Anda di halaman 1dari 37

Contoh Proposal Penelitian

Pendidikan Matematika
BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah


Berdasarkan data UNESCO, mutu pendidikan matematika di Indonesia berada pada
peringkat 34 dari 38 negara yang di amati. Data lain yang menunjukan rendahnya prestasi
matematika siswa Indonesia dapat dilihat dari hasil survei pusat statistika internasional untuk
pendidikan (National Center for Education statistics, 2003) terhadap 41 negara dalam
pembelajaran matematika di Indonesia mendapatkan peringkat ke 39 di bawah Thailand dan
Uruguay. Bahkan, sampai sekarang mata pelajaran matematika khususnya pada tingkat sekolah
dasar masih memiliki berbagai masalah diantaranya matematika dianggap mata pelajaran yang
tidak menarik dan diasumsikan sulit oleh siswa, serta sistem pengajaran guru yang bersifat
konvensional (Ujianto,2012).
Banyak para ahli yang mengemukakan faktor- faktor penyebab kesulitan belajar dengan
sudut pandang mereka masing- masing. Ada yang meninjau dari sudut intern anak didik dan ada
yang meninjau dari sudut ekstern anak didik (Djamarah, 2002:201). Menurut Muhibbin Syah
factor-faktor anak didik meliputi gangguan atau kekurangmampuan psiko-fisik anak didik, yaitu
yang bersifat kognitif (ranah cipta), antara lain seperti rendahnya kapasitas intelektual atau
inteligensi anak didik, yang bersifat afektif (ranah rasa), antara lain seperti labilnya emosi dan
sikap. Dan yang bersifat psikomotor (ranah karsa), antara lain seperti terganggunya alat- alat

indera penglihatan dan pendengaran (mata dan telinga). Sedangkan faktor- faktor ekstern anak
didik meliputi semua situasi dan kondisi lingkungan sekitar yang tidak mendukung aktivitas
belajar anak didik, yakni lingkungan keluarga, lingkungan masyarakat, dan lingkungan sekolah.
Adapun faktor- faktor penyebab kesulitan belajar yang bersifat khusus, seperti sindrom
psikologis berupa Learning Disability(ketidakmampuan belajar). Sindrom adalah suatu gejala
yang timbul sebagai indikator adanya keabnormalan psikis yang menimbulkan kesulitan belajar
anak didik. Misalnya: disleksia yaitu ketidakmampuan dalam belajar membaca, disgrafia yaitu
ketidakmampuan menulis, dandiskalkulia yaitu ketidakmampuan belajar matematika.
SMPN 10 Kendari memiliki 11 kelas yaitu kelas VII empat kelas, kelas VIII empat kelas,
dan kelas IX ada tiga kelas yang masing-masing kelas terdiri 35 siswa. SMPN 10 Kendari
memiliki 4 guru matematika yang semuanya sarjana pendidikan. Berdasarkan hasil wawancara
dengan salah satu guru matematika di Sekolah tersebut diungkapkan bahwa prestasi siswa kelas
IX B masih dalam kategori rendah. Hal ini dapat dilihat dari nilai rata-rata siswa pada semester
gajil yaitu 59,19 yang hal ini ternyata dibawah nilai KKM sekolah yaitu 60. Hal ini ternyata
diakibatkan system pembelajaran yang diterapkan oleh guru matematika di sekolah tersebut
masih

bersifat

konvensional

yang

pembelajarannya

berpusat

pada

guru

(Teached

Oriented). Siswa belum aktif dalam kegiatan pembelajaran karena guru lebih memberikan materi
bersifat ceramah, sedangkan aktivitas siswa hanya mendengar dan mencatat saja, sangat jarang
ditemukan diskusi kelompok atau bentuk tukar pikiran lainnya baik dilakukan antara siswa
terhadap siswa maupun tukar pikiran antara siswa dengan guru.

Menurut keterangan salah seorang guru matematika kelas IX B SMPN 10 Kendari,


bahwa sebagian besar siswa mengalami kesulitan dalam pokok bahasan kesebangunan dan
kekongruenan. Sementara itu, pada materi kesebangunan dan kekongruenan guru selalu
menerapkan model pembelajaran ceramah dalam proses pengajarannya sehingga siswa selalu
tidak dilibatkan dalam proses pembelajaran. Akibatnya, siswa pasif dalam kegiatan
pembelajaran, aktivitas yang dilakukan sebagian besarnya adalah mendengar dan menctat saja,
sehingga dapat dikatakan bahwa pada pokok bahasan kesebangunan dan kekongruenan siswa
belum maksimal dalam memahaminya.
Berdasarkan masalah tersebut, peneliti berpendapat bahwa perlunya perbaikan
pembelajaran pada siswa kelas VIIB SMPN 10 Kendari. Hal ini dilakukan bertujuan untuk agar
siswa dapat ikut aktif dalam mengikuti kegiatan proses belajar mengajar selama pembelajaran
berlangsung. Siswa saling tukar pikiran melalui diskusi kelompok yang diberikan dalam
menyelesaikan soal pada materi kesebangunan dan kekongruenan. Oleh karena itu, dipandang
perlunya sebuah model pembelajaran untuk mengaktifkan siswa selama kegiatan belajar
berlangsung yaitu model pembelajaran yang mendorong keaktifan, tanggung jawab dan
kemandirian. Model pempelajaran kooperatif Tipe STAD berbantuan alat peraga tangram
diharapkan dapat mengaktifkan siswa selama kegiatan pembelajaran berlangsung dan
mempengaruhi hasil prestasi akademik siswa kelas IX B SMPN 10 Kendari pada pokok bahasan
kesebangunan dan kekongruenan.
Alat peraga menurut Soeparno (1987:2), pada hakikatnya adalah suatu alat yang
digunakan untuk memvisualkan suatu konsep tertentu saja misalnya seorang guru matematika

mengajarkan balok dengan menggunakan alat peraga berupa kardus bekas, kemasan produk
makanan yang berbentuk balok.Tangram merupakan salah satu alat peraga pendidikan yang
berupa teka teki (Mathematics Puzzle). Teka-teki ini bertujuan untuk membuat bentuk tertentu
menggunakan semua bangun yang tersedia. Beberapa ahli berpendapat bahwa tangram
bermanfaat bagi anak-anak dalam berbagai hal diantaranya (Bohning and Althouse,1997,
Krieger, 1991, National Council of Teachers mathematics,2003). Pemanfaatan alat peraga
tangram untuk dijadikan sebagaiMathematics Puzzle atau teka-teki matematika terhadap
keefektifan dalam menumbuhkan minat siswa dalam mempelajari mata pelajaran matematika.
Sesuai uraian diatas, maka peneliti mengadakan penelitian dengan judul Efektivitas Alat
Peraga Tangram Sebagai Mathematics Puzzle Guna Menumbuhkan Minat Matematika Pada
Siswa SMPN 10 Kendari Melalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD Pokok Bahasan
Kesebangunan dan Kekongruenan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui apakah
pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat meningkatkan keaktifan dan prestasi belajar siswa
pada pokok bahasan kesebangunan dan kekongruenan.
1.2. Batasan Masalah
Agar pembahasan pada penelitian ini tidak terlalu luas dan terarah, namun dapat
mencapai hasil yang optimal, maka penulis akan membatasi ruang lingkup pembahasan yaitu
akan meliputi penggunaan alat peraga tangram sebagai mathematics puzzle yang menjadi solusi
alternatif dalam menumbuhkan minat siswa SMPN 10 Kendari melalui model pembelajaran
kooperatif tipe STAD pada pokok bahasan kesebangunan dan kekongruenan.

