Anda di halaman 1dari 32

Asuhan Keperawatan Maternitas pada Klien dengan Ketuban Pecah Dini

Ini lagi cuy salah satu postingan ane, moga bisa dimanfaatkan dengan baik khususnya bagi
mahasiswa keperawatan karena ane tahu betapa susahnya ngerjain tugas :D jangan lupa muat
link blog ane di daftar pustaka tugas ente :v

ASUHAN KEPERAWATAN MATERNITAS PADA KLIEN KETUBAN


PECAH DINI

Oleh
Kelompok VI
Afrida Harmawati
Andi Fahrul Tamsir
Dony Hartako
Elva Yurida
M. Fahrin Nizami
M. NoorHadi
M. Rizani
Nurul Aisyah
Prima Mahartanto

Makalah ini disusun dalam rangka memenuhi tugasKeperawatan


Maternitas
Dosen Pembimbing Ns. Agustine Ramie, S.Kep,M.Kep.

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN BANJARMASIN
JURUSAN KEPERAWATAN
BANJARBARU

2014

KATA PENGANTAR
Segala

puji

bagi

Allah

SWT

yang

telah

menolong

hamba-Nya

menyelesaikan makalahini dengan penuh kemudahan. Tanpa pertolongan Allah SWT


mungkin penyusun tidak akan sanggup menyelesaikannya dengan baik.
Makalah ini disusun agar pembaca dapat mengetahui proses pemecahan dan
pengayakan yang kami sajikan berdasarkan pengamatan dari berbagai sumber. Makalah ini
di susun oleh penyusun dengan berbagai rintangan. Baik itu yang datang dari diri penyusun
maupun yang datang dari luar. Namun dengan penuh kesabaran dan terutama pertolongan
dari Tuhan akhirnya makalah ini dapat terselesaikan.
Makalah ini

memuat

tentang

Asuhan

Keperawatan

Pada

Ibu

Hamil

Normal . Penyusun juga mengucapkan terima kasih kepada dosen pembimbing yang telah
banyak membantu penyusun agar dapat menyelesaikan makalah ini.
Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas kepada pembaca.
Walaupun makalah ini memiliki kelebihan dan kekurangan. Penyusun mohon untuk saran
dan kritiknya.

Banjarbaru, Maret 2014

Penulis

BAB I
PENDAHULUAN
A.

Latar Belakang
Pada sistem reproduksi terdapat masalah-masalah kesehatan yang dapat menjadi
penyulit dalam persalinan, antara lain adalah kelainan letak kehamilan, kehamilan ganda,
hiperemesis gravidarum dan termasuk ketuban pecah dini. Salah satu dari masalah reproduksi
yang dapat berpengaruh terhadap kehamilan dan persalinan adalah ketuban pecah dini (KPD).
Yang sampai saat ini masih banyak ditemukan dikalangan masyarakat yang mana kejadian
tersebut mendekati 10% dari semua persalinan.
Menurut World Health Organization (WHO) pada tahun 2010, memperkirakan angka
kematian Ibu lebih dari 300-400/100.000 kelahiran hidup, yang disebabkan oleh perdarahan
28%, ketuban pecah dini 20%, eklampsia 12%, abortus 13%, partus lama 18%, dan penyebab
lainnya 2%. Angka kematian Ibu di Indonesia masih yang tertinggi di ASEAN, yaitu
230/100.000 kelahiran hidup. Sedangkan Negara-negara lain seperti Vietnam 130/100.000
kelahiran hidup, Filipina 200/100.000 kelahiran hidup, Malaysia 41/100.000 kelahiran hidup,
Singapura 15/100.000 kelahiran hidup.
Ketuban pecah dini adalah pecahnya ketuban sebelum terdapat tanda-tanda persalinan
dan ditunggu satu jam sebelum dimulainya tanda persalinan. Ketuban pecah dini merupakan
penyebab terbesar persalinan premature dengan berbagai akibatnya.
Insidensi ketuban pecah dini terjadi 10% pada semua kehamilan. Pada kehamilan
aterm insidensinya bervariasi 6-19%, sedangkan pada kehamilan preterm insidensinya 2%
dari semua kehamilan. Hampir semua ketuban pecah dini pada kehamilan preterm akan lahir
sebelum aterm atau persalinan akan terjadi dalam satu minggu setelah selaput ketuban pecah.
70% kasus ketuban pecah dini terjadi pada kehamilan cukup bulan, sekitar 85% morbiditas
dan mortalitas perinatal disebabkan oleh prematuritas, ketuban pecah dini berhubungan
dengan penyebab kejadian prematuritas dengan insidensi 30-40%.

B.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Rumusan masalah
Apa pengertian dari Ketuban pecah dini?
Bagaimana etiologi dari Ketuban Pecah Dini?
Bagaimana patofisiologi dari ketubuan pecah dini?
Apa saja manifestasi dari ketuban pecah dini?
Apa saja komplikasi dari ketuban pecah dini?
Bagaimana penatalaksanaan dari ketuban pecah dini?
Bagaimanan konsep keperawatan dari ketuban pecah dini yang meliputi intervensi,

8.
C.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

implementasi, dan evaluasi?


Apa saja diaognosa yang muncul pada ketuban pecah dini
Tujuan penulisan
Agar mahasiswa dapat mengetahui dan memahamipengertian dari Ketuban pecah dini.
Agar mahasiswa dapat mengetahui dan memahami etiologi dari Ketuban Pecah Dini
Agar mahasiswa dapat mengetahui dan memahami patofisiologi dari ketubuan pecah dini
Agar mahasiswa dapat mengetahui dan memahami manifestasi dari ketuban pecah dini
Agar mahasiswa dapat mengetahui dan memahami komplikasi dari ketuban pecah dini
Agar mahasiswa dapat mengetahui dan memahami penatalaksanaan dari ketuban pecah dini
Agar mahasiswa dapat mengetahui dan memahamikonsep keperawatan dari ketuban pecah

8.

dini yang meliputi intervensi, implementasi, dan evaluasi


Agar mahasiswa dapat mengetahui dan memahamidiaognosa yang muncul pada ketuban
pecah dini

BAB II
PEMBAHASAN
1.

KONSEP DASAR PENYAKIT

A. Pengertian
Ketuban Pecah Dini (KPD) adalah pecahnya / rupturnya selaput amnion sebelum
dimulainya persalinan yang sebenarnya atau pecahnya selaput amnion sebelum usia
kehamilan mencapai 37 minggu dengan atau tanpa kontraksi (Hossam, 1992).
Ketuban pecah dini atau premature ruptur of membran (PROM) adalah pecahnya
ketuban sebelum inpartu yaitu bila pembukaaan pada primipara kurang dari 3 cm dan pada
multipara kurang dari 5 cm ( R.Muchtar, Sinopsis obstetric).
Ketuban pecah dini ditandai dengan keluarnya cairan berupa air-air dari vagina
setelah usia kehamilan 22 minggu. Pecahnya selaput amnion dapat terjadi pada kehamilan
preterm atauptun kehamilan aterm.
Jarak waktu antara, terjadinya ruptur dengan dimulai nya proses persalinan tersebut
sebagai masa laten. Disebut juga ketuban pecah dini.bila masa laten lebih dari 1 jam.
Pengertian KPD menurut WHO yaitu Rupture of the membranes before the onsetof
labour.

Hacker

(2001)

mendefinisikan

KPD

sebagai

amnioreksis

sebelum

permulaan persalinan pada setiap tahap kehamilan.


Arti klinis Ketuban Pecah Dini adalah :
1.

Bila bagian terendah janin masih belum masuk pintu atas panggul maka kemungkinan

2.

terjadinya prolapsus tali pusat atau kompresi tali pusat menjadi besar.
Peristiwa KPD yang terjadi pada primigravida hamil aterm dengan bagian terendah yang
masih belum masuk pintu atas panggul seringkali merupakan tanda adanya gangguan

3.

keseimbangan feto pelvik.


KPD seringkali diikuti dengan adanya tanda-tanda persalinan sehingga dapat memicu

4.

terjadif frfr vrr vf vffv v vf vf vnya persalinan preterm dengan segala akibatnya.
Peristiwa KPD yang berlangsung lebih dari 24 jam (prolonged rupture of membrane)

5.

seringkali disertai dengan infeksi intrauterine dengan segala akibatnya.


