Anda di halaman 1dari 4

Konsep Ekonomi Hijau ( Green Economy)

Nama Kelompok
Fajar Nugroho
(1531120120024)
TB Bactiar Rifai
(1531120120024)
Retno Ayu Pharamitha (1531120120024)

1. Konsep Ekonomi Hijau ( Green Economy )


Ekonomi hijau adalah perekonomian yang tidak merugikan lingkungan hidup, ekonomi hijau
diharapkan akan mampu meningkatkan kesejahteraan dan keadilan sosial. Tujuan dari ekonomi
hijau sendiri adalah ingin menghilangkan dampak negatif pertumbuhan ekonomi terhadap
lingkungan dan kelangkaan sumber daya alam dengan menerapkan konsep rendah karbon atau
tidak menghasilkan emisi dan polusi lingkungan hemat sumber daya alam dan berkeadilan sosial.
Green economy diharapkan dapat berperan untuk menggantikan model ekonomi penjahat yang
boros, timpang, dan tidak ramah lingkungan. Pola hidup masyarakat modern telah membuat
pembangunan sangat eksploitatif terhadap sumber daya alam dan mengancam kehidupan.
Pembangunan yang bertumpu pada pertumbuhan produksi terbukti membuahkan perbaikan
ekonomi, tetapi gagal di bidang sosial dan lingkungan. Sebut saja, meningkatnya emisi gas
rumah kaca, berkurangnya areal hutan serta musnahnya berbagai spesies dan keanekaragaman
hayati. Di samping itu adalah ketimpangan rata-rata pendapatan penduduk negara kaya dengan
negara miskin.
Green economy dibangun atas dasar kesadaran akan pentingnya ekosistem yang
menyeimbangkan aktivitas pelaku ekonomi dengan ketersediaan sumber daya. Selain itu,
pendekatan green economy dimaksudkan untuk mensinergikan tiga nilai dasar yakni: profit,
people, dan planet. Pandangan ini mengimbau agar para pelaku ekonomi bukan hanya
memaksimalkan keuntungan semata, tetapi juga harus memberikan kontribusi positif kepada
masyarakat serta turut berpartisipasi dalam menjaga kelestarian lingkungan. Sehingga dapat
dikatakan bahwa ekonomi hijau merupakan motor utama pembangunan berkelanjutan. Konsep
ekonomi hijau diharapkan menjadi jalan keluar, menjadi jembatan antara pertumbuhan

pembangunan, keadilan sosial serta ramah lingkungan dan hemat sumber daya alam. Green
Economy ekologis merupakan sebuah model pembangunan ekonomi yang berlandaskan
Pembangunan Berkelanjutan dan pengetahuan ekonomi ekologis. Sebagaimana diketahui prinsip
utama dari pembangunan berkelanjutan adalah memenuhi kebutuhan sekarang tanpa
mengorbankan pemenuhan kebutuhan generasi masa depan. Sehingga dapat dikatakan bahwa
ekonomi hijau merupakan motor utama pembangunan berkelanjutan. Dari sini terlihat
pentingnya perubahan paradigma dan perilaku untuk selalu mengambil setiap kesempatan dalam
mencari informasi, belajar dan melakukan tindakan demi melindungi dan mengelola lingkungan
hidup. Dengan kualitas lingkungan hidup yang lebih baik akan meningkatkan kualitas hidup
masyarakat.

