjutan dari reaksi sirkulasi primer
dan berlangsung sampai usia bulan. Dari menggenggam dan memegang sekarang
menjadi mengguncang dan menarik. Mengguncang digunakan untuk mendengar
suara, tidak hanya sekedar kepuasan saja. Terjadi 3 proses perilaku pada bayi yaitu
Imitasi, bermain dan afek yaitu manifestasi emosi atau perasann yang dikeluarkan.
Selama 6 bulan bayi percaya bahwa benda hanya ada selama mereka dapat
melihatnya secara visual. Keberadaan objek adalah komponen kritis dari kekuatan
hubungan orang tua dan anak, terlihat dalam pembentukan ansietas terhadap orang
asing pada usia 6 8 bulan.
Tahap Keempat, koordinasi skema kedua dan penerapannya ke situasi baru. Bayi
menggunakan pencapaian perilaku sebelumnya terutama sebagai dasar untuk
menambah

keterampilan

intelektual

dan

keterampilan

motorik

sehingga

memungkinkan eksplorasi lingkungan yang lebih besar.


V.1.2 Perkembangan Fisik
Perkembangan fisik pada bayi dikategorikan dalam beberapa usia antara lain yaitu
dimana Usia 4 bulan, bayi mulai mengences, refleks Moro, leher tonik dan rooting sudah
hilang. Usia 5 bulan, adanya tanda pertumbuhan gigi, begitu juga dengan berat badan
menjadi dua kali lipat dari berat badan lahir. Usia 6 bulan, kecepatan pertumbuhan mulai
menurun, terjadi pertambahan berat badan 90 150 mg perminggu selama enam bulan
kemudian, pertambahan tinggi badan 1,25 cm per bulan selama enam bulan kemudian,
mulai tumbuh gigi dengan munculnya dua gigi seri di sentral bawah serta bayi mulai dapat
mengunyah dan menggigit. Di Usia 7 bulan, mulai tumbuh gigi seri di sentral atas serta
46

memperlihatkan pola teratur dalam pola eliminasi urine dan feces di Usia 8 bulan (Wong,
2008)
V.1.3 Perkembangan Motorik
Perkembangan motorik bayi dibedakan menjadi 2 bagian yaitu motorik kasar dan
motorik halus. Dimana motorik kasar terdiri dari, kepala tidak terjuntai ketika ditarik
keposisi duduk dan dapat menyeimbangkan kepala dengan baik, punggung kurang
membulat, lengkung hanya di daerah lumbal, mampu duduk tegak bila ditegakkan, mampu
menaikan kepala dan dada dari permukaan sampai sudut 90 derajat, melakukan posisi
simetris yang dominan seperti berguling dari posisi telentang ke miring. Begitu juga ketika
duduk bayi mampu mempertahankan kepala tetap tegak dan kuat, duduk dengan lebih
lama ketika punggung disangga dengan baik.Ketika posisi prone, bayi mengambil posisi
simetris dengan lengan ekstensi, berguling dari posisi telungkup ke telentang, dapat
mengangkat dada dan abdomen atas dari permukaan serta menahan berat badan pada satu
tangan.Selain itu ketika supine, bayi memasukkan kakinya ke mulut dan bayi mengangkat
kepala dari permukaan secara spontan. Duduk di kursi tinggi dengan punggung lurus,
ketika dipegang dalam posisi berdiri bayi menahan hampir semua berat badannya dan
tidak lagi memperhatikan tangannya. Duduk condong kedepan pada kedua tangan, ketika
dipegang pada posisi berdiri, bayi berusaha melonjak dengan aktif. Di usia 8 bulan bayi
duduk mantap tanpa ditopang dan menahan berat badan pada kedus tungkai serta
menyesuaikan postur tubuh untuk mencapai seluruh benda. Motorik halus bayi meliputi
menginspeksi dan memainkan tangan, menarik pakaian dan selimut ke wajah untuk
bermain, mencoba meraih benda dengan tangan namun terlalu jauh, bermain dengan
kerincingan dan jari kaki, dapat membawa benda kemulut. Bayi mampu menggenggam
benda dengan telapak tangan secara sadar, memegangi satu kubus sambil memperhatikan
kubus lainnya. Meraih kembali benda yang terjatuh, menggenggam kaki dan menariknya
ke mulut, memindahkan benda dari satu tangan ke tangan lainnya, memegang dua kubus
lebih lama dan membantingnya ke atas meja. Di usia 8 bulan bayi sudah melakukan
genggaman dengan cubitan menggunakan jari telunjuk, jari ke empat dan kelima,
mempertahankan dua kubus dengan memperhatikan kubus ketiga, membawa benda
dengan menarik pada tali dan berusaha untuk tetap meraih mainan yang diluar jangkauan
(Wong, 2008)
V.1.4 Perkembangan Bahasa

