Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PRAKTIKUM FILTRASI

LABORATORIUM PENGOLAHAN LIMBAH INDUSTRI


SEMESTER GANJIL TAHUN AJARAN 2015/2016
MODUL

: Filtrasi

PEMBIMBING

: Emma Hermawati

PRAKTIKUM : 29 September 2015


PENYERAHAN: 29 September 2015

Disusun oleh:
Rd. A. Feby Lailani B.

131411023

Sahara Tulaini

131411025

Shofiya Wardah Nabila

131411026

3A- D3 Teknik Kimia


Kelompok 6

PROGRAM STUDI DIPLOMA III TEKNIK KIMIA


JURUSAN TEKNIK KIMIA
POLITEKNIK NEGERI BANDUNG
2015

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Air merupakan kebutuhan yang paling mendasar bagi makhluk hidup. Air yang digunakan
harus memenuhi syarat dari segi kualitas maupun kuantitasnya. Secara kualitas, air harus
tersedia pada kondisi yang memenuhi syarat kesehatan; yang dapat ditinjau dari aspek fisika,
kimia, dan biologi. Adanya perkembangan industri dan pemukiman dapat mengancam
kualitas air bersih, sehingga diperlukan upaya perbaikan baik secara sederhana maupun
modern. Pengolahan air merupakan salah satu upaya untuk memperoleh air bersih untuk
kebutuhan rumah tangga, instansi pendidikan maupun untuk kebutuhan industri.
Dalam memenuhi kebutuhan produksi suatu industri yang semakin bertambah dan
berkembang pesat diperlukan suatu sistem yang dapat menunjang kebutuhan produksi
tersebut. Salah satu proses yang biasanya dilakukan dalam suatu industri yaitu proses
pemurnian atau pemisahan dalam pengolahan untuk menghasilkan suatu produk. Pengolahan
air dengan pemurnian atau pemisahan tersebut dapat dilakukan secara fisika, kimia dan
biologi, ketiga proses tersebut saling berkesinambungan untuk memperoleh kualitas air yang
memenuhi standar. Pada praktikum ini dilakukan proses pengolahan air bersih secara fisika,
yaitu proses filtrasi.
Pengolahan air secara fisika merupakan salah satu tahap dari pengolahan air dengan
tujuan dapat mengurangi zat padat yang terkandung dalam air. Maksud dari zat padat
tersebut ialah zat padat terlarut, tersuspensi atau koloid, sehingga dapat dicapai kualitas air
yang memenuhi syarat kualitas air secara fisika. Secara umum, proses filtrasi adalah proses
yang digunakan pada pengolahan air bersih untuk memisahkan bahan pengotor (partikulat)
yang terdapat dalam air dengan menggunakan filter.

1.2 Tujuan
Dari percobaan yang telah dilakukan, diharapakan mahasiswa dapat:
1
2
3
4

Melakukan dan mempelajari proses filtrasi;


Menentukan nilai kekeruhan air yang terjadi selama proses filtrasi;
Menentukan efisiensi dari proses filtrasi; dan
Menentukan nilai TSS pada proses filtrasi.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
1

Filtrasi Media Butiran


Secara umum filtrasi adalah proses yang digunakan pada pengolahan air bersih untuk

memisahkan bahan pengotor (partikulat) yang terdapat dalam air. Pada prosesnya air merembes
dan melewati media filter sehingga akan terakumulasi pada permukaan filter dan terkumpul
sepanjang kedalaman media yang dilewatinya. Filter juga mempunyai kemampuan untuk
memisahkan partikulat semua ukuran termasuk didalamnya algae, virus, dan koloid-koloid tanah.
Pada filtrasi dengan media berbutir, terdapat mekanisme filtrasi sebagai berikut:
Penyaringan secara mekanis (mechanical straining)
Sedimentasi
Adsorpsi atau gaya elektrokinetik
Koagulasi dalam filter bed
Aktivitas biologis
2