1.3. Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka penelitian ini dapat dirumuskan sebagai
berikut.
1.

Seberapa tinggi efektivitas alat peraga tangram sebagai Mathematics Puzzle terhadap tumbuhnya
minat siswa SMPN 10 Kendari dalam mempelajari matematika pokok bahasan kesebangunan
dan kekongruenan melalui model pembelajaran kooperatif tipe STAD?

2.

Seberapa tinggi efektivitas alat peraga tangram sebagai Mathematics Puzzle terhadap hasil
prestasi belajar siswa SMPN 10 Kendari pada pokok bahasan kesebagunan dan kekongruenan
melalui pembelajaran tipe STAD?

1.4. Tujuan Penelitian


Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitiannya dapat dirumuskan
seperti berikut ini.
1. Untuk mengetahui keefektifan alat peraga tangram sebagai Mathematics Puzzle terhadap
tumbuhnya minat siswa SMPN 10 Kendari dalam mempelajari matematika pada pokok bahasan
kesebagunan dan kekongruenan melalui model pembelajaran kooperatif tipe STAD.
2. Untuk mengetahui keefektifan alat peraga tangram sebagai Mathematics Puzzle terhadap hasil
prestasi belajar siswa SMPN 10 Kendari pada pokok bahasan kesebagunan dan kekongruenan
melalui pembelajaran tipe STAD.

1.5. Manfaat Penelitian


Berdasarkan tujuan penelitian di atas, maka manfaat dari hasil penelitian ini adalah
sebagai berikut.
1. Bagi siswa : melalui alat peraga tangram sebagai Mathematics Puzzle dapat menumbuhkan
minat siswa dalam mempelajari matematika
2.

Bagi guru

: melalui alat peraga tagram sebagai Mathematics Puzzle dapat dengan perlahan

akanmemperbaiki dan meningkatkan mutu pembelajaran matematika di kelas


3. Bagi sekolah : dapat memberikan sumbangan yang baik dalam meningkatkan mutu pendidikan
sekolah khususnya dalam meningkatkan minat siswa dalam belajar matematika.
4. Bagi peneliti : agar memiliki khazanah keilmuan yang luas tentang model pembelajaran dan
memiliki keterampilan untuk menerapkannya, khususnya dalam pengajaran matematika.

BAB II LANDASAN TEORI

2.1. Pengertian Belajar


Belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku pada diri individu berkat adanya
interaksi antara individu dan individu dengan lingkungannya (Usman, 1995: 5). Belajar sebagai
suatu proses, ditandai dengan adanya perubahan pada diri seseorang. Winkel (1986: 36)
menyatakan bahwa belajar adalah suatu aktivitas mental atau psikis, yang berlangsung dalam
interaksi aktif dengan lingkungannya, yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam

pengetahuan, pemahaman, keterampilan dan nilai sikap. Perubahan itu bersikap secara relatif,
konstan dan berbekas.
Belajar adalah kegiatan yang dilakukan untuk menguasai pengetahuan, kebiasaan,
kemampuan, keterampilan dan sikap melalui hubungan timbal balik antara proses belajar dengan
lingkungannya. Selanjutnya Soejanto (1997: 21) menyatakan bahwa belajar adalah segenap
rangkaian aktivitas yang dilakukan secara sadar oleh seseorang dan mengakibatkan perubahan
dalam dirinya berupa penambahan pengetahuan yang menyangkut banyak aspek, baik karena
kematangan maupun karena latihan. Perubahan ini memang dapat diamati dan berlaku dalam
waktu relatif lama. Perubahan yang relatif lama tersebut disertai dengan berbagai usaha,
sehingga Hudoyo (1990: 13) mengatakan bahwa belajar itu merupakan suatu usaha yang berupa
kegiatan hingga terjadinya perubahan tingkah laku yang relatif lama atau tetap.
Berdasarkan pendapat para ahli diatas, dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu
usaha sadar yang dilakukan berupa kegiatan positif untuk menghasilkan perubahan perubahan
seperti kemampuan berpikir kritis, pemahaman, daya kreativitas, pengetahuan, dan aspek positif
lainnya yang merupakan hasil dari sebuah interaksi sosial.
Ada beberapa unsur belajar untuk mencapai tujuannya yaitu: (1) Motivasi belajar, (2)
Sumber Belajar, (3) Alat Belajar, (4) suasana belajar, dan (5) kondisi subjek belajar (Oemar
Hamalik, 1995:68). Kelima unsur inilah yag bersifat dinamis, yang sering berubah menguat dan
melemah atau mempengaruhi proses belajar siswa. Proses belajar pada hakikatnya merupakan
perubahan tingkah laku pada diri seseorang pada situasi tertentu yang berulang ulang sesuai
siatuasi dan kondisinya.
2.2.Alat Peraga

