Anda di halaman 1dari 38

LAPORAN PRAKTIKUM PENCELUPAN 2

PENCELUPAN
POLYESTER DENGAN
ZAT WARNA DISPERSI
METODA CARRIER,
HT/HP & THERMOSOL
I. Maksud dan Tujuan
I.1. Maksud
Mampu melakukan proses pencelupan pada kain polyester dengan zat
warna Dispersi menggunakan metode carrier, HT/HP, dan thermosol.
I.2. Tujuan
Metode carier
Mampu melakukan proses pencelupan pada kain polyester dengan zat
warna Dispersi menggunakan cara carrier dengan memvariasikan zat
warna dispersi yang digunakan, waktu dan penambahan carier. Dan
mampu mengevaluasi hasilnya
Metode HT/HP

Mampu melakukan proses pencelupan pada kain polyester dengan zat


warna Dispersi menggunakan metode HT/HP dengan memvariasikan zat
warna dispersi dan zat pendispersi. Dan mampu membandingkan hasil
diantaranya.
Metode thermosol
Mampu melakukan proses pencelupan pada kain polyester dengan zat
warna Dispersi menggunakan metode thermosol dengan memvariasikan
zat anti migrasi, suhu termofiksasi dan zatwaktu termofiksasi. Dan mampu
membandingkan hasil diantaranya.

II. Teori Dasar


A. Poliester
Serat polyester di kembangkan oleh J.R.Whinfield dan J.T Dickson dari
calico Printers Association.Serat ini merupakan pengembangan dari
polyester yang telah di temukan oleh Carothers.
I.C.I di Inggris memproduksi serat polyester dengan nama Terylene dan
kemudian du pont di Amerika pada tahun 1953 juga membuat serat
polyester berdasarkan patent dari Inggris dengan nama Dacron.
Serat polyester adalah serat sintetik yang dibuat dari molekul polimer
polyester linier dengan susunan paling sedikit 85 % etilena glikol (HO-CH2CH2-OH) dan asam tereftalat (C6H4(COOH)2) melalui proses polimerisasi
kondensasi.
Serat poliester merupakan suatu polimer yang mengandung gugus ester
dan memiliki keteraturan struktur rantai yang menyebabkan rantai-rantai
dapat saling berdekatan, sehingga gaya antar rantai polimer poliester dapat
bekerja membentuk struktur yang teratur.

Poliester tahan asam lemah meskipun pada suhu mendidih dan tahan
asam kuat dingin .Poliester tahan basa lemah ,tetapi kurang tahan basa
kuat .Poliester tahan zat oksidasi ,alcohol keton ,sabun dan zat zat untuk
pencucian kering polyester larut dalam meta-kresol panas , asam triflouro
asetat-orto-khlorofenol ,campuran 7 bagian berat trikhlorofenol dan 10
bagian fenol dan campuran 2 bagian berat tetrakloro etana dan 3 bagian
fenol.
Poliester merupakan serat sintetik yang bersifat hidrofob karena
terjadi ikatan hidrogen antara gugus OH dan gugus COOH dalam
molekul tersebut.Oleh karena itu serat polierter sulit didekati air atau
zatwarna.Serat ini dibuat dari asam tereftalat dan etilena glikol.
nHOOC- -COOH + nHO(CH2)2OH
Asam tereftalat
Etilena glikol
HO -OC-

-COO(CH2)2 n H + 2(n-1) H2O


Poliester

Untuk dapat mendekatkan air terhadap serat yang hidrofob, maka


kekuatan ikatan hidrogen dalam serat perlu dikurangi. Kenaikan suhu
dapat memperbesar fibrasi molekul,akibatnya ikatan hidrogen dalam serat
akan lemah dan air dapat mendekati serat. Disamping sifat hidrofob, faktor
lain yang menyulitkan pencelupan ialah kerapatan serat poliester yang
tinggi sekali sehingga sulit untuk dimasuki oleh molekul zat warna.Derajat
kerapatan ini alan berkurang dengan adanya kenaikan suhu karena
fibrasinya bertambah dan akibatnya ruang antar molekul makin besar
pula.Molekul zat warna akan masuk dalam ruang antar molekul .
Kekuatan polyester pada keadaan kering sama besar dengan kekuatan
pada keadaan basah. Polyester memiliki mempunyai kristalinitas yang
tinggi, bersifat hidrofob dan tidak mengandung gugusan-gugusan yang
aktif, sehingga sukar sekali ditembus oleh molekul-molekul yang berukuran
besar ataupun tidak bereaksi dengan zat warna anion atau kation. Untuk
memperoleh hasil celup yang baik maka proses pendahuluan

(pretreatment) untuk polyester sangat perlu. Penggunaan alkali panas


waktu proses pencucian polyester sebaiknya dihindari, karena akan
menyebabkan terkelupasnya permukaan serat tersebut. Polyester juga
memiliki titik leleh yang tinggi yaitu 280 oC, juga daya tahan terhadap
sobekan maupun gosokan dan elastisitas yang tinggi. Polyester
kebanyakan hanya dapat dicelup oleh zat warna dispersi.

