Anda di halaman 1dari 19

PENINGKATAN KEMAMPUAN MEMECAHKAN MASALAH DAN

MOTIVASI BELAJAR AL-QURAN DAN HADITS MELALUI APLIKASI


METODE DISCOVERY LEARNING SISWA KELAS II MTsN BAKALAN
RAYUNG-JOMBANG

Oleh :
Dina Aulia Mildasari
NIM : 15110120

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM


FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM
MALANG
Maret 2016

A. Konteks
Penggunaan metode pembelajaran yang Teacher
Oriented dengan modus ekspository hendaknya sudah kita
tinggalkan, sebab model pembelajaran tersebut membuat
siswa tidak aktif dan tidak produktif. Begitulah konteks
pembelajaran di MTsN Bakalan Rayung-Jombang dalam
pembelajaran guru dituntut untuk dapat meningkatkan
kualitas

pendidikan

kemajuan

ilmu

pengetahuan

dan

teknologi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Oleh


karena itu, dewasa ini di sekolah-sekolah dikembangkan
metode

Discovery

Learning

yang

melibatkan

siswa

berperan aktif.
Penggunaan media pembelajaran memiliki andil yang
penting dalam kegiatan belajar-mengajar. Kemampuan
yang

diharapkan

adalah

anak

didik

harus

memiliki

kompetisi yang sesuai dengan tujuan yang ditargetkan 1.


Dengan demikian dalam pembelajaran yang berbeda
dengan yang sudah diterapkan.
Metode

pembelajaran

ekspository

menghasilkan

siswa yang memiliki kompetensi hafalan saja terhadap


pelajaran yang telah dipelajari, sehingga tidak dapat
memiliki

keahlian

tertentu.

Siswa

tidak

dapat

menghubungkan pengetahuan yang satu dengan yang


lainnya, apalagi menerapkannya dalam kehidupan seharihari. Siswa mengalami kesulitan dalam menerapkan yang
1 Djamarah, Syaiful Bahri dan Zain Aswan. 2002. Strategi Belajar

Mengajar, Jakarta:

Rineka Cipta

abstrak

dan

disampaikan

memerlukan

dengan

pemahaman

ceramah.

Mereka

konsep-konsep

yang

berhubungan dengan lapangan kerja dan masyarakat


sebab mereka akan hidup di masyarakat dan bekerja
Penerapan

Student

Oriented

dengan

model

pembelajaran Discovery Learning memiliki kedudukan yang


paling tinggi dalam dunia pendidikan modern 3. Melalui
metode ilmiah diharapkan dapat memperbaiki proses
kegiatan pembelajaran di kelas. Selain itu, dasar pemikiran
untuk

memperbaiki

melibatkan

keaktifan

proses

pembelajaran

siswa,

di

keberhasilan

kelas
tujuan

pembelajaran sangat bergantung pada bagaimana proses


belajar yang dialami oleh siswa sebagai anak didik

Pada umumnya, proses pembelajaran Al-Quran dan


Hadits dilakukan seadanya, rutinitas, formalitas, dan tidak
bermakna. Sehingga hasil pembelajaran semacam ini
sangat

rendah

dan

seharusnya

hasil

pembelajaran

semacam itu akan membawa siswa kepada perubahan


tingkah laku baik yang actual maupun yang potensial.
Perubahan pokok yang di dapat siswa sebagi kecakapan
baru

dan

perubahan

tersebut

sebagai

usaha

yang

disengaja.
2 Nurhadi, 2004. Pembelajaran Kontekstual dan Penerapannya.

Universitas Negeri

Malang, Malang

3 Syamsudin, Abin. 2004. Psikologi Kependidikan, Bandung : PT.


REMAJA ROSDA KARYA
4 Slameto. 2003. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya.
Jakarta: Rineka Cipta

Melalui

metode

Discovery

Learning

dalam

pembelajaran Al-Quran dan Hadits menempatkan siswa


untuk memahami arti dan penggalian makna dengan
belajar memahami konsep, arti hubungan, melalui proses
intuitif dan akhirnya sampai pada sebuah simpulan 5. Jadi,
dengan mengaplikasikan Discoveery Learning bertujuan
mengubah

orientasi

belajar

Al-Quran

yang

masih

cenderung pada arti dan penggalian makna.


