Anda di halaman 1dari 64

HUBUNGAN FAKTOR OSEANOGRAFI DENGAN HASIL

TANGKAPAN IKAN CAKALANG (Katsuwonus Pelamis)


DI PERAIRAN KOLAKA

SKRIPSI

Oleh
FERNANDUS LANDE
L231 07 031

PROGRAM STUDI PEMANFAATAN SUMBERDAYA PERIKANAN


JURUSAN PERIKANAN
FAKULTAS ILMU KELAUTAN DAN PERIKANAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2012

HUBUNGAN FAKTOR OSEANOGRAFI DENGAN HASIL


TANGKAPAN IKAN CAKALANG (Katsuwonus Pelamis)
DI PERAIRAN KOLAKA

SKRIPSI

Oleh
FERNANDUS LANDE
L231 07 031

Skripsi
sebagai salah satu syarat memperoleh gelar sarjana
pada
Jurusan Perikanan Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan
Universitas Hasanuddin

PROGRAM STUDI PEMANFAATAN SUMBERDAYA PERIKANAN


JURUSAN PERIKANAN
FAKULTAS ILMU KELAUTAN DAN PERIKANAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2012

HALAMAN PENGESAHAN

Judul Skripsi

: Hubungan Faktor Oseanografi Dengan Hasil Tangkapan Ikan


Cakalang (Katsuwonus Pelamis) Di Perairan Kolaka.

Nama

: Fernandus Lande

Stambuk

: L 231 07 031

Program Studi

: Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan


Skripsi ini telah diperiksa
dan disetujui oleh :

Pembimbing Utama

Pembimbing Anggota

Prof. Dr. Ir. Musbir, M. Sc


NIP. 196508101989111001

Dr. Mukti Zainuddin, S.Pi, M.Si


NIP. 1971107031997021002

Mengetahui,

Dekan
Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan

Prof.Dr.Ir. Andi Niartiningsih, MP


NIP. 19611201 198703 2 002

Tanggal Lulus : 15 Mei 2012

Ketua Program Studi


Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan

Dr. Ir. Aisyah Farhum. M.Si


NIP. 196906051993032002

ABSTRAK

FERNANDUS LANDE L 231 07 031. Hubungan Faktor Oseanografi Dengan


Hasil Tangkapan Ikan Cakalang (Katsuwonus Pelamis) Di Perairan Kolaka. (Di
bawah Bimbingan Prof. Dr. Ir. Musbir, M.Sc sebagai Pembimbing Utama dan Dr.
Mukti Zainuddin, S.Pi, M.Sc sebagai Pembimbing Anggota).
Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari hubungan antara parameter
oseanografi (suhu permukaan laut, salinitas, kecepatan arus, kedalaman dan
kecerahan) dengan hasil tangkapan ikan cakalang (katsuwonus pelamis) dan
menentukan parameter oseanografi yang paling berpengaruh terhadap hasil
tangkapan tersebut. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan informasi
tentang daerah penangkapan ikan cakalang (katsuwonus pelamis) bagi nelayan dan
juga sebagai bahan kajian referensi pemerintah daerah dalam peningkatan ekonomi
masyarakat, khususnya bagi nelayan.
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan November Desember 2011 di
Perairan Kolaka, Provinsi Sulawesi Tenggara. Metode yang digunakan dalam
penelitian ini adalah mengikuti langsung operasi penangkapan kapal Pole And Line
dimana pada setiap pemancingan dilakukan pengambilan data posisi lintang-bujur,
serta kondisi oseanografi perairan (suhu, salinitas, kecepatan arus, kedalaman dan
kecerahan). Selama penelitian, diperoleh 56 titik koordinat. Kemudian data tersebut
dianalisis dengan menggunakan uji analisis regresi non linear berganda. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa hubungan parameter Oseanografi (suhu dan
kedalaman) berpengaruh nyata terhadap hasil tangkapan Ikan Cakalang
(Katsuwonus Pelamis).

KATA PENGANTAR

Salam Sejahtera Bagi Kita semua

Puji dan Syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas limpahan rahmatNya
sehingga Penulis dapat menyelesaikan Skripsi dengan judul Hubungan Faktor
Oseanografi Dengan Hasil Tangkapan Ikan Cakalang (Katsuwonus Pelamis) Di
Perairan Kolaka ini sebagaimana mestinya.
Dalam penyusunan skripsi ini, Penulis banyak mendapat dukungan dan
arahan dari berbagai pihak. Ucapan rasa terima kasih yang tak terhingga kepada
kedua Orang Tuaku tercinta, ayahanda Alm. Bapak Ir. Ferry Lande dan ibunda
Adrianai Tangke S.Pd, yang telah mengasuh sejak lahir dengan penuh cinta dan
kasih sayang, doa-doa yang tak pernah hentinya senantiasa memberikan tuntunan
hidup serta kesempatan yang diberikan untuk memperoleh pendidikan yang terbaik.
Tak lupa juga ucapan terima kasih kepada ke-8 saudaraku tercinta yang senantiasa
memberikan doa dan dukungannya. Semoga kita semua dapat berkumpul dalam
Naungan-Nya.
Penulis yakin sepenuhnya bahwa skripsi ini tidak akan mungkin dapat
terwujud tanpa bantuan dan dukungan dari semua pihak. Karenanya penulis ingin
mengucapkan rasa terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada :
1. Bapak Prof.Dr.Ir.Musbir, M.Sc selaku Penasehat Akademik dan Pembimbing
Utama dan Bapak Dr. Mukti Zainuddin, S.Pi, M.Si selaku Pembimbing. Anggota
yang selalu meluangkan waktu memberikan bimbingan, arahan-arahan dan
semangat kepada penulis untuk mendapatkan yang terbaik.

2. Bapak Rustam sekeluarga selaku pemilik kapal Pole And Line serta seluruh
ABK yang telah mengizinkan penulis dalam melakukan pengambilan data guna
menunjang penelitian penulis.
3. Bapak dan Ibu Dosen jurusan Perikanan yang telah mendidik dan membimbing
penulis selama ini.
4. Rekan-rekan seperjuangan PSP 07 (Najma, Harjono, Jumsurizal dan Sabir)
dan teman teman lain yang tak sempat dituliskan namanya satu persatu yang
telah banyak membantu penulis dalam penyelesaian skripsi ini.
5. Kakak - kakak senior yang sudah banyak membantu Penulis dalam proses
penyusunan skripsi ini ; Kak Robert 06 dan Kak Fitri Indahyani 06, terima kasih
atas semua bantuannya baik berupa nasehat mau pun transfer ilmunya.
6. Semua Anggota KBMK FAPETRIK UNHAS, terima kasih atas doa dan
dukungannya selama ini.
7. Yang terakhir, ucapan terimakasih untuk saudari Atma yang terkasih yang selalu
mendukung dan memberikan semangat dalam menyelesaikan study.
Penulis menyadari penyusunan skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh
karena itu Penulis mengharapkan masukan yang bersifat konstruktif dalam upaya
perbaikan atau pun sebagai bahan kajian selanjutnya guna kesempurnaan skripsi
ini, sehingga skripsi berguna bagi Penulis, civitas akademik dan masyarakat luas.
Amin. . .
Makassar, 15 Mei 2012

Penulis

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan pada tanggal 13 Agustus 1989 di Makassar.


Orang tua bernama Ir. Ferry Lande dan Adriani Tangke, S.Pd.
Jenjang pendidikan mulai dari Taman Kanak-kanak (TK) Tanah
Toraja, Tahun 1994-2000 dilanjutkan di Sekolah Dasar Negri 1
Wundulako kemudian dilanjutkan di Sekolah Lanjutan Tingkat
Pertama Negri 1 Wundulako tahun 2001-2004 dan Sekolah
Menengah Kejuruan Negri 3 Kolaka dengan jurusan Nautika
Perikanan Laut tahun 2004-2007. Melalaui SPMB pada tahun 2007 penulis diterima
sebagai mahasiswa perikanan fakultas ilmu kelautan dan perikanan Universitas
Hasanuddin pada program studi Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan (PSP).
Selama kuliah penulis tercatat sebagai anggota persekutuan KBMK FAPETRIK
Universitas Hasanuddin, dan pernah tercatat sebagai pengurus pada periode 2009
2010 dibidang pemerhati.

DAFTAR ISI

Halaman
DAFTAR ISI................................................................................................ viii
DAFTAR TABEL.......................................................................................... x
DAFTAR GAMBAR.... xi
DAFTAR LAMPIRAN........
I.

xiii

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang 1
B. Tujuan dan Kegunaan. .. 4

II.

TINJAUAN PUSTAKA
A. Karakteristik Ikan Cakalang (Katsuwonus pelamis).

B. Daerah Dan Musim Penangkapan Ikan Cakalang. 8


C. Faktor Oseanografi........ 9
1. Suhu Permukaan Laut........................... 9
2. Salinitas.. 11
3. Kecepatan Arus.... 12
4. Kedalaman. 13
5. Kecerahan.. 14
III.

METODE PENELITIAN
A. Waktu dan Tempat...

16

B. Alat dan Bahan..

17

C. Metode Pengambilan Data..................

17

D. Analisa Data 18

1. Uji Pra Model Analisis Regresi 18


2. Analisis Regresi Non Linier Berganda .. 19
3. Analisis Korelasi Ganda .. 20
4. Analisis Koefisien Regresi (Uji T)....
IV.

20

HASIL DAN PEMBAHASAN


A. Keadaan Umum Daerah Penelitian. 21
B. Deskripsi Alat Tangkap.. 22
1. Kapal Pole And Line. 22
2. Alat Tangkap Pole And Line 23
C. Hubungan Parameter Oseanografi Terhadap Hasil Tangkapan.. 27
1. Suhu Permukaan Laut . 27
2. Salinitas . 29
3. Kecepatan Arus 30
4. Kedalaman 32
5. Kecerahan . 33
D. Analisis Parameter Oseanografi Terhadap Hasil Tangkapan.. 35

V.

KESIMPULAN DAN SARAN


A. Kesimpulan.. 40
B. Saran. 40

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

DAFTAR TABEL

No.

Halaman

1. Peralatan Yang Digunakan Dalam Penelitian.. 17


2. Tests of Normality...... 35
3. Uji Nilai VIF (Varian Infated Factor) ..... 36
4. Model Summary(b)....................................................... 37
5. Coefficients(a).... 38

DAFTAR GAMBAR

No.

Halaman

1. Total Produksi ikan cakalang (Katsuwonus pelamis) di wilayah


Teluk Bone, Sulawesi Selatan Tahun 2007... 3
2. Ikan Cakalang (Katsuwonus pelamis).. 5
3. Peta Lokasi Penelitian di Perairan Kolaka .16
4. Lokasi Fishing Base PPI / TPI Kab. Kolaka,
Sulawesi Tenggara.... 21
5. Peta Lokasi Pengambilan Sampel Di Perairan Teluk Bone,
Kab. Kolaka 22
6. Kapal Pole and Line yang Digunakan Selama Penelitian
Di Lokasi Penelitian ...23
7. Alat Tangkap Pole and Line Yang Dioprasikan
Di Lokasi Penelitian ...23
8. Pengambilan Umpan Hidup Di Bagan Rambo,
Di Perairan Teluk Bone, Kab. Kolaka ....... 24
9. Kondisi Fishing Ground di Lokasi Penelitian Di Perairan Teluk Bone,
Kab. Kolaka.... 25
10. Bentuk Kail Yang Di Gunakan Pada Pole And Line. 26
11. Metode Penangkapan Ikan Cakalang Di Perairan Teluk Bone,
Kab. Kolaka........................................................................................... 26
12. Hubungan SPL pada frekuensi upaya penangkapan ikan
Cakalang..

28

13. Hubungan SPL pada jumlah hasil tangkapan ikan cakalang.

28

14. Hubungan salinitas pada frekuensi upaya penangkapan ikan


Cakalang..