Peristiwa KPD dapat menyebabkan oligohidramnion dan dalam jangka panjangkejadian ini
akan dapat menyebabkan hilangnya fungsi amnion bagi pertumbuhan dan perkembangan
janin.

B. Etiologi

Penyebab pasti dari KPD ini belum jelas. Akan tetapi, ada beberapa faktor yang berhubungan
dengan terjadinya KPD ini, diantaranya adalah sebagai berikut.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Trauma: amniosintesis, pemeriksaan pelvis, dan hubungan seksual.


Peningkatan tekanan intrauterus, kehamilan kembar, atau polihidroamnion.
Infeksi vagina, seviks atau karioamnionitis streptokokus, serta bakteri vagina.
Selaput amnion yang mempunyai struktur yang lemah / selaput terlalu tipis.
Keadaan abnormal dari fetus seperti malpresentasi
Kelainan pada serviks atau alat genitalia seperti ukuran serviks yang pendek (< 25 cm)
Multipara dan peningkatan usia ibu
Defisiensi nutrisi.
Faktor lain penyebabnya adalah :

1. Faktor golongan darah


Akibat golongan darah ibu dan anak yang tidak sesuai dapat menimbulkan kelemahan
bawaan termasuk kelemahan jarinngan kulit ketuban.
2. Faktor disproporsi antar kepala janin dan panggul ibu.
3. Faktor multi graviditas, merokok dan perdarahan antepartum.
4. Defisiesnsi gizi dari tembaga atau asam askorbat (Miranie , Hanifah, dan Desy Kurniawati.
2009).
C. Patofisiologi
Infeksi dan inflamasi dapat menyebabkan ketuban pecah dini dengan menginduksi
kontraksi uterus dan atau kelemahan fokal kulit ketuban. Banyak mikroorganisme servik
ovaginal, menghasilkan fosfolipid A2 dan fosfolipid C yang dapat meningkatkan konsentrasi
secara lokal asam arakidonat, dan lebih lanjut menyebabkan pelepasan PGE2 dan PGF2 alfa
dan selanjutnya menyebabkan kontraksi miometrium. Pada infeksi juga dihasilkan produk
sekresi akibat aktivasi monosit/ makrofag, yaitu sitokin, interleukin 1,faktor nekrosis tumor
dan interleukin 6. Platelet activating factor yang diproduksi oleh paru-paru janin dan ginjal
janin yang ditemukan dalam cairan amnion, secara sinergis juga mengaktifasi pembentukan
sitokin. Endotoksin yang masuk ke dalam cairan amnion juga akan merangsang sel-sel
desidua untuk memproduksi sitokin dan kemudian prostaglandin yang menyebabkan
dimulainya persalinan.
Adanya kelemahan lokal atau perubahan kulit ketuban adalah mekanisme lain
terjadinya ketuban pecah dini akibat infeksi dan inflamasi. Enzim bacterial dan atau produk
host yang disekresikan sebagai respon untuk infeksi dapat menyebabkan kelemahan dan
ruptur kulit ketuban. Banyak flora servikovaginal komensal dan patogenik mempunyai
kemampuan memproduksi protease dan kolagenase yang menurunkan kekuatan tegangan

kulit ketuban. Elastase leukosit polimorfonuklear secara spesifik dapat memecah kolagentipe
III pada manusia, membuktikan bahwa infiltrasi leukosit pada kulit ketuban yang terjadi
karena kolonisasi bakteri atau infeksi dapat menyebabkan pengurangan kolagen tipe III dan
menyebabkan ketuban pecah dini.
Enzim hidrolitiklain, termasuk katepsin B, katepsin N, dan kolagenase yang
dihasilkan netrofil dan makrofag, nampaknya melemahkan kulit ketuban. Sel inflamasi
manusia

juga

menguraikan

aktifator

plasminogen

yang

mengubah

plasminogen

menjadi plasmin, potensial menjadi penyebab ketuban pecah dini.


D. Pathway
E. Pemeriksaan Diagnostik
a.
b.
c.
d.
e.

Hitung darah lengkap untuk menentukan adanya anemia, infeksi


Golongan darah dan faktor Rh
Rasio lesitin terhadap spingomielin (rasio US): menetukan maturitas janin
Tes ferning dan kertas nitrazine: memastikan pecah ketuban
Ultrasonografi: menentukan usia gestasi, ukuran janin, gerakan jantung janin, dan lokasi

plasenta
f. Pelvimetri : identifikasi posisi janin
F. Manifestasi Klinis
Ibu hamil biasanya datang dengan keluhan utama keluarnya cairan amnion / ketuban
melewati vagina. Selanjutnya jika masa laten panjang, dapat terjadi korioamnionitis. Untuk
mengetahui bahwa telah terjadi infeksi ini adalah mula-mula dengan takikardi pada janin.
Takikardi pada ibu muncul kemudian, ketika ibu mulai demam. Jika ibu demam, maka
diagnosis karioamnionitis dapat ditegakkan, dan diperkuat dengan terlihat adanya pus dan
bau pada sekret.
Tanda dan gejela menurut Dr. Taufan dapat berupa:
1. Keluarnya cairan ketuban merembes melalui vagina.
2. Aroma air ketuban berbau manis dan tidak seperti bau amoniak, mungkin cairan tersebut
masih merembes atau menetes, dengan ciri pucat dan bergaris warna darah.
3. Cairan ini tidak akan berhenti atu kering karena terus diproduksi sampai kelahiran. Tetapi
bila anda duduk atau berdiri, kepala janin yang sudah terletak dibawa biasanya mengganjal
atau menyumbat kebocoran untuk sementara.
4. Demam, bercak vagina yang banyak, nyeri perut, denyut jantung janin beramba cepat
merupakan tanda-tanda infeksi yang terjadi.(Nugroho, Dr. Taufan. 2010)
Tanda dan gejela Menurut Arif Mansjoer, dkk berupa:

1. Keluar air ketuban warna putih keruh ,jernih ,kuning , hijau atau kecoklatan sedikit-sedikit
2.
3.
4.
5.

atau sekaligus banyak.


Dapat disertai demam bila sudah ada infeksi.
Janin mudah diraba.
Pada periksa dalam selaput ketuban tidak ada , air ketuban sudah kering.
Inspekulo: tampak air ketuban mengalir atau selaput ketuban tidak ada dan air ketuban sudah
kering. (Mansjoer, Arif, dkk.2002)

H.
1.
2.
3.

Komplikasi
Infeksi intra partum (korioamnionitis) ascendens dari vagina ke intrauterin.
Persalinan preterm, jika terjadi pada usia kehamilan preterm.
Prolaps tali pusat, bisa sampai gawat janin dan kematian janin akibat hipoksia (sering terjadi

pada presentasi bokong atau letak lintang).


4. Oligohidramnion, bahkan sering partus kering (dry labor) karena air ketuban habis.
I.

Manajemen Terapeutik
Manajemen terapeutik bergatung pada usia kehamilan serta apakah ada tanda infeksi
atau tidak. Langkah pertama yang harus dilakukan adalah menentukan apakah selaput amnion
benar-benar ruptur. Inkontinensia urine dan peningkatan pengeluaran vagina merupakan
tanda-tanda untuk mencurigai terjadinya rupture/pecahnya selaput amnion.
Untuk membuktikannya, dengan cara menggunakan spekulum steril guna melihat
kumpulan cairan amnioan disekitar serviks, atau dapat juga melihat langsung cairan amnion
yang keluar melalui vagina.
Analisis dengan kertas nitiozine akan menandakan keadaan alkali dari cairan amnion.
Sekresi vagina pada wanita hamil memiliki nilai pH antara 7,0-7,2. Jika kertas tidak
menunjukan perubahan warna, berarti hasil tes negaatif yang mengindikasikan selaput
membrane tidak ruptur. Jika hasil tes positif, maka terjadi perubahan warna kertas. Hal ini
mungkin saja menandakan terjadinya keracunan karena urine, darah, dan pemberian anti
septic yang menyebabkan sekresi serviks menjadi alkali, sehingga mempunyai pH yang
hamper sama dengan pH cairan amnion.
Dapat juga dengan menggunakan tes Ferning. Tes ferning digunakan dengan
meletakan sedikit cairan amnion di atas gelas kaca, kemudian tambahkan sedikit sodium
klorida dan protein. Hasilnya akan berbentuk seperti tanaman pakis. Hasil tes akan menjadi
negatif pada kebocoran yang telah terjadi beberapa hari.
Bisa juga digunakan tes kombinasi, yaitu pemeriksaan speculum, tes dengan kertas
nitrazin, atau tes ferning, sehingga diagnosis menjadi lebih akurat.

