Anda di halaman 1dari 8

BAB II

Analisis Kasus
1. Bagaimana cara mendiagnosis Abortus Inkomplit?
Definisi Abortus
Berakhirnya kehamilan melalui cara apapun (spontan / provakatus) sebelum janin
mampu bertahan hidup pada usia kehamilan < 20 minggu berdasarkan HPHT atau
berat janin < 500 gr.
Definisi abortus inkomplit
Sebagian hasil konsepsi yang telah keluar dari cavum uteri dan masih ada yang
tertinggal.
Tanda & gejala abortus inkomplit
Anamnesis
Perdarahan pervaginam disertai jaringan hasil konsepsi, nyeri / kram perut di
bagian atas simphisis.
Pemeriksaan Fisik
Pada pemeriksaan menggunakan spekulum, terdapat banyak bekuan darah
didalam vagina, serviks terlihat mendatar dan lunak.
Pemeriksaan Penunjang
USG : Besar uterus lebih kecil dari usia kehamilan, kantung gestasi yang sulit
dinilai, massa hiperekoik yang bentuknya tidak beraturan.

2. Apa yang membedakan Abortus Inkomplit dengan jenis perdarahan pada


kehamilan muda lainnya?
Abortus iminens
Abortus tingkat permulaan dan merupakan ancaman terjadinya abortus. Perdarahan
pervaginam pada usia kehamilan < 20 minggu, ostium uteri masih tertutup, hasil
konsepsi masih baik berada didalam kandungan, mulas sedikit atau bahkan tidak ada
keluhan lain selain perdarahan pervaginam, besar uterus masih sesuai usia kehamilan,
tes kehamilan urine masih positif.
Abortus insipiens

Abortus yang sedang mengancam kondisi janin. Serviks yang telah mendatar, ostium
uteri telah membuka, hasil konsepsi masih berada didalam kavum uteri masih dalam
proses pengeluaran, mulas karena kontraksi uterus yang sering dan kuat, perdarahan
bertambah seiring pembukaan serviks dan usia kehamilan, besar uterus masih sesuai
usia kehamilan, gerak dan detak jantung janin masih jelas meskipun mungkin sudah
terganggu,
Abortus Inkomplet
sebagian hasil konsepsi telah keluar dari kavum uteri namun masih ada yang
tertinggal. Kanalis serikalis masih terbuka, teraba jaringan dalam kavum uteri atau
menonjol dari ostium uteri eksternum, perdarahan tergantung jumlah jaringan yang
masih tersisa, besar uterus lebih kecil dari usia kehamilan, massa hiperekoik yang
bentuknya tidak beraturan.

Abortus Kompletus
Seluruh hasil konsepsi telah keluar dari kavum uteri, ostium uteri sudah menutup,
uterus sudah mengecil, perdarahan sedikit, besar uterus tidak sesuai usia kehamilan.
KET
Kehamilan yang pertumbuhan sel telur yang telah dibuahi tidak menempel pada
dinding endometrium kavum uteri. nyeri merupakan keluahn utama pada KET,
perdarahan merupakan tanda penting kedua, hal ini menandakan kematian janin dan
berasala kavum uteri karena pelepasan desidua, perdarahan tidak banyak dan berwana
kecokelatan.
Mola Hidatidosa

Suatu kehamilan yang berkembang tidak wajar dimana tidak ditemukan janin dan
seluruh vili korialis mengalami perubahan berupa degenari hidropik. Adanya mola
harus dicurigai pada wanita dengan amenorea, perdarahan pervaginam, uterus yang
lebih besar dari usia kehamilan, tidak ditermkan tanda kehamilan pasti (balotemen dan
DJJ). Peninggian kadar hCG, snow flake pattern &honey comb appearance pada
USG.

3. Penyebab dari Abortus?


Faktor Genetik
Sebagian abortus spontan diakibatkan oleh kelainan kariotip embrio. Paling
sedikit 50% kejadian abortus pada trimester pertama merupakan kelainan sitogenik.
Bagaimanapun, gambaran ini belum termasuk kelainan yang disebabkan oleh
gangguan gen tunggal atau mutasi pada beberapa lokus yang tidak terdeteksi pada
pemeriksaan kariotip.
Faktor Anatomi
Faktor anatomi kogenital dan didapat pernah dilaporkan timbul pada 10-15 %wanita
dengan abortus spontan yang rekuren.
1) Lesi anatomi kogenital yaitu kelainan duktus Mullerian (uterus bersepta).
Duktus mullerian biasanya ditemukan pada keguguran trimester kedua.
2) Kelainan kogenital arteri uterina yang membahayakan aliran darah
endometrium.
3) Kelainan yang didapat misalnya adhesi intrauterin (synechia), leimioma,
danendometriosis.
Abnormalitas anatomi

maternal

yang

dihubungkan

dengan

kejadian

abortusspontan yang berulang termasuk inkompetensi serviks, kongenital dan


defekuterus yang didapatkan (acquired). Malformasi kongenital termasuk fusi
duktusMulleri yang inkomplit yang dapat menyebabkan uterus unikornus, bikornus
atauuterus ganda. Defek pada uterus yang acquired yang sering dihubungkan
dengankejadian abortus spontan berulang termasuk perlengketan uterus atau sinekia

danleiomioma.