Alat peraga pendidikan adalah suatu alat yang dapat diserap oleh mata dan telinga dengan
tujuan membantu guru agar proses pembelajaran siswa lebih efektif dan efisien (Sudjana,2009).
Wijaya dan Rusyan (1994) brependapat bahwa peran alat peraga yaitu berperan sebagai
perangsang belajar dan dapat menumbuhkan motivasi belajar sehingga siswa tidak menjadi
bosan dalam meraih tujuan-tujuan belajar. Alat peraga menurut Soeparno (1987:2), pada
hakikatnya adalah suatu alat yang digunakan untuk memvisualkan suatu konsep tertentu saja
misalnya seorang guru matematika mengajarkan balok dengan menggunakan alat peraga berupa
kardus bekas, kemasan produk makanan yang berbentuk balok. Dengan menggunakan alat
peraga tersebut diharapkan siswa dapat lebih muda menangkap konsep yang disampaikan.
Alat peraga merupakan media pengajaran yang mengandung atau membawakan ciri-ciri
dari konsep yang dipelajari (Elly Estiningsih, 1994). Alat peraga matematika adalah seperangkat
benda konkret yang dirancang, dibuat, dihimpun, atau disusun secara sengaja yang digunakan
untuk membantu menanamkan atau mengembangkan konsep-konsep atau prinsip-prinsip dalam
matematika (Djoko Iswadi, 2003). Denga alat peraga, hal-hal yang abstrak dapat disajikan
dalam bentuk model-model yang berupa benda konkret yang dapat dilihat, dipegang,
diputarbalikkan sehingga mudah dipahami. Fungsi utamanya adalah untuk menurunkan
keabstrakan konsep agar siswa mampu menangkap arti konsep tersebut. Sebagai contoh, bendabenda konkret disekitar siswa seperti buah-buahan, pensil, buku, dan sebagainya. Dengan bendabenda tersebut siswa mampu membilang banyanknya anggota dari kumpulan suatu benda sampai
menemukan bilangan yag sesuai pada akhir membilang. Contoh lainnya, model-model bangun
datar, bangun ruang dan sebagainya. Dari beberapa pemaparan diatas, maka menurut hemat
penulis bahwa alat peraga matematika adalah alat atau media yang hendak diperagakan oleh guru

atau siswa sehingga menimbulkan sebuah ketertarikan siswa terhadap materi yang diajarkan
yang aka berindikasi pada keefektivan terhadap suatu pembelajaran.
Berikut akan di perlihatkan beberapa contoh alat peraga matematika yang sering
diperagakan oleh guru terhadap siswanya.

Gbr. 1.1 Papan FPB dan KPK

Gbr. 1.3 Jaring-Jaring Kubus

Gbr.1.2 Luas Lingkaran

Gbr. 1.4 Teorema Pythagoras

Satu hal yang perlu mendapat perhatian adalah teknik penggunaan alat peraga dalam
pembelajaran matematika secara tepat. Untuk itu perlu dipertimbangkan kapan digunakan dan
jenis alat peraga mana yang sesuai untuk mencapai tujuan pembelajaran. Agar dalam memilih

dan menggunakan alat peraga sesuai dengan tujuan yang akan diacapai dalam pembelajaran,
maka perlu diketahui fungsi alat peraga, yakni sebagai berikut :
1. Sebagai alat bantu untuk mewujudkan situasi belajar mengajar yang efektif.
2. Salah satu unsur yang harus dikembangkan oleh guru karena mrupakan bagian yang integral dari
situasi mengajar.
3. Penggunaannya integral dengan tujuan dan isi pelajaran.
4. Penggunaannya bukan semata-mata alat hiburan (pelengkap).
5. Untuk mempercepat proses pembelajaran (menangkap pengertian)
6. Untuk memprtinggi mutu pembelajaran.
7. sebagai media dalam menanamkan konsep-konsep matematika, memantapkan pemahaman
konsep, dan untuk menunjukan hubungan antara konsep matematika denga dunia sekitar serta
aplikasi konsep dalam dunia nyata.

Selain itu, penggunaan alat peraga, dalam proses pembelajaran mempunyai nilai-nilai
praktis sebagai berikut :
1. Alat peraga dapat mengatasi berbagai keterbatasan pengalaman yang dimiliki oleh siswa dua
orang yang hidup di dua lingkungan yang berbeda akan mempunyai pengalaman yang berbeda
pula sehingga satu sama lain dapat mengatasi perbedaan-perbedaan tersebut.
2. Alat peraga memungkinkan adanya interaksi langsung antara siswa dengan lingkungan.
3. Alat peraga menghasilkan keseragaman pengamatan.
4. Alat peraga dapat menanamkan konsep dasar yang benar, konkrit dan realistis.

5. Alat peraga dapat membangkitkan keinginan dan minat yang baru.


6. Alat peraga dapat membangkitkan motivasi dan merangsang siswa dalam belajar
7. Alat peraga dapat memberikan pengalaman yang integral dari suatu yang konkrit sampai kepada
yang abstrak.

2.3.

Tangram sebagai Mathematics Puzzle


Tangram disebut juga tujuh keping ajaib. keping-keping tersebut berupa bangun datar

yang disebut tan dan apabila disatukan akan membentuk persegi. Teka-teki ini bertujuan untuk
membuat bentuk tertentu menggunakan semua bangun yang tersedia dan. teka-teki ini disebutsebut sebagai pemula test psikologi yang digunakan untuk mengetes kemampuan kreatifitas
seseorang. Buku pertama yang menyebut tangram berjudul The Eighth Book Of Tan , yang berisi
sejarah fiktif tentang Tangram. Buku menceritakan sejarah fiktif tangram bahwa permainan
diciptakan 4.000 tahun sebelumnya oleh seorang dewa bernama Tan. Buku ini meliputi 700
bentuk, beberapa diantaranya tidak mungkin dipecahkan.
Tangram adalah suatu permainan yang sudah di kenal di seluruh dunia. Menurut dugaan,
tangram ditemukan di Cina lebih lebih dari empat ribu tahun yang lalu. Permainan ini berupa
bujur sangkar yang di potong seperti tampak pada gambar dibawah ini.

Gbr. 1.5 Bentuk Tangram

Beberapa ahli berpendapat bahwa tangram bermanfaat bagi anak-anak dalam berbagai hal
diantaranya (Bohning and Althouse, 1997, Krieger, 1991, National Council of Teachers
mathematics,2003) yaitu mengembagkan rasa suka terhadap geometri, mampu membedakan
berbagai bentuk, mengembangkan kemampuan rotasi spasial, mengembangkan perasaan intuitif
terhadap bentuk bentuk dan relasi relasi geometri , mengembangkan kemampuan pemakaian
kata kata yang tepat untuk memanipulasi bentuk (misalnya membalik, memutar, menggeser),
dan mempelajari apa artinya kongruen (bentuk yang sama dan sebangun).
Berikut adalah alat-alat dan bahan yang sangat diperlukan untuk membuat alat peraga
tangram adalah:
Tabel 1.1 Alat dan Bahan Tangram
No

Alat

Bahan

1.

Gergaji Triplek

Triplek

2.

Penggaris Kayu

Cat 7 Warna

3.

Pensil

Lem Kayu

4.

Martil

Paku Kecil

Cara membuat alat peraga tangram adalah sebagai berikut.


a.

Buatlah persegi dengan ukuran cukup besar pada triplek.

b. Bagilah persegi itu menjadi tujuh bagian


c.

Potonglah ketujuh bagian tersebut denga menyesuaikan ukuran triplek yang telah disediakan.

d. Catlah masing-masing potongan dengan warna yang berbeda agar tampak menarik.
e.

Buatlah meja kecil sebagai landasan tangram.


