Anda di halaman 1dari 18

MAKALAH

INSTRUMEN PENELITIAN

Disusun Oleh:
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Diana Mardiatur Soleha


Eko Susanti
Ela Triani Indasari
Elviah
Eni Lestari
Evi Rulistiya

PROGRAM STUDI D.IV KEBIDANAN


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS KADIRI TAHUN 2016/2017
A. Pengertian Instrumen

Menurut Suharsimi Arikunto instrumen pengumpulan data adalah


alat bantu yang dipilih dan digunakan oleh peneliti dalam kegiatannya
mengumpulkan

agar

kegiatan

tersebut

menjadi

sistematis

dan

dipermudah olehnya.
Ibnu Hadjar berpendapat bahwa instrumen merupakan alat ukur
yang digunakan untuk mendapatkan informasi kuantitatif tentang variasi
karakteristik variabel secara objektif.
Instrumen pengumpul data menurut Sumadi Suryabrata adalah alat
yang digunakan untuk merekam-pada umumnya secara kuantitatifkeadaan dan aktivitas atribut-atribut psikologis. Atibut-atribut psikologis
itu secara teknis biasanya digolongkan menjadi atribut kognitif dan
atribut non kognitif. Sumadi mengemukakan bahwa untuk atribut
kognitif,
perangsangnya adalah pertanyaan. Sedangkan untuk atribut non-kognitif,
perangsangnya adalah pernyataan.
Dari beberapa pendapat ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa
instrumen penelitian adalah alat bantu yang digunakan oleh peneliti
untuk mengumpulkan informasi kuantitatif tentang variabel yang sedang
diteliti.
B. Jenis-jenis Instrumen Penelitian
Ada beberapa jenis instrumen yang biasa digunakan dalam penelitian,
yaitu:
1. Tes
Tes adalah sederetan pertanyaan atau latihan atau alat lain yang
digunakan untuk mengukur ketrampilan, pengukuran, inteligensi,
kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau
kelompok.
2. Angket atau kuesioner.
Kuesioner adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan
untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan
tentang pribadinya, atu hal-hal yang ia ketahui.
3. Interviu(interview).
Interviu digunakan oleh peneliti untuk menilai keadaan
seseorang, misalnya untuk mencari data tentang variabel latar

belakang murid, orang tua, pendidikan, perhatian, sikap terhadap


sesuatu.
4. Observasi.
Di dalam artian penelitian observasi adalah mengadakan
pengamatan secara langsung, observasi dapat dilakukan dengan tes,
kuesioner, ragam gambar, dan rekaman suara. Pedoman observasi
berisi sebuah daftar jenis kegiatan yang mungkin timbul dan akan
diamati.
5. Skala bertingkat (ratings).
Ratings atau skala bertingkat adalah suatu ukuran subyektif
yang dibuat berskala. Walaupun skala bertingkat ini menghasilkan
data yang kasar, tetapi cukup memberikan informasi tertentu
tentang program atau orang. Instrumen ini dapat dengan mudah
memberikan gambaran penampilan, terutama penampilan di dalam
orang menjalankan tugas, yang menunjukan frekuensi munculnya
sifat-sifat. Di dalam menyusun skala, yang perlu diperhatikan
adalah bagaimana menentukan variabel skala. Apa yang ditanyakan
harus apa yang dapat diamati responden.
6. Dokumentasi
Dokumentasi, dari asal kata dokumen, yang artinya barangbarang tertulis. Didalam melaksanakan metode dokumentasi,
penelitian menyelidiki benda-benda tertulis seperti buku-buku,
majalah, dokumen, peraturan-peraturan, notulen rapat, dan
sebagainya.
C. Langkah-langkah Menyusun Instrumen
Menurut Iskandar mengemukakan 6 langkah dalam penyusunan
instrumen penelitian, yaitu:
1. Mengidentifikasikan variabel-variabel yang diteliti.
2. Menjabarkan variabel menjadi dimensi-dimensi
3. Mencari indikator dari setiap dimensi.
4. Mendeskripsikan kisi-kisi instrumen.
5. Merumuskan item-item pertanyaan atau pernyataan instrum.
6. Petunjuk pengisian instrumen.
D. Validitas Instrumen Penelitian
1. Pengertian Viliditas

