Anda di halaman 1dari 14

6 Tahapan Pengolahan Minyak Bumi + Diagram Alirnya Lengkap Administrator Add

Comment Asal Usul Senin, 24 Agustus 2015 Bensin, solar, gas LPG, aspal, avtur, dan lilin
merupakan beberapa contoh produk turunan yang dihasilkan dari proses pengolahan
minyak bumi mentah. Proses pengolahan minyak bumi yang dilakukan untuk membuat
minyak mentah menjadi siap guna rupanya terjadi dalam alur yang cukup panjang. Minyak
mentah yang terdiri dari berbagai bahan awalnya dipisahkan berdasarkan titik didihnya
menjadi beberapa fraksi melalui proses destilasi. Fraksi-fraksi tersebut kemudian
dimurnikan, diperbaiki struktur molekulnya, kemudian dibersihkan dari bahan pengotor, dan
terakhir ditambahi dengan bahan-bahan aditif hingga menjadi produk bahan bakar yang siap
guna. Proses Pengolahan Minyak Bumi Jika Anda ingin tahu bagaimana minyak bumi diolah
sehingga menjadi produk yang siap guna, ikuti bagan atau diagram alir dan tahapan yang
menjelaskan proses pengolahan minyak bumi berikut ini. 1. Destilasi atau Fraksinasi Tahap
pertama yang harus dilalui dalam proses pengolahan minyak bumi mentah adalah destilasi.
Destilasi (sering pula disebut fraksinasi) adalah proses pemisahan fraksi-fraksi dalam
minyak bumi berdasarkan perbedaan titik didih. Proses destilasi biasanya dilakukan pada
sebuah tanur tinggi yang kedap udara. Minyak bumi mentah dialirkan ke dalamnya untuk
dipanaskan dalam tekanan 1 atmosfer pada suhu 370C. Pemanasan minyak mentah ini
kemudian membuat fraksi-fraksi dalam minyak bumi terpisah. Fraksi yang memiliki titik didih
terendah akan berada di bagian atas tanur, sedangkan fraksi yang memiliki titik didih tinggi
akan berada di dasar tanur. Beberapa fraksi dari proses destilasi minyak bumi ini sudah
dijelaskan pada artikel terdahulu tentang fraksi-fraksi minyak bumi. 2. Cracking Fraksi-fraksi
yang dihasilkan dari proses destilasi kemudian dimurnikan (refinery) melalui proses
cracking. Cracking adalah tahapan pengolahan minyak bumi yang dilakukan untuk
menguraikan molekul-molekul besar senyawa hidrokarbon menjadi molekul-molekul
hidrokarbon yang lebih kecil, misalnya pengolahan fraksi minyak solar atau minyak tanah
menjadi bensin. Proses cracking dapat dilakukan dengan 3 cara, yaitu cara panas (thermal
cracking), cara katalis (catalytic cracking), dan hidrocracking. 3. Reforming Setelah
dilakukan pemurnian melalui cracking, tahap pengolahan minyak bumi dilanjut dengan
proses reforming. Reforming adalah proses merubah struktur molekul fraksi yang mutunya
buruk (rantai karbon lurus) menjadi fraksi yang mutunya lebih baik (rantai karbon bercabang)
yang dilakukan dengan penggunaan katalis atau proses pemanasan. Karena dilakukan
untuk merubah struktur molekul, maka proses ini juga bisa disebut sebagai proses
isomerisasi.[Baca : Proses Pembentukan Minyak Bumi] 4. Alkilasi dan Polimerisasi Setelah
diperbaiki struktur molekulnya, fraksi-fraksi yang dihasilkan dari pengolahan minyak bumi
mentah kemudian melalui proses alkilasi dan polimerisasi. Alkilasi adalah tahap
penambahan jumlah atom pada fraksi sehingga molekul fraksi menjadi yang lebih panjang
dan bercabang. Proses alkilasi menggunakan penambahan katalis asam kuat seperti HCl,
H2SO4, atau AlCl3 (suatu asam kuat Lewis). Sedangkan polimerisasi adalah tahap
penggabungan molekul-molekul kecil menjadi molekul yang lebih besar dalam fraksi
sehingga mutu dari produk akhir akan lebih meningkat. 5. Treating Treating adalah proses
pemurnian fraksi minyak bumi melalui eliminasi bahan-bahan pengotor yang terikut dalam
proses pengolahan atau yang berasal dari bahan baku minyak mentah. Bahan-bahan
pengotor yang dihilangkan dalam proses treating tersebut antara lain bau tidak sedap
melalui copper sweetening dan doctor treating, lumpur dan warna melalui acid treatment,
parafin melalui dewaxing, aspal melalui deasphalting, dan belerang melalui desulfurizing. 6.
Blending Tahap terakhir yang dilalui dalam proses pengolahan minyak bumi sehingga
menghasilkan bahan siap guna adalah proses blending. Blending adalah tahapan yang
dilakukan untuk meningkatkan kualitas produk melalui penambahan bahan-bahan aditif ke
dalam fraksi minyak bumi. Bahan-bahan aditif yang digunakan tersebut salah satunya
adalah tetra ethyl lead (TEL). TEL adalah bahan aditif yang digunakan menaikkan bilangan
oktan bensin.