Medium Filter
Apabila air olahan mempunyai padatan dengan ukuran seragam, saringan yang digunakan

adalah single medium. Sebaiknya bila ukuran padatan beragam, digunakan saring dual medium
atau three medium. Penyaringan air olahan yang mengandung padatan beragam dari ukuran besar
sampai kecil/halus. Penyaringan dilakukan dengan cara membuat saringan bertingkat, yaitu
saringan kasar, saringan sedang sampai saringan halus.(Ira,2012)
Untuk merancang system penyaringan ini perlu penelitian terlebih dahulu terhadap beberapa
faktor sebagai berikut:
1. Jenis limbah padat (terapung atau tenggelam)
2. Ukuran padatan: ukuran yang terkecil dan ukuran yang terbesar
3. Perbandingan ukuran kotoran padatan besar dan kecil
4. Debit air olahan yang akan diolah
Bentuk dan jenis saringan bermacam-macam. Penyaringan bahan padatan kasar
menggunakan saringan berukuran 5 -20 mm, sedangkan padatan yang halus (hiperfiltrasi) dapat

menggunakan saringan yang lebih halus lagi. Saringan ini diusahakan mudah diangkat dan
dibersihkan.
Bahan untuk penyaringan kasar dapat terbuat dari logam tahan karat seperti stainless steel,
kawat tembaga, batu kerikil, btu bara, karbon aktif. Penyaringan untuk padatan yang halus dapat
menggunakan kain polyester atau pasir.
Jenis saringan yang biasa digunakan adalah saringan bergetar, barscreen racks, dan bak
penyaringan saringan pasir lambat. Jenis saringan yang banyak digunakan adalahsaringan bak
pasir dan batuan. Saringan pasir menggunakan batu kerikil dan pasir. Pasir yang baik untuk
penyaringan adalah pasir kuasa.
Jenis saringan menurut konstruksinya dibedakan menjadi saringan miring, saringan
pembawa, saringan sentrifugal dan drum berputar. Kecepatan penyaringan dikelompokan
menjadi tiga:
Single medium: saringan untuk menyaring air yang mengandung padatan dengan ukuran
seragam
Dual medium: saringan untuk menyaring air limbah yang didominasi oleh dua ukuran padat
Three medium: saringan untuk menyaring air limbah yang mengandung 3 ukuran padatan
Gambarnya seperti berikut ini:

Ukuran filter dibagi menjadi:


Pasir sangat kasar (very coarse sand) : 2 1 mm
Pasir kasar (coarse sand) : 1 0,5 mm

Pasir sedang (medium sand) : 0,5 0,25 mm


Pasir halus (fine sand) : 0,25 0,1 mm
Pasir sangat halus (very fine sand) : 0,1 0,05 mm
Sistem aliran air olahan dalam system filtrasi terdiri dari beberapa macam. Penentuan aliran
ini memperhatikan sifat dari limbah padat yang akan difiltrasi. Sistem aliran tersebut dibagi
menjadi empat system, yaitu aliran horizontal, aliran gravitasi, aliran dari bawah ke atas dan
aliran ganda.
3

Faktor faktor yang Mempengaruhi Efisiensi Proses Filtrasi


Dalam proses filtrasi terjadi reaksi kimia dan fisika, sehingga banyak faktorfaktor yang

saling berkaitan yang akan mempengaruhi pula kualitas air hasil filtrasi, efisiensinya, dan
sebagainya. Faktorfaktor tersebut adalah debit filtrasi, kedalaman media, ukuran dan material,
konsentrasi kekeruhan, tinggi muka air, kehilangan tekanan, dan temperatur.(Bagus,2013)
1 Debit Filtrasi
Debit yang terlalu besar akan menyebabkan tidak berfungsinya filter secara efisien. Sehingga
proses filtrasi tidak dapat terjadi dengan sempurna, akibat adanya aliran air yang terlalu cepat
dalam melewati rongga diantara butiran media pasir. Hal ini menyebabkan berkurangnya
waktu kontak antara permukaan butiran media penyaring dengan air yang akan disaring.
Kecepatan aliran yang terlalu tinggi saat melewati rongga antar butiran menyebabkan
partikelpartikel yang terlalu halus yang tersaring akan lolos.
2

Konsentrasi Kekeruhan
Konsentrasi kekeruhan sangat mempengaruhi efisiensi dari filtrasi. Konsentrasi kekeruhan air
baku yang sangat tinggi akan menyebabkan tersumbatnya lubang pori dari media atau akan
terjadi clogging. Sehingga dalam melakukan filtrasi sering dibatasi seberapa besar konsentrasi
kekeruhan dari air baku (konsentrasi air influen) yang boleh masuk. Jika konsentrasi
kekeruhan yang terlalu tinggi, harus dilakukan pengolahan terlebih dahulu, seperti misalnya
dilakukan proses koagulasi flokulasi dan sedimentasi.