47

Komunikasi verbal bermakna bayi

pertama kali adalah menangis, untuk

mengekspresikan ketidaksenangannya, mengeluarkan suara yang parau, kecil dan nyaman


selama pemberian makan, berteriak kuat untuk memperlihatkan kesenangan, berbicara
cukup banyak ketika diajak bicara, jarang menangis selama periode terjaga, berteriak
mengeluarkan suara mendekut dan bercampur huruf konsonan dan tertawa keras, mulai
menirukan suara, menggumam menyerupai ucapan satu suku kata, vokalisasi kepada
maianan dan bayangan di cermin, menikmati mendengarkan suaranya sendiri. Selanjutnya
menghasilkan suara vocal dan merangkai suku kata, berbicara ketika orang lain berbicara,
mendengarkan secara selektif kata kata yang dikenal, mengucapkan tanda penekanan
dan emosi serta menggabungkan suku kata sepertidada, namun tidak ada maksud di
dalamnya.
V.1.5 Perkembangan Sosial
Perkembangan sosial bayi pada awalnya dipengaruhi oleh refleksinya, seperti
menggenggam dan pada akhirnya bergantung terutama pada interaksi antara mereka
dengan pemberian asuhan utama. Kelekatan kepada orang tua. Kelekatan orang tua dan
anak yang dimulai sebelum kelahiran, sangat penting disaat kelahiran. Menangis dan
perilaku refleksi adalah metode untuk memenuhi kebutuhan bayi dalam periode neonatal
dan senyum social merupakan langkah awal dalam komunikasi social. Bermain juga
menjadi agen sosialisasi utama dan memberikan stimulus yang diperlukan untuk belajar
dan berinteraksi dengan lingkungan (Wong, 2008)

48

V.2 Gangguan Tumbuh Kembang


V.2.1 Penyimpangan Pertumbuhan Anak
Penyimpangan pertumbuhan anak dapat diketahui dengan cara pemantauan dan
pemeriksaan seksama sejak kehamilan misalnya dengan memperhatikan kenaikan berat
badan ibu setiap bulan dan USG untuk kemungkinan kelainan organik. Beberapa hal yang
perlu diperhatikan sebagai tanda adanya penyimpangan pertumbuhan, perlu dideteksi
secara teliti.
a. Bentuk tubuh, ukuran, simetris atau tidak:
Kepala (fontanella, pembengkakan), muka (posisi mata, bentuk palpebra,
pupil, lensa, telinga, bentuk mandibula, maxilla, hidung dan bibir), dada/thorax,
jarak puting susu, umbilicus, otot perut, vertebra scoliosis/kyphosis, spina dan
posisi serta adanya anus. Pada remaja; bentuk dan ukuran genitalia,payu dara,
rambut pubis dan axilla.
b. Anthropometri:
Ukuran tinggi/panjang badan, berat badan, lingkaran kepala,lingkaran lengan,
lingkaran dada, panjang lengan/tungkai. Data-data pengukuran yang dilakukan
dengan tepat dan benar diplot dan dibandingkan dengan standard yang sudah
disepakati untuk negara bersangkutan atau oleh WHO untuk digunakan.
c. Gagal tumbuh (Failure to thrive)
Terminologi

ini

sekarang

disebut

juga

sebagai

Growth

Deficiency

didefinisikan sebagai melambatnya kecepatan tumbuh yang mengakibatkan garis


pertumbuhan memotong 2 garis persentil pertumbuhan dibawahnya pada kurva
pertumbuhan anak.

49

Grafik 1. Kurva Pertumbuhan Anak


Gagal tumbuh bukanlah suatu penyakit akan tetapi suatu tanda dari keadaan galur
(pathway) umum dari banyak masalah medik, psikososial dan lingkungan yang
mengakibatkan pertumbuhan yang terhambat pada anak. Walaupun konsep awal gagal
tumbuh diklasifikasikan sebagai organik dan non-organik, akan tetapi sekarang telah
difahami bahwa gagal tumbuh merupakan interaksi antara lingkungan dengan kesehatan
anak, perkembangan dan perilaku. Evaluasi pada anak dengan pertumbuhan yang lambat
atau tidak tumbuh sama sekali, merupakan tantangan bagi kemampuan dokter anak untuk
secara simultan mengevaluasi informasi biomedik dan psikososial yang didapatkan
melalui anamnesa dan pemeriksaan fisik. Masalah yang penting adalah pada tahap
penegakkan diagnosis, karena kondisi anak bisa saja dalam penyakit yang gawat atau
dalam keadaan kegawatan lingkungan psikososial. Akan tetapi kebanyakan kasus gagal
tumbuh disebabkan oleh gizi yang tidak adekuat dikarenakan faktor biologi dan
lingkungan yang tidak saling menunjang sehingga menyulitkan tercapainya status gizi
yang baik.
50

Dalam buku Lange Current Pediatric Diagnosis& Treatment (2005) tercantum 3 pola
Growth deficiency sebagai berikut:
a. Tipe I. Berat badan lebih tertekan daripada tinggi badan, lingkaran kepala tidak
terganggu pertumbuhannya.

Umumnya karena masukan kalori tidak cukup, pengeluaran kalori yang


berlebihan, masukan kalori yang berlebihan, atau ketidak mampuan tubuh
perifer menggunakan kalori. Kebanyakan kasus merupakan akibat dari
kegagalan pada penyampaian (delivery) kejaringan yang dituju.

Kemungkinan disebabkan oleh faktor-faktor kemiskinan, kesenjangan


hubungan pengasuh dan anak, pola makan yang abnormal atau kombinasi
dari faktor-faktor tersebut.

b. Tipe II. Ditandai oleh tubuh kecil yang proporsional, lingkaran kepala dalam batas
normal.

Berkaitan dengan faktor genetik pada perawakan pendek,endokrinopati,


pertumbuhan lambat konstitusional, penyakit jantung atau ginjal, displasia
tulang.

c. Tipe III. Ditandai oleh ketiga parameter (tinggi, berat dan lingkaran kepala) di
bawah normal

Tipe ini berkaitan dengan Susunan Syaraf Pusat yang abnormal, defek
pada khromosom, dan gangguan perinatal.

