Anda di halaman 1dari 13

INTERVERENSI BAHASA IBU (L1) TERHADAP KEMAMPUAN

BELAJAR BAHASA INDONESIA (L2)


BAGI PESERTA BAHASA INDONESIA UNTUK PEMBELAJAR ASING
(BIPA) TINGKAT PEMULA
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG

Penelitian Kompetitif Individu Dosen Fakultas Ilmu Tarbiyah Dan Keguruan

Oleh:
Dra. Hj. Siti Annijat Maimunah, M. Pd
NIP. 195709271982032001

KEMENTRIAN AGAMA
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
2015
HALAMAN PENGESAHAN

Judul Penelitian:

INTERVERENSI BAHASA IBU (L1) TERHADAP KEMAMPUAN BELAJAR BAHASA


INDONESIA (L2)
BAGI PESERTA BAHASA INDONESIA UNTUK PEMBELAJAR ASING (BIPA)
TINGKAT PEMULA
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
1. Biodata Peneliti
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.

Nama Lengkap
NIP
Jabatan Stuktural
Jabatan Fungsional
Program Studi
Alamat Kantor
Telepon/Faks
Jenis Penelitian

: Dra. Hj. Siti Annijat Maimunah, M. Pd


: 195709271982032001
: IVA/ Lektor Kepala
: Tenaga Pendidik/ Dosen
: Pendidikan Agama Islam
: Jl. Gajayana No. 50 Malang
: 0341 552398
: Kebahasaan

2. Jangka Waktu Penelitian:5 Bulan

Ketua Jurusan PAI

Malang, 20 Maret 2015


Peneliti

Dr. Marno, M. Ag
NIP. 197208222002121001

Dra. Hj. Siti Annijat Maimunah, M. Pd


NIP. 197212182000031002

Mengetahui,
Wakil Dekan Bidang Akademik

Dr. Hj. Sulalah, M. Ag


NIP. 196511121994032002
BAB I
PENDAHULUAN
2

A. Konteks
Pembelajar asing di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang semakin banyak, mereka berasal
dari beberapa Negara Asia, Timur Tengah, Australia, Amerika, dan Rusia. Dalam pembelajaran
bahasa Indonesia untuk Pembelajar Asing (BIPA) tingkat pemula mereka memiliki probelatika
belajar yang berbeda. Hal tersebut dikarenakan mereka memiliki bahasa ibu (L1) yang berbedabeda. Sebagaimana dijelaskan oleh Grabe (1986:15) bahwa problem belajar bahasa asing (L2)
muncul karena adanya perbedaan linguistis dan sosiokultural dari pemerolehan bahasa
pertama/bahasa ibu dengan bahasa Target atau bahasa asing yang sedang dipelajari.
Problem mereka dalam belajar bahasa Indonesia juga beragam karena latar L1 dan L2
mereka beragam pula. Ada yang belajar bahasa Indonesia sebagai bahasa ketiga, keempat, atau
kelima. Adapun tingkat kesulitan mereka juga berbeda, misalnya bagi pembelajar yang memiliki
L1 bahasa Arab, atau bahasa Melayu mereka lebih mudah belajar BIPA.Akan tetapi bagi
mahasiswa Libia yang tidak mengenal alphabet mereka mengalami kesulitan belajar BIPA.
Begitu juga mahasiswa dari Kamboja, mereka menggunakan bahasa Cham sebagai bahasa ibu
(L1) dan Bahasa Kmeer sebagai bahasa kedua (L2) dan bahasa Inggris, bahasa Arab, dan Bahasa
Indonesia sebagai bahasa Asing. Jadi, bahasa (L2) bagi pembelajar merupakan bahasa Asing atau
bahasa sasaran yang harus mereka pelajari setelah L1.
Penggunaan pendekatan pembelajaran, pemilihan bahan ajar yang tepat memiliki peran yang
penting dalam meraih keberhasilan proses belajar mengajar BIPA. Dalam pembelajaran BIPA
sebaiknya bahan ajar yang disajikan adalah bahasa Indonesia yang berbasis kebutuhan
mahasiswa. Mereka harus belajar BI untuk keperluan mengikuti kuliah, oleh karena itu, ragam
bahasa ilmiah dan topik-topik yang sesuai dengan bidang studi mahasiswa menjadi bahan utama
yang dipelajari.Jadi, materi BIPA seharusnya disesuaikan dengan kebutuhan pembelajar.Dengan
demikian analisis kebutuhan pembelajar harus dilakukan dalam pemilihan bahan ajar, sehingga
tujuan pembelajaranakan dapat dicapai dengan lancar.Hal ini sehubungan tujuan pembelajar
BIPA yang berbeda-beda. Misalnya ada yang betujuan untuk menempuh studi di Indonesia, ada
juga dalam rangka melakukan penelitian di Indonesia, ada juga dalam rangka belajar tentang
pariwisata atau antropologi budaya Indonesia.
Penelitian terdahulu yang berbicara tentang BIPA yaitu dilakukan oleh Rifca Farih Azizah
tahun 2012 tentang Pembelajaran BIPA bagi penutur asing Program CLS di Universitas negeri
3