Adanya

kelainan

anatomis

ini

dapat

diketahui

dari

pemeriksaanultrasonografi (USG), histerosalfingografi (HSG), histeroskopi dan


laparoskopi(prosedur diagnostik).
Pemeriksaan yang dapat dianjurkan kepada pasien ini adalah pemeriksaan
USGdan HSG. Dari pemeriksaan USG sekaligus juga dapat mengetahui adanya
suatumioma terutama jenis submukosa. Mioma submukosa merupakan salah satu
faktormekanik yang dapat mengganggu implantasi hasil konsepsi. Jika terbukti
adanyamioma pada pasien ini maka perlu dieksplorasi lebih jauh mengenai keluhan
dan harus dipastikan apakah mioma ini berhubungan langsung dengan adanya ROB
pada pasien ini. Hal ini penting karena mioma yang mengganggu mutlak dilakukan
operasi.
Faktor Autoimun
Terdapat hubungan yang nyata antara abortus berulang dan penyakit autoimun.
Misalnya, pada Systematic Lupus Erythematous (SLE) dan Antiphospholipid
Antibodies (aPA). aPAmerupakan antibodi spesifik yang didapati pada perempuan
dengan SLE. Kejadian abortus spontan diantara pasien SLE sekitar 10%, dibanding
populasi umum. Bila digabung dengan peluang terjadi pengakhiran kehamilan
trimester 2 dan 3, maka diperkirakan 75% pasien dengan SLE akan berakhir dengan
terhentinya kehamilan. aPA merupakan antibodi yang akan berikatan dengan sisi
negatif dari fosfolipid. paling sedikit ada 3 bentuk aPA yang diketahui mempunyai arti
klinis yang penting, yaitu Lupus Anticoagulant (LAC), anticardiolipid antibodies
(aCLs), biologically false-positive syphilis (FP-STS). APS (antiphospholipid
syndrome) sering juga ditemukan pada beberapa keadan obsetrik, misalnya pada
preeklamsia, IUGR dan prematuritas. Beberapa keadaan lain yang berhubungan

dengan APS yaitu trombosis arteri-vena, trombositopeni autoimun, anemia hemolitik,


korea dan hipertensi pulmonum.
The International Consensus Workshop pada tahun 1998 mengajukan klasifikasi
kriteria untuk APS, yaitu meliputi:
Trombosis vaskular
- satu atau lebih episode trombosis arteri, venosa atau kapiler yang dibuktikan
dengan gambaran Doppler, pencitraan atau histopatologi.
- pada histopatologi, trombosisnya tanpa disertai gambaran

Komplikasi kehamilan
- tiga atau lebih kejadian abortus dengan sebab yang tidak jelas, tanpa
kelainan anatomik, genetik atau hormonal.
- satu atau lebih kematian janin dimana gambaran morfologi seara sonografi
normal
- satu atau lebih persalinan prematur dengan gambaran janin normal dan

berhubungan dengan preeklamsia berat atau insufisiensi plasenta yg berat


Kriteria laboratorium
- aCL; IgG dan atau IgM dengan kadar yang sedang atau tinggi pada 2 kali

atau lebih pemeriksaan dengan jarak lebih dari atau sama dengan 6 minggu
- aCL diukur dengan metode ELISA standar
Antibodi fosfolipid/antikoagulan
- pemanjangan tes skrining koagulasi fosfolipid (aPTT, PT dan CT)
- kegagalan untuk memperbaiki tes skrining yang memanjang dengan
penambahan plasma platelet normal
- adanya perbaikan nilai tes yang memanjang dengan penambahan fosfolipid
- singkirkan dulu kelainan pembekuan darah yang lain dan pemakaian
heparin.