V.2.2 Penyimpangan Perkembangan Anak


Penilaian

perkembangan

anak

meliputi

identifikasi

dini

masalah-masalah

perkembangan anak dengan screening (skrining/penapisan/penjaringan) dan surveillance


ukuran standard atau non standard, yang juga digabungkan dengan informasi tentang
perkembangan sosial, riwayat keluarga, riwayat medik dan hasil pemeriksaan mediknya.
Penyimpangan perkembangan biasanya dibahas bersama-sama dengan penyimpangan
perilaku dalam bab yang sama, dengan kelainan yang sangat luas variasinya. Tolok ukur
perkembangan meliputi motorik kasar, halus, berbahasa, perilaku sosial dipakai dalam
skrining pada Denver Developmental Screening Test (DDST) dan Denver II misalnya.
Sedangkan untuk IQ (Intelligence Qotient, SQ (Social Qotient), EQ (Emotional Qotient)
yang dilakukan oleh para psikolog diperlukan untuk menetapkan batas-batas kemampuan
kurang,

normal,

atau

berbakat

(pada

gifted

children),

pada

test

pemilihan
51

sekolah/pendidikan yang tepat (placement test). atau semacam fit and proper test pada
orang dewasa. Dikatakan terdapat penyimpangan perkembangan apabila kemampuan anak
tidak sesuai dengan tolok ukur (milestones) anak normal. Dalam survai diperoleh dari
informasi kepedulian orang tua terhadap perkembangan dan perilaku anaknya.
Kategori kepedulian orang tua dalam deteksi penyimpangan perkembangan anak:
a. Emosi dan perilaku
b. Berbicara dan berbahasa
c. Ketrampilan sosial dan menolong diri sendiri
d. Motorik kasar
e. Motorik halus
f. Membandingkan dengan lingkungan
g. Masalah anak yang orang tuanya tidak mengeluh
V.2.3 Tatalaksana Penyimpangan Tumbuh kembang
Anamnesa
Keluhan orang tua dan riwayat tumbuh kembang (lisan dan tertulis/ kuesioner
skrining perkembangan anak)
Pemeriksaan
-

Observasi dan pemeriksaan (bentuk muka, tubuh, tindak tanduk anak, hubungan
anak dengan orang tuanya/pengasuhnya, sikap anak terhadap pemeriksa).

Pengukuran anthropometri:
o Rutin: Tinggi badan, berat badan, lingkaran kepala, lingkaran lengan.
o Atas indikasi: Lingkaran dada, panjang lengan (armspan), panjang tungkai,
tebal kulit (skinfold).

Penilaian pertumbuhan
Plot pada kurva pertumbuhan yang sesuai dengan standard yang dipakai:
-

PB/U, PB/BB,BB/U NCHS/CDC 2000

BB/U KMS WHO

Lingkaran kepala Nellhaus

Lingkaran lengan (Depkes RI)

Lingkaran dada, panjang lengan/tungkai: buku referens


Untuk anak normal ataukah untuk keadaan khusus (Sindroma Down atau

Achondroplasia), Kartu Menuju Sehat/Buku KIA.


52

Penilaian maturitas
-

Pertumbuhan pubertas (Tanner):


o Anak perempuan (payu dara, haid, rambut pubis)
o Anak laki-laki ( testis, penis, rambut pubis)

Umur tulang (bone age).

Penilaian perkembangan:
-

Skrining dengan instrumen Denver II, Munchen, Bayley , Stanford Binnet atau
lainnya.

Pilihlah test yang paling dikuasai oleh pemeriksa.

Pemeriksaan lain yang diperlukan atas indikasi:


-

Radiologi: Umur Tulang (Bone Age), Foto tengkorak, CT scan/MRI.

Laboratorium: Darah (umum atau hormonal), urine tergantung penyakit atau


kelainan organik yang mendasari.

Fungsi Pendengaran (TDD)

Fungsi Penglihatan(TDL), Funduskopi,Lapang pandang

Pemeriksaan otot (EMG)

Klasifikasi/Diagnosis Kerja:
Setelah dilakukan skrining kemudian perlu ditetapkan apakah anak termasuk kategori
Normal atau menyimpang (terlambat atau terlalu cepat dibandingkan dengan
standard/milestones)
Rujukan:
-

Menetapkan indikasi rujukan: Kemana? Persiapan apa saja?

Apabila penderita tidak bisa dikirim? Penggunaan telemedicine?

Perlu dipersiapkan pada intervensi/tindakan invasif: Information for consent dan


disusul dengan informed consent?

V.3 Cerebral Palsy


V.3.1 Definisi
Cerebral palsy berasal dari kata cerebral yang berarti otak dan palsy yang berarti
kelemahan/kelumpuhan/gangguan/kontrol gerak otot. Cerebral palsy adalah gangguan
gerak motorik kasar dan halus yang disebabkan gangguan pada otak yang masih
berkembang (usia 0 6 tahun).
53

Palsi serebral adalah terminologi yang digunakan untuk mendeskripsikan kelompok


penyakit kronik yang mengenai pusat pengendalian pergerakan dengan manifestasi
klinis yang tampak pada beberapa tahun pertama kehidupan dan secara umum tidak akan
bertambah buruk pada usia selanjutnya. Istilah cerebral ditujukan pada kedua belahan
otak, atau hemisfer, dan palsy mendeskripsikan bermacam penyakit yang mengenai pusat
pengendalian pergerakan tubuh. Jadi, penyakit tersebut tidak disebabkan oleh masalah
pada otot atau jaringan saraf tepi, melainkan terjadi perkembangan yang salah atau
kerusakan pada area motorik otak yang akan mengganggu kemampuan otak untuk
mengontrol pergerakan dan postur secara adekuat.
V.3.2 Gejala Cerebral Palsy