Validitas atau tingkat ketepatan adalah tingkat kemampuan


instrumen penelitian penelitian untuk mengungkapkan data sesuai
dengan mesalah yang hendak diungkapkannya. Dari sudut instrumen,
pengukuran adalah kemampuan instrumen penelitian untuk mengukur
apa yang hendak di ukurnya secara tepat dan benar. Dengan kata lain
validitas berarti juga bahwa instrumen penelitian merupakan bukti
kemampuannya dalam mengungkapkan suatu atau yang di ukur atau
diamati oleh peneliti, sesuai dengan apa yang sesungguhnya ada
dalam kenyataan. Dengan mempergunakan instrumen penelitian yang
memiliki validitas tinggi, hasil penelitian mampu menjelaskan
masalah penelitiannya sesuai dengan ada atau keadaan atau kejadian
yang sebenarnya.
Validitas seperti tersebut di atas adalah validitas internal yang
berkenaan

dengan

alat

(instrumen)

penelitian.

Valilditas

itu

mempersoalkan apakah instrumen yang dipergunakan, sungguhsungguh mengungkapkan atau mengnukur variabel yangn sebenarnya
dalam suatu penelitian. Apabila instrumen mengumpulkan data tidak
sesui dengan kebenaran berupa data yang tidak tepat menurut variabel
penelitian, maka hasil penelitian akan mengalami bias atau kekeliruan
yang tidak dapat dipercaya.
Untuk itu validitas alat tersebut dapat diketahui dengan beberapa cara
sebagai berikut:
a. Validitas permukaan (face validity)
Validitas alat pengumpulan data ini dinyatakan melalui
bagaimana kelihatannya suatu alat pengumpulan data itu dalam
mengungkapkan data yang diperlukan untuk memecahkan suatu
masalah. Dengan kata lain apakah alat benar-benar kelihatannya
dapat mengungkapkan gejala-gejala yang hendang diselidiki. Oleh
karena itulah validitas ini disebut juga validitas lahiria atau
validitas tampang. Dengnan demikian dapat pula disimpulkan
bahwa jika, alat pengumpulan data itu sama sekali tidak
hubungannya dengan aspek-aspek didalam masalah yang diselidiki
berarti bukanlah alat pengumpulan data yang valid. Penentuan
validitas ini sangat bergantung pada kemampuan berfikir atau

penggunaan akal sehat (common sense) dari isi pembuat alat


pengumpulan data
b. Validitas yang bersifat logis (logical validity)
Validitas ini disebut juga validitas konstruksi (construct validity)
atau validity by devinitions. Dalam validitas ini setiap aspek yang
akan diungkapkan ditetapkan lebih dahulu ddefinisinya sebagai
pengukur apakah materi setiap item benar-benar tercakup
didalamnya. Definisi itu dipandang sebagai konstruksi teoritis
tentang suatu gejala. Oleh karena itu apabila item alat pengumpulan
data dipandang telah menampung semua gejala yang termasuk
dalam definisi tertentu, berarti alat pengumpulan data tersebut
cukukp valid. Sebaliknya jika item yang disusun tidak mencakup
seluruh gejala dari definisi-definisi yang telah dibuat berarti alat
tersebut tidak valid.
c. Valilditas berdasarkan faktor (factorial Validity)
Validitas ini disebut juga validitas statistik (statistical validiti)
yang diperoleh melalui perhutungan korelasi dengan kriterium
sebagai berikut:
1) Total skor sebagai kriterium
Dalam validitas ini diukur menilai sekolompok individu
dalam

setiap

kecocokannya

item
dengan

satu-persatu
nilai

untuk

keseluruhan

mengecek
item

dalam

mengerjakan suatu alat pengumpulan data. Dengan demikian


validitas ini bermaksud mengetahui sampai dimana suatu
faktor yang diungkapkan oleh suatu item yang mempunyai
keserasian (memberikan sumbangan) terhadap keseluruhan
faktor

yang

hendak

diungkapkan

oleh

suatu

alat

pengumpulan data.
2) Kriterum eksternal
Validitas ini diperoleh dengan membandingkan nilai yang
diperoleh sekelompok individu dalam mengerjakan suatu alat
pengumpulan data yang hendak diukur validitasnya, dengan
nilai yang diperoleh kelompok individu yang sama dalam
mengerjakan alat pengumpulan data lain yang telah diketahui
validitasnya tinggi.