Berikut akan diperlihatkan bentuk-bentuk alat peraga tangram yang telah siap
diperagakan.

Gbr. 1.6 Papan Tangram

Gbr 1.7 Potongan Tangram

Gbr 1.8 Tangram Bentuk Hewan

Gbr. 1.9 Siswa Peragakan tangram

Sedangkan teknik atau cara memperagakan alat peraga tangram adalah seperti berikut ini.
a.

Model permainan tangram digunakan dengan cara merangkaikan potongan tangram dengan
menempelkan bagian sisi yang sama panjang sehingga terbentuk bangun geometri yang
dikehendaki.

b. Untuk menerapkannnya dikelas, guru bisa menyuruh masing-masing siswa untuk menjiplak 7
bangun pada gambar di atas dengan kertas yang agak tebal. Kemudian gunting dan gunakan
untuk membuat bangun-bangun geometri.
c.

Setelah itu susunlah kembali bagun geometri tersebut sesuai ketentuannya.

2.4. Model Pembelajaran Cooperatif Learning


Menurut Slavin (2009) pembelajaran kooperatif adalah metode atau model pembelajaran
dimana siswa belajar bersama, saling menyumbangkan pikiran dan bertanggung jawab terhadap
pencapaian hasil belajar individu dan kelompok. Sedangkan menurut Suprijono (2010:54)
pembelajaran kooperatif adalah konsep yang lebih luas meliputi semua jenis kerja kelompok
termasuk bentuk-bentuk yang lebih dipimpin oleh guru atau diarahkan oleh guru. Secara umum
pembelajaran kooperatif dianggap lebih diarahkan oleh guru, dimana guru menetapkan tugas dan
pertanyaan-pertanyaan serta menyediakan bahan-bahan dan informasi yang dirancang untuk
membantu peserta didik menyelesaikan masalah yang dimaksduk. Pembelajaran kooperatif juga
didukung oleh teori Vygotski. Dukungan teori Vygotsky terhadap model pembelajaran kooperatif
adalah penekanan belajar sebagai proses dialog interaktif. Pembelajaran kooperatif adalah

pembelajaran berbasis sosial. Menurut Anita Lie dalam Suprijono (2010:56), model
pembelajaran ini didasarkan pada falsafat homo homini socius yang hal ini berlawanan dengan
teori Darwin, falsafah ini menekankan bahwa manusia adalah mahluk sosial. Dialog interaktif
(interaksi sosial) adalah kunci dari semua kehidupan sosial. Tanpa interaksi sosial, tidak akan
mungkin ada kehidupan bersama (zoon Politicon). Dari beberapa penjelasan diatas, maka dapat
diketahui bahwa model pembelajaran cooperative learning adalah model pembelajaran yang
selalu menekankan kebersamaan atau jamaah dalam proses pembelajarannya, sehingga hal ini
tidak mnjadikan siswa akan kesulitan dalam menghadapi persoalan.
Tujuan pembelajaran kooperatif berbeda dengan kelompok konvensional yang
menerapkan sistem kompetisi, di mana keberhasilan individu diorientasikan pada kegagalan
orang lain. Sedangkan tujuan dari pembelajaran kooperatif adalah menciptakan situasi di mana
keberhasilan individu ditentukan atau dipengaruhi oleh keberhasilan kelompoknya (Slavin,
1994). Tujuan lain model pembelajaran kooperatif adalah penerimaan secara luas dari orangorang

yang

berbeda

berdasarkan

ras,

budaya,

kelas

sosial,

kemampuan,

dan

ketidakmampuannya. Pembelajaran kooperatif memberi peluang bagi siswa dari berbagai latar
belakang dan kondisi untuk bekerja dengan saling bergantung pada tugas-tugas akademik dan
melalui struktur penghargaan kooperatif akan belajar saling menghargai satu sama lain.
Langkah-langkah pembelajaran cooperative learning dapat dituliskan dalam tabel sebagai
berikut:
Tabel 1.2 Pembelajaran Cooperatif Learning beserta langkahnya
Langkah
Indikator
Langkah 1
Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa.

Tingkah Laku G
Guru menyampa
mengkomunikas
serta memotivas

Langkah 2
Langkah 3
Langkah 4
Langkah 5
Langkah 6

Menyajikan informasi
Guru menyajika
Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok Guru menginfor
belajar
Membimbing kelompok belajar
Guru memotivas
kelompok kelom
Evaluasi
Guru mengevalu
pembelajaran ya
Memberikan penghargaan
Guru memberi p
kelompok.

Tabel 1

Tabel 1.2

2.5.

Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD


Model pembelajaran kooperatif dapat dilakukan dengan berbagai pendekatan antara lain

dengan model pembelajaran kooperatif tipe Student Team Achievement Division (STAD).
Pembelajaran kooperatif tipe STAD di kembangkan oleh Robert E. Slavin, di mana pembelajaran
tersebut mengacu pada belajar kelompok peserta didik. Dalam satu kelas peserta didik dibagi ke
dalam beberapa kelompok dengan anggota empat sampai lima orang, setiap kelompok haruslah
heterogen.
Jumlah peserta didik bekerja dalam kelompok harus dibatasi, agar kelompok yang
terbentuk menjadi efektif, karena ukuran kelompok akan berpengaruh pada kemampuan
kelompoknya. Ukuran kelompok yang ideal untuk pembelajaran kooperatif tipe STAD adalah
empat sampai lima orang. Kelebihan kelompok berempat menurut Lie, Anita (2007:47) antara
lain:

1. Mudah dipecah menjadi berpasangan


2. Lebih banyak ide muncul
3. Lebih banyak tugas yang bisa dilakukan
4. Guru mudah memonitor
Slavin (Wardani, Sri, 2006:5-7) mengemukakan bahwa secara garis besar tahap-tahap
pelaksanaan pembelajaran kooperatif tipe STAD adalah sebagai berikut:
1. Tahap Penyajian Materi. Pada tahap ini, guru mulai dengan menyampaikan tujuan
pembelajaran umum dan khusus serta memotivasi rasa keingintahuan peserta didik mengenai
topik/materi yang akan dipelajari. Dilanjutkan dengan memberikan apersepsi yang bertujuan
mengingatkan peserta didik terhadap materi prasyarat yang telah dipelajari agar peserta didik
dapat menghubungkan meteri yang akan diberikan dengan pengetahuan yang dimiliki. Teknik
penyajian materi pelajaran dapat dilakukan dengan cara klasikal ataupun melalui diskusi.
Mengenai lamanya presentasi dan berapa kali harus dipresentasikan bergantung kepada
kekompleksan materi yang akan dibahas.
2. Tahap kerja Kelompok. Pada tahap ini peserta didik diberikan lembar tugas sebagai bahan
yang akan dipelajari. Dalam kerja kelompok ini, peserta didik saling berbagi tugas dan saling
membantu penyelesaian agar semua anggota kelompok dapat memahami materi yang akan
dibahas dan satu lembar dikumpulkan sebagai hasil kerja kelompok. Pada tahap ini guru
bertindak sebagai fasilitator dan motivator kegiatan tiap kelompok.
3. Tahap Tes Individual. Untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan belajar yang akan dicapai
diadakan tes secara individual mengenai materi yang telah dibahas, tes individual biasanya
dilakukan setiap selesai pembelajaran setiap kali pertemuan, agar peserta didik dapat

