Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH

Evolusi Tumbuhan Berbiji

Oleh:
Retno Ayu Pharamitha

Fakultas Biologi
Universitas Nasional
Jakarta
2016

BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Evolusi adalah proses perubahan secara berangsur-angsur dalam jangka waktu yang lama
dimana sesuatu berubah menjadi bentuk lain menjadi lebih kompleks atau lebih rumit ataupun
berubah menjadi bentuk yang lebih baik. Evolusi juga berarti perubahan sifat-sifat yang
diwariskan dalam suatu populasi organisme dari satu generasi ke generasi berikutnya. Walaupun
mengenai evolusi tumbuhan tidak ada bukti fosil secara langsung, tetapi diduga dimulai pada
periode Pra Kambrium sebelum era Paleozoic,saat laut bertemu daratan alga hijau
telahmengembangkan ciri-ciri yang memungkinkan bertahan hidup dalam periode kekeringan
yang sebentar-sebentar. Munculnya sel fotosintetik tampaknya mengubah kondisi bumi yang
semula tanpa oksigen menjadi beroksigen, terbentuknya lapisan ozon, dan kemudian
menimbulkan perubahan pada prokariotik yang anaerob. Salah satu akibatnya adalah sel
prokariotik melakukan simbiosis sehingga muncullah sel yang memilki inti yang disebut sebagai
sel eukariotik. Eukariotik berevolusi selama jutaan tahun sehingga terbentuklah keanekaragaman
protista,yaitu eukariot awal. Ketika kita memandang bentang alam yang dipenuhi tumbuhan yang
subur dan lebat, seperti pemandangan hutan, sangat sulit memandang tanah yang subur menjadi
tandus, yang secara keseluruhan tidak dihuni oleh kehidupan makroskopik. Kehidupan
sebelumnya lahir di lautan dan kolam, dan disanalah kehidupan berevolusi selama 3 miliar tahun.
Para ahli paleobiologi baru-baru menemukan fosil sianobakteri yang kemungkinan telah melapisi
tanah lembap sekitar 1,2 miliar tahun silam, akan tetapi perziarahan evolusioner yang panjang
dari organisme yang lebih komplek sehingga mencapai daratan masih belum dimulai hingga
sekitar 475 juta tahun silam. Komunitas daratan yang dimulai oleh tumbuhan mengubah biosfer.
Misalnya, bahwa manusia tidak akan ada jika rantai kejadian evolusi, yang dimulai ketika
pertama kali turunan alga tertentu mendiami daratan, tidak terjadi. Sejarah evolusi kingdom
tumbuhan adalah suatu kisah adaptasi terhadap kondisi daratan yang berubah-ubah. Semua
tumbuhan eukariota multiseluler merupakan autotrof fotosintetik. Akan tetapi, tidak semua
organisme dengan karakteristik seperti itu disebut tumbuhan; karekteristik tersebut juga berlaku
bagi alga, termasuk bagi alga laut coklat raksasa yang diklasifikasikan sebagai protista. Untuk
lebih detailnya akan dibahas di makalah kami, yaitu evolusi tumbuhan.
2. Tujuan
Untuk mengetahui asal mula tumbuhan
Untuk mengetahui proses evolusi tumbuhan Berbiji

