Anda di halaman 1dari 7

Nama

: Dwi Wulan Sari

Nim

: 135080300111010

Kelas

: T01

Dampak Perubahan Iklim pada Ekosistem Perairan dan Pesisir


Oseanografi dapat didefinisikan secara sederhana sebagai suatu ilmu yang
mempelajari lautan dengan segala aspeknya. Ilmu ini semata-mata merupakan
perpaduan dari bermacam-macam ilmu dasar yang lain. Ilmu dasar lain yang
termasuk di dalamnya iaIah ilmu tanah (geology). ilrnu bumi (geography), ilmu
fisika (physics), ilmu kimia (chemistry), ilmu hayat (biology) dan ilmu iklim
(meteorology). Laut merupakan kolam air raksasa sebagai pembentuk dan
pengatur iklim. Interaksi antara laut dan udara di atasnya yang dikenal dengan
istilah air-sea interaction sangat menentukan iklim dunia. Sebagai pembentuk dan
pengatur iklim dunia, peranan laut menjadi sangat penting.
Adanya perbedaan iklim yang begitu besar di berbagai tempat di dunia
memberi pengaruh yang luas terbadap kemarnpuan manusia untuk menduduki dan
mengelola bumi sebagai tempat tinggal. Sebagai contoh iklim dingin dan panas di
daerah-daerah kutub tidak cocok untuk dipakai sebagai daerah tanah pertanian,
sehingga daerah tersebut hanya dapat didiami manusia dalam jumlah populasi
yang sangat terbatas. Hal serupa juga dijumpai di daerah. Padang pasir yang
luas.di benua Afrika. Asia, Australia,yang tidak dapat ditanami semata-mata
karena tidak terdapat curah hujan yang cukup. Angin juga merupakan
salah satu faktor

penting yang dapat mempengaruhi iklim. Para nelayan

tradisional masih tergantung kepada angin dalarn membantu menggerakkan


perahu-perahu mereka. Narnun mereka kadang-kadang juga harus waspada,
karena angin bisa juga menimbulkan suatu bencana berupa badai yang dapat
menghancurkan peralatan atau bahkan menenggelamkan perahu mereka.
Iklim

adalah

keadaan

cuaca

rata-rata

dalam

satu

tahun

yang

penyelidikannya dilakukan dalam waktu yang lama (minimal 30 tahun) yang


meliputi wilayah yang luas. Iklim di bumi sangat dipengaruhi oleh kesetimbangan

panas di bumi. Aliran panas dalam sistem iklim di bumi bekerja karena adanya
radiasi matahari. Dari seluruh radiasi matahari yang menuju ke permukaan bumi,
sepertiganya dipantulkan kembali ke ruang angkasa oleh atmosfer dan oleh
permukaan bumi (Gambar 1). Pemantulan oleh atmosfer terjadi karena adanya
awan dan partikel yang disebut aerosol. Keberadaan salju, es dan gurun
memainkan peranan penting dalam memantulkan kembali radiasi matahari yang
sampai di permukaan bumi. Sebagian kecil panas yang ada di bumi, yang disebut
panas laten, digunakan untuk menguapkan air. Panas laten ini dilepaskan kembali
ketika uap air terkondensasi di awan (Gambar 1).

Gambar 1: Sistem kesetimbangan panas di bumi (IPCC, 2007).


Iklim tergantung pada hubungan yang komplek yang terjadi antara
keadaan di daratan, lautan, dan atmosfer. Tiga faktor utama yang mempengaruhi
iklim yaitu : suhu, curah hujan, dan angin.
Daratan tidak mempunyai kapasitas yang sama seperti air dalam
menyimpan panas. Akibatnya daratan akan lebih cepat bereaksi untuk menjadi
panas ketika menerima radiasi rnatahari dibandingkan dengan lautan. Sebaliknya,
daratan akan lebih cepat pula menjadi dingin dari pada lautan pada waktu tidak
ada insolation (pemanasan sinar matahari yang diterima oleh permukaan bumi).
Akibatnya di daratan terdapat perbedaan suhu yang amat besar bila dibandingkan
dengan yang terjadi di lautan. Suhu di lautan kemungkinan berkisar antara -1.8C