Sumber: http://kisahasalusul.blogspot.com/2015/08/6-tahapan-pengolahan-minyakbumi.html
Disalin dari Blog Kisah Asal Usul.

Proses Cracking Fraksi Minyak Bumi


Proses cracking fraksi minyak bumi- Kebutuhan akan bahan bakar memiliki peningkatan yang
sangat signifikan setiap tahunnya, sehingga proses pengolahan minyak bumi menggunakan
beberapa metode untuk menghasilkan jenis bahan bakar tertentu agar memenuhi kebutuhan pada
konsumen, salah satunya ialah bensin. Terdapat beberapa metode yang digunakan untuk
menghasilkan fraksi bensin, salah satunya ialah proses cracking.

Pengertian Cracking
Cracking adalah proses penguraian molekul senyawa hidrokarbon yang besar menjadi hidrokarbon
yang memiliki struktur molekul yang kecil. Salah satu contoh proses cracking yaitu pengurain struktur
hidrokarbon pada fraksi minyak tanah menjadi struktur molekul kecil fraksi bensin ataupun pengurain
fraksi solar menjadi bensin. terdapat berbagai macam proses cracking yaitu thermal cracking,
catalytic cracking dan hidrocracking. Proses pengurain dari tiga metode tersebut menggunakan caracara yang berbeda, berikut penjelasannya:
1. Thermal Cracking
Proses penguraian ini menggunakan suhu yang tinggi serta tekanan yang rendah, suhu yang
digunakan dapat mencapai temperature 800C dan tekanan 700 kpa. Partikel ringan yang memiliki
hidrogen dalam jumlah banyak akan terbentuk pada penguraian molekul berat yang terkondensasi.
Reaksi yang terjadi pada proses ini disebut dengan homolitik fision dan memproduksi alkena yang
menjadi bahan dasar untuk memproduksi polimer secara ekonomis. Panas yang digunakan dalam
proses ini menggunakan steam cracking yaitu uap yang memiliki suhu yang tinggi. Salah satu contoh
proses
thermal
cracking
seperti
pada
gambar
di
atas
2.

Catalytic

Cracking

Proses ini menggunakan katalis sebagai media yang dapat mempercepat laju reaksi, proses
penguraian molekul besar menjadi molekul kecil dilakukan dengan suhu tinggi. Jenis katalis yang
sering digunakan adalah silica, alumunia, zeloit dan beberapa jenis lainnya seperti clay, umumnya
reaksi dari proses perengkahan katalitik menggunakan mekanisme perengkahan ion karbonium.
Awalnya katalis yang memiliki sifat asam akan menambahkan proton ke dalam molekul olevin
ataupun menarik ion hidrida dari alkana sehingga menyebabkan terbentuknya ion karbonium.
3. Hydrocracking
Proses Hydricracking merupakan kombinasi antara perengkahan dan hidrogenasi untuk
menghasilkan senyawa yang jenuh. Proses pereaksian dilakukan dengan tekanan tinggi, produk
utama yang dihasilkan ialah bahan bakar jet, bensin, diesel yang mempuyai bilangan oktan yang
tinggi. Hydrocracking memiliki kelebihan lain, yaitu kandungan sulfur yang terdapat pada fraksi yang
akan diurai, senyawa sulfurnya akan diubah menjadi hidrogen sulfida sehingga proses pelepasan
sulfur akan lebih mudah dilakukan.

