Anda di halaman 1dari 16

SISTEM KELUARGA

Diajukkan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Home


Economics

Disusun Oleh :
KELOMPOK 1
NAMA
Carmelita Astrini
Judith Ingriditha

NPM
150610120119
150610120120

PROGRAM STUDI AGRIBISNIS


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
JATINANGOR
2016

BAB I
PENGERTIAN SISTEM DAN SUBSISTEM

1.1. Pengertian Sistem


Sistem berasal dari bahasa Latin (systma) dan bahasa Yunani (sustma) yang
berarti suatu kesatuan yang terdiri atas komponen atau elemen yang dihubungkan
bersama untuk memudahkan aliran informasi, materi atau energi. Sistem adalah
kumpulan komponen apapun baik fisik yang saling berhubungan satu sama lain dan
bekerja sama secara harmonis untuk mencapai satu tujuan tertentu. Terdapat dua
kelompok pendekatan didalam mendefinisikan sistem, yaitu yang menekankan pada
prosedurnya dan yang menekankan pada komponen atau elemennya. Pendekatan
sistem yang lebih menekankan pada prosedur mendefinisikan sistem sebagai berikut
ini: Suatu Sistem adalah suatu jaringan kerja dari prosedur-prosedur yang saling
berhubungan, berkumpul bersama-sama untuk melakukan suatu kegiatan atau untuk
menyelesaikan suatu sasaran yang tertentu.
Adapun beberapa pengertian sistem menurut para ahli:
1) L. James Havery
Menurutnya sistem adalah prosedur logis dan rasional untuk merancang suatu
rangkaian komponen yang berhubungan satu dengan yang lainnya dengan
maksud untuk berfungsi sebagai suatu kesatuan dalam usaha mencapai suatu
tujuan yang telah ditentukan.
2) John Mc Manama
Menurutnya sistem adalah sebuah struktur konseptual yang tersusun dari fungsifungsi yang saling berhubungan yang bekerja sebagai suatu kesatuan organik
untuk mencapai suatu hasil yang diinginkan secara efektif dan efisien.
3) C.W. Churchman
Menurutnya sistem adalah seperangkat bagian-bagian yang dikoordinasikan
untuk melaksanakan seperangkat tujuan.
4) J.C. Hinggins
Menurutnya sistem adalah seperangkat bagian-bagian yang saling berhubungan.
5) Edgar F Huse dan James L. Bowdict

Menurutnya sistem adalah suatu seri atau rangkaian bagian-bagian yang saling
berhubungan dan bergantung sedemikian rupa sehingga interaksi dan saling
pengaruh dari satu bagian akan mempengaruhi keseluruhan
6) Jerry Fith Gerald
Menurutnya sistem adalah suatu jaringan kerja dari prosedur-prosedur yang
saling berhubungan, berkumpul bersama-sama untuk melakukan suatu kegiatan
atau
menyelesaikan suatu sasaran tertentu.
Adapun beberapa pengertian sistem yang diambil dari berbagai sumber, yaitu:
1) Pengertian dan definisi sistem adalah suatu kesatuan yang terdiri atas komponen
atau elemen yang saling berinteraksi, saling terkait, atau saling bergantung
membentuk keseluruhan yang kompleks.
2) Kesatuan gagasan yang terorganisir dan saling terikat satu sama lain.
3) Kumpulan dari objek atau fenomena yang disatukan bersama untuk tujuan
klasifikasi atau analisis.
4) Adanya suatu kondisi harmonis dan interaksi yang teratur.
Contoh konkret dari sebuah sistem diantaranya adalah:
Organ tubuh manusia yang membentuk beragam sistem. Sistem pernafasan,
sistem pencernaan, sistem eksresi, sistem saraf, sistem kerangka, dan lain-lain.
Komponen elektronik komputer yang membentuk sistem komunikasi, sistem
perangkat lunak, sistem perangkat keras, sistem jaringan, dan lain-lain.
Rakyat Indonesia yang membentuk beragam sistem di Negara kita. Sistem
pemerintahan, sistem keamanan, sistem hukum, sistem kebudayaan, dan lainlain.
1.2. Pengertian Subsistem
Subsistem adalah komponen yang
koheren dan agak independen dari sistem yang lebih besar. Subsistem merupakan
komponen atau bagian dari suatu sistem, baik fisik ataupun abstrak. Subsistem
sebenarnya hanyalah sistem di dalam suatu sistem. Hal ini berarti bahwa sistem
berada pada satu tingkat lebih diatas subsistem. Pemisalan lainnya, mobil adalah
suatu sistem yang terdiri dari sistem-sistem bawahan seperti sistem mesin, sistem