Madrasah
pendidikan

yang

Tsanawiyah
mempunyai

merupakan
peran

lembaga

penting

dalam

mengajarkan ajaran Islam. Melalui pembelajaran klasikal


bidang studi Al-Quran dan Hadits diharapkan siswa dapat
termotivasi untuk belajar Al-Quran dan Hadits dengan
benar.Selain

itu,

siswa

diharapkan dapat memahami,

meyakini kebenarannya serta mengamalkan ajarannya dan


nilai-nilai yang terkandung di dalamnya sebagai petunjuk,
pedoman dalam seluruh aspek kehidupannya.
Aplikasi Discovery Learning dalam pembelajaran AlQuran

dan

Hadits

diharapkan

dapat

memberikan

kecakapan baru bagi siswa. Mereka dihadapkan untuk


mampu berpikir reflektif dalam memecahkan masalah di
depan kelas. Mereka akan terampil merefleksikan apa yang
dipelajari di kelas dengan apa yang mereka lamai dalam
kehidupan

sehari-hari.

Oleh

Karena

itu

siswa

perlu

mengasah keterampilannya di kelas selama kegiatan


belajar-mengajar berbasis pemecahan masalah.

5 Budiningsih, Asri. 2005. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : Rineka


Cipta

Dalam rangka meningkatkan prestasi belajar AlQuran dan Hadits diperlakukan motivasi yang sangat
tinggi. Tentunya orang belajar, tentunya memiliki motivasi.
Dengan motivasi belajar yang tinggi diharapkan siswa
memiliki prestasi yang tinggi pula. Usaha meningkatkan
motivasi belajar adalah sangat penting, terutama motivasi
dari dalam dirinya sendiri. Mereka berpikir dengan maju
untuk masa depan yang penuh dengan tantangan dan
semua itu dilakukan untuk mencapai cita-citanya. Setiap
orang tentu memiliki tekad yang kuat unutk optimis dalam
meraih cita-citanya melalui belajar6
B. Fokus Masalah
1. Bagaimana pola Aplikasi Metode Discovery Learning
dalam peningkatan motivasi belajar Al-Quran dan Hadits
siswa kelas II MTsN Bakalan Rayung, Jombang?
2. Bagaimana pola Aplikasi Metode Discovery Learning
dalam peningkatan Kemampuan Memecahkan Masalah
belajar

Al-Quran

dan

Hadits

siswa

MTsN

Bakalan

Rayung, Jombang

C. Tujuan Penelitian
1. Mendeskripsikan Pola Apliksi Pembelajaran Discovery
Learning dalam peningkatan motivasi belajar Al-Quran
dan Hadits siswa kelas II MTsN Bakalan Rayung,
Jombang
6 Dalyono. 2005. Psikologi Pendidikan . Jakarta: PT. Rineka Cipta

2. Mendeskripsikan pola Aplikasi Pembelajaran Discovery


Learning dalam penigkatan kemampuan pemecahan
masalah
D. Manfaat Penelitian
1. Secara teoritis penelitian ini akan menambah khasanah
2. Secara praktis penelitian ini akan bermanfaat bagi :
a. Guru ; dapat memotivasi siswa dalam belajar AlQuran dan Hadits.
b. Lembaga ; dapat memotivasi guru
Hadits

dalam

mengembangkan

Al-Quran dan
Kompetensinya

dalam menggunakan metode pembelajaran.


c. Peneliti ; penelitian ini dapat digunakan sebagi
alternative

untuk

meningkatkan

kualitas

pembelajaran di kelas.
d. Peneliti lain ; sebagai acuan dalam melakukan
penelitian tindakan kelas.
E. Ruang Lingkup Penelitian
Agar tidak meluas kajian penelitian ini, maka perlu
dibatasi ruang lingkupnya sebagai berikut :
1. Lokasi Penelitian di MTsN Bakalan Rayung, Jombang
2. Kelas yang diteliti kelas II A
3. Bidang studi yang diteliti Al-Quran dan Hadits
4. Pola Aplikasi Metode Discovery Learning dalam
meningkatkan

