Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PENDAHULUAN

CLINICAL STUDY II
KELUARGA DENGAN ANAK USIA SEKOLAH

PRATIDINA DWINDA H.E


125070200131003

1. Keluarga
1.1.
Definisi Keluarga
a. Duvall dan Logan (1986) menguraikan definisi keluarga adalah sekumpulan
orang dengan ikatan perkawinan, kelahiran, dan adopsi yang bertujuan untuk
menciptakan, mempertahankan budaya, dan meningkatkan perkembangan fisik,
mental, emosional, serta sosial dari tiap anggota keluarga.
b. Spredley dan Allender (1996) menguraikan keluarga adalah satu atau lebih
individu yang tinggal bersama, sehingga mempunyai ikatan emosional dan
mengembangkan dalam interaksi sosial, peran dan tugas.
c. BKKBN (1992) menguraikan keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat
yang terdiri dari suami-istri atau suami-istri dan anaknya atau ayah dan anaknya
atau ibu dan anaknya.
Dari definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa karakteristik keluarga adalah :
a. Terdiri dari dua atau lebih individu yang diikat oleh hubungan perkawinan atau
adopsi
b. Anggota keluarga biasanya hidup bersama atau jika terpisah mereka tetap
memperhatikan satu sama lain
c. Anggota keluarga berinteraksi satu sama lain dan masing-masing mempunyai
peran sosial suami, istri, anak, kakak, adik
d. Mempunyai tujuan menciptakan, mempertahankan budaya, dan meningkatkan
perkembangan fisik, mental, emosional, serta sosial dari tiap anggota keluarga
1.2 Tipe Keluarga
1.2.1 Tipe Keluarga Tradisional
a. Keluarga inti
Ayah, ibu, anak (kandung/angkat)
b. Keluarga besar
Keluarga inti ditambah dengan orang lain yang berhubungan darah
(kakek, nenek, paman, bibi)
c. Keluarga Dyad
Suami dan istri tanpa anak
d. Single parent
Satu orang tua (ayah/ibu) dengan anak (kandung/angkat) karena adanya
perceraian atau kematian.
e. Single adult
Satu orang dewasa dalam rumah tangga (misalnya satu orang yang
tinggal di kos atau kontrakan untuk bekerja atau kuliah)
1.2.2 Tipe Keluarga Non Tradisional
a. The unmaririedteenege mather

Terdiri dari orang tua (terutama ibu) dengan anak dari hubungan tanpa
nikah
b. The stepparent family
Keluarga dengan orang tua tiri
c. Commune family
Beberapa pasangan keluarga dengan anaknya yang tidak ada hubungan
saudara, hidup bersama dalam satu rumah, sumber dan fasilitias yang
sama, pengalaman yang sama : sosialisasi anak dengan melalui aktivitas
kelompok atau membesarkan anak bersama
d. The non marital heterosexual cohibitating family
Keluarga yang hidup bersama dan berganti-ganti pasangan tapa melalui
pernikahan
e. Gay and Lesiban Family
Sesorang yang mempunyai persamaan sex hidup bersam asebagaimana
suami istri
f. Cohibiting couple
Orang dewasa yang hidup bersama di luar ikatan perkawinan karena
beberapa alasan terntentu
g. Group marriage family
Beberapa orang dewasa menggunakan alat-alat rumah tangga bersama
yang saling merasa sudah menikah, berbagi sesuatu termasuk seksual
dan membesarkan anaknya
h. Group network family
Keluaraga inti yang dibatasi set aturan atau nilai-nilai, hidup bersama,
atau berdekatan satu sama lainnya dan saling menggunakan barangbarang rumah tangga bersama, pelayanan, dan tanggung jawab
membesarkan anaknya
i. Foster family
Keluarga menerima anak yang tidak ada hubungan keluarga atau
saudara di dalam waktu sementara, pada saat orang tua anak tersebut
perlu mendapatkan bantuan untuk menyatukan kembali keluarga aslinya
j. Homeless family
Keluarga yang terbentuk dan tidak mempunyai perlindungan yang
permanen karena krisis personal yang dihubungkan dengan keadaan
ekonomi dan atau problem kesehatan mental.
k. Gang
Sebuah bentuk keluarga yang destruktif dari orang-orang muda yang
mencari ikatan emosional dan keluarga yang mempunyai perhatian tapi
berkembang dalam kekerasandan criminal dalam kehidupannya.
(Setyowati dan Nurwani, 2008)
1.3 Fungsi Keluarga
Friedman (1998) mengidentifikasi lima fungsi dasar keluarga, sebagai berikut:
a. Fungsi afektif (the affective function) adalah fungsi keluarga yang utama untuk
mengajarkan

