Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Transfusi darah adalah suatu proses pemindahan darah dari tubuh donor ke dalam
tubuh pasien. Transfusi darah adalah tindakan medis beresiko yang harus di lakukan oleh
tenaga professional yang sesuai standart dan menggunakan darah yang aman.
Darah yang aman untuk transfusi apabila disumbangkan oleh donor yang sehat melalui
seleksi donor yang seksama, bebas dari agent yang membahayakan pasien, dan di
transfusikan hanya jika di butuhkan dan ditujukan untuk kesehatan dan kebaikan pasien.
Sesuai dengan perkembangan zaman saat ini, berbagai penyakit muncul akibat dari
perubagan pola hidup dari tiap orang. Hal tersebut dibuktikan dengan adanya penyakitpenyakit baru yang dapat menyebabkan gangguan sistem tubuh.Penyakit yang timbul
tersebut merusak jaringan tubuh manusia, sehingga orang tersebut akan menderita sakit.
Tanda dan gejala yang di timbulkan dapat berakibat fatal bagi tubuh orang itu sendiri.
Komplikasi yang timbul kemungkinan dapat menyebabkan penurunan fungsi dari organ
tubuh. Akibatnya banyak orang yang menderita kelainan pembentukan sel darah atau
kehilangan sel darah akibat dari penyakit patogis ataupun kecelakaan yang pada akhirnya
akan menyebabkan perdarahan sehingga penderita kehilangan banyak darah. Cara satusatunya untuk menggantikan darah yang hilang adalah pemberian transfusi darah.
Unit Transfusi Darah (UTD) memiliki tugas pokok dalam proses menciptakan darah yang
cocok dan aman bagi para penderita yang membutuhkan.
1.2 PERUMUSAN MASALAH
Terjadi inkompatibilitas pada pemeriksaan uji silang serasi di Fase ke III pada mayor,
dan harus di lakukan pemeriksaan lanjutan yaitu dengan pemeriksaan Skrining dan
Identifikasi Antibodi dalam serum pasien. Serangkaian pemeriksaan dilakukan terhadap
pasien Tn. Darto, diduga pasien mengalami Reaksi Transfusi.
1.3 TUJUAN DAN MANFAAT
Tujuan dari pembuatan laporan ini adalah :
Bagi Penulis : Laporan ini di buat dengan tujuan untuk memenuhi tugas akhir
Program D-1 Tekhnologi

Transfusi Darah dan sebagai syarat

kelulusan.
Bagi Penguji :

Laporan ini digunakan sebagai referensi untuk menguji peserta ujian


akhir Program D-1 Tekhnologi Transfusi Darah.
1

Bagi Pembaca :

Laporan ini dibuat dengan tujuan agar para pembaca dapat mengetahui
tentang serologi golongan darah dan juga mengetahui kasus apa yang
terdapat di dalam makalah ini.

Bagi Institusi :

Laporan ini di buat dengan tujuan sebagai arsip dan bukti bahwa
mahasiswa telah melaksanakan ujian dan tugas akhir program D-1
Teknologi Transfusi Darah.

1.4 PEMBATASAN MASALAH


Dalam makalah ini penulis hanya melaksanakan praktikum pada bagian serologi
golongan darah, meliputi Pemeriksaan Golongan Darah, Pemeriksaan Direct Coombs
Test (DCT), dan di lanjutkan dengan pemeriksaan Skrining dan Identifikasi Antibodi.

BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Sistem Golongan Darah ABO
Sistem golongan darah ABO merupakan sistem golongan darah manusia yang pertama
kali ditemukan oleh Landstainer pada tahun1900. Sampai sekarang sistem golongan darah
ABO tetap merupakan golongan darah yang paling penting pada transfusi darah, karena
diketahui dalam serum/plasma mengandung antibodi reguler, yaitu anti-A dan anti-B.
Penentuan Golongan Darah :

Golongan darah di tentukan berdasarkan ada atau tidaknya antigen A atau antigen B

pada sel darah merah.


Serum individu mengandung antibodi regular anti-A atau anti-B.
2

Dalam serum individu tidak terdapat antibodi terhadap antigen yang terdapat pada sel
darah merahnya.