29

15. Hubungan salinitas pada jumlah hasil tangkapan ikan Cakalang..

30

16. Hubungan arus pada frekuensi upaya penangkapan ikan


Cakalang 31

17. Hubungan arus pada jumlah hasil tangkapan ikan Cakalang........

31

18. Hubungan kedalaman pada frekuensi upaya penangkapan ikan


Cakalang.. 32
19. Hubungan kedalaman pada jumlah hasil tangkapan ikan Cakalang..33
20. Hubungan kecerahan pada frekuensi upaya penangkapan ikan
Cakalang.. 34
21. Hubungan kecerahan pada jumlah hasil tangkapan ikan Cakalang.. 34

DAFTAR LAMPIRAN

No.
1.

Halaman
Data Oseanografi Daerah Penangkapan Ikan Cakalang di
Perairan Kolaka...

44

2.

Uji Kenormalan Residu Lillie Fors...........................

46

3.

Analisis Regresi Non Linier Berganda Antara Hasil Tangkapan


Dengan Faktor Oseanografi.

47

4.

Scatter Plot Residu

50

5.

Dokumentasi .. 51

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kabupaten Kolaka merupakan salah satu kabupaten di provinsi Sulawesi
Tenggara, Indonesia. Kabupaten Kolaka mencakup jazirah daratan dan kepulauan
yang memiliki wilayah daratan seluas 6.918,38 km dan wilayah perairan/laut
diperkirakan seluas 15.000 km, yang berbatasan dengan :
Sebelah Utara

: Kabupaten Kolaka Utara

Sebelah Selatan : Kabupateb Bombana


Sebelah Barat

: Kota Makassar dan Kabupaten Bone

Sebelah Timur

: Kabupaten Konawe dan Kabupaten Konawe Selatan

Kabupaten Kolaka dipandang dari sudut oseanografi memiliki perairan/laut


yang cukup luas, yaitu diperkirakan mencapai 15.000 km2, yang tentunya memiliki
potensi sumberdaya ikan yang melimpah. Pada tahun 2005 produksi ikan tercatat
sebesar 25.373,20 ton yang terdiri dari produksi ikan laut sebesar 19.253,30 ton dan
ikan darat sebanyak 6.119,90 ton. Salah satu sumberdaya perikanan ekonomis
penting di perairan Kolaka adalah ikan cakalang (Anonim, 2011).
Perikanan cakalang di Indonesia adalah salah satu pilar ekonomi nasional.
Perikanan ini merupakan salah satu sumber devisa bagi negara dan juga
menyediakan lapangan kerja bagi rakyat. Perikanan cakalang ini telah berkembang
terutama di perairan Indonesia bagian Timur. Uktoselja et al. (1989) menyatakan
bahwa potensi cakalang di selatan Sulawesi diperkirakan sebesar 61.800 ton/tahun.
Berdasarkan hasil kajian Widodo et al. (2003) melaporkan bahwa potensi
sumberdaya ikan pelagis besar di WPPI 713 di mana wilayah pengelolaan Teluk

Bone tercakup di dalamnya memiliki potensi sebesar 193.600 ton / tahun dengan
tingkat pemanfaatan 43,96 % sehingga masih memungkinkan untuk dikembangkan.
Cakalang (Katsuwonus pelamis) merupakan sumberdaya ikan yang potensial
dikembangkan khususnya di wilayah perairan Teluk Bone, Kabupaten Kolaka. Jenis
ikan tersebut merupakan salah satu sumber pendapatan penting nelayan. Cakalang
(Katsuwonus pelamis) merupakan salah satu sumber potensi hewani dengan
kandungan omega-3 yang sangat diperlukan oleh tubuh. Sebagai komoditi yang
bernilai ekonomis tinggi dan mempunyai pangsa pasar yang luas (Dinah dkk., 2001).
Distribusi ikan tuna dan cakalang di laut sangat ditentukan oleh berbagai
faktor, baik faktor internal dari ikan itu sendiri maupun faktor eksternal dari
lingkungan. Faktor internal meliputi jenis, umur dan ukuran, serta tingkah laku
(behaviour). Perbedaan genetis ini menyebabkan perbedaan dalam morfologi,
respon fisiologis dan daya adaptasi terhadap lingkungan.

Faktor eksternal

merupakan faktor lingkungan, diantara adalah parameter oseanografis seperti


suhu, salinitas, densitas dan kedalaman lapisan thermoklin, arus dan sirkulasi
massa air, oksigen dan kelimpahan makanan (Lukas dan Lindstrom, 1991)
Kegiatan perikanan cakalang di perairan Teluk Bone di sekitar wilayah teritorial
Kabupaten Kolaka didominasi oleh nelayan tradisional yang menggunakan pole and
line untuk kebutuhan pangan lokal. Kegiatan pemanfaatan cakalang di perairan
tersebut belum dilakukan oleh pengusaha lain selain nelayan setempat. Monintja
(1999), menyatakan bahwa teknologi penangkapan yang umum digunakan di
Indonesia untuk memanfaatkan potensi sumberdaya ikan cakalang adalah purse
seine dan pancing (pole and line, pancing tonda, pancing ulur dan long line).
Huhate atau pole and line khusus dipakai untuk menangkap cakalang. Oleh
karena digunakan hanya untuk menangkap cakalang, maka alat ini sering disebut

pancing cakalang. Huhate dioperasikan siang hari pada saat terdapat gerombolan
ikan di sekitar kapal. Alat tangkap ini bersifat aktif, kapal akan mengejar gerombolan
ikan, setelah gerombolan ikan berada di sekitar kapal lalu diadakan pemancingan
(Gaffa B. 1993).
Cakalang (Katsuwonus pelamis) merupakan ikan perenang cepat dengan
kecepatan 27 75 km/jam, hidup di lapisan permukaan, dilapisan tengah atau di
bawah permukaan, bergerombol hidup di lepas pantai sampai kedalaman 40
200m. Oleh karena itu, alat penangkap ikan yang digunakan haruslah yang sesuai
dengan perilaku ikan tersebut. Pada umumnya nelayan yang ada di wilayah perairan
Teluk Bone menggunakan Pole and Line untuk pemanfataan sumberdaya tersebut.
Produksi ikan cakalang (Katsuwonus pelamis) di perairan Teluk Bone berfluktuasi
dari tahun ke tahun, seperti yang terlihat pada Gambar 1 (Mallawa, 2008).

20000
15000
10000
5000
0

Gambar 1.Total Produksi ikan cakalang (Katsuwonus pelamis) di wilayah Teluk


Bone, Sulawesi Selatan Tahun 2007 (Mallawa, 2008)
Masalah utama yang dihadapi nelayan dalam penangkapan ikan cakalang
(Katsuwonus pelamis) adalah ketidakpastian daerah distribusi dan kelimpahan ikan
perenang cepat tersebut. Dalam operasi penangkapan ikan, pada umumnya nelayan

menentukan

daerah

penangkapan

di

suatu

perairan

hanya

berdasarkan

pengalaman yang berulang ulang dan informasi yang berasal dari sesama nelayan.
Pada penelitian ini diteliti lima parameter oseanografi yakni suhu permukaan laut,
salinitas, kecepatan arus, kedalaman dan kecerahan. Berdasarkan hal tersebut
maka dibutuhkan adanya informasi yang bersifat ilmiah tentang pengaruh
lingkungan atau faktor oseanografi terhadap ikan cakalang (Katsuwonus pelamis)
pada suatu perairan.
B.

Tujuan dan Kegunaan


Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari hubungan antara parameter

oseanografi (suhu permukaan laut, salinitas, kecepatan arus, kedalaman dan


kecerahan) dengan hasil tangkapan alat tangkap ikan cakalang (katsuwonus
pelamis) dan menentukan parameter oseanografi yang paling berpengaruh terhadap
hasil tangkapan tersebut.
Kegunaan dari penelitian ini adalah sebagai informasi tentang daerah
penangkapan ikan cakalang (katsuwonus pelamis) bagi nelayan dan juga sebagai
bahan kajian pemerintah daerah dalam peningkatan ekonomi masyarakat,
khususnya bagi nelayan.

II. TINJAUAN PUSTAKA

A.

Karakteristik Ikan Cakalang (Katsuwonus pelamis)


Cakalang sering disebut skipjack tuna dengan nama lokal Cakalang. Adapun

klasifikasi cakalang menurut Matsumoto, dalam Rukka (2006) adalah sebagai


berikut:
Kingdom: Animalia
Phylum: Chordata
Class: Actonopterygii
Ordo: Perciformes
Genus: Katsuwous
Species: Katsuwonus pelamis

Gambar 2. Ikan Cakalang (Katsuwonus pelamis)


Cakalang termasuk jenis ikan tuna dalam famili Scombridae, spesis
Katsuwonus pelamis. Collete (1983) menjelaskan ciri-ciri morfologi cakalang yaitu
tubuh berbentuk fusiform, memanjang dan agak bulat, tapis insang (gill rakes)
berjumlah 53- 63 buah, terdapat dua lidah atau kuping diantara sirip perutnya, badan

tanpa sisik dan garis rusuknya. Mempunyai dua sirip punggung yang pertama
terdapat 14-16 jari-jari keras, jari-jari lemah pada sirip punggung. Bagian pungung
berwarna biru kehitaman (gelap) dan di sisi bawah perutnya berwarna keperakan.
Cakalang termasuk ikan perenang cepat dan mempunyai sifat makan yang
rakus. Ikan jenis ini sering bergerombol yang hampir sama melakukan ruaya di
sekitar pulau maupun jarak jauh dan senang melawan arus. Ikan ini senang
bergerombol di perairan pelagis hingga kedalaman 200 m. Ikan ini mencari makan
berdasarkan penglihatan dan rakus terhadap mangsanya (Permadi, 2004).
Penyebaran cakalang di perairan Samudra Hindia meliputi daerah tropis dan
sub tropis, penyebaran cakalang ini terus berlangsung secara teratur di Samudra
Hindia di mulai dari Pantai Barat Australia, sebelah selatan Kepulauan Nusa
Tenggara, sebelah selatan Pulau Jawa, Sebelah Barat Sumatra, Laut Andaman,
diluar pantai Bombay, diluar pantai Ceylon, sebelah Barat Hindia, Teluk Aden,
Samudra Hindia yang berbatasan dengan Pantai Sobali, Pantai Timur dan selatan
Afrika (Jones dan Silas, 1963).
Potensi tuna dan cakalang di perairan Indonesia adalah 780.040 ton / tahun
(Dahuri, 2001). Walaupun secara nasional pemanfaatan sumberdaya tuna dan
cakalang masih dapat dilakukan, namun tingkat pemanfaatannya tidak merata di
seluruh perairan Indonesia.
Ikan cakalang menyebar luas di seluruh perairan tropis dan subtropis.
Penyebaran ikan cakalang tidak dipengaruhi oleh perbedaan garis bujur (longitude)
tetapi dipengaruhi oleh perbedaan garis lintang (latitude) (Nakamura, 1969). Di
Samudera Hindia dan Samudera Atlantik menyebar di antara 40LU dan 40LS
(Collete dan Nauen, 1983). Khususnya di Indonesia (Uktolseja et al., 1987),
cakalang hampir didapatkan menyebar di seluruh perairan di Indonesia.