Gejala utama dari cerebral palsy (CP) adalah gangguan pada motorik kasar dan halus
berupa kelumpuhan dan kekakuan otot. Pada anak dengan CP ringan akan terlihat sebagai
gerakan yang kikuk, lamban, gemetar, dan gangguan keseimbangan. Sedangkan pada anak
dengan CP berat berupa hambatan yang bermakna dalam melakukan aktifitas motorik
sehari-hari, misalnya ketidakmampuan anak untuk duduk, berdiri, apalagi berlari.
V.3.3 Penyebab Cerebral Palsy

Sebanyak 75% disebabkan gangguan pada saat kehamilan atau pranatal, misalnya
gangguan perkembangan otak dan infeksi toksoplasma, rubela, CMV, cacar air, atau
herpes. Penyebab lainnya yaitu sebesar 10-15% adalah gangguan saat persalinan sampai
usia bayi 1 bulan atau perinatal, misalnya bayi lahir prematur, kurang oksigen, infeksi
otak, kejang, atau tidak disuntik vitamin K saat lahir sehingga terjadi perdarahan pada
otak. Cerebral Palsy juga dapat disebabkan pasca natal (10%), misalnya trauma kepala,
infeksi otak, atau perdarahan otak.
V.3.4 Klasifikasi Cerebral Palsy

Cerebral

Palsy

dapat

diklasifikasikan

berdasarkan

beberapa

kategori.

Berdasarkan tipenya:

Spastik, tipe tersering, yaitu kaku dan sulit melakukan gerak

54

Diskinetik, yaitu CP dengan gerak di luar kontrol, misalnya distonia (postur abnormal,
tubuh seperti terpuntir) dan atetoid (gerak kaki, tangan, lengan, mulut yang di luar
kontrol)

Ataksik, yaitu tremor dan gerak yang tidak stabil

Tipe campuran

Berdasarkan fungsi motorik dalam melakukan aktifitas sehari-hari

Gambar 3. GMFCS
Berdasarkan bagian tubuh yang terkena
55

Hemiplegia yaitu hanya mengenai satu sisi tubuh atau separuh tubuh.

Kuadraplegia yaitu mengenai keempat anggota tubuh, baik tungkai atas (tangan) dan
tungkai bawah (kaki)
Diplegia yaitu mengenai keempat anggota badan tapi tungkai bawah lebih berat

Gambar 4. Diplegia, hemiplegia dan quadriplegia


V.3.5 Kondisi yang Menyertai CP/Komorbiditas

Pada anak dengan CP saja hanya mengalami gangguan motorik kasar dan halus.
Namun pada sebagian anak CP ada problem yang menyertai CP tersebut yang disebut
komorbiditas. Ada atau tidaknya komorbiditas tersebut tergantung dari luas atau lokasi
dari kerusakan otak. Contoh komorbiditas misalnya epilepsi (45-50%), disabilitas
intelektual (52-60%), keterlambatan bicara/bahasa (38%), gangguan penglihatan (28%),
gangguan pendengaran (12%), dan masalah belajar atau perilaku.
V.3.6 Komplikasi CP

Ada pula komplikasi dari CP atau problem yang disebabkan oleh CP tersebut:

Problem pencernaan, misalnya muntah dan refluks (GERD). Dikarenakan


ototnya spastis termasuk klep di lambungnya. Akibatnya makanan yang masuk
ke lambung akan kembali lagi ke kerongkongan, lalu ke mulut, dan muntah.

Problem oromotor, saraf-saraf otak yang terganggu mempengaruhi saraf-saraf


oromotornya (saraf di sekitar mulut, pipi, dan rahang) sehingga anak akan sulit
menelan atau makan, mengiler, dan gangguan artikulasi.

Gangguan sensasi dan persepsi, dikarenakan saraf-saraf sensoriknya


terganggu.
56

Mudah terjadi trauma, misalnya mudah jatuh saat berlari atau olahraga pada
anak dengan CP ringan.

Problem pernapasan. Anak CP yang lebih sering pada posisi tidur akan sulit
untuk batuk atau mengeluarkan lendir. Manusia dapat batuk jika posisinya
tegak (duduk atau berdiri). Pilek, batuk, dan demam pada anak CP sebaiknya
ditangani segera agar tidak berlanjut lebih parah dan beresiko terkena
pneumonia (radang paru-paru). Problem pernapasan ini bisa teratasi dengan
rutin menjemur anak setiap pagi, kamar tidurnya tidak boleh lembab, dan
diinhalasi jika perlu.

Problem tulang dikarenakan kurang aktifitas dan kurang matahari. Misalnya


osteoporosis atau pengeroposan tulang dan nyeri tulang.

Problem kekakuan otot dan sendi, dapat menyebabkan gangguan tidur dan
nyeri.

Gangguan berkemih dan defekasi, dikarenakan otot kandung kemih yang


kaku. Pada kondisi berat perlu digunakan kateter.

Konstipasi dan sulit buang air besar , dapat menyebabkan gelisah dan sulit
tidur. Gangguan ini tergantung aktifitas anak. Jika anak pasif akan cenderung
sulit untuk mengedan.

V.3.7 Tata Laksana CP

Tata laksana pada cerebral palsy melibatkan berbagai profesi seperti dokter anak,
neurologi anak, rehabilitasi medis, mata, THT, bedah, terapis, psikolog, guru, dan lainlain.

