Anda di halaman 1dari 36

Pemeriksaan Radiologis

Pada Trauma Vertebrae


MARISKA VANESSA CAMBEY
0961050182

VERTEBRAE
Dimulai dari cranium sampai pada apexcoccigeus
Membentuk skeleton dari leher, punggung, dan
bagian utama dari skeleton (tulang cranium,
costa, dan sternum)
Fungsi vertebrae :
melindungi medulla spinalis dan serabut saraf
menyokong berat badan,
berperan dalam perubahan posisi tubuh

Terdiri dari 33
vertebrae dengan
pembagian 5 regio :

7 servikal
12 thorakal
5 lumbal
5 sakral
4 occigeal

TRAUMA VERTEBRAE
Cedera tulang belakang yang disebabkan
oleh trauma dapat menimbulkan gejala
yang bervariasi, dari rasa sakit,
kelumpuhan, inkontinensia.
Cedera tulang belakang biasanya
diakibatkan oleh kecelakaan kendaraan
bermotor, jatuh, cedera olahraga, dan
kekerasan.

Mekanisme cedera
Hiperekstensi
Fleksi
Fleksi dan kompresi digabungkan
dengan distraksi posterior
Pergeseran aksial (kompresi)
Rotasi fleksi
Translasi horizontal

Pemeriksaan
Radiologis
Konvensional pada
Vertebrae

1. Vertebrae Cervikalis
Posisi pemeriksaan yang umumnya
dilakukan untuk radiografi konvensional
pada vertebra cervikalis :

AP
Lateral
RAO / LAO
Open mouth position

POSISI AP
Pasien berdiri dengan posisi
true AP,
Vert. Cervicalis IVII
mencakup kaset, kedua
tangan berada ke bawah,
agar bahu transversal leher
sedikit extension.
Beri marker pada ujung
kaset.
Saat exposi pasien dalam
keadaan tahan nafas.

CR : (15 20) Cranially.


CP : Vertebrae Cervicalis IV
Kaset : (18 x 24) cm
FFD : 100 cm

POSISI LATERAL
Pasien berdiri dengan posisi true
lateral, bagian sisi tangan kanan
atau kiri menempel pada stand
kaset.
Kaset mencakup seluruh Vertebra
Cervicalis I VII,
Kedua tangan kebawah agar bahu
transversal dan leher sedikit
extension.
Batas luas lapangan penyinaran
mencakup Vertebra Cervicalis I VII,
beri marker pada ujung kaset.
Saat exposi pasien dalam keadaan
tahan nafas.

CR : Tegak lurus kaset.


CP : Vertebrae Cervicalis IV
Kaset : (18 x 24) cm.
FFD : 100 cm.

POSISI RIGHT ANTERIOR


OBLIQUE
Pasien berdiri dengan miring 45
membentuk posisi RAO,
Kedua tangan berada dibawah
agar bahu transversal dan sisi
tangan kanan menempel pada
stand Thorax.
Letakan kaset dibelakang leher
sampai mencakup Vertebra
Cervicalis I VII, leher sedikit
extension dan saat exposi pasien
dalam keadaan tahan nafas.

CR : (15 20) Cranially.


CP : Vertebrae Cervicalis IV
Kaset : (18 x 24) cm.
FFD : 100 cm.

Interpretasi Pemeriksaan Foto


Vertebrae Cervikal
Alignment
Menilai empat garis paralel
Anterior vertebral line
(batas anterior dari
vertebral bodies)
Posterior vertebral line
(batas posterior dari
vertebral bodies)
Spinolaminar line (batas
posterior dari canalis
spinalis)
Posterior spinous line
(ujung dari posesus
spinous)

Bone

disc
space

cartilago space

soft tissue

2. Vertebrae Thoracalis &


Lumbal
Prosedur Pemeriksaan Foto Konvensional
Vertebra Thoracalis
Persiapan pasien :
Pasien dianjurkan untuk mengganti pakaian dengan
pakaian yang telah disediakan dan melepas BH
serta perhiasan yang ada di leher.

Posisi pemeriksaan :
AP
Lateral

POSISI AP
Pasien tidur supine diatas meja
pemeriksaan dalam posisi true AP,
kedua tangan lurus kebawah,
Kedua lutut ditekuk dengan kedua
telapak kaki bertumpu pada meja
pemeriksaan.
Luas lapangan penyinaran
mencakup Cervicothoracalis
sampai Thora-columbalis.
Saat exposi pasien dalam keadaan
expirasi dan tahan nafas, marker
diletakan pada ujung kaset.