B. Zat Warna Dispersi


1.Pengertian Dasar
Zat warna dispersi adalah zat warna organic yang dibuat secara sintetik.
Kelarutannya dalam air kecil sekali dan larutan yang terjadi merupakan
dispersi atau partikel-partikel zat warna yang hanya melayang dalam air.
Zat warna ini dipakai untuk mencelup atau mewarnai srat-serat tekstil
sintetik, yang bersifat termoplastik atau hidrofob. Absorbsinya ke dalam
serat sering disebut Solid Solution, yaitu zat padat larut dalam zat padat.
Dalam hal ini zat warna merupakan zat terlarut dan serat berkisar antara 30
200 mg per garam serat.

Molekul zat warna dispersi relatif kacil, sederhana dan tidak mempunyai
gugus pelarut,Karena itu mempunyai katahanan yang tinggi dan warna
yang cemerlang. Salainitu zat warna dispersi hampir semua mengandung
gugus-gugus hidroksil dan amina (-OH, -NH2, NHR) yang berfungsi sebagai
donor atom hydrogen untuk mengadakan interaksi dua kutub atau
membentuk ikatan hydrogen dengan gugus-gugus karbonil atau gugus
asetil dari serat.
2. Struktur Kimia zat warna dispersi

menurut struktur kimianya zat warna dispersi merupakan senyawa azo,


antrakuinon dan dipenil amina.
Beberapa contoh struktur kimia zat warna dispersi, antara lain :
a.Golongan azo

Contoh :

Disperse blue 3

b .Golongan antrakuinon

Contoh :

Disperse Red 4

c. Golongan difenilamina

Contoh :

CI. Disperse Red 60

3. Klasifikasi zat warna dispersi


karena molekulnya kecil zat warna dispersi mudah menyublim pada suhu
tinggi, maka berdasarkan pada sifat ketahanan sublimasinya dapat
dikelompokan dalam 4 (empat) golongan , yaitu :

a)
Golongan I : zat warna dispersi sublimasi rendah, dengan titik leleh
150 180 0C, mempunyai berat molekul yang sangat kecil dan sangat
mudah digunakan terutama untuk serat asetat.
b)
Golongan II
: zat warna dispersi sublimasi cukup, dengan titk
leleh 180 210 0C, mempunyai berat molekul relatif rendah dengan sifat
pewarnaan yang baik.
c)
Golongan III : zat warna dispersi sublimasi baik, dengan titk leleh 210
230 0C, mempunyai berat molekul yang sedang dengan sifat pewarnaan
yang cukup.
d) Golongan IV : zat warna dispersi sublimasi tinggi, dengan titk leleh di
atas 230 0C, mempunyai berat molekul yang besar akan tetapi sifat
pewarnaan yang kurang.

4. Sifat-sifat umum zat warna dispersi


a)
Sifat dasar mempunyai berat molekul yang rendah dengan inti
kromofor, diantaranya : azo, antrakuinon, dan dipenilamina
b)
Meleleh pada temperatur tinggi (lebih besar dari pada 150 0C),
kemudian dapat mengkristal lagi.
c)
Sifat dasar adalah non ionic meskipun mempunyai gugus OH, -NH2,
dan gugus NHR, dansebagainya yang bertindak sebagai gugus pemberi
(donor) hydrogen untuk mengadakan ikatan dengan serat (gugus karbonil).
d) Gugus OH, -NH2, dan gugus fungsional yang sejenis menyebabkan
zat warna dispersi sedikit larut dalam air ( 0,1 miligram /L), tapi
mempunyai kejenuhan yang tinggi pada serat pada kondisi pencelupan.
e)
Penambahan zat pendispersi ke dalam larutan celupnya akan
menyebabkan dispersi yang stabil dalam air.

f)
Secara relatif kerataan penyerapan zat warna dalam sarat adalah
tinggi (10 50 mg/g serat).
g)
Tidak ada perubahan kimia yang disebabkan oleh proses
pencelupannya.
1.
5.
Metoda Pencelupan
Mekanisme pencelupan zat warna dispersi adalah solid solution dimana
suatu zat padat akan larut dalam zat padat lain. Dalam hal ini, zat warna
merupakan zat padat yang larut dalam serat.
Mekanisme lain menjelaskan demikian : zat warna dispersi berpindah dari
keadaan agregat dalam larutan celup masuk kedalam serat sebagai bentuk
molekuler. Pigmen zat warna dispersi larut dalam jumlah yang kecil sekali,
tetapi bagian zat warna yang terlarut tersebut sangat mudah terserap oleh
bahan. Sedangkan bagian yang tidak larut merupakan timbunan zat warna
yang sewaktu-waktu akan larut mempertahankan kesetimbangan.
Bagian zat warna dalam bentuk agregat, pada suatu saat akan terpecah
menjadi terdispersi monomolekuler. Zat warna dispersi dalam bentuk ini
akan masuk ke dalam serat melalui pori-pori serat. Untuk lebih jelasnya,
sifat zat warna dispersi dalam larutan celup dapat dilihat pada gambar di
bawah ini.