Temperatur
Adanya perubahan suhu atau temperatur dari air yang akan difiltrasi, menyebabkan massa
jenis (density), viskositas absolut, dan viskositas kinematis dari air akan mengalami
perubahan. Selain itu juga akan mempengaruhi daya tarik menarik diantara partikel halus
penyebab kekeruhan, sehingga terjadi perbedaan dalam ukuran besar partikel yang akan

disaring. Akibat ini juga akan mempengaruhi daya adsorpsi. Akibat dari keduanya ini, akan
mempengaruhi terhadap efisiensi daya saring filter.
Menurut Griswidia (2008) yang dikutip dari jurnal Penentuan Setting Level Optimal Media
Penjernih Air Terhadap Tingkat Kekeruhan dan Kandungan Fe dengan Metode Full Factorial
22 dan Principal Component Analysis oleh Sudarmono (2010), temperatur berpengaruh
terhadap kekentalan, aktifitas biologi, dan reaksi kimia.
Pengaruh Temperatur terhadap Kekentalan
Jika temperatur air semakin tinggi, maka kekentalan air akan semakin rendah sehingga
gaya gesek air akan lebih cepat melalui celah tersebut dengan demikian akan

memperpendek waktu filtrasi.


Temperatur terhadap Aktifitas Biologi
Temperatur air dapat mempengaruhi kecepatan metabolism bakteri dalam air, apabila
temperatur mencapai optimum untuk perkembangbiakan bakteri, maka bakteri akan

bertambah dengan cepat.


Pengaruh Temperatur terhadap Reaksi Kimia
Apabila temperatur semakin tinggi, maka reaksi kimia akan semakin cepat, sebaliknya
apabila temperatur semakin rendah maka reaksi kimia akan semakin lambat. Temperatur
yang baik yaitu antara 20-300C, temperatur akan mempengaruhi kecepatan reaksi-reaksi
kimia.

Kedalaman media, ukuran, dan material


Pemilihan media dan ukuran merupakan keputusan penting dalam perencanaan bangunan
filter. Tebal tipisnya media akan menentukan lamanya pengaliran dan daya saring. Media
yang terlalu tebal biasanya mempunyai daya saring yang sangat tinggi, tetapi membutuhkan
waktu pengaliran yang lama. Lagipula ditinjau dari segi biaya, media yang terlalu tebal
tidaklah menguntungkan dari segi ekonomis. Sebaliknya media yang terlalu tipis selain
memiliki waktu pengaliran yang pendek, kemungkinan juga memiliki daya saring yang
rendah. Demikian pula dengan ukuran besar kecilnya diameter butiran media filtrasi
berpengaruh pada porositas, laju filtrasi, dan juga kemampuan daya saring, baik itu
komposisisnya, proporsinya, maupun bentuk susunan dari diameter butiran media. Keadaan
media yang terlalu kasar atau terlalu halus akan menimbulkan variasi dalam ukuran rongga
antar butir. Ukuran pori sendiri menentukan besarnya tingkat porositas dan kemampuan
menyaring partikel halus yang terdapat dalam air baku. Lubang pori yang terlalu besar akan
meningkatkan rate dari filtrasi dan juga akan menyebabkan lolosnya partikel halus yang akan

disaring. Sebaliknya lubang pori yang terlalu halus akan meningkatkan kemampuan
menyaring partikel dan juga dapat menyebabkan clogging (penyumbatan lubang pori oleh
partikel halus yang tertahan) terlalu cepat.
5

Tinggi Muka Air Di Atas Media dan Kehilangan Tekanan


Keadaan tinggi muka air di atas media berpengaruh terhadap besarnya debit atau laju filtrasi
dalam media. Tersedianya muka air yang cukup tinggi diatas media akan meningkatkan daya
tekan air untuk masuk kedalam pori. Dengan muka air yang tinggi akan meningkatkan laju
filtrasi (bila filter dalam keadaan bersih). Muka air diatas media akan naik bila lubang pori
tersumbat (terjadi clogging) terjadi pada saat filter kotor. Untuk melewati lubang pori,
dibutuhkan aliran yang memiliki tekanan yang cukup. Besarnya tekanan air yang ada diatas
media dengan yang ada didasar media akan berbeda di saat proses filtrasi berlangsung.
Perbedaan inilah yang sering disebut dengan kehilangan tekanan (headloss). Kehilangan
tekanan akan meningkat atau bertambah besar pada saat filter semakin kotor atau telah
dioperasikan selama beberapa waktu. Friksi akan semakin besar bila kehilangan tekanan
bertambah besar, hal ini dapat diakibatkan karena semakin kecilnya lubang pori (tersumbat)
sehingga terjadi clogging.