d. Validitas isi (conetet validiti)


Validitas ini disebut juga curricular validity yang di peroleh
dengan memeriksa kecocokan setiap item dengan bahan yang telah
di berikan pada sekelompok individu. Suatu item yang valid tidak
boleh keluar dari ruang lingkup bahan tertentu yang seharusnya
sudah di ketahui oleh kelompok individu itu .validity ini banyak di
pergunakan untuk mengetahui validitas achievement test tertentu
yang setiap itemnya dan keseluruhan itemnya dapat dibandingkan
dengan bahan yang harus diketehaui (sudah disampaikan) menurut
kurikulum idang studi yang hendak diukur dengan tes tersebut.
e. Validitas empiris (empirical validity)
Validitas ini diperoleh dengan membandingkan alat
pengumpulan data yang hendak di ukur validitasnya dengan
keadaan nyata sebagai kriterium yang harus menunjukan
kecocokan secara sempurnah. Pengukuran validitas ini memerlukan
waktu yang lama karena telah dilakukan pengumpulan data dengan
alat tertentu pada sekelompok individu, harus ditunggu dan dicek
keadaan nyata dari individu-individu itu untuk mengetahui
kesesuaian antara data yang telah diperoleh tersebut diatas dengan
keberhasilan atau ketidak keberhasilan dalam kenyataan. Misialnya
sekelompok

meneger

perusahaan

koesioner

tenteng

kemampuannya menegar perusahaan. Koesiner itu dikatakan valid


bila mana dalam tegang waktu tertentu ternyata meneger-meneger
yang diperoleh kualivikasi baik benar-benar berhasil dalam
memimpin perusahaan dan sebaliknya yang diperoleh kualivikasi
tidak baik dalam kenyataannya memang tidak berhasil memimpin
perusahaan.
Untuk mengatasi waktu yang cukup lama itu dapat ditempuh
cara tidak langsung. Cara itu dilakukan dengan membandingkan
hasil yang diperoleh dari alat pengumpul data yang hendak diukur
validitasnya dengan hasil alat pengumpulan data lain yang secara
empical telah diketahui merupakan alat pengumpulan yang valid.
Dengan demikian cara tidak langsung itu hampir sama dengan

mengukur validitas melalui faktorial validity yang mempergunakan


kriterium eksternal.
2. Uji Validitas
Untuk menguji validitas konstruk dilakukan uji coba instrumen
pada responden. Uji coba instrumen sebaiknya paling sedikit 30
responden, dengan ciri responden uji coba harus mirip ciri-cirinya
dengan ciri responden penelitian. Alasan jumlah 30 responden adalah
karena kaidah umum penelitian. Jumlah responden 30 adalah batas
jumlah antara sedikit dan banyak. Artinya bahwa data diatas 30,
kurvanya akan mendekati kurva normal. Kurva normal adalah
merupakan suatu fenomena universal mengenai fenomena ciri atau
sifat alami yang normal. Universal mengenai fenomena ciri atau sifat
alami yang normal.
Uji coba yang dilakukan adalah uji kolerasi antara skor itam-itam
degan skor total. Bila kolerasinya rendah berarti pertanyaan itu tidak
bergayut dan harus didrop.
Sebagai contah dibawah ini adalah instrumen berupa pernyataan
mengenai sikap terhadap obat generik.
a. Obat-obat generik buatan dalam negeri khasiatnya (daya
penyembuhan) sama dengan obat-obat luar negeri.
b. Warga negara yang baik dan mengerti selalu menggunakan obat
generik buatan dalam negeri.
c. Guna mendorong majunya produksi dalam negeri warga negara
harus menggunakan obar generik.
d. Saya menyukai obat-obatan buatan bangsa sendiri.
e. Kalau sana keluarga dan tetangga atau handai taulan sakit saya
menganjurkan menggunakan obat generik.
f. Saya merasa rendah kalau menggunakan obat generik.
g. Saya tidak senang pada orang indonesia yang menggunakan
obat generik.
h. Orang moderen harus menggunakan obat buatan luar negeri.
i. Saya merasa bangga menggunakan obat luar negeri daripada
obat generik buatan dalam negeri.
j. Agar gengsi bertambah tinggi, jika sakit gunakan obat luar
negeri.