Malang.Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran


BIPA menggunakan pendekatan komunikatif, dan problem yang ditemukan yaitu aspek
kebahasaan dan non kebahasaan, serta pengelolaan dengan solusi melibatkan para ahli dalam
pembelajaran dan pengelolaannya. Selanjutnya Roberto Pujo Laksono tahun 2013, meneliti buku
pegangan BIPA berisi materi budaya local seperti seni wayang kulit, makanan tradisional,
peninggalan sejarah, lagu-lagu Indonesia dan tentang suku-suku Indonesia dan budayanya.
B. Fokus Masalah
1. Bagaimana interverensi bahasa Ibu terhadap kemampuan belajar mahasiswa asing dalam
pembelajaranBIPA di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang?
2. Bagaimana kendala yang dihadapi mahasiswa asing dalam pembelajaran BIPA di UIN
Maulana Malik Ibrahim Malang?
3. Bagaimana Solusi yang dilakukan mahasiswa asing dalam menanggulangi kendala
Belajar BIPA di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang?
C. Tujuan Penelitian
1. Mengkajiinterverensi bahasa Ibu terhadap kemampuan belajar BIPA bagi mahasiswa
asing di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.
2. Mengkaji kendala yang dihadapi mahasiswa asing dalam pembelajaran BIPA di UIN
Maulana Malik Ibrahim Malang.
3. Mengkaji solusi yang dilakukan mahasiswa asing dalam menanggulangi kendala belajar
BIPA di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.
D. Manfaat Penelitian
Penelitian ini memiliki manfaat secara teoritis dan Praktis. Secara teoritis penelitian ini
bermanfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan tentang BIPA . Selanjutnya, manfaat praktis
penelitian ini yaitu:
1. Bagi Peneliti, hasil penelitian ini merupakan pengalaman dan pengetahuan peneliti
yang dapat digunakan sebagai bahan acuan dlam mengajar BIPA atau melakukan
penelitian BIPA selanjutnya.
2. Bagi pengelola BIPA, hasil penelitian ini dapat sebagai bahan pertimbangan dalam
melakukan perbaikan dan pengembangan penyelenggaraan BIPA di lembaganya.
3. Bagi Mahasiswa BIPA, hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai acuan belajar
BIPA agar tidak menemui kendala belajar yang sama.
4.
E. Ruang Lingkup Penelitian

Ruang lingkup penelitian ini perlu dibatasi agar tidak meluar pembahasannya. Oleh karena
itu, penelitian ini memiliki ruang lingkup seperti berikut: (1) Interverensi L1 ke L2 yang
dilakukan pembelajar BIPA dalam berbahasa Indonesia. Hal ini mengingat tingkat kesenjangan
L1 dan L2 sangat jauh, sehingga terjadi interverensi L1 ke L2, (2) Kendala eksternal maupun
internal pembelajar BIPA, (3) Solusi yang sudah dilakukan oleh pembelajar maupun lembaga
dalam menanggulangi kendala tersebut. Untuk memperoleh data tersebut peneliti akan
mewawancarai mahasiswa asing asal Kamboja 8 orang, Thailand 5 orang, Madagaskar 2 Orang,
Libia 5 Orang dan Somalia 4 Orang. Tentang penyelenggaraan BIPA peneliti akan
mewawancarai pengelola BIPA, dan Pengajar BIPA UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.
F. Definisi Operasional
1. Interverensi: Kemampuan pemerolehan bahasa pertama yang sengaja dimunculkan
penutur ketika belajar bahasa target/sasaran karena tidak menemukan kosa kata bahasa
target.
2. Bahasa Ibu: Bahasa pertama yang diperoleh penutur tanpa belajar secara formal dan
bahasa tersebut secara langsung dipelajari dari masyarakat lingkungannya.
3. Kemampuan belajar bahasa Indonesia: keterampilan berbahasa Indonesia yang meliputi
aspek kebahasaan dan non kebahasaan.
4. BIPA : Pembelajaran Bahasa Indonesia untuk pembelajar Asing yang diselengggarakan
oleh lembaga tertentu.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Pengajaran BIPA