badan mobil dan sistem rangka. Masing-masing sistem ini terdiri dari sistem tingkat
yang lebih rendah lagi. Selain itu contohnya adalah beberapa subsistem tubuh
manusia, yaitu sistem peredaran darah, sistem pencernaan, sistem saraf, dan
sistem rangka.

BAB II
KOMPONEN DAN KARAKTERISTIK SISTEM

2.1. Elemen Dalam Sistem


Pada prinsipnya, setiap sistem selalu terdiri atas empat elemen, yaitu:
1) Objek, yang dapat berupa bagian, elemen, ataupun variabel. Ia dapat benda fisik,

abstrak, ataupun keduanya sekaligus; tergantung kepada sifat sistem tersebut.


2) Atribut, yang menentukan kualitas atau sifat kepemilikan sistem dan objeknya.
3) Hubungan internal, di antara objek-objek di dalamnya.
4) Lingkungan, tempat di mana sistem berada.

2.2. Karakteristik Sistem


1) Komponen Sistem (Components)
Suatu sistem terdiri dari sejumlah komponen yang saling berinteraksi, yang
artinya saling bekerja sama membentuk satu kesatuan. Komponen-komponen
sistem atau elemen-elemen sistem dapat berupa suatu subsistem atau bagianbagian dari sistem. Setiap sistem tidak peduli betapapun kecilnya, selalu
mengandung komponen-komponen atau subsistem-subsistem. Setiap subsistem
mempunyai sifat-sifat dari sistem untuk menjalankan suatu fungsi tertentu dan
mempengaruhi proses sistem secara keseluruhan. Jadi, dapat dibayangkan jika
dalam suatu sistem ada subsistem yang tidak berjalan / berfungsi sebagaimana
mestinya, tentunya sistem tersebut tidak akan berjalan mulus atau mungkin juga
sistem tersebut rusak sehingga dengan sendirinya tujuan sistem tersebut tidak
tercapai.
2) Batas Sistem (Boundary)
Merupakan daerah yang membatasi antara suatu sistem dengan sistem yang
lainnya atau dengan lingkungan luarnya. Atau menurut Azhar Susanto, batas
sistem merupakan garis abstraksi yang memisahkan antara sistem dan
lingkungannya. Batas sistem ini bagi setiap orang sangat relatif dan tergantung
kepada tingkat pengetahuan dan situasi kondisi yang dirasakan oleh orang yang
melihat sistem tersebut. Batas sistem ini memungkinkan suatu sistem dipandang
sebagai satu kesatuan. Batas suatu sistem nenunjukan ruang lingkup (scope) dari
sistem tersebut.
5

3) Lingkungan Luar Sistem (Environments)


Lingkungan luar dari suatu sistem adalah apapun diluar batas dari sistem yang
mempengaruhi operasi sistem. Lingkungan luar sistem dapat bersifat
menguntungkan dan dapat juga bersifat merugikan sistem tersebut. Lingkungan
luar yang menguntungkan merupakan energi dari sistem dan dengan demikian
harus tetap dijaga dan dipelihara. Sedang lingkungan luar yang merugikan harus
ditahan dan dikendalikan, kalau tidak maka akan mengganggu kelangsungan
hidup dari sistem.
4) Penghubung (Interface) Sistem
Penghubung sistem merupakan media penghubung anatara satu subsistem
dengan subsistem lainnya. Melalui penghubung ini memungkinkan sumbersumber daya mengalir dari satu subsistem ke yang lainnya. Keluaran output dari
satu subsistem akan menjadi masukan (input) untuk subsistem lainnya dengan
melalui penghubung. Dengan penghubung satu subsistem dapat berintegrasi
dengan subsistem yang lainnya membentuk satu kesatuan.
5) Masukan (Input) Sistem
Masukan sistem adalah energi yang dimasukkan kedalam sistem. Masukan dapat
berupa masukan perawatan (maintenance input) dan masukan sinyal (signal
input). Maintenance input adalah energi yang dimasukan supaya sistem tersebut
dapat beroperasi. Signal input adalah energi yang diproses untuk didapatkan
keluaran.

