Anda di halaman 1dari 12

I.

II.

Tujuan
Dapat melakukan pemeriksaan kolesterol total pada serum
Menentukan kadar kolesterol total pada serum
Dapat mengetahui metode penentuan kadar kolesterol total

Teori Dasar
A. Definisi
Kolesterol adalah lemak berwarna kekuningan berbentuk seperti lilin yang

diproduksi oleh tubuh manusia, terutama di dalam liver (hati). Kolesterol


terbentuk secara alamiah. Dari segi ilmu kimia, kolesterol merupakan senyawa
lemak kompleks yang dihasilkan oleh tubuh dengan bermacam-macam fungsi,
antara lain untuk membuat hormon seks, hormon korteks adrenal, vitamin D, dan
untuk membuat garam empedu yang membantu usus untuk menyerap lemak. Jadi,
bila kadarnya normal, kolesterol adalah lemak yang berperan penting dalam
tubuh. Namun, jika terlalu banyak, kolesterol dalam aliran darah justru
berbahaya bagi tubuh (Nilawati, 2008).
Bila ditinjau dari sudut kimiawi kolesterol diklasifikasikan ke dalam
golongan lipid (lemak) berkomponen alkohol steroid (Sitopoe M, 1992).
Kolesterol termasuk zat gizi yang sukar diserap oleh tubuh, masuk ke
dalam organ tubuh melalui sistem limpatik. Kolesterol dalam plasma darah
terutama dijumpai berikatan dengan asam lemak dan ikut bersirkulasi dari bentuk
ester kolesterol (Hertog N, 1992).

Penyebab utama peningkatan kolesterol adalah faktor genetic ,


kegemukan, alkohol, hormon estrogen, obat-obatan, diabetes mellitus tidak
terkontrol, penyakit ginjal kronik, penyakit hati serta asupan karbohidrat
sederhana berlebihan. Fenomena yang terjadi saat ini pada masyarakat adalah pola
makan yang tidak sehat, cenderung mengandung tinggi lipid dan rendah serat. Hal
ini meningkatkan risiko terjadinya hiperlipidemia, yang secara tidak langsung
meningkatkan risiko terjadinya PJK. Hiperlipidemia adalah keadaan terdapatnya
akumulasi berlebih salah satu atau lebih lipid utama dalam plasma, sebagai
manifestasi kelainan metabolisme atau transportasi lipid. Kadar lipid yang
meningkat adalah kolesterol, Trigliserida, kolesterol VLDL, kolesterol LDL.
Kadar lipid yang berlebihan ini dapat mengendap pada pembuluh darah dan
menyebabkan penyempitan pada pembuluh darah sehingga aliran darah menuju
organ terganggu. Mekanisme inilah yang mendasari terjadinya penyakit jantung
koroner (Arif, 2000).
B. Sumber Kolesterol
Sumber kolesterol berasal dari semua bahan makanan asal hewani, daging,
telur, susu, dan hasil perikanan, jaringan otak, jaringan saraf, dan kuning telur
(Sitepoe, 1992, Graha KC, 2010).
C. Fungsi Kolesterol
Kolesterol dalam tubuh juga mempunyai fungsi yang penting diantaranya:
pembentukan hormon testosteron pada pria dan hormon estrogen pada wanita,
pembentukan vitamin D, dan sebagai sumber energi (Graha KC, 2010).

D. Sintesis Kolesterol
Kolesterol dibentuk melalui asetat yang diproduksi dari nutrien dan energy
serta hasil metabolisme lainnya disamping kolesterol juga memproduksi energi.
Sumber energi berlebihan mengakibatkan pembentukan asetat sebagai
perantara juga berlebih, dan lemak di dalam tubuh juga akan bertambah.
Pembentukan kolesterol melalui asetat merupakan proses yang sangat
kompleks, diantaranya yang memegang peranan penting adalah enzim
reduktase HMG Co.A. Pembatasan konsumsi kolesterol akan berakibat
menaiknya kadar kolesterol dalam darah apabila sistem kerja enzim tidak
normal. Kolesterol pada keadaan normal disintesa dalam makanan yang
dimakan, diubah menjadi jaringan, hormon-hormon vitamin yang kemudian
beredar ke dalam tubuh melalui darah, namun ada juga kolesterol kembali ke
dalam hati untuk diubah menjadi asam empedu dan garamnya, hasil sintesa
kolesterol disimpan dalam jaringan tubuh. (Sitopoe, 1992)
Beberapa jaringan yang mampu mensintesa kolesterol diantaranya
hepar,kortex, adrenal, kulit, usus, testis, dan aorta. (Yul Iskandar, 1974)
E. Lipoprotein
Lipoprotein adalah gabungan molekul lipid dan protein yang disintesis di
dalam hati. Tiap jenis lipoprotein berbeda dalam ukuran, disintesa dan
mengangkut berbagai jinis lipid dalam jumlah yang berbeda (Sunita A, 2002).
Menurut (E.N Kosasih dan A.S Kosasih, 2008) jenis lipoprotein, yaitu :