CR : Vertical tegak lurus Kaset.


CP : Vertebrae Thoracalis VI
Kaset : (30 x 40) cm.
FFD : 100 cm.

POSISI LATERAL
Pasien tidur miring dengan sisi tubuh
kanan atau kiri menempel meja
pemeriksaan, kedua tangan berada
diatas kepala dengan siku ditekuk dan
kedua kaki ditekuk kedepan sehingga
dapat menahan berat badan, usahakan
buat posisi senyaman mungkin.
Untuk mendapatkan posisi Vertebra
Thoracali true Lateral, sisi pinggang
pasien yang menempel pada meja
pemeriksaan dinaikan keatas.
Luas lapangan penyinaran mencakup
Cervicothoracalis sampai
Thoracolumbalis.
Saat exposi pasien dalam keadaan
expirasi dan tahan nafas, marker
diletakan pada ujung kaset.

CR : Vertical tegak lurus Kaset


CP : Vertebrae Thoracalis VI
Kaset : (30 x 40) cm
FFD : 100 cm.

3. Vertebrae Lumbalis
Prosedur Pemeriksaan Foto Konvensional
Vertebra Lumbalis
Persiapan pasien :
Pasien dianjurkan untuk mengganti pakaian dengan
pakaian yang telah disediakan

Posisi pemeriksaan :
AP
Lateral
RAO / LAO

POSISI AP
Pasien tidur supine diatas meja
pemeriksaan dalam posisi true
AP, kedua tangan lurus
kebawah, kedua lutut ditekuk
dengan kedua telapak kaki
bertumpu pada meja
pemeriksaan.
Luas lapangan penyinaran
mencakup Thoraco-umbalis
sampai Lumbosacral.
Saat exposi pasien dalam
keadaan expirasi dan tahan
nafas, marker diletakan pada
ujung kaset.

CR : Vertical tegak lurus Kaset


CP : Vertebrae Lumbalis III
Kaset : (24 x 30) cm
FFD : 100 cm

POSISI LATERAL
Pasien tidur miring dengan sisi tubuh
kanan atau kiri menempel meja
pemeriksaan, kedua tangan berada
diatas kepala dengan siku ditekuk dan
kedua kaki ditekuk kedepan sehingga
dapat menahan berat badan,
usahakan buat posisi senyaman
mungkin.
Untuk mendapatkan posisi Vertebra
Lumbalis true Lateral, sisi pinggang
pasien yang menempel pada meja
pemeriksaan dinaikan keatas.
Luas lapangan penyinaran mencakup
Thoracolumbalis sampai Lumbosacral.
Saat exposi pasien dalam keadaan
expirasi dan tahan nafas, marker
diletakan pada ujung kaset.

CR : Vertical tegak lurus Kaset


CP : Vertebrae Lumbalis III
Kaset : (30 x 40) cm
FFD : 100 cm

POSISI RIGHT ANTERIOR


OBLIQUE
Pasien tidur dimana sisi
kanan miring 45 membentuk
posisi RAO, kedua tangan
berada diatas kepala dengan
kedua sisi ditekuk, kaki kanan
sedikit ditekuk dan menempel
meja pemeriksaan sedangkan
kaki kiri ditekuk dengan telapak
kaki menumpu meja.
Usahakan posisi Vertebra
Lumbalis berada di tengah kaset
yang telah terpasang pada
Caset Try dengan Bucky.
Saat exposi pasien dalam
keadaan expirasi dan tahan
nafas.

CR : Vertical tegak lurus Kaset


CP : Vertebrae Lumbalis III
Kaset : (30 x 40) cm.

Pemeriksaan Radiologis
Konvensional pada Trauma
Vertebrae

Klasifikasi Trauma
Klasifikasi berdasarkan mekanisme trauma :
Hiperfleksi
Fleksi-rotasi
Hiperekstensi
Ekstensi-rotasi
Kompresi vertikal

Klasifkasi berdasarkan derajat kestabilan :


Stabil
Tidak Stabil

Trauma Hiperfleksi
Subluksasi anterior
Terjadi robekan pada sebagian
di posterior tulang leher,
ligamen longitudinal anterior.
Termasuk lesi stabil.
Tanda penting pada
subluksasi anterior adalah
adanya angulasi ke posterior
(kifosis) lokal pada tempat
kerusakan ligamen.
Tanda-tanda lainnya :
Jarak yang melebar antara
prosesus spinosus
Subluksasi sendi apofisial