MATERI MINYAK BUMI


1.
Pembentukan minyak bumi dan gas alam
Minyak bumi dan gas alam terbentuk dari hasil pelapukan sisa-sisa tumbuhan dan hewan yang
tertimbun dalam kerak bumi selama jutaan tahun. Akibat pengaruh waktu, temperatur tinggi, tekanan
dan beban lapisan batuan diatasnya, jasad hewan dan tumbuhan yang mati tadi berubah menjadi
campuran hidrokarbon yang kompleks berupa gelembung minyak atau gas. Akibat pengaruh yang
sama, endapan lumpur berubah menjadi batuan sedimen. Batuan lunak yang berasal dari lumpur
yang mengandung bintik-bintik minyak. Selanjutnya minyak dan gas ini akan bermigrasi menuju
tempat yang bertekanan lebih rendah dan akhirnya akan terakumulasi ditempat yang disebut
perangkap (trap).
Suatu perangkap dapat mengandung :
1.

1.
2.
3.

Minyak, gas dan air


Minyak dan air
Gas dan air
Karena perbedaan berat jenis, apabila ketiga-tiganya berada dalam suatu perangkap dan
berada dalam keadaan stabil, gas berada diatas, minyak ditengah dan air dibagian bawah . Karena
memiliki nilai kerapatan yang lebih rendah dari air, maka minyak bumi (dan gas alam) dapat bergerak
ke atas melalui batuan sedimen yang berpori. Jika tidak menemui hambatan, minyak bumi dapat
mencapai permukaan bumi. Akan tetapi, pada umumnya minyak bumi terperangkap dalam bebatuan
yang tidak berpori dalam pergerakannya ke atas. Hal ini menjelaskan mengapa minyak bumi juga
disebut petroleum (petroleum dari bahasa latin petrus artinya batu dan oleum artinya minyak).
Untuk memperoleh minyak bumi atau petroleum ini, dilakukan pengeboran.
1.
2.
Komponen-komponen minyak bumi dan gas alam
Minyak bumi tersusun dari bermacam-macam hidrokarbon, yaitu alkana, sikloalkana,
aromatik dan sedikit alkena. Minyak bumi juga mengandung sedikit senyawa nitrogen, oksigen dan
belerang. Akan tetapi, komponen utama minyak bumi adalah alkana dan sikloalkana. Contoh
senyawa yang merupakan komponen minyak bumi adalah sebagai berikut:
CH3-CH2-CH2-CH2-CH2-CH2-CH3
n-heptana
CH3
CH3
CH3 CH CH2 C CH3
CH3
2,2,4-trimetil pentana (isooktana)

metil siklopentana (senyawa sikloalkana). (Tiopan, 2007: 209)


Gas alam terdiri dari alkana suku rendah, yaitu metana, etana, propana dan butana, dengan
metana sebagai komponen utamanya, Selain alkana, juga terdapat berbagai gas lain, seperti
karbondioksida (CO2) dan hidrogen sulfida (H2S). Beberapa sumur gas juga mengandung Helium.
(Purba, 2007: 231). Minyak bumi ditemukan bersama-sama dengan gas alam. Minyak bumi yang
telah dipisahkan dari gas alam disebut juga minyak mentah (crude oil). Minyak mentah dapat
dibedakan menjadi :

1.