Golongan darah ABO diidentifikasi dengan melihat reaksi aglutinasi, yaitu penggumpalan sel
sebagai akibat adanya reaksi antara antibodi dalam serum dengan antigen pada sel darah
merah.
Ada dua metode dalam pemeriksaan golongan darah
1. Cell typing
Sel darah merah individu yang akan di periksa direaksikan dengan antisera anti-A dan
anti-B
2. Serum typing/Back typing
Serum individu yang akan diperiksa, direaksikan dengan menggunakan suspensi sel
darah merah golongan A, golongan B, dan golongan O (sebagai negatif kontrol) dan
auto kontrol dengan menggunakan sel darah merahnya sendiri.
2.2 Sistem Golongan Darah Rhesus
Sistem rhesus merupakan suatu sistem yang sangat kompleks. Seseorang akan di katakan
memiliki Rhesus positif apabila pada sel darah merahnya ditemukan adanya antigen-D.
Sedangkan seseorang yang dikatakan memiliki rhesus negatif adalah apabila ia tidak memiliki
antigen-D pada sel darah merahnya.
Tidak seperti pada sistem golongan darah ABO dimana seseorang yang tidak memiliki antigen
A atau antigen B akan mempunyai antibodi yang berlawanan dalam plasmanya, maka pada
sistem Rhesus pembentukan antibodi hampir selalu di dapat dari suatu stimulasi, biasanya dari
transfusi atau bahkan kehamilan.
Aspek klinis antigen-D :

Transfusi
Antigen D adalah antigen yang kuat, sekali saja transfusi darah rhesus positif
diberikan kepada pasien Rhesus negatif, maka pasien tersebut akan membentuk antiD. Oleh karena itu seseorang dengan Rh negatif tidak boleh diberi darah dengan Rh

positif, walaupun Golongan darah ABOnya sama.


Kehamilan
Anti D pada seorang wanita yang melahirkan ikterus, setelah diadakan penelitian
ternyata ibu Rhesus negatif, ayah Rhesus positif dengan bayi Rhesus positif di dalam
serum ibu di temukan anti D. Jika anti D tidak di temukan pada kehamilan pertama,
imunisasi bisa terjadi pada saat melahirkan, hal ini terjadi apabila saat melahirkan ada
darah bayi yang masuk kedalam peredaran darah ibu, sehingga ibu membentuk anti3

D. Anti-D yang terbentuk tentunya tidak berpengaruh terhadap bayi yang baru lahir,
tetapi terlihat pengaruhnya pada kehamilan berikutnya.
2.3 Pemeriksaan Uji Silang Serasi
Pemeriksaan uji silang serasi adalah mereaksikan darah donor dengan darah pasien
invitro yaitu serum pasien direaksikan dengan sel darah merah donor disebut Mayor dan
plasma donor direksikan dengan sel darah merah pasien Minor.
Tujuan terpenting pada pemeriksaan uji cocok serasi adalah untuk mengetahui ada
tidaknya antibodi, baik antibodi komplit (IgM), maupun antibodi inkomplit (IgG) yang
terdapat dalam serum atau plasma penderita atau donor.
Pemeriksaan uji silang serasi di lakukan dengan cara yang cukup sensitif, tetapi dapat
mendeteksi semua jenis antibodi yang mempunyai arti klinis. Untuk itu uji silang serasi kita
lakukan dalam media yang berbeda dan dalam temperatur yang berbeda pula mengingat
interaksi jenis-jenis antibodi mempunyai sifat yang berbeda. Pemeriksaan uji silang serasi
dilakukan dengan waktu yang cukup singkat namun tidak mengurangi sensitifitas, misalnya
untuk jenis antibodi imun membutuhkan waktu 60 menit untuk inkubasi dalam medium
saline, biasanya dipersingkat hanya 15 menit jika menggunakan Bovine Albumine 22 %.
Pemeriksaan uji cocok serasi terdiri dari 3 fase dan setiap fase harus dilakukan karena
setiap antibodi mempunyai suhu optimal masing-masing. Sehingga Antibodi yang dapat
mengakibatkan Reaksi Hemolitik transfusi dapat terdeteksi.
Fase I

: Suhu kamar, dalam Medium Saline


: Fase Inkubasi Suhu 37oC dalam Bovine Albumin 22%

Fase II
Fase III
2.4

: Fase Antiglobulin

Antiglobulin Test
Test Antiglobulin secara langsung digunakan untuk melihat apakah sel darah merah pasien

telah di selimuti antibodi dalam tubuhnya.


Antiglobulin Test dalam immunohematology ada dua bentuk, yaitu :
1.