Di

Indonesia bagian barat meliputi Samudera Hindia, sepanjang pantai utara dan timur
Aceh, pantai barat Sumatera, selatan Jawa, Bali dan Nusa Tenggara. Di Perairan
Indonesia bagian timur meliputi Laut Banda Flores, Halmahera, Maluku, Sulawesi,
perairan Pasifik di sebelah utara Papua dan Selat Makasar.
Upaya penangkapan ikan cakalang dapat dilakukan dengan berbagai cara.
Informasi yang didapatkan dari para nelayan menunjukkan bahwa penangkapan
ikan cakalang dapat dilakukan dengan penangkapan bebas dengan menggunakan
tanda tanda alam seperti pada sekawanan ikan lumba lumba di perairan bebas
yang umumnya juga terdapat ikan cakalang, atau di sekitar benda benda yang
terhanyut di tengah laut seperti batang kayu, atau sekelompok burung yang sedang
memburu ikan di tengah laut yang mana ketiga contoh tersebut umumnya digunakan
nelayan untuk menduga bahwa di tempat tersebut terdapat ikan buruan.
Studi yang dilakukan oleh Gaffa et al. (1993) menunjukkan bahwa rumpon
selain berfungsi sebagai alat bantu pengumpul ikan tuna dan cakalang dan ikan-ikan
lainnya, juga berfungsi sebagai penghambat pergerakan ikan tersebut untuk
bermigrasi, sehingga ikan akan berada di perairan sekitar rumpon lebih lama atau
menahan ikan tuna dan cakalang paling tidak sekitar tiga bulan lamanya.
Keberadaan rumpon sebenarnya telah lama dikenal oleh para nelayan, seperti
halnya nelayan sekitar teluk Tomini mengenalnya jenis alat ini dengan sebutan
Rompong Lompo, sementara nelayan di teluk Bone, teluk Mandar dan nelayan di
sekitar Luwu menyebutnya sebagai Rompong Mandor dan ada pula yang
menamakannya Payos. Namun kesemuanya tersebut adalah merupakan rumpon
laut dalam yang ditekankan untuk menangkap ikan-ikan pelagis besar terutama tuna
dan cakalang.

B.

Daerah Dan Musim Penangkapan Ikan Cakalang


Secara garis besarnya, cakalang mempunyai daerah penyebaran dan daerah

migrasi yang luas, yaitu meliputi daerah tropis dan sub tropis dengan daerah
penyebaran terbesar terdapat sekitar perairan khatulistiwa. Daerah penangkapan
merupakan salah satu faktor penting yang dapat menentukan berhasil tidaknya
suatu operasi penangkapan. Dalam hubungannya dengan alat tangkap, maka
daerah penangkapan tersebut haruslah baik dan dapat menguntungkan. Dalam arti
ikan berlimpah, bergerombol, daerah aman, tidak jauh dari pelabuhan dan alat
tangkap mudah dioperasikan (Waluyo, dalam Rukka, 2006).
Menurut Supadiningsih (2004), distribusi ikan cakalang di laut sangat
dipengaruhi oleh faktor eksternal dari lingkungan, diantaranya adalah parameter
oseanografis seperti suhu, salinitas, kecepatan arus dan kedalaman perairan.
Umumnya ikan cakalang dapat trertangkap di perairan dengan kedalaman 0 200
meter dengan salinitas perairan yang disukai berkisar 32 35 ppt dan suhu perairan
berkisar 17 31 OC.
Musim penangkapan ikan cakalang diperairan Indonesia bervariasi. Musim
penangkapan cakalang di suatu perairan belum tentu sama dengan perairan
lainnya. Nikijuluw, dalam Rukka (2006), menyatakan bahwa penangkapan cakalang
di perairan Indonesia dapat dilakukan sepanjang tahun dan hasil yang diperoleh
berbeda dari musim ke musim dan bervariasi menurut lokasi penangkapan. Bila
hasil tangkapan lebih banyak dari biasanya di sebut musim puncak dan apabila hasil
tangkapannya lebih sedikit dari biasanya dinamakan musim paceklik.
Ikan Cakalang tersebar di beberapa tempat sebagai sumberdaya perikanan
komersial di Indonesia terutama di wilayah Indonesia seperti di Laut Banda, laut
sebelah utara irian jaya, dan di Samudera Indonesia (Dirjen Perikanan, 1983).

C.

Faktor Oseanografi
Respon ikan terhadap perubahan lingkungan menunjukkan ikan mempunyai

batas-batas

toleransi

terhadap

perubahan

lingkungan.

Respon

ini

juga

menyebabkan sumber daya ikan terdistribusi di perairan sesuai dengan kondisi


lingkungan, Nybakken (1992) mengemukakan bahwa setiap spesies dalam
komunitas mempunyai daya toleransi tertentu terhadap tiap-tiap faktor lingkungan.
Faktor oseanografi sangat berpengaruh terhadap keberadaan ikan. Ikan
memamfaatkan arus untuk melakukan pemijahan, ataupun mencari makan
sedangkan salinitas air berpengaruh pada produksi , distribusi dan lamanya hidup
ikan (Gunarso, 1985). Tiap spesies ikan menghendaki suhu optimum, perubahan
suhu berpengaruh pada proses metabolisme, sehingga mempengaruhi aktifitas ikan
dalam mencari makanan (Brotowidjoyo dkk., 1985).
Menurut Rais (2008), bahwa dari beberapa faktor oseanografi yang
berpengaruh nyata yakni adalah faktor suhu dan klorofil-a sedangkan faktor-faktor
lain seperti salinitas, kecepatan arus, dan kedalaman tidak berpengaruh nyata.
Maka dengan adanya pernyataan tersebut sehingga perlu diadakannya penelitian
lebih lanjut dengan faktor oseanografi yang berbeda yakni kecerahan perairan.
Adapun beberapa faktor oseanografi yg mempengaruhi hasil tangkapan Ikan
cakalang (Katsuwonus pelamis) adalah sebagai berikut :
1.

Suhu Permukaan Laut


Suhu adalah salah satu faktor penting dalam mengatur proses kehidupan dan

penyebaran organisme. Pada umumnya bagi organisme yang tidak dapat mengatur
suhu tubuhnya mamiliki proses metabolisme yang meningkat dua kali lipat untuk
setiap kenaikan suhu 10 0C (Nybakken, 1992). Selanjutnya dikatakan walaupun
fluktuasi suhu air kurang bervariasi, tetapi tetap merupakan faktor pembatas karena

organisme air mempunyai kisaran toleransi suhu yang sempit (stenoterm).


Perubahan suhu air juga akan mempengaruhi kehidupan dalam air. Selain itu
berpengaruh terhadap keberadaan organisme di perairan, banyak organisme
termasuk ikan melakukan migrasi karena terdapat ketidaksesuaian lingkungan
dengan suhu optimal untuk metabolisme.
Suhu

di

laut

sangat

mempengaruhi

aktivitas

metabolisme

maupun

pengembangbiakan organisme tersebut. Disamping itu suhu berperan terhadap


jumlah oksigen (O2) terlarut dalam air. Semakin tinggi suhu maka semakin kecil
kelarutan oksigen dalam air, sedangkan kebutuhan oksigen bagi ikan dan organisme
lain semakin besar karena tingkat metabolisme semakin tinggi (Laevastu dan Hayes,
1993).
Tiap spesies ikan menghendaki suhu optimum, dan perubahan suhu
terpengaruh pada proses metabolisme, sehingga mempengaruhi aktivitas ikan
dalam mencari makan dan pertumbuhan ikan selain itu juga mempengaruhi massa
air laut (Brotowidjoyo dkk., 1995).
Suhu di permukaan perairan nusantara kita umumnya berkisar antara 280C
310C. Perairan ini terdiri atas laut jawa, Flores, Selat Malaka, Laut Sulawesi, Laut
Cina Selatan, Selat Makassar, Selat Sunda dimana terjadi penarikan air (Up
Welling) terjadi, misalnya di Laut Banda suhu air permukaan bisa turun sampai
berkisar sekitar 250C, ini disebabkan karena air yang dingin dari lapisan bawah
terangkat ke atas (Nontji, 1987).
Menurut Gunarso (1985), beberapa spesies ikan seperti tuna dan cakalang
cenderung pada perairan dengan kisaran suhu tertentu karena spesies ikan ini
sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan. Suhu optimum yang disukai ikan
cakalang untuk perairan Indonesia adalah 28 - 29 C.

2.

Salinitas
Salinitas merupakan konsentrasi rata-rata garam yang terdapat dalam air laut.

Perairan samudera mempunyai kisaran salinitas 34 35 ppt kecuali pada daerah


pantai, karena sering terjadi pengenceran akibat adanya pengaruh aliran sungai,
sehingga menyebabkan salinitas menjadi rendah, sebaliknya di daerah penguapan
yang sangat tinggi salinitas akan meningkat (Nonji,1987), sedangkan menurut
Nybakken (1988) nilai salinitas sangat dipengaruhi oleh suplai air tawar, air laut,
curah hujan, musim, topografi, estuaria, pasang surut dan laju evaporasi. Hal ini
dipertegas oleh pernyataan Brotowidjayo (1995) bahwa variasi salinitas air yang
jauh dari pantai (Off Shore) relatif kecil, sebaliknya di daerah pantai variasi salinitas
relatif besar karena percampuran dengan penambahan air tawar dari sungai.
Hampir semua organisme laut hanya hidup pada ruang perairan yang
mempunyai perubahan salinitas yang sangat kecil (Hutabarat dan Evans, 2000).
Salinitas berpengaruh terhadap osmoregulasi ikan dan berpengaruh besar terhadap
fertilisasi dan perkembangan telur, sebagian besar organisme bersifat stenohaline
yaitu mampu beradaptasi terhadap perubahan salinitas yang sempit (Laevastu dan
Hayes, 1981).
Salinitas air berpengaruh pada produksi, distribusi dan lamanya hidup ikan
serta orientasi migrasi. Salinitas berkaitan erat dengan gejala tekanan osmotik
antara sitoplasma dari sel-sel dalam tubuh ikan dengan keadaan salinitas di
sekitarnya. Ikan cenderung untuk memilih medium dengan kadar salinitas yang lebih
sesuai dengan tekanan osmotik tubuhnya (Gunarso, 1985).
Seckel dan Waldron, dalam Brown dan Sherman (1981), mempelajari
hubungan antara salinitas dengan munculnya ikan cakalang (Katsuwonus pelamis)
di perairan Hawaii. Dari hasil penelitian itu diketahui bahwa hasil penangkapan yang

baik sepanjang tahun terjadi pada waktu perairan itu diliputi air laut dari ekstensi
California dengan kadar salinitas lebih dari 34,7 permil. Sedangkan pada waktu
perairan diliputi air laut yang datang dari sebelah Barat Laut Pasifik, salinitas air laut
akan berkadar 35,0 permil. Clever dan Shimada (1950) mengemukakan bahwa
cakalang hidup pada perairan dengan kadar salinitas antara 33,0 35,0 permil,
mereka jarang dijumpai pada perairan dengan kadar salinitas yang lebih rendah
atau lebih tinggi dari itu.
3.

Kecepatan Arus
Arus diartikan sebagai gerakan air yang menyebabkan terjadinya perpindahan

massa air secara horizontal. Massa air permukaan selalu bergerak, gerakan ini
ditimbulkan terutama oleh kekuatan angin yang bertiup melintasi permukaan air dan
pasang surut. Angin mendorong bergeraknya air permukaan sehingga menghasilkan
suatu gerakan arus horizontal yang laamban, tetapi mampu mengangkat volume air
yang besar melintasi jarak di lautan. Keadaan arus ini mempengaruhi pola
penyebaran organisme laut (Nybakken, 1988).
Menurut

Brotowidjoyo

(1995)

mengemukakan

bahwa

arus

air

laut

mentransportasikan telur ikan, larva ikan dan ikan-ikan kecil, serta sifat-sifat
lingkungan laut secara lokal berubah oleh arus laut. Dalam air yang tenang arah
mobilitas ikan bersifat random namun kenaikan tingkat aktivitasnya memperlihatkan
keragaman yang bergantung pada spesies.
Ikan juga ternyata memanfaatkan arus laut untuk melakukan pemijahan,
mencari makan ataupun sehubungan dengan proses pengembangannya. Hal ini
dapat dilihat pada larva ikan yang hanyut dari areal pemijahan (spawning ground)
menuju areal pembesaran (nursery ground) yang berdekatan dengan areal makanan
(feeding area) mereka (Gunarso, 1985).