Kilomikron: Komponen utamanya adalah trigliserida (85 90 %) dan


kolesterolnya hanya 6%. Fungsinya Mentransfer lemak dari usus dan tidak

berpengaruh dalam proses arteriosklirosis.


VLDL (Very Low Density Lipoprotein) = Pre Beta Lipoprotein, terdiri dari
protein (8 10%) dan kolesterol ( 19% ) dibentuk di hati dan sebagian

diusus. Fungsinya mengangkut triasil gliserol.


LDL (Low Density Lipoprotein) = Beta Lipoprotein Komponen terdiri dari
protein 20 % dan kolestrol 45 %. Fungsinya mentransfer kolesterol dalam
darah ke jaringan perifer dan memegang peranan mentrasfer fosfolipid
membran sel, dibutuhkan untuk pembentukan hati dari sisa-sisa VLDL,

diambil oleh sel sasaran melalui endositosis yang diperantarai reseptor.


HDL (High Density Lipoprotein) = Alpha Lipoprotein. Disebut juga
Alpha-1-Lipoprotein dibentuk oleh sel hati dan usus. Fungsinya
Mentranspot kolesterol dari perifer ke hati dimana zat tersebut
dimetabolisasi dan diekskresi.

F. Kaidah Kimia Klinik


Menurut Prof. dr. Hardjoeno, SpPK-K :
Sensitif adalah kemampuan menentukan substansi pada kadar terkecil
yang diperiksa. Secara teoritis tes dengan sensitifitas tinggi sangat
dipilih namun karena nilai normalnya sangat rendah misalnya enzim
dan hormon, atau tinggi misalnya darah samar, dalam klinik lebih

dipilih tes yang dapat menentukan nilai abnormal.


Spesifik adalah kemampuan mendeteksi substansi pada penyakit yang
diperiksa dan tidak dipengaruhi oleh substansi yang lain dalam sampel
tersebut,

Presisi adalah kemampuan untuk mendapatkan nilai yang hampir sama


pada pemeriksaan yang berulang-ulang dengan metode yang sama.

Namun teliti belum tentu akurat.


Kurativ atau cermat dan akurat adalah kemampuan untuk mendapatkan
nilai yang sama atau mendekati nilai biologis yang sebenarnya (true
value), tetapi untuk dapat mencapainya mungkin membutuhkan waktu
lama dan biaya yang mahal.

III.

Alat dan Bahan


Alat
Tabung reaksi
Mikropipet 1,0 l
Makropipet 1,0 ml
Spektrofotometer 492-546 nm

Bahan
Serum
Standar (kolesterol)
Reagen
Enzim (kolesterol esterase, kolesterol
oksidase, peroksidase)
Aquadest

IV.

Prosedur
Disediakan 3 tabung reaksi, tabung pertama berisi serum 10l yang

ditambahkan reagen warna 1 ml (uji), tabung kedua berisi kolesterol 10l yang
ditambahkan reagen warna 1 ml (standar), tabung ketiga berisi aquadest 10l yang
ditambahkan reagen warna 1 ml (blanko). Kemudian ketiga tabung tersebut
disimpan pada suhu kamar selama 20 menit. Setelah 20 menit ketiga tabung
tersebut dilakukan pengukuran absorbansi menggunakan spektrofotometer pada

panjang gelombang 492-546nm. Lalu dihitung kadar glukosa menggunakan one


point method, menentukan nilai standar deviasi, dan menentukan nilai %RSD.

V.

Hasil Pengamatan dan Perhitungan

Kadar Standar : 300 mg/dL

Bahan

Absorbansi

Blanko

1. 0,00 A
1.
2.
1.
2.
3.