BAB II
PEMBAHASAN

A. Evolusi Tumbuhan Berbiji


AWAL MULA TUMBUHAN BERBIJI (Spermatophyta) :
Awal mula tumbuhan darat dikarenakan adanya tumbuhan air yang disebut alga hijau. Bukti
adanya tumbuhan tertua ini dilihat adanya tumbuhan yang berusia 450 tahun menyerupai
tumbuhan lumut saat ini. Selama beberapa tahung berkembangnya tumbuhan ini dibagi lagi
menjadi dua bagian yaitu yang pertama tumbuhan lumut dan tumbuhan berpembuluh atau paku.
Tumbuhan ini telah memiliki jaringan xylem dan floem yang membentuk akar tumbuhan tegak.
Tumbuhan paku ini juga menjadi awal dari tumbuhan yang menghasilkan biji, sekarang sudah
90% dari seluruh jenis tumbuhan yang ad merupakan tumbuhan berbiji. Kelompok tumbuhan biji
meliputi gymnosepermae atau tumbuhan berbiji terbuka adalah kelompok tumbuhan dimana
bijinya tidak dilindungi oleh daun buah, sehingga biji kelihatan langsung seperti kita lihat pada
biji tumbuhan hias pakis haji. Sehingga berkembang lagi satu kelompok tumbuhan berbiji
tertutup (angiospermae) atau biasa disebut anthophyta (tumbuhan berbunga) dan spermatophyta
(tumbuhan berbiji). Tumbuhan berbiji merupakan tingkatan tertinggi karena sudah memilki akar,
batang dan daun sejati untuk menunjang hidup di daratan. Serta bunga sebagai alat kelamin yang
berwarna-warni. Akar, batang dan daun tersebut berbeda satu sama lain dalam hal fungsi, bentuk
dan ukuran karena menyesuaikan dengan lingkungan hidup. Keistimewaan tumbuhan berbiji
adalah pada kekuatannya. Biji dapat bertahan pada keadaan yang sesulit apapun dan rentang
waktu yang lama. Keragamaan tumbuhan berbiji adalah hasil dari tumbuhan kelompok konifer.
Evolusi tumbuhan berbiji dimulai pada tahun 125 juta tahun silam dengan ditandai dengan
tumbuhan berbunga. Gymnospermae telah hidup di bumi sejak periode Devon (410-360 juta
tahun yang lalu), sebelum era dinosaurus. Pada saat itu, Gymnospermae banyak diwakili oleh
kelompok yang sekarang sudah punah dan kini menjadi batu para Pteridospermophyta (paku
biji), Bennettophyta dan Cordaitophyta. Anggota-anggotanya yang lain dapat melanjutkan
keturunannya hingga sekarang. Angiospermae yang ditemui sekarang dianggap sebagai penerus
dari salah satu kelompok Gymnospermae purba yang telah punah (paku biji). Gymnospermae
berasal dari Progymnospermae melalui proses evolusi biji. Hal tersebut dapat dilihat dari buktibukti morfologi yang ada. Selanjutnya Progymnospermae dianggap sebagai nenek moyang dari
tumbuhan biji. Progymnospermae mempunyai karakteristik yang merupakan bentuk antara
Trimerophyta dan tumbuhan berbiji. Meskipun kelompok ini menghasilkan spora, tetapi juga
menghasilkan pertumbuhan xylem dan floem sekunder seperti pada Gymnospermae.
Progymnospermae juga sudah mempunyai kambium berpembuluh yang bifasial yang mampu
menghasilkan xilem dan floem sekunder. Kambium berpembuluh merupakan ciri khas dari
tumbuhan berbiji. Salah satu contoh Progymnospermae adalah tipe Aneurophyton yang hidup
pada jaman Devon, sudah menunjukkan system percabangan tiga dimensi dengan stelenya yang

bertipe protostele. Contoh lainnya adalah tipe Archaeopteris yang juga hidup di jaman Devon.
Kelompok ini dianggap lebih maju karena sudah menunjukkan adanya system percabangan
lateral yang memipih pada satu bidang dan sudah mempunyai struktur yang dianggap sebagai
daun. Batangnya mempunyai stele yang bertipe eustele yang menunjukkan adanya kekerabatan
dengan tumbuhan berbiji yang sekarang. dalam dunia tumbuhan, golongan plantae termasuk
tumbhan yang amat tua, yakni muncul lebih dari 550.000 .000 tahun yang lalu. Selama lebih dari
seratus juta tahun tumbuhan hijau hidup di air sebagai alga dan barulah sekitar 420.000.000
tahun yang lalu muncul tumbuhan darat. Sejak itu tumbuhan darat berevolusi dengan cepat serta
mengembangkan struktur yang lebih rumit dibandingkan alga, yakni membentuk sel, jaringan,
dan organ. Klasifikasi tumbuhan darat dibagi menjadi beberapa kelompok, terutama berdasarkan
anatominya. Evolusi jenis spora baru, adanya akar, batang, daun, dan jaringan pembuluh
dianggap cukup memadai untuk membedakan tumbuhan. Secara umum, dunia tumbuhan dibagi
menjadi tumbuhan berpembuluh (Tracheophyta) dan tidak berpembuluh (Thallophyta) kemudian
tumbuhan berpembuluh dibagi lagi menjadi dua yaitu pertama tumbuhan yang alat
reproduksinya tersembunya misalnya paku dan kedua tumbuhan berbiji spermatophyte.
Tumbuhan berbiji dibagi lagi menjadi angiospermae (biji tertutup) dan gymnospermae (biji
terbuka). Angiospermae merupakan kelompok tumbuhan yang paling akhir muncul dan kini
membentuk bagian utama dari vegetasi alam dan dibudidayakan di bumi.
Catatan fosil mencatat empat periode utama evolusi tumbuhan, yang juga dalam
keanekaragaman tumbuhan modern. Masing masing periode meruapakan suatu radiasi adaptif
yang mengikuti evolusi struktur yang membuka kesempatan baru bagi kehidpan di darat.

Tumbuhan berbiji muncul pertama kali pada periode ketiga dari empat periode evolusi tumbuhan.
Pada periode ini, di mulai dengan kemunculan biji, yaitu suatu truktur yang mempercepat kolonisasi
daratan dengan cara melindungi embrio tumbuhan dari kekeringan dan ancaman lainnya. Biji terdiri dari
embrio dan cadangan makanan dalam suatu penutup yang melindungi. Tumbuhan vaskuler berbiji
pertama muncul sekitar 360 juta tahun silam, dekat dengan akhir masa Devon. Bijinya tidak terbungkus
dalam suatu ruangan khusus.