Pernyatan tersebut diatas diberikan kepada kelompok responden


dan meminta mereka menyatakan sejauh mana persetujuan mereka
terhadap setiap pernyataan. Responden diminta memilih salah satu
dari pilihan jawaban seperti dibawah ini :
A.
B.
C.
D.
E.

Sangat setuju
Setuju
Entah, ragu, tak berpendapat
Tidak setuju
Sangat tak setuju

Untuk menyatakan nomor 1,2,3,4,5, skornya adalah A = 5, B = 4, C


= 3, D = 2, E =1.
Sebaliknya jawaban atas pernyataan nomor 6 sampai dengan 10
yakni yang tidak mendukung obat generik, nilai atau skornya diubah
menjadi : A = 1, B = 2, C = 3, D = 4, E = 5.
Sebagai misal score masing-masing item untuk 10 responden
sebagai berikut :

NOMOR ITEM

E
S

E
N

10

34

40

37

34

37

45

40

21

35

45

Kemudian skor masing-masing item dihitung kolerasinya dengan


skor total.
Dengan demikian akan ada 10 kolerasi, yakni kolerasi antara item 1
dengan total, kolerasi antara item 2 dengan total dan seterusnya
sehingga kolerasi item 10 dengan total.
Tehnik

hitungnya

dengan

tehnik

uji

kolerasi

produk

moment.Rumusnya:

Korelansi item 1 dengan score total


RESPONDE

X2

Y2

XY

N
A

34

16

1156

136

40

25

1600

200

32

1024

64

34

16

1156

136

37

16

1369

148

45

25

2025

225

40

25

1600

200

28

784

56

35

25

1225

175

j
N = 10

45

25

2025

225

X=41 Y =370 X =181 Y =13964 XY =1565


2

r=

( 10 x 1.565 )(41 x 370)


[ ( 10 x 181 )(41 x 41)][10 x 13.964(370 x 370)]

Untuk responden sebanyak 10 orang,taraf signifikansi ialah 0,632.


Angka kolerasi pada item 1 berada di atas angka kritis signifikansi
(0,632). Jadi korelasi item 1 dengan item total adalah signifikan.
Namun demikian, sebaiknya jumlah item instrumen adalah lebih dari
30 item. Bila kurang, menurut perhitungan matematika, maka angka
yang kita peroleh tersebut adalah kelebihan bobot. Untuk itu masih
harus di koreksi. Cara koreksinya menggunakan rumus :

SD . x 2 2(r .tp)(SD . x)(SD . y )

SD . y 2+

( r . tp ) (SD . y)(SD . x)
r . pq=

r.pq = angka kolerasi setelah dikoreksi


r.tp = angka kolerasi sebelum dikoreksi
SD.y = standar deviasi skor total
SD.x = standar deviasi item

Rumus SD :

xx

SD=

SD = Standar Deviasi
x = skor responden untuk item x
x = rata rata skor semua responden untuk item x

SDx yang akan dihitung adalah x item 1, yakni score a s.d. j: 4 5 2


4 4 5 5 2 5 5. Setelah dihitung dengan rumus SDx = 1,220.
Sdy, yang dihitung a s.d. j: 34 40 32 34 37 45 40 28 35 45. Setelah
dihitung diperoleh: Sdy = 6.508
r.tp = 0,806
1.220 22(0.806)(1.220)(6.508)

6.508 2+

( 0.806 ) ( 6.508 )( 1.220)


r . pq=

Angka kolerasi setelah di koreksi adalah 0,722. Angka kritik taraf


signifikansi 0,05 adalah 0,632. Jadi angka kolerasi masih tetap
signifikan.
Dengan cara seperti di atas tersebut, maka seluruh item di buat
kolerasinya angka yang jatuh di bawah angka kritik dalam taraf
signifikansi 0,05 yakni 0,632 berarti tidak signifikan sehingga
pernyataan pada item itu harus di drop.