segala

sesuatu

untuk

mempersiapkan

anggota

keluarga

berhubungan dengan orang lain. Fungsi ini dibutuhkan untuk perkembangan


individu dan psikososial anggota keluarga.

b. Fungsi sosialisasi dan tempat bersosialisasi (socialization and social placement


function) adalah fungsi mengembangkan dan tempat melatih anak untuk
berkehidupan sosial sebelum meninggalkan rumah untuk berhubungan dengan
orang lain di luar rumah.
c. Fungsi

reproduksi

(the

reproductive

function)

adalah

fungsi

untuk

mempertahankan generasi dan menjaga kelangsungan keluarga.


d. Fungsi ekonomi (the economic function), yaitu keluarga berfungsi untuk
memenuhi

kebutuhan

mengembangkan

keluarga

kemampuan

secara

individu

ekonomi

meningkatkan

dan

tempat

untuk

penghasilan

untuk

memenuhi kebutuhan keluarga.


e. Fungsi perawatan/ pemeliharaan kesehatan (the health care function). Keluarga
juga berperan atau berfungsi untuk melaksanakan praktek asuhan kesehatan,
yaitu untuk mencegah terjadinya gangguan kesehatan dan atau merawat
anggota keluarga yang sakit. Kemampuan keluarga dalam memberikan asuhan
kesehatan mempengaruhi status kesehatan keluarga. Kesanggupan keluarga
melaksanakan pemeliharaan kesehatan dapat dilihat dari tugas kesehatan
keluarga yang dilaksanakan. Keluarga yang dapat melaksanakan tugas
kesehatan berarti sanggup menyelesaikan masalah kesehatan (Setyowati,
2008).

1.4 Struktur Keluarga


a. Struktur peran keluarga, formal dan informal
b. Nilai/ norma keluarga, norma yg diyakini oleh keluarga. Berhubungan dengan
kesehatan
c. Pola komunikasi keluarga, bagaimana komunikasi orang tua anak, ayah ibu, &
anggota lain
d. Struktur kekuatan keluarga, kemampuan mempengaruhi dan mengendalikan
orang lain untuk kesehatan
1.5 Ciri - Ciri Struktur Keluarga
Menurut Anderson Carter , dikutip Nasrul Effendy (1998), dibagi menjadi 3 yaitu:
a. Terorganisasi: Saling berhubungan, saling ketergantungan antara anggota
keluarga.
b. Ada Keterbatasan: Setiap anggota memiliki kebebasan tetapi mereka juga
mempunyai keterbatasan dalam menjalankan fungsi dan tugasnya masing
-masing.