Pada tumbuhan berbiji, biji menggantikan spora sebagai cara utama penyebaran keturunan. Pada
briofita dan tumbuhan vaskulet tak berbiji, spora yang dihasilkan olrh sporofit merupakan tahapan
resisten dalam siklus hidup, yang dapat bertahan pada lingkungan yang tidak menguntungkan. Dan karena
ukurannya yang sangat kecil, spora dapat tersebar dalam keadaan dorman ke suatu daerah baru, tempat
spora akan berkecambah menjadi gametofit lumut baru jika lingkungan cukup memungkinkan bagi spora
mengakhiri keadaan dorman tersebut.
Biji menunjukkan penyelesaian masalah dengan cara yang berbeda untuk derajat bertahan dalam
lingkungan yang tidak menguntungkan dan untuk menyebarkan keturunan. Biji terdiri dari embrio
sporofit yang terbungkus bersama dengan cadangan makanan di dalam lapisan pelindung. Gametofit yang
tereduksi pada tumbuhan berbiji berkembang dalam jaringan sporofit parental. Hal ini terjadi karena
sporofit induk menyimpan spora di dalam sporangia. Semua tumbuhan berbiji adalah heterospora, yang
berarti memiliki dua jenis sporangia yang berbeda, yang menghasilkan dua jenis spora: megasporangia
yang menghasilkan megaspora dan menjadi gametofit betina (mengandung sel telur); dan mikrosporangia
yang menghasilkan mikrospora, yang akan menjadi gametofit jantan (mengandung sperma).
Evolusi biji dikaitkan dengan megasporangium. Pada tumbuhan berbiji, megasporangium
bukanlah suatu ruangan, akan tetapi sebaliknya merupakan struktur berdaging padat yang disebut
nusellus. Perbedaan lain dengan tumbuhan tak berbiji adalah bahwa lapisan tambahan jaringan sporofit,
yang disebut integumen, membungkus megasporangium tumbuhan berbiji. Keseluruhan struktur tersebut
integumen, megasoprangium (nusellus) dan megaspora disebut ovul atau bakal biji.
Serbuk sari (polen) menjadi pembawa sel-sel sperma pada tumbuhan berbiji. Mikrospora pada
tumbuhan berbiji berkembang menjadi butiran serbuk sari, yang jika matang menjadi gametofit jantan
tumbuhan berbiji. Butiran serbuk sari, yang dilindungi oleh lapisan keras yang mengandung
sporopollenin, dapat dibawa oleh angin atau hewan setelah dilepaskan dari mikrosporangium. Jika suatu
butiran serbuk sari atau gametofit jantan, jatuh di sekitar bakal biji, serbuk sari akan memanjangkan
pipanya, yang akan melepaskan satu atau lebih sperma ke dalam gametofit betina di dalam bakal biji
tersebut.

GIMNOSPERMAE
Gimnospermae berarti tumbuhan tesebut memiliki struktur biji telanjang atau biji terbuka tidak
memiliki ruangan pembungkus atau ovarium tempat biji angiospermaee berkembang. Di antara dua
kelompok tumbuhan berbiji, Gimnospermae terlihat dalam catatan fosil jauh lebih awal dibandingkan
angiospermae. Gimnospermae kemungkinan merupakan keturunan dari proGimnospermae, suatu
kelompok tumbuhan masa Devon. Progimnsoperma pada mulanya adalah tumbuhan tak berbiji, akan

tetapi pada akhir masa Devon, biji telah dievolusikan. Radiasi adaptif selama Karboniferus dan awal
Premium menghasilkan berbagai divisi Gimnospermae.

Cycas revolute

Tumbuhan Gimnospermae memiliki empat divisi, yaitu Cycadophyta, Ginkophyta, Gnetophyta dan
Coniferophyta. Sikad, (divisi Cycadophyta) menyerupai palem, namun bukan palem sejati, yang
merupakan tumbuhan berbunga. Karena merupakan Gimnospermae, sikad, memiliki biji terbuka yang
terdapat dalam sporofit, yaitu daun yang terspesialisasi untuk reproduksi. Evolusi biji dikaitkan dengan