Sesuai dengan materi pengajaran BIPA tingkat pemula atau dasar yang meliputi membaca
intensif, kebahasaan, percakapan, dan menulis (narasi), maka hasil menulis pelajar BIPA dapat
digunakan untuk mengetahui kompetensinya pada keterampilan berbahasa Indonesia. Dalam
kemampuan menulis narasi dapat diketahui juga kemampuan menulis narasi dapat diketahui juga
kemampuan terhadap aspek kebahasaan yang meliputi: kosa kata, ejaan, tanda baca, intonasi dan
sebagainya. Kemampuan kebahasaan yang diterapkan dalam bahasa tulis sering dilakukan
interverensi bahasa (B1) ke dalam bahasa sasaran (B2). Selain itu masih sedikit kosa kata yang
dimiliki, penggunaan tanda baca yang salah , kalimat tersusun sangat panjang atau huruf dalam
kata tidak lengkap.
Menulis merupakan kegiatan menuangkan pikiran ke dalam tulisan.Apa yang dipikirkan dan
dirasakan, dialami merupakan bekal menulis dengan mudah. pengungkapan cerita biasanya
mengikuti alur kronologis waktu, tempat atau keruntutan suatu masalah. Bisa diungkapkan
secara deduksi atau induksi.Pembelajaran menulis melatih pelajar untuk berkreasi menuangkan
ide atau pikiran.
B. Problematika pengajaran BIPA
a. Problematika pengajaran BIPA bagi mahasiswa.
Sejalan dengan kemajuan ekonomi di era global, maka Indonesia termasuk Negara yang
diminati untuk dikunjungi maupun untuk direkrut sebagai rekanan bisnis bagi Negara-negara
lain. BIPA menjadi program yang diminati oleh warga asing sejak terbukanya pasar bebas.
Namun, hingga saat ini belum ditemukan strategi mengajar BIPA yang efektif, baik yang
berkaitan dengan alat-alat untuk mencapai tujuan, materi yang seharusnya diajarkan, serta
metode pengajaran yang cocok (Wojowasito,1976:1). Hal ini dapat dilakukan dengan
memperhatikan berbagai pertimbangan agar mengajarkan bahasa Indonesia sebagai bahasa
asing tersebut. Tidaklah mudah, meskipun pengajar adalah penutur asli Bahasa
Indonesia.Jadi strategi mengajar sangat diperlakukan oleh pengajar untuk menyampaikan
materi ajar BIPA.Pengetahuan tentang BIPA sebagai latar belakang pengajar adalah penting,
sebab tanpa kompetensi tersebut pengajar belum tentu dapat menyampaikan materi BIPA
dengan tepat meskipun mereka sebagai penutur asli.Kendala pengajar yang tidak
berkompeten BIPA menjadi problem bagi peserta BIPA.Contoh : Pengajar BIPA penutur asli
Bahasa Indonesia yang berlatar belakang pendidikan Bahasa Arab atau Bahasa Inggris belum