motivasi

belajar

dan

kemampuan

pemecahan masalah

F. Definisi Operasional
1. Peningkatan : upaya untuk menambah derajat, tingkat
dan kualitas
maupun kuantitas.

2. Kemampuan Pemecahan Masalah : suatu tindakan untuk


menyelesaikan
metode

masalah

penemuan

atau

solusi

proses

yang

melalui

melalui

tahap-tahap

pemecahan masalah
3. Motivasi Belajar : keseluruhan daya gerak dalam diri
siswa yang
menimbulkan kegiatan belajar, yang
menjamin
kelangsungan dari kegiatan belajar
dan memberikan
arah pada kegiatan belajar
4. Aplikasi Metode Discovery Learning : sebuah teori
belajar dapat didefinisikan sebagai belajar yang terjadi
bila pelajar tidak disajikan dengan pelajaran dalam
bentuk

finalnya,

tetapi

diharapkan

untuk

mengorganisasi sendiri.
5. Bidang studi Al-Quran dan Hadits : segala ilmu yang
membahas tentang kitab yang diturunkan kepada Nabi
Muhammad

G. Kajian Pustaka
1. Teori Discovery Learning
Discovery Learning merupakan sebuah teori belajar
yang
didefinisikan

bahwa

belajar

dapat

terjadi

apabila

pelajaran tidak disajikan secara finansial melainkan


pembelajar dapat mengorganisasikan sendiri apa yang
sedang dia pelajari. Oleh karena itu Piaget dalam
mengatakan bahwa anak harus berperan aktif dalam
belajar

di

kelas,

yaitu

dengan

mengorganisasikan

bahwa yang dipelajari dengan suatu bentuk akhir7.


Discovery
terlibat

terjadi
dalam

apabila

individu

penggunaan

sebagai

pelajar

mentalnya

untuk

menemukan beberapa konsep dan prinsip. Adapun


prosesnya meliputi : Observasi, klasifikasi, pengukuran,
prediksi, penentuan, dan inferi.
Discovery merupakan sebuah strategi belajar yang
mempunyai prinsip yang sma dnegan inkuisi dan
problem solving / pemecahan masalah, jadi penyajian
bahan ajar dalam discovery learning tidak disajikan
dalam bentuk final, melainkan siswa harus mencari
informasi

dalam

merekonstruksi

bentuk

akhir.

Jadi,

siswa

pengalamannya

akan

dengan

menghubungkan dengan pengetahuannya yang baru


sebagai modal internal yang mereka miliki.
2. Konsep Belajar dalam Metode Discovery Learning
Discovery
Learning
merupakan
pembentukan
kategori-kategori

atau

konsep

yang

dapat

memungkinkan terjadinya generalisasi. Menurut Bruner


dalam menyatakan ada 5 unsur Kategori / konsep
dalam Discovery Learning yaitu :
1. Nama
2. Contoh-contoh ( yang positif / yang negative)
3. Karakteristik ( yang baik/ yang buruk )
4. Rentangan karakteristik
5. Kaidah
Sedangkan dalam membentuk konsep ada 4 dasar
untuk mendefinisikan perkataan yang menunjukkan
konsep yaitu :
1. Sifat yang dapat diukur atau di amati
7 Dalyono. 2005. Psikologi Pendidikan . Jakarta: PT. Rineka Cipta

2. Sinonim-antonim dan makna semantic lain


3. Hubungan yang logis dan aksioma / definisi dari
sudut ini tidak secara langsung menunjuk sifat
tertentu
4. Manfaat / gunanya
Selain
yaitu

itu,

terbentuklah

terbentuknya

kode-kode

kode-kode

generic

atau

system

pengkodean. Dalam Discovery akan dimungkinkan


terbentuk

kode-kode

menyenangkan.

generic

Bruner

dan

yang

mendeskripsikan

empat

kondisi kode generic yang meliputi :


1. Set
2. Need state
3. Mastery of spesies
4. Diversity of training
Selanjutnya

lingkungan

belajar

dalam

Discovery Learning Bruner mementingkan partisipasi


aktif dari tiap siswa, dan mengenal dengan baik
adanya perbedaan kemampuan. Oleh karena itu
tahap eksplorasi ini perlu diberikan fasilitas untuk
mereka.