menunjukkan apa yang telah dipelajari secara individu selama bekerja dalam kelompok Skor
perolehan individu ini dikumpulkan dan diarsipkan untuk digunakan pada perhitungan perolehan
skor kelompok.
4. Tahap Perhitungan Skor Perkembangan Individu. Skor perkembangan individu dihitung
berdasarkan skor awal. Perhitungan skor perkembangan individu dimaksudkan agar peserta didik
terpacu untuk memperoleh prestasi terbaik sesuai dengan kemampuannya.
5. Tahap Penghargaan Kelompok. Pada tahap ini perhitungan skor kelompok dilakukan dengan
cara menjumlahkan masing-masing skor perkembangan individu kemudian dibagi sesuai jumlah
anggota kelompoknya. Pemberian penghargaan diberikan berdasarkan perolehan rata-rata,
penghargaan dikategorikan kepada kelompok baik, kelompok hebat dan kelompok super.
Berdasarkan uraian di atas, dalam pembelajaran kooperatif yang menggunakan
pendekatan STAD guru harus melaksanakan langkah-langkah: penyajian materi, kegiatan
kelompok, tes individu, perhitungan skor setiap individu dan penghargaan kelompok. Guru bisa
menyajikan materi baik secara klasikal atau pun melalui diskusi, dan tetap harus menyusun
perencanaan pelaksanaan pembelajaran dan mempersiapkan lembar kerja peserta didik atau
panduan belajar peserta didik, pembentukan kelompok belajar dan menjelaskan pada peserta
didik tentang tugas dan perannya dalam kelompok, juga mengenai perencanaan waktu dan
tempat duduk peserta didik. Supaya proses pembelajaran terlaksana dengan baik segala
sesuatunya harus dipersiapkan dengan baik pula, agar peran aktif peserta didik dan demokrasi
benar-benar terlaksana.
2.6.

Teori Hasil Belajar

Hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima


pengalaman belajarnya. Hasil belajar siswa pada hakikatnya adalah perubahan mencakup bidang
kognitif, afektif dan psikomotoris yang berorientasi pada proses belajar mengajar yang dialami
siswa (Sudjana, 2005). Sementara menurut Gronlund (1985) hasil belajar adalah suatu bagian
pelajaran misalnya suatu unit, bagian ataupun bab tertentu mengenai materi tertentu yang telah
dikuasai oleh siswa. Sudjana (2005) mengatakan bahwa hasil belajar itu berhubungan dengan
tujuan instruksional dan pengalaman belajar yang dialami siswa, sebagaimana dituangkan dalam
bagan berikut:

Gambar 1.10 Hubungan Tujuan, Pengalaman, dan hasil Belajar

Bagan ini menggambarkan unsur yang terdapat dalam proses belajar mengajar. Hasil
belajar dalam hal ini berhubungan dengan tujuan instruksional dan pengalaman belajar. Adanya
tujuan instruksional merupakan panduan tertulis akan perubahan perilaku yang diinginkan pada
diri siswa (Sudjana, 2005), sementara pengalaman belajar meliputi apa-apa yang dialami siswa

baik itu kegiatan mengobservasi, mengobservasi, membaca, meniru, mencoba sesuatu sendiri,
mendengar, mengikuti perintah (Spears, dalam Sardiman, 2000).
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah perubahan pada
kognitif, afektif dan konatif sebagai pengaruh pengalaman belajar yang dialami siswa baik
berupa suatu bagian, unit, atau bab materi tertentu yang telah diajarkan. Dalam penelitian ini
aspek yang di ukur adalah perubahan pada tingkat kognitifnya saja.
Djamarah (2003) menyatakan bahwa berhasil atau tidaknya seseorang dalam belajar
disebabkan oleh faktor yang berasal dari dalam diri individu dan faktor dari luar individu. Clark
(dalam Sabri 2005) mendukung hal tersebut dengan menyatakan bahwa 70% hasil belajar siswa
di sekolah dipengaruhi oleh kemampuan siswa dan 30% dipengaruhi lingkungan.

2.7.

Kerangka Berpikir
Salah satu alternatif model pembelajaran yang dapat digunakan untuk mengaktifkan dan
menumbuhkan minat siswa dalam mempelajari matematika adalah model pembelajaran
kooperatif learning tipe STAD. Model pembelajaran kooperatif learning merupakan suatu model
pembelajaran dimana siswa dilatih untuk selalu bekerja sama atau berjamaah dalam
menyelesaikan sebuah persoalan yang diberikan oleh guru. Model pembelajaran ini dituntut agar
siswa mampu menyelesaikan persoalan yang diberikan secara berkelompok, tidak secara
mandiri.

Hal

ini

sangat

berkaitan

erat

dengan

penerapan

alat

peraga

tangram

sebagai Mathematics Puzzle dalam pembelajaran matematika. Karena dalam peragaan tangram
siswa dituntut untuk menyusun teka teki

atau puzzle yang diberikan oleh guru secara

berkelompok sehingga membentuk suatu bangun ruang tertentu melalui tujuh potongan tangram.

Sehingga jika alat peraga tangram diterapkan dan diperagakan melalui model pembelajaran
kooperatif tipe STAD maka akan menghasilkan siswa yang tumbuh dan berkembang minatnya
dalam mempelajari matematika. Selain itu, hal ini pula akan berpengaruh terhadap hasil belajar
siswa.
Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD lebih mendorong kemandirian,
keaktifan, dan tanggung jawab dalam diri siswa, sehingga peserta didik lebih aktif selama proses
pembelajaran berlangsung. Melalui model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan berbantua
alat peraga tangram diharapkan mampu meningkatkan keaktifan siswa kelas IX B SMPN 10
Kendari dalam mencapai hasil prestasi belajar yang maksimal.

2.8. Hipotesis Tindakan


Berdasarkan kerangka berpikir di atas, maka hipotesis tindakan dalam penelitian ini
adalah:
1. Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD berbantuan alat peraga tangram dapat
meningkatkan minat siswa kelas IX B SMPN 10 Kendari dalam belajar pada pokok bahasan
kesebangunan dan kekongruenan.
2. Penerapan model penmbelajaran kooperatif tipe STAD berbantuan alat peraga tangram dapat
meningkatkan prestasi belajar siswa kelas IX B SMPN 10 Kendari pokok bahasan kesebangunan
dan kekongruenan.