megasporangium di mana pada tumbuhan berbiji bukanlah suatu ruangan, akan tetapi sebaliknya
merupakan struktur berdaging padat yang disebut nusellus. Pada tumbuhan berbiji, keseluruhan
struktur integumen, megasporangium, dan megaspore membentuk ovul yang disebut bakal biji.
Di dalam bakal biji tersebut, gametofit betina berkembang di dalam dinding megaspore dan
disuplai makanan oleh nusellus. Jika tejadi pembuahan, maka zigot akan berkembang menjadi
embrio sporofit dan disebut biji. Ketika biji lepas dari integument, biji dapat dorman sampai pada
kondisi yang memungkinkan biji berkecambah. Contoh tanaman divisi Cycadophyta adalah Cycas
revoluta. Tanaman ini memiliki batang yang tegak, bulat, dengan bekal pangkal daun yang tetap tinggal,
kadang bercabang, kasar dan berwarna cokelat kehitaman. Daun Cycas revolute. Majemuk, menyirip
genap, panjang 0,5 1 m, dengan helai daun berbentuk seperti jarum dan ujung runcing. Tepi daun rata
dengan panjang 10-15 cm dan berwarna hijau. Bunga tanaman ini majemuk dengan bentuk tandan Dn
termasuk ke dalam bunga berumah satu. Bunga jantan bertangkai pendek, bentuk kerucut, panjang sekitar
10 20 cm dan berwarna kuning. Sedangkan bunga betina dikelilingi bunga jantan dengan warna kuning
kecokelatan. Buah Cycas revolute berbetuk kotak atau bulat telur dengan diameter 1 cm dan berwarna
hijau. Biji tanaman ini bulat telur, panjang sekitar 1-2cm dan berwarna cokelat orange. Sedangkan
akarnya berupa akar serabut.
Ginkgo biloba adalah satu-satunya spesies yang masih hidup dari divisi Ginkgophyta. Tumbuhan
ini memiliki daun seperti kipas yang warnanya berubah keemasan dan rontok pada musim gugur, suatu
sifat yang tidak umum bagi Gimnospermae. Divisi Gnetophyta terdiri atas tiga genus yang kemungkinan
tidak berkerabat dekat satu sama lain. Satu diantaranya, Welrwitschia. Tumbuhan dari genus kedua,

Gnetum, tumbuh di daerah tropis sebagai tumbuhan merambat dan Ephedra (teh Mormon), genus ketiga
Gnetophyta.
Sejauh ini yang paling besar diantara empat divisi Gimnospermae adalah Coniferophyta, yaitu
konifer. Istilah conifer (Bahasa latin, conus, kerucut, dan ferre, membawa) berasal dari struktur
reprduktif tumbuhan ini, konus, yang merupakan kumpulan sporofil yang menyerupai sisik. Pinus, ara,
cemara, sipres dan redwood (kayu merah) semuanya termasuk ke dalam divisi Gimnospermae tersebut
Siklus hidup pinus menunjukkan adaptasi reproduktif kunci pada tumbuhan berbiji. Evolusi tumbuhan

berbiji menambahkan tiga adaptasi kunci kehidupan darat dalam reproduksi; peningkatan dormansi
generasi sporofit; adanya biji sebagai tahapan dalam siklus hidup yang resisten dan dapat disebarluaskan;
dan evolusi serbuk sari sebagai agen yang menyatukan gamet

ANGIOSPERMAE
Angiospermae atau tumbuhan berbunga, sejauh ini merupakan tumbuhan yang paling beraneka
ragam dan secara geografis paling tersebar luas. Sekarang dikenal sekitar 250.000 spesies Angiospermae,
dibandingkan dengan Gimnospermaee yang dikenali sebanyak 720 spesies. Keberadaan angispermae
lebih banyak dibandingkan dengan Gymnospermae, hal ini disebabkan karena angiospermae lebih
menarik memiliki bunga dan sebagian juga memiliki bunga yang akan menarik perhatian lebah, kupukupu ataupun hewan lain yang dapat membantu proses penyerbukan tanaman tersebut. Semua

Angiospermae ditempatkan dalam sebuah divisi tunggal, Anthphyta (bahasa Yunani antho, bunga).
Divisi itu dibagi menjadi dua kelas yaitu: Monokotiledon (monokotil) dan Diketiledon (dikotil).

Selama masa evolusi angiospermae, xilem merupakan bagian yang lebih terspesialisasi. Xilem
diduga berkembang dari sel-sel trakeid yang pada gymnospermae berperan menghantarkan air.
Pada angiospermae, sel trakeid berkembang menjadi sel-sel yang lebih pendek, dan lebih luas
yang disebut unsur pembuluh. Unsur pembuluh membentuk saluran yang bersambung yang lebih
terspesialisasi. Xilem diperkuat dengan serat (fiber) yang juga berkembang dari trakeid. Trakeid
adalah sel yang memanjang dan meruncing yang berfungsi membantu proses mekanis dan
pergerakan air ke bagian atas tumbuhan. Pada sebagian besar Angiospermae, sel-sel yang lebih
pendek dan lebih luas disebut unsure pembuluh yang berkembang dari trakeid. Xylem
Angiospermae diperkuat oleh jenis sel kedua, serat (fiber), yang juga berkembang dari trakeid.
Sel-sel serat berkembang pada conifer, akan tetapi unsur pembuluh tidak berkembang. Perbaikan
dalam jaringan vaskuler dan perkembangan dalam struktur lainnya sudah pasti memberikan
sumbangan Selain spesialisasi xilem, faktor terbesar perkembangan angiospermae adalah evolusi
bunga. Bunga memiliki tingkat efisiensi reproduksi yang sangat tinggi pada tumbuhan. Bunga
adalah tunas yang mampat dengan empat lingkaran daun yang termodifikasi menjadi kelopak,
mahkota, benang sari, dan putik. Kemunculan radiasi tumbuhan berbunga, menyebabkan bentang
alam bumi berubah secara dramatis. Nenek moyang angiospermae masih belum dipastikan,
tetapi hasil analisis kladistik pada ciri homolog menunjukkan gimnospermae dari divisi
Gnetophyta sebagai kerabat paling dekat dengan angiospermae. Fosil tertua angiospermae
ditemukan pada batuan awal masa Kretaseus yang berusia sekitar 130 juta tahun.

