Anda di halaman 1dari 2

Diana Rahmah

201410060311155
Pendidikan Matematika

GERAKAN MAHASISWA PADA REZIM SOEHARTO

Berbicara tentang Gerakan Mahasiswa, mengapa pemuda yang dengan gemilang


menyingkirkan rezim Soeharto, tidak menghasilkan tokoh politik nasional? padahal
pemudalah yang memberikan kepemimpinan dan energi dalam setiap perubahan penting
disepanjang sejarah Indonesia serta tampil menjadi tokoh politik nasional. Mengapa
sekarang tidak? Pertanyaan tersebut mencoba mencari apa yang terjadi sebenarnya dalam
gerakan mahasiswa atau pemuda ini di era reformasi. Para mahasiswa bersama rakyat yang
telah berhasil melengserkan Soeharto setelah 32 tahun memimpin pada mei 1998, tidak
mampu turut menyingkirkan orang-orang dalam lingkaran orba. Mereka tidak menghasilkan
tokoh populis yang menuntun agenda besar revolusi nasional bersama rakyat. Akibatnya
gerakan mobilisasi massa yang begitu besar, yang telah dibangun lama dibajak oleh tokoh
konservatif yang masih dalamenclave orba seperti Amien Rais, Gus Dur dan Megawati pada
detik-detik terakhir. Sehingga agenda reformasi tak mampu mendorong perubahan besar,
karena kroni-kroni orba masih tetap bergentayangan di pusat-pusat pengambilan keputusan.
Setelah hampir 17 tahun masa reformasi, banyak sekali kegundahan rakyat terhadap
aktivisme gerakan Mahasiswa. Mitos mahasiswa sebagai agent of change menjauh dari
realita yang ada. Para mahasiswa lebih senang dan bangga jadi juru keplok (tepuk tangan) di
acara-acara TV atau duduk manis di pusat perbelanjaan atau di tempat nongkong modern
yang begitu gemerlap dan jauh dari kesulitan hidup rakyat kecil. Di sana mereka dapat
leluasa berbicara tentang artis idola, film populer serta trend atau mode pakaian terbaru, dan
tak lupa mencibir setiap kali ada demo yang memacetkan jalan atau tak terima ketika upah
buruh naik yang membuat para buruh dapat hidup layak.
Di sisi yang lain gerakan mahasiswa dalam organisasi kemahasiswaan cenderung
tersandera dengan isu-isu elit yang menyetir media massa nasional. Mereka seringkali
terjebak pada romantisme masa lalu, seperti seorang ABG yang ditinggal kekasihnya
kemudian gagal move-on. Prestasi bagi mereka adalah ketika berhasil membuat event besar
dengan mendatangkan artis papan atas. Kalau begitu apa bedanya mahasiswa dengan event
organizer (EO)? Coba hitung berapa banyak organisasi mahasiswa yang tetap berada di rel

awalnya untuk mengasah para intelektual muda yang mampu memperjuangkan kehidupan
rakyat dan mengkritisi penguasa?
Problematika tersebut bukanlah sesuatu yang jatuh dari langit (ahistoris). Tetapi tak dapat
dilepaskan pada akar sejarah. Banyak pengamat menganggap hal ini adalah buah dari
neoliberalisme yang menyebabkan terjadinya komersialisasi pendidikan atau analisa budaya
yang melihat karena pengaruh habitus. Namun analisa tersebut mengandaikan mahasiswa
sebagai makhluk yang tak bergerak yang dapat disetir kesana kemari. Padahal mahasiswa
adalah manusia yang berfikir, berhasrat dan bergerak (hidup). Itu adalah faktor eksternal
sedangkan faktor internal adalah tentang dinamika gerakan di tubuh organisasi mahasiswa
ini. Analisa yang lebih genit lagi adalah ketika menganggap hal tersebut adalah
faktor moralitas, yang solusinya adalah penanaman nilai agama atau ceramah motivasi
surgawi.

Oleh karena itu, Gerakan mahasiswa juga harus belajar dari perjuangan gerakan
mahasiswa pada masa sebelumnya. Mereka harus bersikap tegas dengan berbagai kajian dan
tidak hanya riuh dengan selebrasi politik. Tidak hanya bergerak dalam dunia maya seperti
dengan gerakan petisi online, akan tetapi bergerak dalam aksi nyata. Mahasiswa di Chile
berhasil mendorong kebijakan kuliah gratis yang dibiayai dari pajak korporasi, karena mereka
turun ke jalan-jalan untuk aksi massa dengan tuntutan-tuntutan yang menekan penguasa sejak
tahun 2006 melalui apa yang dinamaiPenguin Revolution. Artinya, gerakan mahasiswa selain
berkutat dengan teori, mereka harus turun ke massa rakyat melalui strategi live-in dengan
melakukan aktivitas sosial-politik demi menciptakan kesadaran politik pada massa dan
keyakinan atas kekuatannya. Melakukan berbagai kajian dan membentuk media propaganda
seperti Koran menjadi penting untuk memperkuat argumen dan memperluas kesadaran
massa. Kebijakan pemerintah yang masih terjerat dalam politik neoliberal, membuat terus
terjadinya berbagai konflik yang melibatkan rakyat dengan pemerintah atau swasta serta
dengan keduanya. Di sana mereka dapat turut membantu perjuangan rakyat dengan
membentuk blok historis. Dan hal utama adalah untuk menghidupkan kembali