Pada kehamilan preterm, serviks biasanya tidak baik untuk induksi. Factor seperti usia
kehamilan, jumlah cairan amnion yang tersisa kematangan paru-paru janin, harus menjadi
bahan pertimbangan. Selain itu, perlu juga diperhatikan adanya infeksi pada ibu dan janin.
Saat usia kehamilan antara 32-35 minggu perlu dlakukan tes kematangan paru janin
dan cairan yang ada di vagina. Tes tersebut antaranya adalah tes-tes yang mengukur
perbandingan surfaktan dengan albumin. Tes dengan menggunakan Phosphatidyl glycerol,
atau tes yang menghitung perbandingan lesitin dengan spingomielin. Aminiosintesis dan
kultur kuman sering dilakukan jika terdapat tanda infeksi. Tes ini berguna untuk menghindari
terjadinya Respiratory Distress Syndrom (RDS) pada bayi jika bayi dilahirkan. Liggins dan
Howie (1972) menunjukan bahwa

pemberian glukokortikoid (betametason) akan

mempercepat pematangan paru-paru fetus dan akan menurunkan insiden terjadinya RDS.
Namun, karena terjadi peningkatan insidensi kelainan neurologis dan potensi untuk
meningkatkan insidensi infeksi pada bayi baru lahir yang diberi kortikosteroid, maka
pemberian kortikosteroid belum dapat disarankan.
Bila janin viable (kurang dari 36 minggu) dan ingin mempertahankan kehamilannya,
ibu diminta untuk istirahat di tempat tidur (bedrest). Berikan obat-obatan seperti: antibiotic
profilaksis yang dapat mencegah infeksi juga spasmolitik untuk mengundurkan waktu sampai
anak variable. Tes kematangan paru-paru janin perlu dilakukan secara periodic, observasi
adanya infeksi dan mulainya persalinan, kemudian persalinan dapat dilakukan setelah paru
janin matang.
Bila janin telah viable (lebih dari 36 minggu) dan serviks sudah matang, lakukan
induksi persalinan dengan oksitosin 2-6 jam setelah periode laten, dan diberikan antibiotic
profilaksis. Jika serviks belum matang, matangkan serviks dengan prostaglandin dan infuse
oksitosin. Pada kasus-kasus tertentu bila induksi partus gagal, maka dilakukan tindakan
operatif.
Resiko infeksi pada KPD tinggi sekali, ini biasanya disebabkan oleh organisme yang
ada di vagina, seperti E. Colli, Streptococcus fastafis, Streptococcus hemoliticus, proteus,
klebsietta, pseudomonas dan stafilococcus. Namun beruntunglah insiden infeksi ini masih
rendah. Hal ini Karena walaupun resikoinfeksi selama pemeriksaan dan persalinan sangat
tinggi, namun cairan amnion memiliki fungsi bakteriostatik.
Jika terdapat korioamnitis, diberi antibiotic dan akan lebih baik jiika diberikan melalui
intravena. Antibiotic yang paling efektif yaitu: gentamicin, cephalosporine, dan ampiciline.
Penatalaksanaan pasien dengan indikasi ketuban pecah dini menurut Hamilton
(2009:391), Hidayat, Asri (2009:17) dan Nugroho (2011:7) antara lain :

1. Pencegahan
a.

Obati infeksi gonokokus, klamidia, dan vaginosis bakterial.

b. Diskusikan pengaruh merokok selama kehamilan dan dukung usaha untuk mengurangi atau
berhenti.
c.

Motivasi untuk menambah berat badan yang cukup selama hamil.

d.

Anjurkan pasangan agar menghentikan koitus pada trimester terakhir bila ada faktor
presdisposisi.

2.

Panduan mengantisipasi : jelaskan kepada pasien yang memiliki riwayat berikut ini saat
prenatal bahwa mereka harus segera melapor bila ketuban pecah.

a.

Kondisi yang menyebabkan ketuban pecah dapat mengakibatkan prolaps tali pusat:

Letak kepala selain vertex

Polihidramnion

b. Herpes aktif
c.

Riwayat infeksi streptokus beta hemolitikus sebelumnya

3. Bila ketuban telah pecah


a.

Anjurkan pasien untuk pergi ke rumah sakit atau klinik

b. Catat terjadinya ketuban pecah


1) Lakukan pengkajian secara seksama. Upayakan mengetahui waktu terjadinya pecah ketuban.
2) Bila robekan ketuban tampak kasar :

Saat pasien berbaring telentang, tekan fundus untuk melihat adanya semburan cairan dari
vagina

Basahi

kapas

apusan

dengan

cairan

dan

lakukan

pulasan

pada slide

untuk

mengkaji ferning di bawah mikroskop

Sebagian cairan diusap ke kertas Nitrazene. Bila positif, pertimbangkan uji diagnostik bila
pasien sebelumnya tidak melakukan hubungan seksual, tidak ada perdarahan, dan tidak
dilakukan pemeriksaan per vagina menggunakan jeli K-Y

3)

Bila pecah ketuban dan/atau tanda kemungkinan infeksi tidak jelas, lakukan pemeriksaan
spekulum steril.

Kaji nilai Bishop serviks ( lihat nilai bishop )

Lakukan kultur serviks hanya bila ada tanda infeksi

Dapatkan spesimen cairan lain dengan lidi kapas steril yang dipulaskan pada slide untuk
mengkaji ferning di bawah mikroskop.

4) Bila usia tingkat gestasi kurang dari 37 minggu atau pasien terjangkit herpes Tipe 2, rujuk
ke dokter.
4. Penatalaksanaan konservatif
a.

Kebanyakan persalinan dimulai dalam 24 72 jam setelah ketuban pecah.

b.

Kemungkinan infeksi berkurang bila tidak ada alat yang dimasukan ke vagina, kecuali
spekulum steril; jangan melakukan pemeriksaan vagina.

c.

Saat menunggu, tetap pantau pasien dengan ketat.

1)

Ukur suhu tubuh empat kali sehari ; bila suhu meningkat secara signifikan, dan/atau
mencapai 38 C, berikan 2 macam antibiotik dan pelahiran harus diselesaikan.

2)

Observasi rabas vagina : bau menyengat, purulen atau tampak kekuningan menunjukkan
adanya infeksi.

3) Catat bila ada nyeri tekan dan iritabilitas uterus serta laporkan perubahan apapun.
5. Penatalaksanaan agresif
a.

Jel prostaglandin atau Misoprostol (meskipun tidak disetujui penggunaannya) dapat


diberikan setelah konsultasi dengan dokter

b. Mungkin dibutuhkan rangkaian induksi Pitocin bila serviks tidak berespon


c.

Beberapa ahli menunggu 12 jam untuk terjadinya persalinan. Bila tidak ada tanda, mulai
pemberian Pitocin

d. Berikan cairan per IV, pantau janin


e.

Peningkatan risiko seksio sesaria bila induksi tidak efektif

f.

Bila pengambilan keputusan bergantung pada kelayakan serviks untuk diinduksi, kaji nilai
Bishop setelah pemeriksaan spekulum. Bila diputuskan untuk menunggu persalinan, tidak ada
lagi pemeriksaan yang dilakukan, baik manipulasi dengan tangan maupun spekulum, sampai
persalinan dimulai dan induksi dimulai

g. Periksaan hitung darah lengkap bila ketuban pecah. Ulangi pemeriksaan pada hari berikutnya
sampai pelahiran atau lebih sering bila ada tanda infeksi
h. Lakukan NST (nonstress test) setelah ketuban pecah ; waspada adanya takikardia janin yang
merupakan salah satu tanda infeksi
i.