Pada bulan November Mei dipengaruhi oleh angin musim dari tenggara,
mencapai puncaknya pada bulan Juni Agustus dan disebut sebagai musim timur
karena angin bertiup dari Timur ke Barat. Sedangkan pada bulan Desember April
dipengaruhi oleh angin musim dari Barat Laut, mencapai puncaknya pada bulan
Desember Februari dan disebut sebagai musim barat karena angin bertiup dari
Barat ke Timur. Bulan Maret Mei dan September November disebut sebagai
musim peralihan (Pancaroba), dimana pada musim ini angin bertiup tidak menentu.
Pada setiap awal periode musim ini, pengaruh angin musim sebelumnya masih kuat
(Nontji, 1993).
4.

Kedalaman
Perairan Indonesia pada umumnya dibagi dua yakni perairan dangkal yang

berupa paparan dan perairan laut dalam. Paparan atau perairan laut dangkal adalah
zona laut terhitung mulai garis sudut terendah hingga pada kedalaman sekitar 120 200 meter, yang kemudian biasanya disusul dengan lereng yang lebih curam kearah
laut (Nontji, 1993).
Faktor

kedalaman

sangat

berpengaruh

dalam

pengamatan

dinamika

oseanografi dan morfologi pantai seperti kondisi arus, ombak, dan transpor sedimen.
Hutabarat dan Evans (1984) mengemukakan bahwa kedalaman berhubungan erat
dengan stratifikasi suhu vertikal, penetrasi cahaya, densitas dan kandungan zat-zat
hara.
Pada perikanan pancing yang menggunakan tali pancing maka pengetahuan
sehubungan dengan kedalaman tempat beradanya ikan yang menjadi tujuan
penangkapan akan berpengaruh juga dengan panjangnya tali pancing dan pemberat
yang dipakai serta kekuatan tali pancing yang harus mampu menahan beban jika
ikan yang dituju berhasil terpancing. Millot dan Treide dalam Von Brandt, (1969)

menyatakan bahwa, seorang pemancing yang walau tanpa bantuan peralatan


memadai dapat mengetahui keberadaan ikan, ternyata mereka dapat melakukan
pemancingan wlau pada kedalaman 100 meter sekalipun yang jauh dari tepi pantai.
Hal ini tentu saja dilatar belakangi oleh pengetahuan yang dimiliki pemancing
tersebut yang diperoleh dari pengalaman mereka.
5.

Kecerahan
Cahaya yang masuk ke dalam air akan mengalami pereduksian yang jauh

lebih besar bila dibandingkan dalam udara. Hal tersebut terutama disebabkan oleh
adanya penyerapan dan perubahan. Cahaya menjadi beberapa bentuk energi,
sehingga cahaya tersebut akan cepat sekali tereduksi sejalan dengan semakin
dalam suatu perairan. Pembalikan dan pencemaran cahaya yang disebabkan oleh
berbagai partikel dalam air dan keadaan cuaca dan gelombang banayak
memberikan andil pada pereduksian cahaya yang diterima air tersebut (Wahyono
dan Prabowo, 2009)
Ikan, sebagaimana hewan hidup lainnya mempunyai suatu kemampuan yang
mengagumkan untuk dapat melihat pada waktu siang hari dengan kekuatan
penerangan ratusan ribu lux. Kuat penerangan ini sangat ertat hubungannya dengan
tingkat sensitivitas penglihatan ikan, dengan kata lain bahwa berkurangnya derajat
penerangan akan menyebabkan berkurangnya jarak penglihatan ikan.
Ketajaman warna yang dapat dilihat oleh mata ikan juga merupakan hal yang
penting. Pada kenyataannya, jelasnya sesuatu yang mampu diindera oleh mata ikan
memungkinkan ikan tersebut dapat membedakan benda-benda dengan ukuran
tertentu dari suatu jarak yang cukup jauh. Semakin kabur tampak sesuatu benda
bagi mata ikan, maka hal tersebut berarti bahwa kemampuan mata ikan untuk

menangkap kekontrasan benda itu terhadap latar belakangnya semakin berkurang,


begitu pula dengan sebaliknya.
Tomura dan Wisby dalam Wodhead (1986) mengemukakan hasil penelitiannya
terhadap beberapa jenis ikan tuna seperti cakalang, black fin, little tuna, wahoo dan
jenis mackerel besar mereka memiliki pengkonsentrasian terhadap cahaya sangat
tinggi.

III. METODE PENELITIAN

A.

Waktu dan Tempat


Penelitian ini dilaksanakan pada bulan November Desember

2011 di

Perairan Kolaka, Provinsi Sulawesi Tenggara. Perairan kolaka merupakan perairan


yang termasuk dalam cakupan wilayah perairan Teluk Bone, seperti yang terlihat
pada peta lokasi penelitian di bawah ini:

Gambar 3. Peta Lokasi Penelitian di Perairan Kolaka

B.

Alat dan Bahan


Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis peralatan dan kegunaan

alat, dapat dilihat pada Tabel 1 berikut :


Tabel 1. Peralatan Yang Digunakan Dalam Penelitian
NO
1.

Peralatan

Kegunaan

Alat Tangkap Pole and Line

Untuk menangkap ikan (Cakalang)

Global Positioning System

Untuk mengetahui titik koordinat

(GPS)

daerah operasi penangkapan

3.

Termometer

Untuk mengukur suhu permukaan laut

4.

Salinometer

Untuk mengukur salinitas

5.

Layangan Arus

Untuk mengukur kecepatan arus

6.

Etopo2 (Soft Ware)

Untuk mengetahui kedalaman perairan

7.

Seichi disc

Untuk mengukur kecerahan perairan

2.

Adapun bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah ikan cakalang
(Katsuwonus Pelamis).
C.

Metode Pengambilan Data


Pengambilan data dilakukan dengan observasi langsung di lapangan dengan

mengikuti operasi penangkapan pada satu unit kapal pole and line di perairan
Kolaka. Adapun tahap pengambilan data yaitu sebagai berikut :
1. Tahap persiapan
Tahap ini meliputi studi pendahuluan yaitu studi literatur, observasi lapangan,
konsultasi dengan beberapa pihak utamanya dosen pembimbing dan menyiapkan
peralatan yang digunakan dalam kegiatan penelitian.

2. Tahap penentuan stasiun


Penentuan stasiun dilakukan berdasarkan titik daerah penangkapan nelayan,
dengan berdasarkan informasi daerah dan musim penangkapan dari nelayan
setempat, agar daerah yang diamati merupakan daerah tempat ikan objek penelitian
tertangkap.
3. Tahap pengambilan data
Tahap ini meliputi pengambilan data terhadap parameter oseanografi seperti
suhu permukaan laut, salinitas, kecepatan arus dan kecerahan serta hasil
tangkapan dengan melakukan pengukuran langsung di lapangan. Sedangkan data
kedalaman diperoleh dari data yang didownload dari Etopo2 yang kemudian diolah
dengan menggunakan software ArcView GIS 3.3 untuk menentukan kedalaman
perairan pada di setiap titik koordinat daerah fishing ground.
D. Analisis Data
Analisis yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Uji Pra Model Analisis
Regresi. Kemudian untuk menyatakan hubungan antara hasil tangkapan dengan
parameter oseanografi, digunakan Analisis Regresi Non Linier Berganda, untuk
mengetahui variabel signifikan dari setiap parameter.
1.

Uji Pra Model Analisis Regresi


Analisis regresi digunakan untuk mendefinisikan hubungan matematis antara

variabel dependent (Y) dengan satu atau beberapa variabel independent (X), ada
beberapa asumsi mendasar dalam analisis regresi, yaitu :
a.

Residu mengikuti distribusi normal


artinya dilakukan pemeriksaan melalui pengujian normalitas residual, dengan
melihat uji statistik Kolmogorov Smirnov dimana nilai p-value > 0,05. Uji

kenormalan bisa dilihat juga dari hasil grafik normal P-Plot, dimana pencaran
residual harus berada di sekitar garis lurus melintang.
b.

Varians residu konstan untuk setiap pengamatan (homoskedastisitas)


artinya tidak adanya problem heteroskedastisitas, yang dapat dilihat dari hasil
scatter plot, dimana data tidak membentuk suatu pola tertentu.

c.

Tidak Terdapat Autokorelasi antara residu untuk setiapa data pengamatan


pengujian

dengan

melihat

tidak

adanya

problem

autokorelasi

yang

dintunjukkan oleh nilai Durbin Watson, dengan kriteria keputusan : apabila nilai
Durbin Watson d < du atau (4 du),du maka hipotesis nol ditolak, sebaliknya
jika du < d < 4- du maka hipotesis nol diterima.
d.

Tidak terdapat problem multikolineritas antara variabel independen


Pemeriksaan ini dapa dilihat dari nilai VIF >10, maka dapat dikatakan terdapat
gejala multikolinneritas, tetapi apabila nilai VIF < 10, maka dikatakan tidak
adanya problem multikolineritas, yang artinya bahwa tidak terdapat hubungan
linear yang sangat tinggi antara variabel independen.

2.

Analisis Regresi Non Linier Berganda


Analisis regresi non linier barganda adalah hubungan antara dua atau lebih

variabel independen (bebas). Pada analisis ini akan terlihat variabel bebas (X) mana
diantara suhu permukaan laut, salinitas, kecepatan arus, kedalaman dan kecerahan
yang berpengaruh nyata terhadap hasil tangkapan, sebagai variabel tak bebas (Y).
Analisis Non Linier Berganda dapat dilihat dalam persamaan berikut :
Y = a X1b1 X2b2 X3b3 X4b4 X5 b5
Dimana:
Y = Jumlah total hasil tangkapan
a

= Koefisien intercept (konstanta)

b1 = Koefisien regresi parameter suhu


X1 = Suhu permukaan laut (0C)
b2 = Koefisien regresi salinitas
X2 = Salinitas perairan ()
b3 = Koefisien regresi kecepatan arus
X3 = Kecepatan arus perairan (m/s)
b4 = Koefisien regresi kedalaman
X4 = Kedalaman perairan (m)
b5 = Koefisien Kecerahan
X5 = Kecerahan perairan (m)
3.

Analisis Korelasi Ganda


Analisis korelasi ganda digunakan untuk mengetahui hubungan antara dua

atau lebih variabel independen (X) terhadap variabel dependen (Y) secara serentak.
Koefisien ini menunjukkan seberapa besar hubungan yang terjadi antara variabel
independen (X) secara serentak terhadap variabel dependen (Y).
4.

Analisis Koefisien Regresi (Uji T)


Analisis koefisien regresi (Uji T) digunakan untuk mengetahui signifikasi

koefisien regresi antara variabel bebas (Independent) terhadap variabel tak bebas
(Dependent). Dari tabel summary output diperoleh nilai significant dengan hipotesis
dimana jika nilai Thitung < Ttabel pada taraf uji 0,05 berarti Ho diterima dan HI ditolak,
demikian pula jika nilai Thitung > Ttabel pada taraf uji 0,05 berarti Ho ditolak dan HI
diterima.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Keadaan Umum Daerah Penelitian


Kolaka merupakan salah satu daerah fishing ground yang dianggap
representatif terhadap pergerakan ikan cakalang di sekitar perairan Teluk Bone.
Berdasarkan analisis lokasi Fishing base yang dilakukan dengan cara berkunjung
langsung ke tempat tersebut dan melakukan wawancara kepada pemilik kapal dan
para nelayan setempat, didapatkan bahwa nelayan melakukan penangkapan ikan di
Teluk Bone yaitu di sekitar wilayah teritorial Kabupaten Selayar dan Kolaka
sehingga memungkinkan untuk melakukan sampling karena daerah tersebut masuk
dalam batasan administratif penelitian ini dengan fishing base di Kabupaten Kolaka.