Rehabilitasi Medis

Obat-obatan, berfungsi untuk mengurangi kekakuan /spastisitas sehingga akan


mudah dilakukan fisioterapi dan anak akan lebih nyaman serta mudah tidur.
Obat-obatan tersebut misalnya diazepam, clonazepam, injeksi botolinum
toksin, lioresal (baclofen), tizanidin, dan sodium dantrolen. Obat-obatan ini
tidak diberikan secara terus-menerus. Jika terapinya sudah jauh lebih mudah,
obat-obatan tersebut bisa dikurangi perlahan-lahan.

Terapi Bedah

Alat-alat bantu
57

Tata Laksana Komorbiditas CP

Epilepsi, diberikan obat anti epilepsi sampai 2-3 tahun bebas kejang.

Disabilitas intelektual, dapat dilakukan tes IQ untuk melihat derajat DI dan


pendidikan yang sesuai.

Keterlambatan bicara/bahasa, dapat dilakukan pemeriksaan pendengaran dan


terapi wicara.

Gangguan Penglihatan, dirujuk ke dokter spesialis mata.

Gangguan Pendengaran, dilakukan pemeriksaan pendengaran (OAE, BERA).

Masalah belajar/perilaku, dilakukan terapi perilaku, sekolah khusus, dan obatobatan jika perlu.

V.4 Nutrisi Pada Bayi


V.4.1 Langkah-langkah Asuhan Nutrisi Pediatrik
V.4.1.1 Assessment (penilaian)
Penilaian meliputi penentuan status gizi, masalah yang berhubungan dengan proses
pemberian makanan dan diagnosis klinis pasien. Anamnesis meliputi asupan makan, pola
makan, toleransi makan, perkembangan oromotor, motorik halus dan motorik kasar,
perubahan berat badan, faktor sosial, budaya dan agama serta kondisi klinis yang
mempengaruhi asupan. Penimbangan berat badan dan pengukuran panjang/tinggi badan
dilakukan dengan cara yang benar dan menggunakan timbangan yang telah ditera secara
berkala. Pemeriksaan fisik terhadap keadaan umum dan tanda spesifik khususnya
defisiensi mikronutrien harus dilakukan.
Penentuan status gizi dilakukan berdasarkan berat badan (BB) menurut panjang
badan (PB) atau tinggi badan (TB) (BB/PB atau BB/TB). Grafik pertumbuhan yang
digunakan sebagai acuan ialah grafik WHO 2006 untuk anak kurang dari 5 tahun dan
grafik CDC 2000 untuk anak lebih dari 5 tahun.
Grafik WHO 2006 digunakan untuk usia 0-5 tahun karena mempunyai keunggulan
metodologi dibandingkan CDC 2000. Subyek penelitian pada WHO 2006 berasal dari 5
benua dan mempunyai ling- kungan yang mendukung untuk pertumbuhan optimal. Untuk
usia di atas 5 tahun hingga 18 tahun digunakan grafik CDC 2000 dengan per- timbangan
grafik WHO 2007 tidak memiliki grafik BB/TB dan data dari WHO 2007 merupakan
smoothing NCHS 1981.
Tabel 16. Grafik penilaian gizi lebih berdasarkan kelompok usia
Usia

Grafik yang digunakan


58

0 5 tahun

WH0 2006
Untuk status gizi lebih dan obesitas lihat

>5-18 tahun

keten- tuan di bawah ini.


CDC 2000

Penentuan status gizi menggunakan cut off Z score WHO 2006 untuk usia 0-5 tahun
dan persentase berat badan ideal sesuai kriteria Waterlow untuk anak di atas 5 tahun.
Tabel 17. Penentuan status gizi menurut kriteria Waterlow, WHO 2006, dan CDC
2000
Status gizi
Obesitas
Overweight
Normal
Gizi kurang
Gizi buruk

BB/TB
(%
>120
median)
>110
> 90
70-90
< 70

IMT
BB/TB WHO

CDC

> +3 2006
> P95
2000
> +2 hingga +3 SD P85 p95
+2 SD hingga -2
<
-2 SD hingga -3
SD
< - 3 SD

Status gizi lebih (overweight)/obesitas ditentukan berdasarkan indeks massa tubuh


(IMT)
Bila pada hasil pengukuran didapatkan, terdapat potensi gizi lebih (>+1 SD) atau
BB/TB>110%, maka grafik IMT sesuai usia dan jenis kelamin digunakan untuk
menentukan adanya obesitas. Untuk anak <2 tahun, menggunakan grafik IMT WHO
2006 dengan kriteria overweight Z score > + 2, obesitas > +3, sedangkan untuk anak usia
2-18 tahun menggunakan grafik IMT CDC 2000 (lihat algoritma). Ambang batas yang
digunakan untuk overweight ialah diatas P85 hingga P95 sedangkan untuk obesitas ialah
lebih dari P95 grafik CDC 2000.

59

Tabel 18. Dasar pemilihan penggunaan grafik IMT sesuai usia


Grafik
Usi

IMT

Alasan

yang

Grafik IMT (CDC 2000) tidak tersedia untuk

0 2 tahun

WH0 2006

klasifikasi usia dibawah 2 tahun


Dengan menggunakan grafik IMT CDC

> 2 18 tahun

CDC 2000

2000 persentil 95, deteksi dini obesitas dapat


ditegakkan

Pemeriksaan laboratorium dan analisis diet dilakukan sesuai indikasi klinis.