Pencelupan dimulai dengan adsorpsi zat warna pada permukaan serat,


selanjutnya terjadi difusi zat warna dari permukaan ke dalam serat.
Adsorpsi dan difusi zat warna ke dalam serat dapat dipercepat dengan
menaikkan temperatur proses.
Dalam air, serat poliester akan memiliki gaya dipol antar serat dimana
ikatannya digambarkan sebagai berikut:
Gaya ini terjadi karena atom karbon bermuatan parsial positif (d+)dan
atom oksigen bermuatan parsial negatif (d). Gaya dipol akan renggang
pada saat pemanasan di atas 80oC sehingga zat warna bisa masuk ke
dalam serat.
Pada suhu tinggi, rantai-rantai molekul serat pada daerah amorf
mempunyai mobilitas tinggi dan pori-pori serat mengembang. Kenaikan
suhu menyebabkan adsorpsi dan difusi zat warna bertambah. Energi rantai
molekul serat bertambah sehingga mudah bergeser satu sama lain dan
molekul zat warna dapat masuk ke dalam serat dengan cepat. Masuknya
zat warna ke dalam serat dibantu pula dengan adanya tekanan tinggi dan
adanya carier.
Rantai molekul serat poliester tersusun dengan pola zigzag yang rapi dan
celah-celah yang akan dimasuki zat warna sangat sempit. Rantai molekul
sangat sulit untuk mengubah posisinya. Akibatnya molekul zat warna sulit
menembus serat dan pencelupan akan berjalan sangat lambat bila

dilakukan tanpa pemanasan dengan suhu tinggi. Zat warna akan


menempati bagian amorf dan terorientasi dari serat poliester. Pada saat
pencelupan berlangsung, kedua bagian tersebut masih bergerak sehingga
zat warna dapat masuk di antara celah-celah rantai molekul dengan
adanya ikatan antara zat warna dengan serat. Ikatan yang terjadi antara
serat dengan zat warna mungkin merupakan ikatan fisika, tetapi dapat pula
merupakan ikatan hidrogen yang terbentuk dari gugusan amina primer
pada zat warna dengan gugusan asetil pada molekul serat.

ikatan hidrogen
zat warna dispersi

gugus ester

Demikian pula gaya-gaya Dispersi London (Van der Waals) yang dapat
terjadi dalam pencelupan tersebut, seperti diilustrasikan dalam gambar di
bawah ini :
ikatan Van Der Waals

Dalam gambar di atas dimisalkan atom A adalah atom zat warna,


sedangkan atom B adalah serat poliester. Pada saat atom A mulai
berdekatan dengan atom B, maka salah satu atom cenderung untuk
mendekati atom tetangganya. Smapai pada jarak tertentu maka pada
kedua atom akan terjadi antaraksi, dimana awan elektron I pada atom A
akan tertarik pada inti atom B, awan elektron II pada atom B akan tertarik
pada inti atom A, awan elektron I dan awan elektron II saling tolak, dan inti
atom A akan menolak inti atom B. Antaraksi tersebut akan menghasilkan
energi tarik-menarik. Interaksi 2 kutub juga mungkin mengambil peranan
penting dalam mekanisme pencelupannya.

IKATAN DUA KUTUB

Zat warna yang bersifat planar akan lebih mudah terserap daripada zat
warna yang bukan planar. Hal ini menunjukkan pertentangan terhadap
teori solid solution.

Pencelupan dengan Metoda Carrier


Banyak sekali teori yang menggambarkan peranan zat pengemban dalam
pencelupan serat polyester ini ,di antaranya adalah teori yang menyatakan

bahwa zat pengemban bersifat menggelembungkan serat sehingga


mempermudah di fusi zat warna ke dalam serat.
Selain itu zat pengemban juga berfungsi membantu kelarutan zat warna
sehingga lebih mudah berpenetrasi ke dalam serat.jadi bila fasa larutan
celup dan fasa serat kita anggap sebagai suatu system, maka zat
pengemban bekerja dalam keseluruhan sistim tersebut.zat pengemban
bekerja pada fasa serat sebagai zat pelunak (plasticizer) dengan jaln
merusak stuktur dalam serat untuk sementara . Zat pengemban kemudian
membawa zat warna ke bagian dalam serat yang telah di lunakkannya
tadi . Schuler mengajukan suatu teori dasar tentang mekanisme kerja zat
pengemban dalam pencelupan polyester ,sebagai berikut :
Dalam satu system terdiri dari air , zat warna , zat pengemban dan serat ,
maka :

Zat pengemban, air dan zat warna berada dalam suatu

kesetimbangan pseudo-dinamik pada permukaaan serat


polyester.

Zat pengemban , air dan zat warna berdifusi ke dalam serat.

Zat pengemban bertindak sebagai zat pelunak , dengan


jalan menghilangkan gaya-gaya diantara rantai molekul
polimer.

Sementara serat terplastiskan difusi ke luar dan ke dalam


serat terjadi lebih cepat dan dalam keadaan ini terjadilah
pencelupan.

Selanjutnya bila zat pengemban dihilangkan kembali dari


bahan , serat akan kembali ke bentuk semula yaitu sulit di
celup ,sehingga zat warna yang sudah ada di dalam serat tidak
keluar lagi dari dalam serat.

Untuk menghilangkan (merusak/melepaskan) carrier setelah


pemakaian (dalam pencelupan) harus dicuci reduksi (reduction
clearing) dengan larutan kostik soda dan natrium hidrosulpit.
Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut:

2NaOH + Na2S2O4 + 2H2O

2Na2SO4 + 6Hn

Ikatan yang terjadi antara zat warna dispersi dengan serat adalah ikatan
hidrogen.

ZAT PENGEMBAN
Dalam pencelupan serat hidrofob , seperti polyester stuktur seratnya
sedemikian kompak sehingga air sulit menembusnya , maka difusi zat
warna dengan bantuan air saja tak mungkin terjadi .Difusi yang rendah ini
menyakibatkan daya celup yang rendah pula. Untuk membantu difusi zat
warna ke dalam serat dapat di pergunakan suatu zat yang dapat
menggelambungkan serat polyester tersebut dan membantu penyerapan
zat warna ke dalam serat ,yang di kenal dengan nama zat pengemban
(Carrier). Zat pengemban adalah zat organik yang dapat
menggelembungkan memplastiskan serat polyester yang hidrofob.
Terdapat dua jenis zat pengemban :
1.

