Anda di halaman 1dari 7

A.

Pengertian Budaya Politik Menurut Para Ahli


Budaya politik adalah merupakan salah satu komponen dalam sistem
politik dan juga dapat dipandang sebagai suatu landasan sistem politik yang
memberi jiwa atau warna sistem politik atau dengan kata lain memberikan
arah pada peran peran politik yang dilakukan oleh struktur politik.berikut ini
beberapa pengertian
1. G. A. Almond dan Verba
Budaya politik adalah sikap orientasi warga negara terhadap sistem
politik keanekaragam budayanya. Dalam setiap masyarakat
terdapat budaya politik yang menggambarkan pandangan
masyarakat tersebut mengenai proses politik yang berlangsung di
lingkungannya. Tingkat kesadaran dan partisipasi mereka biasanya
menjadi hal penting untuk mengukur kemajuan budaya politik yang
berkembang.Selanjutnya, Almond dan Verba mengemukakan,
bahwa budaya politik suatu masyarakat dihayati melalui kesadaran
masyarkat akan pengetahuan, perasaan, dan evaluasi masyarakat
tersebut yang berorientasi pada :
1) Orientasi kognitif, yang merupakan pengetahuan masyarakat
tentang sistem politik, peran, dan segala kewajibannya.
Termasuk di dalamnya adalah pengetahuan mengenai kebijakankebijakan yang di buat oleh pemerintah
2) Orientasi afektif, merupakan perasaan masyarakat terhadap
sistem politik dan perannya, serta para pelaksana dan
penampilannya. Perasaan masyarakat tersebut bisa saja
merupakan perasaan untuk menolak atau menerima sistem
politik atau kebijakan yang dibuat.
3) Orientasi evaluatif, merupakan keputusan dan pendapat
masyarakat tentang objek-objek politik yan gsecara tipikal
melibatkan nilai moral yang ada dalam masyarakat dengan
kriteria informasi dan perasaan yang mereka miliki.
2. Marbun
Budaya politik adalah pandangan politik yang mempengaruhi
sikap,orientasi,dan pilihan politik seseorang. Dan selain itu , budaya
politik ini lebih mengutamakan dimensi psikologis dari suatu siste
politik yaitu sikap, sistem kepercayaan, simbol yang dimiliki individu
dan yang dilaksanakan dalam masyarakat.
3. Rusadi Sumintapura
Budaya politik adalah pola tingkah laku individu dan orientasinya
terhadap kehidupan politik yang dihayati oleh para anggota suatu
sistem politik.
4. Alan R. Ball

Budaya politik adalah suatu susunan yang terdiri dari sikap,


kepercayaan, emosi dan nilai-nilai masyarakat yang berhubungan
dengan sistem politik dan isu-isu politik.

B. Faktor faktor pembentuk budaya politik


Budaya politik yang berkembang dalam masyarakat pada
kenyataannya dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor tertentu. Berikut
merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi model kebudayaan politik
yaitu :
a) Tingkat pendidikan warga Negara
Pendidikan memberikan pengaruh dalam budaya politik karena
pendidikan merupakan gejala insane yang fundamental dalam
kehidupan manusia untuk mengantarkan anak manusia ke dalam
peradaban yang berbudaya dan beretika.Tingkat pendidikan seseorang
sangat berpengaruh pada Budaya Politik masyarakat, Nampak pada:
Ilmu pengetahuan, terlihat pada saat berbicara, seseorang yang
berpendidikan lebih berwawasan
Etika, terlihat pada saat menyampaikan ide, atau berkomentar,
kata-kata yang digunakan tidak formal, dll
b) Tingkat ekonomi
Bidang ekonomi yang kuat dapat memberikan kontribusi bagi
pemberdayaan masyarakat dan peningkatan kesejahteraan
masyarakat yang ikut menentukan kepercayaan masyarakat terhadap
pemerintah sehingga dapat menciptakan ketertiban. Stabilitas politik
di pengaruhi rasa aman di masyarakat yang kemudian akan
mendorong perilaku budaya politik yang kondusif dan responsive
sesuai asas demokrasi.
c) Reformasi politik ( political will )
Semangat merevisi dan mengadopsi sistem politik yang lebih baik.
d) Supremasi hukum
Supremasi hukum ditandai dengan adanya penegakkan hukum yang
adil,independen,dan bebas.
e) Media komunikasi
Media komunikasi yang independen berfungsi sebagai kontrol sosial,
bebas, dan mandiri