2. Penerapan Konsep Ekonomi Hijau ( Green Economy ) di Masyarakat

Mengurangi deforestasi

mengurangi deforestasi adalah Salah satu upaya penerapan ekonomi hijau, untuk mengurangi
deforestasi adalah pemanfaatan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK). Hutan Indonesia dengan
keanekaragaman hayati yang sangat besar menyimpan potensi besar selain pemanfaatan kayu
hasil penebangan. Sangat sedikit masyarakat yang menyadari bahwa kelestarian hutan sangatlah
penting. Mindset orang pada umumnya adalah hutan lebih menguntungkan untuk dialihfungsikan
menjadi lahan tambang, perkebunan (umumnya sawit) ataupun ditebang secara serampangan
untuk dijual sebagai kayu gelondongan. Menurut data dari Departemen Kehutanan, dari 30-40
ribu spesies tumbuhan di hutan tropis Indonesia, 20 % diantaranya memberikan hasil hutan
berupa kayu dan bagian terbesar yakni 80 % justru memiliki potensi memberikan hasil hutan
bukan kayu. HHBK yang sudah dapat dikomersilkan diantaranya gaharu, sagu, rotan, sutera
alam, madu, kayu putih, masohi, aneka tanaman hias, tanaman obat dll. Deforestasi besarbesaran akan memicu pelepasan cadangan karbon ke alam yang tentunya memperburuk
efek global warming yang sudah terjadi. Efek global warming yang sangat dikhawatirkan di
Indonesia saat ini adalah kenaikan permukaan air laut akibat melelehnya tutupan es dunia seiring
meningkatnya suhu global. Perubahan iklim dapat mengancam 41 juta penduduk Indonesia yang
tinggal di daerah pesisir dengan ketinggian dibawah 10 meter. Laju deforestasi yang

menghawatirkan tersebut juga mempengaruhi masyarakat yang hidup di sekitar hutan yang
memanfaatkan hasil hutan tersebut sebagai sumber penghidupan. Jumlah penduduk Indonesia
yang tinggal di desa-desa di dalam dan sekitar hutan yang kehidupannya bergantung pada
sumber daya hutan berjumlah sekitar 48,8 juta orang, dimana 10,2 juta orang diantaranya
tergolong miskin. Menilik ancaman-ancaman yang timbul akibat deforestasi, tentunya urgensi
untuk mencegah rusaknya hutan Indonesia sangat besar. Namun, mitos yang menjadi
pertimbangan dari masifnya alih fungsi lahan di Indonesia adalah nilai ekonomi dari aktivitas
deforestasi yang memacu pertumbuhan ekonomi. Padahal, pembabatan hutan secara
serampangan hanya akan menimbulkan keuntungan jangka pendek tanpa menghitung nilai
kerugian dari kerusakan lingkungan dan habitat berbagai macam spesies yang hilang untuk
generasi selanjutnya.

mekanisme cap and trade

mekanisme cap and trade yakni komitmen pengurangan emisi gas rumah kaca (GRK) dan
mekanisme perdagangan karbonnya pun sudah dikonkritkan dalam Kyoto Protocol antar negara
Annex I (diantaranya Jepang, Swiss, Norwegia, dan Kanada) pada periode 2008-2012 yang akan
diajukan kembali ratifikasi komitmennya untuk 2013-2020. Indonesia pun telah mengusulkan
mekanisme Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation (REDD+).
Mekanisme ini memungkinkan pemberian insentif kepada negara berkembang yang mau dan
mampu mengurangi emisi GRK yang berasal dari deforestasi dan degradasi hutan.

pengembangan energi bersih yang ramah lingkungan

Komitmen pengembangan energi bersih yang ramah lingkungan diantaranya merupakan konsep
yang dapat diterapkan di Indonesia. Pengembangan energi bersih yang murah sangat besar
potensinya di Indonesia yang kaya sumber daya alam contohnya energi panas bumi, sinar
matahari, angin, air, dsb. Namun sayangnya, potensi energi tersebut belum dimanfaatkan secara
maksimal. Menurut Juru Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Asia Tenggara, Arif Fiyanto,
dari sekitar 29 ribu megawatt panas bumi yang dimiliki baru sekitar 12 ribu megawatt yang telah
dimanfaatkan. Kontribusi energi terbarukan dalam bauran energi di Indonesia pun masih berada

di angka 5%. Padahal jika pemerintah berkomitmen, subsidi BBM yang banyak tidak tepat
sasaran dan emisinya besar dapat dialihkan ke pengembangan energi ramah lingkungan yang
berlimpah dan tidak terbatas jumlahnya di Indonesia.