Mulai induksi setelah konsultasi dengan dokter bila :

Suhu tubuh ibu meningkat signifikan

Terjadi takikardi janin

Lochea tampak keruh

Iritabilitas atau nyeri tekan uterus yang signifikan

Kultur vagina menunjukan streptokus beta hemolitikus

Hitung darah lengkap menunjukkan kenaikan sel darah putih

6. Penatalaksanaan persalinan lebih dari 24 jam setelah ketuban pecah


a.

Persalinan spontan

1) Ukur suhu tubuh pasien setiap 2 jam, berikan antibiotik bila ada demam
2) Anjurkan pemantauan janin internal
3) Beritahu dokter spesialis obstetri dan spesial anak atau praktisi perawat neonatus
4) Lakukan kultur sesuai panduan
b. Induksi persalinan
1) Lakukan secara rutin setelah konsultasi dengan dokter
2) Ukur suhu tubuh setiap 2 jam
3) Antibiotik : pemberian antibiotik memiliki beragam panduan, banyak yang memberikan 1
2 g ampisilin per IV atau 1 2 g mefoxin per IV setiap 6 jam sebagai profilaksis.
Adapun setelah dilakukan persalinan perlunya dilakukan asuhan keperawatan pada bayi baru
lahir dengan tujuan umum:
1. Mempertahankan Pernapasan
Segera setelah bayi lahir, bayi diletakkan dengan kepala lebih rendah dari pada badan agar
supaya lendir keluar dari mulut dan mencegah lendir dan kadang kadang darah dan
mekonium masuk kesaluran pernafasan.
2. Pengisapan lendir harus dilakukan dengan cepat dan lembut
Bayi normal dalam beberapa detik sampai satu menit dengan membersihkan mulut dan
hidung dari lendir akan segera timbul pernafasan spontan
3. Mencegah Infeksi
Usaha yang paling efektif untuk mencegah infeksi pada bayi baru lahir ialah mencuci tangan
sebelum memegang bayi dan perlengkapan yang digunakan untuk merawat bayi, mengisolasi
bayi yang sakit dan memakai pakaian yang bersih.
4. Memperhatikan suhu tubuh
Suhu lingkungan mempengaruhi kehidupan dan kesehatan bayi baru lahir, karena bila suhu
lingkungan tidak ada; metabolisme dan konsumsi oksigen bayi akan meningkat. Segera
setelah bayi lahir harus dikeringkan dan ditempatkan ditempat yang hangat. Setelah suhu
tubuh bayi stabil biasanya 1-2 jam sesudah lahir, bayi dibersihkan atau dimandikan.
5. Mengenal tanda-tanda sakit
Kondisi bayi dapat berubah dengan cepat karena itu perlu diawasi dengan kontinyu. Beberapa
tanda-tanda kelainan yang harts diperhatikan misalnya kulit, kening pada ban pertama
kesukaran pernapasan, kenaikan atau penurunan suhu tubuh, biru atau pucat, penyakit

kembung, problem makan, muntah, kejang-kejang, tidak Bab selama 12 jam dan Bak dalam
12 jam pertama kehidupan dan penurunan badan-badan bayi yang banyak.
2.
A.
1.
2.
a.

KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN


Pengkajian
Identitas ibu
Riwayat penyakit
Riwayat kesehatan sekarang: ibu datang dengan pecahnya ketuban sebelum usia kehamilan

mencapai 37 minggu dengan atau tanpa komplikasi


b. Riwayat kesehatan dahulu
Adanya trauma sebelumnya akibat efek pemeriksaan amnion
Sintesis, pemeriksaan pelvis dan hubungan seksusal
Kehamilan ganda, polihidramnion
Infeksi vagina/serviks oleh kuman streptikokus
Selaput amnion yang lemah/tipis
Posisi fetus tidak normal
Kelainan pada otot serviks atau genital seperti panjang serviks yang pendek
Multiparitas dan peningkatan usia ibu serta defisiensi nutrisi
c. Riwayat kesehatan keluarga: ada tidaknya keluhan ibu yang lain yang pernah hamil kembar
atau turunan kembar
3. Pemeriksaan fisik
a. Kepala dan leher
Mata perlu diperiksa di bagian sclera, konjugtiva
Hidung: ada/tidaknya pembengkakan konka nasalis. Ad/tidaknya hipersekresi mukosa Mulut
gigi karies/tidak, mukosa mulut kering, dan warna mukosa gigi
Leher berupa pemeriksaan JVP, KGB, dan tiroid
b. Dada
Toraks
Inspeksi kesimetrisan dada, jenis pernapasan torakoabdominal, dan tidak ada retraksi dinding
dada. Frekuensi pernapasan normal 26-24 kali/menit. Ictus kordis terlihat /tidak.
Palpasi: payudara tidak ada pembengkakan.
Auskultasi : terdengar BJ1 dan II di IC kiri/kanan. Bunyi napas normal vesikuler.
Abdomen
Inspeksi: ada/tidak ada bekas operasi, striae, dan linea.
Palpasi : TFU, kontraksi ada /tidak, posisi, kandung kemih penuh/tidak
Auskultasi : DJJ ada /tidak
c. Genitalia

Inspeksi : kebersihan, ada/tidaknya tanda-tanda REEDA (Red, Edema, Discharge,


Approximately); pengeluaran air ketuban(jumlah,warna, bau); dan lendir merah muda

kecoklatan.
Palpasi: pembukaan serviks (0-4)
Ekstremitas :edema, varises ada/tidak

B. Diagnosa Keperawatan
1. Risiko tinggi infeksi maternal yang berhubungan dengan prosedur invasif, pemeriksaan,
vagina berulang dan ruptur membran amniotik
2. Kerusakan pertukaran gas pada janin yang berhubungan dengan adanya penyakit
3. Risiko tinggi cedera pada janin yang berhubungan dengan melahirkan bayi prematur/tidak
matur
4. Ansietas yang berhubungan dengan krisis situasi, ancaman pada diri sendiri /janin
5. Risiko tinggi penyebaran infeksi/sepsis yang berhubungan dengan adanya infeksi, prosedur
invasif, dan peningkatan pemahaman lingkungan.
6.

Resiko tinggi keracunan karena toksik yang berhubungan dengan dosis/ efek samping
tokolitik.

7.

Resiko tinggi cedera pada ibu yang berhubungan dengan intervensi pembedahan,
penggunaan obat tokolitik

8. Intoleransi aktivitas yang berhubungan dengan hipersensitivitas otot


9.

Resiko tinggi kekurangan volume cairan yang berhubungan dengan penurunan masukan
cairan.

C. Intervensi Keperawatan
1. Diagnosa 1: resiko tinggi infeksi maternal yang berhunungan dengan prosedur invasif,
pemeriksaan vagina berulang, atau ruptur membran amniotik.
Tujuan: infeksi maternal tidak terjadi
Kriteria hasil : dalam waktu 3x24 jam ibu bebas dari tanda-tanda infeksi ( tidak demam,
cairan amnion jernih, hampir tidak berwarna, dan tidak berbau).
Intervensi
Mandiri
a. Lakukan

b.

c.

Rasional
pemeriksaan a.

Pengulanagn

pemeriksaan

vagina awal, ulangi bila

vagina

berperan

dalam

pola kontraksi atau perilaku

insiden

infeksi

saluran

ibu menandakan kemajuan.


Gunakan teknik aseptik b.

asendens.
Mencegah

selama pemeriksaan vagina

bakteri dan kontaminasi pada

Anjurkan

vagina
Menurunkan resiko infeksi

perawatan c.

perineum setelah eliminasi


setiap 4 jam dan sesuai

pertumbuhan

saluran asendens

d.

indikasi
Pantau dan

gambarkan d.

karakter cairan amniotik

Pada infeksi, cairan amnion


menjadi lebih kental dan
kuning pekat serta dapat
terdeteksi adanya bau yang

e.

Pantau

suhu,

nadi, e.

kuat.
Dalam

jam

setelah

ruptur,

insiden

pernapasan, dan sel darah

membran

putih sesuai indikasi

korioamnionitis
secara

progresif

sesuai

waktu

yang

dengan
f.