Carrier hidrofob, carrier ini berfungsi sebagai zat pelumas


yang akan berpenetrasi ke dalam serat dan merusak ikatan
antar molekul serat sehingga serat menjadi plastis , mudah
bergeser.
Hal tersebut memungkinkan zat warna berpenetrasi (karena ada
perbedaan Konsentrasi).
1.

Carrier hidrofil, carrier ini akan berdifusi ke dalam serat


bergabung ke dalam serat ke dalam serat menarik air ,
sehingga serat menggelembung dan pori-pori membuka lebih
besar sehingga memungkinkan zat warna masuk. Fungsi
lainnya adalah menambah kelerutan zat warna (zat warna

yang tidak larut tetapi terdispersi ).Difusi terjadi karena


perbedaan konsentrasi zat warna dalam larutan dan dalam
serat . Pada zat warna disperse konsentrasinya rendah, karena
zat warna tersebut tidak larut. Penambahan carrier ,
menyebabkan zat warna di kelilingi carrier menjadi seolah-olah
larut , akibatnya terjadi perbedaan konsentrasi yang makin
besar antara zat warna dalam larutan dengan di dalam serat
sehingga difusi zat warna ke dalam serat bertambah.
Grafik berikut memperlihatkan pengaruh carrier terhadap hasil
penyerapan zat warna disperse pada serat polyester GR
Grafik Penyerapan Zat Warna Dispersi Oleh Serat Polyester Dengan Dan
Tanpa Zat Pengemban

TABEL JENIS JENIS ZAT KIMIA YANG DAPAT DIGUNAKAN SEBAGAI


ZAT PENGEMBAN

GOLONGAN

JENIS

Hidrokarbon aromatic

Di fenil ,Naftalena dan toluene

Fenol

Fenol o-fenil fenol,p-fenil fenol,okhloro fenol, p-khlorofenol, mkresol

Khloro aromatic

Mono, di, tri-khlorobenzena ,

khloronaftalena

Asam aromatic

Benzoate , khlorobenzoat dan oftalat

Eter aromatic

Metilbenzoate,butyl
benzoate,dimetilftalat,dietilftalat,d
imetil
tereftalat,dimetilisoftalat,fenilsalisi
lat

Ester fosfat

Tripropil dan tributil fosfat

Eter aomatik

p-naftil metal eter

Persenyawaan
persenyawaan aromatic lain

Asetofenon,fenil selosolve,fenil
metal karbonil ,metal salisilat dan
benzanilida.

Kerugian Cara Carrier

1.
2.
3.
4.
5.
6.

Ongkos produksi mahal


Waktu proses cukup lama
Ada tendensi ketidakrtaan
Pemghilangannya susah
Terkadang pegangan menjadi kaku
Warna tua sukar diperoleh

.
Reduksi clearing berguna untuk memperbaiki tahan gosok, biasanya
pencucian reduksi dikerjakan pada larutan yang mengandung natrium
hidrosulfit, natrium hidroksida dan lissolamin. Oleh karena polyester bersifat
hidrofob, maka reaksi reduksi tersebut hanya terjadi di permukaan serat
saja dan tidak akan mereduksi zat warna yang telah terserap kedalam
serat. Reduksi clearing berguna untuk menghilangkan zat warna yang tidak
terfiksasi oleh serat. Setelah pencelupan suhu tinggi ini bahan harus dicuci
baik-baik dengan larutan yang mengandung ditergen.

Beberapa keuntungan dapat diperoleh dengan metode ini, misalnya dapat


mencelup warna tua tanpa penambahan zat pengemban, mengurangi
waktu pencelupan dan biaya pencelupan.

PENCELUPAN DENGAN METODE HT/HP


Pencelupan dengan suhu tinggi selalu disertai dengan tekanan tinggi.
Tekanan berfungsi untuk menaikkan suhu proses dan membantu difusi zat
warna ke dalam serat. Pencelupan dilakukan pada mesin tertutup tanpa
bantuan zat pengemban. Pencelupan metoda ini banyak dilakukan pada
serat poliester karena dianggap efektif akibat :
q Perpindahan atau pergerakan rantai molekul serat poliester mulai aktif
pada suhu tinggi (120-130oC) sehingga memberi ruang bagi molekulmolekul zat warna untuk meningkatkan penyerapan zat warna ke dalam
serat.
q Kecepatan difusi zat warna dispersi mulai meningkat pada suhu tinggi
(120-130oC) dan kecepatan penyerapan serta migrasi zat warna menjadi
lebih besar sehingga akan mempercepat proses.