Bunga adalah struktur reproduksi Angiospermae. Pada sebagian besar Angiospermae, serangga dan
hewan lain mengangkut serbuk sari dari satu bunga ke organ kelamin betina pada bunga lain, yang
membuat pernyerbukan kurang acak dibandingkan dengan penyerbukan yang bergantung pada
Gimnospermae. Beberapa tumbuhan berbunga juga mengadakan penyerbukan dengan bantuan angin.
Bunga adalah suatu tunas yang mampat dengan empat lingkaran daun yang termidofikasi; kelopak
(sepal), mahkota (petal), benang sari (stamen) dan putik (karpel). Di mulai dari bagian bawah bunga,
terdapat kelopak (sepal) yang biasanya berwarna hijau dan membungkus bunga sebelum bunga merekah.
Di atas kelopak terdapat mahkota bunga (petal), berwarna cerah pada sebagian bunga yang membantu
menarik serangga dan penyerbuk lainnya. Kelopak dan mahkota merupakan bagian bunga yang steril. Di
dalam cincin mahkota terdapat organ reproduksi, benang sari (stamen) dan putik (carpel), yang secara
berturut-turut adalah bagian bunga jantan dan betina.
Pembungkusan biji di dalam ovarium merupakan salah satu cirri dan sifat yang membedakan
Angiospermae dari Gimnospermae. Putik kemungkinan berkembang dari daun yang mengandung biji
yang menggulung membentuk tabung sejumlah Angiospermae memiliki bunga dengan putik tunggal dan
sebagian lain memiliki dua atau lebih putik yang menyatu, yang umumnya membentuk ovarium dengan
banyak ruangan yang mengandung bakal biji.
Buah (fruit) adalah ovarium yang sudah matang. Setelah biji berkembang selepas pembuahan,
dinding ovarium menebal. Berbagai modifikasi pada buah membantu menyebarkan biji.
Siklus hidup Angiospermae merupakan versi yang sangat maju dari pergiliran generasi yang umum bagi
semua tumbuhan. Angiospermae bersifat heterospora, suatu karakteristik yang dimiliki
Siklus Hidup Angiospermae

Angiospermae bersama dengan semua tumbuhan berbiji. Bunga sporofit menghasilkan mikrospora yang
membentuk gametofit jantan dan megaspora membentuk gametofit betina. Gametofit jantan yang belum
dewasa adalah butir serbuk sari(pollen grain), yang berkembang di kepala sari pada benang sari. Masingmasing butir serbuk sari memiliki dua sel haploid. Bakal biji (ovule), yang berkembang salam ovarium,
mengandung gametofit betina, yang disebut kantung embrio (embryo sac). Pada sebagian besar
Angiospermae, megaspora membelah tiga kali untuk membentuk delapan nukleus haploid dalam tujuh sel
(sel tengah yang besar mengandung dua nucleus haploid). Salah satu di antara sel ini adalah sel itu
sendiri. Setelah pelepasannya dari kepala sari, serbuk sari dibawa ke kepala butik yang lengket pada
ujung suatu putik. Sebagian besar bunga memiliki mekanisme yang menjamin terjadinya penyerbukan
silang. (cros-pollination), yaitu perpindahan serbuk sari dari bunga suatu tumbuhan ke bunga tumbuhan
lain dalam spesies yang sama. Butir serbuk sari berkecambah setelah butir serbuk sari menempel ke
kepala putik pada suatu putik. Butir serbuk sari, sekarang adalah suatu gametofit jantan yang telah
matang, menjulurkan suatu tabung yang tumbuh ke bawah tangkai kepala putik. Setelah mencapai
ovarium, tabung serbuk sari itu akan menembus masuk melalui mikropil, yaitu lubang pada integument
bakal biji, dan melepaskan dua sel sperma ke dalam kantung embrio. Satu nukleus sel sperma menyatu
dengan sel telur membentuk zigot, diploid dan nukleus sel sperma lain menyatu dengan dua nukleus pada
sel tengah kantong embrio itu. Sel tengah ini sekarang memiliki nukleus tripoid (3n).