Minyak mentah ringan (light crude oil) yang mengandung kadar logam dan belerang rendah,
berwarna terang dan bersifat encer (viskositas rendah).
2.
Minyak mentah berat (heavy crude oil) yang mengandung kadar logam dan belerang tinggi,
memiliki viskositas tinggi sehingga harus dipanaskan agar meleleh.
Perbandingan unsur-unsur yang terdapat dalam minyak bumi sangat bervariasi. Berdasarkan hasil
analisa, diperoleh data sebagai berikut :

Karbon : 83,0-87,0 %
Hidrogen : 10,0-14,0 %
Nitrogen : 0,1-2,0 %
Oksigen : 0,05-1,5 %
Sulfur : 0,05-6,0 %

Struktur hidrokarbon yang ditemukan dalam minyak mentah:


1). Alkana (parafin) CnH2n + 2 , alkana ini memiliki rantai lurus
merupakan yang terbesar di dalam minyak
mentah.
2). Sikloalkana (napten) CnH2n , Sikloalkana ada yang memiliki
siklopentana ataupun cincin 6 (enam) yaitu sikloheksana.

Siklopentana

dan

bercabang, fraksi ini

cincin 5

(lima) yaitu

Sikloheksana

3). Aromatik CnH2n -6

aromatik memiliki cincin 6


Aromatik hanya terdapat dalam jumlah kecil, tetapi sangat diperlukan dalam bensin karena :
Memiliki
harga anti knock (ketukan)
yang tinggi
Stabilitas
penyimpanan yang
baik
Dan kegunaannya yang lain sebagai bahan bakar (fuels)
Proporsi dari ketiga tipe hidrokarbon sangat tergantung pada sumber dari minyak bumi. Pada
umumnya alkana merupakan hidrokarbon yang terbanyak tetapi kadang-kadang (disebut
sebagai crude napthenic) mengandung sikloalkana sebagai komponen yang terbesar, sedangkan
aromatik selalu merupakan komponen yang paling sedikit.
Zat-Zat Pengotor yang sering terdapat dalam minyak bumi:
1.

Senyawaan Sulfur.
Crude oil yang densitynya lebih tinggi mempunyai kandungan Sulfur yang lebih tinggu
pula. Keberadaan Sulfur dalam minyak bumi sering banyak menimbulkan akibat, misalnya dalam
bensin dapat menyebabkan korosi (khususnya dalam keadaan dingin atau berair), karena
terbentuknya asam yang dihasilkan dari oksida sulfur (sebagai hasil pembakaran bensin) dan air.
1.
Senyawaan Oksigen.
Kandungan total oksigen dalam minyak bumi adalah kurang dari 2 % dan menaik dengan naiknya titik
didih fraksi. Kandungan oksigen bisa menaik apabila produk itu lama berhubungan dengan udara.

Oksigen dalam minyak bumi berada dalam bentuk ikatan sebagai asam karboksilat, keton, ester, eter,
anhidrida, senyawa monosiklo dan disiklo dan phenol. Sebagai asam karboksilat berupa
asam Naphthenat (asam alisiklik) dan asam alifatik.
1.
Senyawaan Nitrogen
Umumnya kandungan nitrogen dalam minyak bumi sangat rendah, yaitu 0,1-0,9 %.
Kandungan tertinggi terdapat pada tipe Asphalitik. Nitrogen mempunyai sifat racun terhadap
katalis dan dapat membentuk gum / getah pada fuel oil. Kandungan nitrogen terbanyak terdapat
pada fraksi titik didih tinggi. Nitrogen klas dasar yang mempunyai berat molekul yang relatif
rendah dapat diekstrak dengan asam mineral encer, sedangkan yang mempunyai berat molekul
yang tinggi tidak dapat diekstrak dengan asam mineral encer.
1.
Konstituen Metalik.
Logam-logam seperti besi, tembaga, terutama nikel dan vanadium pada proses catalytic cracking
mempengaruhi aktifitas katalis, sebab dapat menurunkan produk gasoline, menghasilkan banyak gas
dan pembentukkan coke. Pada power generator temperatur tinggi, misalnya oil-fired gas turbine,
adanya konstituen logam terutama vanadium dapat membentuk kerak pada rotor turbine. Abu yang
dihasilkan dari pembakaran fuel yang mengandung natrium dan terutama vanadium dapat bereaksi
dengan refractory furnace (bata tahan api), menyebabkan turunnya titik lebur campuran sehingga
merusakkan refractory itu.
1.
3. Pemisahan Fraksi-Fraksi Minyak Bumi
Cara mudah untuk memisahkan komponen-komponen minyak bumi yakni berdasarkan perbedaan
harga titik didihnya. Proses ini disebut dengan destilasi bertingkat. Untuk mendapatkan produk akhir
sesuai yang diinginkan, maka sebagian hasil dari destilasi bertingkat perlu diolah lebih lanjut
melalui proses konversi, pemisahan pengotor dalam fraksi, dan pencampuran fraksi.
1.
Proses Destilasi bertingkat.
Dalam proses destilasi bertingkat, minyak mentah tidak dipisahkan menjadi komponen-komponen
murni, melainkan ke dalam fraksi-fraksi, yakni kelompok-kelompok yang mempunyai kisaran titik didih
tertentu. Hal ini dikarenakan jenis komponen hidrokarbon begitu banyak dan isomer-isomer
hidrokarbon mempunyai titik didih yang berdekatan.
Proses destilasi bertingkat ini dapat dijelaskan sebagai berikut :
1.