Standar
Sampel Uji

1,097 A
0,640 A
0,236 A
0,707 A
0,640 A

Perhitungan

Kolesterol

mg
)
dL

absorbansi uji
absorbansi standar

1. Rata-rata absorbansi standar

kadar standar

1,097 A+0,640 A
2

0,868 A

Konsentrasi uji 1 =

0,236 A
0,868 A

300

mg
dL

= 81,567

mg
dL

Konsentrasi uji 2 =

0,707 A
0,868 A

300

mg
dL

= 244,355

mg
dL

Konsentrasi uji 3 =

0,640 A
0,868 A

300

mg
dL

= 221,198

mg
dL

2. Rata-rata Konsentrasi Uji =

81,567+244,355+221,198
3

= 182,373

mg
dL
3. Perhitungan Standar Deviasi

[ 182,37381,567 ] + [ 182,373244,355 ] + [182,373221,198 ]

SD

31

[10161,850]+[ 3841,768]+[1507,381]
2

7755,499
2

= 88,065

4. Perhitungan RSD

mg
dL

88,065
182,373

100 %

= 48,288 %

VI.

Pembahasan
Kolesterol adalah lemak berwarna kekuningan berbentuk seperti lilin yang

diproduksi oleh tubuh manusia, terutama di dalam liver (hati). Kolesterol


terbentuk secara alamiah. Dari segi ilmu kimia, kolesterol merupakan senyawa

lemak kompleks yang dihasilkan oleh tubuh dengan bermacam-macam fungsi,


antara lain untuk membuat hormon seks, hormon korteks adrenal, vitamin D, dan
untuk membuat garam empedu yang membantu usus untuk menyerap lemak. Jadi,
bila kadarnya normal, kolesterol adalah lemak yang berperan penting dalam
tubuh. Namun, jika terlalu banyak, kolesterol dalam aliran darah justru
berbahaya bagi tubuh (Nilawati, 2008).
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, kelebihan kolesterol akan
menyebabkan zat tersebut bereaksi dengan zat-zat lain dalam tubuh dan akan
mengendap dalam pembuluh darah arteri. Hal yang akan terjadi selanjutnya
adalah penyempitan dan pengerasan pembuluh darah (dikenal sebagai
atherosklerosis)

hingga

penyumbatan

dan

pemblokiran

aliran

darah

(atherosklerosis). Akibatnya, jumlah suplai darah ke jantung berkurang, terjadi


sakit atau nyeri dada yang disebut angina, bahkan dapat menjurus ke serangan
jantung (Nilawati, 2008).
Kadar kolesterol dapat ditentukan

dengan 3 metode, yaitu metode

kolorimetri, enzimatik dan kromatografi. Pada praktikum ini penentuan kadar


kolesterol dilakukan menggunakan metode enzimatik. Dipilih metode enzimatik
karena metode enzimatik memiliki sifat yang spesifik dibandingkan metode yang
lain.
Sampel yang digunakan berupa darah yang disentrifugasi sehingga
terbentuk dua lapisan yaitu serum dan plasma. Serum merupakan suatu cairan
darah yang sudah tidak mengandung faktor pembekuan (fibrinogen). Sedangkan
plasma merupakan cairan darah yang masih mengandung faktor pembekuan. Oleh

karena itu, digunakanlah serum sebagai sampel karena serum merupakan suatu
cairan darah yang menjadi tempat sirkulasi kolesterol. Jadi, secara otomatis
kolesterol pasti terkandung di dalam serum. Selain itu juga komposisi serum lebih
sederhana dibandingkan komposisi plasma.
Pada praktikum ini dilakukan pengukuran terhadap larutan blanko, standar
dan sampel uji. Blanko berisi aquadest dan reagen. Standar berisi kolesterol dan
reagen, sedangkan sampel uji berisi serum dan reagen. Penambahan reagen untuk
memberikan warna sehingga dapat diukur menggunakan spektrofotometer. Tujuan
dilakukan pengukuran terhadap blanko untuk memastikan agar serapan yang
terukur hanya untuk senyawa tertentu (kolesterol) sehingga senyawa yang lain
tidak terukur. Sedangkan tujuan dilakukan pengukuran terhadap standar untuk
membandingkan besarnya serapan standar (kolesterol) dengan sampel uji.
Selanjutnya blanko, standar dan sampel uji di inkubasi pada suhu kamar 25C
selama 20 menit. Tujuan dilakukannya inkubasi pada suhu kamar selama 20 menit
adalah agar kerja atau aktivitas enzim optimal karena reaksi yang terjadi antara
sampel dengan reagen adalah reaksi enzimatik yang berjalan lambat. Apabila
inkubasi dilakukan pada suhu yang lebih rendah (< 25C atau < 37C) dan waktu
inkubasi kurang dari 20 menit kerja enzim kurang optimal. Sedangkan jika
inkubasi dilakukan pada suhu yang lebih tinggi (> 25C atau >37C) dan waktu
inkubasi lebih dari 20 menit maka akan terjadi denaturasi protein dan membuat
kerja enzim berkurang. Selain itu, biasanya akan terbentuk substrat lain. Setelah
diinkubasi, masing-masing larutan blanko, standard dan sampel uji diukur
absorbansinya dengan menggunakan spektrofotometer pada panjang gelombang