Sebagai

contoh

didalam

sistem

komputer, program

adalah

maintenance input yang digunakan untuk mengoperasikan komputernya dan


data adalah signal input untuk diolah menjadi informasi.
6) Keluaran (Output) Sistem
Keluaran sistem adalah hasil dari energi yang diolah dan diklasifikan menjadi
keluaran yang berguna dan sisi pembuangan. Keluaran dapat merupakan
masukan untuk subsistem yang lain atau kepada supersistem. Misalnya untuk
sistem computer, panas yang dihaislkan adalah keluaran yang tidak berguna dan
merupakan hasil sisa pembuangan, sedang informasi adalah keluaran yang
dibutuhkan.
7) Pengolah (Process) Sistem
Suatu sistem dapat mempunyai suatu bagian pengolah yang akan merubah
masukan menjadi keluaran. Suatu sistem produksi akan mengolah masukan
berupa bahan baku dan bahan-bahan yang lain menjadi keluaran berupa barang

jadi. Sistem akuntansi akan mengolah data-data transaksi menjadi laporanlaporan keuangan dan laporan-lpaoran lain yang dibutuhkan oleh manajemen.
8) Sasaran (Objectives) atau Tujuan (Goal)
Tujuan Sistem merupakan target atau sasaran akhir yang ingin dicapai oleh suatu
sistem. Suatu sistem pasti mempunyai tujuan atau sasaran. Kalau suatu sistem
tidak mempunyai sasaran, maka operasi sistem tidak akan ada gunanya. Sasaran
dari sistem sangat menentukan sekali masukan yang dibutuhkan sistem dan
keluaran yang akan dihasilkan sistem. Suatu sistem dikatakan berhasil bila
mengenai sasaran atau tujuannya.

BAB III
SISTEM KELUARGA VS RUMAH TANGGA

3.1. Sistem Keluarga


Keluarga berasal dari bahasa Sansekerta "kulawarga". Kata kula berarti "ras"
dan warga yang berarti "anggota". Keluarga adalah lingkungan di mana terdapat
beberapa orang yang masih memiliki hubungan darah.
Dalam pengertian sosiologis, secara umum keluarga dapat didefinisikan
sebagai suatu kelompok dari orang-orang yang disatukan oleh ikatan-ikatan
perkawinan, darah, atau adopsi, merupakan susunan rumah tangga sendiri,
berinteraksi dan berkomunikasi satu sama lain yang menimbulkan peranan-peranan
sosial bagi suami istri, ayah dan ibu, putra dan putrinya, saudara laki-laki dan
perempuan serta merupakan pemeliharaan kebudayaan bersama. Jadi keluarga
merupakan kesatuan sosial yang terikat oleh hubungan darah dan masing-masimg
anggotanya mempunyai peranan yang berlainan sesuai dengan fungsinya.
Dalam pengertian psikologis, keluarga adalah sekumpulan orang yang hidup
bersama dalam tempat tinggal bersama dan masing-masing anggota merasakan
adanya pertautan batin sehingga terjadi saling mempengaruhi, saling memperhatikan,
dan saling menyerahkan diri (Soelaeman, 1994:5-10).
Dari uraian diatas menunjukan bahwa keluarga juga merupakan suatu sistem.
Sebagai sistem keluarga mempunyai anggota yaitu; ayah, ibu dan anak atau semua
individu yang tinggal didalam rumah tangga tersebut. Anggota keluarga saling
berinteraksi, interelasi dan interdependensi untuk mencapai tujuan bersama. Keluarga
merupakan sistem yang terbuka sehingga dapat dipengaruhi oleh supra sistemnya
yaitu lingkungannya yaitu masyarakat dan sebaliknya sebagai subsitem dari
lingkungan (masyarakat) keluarga dapat mempengaruhi masyarakat (supra sistem).
Oleh karena itu betapa pentingnya peran dan fungsi keluarga dalam membentuk
manusia sebagai anggota masyarakat yang sehat. Diyakini bahwa keluarga yang
sehat akan mempunyai anggota yang sehat dan mewujudkan masyarakat yang sehat.
3.2. Rumah Tangga