Minyak mentah dipanaskan dalam boiler menggunakan uap bertekanan tinggi sampai suhu
600 C. Uap minyak mentah yang dihasilkan kemudian dialirkan ke bawah menara destilasi.
2.
Dalam menara destilasi, uap minyak bergerak ke atas melewati pelat-pelat (tray). Setiap pelat
memiliki banyak lubang yang dilengkapi dengan tutup gelembung (bubble cap) yang
memungkinkan uap lewat.
3.
Dalam pergerakannya, uap minyak mentah akan menjadi dingin. Sebagian uap akan
mencapai ketinggian di mana uap tersebut akan terkondensasi membentuk zat cair. Zat cair yang
diperoleh dalam suatu kisaran suhu tertentu ini disebut fraksi.
4.
Fraksi yang mengandung senyawa-senyawa dengan titik didih tinggi akan terkondensasi di
bagian bawah menara destilasi. Sedangkan fraksi denyawa-senyawa dengan titik didih rendah
terkondensasi dibagian atas menara.
Komponen yang titik didihnya lebih tinggi akan tetap berupa cairan dan turun kebawah, sedangkan
yang titik didihnya lebih rendah akan menguap dan naik kebagian atas melalui sungkup-sungkup
yang disebut sungkup gelembung. Sementara itu semakin keatas, suhu semakin rendah, sehingga
setiap kali komponen dengan titik didihnya lebih tinggi naik, akan mengembun dan terpisah,
sedangkan komponen yang titik didihnya lebih rendah akan terrus naik kebagian yang lebih atas lagi.
Demikian selanjutnya, sehingga komponen yang mencapai puncak menara adalah komponen yang

pada suhu kamar berupa gas. Komponen yang berupa gas itu yang disebut gas petroleum. (Purba,
2007: 232). Sebagian fraksi dari menara destilasi selanjutnya dialirkan ke bagian kilang minyak
lainnya untuk proses konversi.
a) Proses konversi (convertion processes)
Proses konversi bertujuan untuk memperoleh fraksi-fraksi dengan kuantitas dan kualitas sesuai
permintaan pasar. Sebagai contoh, untuk memenuhi kebutuhan fraksi bensin yang tinggi, maka
sebagian fraksi rantai panjang perlu diubah/ dikonversi menjadi fraksi rantai pendek. Disamping itu,
fraksi bensin harus mengandung lebih banyak hidrokarbon rantai bercabang/ alisiklik/ aromatik
dibandingkan rantai lurus. Jadi, diperlukan proses konversi untuk penyusunan ulang struktur molekul
hidrokarbon. Beberapa jenis konversi dalam kilang minyak yaitu :
1) Cracking atau Perengkahan
Cracking atau perengkahan merupakan proses pemecahan molekul-molekul hidrokarbon besar
menjadi molekul-molekul yang lebih kecil dengan adanya pemanasan atau katalis. Contohnya,
perengkahan fraksi minyak ringan/ berat menjadi fraksi gas, bensin, kerosin, dan minyak solar/ diesel.
2) Polimerisasi
Terbentuknya polimer antara ikatan molekul yang sama yaitu ikatan bersama dari light gasoline.
Proses polimerisasi merubah produk samping gas hirokarbon yang dihasilkan pada cracking menjadi
hidrokarbon cair yang bisa digunakan sebagai :
1.
Bahan bakar motor dan penerbangan yang memiliki bilangan oktan yang tinggi.
1.
Bahan baku petrokimia.
3) Alkilasi
Proses alkilasi merupakan proses penggabungan molekul-molekul kecil menjadi molekul
besar. Contohnya pembentukan olefin dari aromatik atau hidrokarbon parafin dan penggabungan
molekul propena dan butena menjadi komponen fraksi bensin.
4) Hidrogenasi
Proses ini adalah penambahan hidrogen pada olefin. Katalis hidrogen adalah
logam
yang dipilih tergantung pada senyawa yang akan di reduksi dan pada kondisi hidrogenasi, misalnya
Pt, Pd, Ni, dan Cu.
5)Isomerisasi
Proses isomerisasi merubah struktur dari atom dalam molekul tanpa adanya
nomor atom.