Untuk

penemuan

baru

yang

mirip

difasilitasi guru dengan melakukan manipulasi bahan


ajar yang sesuai dengan tingkat kognitif siswa.
Manipulasi
kemampuan

dengan
berfikir

tujuan
siswa.

untuk

memfasilitasi

kognitif

seseorang

perkembangan menurut Bruner meliputi 3 tahap


yaitu

1. Inactive
2. Iconic
3. Symbolic
8 Budiningsih, Asri. 2005. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : Rineka Cipta

Adapun interaksi guru dan siswa harus terjadi


sebab guru sebagai pembimbing, dia harus memberi
kesempatan kepada siswa untuk belajar seacra aktif
dan

mengarahkan

pembelajaran.

siswa

sesuai

Guru

dengan

hendaknya

tujuan

memberi

kesempatan kepada siswa untuk menjadi seorang


problem solver, seorang scientist,historin, atau ahli
matematika.
berusaha

Melalui

kegiatan

menguaasainya,

ini

siswa

akan

menerapkannya,

serta

menemukan hal-hal yang bermanfaat bagi mereka.


Karakteristik Discovery merupakan meetode
mengajar yang dimulai dengan inisial (permulaan)
mengajar, guru memberikan problem yang disajikan
kepada siswa. Selanjutnya bimbingan guru yang
diberikan

kepada

responsibilitas

siswa

yang

lebih

adalah
besar

memberikan
untuk

belajar

mandiri.
Menurut

Bruner

perkembangan

kognitif

seseorang dapat ditingkatkan dengan cara menyusun


materi pelajaran dan menyajikannya sesuai dnehgan
tingkat usia siswa / pebelajar. Dalam memfaasikitasi
Kode-Kode
koheren

generic
dengan

Pendekatan

diperlukan
metode

metode

ini

kurikulum

Discovery

berbentuki

yang

Learning.

spiral.

Cara

pengorganisasian yang dimulai dari materi yang


secara umum disajikan dan selanjutnya disajikan
kembali secara berkala tentang materi yangs ama
dengan cakupan yang lebih rinci. Jadi, kurikulum
yang demikian berpusat pada bahan ajar. Kurikulum
yang didesain seperti ini menekankan agar siswa

memahami logika atau struktur dasar suatu disiplin


memahami konsep, ide dan prinsip penting, yang
mendorong unutk mencari cara dan menemukannya.
Pendekatan pembelajaran semacam ini membuat
siswa tidak akan mengalami kebingungan, karena
materi

sudah

disesuaikan

dengan

tingkat

perkembangan dan daya tangkap siswa, sesuai


dnegan tahap inactive, iconic, dan syimbolis.
4. Aplikasi Metode Discovery Learning di Kelas
Dalam

mengaplikasi

metode

Discovery

Learning menurut Bruner guru melakukan persiapan


sebagai berikut :

a.
b.
c.
d.
e.

Menentukan Tujuan Pembelajaran


Identifikasi karakteristik pembelajaran / siswa
Memilih bahan ajar
Menentukan topic yang disajikan secara induktif
Mengembangkan bahan ajat dnegan ilustrasi dan

contoh-contoh
f. Mengatur urutan topic
g. Melakukan evaluasi 9
Sedangkan

prosedur

Aplikasi

metode

Discovery

Learning dilakukan dengan tahap-tahap berikut :


a.
b.
c.
d.
e.
f.

Stimulasi
Problem statement
Data collection
Data processing
Verification
Generalization

9 Budiningsih, Asri. 2005. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : Rineka Cipta

5. Kelebihan Metode Discovery Learning


Menurut Bruner ada 4 keuntungan dalam
pendekatan Discovery Learning yaitu : 1. Kode
generic

memfasilitasi

transfer

dan

refensi,

2.

Discovery memfasillitasi transfer dan memory atau


disebut intelectual potency, 3. Abilitas problem
solving, dan 4. Motivasi.
6. Implikasi Metode Discovery Learning
Implikasi
penerapan
metode

Discovery

Learning dapat diuraikan sebagai berikut :


a. Kurikulum merupakan suatu objek,
kurikulum

sudah

dibuat

terorganisir

karena
sehingga

mudah untuk dipelajari


b. Setiap subjek dapat diajarkan secara jujur
c. Kurikulum model spiral merupakan kurikulum yang
ideal

untuk

penguasaan

sesuai

dengan

pengalamannya
d. Alat bantu atau media hendaknya diusahakan

7. Kemampuan Memecahkan Masalah


Dalam memecahkan suatu masalah pasti akan
melibatkan proses berpikir untuk menemukan solusi.
Oleh Karena yaitu, siswa juga ikut berpikir kritis
dalam menghadapi masalah yang dihadapi seharihari.Sehingga

dengan

dilakukan

pendekatan

Discovery Learning diharaokan siswa akan memiliki


kemampuan ememcahkan masalah dan kecakapan
kognitif untuk memecahkan maslaah secara rasional,
lugas dan tuntas