q Pencelupan mulai lebih cepat karena kelarutan zat warna dispersi pada
suhu tinggi (120-130oC) mulai meningkat.
Beberapa keuntungan penggunaan metoda ini adalah dapat mencelup
warna tua, hemat bahan, waktu dan biaya proses, adsorbsi lebih cepat,
kerataan lebih baik, ketahanan luntur baik, penetrasi lebih baik, dan dapat
menggunakan zat warna dispersi dengan ketahanan sinar yang lebih baik
dan sukar menguap tetapi hanya terserap sedikit pada pencelupan di
bawah temperatur 100oC.
Setelah dilakukan pencelupan, maka kain harus dicuci reduksi. Proses cuci
reduksi (Reduction Clearing) menggunakan kostik soda dan natrium
hidrosulfit yang akan menghasilkan gas hidrogen untuk mereduksi sisa zat
warna yang tidak mewarnai serat dan menghilangkan sisa zat proses
lainnya. Reaksinya sebagai berikut :
NaOH + 2 Na2S204 2 H2O

Na2SO4 + 6 Hn

Pemakaian kaustik soda ini hanya untuk mengaktifkan natrium hidrosulfit


agar menghasilkan gas hidrogen. Kostik soda tidak boleh terlalu banyak
karena ia dapat menghidrolisa permukaan serat poliester dan
menyebabkan serat ini terkikis, seperti pada proses penurunan berat, yang
reaksinya sebagai berikut :

Setelah cuci reduksi, bahan selanjutnya dicuci bersih dengan deterjen.


Tujuannya untuk menghilangkan hasil proses cuci reduksi yaitu garam
natrium sulfat (Na2SO4).

Pencelupan dengan metode Thermosol

Pencelupan poliester adalah suatu proses pemberian warna pada


bahan tekstil dan cara mencelupnya kedalam larutan celup. Poliester
mempunyai kristalinitas yang tinggi yang bersifat hidrofob, akibatnya serat
poliester tidak dengan mudah dimasuki oleh molekul-molekul zat warna
yang besar. Poliester juga tidak mempunyai gugus-gugus kimia yang aktif
dengan demikian tidak dapat dicelup dengan zat warna anion atau kation.
Kesulitan ini dapat diatasi dengan ditemukannya zat warna dispersi,
dalam pencelupannya zat warna dispersi mencelup serat tidak dalam fasa
larutan, tetapi fasa dispersi. Zat warna dispersi mempunyai afinitas yang
besar terhadap serat poliester dibandingkan terhadap larutan celup.,
dengan demikian zat warna dapat bermigrasi kedalam serat dan dapat
membentuk larutan padat.
Proses Pencelupan ini merupakan pencelupan secara
kontinu,dimana fiksasi zat warna di dalam serat dilakukan dengan
menggunakan panas dari aliran udara panas .

Proses ini dikembangkan oleh Du Pont pada tahun 1949 , dimana


zat warna ternyata dapat bermigrasi ke dalam serat dengan adanya panas ,
sehingga zat warna tersebut akan teradsorpsi oleh serat .Untuk
pencelupan cara ini diperlukan peralatan khusus yang memungkinkan
pengerjaannya dapat dilakukan secara kontinu .
Dalam proses pencelupan ini terdiri dari empat tahap pengerjaan
yaitu :
1.
2.
3.

Padding bahan dalam larutan zat warna


Pengeringan antara pada suhu 110oC,selama 60 detik
Fiksasi zat warna kedalam serat dengan pemanasan pada
suhu 210oC,selama 60 detik.
4.
Pengerjaan akhir, misalnya pembangkitan kalau bahannya
serat campuran , Penyabunan, pencucian,dan lain sebagainya.

Mekanisme Pencelupan Termosol


Pada pencelupan cara termofikasi pertama-tama zat warna
berpindah dari larutan celup kepermukaan bahan melalui proses padding
dan kemudian dilakukan pengeringan pendahuluan
Menurut Mauric R.fox, masuknya zat warna disperse dari
permukaan serat kedalam serat kemungkinan peristiwa berikut :
1.

Perpindahan karena persinggungan (contact transfer)


Pada system perpindahan ini umumnya dikenal sebagai system
adanya larutan dari zat warna yang larut ke bagian rongga molekul serat
polyester yang padat pula atau lebih dikenal dengan istilah solid solution.
1.

Perpindahan melalui medium (Medium transfer)


Perpindahan melalui medium ini adalah dalam bentuk lelehan zat
warna .Hal ini disebabkan oleh adanya uap panas yang terabsorpsi

kemudian menggelembungkan zat warna sampai meleleh dan lelehan zat


warna ini akan larut kedalam serat polyester yang stuktur polimernya telah
dibuka oleh pengaruh panas tersebut.
1.

Perpindahan zat warna melalui Fasa uap (vapour phase


transfer)
Prinsipnya adalah zat warna pada suhu tinggi oleh media fiksasi
udara kering akan berubah dari bentuk molekul padat menjadi bentuk uap
zat warna .Uap ini akan terabsorpsi ke permukaan dan kemudian terdifusi
ke dalam serat polyester.
Tekanan uap molekul zat warna berhubungan erat dengan kepolaran
molekulnya. Makin tinggi atau besar kepolaran molekul zat warna makin
rendah tekanan uapnya.Apabila tekanan uapnya terlalu rendah
pencelupannya menjadi tidak efektif.
Banyaknya zat warna yang dipindah pada kontak partikel partikel zat
warna dengan serat bergantung juga pada bentuk partikelnya.Tekanan uap
partikel zat warna sebanding dengan jari jari partikelnya , sehingga
menyebabkan perpindahan dari zat warna dapatlebih efektif dengan
memperkecil ukuran partikelnya . Disamping itu perpindahan warna
umumnya terjadi melalui suatu lapisan permukaan dari partikel partikel zat
warna dengan bentuk yang tidak teratur.
Ikatan yang terjadi antara serat polyester dan zat warna dispersi adalah
ikatan hydrogen dan ikatan antar kutub