Gambar 4. Lokasi Fishing Base PPI / TPI Kab. Kolaka, Sulawesi Tenggara
Alat tangkap Pole and Line yang digunakan selama penelitian adalah alat
tangkap yang dioperasikan di perairan Teluk Bone dengan fishing base yang
digunakan selama penelitian adalah PPI / TPI Kab. Kolaka (040 03 37,7 LS dan
1210 34 38.4 BT).
Selama kegiatan penelitian terdapat 56 titik koordinat pengambilan sampel
yang tersebar di perairan Teluk Bone. Titik penangkapan tersebut diperoleh dari
kegiatan operasi penangkapan pole and line setiap kali dilakukan kegiatan

pemancingan. Adapun titik pengambilan sampel, dapat dilihat pada Gambar 5


berikut.

Gambar 5. Peta Lokasi Pengambilan Sampel Di Perairan Teluk Bone, Kab. Kolaka
B. Deskripsi Alat Tangkap
1. Kapal Pole and Line
Konstruksi kapal pole and line yang digunakan di Kab. Kolaka cenderung
sama dengan konstruksi kapal pole and line pada umumnya. Kapal-kapal tersebut
sebagian besar di buat di PPI Lappa Kabupaten Sinjai, dan tidak sedikit pula yang
dibuat di luar Pulau Sulawesi seperti Kalimantan.

Gambar 6. Kapal Pole and Line yang Digunakan Selama Penelitian Di Lokasi
Penelitian
2. Alat Tangkap Pole and Line
Alat tangkap Pole and Line biasa juga disebut sebagai Huhate, khusus
dipakai untuk menangkap ikan cakalang dan madidihang (yellow fin tuna) yang
hidup di bagian permukaan. Huhate dioperasikan sepanjang hari pada saat terdapat
gerombolan ikan di sekitar kapal. Alat tangkap pole and line ini terdiri dari joran
(tangkai pancing), tali pancing, mata pancing dan bulu ayam. Adapun deskripsi alat
tangkap pole and line adalah sebagi berikut:

Gambar 7. Alat Tangkap Pole and Line Yang Dioprasikan Di Lokasi Penelitian

a.

Joran (Tangkai Pancing), bagian ini terbuat dari bambu yang mempunyai tingkat
elastisitas yang baik. Yang digunakan adalah bambu yang berwarna kuning,
panjang joran berkisar 2 2,5 meter dengan diameter pada bagian 3 4 cm
dan pada bagian ujung sekitar 1 1,5 cm.

b.

Tali Utama (main line), terbuat dari bahan sintesis polythelen dengan panjang
sekitar 1,5 2 meter yang sesuai dengan panjang joran yang digunakan.

c.

Tali Sekunder, terbuat dari bahan monopilamen berupa tasi berwarna putih
sebagai pengganti kawat baja (wire leader) dengan panjang berkisar 20 cm.
Hal ini dimaksudkan untuk mencegah terputusnya tali utama (main line) dengan
mata pancing sebagai akibat gigitan ikan cakalang.

d.

Mata Pancing (hook), mata pancing yang digunakan adalah mata pancing yang
tidak berkait balik dengan nomor mata pancing yang digunakan adalag 2,5
2,8. Pada bagian atas mata pancing terdapat timah berbentuk slinder dengan
panjang sekitar 2 cm dan berdiameter 8 mm dilapisi nikel sehingga berwarna
mengkilap dan menarik perhatian ikan cakalang. Selain itu, pada sisi luar
silinder terdapat cincin sebagai tempat mengikat tali sekunder. Di bagian mata
pancing dilapisi dengan guntingan tali rapia berwarna merah yang membungkus
rumbai-rumbai.

Gambar 8. Pengambilan Umpan Hidup Di Bagan Rambo, Di Perairan Teluk Bone,


Kab. Kolaka

Proses penangkapan ikan dimulai dengan pengambilan umpan hidup pada


bagan rambo, biasanya dari jenis ikan teri (Stolephorus spp). Umpan yang
digunanakan adalah umpan hidup, dimaksudkan agar setelah ikan umpan hidup
dilempar ke perairan akan berusaha kembali naik ke permukaan air. Hal ini akan
mengundang ikan cakalang untuk mengikuti naik ke dekat permukaan. Selanjutnya
dilakukan penyemprotan air melalui sprayer. Penyemprotan ini dimaksudkan untuk
mengaburkan pandangan ikan, sehingga tidak dapat membedakan antara ikan
umpan sebagai makanan atau mata pancing yang kemudian menuju daerah
penangkapan ikan.

Gambar 9. Kondisi Fishing Ground di Lokasi Penelitian Di Perairan Teluk Bone, Kab.
Kolaka
Setelah berada di daerah penangkapan ikan, maka salah seorang pemantau
naik ke deck paling atas (biasanya fishing master atau boy-boy) untuk melihat
gerombolan ikan tuna dan cakalang. Bila gerombolan ikan telah ditemukan maka
kapal diusahakan mendekat. Ciri-ciri yang biasa diguakan untuk penentuan Fishing
Ground adalah dengan melihat banyaknya burung-burung yang menukik di sekitar
areal penangkapan atau menggunakan alat bantu rumpon.

Gambar 10. Bentuk kail yang digunakan pada pole and line
Setelah menemukan daerah fishing ground, kemudian umpan hidup di tebar
ke dalam gerombolan ikan cakalang tersebut, dimaksudkan untuk menarik perhatian
dan mengumpulkan ikan tersebut di sekitar kapal untuk memudahkan melakukan
pemancingan. Disamping itu, dilakukan penyemprotan air untuk mengecoh
penglihatan ikan. Selanjutnya dilakukan pemancingan dengan pancing yang tidak
berkail balik karena metode pemancingan dengan cara disentakkan ke arah
belakang pemancing kemudian ikan secara otomatis terlepas dari kail pancing.

Gambar 11. Metode Penangkapan Ikan Cakalang Di Perairan Teluk Bone, Kab.
Kolaka

Proses pemancingan dilakukan di bagian haluan kapal dengan posisi para


pemancing disesuaikan dengan keahlian masing masing pemancing. Hal ini
bertujuan untuk memperoleh hasil tangkapan yang maksimal dari setiap daerah
fishing ground yang ditemukan, karena proses pemancingan dilakukan dengan cara
yang cepat. Lama pemancingan tergantung pada keberadaan ikan di sekitar daerah
fihing ground tersebut, dan jika jumlah ikan yang dipancing sudah mulai berkurang
maka pemancingan dihentikan dan nahkoda kembali menjalankan kapal untuk
mencari daerah fishing ground yang lain.
C.

Hubungan Parameter Oseanografi Terhadap Hasil Tangkapan


Hasil pengukuran beberapa parameter oseanografi (suhu permukaan laut,

salinitas, kecepatan arus, kedalaman dan kecerahan)

diperoleh 56 lokasi

pengambilan sampel di perairan Kolaka. Selama penelitian, diperoleh total jumlah


hasil tangkapan keseluruhan dari setiap trip yaitu 7.388 ekor dengan jumlah rata
rata ikan cakalang tertangkap yaitu 132 ekor (Lampiran 1). Untuk pengukuran
parameter oseanografi dilakukan sesuai dengan waktu dan tempat penangkapan
ikan, yaitu pada pagi hari sampai sore hari dimana lokasi penangkapan rata-rata
setiap trip sebanyak lima daerah fishing ground.
1. Suhu Permukaan Laut
Suhu merupakan faktor penting untuk menentukan penilaian sesuatu daerah
penangkapan ikan (Fishing Ground). Suhu permukaan yang disukai untuk ikan
cakalang dan tuna biasanya antara 26oC 29oC dengan suhu optimum 28oC 30oC
(Hela dan Laevestu,1961). Grafik yang menunjukkan hubungan antara suhu
permukaan laut dan hasil tangkapan ikan cakalang, dapat dilihat pada Gambar 12.

Frekuensi Upaya Penangkapan


(Jumlah Pemancingan)

30
25
20
15
10
5
0
29.7-29.9

30.0-30.2
30.3-30.5
30.6-30.8
Suhu Permukaan Laut (oC)

30.9-40.0

Gambar 12. Hubungan SPL pada frekuensi upaya penangkapan ikan Cakalang
Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh kisaran suhu permukaan perairan
dimana ikan cakalang tertangkap yaitu pada kisaran suhu antara 29,7 40,0 0C.
Pada Gambar 12, diperoleh bahwa rata-rata hasil tangkapan ikan cakalang tertinggi
yaitu pada kisaran suhu 30,0 30,2 0C, dengan frekuensi tangkapan terbanyak

Jumlah Hasil Tangkapan (Ekor)

sebanyak 23 kali pemancingan.


4000
3500
3000
2500
2000
1500
1000
500
0
29.7-29.9

30.0-30.2

30.3-30.5

30.6-30.8

30.9-40.0

Suhu Permukaan Laut (oC)

Gambar 13. Hubungan SPL pada jumlah hasil tangkapan ikan Cakalang

Berdasarkan grafik pada Gambar 13, dapat diketahui bahwa jumlah hasil
tangkapan ikan cakalang tertinggi yaitu pada kisaran suhu 30,0 30,2 0C, dengan
total hasil tangkapan sebanyak 3.200 ekor. Menurut Royce (1984), Suhu lingkungan
sangat terkait dengan pertumbuhan dan siklus hidup ikan seperti pemijahan dan
perkembangan telur. Selain itu ikan melakukan migrasi karena suhu lingkungan
yang tidak sesuai untuk kehidupan ikan tersebut. Suhu di laut sangat mempengaruhi
aktivitas metabolisme maupun pengembangbiakan organisme tersebut. Disamping
itu suhu berperan terhadap jumlah oksigen (O2) terlarut dalam air. Semakin tinggi
suhu maka semakin kecil kelarutan oksigen dalam air, sedangkan kebutuhan
oksigen bagi ikan dan organisme lain semakin besar karena tingkat metabolisme
semakin tinggi.
2. Salinitas
Salinitas merupakan ukuran bagi jumlah zat padat yang larut dalam suatu
volume air dan dinyatakan dalam satuan ppt. Sebaran salinitas laut dipengaruhi oleh
faktor seperti pola sirkulasi air, penguapan, curah hujan dan aliran air sungai. Grafik
yang menunjukkan hubungan antara salinitas dan hasil tangkapan ikan cakalang,

Frekuensi Upaya Penangkapan


(Jumlah Pemancingan)

dapat dilihat pada Gambar 14.


30
25
20
15
10
5
0
27.0-28.0

28.1-29.0

29.1-30.0

Salinitas (ppt)

Gambar 14. Hubungan salinitas pada frekuensi upaya penangkapan ikan Cakalang

Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh kisaran salinitas perairan dimana ikan


cakalang tertangkap yaitu pada salinitas antara 27,0 30,0 ppt. Pada Gambar 14,
dapat diketahui bahwa kadar salinitas perairan antara 29,1 30,0 ppt memiliki hasil

Jumlah Hasil Tangkapan (Ekor)

tangkapan tertinggi dengan frekuensi tangkapan sebanyak 23 kali pemancingan.