c. Ada perbedaan dan kekhususan: Setiap anggota keluarga mempunyai peranan


dan fungsinya masing - masing.
1.6 Peran Keluarga
Berbagai peranan yang terdapat didalam keluarga menurut Nasrul Effendy (1998),
adalah sebagai berikut :
a. Peran ayah: Ayah sebagai suami dari istri, berperan sebagai pencari
nafkah,pendidik, pelindung, dan pemberi rasa aman, sebagai kepala keluarga,
sebagai anggota dari kelompok sosialnya serta sebagai anggota masyarakat
dari lingkungannya.
b. Peran ibu: Sebagai istri dan ibu dari anak anaknya. Ibu mempunyai peranan
untuk mengurus rumah tangga sebagai pengasuh dan pendidik anak
anaknya, pelindung dan sebagai salah satu kelompok dari peranan sosialnya
serta sebagai anggota masyarakat dari lingkungannya, disamping itu juga ibu
dapat berperan sebagai pencari nafkah tambahan dalam keluarganya.
c. Peran anak: Anak anak melaksanakan peranan psikososial sesuai dengan
tingkat perkembangannya baik fisik, mental, sosial dan spiritual.
1.7 Tugas Keluarga Di Bidang Kesehatan
Sesuai dengan fungsi pemeliharaan kesehatan, keluarga mempunyai tugas di
bidang kesehatan yang perlu dipahami dan dilakukan, meliputi: (Suprajitno, 2004)
a. Mengenal masalah kesehatan keluarga
Kesehatan merupakan kebutuhan keluarga yang tidak boleh diabaikan karena
tanpa kesehatan segala sesuatu tidak akan berarti dan karena kesehatanlah
kadang seluruh kekuatan sumber daya dan dana keluarga habis. Orang tua perlu
mengenal keadaan kesehatan dan perubahan-perubahan yang dialami anggota
keluarga. Perubahan sekecil apapun yang dialami anggota keluarga secara tidak
langsung menjadi perhatian orang tua/ keluarga.
b. Memutuskan tindakan kesehatan yang tepat bagi keluarga
Tugas ini merupakan upaya keluarga yang utama untuk mencari pertolongan
yang tepat sesuai dengan keadaan keluarga, dengan pertimbangan siapa di
antara anggota keluarga yang mempunyai kemampuan memutuskan untuk
menentukan tindakan keluarga. Tindakan kesehatan yang dilakukan oleh
keluarga diharapkan tepat agar masalah kesehatan dapat dikurangi bahkan
teratasi. Dalam hal ini termasuk mengambil keputusan untuk mengobati sendiri.
c. Merawat anggota keluarga yang mengalami gangguan kesehatan
sering kali keluarga telah mengambil tindakan yang tepat dan benar. Tetapi
keluarga mempunyai keterbatasan yang telah diketahui oleh keluarga sendiri.

Jika demikian, anggota keluarga yang mengalami gangguan kesehatan perlu


memperoleh tindakan lanjutan atau perawatan agar masalah yang lebih parah
tidak terjadi. Perawatan dapat dilakukan di institusi pelayanan kesehatan atau di
rumah apabila keluarga telah memiliki kemampuan melakukan tindakan untuk
pertolongan pertama.
d. Memodifikasi lingkungan keluarga untuk menjamin kesehatan keluarga.
e. Memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan di sekitarnya bagi keluarga.

2. Anak Usia Sekolah


1.1 Definisi
Anak usia sekolah merupakan suatu periode yang dimulai saat anak masuk sekolah
dasar sekitar usia 6 tahun sampai menunjukan tanda akhir masa kanak-kanak yaitu 12
tahun.
Langkah perkembangan selama anak mengembangkan kompetensi dalam
ketrampilan fisik, kognitif, dan psikososial. Selama masa ini anak menjadi lebih baik
dalam berbagai hal, misalnya mereka dapat berlari dengan cepat dan lebih jauh sesuai
perkembangan kecakapan dan daya tahannya.
1.2 Kelompok anak
a.

Usia prasekolah

: 2 5 tahun

b.

Usia sekolah

: 6 12 tahun

Kelompok teman sebaya mempengaruhi perilaku anak. Perkembangan fisik, kognitif dan
sosial meningkat. Anak meningkatkan kemampuan komunikasi.
Anak usia 6-7 tahun :
membaca seperti mesin
mengulangi tiga angka mengurut ke belakang
membaca waktu untuk seperempat jam
anak wanita bermain dengan wanita
anak laki-laki bermain dengan laki-laki
cemas terhadap kegagalan
kadang malu atau sedih
peningkatan minat pada bidang spiritual
Anak usia 8-9 tahun:
kecepatan dan kehalusan aktivitas motorik meningkat
menggunakan alat-alat seperti palu
peralatan rumah tangga
ketrampilan lebih individual

ingin terlibat dalam segala sesuatu


menyukai kelompok dan mode
mencari teman secara aktif
Anak usia 10-12 tahun:
pertambahan tinggi badan lambat
pertambahan berat badan cepat
perubahan tubuh yang berhubungan dengan pubertas mungkin tampak
mampu melakukan aktivitas seperti mencuci dan menjemur pakaian sendiri
memasak, menggergaji, mengecat
menggambar, senang menulis surat atau catatan tertentu
membaca untuk kesenangan atau tujuan tertentu
teman sebaya dan orang tua penting
mulai tertarik dengan lawan jenis
sangat tertarik pada bacaan, ilmu pengetahuan
c.