tentu dapat mengajar BIPA dengan baik ketika mereka mengajar mahasiswa dari Sudan atau
Aljazair.
b. Bahan ajar tidak menarik
Dalam KBM unsur bahan ajar sangat berperan penting dalam keberhasilan pembelajaran
(Suyono, 1995:9).Keberhasilan pembelajaran terlihat dalam kesungguhan pelajar dalam
mengikuti KBM. Oleh karena itu penentuan bahan ajar harus melalui analisis kelentukan
peserta atau pembelajar (Suyitno , 2004:5).
Jadi, bahan ajar harus disesuaikan dengan tujuan belajar, karakteristik pembelajar,usia dan
sebagainya.
C. Problematika Kebahasaan
Pelafalan Bahasa Indonesia yang berbeda dengan bahasa lain di dunia atau di Asia. Kadangkadang problem belajar Bahasa Indonesia kurang berminat dikarenakan dusut pandang yang
berbeda pada sisi pelajar terhadap bahasa yang akan dipelajari atau bahasa sasaran. Selain itu,
pengaruh bahasa pertama (B1) dan bahasa kedua atau asing (B2) membuat pelajar melakukan
interverensi kosa kata yang digunakan. Bagi pelajar Kamboja merasa kesulitan ketika akan
mengucapkan konsonan tertentu dalam Bahasa Indonesia. Misalnya bunyi |b|, |d|, |r|, |l|, selain itu
bunyi aksen Bahasa Indonesia juga mengalami kesulitan. Bisa juga terjadi tutor kurang dapat
menyampaikan kosa kata apa yang belum bisa dikuasai.
Pada umumnya pembelajar Bahasa Asing mengalami kegalatan acak diawal belajar (Corder,
1973).Jadi, wajarlah bila pembelajar mengalami hal tersebut.Adapun kegalatan yang terjadi pada
pelajar dewasa ditanggulangi dengan melatih secara berulang- ulang (Suyitno, 2005:2). Proses
pembentulan kegalatan hendaknya dilakukan oleh guru atau tutor. Pembetulan tidak perlu
menunggu saat ujian tapi saat itu juga supaya mereka langsung dapat memperbaikinya.
D. Problematika Non- Kebahasaan
(1) Terjadinya benturan budaya yang berbeda, (2) Home stay yang tidak sesuai/tidak nyaman,
(3) Pemasangan Tutor yang kontras dengan pelajar, faktor psikologis pelajar mungkin stress
dengan tugas, rindu dengan keluarga, situasi membosankan.
E. Solusi yang dilakukan untuk menanggulangi problema pengajaran BIPA
1. Lembaga atau institusi menyediakan SDM yang berlatar BIPA.
2. Menggunakan bahan ajar yang menarik.
3. Melatih ucapan ucapan bunyi bahasa yang sulit.
7

4. Terjadinya benturan budaya, tempat tinggal tidak nyaman, dan tutor yang sesuai atau
friendly. Rindu keluarga (factor psikologis siswa) maka perlu perlakuan yang nyaman
agar mereka senang.
Jadi, perlu model belajar Paikem.

BAB III
Metode Penelitian
A. Pendekatan penelitian
Penelitian ini akan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, karena penelitian ini akan
mendeskripsikan hal-hal yang berhubungan data interverensi L1 terhadap L2 yang dilakukan
peserta BIPA dala berbahasa Indonesia. Data interverensi tidak dilakukan perlakuan apapun, dan
pemerolehan data diusahakan se alamiah mungkin.
B. Instrumen Penelitian
Dalam Pelaksanaan penelitian peneliti akan terjun secara langsung dalam obyek penelitian.
Hal ini karena peneliti adalah sebagai instrument penelitian, maka kehadiran peneliti tidak dapat
digantikan dengan benda lainnya.
8

C. Data dan Sumber Data


Data penelitian ini berupa kata-kata bahasa Indonesia atau bahasa Ibu pembelajar BIPA.
Sumber data meliputi Pengelola BIPA 2 Orang, Pengajar BIPA 3 Orang dan Peserta BIPA 24
orang, serta dokumen BIPA di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.
D. Teknik Pengumpulan Data
Penelitian ini akan menggunakan teknik pengumpulan data dengan Wawancara dengan
pembelajar BIPA untuk memperoleh informasi tentang kemampuan berbahasa Indonesia secara
Lisan. Sedangkan wawancara secara tulis untuk mengetahui kemampuan berbahasa secara
tulis.Wawancara dengan pengajar untuk memperoleh data tentang kendala dalam pembelajaran
BIPA. Adapun wawancara dengan pengelola akan memperoleh data tentang bagaimana
penyelenggaraan pembelajaran BIPA di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.
Selain itu digunakan juga teknik studi dokumentasi, dalam hal ini peneliti akan melihat data
dokumen peserta BIPA, serta materi apa yang diajarkan kepada siswa apakah sudah sesuai
dengan kebutuhan pembellajarnya, sehingga terjadi kendala dalam belajar bahasa Indonesia.
Juga digunakan teknik observasi, dalam hal ini peneliti akan melakukan observasi di lembaga
BIPA utamanya di kelas BIPA. Setelah observasi akan diperoleh gambaran bagaimana
penyelenggaraan pengajaran BIPA.