O2N

N=N

N-H
O= C O -C
H
Ikatan hydrogen
CH3
O
H+
N+
N=N
N ik.antar kutub
O=C+-O-CO
H+
CH3
Gambar 2.2.Ikatan zat warna disperse dengan serat polyester

Zat Pendispersi
Zat warna dispersi merupakan zat warna yang bersifat hidrofob
yang apabila dilarutkan dalam air tidak akan larut tetapi berbentuk
gumpalan-gumpalan, maka untuk dapat larut dalam air pada proses
pencelupannya ditambahkan zat pendispersi. Zat pendispersi adalah
surfaktan (zat aktif permukaan) yang membantu proses difusi karena zat
warna didispersikan secara merata diseluruh permukaan kain.
Penambahan pendispersi pada larutan celup zat warna dispersi bertujuan
untuk mendispersikan dan menstabilkan zat warna dispersi dalam larutan.
Zat pendispersi berdasarkan sifatnya terbagi dalam empat
golongan yaitu tipe anionik, kationik, non ionik dan tipe amfoterik. Zat
pendispersi yang bersifat anionik akan terpengaruh oleh adanya ion-ion
logam dalam larutan celupnya. Seperti halnya zat warna yang
mengandunggugus pelarut dalam molekulnya, zat pendispersi yang
mengandung gugus SO3Na akan mengalami gaya pendispersinya apabila
dimasukkan kedalam air yang mengandung ion-ion logam.
Sifat zat pendispersi anionik ini menyebabakan zat pendispersi
akan masuk dalam larutan celupyang mengandung ion-ion logam. Ion
logam akan menggantikan posissi Na+ dan membentuk ikatan komplek
dengan zat pendispersi menghasilkan struktur molekul zat pendispersi
menjadi besar, sehingga bis menghasilkan gaya pendispersiannya.

Zat Anti Migrasi


Pada proses pencelupan system continue sering digunakan zat-zat
pembantu tekstil yang akan meningkatkan calup zat warna dengan
konsentrasi tinggi (viskositas /kekentalan) yang dalam waktu singkat dapat
terfiksasi kedalam serat .Dimana hasil celupannya sebanding dengan cara
pencelupan system konvensional.
Zat pembantu tekstil
yang digunakan sebagai pengental pada pencapan dan digunakan pula
pada larutan pad pecelupan system kontinu berupa zat anti migrasi. Pada
umumnya jenis polisakarida digunakan sebagai Zat anti migrasi , terutama
alginat , penggunaanya jelas dengan konsentrasi yang lebih rendah
daripada penggunaan dalam pencapan karena prases pencelupan
dibutuhkan viskositas yang lebih rendah , agar mudah berpenetrasi
kedalam serat selama padding berlangsung .Selama alginate, digunakan
pula poliakrilat , poliakrilamida dan polietoksilat. Polietoksilat merupakan
campuran poliglikol dan etilena oksida (propilena oksida).
Zat anti migrasi dalam larutan padding berfungsi mencegah
kecenderungan zat warna untuk bermigrasi selama proses pengeringan
sebelum fiksasi, sehingga diperoleh hasil yang rata.

CH2OH

CHOH

Gambar 2.3 zat anti migrasi jenis poliakrilat

CH2OH

Zat Pembasah
Zat pembantu tekstil yang merupakan golongan terpenting dan
terbesar ialah golongan zat pembasah ,pendispersi,dan pengemulsi. Hal ini
disebabkan karena pembasahan , pelepasan kotoran ,pendispersian dan
pengelmusian adalah proses proses yang penting sekali
dalampertekstilan.dari golongan golongan zat ini ada golongan yang
hanya memiliki salah satu sifat tersebut diatas , ada 2 sifat tetapi ada pula
yang memiliki ketiga tersebut diatas , akan tetapi bagaimanapun sifatnya
yang bermacam-macam itu semua zat zat tersebut memiliki satu sifat yang
sama,yaitu mereka mempunyai kecenderungan untuk berpusat antar muka
dan mempunyai kemampuan menurunkan tegangan permukaan.
Jenis Zat Pembasah
1.

Zat aktif anion,zat aktif anion adalah zat yang terionisasi


dalam larutan dengan rantai panjang yang membawa muatan
negative , artinya yang aktif kapiler adalah anionnya.
2.
Zat aktif kation,zat aktif kation adalah zat yang terionisasi
dalam larutan dengan rantai pajang yang membawa muatan
positif , artinya yang aktif kapiler adalah kationnya.
3.
zat aktif non ion, zat aktif non ion adalah zat yang tidak
terionisasi dalam larutan keaktifan kapilernya dari golongan ini
disebabkan karena adanya beberapa macam gugus yang
hidrofil.
4.
Zat amfoter atau amfolitik , zat ampoter adalah zat yang
terionisasi dalam larutan dengan rantai panjang yang
membawa muatan negative maupun positif bergantung pada
suasana pH larutan.