Diagnosis klinis merupakan salah satu pertimbangan dalam memformulasikan rencana
pemberian nutrisi.
Dalam keadaan tertentu dimana berat badan dan panjang/tinggi badan tidak dapat
dinilai secara akurat, misalnya terdapat organo- megali, edema anasarka, spondilitis atau
kelainan tulang, dan sindrom tertentu maka status gizi ditentukan dengan menggunakan
parameter lain misalnya lingkar lengan atas, knee height, arm span dan lain lain akan
dijelaskan dalam rekomendasi tersendiri.
V.4.1.2 Penentuan Kebutuhan
Kebutuhan kalori idealnya ditentukan secara individual mengguna- kan kalorimetri
indirek, namun hal tersebut mahal dan tidak praktis. Kebutuhan nutrien tertentu secara
khusus dihitung pada kondisi klinis tertentu.
Untuk kemudahan praktek klinis, kebutuhan kalori ditentukan berdasarkan:
1. Kondisi sakit kritis (critical illness):
Kebutuhan energi = REE x faktor aktivitas x
faktor stres

2. Kondisi tidak sakit kritis (non critical illness)


a. Gizi baik/kurang:
Kebutuhan kalori ditentukan berdasarkan berat badan ideal dikalikan RDA
menurut usia tinggi (height age). Usia-tinggi ialah usia bila tinggi badan anak
tersebut merupakan P50 pada grafik. Kebutuhan nutrien ter- tentu secara khusus
dihitung pada kondisi klinis ter-tentu.
1) Tatalaksana Gizi Buruk menurut WHO, atau
2) Berdasarkan perhitungan target BB-ideal:
Pemberian kalori awal sebesar 50-75% dari target untuk menghindari
BB-ideal x RDA menurut usiatinggi

sindrom refeeding.

60

b. Obesitas:
Target pemberian kalori adalah
BB-ideal x RDA menurut usia
tinggi.

Pemberian kalori dikurangi secara bertahap sampai tercapai target.


Catatan:
- Berat badan ideal adalah berat badan menurut tinggi badan pada P50
pertumbuhan
- Pada Obesitas penatalaksanaan tidak akan berhasil tanpa disertai dengan
peningkatan aktifitas fisik dan perubahan perilaku.
V.4.1.3 Penentuan cara pemberian
Pemberian nutrisi melalui oral atau enteral merupakan pilihan utama. Jalur parenteral
hanya digunakan pada situasi tertentu saja. Kontra indikasi pemberian makan melalui
saluran cerna ialah obstruksi saluran cerna, perdarahan saluran cerna serta tidak
berfungsinya saluran cerna. Pemberian nutrisi enteral untuk jangka pendek dapat
dilakukan melalui pipa nasogastrik atau nasoduodenal atau nasojejunal. Untuk jangka
panjang, nutrisi enteral dapat dilakukan melalui gastrostomi atau jejunostomi. Untuk
nutrisi parenteral jangka pendek (kurang dari 14 hari) dapat digunakan akses perifer,
sedangkan untuk jangka panjang harus menggunakan akses sentral.
V.4.1.4 Penentuan jenis makanan
Pada pemberian makan melalui oral bentuk makanan disesuaikan dengan usia dan
kemampuan oromotor pasien, misalnya 0-6 bulan ASI dan/formula, 6 bulan-1 tahun ASI
dan/atau formula di-tambah makanan pendamping, 1-2 tahun makanan keluarga ditambah
ASI dan/atau susu sapi segar, dan di atas 2 tahun makanan keluarga. Jenis sediaan
makanan untuk enteral disesuaikan dengan fungsi gastrointestinal dan dapat dibagi dalam
beberapa jenis, yaitu:
- Polimerik, yang terbuat dari makronutrien intak yang ditujukan untuk fungsi
gastrointestinal yang normal, terbagi menjadi formula standar dan formula
-

makanan padat kalori


Oligomerik (elemental), biasanya terbuat dari glukosa polimer, protein

terhidrolisat, trigliserida rantai sedang (MCT, medium chain triglyceride)


- Modular, terbuat dari makronutrien tunggal
Pada pemberian parenteral, pemberian jenis preparat sesuai dengan usia, perhitungan
kebutuhan dan jalur akses vena. Untuk neonatus dan bayi beberapa asam amino seperti
sistein, taurin, tirosin, histidin merupakan asam amino yang secara khusus/kondisional
61

menjadi esensial, sehingga dibutuhkan sediaan protein yang bisa berbeda antara bayi dan
anak.
V.4.1.5 Pemantauan dan Evaluasi
Pemantauan dan evaluasi meliputi pemantauan terhadap akseptabilitas atau
penerimaan makanan, dan toleransi (reaksi simpang makanan). Reaksi simpang yang
dapat terjadi pada pemberian enteral antara lain adalah mual/muntah, konstipasi dan
diare. Pada pemberian parenteral dapat terjadi reaksi infeksi, metabolic dan mekanis.
Selainitu, diperlukan pemantauan efektivitas berupa monitoring pertumbuhan. Pada
pasien rawat inap evaluasi dan monitoring dilakukan setiap hari, dengan membedakan
antara pemberian jalur oral/enteral dan parenteral. Pada pasien rawat jalan evaluasi
dilakukan sesuai kebutuhan.
V.4.2 Jenis Makanan Bayi
V.4.2.1 Air Susu Ibu (ASI)
ASI adalah cairan putih yang dihasilkan oleh kelenjar mamae wanita melalui proses
laktasi. ASI juga mengandung sejumlah zat penolak bibit penyakit antara lain laktoferin,
immunoglobulin, dan zat lainnya yang melindungi bayi dari berbagai penyakit infeksi.
Pemberian ASI secara eksklusif adalah bayi hanya diberi ASI saja tanpa tambahan
cairan/ makanan. Pemberian ASI secara eksklusif dianjurkan untuk jangka waktu
setidaknya selama 6 bulan. ASI dapat diberikan sampai berusia 2 tahun (Moehyi, 2008).