Direct Antiglobulin Test (DAT/DCT)


Test antiglobulin secara langsung digunakan untuk melihat apakah sel darah merah
pasien telah di selubungi antibodi dalam tubuhnya dengan menggunakan AHG.
Pemeriksaan DCT dilakukan pada saat menghadapi pemeriksaan penyakit anemia

imun hemolitik, HDN dan reaksi hemolitik transfusi.


2. Indirect Antiglobulin Test (IAT/ICT)
4

IAT digunakan untuk mendeteksi ada atau tidaknya antibodi yang bebas pada serum
invitro melalui inkubasi 37oC dengan penambahan Bovine Albumine 22% dan
pencucian dengan saline dilanjutkan dengan penambahan AHG.
2.5 Pemeriksaan Skrining dan Indentifikasi Antibodi
Pemeriksaan skrining antibodi adalah digunakan untuk mengetahui ada atau
tidaknya antibody dalam serum dengan berbagai kemungkinan, pemeriksaan skrining
antibodi menggunakan sel panel kecil. Sedangkan tujuan dari pemeriksaan
Identifikasi antibody adalah untuk mengetahui jenis antibodi yang lebih spesifik, dan
menggunakan sel panel besar.
2.6 Reaksi Imun
Reaksi imun ini terjadi apabila tubuh pertama kali terpapar pada antigen asing,
maka terjadilah suatu respon imun pertama. Respon ini tumbuh perlahan dan
memerlukan waktu berbulan-bulan sebelum suatu antibodi muncul.
BAB III
LAPORAN HASIL UJIAN PRAKTIKUM SEROLOGI GOLONGAN DARAH
3.1 Penerimaan Sampel
1. Waktu penerimaan sampel

: 12:30 WIB

2. Kondisi sampel

: Baik

3. Volume

: Cukup

4. Identitas

: Ada

3.2 Identitas Pasien


1. Nama

: Tn. Darto

2. Usia

: 40 tahun

3. Jenis Kelamin

: Laki-Laki

4. Bagian

: Bedah

5. Ruangan

: Kamboja

6. No. Registrasi

: 15213

7. Dr. yang meminta

: Dr. Jamal

8. Diagnosa

: Anemia
5

9. Kadar HB
10. Rumah Sakit
11. Riwayat Transfusi

: 7gr/dL
: RSCM
: Sudah Pernah Transfusi
Volume : 500cc

Pemeriksaan Uji Cocok Serasi


Fase
Fase I
Fase II
Fase III

Mayor
Neg
Neg
1+

Minor
Neg
Neg
Neg

Auto Komtrol
neg
neg
neg

Kesimpulan
Kompatibel
Kompatibel
Inkompatibel

Kesimpulan : Pada Hasil Uji Silang Serasi Positif pada Mayor dalam fase ke III, ditemukan
adanya antibodi inkomplit (igG) dalam serum pasien yang melawan Antigen
pada Sel darah merah donor.
3.3 Persiapan Alat
1. Tabung reaksi 12 x 75 mm
2. Rak tabung
3. Centrifuge
4. Inkubator
5. Labu semprot
6. Pipet plastik
7. Tempat limbah cair dan padat
8. Gelas pembilas (Aquadest dan Saline )
9. Tissue dan parafilm
10. Objek glass
11. Mikroskop
12. Spidol Permanen
13. Parafilm
3.4 Persiapan Reagensia
1
2

No. Lot/Exp. Anti B


No. Lot/Exp. Anti D IgM

:
:

020213/Feb 2014
DM 020213/Feb 2014

No. Lot/Exp. Test Sel A

060713/Agst 2013

No. Lot/Exp. Test Sel B

15072013/05 Agst 2013

No. Lot/Exp. Test Sel O Rhesus Positif

15072013/05 Agst 2013

No. Lot/Exp. AHG

020313/Mar 2014

No. Lot/Exp. AHG Lain

14070.19.10/2014

No. Lot/Exp. Anti IgG

081012/Okt 2013

No. Lot/Exp. Bovine Albumine 22 %:

280212/Agst 2014

10 No. Lot/Exp. Anti C3

17313/Des 2014

11 No. Lot/Exp. CCC

15072013/05 Agst 2013

12 No. Lot/Exp. Sel Panel

150713304/05 Agst 2013

3.5 Validasi Reagensia


Check List & Lembar kerja Pemeriksaan Test Validitass Reagensia
1.

Anti-A
Identitas Reagensia
Anti-B
020213

2.