(titik beku air laut) di daerah kutub sarnpai maksimum sekitar 42C di daerah
perairan dangkal Sedangkan kisaran suhu di daerah daratan yang pernah
dimonitor adalah yang paling rendah -68C di Siberia pada tahun 1982dan yang
paling tinggi 58C di Libya pada tahun 1922.
Perubahan iklim sering dikaitkan dengan pemanasan global, walau
sebenarnya fenomena pemanasan global merupakan bagian dari perubahan iklim
itu sendiri. Parameter perubahan iklim tidak hanya suhu saja, melainkan ada
parameter lain yang terkait seperti presipitasi, kondisi awan, angin, maupun
radiasi matahari. Pemanasan global merupakan peningkatan rata-rata suhu
atmosfer yang dekat dengan permukaan bumi dan di troposfer, yang berkontribusi
pada perubahan pola iklim global. Pemanasan global terjadi akibat meningkatnya
konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer. Semakin tinggi konsentrasi gas rumah
kaca maka semakin banyak radiasi panas dari bumi yang terperangkap di atmosfer
dan dipancarkan kembali ke bumi. Hal ini menyebabkan peningkatan suhu di
permukaan bumi. Peningkatan suhu iklim juga bisa dikarenakan peningkatan
radiasi matahari, namun efeknya relatif sangat kecil.
Peristiwa El Nino maupun La Nina merupakan suatu kejadian perubahan
iklim dunia yang tidak lazim jika dibandingkan dengan iklim normal yang terjadi
dalam kurun waktu tertentu, yaitu suatu keadaan iklim berubah atau menyimpang
dalam jangka waktu pendek yang disebabka noleh adanya gejala aIam yang tidak
normal
dengan ditandai oleh naiknya suhu permukaan air laut di atas rata-rata. Kejadian
ini dikenal sebagai gejala El Nino. El Nino di samping dapat mempengaruh iklim
juga dapat merusak populasi organism laut. El nino merupakan arus yang terjadi
pada bulan Desember. El Nino mengakibatkan terjadinya pemanasan air laut di
lepas pantai Arnerika Selatan. Setelah El Nino biasanya akan disusul oleh dua
kemungkinan perubahan iklim. Pertama, suhu perairan akan kembali pada kondisi
normal atau yang kedua, suhu menjadi lebih dingin. Kondisi yang terakhir ini
dinamakan sebagai gejala. Gejala semacam ini ditandai oleh datangnya badai
yang diikuti oleh turunnya hujan yang hebat, sehingga curah hujan menjadi lebih
tinggi di atas rata-rata.

Pada waktu keadaan normal, tekanan udara di atas Lautan Pasifik bagian
timUr relatif tinggi sedang tekanan udara di atas lautan Hindia (Indo-Australia)
relatif rendah sehingga mengakibatkan timbulnya arab angin dari arah timur ke
barat. Sedang pada waktu terjadi El Nino kondisinya adalah berbalik, dari barat ke
timur. Tekanan udara baik pada keadaan normal maupun pada wakw terjadi EI
Nino mengakibatkan arus mengalir searah dengan arah angin. Arus tersebut
membawa

masa

air

dengan

suhu

tertentu

(panas),

dimana

pada

waktu terjadi EJ Nino suhu permukaan laut di sekitar Amerika Selatan


seharusnya tidak naik. tetapi dengan adanya perubahan arah angin dan
arus oleh karena perubahan tekanan udara menghasilkan kondisi yang
mcnyimpang.
Dampak perubahan iklim pada ekosistem pesisir dan laut
Intergovernmental

Panel

on

Climate

Change

(IPCC)

(2007)

menggambarkan kondisi perubahan iklim yang terjadi seperti: (1) Terjadinya


kenaikan suhu rata-rata sebesar 0,76C antara periode 1850-2005, (2) 11 dari 12
tahun terakhir (1995-2006) merupakan tahun-tahun dengan rata-rata suhu terpanas
sejak dilakukan pengukuran suhu pertama kali pada tahun 1850, (3) Terjadi
kenaikan permukaan air laut global rata-rata sebesar 1,8 mm/ tahun antara periode
1961-2003, (4) Terjadi kekeringan yang lebih intensif pada wilayah yang lebih
luas sejak tahun 1970an, terutama di daerah tropis dan sub-tropis
Pemanasan global mengakibatkan perubahan iklim yang memicu terjadi
perubahan yang signifikan dalam sistem fisik dan biologis seperti kenaikan
frekuensi maupun intensitas kejadian cuaca ekstrim, meningkatnya intensitas
terjadinya tropical cyclone (badai siklon tropis), El Nio Southern Oscillation
(ENSO), Indian Ocean Dipole (IOD), dan berbagai fenomena alam yang lain,
perubahan suhu perairan, perubahan pola presipitasi, salinitas air laut, perubahan
pola angin, mempengaruhi masa reproduksi hewan dan tanaman, distribusi spesies
dan ukuran populasi, frekuensi serangan hama dan wabah penyakit, pengasaman
di laut yang mengakibatkan penghambatan pertumbuhan cangkang kerangkerangan, serta mempengaruhi berbagai ekosistem yang terdapat di daerah dengan

garis lintang yang tinggi (termasuk ekosistem di daerah Artik dan Antartika),
lokasi yang tinggi, serta ekosistem pantai.