4000
3500
3000
2500
2000
1500
1000
500
0
27.0-28.0

28.1-29.0

29.1-30.0

Salinitas (ppt)

Gambar 15. Hubungan salinitas pada jumlah hasil tangkapan ikan Cakalang
Berdasarkan grafik pada Gambar 15, dapat diketahui bahwa kadar salinitas
perairan antara 29,1 30,0 ppt memiliki hasil tangkapan tertinggi dengan total hasil
tangkapan sebanyak 3.400 ekor. Hela dan Laevestu (1970), menyatakan bahwa
salinitas erat hubungannya dengan adanya penyesuaian tekanan osmotik tubuh ikan
seperti cakalang yang cenderung berada pada kadar salinitas 28ppt 30ppt. Hal ini
dikarenakan ikan cenderung untuk memilih medium dengan kadar salinitas yang
lebih sesuai dengan tekanan osmotik tubuh mereka masing-masing.
3. Kecepatan Arus
Arus adalah salah satu parameter oseanografi yang diamati dalam penelitian
ini untuk mendapatkan gambaran tentang pengaruh arus terhadap jumlah
tangkapan. Grafik yang menunjukkan hubungan antara kecepatan arus dan hasil
tangkapan ikan cakalang, dapat dilihat pada Gambar 16.

Frekuensi Upaya Penangkapan


(Jumlah Pemancingan)

30
25
20
15
10
5
0
0.10-0.25

0.26-0.35

0.36-0.45

0.46-0.55

0.56-0.65

Kec. Arus (m/s)

Gambar 16. Hubungan arus pada frekuensi upaya penangkapan ikan Cakalang
Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh kisaran kecepatan arus perairan
dimana ikan cakalang tertangkap yaitu pada kecepatan arus antara 0,10 0,65 m/s.
Pada Gambar 16, dapat diketahui bahwa kecepatan arus perairan antara 0,36
0,45 m/s memiliki hasil tangkapan tertinggi dengan frekuensi tangkapan sebanyak
18 kali pemancingan.

Jumlah Hasil Tangkapan (Ekor)

4000
3500
3000
2500
2000
1500
1000
500
0
0.10-0.25

0.26-0.35

0.36-0.45

0.46-0.55

0.56-0.65

Kec. Arus (m/s)

Gambar 17. Hubungan arus pada jumlah hasil tangkapan ikan Cakalang

Berdasarkan grafik pada Gambar 17, dapat diketahui bahwa kecepatan arus
perairan antara 0,36 0,45 m/s memiliki hasil tangkapan tertinggi dengan total hasil
tangkapan sebanyak 1.900 ekor. Arus dan perubahannya sangat penting dalam
operasi penangkapan, perubahan dalam kelimpahan dan keberadaan ikan
(Laevastu dan Hayes, 1981). Ikan bereaksi secara langsung terhadap perubahan
lingkungan yang dipengaruhi oleh arus dengan mengarahkan dirinya secara
langsung pada arus.
4. Kedalaman
Kedalaman perairan merupakan salah satu faktor oseanografi yang sangat
erat kaitannya dengan kelimpahan sumberdaya perikanan cakalang di suatu
perairan. Grafik yang menunjukkan hubungan antara kedalaman dan hasil

Frekuensi Upaya Penangkapan


(Jumlah Pemancingan)

tangkapan ikan cakalang, dapat dilihat pada Gambar 18.


30
25
20
15
10
5
0
887-1200

1201-1400

1401-1600

1601-1800

1801-2100

Kedalaman (m)

Gambar 18. Hubungan kedalaman pada frekuensi upaya penangkapan ikan


Cakalang
Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh kisaran kedalaman perairan dimana
ikan cakalang tertangkap yaitu pada kisaran kedalaman antara 887 2100 m. Pada
Gambar 18, dapat diketahui bahwa kedalaman perairan 1601 1800 m memiliki

hasil

tangkapan

tertinggi

dengan

frekuensi

tangkapan

sebanyak

18

kali

pemancingan.

Jumlah Hasil Tangkapan (Ekor)

4000
3500
3000
2500
2000
1500
1000
500
0
887-1200

1201-1400

1401-1600

1601-1800

1801-2000

Kedalaman (m)

Gambar 19. Hubungan kedalaman pada jumlah hasil tangkapan ikan Cakalang
Berdasarkan grafik pada Gambar 19, dapat diketahui bahwa kedalaman
perairan antara 1601 1800 m memiliki hasil tangkapan tertinggi dengan total hasil
tangkapan sebanyak 2.500 ekor. Kedalaman berhubungan erat dengan stratifikasi
suhu vertikal, penetrasi cahaya, densitas dan kandungan zat zat hara. Dengan
hubungan yang erat tersebut memungkinkan suatu kondisi yang membentuk ciri
khas dimana ikan-ikan pelagi berasosiasi pada jarak kedalaman tertentu (Hutabarat
dan Evans, 1985).
5. Kecerahan
Kecerahan merupakan salah satu faktor oseanografi yang juga sangat
berpengaruh terhadap hasil tangkapan ikan di suatu wilayah tertentu. Hal ini
disebabkan karena ikan memiliki tingkat sensitivitas yang cukup tinggi terhadap
cahaya (Wodhead 1986). Grafik yang menunjukkan hubungan antara kecerahan
dan hasil tangkapan ikan cakalang, dapat dilihat pada Gambar 20.

Frekuensi Upaya Peangkapan


(Jumlah Pemancingan)

30
25
20
15
10
5
0
6.5-7.5

7.6-8.5

8.6-9.5

Kecerahan (m)

Gambar 20. Hubungan kecerahan pada frekuensi upaya penangkapan Cakalang


Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh kecerahan perairan dimana ikan
cakalang tertangkap yaitu antara 6,5 9,5 m. Pada Gambar 20, dapat diketahui
bahwa kecerahan perairan 7,6 8,5 m, memiliki hasil tangkapan tertinggi dengan

Jumlah Hasil Tangkapan (Ekor)

frekuensi tangkapan sebanyak 27 kali pemancingan.


4000
3500
3000
2500
2000
1500
1000
500
0
6.5-7.5

7.6-8.5

8.6-9.5

Kecerahan (m)

Gambar 21. Hubungan kecerahan pada jumlah hasil tangkapan ikan Cakalang
Berdasarkan grafik pada Gambar 21, dapat diketahui bahwa kecerahan
perairan antara 7,6 8,5 m memiliki hasil tangkapan tertinggi dengan total hasil
tangkapan sebanyak 3.400 ekor. Wahyono dan Prabowo (2009), mengemukakan
bahwa tingkat kecerahan sangat dipengaruhi oleh intensitas cahaya yang masuk ke

dalam perairan dan tingkat sedimentasi di perairan tersebut. Hal ini tentunya juga
sangat berpengaruh terhadap jarak penglihatan pada ikan khususnya dalam
mencari makan.
D. Analisis Parameter Oseanografi Terhadap Hasil Tangkapan
Keterkaitan beberapa parameter oseanografi yang diukur terhadap hasil
tangkapan pole and line ditentukan berdasarkan jumlah total ikan yang tertangkap.
Data diolah dengan menggunakan program SPSS (Statistical Package for the Sosial
Sciences) versi 15, sedangkan untuk mengetahui parameter-parameter oseanografi
yang memiliki keterkaitan dengan jenis ikan hasil tangkapan pole and line maka
dilakukan uji lanjutan (Uji T).
Data parameter oseanografi yang terukur dijadikan sebagai variabel
independent (X) sedangkan jumlah jumlah total hasil tangkapan dijadikan sebagai
variabel dependent (Y). Dengan demikian, maka digunakan analisis regresi non
linier berganda untuk mengetahui seberapa besar pengaruh setiap variabel
independent (suhu, salinitas, kecepatan arus, kedalaman dan kecerahan) terhadap
variabel dependent (hasil tangkapan), dengan persamaan sebagai berikut :
Y = a X1b1 X2b2 X3b3 X4b4 X5 b5
Dengan model tersebut akan terlihat keterkaitan beberapa parameter
oseanografi yang diukur baik secara bersamaan maupun secara parsial melalui
model yang tepat untuk masing-masing variabel yang terikat. Berdasarkan hasil uji
kenormalan residu hasil tangkapan, diperoleh nilai residu hasil tangkapan mengikuti
distribusi normal. Dari hasil uji Lilie Fors dapat dilihat dari Lampiran 2 dan Tabel 2.
Tabel 2. Tests of Normality
Kolmogorov-Smirnov(a)
Statistic
Df
Sig.
Hasil.Tangkapan
.112
56
.077
a Lilliefors Significance Correction

Statistic
.969

Shapiro-Wilk
df
56

Sig.
.157

Hasil dari uji Lilie Fors (Tabel 2), dimana dari hasil pegujian ini diperoleh nilai
signifikasi adalah 0,077. Dengan demikian dapat diketahui bahwa nilai residu hasil
tangkapan berdistribusi normal dengan mengikuti asumsi bahwa nilai p-value lebih
besar dari 0,05, (p-value > 0,05).
Uji pra model kedua yaitu tidak adanya problem heteroskedastisitas pada
residual. Dari scatter plot yang sudah distandarkan, (Lampiran 4) terlihat bahwa data
tidak membentuk pola tertentu sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak adanya
problem heteroskedastisitas pada residual, yang artinya data tidak dimanipulasi.
Uji pra model ketiga yaitu tidak terdapat autokorelasi antara residu. Dapat
diiketahui bahwa nilai summary Durbin Watson (Lampiran 3) dimana d = 1,788 dan
tabel Durbin Watson dengan n = 1,7678 yang dilihat dari tabel Durbin Watson
dengan n = 56 dan k = 5 . Oleh karena nilai ( 4 1,788) > 1,7678, maka hipotesis
nol diterima artinya tidak ada autokorelasi antar residu, dengan melihat kriteria
keputusan tolak hipotesis nol bila nilai Durbin Watson ( 4 - du ) < du atau terima
hipotesis nol bila du < d < 4 - du.
Uji pra model keempat yaitu tidak terdapat multikolineritas antara variabel
independen, yang dapat dilihat dari Lampiran 3 dan Tabel 3.
Tabel 3. Uji Nilai VIF (Varian Infated Factor)
Model
1

Collinearity Statistics
Tolerance
VIF
(Constant)
Suhu

.955

1.047

Salinitas

.921

1.086

Kec.Arus

.970

1.031

.983
Kecerahan
.965
a Dependent Variable: H.Tangkapan

1.017
1.037

Kedalaman

Pemeriksaan uji pra model keempat dapat dilihat dari hasil regresi diatas
dimana nilai VIF (Varian Infated Factor) < 10. Dengan demikian dapat disimpulkan

bahwa tidak adanya problem

multikoloniretas, yang artinya tidak ada hubungan

linear antara variable independen.


Berdasarkan hasil analisis regresi non linier berganda, diperoleh nilai korelasi
antara variabel hasil tangkapan dengan variabel parameter oseanografi (suhu
permukaan laut, salinitas, kecepatan arus, kedalaman dan kecerahan). Untuk
korelasi tersebut, dapat dilihat pada Lampiran 3 dan Tabel 4.
Tabel 4. Model Summary(b)
Model
1

Adjusted R
Square

R Square
.489(a)

.239

.163

Std. Error of the


Estimate
.1925113

a Predictors: (Constant), Kecerahan, Kedalaman, Kec.Arus, Suhu, Salinitas


b Dependent Variable: H.Tangkapan

Berdasarkan output dari analisis korelasi (Tabel 4), diperoleh nilai R sebesar
0.489. dengan demikian, nilai tersebut berada diantara 0,40 0,599, maka dapat
disimpulkan bahwa terjadi korelasi yang sedang antara faktor oseanografi dan hasil
tangkapan, dengan mengikuti asumsi pedoman dalam memberikan interpretasi
koefisien korelasi sebagai berikut :

0,00 0,199 = sangat rendah

0,20 0,399 = rendah

0,40 0,599 = sedang

0,60 0,799 = kuat

0,80 1,000 = sangat kuat


Berdasarkan output model summary dari hasil analisis determinasi diperoleh

nilai R2 (R square) sebesar 0,239. Hal ini menunjukkan bahwa suhu permukaan laut,
salinitas, kecepatan arus, kedalaman dan kecerahan mempengaruhi hasil
tangkapan sebesar 23,9%, sedangkan sisanya yaitu 76,1% dipengaruhi oleh faktor
lain.