Asam Asetat

Asam asetat merupakan asam yang tergolong asam karboksilat


berbasa satu (Monobasic Carboxylic Acid) ciri asam karboksilat berbasa
satu di tandai dengan adanya satu gugus COOH.Asan asetat anggota ke 2
dari kelompok asam karboksilat. Pembuatannya bisa dari natrium metanoat
yang merupakan reaksi dari natrium hidroksida dan karbon monoksida.
q Stuktur kimia
Stuktur kimia asam asetat merupakan stuktur paling sederhana dari
kelompok asam karboksilat setelah asam formiat yaitu CH3COOH.
q Sifat kimia
Seperti halnya asam karboksilat , asam tereftalat dapat bereaksi
membentuk garam , ester dan amida. Asam asetat terurai oleh asam
sulfat panas menjadi karbondioksida dan hydrogen pada suhu
100oC.Nilai konstanta disosiasi (k) asam asetat sebesar 1,8 x 10-5 dan
sifatnya korosif.
q Sifat fisika
Asam asetat merupakan cairan bening yang mudah terbakar .Titik
beku asam asetat 16,7oC sedangkan titik didihnya 118,2oC.

III. Percobaan
3.1. Alat-alat yang digunakan
Gelas piala 100 cc

B-6G

Bahan

Kain polyester

Gelas ukur
dan Dispersol blue -BR)

Zat warna Dispersi (Dispersol yellow

Pipet Volum

Zat pendispersi (Sunsolt YK-DB)

Tabung rapid

Asam asetat 30%

Termometer
Pengaduk kaca
Kassa dan bunsen

Na2S2O4
NaOH 38 oBe
Teefol

Mesin

Carier

Setrika

3.2. Resep dan Fungsi zat


Resep
1.

Resep pencelupan :
Orang ke-

Zat Warna Dispersi (gol A) (%owf)

Asam Asetat 30 % (ml/L)

ph 5

Zat pendispersi (ml/L)

Carier (ml/L)

0,5

0,5

Suhu

Waktu (menit)

Vlot

2.
Resep Cuci Reduksi
Na2S2O4
: 2 g/l
NaOH 38oBe : 1 cc/l
Sabun
: 0,5 ml/L
Suhu
Waktu

: 70 oC
: 15 menit

Vlot

: 1 : 10

1.
Resep pencucian :
Na2CO3
: 2 g/l
Teefol
: 0,5 g/l
Waktu

: 10 menit

0,5

100

30

45

1:10

Suhu

: 70 o C

Perhitungan Resep
Orang ke-

Zat Warna Dispersi (gol A)


(%owf)

14.52

Asam Asetat 30 % (ml/L)

ph 5

Zat pendispersi (ml/L)

0.0725

0,0735

0,072

0,0714
5

Carier (ml/L)

0,0735

0,5

0,1429

Suhu

100

Waktu (menit)

30

45

Air

145.2

146,5

145,6

21:36

Berat Bahan

14,52g

14,65

14,56

14,29

Pencucian

NaOH

0.1452

0,1465 0,1456

3:25

Natrium Hidrosulfit

0.29

0,29

0,29

0,29

Sabun

0.0725

0,0735

0,5

0,1429

145,6

142,9

Suhu

70

Waktu (menit)

15

Air

145.2

146,5

Fungsi Zat

Zat warna dispersi :

Memberi warna pada bahan

Zat pendispersi :

Mendispersikan/menyebarkan zat warna dalam larutan celup secara


merata.

Zat Pengemban :

Mengemban/membawa zat warna masuk ke dalam serat dan memperbaiki


kelarutan zat warna dalam larutan celup.

Asam asetat :

Memberikan suasana asam (pH 4-5) pada larutan celup.

Na2S2O4 :
Menghilangkan zat warna yang tidak terfiksasi dipermukaan serat dan zat
pengemban yang masih
tertinggal
di dalam serat pada proses cuci
reduksi.

Natrium Hidroksida :

Membantu mengaktifkan Natrium hidrosulfit.

Sabun :
Sabun berfungsi untuk menghilangkan sisa-sisa
zat warna yang masih menempel pada permukaan kain.

3.3. Cara keja


3.3.1 Pencelupan

Alat-alat yang akan dipakai dibersihkan, berat bahan dan zat-zat


yang akan digunakan ditimbang

Zat warna dispersi dibuat pasta dengan air dingin dan bila perlu
ditambahkan zat pendispersi, kemudian ditambah air hangat sampai
terdispersi sempurna.

Kedalam gelas porselen, masukan air yang bersuhu 40 0C sesuai


vlot yang ditentukan, zat pendispersi, masukan bahan lalu diaduk
sempurna.

Masukan larutan zat warna dan asam asetat setelah pencelupan


berlangsung 10 menit pada gelas porselen yang telah berisi larutan


diatas, Pencelupan dilakukan pada suhu dan waktu yang
ditentukan. Dilanjutkan dengan penurunan suhu menjadi 70oC.

Setelah proses tersebut selesai, bahan dicuci, direduksi, dicuci,


disabun dan dibilas.