Tekankan

pentinngnya f.

mencuci tangan yang baik

h.

sesuai

indikasi.

Meski tidak boleh sering


dilakukan, namun evaluasi

Berikan enema pembersih

usus

bula sesuai indikasi

kemajuan

Berikan

menurunkan resiko infeksi


Antibiotik dapat melindungi

profilaktik

i.

ditunjukan melalui TTV


Mengurangi perkembangan
mikroorganisme

dengan benar.
Kolaborasi
g. Berikan cairan oral dan g.
parental

meningkat

antibiotik h.
bila

dapat

meningkatkan
persalinan

dan

perkembangan

diindikasikan

koriamnionitis

Dapatkan kultur darah bila i.

beresiko
Mendeteksi

gejala sepsis ada

mengidentifikasi

pada

ibu
dan

organisme

penyebab terjadinya infeksi.


2. Diagnosi 2 : Gangguan kerusakan pertukaran gas pada janin yang berhubungan dengan proses
penyakit.
Tujuan : pertukaran gas pada janin kembali normal
Kriteria hasil yang diharapkan dalam waktu 1x24 jam :
a. Klien menunjukan DJJ dan variabilitas denyut per denyut dalam batas normal.
b. bebas dari efek-efek merugikan dan hopoksia selama persalinan.
Intervansi

Rasional

Mandiri
a. Pantau

DJJ

setiap

15-30 a.

menit.

Takikardi

atau

bradikardi

janin adalah indikasi dari


kemungkinan
yang

penurunan

mungkin

perlu

Periksa DJJ dengan segera b.

intervensi
Mendeteksi

bila terjadi pecah ketuban dan

karena kolaps alveoli

distres

janin

periksa 5 menit kemudian,


observasi perineum ibu untuk
mendeteksi prolaps tali pusat.
c. Perhatikan dan catat warna c.

Pada

presentasi

verteks,

yang

lama

serta jumlah cairan amnion

hiposia

dan waktu pecahnya

mengakibatkann

cairan

Ketuban

amnion

seperti

berwarna

mekonium karena rangsang


vagal yang merelaksasikan
d

Catat perubahan DJJ selama d.

sfinger anus janin


Mendeteksi

kontraksi. Pantau aktivitas

hipoksia dan kemungkinan

uterus secara manual atau

penyebab

janin

rentan

elektronik.

terhadap

potensi

cedera

Bicara

ibu/pasangan
informasi

pada

beratnya

dan

berikan

selama persalianan karena

tentang

situasi

menurunnya kadar oksigen.

melahirkan e.

Degan penurunan viabilitas

tersebut.
Kolaborasi
e. Siapkan untuk

dengan cara yang paling baik

mungkin

atau dengan intervensi bedah

kelahiran

bila tidak terjadi perbaikan

untuk mencegh cedera janin


dan

memerlukan
seksio

kematian

caesaria
karena

ahipoksia
3. Diagnosa 3 : Ansietas yang berhubungan dengan situasi kritis, ancaman pada diri sendiri/janin
Tujuan : mengurangi kecemasan
Krieria hasil yang diharapakan dalam waktu 1 x 24 jam:

a. menggunakan teknik pernafasan dan relaksasi yang efektif


b. berpartisifasi aktif dalam proses melahirkan
pada panggul yang normal, pada waktu pembukaaan lengkap, janin harus segera dilahirkan.
Pada letak sungsang janin harus dilahirkan dengan ekstraksi kaki. Pada letak lintang
dilakukan versi ekstraksi. Sedangkan pada presentasi belakang kepala dilakukan dengan
tekanan yang cukup pada fundus uteri ketika his, agar kepala janin masuk dalam rongga
panggul dan segera dapat dilahirkan, bila perlu tindakan ini dapat dibantu dengan melakukan
ekstrasi cunam.
Pada keadaan dimana janin sudah meninggal, tidak ada alasan untuk menyelesaikan
persalinan dengan segera. Persalinan diawasi, sehingga berlangsung spontan dan tindakan
hanya dilakukan jika diperlukan demi kepentingan ibu. Ibu ditidurkan dengan posisi
Trendelenburg dengan harapan bahwa ketuban tidak pecah terlalu dini dan tali pusat masuk
kembali ke dalam cavum uterus. Selama menunggu, denyut jantung janin diawasi dengan
seksama, sedangkan kemajuan persalinan hendaknya selalu dinilai dengan pemeriksaan
dalam untuk menentukan tindakan yang perlu dilakukan selanjutnya.
D. Implementasi Keperawatan
Implementasi merupakan tindakan yang sesuai dengan yang telah direncanakan, mencakup
tindakan mandiri dan kolaborasi.
Tindakan mandiri adalah tindakan keperawatan berdasarkan analisis dan kesimpulan perawat
dan bukan atas petunjuk tenaga kesehatan lain.
Tindakan kolaborasi adalah tindakan keperawatan yang didasarkan oleh hasil
keputusan bersama dengan dokter atau petugas kesehatan lain.
E. Evaluasi Keperawatan
Merupakan hasil perkembangan ibu dengan berpedoman kepada hasil dan tujuan yang
hendak dicapai.

Contoh kasus:
ASUHAN KEPERAWATAN PADA Ny. I
DENGAN KETUBAN PECAH DINI
DI RUANG KENARI RSUD Dr. ACHMAD MUCHTAR BUKIT TINGGI

PENGKAJIAN
I.

BIODATA
Identitas klien
Nama
: Ny.I
Umur
: 25 tahun
Jenis kelamin
: Perempuan
Agama
: Islam
Suku / Bangsa
: Manado / Indonesia
Pendidikan
: SMA
Pekerjaan
: Ibu rumah tangga
Ruang Rawat
: Ruang Kenari/III
No.MR
: 249226
Status Perkawinan
: Sudah menikah
Tanggal masuk RS
: 23 maret 2014
Tanggal Pengkajian
: 24 maret 2014
Diagnosa Keperawatan
: Ketuban Pecah Dini (KTB)
Alamat
: situmbuak / Tilatang kamang RT. 6 NO. 111 Bukit Tinggi.
Penanggung jawab
Nama
Umur
Jenis Kelamin
Pendidikan
Pekerjaan
Suku / Bangsa
Agama
Alamat
Hub. Dg keluarga

II.

: Tn.H
: 35 tahun
: Pria
: S1
: PNS
: Sunda / Indonesia
: Islam
: situmbuak / Tilatang kamang RT. 6 NO. 111 Bukit Tinggi.
: suami

RIWAYAT PENYAKIT
A. Keluhan Utama
- Keluhan saat MRS:
Keluaran cairan dari vagina berwarna jernih dan tidak berbau
- Keluhan saat pengkajian:
Klien masuk dengan keluhan lemah, perut terasa sakit, keluar cairan dari vagina berwarna
jernih dan tidak berbaui. klien mengatakan usia kehamilan8 bulan ( 32 minggu)
B. Riwayat Penyakit Sekarang