Studi kasus dampak perubahan iklim di beberapa wilayah


Perubahan iklim telah memicu meningkatnya frekuensi terjadinya
fenomena alam seperti El Nino Southern Oscillation (ENSO) di wilayah Selatan
Jawa. Fenomena melemahnya angin pasat tenggara yang berasal dari wilayah
Australia telah mengakibatkan suhu permukaan laut di Pasifik Timur menghangat
dan sebaliknya di Pasifik Barat menurun. Fenomena ini biasanya terjadi sekitar 2
7 tahun sekali. Namun dari hasil studi di wilayah Malang Selatan dan Selat Bali,
menunjukkan ENSO terjadi pada tahun 2003, 2004, dan 2006. Bahkan pada tahun
2006 fenomena ENSO ini diperkuat dengan adanya Indian Ocean Dipole (IOD)
positif. IOD merupakan fenomena meningkatnya suhu permukaan laut di wilayah
Afrika dan sebaliknya menurunnya suhu permukaan di wilayah Selatan Indonesia.
Pada tahun 2006 tersebut terjadi anomali penurunan suhu ekstrem sekitar 1,5
2C yang diakibatkan meningkatnya aktivitas upwelling di kedua wilayah ini.
Sebagai akibatnya konsentrasi klorofil-a di wilayah Selat Bali dan Malang Selatan
meningkat dengan anomali konsentrasi klorofil-a mencapai 1 mg/mm 3.
Peningkatan khlorofil-a ini mempunyai korelasi positif dengan peningkatan CPUE
ikan lemuru (Sardinella spp.) di Selat Bali, dengan nilai korelasi r = 0.71, dan
p<0.001(Sartimbul et al., 2009). Lebih jauh, meningkatnya intensitas ENSO
memungkinkan ikan lemuru bermigrasi dari wilayah Pasifik menuju Selatan Jawa
(Kadarusman, 2010; personal communication). Migrasi ikan yang diakibatkan
oleh fenomena ENSO juga dijelaskan oleh Kitagawa et al. (2006), pada saat
terjadinya El Nio, ikan tuna biru Pasifik (Thunnus orientalis) berkonsentrasi di
utara (Laut Jepang) sedangkan pada saat terjadinya La Nia ikan tersebut
berkonsentrasi di selatan Jepang (Laut Cina Timur).
Bagi species bermigrasi, perubahan iklim direspon dengan melakukan
migrasi ke habitat yang sesuai. Namun bagi species tidak bermigrasi perubahan
iklim ini berdampak luar biasa. Sebagai contoh penelitian selama 10 tahun (1996-

2005) di Pulau Awashima (Jepang), menunjukkan tren peningkatan suhu perairan


sebesar 0,6C. Peningkatan suhu ini menyebabkan penurunan produksi kerang
turban seiring dengan peningkatan suhu perairan tersebut sampai pada tingkat
terendah (Sartimbul et al., 2007). Apabila perubahan iklim ini berlanjut,
dikhawatirkan akan mengakibatkan punahnya species tersebut. Peristiwa yang
sama juga terjadi pada keragaman jenis kerang-kerangan di wilayah Pantai
Panjang (Malang Selatan). Saat ini diperkirakan hanya sekitar 30 persen jenis
kerang-kerangan dalam kondisi hidup yang ditemukan di pantai tersebut, sisa
cangkang yang ditemukan sekitar 45 jenis (Sartimbul et al., 2008).
Perubahan iklim terbukti telah menyebabkan mencairnya es di kutub dan
memicu peningkatan muka air laut. Peningkatan muka air laut ini berpengaruh
pada penurunan salinitas perairan. Peristiwa ini menyebabkan terancamnya
berbagai biota di daerah intertidal, seperti

terjadinya pemutihan karang

(bleaching) di pantai-pantai Malang Selatan meliputi Danau Segara Anakan


(Pulau Sempu), Pantai Sendang Biru, Pantai Kondang Merak, dan Pantai
Kondang Buntung (personal communication).

Referensi
Sartimbul, A., H. Nakata, I. Hayashi (2007). Recent change in water temperature
and its effect on fisheries catch of bottom gillnets in a coastal region of
Tsushima Warm Current. La mer 45: 1-13
Sartimbul, A., H. Nakata, I. Hayashi, 2008. Climate Change and possible effect of
decreasing turban shell catch at Awashima Island, Japan. Proceeding of
National Seminar on Green Product , Malang. Indonesia
Sartimbul, A., E. Rohadi, H., 2009. Keanekaragaman kerang-kerangan di Pantai
Panjang, Malang Selatan. Proceeding of International World Ocean
Conference (WOC). Manado, Indonesia.
Sartimbul, A., E. Rohadi, H. P. Kadarusman. 2009. Climate Change Impacts on
Sea Surface Temperature Variability around Panjang Coast, South of

Malang, Indonesia. Proceeding of International World Ocean Conference


(WOC)- HATHI ISOCCI.Manado, Indonesia.
Sartimbul, A., O. R. Tanjung, A. Efani, E. Rohadi. 2009. Climate change impact
on algae blooming intensity along the Coast of Bali. Proceeding of PITISOI, Bogor. Indonesia.
.