E. Analisis Data
Data yang diperoleh dari pengumpulan data, selanjutnya diklasifikasi dan ditranskipsi dalam
korpus data.Selanjutnya kospus data ditemukan bentuk-bentuk interverensi kata yang dilakukan
oleh peserta BIPA. Kemudian diinterpretasi dan dikaji sebagai bentuk interverensi apa saja yang
dilakukan peserta BIPA. Selanjutnya data tersebut dianalisis apa sebab mereka melakukan
interverensi tersebut.
F. Triangualasi
Dalam rangka uji validitas data, peneliti akan mendiskusikan dengan pakar BIPA dan teman
sejawat dan pengajar BIPA. Hal ini dilakukan agar temuan-temuan dalam penelitian serta
analisisnya dapat diperoleh kesahihannya.

BAB IV
SCHEDULE DAN PEMBIAYAAN
A. Time schedule
Kegiatan ini akan dilaksanakan sesuai dengan time schedule di bawah ini :
BULAN 2015
KET
N
KEGIATAN
April
Mei
Juni
Juli
Agu
Seepte
O
stus
mber
1

2
3

Persiapan, Diskusidan
penyusunan desain
penelitian (Proposal)
Presentasi Proposal
Kegiatan observasi
awal dan penggalian
data
Penggalian Data; I, II,
III, IV

X
X
X

10

5
6
7
8

Deskripsi data
Analisis Temuan
Penelitian
Workshop Rencana
Tindak Lanjut (RTL)
Penyususnan Laporan

X
X

X
X

X
X
X

B. Rencana anggaran
Program kegiatan pengabdian tersebut di atas, secara keseluruhan membutuhkan
anggaran (dana) seperti dalam table di bawah ini :
ANGGARAN
JUMLAH
NO
KEGIATAN
Volume
Satuan (Rp)
BIAYA (Rp)
1

Persiapan, Diskusidan
penyusunan desain penelitian
(Proposal)

Presentasi Proposal

Sub Total
Kegiatan observasi awal,
2 hari, 2 Org

2 hari, 2 Org

@ 250.000

1.000.000

100.000

1.000.000
100.000

@ 350.000

100.000
1.400.000

@ 250.000

1.400.000
2.000.000

Sub Total
FC Materi, 1
Paket

penyampaian surat ijin dan


penggalian data

Sub Total
4

Penggalian Data; I, II, III, IV


(4 X)

Deskripsi data

6
7

4 X, 2 Org

Sub Total
3 hari, 2 Org
Sub Total
Analisis Temuan Penelitian
5 hari, 2 Org
Sub Total
Workshop Rencana Tindak
1 hari, 20 org

@ 250.000
@ 350.000
@ 50.000

2.000.000
1.500.000
1.500.000
3.500.000
3.500.000
1.000.000

Lanjut (RTL)

Sub Total
8

Honorarium :
a. Ketua
b. Anggota
Penyususnan Laporan

1.000.000

6 bulan
6 bulan

400.000
350.000

Sub Total
1 paket
Sub Total

500.000

TOTAL JUMLAH
Terbilang : Lima Belas Juta Rupiah

11

2.400.000
2.100.000
4.500.000
500.000
500.000
15.000.000

DAFTAR PUSTAKA
Andriana, Deni. 2000. Budaya Lokal definisi dan Ruang Lingkupnya; Cultural Studies Center
Cross Culture Communication. Bandung: Kalam Hidup.
Hartono, Bambang R. 1973. Getting Started Right First Lesson in Bahasa Indonesia.IMLAC.
Krashen, Stephen, 1989. Principle and practice in second Language Acquisition. New York:
Pergamon Press.
Koentjaraningrat, 2000.Masalah Kesubangsaan dan Integrasi Nasional. Jakarta : UIP.
Nunan, David. 1991. Laguage Teaching Methodology a Teks book for Teacher. Prentice Hall
Internatioanal (UK) Ltd.

12

Nunan, David. 1999. Secound Language Teaching and Learning. Boston: Hein dar Hein
Publisher.
Pusat Bahasa.2007. Menggalang Citra Indonesia melalui BIPA; Kumpulan makalah Seminar
dan lokakarya internasional Pengajaran BIPA. Jakarta: Departemen Pendidikan
Nasional.
Stern.H.H. 1983.Fundamental Consept of Language Teaching.Oxford University Press.
Widodo, Hs. 2001.Pembelajaran Bahasa Indonesia bagi Pembelajar Asing Model Tutorial.
Makalah CIS BIPA Universitas Negeri Malang.Agustus 2001.
Woyowasito. S. 1976. Perkembangan Ilmu Bahasa (Linguistik) abad 20. Bandung: Shinta
Dharma.

13