E. Reabilitas Instrumen Penelitian


1. Penegrtian Reabilitas
Reabilitas atau tingkat ketetapan (consistency) adalah tingkat
kemampuan instrument penelitian untuk mengumpulkan data secara
tetap dari sekelompok individu. Instrument yang memiliki tingkat
realibilitas tinggi ncenderung menghasilkan data yang sama tentang
suatu variable atau unsur-unsurnya, jika diulangi pada waktu yang
berbeda pada sekelompok individu yang sama.
Dengan demikian berarti reliabilitas mengandung pengertian pokok
sebagai berikut :
a. Gejalah atau unsur-unsur didalam gejalah yang diungkapkan dalam
pengukuran pertama, ternyata tidak berubah atau sama (tetap
bertahan) pada pengukuran ke dua dan seterusnya, jika pengukuran
dilakukan dengan mempergunakan instrument yang sama.
b. Hasil pengukuran sebagai data penelitian yang ke dua dsan
seterusnya, bersifat ekuivalen (memiliki variasi yang sama) dengan
hasil pengukuran sebelumnya atau yang pertama jika pengukuran
dilakukan dengan mempergunakan instrumen yang sama.
Reabilitas instrument penelitian hanya dapat diukur dengan
perhitungan statistic, berbeda dengan validitas yang terdiri dari
beberapa jenis. Perhitungan statistic yang dipergunakan adalah rumus
korelasi, dengan mempergunakan data dari hasil uji coba (try out)
angket atau test, dalam bentuk data kuantitatif. Data itu merupakan
distribusi nilai yang bersifat data yang interval.
Dari uraian-uraian di atas jelas bahwa instrument penelitian
dikatakan reliable apabila dalam mengukur gejalah sebagai data
peneliti, mampu memberikan hasil yang relative tetap setiap kali
dipergunakan pada sekelompok individu yang sama. Dengan kata lain
instrument penelitian yang memiliki tingkat reabilitas yang tinggi,
berate memiliki ketetapan atau keajegan (consistency) hasilnya,
meskipun digunakan secara berulang.

Tingkat reliabilitas dapat diukur untuk setiap item test atau angket
dan dapat pula secara keseluruhannya. Dalam analysis item untuk
membuat testnatau angket yang bersifat standart, reliabilitas setiap
nitem perlu dihitung. Sedang dalam penelitian biasanya cukup dengan
menghitung reliabilitas instrument secara keseluruhan.

2. Uji Reabilitas
Untuk menghitung reabilitas instrument secara keseluruhan dapat
ditempuh perhitungan kerelasi, dengan berbagai cara sebagai berikut:
a. Korelasi belah dua
Distribusi nilai yang dikorelasikan dalam cara ini diperoleh dari
hasil uji coba satu angket atau test, yang dibuat menjadi dua
distribusi nilai. Distribusi nilai yang pertama diperoleh dari nilai
item-item genap, sedang distribusi yang kedua berasal dari itemitem ganjil. Distribusi pertama berfungsi sebagai predictor dan
yang kedua menjadi kriterium. Oleh karena distribusi nilai awal
dipecah atau dibagi menjadi dua, maka korelasi ini disebut juga
korelasi belah dua atau korelasi setengah-setengah.
Table
Persiapan perhitungan reliabilitas
subyek
A
B
C
D
F
E
G
H
I
J
K
L
M
N
JUMLAH

ganjil
(X)
21
23
24
31
30
35
28
25
33
14
29
30
34
11

genap
(Y)
38
36
17
25
27
33
30
21
27
12
17
20
29
25

R(X)

R(Y)