B. ASAL MULA MORFOLOGI TUMBUHAN BERBIJI


Oleh karena proses evolusi berlangsung secara granual dan dalam jangka waktu yang lama, maka
perbedaan antara kesamaan morfologi dapatdijadikan dasar untuk mengelompokkan organisme.
Hubungan kekerabatan satu spesies dengan spesies yang lain (filogeni) dinyatakan oleh banyak sedikitnya
kesamaan morfologinya. Morfologi tumbuhan dimulai karena adanya adaptasi dari bagian bentuk dan
ukuran akar, batang dan daun sebagai alat untuk melakukan fungsinya dalam kehidupan.
Morfologi tumbuhan merupakan ilmu yang mempelajari organ tumbuhan baik bentuk, ukuran dan
fungsinya. Menurut Tjitrosoepomo (1990: 2) menurut defenisinya, morfologi tumbuhan tidak hanya
menguraikan bentuk dan susunan tubuh tumbuhan saja, tetapi juga bertugas untuk menentukan apakah
fungsinya masing-masing bagian itu dalam kehidupan tumbuhan, selanjutnya juga berusaha mengetahui
dari mana asal bentuk dan susunan tubuh yang demikian tadi. Selain dari itu morfologi harus pula dapat

memberikan jawaban atas pertanyaan mengapa bagian-bagian tubuh tumbuhan mempunyai


bentuk dan susunan yang beraneka ragam itu. Dalam rangka melaksanakan tugas-tugasnya
morfologi dapat menggunakan anggapan-anggapan maupun teori-teori yang berlaku dalam dunia
ilmu hayat, misalnya berdasarkan teori evolusi tubuh tumbuhan akan mengalami perubahan
bentuk dan susunannya, hingga suatu alat atau bagian tubuh dapat dicari asal filogenetiknya.
Diterimanya anggapan, bahwa bentuk dan susunan tubuh tumbuhan selalu disesuaikan dengan
fungsinya serta alam sekitarnya. Semua bagian tubuh tumbuhan secara langsung ataupun tidak
langsung berguna untuk menegakkan kehidupan tumbuhan, yaitu yang terutama berguna untuk
penyerapan, pengolahan, pengangkutan dan penimbunan alat hara. Dari alat hara akan diuraikan
organ akar, batang dan daun tumbuhan.
C. DAUN TUMBUHAN BERBIJI
Baik dari segi morfologi dan anatominya, daun merupakan organ yang beragam. Struktur tangkai
daun atau tulang daun mirip dengan batang. Cirri penting pada daun adalah pada spermatophyta
bahwa, aktivitas meristem daun ditentukan oleh pertumbuhan interkalar dan marginal. Istilah
bagi seluruh daun pada tanaman adalah phllom. Namun dikenal juga istilah daun hijau, katafil,
hipsofil dan kotiledon. Daun hijau adalah daun untuk fotositensis dan biasanya berbentuk pipih
mendatar sehingga mudah untuk memperoleh sinar matahari dan gas CO2. Katafil adalah sisik
dibawah tunas atau batang dibawah tanah berguna untuk pelindung atau tempat cadangan
makanan. Daun pertama pada cabang lateral disebut prophyll, pda monokotil hanya ada satu

heelai prophyll dan pada dikotil ada dua helai. Hipsofil berupa berbagai jenis brakte yang
mengiringi bunga dan sebagai pelindung. Kadang-kadang berwarna cerah serupa mahkota dan
kotiledon merupakan daun pertama tumbuh. Daun dibedakan menjadi dua yaitu daun majemuk
dan daun tungga, pda daun majemuk terdapat anak daun yang melekat pada
1. WARNA DAUN
Awal mula warna daun dilihat dari adanya fungsi daun sebagai alat untuk fotositensis oleh
karena itu daun memiliki warna karen ada klorofil untuk menyerap zat fotositensis. Menurut
Tjitosopoemo (1990: 48), bahwa walaupun umum, tak jarang kita jumpai daun ada yang
berwarna tidak hijau. Seperti warna merah pada daun bunga buntut banjing (Achalypha
wilkesiana), hijau tua daun nyamplung (Colophllum inophyllum L.,), hijau kekuningan
(Chorchorus capsularis). Perlu dicatat, bahwa dalam menyebut warna daun sangat besar
pengaruh perseorangan, mengingat mengenai warna tidak ada ukuran yang objektif. Pada
umumnya warna daun pada sisi atas dan bawah berbeda. Perbedaan ini Karen warna hijau lebih
banyak berada di atas.
2. PERMUKAAN DAUN
Permukaan daun menjadi hal yang dapat menunjukan cirri-ciri tumbuhan biasanya permukaan
daun ada alat tambahan seperti sisik, rambut duri dan lain-lain. Ada yang permukaan nya licin
pada beringin (Ficus benjamina L), Gundul pada daun jambu air, Kasap dll
3. BANGUN (BENTUK) DAUN
Asal mula bangun daun menggunakan istilah atau kata-kata lazim dipakai utnuk menyatakan
benda-benda lain. Misalnya bangun tombak.
D. STUDI BARU TANAMAN BERBIJI DILIHAT DARI FISIOLOGI DAUN
Studi baru dalam bidang Ecology Letters menyingkap dimulainya evolusi yang menyebabkan
tanaman berbunga primitif mendapatkan keuntungan kompetitif dibanding spesies lainnya,
sehingga mereka dapat mendominasi dalam jumlah besar. Studi yang dipimpin Dr. Tim Brodribb
(University of Tasmania) dan Dr. Taylor Field (University of Tennessee) ini menggunakan
fisiologi tanaman untuk mengetahui bagaimana tanaman bunga, termasuk tanaman pangan
mampu mendominasi bumi dengan mengembangkan sistem hidrolis yang lebih efisien, atau