C. Pandangan atau orientasi tentang budaya politik


1. Menurut Herbert Feith, Indonesia memiliki 2 budaya politik yang
dominan :
1) Aristokrasi Jawa (kaum Ningrat Jawa )
2) Wiraswasta Islam (pengusaha yang beragama Islam)
Selain kedua budaya politik itu, menurut Feith kita juga mempunyai
sejumlah budaya politik lainnya, namun kurang penting dibandingkan
dengan budaya politik aristokrasi Jawa dan wiraswasta Islam.
2. Menurut Clifford Geertz, antropolog dari Amerika mengadakan

penelitian mengenai budaya politik yang berkembang di Indonesia


(khususnya Jawa), yaitu:
1. Budaya politik Abangan, budaya politik yang menekankan
pada aspek animisme/ kepercayaan roh halus. Budaya ini dapat
ditemui pada masyarakat petani era 60-an dengan tradisi
selamatan.
2. Budaya politik Santri, budaya politk yang menekankan pada
aspek agama (islam). Masyarakat tipe ini sudah menjalankan ibadah
dan ritual agama islam.
3. Budaya politik Priyayi, budaya politk yang menekankan pada
keluhuran tradisi. kelompok ini merupakan kebalikan dari abangan
karena umumnya mereka adalah dari kalangan birokrat (pegawai
pemerintah)
3. Menurut Nazarudin Syamsudin , budaya politik Indonesia adalah
Bhineka Tunggal Ika, karena simbol ini sudah dikenal oleh bangsa
Indonesia. Sedangkan menurut Moerdiono budaya politik Indonesia
adalah Demokrasi Pancasila. Karena Pancasila merupakan
pandangan hidup dan dasar negara bangsa Indonesia.

4. Menurut Afan Gaffar , sangatlah sulit mengidentifikasi wujud


budaya politik Indonesia. Menurutnya, yang dapat dilakukan adalah
menggambarkan pola budaya politik mana yang dominan, yang
berasal dari kelompok etnis dominan, yaitu etnis Jawa. Budaya etnis
ini sangat mewarnai sikap, perilaku, dan orientasi politik kalangan
elit politik Indonesia. Menurutnya, budaya politik Indonesia memiliki
tiga ciri dominan, yaitu:
1. Hirarki yang tegar/ketat : adanya pemilahan tegas antar
penguasa (wong Gedhe) dengan rakyat kebanyakan ( wong cilik).
2. Kecendrungan Patronage ( hubungan antara orang berkuasa dan
rakyat biasa) seperti majikan majikan dengan buruh.
3. Kecendrungan Neo Patrimonialistik, yaitu perilaku negara masih
memperlihatkan tradisi dan budaya politik yang berkarakter
patrimonial.

D.Tipe tipe budaya politik yang berkembang di


Indonesia
1. Budaya Politik Parokal
Budaya politik parokial yaitu budaya politik yang tingkat partisipasi
politiknya sangat rendah.Budaya politik parokal sering diartikan sebagai
budaya politik yang sempit. Dikatakan sempit karena, orientasi individu
atau masyarakat masih sangat terbatas pada ruang lingkup yang
sempit. Orientasi dan peranan yang dimainkan masih terbatas kepada
lingkungan atau wilayah dimana ia tinggal. Dengan perkataan lain,
persoalan-persoalan di luar wilayahnya tidak diperdulikan.
Ciri ciri Budaya Politik Parokal:
Lingkupnya sempit dan kecil
Masyarakatnya sederhana dan tradisional bahkan buta hurup.Petani
dan buruh tani.

Spesialisasi kecil belum berkembang.


Pemimpin politik biasanya berperan ganda bidang ekonomi, agama
dan budaya.

Masyarakatnya cenderung tidak menaruh minat terhadap objek


politik yang luas.
masyarakatnya tinggal di desa terpencil di mana kontak dengan
sistem politik kecil.

2. Budaya Politik Subyek


Budaya politik subjek,yaitu budaya politik yang masyarakat yang
bersangkutan sudah relatif maju baik sosial maupun ekonominya tetapi
masih bersifat pasif. Budaya politik suatu masyarakat dapat dikatakan
subyek jika terdapat frekuensi orientasi yang tinggi terhadap
pengetahuan sistem politik secara umum dan objek output atau
terdapat pemahaman mengenai penguatan kebijakan yang di buat oleh
pemerintah. Namun frekuensi orientasi mengenai struktur dan peranan
dalam pembuatan kebijakan yang dilakukan pemerintah tidak terlalu
diperhatikan. Para subyek menyadari akan otoritas pemerintah dan
secara efektif mereka di arahkan pada otoritas tersebut. Sikap
masyarakat terhadap sistem politik yang ada ditunjukkan melalui rasa
bangga atau malah rasa tidak suka. Intinya, dalam kebudayaan politik
subyek, sudah ada pengetahuan yang memadai tentang sistem politik
secara umum serta proses penguatan kebijakan yang di buat oleh
pemerintah.
Ciri - Ciri Budaya Politik Subyek :
Orang secara pasif patuh pada pejabat pemerintahan dan undangundang.
Tidak melibatkan diri pada politik atau golput.
Masyarakat mempunyai minat, perhatian, kesadaran terhadap sistem
politik.
Sangat memperhatikan dan tanggap terhadap keputusan politik, atau
output
Rendah dalam input kesadaran sebagai aktor politik belum tumbuh.