Usia remaja

: 13 - 18 tahun

1.3 Ciri-ciri anak usia sekolah


Anak usia sekolah disebut sebagai masa akhir anak-anak sejak usia 6 tahun dengan ciri-ciri
sebagai berikut :
a. Label yang digunakan oleh orang tua
(1) Usia yang menyulitkan karena anak tidak mau lagi menuruti perintah dan lebih
dipengaruhi oleh teman sebaya dari pada orang tua ataupun anggota keluarga
lainnya
(2) Usia tidak rapi karena anak cenderung tidak memperdulikan dan ceroboh dalam
penampilan
(3) Usia bertengkar karena banyak terjadi pertengkaran antar keluarga dan membuat
suasana rumah yang tidak menyenangkan bagi semua anggota keluarga
b.

Label yang digunakan pendidik/guru

(1) Usia sekolah dasar : anak diharapkan memperoleh dasar-dasar pengetahuan yang
dianggap penting untuk keberhasilan penyesuaian diri pada kehidupan dewasa dan
mempelajari

perbagai

ketrampilan

penting

tertentu

baik

kurikuler

maupu

ekstrakurikuler
(2) Periode kritis dalam berprestasi : anak membentuk kebiasaan untuk mencapai
sukses, tidak sukses, atau sangat sukses yang cenderung menetap sampai dewasa
c.

Label yang digunakan oleh ahli psikologi


(1) Usia berkelompok : perhatian utama anak tertuju pada keinginan diterima oleh
teman-teman sebaya sebagai anggota kelompok

(2) Usia penyesuaian diri : anak ingin menyesuaikan dengan standar yang disetujui
oleh kelompok dalam penampilan, berbicara dan berperilaku
(3) Usia kreatif :suatu masa yang akan menentukan apakah anak akan menjadi
konformis (pencipta karya baru) atau tidak
(4) Usia bermain : suatu masa yang mempunyai keinginan bermain yang sangat besar
karena adanya minat dan kegiatan untuk bermain
1.4 Perkembangan fisik
1.

Tinggi dan berat badan


Laju pertumbuhan selama tahun sekolah awal lebih lambat dari pada setelah lahir

tetapi, meningkat secara terus menerus. Pada anak tertentu mungkin tidak mengikuti pola
secara tepat. Anak usia sekolah lebih langsing dari pada anak usia prasekolah, sebagai
akibat perubahan distribusi dan kekebalan lemak (Edelmen dan Mandle, 1994)
Sekolah memberi peluang pada anak untuk membandingkan dirinya dengan
kelompok besar anak anak dengan usia yang sama. Pemeriksaan fisik yang biasanya
diperlukan selama kelas 1 merupakan kesempatan yang baik perawat untuk mendiskusikan
dengan anak dan orang tua tentang pengaruh genetic, nutrisi, dan olah raga terhadap tinggi
dan berat badan. Anak laki laki sedikit labih tinggi dan lebih berat dari pada anak
perempuan selama tahun pertama sekolah. Kira kira 2 tahun sebelum pubertas. Anak
mengalami peningkatan pertumbuhan yang cepat.
2.

Fungsi kardiovaskular
Fungsi kardiovaskular baik dan stabil selama tahun usia sekolah. Denyut jantung

rata- rata 70 90 denyut/menit, tekanan darah normal 110 / 70 mm Hg dan frekuensi


pernafasan stabil 19 21, Pertumbuhan paru minimal dan pernafasan menjadi lebih lambat,
lebih dalam, dan lebih teratur. Akan tetapi pada akhir periode ini jantung 6 kali ukurannya
saat lahir dan umumnya sudah mencapai ukuran dewasa.
3.

Fungsi neuromuscular
Anak usia sekolah menjadi labih lentur karena koordinasi otot besar meningkat dan

kekuatannya dua kali lipat. Banyak anak berlatih ketrampilan motorik kasar yaitu berlari,
melompat, menyeimbangkan gerak tubuh, dan menangkap selama bermain. Menghasilkan
peningkatan

ketrampilan

neuromuscular.