D2

3,00
4,00
5,00
11,00
9,50
14,00
7,00
6,00
12,00
2,00
8,00
0,50
13,00
1,00

14,00
13,00
2,50
6,50
8,50
12,00
11,00
5,00
8,50
1,0
2,50
4,00
10,00
6,50

-11,00
-9,00
2,50
4,50
1,00
2,00
-4,00
1,00
3,50
1,00
5,50
4,50
3,00
5,50

121,0
81,00
6,25
20,25
1,00
4,00
16,00
1,00
12,25
1,00
30,25
20,25
9,00
30,25
353,5

Perhitungan mempergunkan rumus kolerasi tata jenjang sebagai


berikut:

rgg=1

Hasil

6 D

N ( N 1 )
6 x 353,50
1
2
14( 14 1 )
10,78=0,22

perhitungan

itu

dirumuskan

dalam

rumus

untuk

mendapatkan koefisien kolerasi variabel X dan variabel Y sebagai


berikut:

Rxy=

2( Rgg)
1+ Rgg
2 x 0,22

1+ 0,22
0,44

1,22
0,36

Koefisien korelasi yang diperoleh ternyata lebih kecil daripada


indeks table r pada N 1 = 14 1 = 13 taraf signifikansi 95%
sebesar 0,533. Dengan kata lain 0,36 < 0,533 (non signifikan) .
Hasil perhitungan itu menunjukan bahwa instrument penelitian
yang dipergunakantidak reliable aatu tingkat reliabilitasnya rendah.
Untuk itu instrument perlu direvisi (diperbaiki) dan stelahg itu
perlu pula diuji cobakan lagi, karena hasil reconstruksi yang
pertama instrument tidak dapat digunakan (kurang baik sebagai alat
pengumpulan data).
b. Pengulangan test (test-Retest)
Test sebagai instrument penelitian dalam tehnik pengukuran,
dapat diketahui tingkat reliabiltasnya dengan menghitung korelasi
antara dua distribusi nilai test yang sama dan dari obyek yang sama
pula. Untuk itu dalam uji coba, test yang sama dikerjakan dua kali

atau secara ber ulang pada waktu yang berbeda. Pengulangan


dimaksudkan untuk memperoleh dua distribusi nilai dari test yuang
variasinya sama, yang dilakukan pada waktu yang berbeda
meskipun tidak terlalu lama jaraknya. Dibawah ini diberikan
contohnya dengan data fiktif.
Dalam penelitian tentang tingkat kemampuan bahasa inggris
untuk memangku suatu pekerjaan bagi calon tamatan SMA. Test
yang akan dipergunakan diuji coba pada siswa semester akhir
dikelas tiga SMA sebanyak 20 orang secara berulang. Dari uji coba
itu diperoleh dua distribusi nilai (score), yang dimaksukkan dalam
table berikut :

Perhitungan reabilitas dengan perhitungan test-resest

SUBYEK
Nurmala
Sugondo
Muslimin
Rukmana
Solihin
Rakhmah
Kardiman
Abdul Razak
Siti
Ponirah
Saginem
M. Syafei
Salekan
Mardina
Ali Marjan
Karmila
Fatimah
Gozali
Edi Suherman
Hanifa
Jumlah

TEST
I
(X)
20
20
20
40
44
52
16
16
48
12
28
20
48
20
35
52
40
36
25
46
638

TEST
II
(Y)
29
29
11
26
37
48
28
20
40
10
26
30
40
26
40
48
40
38
15
50
631

X2

Y2

400
400
400
1.600
1.936
2.704
256
256
2.304
144
784
400
2.304
400
1.225
2.704
1.600
1.296
625
2.116
23.854

841
841
121
676
1.369
2.304
984
400
1.600
100
676
900
1.600
676
900
2.304
1.600
1.444
225
2.500
22.061

XY
580
580
220
1.040
1.628
2.496
448
320
1.920
120
728
600
1.920
520
1.400
2.496
1.600
1.368
375
2.300
22.639

Dari tabel di atas diperoleh data:


N=20 X=638

X 2=23.854

Y =631
Y 2=22.061

XY = 22.659

Dihitung dengan rumus korelasi angka kasar sebagai berikut:

X
Y

X 2
Y 2
N Y 2
2
X
N


XY
N
R xy=
20 x 23.854638
( 2)(20 x 22.0616312 )
20 x 22.659(638)(631)
R xy=

R xy=0.91

Koefisien korelasi reliabilitas yang diperoleh (Rxy) adalah 0,91.