Uji Kekeruhan
Kekeruhan air dapat ditimbulkan oleh adanya bahan-bahan organik dan anorganik, kekeruhan

juga dapat mewakili warna. Sedang dari segi estetika kekeruhan air dihubungkan dengan
kemungkinan hadirnya pencemaran melalui buangan dan warna air tergantung pada warna air
yang memasuki badan air.(Sudarmono,2010)
Kekeruhan menggambarkan sifat optik air yang ditentukan berdasarkan banyaknya cahaya
yang diserap dan dipancarkan oleh bahan-bahan yang terdapat dalam air. Kekeruhan disebabkan
oleh adanya bahan organik dan anorganik yang tersuspensi dan terlarut (misalnya lumpur dan
pasir halus), maupun bahan anorganik dan organic yang berupa plankton dan mikro organism
lain. Kekeruhan dinyatakan dalam satuan turbiditas, yang setara dengan 1mg/liter SiO2.
Peralatan yang pertama kali digunakan untuk mengukur turbiditas atau kekeruhan adalah
Jackson Candler Turbidimeter, yang dikalibrasi dengan menggunakan silika. Kemudian, Jackson
Candler Turbidimeter dijadikan sebagai alat baku atau standar bagi pengukuran kekeruhan. Satu

Unit turbiditas Jackson Candler Turbidimeter dinyatakan dengan satuan 1 JTU. Pengukuran
kekeruhan dengan menggunakan Jackson Candler Turbidimeter bersifat visual, yaitu
membandingkan air sampel dengan standar. Selain dengan menggunakan Jackson Candler
Turbidimeter, kekeruhan sering diukur dengan metode Nephelometric. Pada metode ini,
sumbercahaya dilewatkan pada sampel dan intensitas cahaya yang dipantulkan oleh bahan-bahan
penyebab kekeruhan diukur dengan menggunakan suspensi polimer formazin sebagai larutan
standar. Satuan kekeruhan yang diukur dengan menggunakan metode Nephelometric adalah
NTU (Nephelometric Tubidity Unit). Satuan JTU dan NTU sebenarnya tidak dapat saling
mengkonversi, akan tetapi Sawyer dan MC Carty (1978) mengemukakan bahwa 40 NTU setara
dengan 40 JTU.
Kekeruhan dihilangkan melalui pembubuhan sejenis bahan kimia dengan sifat-sifat tertentu
yang disebut flokulan. Umumnya flokulan tersebut adalah tawas, namun dapat pula garam Fe
(III), atau salah satu polielektrolit organis. Selain pembubuhan flokulan diperlukan pengadukan
sampai flok-flok terbentuk. Flok-flok ini mengumpulkan partikelpartikel kecil dan koloid
tersebut (bertumbukan) dan akhirnya bersama-sama mengendap. Kekeruhan dipengaruhi oleh:
Benda-benda halus yang disuspensikan seperti lumpur dan sebagainya.
Adanya jasad-jasad renik (plankton)
Warna Air(Ainur dkk,

BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM
3.1

Alat dan Bahan yang Digunakan

3.1.1. Alat
Alat yang dibutuhkan untuk praktikum ialah sebagai berikut.
No
Nama Alat
Jumlah
1 Unit kolom filter
1 set
2 Turbidimeter
1 set
3 Gelas ukur 1000 ml
1 buah
4 Stopwatch
1 buah
5 Beker glass 250 ml
1 buah
6 Batang pengaduk
1 buah
7 Beker plastik berukuran 2 liter
2 buah
8 Beker plastik berukuran 5 liter
2 buah
9 Botol plastik untuk sampling
20 buah
10 Neraca
1 set
Alat filtrasi berupa kolom filter berisi media filter pasir kwarsa yang berfungsi menyaring
atau memindahkan bahan tersuspensi dalam air sedangkan alat turbidimeter berfungsi
mengukur nilai kekeruhan air yang memiliki satuan NTU (Nephelometry Turbidity Unit).
3.1.2. Bahan
Bahan yang dibutuhkan untuk praktikum ialah sebagai berikut.
1. Air keruh artifisial sebagai umpan dengan bahan kapur CaCO3, bentonite dan zeolite;
2. Tisu untuk membersihkan tabung uji kekeruhan.