Tabung 2
Tabung 3
1 tts sel B 5%
1 tts sel O 5%
+ 2 tts anti-A
+ 2 tts anti-A
Kocok-kocok hingga homogeny
Putar 3000 rpm selam 15 detik, baca reaksi

Anti-B
Identitas Reagensia
Anti-B
020213

3.

Tabung 1
1 tts sel A 5%
+ 2 tts anti-A

Tabung 1
1 tts sel A 5%
+ 2 tts anti-B

Tabung 2
Tabung 3
1 tts sel B 5%
1 tts sel O 5%
+ 2 tts anti-B
+ 2 tts anti-B
Kocok-kocok hingga homogen
Putar 3000 rpm selam 15 detik, baca reaksi

Anti-D
Identitas Reagensia

DM 020213

Tabung I

Tabung II

1 tts sel O Rhesus Positif

1 tts sel O Rhesus Negatif

+ 2 tts anti-D
+ 2 tts anti-D
Kocok-kocok hingga homogen
Putar 3000 rpm selama 15 detik

4.

Test Sel A Standart


Identitas Reagensia

Tabung I

TabungII

2 tts anti-A
2 tts anti-B
1 tts test sel A5 % standart
1 tts test sel B 5% standart
Kocok-kocok hingga homogen
Putar 3000 rpm selama 15 detik

15072013

Lembar Kerja Test Validitas Reagensia


Anti-A
Identitas

Tabung Tabung

Tabung

Kesimpula

Diperiksa

Dicek

Reagensia
020213

I
4+

III
Neg

n
Valid

oleh
Ayu

oleh

II
Neg

Anti-B
Identitas

Tabung Tabung

Tabung

Kesimpula

Diperiksa

Dicek

Reagensia
020213

I
neg

II
4+

III
Neg

n
Valid

oleh
Ayu

oleh

Identitas

Tabun

Tabung

Kesimpula

Diperiksa

Dicek

Reagensia

gI
4+

II
Neg

n
Valid

oleh
Ayu

oleh

Anti-D

Test Sel A standart

Identitas

Tabun

Tabung

Kesimpula

Diperiksa

Dicek

Reagensia
15072013

gI
4+

II
Neg

n
Valid

oleh
Ayu

oleh

Tujuan dari Validasi Reagensia adalah Untuk mengetahui apakah reagensia yang akan
digunakan masih dalam keadaan baik atau tidak (valid / invalid)
Kesimpulan: Hasil validasi Reagensia Anti-A, Anti-B, Anti-D, dan Teast sel A standart
VALID, dan Reagensia dapat di gunakan untuk melakukan pemeriksaa
8

BAB IV
METODE PEMERIKSAAN
4.1 PEMERIKSAAN GOLONGAN DARAH PADA ABO DAN RHESUS
Tujuan

: untuk menetapkan ada tidaknya antigen, A, B, D pada sel darah merah (sel
typing) dan untuk menetapkan ada tidaknya antibodi A, Antibodi B atau
Antibodi yang lain didalam serum/plasma (serum typing)

Lembar Kerja :
Metoda

: Tube Test
Auto

Identitas

Sel Typing

pasien

Serum Typing

kontro

Rhesus

Tn. Darto

RSCM

tetes

1 tetes

Bedah

Anti-

Anti-B

2 tetes

2 tetes

2 tetes

2 tetes

Serum

Serum

Serum

Serum

0S

0S

0S

0S

1 tetes
1 tetes

B.

Anti D

Alb .

A
+
1

6%
+

tetes

1 tetes

1 tetes

1 tetes

1 tetes

1 tetes

1 tetes

1 tetes

Sel

Sel0S

Sel A

Sel B

Sel O

Sel 0S

Sel 0S

Sel 0S

0S

5%

5%

5%

5%

5%

5%

5%

5%
Kocok kocok hingga tercampur rata
Putar 3000 rpm selama 15 detik
Baca reaksi dengan menggoyang tabung perlahan-lahan
Lembar Hasil :
Identitas

Sel

Serum Grouping

Sample

Grouping
-A
-B

TSA

TSB

AK

Kes

TSO

Rhesus
-D

Kes

Diperiks

Di Cek

a oleh

oleh

BA
6%

Tn.