perubahan

6) Reforming atau Aromatisasi


Reforming merupakan proses konversi dari naptha untuk memperoleh produk yang memiliki bilangan
oktan yang tinggi, dalam proses ini biasanya menggunakan katalis, rhenium, platinum dan kromium.
Reforming bertujuan mengubah struktur molekul rantai lurus menjadi rantai
bercabang/alisiklik/aromatik. Sebagai contoh, komponen rantai lurus (C 5-C6) dari fraksi bensin diubah
menjadi aromatik.
7) Coking

Coking adalah proses perengkahan fraksi residu padat menjadi fraksi minyak bakar dan hidrokarbon
intermediet. Dalam proses ini, dihasilkan kokas (coke).
8) Treating
Treating adalah pemurnian minyak bumi dengan cara menghilangkan pengotor-pengotornya. Caracara proses treating adalah sebagai berikut :
a. Copper sweetening dan doctor treating, yaitu proses penghilangan
pengotor yang dapat
menimbulkan bau yang tidak sedap.
b. Acid treatment, yaitu proses penghilangan lumpur dan perbaikan warna.
c. Dewaxing yaitu proses penghilangan wax (n parafin) dengan berat
molekul tinggi dari fraksi
minyak pelumas untuk menghasillkan minyak
pelumas dengan pour point yang rendah.
d. Deasphalting yaitu penghilangan aspal dari fraksi yang digunakan
untuk minyak pelumas.
f. Desulfurizing yaitu proses penghilangan unsur
belerang.
(http://pusdiklatmigas.com/modules)
9)
Blending
Proses blending adalah penambahan bahan-bahan aditif kedalam fraksi minyak bumi dalam rangka
untuk meningkatkan kualitas produk tersebut. Diantara bahan-bahan pencampur yang terkenal
adalah tetra ethyl lead (TEL). TEL berfungsi menaikkan bilangan oktan bensin.
1.

Pemisahan pengotor dalam fraksi


Fraksi-fraksi mengandung berbagai pengotor, antara lain senyawa organik yang mengandung
S, N, O, air, logam dan garam anorganik. Pengotor dapat dipisahkan dengan cara melewatkan fraksi
melalui :
1.
Menara asam sulfat, yang berfungsi untuk memisahkan hidrokarbon tidak jenuh, senyawa
nitrogen, senyawa oksigen, dan residu padat seperti aspal.
1.
Menara absorpsi, yang mengandung agen pengering untuk memisahkan air.
2.
Scrubber, yang berfungsi untuk memisahkan belerang/ senyawa belerang.
1.
Pencampuran fraksi
Pencampuran fraksi dilakukan untuk mendapatkan produk akhir sesuai yang diinginkan.
Sebagai contoh :
1.
Fraksi bensin dicampur dengan hidrokarbon rantai bercabang/ alisiklik/ aromatik dan berbagai
aditif untuk mendapatkan kualitas tertentu.
2.
Fraksi minyak pelumas dicampur dengan berbagai hidrokarbon dan aditif untuk mendapatkan
kualitas tertentu.
1.
Fraksi nafta dengan berbagai kualitas (grade) untuk industri petrokimia.