BAB III.METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Tempat dan Waktu Penelitian


Penelitian rencananya akan dilaksanakan di kelas IX B SMP Negeri 10 Kendari pada
semester genap tahun ajaran 2014/2015 yaitu pada bulan februari sampai maret 2014.
3.2 Subjek dan Objek Penelitian
Subyeka penelitian ini adalah siswa kelas IX B SMP Negeri 10 Kendari yaitu 36 siswa
yag terdiri 16 siswa putrid an 20 siswa putra. Sedangkan objek penelitian ini adalah penerapan
model pembelajaran kooperatif tipe STAD berbantuan alat peraga tangram.
3.3 Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilakukan secara
partisipatif dan kolaboratif yang bertujuan untuk meningkatkan minat belajar matematika dan
keaktifan siswa melalui pemanfaatan alat peraga tagram dengan model pembelajaran kooperatif
learning tipe STAD. Ada beberapa tahapan dalam penelitian ini (Rochiati Wiriatmadja, 2005:66),
yaitu:
1. Perencanaan (Plan)

2. Tindakan (Act)
3. Pengamatan (Observe)
4. Refleksi (Reflect)
Pada penelitian ini akan dilakukan dalam tiga siklus. Siklus akan dihentikan bila kondisi
kelas sudah stabil dalam hal ini guru sudah mampu menguasai kereampilan belajar yang baru
dan siswa telah terbiasa dengan model pembelajaran kooperatif tipe STAD serta data yang
ditampilkan dikelassudah jenuh, dalam arti telah terdapat minat dan keaktifan, serta prestasi
belajar siswa. Alur penelitiannya adalah :

Gambar 1.11 Model spiral dari Kemmis dan Taggart

3.4 Tahapan Penelitian


1. Tahapan Penelitian Siklus I
a. Perencanaan
pada tahap ini peneliti mempersiapkan silabus, rencana pelaksanaan pembelajaran, Hand
Out, Lembar Kerja Siswa, lembar observasi keaktifan, lembar angket respon siswa, lembar
observasi pelaksanaan pembelajaran STAD dan pedoman wawancara yang kemudian
dikonsultasikan dengan dosen pembimbing.
b. Tindakan
Pelaksanaan tindakan pada siklus I dilakukan dalam tiga kali pertemuan. Tahap tindakan
dilakukan oleh guru dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD. Proses
pembelajaran dilakukan sesuai dengan jadwal pelajaran matematika kelas IX B SMPN 10
Kendari. Materi yang akan diberikan adalah materi kesebangunan dan kekongruenan. Adapun
tindaka yang dilakukan pada tiap pertemuan yaitu :
1) Pendahuluan
Guru menyampaikan presentasi kelas dengan mermberikan apersepsi dan motivasi kepada siswa
dalam mempelajari materi kesebangunan dan kekongruenan.
2) Kegiatan Inti

Siswa belajar dalam kelompok

Guru memberikan penekanan dari hasil diskusi kelompok

Siswa mengerjakan kuis secara individu

Peningkatan nilai

Pemberian penghargaan kelompok

3) Penutup
Guru memberikan penghargaan kepada kelompok yang telah berhasil mencapai kriteria
keberhasilan.
c.

Observasi
Dilakukan selama proses pembelajaran dengan menggunaka lembar observasi yang telah
disiapkan dan mencatat kejadian-kejadian yang tidak terdapat dalam lembar observasi dengan
membuat lembar catatan lapangan. Hal hal yang diamati selama proses pembelajaran adalah
kegiatan pembelajaran dan aktivitas guru maupun siswa selama pelaksanaan pembelajaran.

d. Refleksi
Pada tahap ini peneliti bersama guru melakukan evaluasi dari pelaksanaan tindakan dari
siklus I yang digunakan sebagai bahan pertimbangan perencanaan pembelajaran siklus
berikutnya. Jika hasil yang diharapkan belum tercapai maka dilakukan perbaikan yang
dilaksanakan pada siklus II dan seterusnya.
2. Tahapan penelitian Siklus II dan III
Rencana tindakan sikus II dimaksudkan sebagai hasil refleksi dan perbaikan terhadap
pelaksanaan pembelajaran pada siklus I. sedangkan kegiatan pada siklus III dimaksudkan sebagai
hasil refleksi dan perbaikan terhadap hasil pembelajaran pada siklus II. Tahapan tindakan siklus
II dan III mengikuti tahapan tindakan siklus I.

3.5 Instrumen penelitian

Instrumen penelitian dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.


1.

Peneliti
Peneliti merupakan instrumen pertama, utama, sekaligus merupakan alat pengumpul data
utama. Selain itu, peneliti juga sebagai perencana, pelaksana, pengumpul data, penganalisis data,
penafsir data, dan pelapor hasil penelitian (Lexy J. Moleong, 2007: 168).

2. Lembar Observasi
Lembar observasi merupakan instrumen penelitian yang melibatkan peneliti, observer dan
subjek penerima tindakan (siswa kelas IX B SMPN 10 Kendari) selama pengumpulan data yang
dilakukan secara sistematis. Dalam penelitian ini digunakan dua lembar observasi yaitu lembar
observasi pelaksanaan pembelajaran kooperatif tipe STAD dan lembar observasi minat dan
keaktifan siswa. Lembar observasi pelaksanaan pembelajaraan kooperatif tipe STAD digunakan
sebagai pedoman peneliti dalam melakukan observasi pembelajaran kooperati tipe STAD.
Sedangkan lembar minat dan keaktifan siswa digunakan pada setiap pembelajaran sehingga
kegiatan observasi tidak terlepas dari konteks permasalahan dan tujuan penelitian.
3. Tes
Tes berupa soal uraian yang dilaksanakan di setiap akhir siklus pembelajaran. Tes
digunakan untuk mengetahui kemampuan pemahaman siswa mengenai materi yang telah
dipelajari di dalam pembelajaran matematika menggunakan menggunakan alat peraga tangram
sebagai MathematicsPuzzle melalui model kooperatif tipe STAD terhadap tumbuhnya minat
belajar dan keaktifan siswa dalam pokok bahasan kesebangunan dan kekongruenan.