10

10 Dalyono. 2005. Psikologi Pendidikan . Jakarta: PT. Rineka Cipta

Selanjutnya memberikan penjelasan tentang


sepuluh keterampilan berpikir kritis yang harus
digunakan siswa dalam mempertimbangkan sesuatu
untuk mencari solusi yaitu11 :
1. Membedakan fakta-fakta melalui uji kebenaran
2. Membedakan informasi dan alas an atau tuntutan
3. Menentukan kecermatan factual
4. Menentukan kredibilitas sumber
5. Identifikasi tuntutan dan argumentasi
6. Identifikasi asumsi
7. Mendeteksi bias atau kemungkinan
8. Identifikasi kekeliruan logika
9. Mengenali konsistensi penalaran
10. Menentukan kekuatan suatu argument
8. Kemampuan Motivasi Belajar
Motivasi merupakan bentuk aktivitas untuk
mencapai tujuan belajar yang ingin dicapainya. Jadi,
motivasi itu merupakan kondisi yang menggerakkan
seseorang agar mampu mencapai tujuan. Adapun
motif yang mendorong siswa untuk belajar menurut
a.
b.
c.
d.
e.
f.

Sardiman 12yaitu:
Adanya sifat ingin tahu
Adanya sifat kreatif
Adanya keinginan mendapat simpati dari orang lain
Adanya keinginan memperbaiki kegagalan
Adanya keinginan rasa aman
Adanya ganjaran
Adapun macam-macam motivasi secara umum terbagi
atas :

11 Nurhadi, 2004. Pembelajaran Kontekstual dan Penerapannya dalam

KBK. Universitas

Negeri Malang, Malang

12 Sardiman, A.M, 2004. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar,

Jakarta: PT Raja

Grafindo Persada

1. Motivasi intrinsic dan motivasi ekstrinsik


Menurut Bruner motivasi belajar siswa dapat
ditimbulkan dengan sesuatu yang menyenangkan
dalam proses belajar, sehingga dapat mengantarkan
pembelajar dari reliansi extrinsic reward ke reliansi
intrinsic reinforcement
Dalam pembelajaran siswa yanf termotivasi
belajarnya adalah ditunjukkan oleh adanya sikap dan
tingkah laku yaitu : 1) bersungguh-sungguh, 2)
berusaha keras, 3) menyelesaikan tugas-tugasnya.13

H. Metode Penelitian
1. Pendekatan dan Jenis penelitian
Penelitian ini akan dilakukan dengan pendekatan
kualitatif yang didalam prosedur penelitian tersebut
akan menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata
yang tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku
yang diamati. Oleh Karena itu jenis penelitian ini disebut
penelitian Deskriptif kualitatif. Penelitian ini memiliki
karakteristik

alamiah,

menggunakan

manusia

kualitatif,

sebagai

analisis

intrumen,

datanya

secara

induktif, deskriptif, dan lebih mementingkan proses


daripada hasil, adanya focus, adanya kriteria keabsahan
data, desain penelitian bersifat sementara dan hasil
penelitian disepakati bersama.
Metode
menyajikan

ini

digunakan

secara

langsung

karena,
hakikat

metode

ini

hubungan

13 Muhaimin. 2001. Paradigma Pendidikan islam: Upaya


Mengefektifkan Pendidikan Islam di Sekolah, bandung: PT. Remaja
Rosdakarya

peneliti

dengan

penelitian

ini

terhadap

ilmu

responden.
banyak

Selain

itu,

memberikan

pengetahuan

metode

konstribusi

melalui

pemberian

informasi. Keadaan mutakhir, dan membantu kita


dalam mengidentifikasi factor-faktor yang berguna
untuk menghasilkan secara keadaan yang mungkin
terdapat dalam situasi tertentu.
Pendekatan
ini
akan
mengungkapkan
tentang