3.4. Diagram alir dan Skema Proses

Pembuatan larutan celup dan persiapan bahan

Diagram alir :

Proses Reduksi Clearing

Pencucian

Skema proses :
1. Proses Pencelupan

zat pengemban
zat
pendispersi

Bahan

100 0C

asam asetat
Zw

60-70 0C

0
menit )

10

20

60

( dalam

2. Proses Reduksi Clearing

3.5. Hasil Percobaan (Sampel)

3.5.1 Variasi Zat Warna Dispersi dan Carier


Resep 1

Resep 2

Resep 3

Resep 4

3.5.1 Hasil Evaluasi Tahan Gosok

IV.

orang ke-

kapas

polyester

4,5

4,5

4,5

4,5

Diskusi

Setelah proses pencelupan dilakukan dan melakukan variasi resep, pada


metode ini terdapat proses cuci reduksi. Cuci reduksi ini dilakukan agar zat
warna maupun zat pengemban yang hanya terdapat pada permukaan serat
saja dapat hilang. Terlihat pada kain terdapat perubahan warna setelah
cuci reduksi karena sesuai resepnya yang memakai zat warna paling
banyak dengan carier yang seimbang ketuaan warna pun sama antara
orang ke tiga dan ke empat. Tetapi terlihat perbedaaan yang mencolok
pada kain ke dua dan ke tiga, warna yang dihasilkan berbeda

kecerahannya. Dan antara orang ke satu dan ke dua terlihat orang ke satu
lebih tua warnanya dibanding orang ke dua. Hal itu bisa terjadi karena
berbagai kemungkinan diantara lain ;

Kain ke satu yang tidak memakai carier bisa lebih tua warnanya
dibanding kain ke dua karena zat warna yang dipakai yaitu yang jenis
molekulnya kecil maka zat warna dapat masuk ke dalam serat tanpa
menggunakan carier.

Carier itu mempunyai fungsi membawa zat warna masuk ke dalam


serat dan memperbaiki larutan celup. Bila zat warna yang jenis molekulnya
kecil itu pada saat memakai carier memang masuk ke dalam serat tetapi
apabila carier tersebut terlalu banyak atau sudah mencapai titik jenuhnya
carier itu dapat membawa zat warna yang sudah berikatan dengan serat
menjadi migrasi ke fasa larutan kembali.

Pada proses cuci reduksi pun dapat berpengaruh pada hasil kain
yang akan diperoleh, apabila cuci reduksi kurang baik maka kain hasil
pencelupan pun akan kurang baik. Kain ke satu lebih tua daripada kain
kedua bisa saja terjadi karena cuci reduksi yang kurang baik. Cuci reduksi
akan menghilangkan carier yang ada dalam serat dan menghilangkan zat
warna yang ada pada permukaan serat dan bila carier masih membawa
serat dan carier terlepas dari serat maka warna yang terkandung pada
serat akan lebih sedikit dan ketuaan warna akan lebih rendah. Bila cuci
reduksi kurang baik pun zat warna yang masih menempel pada permukaan
serat akan tetap pada permukaan serat maka pada saat hasil pencelupan
pun dapat terlihat dan mempengaruhi perbandingan ketuaan warna yang
dihasilkan.

Pada proses pencelupan dengan variasi waktu pencelupan pun


terlihat perbedaan ketuaan warna yang dihasilkan, karena waktu
pencelupan itu mempengaruhi lamanya proses fiksasi zat warna itu masuk
ke dalam serat. Maka dari itu, apabila waktu pencelupan lebih sedikit maka
proses fiksasi masuknya zat warna ke dalam serat pun akan lebih singkat

yang mengakibatkan ketuaan warna akan berbeda. Bila waktu


pencelupannya lebih lama maka akan lebih tua warnanya dibandingkan
warna kain yang proses pencelupannya sebentar. Ini terlihat pada kain ke
dua dan ke tiga.

Perbedaan konsentrasi zat warna pun akan sangat jelas terlihat


perbedaannya karena semakin banyak konsentrasi zat warna yang dipakai
pada saat pencelupan maka akan dihasilkan ketuaan warna yang lebih
baik.

Pada hasil evaluasi uji tahan gosok terdapat hasil uji yang sama
dari kain satu sampai kain dua, yang dapat diartikan bahwa variasi waktu
pencelupan, konsentrasi zat warna dan penambahan zat pengemban tidak
mempengaruhi kelunturan terhadap gosokan.

1.

V. Kesimpulan
Zat Warna dispersi adalah zat warna yang mewarnai serat hidrofob
(kain polyester), zat warna ini pun sukar larut maka penambahan carier itu
penting untuk membawa zat warna ke dalam serat. Begitu pula waktu
pencelupan yang sedikit lebih lama itu dapat memberi warna yang lebih tua
karena berpengaruh pada proses fiksasi zat warna ke dalam serat.
Cuci reduksi dapat mempengaruhi dan memperbaiki tahan gosok.
Reduksi clearing dapat menghilangkan sisa-sisa zat warna yang tidak
terfiksasi dan menghilangkan carier yang masih terdapat dalam serat.
Maka hasil pencelupan serat polyester dengan menggunakan zat
warna dispersi dengan metoda penambahan carier yang optimal itu ada
pada kain ke empat.

VI. Daftar Pustaka


1.

Ir. Rasjid Djufri, M. Sc; G.A. Kasoenarno, Bk. Teks; Astini


Salihima, S. Teks; Arifin Lubis, S.Teks, Teknologi
pengelantangan, Pencelupan dan Pencapan, Institut
Teknologi Tekstil, 1976, Bandung.
2.
Astini Salihima, S.Teks; Hendrodyantopo, S.Teks; Soenaryo,
S.Teks;
Ir. Rasjid Djufri, M.Sc, Pedoman Praktikum
Pengelantngan dan Pencelupan , Institut Teknologi Tekstil,
1978, Bandung.
3.
P. Soeprijono S.Teks, Poerwanti S.Teks, Widayat S.Teks,
Jumaeri S.Teks Serat- Serat Tekstil ,Institut Teknologi Tekstil,
1973, Bandung