Rumah tangga terdiri dari satu atau lebih orang yang tinggal bersama-sama di
sebuah tempat tinggal dan juga berbagi makanan atau akomodasi hidup, dan bisa
terdiri dari satu keluarga atau sekelompok orang. Sebuah tempat tinggal dikatakan
berisi beberapa rumah tangga jika penghuninya tidak berbagi makanan atau ruangan.
Rumah tangga adalah dasar bagi unit analisis dalam banyak model sosial,
mikroekonomi, dan pemerintahan, dan menjadi bagian penting dalam ilmu ekonomi.
Dalam arti luas, rumah tangga tidak hanya terbatas pada keluarga, bisa berupa
rumah tangga perusahaan, rumah tangga negara, dan lain sebagainya. Istilah rumah
tangga bisa juga didefinisikan sebagai sesuatu yang berkenaan dengan urusan
kehidupan di rumah. Sedangkan istilah berumah tangga secara umum diartikan
sebagai berkeluarga (KBBI).
3.3. Sistem Keluarga vs Rumah Tangga
Istilah rumah tangga dan keluarga sendiri sering dicampur adukkan dalam
kehidupan sehari-hari. Pengertian rumah tangga lebih mengacu pada sisi ekonomi.
Seperti uraian diatas rumah tangga bisa berarti sebuah rumah tangga perusahaan,
rumah tangga negara dan lain sebagainya. Sedangkan keluarga lebih mengacu pada
hubungan kekerabatan dan fungsi sosial.

BAB IV
KELUARGA SEBAGAI SUATU SISTEM

Menurut Klein dan White (1996) sistem diartikan sebagai suatu set objek, dan
relasi antar objek tersebut dengan atribut-atributnya, berdasarkan asumsi:
a.
b.
c.
d.

elemen sistem saling berhubungan


sistem hanya dapat dimengerti sebagai keseluruhan,
seluruh sistem mempengaruhi dan dipengaruhi lingkungannya, dan
sistem bukan sesuatu yang nyata. Sedangkan menurut Winton (1995),
sistem merupakan unit yang dibatasi aturan, dan terdiri dari bagian-bagian
yang saling berhubungan dan saling ketergantungan.

Konsep sistem dijabarkan lebih lanjut dari ciri-cirinya yaitu (Kingsbury &
Scanzoni dalam Boss, et al.,1993);
a. memiliki diferensiasi atau sosialisasi jenis peran,
b. peran diatur atau diorganisasi melalui serangkaian nilai dan norma yang

menetapkan hak dan kewajiban seorang pelaku kepada yang lainnya, atau
kepada masyarakat,
c. pemeliharaan lingkungan,

individu

internal

lebih

terikat

kuat

dibandingkan dengan individu luar, dan


d. sistem sosial memiliki suatu kecenderungan menuju keseimbangan atau
homoestasis.
Kajian pustaka yang dilakukan Megawangi, Zeitlin, & Kramer dalam Zeitlin et
al., (1995), keluarga sebagai sistem diartikan sebagai unit sosial dimana individu
terlibat secara intim didalamnya, dibatasi oleh aturan keluarga, terdapat hubungan
timbal balik dan saling mempengaruhi antar anggota keluarga setiap waktu (Walker
& Crocker, 1988). Namun demikian menurut Kreppner dan Lerner (1989) terdapat
beberapa perbedaan perspektif terhadap keluarga sebagai sistem itu sendiri.
Perbedaan perspektif tersebut adalah keluarga lebih dipandang sebagai :
a. suatu sistem interaksi umum anggota keluarga,
b. suatu seri interaksi yang dilakukan dua pihak (diadic),
c. sejumlah interaksi antara seluruh subkelompok keluarga : diadic, triadic,
dan tetradic, serta