400 C

gas

Bensin

Minyak tanah

Minyak bakar

Minyak pelumas

residu

kukus

dapur

Minyak kasar

Peci bel

Peci bel

Uap naik dari lempeng ke lempeng dangan bergelembung keluar dari dasar peci
lonceng

Peci bel

Cairan mengembun dan mengalir dari lempeng ke lempeng lewat pipa


luberan(panah hitam ke bawah)

Peci bel

Gambar 3. Diagram menara fraksionasi (destilasi bertingkat) untuk


penyulingan minyak bumi.
Sumber : (http://nivitasya.files.wordpress.com/2010/01/07_bab_61.pdf)

Tabel 10. Fraksi Hidrokarbon yang diperoleh dari minyak bumi


Fraksi

Jumlah Atom C

Trayek

Kegunaan

Titik didih oC
1-5
-160 30
Gas
57
30 90
5 12
Petroleum eter

30 200

Bahan bakar (LPG),


sumber hidrogen

180 400

Pelarut

12 18
Bensin
Kerosin, minyak
diesel/solar,bakar

Bahan bakar motor.


Bahan bakar mesin
diesel, Bahan bakar
industri, untuk cracking.
16 keatas

Minyak pelumas

Pelumas

Merupakan
zat padat
dengan titik
cair rendah

Lilin dll

20 keatas

Parafin

25 keatas
Aspal

350 keatas

Residu
Bahan bakar, lapisan
permukaan jalan raya.

(Sumber : Purba, 2007: 234)


1.
4. Membedakan Kualitas Bensin Berdasarkan Bilangan Oktannya
Bensin merupakan bahan bakar transportasi yang masih memegang peranan penting sampai saat ini.
Bensin mengandung lebih dari 500 jenis hidrokarbon yang memiliki rantai C 5-C10. Kadarnya bervariasi
tergantung komposisi minyak mentah dan kualitas yang diinginkan. Bensin adalah salah satu jenis
bahan bakar minyak yang dimaksudkan untuk kendaraan bermotor roda dua atau empat. Pada saat
sekarang tersedia 3 jenis bensin yaitu premium, pertamax dan pertamax plus. Ketiganya mempunyai
mutu yang berbeda. Mutu bahan bakar bensin ini dikaitkan dengan jumlah ketukan yang
ditimbulkannya dan dinyatakan dengan nilai oktan. Semakin sedikit ketukan, semakin baik mutu
bensin, semakin tinggi nilai oktannya.
Untuk menentukan nilai oktan, ditetap kan dua jenis senyawa sebagai pembanding yaitu isooktana
dan n-heptana. Kedua senyawa ini adalah dua diantara banyak macam senyawa yang terdapat
dalam bensin. Isooktana menghasilkan ketukan paling sedikit dan diberi nilai oktan 100; sedangkan n-