Perbedaan

individual

dalam

kecepatan

pencapaian penguasaan ketrampilan dasar mulai terlihat. Perbedaan individual dalam


ketrampilan motorik terbentuk dalam partisipasi anak dalam aktivitas yang membutuhkan
pergerakan otot yang terkoordinasi dan kemampuan motorik halus.
Ketrampilan motorik halus terlambat tertinggal oleh ketrampilan motorik kasar
tetapi berkembang kira- kira dalam kecepatan yang sama, saat kontrol jari dan pergelangan
tangan tercapai, anak menjadi pandai melakukan aktivitas. Ketrampilan meningkatkan

motorik halus pada anak dalam pertengahan masa kanak kanak membuat mereka
menjadi sangat mandiri dalam merawat kebutuhan personal lain.
Mereka mengembangkan keinginan personal yang kuat dalam proses kebutuhan
ini akan terpenuhi. Penyaklit dan hospitalisasi mengancam pengendalian anak dalam area
ini. Maka sangat penting mengizinkan mereka untuk berpartisipasi dalam perawatan dan
mempertimbangkan kemandirian sebanyak mungkin.
4.

Nutrisi
Periode usia sekolah merupakan salah satu masalah nutrisi secara relative. Jika

terjadi defisiensi biasany defisiensi zat besi, vitamin A, atau kalsium. Anak usia sekolah
dapat belajar banyak hal tentang piramida makanan dan diet yang seimbang dengan
membantu menyiapkan makanan. Perawat harus menganjurkan orang tua untuk
menyediakan makanan dalam jumlah yang adekuat bagi anak untuk mendukung
pertumbuhan dan aktivitas.
1.5 Perkembangan kognitif
Perubahan kognitif pada anak usia sekolah adalah pada kemampuan untuk berfikir
dengan cara yang logis. Pemikiran anak usia sekolah tidak lagi di dominasi oleh persepsinya
dan sekaligus kemampuan untuk memahami dunia secara luas. Sekitar 7 tahun, anak
memasuki tahap piaget ketiga yaitu perkembangan kognitif, yang di kenal sebagai operasional
konkret, ketika merewka mampu mengunakan symbol secara operasional (aktivitas mental)
dalam pemikiran bukan kerja Mereka mulai menggunakan proses pemikiran yang logis dengan
materi konkret. Periode ini di tandai dengan tiga kemampuan atau kecakapan yaitu
mengklasifikasikan, menyusun, dan mengasosiasikan. Pada akhir masa ini anak sudah memiliki
kemampuan memecahkan masalah (problem solving) yang sederhana.
1.

Perkembangan bahasa
Bahasa adalah sarana berkomunikasi dengan orang lain. Dalam pengertian ini

tercakup semua semua cara untuk berkomunikasi, dimana pikiran dan perasaan di nyatakan
dalam bentuk tulisan, lisan, isyarat, atau gerak dengan menggunakan kata-kata, kalimat bunyi,
lambing, gambar atau lukisan, dengan bahasa, semua manusia dapat mengenal dirinya,
sesama manusia, alam sekitar, ilmu pengetahuan, dan nilai-nilai moral atau agama.
Terdapat dua faktor penting yang mempengaruhi perkembangan bahasa, yaitu
sebagai berikut :
a.

Proses jadi matang, dengan perkataan lain anak itu menjadi matang (orang-orang
suara / bicara sudah berfungsi ) untuk berkata kata.

b.

Proses belajar yang berarti bahwa anak yang telah matang untuk berbicara lalu
mempelajari bahasa orang lain dengan jalan mengimitasi/ meniru ucapan atau kata-kata
yang di dengarnya.

Perkembagan bahasa sangat cepat selama masa kanak-kanak tengah dan


pencapaian berbahasa tidak lagi sesuai dengan usianya. Rata-rata anak usia 6 tahun
memiliki kosakata sekitar 3000 kata yang cepat berkembang dengan meluasnya
pergaulan dengan teman sebaya dan orang dewasa serta kemampuannya membaca.
Anak meningkatkan penggunaan berbahasa dan mengembangkan pengetahuan
strukturalnya. Mereka menjadi lebih menyadari aturan sintaksis, aturan merangkai kta
menjadi kalimat.
1.6 Perkembangan psikososial
Selama masa ini anak berjuang untuk mendapatkan kompetensi dan
ketrampilan yang penting bagi mereka yang berfungsi sama sepertu dewasa. Anak usia
sekolah yang mendapatkan keberthasilan positif merasa adanya perasaan berharga.
Anak-anak yang menghadapi kegagalan dapat merasakan mediokritas (biasa saja ) /
perasaan tidak berharga yang dapat mengakibatkan menarik diri dari sekolah dan teman
sebaya.
1.