10

d. sistem hubungan internal keluarga sebagai reaksi terhadap sistem sosial


yang lebih luas.
Dibandingkan kelompok asosiasi lainnya, keluarga memiliki daya hidup
lebih lama, serta hubungan biologi dan intergenerasi yang berkaitan dengan ikatan
kekerabatan yang lebih luas (Klein & White,1996).
Pendekatan keluarga sebagai sistem didasarkan pada teori struktural
fungsional yang berlandaskan empat konsep yaitu : sistem, struktur sosial, fungsi,
dan keseimbangan. Teori ini membahas bagaimana perilaku seseorang dipengaruhi
orang lain dan oleh institusi sosial, dan bagaimana perilaku tersebut pada gilirannya
mempengaruhi orang lain dalam proses aksi-reaksi berkelanjutan. Teori ini
memandang tidak ada individu dan sistem yang berfungsi secara independen,
melainkan dipengaruhi dan pada gilirannya mempengaruhi orang lain atau sistem
lain (Winton, 1995).
Teori struktural fungsional mengakui adanya keragaman dalam kehidupan
sosial, yang merupakan sumber utama struktur masyarakat (Megawangi, 1999).
Pandangan penganut teori struktural fungsional yang melihat sistem sosial sebagai
sistem yang harmonis, berkelanjutan dan senantiasa menuju keseimbangan,
berlawanan dengan pandangan penganut teori konflik sosial.
Teori konflik sosial memandang konflik sebagai sesuatu hal yang alamiah,
normal, dan tidak dapat dielakkan dalam seluruh sistem sosial, bahkan konflik
dianggap sebagai sumber motivasi yang dibutuhkan untuk perubahan. Konflik ada
dimana-mana, dalam semua jenis interaksi sosial, dan pada seluruh tingkat organisasi
sosial. Bahkan konflik dipandang sebagai elemen dasar kehidupan sosial manusia
dan keberlangsungan sistem (Winton, 1995; Klein & White, 1996; Farrington &
Chertok dalam Boss, et al., 1993).

11

BAB V
APLIKASI KONSEP SISTEM DALAM KELUARGA

Berdasarkan teori pendekatan keluarga dalam bab sebelumnya, aplikasi konsep


sistem dalam keluarga akan dibagi berdasarkan dua teori tersebut. Salah satu teori
yang melandasi studi keluarga diantaranya adalah Teori Struktural-fungsional/ Teori
Sistem.
Pendekatan teori sosiologi struktural-fungsional biasa digunakan oleh Spencer
dan Durkheim yang menyangkut struktur (aturan pola sosial) dan fungsinya dalam
masyarakat (Skidmore 1979; Spencer dan Inkeles 1982; Turner 1986; Schwartz dan
Scott 1994; Macionis 1995; Winton 1995) dan pada kehidupan sosial secara total
(McQuarie 1995). Penganut pandangan teori struktural-fungsional melihat sistem
sosial sebagai suatu sistem yang seimbang, harmonis dan berkelanjutan.
Aplikasi Struktural Fungsional dalam Keluarga :
1. Berkaitan dengan pola kedudukan dan peran dari anggota keluarga tersebut,
hubungan antara orangtua dan anak, ayah dan ibu, ibu dan anak
perempuannya, dll.
2. Setiap masyarakat mempunyai peraturan-peraturan dan harapan-harapan yang
menggambarkan orang harus berperilaku.
3. Tipe keluarga terdiri atas keluarga dengan suami istri utuh beserta anak-anak
(intact families), keluarga tunggal dengan suami/istri dan anak-anaknya
(single families), keluarga dengan anggota normal atau keluarga dengan
anggota yang cacat, atau keluarga berdasarkan tahapannya, dan lain-lain.
4. Aspek struktural menciptakan keseimbangan sebuah sistem sosial yang tertib
(social order). Ketertiban keluarga akan tercipta kalau ada struktur atau strata
dalam keluarga, dimana masing-masing mengetahui peran dan posisinya dan
patuh pada nilai yang melandasi struktur tersebut.
5. Terdapat 2 (dua) Bentuk keluarga yaitu: (1) Keluarga Inti (nuclear family),
dan (2) Keluarga Luas (extended family).