4+

4+

neg

neg

neg

neg

Darto/RSC

AB

neg

neg

AB
neg

M/Bedah

Ayu

Kesimpulan : Pada pemeriksaan sample darah Tn.Darto/RSCM/Bedah diketahui bergolongan


darah AB rhesus Negatif. Karena, ditemukan adanya Antigen A dan Antigen B
pada sel darah merah, dan tidak ditemukan adanya antibodi A maupun
Antibodi B dalam serum pasien.
Pemeriksaan Uji Cocok Serasi
Fase

Mayor

Minor

Auto Komtrol

Kesimpulan

Fase I

neg

Neg

neg

Kompatibel

Fase II

neg

Neg

neg

Kompatibel

1+

Neg

neg

Inkompatibel

Fase
III

Kesimpulan : Pada Hasil Uji Silang Serasi Positif pada Mayor dalam fase ke III, ditemukan
adanya antibodi inkomplit (igG) dalam serum pasien yang melawan Antigen
pada sel darah merah donor.
4.2

Pemeriksaan Direct Coombs Test


Lembar Kerja:
Identitas
Sampel

Tabung 1

Tabung 2

Tabung 3

Tabung 4

Tabung 5

1 tts sel os

1 tts sel os

1 tts sel os

1 tts sel os

1 tts sel os

5%

Tn.
Darto/RSCM
/Bedah

5%
5%
5%
5%
Cuci dengan Saline Sebanyak 3 kali
2 tts AHG
2 tts AHG
2 tts Anti2 tts Anti-C3 2 tts saline
UTDP
Lokal
IgG
Kocok-kocok, Putar 3000 rpm selama 15 detik Baca Hasil
Reaksi Negatif tambahkan 1 tetes CCC
Kocok-kocok, Putar 3000 rpm selama 15 detik Baca Hasil

10

Lembar Hasil :
Identitas
Sampel

Reagensia

Merk

Polyspesifik
RSCM/
Bedah

Monospesifi
k
Kontrol

Dicek

Oleh

Oleh

CCC

Neg

2+

Ayu

Neg

2+

Ayu

IgG
C3
C3d

Neg
Neg

2+

Ayu
Ayu

Saline

Neg

UTDP

Tn. Darto/

Diperiksa

Hasil

PMI
Biotest
Diamed

Ayu

Hasil

: Pemeriksaan DCT hasilnya negatif

Kesimpulan

: Tidak ditemukan adanya irregular antibody yang coated pada sel darah merah
invivo

4.3 Skrining Antibodi dalam Serum


Identitas
Sampel

Tn. Darto
RSCM
Bedah

Medium

Tabung I

Tabung II

Auto Kontrol

2 tts serum OS

2 tts serum OS
+

Medium

2 tts serum OS
+
1 tts sel panel S1

Saline

5%

Medium
Bovine

ICT

1 tts sel panel S2

1 tts sel Os 5%
5%
Kocok-kocok hingga Homogen
Putar 3000 rpm selama 15 detik Baca Reaksi
2 tts B.Alb 22%
2 tts B.Alb 22%
2 tts B.Alb 22%
Kocok-kocok hingga Homogen,Inkubasi 37oc selama 15

menit
Putar 3000 rpm selama 15 detik Baca Reaksi
Cuci dengan saline sebanyak 3X
2 tts AHG
2 tts AHG
2 tts AHG
Kocok-kocok Hingga Homogem
Putar 3000 rpm selama 15 detik Baca Reaksi
Hasil Negatif tambahkan 1 tts CCC
Kocok-kocok Hingga Homogen, Putar 3000 rpm selama 15
detik Baca

4.4 Pemeriksaan Identifikasi Antibodi dalam Serum


Identita

Fas

Tab 1

Tab 2

Tab 3

Tab 4
11

Tab 5

Tab 6

Tab 7

Tab 8

e
2tts

2tts

serum

serum

serum os serum os

os
+
1tts

2tts

2tts

+
1tts

os
+
1tts

+
1tts

2tts
serum os
+
1tts

2tts

2tts

2tts

serum

serum

serum

os
+
1tts

os
+
1tts

os
+
1tts

panel1
panel2
panel3
panel4
panel5
panel6
panel7
panel8
Kocok-kocok hingga homogen, Putar 3000 rpm selama 15 detik Baca Reaksi
2tts
2tts
2tts
2tts
2tts
2tts
2tts
2tts
b.Alb
II