saluran pipa daun, untuk meningkatkan kemampuan fotosintetis. Tanaman bunga adalah
spesies terbesar dan sekelompok tanaman di bumi yang sukses secara ekologi, kata Brodribb.
Salah satu alasan dominasi ini adalah karena kapasitas fotosintesis daun yang cukup tinggi,
tetapi kapan dan bagaimana dimulainya peningkatan kapasitas fotosintesis ini berkembang
menjadi suatu misteri. Menggunakan pengukuran densitas pembuluh vena daun dan
dihubungkan dengan model fotosintesis-hidrolis, Brodribb dan Field merekonstruksi evolusi
kapasitas hidrolis daun pada tanaman berbiji. Hasil yang didapatkan adalah transformasi evolusi
pompa angiosperm daun mendorong kapasitas fotosintesis ke tingkat yang baru. Alasan
suksesnya langkah evolusi ini adalah di bawah kondisi atmosfir CO2 yang cukup rendah, seperti
saat ini, efisiensi pengangkutan air dan hasil fotosintesis ternyata berhubungan dekat. Karena itu
adaptasi yang meningkatkan pengangkutan air akan meningkatkan fotosintesis secara maksimal,
menggunakan kekuatan evolusi secara luar biasa untuk memenangkan kompetisi spesies. Evolusi
densitas vena daun pada tanaman bunga sekitar 140-100 juta tahun lalu adalah suatu proses yang
sangat penting bagi berlanjutnya evolusi tanaman bunga. Langkah ini menyediakan paket
stimulus produktivitas zaman Cretaceous yang terus menggema di seluruh biosfir dan
memungkinkan tanaman ini memainkan peranan fundamental dalam fungsi biologis dan
atmosferik di bumi. Tanpa sistem hidrolis kami perkirakan fotosintesis daun akan dua kali lebih
rendah daripada sekarang, kesimpulan Brodribb. Sehingga penting diingat bahwa tanpa
langkah evolusi ini tanaman tidak akan mempunyai kapasitas fisik untuk menghasilkan
produktivitas tinggi yang mendukung biologi dunia moderen dan peradaban manusia.
1. AKAR TUMBUHAN BERBIJI
Menurut Suradinata (1998) bahwa fenomena pertama perkembangan awal akar dalam
embrio adalah organisasi meristem apeks akar dibawah hipokotil. Setelah biji berkecambah,
meristem apeks akar membentuk akar utama. Akar cabang dan akar adventif juga menunjukan
karakteristik susunan sel-sel dalam meristem apeks, kurang lebih sama dengan akar utamanya.
Meristem apeks yang mempunyai pemula-pemula bersama secara filogenetik adalah primitif.
Analisis asal mula pembentukan jaringan akar berdasarkan perbedaan sel pemula apek ada
hubungannya dengan pendekatan yang digunakan oleh Hanstein yang memformulasikan teori
histogen.
2. BATANG TUMBUHAN BERBIJI DAN LINGKARAN TAHUN

Menurut Suradianata (1998) bahwa meristem pertama pada batang dibentuk pada saat
embrio berkembang. Batas antara kayu yang terbentuk pada permulaan dan pada akhir suatu
musim. Melalui lingkaran-lingkaran tahun ini dapat diketahui umur pohon. Apabila pertumbuhan
diameter (membesar) terganggu oleh musim kering karena pengguguran daun, ataupun
serangga/hama, maka lingkaran tahun dapat terdiri lebih dari satu lingkaran tahun (lingkaran
tumbuh) dalam satu musim yang sama. Hal ini disebut lingkaran palsu. Lingkaran tahun dapat
mudah dilihat pada beberapa jenis kayu daun lebar. Pada jenis- jenis lain, lingkaran tahun ada
kalanya sulit dibedakan terutama di daerah tropic, karena pertumbuhan praktis berlangsung
sepanjang tahun.