Perkembangan moral
Kebutuhan kode moral dan aturan social menjadi lebih nyata sesuai kemampuan kognitif
dan pengalaman social anak sekolah, mereka memandang aturan sebagai prinsip dasar
kehidupan, bukan hanya perintah dari yang memiliki otoritas.
Anak mulai mengenal konsep moral pertama kali dari lingkungan keluarga. Usaha untuk
menanamkan konsep moral sejak dini merupakan hal yang seharusnya, karena
informasi yang di terima anak mengenai benar salah, baik buruk, akan menjadi
pedoman pada tingkah lakunya.

2.

Hubungan sebaya
Anak usia sekolah menyukai sebaya ssejenis dari pada sebaya lain jenis. Identitas
jender yang kuat dapat di lihat pada ikatan yang kuat dengan teman sejenis yang di
pertahankan oleh anak biasa di sebut geng. Umumnya anak laki-laki dan perempuan
memandang jenis kelamin yang berbeda secara negative. Pengaruh sebaya menjadi
lebih berbeda selama tahap perkembangan ini. Konformitas terlihat pada perilaku, gaya
berpakaian, dan pola berbicara yang di dorong dan dipengaruhi adanya kontak dengan
sebaya. Identitas kelompok meningkat, seiring perubahan anak sekolah menuju
adolesens.

3.

Identitas seksual
Freud menggambarkan usia sekolah sebagai periode laten karena ia merasa pada
periode ini anak memiliki sedikit ketertarikan dalam seksualitasnya. Sekarang ini banyak
peneliti percaya bahwa anak usia sekolah memiliki ketertarikan yang besar pada
seksualitasnya.

5.

Konsep diri dan kesehatan


Selama usia sekolah identitas dan konsep diri menjadi lebih kuat dan lebih individual.
Persepsi sehat sakit berdasarkan pada fakta yang mudah diobservasi seperti adanya
atau tidak adanya penyakit dan keadekuatan tidur atau makan. Kemampuan fungsional
standar untuk kesehatan personal dan kesehatan yang lain dinilai.

1.7

Tugas Perkembangan Orangtua Dengan Anak Usia Sekolah


Tugas perkembangan keluarga umumnya lebih ditekankan pada pemenuhan tugas
perkembangan anak. untuk mencapai tugas perkembangan yang optimal, keluarga akan
membutuhkan bantuan dari pihak sekolah dan kelompok sebaya anak. keluarga perlu
membantu meletakkan dasar penyesuaian diri anak dengan teman sebaya.
a.

Mensosialisasikan

anak

termasuk

meningkatkan

prestasi

sekolah

dan

Mengembangkan hubungan dengan teman sebaya yang sehat


Kegiatan

mendorong

anak

untuk

mencapai

pengembangan

daya

intelektual,

menyediakan aktivitas untuk anak dan membantu sosialisasi anak ke luar rumah
merupakan kegiatan yang harus dilakukan oleh orang tua
b. Mempertahankan hubungan perkawinan yang memuaskan
Saat ini, hubungan perkawinan sering mengalami penurunan. orang tua kerap lebih
memfokuskan pada kegiatan peningkatan karier dan pendidikan anak.
c. Memenuhi kebutuhan fisik anggota keluarga
Anak usia sekolah membutuhkan energi dan mineral yang tinggi untuk pertumbuhan
otot, tulang dan giginya. Keluarga perlu menyediakan kebutuhan gizi bagi anggota
keluarganya. Penyakit gigi dan kulit merupakan masalah utama pada masa ini.
Peletakan dasar kebersihan diri anak perlu ditekankan keluarga untuk mencapai
kesehatan yang optimal . Keluarga perlu pula menyediakan kebutuhan anak akan
kesehatan terutama kesehatan kulit dan gigi.