heptana menghasilkan ketukan paling banyak, dan diberi nilai oktan 0 (Nol). Suatu campuran yang
terdiri dari 70% isooktana dan 30% n-heptana mempunyai nilai oktan sebesar 70% :
CH3-CH2-CH2-CH2-CH2-CH2-CH3
n-heptana (nilai oktan = 0)
CH3
CH3
CH3 CH CH2 C CH3
CH3
2,2,4-trimetil pentana (isooktana) (Nilai oktan = 100)
Secara umum, alkana rantai panjang mempunyai nilai oktan lebih tinggi dari pada isomer rantai
lurusnya. Pertamax mempunyai bilangan oktan 92, berarti mutu bahan bakar itu setara dengan 92%
isooktana dan 8% n-heptana. Pertamax plus mempunyai bilangan oktan 94. (Purba, 2007: 234)
Salah satu zat anti ketukan yang hingga kini masih digunakan dinegara kita adalah Tetra Ethyl Lead
(TEL) yang rumus kimianya Pb(C2H5)4, pembakaran bensin yang diperkaya dengan TEL akan
menghasilkan oksida timah hitam yang akan keluar bersama asap kendaraan atau menempel pada
komponen mesin. Untuk mencegah supaya oksida timbal itu tidak menempel pada mesin, maka
kedalam bensin bertimbal dicampurkan etilen bromida C2H4Br2.Atom bromin dari etilen bromida dapat
membentuk timbal bromida PbBr2 yang mudah menguap. Dengan demikian, semua timbel akan
keluar bersama asap kendaraan bermotor, sayangnya, senyawa timbel ini merupakan racun yang
dapat merusak otak. Jadi penggunaan bensin bertimbel akan mencemari udara. Zat anti ketukan
yang lebih aman lingkungan adakah Methyl Tertiery Buthyl Ether (MTBE). (Purba, 2007: 235).
1.
5. Menganalisis Dampak Pembakaran Bahan bakar Terhadap Lingkungan
Zat- zat pencemar yang terdapat diudara yang dapat menimbulkan masalah bagi kehidupan
adalah:
1.
Karbon monoksida (CO)
Jika bensin tidak terbakar sempurna akan menghasilkan karbon monoksida (CO). Gas CO ini
sangat berbahaya bagi kita. Jika kita menghirupnya, maka senyawa CO akan berikatan dengan
haemoglobin darah. Haemoglobin ini bertugas untuk mengikat O 2 dan mengalirkannya keseluruh
tubuh (termasuk keotak). CO 200 kali lebih mudah berikatan dengan haemoglobin dibandingkan
dengan O2, jika CO banyak kita hirup, maka semua CO itu akan berikatan dengan haemoglobin
membentuk HbCO dan O2 yang terikat makin sedikit sehingga kita kekurangan O 2. Kadar CO yang
diperbolehkan diudara adalah dibawah 100 ppm. Jika kadar CO diudara 750 ppm dapat
menyebabkan kematian. (Tiopan, 2007: 213).
b. Karbondioksida
Sebenarnya, karbondioksida tidak berbahaya bagi manusia. Akan tetapi karbondioksida tergolong
gas rumah kaca, sehingga peningkatan kadar CO2 diudara dapat mengakibatkan peningkatan suhu
permukaan bumi (efek rumah kaca). Peningkatan suhu karena meningkatnya kadar gas-gas rumah
kaca diudara disebut pemanasan global. Pemanasan global dapat mempengaruhi iklim. (Purba, 2007:
242).
1.
Oksida Belerang (SO2 dan SO3)
Belerang dioksida, apabila terhisap oleh pernafasan, akan bereaksi dengan air dalam saluran
pernafasan dan membentuk asam sulfit yang akan merusak jaringan dan menimbulkan rasa sakit.

Apabila SO3 yang terhisap maka yang terbentuk adalah asam sulfat, dan asam ini lebih berbahaya.
Oksida belerang dapat pula larut dalam air hujan dan menyebabkan apa yang disebut hujan asam.
(Purba, 2007: 242)
d. Oksida Nitrogen
Campuran NO dan NO2 sebagai pencemar udara biasa ditandai dengan lambang NO x. Ambang batas
NOxdiudara adalah 0,05 ppm. NOx diudara tidak beracun (secara langsung pada manusia), tetapi
NOx ini bereaksi dengan bahan-bahan pencemar lain dan menimbulkan fenomena asbut (asapkabut). Asbut menyebabkan berkurangnya daya pandang, iritasi pada mata dan saluran pernafasan,
menjadikan tanaman layu, dan menurunkan kualitas materi. (Purba, 2007: 242)
1.
Partikel timah hitam
Partikel yang berasal dari minyak bumi ini menyebabkan gangguan pernafasan pada manusia dan
mengganggu fotosintesis pada tumbuhan karena debu tersebut menutupi permukaan daun dari sinar
ultraviolet.
Langkah-langkah mengatasi dampak dari pembakaran bensin ( Johari & rahmawati, 2006:275) :
1.
2.
3.
4.
5.

Produksi bensin yang ramah lingkungan, seperti tanpa aditif Pb.


Penggunaan EFI (Electronic Fuel Injection) pada sistem bahan bakar.
Penggunaan konverter katalitik pada sistem buangan kendaraan.
Penghijauan atau pembuatan taman kota.
Penggunaan bahan bakar alternatif yang dapat diperbarui dan lebih ramah lingkungan,
seperti tenaga surya dan sel bahan bakar (fuel cell).