3.2.

Prosedur Kerja

3.2.1. Tahap Pembuatan Air Baku Artifisial

Menambahkan bahan kapur, zeolite, atau bentonit dalam jumlah tertentu ke dalam tangka beris

Pengadukan sekitar 3 menit

3.2.2. Tahap Operasi Filtrasi


Memompakan air baku artifisial ke tangki di atas unit filter media butiran dan
melakukan pengadukan terhadap air baku pada semua tangki

Menutup valve pada aliran bawah dan mengalirkan air baku dari tangki atas masuk ke
dalam kolom filter

Membuka valve pada aliran bawah saat permukaan air di atas media filter telah
mencapai head atau ketinggian tertentu, dimulai dengan aliran laju kecil

Memvariasikan laju alir air baku dengan menggunakan 6 variasi nilai yang berbeda
yaitu dengan cara mengatur valve pada 6 posisi yang berbeda, berurutan dari laju kecil
ke laju besar
Mengukur besar laju alir operasi filtrasi untuk setiap posisi valve, menunggu 5-10
menit setelah pengukuran laju alir

Melakukan sampling terhadap efluen operasi filtrasi untuk diuji nilai kekeruhannya.
Melakukan percobaan yang sama dari tahap 1 s/d 3 dengan air baku berbeda

3.2.3. Tahap Uji Kekeruhan terhadap Hasil Percobaan


Menghindari sampel dari pengaruh sinar matahari dan melakukan uji kekeruhan
secepat mungkin setelah sampling dilakukan atau maksimal pada hari yang sama
dengan waktu sampling-nya
Membilas tabung untuk uji kekeruhan dengan sampel yang akan diuji, mengisi tabung
dengan sampel hingga leher tabung, tutup dan lap dinding luar tabung dengan tisu
sampai kering

Memasukkan tabung ke chamber, kemudian menutup chamber

Mengatur knop sesuai dengan prediksi tingkat kekeruhan sampel. Mengatur knop pada
angka 20 untuk sampel dengan tingkat kekeruhan rendah dan pada angka 200 untuk
sampel dengan tingkat kekeruhan tinggi
Mengamati dan mencatat pembacaan alat turbidimeter sebagai nilai dengan satuan
NTU

Apabila sampel mempunyai nilai kekeruhan > 200 NTU, maka sampel harus
diencerkan dengan air demineral

3.3

Skema Alat

Gambar 3.1 Skema kerja alat

Keterangan:

a
b
c
d

3.4

: Tangki larutan umpan (Feed Tank)


: Pompa peristaltik
: Bak Filtrasi
: Tangki penampung umpan (Filtrat Tank)

Data yang Diambil

3.4. 1 Kekeruhan Air Baku (Influen)


1. Air Baku I (Bahan;gr/liter air) =
2. Air Baku II (Bahan;gr/liter air) =

NTU
NTU

3.4. 2 Kekeruhan Air Terolah (Efluen)


Run 1:
No

Jenis dan Dosis Bahan

Suspensi
(
;

gr/l)

Laju Alir
(

Influen
m/jam)

Kekeruhan

Kekeruhan

Influen
(NTU)

Efluen
(NTU)

1.
2.
3.
4.
5.
6.
Run 2:
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Daftar Pustaka

Ainur, Rohmah dkk. 2013.Pengenalan Alat Analisa Tingkat Kekeruhan Air Dengan
Turbidimeter.Jakarta

Cassiopeia, Ira P.2012.Laporan Filtrasi dalam http://www.scribd.com.


Rahayu, E.S. 2015. Jobsheet Praktikum Filtrasi Media Butiran. Bandung: Politeknik
Negeri Bandung
Ramdani, Bagus.2013.Makalah Filtrasi dalam http://www.scribd.com.
Selintung, Mary & Syahrir, Suryani.2012.Studi Pengolahan Air Melalui Media Filterpasir
Kuarsa (Studi Kasus Sungai Malimpung . Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Unhas
diunduh pada http://download.portalgaruda.org/article.php?article=94479&val=2170 tanggal
27 September 2015
Sudarmono.2010.Penentuan Setting Level Optimal Media Penjernih Air Terhadap Tingkat
Kekeruhan dan Kandungan Fe dengan Metode Full Factorial 22 dan Principal
Component Analysis. Teknik Industri UNS. Surakarta.

Anda mungkin juga menyukai