1.8 Promosi kesehatan selama periode usia sekolah


Periode usia sekolah merupakan periode klinis untuk penerimaan latihan perilaku dan
kesehatan menuju kehidupan dewasa yang sehat. Jika tingkat kognisi meningkat pada periode
ini, pendidikan kesehatan yang efektif harus dikembangkan dengan tapat. Promosi praktek
kesehatan yang baik merupakan tanggung jawab perawat.
Selama progam ini, perawat berfokus pada pengembangan perilaku yang secara positif
berpengaruh pada status kesehatan anak. Perawat dapat berperan untuk memenuhi tujuan
kebijakan nasional dengan menigkatkan kebiasaan gaya hidup yang sehat termasuk nutrisi.
Anak usia sekolah harus berpartisipasi dalam progam pendidikan yang memungkinkan mereka

untuk merencanakan, memilih dan menyajikan makanan yang sehat. Perawat juga
mengikutsertakan orang tua tentang peningkatan kesehatan yang tepatbagi anak usia sekolah.
Orang tua perlu mengenali pentingnya kunjungan pemeliharaan kesehatan.
1.9 Masalah Kesehatan Spesifik Pada Anak Usia Sekolah
Kecelakaan dan cedera merupakan masalah kesehatan utama yang terjadi pada
anak. Anak usia sekolah juga secara signifikan mengalami kanker, cacat lahir, pembunuhan,
dan penyakit jantung. Pada kelompok usia ini, masalah ini memiliki angka mordibitas tinggi
jumlah infeksi hamper 80% dari seluruh penyakit anak. Infeksi pernafasan merupakan
prevalensi terbanyak, flu biasa tetap merupakan penyakit utama pada masa ini.
Beberapa kelompok lebih mudah mengalami penyakit dan ketidakmampuan, sering
kali sebagai akibat adanya rintangan pencapaian pelayanan kesehatan. Retardasi mental,
gangguan belajar, kerusakan sensasi, dan malnutrisi merupakan prevalensi terbanyak di antara
anak-anak yang hidup dalam kemiskinan.
Masalah-masalah yang sering terjadi pada anak usia sekolah meliputi bahaya fisik dan
psikologis.
1.

Bahaya Fisik

a.

Penyakit

Penyakit palsu/khayal untuk menghindari tugas-tugas yang menjadi tanggung jawabnya


Penyakit yang sering dialami adalah yang berhubungan dengan kebersihan diri
b.

Kegemukan
Bahaya kegemukan yang dapat terjadi :

Anak kesulitan mengikuti kegiatan bermain sehingga kehilangan kesempatan untuk


keberhasilan social
Teman-temannya sering mengganggu dan mengejek sehingga anak menjadi rendah diri
c.

Kecelakaan
Meskipun tidak meninggalkan bekas fisik, kecelakaan sering dianggap sebagai kegagalan
dan anak lebih bersikap hati-hati akan bahayanya bagi psikologisnya sehingga anak merasa
takut dan hal ini dapat berkembang menjadi rasa malu yang akan mempengaruhi hubungan
social

d.

Kecanggungan
Anak mulai membandingkan kemampuannya dengan teman sebaya bila muncul perasaan
tidak mampu dapat menjadi dasar untuk rendah diri

e.

Kesederhanaan
Hal ini sering dilakukan oleh anak-anak dan orang dewasa memandangnya sebagai
perilaku kurang menarik sehingga anak menafsirkannya sebagai penolakan yang dapat
mempengaruhi konsep diri anak
2.

Bahaya Psikologis

a.

Bahaya dalam berbicara


Ada 4 (empat) bahaya dalam berbicara yang umum terdapat pada anak-anak usia sekolah
yaitu :

Kosakata yang kurang dari rata-rata menghambat tugas-tugas di sekolah dan menghambat
komunikasi dengan orang lain
Kesalahan dalam berbicara, cacat dalam berbicara (gagap) akan membuat anak jadi sadar
diri sehingga anak hanya berbicara bila perlu saja
Anak yang kesulitan berbicara dalam bahasa yang digunakan dilingkungan sekolah akan
terhalang dalam usaha untuk berkomunikasi dan mudah merasa bahwa ia berbeda
Pembicaraan yang bersifat egosentris, mengkritik dan merendahkan orang lain, membual
akan ditentang oleh temannya
b.

Bahaya emosi
Anak akan dianggap tidak matang bila menunjukan pola-pola emosi yang kurang
menyenangkan seperti marah yang berlebihan, cemburu masih sangat kuat sehingga
kurang disenangi orang lain.

c.