Faktor Infeksi
Infeksi termasuk infeksi yang diakibatkan oleh TORC (Toksoplasma,
Rubella,Cytomegalovirus) dan malaria. Infeksi intrauterin sering dihubungkan
denganabortus spontan berulang. Organisme-organisme yang sering diduga
sebagaipenyebab antara lain Chlamydia, Ureaplasma, Mycoplasma,
Cytomegalovirus,Listeria monocytogenes dan Toxoplasma gondii. Infeksi aktif yang

menyebabkanabortus spontan berulang masih belum dapat dibuktikan. Namun untuk


lebihmemastikan penyebab, dapat dilakukan pemeriksaan kultur yang
bahannyadiambil dari cairan pada servikal dan endometrial.
Faktor Lingkungan
Diperkirakan 1% - 10% malformaasi janin akibat paparan obat, bahan kimia, atau
radiasi, umumnya berakhir dengan abortus, misalnya paparan terhadap buangan gas
anestesi dan tembakau. Rokok diketahui mengandung ratusan unsur toksik antaara
lain nikotin yang telah diketahui memiliki efek vasoaktif sehingga menghambat
sirkulasi uteroplasenta. Karbon monoksida juga menurunkan pasokan oksigen ibu dan
janin serta memacu neurotoksin. dengan adanya gangguan pada sistem sirkulasi
vetoplasenta dapat terjadi gangguan pertumbuhan janin yang berakibat terjadinya
abortus.
Faktor Hormonal
a. Faktor endokrin berpotensial menyebabkan aborsi pada sekitar 10-20 %kasus.
b. Insufisiensi fase luteal ( fungsi corpus luteum yang abnormal dengan
c.

tidakcukupnya produksi progesteron).


Hipotiroidisme, hipoprolaktinemia,

diabetes

dan

ovariummerupakan faktor kontribusi pada keguguran.


Kenaikan insiden abortus bisa disebabkan

sindrom
oleh

polikistik

hipertiroidismus,

diabetesmelitus dan defisisensi progesteron. Hipotiroidismus tampaknya tidak


berkaitandengan kenaikan insiden abortus (Sutherland dkk, 1981). Pengendalian
glukosayang tidak adekuat dapat menaikkan insiden abortus (Sutherland dan
Pritchard,1986). Defisiensi progesteron karena kurangnya sekresi hormon tersebut
darikorpus luteum atau plasenta, mempunyai kaitan dengan kenaikan insiden
abortus.Karena

progesteron

berfungsi

mempertahankan

desidua,

defisiensi

hormontersebut secara teoritis akan mengganggu nutrisi pada hasil konsepsi dan
dengan demikian turut berperan dalam peristiwa kematiannya.
Faktor Hematologik

beberapa kasus abortus berulang dengan defek plasenta dan adanya mikrotrombin
pada pembuluh darah plasenta. berbagai komponen koagulasi dan fibrinolitik
memegang eran penting pada inplantasi embrio, invasi trofoblas, dan plasentasi. pada
kehamilan terjadi keadaan hipokoagulasi dikarenakan:
peningkatan kadar faktor prokoagulan
penurunan faktor koagulan
penurunan aktivitas fibrinolitik
kadar faktor VII, VIII, X dan fibrinogen meningkat selama kehamilan normal,
terutama pada kehamilan sebelum 12 minggu.
Bukti lain menunjukkan bahwa sebelu terjadi abortus, sering didapatkan defek
hemostatik. penelitian Tulpalla dan kawan-kawan menunjukan bahwa perempuan
dengan riwayat abortus berulang, sering terdapat peningkatan produksi tromboksan
yang berlebihan saat kehamilan berusia 8-11 minggu. perubahan rasio tromboksanprostasiklin memacu vasospasme serta agregasi trombosit, yang akan menyebabkan
mikrotrombin serta nekrosis plasenta. juga sering disertai penurunan kadar protein C
dan fibrinopeptida.
Defisienisi faktor XII (Hageman) berhubungan dengan trombosis sistematik
maupun plasenter dan telah dilaporkan juga hubungan dengan abortus berulang pada
lebih dari 22% kasus.
Homosistein merupakan asam amino yang dibentuk selama konversi metionin
ke sistein. Hiperhomosisteinemi, bisa kongenital maupun akuisita, berhubunga dengan
trombosis dan penyakit vaskular dini. kondisi ini berhubungan dengan 22% Kondisi
ini berhubungan dengan abortus berulang. Gen pembawa akan diturunkan secara
autosom resesif. Bentuk terbanyak yang didapat adalah defisiensi folat. Pada pasien
ini penambahan folat akan mengembalikan kadar homosistein normal dalam beberapa
hari.
4. Tindakan apa yang perlu dilakukan pada pasien dengan Abortus inkomplit?
Dilatasi dan Kuretase

Diawali dengan dilatasi servik lalu mengeluarkan jaringan dengan melakukan kerokan
pada uterus dengan alat kuret, atau dengan aspirasi vakum, atau

bahkan keduanya.

Komplikasi penyerta termasuk perforasi, laserasi servik, perdarahan, atau pengeluaran


janin dan plasenta tidak lengkap semakin meningkat seiring dengan meningkatnya usia
kehamilan. Dengan alasan ini, tindakan kuretase dilakukan sebelum usia kehamilan 14
minggu. Aspirasi vakum digunakan pada kehamilan trimester pertama.

Dilatasi Hygroscopic