62

Tabel 19. Kandungan berbagai zat gizi dalam ASI


Macam zat gizi
Protein
Lemak
Laktose
Kalori
Besi
Vitamin A
Vitamin B1
Vitamin C
Sumber: Moehyi, S., 2008

Kadar gizi dalam 100 ml ASI


1,2 g
3,8 g
7,0 g
75,0 kal
0,15 mg
53,0 Kl
0,11 mg
4,3 mg

V.4.2.2 Susu Formula


Menurut Husaini (1999), susu formula adalah susu komersil yang dijual dipasar atau
ditoko, biasanya terbuat dari susu sapi atau susu kedelai diperuntukkan khusus untuk
bayi. Susu formula dapat diberikan sebagai pengganti ASI dalam keadaan sebagai berikut:
a. ASI tidak keluar sama sekali sebagai pengganti ASI adalah susu formula.
b. Ibu meninggal sewaktu melahirkan.
c. ASI keluar tetapi jumlahnya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan gizi.
Selain susu bayi yang diberikan kepada bayi sehat, produsen susu bayi juga
membuat formula-formula khusus untuk diberikan kepada bayi dengan kelainan
metabolisme tertentu agar bayi tersebut tetap dapat tumbuh normal, baik fisik atau
kejiwaanya. Susu formula semacam ini dikenal dengan formula diit atau special formula
(Moehyi, 2008).
Berdasarkan hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia tahun 2002
menunjukkan bahwa pemberian susu formula kerap kali dilakukan pada bayi kurang dari
2 bulan. Hal ini terjadi karena ibu bekerja kembali saat bayi berusia 6-8 minggu. Oleh
sebab itu, cakupan pemberian susu formula meningkat tiga kali lipat dalam kurun waktu
antara 1997 sebesar 10,8% menjadi 32,4% di tahun 2002 (Susanto, 2010).
V.4.2.3 Makanan Pendamping ASI
Menurut Depkes RI (2006), makanan pendamping ASI adalah makanan atau
minuman yang mengandung zat gizi, diberikan kepada bayi atau anak usia 6-24 bulan
guna memenuhi kebutuhan gizi selain dari ASI.
Selain itu, WHO (2003) menegaskan bahwa MP-ASI harus diberikan setelah anak
berusia 6 bulan karena pada masa tersebut produksi ASI semakin menurun sehingga
supply zat gizi dan ASI tidak lagi memenuhi kebutuhan gizi anak yang semakin
meningkat.
Makanan pendamping ASI untuk bayi sebaiknya memenuhi persyaratan, seperti
memenuhi kecukupan gizi, susunan hidangan memenuhi pola menu seimbang dan
63

memperhatikan selera terhadap makanan, bentuk dan porsi disesuaikan dengan daya
terima, toleransi, dan keadaan faali anak, serta memperhatikan sanitasi/ higiene (Pudjiadi,
2005).
Penelitian yang dilakukan di daerah pedesaan Kabupaten Wonosobo, Provinsi Jawa
Tengah, dimana praktek-praktek pemberian makan pada bayi sebelum usia 1 bulan
mencapai 32,4% dan 66,7% jenis makanan yang diberikan adalah pisang (Widodo, 2003).
Dari hasil penelitian Sulastri (2004) di Kecamatan Medan Marelan mengenai pemberian
MP-ASI dimana 80 responden terdapat 2,5% pemberian MP-ASI baik dan 97,5% dengan
pemberian MP-ASI yang tidak baik.
Selain itu, hasil penelitian yang dilakukan oleh Aritonang (2008) di Kelurahan PB
Selayang Medan menunjukkan bahwa tidak ada satu orang pun ibu yang memberi MPASI setelah bayi usia lebih dari 6 bulan. Sebagian besar bayi sudah mendapat MP-ASI
pada usia 1-3 bulan bahkan ada yang sudah memberi MP-ASI begitu lahir.
Tujuan memberikan makanan pendamping ASI adalah melengkapi zat gizi yang
kurang terdapat dalam ASI/ susu formula, mengembangkan kemampuan bayi untuk
menerima bermacam makanan dengan berbagai tekstur dan rasa, mengembangkan
kemampuan bayi untuk mengunyah dan menelan, dan melakukan adaptasi terhadap
makanan yang mengandung kalor energi yang tinggi (Persagi, 1992).
V.4.3 Kebutuhan Zat Gizi Pada Bayi
Setiap bayi memerlukan nutrisi yang baik dan seimbang. Artinya, setiap bayi
memerlukan nutrisi dengan menu seimbang dan porsi yang tepat, tidak berlebihan dan
disesuaikan dengan kebutuhan tubuhnya. Jika pemberian nutrisi pada bayi kurang baik
dari segi kualitas maupun kuantitasnya maka pertumbuhan dan perkembangannya akan
berjalan lambat. Sebaliknya, jika pemberian nutrisi melebihi kapasitas yang dibutuhkan
akan menyebabkan kegemukan yang mengakibatkan pertumbuhan dan perkembangan
bayi menjadi terganggu.
Energi atau kalori sangat berpengaruh terhadap laju pembelahan sel dan
pembentukkan struktur organ-organ tubuh. Apabila energi berkurang maka proses
pembelahan sel akan terganggu dapat mengakibatkan organ-organ tubuh dan otak bayi
mempunyai sel-sel yang lebih sedikit dari pada pertumbuhan normal.
Protein sebagai zat pembangun sangat diperlukan bayi untuk pembuatan sel- sel baru
dan merupakan unsur pembentukkan berbagai struktur organ tubuh (Asydhad, 2006).