Bahaya bermain
Anak yang kurang memiliki dukungan sosial akan merasa kekurangan kesempatan untuk
mempelajari permainandan olah raga untuk menjadi anggota kelompok, anak dilarang
berkhayal, dilarang melakukan kegiatan kreatif dan bermain akan menjadi anak penurut
yang kaku.

d.

Bahaya dalam konsep diri


Anak yang mempunyai konsep diri yang ideal biasanya merasa tidak puas terhadap diri
sendiri dan tidak puas terhadap perlakuan orang lainbila konsep sosialnya didasarkan pada
pelbagai stereotip, anak cenderung berprasangka dan bersikap diskriminatif dalam
memperlakukan orang lain. Karena konsepnya berbobot emosi dan cenderung menetap
serta terus menerus akan memberikan pengaruh buruk pada penyesuaian sosial anak

e.

Bahaya moral
Bahaya umum diakitkan dengan perkembangan sikap moral dan perilaku anak-anak :

Perkembangan kode moral berdasarkan konsep teman-teman atau berdasarkan konsepkonsep media massa tentang benar dan salah yang tidak sesuai dengan kode orang
dewasa
Tidak berhasil mengembangkan suara hati sebagai pengawas perilaku
Disiplin yang tidak konsisten membuat anak tidak yakin akan apa yang sebaiknya dilakukan
Hukuman fisik merupakan contoh agresivitas anak
Menganggap dukungan teman terhadap perilaku yang salah begitu memuaskan sehingga
menjadi perilaku kebiasaan
Tidak sabar terhadap perilaku orang lain yang salah

f.

Bahaya yang menyangkut minat


Bahaya yang dihubungkan dengan minat masa kanak-kanak :

Tidak berminat terhadap hal-hal yang dianggap penting oleh teman-teman sebaya
Mengembangkan sikap yang kurang baik terhadap minat yang dapat bernilai bagi dirinya,
misal kesehatan dan sekolah
g.

Bahaya hubungan keluarga


Kondisi-kondisi yang menyebabkan merosotnya hubungan keluarga :

Sikap terhadap peran orang tua, orang tua yang kurang menyukai peran orang tua dan
merasa bahwa waktu, usaha dan uang dihabiskan oleh anak cenderung mempunyai
hubungan yang buruk dengan anak-anaknya
Harapan orang tua, kritikan orang tua pada saat anak gagal dalam melaksanakan tugas
sekolah dan harapan-harapan orang tua maka orang tua sering mengkritik, memarahi dan
bahkan menghukum anak
Metode pelatihan anak, disiplin yang otoriter pada keluarga besar dan disiplin lunak pada
keluarga kecil yang keduanya menimbulkan pertentangan dirumah dan meyebabkan
kebencian pada anak. Disiplin yang demokratis biasanya menghasilkan hubungan keluarga
yang baik.
Status sosial ekonomi, bila anak merasa benda dan rumah miliknya lebih buruk dari
temannya maka anak sering menyalahkan orang tua dan orang tua cenderung membenci
hal itu
Pekerjaan orang tua, pandangan mengenai pekerjaan ayah mempengaruhi persaan anak
dan bila ibu seorang karyawan sikap terhadap ibu diwarnai oleh pandangan temantemannya mengenai wanita karier dan oleh banyaknya beban yang harus dilakukan di
rumah.
Perubahan sikap kepada orang tua, bila orang tua tidak sesuai dengan harapan idealnya
anak, anak cenderung bersikap kritis dan membandingkan orang tuanya dengan orang tua
teman-temannya.
Pertentangan antar saudara, anak-anak yang merasa orang tuanya pilih kasih terhadap
saudara-saudaranya maka anak akan menentang orang tua dan saudara yang dianggap
kesayangan orang tua
Perubahan sikap terhadap sanak keluarga, anak-anak tidak menyukai sikap sanak keluarga
yang terlalu memerintah atau terlalu tua dan orang tua akan memarahi anak serta sanak
keluarga membenci sikap sianak
Orang tua tiri, anak yang membenci orang tua tiri karena teringat orang tua kandung yang
tidak serumah akan memperlihatkan sikap kritis, negativitas dan perilaku yang sulit.