4. Angket

Angket merupakan instrumen penelitian yang dilakukan


dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan
tertulis kepada responden untuk menjawabnya. Angket yang
digunakan peneliti adalah angket minat belajar matematika dan
angket respon siswa terhadap pembelajaran matematika
menggunakan

alat

sebagai Mathematics Puzzle

peraga
melalui

tangram

model

kooperatif

learning tipe STAD. Angket minat belajar matematika


menggunakan pernyataan tertutup. Responden diminta untuk
mengisi angket dengan alternatif jawaban yang sudah
ditentukan peneliti. Data yang diminta peneliti dari responden
yaitu hal-hal yang berkaitan dengan minat belajar matematika
siswa kelas IX B SMPN 10 Kendari.
Angket respon siswa terhadap pembelajaran matematika
menggunakan

alat

sebagai Mathematics Puzzle

peraga
melalui

tangram

model

kooperatif

learning tipe STAD dengan menggunakan pertanyaan terbuka.


Responden

bebas

mengisi

angket

tersebut

mengenai

pendapatnya tentang pembelajaran matematika pokok bahasan


kesebangunan dan kekongruenan menggunakan alat peraga
tangram

sebagai Mathematics Puzzle

melalui

model

kooperatif learning.Selain itu, angket juga digunakan untuk


memperkuat data yang telah diperoleh berdasarkan lembar
observasi.
5. Pedoman Wawancara
Pedoman wawancara digunakan peneliti untuk mengetahui hal-hal yang lebih mendalam.
Wawancara ini ditujukan kepada guru matematika kelas IX B SMPN 10 Kendari untuk
mengetahui pendapat kolaborator mengenai keterlaksanaan kegiatan pembelajaran matematika
menggunakan alat peraga tangram sebagai Mathematics Puzzle melalui model kooperatif
learning serta minat belajar matematika siswa.
6. Dokumentasi
Dokumentasi meliputi perangkat pembelajaran seperti RPP dan LKS, nilai tes siswa, hasil
penilaian presentasi tim serta data hasil observasi, angket dan wawancara. Selain itu,
dokumentasi juga meliputi data pendukung seperti jadwal kegiatan pembelajaran matematika,
daftar presensi siswa.
7. Catatan Lapangan
Catatan lapangan merupakan catatan tertulis tentang hasil pengamatan dikelas yang tidak
terdapat di lembar observasi. Dalam penelitian ini catatan lapangan digunakan untuk mengamati
hal-hal yang terjadi selama penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD berbantua alat
peraga.

3.6 Teknik Pengumpulan Data


Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu:
1.

Observasi
Dalam melakukan observasi peneliti menggunakan lembar observasi yang digunakan
untuk mencatat semua gejala-gejala yang muncul ketika pembelajaran berlangsung. Pengamatan
dilakukan di dalam kelas ketika proses pembelajaran berlangsung. Dalam penelitian ini peneliti
yang juga sebagai observer dibantu oleh dua orang observer yang lain.
Lembar observasi digunakan untuk mengetahui proses pembelajaran matematika
menggunakan alat peraga tangram sebagai Mathematics Puzzle melalui model kooperatif
learning tipe STAD. Observasi ini digunakan untuk mencatat keseluruhahan proses pelaksanaan
tindakan

pembelajaran

matematika

yang

berlangsung

alat

peraga

tangram

sebagai Mathematics Puzzle melalui model kooperatif learning. Sedangkan untuk lembar
observasi minat belajar matematika digunakan untuk mencatat segala sesuatu yang berhubungan
dengan minat belajar matematika siswa yaitu yang termasuk ke dalam indikator minat belajar
matematika.
2.

Tes
Tes dilakukan setiap akhir siklus. Tes ini terdiri dari soal uraian. Tes digunakan untuk
mengetahui kemampuan pemahaman siswa mengenai pokok bahasan yang telah dipelajari di
dalam pembelajaran matematika menggunakan alat peraga tangram sebagai Mathematics Puzzle
melalui model kooperatif learning tipe STAD.

3.

Angket

Angket merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan kepada siswa setelah selesai
melaksanakan tindakan pada setiap akhir siklus. Data dari angket digunakan untuk memperkuat
data yang telah diperoleh berdasarkan lembar observasi. Angket ini terdiri dari angket minat
belajar matematika dan angket respon siswa terhadap pembelajaran matematika pokok bahasan
kesebangunan

dan

kekongruenan

menggunakan

alat

peraga

tangram

sebagai Mathematics Puzzle melalui model kooperatif tipe STAD.


4.

Wawancara
Peneliti menggunakan pedoman wawancara yang berisi pertanyaan-pertanyaan yang akan
ditanyakan kepada responden. Selain itu, peneliti juga menggunakan telepon genggam
(handphone) yang digunakan untuk merekam suara ataupun kamera digital untuk mendapatkan
gambar video dari responden sehingga peneliti tidak merasa kesulitan untuk mencatat jika
jawaban yang diberikan responden terlalu banyak.

3.7

Teknik Analisis Data


Teknik analisis yang digunakan adalah reduksi data yaitu kegiatan pemilihan data,
penyderhanaan data serta transformasi data kaasar dari catatan hasil lapangan. Penyajian data
berupa sekumpulan informasi dalam bentuk tes naratif yang disusun, diatur dan diringkas
sehingga mudah dipahami. Hal ini dilakukan secara bertahap kemudian dilakukan penyimpulan
dengan cara diskusi bersama mitra kolaborasi. Untuk menjamin kemantapan dan kebenaran data
yang dikumpulkan dan dicatatn dalam penelitian digunakan triangulasi. Triangulasi diartikan
sebagai teknik pengumpulan data yang bersifat menggabungkan dari berbagai teknik
pengumpulan data dan sumber data yang telah ada (Sugiyono, 2005 : 83).
1. Analisis Data Observasi Keaktifan Siswa

Data hasil observasi dianalisis untuk mengetahui keaktifan siswa yang berpedoman pada
lembar observasi keaktifan siswa. Penilaian dilihat dari hasil skor pada lembar observasi yang
digunakan. Persentase dipeoleh dari skor pada lembar observasi dikualifikasikan untuk
menentukan seberapa besar kekatifan siswa dalam mengikuti proses pembelajaran. Untuk setiap
siklus persentase diperoleh dari rata-rata persentase keaktifan siswa pada tiap pertemuan. Hasil
data observasi ini dianalisis denga pedoman kriteria sebagai berikut.
Tabel 1.3 Kriteria Keaktifan Siswa
Persentase

Kriteria

75 % - 100%

Sangat Tinggi

50% - 74,99%

Tinggi

25% - 49,99 %

Sedang

0% - 24,99%

Rendah

Peneliti menggunakan kriteria tersebut karena dalam lembar observasi terdapat empat
kriteria penilaian, sehingga terdapat empat kriteria keaktifan. Cara menghitung kriteria kekatifan
siswa berdasarkan lembar observasi tiap pertemuan adalah sebagai berikut:
Persentase =