540 nm. Pengukuran dilakukan pada panjang gelombang 540 nm karena


diharapkan pada panjang gelombang tersebut memberikan hasil absorbansi
optimal. Pada larutan sampel, pengukuran dilakukan sebanyak tiga kali (triplo)
agar kesalahan pada saat pengukuran lebih kecil sehingga hasil yang di dapat
lebih akurat.
Berdasarkan hasil pengamatan, absorbansi yang diperoleh pada saat
pengukuran larutan sampel uji 1, 2 dan 3 adalah 0,236 A; 0,707 A dan 0,640 A.
Sedangkan rata-rata absorbansi standar adalah 0,868 A. Dari hasil tersebut
absorbansi sampel cukup baik karena berada pada rentang 0,2-0,8 A tetapi berbeda
jauh dengan absorbansi standar. Hal ini terjadi karena kesalahan pada alat atau
terlalu pekatnya larutan standar 1 saat diukur sehingga menghasilkan serapan
yang besar (1,097 A) sehingga rata-rata absorbansi pada standar besar.
Berdasarkan hasil perhitungan, kadar kolesterol total yang diperoleh pada
sampel uji 1, 2 dan 3 masing-masing adalah 81,567 mg/dL, 244,355 mg/dL dan
221,198 mg/dL. Dan kadar normal kolesterol total adalah 140-250 mg/dL. Dari
hasil tersebut kadar kolesterol pada sampel uji 1 tidak normal karena kurang dari
rentang nilai normal sedangkan kadar koleterol pada sampel uji 2 dan uji 3 normal
karena masih berada pada rentang niali normal yaitu 140-250 mg/dL. Sedangkan
nilai %RSD yang didapat adalah 48,288% dan nilai %RSD yang baik adalah <
2%. Hal ini terjadi karena kesalahan pada alat atau pada saat pengerjaan.

VII.

Kesimpulan
Metode yang digunakan adalah metode enzimatik karena lebih spesifik.
Kadar kolesterol total uji 1 adalah 81,567 mg/dL.
Kadar kolesterol total uji 2 adalah 244,355 mg/dL.
10

VIII.

Kadar kolesterol total uji 3 adalah 221,198 mg/dL.


Kadar kolesterol sampel uji 1 adalah tidak normal.
Kadar kolesterol sampel uji 2 dan uji 3 adalah normal.
Nilai %RSD adalah 48,288% dan tidak persisi

Daftar Pustaka
Almatsier, Sunita. (2002). Prinsip dasar ilmu gizi. Jakarta: PT Gramedia

Pustaka Utama. (Akses : 18 Oktober 2014)


Dalimartha, S. 2008. 36 Resep Tumbuhan Obat Untuk Menurunkan

Kolesterol. Jakarta: Penerbit Niaga Swadaya (Akses : 18 Oktober 2014)


Graha, K.C. 2010. Kolesterol. Jakarta: PT Elex Media Komputido. (Akses

: 18 Oktober 2014)
Kosasih E.N. dan Kosasih A.S., 2008. Tafsiran Hasil Pemeriksaan
Laboratorium Klinik Ed. Kedua. Ciputat-Tangerang : KARISMA
Publishing Group. (Akses : 18 Oktober 2014)

11

Nilawati, S. 2008. Care Yourself Kolesterol. Jakarta: Penerbit Penebar

Plus. (Akses : 18 Oktober 2014)


Sitepoe M.1992. Kolesterol Fobia. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.

(Akses : 18 Oktober 2014)


Iskandar, Yul. 1974. Biokimia bagian I. Jakarta : Yayasan Dharma Graha
(Akses : 18 Oktober 2014)

12