12

6. Struktur dalam keluarga dapat dijadikan institusi keluarga sebagai sistem


kesatuan dengan elemen- elemen utama yang saling terkait:
a. Status sosial: Pencari nafkah, ibu rumahtangga, anak sekolah, dan
lain-lain.
b. Fungsi dan peran sosial: Perangkat tingkah laku yang diharapkan
dapat memotivasi tingkah laku seseorang yang menduduki status
sosial tertentu (peran instrumental/ mencari nafkah; peran emosional
ekspresif / pemberi cinta, kasih sayang.
c. Norma sosial: Peraturan yang menggambarkan bagaimana sebaiknya
seseorang bertingkah laku dalam situasi tertentu.
Teori konflik sosial muncul pada Abad ke-18 dan 19 sebagai respon dari
lahirnya dual revolution, yaitu demokratisasi dan industrialisasi, sehingga
kemunculan sosiologi konflik modern, di Amerika khususnya, merupakan
pengikutan, atau akibat dari, realitas konflik dalam masyarakat Amerika (Mc Quarrie
1995). Teori konflik sosial mulai populer pada Tahun 1960an sejalan dengan
gelombang kebebasan individu di Barat, tetapi sebetulnya telah berkembang sejak
Abad 17.
Selain itu teori sosiologi konflik adalah alternatif dari ketidakpuasaan terhadap
analisis fungsionalisme struktural Talcott Parsons dan Robert K. Merton, yang
menilai masyarakat dengan paham konsensus dan integralistiknya. Beberapa kritikan
terhadap teori struktural-fungsional berkisar pada sistem sosial yang berstruktur, dan
adanya perbedaan fungsi atau diferensiasi peran (division of labor). Institusi keluarga
dalam perspektif struktural-fungsional dianggap melanggengkan kekuasaan yang
cenderung menjadi cikal bakal timbulnya ketidakadilan dalam masyarakat.
Dengan demikian:
1. Teori struktural fungsional lebih dijadikan pegangan untuk keluarga
konservatif.
2. Teori konflik sosial lebih dijadikan pegangan bagi keluarga kontemporer.
3. Contoh-contoh konflik dalam keluarga:
a. Konflik peran suami dan istri di dalam keluarga.
b. Konflik komunikasi antara suami dan istri atau antara orangtua dan
anak.

13

c. Konflik kelas dalam masyarakat (kelas borjuis vrsus proletar; kelas


gender; kelas sosial ekonomi)
d. Konflik antara keluarga inti dan keluarga luasnya.
Tabel 1. Contoh perbedaan pendekatan praksis/aplikasi teori struktural
fungsional

dan

sosial-konflik

dalam

kehidupan

keluarga

dan

masyarakat.

Pendekatan Teori
Struktural

Kasus/ Masalah
Keluarga

Pendekatan Teori Konflik


Sosial

Fungsional/ Sistem
Penyimpangan perilaku

Dianggap sebagai penyakit

Dianggap sebagai dinamika

(deviance)

masyarakat yang harus


diluruskan

masyarakat yang normal, dan

sesuai dengan norma-norma


lama

harus diwadahi sesuai dengan

yang dianut bergenerasi.

dinamika masyarakat sebagai


norma yang baru

Perilaku free sex

Harus dikawinkan (siap tidak


siap,

Boleh saja living

suka tidak suka), dihukum


secara

together/cohabitation, sebagai

adat.

norma yang baru muncul; tidak


harus menikah kalau belum siap

Hubungan gay dan lesbian Dianggap sebagai penyakit

Dianggap sebagai dinamika

masyarakat yang harus


diluruskan

masyarakat yang normal, dan

(disembuhkan secara spiritual/

harus diwadahi (harus ada

psikologis).

perkawinan gay & lesbian); harus

14

ada hukum baru


Kasus perceraian

Sebisa mungkin dihindarkan;

Cerai merupakan gejala normal

Salah satu agama tidak

dalam masyarakat, buat apa

memperbolehkan bercerai
seumur

dipertahankan.

Hidup
Perkawinan antar agama

Tidak diperboleh;

Diperbolehkan, agama sendiri-

Ada aturan yang sangat ketat

sendiri antara suami dan istri atau


kesepakatan bersama memilih
salah satu agama.

Peran gender

Didasarkan sistem patriarki;

Didasarkan kesetaraan/egaliter
dan

keluarga adalah sangat penting;

keadilan; keluarga tidak penting

ada kemapanan sistem.

bahkan anti keluarga; anti


Kemapanan

15

DAFTAR PUSTAKA

https://id.wikipedia.org/wiki/Rumah_tangga
http://monaliasakwati.blogspot.co.id/2011/11/konsep-sosiologi-keluarga.html
file:///E:/SEMESTER%208/HOME%20ECONOMICS/sistem%20keluarga.pdf
http://agusapotoxin.blogspot.co.id/2012/05/konsep-keluarga.html

16