3. Budaya Politik Partisipan


Budaya politik partisipan,yaitu budaya politik yang ditandai dengan
kesadaran politik yang sangat tinggi.Tipe inilah yang sangat ideal.
Mengingat individu anggota masyarakat telah memiliki perhatian,
kesadaran, minat serta peran politik yang sangat berspektrum luas. Ia
mampu memainkan peran politik dalam berbagai dimensinya yakni
proses input dan output.
Sebagai insan politik, kegiatan-kegiatan politik yang dapat dilakukan sebagai
wujud partisipasi politik, antara lain :
a. Membentuk organisasi politik atau menjadi anggota Lembaga Swadaya
Masyarakat (LSM) yang dapat mengontrol maupun memberi input
terhadap setiap kebijakan pemerintah.
b. Aktif dalam proses pemilu, seperti berkampanye, menjadi pemilih aktif,
dan menjadi anggota perwakilan rakyat.

c. Bergabung dalam kelompok-kelompok kepentingan kontemporer, seperti


unjuk rasa secara damai tidak anarkis atau merusak, petisi, protes, dan
demonstrasi.

Ciri Ciri Budaya Politik Partisipan:


Kesadaran masyarakat bahwa dirinya dan orang lain anggota
aktif dalam kehidupan politik.
Melibatkan diri dalam system politik sangat berarti walaupaun hanya
sekedar memberikan suara dalam pemilu.
Tidak menerima begitu saja terhadap keputusan, kebijakan sistem
politik
Dapat menilai dengan penuh kesadaran baik input maupun output
bahkan posisi dirinya sendiri.

E. Ciri khas politik masyarakat Indonesia


a. Hirarki yang Tegar/Ketat
Masyarakat Jawa, dan sebagian besar masyarakat lain di Indonesia, pada
dasarnya bersifat hirarkis. Stratifikasi sosial yang hirarkis ini tampak dari
adanya pemilahan tegas antara penguasa (wong gedhe) dengan rakyat
kebanyakan (wong cilik). Masing-masing terpisah melalui tatanan hirarkis
yang sangat ketat. Alam pikiran dan tatacara sopan santun diekspresikan
sedemikian rupa sesuai dengan asal-usul kelas masing-masing. Penguasa
dapat menggunakan bahasa 'kasar' kepada rakyat kebanyakan. Sebaliknya,
rakyat harus mengekspresikan diri kepada penguasa dalam bahasa 'halus'.

Dalam kehidupan politik, pengaruh stratifikasi sosial semacam itu antara lain
tercemin pada cara penguasa memandang diri dan rakyatnya.
b. Kecendrungan Patronage
Pola hubungan Patronage merupakan salah satu budaya politik yang
menonjol di Indonesia.Pola hubungan ini bersifat individual. Dalam
kehidupan politik, tumbuhnya budaya politik semacam ini tampak misalnya
di kalangan pelaku politik. Mereka lebih memilih mencari dukungan dari atas
daripada menggali dukungn dari basisnya.
c. Kecenderungan Neo-patrimoniaalistik
Salah satu kecendrungan dalam kehidupan politik di Indonesia adalah
adanya kecendrungan munculnya budaya politik yang bersifatneopatrimonisalistik; artinya meskipun memiliki atribut yang bersifat
modern dan rasionalistik seperti birokrasi, perilaku negara masih
memperlihatkan tradisi dan budaya politik yang berkarakter
patrimonial.
Ciri-ciri birokrasi modern:

Adanya suatu struktur hirarkis yang melibatkan pendelegasian


wewenang dari atas ke bawah dalam organisasi

Adanya posisi-posisi atau jabatan-jabatan yang masing-masing


mempunyai tugas dan tanggung jawab yang tegas

Adanya aturan-aturan, regulasi-regulasi, dan standar-standar


formalyang mengatur bekerjanya organisasi dan tingkah laku
anggotanya

Adanya personel yang secara teknis memenuhi syarat, yang


dipekerjakan atas dasar karier, dengan promosi yang didasarkan
pada kualifikasi dan penampilan.