daya

Peningkatan

digunakan

deskriptif

dari

Kemampuan

untuk

informasi

Memecahkan

Masalah dan Motivasi Belajar Al-Quran dan Hadits


melalui Aplikasi Metode Discovery Learning siswa
kelas II MTsN Bakalan Rayung Jombang
2. Peneliti sebagai Instrumen
Kehadiran peneliti sebagi instrument, maksudnya
adalah peneliti sebagai pengumpul data. Selain itu,
peneliti merupakan perencana, pelaksana, pengumpul
data, penganalisis data, penafisr data, dan akhirnya
sebagi pelopor hasil penelitian. Adapun arti peneliti
sebagai instrument atau alat pengumpul data karena
peneliti menjadi segalanya dari keseluruhan proses
penelitian.

3. Lokasi Penelitian
Penelitian ini akan dilakukan di MTsN Bakalan
Rayung Jombang. Sebagi sebuah lembaga professional,
maka

MTsN

aktifitasnya

Bakalan
dibantu

Rayung-Jombang
oleh

beberapa

ini

dalam

pihak.

Sebagi

tatanan sebuah unit kerja yang harmonis mulai dari


pimpinan, dewan sekolah, guru, karyawan dan siswa
4. Data dan Sumber Data
Dalam peneltian ini sumber data akan diperoleh
dari RPP dan hasil observasi kelaas, wawancara dan
dokumen sekolah serta guru dan siswa. Data yang
terkumpul

dari

hasil

observasi,

wawancara,dan

dokumen dideskripsikan sebagai data penelitian


5. Teknik Pengumpulan Data
Untuk memperoleh data yang akurat, maka peneliti
akan menggunakan teknik pengumpulan data sebagai
berikut : 1) Teknik wawancara, 2) Teknik observasi
kelas , dan 3) Teknik dokumentasi

6. Analisis Data
Dalam penelitian ini akan digunakan analisis data
yang sudah diperoleh secara deskriptif (non statistik ),.
Penelitian ini dilakukan dengan menggambarkan data
yang diperoleh dengan kata-kata atau kalimat yang
dipisahkan sesuai dnegan kategoori unutk memperoleh
kesimpulan.
Adapun sikap analisis data akan dilakukan sebagai
berikut: tahap pengumpulan data, proses pemilihan
transformasi
simpulan.

data,

interpretasi

data,

pengambilan

DAFTAR PUSTAKA
Djamarah, Syaiful Bahri dan Zain Aswan. 2002. Strategi Belajar
Mengajar, Jakarta: Rineka Cipta
Nurhadi, 2004. Pembelajaran Kontekstual dan Penerapannya.
Universitas Negeri Malang, Malang
Syamsudin, Abin. 2004. Psikologi Kependidikan, Bandung : PT.
REMAJA ROSDA KARYA
Slameto. 2003. Belajar dan Faktor-faktor yang
Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta
Budiningsih, Asri. 2005. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta :
Rineka Cipta
Dalyono. 2005. Psikologi Pendidikan . Jakarta: PT. Rineka Cipta
Sardiman, A.M, 2004. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar,
Jakarta: PT Raja
Grafindo Persada

Muhaimin.

2001.

Paradigma

Pendidikan

islam:

Upaya

Mengefektifkan Pendidikan Islam di Sekolah, bandung: PT.


Remaja Rosdakarya

BIODATA PENELITI

Nama

: Dina Aulia Mildasari

NIM

: 15110120

Tempat, tanggal lahir

: Balikpapan, 1 Juni 1997

Alamat

: Jalan Telaga Sari 1 no. 122 rt. 37

Balikpapan Kota,
Balikpapan, Kalimantan Timur
Nomor Hp

: 085345699990

Riwayat Pendidikan
1.
2.
3.
4.

SD Negeri 001 Balikpapan


SMP Negeri 2 Balikpapan
SMA Negeri 1 Balikpapan
Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim
Malang

Riwayat Organisasi

1. Forum Komunikasi Pelajar Muslim SMA Negeri 1


Balikpapan, sebagai Bendahara
2. Majelis Permusyawaratan Kelas SMA Negeri 1
Balikpapan, sebagai Sekretaris
3. Geoscience SMA Negeri 1 Balikpapan