III

b.Alb 22

b.Alb 22 b.Alb 22

b.Alb 22

b.Alb

b.Alb 22 b.Alb 22

22 %

%
%
%
%
22 %
%
%
o
Kocok-kocok hingga homogen, inkubasi 37 c selama 15 menit
Putar 3000 rpm selama 15 detik Baca Reaksi
Cuci dengan saline 3X
2tts
2tts
2tts
2tts
2tts
2tts
2tts
2tts AHG
AHG
AHG
AHG
AHG
AHG
AHG
AHG
Kocok-kocok hingga homogen
Putar 3000 rpm selama 15 detik Baca Reaksi
Hasil Negatif Tambahkan 1 tts CCC
Kocok-kocok hingga homogen, Putar 3000 rpm selama 15 detik Baca Reaksi

Lembar Hasil :
Identitas

Panel

Serum : Pre Warm / Normal

Pemeriks

Dicek

Oleh

Sel
0

20

30

BA

ICT CC

22%

Salin

Liss

Coombs

370C
Tn.

S1

neg

15
Neg

Darto/RSC

S2
1
2
3

neg
neg
neg
Ne

Neg
Neg
Neg
Neg

2+

Ayu

2+
2+
2+
Ne

Ayu
Ayu
Ayu
Ayu

2+

g
12

4
5
6
7

neg
neg
neg
Ne

Neg
Neg
Neg
Neg

2+
2+
2+
Ne

Ayu
Ayu
Ayu
Ayu

g
Ne

Neg

g
2+

Ayu

Neg

Ne

Ayu

2+

g
9
10
11
AK

Ne
g

SelA
Sel B
SelA
B
Sel O
Kesimpulan

Dari

:
hasil

pemeriksaan

skrining

antibody

dalam

serum

Pasien

Tn.

Darto/RSCM/Bedah positif di tabung panel sel 1 dan panel sel 2. Pasien memiliki
irreguler antibodi dengan kemungkinan anti-D, anti-c, anti-k, anti-Fy a, anti-Jka, anti

Jkb, anti-M, anti-s, anti- Lea


Dari hasil identifikasi antibodi dalam serum pasien

Tn. Darto/RSCM/Bedah di

dapatkan antibodi yang spesifik yaitu anti-Fya.


BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan semua hasil pemeriksaan Serologi yang di lakukan, dapat disimpulkan bahwa :
1. Pada pemeriksaan Golongan Darah ABO dan Rhesus pasien Tn. Darto/RSCM/Bedah
adalah AB Rhesus Negatif, karena pada sel darah merah pasien ditemukan adanya
antigen-A dan antigen-B, sedangkan dalam serum pasien tidak ditemukan adanya
antibodi.
2. Pada pemeriksaan Direct coombs Test pasien Tn. Darto/RSCM/Bedah hasilnya
Negatif, yang berarti tidak ada antibodi yang coated pada sel darah merah pasien
secara invivo.
3. Dari hasil pemeriksaan skrining antibodi dalam serum Pasien Tn. Darto/RSCM/Bedah
positif di tabung panel sel 1 dan panel sel 2. Pasien memiliki irreguler antibody
13

dengan kemungkinan anti-D, anti-c, anti-k, anti-Fya, anti-Jka, anti-Jkb, anti-M, anti-s,
anti- Lea
4. Dari hasil identifikasi antibodi dalam serum pasien

Tn. Darto/RSCM/Bedah

didapatkan antibodi yang spesifik yaitu anti-Fya.


5. Kesan : Pasien atas nama Tn.Darto dari rumah sakit RSCM bagian Bedah diduga
mengalami reaksi Imun, karena pasien sebelumnya pernah mendapatkan transfusi
Maka, kemungkinan pada transfusi saat ini sudah terjadi reaksi imun pada tubuh
pasien.
6. Saran : Sebaiknya cari donor lain hingga pemeriksaan uji silang serasi Mayor negatif.
Sebaiknya pasien Tn.Darto dari rumah sakit RSCM bagian Bedah ditransfusi dengan
darah yang sama golongan ABO dan Rhesusnya, dan cari darah donor yang tidak
memiliki Antigen Fya.

DAFTAR PUSTAKA
Shindu Ellyani, Dr. Med. Makalah Serologi Golongan Darah
Yusuf, Yudianto. Lembar Kerja dan Lembar Hasil Praktikum, Serologi Golongan Darah
Yusuf, Yudianto. Penuntun Praktikum Serologi Golongan Darah
Yusuf, Yudianto.Kumpulan Prosedur Kerja Standar (PKS) Serologi Golongan
Darah.Jakarta.2013.

14

15