Klien mengatakan keluar cairan ketuban dari pervaginaan sejak malam pada pukul 05.30
WIB tanggal, klien mengatakan cairan ketuban yang keluar pervaginaan berwarna jernih dan
tidak berbauserta merasakan nyeri pada bagian abdomen bawah dengan skala nyeri 6 (dari
skala nyeri 1 10), nyeri muncul tiba-tibasaat duduk/bergerak dengan durasi 3 - 7 detik,
nyeri terasa seperti diremas dan menyebar ke daerah belakang, saat terasa nyeri Ny. Ir terlihat
mengusap - usap perut. Kemudian, oleh keluarga Ny. I dibawa ke bidan tempat biasa periksa,
olehbidan Ny. I dirujuk ke RSUD Dr. Achmad Muchtar Bukit Tinggi dengan alasan untuk
diberi obat penguat janin, namun setibanya di rumah sakit (06.30 WIB) melalui RPP (ruang
penerimaan pasien) keluar air ketuban merembes (KPD), usia kehamilan 8 bulan ( 32
minggu) his 3x/menit lamanya 45 detik. Ny. I mendapat terapi infus RL 20 tpm selama di VK
(ruang bersalin). Saat ini Ny. Ir dirawat di ruang Kenari/III.
C. Riwayat Kesehatan dahulu
Klien mengatakan sebelumnya saat melahirkan anak pertama tidak pernah mengalami hal
seperti ini. Klien juga mengatakan tidak memiliki riwayat penyakit keturunan seperti
hipertensi, DM, atau asma. Klien juga mengatakan tidak memiliki penyakit menular seperti
TBC.
D. Riwayat kesehatan keluarga
Klien menagtakan keluarga klien tidak ada memiliki penyakit keturunan, menular dan
kejiwaan.
E. Riwayat Keperawatan Prenatal
1. GPA : G2P1A0
2. Riwayat penggunaan kontrasepsi
Jenis
: Pil KB
Mulai menggunakan
: klien mengatakan mulai menggunakan pil KB 3tahun.
Terakhir menggunakan
: 3 tahun yang lalu.
Keluhan
: Tidak ada
3. Riwayat Menstruasi
Menarche
: 14 tahun
Siklus
: 28 hari
Keluhan
: desminhorea
Banyak darah
: normal
HPHT
: 21 Agustus 2013
TP
: 28 Mei 2014
4. Riwayat perkawinan
Status perkkawinn
: Kawin
Berapa kali menikah : 1 x
Usia pernikahan
: 8 tahun
Lama pernikahan
:9 tahun
5. Riwayat kehamilan, persalinan, dan nifas yang dulu
Umur kehamilan
:Aterm
Persalinan
:Spontan
Tempat bersalin
: Bidan
Komplikasi persalinan:Tidak ada

6.
a.
1)
2)
3)
4)

Penolong persalinan :Bidan


Jenis kelamin
:Perempuan
Berat badan
: 3500 gram
Panjang badan
:47 cm
Keadaan bayi
:Sehat, tidak cacat, hidup
Komplikasi nifas
: Tidak ada
Perdarahan
: Tidak ada
Menyusui
:Hingga usia anak 2 tahun
Riwayat kehamilan sekarang
Trimester I :
Ibu ANC 1 kali di RS
Ibu mengeluh mual mual dan sudah terlambat haid selama 2 bulan.
Ibu sudah mendapat terapi berupa :
Vitamin B complexs
1 x 1 tablet / hari
Vitamin C
1 x 1 tablet/ hari
Ibu sudah mendapat penyuluhan tentang mual-mual dan terlambat haid. Untuk masalah mual
ibu dianjurkan untuk makan makanan yang kering seperti biscuit serta makan dalam porsi
kecil tapi sering, Menghindari makan-makanan yang berbumbu tajam dan bau-bauan yang
menyengat.
Untuk masalah terlambat haid ibu dinyatakan positif hamil setelah dilakukan pemerikasaan.
a.

Trimester II :

1)
2)
3)

Ibu ANC 2x di RS
Ibu mengeluh pusing dan mual
Ibu sudah mendapat terapi berupa :
Kalk
1 x 1 tablet / hari
Vitamin B6
1 x 1 tablet / hari
Asam Folat
1 x 1 tablet / hari
4) Ibu sudah mendapat penyuluhan tentang pusing dan mual
5) Untuk pusing ibu di anjurkan untuk bangun secara perlahan saat bangun tidur. Untuk mual
ibu dianjurkan untuk makan sedikit tapi sering, hindari makan-makanan yang berminyak
b. Trimester III :
1) Ibu ANC 2 x di RS
2) Ibu mengeluh susah tidur, sering kencing, pegal pada bagian punggung dan pinggang,
kram/kesemutan pada bagian kaki.
3) Ibu sudah mendapat terapi berupa
Kalk
1 x 1 tablet / hari
Vitamin B6
1 x 1 tablet / hari
Asam folat
1 x 1 tablet / hari
4) Usia kehamilan ibu sudah 32 minggu
III.

ASPEK BIOLOGIS
Pemeriksaan Fisik
1. Keadaan Umum
2. Penampilan
: klien tampak lesu
3. Kesadaran
- Kualitas
: komposmentis
- Kuantitas
: E = 4, V = 5, M = 6

GCS = 15

- Fungsi kortikal
: klien dapat mengenal ruangan, tempat, waktu dan orang.
Tanda-tanda vital
- TD = 120/90 mmHg
- P = 84 x / m
- R = 20 x / m
- S = 36C
BB sebelum hamil
: 68 kg
BB sekarang
: 65 kg
TB
: 159 cm
1. Rambut dan kulit kepala
Bentuk simetris, rambut dan kulit kepala klien bersih, tidak ada benjolan, tidak ada keluhan.
2.

Muka
Bentuk simetris, tidak ada edema, tidak sembab, tidak ada cloasma gravidarum.

3.

Mata
Konjungtiva anemis, sclera an-ikterik, fungsi penglihatan klien baik terbukti klien dapat
membaca papan nama yang mengkaji dalam jarak 30 cm.

4. Hidung
Bentuk simetris, keadaan bersih, pernafasan cuping hidung (-), fungsi penciuman baik
terbukti klien dapat mencium aroma kayu putih.
5. Telinga
Simetristidak terdapatserumen, tidak ada peradangan dan nyeri,tidak menggunakanalat bantu
pendengaran,fungsi pendengaran baik.
6. Leher
Tidak ada peningkatan JVP, tidak ada pembesaran KGB dan tidak ada peningkatan tyroid.
7. Dada
Bentuk simetris, bunyi jantung reguler, tidak terdapat bunyi ronchi maupun wheezing, mamae
simetris tidak ada benjolan, puting susu menonjol, sudah ada pengeluaran colostrum.
8. Abdomen
a. Inspeksi
Bentuk perut bundar, posisi menonjol kedepan, lingkar perut cm, tidak ada bekas luka SC.
b. Palpasi
Pada pemeriksaan secara leopold ditemukan:
Leopold I
: Tinggi fundus Uteri antara pusat dengan procesus xypodseus atau 32 cm dari simpisis
Leopold II

pubis sampai procesus xypoideus.


: Pada bagian kiri perut ibu teraba tonjolan-tojolan kecil (bagian terkecil janin) dan pada

Leopold III
Leopold IV

bagian kanan perut ibu teraba bagaian datar dan keras seperti papan. (punggung janin).
: Bagian terbawah janin adalah letak kepala
: Janin belum masuk pintu atas panggul (konvergen) atau hanya sebagian kecil dari kepala

turun kedalam rongga panggul.


9. Genetalia

Flour albus
Perdarahan
Kebersihan
Keluhan

: Keputihan ada, tidak berwarna dan berbau


: Tidak ada
: Terawat
: Tidak ada

10. Ekstremitas atas bawah


Ekstremitas atas pada tangan kiri terpasang infus Dextrose + amp piton gtt: 8 tetes/menit
sedangkan ekstremitas bawah varises oedema tidak ada
IV.

AKTIVITAS SEHARI-HARI
1. Nutrisi
Saat di Rumah:
Klien mengatakan makan dengan jenis nasi, sayuran juga lauk pauk dengan frekuensi tiga
kali sehari dan minum frekuensi 8 gelas = 8000 ml/ hari dengan jenis air putih, air teh, dan
jenis minuman lainnya.
Saat di RS:
Klien mengatakan kurang nafsu makan daripada di rumah, frekuensi makan tiga kali sehari
dengan porsi sedikit ( 3 sendok makan) dengan jenis makanan nasi lembek, sayuran juga
lauk pauk dan frekuensi minum 3 gelas = 750 ml/ hari dengan jenis minuman air putih dan
susu, tetapi klien kurang suka minum susu.
2. Istirahat/tidur
Saat di rumah:
Klien mengatakan tidur siang 1 2 jam dan tidur malam 5 6 jam dengan tidur baik.
Saat di RS:
Klien mengatakan tidur siang 1 jam dan tidur malam 4 5 jam dengan kualitas tidur
kurang efektif, klien mengatakan sulit tidur karena merasa nyeri pada bagian perut.
3. Personal Hygiene
Saat di rumah:
Klien mengatakan mandi dua kali sehari, cuci rambut tiga kali seminggu, gosok gigi dua kali
sehari, dan ganti pakaian 2 sehari. Klien mengatakan saat haid klien selalu mengganti
pembalut 2 sehari.
Saat di RS:
Klien mengatakan belum ada mandi selam di rawat, tetapi klien hanya diseka, gosok gigi ada
dengan bantuan keluarga, ganti pakaiaan sekali sehari dengan bantuan keluarga.
4. Eliminasi
Saat di rumah:
Klien mengatakan BAB sehari satu kali dengan konsentrasi padat, warna kuning khas feces.
BAK sehari 3 kali sehari dengan warna kuning jernih. Sering BAK pada malam hari 1
kali pada saat sebelum tidur.
Saat di RS:

Klien mengatakan BAB sehari satu kali dengan konsentrasi padat, warna kuning khas feces.
BAK sehari 3 kali sehari dengan warna kuning jernih. Sering BAK pada malam hari 1
kali pada saat sebelum tidur
5. Pola aktivitas
Saat di rumah:
Kegiatan dalam pekerjaan selama hamil memasuki trimester ke-III klien istirahat bekerja
hanya tinggal di rumah, membantu memasak dan bersih-bersih rumah, olahraga jalan-jalan
pagi dan ikut senam hamil 0,5 jam 1 jam keluhan dalam aktivitas hanya mengeluh lebih
cepat lelah daripada saat sebelum hamil.
Saat di RS:
Kegiatan klien saat di RS hanya menghabiskan waktu berbaring di tempat tidur, semua
aktivitas dibantu oleh keluarga.
V. ASPEK PSIKOLOGIS
1. Persepsi klien terhadap kehamilan
Klien merasa takut dan khawatir akan kelahirannya tidak lancar dan takut janinnya terjadi
apa-apa.
2. Persepsi keluarga terhadap kehamilan.
Keluarga klien merasa takut dan khawatir akan kelahiran klien terhadap prosedur persalinan
yang akan dilakukan tidak lancar dan takut anaknya klien terjadi apa-apa.
3. Konsep diri
Klien berharap persalinannya lancar dan keadaan bayinya baik-baik saja.
VI.

ASPEK SOSIAL
Hubungan klien dengan lingkungan rumahnya dan rumah sakit baik. Klien kooperatif dengan
petugas kesehatan rumah sakit.

VII.

ASPEK SPIRITUAL
Klien beragama islam. Klien menjalankan ibadah selama berada di rumah sakit, klien juga
selalu berdoa agar proses operasi sesarnya berjalan dengan baik.

VIII. PENGETAHUAN KLIEN DAN KELUARGA TENTANG:


1. Perawatan payudara
Klien dan keluarga klien mengatakan telah mendapatkan pengetahuan tentang perawatan
payudara di rumah praktek bidan (BPS) maupun posyandu.
2. Perawatan kehamilan
Klien dan keluarga klien mengatakan telah mendapatkan pengetahuan tentang perawatan
kehamilan di rumah praktek bidan (BPS) maupun posyandu.
3. KB
Klien dan keluarga klien mengatakan telah mengetahui macam-macam alat kontrasepsi (KB)
4. Persiapan persalinan

Klien dan kelurga klien telah memahami tanda-tanda persalinan. Klien dan keluarga klien
juga mengatakan siap secara mental untuk melahirkan melalui persalinan.
IX.

PEMERIKSAAN LAB DAN DIAGNOSTIK


Tgl

24

Pemeriksaan

Hasil

Normal

Hemoglobin

10,4 gr %

13 16 gr %

Leukosit

9100 / ul

Trombosit

204.000

Kesan
Rendah

Maret

2014
X.

5000 10000 / ul Normal


15000 40000

Normal

TERAPI
Inf. Dextrose

XI.

Ceftriaxon

2 x 1 gr ( jam 09.00 21.00 )

Dexametason

2 x 1 amp ( jam 09.00 21.00 )

Amoxilin

3 x 1 (500 gr)

Vit C

3 x 1 (100 gr)

ANALISA DATA
No
1.

Data

Penyebab

Masalah

Ketuban Pecah Dini

Resiko Infeksi

Ketegangan otot

Gangguan rasa

DS:
Klien mengatakan keluar cairan
ketuban

dari

pervaginaan

sejak

malam (05.30 WIB)


Klien mengatakan cairan ketuban
yang keluar pervaginaan berwarna
jernih dan tidak berbau
DO:
Cairan yang ketuban dari
vagina berwarna jernih dan
tidak berbau
Terapi yang diberika cefri
2.

dan dexa
DS:

Klien mengatakan perut terasa sakit


dari pinggang sampai ke ari ari
Klien mengatakan susah tidur
karena nyeri yang dirasakan\
DO:
Klien tampak meringis dan

rahim

nyaman (Nyeri)

memegangi perutnya
Nyeri yang dirasakan pada
skala nyeri 6 (1 10)
Klien melakukan bedrest
total.
3.

DS:
Klien mengatakan nafsu makan
berkurang sejak beberapa hari yang
lalu
Klien

mengatakan

hanya

makan beberapa sendok ( 3


sendok) dan minum hanya
3 gelas = 750 ml/ hari

Intake inadekuat

DO:

Gangguan
pemenuhan nutrisi

Adanya penuruan berat badan 3 kg


dari bedan awal 65 kg.
Klien tampak lemah dengan
konjungtiva

anemis

(Hemoglobin 10,4 gr % N: 13
4.

16 gr %)
DS:
Klien mengatakan sulit tidur karena
nyeri yang dirasakan
Klien mengatakan hanya dapat tidur
pada siang haari 1 jam dan pada
siang hari 4 5 jam
DO:
Klien tampak lemah dengan tampak
adanya kantung mata.

Peningkatan his atau

Gangguan Pola

kontraksi

istirahat (Tidur)

5.

DS:
-

klien

mengatakan

terhadap penyakitnya
klien mengatakan

cemas
tidak

mengetahui tentang penyakit


yang

di

deritanya

dan

merupakan hal yang pertama


kali terjadi.

Defisit pengetahuan
tentang penyakit

Ansietas

DO :
-

klien tampak cemas dan

gelisah
- klien sering bertanya tentang
penyakit nya kepada perawat

XII.
1.
2.
3.
4.

DIAGNOSA KEPERAWATAN
Resiko Infeksi berhubungan dengan Ketuban Pecah Dini
Gangguan Rasa Nyaman:Nyeri berhubungan dengan ketegangan otot rahim
Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi berhubungan dengan intake yang tidak ade kuat
Gangguan Pola istirahat Tidur berhubungan dengan Peningkatan HIS

XIII. INTERVENSI KEPERAWATAN


Diagnosa 1 : Resiko tinggi infeksi maternal b.d prosedur invasif, pemeriksaan vagina berulang, membran

amniotic ruptur
Hasil yang diharapkan :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 324 jam di harapkan pasien tidak
menunjukan tanda-tanda infeksi . dengan kriteria hasil :
Tanda-tanda infeksi tidak tidak ada.
Tidak ada lagi cairan ketuban yang keluar dari pervaginaan.
DJJ normal
Leukosit pasien kembali normal
Suhu 36-37
Intervensi
Rasional
Mandiri
a. Lakukan
pemeriksaan a.
Pengulanagn
pemeriksaan

b.

vagina awal, ulangi bila

vagina

berperan

dalam

pola kontraksi atau perilaku

insiden

infeksi

saluran

ibu menandakan kemajuan.


Gunakan teknik aseptik b.

asendens.
Mencegah

selama pemeriksaan vagina

bakteri dan kontaminasi pada

pertumbuhan

vagina
c.

d.

Anjurkan

perawatan c.

perineum setelah eliminasi

Menurunkan resiko infeksi

setiap 4 jam dan sesuai

saluran asendens

indikasi
Pantau dan

Pada infeksi, cairan amnion

gambarkan d.

karakter cairan amniotik

menjadi lebih kental dan


kuning pekat serta dapat
terdeteksi adanya bau yang

e.

Pantau

suhu,

nadi, e.

kuat.
Dalam

jam

setelah

ruptur,

insiden

pernapasan, dan sel darah

membran

putih sesuai indikasi

korioamnionitis
secara

progresif

sesuai

waktu

yang

dengan
f.