2. Analisis Angket Minat Siswa


Angket minat siswa terdiri dari 14 butir pertanyaan dengan rincian 12 butir pertanyaan
positif (+) dan dua butir pertanyaan negative ( - ). Penskoran angket untuk butir (+) adalah 4
untuk jawaban selalu, 3 untuk jawaban sering, 2 untuk jawaban kadang-kadang, dan 1 untuk

jawaban tidak pernah. Untuk butir penskoran (-) adalah skor 1 untuk jawaban selalu, 2 untuk
jawaban sering, 3 untuk jawban kadang-kadang, dan 4 untuk jawaban tidak pernah. Data hasil
angket dibuat kualifikasi dengan kriteria sebagai berikut.
Tabel 1.4 Kriteria Minat Siswa
Persentase

Kriteria

75 % - 100%

Sangat Tinggi

50% - 74,99%

Tinggi

25% - 49,99 %

Sedang

0% - 24,99%

Rendah

Peneliti menggunakan kriteria tersebut karena dalam angket minat terdapat empat pilihan
jawaban sehingga terdapat empat kriteria minat. Cara menghitung persentase angket minat
menurut (Sugiyono,2001:81) adalah sebagai berikut.
Persentase =

3. Analisis Hasil Belajar Siswa


Hasil tes siswa dianalisis untuk menentukan peningkatan ketuntasan siswa, nilai individu,
skor kelompok, dan penghargaan kelompok.
a.

Peningkatan ketuntasan mengikuti ketentuan sekolah bahwa siswa dinyatakan lulus dalam
setiap tes jika nilai yang diperoleh 60 dengan nilai maksimal 100. Maka dalam penelitian ini

juga menggunakan ketentun yang ditetapkan sekolah, untuk menentukan persen (%) ketuntasan
siswa dengan menggunakan perhitungan persen (%) ketuntasan yaitu sebagai berikut.

b. Peningkatan prestasi siswa juga dilihat dari hasil elajar jangka pendeknya yang ditunjukan
dengan kenaikan nilai rata-rata tes pada setiap siklus. Dari data perolehan skor untuk setiap tes,
rata-rata nilai siswa dengan menggunakan perhitungan sebagai berikut.
dengan X= nilai siswa dan n= jumlah siswa

c.

Peningkatan nilai individu siswa diperoleh dengan membandingkan skor dasar siswa (rata-rata
nilai tes siswa sebelumnya) dengan nilai kuis sekarang. Aturan pemberian skor pebingkatan
individu mengikuti aturan dalam Slavin (1995:80).

d. Perolehan penghargaan kelompok dengan melihat jumlah rata-rata skor tiap kelompok. Aturan
perolehan penghargaan kelompok mengikuti aturan dalam Mohammad Nur (2005:36).
3.8

Definisi Operasional Variable

Untuk menghindari perbedaan persepsi terhadap istilah


dalam penelitian ini maka diberikan defenisi operasional
sebagai berikut:
1. Alat peraga tangram adalah alat atau media yang akan
diperagakan dalam sebuah pembelajaran matematika yang
berbentuk teka-teki (puzzle).
2. Model pembelajaran kooperatif tipe STAD adalah model
pembelajaran yang menuntut siswa untuk menyelesaikan

permasalahan secara berkelompok atau berjamaah, sehingga


tidak terdapat siswa yang kebingungan terhadap semua materi
yang

diajarkan

dengan

menuntut

nilai

kemandirian

keaktifan,dan tanggung jawab dalam diri siswa.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2012. Cooperative Learning. http://eliku08.blogspot.com/2012/06/cooperative
learning.html. diakses tanggal 19 oktober 2012.
Arikunto, Suharsimi. 1997. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka
Cipta.
Arikunto, Suharismi. 2002. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi Aksara.

Azwar, Saifudin. 1998. Tes Prestasi II. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.


Dalyono. 2005. Psikologi Pendidikan, Jakarta: Rineka Cipta.
Emet, Dirman. 2011. Meningkatkan Motivasi dan Minat Belajar Matematika Siswa Melalui Model
Pembelajaran Contextual Teaching and
Learning.http://dirmanemet.blogspot.com/2011/02/kajian_03.html (diakses, 10 Oktober 2013).
Fatmawati, Dani. 2010. Penggunaan Strategi Guide Note-Taking Dengan Mengoptimalkan Alat Peraga
Dalam Pembelajaran Matematika Untuk Meningkatkan Minat Belajar Siswa Dan Pemahaman
Konsep Kubus Dan Balok. Skripsi. UMS Surakarta: Tidak diterbitkan.
Fetoys.2013.Permainan Tangram. http://fetoys.net/educational/15-permainan-tangram.html
(diakses, 07 Oktober 2013).
Hamalik, Oemar. 2003. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara.
Herdian. 2009. Model Pembelajaran STAD (Students Team Achievement
Division).http://herdy07.wordpress.com/2009/04/22/model-pembelajaran-stad-student-teamsachievement-division/ (diakses, 2 Januari 2014).
Ismail. 2003. Model Pembelajaran Kooperatif. Jakarta: Dikdasmen.
J.Moleong, Lexy. 2007. Metodologi Penelitian Kulaitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Nur, Mohammad. 2005. Pembelajaran Kooperatif. Jakarta: Depdiknas.

Rinoto. 2013. Pengertian Alat Peraga Menurut Para Ahli.


http://ptkcontoh.blogspot.com/2013/09/pengertian-alat-peraga-menurut-para-ahli.html
(diakses, 05 Oktober 2013).

Sanjaya, Wina. 2007. Strategi Pembelajaran Kooperatif: Berorientasi Standar Proses Pendidikan.
Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Slavin, Robert E.2005.Cooperative Learning Teori, Riset, dan Praktik diterjemahkan oleh Narilita
Yusron.Bandung:Penerbit Nusa Media.
Soeparno. 1987. Alat Peraga Pendidikan. Jakarta: CV. Karya Mandiri
Solihatin, Etin dan Raharjo. 2007. Cooperatif Learning: Analisis Modl Pembelajaran IPS. Jakarta: Bumi
Aksara
Sugiyono.2013.Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan
R&D.Bandung: Alfabeta.
Susilo. 2007. Penelitian Tindakan Kelas. Yogyakarta: Pustaka Book Publisher.
Tapan, Imal. 2011. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD. http://tulisansingkatimal.blogspot.com/
(diakses, 2 Januari 2014).
Usman, Moh User. 2002. Menjadi Guru Profesional. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Wahab, Rochmat. 2009. Penelitian Tindakan Kelas. Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta.
Winkel. 1996. Psikologi Pengajaran. Jakarta : Grasindo.
Wiriatmadja, Rochiati. 2005. Metode Penelitian Tindakan Kelas. Bandung: Remaja Rosdakarya.