64

VI.

Kerangka Konsep
Fariz, anak laki-laki 10
bulan
Riwayat lahir dengan
KPD
Chorioamnionitis
Resiko aspirasi cairan
amnion
Bronkopneumoni
a
Hipoksia

Menyebar hematogen ke
otak
Meningitis
Adanya reaksi
radang
Kerusakan:
-sel-sel otak
-oligodendrosit
(CEREBRAL
PALSY)
Blok jalur auditori
dari batang otak
lobus temporal

Perlambatan proses
mielinisasi &
kerusakan korteks
presentralis

Gangguan
pendengaran

Gangguan inhibisi
sentral ke n.
Kranialis motorik

Tidak menoleh ketika


dipanggil

Tanda lesi UMN

refleks tendon

Disfungsi oromotor

Gangguan
menelan

Gangguan bicara

Belum bisa makan


bubur

Belum bisa
mengoceh

Gangguan nutrisi
Severely
underweight

mikrosefal
i
Gangguan perkembangan
otak

65

Kesimpulan
Fariz laki-laki 10 bulan, mengalami tumbuh kembang yang terhambat, gizi buruk,
mikrocefali akibat cerebral palsy tipe spastic quadriplegia.

66

DAFTAR PUSTAKA
Albright AL. intrathecal Baclofen in Cerebral Palsy Movement Disorders. J Child
Darto Saharso. CEREBRAL PALSY DIAGNOSIS DAN TATALAKSANA Kelompok studi
neuro-developmental Bagian Ilmu Kesehatan Anak FK Unair RSU Dr. Soetomo
Surabaya. http://old.pediatrik.com/pkb/061022021726-bvxh131.pdf. 29-03-2016
Depkes. 2013. Makanan Sehat Untuk Bayi. From: http://gizi.depkes.go.id/wp-content/
diunduh pada 29 Maret 2016.
Fitriadi. Cerebral Palsy. From: http://eprints.undip.ac.id/ diunduh pada 29 Maret 2016.
Gunarwati, S., S. Y. Patria, M. Julia. Risk factors of cerebral palsy in the perinatal period.
Paediatr Indones 48;3, 2008: 175-179
Handryastuti, S.. Cerebral Palsy. Divisi Neurologi Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUIRSCM, 2014
Hendy, Soetjiningsih. Palsi Serebral. dalam Soetjiningsih, I. G. N. G. Ranuh (Eds.). Tumbuh
Kembang Anak, ed. 2. Jakarta: EGC, 2013: 527-57
IDAI. 2013. Asuhan Nutrisi Pediatrik. From: http://www.idai.or.id/wp-content/uploads
diunduh pada 29 Maret 2016
Irwanto, Ahmad Suryawan, Moersintowarti B.Narendra.2008. PENYIMPANGAN TUMBUH
KEMBANG ANAK Divisi Tumbuh Kembang Anak dan Remaja Bagian Ilmu Kesehatan
Anak,

FK

Unair

RSU

Dr.

Soetomo

Surabaya.

http://old.pediatrik.com/pkb/061022022956-57x6138.pdf. 29-03-2016
Lely, O. A. A., Soetjiningsih. Aspek Kognitif dan Psikososial pada Anak dengan Palsi
Serebral. Sari Pediatri 2;2, 2000: 109-112
Michigan Cerebral Palsy Attorneys. 2010 2012. Cerebral Palsy from Neonatal Sepsis and
Meningitis

http://www.michigancerebralpalsyattorneys.com/about-cerebral-

palsy/causes-and-risk-factors-of-cerebral-palsy/undiagnosed-untreated-infantillnesses/neonatal-sepsis-meningitis/ (Diakses pada 28 Maret 2016).


Nelson, Behrmen, Kliegman, dkk. Ilmu Kesehatan Anak Nelson edisi 15 v. Jakarta : EGC,
2000. Adams RC, Snyder P. Treatment for Cerebral Palsy: Making choices of
intervention from an expanding menu of option. Inf Young Children. 1998;10:1-22
Neurol, 1996;11 (Suppl 1):S29-35
Saharso,

D..

Cerebral

Palsy:

Diagnosis

dan

Tatalaksana.

Kelompok

Studi

Neurodevelopmental Bagian IKA FK Unair-RSU Dr. Soetomo, 2006

67

Saharso, Darto, dkk. 2005. PEMERIKSAAN NEUROLOGIS PADA BAYI DAN ANAK
http://old.pediatrik.com/cd_dan_buku/061023-kxcv149-cd_dan_buku.pdf

(Diakses

pada 28 Maret 2016).


Soetjiningsih dan Ranuh, IG. N. 1995. Tumbuh Kembang Anak. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC.
Suwarba, Gusti Ngurah dkk. 2008. Profil Klinis dan Etiologi Pasien Keterlambatan
Perkembangan

Global

di

Rumah

Sakit

Cipto

Mangunkusumo

Jakarta

http://saripediatri.idai.or.id/pdfile/10-4-8.pdf (Diakses pada 28 Maret 2016).


USU. 2011. Pola Pemberian Makanan pada Bayi. from: http://repository.usu.ac.id/bitstream/
diunduh pada 29 Maret 2016.
Wibowo, A. R., D. R. Saputra. Prevalens dan Profil Klinis pada Anak Palsi Serebral Spastik
dengan Epilepsi. Sari Pediatri 14;1, 2012: 1-7

68

Anda mungkin juga menyukai