Tekankan

pentinngnya f.

mencuci tangan yang baik


dengan benar.
Kolaborasi
g. Berikan cairan oral dan g.
parental

h.

sesuai

ditunjukan melalui TTV


Mengurangi perkembangan
mikroorganisme

Meski tidak boleh sering


dilakukan, namun evaluasi

Berikan enema pembersih

usus

bula sesuai indikasi

kemajuan

Berikan

menurunkan resiko infeksi


Antibiotik dapat melindungi

profilaktik

i.

indikasi.

meningkat

antibiotik h.
bila

dapat

meningkatkan
persalinan

dan

perkembangan

diindikasikan

koriamnionitis

Dapatkan kultur darah bila i.

beresiko
Mendeteksi

gejala sepsis ada

mengidentifikasi

pada

ibu
dan

organisme

penyebab terjadinya infeksi.


Diagnosa 2: Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan terjadi nya ketegangan otot
rahim
Hasil yang diharapkan:

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 324 jam di harapkan nyeri berkurang /
nyeri hilang . dengan kriteria hasil :
-

Tanda-tanda vital dalam batas normal.


TD :120/80 mm Hg
N : 60-120 X/ menit.
Pasien tampak tenang/rileks.
Pasien mengatakan nyeri pada abdomen bagian bawah berkurang.
Intervensi
Kaji tanda-tanda Vital pasien.

Rasional
Untuk mengetahui keadaan umum pasien.

Kaji skala nyeri (1-10)

Untuk mengetahui derajat nyeri pasien dan


menentukan tindakan yang akan dilakukan.

Ajarkan pasien teknik relaksasi

Untuk mengurangi nyeri yang dirasakan


pasien.

Atur posisi pasien

Untuk memberikan rasa nyaman.

Berikan lingkungan yang nyaman dan batasi


pengunjung.

Untuk mengurangi tingkat stress pasien


dan pasien dapat beristirahat.

Diagnosa 3: Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi berhubungan dengan intake yang tidak
ade kuat
Hasil yang diharapkan:
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 324 jam di harapkan kebutuhan nutrisi
klien terpenuhi. Dengan Kriteria hasil:
- tidak menunjukkan tanda tanda mal nutrisi
- BB dalam batas normal
- menunjukkan pemasukan yang adekuat
Intervensi

Rasional
mnegetahui peningkatan

timbang BB klien

untuk

kaji tanda tanda mal nutrisi

penurunan berat badan klien


untuk mengetahui indikator kekurangan

nutrisi
auskultasi bising usus, catat ada nya nyeri gangguan
abdomen, mua muntah
motivasi klien untuk menghabiskan makanan
berikan makanan yang hangat dan bervariasi

nutrisi

dapat

atau

menyebabkan

perubahan frekuensi bising usus


agar nutrisi klien terpenuhi
menambah selera makan klien

Diagnosa 4: Gangguan Pola istirahat Tidur berhubungan dengan Peningkatan HIS

Hasil yang diharapkan:


Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 324 jam di harapkan pemenuhan isitirahat
klien terpenuhi. Dengan Kriteria hasil
-

menunjukkan pola tidur yang adekuat


tidak terdapat kantong mata
klien tampak segar
klien mengatakan dapat tidur lelap
Intervensi
Pantau keadaan umum pasien dan TTV

Rasional
Mengetahui kesadaran, dan kondisi tubuh

kaji kebiasaan pola tidur patien

dalam keadaan normal atau tidak


kebiasaan pola tidur klien

dapat

mempengaruhi kualitas tidur klien


Kaji fungsi pernapasan: bunyi napas, kecepatan, Untuk mengetahui tingkat kegelisahan
irama.
berikan lingkungan yang nyaman seperti keadaan

agar klien merasa nyaman

ruangan dan penerangan ruangan


batasi pengunjung

agar klien bisa beristirahat

Diagnosa 5: Ansietas berhubungan denga kurang nya pengetahuan klien tentang penyakit
KPD
Hasil yang diharapkan:
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 324 jam di harapkan defisit pengetahuan
klien terpenuhi dengan peningktan pengetahuan klien terhadap penyakitnya. Dengan Kriteria
-

hasil:
klien sudah mengerti tentang penyakit dan perawatan KPD
klien tidak cemas lagi
klien tidak tampak gelisah
Klien berkurang menanyakan hal yang sama tetang KPD
Intervensi
tinjau proses penyakit dan harapan masa depan

Rasional
Memberikan pengetahuan dasar dimana

dorong klien untuk istirahat total


berikan pelayanan kesehatan mengenai penyakit

klien dapat membuat pilihan


untuk mempercepat proses penyembuhan
agar klien mengerti tentang bahaya nya

nya

penyakit yang di derita nyan

XIV. IMPLEMENTASI DAN EVALUASI

No
1.

Hari

tgl
Senin,

Diagnosa

24 maret

Jam

Implementasi

08.00

-membina

WIB

hubungan

2014

percaya

saling
melalui

Evaluasi
DS :
- klien mengatakan
masih ada keluar
cairan dari

komunikasi

pervaginaan tapi

therapeutik
08.45

-memantau

WIB

keadaan

tidak begitu banyak


DO :
umum- Cairan yang keluar

klien,

seperti dari pervaginaan

kesadaran
klien,cairan

masih ada
- warna cairan jernih
yg
dan tidak berbau
dari
A : masalah belum

09.30

keluar

WIB

pervaginaan.
teratasi
-klien, TD,N,S,P
P : intervensi 2 4
klien
dilanjutkan
memberikan

11.00
WIB

obat

injeksi

Ceftriaxon 1 gr
I

11.25
WIB

dan dexametason
1 amp ( IV )
memberikan
lingkungan

13.00
WIB
II
13.45
WIB

yang DS :
- Nyeri pada abdomen
nyaman
seperti
kuadran kanan-kiri
kenyamanan
bawah
karena
ruangan
dan
kontraksi otot uterus
membatasi
dengan skala nyeri 6
pengunjung
sedang (1- 10) nyeri
- memonitor
terasa seperti diremas
TD,N,P,S klien
dan menyebar ke
- mengkaji

skala daerah

nyeri ( 1 10 )
- mengajarkan

nyeri

belakang,
muncul

sewaktu-waktu.
teknik O :
Klien tampak lemah
relaksasi dengan
Klien
tampak
cara tarik nafas
meringis
menahan
dalam sebanyak 3
nyeri
sambil
x
memegangi
- mengatur posisi
pinggangnya.
klien
dengan
klien

14.00
WIB

miring kiri tiap 2 A :masalah


jam

teratasi

belum

BAB III
KESIMPULAN
A. KESIMPULAN
Kesimpulan dari asuhan keperawatan pada ketuban pecah dini merupakan pecahnya selaput
ketuban secara spontan sebelum pembukaan 5 cm atau sebelum persalinan. Sedangkan
penyebab dari ketuban pecah dini belum diketahui. Adapun tanda dan gejala dari ketuban
pecah dini adalah perut ibu kelihatan membesar, ibu merasa nyeri diperut, persalinan lebih
lama dari biasanya dan waktu his terasa sakit.
B. SARAN
1. Perawat harus memahami konsep dasar dari ketuban pecah dini dan memahami apa yang
terjadi pada klien ketuban pecah dini sehingga perawat dapat menegakkan diagnosa
2.

keperawatan.
Ketika merawat klien dengan ketuban pecah dini, tanggung jawab perawat harus
mempertimbangkan kebutuhan fisik, psikologis, dan social yang unik.

DAFTAR PUSTAKA
Asri Hidayat, Mufdilah, & Sujiyanti. 2009. Asuhan Patologi Kebidanan. Yogyakarta: Nuha
Medika.
Hamilton, G. M. 2009. Obstetri dan Ginekologi : Panduan Praktik Ed. 2. Jakarta: EGC.
Mitayani. Asuhan Keperawatan Maternitas. Jakarta: Salemba Medika
Nugroho, T. 2011. Asuhan Keperawatan Maternitas, Anak, Bedah, Penyakit Dalam.Yogyakarta:
Nuha Medika.
Nugroho, T. 2011. Buku Ajar Obstetri Untuk Mahasiswa Kebidanan. Yogyakarta: Nuha Medika.