Untuk mengetehui signifikasi koefisien regresi antara faktor oseanografi


(independent) dengan hasil tangkapan ikan cakalang (dependen), maka diperlukan
uji T seperti yang tertera pada Lampiran 3 dan Tabel 5.
Tabel 5. Coefficients(a)
Model

Unstandardized
Coefficients

Standardized
Coefficients
Beta

Sig.

Std. Error

(Constant)

-21.674

9.099

-2.382

.021

Suhu

13.215

5.634

.296

2.345

.023

Salinitas

1.811

1.707

.136

1.061

.294

Kec.Arus

-.126

.144

-.110

-.881

.382

Kedalaman

.667
-.708

.283
.675

.293
-.132

2.354
-1.049

.023
.299

Kecerahan

a Dependent Variable: H.Tangkapan

Berdasarkan hasil uji T (Tabel 5), diperoleh nilai signifikan dari masingmasing variabel yang masuk dalam taraf uji 0.05 dimana p-value < 0.05 adalah suhu
permukaan laut dan kedalaman. Berdasarkan hasil output, diperoleh T hitung
sebesar 2.345 (untuk parameter suhu) dan 2.354 (untuk parameter kedalaman). Dari
kedua nilai tersebut diperoleh nilai masing masing Thitung > Ttabel yaitu 2.345 > 1.673
untuk parameter suhu dan 2.354 > 1.673 untuk parameter kedalaman. Dengan
demikian maka Ho ditolak. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa perubahan
suhu permukaan laut (X1) dan kedalaman (X4) berpengaruh nyata terhadap jumlah
hasil tangkapan (Y). Hal ini sesuai dengan asumsi bahwa jika nilai Thitung < Ttabel
pada taraf uji 0,05 berarti Ho diterima dan jika Thitung > Ttabel pada taraf uji 0,05 berarti
Ho ditolak atau H1 diterima. Hasil penelitian ini memperkuat hasil penelitian
sebelumnya, bahwa suhu permukaan laut berpengaruh signifikan terhadap variasi
hasil tangkapan (Zainuddin, 2011).
Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh nilai persamaan regresi non linier
berganda yang digunakan untuk mengetahui besarnya proporsi variabel independen

terhadap variabel dependen. Hasil perhitungan tersebut dapat dituliskan dalam


persamaan sebagai berikut :
Y = -21,674 + 13,215 X1 + 1,811 X2 - 0,126 X3 + 0,667 X4 - 0,708 X4
Berdasarkan persamaan regresi non linier berganda tersebut, maka dapat
diketahui bahwa :
1. Koefisien suhu permukaan laut (X1) yang bernilai positif yakni 13,215. Hal ini
menunjukkan setiap kenaikan 1oC maka hasil tangkapan juga bertambah
sebesar 13,215% dengan asumsi bahwa salinitas, kecepatan arus, kedalaman
dan kecerahan tetap.
2. Koefisien salinitas (X2) yang bernilai positif yakni 1,811. Hal ini menunjukkan
setiap kenaikan 1 ppt maka hasil tangkapan juga bertambah sebesar 1,811%
dengan asumsi bahwa suhu permukaan laut, kecepatan arus, kedalaman dan
kecerahan tetap.
3. Koefisien kecepatan arus (X3) yang bernilai negatif yakni -0,126. Hal ini
menunjukkan setiap kenaikan 1 m/s maka hasil tangkapan akan menurun
sebesar -0,126% dengan asumsi bahwa suhu permukaan laut, salinitas,
kedalaman dan kecerahan tetap.
4. Koefisien kedalaman (X4) yang bernilai positif yakni 0,667. Hal ini menunjukkan
bahwa setiap kenaikan 1m maka hasil tangkapan juga bertambah sebesar
0,667% dengan asumsi bahwa suhu permukaan laut, salinitas, kecepatan arus
dan kecerahan tetap.
5. Koefisien kecerahan (X5) yang bernilai negatif yakni 0,708. Hal ini menunjukkan
bahwa setiap kenaikan 1m maka hasil tangkapan akan menurun sebesar
0,708% dengan asumsi bahwa suhu permukaan laut, salinitas, kecepatan arus
dan kedalaman tetap.

V. KESIMPULAN DAN SARAN

A.

Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa suhu, salinitas, arus,

kedalaman dan kecerahan mempengaruhi jumlah hasil pada daerah penangkapan


Ikan Cakalang (Katsuwonus Pelamis) di perairan Kolaka. Setelah diuji dengan
menggunakan analisis regresi non linier berganda, diperoleh nilai signifikan dimana
faktor oseanografi yang berpengaruh nyata dengan hasil tangkapan adalah suhu
dan kedalaman perairan.
B.

Saran
Diperlukan penelitian lanjutan dengan daerah fishing ground yang berbeda

sehingga diharapkan mendapatkan gambaran tentang pengaruh faktor oseanografi


terhadap penangkapan ikan Cakalang (Katsuwonus Pelamis) pada daerah fishing
ground yang lain. Serta disarankan kepada Dinas Perikanan Kab. Kolaka agar
parameter suhu dan kedalaman dapat dipetakan, sehingga memudahkan nelayan
dalam mencari lokasi daerah fishing ground yang potensial.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2011. Perpres No. 6 Tahun 2011. http://www.djpk.depkeu.go.id/regulation/

27/tahun/2011/bulan/02/tanggal/17/id/590/. Diakses pada 10 Oktober 2011.


Brotowidjoyo, M.D., D. Tribawono, dan E Mulbyantoro. 1995. Pengantar Lingkungan
Perairan dan Budidaya air. Liberty. Yogyakarta.
Brown, R.P. dan Sherman, K. 1981.Oceanographic Observation and Skipjack
Distribution in TheHorth Central Pacific. Paper no. 5 11. Honolulu.
Clever dan Shimada. 1950. Japanese Skipjack (Katsuwonuspelamis) Fishing
Methods. U.S. Fish wildl. Serv., Fish Bull. 15. Washington D.C., P 1 20.
Collete, B. B, 1983. FAO Speries Catalouge Vol.2. Scombrids of The World. An
annotated and Illustrated Catalougue of Tuna, Mackerels Bonitos and
Related Species Known to Date. FAO Fish. Synop.Rome.
Dahuri, R., 2001. Menggali Potensi Kelautan dan Perikanan dalamrangka
Pemulihan Ekonomi Menuju Bangsa yang Maju, Makmur dan
Berkeadilan. Pidato dalamrangka Temu Akrab CIVA-FPIK-IPB tanggal 25
Agustus 2001. Bogor.
Dinah., Muh. Yahya A., Pujiyanti S., Parwinia., Effendy S., Muh. Hatta,. Muh.
Sabri., Rusyadi., Farhan A. 2001. Pemanfaatan Sumbaerdaya TunaCakalang Secara Terpadu. Falsafah Sains (PPs 702) Sem 1 t/a
2001/2002 Program Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor.
Direktorat Jendral Perikanan. 1983. Sumberdaya Perikanan Laut di Indonesia.
Jakarta.
Gaffa B, dan Sabani W, (1993) Studi Pengaruh Rumpon Terhadap Perilaku Ikan
Cakalang dan Madidihang Dengan Metode Taging di kawasan Indonesia
Timur; Jurnal Perikanan Laut No.73.
Gunarso, W. 1985.TingkahLakuIkan. FakultasPerikanan. InstitutPertanian Bogor.
Bogor.
Hutabarat, S dan Evans, S.M. 1984.PengantarOseanografi. Universitas Indonesia.
Jakarta.
Hela, I., dan Laevastu. 1970. Fisheries Oceanography. Fishing Newa (Book). LTD.
London. Page. 101-115.
Jones, S and E.G. Silas, 1963.Sinopsis of Biological Data on Skipjack Katsuwonus
Pelamis. FAO Fisheries Report.
Laevastu, T and M. L. Hayes. 1993. Fishery Oceanography and Echology. Fishing
News Book. London.

Lukas, R., dan E. Lindstrom, 1991. The Mixed Layer of The Western Equatorial
Pacific Ocean. Journal of Geophysical Research, Vol. 96. Sup. Page
3343-3357.
Monintja. DR, dan R. Yusfiandayani 1999. Teknologi Penangkapan Ikan Cakalang
dan Tuna. Laboratorium Teknologi Penangkapan Ikan, FPIKIPB.
Nakamura. H, 1969. Tuna Distribution and Migration. Fishing News Books Ltd.
London. 76p.
Mallawa, A. 2008. Pengaruh Faktor Oseanografi Terhadap Hasil Tangkapan Pole
and Line di Perairan Teluk Bone. Universitas Hasanuddin. Makassar.ss
Nontji, A. 1993.Laut Nusantara. Djambatan. Jakarta.
Nikijuluw. V.P.H. 2002. Rezim Pengelolaan Sumberdaya Perikanan. Kerjasama P3R
dan PT. Pustaka Cidesindo. Jakarta. 54 Hal.
Nybakken, J. W. 1992. BiologiLautSuatuPendekatanEkologis. PT Gramedia.
Jakarta.
Permadi. R. 2004. Analisis Hasil Tangkap Cakalang dan Hubungannya Dengan
Kondisi Oseanografi Fisika di Perairan Laut Banda Sulawesi Tenggara.
Fakultas Perikanan. Institut Pertanian Bogor.
Rukka H. A. 2006. Tekhnologi Penangkapan Pilihan Untuk Ikan Cakalang Di
Perairan Selayar Propinsi Sulawesi Selatan. http: // ikanmania. wordpress.
Com / 2006 / 12 / 30 / teknologi penangkapan ikan Tuna cakalang.
Diaksespada 28 Oktober 2011.
Rais, M.

2009. Hubungan Antara Parameter Oseanografi Terhadap Hasil


Tangkapan Pole and Line Di PerairanTeluk Bone. Universitas
Hasanuddin. Makassar.

Supadiningsih Nurjati, C. 2004. Penentuan Fishing Ground Tuna Dan Cakalang


Dengan Teknologi Penginderaan Jauh. ITS. Surabaya
Sudjana. 1996. Metode Statistik. Tarsito. Bandung.
Uktolseja, J.C.B. 1989. Estimated Growth Parameters and Migration of Skipjack
Tuna - Katsuwonus pelamis In The Eastern Indonesian Water Through
Tagging Experiments. Jurnal Penelitian Perikanan Laut No. 43 Tahun
1987. Balai Penelitian Perikanan Laut, Jakarta. Hal. 15-44.
Von Brandt, A. 1979. Aplication of Observations on Fish BehaviourFor Fishing
Merthods and Gear Construction. Proceeding of the FAO Confrence on
fish behavior in relation to fishing techniques and tactics. FAO Fisheries
Report 62(2): 169 191.

Woodhead, P.J.M. 1986. The BehaviourOf Fish In Relation To Light In The Sea.
Oceanogr.Mar.Biol. Ann. Rev 4 : 337 403

Wahyono, A dan S.P. Prabowo. 2009. Sistem Operasi Kapal Purse Seine Asal Jawa
dengan Nelayan Pantai Kalimantan Selatan di Selat Makasar. Jurnal
Ariomma Vol. 25 No. 22-26 Th. 2009. hal 1-15
Widodo, J., Kiagus A.A., Bambang Edi Priyona., Gomal II T., Nurzali N., Asikin D.
2003. Potensi dan Penyebaran Sumberdaya Ikan Laut di Perairan
Indonesia. Komisi Nasional Pengkajian Stok Sumberdaya Ikan Laut - LIPI.
Jakarta.
Zainuddin, M. 2011. Skipjack Tuna In Relation To Sea Survace Temperature And
Chlorophyil-a Concentration Of Bone Bay Using Remotely sensed satellite
Data. Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis. Vol 13 (1): 82-90.