Trauma Hiperfleksi
Bilateral interfacetal
dislocation

Terjadi robekan pada


ligamentum longitudinal
anterior dan kumpulan
di ligamentum di
posterior tulang leher.
Lesi tidak stabil.
Tampak dislokasi
anterior korpus vertebra.
Dilokasi total sendi
apofiseal

Trauma Hiperfleksi
Flexion Tear drop
fracture dislocation
Tenaga fleksi murni ditambah
komponen kompresi
menyebabkan robekan pada
ligamentum longitudinale anterior
dan kumpulan ligamen psterior
disertai fraktur avulsi pada bagian
anterior-inferior korpus vertebra.
Lesi tidak stabil .
Tampak tulang servikal dalam
fleksi
Fragmen tulang berbentuk segitiga
pada bagian anterior inferior korpus
vertebra
Pembengkakan jaringan lunak
pravertebra.

Trauma Hiperfleksi
Clay sholvelers
fracture
Fleksi tulang leher
dimana terdapat
kontraksi ligamen
posterior tulang leher
Mengakibatkan
terjadinya fraktur oblik
pada prosesus
spinosus
Biasanya pada C VI
CVII

Trauma Fleksi-rotasi
Clay sholvelers
fracture
Terjadi dislokasi interfacetal
pada satu sisi.
Lesi stabil walaupun terjadi
kerusakan pada ligamen
posterior termasuk kapsul sendi
apofiseal yang bersangkutan
Tampak dislokasi anterior
korpus vertebra.
Vertebra yang bersangkutan
dan vertebra proksimalnya
dalam posisi oblik, sedangkan
vertebra distalnya tetap pada
posisi lateral

Trauma Hiperekstensi
Fraktur dislokasi hiperekstensi
Dapat terjadi fraktur pedikel, prosesus
artikularis, lamina dan prosesus spinosus.
Fraktur avulsi korpus vertebra bagian posteriorinferior. Lesi tidak stabil karena terdapat
kerusakan pada elemen posterior tulang leher
dan ligamen yang bersangkutan.

Hangmans fracture
Terjadi fraktur arkus bilateral dan dislokasi
anterior CII terhadap CIII

Trauma Kompresi Vertikal


Terjadinya fraktur ini
akibat diteruskannya
tenaga trauma
melalui kepala,
kondilus oksipitalis,
ke tulang leher.
Bursting Fracture dari
atlas
Bursting fracture
vertebra servikal
tengah dan bawah

Trauma belakang Torako dan


Lumbal
Pemeriksaan radiologi rutin untuk trauma
tulang belakang torakal dan lumbal adalah
proyeksi AP dan lateral
Bila trauma berat, maka foto dibuat
dengan pasien tidur terlentang dan foto
lateral dibuat dengan sinar horizontal

Fraktur vertebra torakal bagian atas


dan tengah jarang terjadi, kecuali
bila trauma berat atau ada
osteoporosis
Karena kanalis spinal di daerah ini
sempit, maka sering disertai kelainan
neurologik.

Mekanisme trauma biasanya bersifat


kompresi atau trauma langsung
Kalau kompresi terjadi frakur
kompresi sedangkan pada trauma
langsung dapat timbul fraktur
elemen posterior vertebra berbentuk
baji pada foto lateral.

Pada foto AP, adanya pelebaran


bayangan mediastinum di daerah
yang bersangkutan menunjukkan
adanya hemato paravertebral
Pada daerah torakolumbal dan lumbal,
mekanisme trauma dapat bersifat
fleksi, ekstensi, rotasi, atau kompresi
vertikal.

Trauma fleksi merupakan yang paling


sering dan menimbulkan fraktur
kompresi
Trauma rotasi paling sering terjadi
pada vertebra torakolumbal (Tx-L1)
dan dapat menimbulkan fraktur
dislokasi disebabkan karena
kerusakan elemen posterior vertebra.

DAFTAR PUSTAKA
Rasad, S. Radiologi Diagnostik. 2009. Ed 2.
Jakarta: Balai Penerbit FK UI.
Pettersson, H. A Global TextBook of
Radiology. 1995. Vol I. Oslo: The NICER
Institute.
Jong, W.D; Samsuhidayat. 2010. Buku Ajar
Ilmu Bedah. Ed 3. Jakarta: EGC.
http://www.scribd.com/doc/123734365/BAB-I
I-Pemeriksaan-Radiologi-Konvensional#down
load
. Di unduh pada 28 Desember 2014.

THANK
YOU