3. BUNGA TUMBUHAH BERBIJI


Menurut Hidayat (1995), bahwa meskipun struktur dan ontogeny bunga telah banyak
diteliti, hingga saat ini para ahli belum sepakat mengenai konsep bunga. Salah satu sebab adalah
kurangnya informasi mengenai fosil bunga. Teori yang biasa dianut dianggap bahwa bunga
adalah homolog dengan pucuk vegetative, dan daun bungan homolog dengan daun hijau. Konsep
yang juga dianut, yakni bahwa macam daun yang ditemukan pada paku, gymnospermae, dan
angiospermae yang berkembang dari system cabang telah memunculkan dugaan bahwa, dalam
satu evolusi parallel antara daun dan bagian bunga, pemisahaan nya muncul sebelum bentuk
daun muncul.
Jika dilihat dari fosil yang terekam dalam lapisan-lapisan sedimen di kerak Bumi, fosil
tumbuh-tumbuhan tertua tercatat berusia 425 juta tahun, yang ditunjukkan dengan keberadaan
fosil fern, fir, conifer dan beberapa varietas tumbuhan purba yang lain. Sementara di masa 130
juta tahun silam tumbuhan berbunga mulai mewarnai permukaan Bumi. Di antara dua masa itu
tidak diketahui secara pasti bagaimana tumbuhan yang lebih tua mampu berevolusi membentuk
tumbuhan berbunga. Bapak evolusi Charles Darwin menjumpai fenomena ini sejak abad 19 lalu.
Sejak itu berbagai kemungkinan diungkapkan, namun permasalahan ini masih kontroversial
hingga sekarang. Di kalangan ilmuwan, fenomena ini dikenal sebagai salah satu misteri
Darwin. Di tengah berbagai kemungkinan yang ada, sebuah tim geokimia dari Stanford
memasuki lapangan perdebatan ini dengan mengungkapkan bahwa tumbuhan berbunga mulai

berevolusi sejak 250 juta tahun yang lalu. Artinya jauh-jauh hari sebelum butiran tepung sari
pertama tercetak sebagai fosil. Menurut J. Michael Moldowan, profesor peneliti geologi
lingkungan Stanford, penelitian mereka mengindikasikan bahwa tumbuhan berbunga pertama
mulai muncul di era Permian dalam masa sekitar 290 - 245 juta tahun yang lalu. Kami
mendasarkan penelitian ini pada sebuah senyawa organik yang dinamakan oleanane, yang acap
ditemukan pada fosil-fosil tumbuhan ", tambah Moldowan. " Ini merupakan langkah maju.
Selama ini kerja para palentolog terbatas pada anatomi tumbuhan purba yang tercetak dalam
fosil secara detil, bukan pada molekul pembentuk (oleanane) ", kata Bruce Runnegar, profesor
palentologi di University California of Los Angeles. Oleanane merupakan senyawa organik yang
diproduksi oleh berbagai macam tumbuhan dan berfungsi sebagai bagian dari mekanisme
pertahanan tumbuhan terhadap serangan serangga, jamur dan berbagai aktivitas mikroba lainnya.
Namun senyawa ini tidak dijumpai pada beberapa tumbuhan seperti pinus.

Moldowan dan koleganya mempelajari sedimen-sedimen berumur Permian yang mengandung


sisa-sisa tumbuhan purba yang dikenal sebagai gigantopterids. Dalam lapisan sedimen yang
sama pula ditemukan oleanane. Hal ini memperlihatkan bahwa gigantopterids pun memproduksi
oleanane, layaknya tumbuhan moderan pada saat ini. Dari sini biolog David W. Taylor
dari Indiana University menyimpulkan bahwa tumbuh-tumbuhan berbunga telah ada jauh lebih
awal. Penemuan ini cukup penting karena dalam waktu yang belum lama juga di daratan Cina
ditemukan fosil gigantopterids yang lengkap dengan daun dan batangnya, yang sangat mirip jika
dibandingkan dengan tumbuhan berbunga modern, lanjut Taylor. Taylor memperkirakan
bahwa gigantopterids dan tumbuhan berbunga mulai berevolusi dari tumbuhan yang lebih tua
secara bersama-sama semenjak 250 juta tahun yang lalu. Kini penemuan ini sedang memasuki

lapangan perdebatan ilmiah yang sesungguhnya. Namun di samping itu, Moldowan dan rekanrekannya mencatatkan diri bahwa oleanane dapatlah dijadikan sebagai fosil kimiawi yang
penting untuk mempelajari sejarah kehidupan di muka Bumi.

E.

KESIMPULAN

GYMNOSPERMAE
Gymnospermae awal hidup selama periode Mississipi dan Pensylvania, bersama dengan
tumbuhan paku Lycopsida dan sphenopsida, turut berperan dalam pembentukan batubara. Akhir
periode Misissipi muncul Konifer. Konifer merupakan Gymnospermae tertua dan terbesar.

ANGIOSPERMAE
Angiospermae muncul pada endapan Jura, akhir era Mesozoic menjadi Tumbuhan dominan,
250.000 spesies ditemukan hidup dan sekarang 34.000 species dijumpai masih hidup.

Daftar Pustaka
priani,yuniari.2012. Evolusi Tumbuhan Berbiji,(online),
https://id.scribd.com/doc/78383268/Evolusi-Tumbuhan-Berbiji.diakses 05 april 2016
eliza,fitria.2012. Evolusi Tumbuhan Berbiji,(online),
https://id.scribd.com/doc/101437988/EVOLUSI-TUMBUHAN-BERBIJI.diakses 11 april 2016
mahmuddin.2012. Asal-usul Kelompok Tumbuhan,(online),
https://mahmuddin.wordpress.com/2012/08/27/asal-usul-kelompok-tumbuhan/