Lampiran 1. Data Oseanografi Daerah Penangkapan Ikan Cakalang di


Perairan Kolaka

Letak / Posisi

Hasil
tangkapan
(ekor)

Parameter Oseanografi

Cakalang
No
1
2
3
4
5

Bujur Timur
121o 05 24.1
o

121 03 50.3
o

120 59 27.5
o

120 58 17.4
o

120 56 12.3

Lintang
Selatan

Suhu
(oC)

Salinitas
(o/oo)

Kec. Arus
(m/s)

Kedalama
n (m)

Kecerahan
(m)

(ekor)

04o 15 58.6

30.7

30

0.218

1017

113

147

30.9

29

0.4

1185

30.7

29

0.385

1560

201

30.8

27

0.427

1544

9.5

70

30.4

30

0.385

1684

327

04 15 17.5
04 13 43.9
04 11 47.4
04 11 59.1

120 56 53.6

04 17 21.0

30.8

29

0.6489

1875

246

120o 48 12.6

04o 15 13.7

30.4

30

0.438

2147

113

30

30

0.222

1688

115

29.8

30

0.198

1753

9.5

89

30.1

28

0.286

1825

174

8
9
10

120 58 12.4
o

120 57 22.8
o

120 57 08.6

04 14 21.3
04 14 58.3
04 16 24.9

11

120 56 16.1

04 17 13.5

30.1

30

0.5982

1853

122

12

121o 04 46.6

04o 15 17.5

30.4

29

0.152

1074

8.5

136

158

13
14
15

120 56 22.8
o

120 57 22.8
o

120 56 53.6

30.8

28

0.122

1886

30.9

30

0.5

1753

7.5

291

30.7

28

0.4

1810

7.5

204

04 17 42.4
04 14 58.3
04 15 47.4

16

121 01 16.4

04 15 06.2

30.4

27

0.46

1358

107

17

121o 01 01.4

04o 12 47.7

30.2

27

0.37

1481

307

8.5

155

18
19
20
21

120 57 22.8
o

120 58 20.0
o

121 02 57.8
o

120 58 17.4

30.1

30

0.455

1744

30.2

30

0.4

1770

7.5

108

29.9

30

0.3

1360

101

30

30

0.385

1544

8.5

87

04 14 58.3
04 16 06.1
04 16 47.3
04 11 47.4

22

120 56 49.9

04 14 13.8

30

27

0.6384

1742

8.5

79

23

120o 57 40.0

04o 16 02.8

30.2

29

0.366

1787

110

29.7

28

0.3964

963

103

30.1

29

0.286

1538

7.5

74

29.9

29

0.469

1618

118

24
25
26

121 05 54.1
o

120 58 17.4
o

120 58 53.7

04 15 26.8
04 11 47.4
04 14 13.8

27

120 56 27.3

04 14 43.8

30.5

27

0.335

1779

8.5

109

28

120o 55 34.8

04o 15 58.6

30.1

30

0.201

1848

8.5

201

69

204

29
30

121 03 20.3
o

120 58 17.4

30.7

29

0.222

1328

30.8

30

0.455

1531

04 17 28.5
04 11 47.4

31

120o 56 08.5

04o 10 14.2

29.9

29

0.385

1599

80

32

120o 57 53.7

04o 14 51.3

30

29

0.422

1717

121

30.1

30

0.455

960

9.5

54

30.1

28

0.556

1338

76

30.3

28

0.636

1544

80

33
34
35

121 07 46.7
o

120 58 17.4
o

121 01 35.1

04 17 09.8
04 11 47.4
04 13 10.2

36

120 56 57.3

04 13 51.4

30

29

0.222

1725

8.5

59

37

120o 57 40.0

04o 16 02.8

30.1

29

0.6

1782

8.5

110

78

38
39
40

121 03 57.7
o

121 04 53.8
o

120 59 46.2

29.8

30

0.285

954

30

29

0.263

1342

8.5

207

30.6

28

0.556

1531

102

04 13 51.4
04 10 55.4
04 11 59.1

41

120 57 40.0

04 16 01.8

30.5

30

0.556

1720

97

42

120o 56 19.7

04o 17 09.8

29.9

30

0.263

1781

7.5

58

28

43
44
45
46

121 02 46.8
o

121 01 39.3
o

120 56 54.0
o

120 56 54.4

29.9

29

0.556

1240

30.2

30

0.556

1200

9.5

79

30.1

29

0.556

1664

208

30

30

0.128

1806

269

04 13 23.3
04 11 27.2
04 12 53.3
04 16 00.5

47

121 05 19.0

04 17 12.2

30.1

30

0.46

887

93

48

121o 02 39.3

04o 14 00.7

30.4

27

0.175

1115

8.5

88

30.1

30

0.217

1420

127

30.6

30

0.2

1782

7.5

209

30.5

29

0.3

1878

7.5

97

49
50
51

120 57 42.8
o

120 57 22.8
o

120 55 12.7

04 11 19.7
04 14 58.3
04 16 37.9

52

121 05 18.4

04 17 11.9

30.5

27

0.56

1099

6.5

83

53

120o 56 38.8

04o 11 51.6

30.1

28

0.485

1249

117

7.5

201

54
55
56

120 57 22.5
o

120 57 39.8
o

120 56 27.6

29.8

29

0.37

1528

29.9

30

0.4853

1753

135

29.9

28

0.3841

1885

94

04 14 54.9
04 16 05.3
04 14 03.9

Jumlah

7388

Rata - Rata

132

Lampiran 2. Uji Kenormalan Residu Liliie Fors


Tests of Normality
Kolmogorov-Smirnov(a)
Statistic

df

H.Tangkapan

.112
a Lilliefors Significance Correction

Shapiro-Wilk

Sig.
56

Statistic

.077

df

.969

Histogram

15

Frequency

10

Mean =2.0701
Std. Dev. =0.2104
N =56
0
1.5000

1.7500

2.0000

2.2500

2.5000

H.Tangkapan

Normal Q-Q Plot of H.Tangkapan

Expected Normal

-1

-2

-3

1.50

1.75

2.00

Observed Value

2.25

Sig.
56

2.50

.157

Lampiran 3. Analisis Regresi Non Linier Berganda Antara Hasil


Tangkapan Denagn Faktor Oseanografi
Descriptive Statistics
Mean

Std. Deviation

H.Tangkapan

2.070137

.2103796

56

Suhu

1.480623

.0047142

56

Salinitas

1.462116

.0158479

56

Kec.Arus

-.444936

.1836134

56

Kedalaman

3.180013

.0924333

56

Kecerahan

.912378

.0391724

56

Correlations
H.Tang
kapan
Pearson Correlation

Sig. (1-tailed)

H.Tangkapan

Variables
Entered

Salinitas

Kec.Arus

Kedalaman

Kecerahan

1.000

.307

.105

-.134

.331

-.166

Suhu

.307

1.000

-.176

.009

.074

-.107

Salinitas

.105

-.176

1.000

-.150

.076

.138

Kec.Arus

-.134

.009

-.150

1.000

.005

.059

Kedalaman

.331

.074

.076

.005

1.000

-.049

Kecerahan

-.166

-.107

.138

.059

-.049

1.000

.011

.221

.162

.006

.111

Suhu

.011

.097

.472

.294

.216

Salinitas

.221

.097

.135

.289

.155

Kec.Arus

.162

.472

.135

.484

.332

Kedalaman

.006

.294

.289

.484

.360

Kecerahan

.111

.216

.155

.332

.360

H.Tangkapan

56

56

56

56

56

56

Suhu

56

56

56

56

56

56

Salinitas

56

56

56

56

56

56

Kec.Arus

56

56

56

56

56

56

Kedalaman

56

56

56

56

56

56

Kecerahan

56

56

56

56

56

56

H.Tangkapan

Variables Entered/Removed(b)
Model
1

Suhu

Variables
Removed

Kecerahan,
Kedalaman,
Kec.Arus,
Suhu,
Salinitas(a)
a All requested variables entered.
b Dependent Variable: H.Tangkapan

Method

Enter

Model Summary(b)

Model
1

R
.489(a)

R
Square
.239

Adjusted
R Square
.163

Std. Error of
the Estimate
.1925113

Change Statistics
R Square
F
Change
Change
3.137
5

Sig. F
Change
.239

df1
50

df2
.015

DurbinWatson
1.788

a Predictors: (Constant), Kecerahan, Kedalaman, Kec.Arus, Suhu, Salinitas


b Dependent Variable: H.Tangkapan

ANOVA(b)

Model
1

Sum of
Squares
Regression

df

Mean Square

.581

.116

Residual

1.853

50

.037

Total

2.434

55

Sig.

3.137

.015(a)

a Predictors: (Constant), Kecerahan, Kedalaman, Kec.Arus, Suhu, Salinitas


b Dependent Variable: H.Tangkapan

Coefficients(a)
Standa
rdized
Coeffici
ents

Model

Unstandardized
Coefficients

(Constant)

Std.
Error
9.099

Beta

B
-21.674

Suhu

13.215

5.634

Salinitas

1.811

1.707

Kec.Arus

-.126

.144

Kedalaman

.667

.283

-.708
.675
a Dependent Variable: H.Tangkapan

Kecerahan

Zeroorder

Partial

Part

Collinearity
Statistics
Tole
ranc
e
VIF

Sig.

Correlations

-2.382

.021

.296

2.345

.023

.307

.315

.289

.955

1.047

.136

1.061

.294

.105

.148

.131

.921

1.086

-.110

-.881

.382

-.134

-.124

-.109

.970

1.031

.293

2.354

.023

.331

.316

.290

.983

1.017

-.132

-1.049

.299

-.166

-.147

-.129

.965

1.037

Kedal
aman

Kecer
ahan

Collinearity Diagnostics(a)

Model
1

Dimension
1

Eigenvalue

Condition
Index

(Constant)

Variance Proportions
Kec.
Suhu Salinitas arus

5.876

1.000

.00

.00

.00

.00

.00

.00

.122

6.937

.00

.00

.00

.96

.00

.00

.002

61.714

.00

.00

.00

.01

.09

.85

.001

102.103

.00

.00

.02

.00

.90

.13

8.07E-005

269.835

.01

.02

.88

.02

.00

.01

4.41E-006

1153.996

.99

.97

.10

.00

.00

.01

a Dependent Variable: H.Tangkapan

Residuals Statistics(a)
Minimum
Predicted Value
Std. Predicted Value

Mean

Std. Deviation

1.850336

2.318379

2.070137

.1028013

56

-2.138

2.415

.000

1.000

56

.034

.097

.061

.015

56

Standard Error of
Predicted Value
Adjusted Predicted Value

Maximum

1.802432

2.359424

2.070531

.1055689

56

-.4466619

.4822361

.0000000

.1835524

56

Std. Residual

-2.320

2.505

.000

.953

56

Stud. Residual

-2.426

2.628

-.001

1.002

56

-.4881850

.5308827

-.0003946

.2028869

56

Residual

Deleted Residual
Stud. Deleted Residual

-2.556

2.803

.001

1.025

56

Mahal. Distance

.698

13.060

4.911

2.972

56

Cook's Distance

.000

.116

.018

.025

56

Centered Leverage Value

.013

.237

.089

.054

56

a Dependent Variable: H.Tangkapan

Histogram

Dependent Variable: H.Tangkapan

12.5

Frequency

10.0

7.5

5.0

2.5
Mean =4.31E-14
Std. Dev. =0.953
N =56

0.0
-3

-2

-1

Regression Standardized Residual

Lampiran 4. Scatter Plot Residu

Scatterplot

Dependent Variable: H.Tangkapan

Regression Studentized Deleted (Press)


Residual

-1

-2

-3
-3

-2

-1

Regression Standardized Predicted Value

Lampiran 5. Dokumentasi