Koefisien korelasi ini cukup tinggi, dimungkinkan terjadi karena

subjek uji coba yang sama, mengerjakan satu test dua kali. Dengan
demikian berate test memiliki reliabilitas yang tinggi, mengingat
kooefisien korelasi yang diperoleh lebih besar dari indeks table
pada (N-1) = 20 1 = 19 yang menunjukkan angka 0,456 (alpha=
0,05)
c. Penggunaan test yang sejajar
Perhitungan reliabilitas ini disebut juga penggunaan test yang
seimbang atau bentuk alternatif atau bentuk keseimbangan rasional.
Untuk keperluan ini seorang peneliti harus membuat atau
merekonstruksi dua bua test, meskipun hanya salah satu
diantaranya yang akan dipergunakan sebagai alat (instrumen)
pengumpulan

data.

Test

disusun

dengan

bentuk

dan

mempergunakan bahan yang sama. Jika test yang pertama hanya


berisi item pilihan berganda (multiple choice items), untuk test
yang kedua harus sama bentuknya. Demikian juga jika materi test
yang pertama diambil dari buku A karangan saudara ali BAB I
sampai BAB X (terakhir), maka untuk test yang kedua bahannya
harus sama. Jumlah item test pertama dan kedua sebaiknya sama,
jika yang pertama sebanyak seratus item, maka yang kedua juga
seratus item. Perbedaan antara kedua test tersebut, terletak pada
rumusan itemnya yang semuanya berbeda. Untuk itu item pertama,
kedua, ketiga dan seterusnya pada test yang kedua tidak harus
menanyakan hal yang sama seperti pada item yang pertama, kedua,
ketiga dan seterusnya pada test yang pertama. Akan tetapi perlu
diupayakan

agar

terdapat

kesamaan

dalam

ranah

yang

diungkapkan. Jika item yang pertama bersifat mengungkapkan


ranah penguasaan pengetahuan, sebaiknya sama antara kedua test
tersebut. Denikian juga untuk item kedua, ketiga dan seterusnya
yang mungkin mengungkapkan ranah pemahaman (pengertian)
atau ranah analisis, sentetis dan sebagainya.
Berdasarkan uraian diatas berate test pertama berfungsi sebagai
predictor (yang akan diprediksi) dan dieprsiapkan sebagai alat
(instrumen) penelitian. Sedangkan test yang kedua sebagai

kriterium (tolak ukur) untuk mengetahui tingkat reliabilitas test


pertama. Kedua test itu setelah siap diberikan pada sejumlah subjek
yang sama, sebagai kegiatan uji coba (try out), yang akan
mengahasilkan dua distribusi nilai (score). Waktu mengerjakan test
itu oleh subjek harus berbeda, meskipun tidak terlalu sama
jaraknya.
Untuk mengetahui tingkat reliabilitas test tersebut, dilakukan
perhitungan

korelasi

guna

memperoleh

koefisien

korelasi.perhitungan dapat dilakukan dengan menggunakan rumus


rumus korelasi yang banyak jumlahnya, yang dua diantaranya
telah diuraikan terlebih dahulu. Dengan mempergunkan salah satu
rumus korelasi itu, hubungan linierlitas antar dua distribusi nilai
dapat diketahui melalui koofisien korelasi yang diperoleh.koefisien
korelasi itu dibandingkan dengan indeks tabel r product moment,
untuk mengetahui signifikansinya, sebagai ukuran reliabilitas test
yang akan dijadikan sebagai alat (instrumen) pengumpulan data.

DAFTAR PUSTAKA
1. https://samoke2012.files.wordpress.com/2012/10/instrumen
penelitian.pdf
2. Machfoedz Ircham. Metodologi Penelitian. Fitramaya: 2013
3. Nawawi Hadari. Metode Penelitian Bidang Sosial. Gadjah Mada
University Press: 2007
4. Nawawi Hadari, H.M. Martini Hadari. Instrumen Penelitian Bidang
Sosial. Gadjah Mada University Press: 2006